Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum Hari/Tgl : Senin, 12 Oktober 2015

Analisis Mutu Mikrobiologi Pangan Dosen : Ai Imas F Stp.Msc


Asisten : Dina Crownia, Amd
Revita Permata Hati, Amd

UJI MIKROBIOLOGI SUSU


Disusun oleh:
Kelompok 4 / BP2

Cecep Sumantri J3E114028


Arista Hanudiana J3E114007
Tina Dameria S J3E114086
Alfina Syaikani J3E114047

PROGRAM KEAHLIAN SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahan pangan maupun produk olahannya umumnya dapat ditumbuhi oleh


satu atau lebih jenis mikroba. Adanya mikroba pada pangan kemungkinan dapat
menyebabkan kerusakan pangan atau bahkan dapat membahayakan kesehatan
konsumen. Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah susu. Susu adalah
suatu sekresi yang komposisinya sangat berbeda dari komposisi darah yang
merupakan asal susu. Misalnya lemak susu, casein, laktosa yang disintesa oleh
alveoli dalam kambing, dan tidak terdapat di tempat lain manapun dalam tubuh sapi
(Muchtadi dkk 2010).

Menurut Muchtadi dkk (2010) susu adalah cairan yang dihasilkan oleh
kelenjar susu (mammae) baik dari binatang maupun dari seorang ibu. Air susu ibu
dikenal dengan ASI, sedangkan susu hewan atau susu tiruan sebagai pengganti susu
ibu disebut PASI (Pengganti Air Susu Ibu). Susu memiliki aroma yang ringan dan
umumnya dapat diterima orang-orang di wilayah perkotaan. Di pedesaan, sebagian
penduduk memang menolak untuk minum susu dengan alasan berbau amis dan tidak
biasa. Namun susu dengan nilai gizinya tinggi merupakan makanan penting bagi
mereka yang dalam keadaan sakit (Beck 1993).

Uji mikrobiologi terhadap susu perlu dilakukan untuk mengetahui mutu susu
sebelum diolah. Metode yang dilakukan untuk mutu mikrobiologi susu, yaitu metode
Mikroskopik Langsung (DMC) digunakan untuk menganalisis susu yang
mengandung bakteri dalam jumlah tinggi, metode MBRT (Methylene Blue Reduction
Test) untuk memberikan gambaran perkiraan jumlah bakteri yang terdapat dalam
susu, metode Resazurin, metode pengujian menggunakan alkohol, dan pengujin
secara visual.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kualitas susu dengan cara
melakukan pengujian secara mikrobiologi yaitu uji metode breed, pengujian alkohol,
uji MBRT (Methylene Blue Reduction Test), uji Resazurin pada susu segar dan susu
yang sudah ditambahkan mikroba dan uji visual.

BAB II

METODOLOGI

2.1 Bahan dan Alat

2.1.1 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan:

Susu
Alkohol
Minyak imersi
Pewarna biru metilen
Resazurin
Pewarna biru metilen tiosianat

2.1.2 Alat

Alat-alat yang digunakan:

Bunsen
Jarum ose
Mikroskop
Mikro pipet ukuran 0.01 ml
Kartu penolong berukuran 1 cm2
Gelas Objek
Tabung reaksi
Penangas air bersuhu 36 C

2.2 Prosedur Kerja

Metode Breed

0,01 ml 0,01 ml
susu susu

1 cm 1 cm
1 1

Dikeringkan di udara dan difikasasi

Ditambahknan pewarna MB dan dibiarkan selama 2 menit


Dibuang kelebihan zat warna dengan kertas serap

Dibiarkan kering

Dibilas dengan air

Dikeringkan diudara

Diamati di bawah mikroskop

Ditambahkan minyak imersi

Dihitung jumlah bakteri per areal pandang

Pengujian Alkohol
5 ml susu

+ alkohol 70 %

Diamati penggumpalan
Uji MBRT (Methylene Blue Reduction Test)

