Anda di halaman 1dari 10

Latar belakang timbulnya RENAISSANCE jika dilihat dari beberapa

aspek adalah kondisi sosial, budaya, politik, dan ekonomi Abad Pertengahan.
Kondisi sosial
Saat itu kehidupan masyarakat Eropa sangat terikat pada doktrin gereja.
Segala kegiatan kehidupan ditujukan untuk akhirat.
Masyarakat kehilangan kebebasan untuk menentukan pribadinya, dan
kehilangan harga dirinya.
Kehidupan manusia tidak tenteram karena senantiasa diintip oleh intelijen
gereja, sehingga menimbulkan sikap saling mencurigai dalam masyarakat.

Kondisi budaya
Terjadi pembatasan kebebasan seni dalam arti bahwa seni hanya tentang tokoh-
tokoh Injil dan kehebatan gereja.
Semua kreasi seni ditujukan kepada kehidupan akhirat sehingga budaya tidak
berkembang.
Demikian pula dalam bidang ilmu pengetahuan karena segala kebenaran hanya
kebenaran gereja.
Kondisi politik

Raja yang secara teoritis merupakan pusat kekuasaan politik dalam negara,
kenyataannya hanya menjadi juru damai.
Kekuasaan politik ada pada kelompok bangsawan dan kelompok gereja.
Keduanya memiliki pasukan militer yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk
melancarkan ambisinya. Adakalanya kekuatan militer kaum bangsawan dan
kaum gereja lebih kuat dari kekuatan militer milik raja.

Kondisi ekonomi
Berlaku sistem ekonomi tertutup, yang menguasai perekonomian hanya
golongan penguasa.
Perubahan-perubahan yang terjadi akibat upaya untuk keluar dari kondisi Abad
Pertengahan menjadi latar belakang langsung munculnya Renaissance, sebagai berikut:
Kehidupan sosial masyarakat Eropa yang tidak lagi mau terbelenggu oleh
ikatan gereja. Mereka memalingkan diri dari kehidupan akhirat kepada
keduniaan sehingga pengaruh gereja merosot. Kehidupan materialistis
semakin berkembang mendesak kehidupan keagamaan.

Masyarakat berlomba-lomba memasuki kawasan kota dagang dan kota industri,


menjadi buruh dengan tujuan berusaha merubah kehidupan ekonomi ke arah
yang lebih baik. Petani-petani yang pada Abad Pertengahan setia mengerjakan
tanah para bangswan feodal, kini hilang berganti dengan golongan masyarakat
baru yang disebut buruh pabrik.

Seiring dengan laju urbanisasi, berubah pula fungsi kota dari fungsi politis
menjadi juga pusat perdagangan dan industri.

Munculnya kaum borjuis sebagai kelompok baru yang kaya dan mampu
menyaingi kaum bangsawan. Kelompok borjuis yang menguasai perdagangan
tidak suka pada kelompok bangsawan dan gereja, sehingga hanya mau
membayar pajak kepada raja. Akhirnya raja kembali memegang kekuasaan
politik tertinggi yang ditaati perintahnya oleh seluruh lapisan masyarakat.

Naskah-naskah ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi Kuno dijumpai kembali


oleh masyarakat Barat, dibawa oleh ilmuwan yang lari dari Konstantinopel ke
Italia setelah Konstantinopel jatuh ke tangan Turki.

Timbulnya kota-kota dagang yang makmur akibat perdagangan mengubah


perasaanpesimistis (zaman Abad Pertengahan) menjadi optimistis. Hal ini juga
menyebabkan dihapuskannya sistem stratifikasi sosial masyarakat agraris yang
feodalistik. Maka kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan feodal menjadi
masyarakat yang bebas. Termasuk kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan
agama sehingga menemukan dirinya sendiri dan menjadi fokus pada kemajuan
diri sendiri. Antroposentrisme menjadi pandangan hidup
dengan humanisme menjadi pegangan sehari-hari. Selain itu adanya dukungan
dari keluarga saudagar kaya semakin menggelorakan
semangat Renaissancesehingga menyebar ke seluruh Italia dan Eropa.
Pada masa renaissance ini juga berkembang bentuk pemikiran manusia yang baru,
yang sama sekali terlepas dengan gereja. Diantara pemahaman itu adalah humanisme,
rasionalisme, empirisme, dan materialisme.

