Anda di halaman 1dari 11

Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder serta Uji Aktivitas(Dian Riana Ningsih dkk)

IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER SERTA UJI AKTIVITAS


EKSTRAK DAUN SIRSAK SEBAGAI ANTIBAKTERI

IDENTIFICATION OF SECONDARY METABOLITES COMPOUNDS AND


ANTIBACTERIAL ACTIVITIES ON THE EXTRACT OF SOURSOP LEAF

Dian Riana Ningsih1*, Zusfahair1, Dwi Kartika1


1Jurusan Kimia FMIPA Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Indonesia
*email: deeyan_bik@yahoo.com
Received 23 February 2016; Accepted 27 April 2016; Available online 16 May 2016

ABSTRAK
Pengobatan penyakit infeksi bakteri menggunakan antibiotik semi sintetik dapat
menimbulkan resistensi, sehingga untuk mengatasinya diperlukan pencarian bahan obat
alami dari tanaman, salah satunya yaitu ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.).
Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri daun sirsak terhadap E.coli dan
mengidentifikasi golongan senyawa kimia yang paling aktif dari ekstrak tersebut. Daun
sirsak diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut n-heksan, kloroform, dan metanol.
Ekstrak diuji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi. Ekstrak dengan aktivitas
tertinggi ditentukan konsentrasi hambat tumbuh minimumnya (KHTM) dan diuji
kandungan metabolit sekundernya dengan uji fitokimia, selanjutnya diidentifikasi
menggunakan spektrofotometer IR . Hasil ekstraksi daun sirsak dengan pelarut n-heksana,
kloroform dan metanol menghasilkan ekstrak n-heksan (E1), ekstrak kloroform (E2), dan
ekstrak metanol (E3) dengan rendemen berturut-turut sebesar 0,82%; 5,21%; 8,2% dan
menghasilkan aktivitas antibakteri dengan zona hambat berturut-turut sebesar 3,52 mm;
8,34 mm; 3,00 mm. KHTM ekstrak kloroform daun sirsak terhadap bakteri Escherichia coli
yaitu pada konsentrasi 1 ppm dengan zona hambat sebesar 3,23 mm. Berdasarkan hasil uji
fitokimia ekstrak kloroform daun sirsak menunjukkan adanya senyawa golongan alkaloid,
steroid, saponin dan tanin. Hasil identifikasi spektrofotometer IR menunjukkan bahwa
ekstrak kloroform daun sirsak memiliki gugus fungsi OH, C-H alifatik, C=O, C=C
aromatik, CH3, C-O eter dan C-H di luar bidang.
Kata kunci: antibakteri, daun sirsak, ekstrak kloroform, Escherichia coli

ABSTRACT
Treatment of bacterial infectious diseases using semi-synthetic antibiotics can lead to
resistance, so as to overcome it necessary to search for natural ingredients from plant
extracts that has potential as an antibacterial, one of which is the leaf extract of soursop
(Annona muricata L.). This study aims to determine the antibacterial activity of soursop
leaf against E. coli and identify groups most active chemical compounds from the extracts.
Soursop leaves extracted by maceration using n-hexane, chloroform and methanol. The
extracts were tested for antibacterial activity using the diffusion method. Extract with the
highest activity determined the minimum inhibitory concentrations grow (MIC) and tested
the content of secondary metabolites with phytochemical test, subsequently identified
using IR spectrophotometer. Soursop leaves with extraction solvent n-hexane, chloroform
and methanol to produce n-hexane extract (E1), the chloroform extract (E2), and the
methanol extract (E3) with a yield respectively 0.82%; 5.21%; 8.2% and produce
antibacterial activity with consecutive inhibition zone of 3.52 mm; 8.34 mm; 3.00 mm.

101
Molekul, Vol. 11. No. 1. Mei, 2016: 101 - 111

MIC soursop leaf chloroform extract of the E. coli bacteria that is at a concentration of 1
ppm with inhibition zone of 3.23 mm. Based on the test results phytochemical soursop leaf
chloroform extract showed the presence of compounds alkaloids, steroids, saponins and
tannins. IR spectrophotometer identification results showed that the chloroform extract of
the leaves of the soursop has functional groups OH, aliphatic C-H, C = O, C = C aromatic,
CH3, C-O ether and C-H outside the field.
Keywords : antibacterial, chloroform extract, E. coli, soursop leaves

