Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN CA COLON

A. KOLON DAN REKTUM

Kolon dan rektum merupakan bagian dari usus besar pada sistem pencernaan yang
disebut juga traktus gastrointestinal. Fungsi usus besar adalah membantu tubuh menyerap
nutrisi dan cairan dari makanan yang kita makan dan minum. Setelah menyerap nutrisi yang
dibutuhkan tubuh, usus kemudian membuang zat-zat yang tidak berguna dalam tubuh
dalam bentuk tinja melalui rektum dan anus. Panjang usus besar (kolon dan rektum) adalah
1500 cm, dan terdiri dari sekum, kolon asenden, kolon tranversum, kolon desenden, kolon
sigmoid, dan rektum. Kolon berada di bagian proksimal usus besar sedangkan panjang
rektum sekitar 13 cm dan berada sekitar 2-3 cm di atas tulang ekor, dimana terdapat
lengkungan ke arah bawah yang membentuk lubang anus (Tortora & Grabow, 2002).
Dinding usus besar memiliki tiga lapisan, berikut ini gambar 2.1 yang merupakan gambar
lapisan pada dinding usus besar.

Gambar 1 Lapisan Pada Dinding Usus Besar (AJCC, 2010)

Pada gambar 2.1 terlihat lapisan pada dinding usus besar, yaitu lapisan mukosa
(bagian dalam) yang berfungsi sebagai pencerna dan absorpsi makanan, lapisan muskularis
(bagian tengah) yang berfungsi untuk menolak makanan ke bawah, dan lapisan serosa
(bagian luar) yang merupakan bagian sangat licin sehingga dinding usus tidak berlengketan
satu sama lain di dalam rongga abdomen.
Terdapat beberapa penyakit yang terjadi di usus besar. Hal ini juga terjadi pada kolon
dan rektum. Beberapa penyakit yang terjadi pada kolon dan rektum adalah sebagai berikut
(Parker, 2009: 190):
1. Kanker Kolorektal : Kanker kolorektal adalah kanker yang terjadi pada kolon dan rectum.
2. Polip kolon : Polip kolon adalah pertumbuhan daging yang terjadi pada lapisan bagian
dalam usus besar. Beberapa polip tidak berbahaya, namun beberapa polip dapat
berubah menjadi kanker.
3. Kolitis Ulseratif : Kolitis ulseratif (Ulcerative Colitis) adalah peradangan pada lapisan usus
besar (kolon dan rektum). Maka penyakit ini sering disebut juga penyakit radang
usus(inflammatory bowel disease). Gejala yang sering ditimbulkan dari penyakit ini
adalah pendarahan pada rektum, diare, kram perut, penurunan berat badan, dan demam.
Penyakit kolitis ulseratif yang sudah diderita selama bertahun-tahun akan meningkatkan
resiko terkena kanker kolorektal.
4. Penyakit Crohn : Pada penyakit Crohn, bercak radang disertai ulserasi dapat timbul di
mana saja sepanjang saluran pencernaan, dari mulut hingga anus. Penyakit ini
menyebabkan penyempitan anus.

B. KANKER KOLON
1. DEFINISI
Tumor adalah suatu benjolan atau struktur yang menempati area tertentu pada
tubuh, dan merupakan neoplasma yang dapat bersifat jinak atau ganas (FKUI,2008 : 268).
Sedangkan Kanker adalah suatu penyakit yang di tandai dengan pembagian sel
yang tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya,
baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan
migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini
menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol
pembagian sel dan fungsi lainnya (Gale, 2000 : 177).
Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa abnormal / neoplasma yang
muncul dari jaringan epithelial dari kolon. Kanker kolon/usus besar adalah tumbuhnya sel
kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kanker kolon adalah
pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh pada kolon dan menginvasi jaringan
sekitarnya( Brunner and Suddarth ,2001: 810 ).
Kanker kolorektal (colo-rectal carcinoma) atau disebut juga kanker usus besar
adalah kanker yang terjadi ketika sel-sel abnormal tumbuh pada lapisan kolon atau rektum.
Umumnya, kanker kolorektal jarang ditemukan sebelum usia 40 tahun dan resiko terjadinya
kanker kolorektal akan meningkat pada usia 50 tahun. Kanker kolorektal biasanya
berkembang perlahan-lahan selama 10 sampai 15 tahun. Gejala adanya tumor pada kolon
biasanya ditandai dengan adanya polip yang memiliki resiko kanker. Sekitar 96% penyebab
kanker kolorektal adalah adenocarcinomas yang berkembang dari jaringan kelenjar (Alteri,
et al, 2011: 2). Berikut adalah gambar 2 mengenai penyebaran kanker kolorektal.
Gambar 2. Penyebaran Kanker Kolorektal (National Cancer Institute)
Pada gambar 2. terlihat penyebaran kanker di kolon atau rektum. Pada saat stage 0
atau normal tidak ditemukan adanya kanker yang tumbuh pada kolon atau rektum. Kanker
tumbuh di usus besar melalui lapisan dan menembus lapisan diding usus besar atau
rektum. Kanker yang telah menembus dinding juga dapat menembus darah atau kelenjar
getah bening (lymph node), yang merupakan saluran tipis. Pada umumnya, sel-sel kanker
pertama kali menyebar ke kelenjar getah bening di dekat sel kanker tersebut, kelenjar getah
bening memiliki struktur seperti kacang yang membantu melawan infeksi. Sel-sel kanker itu
dapat dibawa oleh pembuluh darah (blood vessel) ke hati, paru-paru, rongga perut, atau
ovarium. Proses dimana sel-sel kanker menyebar ke organ lain melalui pembuluh darah
disebut metastasis (Alteri, et al, 2011: 2).

