Anda di halaman 1dari 21

LEMBAR PERSETUJUAN PENGAMBILAN KASUS

LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN Ny.F DENGAN SECTIO CAESARIA ATAS
INDIKASI ODS HIGH MYOPIA DEGENERASI RETINA PERIFER DI
RUANG 08 OBSTETRI RSUD DR. SAIFUL ANWAR KOTA MALANG

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Maternitas

Telah diperiksa kelengkapannya pada

Hari :

Tanggal :

Disusun oleh:

Mahasiswa

Ni Komang Miming Widiyasih


150070300011061

Malang,

Preseptor Akademik Preseptor Klinik

Ns. Fransiska Imavike F. S.Kep, M.Nurs

NIP. 197902242006042001 NIP.


LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN SECTIO CAESARIA ATAS INDIKASI ODS HIGH
MYOPIA DEGENERASI RETINA PERIFER
DI RUANG 8 OBSTETRI, RSU DR. SAIFUL ANWAR, MALANG

DEPARTEMEN MATERNITAS

Disusun oleh:
NI KOMANG MIMING WIDIYASIH
150070300011061
PSIK K3LN 2012

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2016
LAPORAN PENDAHULUAN MIOPIA

A. DEFINISI MIOPIA

Menurut Dorland (2002), miopia adalah kesalahan refraksi dengan berkas


sinar memasuki mata yang sejajar dengan sumbu optik dibawa ke fokus di depan
retina, sebagai akibat bola mata yang terlalu panjang dari depan ke belakang (
axial miopia) atau peningkatan kekuatan daya refraksi media mata ( index
miopia). Disebut juga nearsightedness, karena titik dekatnya kurang jauh
dibandingkan pada emetropia, dengan amplitudo akomodasi yang sama.

Menurut Ilyas (2006), miopia atau penglihatan dekat adalah cacat mata
yang disebabkan oleh diameter anteroposterior bola mata terlalu panjang
sehingga bayang-bayang dari benda yang jaraknya jauh akan jatuh di depan
retina. Pada miopia, orang tidak dapat melihat benda yang jauh, mereka hanya
dapat melihat benda yang jaraknya dekat. Untuk cacat seperti ini orang tersebut
dapat dibantu dengan lensa cekung (negatif).

Gambar 1. Penglihatan Normal dan Penglihatan Miopia


B. KLASIFIKASI MIOPIA

Menurut Ilyas (2010) dikenal beberapa bentuk miopia seperti :

1. Miopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti


terjadi pada katarak intumessen dimana lensa menjadi lebih cembung
sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia bias atau myopia
indeks, miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea
dan lensa yang terlalu kuat.

2. Miopia aksial, miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan


kelengkungan kornea dan lensa yang normal.

Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam :

a. Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1 -3 dioptri

b. Miopia sedang, dimana miopia lebih antara 3 -6 dioptri

c. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri

Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk :

a. Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa

b. Miopia progresif, miopia yang bertamb ah terus pada usia dewasa akibat
bertambah panjangnya bola mata

c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat


mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan myopia
pernisiosa = miopia maligna = miopia degeneratif.

Menurut American Optometric Association (2006) , miopia terbagi


dalam :

Tabel 1. Sistem klasifikasi Miopia


Klasifikasi Tipe Jenis-jenis Miopia

Klinikal Entity Miopia Sederhana


Miopia nokturnal
Pseudomiopia
Miopia Degeneratif
Miopia Didapat
Derajat Miopia ringan (<3.00 D)

Miopia sedang (3.00 D-6.00 D )

Miopia berat (>6.00 D)

Onset pada Usia Miopia (didapat saat


kongenital lahir
dan menetap)
Miopia pada anak-anak (<20 tahun)

Miopia pada dewasa muda (20-40

tahun)

Miopia pada dewasa tua (>40 tahun)

C. ETIOLOGI MIOPIA
Menurut Ilyas (2006) miopia disebabkan karena terlalu kuat pembiasan
sinar di dalam mata untuk panjangnya bola mata akibat :
1. Kornea terlalu cembung
2. Lensa mempunyai kecembungan yang kuat sehingga bayangan dibiaskan
kuat
3. Bola mata terlalu panjang
Secara fisiologis sinar yang difokuskan pada retina terlalu kuat sehingga
membentuk bayangan kabur atau tidak tegas pada makula lutea. Titik fokus sinar
yang datang dari benda yang jauh terletak di depan retina. Titik jauh (pungtum
remotum) terletak lebih dekat atau sinar datang tidak sejajar (Ilyas, 2006).