PENDAHULUAN seperti ini kemudian dikenal dengan


istilah zat antibakteri. Perkembangan obat
Penyakit infeksi merupakan salah
antibakteri merupakan suatu kemajuan
satu masalah dalam bidang kesehatan
terpenting dalam bidang pengobatan,
yang dari waktu ke waktu terus
karena pengobatan efektif terhadap infeksi
berkembang. Infeksi merupakan suatu
serius telah memperbaiki kualitas hidup
keadaan masuknya mikroorganisme ke
dan memberi banyak kemajuan dalam
dalam tubuh, berkembang biak dan
bidang kedokteran maupun di bidang
menimbulkan penyakit. Keadaan ini dapat
industri obat (Kumala, Tambunan, &
ditinjau sebagai suatu tipe parasitisme
Mochtar, 2006).
yang terjadi bila satu organisme hidup
Salah satu zat antibakteri yang
dengan merugikan organisme lain yaitu
banyak digunakan adalah antibiotik semi
inangnya, parasit berkembangbiak dan
sintetik. Meningkatnya penggunaan
aktif secara metabolik di dalam tubuh
antibiotik dalam mengatasi berbagai
inang. Penyakit infeksi dapat disebabkan
penyakit yang disebabkan oleh bakteri
oleh empat kelompok besar hama
mulai menimbulkan masalah baru,
penyakit, yaitu bakteri, jamur, virus, dan
terutama karena sebagian besar bahan
parasit (Jawetz, Melnick, & Adelberg,
antibiotik yang digunakan merupakan zat
2005).
kimia berbahaya dan sifatnya tidak aman
Escherichia coli adalah salah satu
bagi kesehatan (Nimah, Ma'ruf, & Trianto,
bakteri yang dapat menyebabkan infeksi
2012). Selain itu juga dapat menimbulkan
enterobakteria yang banyak diderita
resistensi mikroba patogen sehingga hal
masyarakat. Sifatnya unik karena dapat
ini mengharuskan untuk mencari sumber
menyebabkan infeksi primer pada usus
molekul bioaktif baru untuk dijadikan
misalnya diare pada anak dan travelers
antibiotik baru. Salah satu potensi
diarrhea, seperti juga kemampuannya
antibiotik yaitu sebagai antimikroba
menimbulkan infeksi pada jaringan tubuh
(Doughari, 2007; Valgas, Souza, Smnia,
lain di luar usus yaitu dapat menyebabkan
& Smnia Jr, 2007).
infeksi saluran kemih, meningitis,
Tanaman sebagai sumber yang
septikemia (blood poisoning), peritonitis,
paling umum agen antimikroba. Salah satu
dan pneumonia. Keberadaannya dalam air
tanaman yang berpotensi sebagai
dapat menjadi indikator adanya
antibakteri adalah tanaman sirsak (Annona
pencemaran air oleh tinja. Tercemarnya
muricata L.). Tanaman sirsak merupakan
air akan berpengaruh pada makanan dan
tanaman yang dapat digunakan sebagai
minuman yang dikonsumsi manusia
obat-obatan alami termasuk kulit kayu,
sehingga dapat menimbulkan penyakit
daun, akar, buah dan biji. Ekstrak aqueous
(Jawetz et al., 2005).
kulit buah sirsak dengan konsentrasi 0,1
Banyak usaha yang telah dilakukan
gram/mL mampu menghambat
untuk melawan bakteri-bakteri patogen,
pertumbuhan bakteri Staphilococcus
antara lain dengan upaya penemuan
aureus ATCC 25923 dan Vibrio cholera
senyawa yang mampu membunuh dan
(Viera, Mouro, ngelo, Costa, & Vieira,
menghambat bakteri tersebut. Zat-zat
2010). Ekstrak metanol daun sirsak

102
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder serta Uji Aktivitas(Dian Riana Ningsih dkk)

bersifat antibakteri dan mengandung Prosedur Penelitian


senyawa golongan steroid, alkaloid, Preparasi penyiapan bahan (Bawa Putra,
flavanoid dan tannin yang dapat Bogoriani, Diantariani, & Utari
menghambat pertumbuhan bakteri Sumadewi, 2014)
Stapylococcus aureus, E. coli, Proteus
vulgaris, Salmonella typhimurium, Daun sirsak dibersihkan dan
Klebsiella Pneumonia dan Bacillus selanjutnya daun sirsak di potong kecil-
subtillis (Solomon-Wisdom, Ugoh, & kecil untuk dikeringkan dengan cara
Mohammed, 2014) diletakkan ditempat terbuka dengan
Pada penelitian ini dilakukan uji sirkulasi udara yang baik dan tidak
aktivitas antibakteri ekstrak n-heksana, terkena sinar matahari langsung kemudian
kloroform dan metanol ekstrak daun setelah kering diblender dan diayak.
sirsak terhadap E. coli. Senyawa Ekstraksi (Ningsih, Zusfahair, & Purwati,
antibakteri dengan aktivitas tertinggi 2014)
kemudian dilakukan penentuan
konsentrasi hambat tumbuh minimumnya Ekstraksi dilakukan secara maserasi
(KHTM) serta identifikasi golongan secara bertingkat dengan pelarut n-
senyawa bioaktifnya menggunakan heksana, kloroform dan metanol.
spektrofotometer FTIR. Sebanyak kurang lebih 200 g daun sirsak
direndam dengan 700 mL n-heksana,
METODE PENELITIAN ditutup lalu disimpan di ruang gelap dan
dikocok dengan shaker 120 rpm selama
Alat dan Bahan satu minggu. Setelah itu, filtrat diambil
Alat-alat yang digunakan dalam dan residu dimaserasi kembali
penelitian ini adalah alat-alat gelas, menggunakan 300 mL n-heksana selama 3
blender, autoklaf, timbangan analitik, alat hari. Selanjutnya filtrat diambil dan residu
rotary evaporator Buchii, inkubator dimaserasi kembali dengan pelarut
(Memert Jerman), shaker inkubator klorofom dan metanol. Cara maserasi
(Memert Jerman), filler, pipet ukur, gelas sama dengan yang telah dilakukan diatas.
arloji, obyek glass, corong Buchner dan Maserasi yang telah dilakukan diperoleh
pompa vakum, vial, hot plate stirrer, filtrat n heksan, kloroform dan metanol.
magnetic stirrer, pipet mikro otomatis, Filtrat n-heksana, kloroform dan
lampu spirtus, jarum ose, drugalsky, metanol daun sirsak dipekatkan
jangka sorong, crok bor, pH meter, menggunakan rotavapor pada suhu 40
Spektrofotometer Infra Merah FT-IR. C. Ekstrak pekat ini ditimbang untuk
Bahan yang digunakan dalam mendapatkan nilai rendemennya.
penelitian ini adalah daun sirsak diambil Regenerasi bakteri uji
dari desa Langkap Purbalingga,
kloroform, n-heksana, metanol, isolat Bakteri yang akan dipakai untuk uji
bakteri E. coli, Nutrient Agar (NA), antibakteri harus diregenerasikan terlebih
Nutrient Broth (NB), Peptone Yeast Agar dahulu sebelum digunakan. Bakteri stok
(PYG), aquades steril, tetrasiklin HCl 500 yang merupakan kultur primer, mula-mula
mg, alkohol 70%, asam klorida, asam dibiakkan ke dalam agar miring (Nutrient
klorida pekat, eter, asetat anhidrida, asam Agar), yaitu sebanyak satu ose bakteri
sulfat pekat, pereaksi FeCl3, serbuk Mg, digoreskan ke media NA miring lalu
pereaksi Dragendorff, kertas saring, diinkubasi pada suhu 37 C selama 24
tissue, NaCl steril 0,9%, wrapping, kapas, jam. Biakan ini merupakan aktivitas awal
kain kassa, aluminium foil. stok bakteri yang kemudian disimpan
pada suhu 5 C