2. ETIOLOGI
Penyebab dari kanker kolon antara lainnya :
1) Diet
Makanan yang mengandung zat kimia menyebabkan kanker pada usus besar.
Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut, yang mempercepat
usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak trutama
lemak hewan dari daging merah, menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob,
menyebabkan timbulnya kanker di dalam usus besar. Diet dengan karbohidrat murni
yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu
peredaran dlam usus besar. Beberapa kelommpok menyarankan diet yang
mengandung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran & buah-buahan (e.g Mormons,
seventh Day Adventists).
Makanan yang harus di hindari :
Daging merah, lemak hewan, makanan berlemak, daging atau ikan goreng
panggang, karbohidrat yang di saring (example: sari yang di saring).
Makanan yang harus di konsumsi
Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan
kubis (seperti brokoli, brussels sprouts), butir padi yang utuh, cairan cukup terutama
air.
2) Kelainan kolon
Adenoma di kolon : degenerasi maligna menjadi adenokarsinoma.
Familial poliposis : polip di usus mengalami degenerasi maligna karsinoma.
Kondisi ulserative : penderita colitis ulserativa menahun mempunyai risiko
terkena karsinoma kolon.
3) Genetik
Anak yang berasal dari orangtua yang menderita karsinoma kolon mempunyai
frekuensi 3 kali lebih banyak dari pada anak-anak yang orang tuanya sehat.

