Anda di halaman 1dari 11

BAB I

Identifikasi

1.1 Pengertian Tunarungu

Istilah tunarungu diambil dari kata tuna dan rungu, tuna artinya kurang dan
rungu artinya pendengaran. Orang dikatakan tunarungu apabila ia tidak mampu
mendengar atau kurang mampu mendengar suara yang pada umumnya ada pada ciri
fisik orang tunarungu.Tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau
kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan
karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak
dapat menggunakan alat pendengaranya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa
dampak terhadap kehidupannya secara kompleks.

Menurut Kosasih (2012:173) terdapat kecenderungan bahwa sesorang yang


mengalami tunarungu sering kali diikuti pula dengan tunawicara. Kondisi ini dapat
menjadi suatu rngkaian sebab dan akibat.

Selain itu, Mufti Salim yang di kutif oleh Somantri (2005:93) menyimpulkan
bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekuranga atau kehilangan
kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya
sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam
perkembangan bahasanya. Ia memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus untuk
mencapai kehidupan lahir batin yang layak.

Dari kedua pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa tunarungu adalah individu
yang memiliki kelainan yang berhubungan dengan indera pendengaran baik sebagian
(hard of hearing) maupun seluruhnya (deaf) sehingga ia mengalami hambatan dalam
perkembangan bahasanya.

[1]
Ciri Ciri Tunarungu
1. Dalam segi fisik:
a. Cara berjalannya kaku dan anak membungkuk. Hal ini disebabkan
terutama terhadap alat pendengaran.
b. Gerakan matanya cepat agak beringas. Hal ini menunjukkan bahwa ia
ingin menangkap keadaan yang ada di sekelilingnya.
c. Gerakan kaki dan tangannya sangat cepat atau kidal. Hal tersebut
tampak dalam mengadakan komunikasi dengan gerak isyarat.
d. Pernafasannya pendek dan agak terganggu.

2. Ciri khas dari segi intelegensi

Intelegensi merupakan faktor yang sangat penting dalam belajar,


meskipun disamping itu ada faktor faktor lain yang dapat diabaikan. begitu
saja seperti kondisi kesulitan, faktor lingkungan intelegensi merupakan motor
dari perkembangan siswa.

3. Ciri ciri dari segi sosial


a. Perasaan rendah diri dan merasa diasingkan oleh keluarga atau
masyarakat.
b. Perasaan cemburu dan salah sangka diperlakukan tidak adil
c. Kurang menguasai irama gaya bahasa.

4. Ciri Ciri khas dari segi emosi

Kekurangan bahasa lisan dan tulisan seringkali menyebabkan siswa tuna


rungu akan menafsirkan sesuatu negative atau salah dalam hal pengertiannya.
Hal ini disebabkan karena tekanan pada emosinya

1.2 Jenis-Jenis Tunarungu

1. Tunarungu Ringan (41 55 db)

[2]
Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas,
membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara

2. Tunarungu Sedang (56 70 db)

Hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, masih punya sisa
pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan menggunakan alat Bantu dengar
serta dengan cara yang khusus.

3. Tunarungu Berat (71 90 db)

Hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang kadang dianggap
tuli, membutuhkan pendidikan khusus yang intensif, membutuhkan alat Bantu dengar
dan latihan bicara secara khusus.

4. Tunarungu Berat Sekali (91 db)

Mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung
pada penglihatan dari pada pendengaran untuki proses menerima informasi dan yang
bersangkutan diangap tuli

1.3 Jumlah Data Tunarungu

Jumlah tunarungu di Indonesia mencapai 6 juta orang (Harmini,2002).


Berdasarkan Sensus Demografi dan Kesehatan Indonesia yang dilakukan Badan Pusat
Statistik (BPS) dan Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN),
diperoleh gambaran mengenai prediksi difabel per propinsi dari data penduduk tahun
2002-2003. Unruk propinsi DKI Jakarta, dari 426.550 total difabel, 21% atau 89.576
orang diantaranya adalah tunarungu (KAPCI,22/4/2005).

Berdasarkan data Susenas tahun 2003,jumlah difabel usia sekolah (5-18 tahun)
diindonesia mencapai 317.016 orang. Untuk difabel yang masuk kategori remaja,
Direktorat Pembinaan Luar Biasa memperkirakan jumlahnya mencapai 55.836 orang
yang berarti 17,61% dari jumlah difabel usia sekolah (Sukarso, 2006). Akan tetapi,

[3]
hingga saat ini belum ditemukan data yang tepat atau estimasi mengenai jumlah
remaja tunarungu di Indonesia, termasuk pembagian perempuan dan laki-laki.