103
Molekul, Vol. 11. No. 1. Mei, 2016: 101 - 111

Uji aktivitas antibakteri (Ningsih et al., untuk mengetahui konsentrasi minimum


2016) dari suatu larutan antibakteri terhadap
pertumbuhan bakteri tertentu. Variasi
Uji awal aktivitas antibakteri
konsentrasi yang digunakan untuk
dilakukan dengan cara difusi. Sebanyak
menentukan KHTM Pada penelitian ini
satu ose bakteri dari stok biakan diambil
yaitu 1000; 500; 250; 125; 65; 30; 15; 10;
lalu diinkubasi di dalam 10 mL media cair
5; dan 1 ppm. Masing-masing konsentrasi
(Nutrient Broth) selama 18-24 jam pada
sebanyak 50 L diuji dengan
suhu 37 C, sambil dikocok menggunakan
memasukkan ke lubang media Pepton
penangas air bergoyang dengan kecepatan
Yeast Agar (PYG) yang telah diinokulasi
100 rpm. Kemudian sebanyak 5 mL
dengan bakteri uji. Setelah itu diinkubasi
biakan bakteri diambil lalu diukur OD nya
pada suhu 37 C selama 24 jam. Aktivitas
dengan nilai kurang dari satu pada
antibakterinya diperoleh dengan
panjang gelombang 620 nm. Bila nilai OD
mengukur daerah zona bening di
> 1 diambil biakan sebanyak 50 L, bila
sekeliling lubang sampel dengan
OD < 1 biakan diambil 100 L. Tuangkan
menggunakan jangka sorong.
15 mL media Eosin Methylene Blue Agar
(EMBA) bersuhu 40 oC ke dalam cawan Identifikasi senyawa kimia ekstrak daun
petri dan dibiarkan memadat. Kemudian sirsak (Harbone 1998)
biakan disebarkan di atas media tersebut. Identifikasi kandungan metabolit
Setelah itu agar dilubangi dengan sekunder pada ekstrak yang memiliki
diameter 8 mm menggunakan crock bor. aktivitas antibakteri paling tinggi
Ke dalam masing-masing lubang tersebut dilakukan dengan uji warna sebagai
dimasukkan ekstrak n-heksana, kloroform berikut:
dan metanol daun sirsak sebanyak 50 L a. Uji alkaloid
dengan konsentrasi ekstrak yang Sampel ekstrak dilarutkan dalam 2
digunakan untuk pengujian daya hambat mL asam klorida, dipanaskan 5 menit dan
adalah 1000 ppm lalu diinkubasi pada disaring. Filtrat yang diperoleh ditambah
suhu 37 C selama 24 jam, dengan kontrol 2-3 tetes pereaksi Dragendorff. Adanya
positif tetrasiklin dan negatif aquades. senyawa alkaloid ditunjukkan dengan
Zona bening yang terlihat di sekeliling endapan jingga.
lubang, menandakan adanya aktivitas b. Uji flavanoid
antibakteri kemudian zona bening yang Sebanyak 2 mL sampel (0,05% b/v)
terbentuk diukur menggunakan jangka dilarutkan dalam 2 mL metanol, kemudian
sorong. Setelah diketahui bahwa ekstrak ditambahkan serbuk Mg dan HCl pekat
n-heksana, kloroform dan metanol daun sebanyak 5 tetes. Adanya senyawa
sirsak mempunyai aktivitas antibakteri, flavanoid ditunjukkan dengan
kemudian ekstrak daun sirsak ditentukan terbentuknya warna merah atau jingga.
Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum c. Uji alkaloid
(KHTM) terhadap bakteri E. coli dengan Sebanyak 2 mL sampel (0,05%
metode yang sama. b/v) dilarutkan dalam 2 mL HCl 2% (v/v),
Pengujian konsentrasi hambat tumbuh dipanaskan 5 menit dan disaring. Filtrat
minimum (KHTM) dari ekstrak yang yang diperoleh ditetesi dengan pereaksi
memiliki aktivitas penghambatan Paling Dragendorff sebanyak 2-3 tetes. Adanya
Tinggi senyawa alkaloid ditujukkan dengan
terbentuknya endapan jingga.
Ekstrak kloroform daun sirsak
d. Uji saponin
mempunyai aktivitas antibakteri paling
Sebanyak 2 mL sampel (0,05%
tinggi, selanjutnya ditentukan Konsentrasi
b/v) dilarutkan dalam aquades pada
Hambat Tumbuh Minimum (KHTM)
tabung reaksi ditambah 10 tetes KOH dan
terhadap bakteri uji. KHTM digunakan

