Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Peran bidan tidak hanya sebatas membantu persalinan ibu hamil. Lebih dari itu, dia dapat
berlaku sebagai garda depan peningkatan kesejahteraan perempuan dan bayi serta agen
perubahan (agent of change) bagi pembangunan kesehatan nasional.

Sungguh mulia, bukan? Fungsi bidan saat ini masih identik dengan membantu kelahiran
bayi di desa. Itu tidak salah. Memberikan nasihat kepada ibu hamil selama masa hamil,
persalinan dan masa pascapersalinan, memimpin persalinan serta asuhan pada bayi baru lahir
dan anak memang menjadi tugas utama para bidan.

Namun lebih luas dari itu, bidan juga harus mampu menjalankan program
pemberdayaan perempuan. Artinya, setiap bidan harus cakap memberikan pengetahuan
bagaimana memilih pelayanan kesehatan terbaik dan hak-hak reproduksi kepada pasiennya.

Siapa orang yang dipercaya masyarakat di desa setelah perangkat desanya? Boleh jadi
orang itu adalah bu bidan.

Namun, mendapat kepercayaan masyarakat bukan hal mudah, terutama untuk bidan baru.
Di desa, dukun biasanya lebih disukai masyarakat. Kebiasaan setempat yang kurang
menguntungkan bagi kesehatan ibu dan anak usia balita juga kerap jadi penghalang kerja
bidan. Meski begitu, bidan dapat menjadi agen perubahan bagi masyarakat setempat.

”Kebiasaan setempat, anak usia kurang dari tiga bulan tidak boleh keluar rumah.
Akibatnya, banyak bayi tidak mendapat imunisasi,” papar bidan Husniar dari Desa Jorong
Siguntur, Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

Husniar adalah satu dari 10 bidan desa yang diundang ke Jakarta mengikuti program Pos
Bhakti Bidan Terbaik Srikandi Award Desember lalu.

”Persalinan lebih banyak ditolong dukun, lebih dari 90 persen pada tahun 2000,” tambah
Husniar. ”Kata ibu-ibu yang melahirkan, dukun lebih telaten merawat, datang berkali-kali,

1
dan perawatannya paripurna hingga setelah melahirkan,” kata bidan Bimoarti dari Desa
Wilalung, Kecamatan Gajah, Demak.

Siti Aminah yang bertugas di Desa Loa Janan Ulu, Kutai Kertanegara, Kalimantan
Timur, harus berhadapan dengan kenyataan masyarakat setempat lebih percaya kepada dukun
yang dapat mengusir ”roh halus”. Kepercayaan baru beralih kepada dia ketika seorang anak
yang tidak dapat disembuhkan dukun berhasil sembuh ketika dibawa ke puskesmas

Martha Sukarti dari Desa Slagi, Pakis Aji, Jepara, mendapati tuberkulosis dan berat badan
kurang diidap anak balita dan orang dewasa. Syarifah Ningsih dari Kelurahan Tuan-tuan,
Kecamatan Benua Kayong, Kabupeten Ketapang, Kalimantan Barat, menemukan masalah
infeksi cacing, karies gigi pada anak-anak usia 1-6 tahun, dan pendidikan anak usia dini.
”Saya mengupayakan agar orangtua mau memanfaatkan posyandu,” kata Syarifah.

Bukan hanya tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang menyebabkan masalah pada
ibu dan anak, para bidan juga harus menghadapi kendala budaya.

Dari 50 ibu hamil, 30 orang di antaranya mengalami anemia di Sendangguwo, Kelurahan


Gemah, Semarang. Hal ini berhubungan dengan kebiasaan keluarga. ”Bapak diutamakan saat
makan, anak dapat sisa dari bapak, dan ibu belakangan sekali,” papar Yuninda Asih
Wilangsari, bidan praktik swasta sejak tahun 2000, di Sendangguwo.

”Anak usia balita tidak boleh makan ikan karena katanya akan cacingan, padahal ikan
sumber protein penting,” kata Husniar.

Para bidan umumnya mendapati masalah kesehatan ibu hamil dan anak balita cukup
serius ketika pertama kali bertugas

B. Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk:
1. Memberikan gambaran tentang Agen Perubahan (change Agent) serta peran dan
fungsinya dalam dunia kebidanan
2. Memenuhi tugas perkuliahan “HUMANIORA”.

2
C. Perumusan dan Pembatasan Masalah:
Dari uraian pada latar belakang di atas, dapatlah dirumuskan beberapa permasalahan:
1. Apa pengertian, fungsi dan tugas seorang Agen Perubahan?
2. Bagaimana peran bidan sebagai seorang Agen Perubahan ?