Tentu saja, perkembangan remaja tunarungu pun mempunyai masalah tersendiri.


Mereka mengalami kesulitan emosi yang lebih besar dibandingkan dengan mereka
yang tidak kecacatan. Mereka juga mempunya konsep diri yang kurang baik yang
disebabkan oleh kekurangan yang dideritannya. Karena adanya hambatan tersebut,
mereka merasa dikucilkan dan tidak merasa di terima jika berhubungan dengan orang
lain (Neisworth dalam Mangunsong, 1998, 81).

1.4 Fakta Mengenai Tunarungu

Ketunarunguan secara otomatis dapat menimbulkan ketidak mampuan


berbicara pada anak. Faktanya, meskipun anak memiliki gangguan pendengaran
terutama dengan kehilangan pendengaran yang besar sekalipun yang menjadi
hambatan untuk mengikuti perkembangan kebahasaan mereka secara normal.
Banyak anak tunarungu yang dapat dilatih untuk mengerti bahasa oral dan mampu
berbicara.

Ketunarunguan tidak banyak rintangan seperti halnya pada tunanetra


(kebutaan). Faktanya tidak mungkin kita memprediksi secara nyata sangkaan
hambatan umum, anak tuna rungu umumnya malah lebih besar hambatannya dari
pada anak tunanetra.

Anak tunarungu memiliki kemampuan intelektual yang rendah. Fakta yang


ada, Bayi tunarungu memiliki kemampuan intelektual yang sama dengan bayi
mendengar (normal) pada umumnya. Anak tuna rungu memang memiliki hambatan,
mereka lebih miskin beberapa tugas karena mereka sukar dalam berkomunikasi
dibandingkan dengan anak yang mendengar (normal).

Dalam kegiatan memahami tentang apa yang dikatakan mereka, anak tuna
rungu terkonsentrasi pada gerakan bibir. Faktanya, membaca gerak bibir hanya

[4]
berhubungan dengan visual. Orang tuna rungu tidak hanya belajar pada gerakan
bibir, mereka juga membuat variasi isyarat visual seperti, ekspresi wajah, gerakan
rahang dll.

Mengajar bahasa isyarat kurang baik dan menghambat perkembangan bahasa


oral. Faktanya, sebagian pendidik yang ada justru menggunakan bahasa isyarat
sebagai bahasa pengantar mereka dalam mengajar. Mereka menggunakan kombinasi
antara metode oral dengan isyarat menurut kebutuhan masing-masing anak. Cara itu
dapat melatih keterampilan dalam berkomunikasi.

Penderita kehilangan pendengaran pada frekuensi yang tinggi tidak dapat


diperbaiki dengan alat bantu dengar. Faktanya, cerita tersebut pada suatu saat benar
adanya, jika alat bantu tersebut dipakai pada badan. Alat bantu itu dibuat dengan
frekuensi yang rendah. Pada saat ini alat bantu tersebut dilengkapi dengan mikrofon
khusus yang sebenarnya dapat meredakan masalah.

BAB II

Implikasi Pembelajaran Terhadap Tunarungu

[5]
2.1 Akademis

Dalam sebuah makalah berjudul Inforrmasi Pendidikan Anak Tunarungu


yang dimuat dalam situs www.dipt.Ib.or.id milik Direktorat Pembinaan Sekolah Luar
Biasa (2006), dituliskan empat lingkup pengembangan program pendidikan bagi
individu tunarungu, yaitu:

TKLB/TKKh Tunarungu Tingkat Rendah, SDLB/SDKH Tunarungu kelas


tinggi, SLTPLB/H Tunarungu, dan SMLB/SMAKH Tunarungu.

Secara umum,penyelenggaraan layanan pendidikan bagi anak tunarungu


bertujuan untuk seoptimal mungkin melayani pendidikan bagi anak didik dengan
segala kekurangan yang dimilikinya.

Sampai saat ini, kurikulum yang berlaku di pendidikan khusus untuk anak tunarungu
masih menggunakan kurikulum 2014, sedangkan wacana yang berkembang saat ini
adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang mengarah pada pengembangan
keterampilan dan skill sesuai dan kekhususannya. Kurikulum untuk anak tunarungu
seharusnya dilandasi pada kompetensi berbahasa dan komunikasi yang selanjutnya
dapat diimplementasikan dalam pengajaran bahasa dengan pendekatan percakapan,
atau konsep language Across the Curriculum. Untuk itu, perlu pula dikembangkan
satu model kurikulum bagi anak tunarungu yang berbasiskan kompetensi berbahasa
dan komunikasi untuk menuju kecakapan hidup, apalagi bila anak memiliki twice
exceptionality.