10 ml susu

Ditambahkan 1 ml MB Tiosianat

Dihangatkan sampai suhu 36 oC


Dibalikan sebanyak 3 kali

Ditempatkan Water bath 36 oC, dicatat waktu


mulainya

Setelah 5 menit dibalikkan untuk mencampur zat


warna

Diamati perubahan warna setiap 30 menit

Dicatat MBRT (s/d 7 kali pengamatan)

Uji Resazurin

10 ml susu

+ 1 ml Resazurin

Dikocok

Dibiarkan 1 jam untuk melihat


warna
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Uji Visual

Hail Pengamatan
Warna Putih kekuning-kuningan
Gumpalan Tidak ada gumpalan

Uji Alkohol

HasilPengamatan
Gumpalan Tidak ada gumpalan
Uji Rezazurin

Kelompok Ganjil (Sampel susu UHT + E.coli)

Kelompok Hasil Pengamatan


Sebelum ditambah Sesudah ditambah Setelah di Water
Rezazurin Rezazurin batch
1 Putih Violet Pink
3 Putih Violet Pink
5 Putih Violet Pink
7 Putih Violet Pink

Kelompok Ganjil (Sampel susu UHT + E.coli)

Kelompok Hasil Pengamatan


Sebelum ditambah Sesudah ditambah Setelah di Water
Rezazurin Rezazurin batch
1 Putih Violet Biru
3 Putih Violet Biru
5 Putih Violet Biru
7 Putih Violet Biru

Uji Metilen Blue

Kelompok Suhu susu (kontrol) Suhu C Hasil Pengamatan


C
1 30 30 ke-1 Biru lebih pekat
34 30 ke-2 Biru lebih pekat
34 30 ke-3 Biru pekat
34 30 ke-4 Biru memudar
34 30 ke-5 Biru memudar
34 30 ke-6 Biru memudar
Kelompok Suhu susu (kontrol) Suhu C Hasil Pengamatan
C
34 30 ke-7 Biru memudar
2 30 30 ke-1 Biru lebih pekat
34 30 ke-2 Biru sedikit memisah
34 30 ke-3 Biru sedikit memisah
34 30 ke-4 Biru memudar
34 30 ke-5 Biru memudar
34 30 ke-6 Biru memudar
34 30 ke-7 Biru memudar
3 30 30 ke-1 Biru lebih pekat
34 30 ke-2 Biru lebih pekat
34 30 ke-3 Biru memudar
34 30 ke-4 Biru memudar
34 30 ke-5 Biru memudar
34 30 ke-6 Biru memudar
34 30 ke-7 Biru memudar
4 30 30 ke-1 Biru lebih pekat
34 30 ke-2 Biru
34 30 ke-3 Biru
34 30 ke-4 Biru memudar
34 30 ke-5 Biru memudar
34 30 ke-6 Biru memudar
34 30 ke-7 Biru memudar

Kelompok Genap

Kelompok Suhu susu (control) Suhu Hasil Pengamatan


5 30 30 ke-1 Biru sedikit memisah
34 30 ke-2 Biru lebih pekat
34 30 ke-3 Biru pekat sedikit memisah
34 30 ke-4 Biru memudar
34 30 ke-5 Biru memudar
34 30 ke-6 Biru memudar
34 30 ke-7 Biru sangat memudar
6 30 30 ke-1 Biru lebih pekat
34 30 ke-2 Biru sedikit memisah
34 30 ke-3 Biru banyak memisah
34 30 ke-4 Biru memudar
34 30 ke-5 Biru memudar
34 30 ke-6 Biru memudar
Kelompok Suhu susu (control) Suhu Hasil Pengamatan
34 30 ke-7 Biru memudar
7 30 30 ke-1 Biru sedikit memisah
34 30 ke-2 Biru lebih pekat
34 30 ke-3 Biru memudar
34 30 ke-4 Biru memudar
34 30 ke-5 Biru memudar
34 30 ke-6 Biru memudar
34 30 ke-7 Biru memudar
8 30 30 ke-1 Biru pekat sedikit memisah
34 30 ke-2 Biru sedikit memisah
34 30 ke-3 Biru sedikit memisah
34 30 ke-4 Biru memudar
34 30 ke-5 Biru memudar
34 30 ke-6 Biru memudar
34 30 ke-7 Biru memudar