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Agen pembaharuan (change agent) adalah orang yang bertugas mempengaruhi
klien agar mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh
pengusaha pembaharuan (change agency). Pekerjaan ini mencakup berbagai macam
pekerjaan seperti guru, konsultan, penyuluh kesehatan, penyuluh pertanian dan
sebagainya. Semua agen pembaharuan bertugas membuat jalinan komunikasi antara
pengusaha pembaharuan (sumber inovasi) dengan sistem klien (sasaran inovasi).
Tugas utama agen pembaharuan adalah melancarkan jalannya arus inovasi
dari pengusaha pembaharuan ke klien. Proses komunikasi ini akan efektif jika
inovasi yang disampaikan ke klien harus dipilih sesuai dengan kebutuhannya atau
sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Agar jalinan komunikasi dalam proses
difusi ini efektif, umpan balik dari sistem klien harus disampaikan kepada
pengusaha pembaharuan melalui agen pembaharu. Dengan umpan balik ini
pengusaha pembaharuan dapat mengatur kembali bagaimana sebaiknya agar
komunikasi lebih efektif.
Jika tidak terdapat kesenjangan sosial dan teknik antara pengusaha
pembaharuan dan klien dalam proses difusi inovasi, maka tidak perlu agen
pembaharu. Tetapi biasanya pengusaha pembaharuan adalah orang-orang ahli dalam
inovasi yang sedang didifusikan, oleh karena itu terjadi kesenjangan pengetahuan
sehingga dapat terjadi hambatan komunikasi. Disinilah pentingnya agen
pembaharuan untuk penyampaian difusi inovasi agar dapat mudah diterima oleh
klien.
Agen pembaharuan harus mampu menjalin hubungan baik dengan pengusaha
pembaharuan dan juga dengan sistem klien. Adanya kesenjangan heterophily pada
kedua sisi agen pembaharuan dapat menimbulkan masalah dalam komunikasi.
Sebagai penghubung antara kedua sistem yang berbeda sebaiknya agen pembaharu
bersikap marginal, ia berdiri dengan satu kaki pada pengusaha pembaharu dan satu
kaki yang lain pada klien. Keberhasilan agen pembaharu dalam melancarkan proses
komunikasi antara pengusaha pembaharu dengan klien, merupakan kunci
keberhasilan proses difusi inovasi. Selain itu agen pembaharu melakukan seleksi
informasi untuk dapat disesuaikan dengan masalah dan kebutuhan klien.

4
B. Fungsi dan Tugas Agen Pembaharuan
Fungsi utama agen pembaharu adalah sebagai penghubung antara pengusaha
pembaharuan (change agency) dengan klien, tujuannya agar inovasi dapat diterima
atau diterapkan oleh klien sesuai dengan keinginan pengusaha pembaharuan. Kunci
keberhasilan diterimanya inovasi oleh klien terutama terletak pada komunikasi
antara agen pembaharu dengan klien. Jika komunikasi lancar dan efektif proses
penerimaan inovasi akan lebih cepat dan makin mendekati tercapainya tujuan yang
diinginkan. Sebaliknya jika komunikasi terhambat makin tipis harapan diterimanya
inovasi. Oleh karena tugas utama yang harus dilakukan agen pembaharu adalah
memantapkan hubungan dengan klien. Kemantapan hubungan antara agen
pembaharu dengan klien, maka komunikasi akan lebih lancar.
Rogers, mengemukakan ada tujuh langkah kegiatan agen pembaharu dalam
pelaksanaan tugasnya inovasi pada sistem klien, sebagai berikut.
1. Membangkitkan kebutuhan untuk berubah.
Biasanya agen pembaharu pada awal tugasnya diminta untuk membantu
kliennya agar mereka sadar akan perlunya perubahan.Agen pembaharu
mulai dengan mengemukakan berbagaimasalah yang ada, membantu
menemukan masalah yang penting dan mendesak, serta meyakinkan klien
bahwa mereka mampu memecahkan masalah tersebut. Pada tahap ini agen
pembaharu menentukan kebutuhan klien dan juga membantu caranya
menemukan masalah atau kebutuhan dengan cara konsultatif.
2. Memantapkan hubungan pertukaran informasi.
Sesudah ditentukannya kebutuhan untuk berubah, agen pembaharu harus
segera membina hubungan yang lebih akrab dengan klien. Agen
pembaharu dapat meningkatkan hubungan yang lebih baik kepada klien
dengan cara menumbuhkan kepercayaan klien pada kemampuannya, saling
mempercayai dan juga agen pembaharu harus menunjukan empati pada
masalah dan kebutuhan klien .
3. Mendiagnosa masalah yang dihadapi.
Agen pembaharu bertanggung jawab untuk menganalisa situasi masalah
yang dihadapi klien, agar dapat menentukan berbagai alternatif jika tidak
sesuai kebutuhan klien. Untuk sampai pada kesimpulan diagnosa agen
pembaharu harus meninjau situasi dengan penuh emphati. Agen
pembaharu melihat masalah dengan kacamata klien, artinya kesimpulan