3. FAKTOR RESIKO
Penyebab pasti kanker kolorektal belum diketahui. Beberapa ahli tidak dapat
menjelaskan, mengapa beberapa orang mengidap penyakit kanker kolorektal dan lainnya
tidak, tetapi penyakit kanker kolorektal tidak menular. Penelitian menunjukkan bahwa orang
yang memiliki resiko tertentu terserang kanker kolorektal. Faktor resiko adalah sesuatu yang
meningkatkan kemungkinan mengembangnya penyakit. Beberapa faktor resiko yang
mempengaruhi terjadinya kanker kolorektal, yaitu :
a. Usia : Usia mempengaruhi daya tahan tubuh manusia. Makin tua usia, makin
beresiko seseorang terkena penyakit. Orang yang berusia kurang lebih 50 beresiko
terkena kanker kolorektal. Lebih dari 90 persen dari orang yang didiagnosa terkena
kanker kolorektal berusia 50 keatas.
b. Riwayat Keluarga : Riwayat keluarga mempengaruhi perkembangan keganasan
kanker usus. Bahkan faktor ini adalah faktor resiko yang paling umum mempengaruhi
kanker usus selain faktor usia. Terdapat banyak organisasi yang yang menggunakan tes
genetik untuk diagnosis lanjut kanker usus besar (Burt, 2000: 837).
c. Riwayat Penyakit : Penyakit yang terdapat pada seseorang dapat memicu penyakit-
penyakit lainnya, begitu juga dengan kanker kolorektal dapat dipicu oleh beberapa
penyakit, yaitu:
1) Penyakit Polip Kolon : Polip adalah pertumbuhan jaringan yang berkembang pada
lapisan usus besar atau rektum yang dapat menjadi kanker (Alteri, et al, 2011: 2).
Terdapat beberapa jenis polip, yaitu polip adenomatus atau adenoma, polip hiperplastik,
dan polip inflamasi. Polip adenoma merupakan polip yang dapat berubah menjadi
kanker, sedangkan polip inflamasi dan hiperplastik bukan prekanker. Namun jika polip
hiperplastik tumbuh pada kolon sisi sebelah kanan maka dapat menimbulkan kanker
(Gontar Alamsyah Siregar, 2007: 4).
2) Penyakit Radang Usus : Penyakit radang usus adalah suatu kondisi dimana usus
besar yang meradang selama jangka waktu yang lama. Pasien yang terkena radang
usus besar dalam jangka waktu yang lama akan mengembangkan dysplasia. Dysplasia
istilah yang digunakan untuk menggambarkan sel-sel lapisan usus besar atau rektum
yang terlihat normal (tetapi tidak seperti sel kanker sebenarnya) jika dilihat dari
mikroskop. Selanjutnya jika radang dibiarkan maka sel-sel ini berubah menjadi kanker
(Japerson, et al, 2010: 336). Penyakit radang usus meliputi dua keadaan dengan gejala
yang mirip kolitis ulseratif dan crohn (Parker, 2009: 190). Gejala kedua kelainan ini
adalah nyeri perut, diare, hilang nafsu makan, demam, pendarahan usus, dan berat
badan turun.
3) Penyakit Diabetes : Banyak penelitian yang menemukan hubungan antara diabetes
dan peningkatan resiko kanker kolorektal. Ciri-ciri fisik yang ditunjukkan oleh penderita
diabetes (tipe 2) hampir sama dengan penderita kanker, seperti aktifitas fisik, indeks
massa tubuh, dan lain-lain. Tetapi hal ini lebih banyak ditemukan pada pria daripada
wanita (Alteri, et al, 2011: 10).
d. Kelebihan Berat Badan : Kelebihan berat badan atau obesitas dapat mempertinggi
resiko terkena kanker kolorektal, hal ini terjadi lebih sering pada pria daripada wanita.
Semakin besar ukuran lingkar badan seseorang semakin besar juga resiko kanker
kolorektal (Alteri, et al, 2011: 10).
e. Diet : Pola diet yang salah pada seseorang dapat memicu tumbuhnya kanker
kolorektal. Banyak orang yang ingin memiliki bentuk badan yang ideal dengan cara diet
yang salah yaitu dengan mengurangi kalori yang dimakan secara besar-besaran. Pola
diet yang salah ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan vitamin dan mineral.
f. Komsumsi Alkohol : Dampak buruk dari penggunaan alkohol akan mengenai bebagai
organ di dalam tubuh, yaitu otak, pencernaan mulai dari mulut sampai usus besar, liver,
pankreas, dan otot tulang. Alkohol dapat menyebabkan peradangan kronis pada saluran
pencernaan, membentuk erosi sampai tukak usus dan selanjutnya akan menyebabkan
perubahan struktur dalam usus sampai berubah menjadi sel ganas atau kanker (Widodo
Judarwanto, 2006: 92)
g. Faktor Makanan : Makanan yang di konsumsi tentunya mempengaruhi kesehatan
seseorang. Seseorang yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak, rendah serat, dan
bahan makanan yang mengandung karsinogen (pemicu kanker) dapat mempertinggi
resiko terkena kanker kolorektal. Sedangkan seseorang yang rajin mengkonsumsi
makanan tinggi serat dan multivitamin serta multimineral akan menurunkan resiko kanker
hingga 84 persen.

4. KLASIFIKASI
Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai berikut:
A: Kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada metastasis.
B1: kanker telah meinfiltrasi lapisan muskularis mukosa.
B2: kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria.
C1 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening sebanyak satu
sampai empat buah
C2 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih dari lima
buah.
D : kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang
luas dan tidak dapat di operasi lagi.

Menurut National Cancer Institute (2006: 12) klasifikasi stadium kanker kolorektal
dapat didefinisikan sebagai berikut :
a. Stadium 0 (Carsinoma in Situ) : kanker hanya pada lapisan terdalam dari kolon atau
rektum.
b. Stadium I : sel kanker telah tumbuh pada dinding dalam kolon atau rektum, tapi belum
menembus ke luar dinding.
c. Stadium II : sel kanker telah menyebar ke dalam lapisan otot dari kolon atau rektum.
Tetapi sel kanker di sekitarnya belum menyebar ke kelenjar getah bening.
d. Stadium III : kanker telah menyebar ke satu atau lebih kelenjar getah bening di daerah
tersebut, tetapi tidak ke bagian tubuh yang lain.
e. Stadium IV : kanker telah menyebar di bagian lain dari tubuh, seperti hati, paru-paru,
atau tulang.

Tabel : stadium pada ca. Kolon yang di temukan dengan system TMN
STADIUM TINGKAT PENYEBARAN
TIS Carsinoma in situ
T1 Belum mengenai otot dinding, polipoid/papiler
T2 Sudah mengenai otot dinding
T3 Semua lapis dinding terkena, penyebaran ke sekitar
T4 Sama dengan T3 dengan fistula
N Limfonodus terkena
M Ada metastasis