3 Uji Breed
Kelompok Sampel yang digunakan Jumlah bakteri per ml
1 1.0 x 104
3 7.3 x 10-6
Susu UHT + E.coli
5 1.4 x 107
7 1.4 x 106
4
Kelompok Sampel yang digunkan Jumlah bakteri per ml
2 0
4 0
Susu segar
6 0
8 0
5
5.2 Pembahasan
5.2.1 Uji Visual
Prinsip pengujian secara visual dilakukan dengan melihat produk susu dengan
menggunakan mata secara langsung. Setelah dilakukan pengujian ternyata susu
terlihat berwana kekuningan. Susu memiliki warna putih kekuningan atau bisa juga
disebut putih tulang pekat yang disebabkan oleh adanya kandungan lemak dan beta
karoten yang menyebabkan susu itu berwarna kuning, sedangkan warna putihnya
merupakan hasil dispersi cahaya dari butiran-butiran lemak, protein, dan mineral
yang ada di dalam susu (Khosman 2004). Susu sedikit manis dan asin (gurih) yang
disebabkan adanya kandungan gula laktosa dan garam mineral di dalam susu tersebut.
Aroma amis ini disebabkan karena pada susu bubuk full cream lebih banyak
mengandung lemak.
5.2.2 Pengujian Alkohol
Prinsip dasar pada uji alkohol merupakan kestabilan sifat koloidal protein
susu tergantung pada selubung atau mantel air yang menyelimuti butir-butir protein
terutama kasein. Uji alkohol bertujuan memeriksa dengan cepat derajat keasaman
susu. Bila alkohol (bersifat dehidrasi) dicampurkan dengan susu, maka akan terjadi
koagulasi protein sehingga pecahan-pecahan susu akan tampak. Semakin tinggi
derajat asam susu, semakin banyak jumlah alkohol yang berkurang dengan
konsentarsi alkohol yang sama dalam memecahkan susu yang sama banyaknya.
Menurut Maheswari (2004) susu yang mengandung lebih dari 0,21% asam atau
kalsium dan magnesium dalam jumlah tinggi, akan terkoagulasi dengan penambahan
alkohol.
Uji alkohol sampel susu A yang ditambahkan alkohol 70 % tidak terjadi
penggumpalan. Menurut Sudono dkk (2005) susu yang positif pada uji alkohol ini
menandakan susu mulai masam, terdapat kolostrum dan kemungkinan adanya
penyakit mastitis. Jika hasil pengujian uji alkohol ditemukan tidak adanya endapan
negatif) artinya susu tersebut bagus dan masih dapat dikonsumsi oleh masyarakat
tetapi bila hasilnya terdapat endapan (positif) maka susu tersebut sudah rusak dan
tidak layak untuk dikonsumsi.
5.2.3 Metode Resazurin
Dasar pengujian Resazurin adalah kemampuan bakteri untuk mereduksi
warna. Tujuan dari pengujian analisis ini yaitu untuk mengetahui daya reduksi susu
dengan Resazurin. Semakin memudarnya warna susu menunjukkan bahwa susu
tersebut mengandung jumlah bakteri yang cukup tinggi dan mutu dan kualitasnya
rendah dan sebaliknya jika warna susu tetap berwarna biru berarti susu tersebut
memiliki mutu dan kualitas yang bagus dan memiliki sedikit jumlah bakteri bahkan
tidak ada bakteri yang mereduksi resazurin tersebut.
Pengujian dilakukan dengan memasukkan 10 ml sampel susu ke dalam tabung
reaksi kemudian ditambahkan 1 ml larutan Resazurin dan dipanaskan di dalam water
bath dengan suhu 36oC selama 15 menit kemudian di kocok. Setelah itu dipanaskan
kembali di dalam water bath selama 1 jam kemudian amati perubahan warna yang
terjadi pada masing-masing sampel per 15 menit selama 1 jam.
Berdasarkan hasil yang ada, dari kedua sampel diketahui bahwa mutu sampel
A (susu segar) lebih bagus dibandingkan sampel B (+E.coli). Hal ini dapat dilihat dari
perubahan warna yang terjadi, Sampel A warnanya tetap atau tidak berubah dari awal