5
diagnosa harus berdasarkan analisa situasi dan psikologi klien, bukan
berdasarkan pandangan pribadi agen pembaharu.
4. Membangkitkan kemauan klien untuk berubah.
Setelah agen pembaharu menggali berbagai macam cara yang mungkin
dapat dicapai oleh klien untuk mencapai tujuan, maka agen pembaharu
bertugas untuk mencari cara memotivasi dan menarik perhatian agar klien
timbul kemauannya untuk berubah atau membuka dirinya untuk menerima
inovasi. Namun demikian cara yang digunakan harus tetap berorientasi
pada klien, artinya berpusat pada kebutuhan klien jangan terlalu
menoinjolkan inovasi.
5. Mewujudkan kemauan dalam perbuatan.
Agen pembaharu berusaha untuk mempengaruhi tingkah laku klien dengan
persetujuan dan berdasarkan kebutuhan klien jadi jangan memaksa.
Dimana komunikasi interpersonal akan lebih efektif kalau dilakukan antar
teman yang dekat dan sangat bermanfaat kalau dimanfaatkan pada tahap
persuasi dan tahap keputusan inovasi. Oleh kerena itu dalam hal tindakan
agen pembaharu yang paling tepat menggunakan pengaruh secara tidak
langsung, yaitu dapat menggunakan pemuka masyarakat agar
mengaktifkan kegiatan kelompok lain.
6. Menjaga kestabilan penerimaan inovasi dan mencegah tidak
berkelanjutannya inovasi.
Agen pembaharu harus menjaga kestabilan penerimaan inovasi dengan
cara penguatan kepada klien yang telah menerapkan inovasi. Perubahan
tingkah laku yang sudah sesuai dengan inovasi dijaga jangan sampai
berubah kembali pada keadaan sebelum adanya inovasi.
7. Mengakhiri hubungan ketergantungan.
Tujuan akhir tugas agen pembaharu adalah dapat menumbuhkan kesadaran
unrtuk berubah dan kemampuan untuk merubah dirinya, sebagai anggota
sistem sosial yang selalu mendapat tantangan kemajuan jaman. Agen
pembaharu harus berusaha mengubah posisi klien dari ikatan percaya pada
kemampuan agen pembaharu menjadi bebas dan percaya kepada
kemampuan sendiri.

6
C. Orientasi Teoritik Tentang Agent of Change
Hakikat pembelajaran adalah ’suatu proses perubahan tingkah laku anak’
(Wuryani, 2002; Sagala, S. 2006), yaitu perubahan dari tidak baik menjadi baik, dari
tidak bisa mengerjakan sesuatu menjadi bisa mengerjakan sesuatu. Persoalan yang
muncul adalah, faktor apakah yang paling menentukan bagi setiap individu mampu
melakukan suatu perubahan dalam hidupnya?.
Beragam teori telah dikemukakan oleh para ahli untuk menjawab persoalan
tersebut, baik teori-teori yang berorientasi pada paham positivisme maupun
idealisme (Lauer, R., 1978). Dalam analisis kajian ini, penulis lebih menekankan
pada teori-teori yang berorientasi pada pandangan idealisme atau konstruktivisme,
yang menempatkan faktor pikiran dan jiwa individu sebagai penentu terjadinya
perubahan sosial-budaya (Sztompka. 2004), sedangkan teori-teori yang berorientasi
positivis tidak dijelaskan atau tidak dijadikan sebagai orientasi dalam kajian ini.
Diantara teori yang berorientasi idealisme dalam memandang makna,
penyebab dan agen pendorong perubahan sosial-budaya adalah:
1. Teori ’kepribadian kreatif’ oleh Everette Hagen. Diantara asumsi dasar
teori ini adalah:
a. faktor kunci terjadinya perubahan sosial-budaya ditentukan oleh
kondisi psikologi atau kepribadian kreatif individu;
b. kepribadin individu yang selalu mendorong ke arah perubahan
adalah kepribadian kreatif atau inovatif; dan
c. ciri kepribadian kreatif atau inovatif adalah menjunjung tinggi
pengetahuan, otonomi, keteraturan hidup, humanis dan disiplin
nurani serta tegas atau adil (Hagen, E., 1962).