5. PATOFISIOLOGI
1) Anatomi fisiologi kolon
Usus besar atau kolon adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama
organ ini adalah menyerap air dari feses. Pada mamalia, kolon tediri dari kolon
menanjak (ascending), kolon melintang transverse), kolon menurun (descending),
sigmoid, dan rektum. Bagian kolon dari usus buntu hingga pertengahan kolon melintng
sering di sebut dengan kolon kanan, sedangkan bagian sisanya serng di sebut dengan
kolon kiri .
2) Perubahan patologi
Karsinoma kolon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini
tumbuh tidak terdeteksi sampai gejala-gejala muncul secara perlahan dan tampak
membahayakan. Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode. Tumor mungkin
menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut, mencapai serosa dan
mesenterikfat, kemudian umor ini mulai mendekat pada organ yang ada di sekitarnya,
kemudian meluas ke dalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limfa atau pada
sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsumg masuk dari tumor utama melewati
pembuluh darah pada usus besar melalui limfa, setelah sel tumor masuk pada sistem
sirkulasi, biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tampat yang
jauh kemudian metastase ke paru-paru. Tempat metastase yang lain di antaranya :
Kelenjar Adrenalin, Ginjal, Kulit, Tulang, Otak. Penambahan untuk infeksi secara
langsung dan menyebar melalui limfa dan sistem sirkulasi, tumor kolon juga dapat
menyebar pada bagian peritonial sebelum pembedahan tumor di lakukan. Penyebaran
terjadi ketika tumor di hilangkan dan sel kanker dari tumor pecah menuju ke rongga
peritonial.

6. MANIFESTASI KLINIS
Gejala sangat di tentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen
usus tempat kanker berlokasi. Adanya perubahan dalam defekasi, darah pada feses,
konstipasi, perubahan dalam penampilan feses, tenesmus, anemia dan perdarahan rectal
merupakan keluhan yang umum terjadi.
1. Kanker kolon kanan : Isi kolon berupa cairan, cenderung teteap tersamar hingga
stadium lanjut. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi, karena lumen usus
besar dan feses masih encer. Anemia akibat perdarahan sering terjadi, dan darah
bersifat samar dan hanya dapat dideteksi dengan tes Guaiak (suatu tes sederhana
yang dapat di lakukan di klinik). Mucus jarang terlihat, karena tercampur dalam
feses. Pada orang yang kurus, tumor kolon kanan mungkin dapat teraba, tetapi
jarang pada stadium awal. Penderita mungkin mengalami perasaan tidak enak
pada abdomen, dan kadang-kadang pada epigatrium.
2. Kanker kolon kiri dan rectum : Cenderung menyebabkan perubahan defekasi
sebagai akibat iritasi dan respon refleks. Diare, nyeri kejang, dan kembung sering
terjadi. Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar, sering timbul gangguan
obstruksi. Feses bisa kecil dan berbentuk pita. Baik mucus maupun darah segar
sering terihat pada feses. Dapat terjadi anemia karena kehilangan darah kronik.
Pertumbuhan pada sigmoid atau rectum dapat mengenairadiks saraf, pembuluh
limfe atau vena, menimbulkan gejala-gejala pada tungkai atau perineum. Hemoroid,
nyeri pinggang bawah, keinginan defekasi atau sering berkemih dapat timbul
sebagai akibat tekanan pada alat-alat tersebut. Gejala yang mungkin dapat timbul
pada lesi rectal adalah evakuasi feses yang tidak lengkapsetelah defekasi,
konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah.

7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Endoskopi : Pemeriksaan endoskopi perlu di lakukan baik sigmoidoskopi maupun
kolonoskopi.
2) Radiologis : Pemeriksaan radiologis yang dapat di lakukan antara lain adalah foto dada
dan foto kolon ( barium enema). Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat
memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Tes ini menggambarkan
adanya kebuntuan pada isi perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada
lumen. Luka yang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium
secara umum di lakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy.
3) Computer Tomografi (CT) : Membantu memperjelas adanya massa dan luas penyakit.
Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah
metastasis.
4) Histopatologi : Biopsy di gunakan untuk menegakkan diagnosis. Gambar histopatologis
karsinoma kolon adalah adenokarsinoma dan perlu ditentukan diferensiansi sel.
5) Laboratorium : Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien
mengalami perdarahan. Nilai hemoglobin dan hematocrit biasanya turun dengan indikasi
anemia. Hasil tes Gualac positif untuk accult blood pada feces memperkuat perdarahan
pada GI Tract. Pasien harus menghindari daging, makanan yang mengandung
peroksidase (tanaman lobak dan gula bit) aspirin dan vitamin C untuk 48 jam sebelum
diberikan feces spesimen.
6) Ultrasonografi (USG) : Sulit dilakukan untuk memeriksa kanker pada kolon, tetapi
digunakan untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker ke kelenjar getah bening di
abdomen dan hati.