1. Humanisme
Zaman renaissance ini sering juga di sebut sebagai zaman humanisme. Maksud
ungkapan ini adalah manusia diangkat dari abad pertengahan.
Pada abad pertengahan itu manusia di anggap kurang di
hargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan
ukuran dari gereja (kristen), bukan menurut ukuran yang
dibuat oleh manusia. Humanisme menghendaki ukuran
haruslah dari manusia. Karena manusia mempunyai
kemampuan berfikir, maka humanisme menganggap
manusia mampu mengatur dirinya dan dunia,

2. Rasionalisme
Rasionalisme adalah faham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah
alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.
Jika empirisme mengatakan bahwa pengetahuan di peroleh dengan alam
mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan
diperoleh dengan cara berfikir. Alat dalam berfikir itu adalah kaidah kaidah logis
atau kaidah kaidah logika.
Rasonalisme ada dua macam, dalam bidang agama dan filsafat. Dalam bidang
agama rasionalisme adalah lawan autoritas, dalam bidang filsafat rasionalisme
adalah lawan empirisme

Rasionalisme dalam bidang agama adalah kemampuannya untuk mengkritik
ajaran agama, rasionalisme dalam bidang filsafat terutama berguna sebagai teori
pengetahuan. Sebagai lawan empirisme, rasionalisme berpendapat bahwa
sebagian dan bagian penting pengetahuan datang atau bersumber dari
penemuan akal.

3. Empirisme
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman
dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan
peranan akal, istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang
berarti coba-coba atau pengalaman.
Empirisme sebagaai lawan rasionalisme berpendapat bahwa pengetaahuan
diperoleh dari pengalaman dengaan cara observasi/penginderaan baik
pengalamaan lahiriyah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniyah
yang menyangkut pribadi manusia. Pengalaman merupakan faktor fundamental,
dan ia merupakan sumber dari pengetahuan manusia.

4. Materialisme
Paham ini di pelopori oleh LAMETTRIE (1709-1751). Bagi dia manusia tak lain
dari mesin begitu pula halnya dengan binatang, sehingga tak ada bedanya antara
manusia dengan binatang. Ia mengingkari prinsip hidup pada umumnya. Ia
mencoba membuktikan, bahwa bahan (badan) tanpa jiwa mungkin hidup
(bergerak), sedangkan jiwa tanpa bahan (badan) tak mungkin ada, jantung katak
yang dikeluarkaan dari tubuh katak masih berdenyut beberapa detik (hidup kata
Lamettrie), sedangkan tak mungkin ada katak, jika tak ada badannya!
Demikianlah nyata benar, menurut Lamettrie bahwa prinsip hidup itu tak ada
dan tentu tak ada prinsip hidup yang rohani.
Dampak renaisance

Dampak positif :

Adanya perubahan dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan. Di mana terjadi
pembagian dalam ilmu pengetahuan seperti ilmu lain mulai lepas dari ilmu agama dan
falsafahnya, misalnya ilmu sosial : ilmu bumi, ilmu sejarah dll. Begitu juga dengan ilmu
eksak seperti ilmu alam.
Kebangunan kembali dari peradaban. Zaman ini membongkar hasil peradaban Yunani-
Romawi.
Renaissance telah membentuk masyarakat perdagangan yang berdaya maju. Keadaan
ini telah melemahkan kedudukan dan kekuasaan golongan gereja yang senantiasa
berusaha menyekat perkembangan ilmu dan masyarakat di Eropa.
Tumbuhnya kebebasan, kemerdekaan, dan kemandirian individu.
Renaissance telah melahirkan tokoh-tokoh perubahan di Eropa. Antara lain tokoh
perubahan terkenal itu adalah William Harvey yang telah memberi sumbangan dalam
kajian peredaran darah. Renaissance telah melahirkan masyarakat yang lebih progresif
dan wujud semangat mandiri sehingga membawa kepada aktivitis penjelajahan dan
kemajuan
Mendorong pencarian daerah baru sehingga berkobarlah era penjelajahan samudera.