104
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder serta Uji Aktivitas(Dian Riana Ningsih dkk)

dipanaskan dalam penangas air 50 C serbuk menyebabkan kerusakan dinding


selama 5 menit, dikocok selama 15 menit. sel yang menyebabkan pelarut lebih
Jika terbentuk busa mantap setinggi 1 cm mudah menarik senyawa yang terkandung
dan tetap stabil selama 15 menit di dalam sel tersebut sehingga jumLah
menunjukkan adanya senyawa saponin. ekstrak yang diperoleh optimal. Serbuk
e. Uji terpenoid daun sirsak selanjutnya dilakukan
Sebanyak 2 mL sampel (0,05% ekstraksi secara maserasi
b/v) ditambah dengan pereaksi Liberman-
Ekstraksi
Burchard 1 mL. Adanya senyawa
terpenoid ditujukan dengan terbentuknya Daun sirsak diekstrak menggunakan
warna biru tua atau hijau kehitaman. metode maserasi. Maserasi merupakan
f. Uji polifenol teknik ekstraksi yang dilakukan untuk
Sebanyak 2 mL sampel (0,05% sampel yang tidak tahan panas dengan
b/v) dilarutkan dalam aquades 10 mL, cara perendaman di dalam pelarut tertentu
dipanaskan 5 menit dan disaring. Filtrat selama waktu tertentu. Dalam proses
yang terbentuk ditambahkan ditambahkan ekstraksi suatu bahan tanaman, banyak
4-5 tetes FeCl3 5% (b/v). Adanya fenol faktor yang dapat mempengaruhi
ditujukan dengan terbentuknya warna biru kandungan senyawa hasil ekstraksi
tua atau hijau kehitaman. diantaranya: jenis pelarut, konsentrasi
g. Uji stereoid pelarut, metode ekstraksi dan suhu yang
Sebanyak 2 mL sampel (0,05% digunakan untuk ekstraksi (Senja,
b/v) ditambah dengan pereaksi Liberman- Issusilaningtyas, Nugroho, & Setyowati,
Burchard 1 mL. Adanya senyawa steroid 2015). Teknik ini mempunyai beberapa
ditunjukkan dengan terbentuknya warna kelebihan antara lain alat yang dipakai
biru tua atau hijau kehitaman. sederhana, hanya dibutuhkan bejana
perendaman tetapi menghasilkan produk
Analisis spektrofotometer IR yang baik, selain itu dengan teknik ini zat-
Ekstrak daun sirsak yang zat yang tidak tahan panas tidak akan
menunjukkan aktivitas antibakteri paling rusak.
aktif terhadap E. coli dianalisis Maserasi merupakan proses
menggunakan spektrofotometer Infra- perendaman sampel menggunakan pelarut.
merah (Shimadzu FT-IR-8201 PC). Proses ini sangat menguntungkan dalam
isolasi senyawa bahan alam, karena
HASIL DAN PEMBAHASAN selama perendaman terjadi peristiwa
plasmolisis yang menyebabkan terjadi
Persiapan Sampel
pemecahan dinding sel akibat perbedaan
Pengeringan bertujuan untuk tekanan di dalam dan di luar sel, sehingga
menghilangkan kadar air dalam sampel senyawa yang ada dalam sitoplasma akan
yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi terlarut dalam pelarut organic dan proses
enzimatis yang mengakibatkan rusaknya ekstraksi senyawa akan sempurna karena
sampel karena susunan senyawa yang dapat diatur lama perendaman yang
terdapat dalam daun tersebut telah diinginkan. Pemilihan pelarut untuk
berubah. proses maserasi akan memberikan
Sampel daun sirsak yang telah efektivitas yang tinggi dengan
kering patah tersebut kemudian dibuat memperhatikan kelarutan senyawa bahan
serbuk dengan cara diblender agar ukuran alam dalam pelarut tersebut. Secara umum
partikelnya menjadi lebih kecil sehingga pelarut metanol merupakan pelarut yang
dapat memperluas kontak dan banyak digunakan dalam proses isolasi
meningkatkan daya interaksinya dengan senyawa organik bahan alam karena dapat
pelarut. Pembuatan sampel menjadi melarutkan sebagian besar golongan