Etiologi miopia masih belum diketahui secara pasti. Namun miopia diduga
berasal dari faktor genetik dan faktor lingk ungan. American Optometric
Association (1997) menulis etiologi yang diduga menyebabkan myopia.
Berdasarkan jenis-jenis miopia, adapun jenis-jenis miopia dan etiologinya dapat
dilihat pada tabel 2.1. berikut.
Tabel 2. Jenis-jenis Miopia dan Etiologinya
Jenis-jenis miopia Etiologi-etiologi
Miopia Sederhana Keturunan/warisan
Sering bekerja dengan jarak melihat
yang dekat
Idiopatik
Miopia Nokturnal Akomodasi untuk fokus gelap yang
signifikan

Pseudomiopia Kelainan akomodasi


Axoforia tahap tinggi
Agen kolinergik agonis
Miopia Degeneratif Keturunan/warisan
Retinopati akibat prematuritas Gangguan
pada hantaran cahaya melalui media
okular
Idiopatik
Miopia Didapat Katarak nuclear yang berhubungan dengan
usia
Terpapar sulfonamida dan agen
farmaseutikal yang lain
Variasi yang signifikan pada kadar gula
dalam darah

Faktor Keturunan

Penelitian ginekologis telah memberikan banyak bukti bahwa faktor


keturunan merupakan faktor etiologi utama terjadinya miopia patologi. Cara
transmisi dari miopia patologi adalah autosomalresesif, autosomal dominan, sex
linked dan derajat miopia yang diturunkan.

Faktor Perkembangan

Bukti yang ada menunjukan bahwa faktor prenatal dan perinatal turut
berperan serta menyebabkan miopia. Penyakit ibu yang dikaitkan dengan
penderita miopia kongenital adalah hipertensi sistemik, toksemia dan penyakit
retina. Faktor lain yang dianggap berhubungan dengan miopia adalah kelahiran
prematur yakni berat badan lahir kurang dari 2.500 gr. Brain menyebutkan bahwa
hal ini berkaitan dengan defek mesodermal yang berkaitan dengan prematuritas.

D. FAKTOR RESIKO
Terdapat dua pendapat yang menerangkan faktor risiko terjadinya miopia,
yaitu berhubungan dengan faktor herediter atau keturunan, faktor lingkungan,
dan gizi ( Ilyas, 2006).
1. Faktor Herediter atau Keturunan

Faktor risiko terpenting pada pengembangan miopia sederhana adalah


riwayat keluarga miopia. Beberapa penelitian menunjukan 33 -60% prevalensi
miopia pada anak-anak yang kedua orang tuanya memiliki miopia, sedangkan
pada anak anak yang salah satu orang tuanya memiliki miopia, prevalensinya
adalah 23 40 %. Kebanyakan penelitian menemukan bahwa ketika orang tua
tidak memiliki miopia, hanya 6-15% anak-anak yang memiliki miopia (White,
2005). Penelitian yang dilakukan Gwiazda dan kawan-kawan melaporkan anak
yang mempunyai orang tua miopia cenderung mempunyai panjang aksial bola
mata lebih panjang di banding anak dengan orang tua tanpa miopia. Sehingga
anak dengan orang tua yang menderita miopia cenderung menjadi miopia
dikemudian hari ( Jurnal Oftalmologi Indonesia, 2008). Indeks heritabilitas yang
tinggi d itemukan dalam studi terhadap anak kembar yaitu dari 75% sampai 94%.
Studi dengan jumlah sampel yang besar pada kembar yang monozigot dan
dizigot indeks heritabilitasnya diestimasikan sekitar 77% (Myrowitz, 2012).

Penyakit yang terutama disebabkan oleh ke turunan ditemukan


cenderung memiliki onset yang lebih cepat, terutama pada anggota keluarga, dan
banyak gejala klinis yang berat dibandingkan dengan kondisi yang sama tetapi
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Hal ini telah digambarkan dengan jelas oleh
Liang et al. Peneliti-peneliti ini mempelajari tentang miopia, terutama mengenai
dampak dari tingginya miopia akibat keturunan dan hubungannya dengan tingkat
keparahan serta awal mula timbulnya miopia (White, 2005).

2. Faktor Lingkungan

Tingginya angka kejadian miopia pada beberapa pekerjaan telah banyak


dibuktikan sebagai akibat dari pengaruh lingkungan terhadap terjadinya miopia.
Hal ini telah ditemukan, misalnya terdapat tingginya angka kejadian serta angka
perkembangan miopia pada sekelompok orang yang menghabiskan banyak
waktu untuk bekerja terutama pada pekerjaan dengan jarak pandang yang dekat
secara intensive. Beberapa pekerjaan telah dibuktikan dapat mempengaruhi
terjadinya miopia termasuk diantaranya peneliti, pembuat karpet, penjahit, mekani
k, pengacara, guru, manager, dan pekerjaan-pekerjaan lain (White, 2005).

