Anda di halaman 1dari 2

Nama : Raya Ambara Sony Music Entertainment

NIM : 16/402294/PEK/21829 Evolution of The Music Industry


Executive Summary
PepsiCo adalah perusahaan minuman dan camilan terbesar di dunia, dengan pendapatan
bersih pada tahun 2013 sebesar $66,4 miliar. PepsiCo mendiversifikasi lini bisnisnya ke dalam tiga
kategori yaitu makanan ringan, minuman, dan merk dari Quaker Oats. Dari ketiga kategori tersebut,
kemudian dipecah lagi menjadi berbagai macam merk yang kemudian didistribusikan ke seluruh
dunia.Manajemen puncak dari PepsiCo fokus dengan mempertahankan sustainability dari
perusahaan melalui performa perusahaan dengan strategi inovasi, hubungan yang dekat dengan
distributor dan mitra, ekspansi internasional, dan akuisisi strategis.

PepsiCo berusaha mempertahankan kebijakan dividen yang agresif pada tahun 2003 hingga
2013, dengan harapan memberikan sinyal yang baik pada shareholder bahwa PepsiCo merupakan
perusahaan bernilai baik yang terus tumbuh. PepsiCo mengembalikan lebih dari $53 miliar kepada
para pemegang saham melalui pembagian dividen. Tentu saja, pembagian dividen merupakan sisa
kas diluar anggaran kebutuhan belanja modal dan akuisisi perusahaan di masa depan. Untuk
mewujudkan hal tersebut, PepsiCo menerapkan kebijakan efisiensi pada seluruh aktivitas bisnisnya,
mulai dari penggunaan mesin dan otomatisasi proses manufaktur, rencana manufaktur global yang
dirasionalisasi, perbaikan sistem distribusi, dan simplifikasi struktur organisasi untuk mendorong
efisiensi.

PepsiCo menerapkan rencana untuk menjaga keletarian lingkungan hidup dengan cara,
mengurangi efek negatif pada lingkungan melalui pengurangan energi dan penggunaan air,
mengurangi penggunaan material untuk kemasan, menyediakan lingkungan kerja yang aman dan
nyaman pada pekerja, serta mendukung pengembangan daerah tempat PepsiCo beroperasi.
Meskipun PepsiCo mendapatkan penghargaan dan performanya terlihat baik selama 10 tahun
terakhir, ternyata kebanyakan keberhasilan tersebut merupakan hasil dari akuisisi yang dilakukan
terhadap Quaker Oats pada tahun 2001, Pepsi Bottling Group dan PepsiCo Americas yang
sebelumnya independen, dan WBD sebuah perusahaan makanan dan minuman terbesar di Rusia.
Justru beberapa anak perusahaan dari PepsiCo didivestasi karena performanya buruk, ataupun tidak
sesuai dengan strategic fit dari PepsiCo. Salah satu divisi yang didivestasi oleh PepsiCo adalah
divisi restauran pizza yang dimiliki dan berbagai macam perusahaan di kawasan internasional.

PepsiCo cukup berhasil melakukan strategi diversifikasinya, meskipun masih berusaha untuk
memperbaiki portofolio perusahaannya agar mampu memenuhi strategic fit. Berdasarkan strategi
yang diterapkan tersebut, PepsiCo mampu memperoleh keuntungan efek economies of scale dan
economies of scope dari berbagai merek dan produk yang dijual di seluruh dunia.
Namun, dapat kita ketahui dari laporan keuangan masing-masing segmen bisnis PepsiCo,
marjin keuntungan yang diperoleh tidak merata. Terutama bagi segmen bisnis yang berada di luar
Amerika memiliki marjin yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan segmen bisnis yang
beroperasi di Amerika. Seperti yang kita lihat pada Exhibit 7, tren revenue dari masing-masing
segmen bisnis mengalami kenaikan, kecuali segmen bisnis Eropa, dan Asia.Seperti yang
diharapkan, laba operasional dari masing-masing segmen juga turut meningkat dari tahun ke tahun,
kecuali segmen Eropa dan Asia yang lebih fluktuatif. Tingkat belanja modal perusahaan masing-
masing segmen mengalami penurunan, hal ini berarti PepsiCo berusaha melakukan efisiensi dan
mengurangi penambahan aset mereka di masa depan. Justru PepsiCo banyak melakukan penjualan
aset mereka dari tahun ke tahun, seperti yang dapat kita lihat pada Exhibit 5. Meskipun pendapatan
dari PepsiCo memiliki tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun, marjin laba operasi yang
diterima masing-masing segmen terhadap pendapatannya ternyata tidak merata. Segmen bisnis
Frito-Lay North America, Quaker Foods North America, masing-masing memiliki marjin lebih dari
20%, sedangkan segmen lainnya memiliki marjin yang lebih rendah dari 20%, lebih rincinya
sebagai berikut Frito-Lay North America 27,4%, Quaker Foods North America 23,6%, Asia 18%,
Eropa 9%, Latin America 14%, PepsiCo Americas Beverages 14%. Hal ini tentu saja sangat kontras
ketika dilihat dari segi aset yang dimiliki oleh masing-masing segmen.

Terutama untuk segmen kawasan Eropa, dengan jumlah aset yang besar $18.702 juta
dibandingkan aset Quaker Foods North America $617 juta, marjin profit yang dihasilkan sangat
rendah. Hal ini menunjukkan bahwa segmen bisnis Eropa merupakan cash hog yang memerlukan
alokasi kas dari segmen bisnis lainnya. Sebab, minimnya marjin keuntungan operasional yang
dihasilkan berarti segmen Eropa kurang efisien. Berbeda dengan segmen Asia yang memiliki marjin
sebesar 18% dengan total aset yang jauh lebih kecil dari segmen Eropa, yaitu aset Asia sebesar
$5.754 juta. Selain itu lebih dari 2/3 penduduk dunia berada di kawasan Asia, terutama negara-
negara berkembang yang mempunyai pertumbuhan PDB cukup tinggi seperti China, India,
Thailand, dan Malaysia. Sehingga segmen bisnis Asia menurut saya adalah pilihan terbaik bagi
PepsiCo untuk melakukan strategi diversifikasinya.Sedangkan untuk segmen Eropa, PepsiCo dapat
melakukan divestasi dan restrukturisasi terhadap beberapa aset dan unit bisnisnya yang tidak sesuai
dengan strategic fit yang dimiliki oleh perusahaan secara global.