105
Molekul, Vol. 11. No. 1. Mei, 2016: 101 - 111

senyawa (Redha, 2013). Proses ini terus Ekstrak n-heksana, kloroform dan
berulang sampai terjadi keseimbangan metanol daun sirsak yang diperoleh
konsentrasi antara larutan di dalam dan di selanjutnya diuapkan pelarutnya dengan
luar sel. Maserasi juga dapat diatur lama Rotary evaporator sampai diperoleh
perendaman yang dilakukan. (Bonaerense, ekstrak pekat. Rendemen ekstrak dihitung
2005) membandingkan kadar flavonoid berdasarkan perbandingan berat akhir
Momordica charantia L. menggunakan (berat ekstrak yang dihasilkan) dengan
metode maserasi dan perkolasi, hasilnya berat awal dikalikan 100% (Sani, Nisa,
bahwa metode maserasi lebih baik. Andriani, & Maligan, 2013). Berdasarkan
Maserasi berupa serbuk bertujuan hasil penelitian yang diperoleh ekstrak
untuk memperluas permukaan sehingga metanol menghasilkan rendemen terbesar
interaksi pelarut dengan senyawa yang yaitu 8,2% dibandingkan ekstrak n-
akan diambil lebih efektif dan senyawa heksana dan kloroform. Hal tersebut
dapat terekstrak sempurna. Semakin kecil mengindikasikan bahwa kandungan
ukuran bahan yang digunakan maka senyawa polar dari dalam daun sirsak
semakin luas bidang kontak antara bahan lebih banyak dari senyawa semipolar dan
dengan pelarut. Kondisi ini akan nonpolar. Ekstrak n-heksana, kloroform
menyebabkan kecepatan untuk mencapai dan metanol selanjutnya diuji aktivitas
kesetimbangan sistem menjadi lebih antibakteri dengan metode difusi dimana
besar. Jaringan bahan atau simplisia dapat ekstrak yang memiliki aktivitas antibakteri
mempengaruhi efektivitas ekstraksi. paling tinggi ditentukan konsentrasi
Ukuran bahan yang sesuai akan hambat tumbuh minimum (KHTM).
menjadikan proses ekstraksi berlangsung
Uji Aktivitas Antibakteri dengan
dengan baik dan tidak memakan waktu
Metode Difusi
yang lama. Pengadukan berkala bertujuan
untuk menghindari memadatnya serbuk Aktivitas antibakteri dihitung
sehingga pelarut sulit menembus bahan dengan mengukur zona hambat di sekitar
dan kesulitan mengambil senyawa- lubang sampel yang terlihat jernih.
senyawa aktif karena serbuk yang Berdasarkan pengujian yang telah
digunakan cukup banyak. Daun sirsak dilakukan terdapat perbedaan zona hambat
diekstrak menggunakan teknik maserasi dari ekstrak n-heksana, kloroform dan
dengan metode (Harborne, 1998) yang metanol daun sirsak terhadap
dimodifikasi secara bertahap dengan pertumbuhan E. coli. Zona hambat yang
beberapa pelarut dengan peningkatan terbentuk diukur dengan menggunakan
polaritas yaitu berturut-turut n-heksan, jangka sorong.
kloroform, dan metanol.
Tabel 1. Rendemen hasil ekstraksi daun sirsak
Ekstrak Warna Bentuk Berat ekstrak (g) Rendemen (%) (b/b)
E1 Hijau kehitaman Pasta 0,82 0,82
E2 Hijau kehitaman Pasta 5,21 5,21
E3 Coklat kemerahan Pasta 8,2 8,2
Ket. E1: ekstrak n-heksana E2 : ekstrak kloroform E3: ekstrak metanol
Tabel 2. Aktivitas antibakteri ekstrak kloroform daun sirsak terhadap bakteri E. coli
Ekstrak (1000 ppm) Zona Hambat (mm)
n-Heksana 3,52
Kloroform 8,34
Metanol 3,00
Kontrol negatif (aquades) 0,00
Kontrol positif (Tetrasiklin) 16,73

106
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder serta Uji Aktivitas(Dian Riana Ningsih dkk)

Ekstrak n-heksana, kloroform dan pertumbuhan E. coli yakni sebesar 3,23


metanol daun sirsak memiliki aktivitas mm sedangkan pada konsentrasi 0,5 ppm
antibakteri terhadap E. coli dan aktivitas sudah tidak menghambat pertumbuhan E.
antibakteri terbesar adalah ekstrak coli. Semakin kecil konsentrasi hambat
kloroform dengan zona hambat sebesar minimum ekstrak menandakan semakin
8,34 mm, sedangkan ekstrak n-heksana potensial ekstrak tersebut sebagai
dan metanol menghasilkan zona hambat antibakteri, karena dengan konsentrasi
berturut-turut sebesar 3,52 mm dan 3 mm. kecil ekstrak sudah dapat menghambat
pertumbuhan bakteri. Berdasarkan
Penentuan Konsentrasi Hambat
penelitian ini, ekstrak kloroform daun
Tumbuh Minimum Ekstrak Kloroform
sirsak memiliki aktivitas antibakteri yang
Penentuan KHTM ini dilakukan sangat kuat karena memiliki nilai KHTM
untuk mengetahui konsentrasi minimum sebesar 1 ppm. Menurut (Holetz et al.,
sampel yang dapat menghambat E. coli. 2002), senyawa aktif yang memiliki nilai
Penentuan KHTM dilakukan dengan KHTM kurang dari 100 ppm
menguji sederetan konsentrasi sampel menunjukkan aktivitas antibakteri sangat
yang dibuat dengan cara pengenceran. kuat.
Konsentrasi ekstrak kloroform daun sirsak Kontrol positif yang digunakan
yang digunakan dalam penentuan KHTM pada penentuan KHTM digunakan
berkisar 5-1000 ppm. Grafik penentuan tetrasiklin 500 mg (generik) dengan
KHTM dari ekstrak kloroform terhadap E. konsentrasi 1000 ppm dan menghambat
coli dapat dilihat pada Gambar 1. bakteri E. coli dengan zona hambat
sebesar 16,74 mm. Tetrasiklin merupakan
antibiotik yang berspektrum luas.
Mekanisme kerja tetrasiklin yaitu dengan
menghambat sintesis protein pada
ribosomnya. Terdapat dua proses
masuknya tetrasiklin ke dalam bakteri
gram negatif, pertama yang disebut difusi
pasif melalui kanal hidrofilik. Kedua
adalah sistem transport aktif, Setelah
masuk maka antibiotik berikatan dengan
ribosom 30S dan menghambat
Gambar 1. Grafik konsentrasi hambat pemanjangan rantai polipeptida baru,
tumbuh minimum (KHTM) sehingga meghambat sintesis protein.
ekstrak daun sirsak terhadap Pengikatan tetrasiklin dengan ribosom
E.coli 30S bersifat sementara, sehingga aktivitas
antibakteri yang dihasilkan tetrasiklin
Berdasarkan hasil penelitian seperti bersifat bakteriostatik.
yang disajikan pada Gambar 1
menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri Identifikasi Senyawa Metabolit
ekstrak kloroform daun sirsak menurun Sekunder
seiring dengan menurunnya konsentrasi. Uji warna digunakan untuk
Semakin tinggi konsentrasi suatu bahan mengetahui adanya golongan senyawa
antimikroba maka aktivitas metabolit sekunder seperti alkaloid,
antimikrobanya semakin besar pula. flavanoid, saponin, terpenoid, steroid,
Ekstrak kloroform dengan tanin dan polifenol. Hasil uji warna
konsentrasi terkecil yaitu konsentrasi 1 ekstrak yang paling aktif dapat dilihat
ppm masih dapat menghambat pada Tabel 3.