Selain itu, faktor yang diketahui dapat mempengaruhi miopia adalah


pendidikan. Beberapa penelitian secara konsisten menyatakan bahwa terdapat
hubungan yang kuat antara tingkat pendid ikan dan kejadian miopia. Semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi risiko untuk terjadinya miopia.
Goldschmidt melaporkan bahwa angka kejadian miopia pada mahasiswa di Hong
Kong dan Taiwan lebih dari 90% dengan derajat miopia rata -rata 4-5 D ( White,
2005).

Identifikasi hubungan antara miopia dengan near-working, dengan cara


menghubungkan miopia dengan intelektualitas sangatlah rumit. Penelitian oleh
Saw et als di Singapore menyebutkan bahwa mereka yang memiliki derajat
miopia yang tinggi dan rendah banyak terjadi selama masa sekolah. Sebuah pola
umum telah dilaporkan pada beberapa peneliti di literatur bahwa anak dengan
miopia cenderung memiliki intelektualitas yang lebih tinggi dan hasil belajar yang
lebih baik. Kegiatan ektra kulikuler telah teridentifikasi sebagai faktor penyebab
yang memungkinkan berkembangnya miopia pada pelajar berdasarkan fakta
terdapatnya perbedaan ektra kulikuler yang diikuti oleh siswa di sekolah, yaitu
bimbingan belajar atau kelompok belajar yang kegiatannya y aitu membaca
(White, 2005). Seiring dengan kemajuan teknologi dan telekomunikasi seperti
televisi, komputer, video game dan lain-lain, secara langsung maupun tidak
langsung akan meningkatkan aktivitas melihat dekat (Tiharyo, Gunawan, dan
Suhardjo, 2008).

Konsumsi sayuran dan buah juga dapat mempengaruhi terjadinya miopia.


Adapun sayuran dan buah yang diketahui mempengaruhi, yaitu wortel, pisang,
pepaya, jeruk, buah merica dan cabai. Hal ini dikarenakan pada sayuran dan
buah tersebut memiliki kandungan beta karoten yang tinggi, yang nantinya akan
dikonversikan menjadi vitamin A (retinol) untuk tubuh(Lubis, Siti Mahreni Insani,
2010).
E. MANIFESTASI KLINIS

1. Gejala Klinis

Gejala klinis pada miopia antara lain adalah :

1. Menurunnya penglihatan bahkan dengan koreksi refraksi

2. Penderita merasa tidak nyaman ketika menggunakan lensa koreksi,


dimana kacamata untuk miopia tinggi biasanya berat dengan distorsi
yang bermakna ditepi lensa, lapang pandangan juga terbatas

3. Dijumpai degenerasi vitreus, dimana vitreus ini lebih cair dan mempunyai
prevalensi yang tinggi untuk pelepasan vitreus posterior ( PVD .

2. Tanda-tanda

a. Status refraksi : Curtin melaporkan bahwa 55% penderita miopia


kongenital akan berkembang menjadi miopia progresif, 30% tetap stabil
dan 15 % akan menjadi regresif. Francois dan Goes menunjukan bahwa
semakin awal onsetnya semakin besar pula progresivitasnya.

b. Status okulomotor : Banyak penderita dengan miopia patologi mengalami


strabismus atau nistagmus. Nistagmus biasanya menetap walaupun
dilakukan koreksi kesalahan refraksinya.

c. Segmen anterior : Pada sebagian besar penderita, mata akan menjadi


lebih besar, kornea akan lebih datar dan tipis, pupil akan mengalami
dilatasi, bilik mata depan akan lebih dalam. Banyak penderita akan
mengalami sklera yang transfusen dan tampak biru. Badan siliaris
biasanya terletak lebih posterior, lebih panjang, datar dan atrofi.

d. Lensa : Prevalensi katarak pada miopia adalah dua kali lipat dari populasi
normal, dan terjadi pada usia-usia awal, umumnya nuklear atau
subkapsuler.

e. Vitreus : Vitreus mengalami degenerasi dan pencairan. Semakin tua


penderita, semakin tinggi derajat miopia, semakin besar derajat
keparahan degenerasi vitreus. Degenerasi vitreus ini menghasilkan
filamen-filamen vitreus yang tampak sebagai vitreus floaters. Pencairan
vitreus menyebabkan terjadinya posterior vitreus detachment (PVD).
Perubahan-perubahan pada vitreus ini meningkatkan prevalensi
terjadinya retinal tears, retinal haemorrhages, retinal detachment.
Kelainan-kelainan ini sering terjadi di area supero temporal retina.