Dampak negatif :

Eropa pada priode ini bener-bener mendapat ancaman dari orang-orang arab. Pada
khalifah Umamyah telah meluaskan wilayah taklukannya hingga daerah-daerah seputar
pintu-pintu gerbang konstantinopel walaupun pada akhirnya pengepungan yang di
lakukan Arab gagal total.
Munculnya suatu isu yang di sebut Kontroversi Ikonoklastik yang berisi bahwa
apakah imaji-imaji tentang Tuhan,Kristus, dan sang perawan Maria serta orang-orang
suci baik dalam bentuk gambar maupun patung boleh dipergunakan di dalam misa atau
tidak.kontroversi ini mengundang persoalan lama yaitu tentang kebebasan agama yang
terpisah dan bebas dari organisasi politik.
Pada masa ini selain terjadi kebangunan kembali juga terjadi kebobrokan moral. Hal
ini dikarenakan tidak adanya suatu norma yang bisa mengatur kehidupan masyarakat.
Sehingga bisa dikatakan bahwa manusia renaissance merupakan manusia yang tidak
mempunyai pegangan (liar). Keliaran ini mengakibatkan terjadinya pelanggaran terhadap
norma sehingga manusia mengalami krisis aklak seperti mabuk-mabukan dll. Hal ini
tidak hanya terjadi di kalangan borjuis tetapi juga dikalangan pendeta.
REFORMASI GEREJA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Banyaknya penyimpangan keagamaan diantaranya yaitu dilakukannya penyogokan
oleh pemuka agama kepada petinggi gereja agar mereka memperoleh kedudukan sosial
keagamaaan yang tinggi, paus sebagai bapak suci berperilaku amoral yang menyangkut
hubungannya dengan wanita seperti Alexander VI yang memiliki 8 anak haram dari
hasil hubungannya dengan wanita simapannya, penjualan surat-surat pengampunan
dosa (indulgencies).
Adanya penyimpangan terhadap acara sakramen suci atau ritus pemujaaan
terhadap benda-benda keramat atau tokoh-tokoh suci yang nantinya akan
menimbulkan takhayul dan mitologisasi yang tidak masuk akal, seperti para pastor yang
semata-mata merupakan manusia yang memiliki sifat yang sama dengan yang lainnya
menganggap dirinya keramat, korupsi atas nama negara, pajak-pajak yang
memberatkan karena ambisi kekuasaan kaum bangsawan lokal, kebangkitan
nasionalisme di Eropa, perkembangan kapitalisme dan krisis-krisis ekonomi dikawasan
imperium Roma.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas penulis ingin memunculkan beberapa permasalahan
antara lain:
1. Apa pengertian reformasi gereja?
2. Siapa saja tokoh-tokoh dalam reformasi gereja?
3. Bagaimana proses terjadinya reformasi gereja?
4. Apa saja dampak yang terjadi setelah reformasi gereja ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Reformasi Gereja