107
Molekul, Vol. 11. No. 1. Mei, 2016: 101 - 111

Tabel 3. Hasil uji metabolit sekunder ektrak daun sirsak dengan uji warna
Senyawa Warna jika hasilnya positif Keterangan
Alkaloid Jingga Terbentuk Positif
endapan jingga
Flavonoid Merah atau jingga Hijau Negatif
Saponin Terbentuk busa Terbentuk busa Positif
Steroid Biru tua atau hijau kehitaman Cincin hijau Positif
Terpenoid Ungu Hijau pekat Negatif
Tanin Hijau kebiruan pekat Hijau pekat Positif
Polifenol Hijau kebiruan kekuningan Negatif
Uji metabolit sekunder yang terbentuknya busa yang stabil setinggi
pertama yaitu uji alkaloid. Uji ini 1,5 cm, yang menandakan hasil positif.
bertujuan untuk mengetahui adanya Hal ini menandakan bahwa ekstrak
senyawa golongan alkaloid dengan metanol daun mangga mengandung
menggunakan pereaksi warna senyawa saponin. Mekanisme kerja
Dragendorff. Hasil uji alkaloid yang telah saponin sebagai antibakteri yaitu dapat
dilakukan menghasilkan larutan dengan menyebabkan kebocoran protein dan
warna oranye yang apabila dibiarkan enzim dari dalam sel Saponin dapat
beberapa saat akan menghasilkan endapan menjadi anti bakteri karena zat aktif
berwarna oranye kecoklatan pada dasar permukaannya mirip detergen, akibatnya
tabung. Hal ini menunjukkan hasil positif saponin akan menurunkan tegangan
untuk golongan alkaloid. Adanya senyawa permukaan dinding sel bakteri dan
golongan alkaloid ditunjukkan dengan merusak permebialitas membran
adanya endapan berwarna oranye dengan (Madduluri, Rao, & Sitaram, 2013).
pereaksi Dragendorff. Mekanisme kerja Rusaknya membran sel ini sangat
alkaloid sebagai antibakteri yaitu dengan mengganggu kelangsungan hidup bakteri.
cara mengganggu komponen penyusun Saponin berdifusi melalui membran luar
peptidoglikan pada sel bakteri sehingga dan dinding sel yang rentan kemudian
lapisan dinding sel tidak terbentuk secara mengikat membran sitoplasma sehingga
utuh dan menyebabkan kematian sel mengganggu dan mengurangi kestabilan
tersebut. Mekanisme lain antibakteri membran sel. Hal ini menyebabkan
alkaloid yaitu komponen alkaloid sitoplasma bocor keluar dari sel yang
diketahui sebagai interkelator DNA dan mengakibatkan kematian sel. Agen
menghambat enzim topoisomerase sel antimikroba yang mengganggu membran
bakteri (Karou et al., 2005). sitoplasma bersifat bakterisida.
Uji metabolit sekunder yang Uji metabolit sekunder selanjutnya
selanjutnya yaitu uji flavonoid. Uji yaitu uji terpenoid dan steroid dengan
flavonoid dilakukan dengan menggunakan menggunakan pereaksi Lieberman
serbuk Mg dan HCl pekat. Hasil uji Burchard. Senyawa steroid ditunjukkan
flavonoid dengan menggunakan uji warna dengan terbentuknya warna hijau dan
menghasilkan larutan warna hijau, yang adanya senyawa terpenoid ditunjukkan
menandakan hasil negatif. Ekstrak dengan terbentuknya warna ungu.
kloroform sebagai ekstrak kasar masih Hasil penelitian yang diperoleh pada
banyak mengandung golongan-golongan uji steroid menunjukkan hasil positif yang
senyawa yang kompleks sehingga ditandai dengan terbentuknya perubahan
kemungkinan menumpuknya senyawa warna dari kuning kehijauan menjadi
pada saat dilakukan uji sangat besar. hijau pekat, sedangkan pada uji terpenoid
Uji metabolit sekunder selanjutnya menunjukkan hasil negatif. Tidak
yaitu uji saponin. Hasil uji saponin terbentuknya warna merah keunguan pada
menghasilkan larutan dengan uji warna kemungkinan bertumpuknya