Jadi, menurut teori ini faktor kunci terjadinya perubahan sosial-budaya,


termasuk aspek pembelajaran budaya di sekolah adalahberkembangnya
kepribadian kreatif pada diri warga sekolah (pendidik, tenaga
kependidikan dan siswa).

2. Teori ‘kebutuhan berprestasi’ yang dikenal ‘need for achievement atau n-


Ach’ oleh David Mc. Cleeland. Diantara asumsi pokok teori ini adalah:
a. faktor utama penyebab terjadinya perubahan sosial-budaya adalah
adanya dorongan dari dalam individu (pikiran dan jiwanya) untuk
berkarya secara maksimal;

7
b. sikap mental selalu ingin berkarya (semangat berprestasi menjadi
kebutuhan dasar hidupnya) yang berkembang di masyarakat akan
menjadi penyebab perubahan kearah kemajuan; dan
c. mentalitas n-Ach tersebut harus terus ditanamkan sejak masa
kanak-kanak (Mc-Clelland, D., 1961).
Jadi, sejatinya yang menjadi dasar penyebab atau agen perubahan adalah
faktor kualitas mental seseorang untuk selalu ingin berkarya dan
berprestasi sepanjang usia hidupnya, kebutuhan untuk berkarya bagaikan
darah yang mengalir dalam tubuh.
3. Teori ‘mentalitas modern’ oleh Alex Inkeles dan David Smith. Diantara
ciri mentalitas modern yang mendorong terjadinya perubahan adalah:
a. cinta pada perkembangan Iptek;
b. selalu menjalin kontak dengan pihak lain;
c. mentalitas kompetitif dan inovatif;
d. orientasi hidup ke masa depan dan menghargai harkat martabat
orang lain (Budiman, A,. 1995 ).

Berdasarkan ketiga teori tersebut dapat disimpulkan, bahwa yang menjadi


agen perubahan (agent of change) dalam proses kehidupan adalah para
individu yang mempunyai kualitas jiwa, pikiran atau mentalitas positif
dalam proses-proses sosialnya.

Diantara sikap mental positif yang akan menjadi penggerak perubahan


sosial budaya antara lain:

a. cinta pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.


b. selalu menjalin kontak-komunikasi dengan orang lain atau dunia
luar.
c. menjunjung tinggi prestasi orang lain dan pandangan karya untuk
karya.
d. menghargai harkat dan martabat orang lain atau bersikap
demokratis-humanis.
e. menghargai waktu dan berorientasi hidup ke masa depan.
f. melakukan sesuatu pekerjaan berdasarkan perencanaan yang
matang.

8
g. merasa tidak puas terhadap karya budaya yang telah ada, dan selalu
ingin membaharuhi hidup; dan
h. menjunjung tinggi nilai atau prinsip, bahwa upah sesuai dengan
karya (Budiman, A. 1995; Sztompka. 2004).

Jadi, ketika seseorang memiliki ciri-ciri: kepribadian kreatif, mentalitas


untuk berprestasi, dan mentalitas modern tersebut di atas, maka dia akan
mampu berperan sebagai agen perubahan (agent of change) dalam
kehidupan kelompoknya (Lauer, R., 1978).

D. Agen Perubahan
Dengan kesabaran dan belajar dari pengalaman para bidan perlahan-lahan
mengajak masyarakat mengubah perilaku menuju gaya hidup lebih rasional.
Cara mereka bermacam-macam. Bimoarti mulai lebih dari dua tahun terakhir
mengubah pendekatan. Belajar dari dukun melahirkan, dia juga memberi layanan
lengkap hingga pascamelahirkan. Pendekatan juga dilakukan kepada perangkat desa
dan masyarakat untuk membentuk Forum Kesehatan Desa. Begitu juga dilakukan
Husniar dan Siti Aminah untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI).
Dalam konteks pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), bidan
desa sangat berperan dalam mencapai tujuan keempat MDGs, yaitu menurunkan
angka kematian bayi, dan tujuan kelima, yaitu memperbaiki kesehatan ibu hamil.
AKI di Indonesia masih 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian
bayi (AKB) 34 per 1.000 kelahiran hidup. Angka itu tertinggi di ASEAN.
Untuk mencapai MDGs, Pemerintah Indonesia menargetkan AKI sebesar 102
dan AKB sebesar 23 pada tahun 2015.