8. PENATALAKSANAAN
Bila sudah pasti karsinoma kolon, maka kemungkinan pengobatan adalah sebagai
berikut ;
a. Pembedahan (operasi)
Operasi adalah penanganan yang paling efektif dan cepat untuk tumor yang
diketahui lebih awal dan masih belum metastasis , tetapi tidak menjamin semua sel
kanker telah terbuang. Oleh sebab itu dokter bedah biasanya juga menghilangkan
sebagian besar jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker.
b. Penyinaran (Radioterapi)
Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya sinar
X, atau sinar gamma, di fokuskan untuk merusak daerah yang di tumbuhi tumor,
merusak genetik sehingga membunuh kanker. Terapi radiasi merusak se-sel yang
pembelahan dirinya cepat, antara lain sel kanker, sel kulit, sel dinding lambung dan
usus, sel darah.. Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan
kehilangan nafsu makan.
c. Kemotherapy
Chemotherapy memakai obat anikanker yang kuat, dapat masuk ke dalam
sirkulasi darah, sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah menyebar. Obat
chemotherapy ini ada kira-kira 50 jenis. Biasanya di injeksi atau di makan, pada
umumnya lebih dari satu macam obat, karena digabungkan akan memberikan efek
yang lebih bagus.
d. Kolostomi
Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari
pengeluaran sebagian bentuk kolon (usus besar) ke dinding abdomen (perut), stoma
ini dapat bersifat sementara atau permanen.
Tujuan Pembuatan Kolostomi adalah.
Untuk tindakan dekompresi usus pada kasus sumbatan / obstruksi usus.
Sebagai anus setelah tindakan operasi yang membuang rektum karena adanya
tumor atau penyakit lain. Untuk membuang isi usus besar sebelum dilakukan
tindakan operasi berikutnya untuk penyambungan kembali usus (sebagai stoma
sementara).
Jenis-Jenis Kolostomi.
1. Jenis kolostomi berdasarkan sifatnya:
a. Sementara
Indikasi untuk kolostomi sementara :
1). Hirschprung disease
2). Luka tusuk atau luka tembak
3). Atresia ani letak tinggi
4). Untuk mempertahankan kelangsungan anastomosis distal usus setelah
tindakan operasi (mengistirahatkan usus).
5). Untuk memperbaiki fungsi usus dan kondisi umum sebelum dilakukan
tindakan operasi anastomosis.
b. Permanen
Indikasi untuk kolostomi permanen :
Penyakit tumor ganas pada kolon yang tidak memungkinkan tindakan operasi
reseksi-anastomosis usus.
2. Jenis kolostomi berdasarkan letaknya :
Colostoy Asendens Colostomy Colostomi
Transversal Desendens
Lokasi Colon Asendens Colon Tansversum Colon Desendens
Konsistensi Cair atau lunak Lunak Padat
feses
Iritasi kulit Mudah terjadi, karenaMungkin terjadiKadang terjadi
kontak dengan enzimkarena lembab
pencernaan terus menerus
Komplikasi Striktur atau retraksi
stoma

3. Jenis kolostomi berdasarkan tekhnik pembuatan :


a. Single Barreled Colostomy
b. Double Barreled Colostomy
c. Loop Colostomy

9. KOMPLIKASI
Komplikasi terjadi sehubungan dengan bertambahnya pertumbuhan pada lokasi
tumor atau melalui penyebaran metastase yang termasuk :
Perforasi usus besar yang di sebabkan peritonitis
Pembentukn abses
Biasanya tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan
perdarahan. Tumor tumbuh kedalam usus besar secara berangsur-angsur membantu
usus besar dan pada akhirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor melebihi perut
dan mungkin menekan pada organ yang berada di sekitarnya (uterus, urinary bladder,
dan ureter) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi oleh kanker.
C. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
I. Pengkajian
1. Aktivitas / Istirahat
Pasien dengan kanker kolorektal biasanya merasakan tidak nyaman pada
abdomen dengan keluhan nyeri, perasaan penuh, sehingga perlu dilakukan
pengkajian terhadap pola istirahat dan tidur.
2. Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri pada pergerakan kerja. Kebiasaan : perubahan pada
tekanan darah.
3. Integritas ego
Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) & cara mengatasi stress
(misalnya : merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan
religius/spiritual)
4. Masalah tentang perubahan dalam penampilan misalnya : alopesia, lesi, cacat,
pembedahan.
5. Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak
merasakan, rasa bersalah, kehilangan.
Tanda : kontrol, depresi, menyangkal, menarik diri, marah.
6. Eliminasi
a. Perubahan fungsi kolon akan mempengaruhi perubahan pada defekasi
pasien, konstipasi dan diare terjadi bergantian.
b. Bagaimana kebiasaan di rumah : frekuensi, komposisi, jumlah, warna, dan
cara pengeluarannya, apakah dengan bantuan alat atau tidak.
c. Apakah keluhan yang menyertainya.
d. Apakah kebiasaan di rumah sakit sama dengan kebiasaan di rumah.
e. Pada pasien dengan kanker kolerektal dapat dilakukan pemeriksaan fisik
dengan observasi :
- Distensi abdomen,
- Massa akibat timbunan feses,
- Masa tumor abdomen,
- Pembesaran hepar akibat matastase, asites,
- Pembesaran kelenjar inguinal,
- Pembesaran kelenjar aksila dan supra klavikula,
- Pengukuran tTB dan BB, Lingkat perut, dan colok dubur.
7. Makanan/ Cairan
Gejala : kebiasaan makan pasien di rumah dalam sehari, seberapa banyak dan
komposisi setiap kali makan adakah pantangan terhadap suatu makanan , ada
keluhan anoreksia, mual, perasaan penuh (begah), muntah, nyeri ulu hati
sehingga menyebabkan berat badan menurun.
Tanda : perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema.
8. Neurosensori
- Gejala : pusing, skinkope, karena pasien kurang beraktivitas, banyak tidur
sehingga sirkulasi darah ke otak tidak lancar.
- Nyeri/kenyamanan. Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misal nyeri
berat (dihubungkan dengan proses penyakit)
9. Pernapasan
Apakah pasien merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seorang perokok.
Apakah pasien terpajan asbes.
10. Keamanan
- Gejala : pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari
lama/ berlebihan
- Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi
11. Seksualitas
- Gejala : Masalah seksual misalnya dampak pada hubungan, perubahan
pada tingkat kepuasan. Multigravida lebih besar dari usia 30 Tahun.
- Multigravida pasangan seks multipel, aktivitas seksual dini, herpes genital
12. Interaksi sosial
Gejala : ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung.
13. Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan, atau
bantuan). Masalah tentang fungsi/ tanggung jawab peran penyuluhan/
pembelajaran.
- Gejala : Riwayat kanker pada keluarga misalnya ibu atau bibi dengan
kanker payudara
- Sisi primer : penyakit primer, tangga ditemukan didiagnosis
- Penyakit metastatik : sisi tambahan yang terlibat; bial tidak ada, riwayat
alamiah dari primer akan memberikan informasi penting untuk mencari
metastatik.
14. Riwayat pengobatan : pengobatan sebelumnya untuk tempat kanker dan
pengobatan yang diberikan.