percobaan yaitu warna biru. Sedangkan untuk sampel B mengalami perubahan warna
dari biru pink menjadi warna merah muda di permukaan atau bahkan menjadi warna
putih. Menurut Dwidjoseputro (2003) sampel yang tidak mengalami perubahan warna
apabila ditambahkan pereaksi Resazurin berarti sampel tersebut memiliki kualitas
yang baik sedangkan sampel yang mengalami perubahan warna memiliki kualitas
yang tidak bagus.
Perubahan warna pada analisis resazurin dapat terjadi karena mikroba mampu
mereduksi Resazurin menjadi hidroresofurin (tidak berwarna). Kemampuan mikroba
yang dapat mereduksi warna sehingga dapat diketahui bahwa sampel B memiliki
kualitas yang tidak bagus karena perubahan warna yang terjadi dari warna biru pink
menjadi merah muda di permukaan atau bahkan putih. Organisme atau bakteri yang
tumbuh dalam susu akan menghasilkan oksigen. Jika oksigen habis, maka akan
terjadi reaksi aoksidasi-reduksi untuk kelangsungan hidup mikroba. Sitrat yang
merupakan metabolit mikroba berfungsi sebagai donor hidrogen. Methylen blue
sebagai aseptor hidrogen, dan enzim reduktase yang diprosuksi mikroba merupakan
katalis. Reaksi oksidasi yang terjadi harus dapat menghasilkan energi untuk
pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu, dengan enzim reduktase mikroba
menurunkan potensial oksidasi-reduksi, dengan mereduksi methylene blue. Karena
zat methylene blue tereduksi maka akan terjadi perubahan warna dimana warna
methylene blue akan berubah menjadi methylene white dimana menandakan jumlah
aktifitas mikroba yang meningkat dengan cepat. Terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi hasil akhir dari analisis resazurin ini, antara lain kesalahan pada
pereaksi, dan pengaturan suhu pada water bath.
5.2.4 Metode Methyl Blue Reduction Test (MBRT)
Salah satu metode pengujian mikrobiologi susu selanjutmya adalah uji biru
metilen atau MBRT. Metode ini dilakukan untuk memberikan gambaran perkiraan
jumlah bakteri yang terdapat dalam susu. Dalam uji ini ditambahkan sejumlah zat
warna ke dalam susu, kemudian diamati waktu yang dibutuhkan oleh bakteri untuk
melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan perubahan warna tersebut. Semakin
tinggi jumlah bakteri yang terdapat dalam susu, semakin cepat terjadi perubahan
warna. Kelemahan metode ini tidak praktis dilakukan terhadap susu yang
mengandung bakteri dalam jumlah sedikit, metode ini tidak dapat membedakan jenis
bakteri yang terdapat dalam susu dan analisis membutuhkan waktu yang relatif lama.
Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa sampel susu setelah diamati terjadi
perubahan warna dari warna biru pekat menjadi warna biru memudar. Prinsip dari uji
reduktase adalah kerja enzim reduktase dalam mereduksi zat warna biru dari
methylen blue menjadi larutan berwarna putih jernih. Tujuan uji reduktase adalah
untuk identifikasi adanya mikroba didalam susu, sehingga kualitas susu dapat
ditentukan. Mikroba didalam susu menghasilkan enzim reduktase yang dapat
mereduksi zat warna biru dari methylen blue menjadi tak berwarna, pada saat susu
diberikan methylen blue maka susu tersebut berwarna biru dan akan berubah warna
pada saat terdapat mikroba dalam susu (Buckle et. al 2007). Semakin banyak mikroba
berarti semakin banyak pula enzim reduktase yang dapat mereduksi warna biru.