f. Perubahan pada diskus optikus : Ukuran dan bentuk diskus optikus


meningkat, menjadi lebih besar dan bentuknya oval vertikal. Rasio
mangkok pada diskus (CD ratio) meningkat, tapi kedalamannya normal.
Terdapat tarikan pada permukaan nervus optikus nasal sehingga akan
mengangkat bagian-bagian nasal dari diskus optikus. Perubahan ini
disebut supertraksinasal.

g. Perubahan pada retina perifer : Elemen-elemen retina mengalami proses


peregangan dan menurut suplai darah, arteri vena retina. Tampak lebih
lurus, retina akan mengalami penipisan. Epitel pigmen retina, akan
mengalami penipisan, pigmen -pigmen menggumpal dan bergerak ke
innerlayer retina. Semua perubahan tersebut disebut lattice degeneration.

h. Sklera : Karena sklera tidak memberikan dukungan yang memadai bagi


bola mata pada miopia, mata memanjang kearah posterior dan semua
lapisan bola mata pada kutub posterior mengalami perubahan
degeneratif yang semakin bertambah seiring berjalannya waktu, salah
satu yang terjadi adalah staf iloma posterior. Ini biasanya berkembang
antara usia 9 sampai dengan 26 tahun.

i. Koroid : Perubahan pada koroid terutama terjadi pada fase lanjut. Proses
yang pasti dari degenerasi dan atrofi koroid masih belum diketahui, tetapi
hal ini terkait dengan pemanjangan aksial mata.

j. Perubahan pada area macula : Terdapat penipisan pada retina,


kehilangan sel -sel rods dan sel-sel cones serta area makula lebih datar.
Terjadi degenerasi kistik serta atrofi. Perubahan yang sering terjadi pada
area makula adalah bintik Fuch s, bintik ini merupakan degenerasi
terlokalisir, terkait dengan pertumbuhan jaringan neovaskuler koroid
menjadi ruang epitel pigmen subretina dan proliferasi epithelium pigmen
retina pada jaringan. Pemunculan bintik biasanya terkait dengan
pendarahan dari jaringan neovaskuler (Widodo dan Prillia, 2007).
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Untuk menegakan diagnosa pada pasien miopia, dapat dilakukan melalui


3 tahap, yaitu: Riwayat pasien, Pemeriksaan klinis dan Pemeriksaan tambahan.
Riwayat pasien
Komponen utama dari riwayat pasien yaitu identifikasi masalah dan
keluhan keluhan utama seperti keluhan visual, okular, dan riwayat kesehatan
umum pasien, riwayat keluarga dan perkembangan, dan alergi obat -obatan.
i. Miopia sederhana : Gejala yang terdapat pada miopia sederhana yaitu
penglihatan yang tidak jelas atau kabur. Dalam hal ini pemeriksa harus
menanyakan apakah penglihatan yang tidak jelas tersebut menetap atau
hanya sementara. Klinisi harus menyadari bahwa pada miopia pada anak
-anak sulit didiagnosa karena anak-anak sulit menyampaikan penglihatan
yang kabur.
ii. Miopia nocturnal : Gejala utama pada miopia nokturnal adalah penglihatan
kabur pada jarak yang jauh dengan pencahayaan yang redup. Pasien
mungkin mengeluhkan sulit untuk melihat rambu-rambu lalu lintas saat
berkendara pada malam hari.
iii. Pseudomiopia : Pandangan kabur yang bersifat sementara, terutama setelah
bekerja dalam jarak dekat, mungkin di indikasikan adanya daya akomodasi
yang tidak adekuat atau pseudomiopia.
iv. Miopia degenerative : Dalam miopia degeneratif, didapati pandangan kabur
yang dipengaruhi oleh jarak karena derajat miopia biasanya signifikan. Pasien
harus menahan nearpoint-objects sangat dekat dengan mata, karena miopia
yang tidak terkoreksi.
v. Miopia yang didapat : Pasien dengan miopia yang didapat juga melaporkan
pandangan kabur. Gejala lain yang mungkin dikeluhkan oleh pasien
tergantung pada penyebab terjadinya miopia tersebut. Misalnya, pupil yang
konstriksi ketika penyebab dari miopia didapat adalah terpapar oleh agen
agonis kolinergik (American Optometric Association, 2006).