II. Diagnosa Keperawatan


Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan utama mencakup :
1. Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi
2. Nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri, proses penyakit, anemia dan
anoreksia
4. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
anoreksia
5. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan dehidrasi
6. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan diagnosis kanker
7. Defisit perawatan diri (personal hygiene) berhubungan dengan intoleransi
aktivitas, nyeri, keletihan
8. Kurang pengetahuan mengenai diagnosa, prosedur pembedahan, dan
perawatan diri setelah pulang
9. Interaksi sosial, hambatan berhubungan dengan ketakutan, gangguan harga diri,
isolasi terpeutik
10. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kolostomi
11. Disfungsi seksual/pola seksual, perubahan, berhubungan dengan nyeri,
perubahan citra tubuh, ketakutan (pasien dan/atau pasangan), keletihan

III. Perencanaan Keperawatan


1. Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi
Pantau frekuensi dan konsistensi defekasi.
Instruksikan pasien dalam bantuan eliminasi defekasi yang akan
meningkatkan pola defekasi yang optimal.
Ajarkan kepada pasien tentang efek diet (misal : cairan, dan serat) pada
eliminasi.
Instruksikan pasien tentang konskuensi penggunaan laksatif jangka
panjang.
Tekankan penghindaran mengejan selama defekasi untuk mencegah
perubahan tanda vital, skit kepala atau perdarahan.
Berikan privasi dan keamanan untuk pasien selama eiminasi defekasi.
Kolaborasi :
Konsultasikan kepada ahli gizi untuk meningkatkan serat dan cairan dalam
diet.
Minta program dari dokter untuk memberikan bantuan, eliminasi, seperti diet
tinggi serat, pelembut feses, enema dan laksatif.
Konsultasikan kepada dokter tentang penurunan/peningkatan frekuensi
bisisng usus.
2. Nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi
Kaji skala dan kuantitas nyeri pasien.
Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan
nyeri dan tawarkan saran koping.
Ajarkan teknik nonfarmakologi : hipnosis, relaksasi, imajinasi terbimbing,
terapi musik, distraksi, kompres hangat/dingin, dan masase.
Ciptakan linkungkungan yang kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan
lampu, mematikan televisi atau lampu, atur suhu ruangan dan kurangi
kegaduhan.
Batasi pengunjung dan telpon, apabila diinginkan pasien.
Kolaborasi dokter pemberian analgesik.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri, proses penyakit, anemia dan


anoreksia
Kaji toleransi aktivitas pasien
Ubah dan jadwalkan akifitas untuk memungkinkan periode tirah baring yang
adekuat dalam upaya untuk menurunkan keletihan pasien.
Berikan terapi komponen darah sesuai resep bila pasien menderita anemia
berat.
Berikan pedoman untuk tranfusi darah agar keamanan umum dan kebijakan
institusi diikuti.
Pantau respons fisiologis terhadap aktivitas mis., perubahan TD, atau
frekuensi jantung/pernapasan.
Tingkatkan dan pantau toleransi aktifitas pasca operasi.
Ajarkan pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah
keletihan.

4. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
anoreksia
Pantau masukkan makanan setiap hari
Ukur tinggi dan berat badan dan ketebalan kulit trisep. Pastikan jumlah
penurunan berat badan saat ini.
Kontrol faktor lingkungan (mis. Bau kuat/tidak sedap atau kebisingan).
Hindar terlalu manis, berlemak, atau makanan pedas.
Dorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia.
Kolaborasi :
Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi mis., jumlah limfosit
total, transferin serum, dan albumin.
Berikan obat-obatan sesuai indikasi : gol Fenotiazin, gol kortikosteroid,
vitamin (A, D, E, dan B6), Antasid.
Pasang/pertahankan selang NG atau pemberian makan untuk makanan
enteral atau jalur sentral untuk hiperalimentasi parenteral bila diindikasikan.

5. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan dehidrasi


pantau masukkan dan haluaran dan berat jenis; masukkan semua sumber
haluaran mis., muntah, diare, luka basah. Hitung keseimbangan 24 jam.
Pantau tanda vital, evaluasi nadi perifer, pengisian kapiler.
Kaji turgor kulit dan kelembaban membran mukosa. Perhatikan keluhan
haus.
Dorong peningkatan masukkan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai dengan
toleransi individu.
Minimalkan pungsi vena (misalnya kombinasikan memulai IV dengan
pengambilan contoh darah). Dorong pasien untuk mempertimbangkan
penempatan kateter vena sentral.
Kolaborasi :
Berikan cairan IV sesuai indikasi.
Berikan terapi antimetik.
Pantau pemeriksaan laboratorium mis : JDL, elektrolit, albumin serum.
Berikan transfusi sesuai indikasi : Sel Darah Merah, Trombosit.
Hindari penggunaan aspirin, iritan labung, atau inhibitor trombosit.

6. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan diagnosis kanker


Kaji tingkat ansietas pasien : mekanisme koping yang digunakan untuk
menghadapi stress.
Upaya pendukung : privasi dan latihan relaksasi.
Luangkan waktu untuk mendengarkan ungkapan, kesedihan, pertanyaan
yang diajukan pasien.
Pertemuan anggota rohaniawan bila pasien menginginkannya, dengan
dokter apabila pasien mengharapkan diskusi pengobatan atau prognosis
dan dengan ahli terapi enterosomal.
Penderita stoma yang lain dapat diminta untuk berkunjung apabila pasien
mengungkapkan minat untuk berbicara dengan mereka.
Tingkatkan kenyamanan pasien, perawat harus mengutamakan relaksasi
dan perilaku empati.
Pertanyaan yang diajukan dijawab dengan jujur.
Semua tes dan prosedur dijelaskan menggunakan bahasa yang mudah
dipahami pasien.
Setiap informasi dari dokter harus dijelaskan jika perlu, kadang-kadang
kecemasan berkurang jika pasien mengetahui persiapan fisik yang
diperlukan selama periode praoperasi & mengetahui kemungkinan hasil
pascaoperasif.
Beberapa pasien akan lebih senang jika diperbolehkan melihat hasil
pemeriksaan sementara yang lain lebih memilih untuk tidak mengetahuinya.
Kebutuhan dan keinginan pasien akan informasi dikaji dan digunakan
sebagai pedoman pengajaran.

7. Defisit perawatan diri (personal hygiene) berhubungan dengan intoleransi


aktivitas, nyeri, keletihan
Kaji kemampuan klien menggunakan alat bantu.
Kaji membran mukosa oral dan kebersihan tubuh setiap hari.
Kaji kondisi kulit saat mandi.
Pantau adanya perubahan kemampuan fungsi.
Bantuan perawatan diri : mandi/Hygiene, pantau kebersihan kuku
berdasarkan perawatan diri pasien.
Ajarkan pasien/keluarga penggunaan metode alternatif untuk mandi dan
hygiene mulut.
Dukung kemandirian dalam melakukan mandi dan hygiene mulut, bantu
pasien hanya jika diperlukan.
Libatkan keluarga dalam penentuan rencana.

8. Kurang pengetahuan mengenai diagnosa, prosedur pembedahan, dan


perawatan diri setelah pulang
Tinjau ulang dengan pasien/orang terdekat pemahaman diagnosa khusus,
alternatif pengobatan dan sifat harapan.
Tentukan persepsi pasien tentang kanker dan pengobatan kanker, tanyakan
tentang pengalaman pasien sendiri/sebelumnya atau pengalaman orang lain
yang mempunyai (atau pernah mempunyai) kanker.
Berikan informasi yang jelas dan akurat dalam cara yang nyata tetapi
sensitif. Jawab pertanyaan secara khusus, tetapi tidak memaksakan dengan
detil-detil yang tidak penting.
Berikan pedoman antisipasi pada pasien/orang terdekat mengenai protokol
pengobatan, lama terapi, hasil yang diharapkan, kemungkinan efek
samping. Bersikap jujur dengan pasien.
Berikan materi tertulis tentang kanker, pengobatan serta ketersediaan
sistem yang mendukung.
Tinjau ulang aturan pengobatan khusus dan penggunaan obat yang dijual
bebas.