108
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder serta Uji Aktivitas(Dian Riana Ningsih dkk)

senyawa yang ada di dalam sampel masih kerusakan dinding sel (Sudira et al.,
sangat besar. 2011).
Steroid banyak terdapat di alam
Analisis Spektroskopi FT-IR
sebagai fraksi lipid dari tanaman atau
hewan. Zat ini penting sebagai pengatur Identifikasi senyawa kimia ekstrak
aktivitas biologis dalam organisme hidup. kloroform dengan spektroskopi FT-IR
Steroid dibentuk oleh bahan alam yang Analisis menggunakan spektro-
disebut sterol. Sterol merupakan senyawa fotometer IR dilakukan untuk mengetahui
yang terdapat pada lapisan malam (lilin) pita serapan gugus fungsi dari senyawa
daun dan buah yang berfungsi sebagai kimia dalam sampel. Spektrum FT-IR
pelindung untuk menolak serangga dan ekstrak kloroform daun sirsak dapat
serangan mikroba. dilihat pada Gambar 2.
Uji metabolit sekunder yang Berdasarkan hasil analisis
berikutnya adalah uji polifenol dan uji spektrofotometer IR, diperoleh pita-pita
tanin. Hasil uji polifenol dengan serapan yang muncul pada bilangan
menggunakan uji warna menghasilkan gelombang tertentu. Data spektrum
larutan warna hijau kebiruan, yang ekstrak kloroform daun sirsak
menandakan hasil positif. Uji polifenol menunjukkan adanya pita serapan melebar
pada penelitian ini menghasilkan warna dengan intensitas kuat dengan jenis
ekstrak yang kekuningan hal ini vibrasi ulur pada daerah bilangan
menandakan bahwa ekstrak daun sirsak gelombang 3278,99 cm-1 yang diduga
tidak mengandung polifenol. Sedangkan dari serapan gugus OH terikat. Adanya
untuk tanin menghasilkan warna hijau gugus OH didukung dengan munculnya
kebiruan yang lebih pekat dibandingkan serapan kuat pada bilangan gelombang
uji polifenol. Hal ini menandakan bahwa 2924,09 cm-1 dan 2854,65 cm-1 yang
ekstrak kloroform daun sirsak diduga mengandung gugus C-H alifatik
mengandung senyawa tanin. stretching.
Tanin bekerja dengan cara Serapan tajam dengan intensitas
mengendapkan protein dan dapat merusak kuat pada daerah bilangan gelombang
membran sel sehingga pertumbuhan jamur 1743,65 cm-1 diduga karena adanya
terhambat. (Sudira, Merdana, & Wibawa, serapan gugus fungsi C=O dari suatu asam
2011) menambahkan bahwa senyawa karboksilat. Sedangkan munculnya pita
tanin merupakan senyawa organik yang serapan lemah pada bilangan gelombang
aktif menghambat pertumbuhan mikroba 1643,35 cm-1 menunjukkan adanya gugus
dengan mekanisme merusak dinding sel fungsi C=C aromatik stretching. Dugaan
mikroba dan membentuk ikatan dengan ini diperkuat oleh adanya serapan pada
protein fungsional sel mikroba. bilangan gelombang 1458,18 cm-1 yang
Mekanisme antibakteri yang merupakan serapan dari CH3 bending. Pita
dimiliki tanin yaitu kemampuannya serapan lemah pada bilangan gelombang
menghambat sintesis khitin yang 1242,16 cm-1 dan 1080,14 cm-1
digunakan untuk pembentukan dinding sel menunjukkan adanya gugus fungsi C-O
pada jamur dan merusak membran sel eter dengan vibrasi ulur dan diperkuat
sehingga pertumbuhan jamur terhambat. oleh adanya serapan pada bilangan
Tanin juga merupakan senyawa yang gelombang 856,39 cm-1 dan 725,23 cm-1
bersifat lipofilik sehingga mudah terikat yang merupakan serapan dari C-H di luar
pada dinding sel dan mengakibatkan bidang.

109
Molekul, Vol. 11. No. 1. Mei, 2016: 101 - 111

Gambar 2. Spektrum FT-IR ekstrak kloroform daun sirsak.