5.2.5 Metode Direct Mikroskopic Count (DMC)


Susu merupakan salah satu bahan pangan hewani yang mengandung nilai gizi
yang baik untuk dikonsumsi manusia. Namun, hampir semua komponen pada susu
juga merupakan nutrisi yang disenangi mikroba untuk tumbuh. Susu yang berasal dari
sapi yang tidak sehat sering terkontaminasi oleh bakteri patogen. Ada beberapa
kemungkinan yang menyebabkan kontaminasi pada susu, yaitu pencemaran dari sapi,
alat-alat pemerahan yang kurang bersih dan tempat-tempat penyimpanan yang kurang
bersih, debu, udara, lalat dan penanganan oleh manusia (Buckle et. al 2007).
Sedangkan pada sapi yang terjangkit radang (mastitis) dapat dijumpai bakteri dari
jenis Corynebacterium, Staphylococcus spp., Streptococcus spp., dan
Enterobacteriaceae yang jumlahnya dapat mencapai 10 5 CFU/ ml susu. Apabila
kontaminasi berasal dari lingkungannya (tanah, rumput, dan pakan), jumlah mikroba
dalam susu dapat mencapai lebih dari 106 CFU/ ml.. (Winiati P. Rahayu dan C.C.
Nurwitri, 2012)

Susu juga memiliki kadar air dan protein yang tinggi sehingga memungkinkan
mikroba tumbuh. Susu yang disimpan dingin pada suhu kurang dari 50 C selama 1-2
hari, kontaminasi mikroba disominasi oleh bakteri tahan dingin atau psikrotropik.
Bakteri psikotropik ini terdiri dari bakteri Gram negatif dan Gram positif. Contoh
bakteri psikrotropik Gram negatif yang mengontaminasi susu, antara lain
Pseudomanas, Flavobacterium, Alcaligenes, dan Acinetobacter. Sementara itu,
bakteri psikrotropik Gram Positif yang mengontaminasi susu pada umumnya
bergenus Bacillus dan Enterococcus. Jika jumlah bakteri melebihi 108 CFU/ ml, akan
tercapai fase stasioner dari pertumbuhan, saat bakteri akan mengekskresi enzim
protease dan lipase ekstraseluler yang stabil terhadap panas. Enzim protease dan
lipase ini merupakan enzim yang dapat merusak susu. (Winiati P. Rahayu dan C.C.
Nurwitri 2012)