Pemeriksaan Kelainan Refraksi


Dalam melakukan pemeriksaan refraksi ada 2 cara, yaitu :
a. Refraksi subjektif : Memeriksa kelainan pembiasan mata pasien dengan
memperlihatkan kartu lihat jauh dan memasang lensa yang sesuai
dengan hasil pemeriksaan bersama pasien.
b. Refraksi Objektif : Melakukan pemeriksaan kelainan pembiasan mata
pasien dengan alat tertentu tanpa perlunya kerjasama dengan pasien.
Pemeriksaan objektif dipakai alat : Refrationometer apa yang disebut
pemeriksaan dengan computer dan Streak retinoskopi
Pemeriksaan refraksi subjektif
Pada pemeriksaan subjektif diperlukan hubungan atau komunikasi yang
baik antara pemeriksa dengan pasien. Dalam pemeriksaan ini, optotype
diletakan sejauh 5 atau 6 pasien yang akan diperiksa karena pada jarak 5 meter
sinar -sinar datang dianggap merupakan sinar sejajar dan pasien yang diperiksa
matanya dalam keadaan istirahat atau tidak berakomodasi. Keadaan
penerangan dalam ruang pemeriksaan tidak terlalu cerah. Dilihat kontras kartu
Snellen cukup baik. Mata yang biasa diperiksa terlebih dahulu adalah mata
kanan.
a. Letakkan bingkai uji coba (trial frame) pada posisi yang tepat
b. Dilihat apakah titik tengah terletak tepat di depan mata
c. Pasang penutup (occluder) pada mata yang tidak diperiksa (mata kiri)
d. Catat tajam penglihatan mata yang dibuka
Untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan khusus untuk miopia.
Miopia
Selanjutnya pada mata miopia dilakukan pemeriksaan berikut :
1. Bila penglihatan kurang dari 6/6 diletakan lensa pada bagian ka ca mata
coba-coba dengan kekuatan S +0,5 atau S -0 , 5.
2. Ditanyakan dengan lensa mana yang terlihat lebih jelas. Tajam penglihatan
dapat lebih kurang dari 6/10 sehingga penambahan lensa diberikan yang lebih
berat.
3. Penambahan lensa lanjut, bila lebih terang de ngan lensa S - 0,5 maka
pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan lensa S yang dinaikan perlahan
sehingga terdapat penglihatan yang paling jelas.
4. Lensa ditambahkan perlahan sampai tajam penglihatan maksimal.
Resep kaca mata yang diberikan adalah lensa negatif yang paling tidak
berat. Pemeriksaan miopia pada anak diperlukan rujukan berikut :
Pemeriksaan dengan sikloplegik harus dilakukan pada pemeriksaan mata
anak, anak dengan juling esotropia dan miopia sangat tinggi (>10 D).
Koreksi sebaiknya dilakukan secara total pada kelainan refraksi dan
astigmatismatnya.
Rencana koreksi kurang (under correction) pada miopia dengan juling ke
dalam atau esotropia untuk mengurangi esotropia sudut tidaklah begitu
ditoleransi.
Koreksi lebih (over correction) dapat dilakukan untuk memperbaiki deviasi
juling ke dalam (esotropia).
Pada anak dengan miopia tinggi dan anisometropia yang mengakibatkan
aniseikonia dapat dipertimbangkan (Ilyas, 2006).
Pemeriksaan Tambahan
Pemeriksaan tambahan dapat dibutuhkan untuk mengidentifikasi kondisi
yang berkaitan dengan perubahan retina pada pasien dengan miopia
degeneratif. Pemeriksaan tambahan tersebut dapat berupa : Fotografi fundus,
Ultrasonografi A- dan B-scan, Lapangan pandang, Tes seperti gula darah puasa
(misalnya untuk mengidentifikasi penyebab dari miopia yang didapat) (American
Optometric Association, 2006).

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan miopia terdiri dari :
a. Koreksi refraksi : Langkah pertama yang dilakukan adalah koreksi
dengan lensa oftalmik atau lensa kontak.
b. Modifikasi lingkungan
Beberapa penelitian mendukung efektivitas diet dalam
pengelolaan miopia, dianjurkan pada penderita miopia yang terpapar
secara genetik untuk meningkatkan konsumsi protein hewani,
mengurangi karbohidrat dan gula. Duke Elder menyarankan diet kaya
vitamin D dan kalsium untuk penderita miopia ini. Aktivitas yang
dianjurkan adalah olahraga luar ruang misalnya jogging, namun aktivitas
lain yang cenderung meningkatkan tekanan intra kranial dan stress
sebaiknya dihindari, misal angkat berat.
c. Tindakan operatif
Tindakan operatif kornea tidak disarankan pada penderita miopia
patologi, misal tindakan LASIK, namun implantasi IOL merupakan
tindakan bedah refraksi yang disarankan.
d. Fotokoagulasi laser
Bila terdapat choroidal neovascularization membran dilakukan argon
laser photokoagulasi, tetapi harap dipertimbangkan bahwa pada miopia
patologi ini terdapat pemanjangan dan peregangan bola mata sehingga
sikatrik yang diakibatkan oleh laser akan menambah peregangan bola
mata tersebut.
e. Pengawasan Tekanan Intra Okuler (TIO)
Tekanan intra okuler (TIO) harus dipantau secara cermat. Curtin
melaporkan bahwa TIO ini berperan secara mekanik dalam pemanjangan
aksial bola mata. Black merekomendasikan bahwa TIO dibawah 20
mmHg
f. Pendidikan penderita
Penderita dengan miopia patologi cenderung mengalami koroid yang tipis
dan rapuh sehingga trauma pada mata atau bahkan gosokan keras pada
membran Bruch dan mengakibatkan perdarahan. Penderita harus
disarankan untuk memeriksakan mata jika mengalami kilatan cahaya
terang, berbentuk seperti busur atau peningkatan jumlah floaters. Faktor
pendidikan penderita lainnya adalah konseling genetik. Penderita dengan
miopia memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk memiliki anak
dengan miopia pula. Jika kedua orang tua menderita miopia terdapat
kemungkinan yang lebih besar anak-anaknya akan menderita miopia
( Widodo dan Prillia, 2007).