Sulitnya mengajarkan anak tunarungu dengan anak yang mampu mendengar


dicoba diatasi dengan membuat manajemen berbasiis sekolah (school Based
Management) dan pendidikan inklusif, wujud nyatanya dapat dilihat dari
enrollment/assesment awal, penempatan siswa pada kelas-kelas sesuai kemampuan
yang dimiliki, pembuatan individual Education program (IEP) oleh guru dalam
mengajar, sehingga anak benar-benar dilayani secara profesional dengan ketertiban
orang tua, murid, guru, tenaga ahli dan para spesialis. Guru atau tenaga kependidikan

[6]
yang diperlukan antara lain kepala sekolah, guru bidang keterampilan, guru kelas,
guru latihan bicara, ahli bina wicara yang mencari sumber-sumber psikologis dari
kesukaran bicara, serta guru mata pelajaran lain. Sementara itu, tenaga-tenaga ahli
yang dibutuhkan antara ain dokter THT, audiometris, psikolog, pekerja sosial, serta
ortopedagogik atau ahli pendidikan anak luar biasa yang salah satu tugasnya adalah
memberikan bimbingan dan penyuluhan pendidikan, pekerjaan, kemasyarakatan,
pribadi, dan kesehatan.

Namun hingga kini, pelayanan pendidikan bagi anak tunarugu lebih bersifat
segregatif, yaitu teripsah dari satuan pendidikan pada umumnya. Wujud pendidikan
segregatif inilah yang dikenal dengan SKH atau Sekolah Khusus. Sistem pendidikan
ini sangat tidak membantu perkembangan sosialitas peserta didik terutama anak yang
juga berbakat dengan teman sebayanya yang mendengar, sehingga tamatan SKH pun
masih sulit diterima di tengah masyarakat. Kelemahan lain yang juga penting
terutama di Indonesia adalah mahalnya biaya untuk menyelenggarakan program
segregatif.

Seharusnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus menggunakan sistem


inklusif, di mana anak berkelainan dididik bersama-sma anak lainnya yang normal,
untuk mengaptimalkan potensi mereka. Pendidikan inklusif diharapkan mampu
memecahkan persoalan dalam penanganan pendidikan anak berkebutuhan husus
selama ini.

2.2 Bina Diri

Layanan pendidikan terhadap anak tunarungu, meliputi Layanan umum dan


Layanan khusus. Layanan umum merupakam layanan yang biasa diberikan kepada
anak mendengar/normal, sedangkan layanan khusus merupakan layanan yang
diberikan untuk mengurangi dampak kelainannya, yang meliputi layanan bina bicara
serta bina persepsi bunyi dan irama.

Misalnya :

[7]
a. Percakapan prefektif, Latihan ini dilakukan dengan berinteraksi secara pelan-
pelan
b. Menggunakan bahasa isyarat.
c. Berbicara dengan mengeja perkata.
d. Bicara dengan keras
e. Senam lidah, Terapi ini bertujuan agar lidah anak menjadi lentur dan diharapkan
akan lebih mudah mengucapkan kata. Hal ini dilakukan dengan cara
mengusapkan madu disekitar mulut kemudian siswa diminta untuk menjilati
madu yang sudah dioleskan pada sekitar mulut tadi.
f. Kerjasama dengan puskesmas dalam hal kesehatan

BAB III

Kondisi Di Sukabumi Mengenai Tuna Rungu

[8]
BAB IV

Kesimpulan Dan Opini

[9]
3.1 Kesimpulan

Tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan


kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak
berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat
menggunakan alat pendengaranya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa
dampak terhadap kehidupannya secara kompleks.

Jenis jenis tunarungu, tunarungu ringan tunarungu sedang tunarungu berat.


Ketunarunguan secara otomatis dapat menimbulkan ketidak mampuan berbicara pada
anak. Faktanya, meskipun anak memiliki gangguan pendengaran terutama dengan
kehilangan pendengaran yang besar sekalipun yang menjadi hambatan untuk
mengikuti perkembangan kebahasaan mereka secara normal. Banyak anak tunarungu
yang dapat dilatih untuk mengerti bahasa oral dan mampu berbicara.

3.2 Opini

Menurut pendafat kami tunarungu yang ada di Indonesia jumlahnya kurang lebih
6 juta orang itu sudah termasukcukup banyak oleh sebab itu perlu adanya penanganan
dan perhatian dari pemerintah.

Daftar Pustaka

[10]
Sumber : Drs. Andreas Dwidjosumarto (1995).
OrtopedagogikAnakTunarungu, Bandung :Depdikbud.

www.dipt.Ib.or.id

http://pendekarperempuan.blogspot.com

http://renny12395.blogspot.com

[11]