Sehingga reformasi gereja merupakan sebuah upaya perbaikan tatanan
kehidupanyang didominasi oleh otokrasi gereja yang menyimpang. Reformasi gereja
adalah sebuahupaya perbaikan dan kembali pada ajaran gereja yang lurus, gerakan
reformasi berupasikap kritis terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan
oleh pihak GerejaKatoliik pada waktu itu terutama adanya penjualan surat
pengampunan dosa
B. Tokoh Dalam Reformasi Geraja
1. Martin Luther (1483-1546)
Luther lahir pada tanggal 10 November 1483 di Eisleben, Jerman. Seorang tokoh
yang paling berpengaruh dalam gereja bahkan di kalangan Protestan setelah era
Reformasi di mana Luther merupakan salah satu tokoh utamanya. Luther membawa
pembaharuan besar di Jerman. Dalam persembunyian dia menerjemahkan Kitab Suci
Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman.
Luther membawa pembaharuan besar di Jerman pada masa itu. Dalam
persembunyian dia menerjemahkan Kitab Suci Perjanjian Baru ke dalam bahasa
Jerman. Ini sangat penting sebagai sebuah pintu bagi perubahan dan kemerdekaan
berpikir. Selama 1500-an tahun, yang berhak membaca Kitab Suci hanya segelintir
orang dan yang berhak menafsirkannya hanya para petinggi gereja seperti Paus di
Roma. Penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman juga membawa pembaharuan
tidak hanya dalam kehidupan beragama tetapi juga dalam bidang non-agamis seperti
seni dan budaya.
2. Erasmus Desiderius Roterodamus
Adalah seorang humanis yang terkemuka dan merupakan perintis Reformasi.
Karyanya edisi perjanjian Baru diterbitkan pada tahun 1516 dalam Bahasa Yunani
mendorong reformasi Luther. Erasmus dilahirkan 27 oktober 1466. Ia tinggal dalam
biara Augustinus selama 5 tahun (1486-1491). Pada waktu selama itu ia menulis
sejumlah puisi dan karangan prosa dan lain. Dalam tulisannya sudah tampak kritiknya
pada kekuasaan gereja.
Erasmus adalah seorang tokoh yang berjasa bagi gerakan reformasi gereja yang
dipimpin oleh Luther. Luther menggunakan edisi baru bahasa Yunani yang dikeluarkan
oleh Erasamus. Erasamus juga mengeritik keburukan-keburukan yang ada di gereja dan
menasahati paus supaya mengambil tindakan-tindakan pembaharuan gereja. Hingga
tahun 1524 Erasamus bersimpati pada reformasi Luther.
3. Zwingli
Huldrych (atau Ulrich) Zwingli lahir di Swiss, 1 Januari 1484 adalah pemimpin
Reformasi Swiss, dan pendiri Gereja Reformasi Swiss. Reformasi Zwingli didukung oleh
pemerintah dan penduduk Zrich, dan menyebabkan perubahan-perubahan penting
dalam kehidupan masyarakat, dan urusan-urusan negara di Zrich. Gerakan ini,
khususnya, dikenal karena tanpa mengenal kasihan menganiaya kaum Anabaptis dan
para pengikut Kristus lainnya yang mengambil sikap tidak melawan. Reformasi
menyebar dari Zrich ke lima kanton Swiss lainnya, sementara yang lima lainnya
berpegang kuat pada pandangan iman Gereja Katolik. Zwingli terbunuh di Kappel am
Albis, dalam sebuah pertempuran melawan kanton-kanton Katolik.
4. John Calvin (1509-1564)
Yohanes Calvin atau John Calvin lahir di Noyon, Kerajaan Perancis, 10 Juli 1509
Swiss. Ia adalah teolog Kristen terkemuka pada masa Reformasi Protestan yang berasal
dari Perancis. Seorang pemimpin Reformasi Gerakan Gereja di Swiss. Merupakan
generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin reformasi gereja abad ke-16
peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang
mengikuti ajaran tata gereja yang digariskan Calvin tersebar. Dikenal dengan gereja
Calvinisme. Sebagai pelopor Reformasi Gereja, ia menyebarkan gagasan-gagasannya
tentang bagaimana Gereja Reformasi yang benar itu ke banyak bagian Eropa.
Calvinisme menjadi sistem teologi dari mayoritas Gereja Kristen di Skotlandia, Belanda,
dan bagian-bagian tertentu dari Jerman dan berpengaruh di Perancis, Hongaria
khususnya di Transilvania dan Polandia.
5. John Knox
Lahir sekitar tahun 1513 di Haddington. Ia belajar di Universitas St. Andrews lalu
ditahbiskan menjadi imam Katolik tahun 1536 dan menjadi seorang notaris kepausan
tahun 1540. Ia adalah salah seorang tokoh yang memengaruhi gerakan reformasi di
Skotlandia. Ia merupakan salah satu murid Calvin di Jenewa, sehingga pengaruh teologi
Calvinis sangat kental dalam dirinya. Menurut Knox, kekristenan dan kemerdekaan
nasional harus dapat ditemukan bersama, karena keduanya merupakan suatu
pergumulan yang dapat diselesaikan bersama.
6. John Wycliff
John Wycliffe lahir 1324 adalah seorang pengajar di Universitas Oxford, Inggris,
yang dikenal sebagai filsuf, teolog, pengkhotbah, penterjemah dan tokoh reformasi
Kristen di Inggris. Ia dikenal melalui karyanya menerjemahkan Alkitab dari bahasa
Latin ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1382, yang dikenal sebagai "Alkitab Wycliffe".
Karya inilah yang mempengaruhi terjemahan-terjemahan Alkitab kemudian. Pada
tahun 1371 doktrin-doktrin Wycliffe mengenai kekayaan gereja dianggap cocok bagi
pemerintah sekuler saat itu, sebab gereja sangat kaya dan memiliki kurang lebih
sepertiga dari seluruh tanah di Inggris. Namun demikian, gereja masih menuntut
kebebasan pajak dari pemerintah. Doktrin-doktrin Wycliffe dipakai untuk memaksa
para rohaniawan yang segan membayar, sehingga dengan begitu pemerintah dapat
membiayai perang yang mahal melawan Prancis.
C. Proses Terjadinya Reformasi Gereja
Awal terjadinya reformasi gereja ini muncul atau terjadi di Jerman. Banyak faktor
yang menyebabkan terjadinya reformasi gereja di Jerman yaitu, sekitar abad 15-16
Jerman masih merupakan negara agraris yang terbelakang dibandingkan negara-negara
Eropa lainnya, kuatnya pengaruh katolisme yang bersifat konservatif di Jerman,
banyaknya penjualan surat-surat pengampunan dosa di Jerman melebihi negara-negara
Eropa lainnya, sebagian besar rakyat Jerman yang berprofersi sebagai petani yang
merupakan kelompok sosial yang paling menderita akibat kekuasaan katolisme salh
satunya dengan adanya pajak-pajak yang sangat memberatkan rakyat.
Selain itu juga faktor yang paling mendasari terjadinya reformasi di Jerman adanya
fase transisi ekonomi di Jerman dimana pada waktu itu terjadi proses perubahan dari
masyarakat feodal menuju masyarakat ekonomi profit atau menuju masyarakat
kapitalis. Dari sinilah muncul satu tokoh yaitu Marthin Luther yang dari pemikiran-
pemikirannya itu kemudian terlahir sebuah reformasi gereja yang nantnya tidak hanya
berkembang di Jerman melainkan meluas ke wilayah-wilayah Eropa lainnya.
Adapun pemikiran-pemikiran dari Marthin Luther dalam melakukan protes
terhadap kekuasaan Gereja Khatolik Roma yaitu:
o Penolakan Luther terhadap surat-surat pengampunan doa yang dikeluarkan oleh Paus
karena menurutnya gereja atau pemuka agama tidak memiliki hak untuk memberikan
pengampunan dosa. Tuhan-lah yang memberikan pengampunan itu didasarkan kepada