H. KOMPLIKASI
Komplikasi yang timbul pada miopia adalah akibat dari proses
degenerasi, yaitu :
a. Floaters : Kekeruhan badan kaca yang disebabkan proses pengenceran
dan organisasi, sehingga menimbulkan bayangan pada penglihatan.
b. Skotoma : Defek pada lapang-pandangan yang diakibatkan oleh atrofi
retina.
c. Trombosis koroid dan perdarahan koroid : Sering terjadi pada obliterasi
dini pembuluh darah kecil. Biasanya terjadi di daerah sentral, sehingga
timbul jaringan parut yang mengakibatkan penurunan tajam penglihatan.
d. Ablasio retina : Merupakan komplikasi yang tersering. Biasanya
disebabkan karena didahului dengan timbulnya hole pada daerah perifer
retina akibat prosesproses degenerasi di daerah ini.
e. Glaukoma sederhana : Komplikasi ini merupakan akibat atrofi
menyeluruh dari koroid.
f. Katarak : Merupakan komplikasi selanjutnya dari miopia degeneratif,
terjadi setelah usia 40 tahun. Biasanya adalah tipe pole posterior. Sering
dihubungkan pula dengan adanya degenerasi koroid (Widodo dan Prillia,
2007).

I. MIOPIA TINGGI DALAM PERSALINAN


Banyak pendapat mengenai hal ini. Banyak yang mengatakan pasien
dengan myopia yang tinggi beresiko mengalami robekan retina pada saat
melahirkan secara spontan. Namun, tidak ada kasus yang dilaporkan dalam
literature yang dapat menghubungkan ablasio atau robekan retina dengan
myopua pada wanita yang melahirkan. Socha et. Al telah melakukan suatu studi,
dimana sebanyak 4895 operasi seksio caesarea yang dilakukan telah diamati,
100 (2,04%) diantaranya karena indikasi ocular yang telah dikonsulkan ke
spesialis mata dan disarankan untuk persalinan secara operasi. Frekuensi
operasi seksio caesarea atas indikasi ocular telah meningkat banyak pada tahun
2005 hingga 2006 tapi merosot sejak tahun 2006.
Namun demikian, hal itu tetap menjadi dua kali lebih tinggi pada tahun
2000. Dua kelainan mata yang paling sering mengarah ke operasi seksio
caesarea adalah myopia dan retina diabetikum. Hampir setengah dari keputusan
untuk operasi seksio caesarea diambil hanya berdasarkan indikasi oftalmologi.
Literature menunjukkan bahwa sedikit bukti untuk mendukung keyakinan bahwa
riwayat operasi pada retina sebelumnya meningkatkan resiko pelepasan retina
pada persalinan spontan. Papamicheal et al. telah melakukan survey pada 74
orang ahli kebidanan di Kongresi Kebidanan dan Kandungan Eropa di Lisbon,
Portugal. Mayoritas dari dokter spesialis kebidanan ini tidak mendukung
pandangan ini. Kebanyakan dari responden (76% di antaranya)
merekomendasikan persalinan yang dibantu alat (salah satu operasi seksio
caesarea atau persalinan instrumentas), sedangkan 24% yang memberikan
saran persalinan normal dan tidak ada factor lain yang mempengaruhi keputusan
ini. Sebagian besar (58%) mengambil keputusan tentang pelaksanaan
persalinan ibu hamil hanya berdasarkan pendapat pribadi saja.
Partisipan juga diminta untuk mengklasifikasikan pasien dengan myopia
tinggi, riwayat ablasio retina, riwayat keluarga dengan ablasio retina dan riwayat
operasi mata sebelumnya menjadi kategori risiko rendah, sedang atau tinggi
untuk persalinan spontan. Mayoritas memberikan myopia tinggi sebagai tidak
berisiko atau resiko rendah (59%), riwayat ablasio retina sebagai resiko sedang-
tinggi (73%), riwayat keluarga dengan ablasio retina sebagai risiko rendah-
sedang (73%) dan riwayat operasi mata sebelumnya sebagai risiko tinggi (56%).
Apabila ditanyakan tentang kondisi mata yang manakan jika ada akan
mempengaruhi pengambilan keputusan klinis antara operasi seksio caesarea
dengan persalinan spontan pervaginam, hanya 14% responden mengatakan
paisen tanpa riwayat kelainan mata, 13,6% lagi mengatakan pasien dengan
riwayat ablasio retina, 61% menghindar untuk menjawab pertanyaan ini yang
mengindikasikan mayoritas dokter spesialis masih bingung untuk memilih apa
yang lebih praktis, 48% juga mengatakan pasien dengan riwayat ablasio retina
merupakan indikasi operasi seksio caesarea. Hasil survey ini sejalan dengan
data yang dilakukan di Inggris dan ini mungkin menunjukkan pegangan ini
dipakai secara internasional.
Komentar yang diberikan kebanyakan mirip, rata-rata menjelaskan
persalinan spontan harus dihindari karena peningkatan resiko ablasio retina
akibat peningkatan tekanan intra-okular yang disebabkan oleh manuver yang
mirip valsalva pada kala 2 persalinan. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa
peningkatan tekanan intra-abdominal juga akan meningkatkan tekanan intra-
okular. Hal ini hanya dapat disebabkan oleh kondisi yang mempengaruhi aliran
drainase dari aqueous pada ruang anterior mata seperti galukoma. Selain itu,
peningkatan tekanan intra-okular bukanlah factor risiko untuk terjadinya ablasio
retina.
Menurut pengamatan yang dilakukan oleh Prost, yang melakukan
pengamatan terhadap 42 pasien dengan myopia tinggi dan 4 pasien dengan
myopia tinggi disertai riwayat ablasio retina pada salah satu mata, tidak terbukti
adanya progresivitas dari perubahan retina dan terjadinya robekan retina.
Namun pada beberapa pasien ditemuka adanya perdarahan retina dan edema
macular. Dari pengamatan tersebut disimpulkan bahwa myiopia tinggi bukan
indikasi untuk dilakukan operasi Caesar, namun sebaiknya tetap dilakukan
pemeriksaan oftalmologi pada pasien setelah melahirkan.

J. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
Pre-op
a. Data Subyektif
1. Pasien mengatakan sulit melihat jelas apabila melihat jauh
2. Pasien mengatakan pandangannya kabur,
3. Pasien mengatakan cemas tentang keadaan dirinya
4. Pasien mengatakan kurang tahu tentang penyakitnya dan pengobatannya
b. Data Obyektif
1. Pasien tampak memicingkan mata ketika melihat jarak jauh
2. Koreksi dengan lensa negative (-) menunjukkan hasil yang positif
3. Pasien tampak takut dan gelisah
4. Pasien tampak binggung dan bertanya-tanya tentang penyakitnya
c. Faktor Resiko
a. Gangguan pengelihatan

Post-op
a. Faktor Resiko
1. Perawatan tak adekuat

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Pre Op
- Perubahan persepsi sensori visual b.d. gangguan penglihatan
ditandai dengan pasien mengatakan sulit melihat jelas apabila
melihat jauh, pasien mengatakan pandangannya kabur, pasien
tampak memicingkan mata ketika melihat jarak jauh, koreksi dengan
lensa negative menunjukkan hasil positif, visus mata pasien < 6/6.
- Resiko cedera b.d. gangguan penglihatan
- Ansietas b.d. prognosis penyakit ditandai dengan pasien mengatakan
cemas tentang keadaan dirinya, pasien tampak takut dan gelisah.
- Kurang pengetahuan b.d.kurangnya informasi tentang pengobatan
penyakit ditandai dengan pasien mengatakan kurang tahu tentang
penyakitnya dan pengobatannya, pasien tampak bertanya-tanya
tentang penyakitnya.
b. Post op
- Resiko infeksi b.d. perawatan tak adekuat