E. Peran Bidan
Bidan adalah posisi unik yang berpeluang melakukan tindakan yg berani
berdasarkan perbaruan NHS dan usulan pemerintah untuk memberikan pelayanan
yg adil dan menciptakan organisasi kultural dan praktik.
Bidan perlu mengetahui dan memahami nilai-nilai mereka sendiri, sikap,
norma dan harapan yang mempengaruhi praktik profesional mereka, demikian juga

9
dengan pasien mereka yang beragam budaya dan agama, memungkinkan mereka
untuk menanggapi secara adil.
Bidan harus mempertimbangkan kesulitan yang dihadapi oleh perempuan
yang kurang paham dengan pelayanan kesehatan dan kurang percaya diri, dan
memastikan bahwa mereka mampu menciptakan lingkungan konduktif yang
memungkinkan perempuan untuk menjelaskan pendapat dan keinginan mereka
tentang perawatan bersalin.
Bidan memainkan peran penting dalam membawa perubahan. Sebagai
pendukung perempuan, mereka harus memastikan kebutuhan dan keinginan
konsumen, khususnya perempuan yang mungkin tidak mampu berkomunikasi
secara efektif, akan dipertimbangkan selama perencanaan dan pelayanan. Sebagai
agen perubahan (change agents), mereka (bidan) perlu memanfaatkan keterampilan
adaptasi, fleksibilitas dan kesadaran politik dalam pengembangan dan pelaksanaan
praktik bersifat pembaruan untuk memastikan bahwa pelayanan bidan tersedia
secara merata kepada semua perempuan. Bidan harus secara aktif berpartisipasi
dalam meningkatkan kesadaran layanan yang tersedia di antara semua perempuan.
Beberapa kegiatan bidan juga memberikan nasihat dalam asuhan sebelum
kehamilan – misalnya , untuk memberikan informasi dan saran keluarga berencana
yang baik , untuk mendiagnosa kehamilan , untuk memberikan resep atau
memberikan nasihat tentang pemeriksaan yang diperlukan untuk sedini mungkin
untuk diagnosis kehamilan beresiko dan bahkan menyediakan program persiapan
menjadi orangtua ( UKCC , 1991) .

10
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Agen pembaharuan (change agent) adalah orang yang bertugas mempengaruhi klien agar
mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh pengusaha pembaharuan
(change agency). Fungsi utama agen pembaharu adalah sebagai penghubung antara
pengusaha pembaharuan (change agency) dengan klien, tujuannya agar inovasi dapat
diterima atau diterapkan oleh klien sesuai dengan keinginan pengusaha
pembaharuan.Diantara teori yang berorientasi idealisme dalam memandang makna, penyebab
dan agen pendorong perubahan sosial-budaya adalah:

1. Teori ’kepribadian kreatif’ oleh Everette Hagen


2. Teori ‘kebutuhan berprestasi’ yang dikenal ‘need for achievement atau n-Ach’
oleh David Mc. Cleeland
3. Teori ‘mentalitas modern’ oleh Alex Inkeles dan David Smith

Para bidan juga mencari cara untuk menarik minat ibu-ibu membawa anak balita
mereka ke posyandu. Salah satunya dengan memberi pelatihan pemenuhan kebutuhan praktis,
seperti cara memasak makanan untuk anak balita.Bidan memiliki moral, tanggung jawab
etnis dan profesional untuk memberikan perawatan kultural terhadap semua perempuan serta
untuk mengembangkan pelayanan yang adil.

B. SARAN

Pada makalah ini kami tahu bahwa terdapat banyak kesalahan. Kami selaku penyusun
menyarankan kepada semua rekan-rekan yang membaca makalah ini supaya sedikit
mempelajari tentang bidan sebagai chang agent. Sekiranya makalah ini jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu diharapkan atas kritik dan saran yang membangun agar dapat
dijadikan koreksi pada makalah-makalah kami yang selanjutnya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Rogers, Everett, M.,Diffusion of Innovation, Fourth Edition. New York: Collier Macmillan
Publishing Co, Inc., 1995

Ninuk Mardiana Pambudy.2011. Bidan, agen perubahan.


http://gubugtp.blogspot.co.id/2011/04/agen-perubahanchange-agent-makalah.html2010

Diakses tanggal 17 oktober 2015

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/05/04115762/bidan.agen.perubahan

12
13

Anda mungkin juga menyukai