kepercayaan dan amal sholeh individu selama hidup.
o Menurut Luther sakramen hanya digunakan untuk membantu keimanan tetapi bukan
sama sekali alat untuk mencapai rahmat Tuhan dan jalan keselamatan.
D. Dampak Reformasi Gereja
Dampak dari adanya Gerakan Reformasi Protestan dibawah Luther dan Calvin
adalah:
Pertama, dampak sosial dan politikterhadap Eropa dan negara-negara Barat pada
umumnya. Reformasi ini menimbulkan Western Christendom sehingga munculnya
negara-negara nasional kecil tanpa memiliki pusat kekuasaan atau gembala politik
seperti lembaga Kepausan Roma. Menumbuhkan benih-benih demokratisasi politik,
kesadaran individual akan pentingnya hak-hak politik, kebebasan individu. Sehingga
menjadi dasar timbulnya gerakan-gerakan demokratisasi yang dan anti kekuasaan
totaliter dan keberanian rakyat untuk selalu melakukan kontrol terhadap kekuasaan.
Tetapi dengan adanya gerakan reformasi Protestan ini juga lahirnya kekuasaan
absolut di Eropa. Banyaknya pertikaian antara Calvinisme dengan katolik, peperangan
saudara dan penghancuran karya-karya seni, patung, lukisan yang berbau katolisisme.
Reformasi juga haris bertanggung jawab atas terjadinya pembantaian massal dalam
peristiwa berdarah pada malam St. Bartholomeus. Di Belanda pun terjadi
pemberontakan petani yang menolak membayar pajak dan akhirnya oleh pangeran
Philip mereka semua dibantai. Dan pengikut Protestan dianggap pengkhianat dan
selama enam tahun terjadi teror dan pembunuhan terhadap kaum protestan.
Kedua, Reformasi juga mengakibatkan terbelahnya agama Kristen menjadi sekte-
sekte kecil; Lutherisme, Calvinisme, Anglicanisme, Quakerisme, Katholikisme.
Meskipun ditunjau dari segi doktrin-doktrin fundamentalnya sekte-sekte itu tidak
memiliki prinsip yang berbeda, tetapi timbulnya hal tersebut menyebabkan keretakan
serius dalam agama kristen. Akibat adanya sekte-sekte ini, Eropa terbelah secara
keagamaan; Jerman Utara dan negara-negara Skandinavia (Swedia dan Norwegia),
menganut Lutheranisme; Skotlandia, Belanda, Switzerland dan Prancis menganut
Calvinisme dan negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol dan Italia menganut
katolisisme (Ortodoks).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Reformasi gereja bukan merupakan hal yang baru lagi dalam lingkungan Kristiani
terlebih ddalam kalangan Kristen Protestan. Bila berbicara tentang reformasi maka
tidak akan terlepas dari pengaruh Renaisanns (abad pencerahan) dan humanisme yang
terjadi di Eropa. Keduanya memberi aspirasi baru bagi kehidupan manusia hingga saat
sekarang.
Renaisanns yang terjadi pada akhir abad 14-17 dan puncaknya pada tahun 1500
telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Manusia mulai melihat
kembali siapakah dia yang sebenarnya, sehingga manusia mulai keluar dari
kehidupannya yang sebelumnya. Pada masa ini juga mulai muncul bahasa Jerman
(bahasa nasional). Ada beberapa penyebab berkembangnya Renaissans ini, yaitu :
1. Asimilasi pengetahuan dan kebudayaan Yunani dan Arab
2. Struktur sosial dan politik Italia bukan sebagai suatu kesatuan politik lagi melainkan
negara-negara kecil dan wilayah yang memiliki kebebasan politik, dan Kematian hitam,
dimana orang mulai tidak percaya pada agama sehingga ilmu pengetahuan mulai
dikembangkan di Eropa.
3. Reinassans mempengaruhi reformasi karena pada zaman renaissans mulai muncul
percetakan-percetakan yang membantu para reformator.