Menganalisis kualitas susu dapat dilakukan dengan menggunakan metode


breed. Metode breed atau metode hitungan langsung (DMC) yaitu dengan cara
menghitung jumlah mikroba yang berada pada suatu ruang yang dapat dilihat dengan
mikroskop. Metode ini dapat diguunakan untuk menghitung jumlah spora bakteri,
kapang dan khamir, atau fragmen pada hifa. Metode ini sering digunakan untuk
menganalisis susu yang mengandung mikroba dalam jumlah tinggi, misalnya susu
yang diperoleh dari sapi yang terkena mastitis, yakni suatu penyakit infeksi yang
menyerang kelenjar ambing sapi Infeksi mastitis dapat disebabkan oleh inflamasi
kelenjar atau putting susu hewan ternak oleh bakteri patogen atau campuran beberapa
bakteri patogen. Sapi yang terserang mastitis, susunya biasanya mengandung sel-sel
darah putih dalam jumlah tinggi. Keuntungan menggunakan metode ini yaitu
perhitungan cepat dan bakteri langsung dihitung menggunakan mikroskop.
Sedangkan kelemahan metode ini yaitu tidak dapat dilakukan terhadap susu yang
dipasteurisasi karena secara mikroskopik tidak dapat dibedakan antara sel-sel bakteri
yang masih hidup atau yang telah mati karena perlakuan pasteurisasi.
Dalam praktikum uji analisis mikrobiologi susu dengan metode DMC atau
metode breed ini digunakan 2 sampel, yaitu sampel susu segar (sampel A) dan susu
yang ditambah bakteri (sampel B). Berdasarkan hasil pengamatan, didapat jumlah
bakteri pada sampel A adalah 0 sel/ml, sedangkan untuk pengamatan sampel B yang
dilakukan oleh kelompok ganjil yaitu kelompok 1,3,5, dan 7 jumlah bakteri yang
tumbuh berturut-turut 1.0 x 104, 7,3 x 106, 1.4 x 107 dan 1.4 x 106. Berdasarkan hasil
perhitungan dapat dilihat bahwa sampel A tidak mengandung bakteri karena sampel A
merupakan susu hasil proses UHT. Susu UHT (ultra high temperature) merupakan
susu yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang
singkat (Beck 1993). Tujuannya adalah untuk membebaskan dari seluruh mikroba,
serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal bahkan hampir
tidak ada.
Setelah dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop terlihat pada sampel
A tidak ada mikroba yang tumbuh, sedangkan pada sampel B terlihat mikroba
berbentuk batang. Hasil perhitungan setiap kelompok pada sampel B berbeda-beda
hal ini disebabkan karena dalam pengamatan menggunakan mikroskop tidak teliti
sehingga saat menghitung jumlah mikroba pada suatu areal pandang, mikroba pada
areal pandang sebelumnya terhitung kembali pada areal pandang yang selanjutnya.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Uji mikrobiologi susu menggunakan 5 metode yaitu uji visual, uji alkohol,
Resazurin, Methyl Blue Reduction Test (MBRT), dan Direct Microskopic Count
(DMC). Metode uji visual bertujuan untuk mengetahui kualitas susu dengan
menggunakan mata. Hasil yang didapatkan pada uji visual susu berwarna
kekuningan, metode uji alkohol bertujuan memeriksa dengan cepat derajat keasaman
susu. Hasil uji alkohol bahwa sampel susu hasilnya tidak terdapat endapan, metode
Resazurin digunakan untuk mengetahui daya reduksi susu untuk mengetahui kualitas
susu. Hasil uji resazurin bahwa sampel susu A (susu segar) memiliki kualitas susu
yang lebih baik dibandingkan sampel susu B (susu + E.coli). Hal ini dapat disebabkan
Karena tidak adanya perubahan warna pada sampel A sedangkan pada sampel B
terjadi perubahan warna dari biru pink menjadi merah muda dipermukaan atau
bahkan putih.
Metode Methyl Blue Reduction Test (MBRT), ini dilakukan untuk memberikan
gambaran perkiraan jumlah bakteri yang terdapat dalam susu. Berdasarkan hasil
pengamatan, bahwa sampel susu setelah diamati terjadi perubahan warna dari warna
biru pekat menjadi warna biru memudar karena adanya aktifitas mikroba. Metode
breed atau metode hitungan langsung (DMC) yaitu dengan cara menghitung jumlah
mikroba yang berada pada suatu ruang yang dapat dilihat dengan mikroskop. Hasil
dari metode hitungan langsung pada sampel A (susu segar) tidak terdapat jumlah
mikroba yang teramati sedangkan pada sampel B (susu + E.coli) jumlah bakteri yang
tumbuh berturut-turut 1.0 x 104, 7,3 x 106, 1.4 x 107 dan 1.4 x 106

4.2 Saran

Dalam pengujian mikrobiologi susu, analisis dilakukan sebaiknya dalam


keadaan higienis agar didapatkan hasil yang baik dan terhindar dari kemungkinan
adanya kontaminasi bagi yang mengkonsumsi susu tersebut dan dapat menimbulkan
penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Beck, Mary E. 1993. Ilmu Gizi dan Diet. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica.

Buckle, K.A., Edwards, R.A., Fleet, G.H., and Wootton, M., 2007, Ilmu Pangan,
Penerjemah: Hari Purnomo dan Adiono, Universitas Indonesia, Jakarta

Dwidjoseputro, D. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta

Khosman, Ali, Prof. Dr. Ir. 2004. Pangandan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

Maheswari, R.R.A 2004. Penanganan dan Pongalahan Hasil Ternak Perah. Bogor:
Institut Pertanian Bogor

Muchtadi, Tien R. Prof. Dr. Ir. M.S, dkk. 2010. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan.
Bogor: Alfabeta, CV.

Rahayu, Winiati P dan C.C. Nurwitri. Mikrobiologi Pangan. 2012. Bogor: IPB Press.

Sudono A., Rosdiana F. R., Setiawan R. S. 2003. Beternak Sapi Perah Secara
Intensif. AgroMedia Pustaka. Jakarta.