dan sokletasi. Journal of Chemistry,
KESIMPULAN 8(1), 113-119.
Bonaerense, A. F. (2005). Standardization
Ekstrak n-heksana, kloroform dan
of extracts from Momordica
metanol daun sirsak terbukti dapat
charantia L.(cucurbitaceae) by total
menghambat pertumbuhan E.coli dengan
flavonoids content determination.
zona hambat berturut-turut adalah 3,52
acta farmacutica bonaerense,
mm; 8,34 mm; dan 3,00 mm. Ekstrak
24(4), 562-566.
kloroform daun sirsak mempunyai
Doughari, J. (2007). Antimicrobial
aktivitas antibakteri yang tertinggi
activity of Tamarindus indica Linn.
terhadap E. coli dengan zona hambat 8,34
Tropical Journal of Pharmaceutical
mm. Konsentrasi hambat tumbuh
Research, 5(2), 597-603.
minimum (KHTM) ekstrak kloroform
Harborne, A. (1998). Phytochemical
daun sirsak terhadap E. coli yaitu pada
methods a guide to modern
konsentrasi 1 ppm dengan zona hambat
techniques of plant analysis:
3,23 mm. Golongan senyawa metabolit
Springer Science & Business Media.
sekunder yang terdapat dalam ekstrak
Holetz, F. B., Pessini, G. L., Sanches, N.
kloroform daun sirsak berdasarkan uji
R., Cortez, D. A. G., Nakamura, C.
warna yaitu senyawa alkaloid, saponin,
V., & Dias Filho, B. P. (2002).
steroid dan tanin. Berdasarkan hasil
Screening of some plants used in the
analisis spektrofotometer IR dan UV-
Brazilian folk medicine for the
Visible memberikan gugus fungsi antara
treatment of infectious diseases.
lain O-H, C-H alifatik, C=O, C=C
Memrias do Instituto Oswaldo
aromatik, CH3, C-O eter dan C-H di luar
Cruz, 97(7), 1027-1031.
bidang.
Jawetz, E., Melnick, J., & Adelberg, E.
(2005). Mikrobiologi Kedokteran,
DAFTAR PUSTAKA
diterjemahkan oleh Mudihardi. E.,
Bawa Putra, A. A., Bogoriani, N. W., Kuntaman, Wasito, EB,
Diantariani, N. P., & Utari Mertaniasih, NM, Harsono, S.,
Sumadewi, N. L. (2014). Ekstraksi Alimsardjono, L. Edisi XXII.
zat warna alam dari bonggol Penerbit Salemba Medika. Jakarta,
tanaman pisang (musa paradiasciaca 327-335.
l.) dengan metode maserasi, refluks,

110
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder serta Uji Aktivitas(Dian Riana Ningsih dkk)

Karou, D., Savadogo, A., Canini, A., rendemen dan skrining fitokimia
Yameogo, S., Montesano, C., ekstrak etanol mikroalga laut
Simpore, J., Traore, A. S. (2005). Tetraselmis chuii [in press april
Antibacterial activity of alkaloids 2014]. Jurnal Pangan dan
from Sida acuta. African Journal of Agroindustri, 2(2), 121-126.
Biotechnology, 4(12), 195-200. Senja, R. Y., Issusilaningtyas, E.,
Kumala, S., Tambunan, R. M., & Nugroho, A. K., & Setyowati, E. P.
Mochtar, D. (2006). Uji aktivitas (2015). The comparison of
anti-bakteri ekstrak etil asetat extraction method and solvent
kembang pukul empat (mirabilis variation on yield and antioxidant
jalapa l.) dengan metode activity of Brassica oleracea l. Var.
bioautografi. JFIOnline| Print ISSN Capitata f. Rubra extract.
1412-1107| e-ISSN 2355-696X, 3(2), Traditional Medicine Journal,
97-102. 19(1), 43-48.
Madduluri, S., Rao, K. B., & Sitaram, B. Solomon-Wisdom, G., Ugoh, S., &
(2013). In vitro evaluation of Mohammed, B. (2014).
antibacterial activity of five Phytochemical screening and
indigenous plants extracts against antimicrobial activities of Annona
five bacteria pathogens of humans. muricata (L) leaf extract. American
International Journal of Pharmacy Journal Biology Chemistry
and Pharmaceutical Sciences, 5(4), Pharmaceutical Sciences, 2(1), 1-7.
679-684. Sudira, I. W., Merdana, I., & Wibawa, I.
Nimah, S., Ma'ruf, W. F., & Trianto, A. (2011). Uji daya hambat ekstrak
(2012). Uji bioaktivitas ekstrak daun kedondong (Lannea Grandis
teripang pasir (holothuria scabra) Engl) terhadap pertumbuhan bakteri
terhadap bakteri Pseudomonas Erwinia carotovora. Buletin
aeruginosa dan bacillus cereus. Veteriner Udayana, 3(1), 45-50.
Jurnal Pengolahan dan Valgas, C., Souza, S. M. d., Smnia, E. F.,
Bioteknologi Hasil Perikanan, 1(1), & Smnia Jr, A. (2007). Screening
9-17. methods to determine antibacterial
Ningsih, D. R., Zusfahair, Z., & Purwati, activity of natural products.
P. (2014). Antibacterial activity Brazilian Journal of Microbiology,
cambodia leaf extract (Plumeria 38(2), 369-380.
alba l.) to Staphylococcus aureus Viera, G. H. F., Mouro, J. A., ngelo, .
and identification of bioactive M., Costa, R. A., & Vieira, R. H. S.
compound group of cambodia leaf d. F. (2010). Antibacterial effect (in
extract. Molekul, 9(2), 101-109. vitro) of Moringa oleifera and
Redha, A. (2013). Efek Lama Maserasi Annona muricata against Gram
Bubuk Kopra Terhadap Rendemen, positive and Gram negative bacteria.
Densitas, dan Bilangan Asam Revista do Instituto de Medicina
Biodiesel yang Dihasilkan dengan Tropical de So Paulo, 52(3), 129-
Metode Transesterifikasi In Situ. 132.
Sani, R. N., Nisa, F. C., Andriani, R. D.,
& Maligan, J. M. (2013). Analisis

111