3. RENCANA KEPERAWATAN
Pre Op
NO. DIAGNOSA KEP. TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1 Perubahan persepsi Setelah diberikan Mandiri Mandiri
sensori visual asuhan keperawatan 1. Observasi dan catat 1. menentukan
selama 124 jam ketajaman penglihatan kemampuan visual
diharapkan gangguan 2. Observasi deskripsi 2. memberikan
persepsi sensori fungsional apa yang keakuratan terhadap
teratasi dengan dapat dilihat dan apa penglihatan dan
kriteria hasil : yang tidak dapat dilihat perawatan
1. pasien dapat 3. Sesuaikan lingkungan 3. meningkatkan
melihat dengan jelas dengan kemampuan rangsangan pada
2. pandangan pasien penglihatan waktu kemampuan
tidak kabur 4. observasi tipe dan penglihatan menurun
3. pasien tidak jumlah rangsangan yang Kolaborasi
memicingkan mata dapat diterima klien 1. Lensa negative
Kolaborasi memebentuk
1. kolaborasi dalam bayangan dari benda
pemilihan alat bantu jauh tak terhingga,
pengelihatan seperti supaya terletak di titik
kacamata atau lensa terjauhnya, dimana
kontak dengan lensa pada myopia titik jauh
negative mata terletak pada
2. Kolaborasi dalam lebih dekat dari
bedah LASIK takterhingga.Kacamata
3. Kolaborasi dalam atau lensa kontak
pemeberian atropin dipilih sesuai
sulpat. kebutuhan dan
kenyamanan klian
2. Lasik merupakan
salah metode koreksi
penglihatan
3. Dengan atropine
sulfat diharapkan
akomodasi mata
lumpuh untuk
sementara
2 Resiko cedera Setelah diberikan Mandiri Mandiri
asuhan keperawatan 1. Bantu klien dan orang 1. Mengidentifikasi
selama 124 jam terdekat untuk resiko potensial di
diharapkan tidak mengidentifikasi resiko lingkungan dan
terjadi cedera dengan terjadinya bahaya yang mempertinggi
kriteria hasil: mungkin timbul kesadaran sehingga
mempertahankan 2. Jauhkan alat alat klien dan pemberi
bagian tubuh yang yang berpotensi asuhan lebih sadar
tidak cedera menimbulkan bahaya, akan bahaya
misalnya: gunting, 2. menghindarkan
pisau, barang pecah klien dari luka tusuk
belah ataupun luka gores
3. Sesuaikan lingkungan 3. Meningkatkan self
dengan kemampuan care dan mengurangi
penglihatan ketergantungan
4. Orientasikan pasien 4. Meningkatkan
pada ruangan keamanan dalam
mobilitas di dalam
ruangan

3 Ansietas Setelah diberikan Mandiri Mandiri


asuhan keperawatan 1. Bantu klien 1. Cemas yang
selama 124 jam mengekspresikan berkelanjutan bila tidak
diharapkan tidak perasaannya yang diatasi dapat
terjadi cedera dengan membuat cemas memberikan dampak
kriteria hasil: 2. Lakukan tindakan yang tidak baik dalam
1. pasien untuk mengurang pengobatan
mengatakan cemas kecemasan, beri 2. Mengurangi
berkurang lingkungan yang tenang rangsangan dari luar
2. pasien tidak dan suasanan penuh yang dapat
tampak takut dan istirahat menyebabkan cemas
gelisah lagi 3. Orientasikan klien 3. Orientasi dapat
terhadap prosedur rutin membantu mengurangi
dan aktivitas yang kecemasan
diharapkan 4. Memberi waktu
4. Beri privasi untuk untuk
klien dengan orang mengekspresikan
terdekat perasaan dan
menghilangkan cemas

4. Kurang Pengetahuan Setelah diberikan Mandiri Mandiri


asuhan keperawatan 1. Observasi 1. Mengetahui tingkat
selama 124 jam pengetahuan klien pengetahuan klien,
diharapkan tidak mengenai penyakitnya sehingga
terjadi cedera dengan 2. Jelaskan mengenai memudahkan perawat
kriteria hasil: hal hal yang ingin dalam memberikan
1. pasien diketahui klien informasi
mengatakan mengerti 3. Berikan informasi 2. Memenuhi
tentang penyakitnya tentang pengobatan dan kebutuhan belajar klien
dan pengobatannya, perawatan tentang 3. Memberikan
penyakitnya pengetahuan dan
4. Motivasi klien dalam pemahaman tentang
mengekspresikan pengobatan dan
ketidaktahuannya dan perawatan diri,
beri informasi yang sehingga klien dapat
dibutuhkan bersikap kooperatif
4. Memberikan
kesempatan untuk
mengoreksi persepsi
yang salah

Post-op
Resiko infeksi berhubungan dengan perawatan tak adekuat
Setelah diberikan ASKEP selama 1 x 24 jam diharapkan infeksi tidak terjadi
dengan
KH:
Tidak muncul tanda-tanda infeksi pada mata
Intervensi :
1) Anjurkan pasien untuk memakai kacamata saat mandi, tidur maupun di luar
ruangan sesuai indikasi
- Rasional : Kacamata dapat digunakan sebagai tameng pelindung mata dari air,
debu maupun mengucek mata sehingga tidak terjadi infeksi pada mata.
2) Kolaborasi dalam pemberian Fluorometholone 0.1% dan antibiotic sesuai
indikasi
- Rasional : Mengatasi respon inflamasi dan mencegah infeksi.