9. Interaksi sosial, hambatan berhubungan dengan ketakutan, gangguan harga diri,


isolasi terpeutik
Kaji pola interaksi pasien dengan orang lain.
Tetapkan jadwal interaksi .
Identifkasi perubahan perilaku yang sfesifik.
Identifikasi tugas-tugas yang dapat meningkatkan atau memperbaiki
interaksi sosial.

10. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kolostomi


Kaji dan dokumentasikan respon verbal dan nonverbal pasien tentang tubuh
pasien.
Dengarkan pasien/keluarga secara aktif dan akui realitas adanya perhatian
terhadap perawatan, kemajuan dan prognosis.
Bantu pasien dan keluarga untuk mengidentifikasi mekanisme koping dan
kekuatan personal dan pengakuan keterbatasan.
Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, pelihara privasi dan
martabat klien.

11. Disfungsi seksual/pola seksual, perubahan, berhubungan dengan nyeri,


perubahan citra tubuh, ketakutan (pasien dan/atau pasangan), keletihan
Diskusikan dengan pasien/orang terdekat sifat seksualitas dan reaksi bila ini
berubah atau terancam. Berikan informasi tentang normalitas masalah-
masalah ini dan bahwa banyak oran menemukan bantuan untuk proses
adaptasi.
Anjurkan pasien tentang efek samping dari pengobatan kanker yang
diresepkan dan diketahui mempengaruhi seksualitas.
Berikan waktu tersendiri untuk pasien dirawat. Ketuk pintu dan dapatkan izin
dari pasien/orang terdekat sebelum masuk.

IV. Evaluasi
Hasil yang diharapkan
1. Mempertahankan eliminasi usus adekuat
2. Mengalami sedikit nyeri
3. Meningkatkan toleransi aktivitas
4. Mencapai tingkat nutrisi optimal
a. Makan diet rendah residu, tinggi protein dan tinggi kalori
b. Kram abdomen berkurang
5. Keseimbangan cairan tercapai
a. Membatasi masukkan makanan dan cairan oral bila terjadi mual
b. Berkemih sedikitnya 1,5 L/24 jam
6. Mengalami penurunan ansietas
a. Mengungkapkan masalah dan rasa takut dengan bebas
b. Menggunakan tindakan koping untuk menghadapi stres
7. Memerlukan informasi tentang diagnosis, prosedur bedah, dan perawatan diri
setelah pulang
a. Mendiskusikan diagnosa, prosedur bedah, dan perawatan diri
pascaoperatif
b. Mendemonstrasikan teknik perawatan ostomi
8. Mempertahankan insisi tetap bersih, stoma dan luka perineal
a. Secara bertahap meningkatkan partisipasi dalam perawatan stoma dan
kulit periostomal
9. Menunjukkan keterlibatan sosial : adanya interaksi dengan teman dekat,
keluarga, tetangga, dan anggota kelompok kerja.
10. Mengungkapkan perasaan dan masalah tentang diri sendiri secara verbal
11. Tidak mengalami komplikasi
a. Menggunakan antibiotik oral sesuai resep
b. Bekerjasama dalam protokol pembersihan usus
c. Tidak demam
d. Lingkar abdomen dalam batas normal atau menurun
e. Tidak ada bukti perforasi atau perdarahan
12. Mengungkapkan pemahaman tentang efek kanker dan aturan pengobatan pada
seksualitas dan tindakan memperbaiki/menghadapi masalah.
Mempertahankan aktivitas seksual pada tingkat yang diinginkan bila mungkin.
DAFTAR PUSTAKA

Buku ajar bedah / David C. Sabiston ; alih bahasa Petrus Andrianto ; Editor, Devi H.
Ronardy. Jakarta : EGC, 1994
Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner & Suddarth / editor, Suzanne C. Smeltzer,
Brenda G. Bare ; alih bahasa, Agung Waluyo ... [et al] ; editor bahasa Indonesia,
Monica Ester ... [et al]. Ed. 8. Jakarta : ECG ; 2001
Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan intervensi NIC dan kriteria hasil NOC / Judith M.
Wilkinson ; alih bahasa, Widyawati ... [et al] ; editor edisi bahasa Indonesia, Eny
Meiliya, Monica Ester. Ed. 7. Jakarta : EGC, 2006.
Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2.
(terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.
Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan).
Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan).
Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2,
(terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia