Anda di halaman 1dari 105

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL

PENGENDALIAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN HUTAN LINDUNG


NOMOR P.8/PDASHL/SET/KUM.1/11/2016
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN KEGIATAN
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DIREKTUR JENDERAL
PENGENDALIAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN HUTAN LINDUNG,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Bina


Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan
Perhutanan Sosial Nomor P.1/V-SET/2013 telah
diatur petunjuk dan ketentuan teknis dalam
pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
(RHL);
b. bahwa untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan
keberhasilan pelaksanaan kegiatan rehablitasi hutan
dan lahan, berdasarkan hasil evaluasi perlu
menerbitkan ketentuan pelaksanaan kegiatan
rehabilitasi hutan dan lahan yang baru;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu
menetapkan Peraturan Direktur Jenderal
Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan
Lindung Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan;
-2-

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang


Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-undang Nomor 19 tahun 2004 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4412);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059);
3. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2014 tentang
Konservasi Tanah dan Air (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 299, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5609);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 tentang
Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 201,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4947);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 tentang
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 62, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5259);
6. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.9/Menhut-
II/2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan, Kegiatan
Pendukung dan Pemberian Insentif Kegiatan
Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 173) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
dan Kehutanan Nomor P.39/Menlhk/Setjen/
Kum.1/4/2016 (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2016 Nomor 580);
-3-

7. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan


Nomor P.18/MenLHK-II/2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 713);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENGENDALIAN
DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN HUTAN LINDUNG
TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN KEGIATAN
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN.

Pasal 1
Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi Hutan
dan Lahan sebagaimana tercantum dalam Lampiran
Peraturan Direktur Jenderal ini.

Pasal 2
Petunjuk Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi
hutan dan lahan.

Pasal 3
Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan yang telah
dilaksanakan sebelum diberlakukannya Peraturan Direktur
Jenderal ini, dinyatakan tetap berlaku dan untuk
pelaksanaan selanjutnya harus disesuaikan dengan
Peraturan Direktur Jenderal ini.

Pasal 4
Pada saat Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku,
Peraturan Direktur Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai dan Perhutanan Sosial Nomor P.1/V-SET/2013
tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan Rehabilitasi
Hutan dan Lahan, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
-4-

Pasal 5
Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 30 November 2016

DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

Dr. Ir. HILMAN NUGROHO, M.P.


NIP. 195906151986031004

Salinan Peraturan ini disampaikan kepada Yth.:


1. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia;
2. Pejabat Eselon I Lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan;
3. Pejabat Eselon II Lingkup Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah
Aliran Sungai dan Hutan Lindung;
4. Gubernur seluruh Indonesia;
5. Kepala Dinas Provinsi yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang
kehutanan di seluruh Indonesia;
6. Kepala Unit Pelaksana Teknis Lingkup Direktorat Jenderal Pengendalian
Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung di seluruh Indonesia.

Salinan sesuai dengan aslinya


KEPALA BAGIAN HUKUM DAN
KERJASAMA TEKNIK,

DUDI ISKANDAR
-5-

LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENGENDALIAN
DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN HUTAN LINDUNG
NOMOR P. 8/PDASHL/SET/KUM.1/11/2016
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN KEGIATAN
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kerusakan fungsi hutan dan lahan yang diidentifikasi sebagai lahan kritis di
Indonesia berdasarkan Penetapan Peta dan Data Hutan dan Lahan Kritis
Tahun 2013 yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Bina
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial Nomor SK.4/V-
DAS/2015 seluas 70.181.762 Ha yang terdiri dari 24.303.294 Ha kategori
Sangat Kritis sampai dengan Kritis dan 45.878.468 Ha kategori Agak Kritis.
Kerusakan hutan dan lahan sudah tersebar di semua fungsi kawasan
sehingga menjadi ancaman yang cukup serius bagi daya dukung DAS baik
fungsinya sebagai penyangga kehidupan maupun peran hidroorologis DAS.
Indikator adanya degradasi fungsi DAS ditunjukkan dengan meningkatnya
bencana alam banjir, longsor dan kekeringan yang melanda di sebagian besar
wilayah Indonesia pada dekade ini.
Dalam upaya mengendalikan laju kerusakan hutan dan lahan tersebut
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008
tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan yang mengatur penyelenggaraan
rehabilitasi serta reklamasi hutan pada semua fungsi hutan serta areal
penggunaan lain, pembagian kewenangan dan kewajiban bagi pemerintah,
pemerintah daerah serta pemegang ijin kawasan untuk melakukan
penyelenggaraan RHL yang mencakup perencanaan, pelaksanaan maupun
pengendalian. Kewajiban melakukan RHL pada lahan kritis di semua fungsi
kawasan mengharuskan pemerintah, pemerintah daerah serta pemegang ijin
kawasan mengalokasikan kegiatan RHL dari berbagai sumber anggaran
dengan berpedoman pada ketentuan PP Nomor 76 Tahun 2008 ini.
Petunjuk Teknis kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan ini merupakan
penjabaran yang lebih teknis dan detil dari Peraturan Menteri Kehutanan
-6-

Nomor P.9/Menhut-II/2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan, Kegiatan


Pendukung dan Pemberian Insentif Kegiatan RHL sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri LHK Nomor P.39/Menlhk/Setjen/Kum.1/4/2016
sebagai petunjuk teknis bagi para penyelenggara kegiatan RHL di daerah.
B. Maksud dan Tujuan
Petunjuk Teknis Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan ini dimaksudkan
untuk memberikan arahan teknis kepada semua pihak dalam
menyelenggarakan kegiatan RHL sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan
baik.
Tujuannya adalah pulihnya daya dukung DAS dan meningkatnya
kesejahteraan masyarakat.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup peraturan ini meliputi :
1. penyusunan rancangan kegiatan;
2. penyediaan bibit;
3. reboisasi;
4. penghijauan;
5. rehabilitasi hutan dan lahan daerah pesisir/pantai;
6. rehabilitasi hutan dan lahan kawasan bergambut;
7. konservasi tanah dan air;
8. tatacara evaluasi RHL; dan
9. penghapusan tanaman gagal/rusak.
D. Pengertian
1. Areal Produksi Benih yang selanjutnya disingkat APB adalah sumber
benih yang dibangun khusus atau berasal dari tegakan benih terseleksi
(TBS) yang kemudian ditingkatkan kualitasnya dengan penebangan
pohon-pohon yang fenotipenya tidak bagus (inferior).
2. Air Tanah adalah air yang terdapat di bawah permukaan tanah pada
lapisan batuan yang jenuh air, yang disebut sebagai akuifer.
3. Bangunan pengendali jurang (gully plug) adalah bendungan kecil yang
lolos air yang dibuat pada parit-parit, melintang alur parit dengan
konstruksi batu, kayu atau bambu.
4. Banjir adalah peristiwa meluapnya air sungai melebihi palung sungai.
5. Bangunan terjunan air adalah bangunan terjunan yang dibuat pada tiap
jarak tertentu pada saluran pembuangan air (tergantung kemiringan
lahan) yang dibuat dari batu, kayu atau bambu.
-7-

6. Bibit adalah bahan tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk


memperbanyak dan atau mengembangkan tanaman yang berasal dari
bahan generatif atau bahan vegetatif.
7. Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disingkat DAS adalah suatu
wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan
anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan
mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut
secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan
batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh
aktivitas daratan.
8. Daerah Imbuhan Air Tanah adalah suatu wilayah peresapan yang
mampu menambah air tanah secara alamiah pada suatu cekungan air
tanah.
9. Dam penahan adalah bendungan kecil yang lolos air dengan konstruksi
bronjong batu atau trucuk bambu/kayu yang dibuat pada alur sungai/
jurang dengan tinggi maksimal 4 meter yang berfungsi untuk
mengendalikan/mengendapkan sedimentasi/erosi tanah dan aliran
permukaan (run-off).
10. Dam pengendali adalah bendungan kecil semi permanen yang dapat
menampung air (tidak lolos air) dengan konstruksi urugan tanah
homogen, lapisan kedap air dari beton (tipe busur) untuk mengendalikan
erosi tanah, sedimentasi dan aliran permukaan yang dibangun pada alur
sungai/anak sungai dengan tinggi bendungan maksimal 8 (delapan)
meter.
11. Danau adalah wadah air dan ekosistemnya yang terbentuk secara
alamiah termasuk situ dan wadah air sejenis dengan sebutan istilah
lokal.
12. Embung air adalah bangunan penampung air berbentuk kolam yang
berfungsi untuk menampung air hujan/air limpasan atau air rembesan
pada lahan tadah hujan yang berguna sebagai sumber air untuk
memenuhi kebutuhan pada musim kemarau.
13. Endemik adalah jenis tanaman asli yang tumbuh/pernah tumbuh pada
suatu daerah.
14. Gambut adalah material yang terbentuk dari bahan-bahan organik
(serasah), seperti dedaunan, batang dan cabang serta akar tumbuhan
yang terakumulasi dalam kondisi lingkungan yang tergenang air, sedikit
oksigen dan keasaman tinggi serta terbentuk di suatu lokasi dalam
-8-

jangka waktu yang lama.


15. Garis sempadan adalah garis maya di kiri dan kanan palung sungai yang
ditetapkan sebagai batas perlindungan sungai.
16. Hutan kota adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-
pohonan yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada
tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota
oleh pejabat yang berwenang.
17. Hutan mangrove adalah suatu formasi pohon-pohon yang tumbuh pada
tanah aluvial di daerah pantai dan sekitar muara sungai yang
dipengaruhi pasang surut air laut dan dicirikan oleh keberadaan jenis-
jenis Avicennia spp (Api-api), Soneratia spp. (Pedada), Rhizophora spp
(Bakau), Bruguiera spp (Tanjang), Lumnitzera excoecaria (Tarumtum),
Xylocarpus spp (Nyirih), Anisoptera dan Nypa fruticans (Nipah).
18. Hutan pantai adalah suatu formasi pohon-pohon yang tumbuh di tepi
pantai dan berada diatas garis pasang tertinggi, antara lain : Casuarina
equisetifolia (Cemara laut), Terminalia catappa (Ketapang), Hibiscus
filiaccus (Waru), Cocos nucifera (Kelapa) dan Arthocarpus altilis
(Cempedak).
19. Hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani
hak milik maupun hak lainnya di luar kawasan hutan dengan ketentuan
luas minimal 0,25 ha, penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan
tanaman lainnya lebih dari 50 %.
20. Jenis kayu-kayuan adalah jenis-jenis tanaman hutan yang menghasilkan
kayu untuk konstruksi bangunan, meubel dan peralatan rumah tangga.
21. Daerah sekitar mata air adalah kawasan sekeliling mata air yang
mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi
tata air.
22. Konservasi tanah adalah upaya penempatan setiap bidang tanah pada
penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan
memperlakukannya sesuai dengan syarat- syarat yang diperlukan agar
tidak terjadi kerusakan tanah sehingga dapat mendukung kehidupan
secara lestari.
23. Konservasi tanah dan air adalah upaya perlindungan, pemulihan,
peningkatan dan pemeliharaan Fungsi Tanah pada Lahan sesuai dengan
kemampuan dan peruntukan Lahan untuk medukung pembangunan
yang berkelanjutan dan kehidupan yang lestari.
-9-

24. Lahan kritis adalah lahan yang berada di dalam dan di luar kawasan
hutan yang telah menurun fungsinya sebagai unsur produksi dan media
pengatur tata air DAS.
25. Land Mapping Unit (LMU) Terpilih adalah satuan lahan terkecil pada RTk
RHL DAS yang mempunyai kesamaan kondisi biofisik (kekritisan lahan,
fungsi kawasan, morfologi DAS serta prioritas DAS) dengan klas erosi
Agak Kritis, Kritis dan Sangat Kritis serta Agak Kritis.
26. Lubang resapan biopori adalah lubang yang dibuat di dalam tanah agar
terjadi berbagai aktivitas organisme di dalamnya, seperti cacing,
perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya.
27. Mata Air adalah tempat pemunculan air tanah pada lapisan akuifer di
bawah permukaan tanah ke permukaan tanah secara alamiah.
Selanjutnya, air yang keluar dari mata air akan mengalir di permukaan
tanah sebagai air permukaan melalui alur-alur sungai.
28. Normal Density Value Index yang selanjutnya disingkat NDVI yaitu suatu
nilai hasil pengolahan indeks vegetasi dari citra satelit kanal inframerah
dan kanal merah yang menunjukkan tingkat kerapatan vegetasi setiap
piksel secara relatif.
29. Pemeliharaan tanaman adalah perlakuan terhadap tanaman dan
lingkungannya agar tanaman tumbuh sehat dan normal melalui
pendangiran, penyiangan, penyulaman, pemupukan dan pemberantasan
hama dan penyakit.
30. Penghijauan adalah upaya pemulihan lahan kritis di luar kawasan hutan
untuk mengembalikan fungsi lahan.
31. Penghijauan lingkungan adalah penanaman pohon di luar kawasan
hutan untuk meningkatkan kualitas lingkungan seperti pada areal
fasilitas sosial/umum, ruang terbuka hijau, jalur hijau, pemukiman,
taman dll.
32. Perlindungan kanan kiri/tebing sungai adalah teknik konservasi tanah
secara vegetatif dan/atau sipil teknis untuk melindungi kanan
kiri/tebing sungai.
33. Propagul adalah bentuk lain dari benih atau buah yang pada tahap
perkembangannya sudah terbentuk bakal batang tanaman selagi
buah/benih tersebut masih terdapat pada pohon induknya.
34. Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang selanjutnya disingkat RHL adalah
upaya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi
- 10 -

hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya


dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.
35. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Prioritas I adalah lahan kritis
sasaran rehabilitasi hutan dan lahan kategori Kritis dan Sangat Kritis.
36. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Prioritas II adalah lahan kritis
sasaran rehabilitasi hutan dan lahan kategori Agak Kritis.
37. Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai
yang selanjutnya disingkat RTk-RHL DAS adalah rencana RHL 15 (lima
belas) tahunan yang memuat rencana pemulihan hutan dan lahan,
pengendalian erosi dan sedimentasi, pengembangan sumberdaya air dan
pengembangan kelembagaan.
38. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) adalah
rencana RHL 5 (lima) tahunan yang disusun berdasarkan RTk-RHL DAS
memuat kebijakan dan strategi, lokasi, jenis kegiatan, kelembagaan,
pembiayaan dan tata waktu.
39. Rencana Tahunan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RTn-RHL) adalah
rencana tahunan RHL yang disusun berdasarkan RP-RHL pada T-1.
40. Rancangan Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RK-RHL) adalah
rancangan teknis kegiatan RHL yang memuat jenis kegiatan tertentu,
detil lokasi, volume, kebutuhan biaya, tata waktu, peta situasi, gambar
desain kegiatan RHL, yang dilengkapi dengan kegiatan pendukung.
41. Rorak adalah saluran buntu yang berfungsi sebagai tampungan
sementara air dari aliran permukaan untuk diresapkan ke dalam tanah.
42. Saluran Pembuangan Air (SPA) adalah saluran air yang dibuat memotong
kontur dapat diperkuat dengan bangunan terjunan air dan/atau gebalan
rumput.
43. Sempadan danau adalah luasan lahan yang mengelilingi dan berjarak
tertentu dari tepi badan danau yang berfungsi sebagai kawasan
pelindung danau.
44. Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya
proposional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter
dari titik pasang tertinggi ke arah daratan.
45. Strip rumput (grass barrier) adalah cara penanaman tanaman pokok di
antara strip rumput secara berselang seling yang dilakukan pada bidang
yang memotong lereng.
- 11 -

46. Sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa
jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai
muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan.
47. Tanaman serbaguna (multi purpose tree species/MPTS) adalah jenis
tanaman yang menghasilkan kayu dan bukan kayu antara lain buah-
buahan, getah, kulit.
48. Tanaman unggulan lokal yang selanjutnya disingkat TUL adalah jenis-
jenis tanaman asli atau eksotik yang disukai masyarakat karena
mempunyai keunggulan tertentu berupa produk kayu, buah dan getah
yang produknya mempunyai nilai ekonomi tinggi.
49. Tegakan awal adalah tegakan berupa anakan, pancang, tiang dan pohon
sebelum dilaksanakan penanaman atau pengayaan tanaman.
50. Teras adalah bangunan konservasi tanah berupa bidang olah, guludan
dan saluran air searah dengan kontur lapangan.
51. Unit Terkecil Pengelolaan (UTP) RHL, adalah LMU Terpilih yang berada
dalam suatu DAS/catchment kecil (micro watershed) seluas 300 s/d 1000
hektar yang dibatasi oleh batas alam berupa punggung-punggung bukit.
Satu UTP RHL dapat berada dalam kawasan hutan atau di luar kawasan
hutan, atau campuran keduanya.
52. Menteri adalah Menteri yang membidangi urusan Lingkungan Hidup dan
Kehutanan.
53. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang bertanggung jawab
dibidang Pengendalian DAS dan Hutan Lindung.
54. Dinas Provinsi adalah Dinas yang diserahi tugas dan tanggung jawab di
bidang kehutanan di daerah Provinsi.
- 12 -

BAB II
PENYUSUNAN RANCANGAN KEGIATAN
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

Hirarki perencanaan RHL meliputi RTk-RHL DAS, RP-RHL dan RTn-RHL


mengikuti ketentuan yang berlaku. Disamping perencanaan tersebut,
pelaksanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan diperlukan rancangan kegiatan RHL
(RK-RHL), yang merupakan desain teknis kegiatan RHL yang memuat informasi
detil jenis dan lokasi kegiatan, peta, rincian kebutuhan bahan dan upah, gambar
pola tanam dan/atau konstruksi. Rancangan kegiatan RHL terdiri dari kegiatan
vegetatif (tanam-menanam) dan sipil teknik.
A. Komponen RK-RHL, terdiri dari:
1. Informasi lokasi kegiatan
a. Kampung/Blok, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, DAS, Wilayah
BPDAS.
b. Identitas UTP RHL mengacu kepada RPRHL utamanya untuk kegiatan
yang luasnya lebih dari 100 ha.
c. Khusus untuk kegiatan tanam menanam (vegetatif) di luar kawasan
hutan seperti hutan rakyat dan kegiatan pemberdayaan masyarakat
seperti penanaman bibit KBR atau kegiatan lain sejenis harus
dilengkapi dengan identitas kelompok tani/masyarakat pelaksana
kegiatan RHL (nama dan alamat kelompok tani penerima kegiatan).
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk meningkatkan
kemampuan dan kemandirian masyarakat melalui pemberian akses
terhadap sumberdaya, pendidikan, pelatihan dan pendampingan.
2. Peta Situasi dan Peta Lokasi
a. Peta situasi dengan skala 1:25.000 atau 1:50.000 adalah peta yang
menunjukkan posisi lokasi kegiatan RHL terhadap wilayah administrasi
sekitarnya.
b. Peta lokasi kegiatan vegetatif adalah peta poligon tertutup lokasi
tanaman yang diukur menggunakan GPS atau theodolite atau alat-alat
pemetaan lain dengan skala 1:1000 s/d 1:5000, dapat menggunakan
peta dasar Google Map atau peta citra satelit lainnya agar kondisi aktual
lokasi RHL dapat disajikan dengan lebih jelas.
Pada kegiatan reboisasi, penyiapan areal penanaman melalui
pembagian blok/petak dituangkan dalam peta lokasi kegiatan.
- 13 -

Untuk kegiatan penanaman KBR dan lainnya dapat dilakukan


pemetaan sederhana yang dilengkapi informasi nama kampung/blok,
pemilik lahan, nama sungai, jalan dan lain sebagainya.
c. Peta lokasi kegiatan sipil teknis adalah peta yang menggambarkan letak
bangunan sipil teknis yang disajikan dalam peta/sket topografi skala
1:100 atau 1:1000.
d. Untuk kegiatan RHL dengan luas lebih dari 100 Ha, peta lokasi
kegiatan RHL diplot kedalam peta UTP RHL yang sudah ada dalam peta
RP RHL.
3. Gambar Pola Tanam
Pada rancangan kegiatan vegetatif dilengkapi gambar/sket pola tanam
berupa sebaran/letak jenis dan jarak tanam, termasuk untuk wanatani
(agroforestry) agar menggambarkan sebaran tanaman pokok dan tanaman
pengisi/sela/pinggir mencakup tanaman semusim/setahun dan tanaman
keras/tahunan.
4. Gambar Konstruksi
Untuk bangunan pendukung kegiatan penanaman (gubug kerja, papan
nama lokasi kegiatan) dan bangunan konservasi tanah berupa bangunan
sipil teknis agar dilengkapi gambar konstruksi yang jelas.
5. Rincian kebutuhan bahan dan upah
Analisis kebutuhan bahan dilakukan berdasarkan kondisi riil lapangan
dengan menggunakan jenis-jenis lokal, sedangkan kebutuhan tenaga kerja
dihitung sesuai standar setempat.
6. Lembar Pengesahan
Lembar pengesahan berisi tanda tangan penyusun, penilai dan pengesah
buku RK RHL.
B. Mekanisme Penyusunan RK-RHL
1. Pembentukan Tim Penyusun
Dibentuk oleh satuan kerja pelaksana RHL, jika diperlukan tim penyusun
dapat melibatkan unsur BPDASHL dan/atau konsultan/perguruan tinggi.
2. Penyiapan bahan
Bahan-bahan berupa peta-peta RTk-RHL DAS dan/atau RP-RHL, peta-peta
pendukung lainnya termasuk citra satelit atau google map (jika ada), tally
sheet, serta peralataan pemetaan di lapangan.
3. Identifikasi lokasi
Identifikasi lokasi RHL dilakukan dengan menggunakan Peta RTk-RHL
DAS dan/atau RP-RHL serta hasil orientasi lapangan.
- 14 -

4. Identifikasi tegakan awal


Identifikasi tegakan awal dalam rangka memperoleh data jumlah tegakan
per hektar untuk menentukan sasaran lokasi penanaman intensif dan
pengayaan tanaman menggunakan metode remote sensing dan/atau
terestris.
a. Metode remote sensing
Metode yang digunakan adalah metode digital klasifikasi citra satelit.
Penjabaran lebih lanjut mengenai Metode Remote Sensing diatur dalam
Manual Identifikasi Tegakan Awal Sasaran Lokasi RHL menggunakan
Metode Remote Sensing.
b. Terestris
Identifikasi tegakan awal menggunakan pedoman inventarisasi tegakan
yang berlaku.
Disamping itu, identifikasi tegakan awal untuk menentukan sasaran lokasi
penanaman intensif dan pengayaan tanaman dapat menggunakan Peta
Liputan Lahan Ditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan terbaru.
Kelas penutupan lahan Tanah Terbuka pada umumnya mempunyai
tegakan per hektar paling banyak 200 batang, sehingga dapat digunakan
sebagai lokasi penanaman intensif. Data tegakan per hektar pada kelas
penutupan lahan lainnya diperoleh melalui pendetailan.
5. Identifikasi lapangan dan pemetaan
Secara umum kegiatan RHL vegetatif maupun sipil teknis perlu dilakukan
identifikasi lapangan dan pemetaan. Identifikasi lapangan dilakukan
dengan mengumpulkan data biofisik dan sosial ekonomi, kelompok tani
pelaksana, ketersediaan bahan-bahan, dan data-data pendukung lainnya.
Pengumpulan data biofisik termasuk pendetilan terestris dalam rangka
memperoleh data jumlah tegakan per hektar sebagaimana butir B.4.b.
Sedangkan pemetaan lokasi dilakukan dengan menetapkan titik-titik
poligon terluar lokasi kegiatan penanaman dan menentukan letak
geografisnya.
Untuk kegiatan sipil teknis, identifikasi lapangan dan pemetaan untuk
menentukan letak dan mengukur bangunan konservasi tanah antara lain
dam pengendali, dam penahan, pengendali jurang (gully plug), embung air,
sumur resapan, biofori.
6. Pengolahan data
Data hasil identifikasi lapangan dan pemetaan lokasi diolah dan dianalisa
untuk menghitung kebutuhan bahan dan upah, menentukan pola tanam
- 15 -

serta membuat peta poligon tertutup termasuk gambar konstruksi untuk


bangunan pendukung kegiatan penanaman dan bangunan sipil teknis.
7. Penyusunan naskah buku rancangan
Naskah buku RK RHL berisi informasi lokasi kegiatan, peta lokasi dan peta
situasi, gambar pola tanam, gambar konstruksi, rincian kebutuhan bahan
dan upah dan lembar pengesahan yang disajikan dalam narasi, tabel
maupun gambar mengacu pada Manual Penyusunan Rancangan Kegiatan
RHL.
- 16 -

BAB III
PENYEDIAAN BIBIT

A. Kaidah Umum Pembibitan


1. Asal-Usul Bibit
Bibit berkualitas diperoleh dari benih berkualitas yang berasal sumber
benih bersertifikat yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. Sumber
benih yang bersertifikat memiliki klasifikasi sebagai berikut :
a. Tegakan benih teridentifikasi;
b. Tegakan benih terseleksi;
c. Areal produksi benih;
d. Tegakan benih provenan;
e. Kebun benih semai;
f. Kebun benih Klon;
g. Kebun pangkas.
2. Penyediaan Bibit
Penyediaan bibit untuk kegiatan RHL dapat dilakukan dengan berbagai
cara yaitu:
a. Pembuatan bibit melalui swakelola, Kebun Bibit Rakyat atau
Persemaian Permanen;
b. Pengadaan bibit melalui pengada dan/atau pengedar;
3. Kriteria dan Standar serta Sertifikasi Mutu Bibit
a. Kriteria dan Standar Mutu Bibit
Kriteria dan standar mutu bibit ditetapkan berdasarkan beberapa faktor
antara lain kualitas, penanganan/perlakuan benih, teknik pembibitan
dan tujuan penggunaannya. Kriteria dan standar mutu bibit sebagai
berikut:
Tabel 1. Kriteria dan Standar Mutu Bibit
No Kelompok Tujuan Kriteria Standar
Jenis Penggunaan
1. Kayu- Reboisasi/ 1. Pertumbuhan 1. Pertumbuhan
kayuan Hutan Rakyat normal (sehat,
berbatang
2. Media tunggal/berkayu)
3. Tinggi 2. Kompak
3. Tinggi minimal 30
- 17 -

No Kelompok Tujuan Kriteria Standar


Jenis Penggunaan
cm (kecuali jenis
pinus 15 cm dan
sudah ada ekor
bajing)
Tanaman 1. Pertumbuhan 1. Pertumbuhan
turus jalan, normal (sehat,
hutan kota, berbatang
penghijauan 2. Media tunggal/berkayu)
lingkungan 3. Tinggi 2. Kompak
3. Tinggi minimal 1
meter
2. Mangrove Reboisasi/ 1. Pertumbuhan 1. Pertumbuhan
RHL normal
a. Non propagul:
sehat,
berbatang/
berkayu
b. Propagul: sehat,
jumlah daun
2. Media minimal 4 helai
3. Tinggi 2. Kompak
3. Tidak
dipersyaratkan
kecuali non
propagul tinggi
minimal 20 cm
3. Pantai RHL 1. Pertumbuhan 1. Pertumbuhan
normal (sehat,
berbatang/berkayu)
2. Media 2. Kompak
3. Tinggi 3. Tinggi minimal 30
cm
4. MPTS Hutan 1. Pertumbuhan 1. Pertumbuhan
Rakyat/ normal (sehat,
- 18 -

No Kelompok Tujuan Kriteria Standar


Jenis Penggunaan
Reboisasi/ berbatang
Penghijauan 2. Media tunggal/berkayu)
Lingkungan 3. Tinggi 2. Kompak
3. Tinggi minimal 50
cm kecuali bibit
okulasi 30 cm
dihitung dari
tempelan/
sambungan

b. Sertifikasi Mutu Bibit


Mutu bibit dinyatakan dalam bentuk sertifikat mutu bibit atau surat
keterangan mutu bibit. Bibit yang berasal dari sumber benih
bersertifikat dan memenuhi persyaratan fisik fisiologis dinyatakan
dengan sertifikat mutu bibit. Sedangkan bibit yang memenuhi
persyaratan fisik fisiologis tetapi bukan berasal dari sumber benih
bersertifikat dinyatakan dengan surat keterangan mutu bibit.
B. Pembangunan Kebun Bibit Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)
Yang dimaksud dengan Kebun Bibit KPH adalah kebun bibit yang dikelola
oleh KPH. Ketentuan tentang pembangunan kebun bibit KPH diatur dalam
peraturan perundangan-undangan tersendiri.
C. Pembangunan Kebun Bibit Rakyat
Kebun Bibit Rakyat yang selanjutnya disingkat KBR merupakan kebun bibit
yang dikelola oleh kelompok masyarakat melalui pembuatan/pengadaan bibit
berbagai jenis tanaman hutan dan/atau tanaman serbaguna (MPTS) yang
pembiayaannya dapat bersumber dari dana pemerintah atau sumber lain
yang tidak mengikat.
D. Pembangunan Persemaian Permanen
Persemaian permanen adalah persemaian yang berada pada satu lokasi
dengan organisasi dan personil pelaksana yang tetap, memiliki sarana,
prasarana dan teknologi mutakhir untuk memproduksi bibit tanaman hutan
berkualitas dalam jumlah besar dan berkesinambungan.
Ketentuan teknis persemaian permanen diatur sendiri dengan Peraturan
Direktur Jenderal.
- 19 -

BAB IV
REBOISASI

A. Umum
Reboisasi secara umum ditujukan untuk mengembalikan fungsi hutan baik
sebagai fungsi perlindungan, konservasi sumberdaya alam maupun fungsi
produksi. Keberadaannya yang tersebar sebagian besar di morfologi DAS
bagian hulu dan tengah menyebabkan sebagian besar kawasan hutan
mempunyai fungsi hidroorologis sebagai wilayah resapan air (recharge area)
bagi DAS tersebut. Oleh karena itu kegiatan rehabilitasi hutan di semua
fungsi menempati prioritas utama dalam pengelolaan DAS.
Berdasarkan kondisi kerapatan tegakan awal, maka reboisasi dibedakan
menjadi 2 (dua) kegiatan yaitu penanaman intensif dan pengayaan tanaman.
Penanaman intensif ditujukan untuk lokasi yang populasi tegakan/anakan
paling banyak 200 batang per ha, sedangkan pengayaan tanaman untuk
menambah populasi pada hutan yang memiliki tegakan awal berupa anakan,
pancang, tiang, dan pohon sejumlah 200-400 batang per Ha, dan apabila
populasi lebih besar dari 400 batang per ha cukup diadakan pengamanan
sehingga diharapkan akan menjadi hutan kembali secara suksesi alami.
Reboisasi dilaksanakan pada LMU Terpilih yang terbagi menjadi 2 (dua)
prioritas yaitu Prioritas I dan Prioritas II. Prioritas I merupakan LMU terpilih
kategori Kritis-Sangat Kritis menurut Peta RTk RHL DAS dan lahan kritis
mikro/sasaran tanaman RHL dengan luasan kurang dari 25 Ha yang
ditetapkan dalam RP RHL dengan kondisi lahan terbuka dengan topografi
bergunung. Sementara Prioritas II yaitu LMU terpilih kategori Agak Kritis
menurut Peta RTk RHL DAS dan lahan kritis mikro/sasaran tanaman RHL
dengan luasan kurang dari 25 Ha yang ditetapkan dalam RP RHL dengan
kondisi lahan identik dengan hutan sekunder atau kebun campuran dengan
topografi landai sampai bergelombang.
Persyaratan umum lokasi kegiatan rehabilitasi hutan dilaksanakan pada
hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi yang tidak dibebani hak
atau tidak dalam proses perijinan/pencadangan areal untuk Hutan Tanaman
Industri (HTI)/Hutan Tanaman Rakyat (HTR).
Rehabilitasi kawasan hutan konservasi maupun hutan lindung dilakukan
dengan menanam berbagai jenis. Hal ini dimaksudkan agar fungsi konservasi
atau fungsi lindung dapat tercapai secara optimal. Sedangkan rehabilitasi
kawasan hutan produksi dapat mengembangkan penanaman satu jenis.
- 20 -

B. Lokasi
1. Hutan Konservasi
a. Maksud dan Tujuan
Rehabilitasi pada hutan konservasi dimaksudkan untuk
mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman dan kelestarian
flora dan fauna serta pembinaan habitat.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi rehabilitasi hutan konservasi diutamakan pada lahan
kritis/LMU terpilih dan atau sasaran RHL yang ditetapkan pada RP-
RHL, diutamakan pada RHL Prioritas I, serta pada morfologi DAS hulu
dan tengah kecuali hutan konservasi mangrove. Penetapan prioritas
pelaksanaan RHL dapat mempertimbangkan kendala biofisik maupun
sosial ekonomi setempat.
c. Jenis Tanaman
Jenis tanaman yang dipilih untuk rehabilitasi hutan konservasi antara
lain yang memenuhi kriteria berikut ini:
1) berdaur panjang;
2) perakaran dalam;
3) evapotranspirasi rendah;
4) anakan/biji/stek berasal dari jenis endemik baik kayu-kayuan
maupun MPTS atau dari lokasi lain dengan jenis yang sama.
2. Hutan Lindung
a. Maksud dan Tujuan
Reboisasi di dalam kawasan hutan lindung ditujukan untuk
memulihkan fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga
kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan
erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi rehabilitasi hutan lindung diutamakan pada lahan
kritis/LMU Terpilih dan atau sasaran RHL yang ditetapkan pada RP
RHL diutamakan pada lahan kategori RHL Prioritas I, serta pada
morfologi DAS bagian hulu dan tengah kecuali hutan lindung
mangrove. Penetapan prioritas pelaksanaan RHL dapat
mempertimbangkan kendala biofisik maupun sosial ekonomi setempat.
c. Jenis Tanaman
Pemilihan jenis tanaman rehabilitasi hutan lindung diarahkan tanaman
yang berdaur panjang, perakaran dalam, evapotranspirasi rendah
- 21 -

diutamakan menghasilkan hasil hutan bukan kayu (getah/kulit/buah)


melalui pengembangan aneka usaha kehutanan.
3. Hutan Produksi
a. Maksud dan Tujuan
Rehabilitasi hutan produksi dimaksudkan untuk mengembalikan dan
meningkatkan produktivitas hutan.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi rehabilitasi hutan produksi adalah semua hutan
produksi yang diutamakan lahan kritis/LMU Terpilih dan atau sasaran
RHL yang ditetapkan pada RP RHL, diutamakan pada RHL Prioritas I,
serta pada morfologi DAS hulu dan tengah. Penetapan prioritas
pelaksanaan RHL dapat mempertimbangkan kendala biofisik maupun
sosial ekonomi setempat.
c. Jenis Tanaman
Jenis tanaman yang dipilih untuk rehabilitasi hutan produksi antara
lain yang memenuhi kriteria berikut ini:
1) nilai komersialnya tinggi;
2) teknik silvikulturnya telah dikuasai;
3) mudah pengadaan benih dan bibit yang berkualitas; dan
4) disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
5) sesuai dengan agroklimat.
6) apabila pada lokasi tapak terdapat mata air atau kondisi lahan
bertopografi diatas 35% maka penetapan jenis tanamannya
disesuaikan dengan kaidah rehabilitasi hutan lindung.
Komposisi tanaman dapat dilakukan pencampuran tanaman antara
jenis kayu-kayuan dan jenis MPTS dengan komposisi sebagai berikut :
1) Paling sedikit 70% kayu-kayuan, dengan komposisi 20% tanaman
kayu pertukangan dan 80% jenis lainnya.
2) Paling banyak 30% MPTS (penghasil kayu/getah/buah/kulit).
4. Sempadan Sungai
a. Maksud dan tujuan
Sungai sebagai salah satu komponen dalam perairan darat, terdiri atas
palung dan sempadan sungai. Palung menjadi wadah air, sedangkan
sempadan sungai merupakan ruang penyangga antara ekosistem sungai
dan daratan, sebagai satu kesatuan ekosistem dalam pengelolaan
daerah aliran sungai (DAS). Rehabilitasi Hutan sempadan sungai
diperlukan untuk pemulihan atau restorasi fungsi sungai.
- 22 -

Kegiatan Rehabilitasi Hutan sempadan sungai dilakukan untuk


melindungi wilayah sungai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian
fungsi sungai, yang diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1) Mencegah terjadinya longsor
2) Mencegah erosi
3) Meningkatkan kualitas air sungai
4) Menekan terjadinya pendangkalan sungai
b. Sasaran dan ketentuan teknis lokasi
Lokasi penanaman sempadan sungai didalam kawasan hutan
merupakan hutan kritis yang terletak pada sempadan sungai dengan
ketentuan teknis sebagai berikut :
1) Sungai Besar dengan luas DAS > 500 km2 ditentukan paling sedikit
berjarak 100 meter dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang
alur sungai.
2) Sungai Kecil dengan luas DAS 500 Km2 ditentukan paling sedikit
berjarak 50 meter dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang
alur sungai.
5. Sempadan Danau
a. Sasaran lokasi
Lokasi penanaman di daerah tangkapan air (DTA) dan sempadan danau
adalah sebagai berikut :
1) di daerah tangkapan air atau di sempadan danau
2) merupakan lahan kritis
3) kawasan hutan dan/atau areal penggunaan lain
4) memiliki fungsi lindung dan estetika
b. Penentuan sempadan danau:
1) Sempadan danau ditentukan mengelilingi danau paling sedikit
berjarak 50 (lima puluh) meter sampai dengan 100 (seratus) meter
dari tepi muka air tertinggi yang pernah terjadi.
Yang dimaksud muka air tertinggi yang pernah terjadi merupakan
elevasi muka air danau tertinggi yang diperoleh dari catatan muka air
historis dan/atau pengamatan beberapa penduduk setempat yang
telah dikonfirmasi melalui kesepakatan para warga masyarakat.
Dengan elevasi ini keberadaan suatu danau tidak mungkin hilang
selama ada catatan elevasi muka air dan/atau pengamatan warga
masyarakat tentang elevasi tersebut, meskipun danau yang
bersangkutan telah mati.
- 23 -

2) Dalam hal terdapat pulau di tengah danau, seluruh luasan pulau


merupakan daerah tangkapan air danau dengan sempadan danau di
dalamnya. Daerah tangkapan air danau diartikan sebagai suatu
wilayah daratan yang menampung dan menyimpan air dari curah
hujan dan mengalirkannya ke danau secara langsung atau melalui
sungai yang bermuara ke danau.

Gambar 6. Sempadan Danau


6. Daerah sekitar mata air dan daerah imbuhan air tanah
Lokasi mata air dapat berada dihulu sungai kawasan tangkapan air
(catchment area), dibagian tengah atau hilir dari satu kesatuan ekosistem
DAS, kawasan resapan air (watershed) dan mata air dibawah laut. Secara
fungsi disamping berfungsi strategis bagi kelestarian ekosistem tata air
juga mempunyai fungsi sosial/budaya/spiritual, disamping berpotensi
ekonomi dari sumber daya airnya dan kepariwisataan. Untuk menghindari
kerusakan daerah sekitar mata air dan daerah imbuhan air tanah, salah
satu upaya yang dilakukan dengan melaksanakan kegiatan penanaman
pohon untuk peningkatan kapasitas imbuhan air tanah melalui program
rehabilitasi terhadap mata air.
Sasaran lokasi Rehabilitasi Hutan Daerah Sekitar Mata Air dan Daerah
Imbuhan Air Tanah sebagai berikut:
a) merupakan lahan kritis
b) tingkat ketergantungan masyarakat terhadap mata air tinggi.
c) pemanfaatan terhadap mata air beragam terutama untuk air minum.
d) terdapat kelompok masyarakat yang peduli terhadap pemeliharaan mata
air.
- 24 -

C. Teknik Pelaksanaan Penanaman dan Pemeliharaan


Pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan untuk menjamin keberhasilannya
pada prinsipnya dilakukan secara multiyears. Tahapan pelaksanaan
penanaman rehabilitasi hutan meliputi kegiatan-kegiatan persiapan,
penanaman dan pemeliharaan tanaman.
1. Persiapan
a. Kelembagaan
Kegiatan ini meliputi penyiapan organisasi pelaksana dan koordinasi
dengan pihak terkait untuk penyiapan lokasi, bibit dan tenaga kerja
yang akan melakukan penanaman.
b. Sarana dan Prasarana.
1) Rancangan pembuatan tanaman untuk dipedomani dalam
pembuatan tanaman antara lain kesesuaian lokasi/blok/petak
sasaran pembuatan tanaman reboisasi.
2) Dokumen-dokumen pekerjaan yang diperlukan untuk pembuatan
tanaman.
3) Bahan dan alat (gubuk kerja, papan nama, patok batas, ajir,
GPS/alat ukur theodolit, kompas, altimeter dan lain-lain) dan
perlengkapan kerja. Pembuatan gubuk kerja dan pemacangan papan
nama sesuai tempat yang strategis.
4) Bibit tanaman.
c. Areal penanaman
1) Pembagian blok/petak
Untuk memudahkan pelaksanaan, lokasi dibagi menjadi blok dan
blok dibagi menjadi petak. Dalam mendisain blok dan petak
mempertimbangkan kondisi fisik lapangan dan juga batas DAS
mikro yang telah dirancang saat menyusun UTP RHL.
Untuk mempermudah pengawasan areal penanaman dibuat blok
seluas sekitar 300 ha yang dibagi kedalam beberapa petak seluas
sekitar 25 ha yang batasnya dimungkinkan batas alam. Untuk lokasi
penanaman yang luasnya kurang dari 300 Ha tetap dijadikan satu
blok. Tetapi apabila luas areal penanaman 50 ha dijadikan satu
petak dan bloknya digabung dengan lokasi yang terdekat.
Apabila batas antar petak berupa batas buatan, sekaligus dapat
difungsikan untuk jalur rintisan. Lokasi-lokasi tertentu seperti
jurang, sungai dan sebagainya tidak termasuk dalam perhitungan
luas efektif.
- 25 -

2) Pembuatan jalan pemeriksaan


Jalan pemeriksaan dibuat di antara blok satu dengan lainnya. Jalan
pemeriksaan selain dimanfaatkan untuk pemeriksaan juga sekaligus
untuk jalan pengangkutan alat dan bahan-bahan yang diperlukan.
Teknik pembuatannya mengikuti ketentuan pembuatan jalan yang
berlaku dengan ukuran menyesuaikan kondisi lapangan.
2. Pelaksanaan penanaman
Komponen pekerjaan penanaman meliputi :
a. pembersihan lahan
b. pembuatan/pengadaan dan pemancangan patok batas
c. pembuatan jalur tanaman
d. pembuatan dan pemasangan ajir
e. pembuatan lubang tanaman
f. distribusi bibit ke lubang tanaman
g. penanaman
Penanaman intensif dilaksanakan pada LMU Prioritas I paling sedikit
1.650 batang/ha dan LMU Prioritas II paling sedikit 1.100 batang/ha.
Pelaksanaan pengayaan tanaman pada LMU Terpilih paling sedikit 625
batang/hektar.
h. pemupukan (dasar dan lanjutan)
i. pembuatan gubuk kerja
j. pembuatan papan nama
k. pemeliharaan tahun berjalan yang meliputi penyiangan, pendangiran
dan penyulaman. Jumlah bibit untuk penyulaman paling sedikit 10 %
dari jumlah yang ditanam.
Persentase tumbuh tanaman pada saat penilaian dan penyerahan
pekerjaan penanaman (P0) paling sedikit 70% dari jumlah tanaman baru.
3. Pemeliharaan I dan II
Pemeliharaan I dilaksanakan pada tahun kedua, dengan komponen
pekerjaan penyiangan, pendangiran, pemberantasan hama/penyakit,
pemupukan dan penyulaman. Jumlah bibit untuk penyulaman paling
sedikit 20 % dari jumlah yang ditanam. Pemeliharaan II dilaksanakan pada
tahun ketiga, dengan komponen pekerjaan penyiangan, pendangiran dan
pemberantasan hama/penyakit.
- 26 -

4. Standar hasil kegiatan


Jumlah tanaman pada akhir tahun ketiga paling sedikit 90% dari jumlah
tanaman baru.
5. Pemeliharaan lanjutan
Pemeliharaan lanjutan dapat dilakukan apabila jumlah tanaman pada
akhir tahun ketiga tidak terpenuhi.
D. Reboisasi Pola Khusus
Reboisasi pada wilayah dengan karakteristik biofisik maupun sosial, ekonomi,
budaya khusus dan/atau wilayah yang mempunyai jenis tanaman unggulan
lokal tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal dapat dilaksanakan
dengan pola khusus yang diatur dengan manual tersendiri.
- 27 -

BAB V
PENGHIJAUAN

A. Umum
Penghijauan bertujuan menjaga dan meningkatkan fungsi perlindungan tata
air dan pencegahan bencana alam banjir, longsor dan/atau untuk
meningkatkan produktivitas lahan.
Penghijauan dilaksanakan di luar kawasan hutan pada kawasan lindung dan
kawasan budidaya. Penghijauan meliputi Pembangunan Hutan Rakyat,
Pembangunan Hutan Kota, dan Penghijauan Lingkungan.
Sasaran penghijauan diutamakan pada lahan kritis/LMU Terpilih dan atau
sasaran RHL yang ditetapkan pada RP RHL diluar kawasan hutan negara,
yang berfungsi sebagai kawasan lindung dan atau kawasan budidaya.
Penetapan prioritas pelaksanaan RHL dapat mempertimbangkan kendala
biofisik maupun sosial ekonomi setempat.
Kaidah-kaidah umum rehabilitasi lahan adalah sebagai berikut:
1. Kawasan Lindung
Dalam melaksanakan rehabilitasi lahan pada kawasan lindung,
memperhatikan prinsip-prinsip:
a. fungsi perlindungan tata air dan pencegahan bencana alam banjir dan
longsor.
b. mengakomodir budaya usahatani masyarakat setempat.
c. mengembangkan pola-pola insentif RHL bagi masyarakat sesuai
peraturan perundangan yang ada.
2. Kawasan Budidaya
Dalam melaksanakan rehabilitasi lahan pada kawasan budidaya,
memperhatikan prinsip-prinsip:
a. meningkatkan produktivitas lahan.
b. menyesuaikan dengan kelas kemampuan lahan (land capability) dan
kesesuaian lahan (land suitability).
c. mengembangkan usaha masyarakat setempat.
B. Lokasi
1. Hutan Rakyat
a. Maksud dan Tujuan
Maksud pembangunan hutan rakyat/pengayaan adalah untuk
mewujudkan tanaman hutan di luar kawasan hutan negara (lahan
milik rakyat) sebagai upaya rehabilitasi lahan tidak produktif (lahan
- 28 -

kosong/kritis) di DAS prioritas. Adapun tujuannya untuk memulihkan


fungsi dan meningkatkan produktifitas lahan dengan berbagai hasil
tanaman berupa kayu dan non kayu, memberikan peluang kesempatan
kerja dan berusaha, meningkatkan pendapatan masyarakat,
kemandirian kelompok tani, serta memperbaiki kualitas lingkungan dan
mengurangi tekanan penebangan liar di dalam kawasan hutan negara
(illegal logging).
b. Sasaran lokasi
Sasaran kegiatan hutan rakyat berupa lahan kritis/LMU terpilih pada
kawasan lindung dan budidaya, diutamakan pada kawasan lindung
diluar kawasan hutan di daerah hulu dan tengah DAS dan atau
sasaran RHL yang ditetapkan pada RP RHL. Disamping kriteria diatas,
ketentuan teknis lokasi hutan rakyat adalah sebagai berikut:
1) tanah milik.
2) tanah terlantar.
3) tanah desa, tanah marga/adat.
4) luas areal hutan rakyat/pengayaan paling sedikit seluas 0,25 Ha
efektif.
c. Jenis kegiatan
Berdasarkan kondisi kerapatan tegakan sebelumnya, hutan rakyat
dibedakan menjadi 2 (dua) jenis kegiatan yaitu pembangunan hutan
rakyat yang dilaksanakan pada areal terbuka/semak belukar/
bertegakan dengan jumlah anakan paling banyak 200 (dua ratus)
batang/hektar dan pengayaan tanaman hutan rakyat dilaksanakan
pada areal kebun campuran atau agroforestri dengan jumlah tegakan
paling banyak 200 (dua ratus) batang/hektar.
d. Jenis Tanaman
Jenis tanaman untuk pembangunan hutan rakyat didasarkan pada
minat masyarakat dan sesuai agroklimat serta permintaan pasar.
Tanaman yang dipilih dapat berupa jenis:
1) cepat tumbuh (fast growing species);
2) dapat menyuburkan tanah;
3) tanaman jenis pioner yang mudah tumbuh di lahan kritis;
4) jenis tanaman unggulan setempat;
5) mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
- 29 -

Komposisi tanaman dapat dilakukan pencampuran tanaman antara


jenis kayu-kayuan dan jenis MPTS dengan komposisi:
1) Paling sedikit 70% kayu-kayuan, dengan komposisi 20% tanaman
kayu pertukangan dan 80% jenis lainnya.
2) Paling banyak 30 % MPTS (penghasil kayu/getah/buah/kulit).
e. Teknik pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan
Tahapan pelaksanaan penanaman meliputi kegiatan-kegiatan
persiapan, penanaman dan pemeliharaan tanaman.
1) Persiapan
a) Penyiapan kelembagaan
Kelompok tani diarahkan untuk melaksanakan persiapan
pembuatan tanaman hutan rakyat antara lain :
(1) mengikuti sosialisasi penyuluhan dan pelatihan.
(2) menyediakan lahan lokasi kegiatan pembuatan tanaman.
(3) menyusun rancangan (RKRHL) bersama-sama pendamping.
(4) menyelenggarakan pertemuan-pertemuan kelompok tani.
(5) menyiapkan administrasi kelompok tani.
(6) menyusun perangkat aturan/kesepakatan internal kelompok
tani.
b) Penataan areal tanaman
Kegiatan penataan areal tanaman dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut :
(1) pemancangan tanda batas dan pengukuran lapangan, untuk
menentukan luas serta letak yang pasti sehingga
memudahkan perhitungan kebutuhan bibit.
(2) penentuan arah larikan.
(3) penentuan tempat penampungan sementara bibit yang akan
ditanam.
c) Pembuatan sarana dan prasarana
(1) pembuatan gubuk kerja dan papan pengenal di lapangan yang
memuat keterangan tentang lokasi, luas, jenis tanaman, nama
kelompok tani dan jumlah peserta serta tahun pembuatan
tanaman hutan rakyat dan sumber anggaran.
(2) pembuatan jalan inspeksi/setapak dan atau jembatan di
dalam lokasi tanaman hutan rakyat, jika diperlukan.
- 30 -

2) Pelaksanaan penanaman
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan yang meliputi
kegiatan-kegiatan :
a) pembersihan lapangan, pengolahan tanah dan pembuatan lubang
tanam;
b) pembuatan dan pemasangan ajir;
c) pemberian pupuk dasar (pupuk kandang/bokasi);
d) distribusi bibit;
e) penanaman bibit;
Penanaman hutan rakyat dilaksanakan pada LMU Prioritas I
paling sedikit 625 batang/ha dan LMU Prioritas II paling sedikit
500 batang/ha. Pelaksanaan pengayaan hutan rakyat pada LMU
Terpilih paling sedikit 400 (empat ratus) batang/hektar
f) pemeliharaan tahun berjalan yang meliputi penyiangan,
pendangiran dan penyulaman. Jumlah bibit untuk penyulaman
paling sedikit 10 % dari jumlah yang ditanam.
Persentase tumbuh tanaman pada saat penilaian dan penyerahan
pekerjaan penanaman (P0) paling sedikit 70% dari jumlah tanaman
baru.
Penanaman hutan rakyat dapat dilakukan dengan 2 (dua) pola
sebagai berikut :
a) Tumpangsari
Tumpangsari (interplanting, mixed planting) merupakan suatu
pola penanaman yang dilaksanakan dengan menanam tanaman
semusim sebagai tanaman sela di antara larikan tanaman pokok
(kayu/MPTS). Pola ini biasanya dilaksanakan di daerah yang
pemilikan tanahnya sempit dan berpenduduk padat, tanahnya
masih cukup subur dan topografi datar atau landai. Pengolahan
tanah dapat dilakukan secara intensif.
b) Tanaman Hutan
Pola tanam ini merupakan pola tanaman kayu-kayuan, yang
mengutamakan produk tertentu, baik kayu maupun non kayu.
Adapun teknik penanaman hutan rakyat dilakukan pada lahan
terbuka maupun kebun campuran.
Penanaman hutan rakyat pada lahan terbuka dapat dilakukan
dengan teknik :
- 31 -

a) baris dan larikan tanaman lurus


Pelaksanaan teknik ini dilakukan pada lahan dengan tingkat
kelerengan datar tetapi tanah peka terhadap erosi. Larikan
tanaman dibuat lurus dengan jarak tanam teratur.
Pengaturan tanaman dengan teknik ini seperti pada Gambar 1.

Keterangan: = tanaman kayu-kayuan dan MPTS


Gambar 1. Baris dan Larikan Tanaman Lurus
b) Tanaman jalur dengan sistem tumpangsari
Teknik tanam ini sesuai untuk lahan dengan tingkat kelerengan
datar s/d landai dan tanah tidak peka terhadap erosi. Larikan
tanaman dibuat lurus dengan jarak tanam teratur.
Karena menggunakan pola tanam tumpangsari, maka jarak
tanaman antar jalur perlu lebih lebar. Diantara tanaman pokok
dapat dimanfaatkan untuk tumpangsari tanaman semusim, dan
atau tanaman sela.
Pengaturan tanaman dengan teknik ini seperti pada Gambar 2

Keterangan :
: Jalur tanaman pangan (tanaman tumpangsari)
: Tanaman Kayu-kayuan /MPTS
Gambar 2. Contoh Tanam Jalur dengan Pola Tumpangsari
- 32 -

c) Penanaman searah garis kontur


Teknik penanaman ini sesuai untuk lahan dengan kelerengan
agak curam s/d curam. Penanaman dilakukan dengan sistim
cemplongan.
Cara pengaturan tanaman dengan teknik ini adalah seperti pada
Gambar 3 berikut ini :

Keterangan: = tanaman kayu-kayuan/MPTS


Gambar 3. Contoh Penanaman Searah Garis Kontur

d) Sistim pot pada lahan yang berbatu


Teknik penanaman ini dilakukan dengan membuat lubang tanam
diantara batu-batuan yang di isi dengan media tanah
secukupnya.
Penanaman hutan rakyat di kebun campuran dilakukan pada
umumnya berupa tanaman kayu-kayuan maupun tanaman MPTS.
Sistim penanaman hutan rakyat dapat dilakukan melalui 3 cara,
yaitu:
a) Sistim cemplongan.
Sistim cemplongan adalah teknik penanaman yang dilaksanakan
dengan pembuatan lubang tanam dan piringan tanaman.
Pengolahan tanah hanya dilaksanakan pada piringan disekitar
lobang tanaman. Sistem cemplongan dilaksanakan pada lahan-
lahan yang miring dan peka terhadap erosi. Sistem cemplongan
merupakan cara penanaman dengan pembersihan lahan di
sekitar lubang tanaman.
b) Sistim jalur.
Teknik ini dilaksanakan dengan pembuatan lubang tanam dalam
jalur larikan dengan pembersihan lapangan sepanjang jalur
tanaman. Teknik ini dapat dipergunakan di lereng bukit dengan
tanaman sabuk gunung (countur planting).
- 33 -

c) Sistim tugal (zero tillage)


Teknik ini dilaksanakan dengan tanpa olah tanah (zero tillage).
Lubang tanaman dibuat dengan tugal (batang kayu yang
diruncingi ujungnya). Teknik ini cocok untuk pembuatan
tanaman dengan benih langsung terutama pada areal dengan
kemiringan lereng yang cukup tinggi, namun tanahnya subur dan
peka erosi.
3) Pemeliharaan I dan II
Pemeliharaan I dilaksanakan pada tahun kedua, dengan komponen
pekerjaan penyiangan, pendangiran, pemberantasan hama/penyakit,
pemupukan, dan penyulaman. Jumlah bibit untuk penyulaman
paling sedikit 20 % dari jumlah yang ditanam. Pemeliharaan II
dilaksanakan pada tahun ketiga, dengan komponen pekerjaan
penyiangan, pendangiran, dan pemberantasan hama/penyakit.
4) Standar hasil kegiatan
Jumlah tanaman pada akhir tahun ketiga paling sedikit 90% dari
jumlah tanaman baru.
5) Pemeliharaan lanjutan
Dalam hal jumlah tanaman pada akhir tahun ketiga paling sedikit
90% dari jumlah tanaman baru telah terpenuhi maka tidak
dilakukan pemeliharaan lanjutan.
Dalam pengelolaan hutan rakyat dapat dilakukan dengan cara kemitraan,
yang sering disebut Hutan Rakyat Kemitraan dengan uraian sebagai
berikut :
a. Maksud dan Tujuan
Hutan rakyat kemitraan dimaksudkan untuk membangun hutan rakyat
yang dilakukan oleh masyarakat bersama-sama industri/penampung
kayu rakyat atas dasar kemitraan yang saling menguntungkan. Dalam
prosesnya, kemitraan hutan rakyat ini dapat dibangun melalui fasilitasi
pemerintah.
Hutan rakyat kemitraan dikembangkan dengan tujuan untuk
menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan
masyarakat, penyediaan bahan baku bagi industri, serta membangun
pengelolaan hutan rakyat yang lestari.
- 34 -

b. Sasaran Lokasi
Sasaran pembangunan hutan rakyat kemitraan adalah lahan kritis/
LMU Terpilih baik pada RHL Prioritas I maupun II, diutamakan pada
kawasan budidaya.
c. Jenis Tanaman
Sebagaimana jenis tanaman hutan rakyat, hutan kemitraan umumnya
mengembangkan jenis-jenis tanaman sebagai berikut: cepat tumbuh
(fast growing species), mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan sesuai
dengan kebutuhan industri.
d. Teknik Penanaman dan Pemeliharaan
Teknik penanaman dan pemeliharaan hutan rakyat kemitraan sama
dengan yang diuraikan pada butir B.1.e.
2. Hutan Kota
Pembangunan hutan kota dimaksudkan sebagai upaya untuk perbaikan
lingkungan perkotaan dengan tujuan untuk mewujudkan lingkungan
hidup wilayah perkotaan yang sehat, rapi dan indah dalam suatu
hamparan tertentu sehingga mampu memperbaiki dan menjaga iklim
mikro, estetika, resapan air serta keseimbangan lingkungan perkotaan.
Pembangunan Hutan Kota dilaksanakan di wilayah perkotaan yang
lokasinya ditunjuk oleh Gubernur/Bupati/Walikota, dengan luas paling
sedikit 0,25 hektar. Pelaksanaan penanaman hutan kota paling sedikit 625
batang/ha dan saat penilaian dan penyerahan pekerjaan penanaman
persen tumbuh tanaman paling sedikit 90%.
Pembangunan hutan kota secara teknis sebagaimana di atur dalam
peraturan perundangan tersendiri.
3. Penghijauan Lingkungan
a. Maksud dan tujuan
Pembuatan tanaman penghijauan lingkungan dimaksudkan sebagai
upaya perbaikan lingkungan pada lahan-lahan untuk fasilitas umum,
fasilitas sosial untuk meningkatkan kualitas iklim mikro dan
kenyamanan lingkungan hidup di sekitarnya serta wilayah-wilayah
perlindungan setempat.
b. Sasaran lokasi
Sasaran lokasi penghijauan lingkungan yaitu ruang terbuka hijau dan
atau lahan kosong yang diperuntukan sebagai fasilitas umum dan
fasilitas sosial baik perkantoran, taman pemukiman dan pemakaman
umum, sekolah (umum, pesantren, kampus universitas), halaman
- 35 -

bangunan peribadatan (masjid, gereja, pura, vihara dan lain-lain), serta


wilayah-wilayah perlindungan setempat seperti sempadan sungai,
tebing jalan, dan lain sebagainya.
c. Jenis tanaman
Jenis tanaman untuk penghijauan lingkungan disesuaikan dengan
peruntukan kawasannya dan juga sesuai dengan agroklimatologi
setempat serta diminati masyarakat. Tanaman penghijauan lingkungan
dapat berupa tanaman kayu-kayuan dan tanaman serbaguna/MPTS.
d. Pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan
Pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan umumnya sama dengan
pembangunan hutan rakyat yaitu meliputi kegiatan-kegiatan persiapan,
penanaman dan pemeliharaan tanaman sebagaimana tertuang pada
butir B.1.e.
4. Sempadan Sungai
a. Maksud dan tujuan
Maksud dan tujuan penghijauan sempadan sungai mengikuti ketentuan
sebagaimana tercantum dalam Bab IV.B.4.a.
b. Sasaran dan ketentuan teknis lokasi
Lokasi penanaman sempadan sungai diluar kawasan hutan merupakan
lahan kritis yang terletak pada sempadan sungai dengan ketentuan
teknis sebagai berikut :
1) paling sedikit berjarak 10 meter (sepuluh meter) dari tepi kiri dan
kanan palung sungai sepanjang alur sungai dengan kedalaman 3
meter.
2) paling sedikit berjarak 15 meter (lima belas meter) dari tepi kiri dan
kanan palung sungai sepanjang alur sungai dengan kedalaman 3
meter sampai dengan 20 meter.
3) paling sedikit berjarak 30 meter (tiga puluh meter) dari tepi kiri dan
kanan palung sungai sepanjang alur sungai dengan kedalaman > 20
meter.
5. Sempadan danau
Penghijauan sempadan danau mengikuti ketentuan sebagaimana
tercantum dalam Bab IV.B.5.
6. Daerah sekitar mata air dan daerah imbuhan air tanah
Penghijauan daerah sekitar mata air dan daerah imbuhan air tanah
mengikuti ketentuan sebagaimana tercantum dalam Bab IV.B.6.
- 36 -

C. Penghijauan Pola Khusus


Penghijauan pada wilayah dengan karakteristik biofisik maupun sosial,
ekonomi, budaya khusus dan/atau wilayah yang mempunyai jenis tanaman
unggulan lokal tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal dapat
dilaksanakan dengan pola khusus yang diatur dengan manual tersendiri.
- 37 -

BAB VI
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DAERAH PESISIR/PANTAI

A. Umum
Maksud dan tujuan rehabilitasi hutan dan lahan daerah pesisir/pantai
adalah untuk mengembalikan keberadaan vegetasi daerah pesisir/pantai
sehingga mampu berfungsi sebagai wilayah perlindungan pantai dari abrasi
dan intrusi air laut serta bencana alam seperti tsunami maupun bencana
lainnya. Secara umum kegiatan RHL di daerah pesisir/pantai dibagi menjadi
dua yaitu hutan mangrove dan sempadan pantai.
B. Rehabilitasi Hutan Mangrove
1. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi kegiatan rehabilitasi hutan mangrove adalah hutan dan
lahan yang diutamakan pada lahan kritis/LMU terpilih berdasarkan hasil
penyusunan RTk-RHL DAS pada ekosistem mangrove dan ekosistem
pantai yang diidentifikasi mempunyai vegetasi mangrove dengan kerapatan
kurang (NDVI -1,00 s/d 0,43) dan wilayah yang berdasarkan peta land
system termasuk KJP, KHY, PGO, LWW, TWH, dan PTG yang kondisi
vegetasinya telah terbuka dan/atau terdeforestasi, dan/atau sasaran RHL
yang ditetapkan pada RP RHL. Penetapan prioritas pelaksanaan RHL dapat
mempertimbangkan kendala biofisik maupun sosial ekonomi setempat.
2. Penyediaan Bibit
Untuk menjamin agar pelaksanaan penyediaan bibit berjalan efektif dan
efisien, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Penentuan kebutuhan bibit sesuai rancangan meliputi lokasi
persemaian, jenis, jumlah dan persyaratan bibit, baik untuk kegiatan
penanaman, penyulaman tahun berjalan, maupun untuk penyulaman
pemeliharaan I.
b. Penyusunan tahapan dan jadwal kegiatan penyediaan bibit dengan
memperhatikan waktu tanam di lapangan.
c. Pembuatan bibit :
1) Penyiapan benih
a) pengumpulan benih
Bahan yang diperlukan adalah buah atau benih yang matang dan
bermutu bagus.
Pengumpulan benih dengan cara mengambil buah jatuhan atau
memetik langsung dari pohon induknya dan ekstraksi biji dari
- 38 -

buah. Pengumpulan dilakukan berulang dengan interval waktu


tertentu.
b) Seleksi dan penanganan benih
Buah atau biji yang dipilih adalah berasal dari buah yang
matang, sehat, segar dan bebas hama. Ciri kematangan buah
dapat dilihat dari warna kotiledon, warna hipokotil, berat buah
atau ciri lainnya.
c) Penyimpanan benih
Penyimpanan benih tidak dapat dilakukan untuk jangka yang
panjang. Direkomendasikan bahwa penyimpanan benih tidak
lebih dari 10 hari, disimpan di tempat yang teduh di dalam ember
berisi air payau. Harus dijaga agar akar tidak terlanjur tumbuh
sehingga terpaksa dipotong saat penyemaian.
2) Persemaian
a) Untuk memperoleh mutu bibit yang baik dan mengurangi resiko
kerusakan bibit ke lokasi penanaman, diperlukan persemaian
dan tempat pengumpulan sementara yang sesuai kriteria dan
standar mutu.
b) Benih non propagul dari benih Sonneratia alba dapat disemaikan
secara langsung pada pot yang sudah diatur di bedeng.
Sedangkan Avicennia marina dan Xylocarpus granatum harus
disemaikan di bedeng di darat terlebih dahulu karena benihnya
mudah hanyut oleh pasang-surut air laut.
c) Benih yang telah disemai di pot-pot bedeng persemaian dibiarkan
terkena air laut pasang surut satu kali dalam satu hari agar
basah.
d) Bibit di persemaian sebaiknya dinaungi dengan jaring atau daun
yang hanya memberikan kemungkinan masuknya cahaya
matahari sebesar 50-70%. Lebih baik lagi bila naungan juga
dipasang sebagai dinding yang mengelilingi barisan-barisan
bedeng. Satu bulan sebelum bibit siap tanam di lapangan,
naungan tersebut harus dibuka untuk pemantapan.
e) Penyiraman dilakukan satu kali sehari di bedeng pasang surut
pada saat pasang surut rendah, sedangkan di bedeng darat
dilakukan penyiraman dua kali sehari.
- 39 -

3. Pembuatan Tanaman
Pelaksanaan kegiatan pembuatan tanaman mengacu pada RTn-RHL dan
RK-RHL.
Sebelum melakukan penanaman, harus diperhatikan beberapa faktor fisik
penunjang keberhasilan penanaman yakni : pasang surut air laut, musim
ombak dan kesesuaian jenis dengan lingkungannya/zonasi serta
keterlibatan masyarakat setempat.
a. Persiapan
1) Penyiapan kelembagaan/prakondisi dilakukan terhadap masyarakat
pantai setempat yang akan terlibat dalam kegiatan rehabilitasi hutan
mangrove melalui kegiatan penyuluhan, pembentukan kelompok
tani dan pendampingan.
2) Pengadaan sarana dan prasarana
3) Penyiapan bahan dan pembuatan gubuk kerja, papan nama, patok
batas, ajir dan penyiapan alat pengukuran (GPS/alat ukur theodolit,
kompas, altimeter dan lain-lain) serta perlengkapan kerja lainnya.
4) Penataan areal tanaman
a) berdasarkan rancangannya, dilakukan penataan lahan untuk
kesesuaian lokasi dan areal tanam.
b) penyiapan areal tanam :
(1) pengukuran ulang batas-batas areal, pemancangan patok
batas luar areal tanam;
(2) pembuatan jalur tanaman dimulai dengan penentuan arah
larikan tanaman melintang terhadap pasang surut sesuai pola
tanam yang telah dirancang pada lokasi dan areal tanam yang
bersangkutan;
(3) pembersihan jalur tanam dari sampah, ranting pohon dan
potongan kayu serta tumbuhan liar;
(4) pemancangan ajir sesuai jarak tanam, dipasang tegak lurus
dan kuat pada areal tanam;
(5) penyiapan titik bagi bibit (di masing-masing areal penanaman).
b. Pemilihan jenis tanaman
1) Jenis tanaman terpilih disesuaikan dengan hasil analisis tapak dan
dituangkan dalam rancangan.
2) Rehabilitasi pada ekosistem mangrove yang zonasi-nya masih dapat
diidentifikasi, jenis tanaman mangrove disesuaikan dengan zonasi
berbagai tanaman, yakni dengan memperhatikan ketahanan
- 40 -

terhadap pasang surut dan tingkat ketinggian air, antara lain : zona
Avicennia, zona Rhizophora, zona Bruguiera dan zona kering serta
nipah.
Secara alami zonasi dalam ekosistem mangrove berdasarkan jenis
tanaman yang tumbuh adalah sebagaimana gambar 4 berikut :

Zonasi Hutan Mangrove. Dari kiri ke kanan: 1. Avicennia alba; 2. Rhizophora apiculata; 3. Bruguiera parviflora; 4.
Bruguiera gymnorhiza; 5. Nypa fruticans; 6. Xylocarpus granatum; 7. Excoecaria agallocha; 8. Pandanus furentus; 9.
Bruguiera cylindrica.

Gambar 4. Zonasi Ekosistem Mangrove berdasarkan Jenis Tanaman

Kesesuaian jenis tanaman mangrove dengan faktor lingkungan dapat


diperiksa pada Tabel 2.
Tabel 2. Kesesuaian beberapa jenis tanaman mangrove dengan faktor
lingkungan.
Toleransi Toleransi
terhadap terhadap Toleransi
Frekuensi
Jenis Salinitas kekuatan kandungan terhadap
penggenangan
(o/oo) ombak & pasir Lumpur
angin

1 2 3 4 5 6
Rhizophora 10-30 S MD S 20 hr/bln
mucronata
(bakau)
R. stylosa (tongke 10-30 MD S S 20 hr/bln
besar)
R. apiculata 10-30 MD MD S 20 hr/bln
(tinjang)
- 41 -

Toleransi Toleransi
terhadap terhadap Toleransi
Frekuensi
Jenis Salinitas kekuatan kandungan terhadap
penggenangan
(o/oo) ombak & Lumpur
pasir
angin

1 2 3 4 5 6
Bruguiera 10-30 TS MD S 10-19
parvilofa (bius) hr/bln
B. sexangula 10-30 TS MD S 10-19
(tancang) hr/bln
B.gymnorhiza 10-30 TS TS MD 10-19
(tancang merah) hr/bln
Sonneratia alba 10-30 MD S S 20 hr/bln
(pedada bogem)
S.caseolaris 10-30 MD MD MD 20 hr/bln
(padada)
Xylocarpus 10-30 TS MD MD 9 hr/bln
granatum (nyirih)
Heritiera littoralis 10-30 STS MD MD 9 hr/bln
(bayur laut)
Lumnitzera 10-30 STS S MD Beberapa
racemora kali/ thn
(Tarumtum)
Cerbera manghas 0-10 STS MD MD Tergenang
(bintaro) musiman
Nypa fruticans 0-10 STS TS S 20 hr/bln
(nipah)
Avicenia spp. 10-30 MD TS S
(api-api)
Keterangan : S = Sesuai, MD = Moderat, TS = Tidak Sesuai,
STS = Sangat Tidak Sesuai

c. Penanaman
1) pelaksanaan penanaman di dalam kawasan hutan dan di luar
kawasan hutan dilakukan dengan menerapkan jenis tanaman dan
pola tanam sebagaimana tertuang dalam rancangan.
2) rehabilitasi hutan mangrove dilaksanakan pada LMU Prioritas I
paling sedikit 1.100 batang/ha dan LMU Prioritas II paling sedikit
- 42 -

1.650 batang/ha, dengan pertimbangan memperhatikan tingkat


keberhasilan tumbuh.
3) persen tumbuh saat penilaian dan penyerahan pekerjaan
penanaman tahun pertama paling sedikit 70%.
4) pelaksanaan penanaman menyesuaikan dengan musim setempat
dan dimulai dari garis terdekat dengan darat.
5) cara penanaman :
a) penanaman dengan benih
Penanaman dapat dilakukan dengan benih jenis propagul, pada
areal berlumpur. Benih/buah ditancapkan ke dalam lumpur
dengan bakal kecambah menghadap keatas. Untuk menjaga agar
buah tidak hanyut, bila perlu diikatkan pada ajir.
b) penanaman dengan bibit
Penanaman dapat dilakukan dengan bibit jenis mangrove dengan
ketentuan bibit tersebut layak tanam. Pada daerah yang langsung
dipengaruhi pasang surut, penanaman dapat dilakukan dengan
teknik dan atau pada saat yang memungkinkan.
6) beberapa alternatif pola tanaman yang dapat diterapkan sebagai
berikut :
a) pola tanam murni
(1) penanaman murni meliputi penanaman merata dan/atau
penanaman strip (jalur) pada areal tanam yang telah disiapkan
sesuai rancangan. Sebaran tanaman dapat dilihat
sebagaimana pada gambar 5.
(2) cara penanaman dapat secara langsung dengan buah/benih
atau menggunakan bibit yang telah disiapkan.
(3) untuk penanaman merata atau penanaman strip (jalur) jarak
tanam disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
(4) Pada areal yang peka terhadap ombak, jika diperlukan bibit
diikat dengan ajir
- 43 -

- - - -- - - laut - - - - -- - - - - - - - - - - -- - - laut - - - - -- - - - - - - -
- - - - - - - - - - - - - - - - -- - - -- - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - --
x x x x x x x x x x x x x x xx x x x
x x x xx x x
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
x x x x x x x
x x x x x x x x x x x x x
x x x x x x x
x x x x x x x x x x x x x

x a.
x xPenanaman
x x x x x x strip
x x x (jalur)
x b. Penanaman merata

Gambar 5. Alternatif Pola Tanam Murni

b) Pola tanam tumpangsari tambak (Sylvofishery/wanamina)


(1) Penanaman tumpangsari tambak dilaksanakan seperti halnya
dengan penananam murni, tetapi dikombinasikan dengan
kegiatan pertambakan. Penanaman selain pada tanggul juga
dilakukan di pelataran tambak sesuai dengan rancangan;
(2) Cara penanaman dapat secara langsung dengan buah/benih
atau menggunakan bibit yang telah disiapkan. Jarak tanam
disesuaikan dengan kondisi lapangan;
(3) Pola tumpangsari tambak (sylvofishery/wanamina) terdiri dari
4 (empat) macam cara yaitu : empang parit tradisional,
komplangan, empang parit terbuka dan kao-kao. Macam-
macam kombinasi seperti pada gambar 6 berikut :

Parit Bibit

Gambar 6. Macam-macam Teknik Tumpangsari

c) Pola penanaman rumpun berjarak


(1) Pola penanaman rumpun berjarak dimaksudkan untuk
kekokohan, menjerat lumpur atau hara dan sesuai dengan
- 44 -

media pasir yang labil akan ombak laut. Pola tanam ini lebih
cocok untuk ekosistem mangrove di pulau-pulau kecil.
(2) Penanaman rumpun berjarak dilaksanakan seperti halnya
dengan penanaman murni akan tetapi anakan ditanam rapat
membentuk rumpun-rumpun. Jumlah dan jarak antar
rumpun per hektar dan jumlah anakan yang ditanam di tiap
rumpun disesuaikan dengan kondisi tapak.
(3) Pada saat menanam bibit, kantong plastik (polybag) media
tanam tidak perlu dilepas tetapi cukup dirobek atau dilubangi
bagian dasarnya.
(4) Penanaman pada areal yang rawan gerakan air laut, jika
diperlukan dapat dibuat pagar pengaman.

Laut

Rumpun Dst
anakan

Pantai pulau
Dst

Pulau
Gambar 7. Cara penanaman rumpun berjarak

4. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pemeliharaan tanaman mangrove dilakukan sebagaimana terurai
pada BAB IV. Huruf C. dengan catatan penyiangan hanya dilakukan pada
areal yang kering saja. Disamping itu, untuk pengendalian hama dan
penyakit pada tanaman mangrove dari serangan kepiting/ketam
(Crustacea, sp.), ulat daun dan batang, cendawan akar, tritip serta gulma
(biasanya lumut) dapat dilakukan dengan cara:
a. Benih/bibit mangrove ditanam lebih banyak atau lebih rapat
b. Membungkus benih/bibit dengan bambu atau botol plastik.
c. Menggunakan insektisida secara hati-hati dan terbatas.
5. Standar hasil kegiatan
Jumlah tanaman mangrove pada akhir tahun ketiga yaitu paling sedikit
90% (sembilan puluh perseratus) dari jumlah tanaman baru.
- 45 -

Dalam hal jumlah tanaman tersebut telah tercapai maka tidak dilakukan
pemeliharaan lanjutan
C. Rehabilitasi Sempadan Pantai
1. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi kegiatan rehabilitasi sempadan pantai dapat berupa
kawasan hutan atau di luar kawasan hutan yang diutamakan pada lahan
kritis/LMU terpilih menurut RTk-RHL DAS selebar paling sedikit 100
(seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat yang bukan
termasuk habitat/ekosistem mangrove, dan atau sasaran RHL yang
ditetapkan pada RP RHL. Penetapan prioritas pelaksanaan RHL dapat
mempertimbangkan kendala biofisik maupun sosial ekonomi setempat.
2. Penyediaan Bibit
Penyediaan bibit untuk keperluan kegiatan rehabilitasi sempadan pantai
dapat dilakukan dengan pembuatan atau melalui pengadaan bibit.
Untuk menjamin agar pelaksanaan penyediaan bibit berjalan efektif dan
efisien, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Penentuan kebutuhan bibit sesuai rancangan meliputi lokasi
persemaian, jenis, jumlah dan persyaratan bibit, baik untuk kegiatan
penanaman, penyulaman tahun berjalan, maupun untuk penyulaman
pemeliharaan I.
b. Penyusunan tahapan dan jadwal kegiatan penyediaan bibit dengan
memperhatikan waktu tanam di lapangan.
c. Pelaksanaan penyediaan bibit dapat dilakukan melalui : pembuatan
bibit dan/atau pengadaan bibit oleh pihak ketiga/perusahaan pengada
bibit.
d. Untuk memperoleh mutu bibit yang baik, dan mengurangi resiko
kerusakan bibit ke lokasi penanaman, diperlukan persemaian dan
tempat pengumpulan sementara yang sesuai kriteria dan standar mutu.
e. Rehabilitasi sempadan pantai pada lahan berpasir dapat menggunakan
bibit dengan media campuran contohnya dengan sistem press-block.
3. Pembuatan Tanaman
Tahapan penanaman rehabilitasi sempadan pantai sebagai berikut:
a. Persiapan
1) Penyiapan kelembagaan, prakondisi dilakukan terhadap masyarakat
pantai setempat yang akan terlibat dalam kegiatan rehabilitasi hutan
pantai berupa penyuluhan, pembentukan kelompok tani dan
pendampingan.
- 46 -

2) Pengadaan sarana dan prasarana


3) Penyiapan bahan dan pembuatan gubuk kerja, papan nama, patok
batas, ajir dan penyiapan alat pengukuran (GPS/alat ukur theodolit,
kompas, altimeter dan lain-lain) serta perlengkapan kerja lainnya.
4) Penataan areal tanaman
a) Berdasarkan rancangannya, dilakukan penataan lahan sesuai
lokasi dan areal tanam.
b) Penyiapan areal tanam :
(1) Pengukuran ulang batas-batas areal, pemancangan patok
batas luar areal tanam;
(2) Pembuatan jalur tanaman dimulai dengan penentuan arah
larikan tanaman sesuai pola tanam yang telah dirancang pada
lokasi dan areal tanam yang bersangkutan;
(3) Pembersihan jalur tanam dari sampah, ranting pohon, dan
potongan kayu serta tumbuhan liar;
(4) Pemancangan ajir sesuai jarak tanam;
(5) Bila diperlukan dilakukan penyiapan tempat pengumpulan
sementara bibit yang akan ditanam.
b. Pemilihan jenis tanaman
1) Jenis tanaman dipilih yang paling cocok dan disesuaikan dengan
kondisi fisik lapangan, sosial ekonomi dan budaya serta kesiapan
masyarakat setempat sebagaimana yang tertuang dalam rancangan.
2) Sifat ekologis jenis pohon pantai antara lain :
Tabel 3. Sifat ekologis jenis pohon pantai dan cara pembiakannya.
No. Jenis Jenis Tanah Habitat Pembiakan
1 Cemara Laut Regosol/ Tanah liat Tunas akar
(Casuarina entisol berat, di atas dan biji
spp.) garis pasang,
tanah miskin
humus
2 Ketapang Regosol/ Tanah berpasir Biji, stek,
(Terminalia entisol dan berbatu grafting,
catapa) anakan alam
3 Waru Regosol/ Tanah tertier Stek dan Biji
(Hibiscus spp.) entisol yang periodik
kering
- 47 -

4 Nangka Regosol/ Tanah liat Stek akar,


(Artocarpus entisol berpasir stek batang
altilis)
5 Nyamplung Aluvial/ Tanah liat Biji
(Callophylum Regosol berpasir
innophylum)
6 Kelapa Regosol/ Tanah liat Buah/Biji
(Cocos spp.) entisol berpasir

c. Penanaman
1) Pelaksanaan pembuatan tanaman rehabilitasi sempadan pantai di
luar kawasan hutan dan di dalam kawasan hutan dilakukan dengan
menerapkan pola tanam sebagaimana tertuang dalam rancangan.
Penanaman dapat dilakukan secara merata atau jalur/baris
sepanjang pantai.
2) Rehabilitasi sempadan pantai dilaksanakan pada LMU Prioritas I
paling sedikit 1.650 batang/ha dan LMU Prioritas II minimal 1.100
batang/ha.
3) Persen tumbuh saat penilaian dan penyerahan pekerjaan
penanaman tahun pertama (P0) paling sedikit 70%.
4) Komponen kegiatan penanaman meliputi :
a) Pembuatan lubang tanam yang ukurannya disesuaikan dengan
jenis yang akan ditanam;
b) Pada lahan berpasir dapat dilakukan penambahan media tumbuh
yang memadai.
c) Penanaman dilakukan dengan memadatkan tanah urugan di
sekitar batang dan hindari kerusakan akar.
4. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman sebagaimana uraian pada BAB IV. Huruf C. Jenis
hama tanaman yang sering ditemui dan menyerang pada tanaman pantai
adalah ulat daun dan batang, cendawan akar dan upas (Cryptococcus
neoformans, Phytopthora palmivora) serta gulma. Pengendalian hama dan
gulma dapat dilakukan pada pemeliharaan tanaman tahun berjalan,
tahun pertama dan atau tahun kedua.
- 48 -

5. Standar hasil kegiatan


Jumlah tanaman sempadan pantai pada akhir tahun ketiga yaitu paling
sedikit 90 % (sembilan puluh perseratus) dari jumlah tanaman baru.
Dalam hal jumlah tanaman tersebut telah tercapai maka tidak dilakukan
pemeliharaan lanjutan.
D. Rehabilitasi Pesisir/Pantai Pola Khusus
Rehabilitasi mangrove dan sempadan pantai dengan kondisi biofisik atau
sosial, ekonomi, budaya dan atau kepentingan diseminasi teknologi
rehabilitasi dapat dilaksanakan dengan pola khusus yang diatur dengan
manual tersendiri.
- 49 -

BAB VII
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN KAWASAN BERGAMBUT

A. Umum
Kawasan bergambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah
mati, baik yang sudah lapuk maupun yang belum lapuk. Timbunan terus
bertambah karena proses dekomposisi yang terhambat oleh kondisi an-aerob
dan di permukaan atasnya hidup berbagai jenis satwa liar dan tumbuhan dari
tingkat semai, pancang, tiang dan pohon. Pembentukan kawasan bergambut
merupakan proses geogenik yang disebabkan oleh proses deposisi dan
transportasi, sedangkan proses pembentukan tanah mineral pada umumnya
merupakan proses pedogenik. Keberadaan kubah gambut (peat dome) di
bagian tengah pada bentang lahan gambut menjadi ciri khas ekosistem
bergambut. Sedangkan tingkat kesuburan tanah bergambut secara gradual
dipilah menjadi 3 (tiga) jenis yaitu matang (saprist), sedang (hemist) dan
mentah (fibrist).
Kawasan bergambut dipilah menjadi dua yaitu Kawasan Bergambut Berfungsi
Lindung dan Kawasan Bergambut Berfungsi Budidaya. Kriteria kawasan
bergambut berfungsi lindung yakni apabila ketebalan gambut mencapai 3
(tiga) meter atau lebih terdapat di hulu sungai atau rawa, sedangkan kriteria
kawasan bergambut berfungsi budidaya yakni apabila ketebalan gambutnya
kurang dari 3 (tiga) meter terdapat di hulu sungai atau rawa.
Kawasan bergambut memberikan manfaat yang sangat luas bagi kehidupan
di muka bumi karena merupakan habitat berbagai flora fauna yang berperan
penting dalam pengaturan tata air sehingga daerah sekitarnya dapat
terhindar dari intrusi air laut pada musim kemarau dan banjir pada musim
hujan. Kawasan bergambut mampu menyimpan dan menyerap Gas Rumah
Kaca (GRK) dalam jumlah besar sehingga secara tidak langsung berperan
penting dalam mengatur iklim lokal maupun global.
Maksud dan tujuan RHL kawasan bergambut untuk memulihkan
sumberdaya kawasan bergambut yang kritis sehingga berfungsi optimal
dalam memberikan manfaat ekologi, ekonomi dan sosial kepada seluruh
pihak yang berkepentingan, mengelola sumber daya air, dan mengembangkan
kelembagaan yang berbasis sumberdaya kawasan bergambut.
B. Pelaksanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kawasan Bergambut
1. Sasaran Lokasi
- 50 -

Secara umum sasaran lokasi rehabilitasi hutan dan lahan kawasan


bergambut yaitu kawasan yang diidentifikasi sebagai areal kritis/rusak
sedang dan sangat kritis/rusak berat pada RTk RHL DAS Kawasan
Bergambut. Apabila pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan kawasan
bergambut tidak dapat sekaligus mencakup seluruh areal maka dapat
dilakukan prioritas, misalnya prioritas RHL-G I berupa kawasan gambut
lindung dan budidaya sangat kritis dan/atau kritis yang terletak dalam
DAS prioritas dengan kondisi gambut matang/safrik dan ketebalan tanah
gambutnya dangkal, setelah dikurangi peruntukan lain seperti pemukiman
dan sarana umum lainnya. Selanjutnya prioritas RHL-G II yaitu kawasan
gambut sangat kritis dan/atau kritis yang terletak dalam DAS prioritas
dengan kondisi gambut setengah matang/hemik dan ketebalan tanah
gambutnya dangkal, setelah dikurangi peruntukan lain seperti pemukiman
dan sarana umum lainnya.
Terhadap kegiatan penanaman dalam rangka rehabilitasi, dapat dipilih
pada areal yang terbatas kemampuannya untuk pulih secara alami dan
areal yang secara alami sulit dijangkau oleh penyebaran benih. Lahan yang
memiliki kemampuan untuk pulih secara alami tidak diprioritaskan
sebagai areal penanaman.
Berdasarkan kondisi kerapatan tegakan awal, maka RHL kawasan
bergambut dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu penanaman intensif dan
pengayaan tanaman. Penanaman RHL kawasan bergambut dilaksanakan
pada prioritas RHL-G I dan Prioritas RHL-G II berdasarkan RTkRHL DAS
Kawasan Bergambut yang mempunyai tegakan asal paling banyak 200
(dua ratus) batang/hektar, sedangkan pengayaan tanaman pada kawasan
bergambut dilaksanakan pada prioritas RHL-G I dan Prioritas RHL-G II
berdasarkan RTkRHL DAS Kawasan Bergambut yang mempunyai tegakan
asal antara 200 (dua ratus) sampai dengan 400 (empat ratus) batang/
hektar.
2. Penentuan Jenis Tanaman
Jenis tanaman yang dipilih untuk rehabilitasi sebaiknya jenis lokal/
endemik.
Proses pemilihan jenis dilakukan dengan memperhatikan :
a. keberadaan jenis dominan,
b. sifat dan karakteristik tiap jenis terutama respon terhadap genangan
dan cahaya,
- 51 -

c. kondisi areal (penutupan vegetasi, kondisi tanah dan kondisi


genangan).

Variasi kondisi areal dan alternatif jenis tanaman yang sesuai :


Tabel 4. Kondisi Areal dan Alternatif Jenis Tanaman RHL Rawa Gambut
No. Kondisi Lokasi Alternatif Jenis Tanaman
1 Areal yang : Jelutung rawa (Dyera lowii )
a. Bekas terbakar Perepat (Combretocarpus rotundatus )
ringan/sedang Belangiran (Shorea belangeran )
b. Bekas tebang habis Perupuk (Coccoceras borneense)
c. Areal terbuka Pulai rawa (Alstonia pneumatophora )
(vegetasi jarang) Rengas manuk (Melanorhoea wallicihi)
Terentang (Campnosperma macrophylla)
2 Areal yang : Meranti rawa (Shorea pauciflora, Shorea
a. Bekas terbakar yang tysmanniana, Shorea uliginosa)
telah mengalami Merapat (Combretocarpus rotundatus )
suksesi Durian (Durio carinatus)
b. Bekas tebang selektif Ramin (Gonystylus bancanus)
c. Penutupan vegetasi Punak (Tetramerista glabra)
sedang Kempas (Koompassia malaccensis )
Resak (Vatica rassak)
Sungkai (Peronema canescens)
Kapur Naga (Calophyllum macrocarpum)
Nyatoh (Palaquium spp.)
Bintangur (Calaphyllum spp.)
3 Areal yang : Meranti rawa (Shorea pauciflora, Shorea
a. Bekas tebang selektif tysmanniana, Shorea uliginosa)
b. Masih banyak Ramin (Gonystylus bancanus)
dijumpai pohon Punak (Tetramerista glabra )
c. Penutupan vegetasi Balam (Palaquium rostratum )
masih tinggi Medang (Litsea calophyllantha )
d. Telah kehilangan Kempas (Koompassia malaccensis)
jenis tanaman Rotan ( Calamus spp )
komersil (bernilai Gemor (Alseodhapne helophylla)
tinggi)
Jenis tanaman semusim yang cocok untuk kawasan bergambut antara
lain:
- 52 -

a. Jahe-jaheaan (Zingiberaceae)
b. Lidah buaya (Aloevera)
Jenis tanaman perdu yang dapat ditanam di sela-sela tanaman pokok dan
cocok di kawasan bergambut antara lain tanaman jarak (Jantropha sp.).
Sedangkan jenis tanaman eksotis yang dapat dikembangkan di kawasan
bergambut antara lain :
a. Akasia (Acacia crassicarpa)
b. Ekaliptus (Eucalyptus spp.)
c. Melina (Gmelina sp.)
3. Jadwal kegiatan
Pengaturan jadwal kegiatan rehabilitasi perlu dilakukan secara baik
karena kegiatan rehabilitasi memiliki variasi waktu ideal yang berlainan,
misalnya penanaman pada musim hujan dan pembuatan gundukan
piringan tanam di musim kemarau.
4. Persiapan Pelaksana Penanaman
Sumberdaya Manusia memegang peranan yang sangat penting dalam
kegiatan rehabilitasi sehingga perlu dipersiapkan. Persiapan SDM tidak
hanya penyiapan tenaga kerja dalam jumlah tertentu melainkan juga
pembekalan keterampilan yang memadai sehingga kegiatannya dapat
berupa penyiapan kelembagaan yaitu prakondisi terhadap masyarakat
setempat yang akan terlibat dalam kegiatan rehabilitasi berupa
penyuluhan, pembentukan kelompok tani dan pendampingan.
5. Persiapan bibit
Penyediaan bibit untuk keperluan rehabilitasi rawa gambut dapat
dilakukan dengan pembuatan atau melalui pengadaan bibit.
Untuk menjamin agar pelaksanaan penyediaan bibit berjalan efektif dan
efisien, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Penentuan kebutuhan bibit sesuai rancangan meliputi lokasi
persemaian, jenis, jumlah dan persyaratan bibit, baik untuk kegiatan
penanaman, penyulaman tahun berjalan, maupun untuk penyulaman
pemeliharaan I.
b. Penyusunan tahapan dan jadwal kegiatan penyediaan bibit dengan
memperhatikan waktu tanam di lapangan.
c. Pelaksanaan penyediaan bibit dapat dilakukan melalui : pembuatan
bibit dan/atau pengadaan bibit oleh pihak ketiga/perusahaan pengada
bibit.
- 53 -

d. Untuk memperoleh mutu bibit yang baik dan mengurangi resiko


kerusakan bibit ke lokasi penanaman, diperlukan tempat pengumpulan
sementara di areal tanam yang sesuai kriteria dan standar mutu.

6. Penataan areal tanam


Kegiatan penataan areal tanam perlu dilakukan karena adanya perilaku
genangan air yang sulit diprediksi dan sering menjadi permasalahan serius
bagi tanaman muda/bibit yang baru ditanam.
Pada persiapan areal tanam beberapa kegiatan yang dilakukan meliputi:
a. Pembuatan batas areal penanaman.
Pembuatan batas areal penanaman sebagaimana tertuang pada BAB IV.
Huruf C.
b. Pengaturan drainase
Keberhasilan rehabilitasi di kawasan bergambut juga ditentukan oleh
fluktuasi muka air tanah gambut. Hal ini memerlukan pengaturan
drainase (water management) pada luasan areal tanam yang dimaksud.
Adapun jenis kegiatan pengaturan drainase dapat berupa 1) pembuatan
parit dengan dimensi tertentu 2) pembuatan kolam air (beje), dan 3)
pembangunan tabat/tebat dalam rangka pengaturan laju drainase
(canal blocking). Fungsi lain dari parit, kolam air dan tabat tersebut
dapat digunakan sebagai tempat berkembang biaknya ikan lokal
ekosistem air hitam, baik berkembang biak secara alami maupun
budidaya.
Visualisasi posisi tabat secara melintang dan posisi dilihat dari atas
terhadap sebaran areal yang akan direhabilitasi disajikan pada Gambar
8 dan 9 di bawah ini.

Gambar 8. Letak dan posisi tabat secara melintang


- 54 -

Gambar 9. Letak dan posisi tabat terhadap areal yang akan


direhabilitasi

Posisi kolam air (beje) divisualisasikan pada Gambar 10 di bawah ini


yang disesuaikan dengan komposisi dan posisi areal penanaman.

Hutan Gambut

Lahan Gambut

Beje/kolam

Tabat/Dam
Saluran/

kanal Beje/kolam
Lahan Gambut

Tabat/Dam Pemukiman

Sungai

Gambar 10. Letak dan posisi kolam air (beje) terhadap areal penanaman

Bentuk bangunan tabat dapat berupa tabat papan satu lapis atau tabat
isi. Tabat papan satu lapis hanya terdiri dari satu lapis penahan arus
air yang terbuat dari susunan papan/balok kayu atau terbuat dari
plastik. Sedangkan tabat isi dibuat dari dua lapis papan penahan arus
air yang diantara papan tersebut dapat diisi dengan media berupa
tanah gambut, tanah mineral, atau campuran tanah gambut dan
mineral. Permukaan atas media antara pada tabat isi dapat digunakan
sebagai sarana transportasi atau sarana media tanam bagi vegetasi
tertentu. Pada masing-masing jenis bangunan tabat tersebut dibuat
lubang/rongga tempat aliran limpasan/luapan (spillway) sehingga
kontinyuitas aliran dari atas tetap terjaga dan daya dorong aliran air
dapat terukur. Bentuk bangunan tabat disajikan pada Gambar 11, 12,
dan 13.
- 55 -

Gambar 11. Bangunan tabat satu lapis terbuat dari papan/balok kayu
(tampak depan)

Balok penguat
(tegak)
spillway
Papan
plastik

Balok penguat
(melintang)

Tampak Depan

Gambar 12. Bangunan tabat satu lapis terbuat dari papan plastik tebal
(tampak depan)
- 56 -

Gambar 13. Bangunan tabat isi (a) tampak samping (b) tampak depan

Perencanaan pengaturan drainase tersebut dilakukan dengan seksama


dikarenakan sifat lahan gambut yang kering tidak balik (irreversible
drying) dan gejala penurunan lapisan gambut (subsidence). Kegiatan
pengaturan drainase tersebut masuk dalam ranah kegiatan sipil teknis
yang secara detil terdapat pada manual rehabilitasi hutan dan lahan
kawasan bergambut.
c. Pembuatan jalan pemeriksaan
Jalan pemeriksaan dibuat di antara blok satu dengan lainnya. Jalan
pemeriksaan selain dimanfaatkan untuk pemeriksaan juga sekaligus
untuk jalan pengangkutan alat dan bahan-bahan yang diperlukan.
Teknik pembuatannya mengikuti ketentuan pembuatan jalan yang
berlaku dengan ukuran menyesuaikan kondisi lapangan.
d. Pembuatan jalur tanam
Pembuatan jalur tanaman dimulai dengan penentuan arah larikan
tanaman sesuai pola tanam yang telah dirancang pada lokasi dan areal
- 57 -

tanam yang bersangkutan. Selanjutnya penentuan jarak tanam juga


disesuaikan kondisi areal.
e. Pemasangan ajir
Pemasangan ajir sesuai jarak tanam yang ditentukan, dipasang tegak
lurus dan kuat pada areal tanam.
f. Pembuatan gundukan
Pada areal tanam yang kondisi penggenangan ringan pembuatan
gundukan tidak merupakan keharusan. Namun pada areal tanam yang
kondisi penggenangannya sedang dan berat maka perlu dibuat
gundukan pada titik tanam.
Pembuatan gundukan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau/
kering sehingga pengambilan material gambut menjadi lebih mudah.
Waktu yang ideal adalah T-2 atau T-3 bulan sebelum penanaman
dengan maksud agar gundukan dapat menjadi kompak dan kuat di
musim penghujan. Gundukan tidak boleh terlalu rendah sebab bibit
dapat tergenang air saat musim hujan dan jangan terlalu tinggi sebab
bibit dapat kekurangan air pada musim kemarau. Untuk itu perlu
dipelajari terlebih dahulu fluktuasi dan rata-rata tinggi muka air tanah
di lokasi rehabilitasi. Tinggi gundukan dibuat lebih tinggi dari batas
genangan terendah. Selanjutnya karena sifat tanah gambut yang remah
maka disekeliling gundukan perlu dibuat pembatas/penahan agar
gundukan tidak mudah longsor atau terkikis saat terjadi banjir.
Pembatas dapat berupa potongan cabang, batang atau material lain
yang terdapat di areal tanam.
g. Penyiapan titik bagi bibit sebagai tempat pengumpulan sementara
sebelum bibit di tanam (di masing-masing areal penanaman).
7. Pengangkutan Bibit
Alat pengangkutan bibit dapat berupa : truk, lori, perahu atau alat
transport lainnya. Persiapan yang matang akan mampu menjamin
ketersediaan alat angkut dalam jumlah yang cukup sesuai kondisi jalan
atau parit, titik bagi bibit dan jumlah bibit yang akan diangkut.
8. Penanaman
Penaman dilakukan pada awal musim hujan. Sebaiknya bibit ditanam
pada pagi atau sore hari untuk mereduksi tingkat stres bibit akibat sinar
matahari.
Beberapa alternatif pola tanaman yang dapat diterapkan yakni :
a. penanaman intensif/merata pada areal yang terbuka,
- 58 -

b. penanaman jalur atau pengayaan pada areal yang penutupan


vegetasinya sedang atau rapat.
Tahapan pekerjaan pada penanaman sebagai berikut.
a. Pembersihan piringan tanam atau gundukan dan pembuatan lubang
tanam.
Kegiatan pembersihan piringan tanam atau gundukan dan pembuatan
lubang tanam dilakukan pada saat akan menanam bibit dimaksudkan
untuk menghilangkan gulma pada gundukan atau titik tanam.
Sedangkan lubang tanam dibuat disesuaikan dengan ukuran bibit yang
akan ditanam.
b. Penyiraman lubang tanam.
Bibit akan mengalami stres bila akarnya langsung menyentuh tanah
yang panas. Karenanya apabila cukup tersedia air di areal tanam maka
dapat terlebih dahulu dilakukan penyiraman air secukupnya ke lubang
tanam.
c. Penanaman bibit.
Kegiatan ini dilakukan dengan cara memasukkan bibit ke lubang
tanam. Perhatikan agar batang bibit tidak terbenam karena lubang
tanam terlalu dalam atau terdapatnya bagian akar yang tidak tertimbun
karena lubang terlalu dangkal. Lubang yang telah ditanami bibit
kemudian ditutup material tanah bekas galian, upayakan bibit tegak
dan tidak goyang. Tinggi bibit harus lebih tinggi dari genangan tertinggi
baik ditanamn sendiri maupun dengan gundukan.
9. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pemeliharaan tanaman meliputi : penyiangan, penyulaman dan
pengendalian hama dan penyakit. Pemeliharaan tanaman dilakukan
sebagaimana terurai pada BAB IV. Huruf C.
Dalam pengendalian hama, Jenis hama yang sering ditemui di lahan dan
hutan gambut adalah : babi hutan dan rayap (Macrotermes gilvus). Untuk
mengatasi serangan babi hutan dapat dilakukan dengan cara
membersihkan semak belukar di sekitar areal lokasi tanam yang
merupakan habitatnya. Apabila serangan hama babi tidak dapat dielakkan
maka dilakukan upaya penyetruman, peracunan atau perburuan masal.
Untuk mengantisipasi gangguan rayap disarankan untuk melakukan
pembuatan lubang tanam 2-3 hari sebelum bibit ditanam dimaksudkan
agar rayap yang terganggu karena pembuatan lubang tanam akan mencari
- 59 -

tempat baru bagi koloninya. Pada kondisi gangguan yang ekstrim dapat
digunakan insektisida secara hati-hati dan terbatas.
10. Perlindungan tanaman
Bahaya yang selalu mengancam pada kawasan bergambut yang telah
terbuka adalah kebakaran hutan dan lahan (forest fire). Sifat api yang
dapat tersimpan cukup lama (latent) dan cenderung merambat melalui
lapisan bawah gambut, merupakan ancaman yang sulit diantisipasi dan
dikendalikan.
Namun demikian perlakuan yang selama ini ditempuh adalah :
a. Membuat parit-parit dan kanal saluran sebagai sekat bakar yang cukup
efektif untuk meredam laju rambatan api di bawah permukaan
b. Membuat kolam air (beje) yang digunakan sebagai cadangan air tatkala
kebakaran hutan dan lahan terjadi
c. Pemilihan jenis tanaman lain tahan terhadap api yang ditanam pada
sekitar blok maupun petak tanam. Jenis tanaman tahan api tersebut
antara lain 1) pohon pisang 2) pohon pinang, dan 3) pohon pepaya
d. Pemadaman manual yang dilakukan oleh kelompok masyarakat
setempat, baik secara swadaya maupun ada insentif dari pemerintah
setempat
11. Standar hasil kegiatan
Jumlah tanaman hasil penanaman RHL pada kawasan bergambut pada
akhir tahun ketiga baik tanaman asal maupun tanaman baru paling
sedikit 600 (enam ratus) batang/hektar.
Dalam hal jumlah tanaman tersebut telah tercapai maka tidak dilakukan
pemeliharaan lanjutan.
C. Rehabilitasi Kawasan Bergambut Pola Khusus
Rehabilitasi kawasan bergambut dengan kondisi biofisik atau sosial, ekonomi,
budaya dan atau kepentingan diseminasi teknologi rehabilitasi dapat
dilaksanakan dengan pola khusus yang diatur dengan manual tersendiri.
- 60 -

BAB VIII
KONSERVASI TANAH DAN AIR
A. Umum
Kegiatan konservasi tanah dan air bertujuan untuk melindungi permukaan
tanah dari pukulan air hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah,
mencegah terjadinya konsentrasi aliran permukaan, mengoptimalkan fungsi
tanah dan meningkatkan daya dukung DAS.
B. Teknik Konservasi Tanah dan Air
Teknik konservasi tanah dan air yang sering dilakukan dalam kegiatan
Rehabilitasi Hutan dan Lahan adalah:
1. Dam Pengendali (DPi)
a. Tujuan
Tujuan pembangunan DPi yaitu :
1) Mengendalikan endapan sedimen dan aliran air permukaan yang
berasal dari daerah tangkapan air dibagian hulunya.
2) Menaikkan permukaan air tanah sekitarnya.
3) Tempat persediaan air bagi masyarakat (rumah tangga, irigasi,
ternak dan lain-lain).
b. Sasaran Lokasi
Secara teknis persyaratan site lokasi Dam Pengendali adalah sebagai
berikut:
1) LMU Prioritas I dan II dan/atau dalam RP-RHL;
2) dapat diluar Prioritas I dan II dengan syarat lokasinya mampu
menampung sedimen dan aliran permukaan yang besar;
3) luas DTA 50 - 250 ha;
4) struktur tanah stabil (badan bendung);
5) kemiringan rata-rata daerah tangkapan 15 - 35 %;
6) tinggi badan bendung maksimum 8 meter
7) kemiringan alur sungai <10%;
8) diutamakan pada ordo sungai 1 sampai dengan 3; dan
9) prioritas pengamanan bangunan vital.
- 61 -

Gambar 14. DPi Bentuk Lurus

Gambar 15. DPi Bentuk Busur


c. Mekanisme Pelaksanaan
1) perencanaan
a) analisis penetapan lokasi kegiatan DPi melalui desk analisis dan
survey calon lokasi (ground check).
b) pengukuran dan penentuan rencana lokasi DPi.
2) penyiapan tim pelaksana
a) penyiapan tim administrasi
b) penyiapan tim penyusun rancangan, tim pengawas, pendamping.
c) pelatihan tim penyusun rancangan, tim pengawas, pendamping.
3) penyusunan rancangan kegiatan oleh tim penyusun rancangan
a) unsur tim penyusun rancangan dapat terdiri dari Dinas
Kehutanan provinsi/KPH, PU Kabupaten/Kota dan ditetapkan
dengan Surat Keputusan (SK) Kepala BPDASHL.
- 62 -

b) rancangan disusun (Sun) oleh tim perancang, dinilai (Lai) oleh


Kepala Seksi Program BPDASHL, dan disahkan (Sah) oleh Kepala
BPDASHL.
4) persiapan
a) penyiapan kelembagaan
(1) pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka
sosialisasi rencana pelaksanaan pembuatan dam pengendali.
(2) pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.
b) penyiapan ganti rugi lahan
Lahan yang terpakai untuk badan bendung, saluran air,
bangunan pelimpah, jalan dan sarana yang lain dapat diganti rugi
sepanjang anggaran tersedia.
c) pengadaan sarana dan prasarana
Pengadaan peralatan/sarpras diutamakan untuk jenis peralatan
dan bahan habis pakai, yang bertujuan untuk memperlancar
pelaksanaan pekerjaan di lapangan, antara lain :
(1) pembuatan jalan masuk.
(2) pembuatan gubuk kerja, gubuk material dan papan nama.
5) persiapan lapangan
a) pembersihan lapangan
b) pengukuran kembali
c) pemasangan patok batas
6) pelaksanaan pembuatan
a) pembuatan profil bendungan
b) pengupasan, penggalian dan pondasi bangunan
c) pembuatan saluran pengelak
d) pembuatan/pemadatan badan bendung
e) pembuatan saluran pengambilan dan pintu air
f) pembuatan bangunan pelimpah (spillway)
g) pembuatan bangunan lain untuk sarana pengelolaan: jalan
inspeksi
h) pemasangan gebalan rumput
7) pemeliharaan
Pemeliharaan bangunan DPi meliputi :
a) pemeliharaan badan bendung dan saluran pelimpah serta
saluran pembagi
b) perbaikan gebalan rumput
- 63 -

8) organisasi pelaksana
Pelaksana dalam pembuatan DPi yaitu kelompok masyarakat atau
pihak ketiga didampingi penyuluh lapangan kehutanan atau petugas
teknis di bawah koordinasi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD)
provinsi.
9) jadwal kegiatan
Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan
yang tertuang dalam rancangan.
2. Dam Penahan (DPn)
a. Tujuan
Pembuatan DPn bertujuan untuk mengendalikan endapan/sedimentasi
dan aliran air permukaan (run off) dari daerah tangkapan air dibagian
hulu.
b. Sasaran Lokasi
Secara teknis kriteria site lokasi DPn adalah sebagai berikut:
1) LMU Prioritas I dan II atau dalam RP-RHL;
2) Luas DTA 10-30 ha;
3) Kemiringan alur 15-35 %;
4) tinggi maksimum 4 meter;
5) Kemiringan rata-rata daerah tangkapan 15-35%;
6) Diutamakan pada ordo sungai 1 sampai dengan 3.
7) Untuk DPn yang dibuat secara seri, persyaratan luas DTA mengikuti
kondisi di lapangan.

Gambar 16. DPn dengan Batu Bronjong


- 64 -

Gambar 17. DPn Batu Bronjong dengan Sayap

Gambar 18. Dam Penahan dengan konstruksi kayu/bambu

Gambar 19.Dam Penahan dengan konstruksi anyaman ranting,


kayu/bambu
c. Mekanisme Pelaksanaan
1) perencanaan
a) analisis penetapan lokasi kegiatan DPn melalui desk analisis dan
survey calon lokasi (ground check).
b) pengukuran dan penentuan rencana lokasi DPn.
2) penyiapan tim pelaksana
a) penyiapan Tim Administrasi
- 65 -

b) penyiapan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.


c) pelatihan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.
3) penyusunan rancangan kegiatan oleh Tim Penyusun Rancangan
a) tim penyusun rancangan dapat terdiri dari unsur Dinas
Kehutanan provinsi/kabupaten/kota, PU kabupaten/kota, dan
ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala BPDASHL.
b) rancangan disusun (Sun) oleh Tim Perancang, dinilai (Lai) oleh
Kepala Seksi Program BPDASHL, dan di sahkan (Sah) oleh Kepala
BPDASHL.
4) persiapan
a) penyiapan Kelembagaan
b) pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka
sosialisasi.
c) pembentukan organisasi dan penyusunan rencana kerja.
5) pengadaan sarana dan prasarana
Pengadaan sarana dan prasaranan (sarpras) diutamakan untuk jenis
peralatan dan bahan habis pakai. Pelaksanaan pekerjaan di
lapangan antara lain :
a) pembuatan jalan masuk
b) pembuatan gubuk kerja/gubuk material dan papan nama
6) persiapan lapangan
a) pembersihan lapangan
b) pengukuran kembali
c) pemasangan patok batas
7) pelaksanaan pembuatan
a) pemasangan profil bangunan
b) penggalian pondasi bangunan
c) penganyaman/pembuatan bronjong
d) pemasangan bronjong
e) pengisian bronjong
f) pengikatan bronjong
8) pemeliharaan
Pemeliharaan bangunan dam penahan meliputi :
a) pembersihan seresah
b) pemeliharaan bronjong
9) organisasi pelaksana
- 66 -

Pelaksana pembuatan dam penahan yaitu kelompok masyarakat


atau pihak ketiga didampingi Petugas Lapangan Kehutanan atau
petugas teknis dibawah koordinasi Dinas provinsi/kabupaten/kota.
10) jadwal kegiatan
Tahapan pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang
tertuang dalam rancangan.
3. Pengendali Jurang (gully plug)
Gully Plug (GP) adalah upaya teknik konservasi tanah untuk mencegah/
mengendalikan erosi jurang agar tidak meluas dan berkembang sehingga
merusak lingkungan sekitarnya. Comment [M1]: Tidak ada di
pengertian
a. Tujuan
Pembangunan gully plug bertujuan untuk memperbaiki lahan yang
rusak berupa jurang/parit akibat gerusan air guna mencegah terjadinya
jurang/parit yang semakin besar.
b. Sasaran Lokasi
Secara teknis kriteria site lokasi gully plug sebagai berikut:
1) LMU Prioritas I dan II dan/atau dalam RP-RHL;
2) kemiringan DTA > 35 % dan terjadi erosi parit/alur;
3) pengelolaan lahan sangat intensif atau lahan terbuka;
4) kemiringan alur maksimal 10%;
5) luas DTA 3 5 ha;
6) diutamakan pada ordo sungai 1 sampai dengan 2.
c. Mekanisme Pelaksanaan
1) perencanaan
a) analisis penetapan lokasi kegiatan GP melalui desk analisis dan
survey calon lokasi (groundcheck).
b) pengukuran dan penentuan rencana lokasi GP.
2) penyiapan tim pelaksana
a) penyiapan Tim Administrasi
b) penyiapan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.
c) pelatihan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.
3) penyusunan rancangan kegiatan oleh Tim Penyusun Rancangan
a) tim penyusun rancangan dapat terdiri dari unsur Dinas
Kehutanan provinsi/kabupaten/kota, PU kabupaten/kota dan
ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala BPDASHL.
b) rancangan disusun oleh Tim Perancang, dinilai oleh Kepala Seksi
Program BPDASHL, dan di sahkan oleh Kepala BPDASHL.
- 67 -

4) persiapan
a) penyiapan kelembagaan
b) pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka
sosialisasi
c) pembentukan organisasi dan penyusunan rencana kerja
5) pengadaan sarana dan prasarana
Pengadaan peralatan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan
bahan yang habis pakai. Pembuatan sarana dan prasarana
pelaksanaan pekerjaan di lapangan yaitu:
a) pembuatan jalan masuk
b) pembuatan gubuk kerja/gubuk material dan papan nama
6) penataan areal kerja
a) pembersihan lapangan
b) pengukuran kembali
c) pemasangan patok
d) pembuatan profil lapangan
7) pembuatan
a) stabilisasi ujung jurang dilakukan melalui :
(1) pembuatan teras-teras dan bangunan terjunan air
(2) pelandaian lereng
(3) pembuatan saluran diversi mengelilingi bagian atas
b) stabilisasi tebing jurang dilakukan melalui :
(1) pelandaian lereng/tebing
(2) penguatan lereng/tebing
c) stabilisasi dasar jurang terhadap bangunan pengendali lolos air
dan bangunan pengendali tidak lolos air
d) pembuatan bangunan pengendali jurang
8) Pemeliharaan.
Pemeliharaan bangunan pengendali jurang meliputi :
a) Pemeliharaan bangunan terjunan dan teras
b) Pemeliharaan saluran diversi
9) organisasi pelaksana
Sebagai pelaksana pembuatan pengendali jurang adalah kelompok
masyarakat, yang didampingi Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL)
atau petugas teknis pada satuan kerja Dinas provinsi/kabupaten/
kota.
- 68 -

10) tahapan dan jadwal kegiatan


Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan
yang tertuang dalam rancangan.

Gambar 20. Pengendali jurang dengan bronjong


4. Embung Air
a. Tujuan
Pembangunan embung air ditujukan untuk :
1) menampung dan mengalirkan air pada kolam penampung.
2) cadangan persediaan air untuk berbagai kebutuhan pada musim
kemarau.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi embung air adalah hutan dan lahan yang termasuk
dalam LMU Terpilih, diutamakan pada Daerah kritis dan kekurangan
air (defisit), RHL Prioritas I dan II serta morfologi DAS bagian hulu dan
tengah dan atau telah ditetapkan dalam RP-RHL.
Secara teknis kriteria site lokasi embung air adalah sebagai berikut:
1) topografi bergelombang dengan kemiringan <30%
2) air tanah sangat dalam
3) diutamakan tanah liat berlempung atau lempung berdebu
4) pembangunan embung air diprioritaskan di dekat lokasi pemukiman
dan lahan pertanian/perkebunan.
5) lokasi embung dapat dibangun pada hutan dan lahan yang rawan
kebakaran dan kekeringan.
Keputusan untuk menetapkan lokasi pembuatan embung dengan
memperhatikan alur proses sebagai berikut :
- 69 -

Dalam > 30 m Pompa air tanah dalam

Air tanah Dangkal < 30 m Pompa sumur pantek

Tekstur ringan Drum dan bak


Permeabel Penampung
Tidak ada

Tekstur liat/ Embung Air


Tidak permeabel

Gambar 19. Alur proses pengambilan keputusan untuk pembuatan


embung air
c. Mekanisme Pelaksanaan
1) persiapan
Penyiapan acuan dan kelembagaan :
a) mempelajari rancangan embung yang telah disahkan,
b) pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka
sosialisasi
c) pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.
2) pengadaan dan pembuatan sarana dan prasarana
Pengadaan peralatan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan
bahan yang habis pakai, yang bertujuan untuk memperlancar
pelaksanaan pekerjaan antara lain :
a) pembuatan jalan masuk
b) pembuatan gubuk kerja/gubuk material
3) penataan areal kerja
a) pembersihan lapangan
b) pengukuran kembali
c) pemasangan patok /profil
d. Pelaksanaan Pembuatan
1) penggalian tanah (kemiringan galian 100%, kedalaman 2,5 - 3 m).
2) pembuatan saluran pelimpah dan saluran pembagi air
3) pemadatan/pelapisan badan embung air dengan tanah liat, batu
kapur, plastik atau dengan pasangan batu
- 70 -

4) pemasangan gebalan rumput


e. Pemeliharaan
1) pemeliharaan gebalan rumput
2) perbaikan/pemadatan dinding embung air
3) pengerukan lumpur
f. Organisasi Pelaksana
Sebagai pelaksana pembuatan embung adalah kelompok masyarakat
setempat di bawah koordinasi Dinas Kabupaten/Kota.
g. Jadwal Kegiatan
Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang
tertuang dalam rancangan.

Gambar 23. Embung Air


5. Sumur Resapan Air (SRA)
Sumur resapan air adalah salah satu bentuk rekayasa teknik konservasi
air berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai
bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai
tempat menampung air hujan yang jatuh di atas atap rumah atau kedap
air dan meresapkannya kembali ke dalam tanah. Comment [M2]: Tidak ada di
pengertian
a. Tujuan
Tujuan pembangunan SRA untuk mengurangi aliran permukaan dan
meningkatkan air tanah sebagai upaya untuk mengembalikan dan
mengoptimalkan fungsi sistem tata air Daerah Aliran Sungai (DAS)
sesuai dengan kapasitasnya.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi sumur resapan air yaitu :
1) daerah pemukiman padat penduduk dengan curah hujan tinggi;
2) aliran permukaan (run off) tinggi;
3) vegetasi penutup tanah <30 % ;
- 71 -

4) struktur tanah yang dapat digunakan harus mempunyai nilai


permebilitas tanah 2,0 cm/jam;
5) kedalaman air tanah minimum 1,50 m pada musim hujan;
6) diutamakan pada morfologi hulu dan tengah DAS; dan
7) jarak penempatan SRA terhadap bangunan adalah:
a) terhadap sumur air bersih 10 meter.
b) terhadap septic tank 10 meter.
c) terhadap pondasi bangunan 1 meter.
c. Gambar Teknis SRA
1) Tipe Pasangan Batu Bata Merah
a) Tipe Terbuka

Gambar 24. Gambar konstruksi pembuatan SRA tipe terbuka


b) Tipe Tertutup

Gambar 25. Gambar konstruksi pembuatan SRA tipe tertutup


- 72 -

2) Tipe Buis Beton

Gambar 26. Gambar konstruksi pembuatan SRA tipe buis beton


d. Mekanisme Pelaksanaan
1) perencanaan
a) analisis penetapan lokasi kegiatan SRA melalui desk analisis dan
survey calon lokasi (groundcheck).
b) pengukuran dan penentuan rencana lokasi SRA.
2) penyiapan tim pelaksana
a) penyiapan Tim Administrasi
b) penyiapan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.
c) pelatihan Tim Penyusun Rancangan, Tim Pengawas, Pendamping.
3) penyusunan rancangan kegiatan oleh Tim Penyusun Rancangan
a) tim penyusun rancangan dapat terdiri dari unsur Dinas
Kehutanan provinsi/kabupaten/kota, PU kabupaten/kota, dan
ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala BPDASHL.
b) rancangan disusun (Sun) oleh Tim Perancang, dinilai (Lai) oleh
Kepala Seksi Program BPDASHL, dan di sahkan (Sah) oleh Kepala
BPDASHL.
4) persiapan penyiapan kelembagaan
a) pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka
sosialisasi.
b) pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.
c) pelatihan pelaksana.
5) pembuatan sarana dan prasarana
- 73 -

Pengadaan peralataan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan


dan bahan yang habis pakai.
6) penataan areal kerja
a) penentuan letak sumur.
b) pembersihan lokasi sumur.
c) pemasangan patok.
e. Pelaksanaan Pembuatan
1) penggalian tanah
2) pemasangan dinding sumur.
3) pembuatan saluran air.
4) pembuatan bak kontrol.
5) pemasangan talang air disesuaikan dengan kebutuhan.
6) pembuatan saluran pelimpasan.
f. Pemeliharaan
Pemeliharaan bangunan sumur resapan air meliputi :
1) pembersihan pipa saluran air/talang air, bak kontrol dan saluran
pelimpas
2) pengerukan lumpur
g. Organisasi pelaksana
Pelaksanaan pembuatan SRA dapat dilaksanakan dengan pola
kontraktual maupun swakelola dengan mempertimbangkan kondisi
sosial budaya lokasi pelaksanaan kegiatan, apabila dikerjakan secara
swakelola maka harus didampingi oleh tenaga pendamping yang
menguasai pekerjaan sipil teknis atau Penyuluh Kehutanan Lapangan
(PKL).
h. Jadwal Kegiatan
Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang
tertuang dalam rancangan.
6. Rorak
a. Maksud dan Tujuan
Maksud pembuatan rorak merupakan upaya konservasi air dengan
menampung air dan meresapkannya ke dalam tanah sehingga
mengurangi aliran permukaan dan menampung sedimen/endapan
akibat proses erosi.
Tujuan pembuatan rorak adalah yaitu :
1) mengurangi aliran air permukaan.
- 74 -

2) meningkatkan proses pengendapan sedimen agar tidak terbawa


aliran air permukaan ke daerah di bawahnya.
3) menghasilkan kompos bila dikombinasikan dengan mulsa.
4) meningkatkan air tanah.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi rorak adalah lahan yang termasuk dalam LMU Terpilih,
diutamakan pada RHL Prioritas I dan II serta morfologi DAS bagian
hulu dan tengah atau telah ditetapkan dalam RP RHL.
Secara teknis kriteria site lokasi rorak yaitu:
1) Daerah/lokasi ini mempunyai aliran permukaan dan tingkat
sedimennya tinggi (lahan pertanian, pekarangan, perkebunan,
hutan, tepi jalan)
2) Kelerengan antara 8% - 25%.
c. Mekanisme pelaksanaan
1) Persiapan Lapangan meliputi :
1) penyiapan rancangan teknis.
2) Penyiapan lahan.
3) pengukuran kembali.
4) pematokan tanda letak rorak.
5) pengadaan bahan dan alat.
d. Pembuatan Rorak
1) Rorak-rorak dibuat di antara tanaman pokok (tanaman
semusim/tahunan/keras).
2) Bentuk rorak dapat berupa lubang-lubang biasa (dangkal atau
dalam) atau berupa saluran buntu (saluran memanjang tetapi tidak
dihubungkan dengan saluran lain atau saluran pembuangan air).
3) Ukuran rorak (lebar dan dalamnya) disesuaikan dengan curah
hujan, jenis tanaman dan keperluannya.
4) Rorak/saluran buntu yang sangat banyak berfungsi juga seperti
sumur peresapan.
e. Pemeliharaan
Memindahkan endapan/sedimentasi tanah pada rorak kebidang
olah/teras dan gulud.
f. Organisasi Pelaksana
Sebagai pelaksana pembuatan rorak adalah kelompok masyarakat
didampingi penyuluh kehutanan lapangan (PKL) setempat atau petugas
teknis dibawah koordinasi Dinas Kabupaten/Kota.
- 75 -

Gambar 22. Rorak (saluran buntu)

7. Strip Rumput
a. Tujuan
Tujuan pelaksanaan pola penanaman dengan strip rumput (grass
barrier) yaitu untuk memperlambat aliran permukaan dan menahan
tanah/endapan yang tererosi/terbawa aliran sehingga mengurangi laju
erosi, menyediakan pakan ternak dari hasil pemangkasan rumput serta
terbentuknya teras alami karena tanah yang terhanyut ditahan oleh
strip rumput di bawahnya.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi strip rumput merupakan lahan yang termasuk dalam
LMU Terpilih, diutamakan pada RHL Prioritas I dan II serta morfologi
DAS bagian tengah dan hilir dengan kemiringan (8 25) % dan atau
telah ditetapkan dalam RP RHL, kondisi tanah miskin unsur hara dan
lahan usaha yang secara intensif diusahakan oleh masyarakat.
c. Mekanisme Pelaksanaan
1) Persiapan lapangan
a) penyiapan rancangan teknis
b) pengukuran kembali
c) pematokan tanda letak larikan rumput
d) pengolahan/penggemburan tanah
e) pengadaan bahan dan alat
2) Pembuatan strip rumput
a) penanaman rumput searah kontur
b) pembuatan selokan teras/saluran di bagian atas strip rumput.
d. Pemeliharaan
- 76 -

Kegiatan pemeliharaan berupa pemupukan, penyulaman tanaman,


pendangiran, penyemprotan hama dan penyakit serta pembersihan
saluran air.
e. Organisasi pelaksana
Pelaksana pembuatan strip rumput adalah kelompok masyarakat
didampingi penyuluh kehutanan lapangan (PKL) dan atau petugas
teknis dibawah koordinasi Dinas Kabupaten/Kota.
f. Tahapan dan Jadwal Kegiatan
Tahapan dalam pelaksanaan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang
tertuang dalam rancangan.

Gambar 23. Strip rumput

Tabel 5. Jenis Dan Manfaat Rumput-Rumputan Dalam Rangka Usaha


Konservasi Tanah
No Jenis Manfaat Ciri-ciri dan Syarat
Tumbuh
1 Rumput Gajah a. Sebagai penutup a. Berumur panjang (6
(Pennisetum tanah th produktif)
purpureum) b.Rumput potong. b. Tumbuh baik pada
daerah curah hujan
> 1000 mm
c. Ditanam disela-sela
tanaman pokok.
d. Penanaman
menggunakan stek
- 77 -

No Jenis Manfaat Ciri-ciri dan Syarat


Tumbuh
atau sobekan
rumpun tua.
2 Rumput Benggala a. Sebagai penutup a. Bentuk mirip
(Pannincum tanah tanaman padi
maximum) b.Rumput potong b. Tumbuh baik di
dataran rendah
dengan curah
hujan 100-875 mm.
3 Rumput Mexico Rumput potong a. Berdaun lebar mirip
(Euchlaena tanaman jagung.
maxicana) b. Tumbuh baik
didataran rendah
(0-1200 dpl), curah
hujan 2000 mm.
c. Pertumbuhan
lambat jika curah
hujan rendah.
4 Rumput Bede a. Sebagai penutup a. Menjalar
(Brachiaria tanah. membentuk stolon.
decumbens) b.Rumput potong b. Daya adaptasi
c. Penggembalaan rendah
jika c. Dapat hidup
dipertahankan didaerah berlereng
tetap pendek. terjal dan tanah
miskin serta tahan
injakan.
d. Dapat ditanam ber
sama-sama legume
jarak tanam 40x40
cm.
5 Rumput a. Sebagai penutup a. Berumpun, daun
Lampung tanah lunak dan akar
(Setaria b.Rumput potong berbulu
sphacelata) c. Penggembalaan b. Tumbuh pd daerah
- 78 -

No Jenis Manfaat Ciri-ciri dan Syarat


Tumbuh
ketinggian 200-
3000 m dgn curah
hujan 760 mm atau
lebih.
c. Dapat ditanam
bersama dengan
Legume, Siratro,
Desmodium dan
lain-lain
6 Rumput Makari- a. Sebagai penutup a. Berumpun tapi tak
kari tanah selebat Setaria
(Pannicum b. Rumput potong sphacelata atau
coloratum) c. Penggembalaan Pannicum maximum
b. Tumbuh pada
tanah struktur
berat, tidak
tergenang, dgn
curah hujan 500-
760 mm atau lebih.
c. Dapat ditanam
bersama dengan
Legume, Siratro,
Desmodium dan
lain-lain
7 Rumput Sudan a. Rumput potong a. Berumur panjang,
(Sorghum b. Bahan silase membentuk
sudanense) (pengawetan rumpun.
hijauan pakan b. Daun lebat dan
ternak) dan hay kuat, halus dan
(rumput kering bagian tepi kasar.
sebagai pakan c. Tumbuh baik pada
ternak) ketinggian
0-1200 m dpl.
d. Tumbuh pada
- 79 -

No Jenis Manfaat Ciri-ciri dan Syarat


Tumbuh
curah hujan 500-
900 mm
e. Dapat ditanam
bersama
leguminosa
8 Rumput Sebagai pengendali a. Mempunyai sistem
vetiver/akar erosi/penutup akar berserabut
wangi (Vetiveria tanah. yang kuat dan
zizanioides) dalam.
b. Akarnya beraroma
wangi
c. Tahan terhadap
hama dan penyakit.
d. Penanaman
menggunakan stek
atau sobekan
rumpun yang tua.
9 Rumput Signal Penggembalaan a. Umur panjang ,
(Brachiaria Sebagai penutup tumbuh cepat
brizantha) tanah b. Batang dan daun
kaku serta kasar
c. Tahan injak dan
tahan kering
d. Responsive
terhadap
pemupukan
nitrogen
c. Hidup baik pada
ketinggian 0-1200
m
d. Curah hujan 1500
mm
10 Rumput Ruzi a. Penggembalaan a. Umur panjang,
(Brachiaria b. Rumput potong tumbuh vertical
- 80 -

No Jenis Manfaat Ciri-ciri dan Syarat


Tumbuh
ruziziensis) untuk bahan dan horizontal.
hay (rumput b. Batang menjalar
kering sebagai dan setiap buku
pakan ternak) stolon tumbuh
akar.
c. Daun lebar dan
halus
d. Tumbuh pada
ketinggian 0-1000
m
e. Curah hujan 1000
mm.
11 Rumput Para a. Penutup tanah a. Tanaman tahunan,
(Brachiaria b.Penggembalaan tumbuh menjalar.
mutica) ringan (domba, b. Setiap buku stolon
kambing) tumbuh akar dan
cabang, batang dan
daun berbulu.
c. Tahan genangan
air, tanah masam
dan tidak tahan
tanah asin.

12 Rumput Australia a. Penggembalaan a. Tumbuh tegak,


(Paspalum b.Rumput potong tinggi 60-150 cm.
dilatatum) c. Penutup tanah b. Tahan diinjak,
disukai ternak, gizi
tinggi.
c. Perakaran luas dan
dalam, tahan kering
d. Tumbuh pada
ketinggian 0-2000
m dengan curah
hujan 900-1200
- 81 -

No Jenis Manfaat Ciri-ciri dan Syarat


Tumbuh
mm
e. Dapat ditanam
bersama
leguminosa
13 Rumput Pangola a. Penggembalaan a. Pertumbuhan cepat
(Digitaria b. Rumput potong dan merayap,
decumbens) untuk bahan hay membentuk
(pakan ternak) hamparan.
c. Penutup tanah. b. Tumbuh ditempat
kering ataupun
tergenang
c. Tumbuh pada ke
tinggian 200-1500
m dan curah hujan
7501000 mm atau
lebih
d. Dapat ditanam
bersama
Legumenosa.
14 Rumput Rhodes a. Penggembalaan a. Umur panjang,
(Chloris gayana) b. Penutup tanah menjalar dan
berkembang dengan
stolon
b. Tahan terhadap
penggembalaan
berat dan disukai
ternak
c. Tahan keringtapi
tak tahan naungan.
d. Tumbuh pada
ketinggian 0-3000
m dengan curah
hujan 762 1300
mm
- 82 -

No Jenis Manfaat Ciri-ciri dan Syarat


Tumbuh
e. Dapat ditanam
bersama
leguminosa
15 African Star grass a. Penggembalaan a. Tumbuh tegak dan
(Cynodon b. Sebagai menjalar
plectostachyrus) pengendali membentuk
erosi/penutup hamparan
tanah b. Stolon rapat pada
tanah dan tumbuh
akar yang kuat
c. Tahan injak
d. Tumbuh pada
dataran rendah
dengan curah
hujan 500-800 mm

8. Perlindungan Kanan-Kiri Tebing Sungai


Yang dimaksud perlindungan kanan kiri/tebing sungai adalah penerapan
konservasi tanah baik secara vegetatif maupun sipil teknis di kanan
kiri/tebing sungai.
a. Tujuan
Pembuatan bangunan perlindungan kanan kiri/tebing sungai
bertujuan:
1) mencegah terjadinya longsor.
2) mencegah erosi masuk ke badan sungai.
3) menekan terjadinya banjir.
4) meningkatkan kualitas air sungai.
5) menekan terjadinya pendangkalan sungai.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi perlindungan kanan-kiri sungai merupakan hutan dan
lahan yang termasuk dalam LMU Terpilih, diutamakan pada RHL
Prioritas I dan II serta morfologi DAS bagian hulu dan tengah dan atau
telah ditetapkan dalam RP-RHL. Sungai yang kanan kiri/tebing
sungainya mudah longsor/erosi, bertebing curam, sempadan sungai
yang gundul dan curah hujan tinggi.
- 83 -

c. Mekanisme Pelaksanaan
1) Persiapan Lapangan
a) penyiapan rancangan teknis
b) pengukuran kembali.
c) pematokan tanda letak bangunan kanan kiri/tebing sungai.
d) pengadaan bahan dan alat.
e) pembuatan bangunan perlindungan kanan kiri/tebing sungai
melalui beberapa alternatif atau kombinasi alternatif berikut
sesuai kondisi lapangan.
2) Penanaman rumput, perdu dan pohon yang memiliki perakaran yang
dalam dan tajuk pohon yang rimbun.
3) Pemasangan trucuk bambu; dapat menggunakan potongan batang
bambu, maupun langsung menanami dengan bambu.
d. Pemeliharaan
1) penyulaman tanaman baik rumput, perdu maupun pohon yang tidak
tumbuh.
2) perbaikan terhadap trucuk apabila mengalami kerusakan.
e. Organisasi Pelaksana
Sebagai pelaksana pembuatan perlindungan kanan/kiri sungai adalah
kelompok masyarakat didampingi penyuluh kehutanan lapangan (PKL)
atau petugas teknis dibawah koordinasi Dinas Kabupaten/Kota.

Gambar 24. Bangunan Perlindungan Kanan Kiri/Tebing Sungai

9. Saluran Pembuangan Air (SPA) dan Bangunan Terjunan Air


a. Tujuan
Pembangunan SPA bertujuan untuk mengarahkan aliran air ke tempat
yang aman dari erosi jurang sekaligus meresapkan air ke dalam tanah,
- 84 -

sedangkan pembuatan bangunan terjunan air bertujuan agar air yang


jatuh pada SPA tidak menyebabkan erosi dan menimbulkan longsor.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi SPA dan bangunan terjunan air diutamakan pada lahan
yang termasuk dalam LMU Terpilih, berada pada RHL Prioritas I dan II
serta morfologi DAS bagian tengah dan hilir dengan tingkat kelerengan
cukup curam dan jenis tanah mudah tererosi dan longsor atau telah
ditetapkan dalam RP-RHL.
c. Mekanisme Pelaksanaan
1) Persiapan Lapangan
a) Persiapan pembuatan SPA yang diperlukan adalah :
(1) Penyiapan rancangan teknis
(2) Pemancangan patok induk tegak lurus kontur yang
merupakan as/poros SPA. Jarak maksimum antara dua patok
5 m.
(3) Pemancangan patok pembantu di kanan/kiri patok induk
untuk menggambarkan lebar atas SPA.
b) Persiapan pembuatan bangunan terjunan yang dilakukan adalah:
(1) Pemancangan patok-patok disepanjang SPA untuk
menentukan letak terjunan, jarak antara dua patok
disesuaikan dengan lebar bidang olah teras.
(2) Letak bangunan terjunan harus lebih ke dalam dari pada talud
teras dan pada tanah asli (bukan tanah urugan).
(3) Penggalian tanah menurut patok yang telah dipancang dengan
arah tegak lurus ke bawah sedalam 0,5-1,5 m diukur dari
bidang olah.
d. Pembuatan
1) Pembuatan bangunan SPA
a) penggalian tanah sesuai profil yang terbentuk dari patok-patok
pembantu sedalam minimal 50 cm dari bidang olah teras dan
lebar dasar 50 cm sesuai rancangan
b) dasar SPA pada teras bangku dibuat dengan kemiringan 0,1-0,5%
ke arah luar sehingga perbedaan tinggi dasar saluran yang
berjarak 5 m adalah 0,5-2,5 cm
c) setiap jarak 1 m sepanjang SPA ditanami gebalan rumput selebar
20 cm melintang SPA .
2) Pembuatan bangunan terjunan
- 85 -

a) dua atau tiga potong bambu bulat ditanam ke dalam tanah 0,5 m,
sedang yang berada dipermukaan saluran dipasang setinggi
bangunan terjunan.
b) bambu belah dipasang melintang terjunan, kulit bagian luar
bambu diletakan di bagian luar.
c) pemasangan bambu disusun mulai dari bawah dengan kedua
ujungnya dimasukan ke dalam bagian kanan kiri dinding SPA
dan diikatkan pada bambu bulat.
e. Pemeliharaan
1) pembersihan saluran dari endapan
2) perbaikan bambu apabila rusak baik karena sudah lapuk atau
karena akibat lain.
f. Organisasi Pelaksana
Pelaksana pembuatan saluran pembuangan air dan terjunan adalah
kelompok masyarakat didampingi penyuluh kehutanan lapangan (PKL)
atau petugas teknis dibawah koordinasi Dinas Kabupaten/Kota.

Gambar 25. SPA dan Bangunan Terjunan


10. Teras
a. Tujuan
Pembangunan teras bertujuan untuk memperkecil aliran permukaan,
menekan erosi, meningkatkan peresapan air ke dalam tanah serta
menampung dan mengendalikan aliran air ke daerah yang lebih rendah
secara aman.
b. Sasaran Lokasi
Secara umum, sasaran lokasi pembuatan teras adalah lahan yang
termasuk dalam LMU Terpilih, diutamakan pada RHL Prioritas I dan II
serta morfologi DAS bagian hulu dan tengah atau telah ditetapkan
- 86 -

dalam RP RHL dan dimanfaatkan secara terus menerus untuk budidaya


tanaman semusim dengan kemiringan < 40%.
c. Jenis Teras
1) Jenis Teras
a) Teras datar
Teras datar adalah teknik konservasi tanah berupa tanggul tanah
sejajar kontur yang dilengkapi saluran di atas dan di bawah
tanggul, bidang olah tidak diubah dari kelerengan permukaan.
Standar teknis:
(1) kemiringan lereng < 5%.
(2) solum tanah dangkal < 30 cm.
(3) drainase baik.
(4) kemiringan tanah olahan tetap.
(5) tanggul tanah ditanami vegetasi/rumput.
b) Manfaat
Mengurangi aliran permukaan dan erosi

Gambar 26. Teras Datar

2) Teras Gulud
Teras gulud merupakan teknik konservasi tanah berupa guludan
tanah dan saluran air.
a) Standar teknis
(1) kemiringan lereng 8-40 dan untuk tanaman semusim < 15 %.
(2) guludan ditanami legum atau rumput dan dipangkas secara
reguler.
(3) guludan ditutup dengan mulsa hasil pangkasan
(4) beda tinggi antar guludan 1.25 m
- 87 -

(5) solum tanah dangkal dan berpasir


(6) kemiringan bidang olahan diusahakan tetap
(7) permeabilitas tanah cukup tinggi.
b) Manfaat
(1) pengendalian erosi dan aliran permukaan
(2) sumber pakan ternak
(3) gangguan pada struktur tanah sedikit.

Gambar 27. Teras Gulud

3) Teras Kredit
Teras kredit merupakan teknik konservasi tanah berupa guludan
tanah atau batu sejajar kontur dan bidang olah tidak diubah dari
kelerengan permukaan.
a) standar teknis
(1) untuk tanah dangkal lereng 3 15 %
(2) untuk tanah dalam lereng 3 40 %
(3) guludan ditanami tanaman penguat (misal : rumput, legum
dan ditanam secara rapat).
(4) jarak antar guludan 5 12 m
(5) tidak cocok untuk tanaman peka longsor.
b) Manfaat
(1) pengendalian erosi tanah
(2) pengurangan aliran permukaan.
- 88 -

Gambar 28 Teras Kredit

4) Teras individu
Teras individu adalah teknis konservasi tanah berupa teras yang
dibuat hanya pada tempat yang akan ditanami tanaman pokok.
a) Standar teknis
(1) ukuran teras 1 x 1 m (segi empat)
(2) ukuran diameter 1 m (lingkaran)
(3) hanya untuk tanaman berupa pohon
(4) kemiringan lereng 30 50 %
(5) pada lokasi dengan curah hujan rendah
(6) tanah di luar teras ditanami tanaman penutup tanah
(7) untuk lereng yang curam dapat dikombinasikan dengan teknis
konervasi tanah lainnya.
b) Manfaat
(1) pengendalian erosi tanah
(2) pengurangan aliran permukaan
(3) peningkatan air infiltrasi

Gambar 29. Teras Individu


- 89 -

5) Teras Kebun
Teras kebun merupakan teknik konservasi tanah berupa teras yang
hanya dibuat pada bidang tanah yang akan ditanami dan searah
kontur.
a) Standar teknis
(1) kemiringan lereng 10-3- %
(2) solum tanah > 30 cm
(3) lebar teras 1.5 m
(4) teras miring kedalam 1 %
(5) di luar teras ditanami tanaman penutup teras
(6) cocok untuk ditanami tanaman perkebunan/tahunan
(7) cocok untuk tanah dengan daya serap lambat.
b) Manfaat
(1) pengendalian erosi tanah
(2) peningkatan air infiltrasi
(3) pengurangan aliran permukaan

Gambar 30. Teras Kebun

d. Mekanisme Pelaksanaan
1) Persiapan Lapangan
a) penyiapan rancangan teknis
b) pengukuran kembali
c) pematokan tanda letak tanggul/guludan.
2) Pembuatan teras
a) pembuatan bangunan utama teras sejajar kontur
- 90 -

b) penanaman tanaman penguat teras sepanjang kontur


c) pembuatan bangunan pelengkap (saluran pembuangan air,
saluran pengelak, bangunan terjunan, dll).
e. Pemeliharaan
1) pengerukan tanah yang menimbun selokan kemudian digunakan
untuk memperbaiki guludan.
2) perbaikan guludan sepanjang larikan tanaman.
3) penyulaman dan pemangkasan tanaman penguat teras dan tanaman
gulud.
4) pembersihan jalur teras dari tanaman pengganggu.
f. Organisasi pelaksana
Pelaksana pembuatan teras adalah kelompok masyarakat didampingi
penyuluh kehutanan lapangan (PKL) atau petugas teknis di bawah
koordinasi Dinas Kabupaten/Kota.

11. Biofori
Biofori adalah lubang silindris yang dibuat ke dalam tanah dengan
diameter 10 cm, kedalaman 100 cm atau tidak melebihi kedalaman
muka air tanah.
a. Tujuan
Lubang Resapan Biopori merupakan teknologi tepat guna dan ramah
lingkungan yang bertujuan untuk mengatasi banjir dengan cara
meningkatkan daya resapan air, mengubah sampah organik menjadi
kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), dan
memanfaatkan peran aktivitas guna tanah dan akar tanaman dan
mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti
penyakit demam berdarah dan malaria.
b. Sasaran Lokasi
Sasaran lokasi lobang biofori berupa lahan di perkotaan dengan
perhitungan untuk setiap 100 m2 lahan idealnya Lubang Resapan
Biopori (LRB) dibuat sebanyak 30 titik dengan jarak antara 0,5 - 1 m.
Dengan kedalam 100 cm dan diameter 10 cm setiap lubang bisa
menampung 7,8 liter sampah.
c. Mekanisme Pelaksanaaan
1) Pelaksanaan
a) pembuatan lubang dengan bor, untuk memudahkan pembuatan
lubang bisa dibantu diberi air agar tanah lebih gembur.
- 91 -

b) alat bor dimasukkan dan setelah penuh tanah (kurang lebih 10


cm kedalaman tanah) diangkat, untuk dikeluarkan tanahnya, lalu
kembali lagi memperdalam lubang tersebut sampai sebelum
muka air tanah (30 cm sampai dengan 100 cm).
c) LRB dalam alur lurus berjarak 0,5 - 1 m, sementara untuk LRB
pohon cukup dibuat 3 lubang dengan posisi segitiga sama sisi.
d) pada bibir lubang dilakukan pengerasan dengan semen, dan
dapat digantikan dengan potongan pendek pralon. Hal ini untuk
mencegah terjadinya erosi tanah.
e) kemudian di bagian atas diberi pengaman besi.
f) masukkan sampah organik (sisa dapur, sampah kebun/taman)
ke dalam LRB. Jangan memasukkan sampah anorganik (seperti
besi, plastik, baterai, dll)
g) bila sampah tidak banyak cukup diletakkan di mulut lubang, tapi
bila sampah cukup banyak bisa dibantu dimasukkan dengan
tongkat tumpul, tetapi tidak boleh terlalu padat karena akan
mengganggu proses peresapan air.

2) Pemeliharaan
a) lubang Resapan Biopori harus selalu terisi sampah organik
b) sampah organik dapur bisa diambil sebagai kompos setelah dua
minggu, sementara sampah kebun setelah dua bulan. Lama
pembuatan kompos juga tergantung jenis tanah tempat
pembuatan LRB, tanah lempung agak lebih lama proses
kehancurannya. Pengambilan dilakukan dengan alat bor LRB.
c) bila tidak diambil maka kompos akan terserap oleh tanah, LRB
harus tetap dipantau supaya terisi sampah organik.
d. Organisasi Pelaksana
Pelaksana pembuatan Lubang Resapan Biopori adalah kelompok
masyarakat/perorangan.
- 92 -

Gambar 31. Lubang Resapan Biopori

C. Konservasi tanah dan Air Pola Lainnya


Kegiatan konservasi tanah dan air diluar Petunjuk teknis ini dapat
dilaksanakan dengan manual tersendiri setelah ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang.
BAB IX
TATA CARA EVALUASI RHL

A. Tata Cara Evaluasi Tanaman


Evaluasi tanaman dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan
pembuatan tanaman. Sedangkan tujuannya adalah teridentifikasinya kondisi
fisik tanaman sebagai dasar pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL)
lebih lanjut.
1. Tanaman reboisasi, hutan rakyat, hutan kota dan rawa gambut
a. Satuan Unit Evaluasi
Satuan unit evaluasi tanaman di dalam kawasan hutan adalah petak
tanaman yang ditetapkan dalam rancangan kegiatan, sedangkan di luar
kawasan hutan adalah pada lahan pembuatan tanaman setiap
kelompok tani sesuai rancangan kegiatan.
b. Evaluasi tanaman
Evaluasi tanaman meliputi : pengukuran luas tanaman; jumlah dan
jenis tanaman; serta penghitungan persentase tumbuh tanaman sehat.
Pengukuran luas tanaman dilakukan terhadap realisasi luas
penamanan yang dinyatakan dalam luas areal yang ditanam dalam
satuan Ha dan dibandingkan terhadap rencana luas tanaman sesuai
rancangan.
- 93 -

Pengukuran luas tanaman dilakukan dengan cara memetakan petak


hasil penanaman menggunakan GPS, theodolit atau alat ukur lain.
Hasil pengukuran luas tanaman dituangkan dalam peta dengan skala
1:5.000 atau 1:10.000, dan dihitung luasnya. Hasil perhitungan
selanjutnya direkapitulasi sebagaimana pada Tabel 6.

Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Pengukuran Luas Tanaman pada setiap


petak/Lokasi Tanam
Luas Tanaman
Blok/Petak/Unit
No Rencana Realisasi
(Lokasi Tanam)
(Ha) (Ha) %
1 2 3 4 5

Keterangan :

Persen realisasi luas tanaman (%) = Hasil Pengukuran x 100 %


Rencana

Evaluasi tanaman dilakukan melalui teknik sampling dengan metode


Systematic Sampling with Random Start, yaitu petak ukur pertama
dibuat secara acak dan petak ukur selanjutnya dibuat secara
sistimatik. Intensitas Sampling (IS) sesuai dengan ketersediaan
anggaran. Penempatan petak ukur seluas 0,1 Ha, berbentuk persegi
panjang (40 m x 25 m) atau berbentuk lingkaran dengan diameter 17,8
m. Jarak antar titik pusat petak ukur disesuaikan dengan besarnya IS
- 94 -

yang digunakan. Apabila IS 5 % maka jarak antar titik pusat petak


ukur adalah 100 m arah Utara - Selatan dan 200 m arah Barat Timur,
sedangkan untuk memperoleh kualitas hasil pengukuran, jarak antara
petak ukur terluar dengan batas tanaman ditentukan minimum 50 m
dan maksimum 100 m. Dengan demikian hasil sampling yang didapat
akan mampu memenuhi azas keterwakilan dengan Intensitas Sampling
(IS) sebesar 5 % atau setiap petak ukur mewakili 2 ha.
Jumlah petak ukur dapat dihitung menggunakan rumus:
PU = IS x N
n
Dimana:
PU = Jumlah petak ukur
N = Luas petak (Ha)
n = Luas petak ukur (Ha)
Sebagai Petunjuk dalam pembuatan petak ukur pelaksanaan penilaian
tanaman, perlu dibuat diagram skema penarikan petak ukur tanaman
yang dipetakan dengan skala 1:10.000. Diagram skema tersebut
mencantumkan koordinat geografis titik ikat yang mudah ditemukan di
lapangan. Contoh pembuatan diagram skema penarikan petak ukur
tanaman berbentuk persegi panjang sebagai berikut :
1) siapkan peta hasil pengukuran luas tanaman skala 1 : 10.000
2) tentukan pada peta tersebut titik petak ukur pertama secara acak.
3) buat garis transek melalui titik petak ukur pertama tersebut, yaitu
garis vertikal dan garis horizontal yang berpotongan pada titik petak
ukur pertama tersebut. Garis vertikal memotong tegak lurus larikan
tanaman dan garis horisontal sejajar larikan tanaman.
4) buat garis transek berikutnya secara sistimatik terhadap garis
transek pertama dengan jarak antar garis vertikal 2 cm dan jarak
antar garis horisontal 1 cm.
5) buat petak ukur ukuran 4 mm x 2,5 mm pada garis transek tersebut
dengan titik potong garis transek sebagai titik pusatnya, sehingga
penyebaran letak petak ukur tersebut dapat mewakili seluruh areal
tanaman yang dinilai. Untuk jelasnya sebagaimana pada diagram
skema berikut ini :
- 95 -

1 cm
cmcm 2 cm
Keterangan :
: Batas areal tanaman

: Petak Ukur Pertama (ditentukan secara acak)


ukuran 4 mm x 2,5 mm

: Petak Ukur berikutnya ditentukan secara sistematis

Gambar 32. Diagram skema penarikan petak ukur tanaman

6) untuk tanaman pengayaan dilakukan dengan metode purposive


sampling (penarikan petak ukur disengaja), dengan memilih petak
ukur yang memiliki ciri tertentu yang mewakili seluruh populasi.
7) penentuan tahapan dalam purposive sampling, pada tahap awal
dilakukan pengukuran luas tanaman sekaligus menetapkan
koordinat letak lokasi penanaman. Selanjutnya tentukan dalam peta
letak petak ukur dengan memilih lokasi-lokasi yang dapat mewakili.
8) bilamana dalam penilaian terdapat lokasi yang terkena bencana
alam, dan mengalami kerusakan dilakukan pengukuran luas, jenis
tanaman dan penyebab kerusakan tanaman
9) untuk memudahkan pemeriksaan ulang (re-cheking) hasil penilaian
tanaman, di lapangan diberi tanda berupa patok pengenal yang
ujungnya dicat warna merah dan diberi identitas nomor petak ukur
dan tanggal pengamatan pada semua titik sumbu petak ukur.
10) data dan informasi petak tanaman yang dikumpulkan mencakup:
a) wilayah administratif pemerintahan (Provinsi, Kabupaten/Kota,
Kecamatan, Desa), DAS/Sub DAS, luas, fungsi kawasan hutan,
Nama register Blok dan Petak Tanaman
b) data yang dicatat dan diukur pada setiap petak ukur meliputi
data tanaman (jenis tanaman, jumlah tanaman yang hidup, tinggi
tanaman dan kondisi pertumbuhan tanaman dan data penunjang
- 96 -

(keadaan tumbuhan bawah, kondisi tanah dan gangguan


tanaman, dan fisiografi lahan).
Data tanaman yang hidup pada setiap petak ukur dicatat pada
Tally Sheet seperti pada tabel 7.

Tabel 7. Tally Sheet Evaluasi Tanaman


Provinsi : Nama Petugas :

Kabupaten : Nama Kel. Tani :

Kecamatan : Jml Anggota :

Desa : Penyuluh :
lapangan
Petak/lokasi : No. Petak Ukur :

DAS/Sub DAS : Intensitas :


Sampling
Koordinat : Lembar Ke :

Luas : ....... Ha

Jumlah bibit : ........ Btg

Jenis Kondisi Tanaman


Tinggi Keterangan
No Tanaman Sehat Kurang sehat Merana
(cm)

1 2 3 4 5 6 7
1 1. Fisiografi Lahan :
2 a. Datar
3 b. Landai
4 c. Agak Curam
5 d. Curam
6 2. Keadaan Tumbuhan
Bawah
7 a. Lebat/rapat
- 97 -

8 b. Sedang
9 c. Jarang
10 d. Tidak ada/bersih
11 3. Kondisi Tanah
12 a. Gembur/subur
13 b.Kurang gembur/subur
14 c. kurus
15 d. berbatu
16 4. Gangguan Tanaman
17 a. Penggembalaan
18 b. Kebakaran
19 c. Hama penyakit
dst
...
...
n.
Jumlah
1. Kayu
a. Jati
b. .
c. ..
2. MPTS
a. Mangga
b. ..
c. ..

Petugas Penilaian,

(...........................)

2. Tanaman penghijauan lingkungan


a. Satuan Lokasi Evaluasi
Satuan unit evaluasi tanaman penghijauan adalah sasaran lokasi yang
ditanami yang ditetapkan dalam rancangan kegiatan.
b. Evaluasi tanaman
- 98 -

Evaluasi persentase tumbuh tanaman dilakukan dengan metode


penghitungan tanaman 100% (sensus). Persentase tumbuh tanaman
dihitung dengan cara membandingkan jumlah tanaman yang tumbuh
dengan rencana jumlah tanaman yang seharusnya ada sesuai dengan
rancangan kegiatan.
c. Data dan informasi yang dikumpulkan mencakup:
1) Wilayah administratif pemerintahan (Provinsi, Kabupaten/Kota,
Kecamatan, Desa), dan jumlah tanaman yang ditanam
2) Data pengamatan tanaman penghijauan lingkungan meliputi jumlah
jenis tanaman, tanaman yang hidup dan kondisi tumbuh tanaman
sehat.
3. Agroforestry/Wanatani
a. Evaluasi tanaman meliputi: pengukuran luas tanaman; jumlah dan
jenis tanaman (kayu-kayuan, MPTS); keberhasilan tanaman semusim;
penghitungan persentase tumbuh tanaman pokok.
b. Evaluasi tanaman pokok dan semusim dilakukan di setiap lokasi, di
dalam kawasan hutan dilakukan pada setiap petak tanaman sesuai
dengan rancangan, sedangkan di luar kawasan hutan dilakukan pada
lahan pembuatan tanaman setiap kelompok tani sesuai rancangan.
c. Untuk Evaluasi tanaman pokok dan semusim di dalam dan di luar
kawasan hutan, metode yang dipakai menggunakan metode Systematic
Sampling with Random Start dengan Intensitas Sampling (IS) sesuai
dengan ketersediaan anggaran.
d. Data dan informasi yang dikumpulkan mencakup :
1) di dalam kawasan hutan adalah wilayah administratif pemerintahan
(Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa), nama DAS/Sub DAS,
luas, fungsi kawasan hutan. Sedangkan diluar kawasan hutan
ditambah nama Kelompok Tani, jumlah anggota Kelompok Tani,
tenaga pendamping dan penyuluh.
2) data pengamatan tanaman petak ukur meliputi jenis tanaman,
tanaman yang hidup dan kondisi tumbuh tanaman sehat.
4. Mangrove/Hutan Pantai
a. Satuan Lokasi Penilaian
Satuan unit evaluasi tanaman rehabilitasi hutan mangrove/pantai di
dalam kawasan hutan adalah petak tanaman yang ditetapkan dalam
rancangan kegiatan yang telah disahkan, sedangkan di luar kawasan
hutan adalah pada lahan pembuatan tanaman setiap kelompok tani
- 99 -

sesuai rancangan kegiatan. Evaluasi tanaman meliputi pengukuran


luas lokasi penanaman, penghitungan jumlah rumpun, jumlah
tanaman per rumpun dan jarak antar rumpun, penghitungan
persentase tumbuh tanaman sehat.
b. Evaluasi tanaman
Untuk Evaluasi tanaman di dalam dan di luar kawasan hutan, metode
yang dipakai menggunakan metode sistem jalur dengan Intensitas
Sampling (IS) sesuai dengan ketersediaan anggaran. Sistem jalur
merupakan cara penanaman dengan pembersihan lahan sepanjang
jalur tanaman.
c. Data dan informasi yang dikumpulkan mencakup :
1) di dalam kawasan hutan adalah wilayah administratif pemerintahan
(Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa), nama DAS/Sub DAS,
luas, fungsi kawasan hutan. Sedangkan diluar kawasan hutan
ditambah nama Kelompok Tani, jumlah anggota Kelompok Tani,
tenaga pendamping dan penyuluh.
2) data pengamatan tanaman petak ukur meliputi jenis tanaman,
tanaman yang hidup dan kondisi tumbuh tanaman sehat.
Data tanaman yang hidup pada setiap jalur tanaman mangrove
dicatat sebagaimana pada pada Tally Sheet seperti pada tabel 7,
namun melihat karakteristik ekosistem nya maka kondisi tanah dan
fisiografi lahan hanya sebagai data pendukung.
B. Pengolahan Data
1. Persen tumbuh tanaman
Persen tumbuh tanaman dihitung dengan cara membandingkan jumlah
tanaman yang ada pada suatu petak ukur dengan jumlah tanaman yang
seharusnya ada di dalam petak ukur bersangkutan.

T = ( hi / ni) x 100 %
= (h1 + h2 + .....+ hn) / (n1 + n2 + .... + nn) x 100 %

dimana : T = Persen (%) tumbuh tanaman


hi = Jumlah tanaman yang tumbuh terdapat pd petak ukur ke i
ni = Jumlah tanaman yang seharusnya ada pada petak ukur ke i
2. Tinggi Tanaman
- 100 -

Kerataan tinggi tanaman adalah rata-rata tinggi tanaman yang diperoleh


dengan merata-ratakan tinggi masing-masing individu tanaman
dibandingkan dengan jumlah tanamannya
Tinggi rata-rata per petak ukur dihitung sebagai berikut:

T = ( ti / ni)

dimana:
T = Tinggi rata-rata tanaman dalam petak ukur
ti = Tinggi setiap individu tanaman dalam petak ukur ke i
ni = Jumlah tanaman pada petak ukur ke i
C. Tata cara evaluasi bangunan konservasi tanah/sipil teknis
1. Evaluasi dilakukan di seluruh lokasi bangunan konservasi tanah yang
dibuat dilakukan dengan cara sensus.
2. Data dan informasi yang dikumpulkan terhadap pembuatan bangunan
konservasi tanah mencakup data administratif pemerintahan (Kabupaten,
Kecamatan, Desa, Nama Lokasi), nama DAS/Sub DAS, koordinat lokasi,
jenis bangunan konservasi tanah, kapasitas bangunan konservasi tanah.
3. Kriteria penilaian terhadap pembuatan bangunan konservasi tanah adalah
berfungsi, kurang berfungsi, tidak berfungsi (gagal).
4. Sasaran penilaian bangunan konservasi tanah adalah dam pengendali,
dam penahan, sumur resapan, gully plug, embung, dan lain-lain sesuai
dengan lokasi dan jenis kegiatan yang tercantum dalam rancangan pada
setiap desa.
5. Evaluasi dilaksanakan dengan mengamati langsung bangunan konservasi
tanah sesui jenis kegiatannya, membandingkan dengan rancangan
6. Melakukan pencatatan terhadap jumlah bangunan konservasi tanah
sesuai dengan jenis bangunan, kondisinya (baik, rusak) dan sesuai
fungsinya (berfungsi dan tidak berfungsi) dalam wilayah desa tersebut.
7. Untuk mengetahui kondisi bangunan konservasi tanah digunakan 3
kriteria, yaitu berfungsi, kurang berfungsi dan tidak berfungsi.
- 101 -

BAB X
PENGHAPUSAN TANAMAN GAGAL

A. Maksud dan Tujuan


Maksud penghapusan tanaman gagal adalah untuk memperoleh kepastian
hukum tentang hasil kegiatan penanaman RHL yang dinyatakan gagal
setelah dilakukan pemeriksaan. Sedangkan tujuannya adalah untuk
memperoleh kepastian hasil tanaman kegiatan RHL yang menjadi tanggung
jawab BPDASHL Cq BPDASHL secara akurat, transparan dan akuntabel
untuk memudahkan perencanaan kegiatan RHL pada masa yang akan
datang.
B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup tata cara penghapusan tanaman gagal hasil kegiatan RHL
meliputi:
1. Kriteria tanaman gagal;
2. Penetapan tanaman gagal; dan
3. Penghapusan tanaman gagal.
C. Kriteria Tanaman Gagal
Kriteria tanaman gagal yaitu tanaman hasil rehabilitasi hutan dan lahan
yang mengalami kerusakan akibat faktor alam.
D. Penetapan Tanaman Gagal
Mekanisme penetapan tanaman gagal meliputi :
1. Laporan kerusakan tanaman yang dapat dibuat oleh aparat pemerintah
setempat, petugas lapangan atau masyarakat.
2. Pemeriksaan terhadap tanaman gagal dilakukan berdasarkan adanya
laporan kerusakan tanaman yang disampaikan kepada satuan kerja yang
antara lain :
a. Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal PDASHL.
b. Dinas Provinsi yang diserahi tugas dan tanggung jawab bidang
Kehutanan.
3. Berdasarkan laporan yang diterima satuan kerja membentuk Tim
Pemeriksa.
4. Tim Pemeriksa mempunyai susunan keanggotaan yang terdiri dari Ketua
merangkap anggota dan anggota.
5. Tim Pemeriksa beranggotakan unsur-unsur sebagai berikut:
a. Petugas teknis ditambah PPNS dan/atau Polisi Kehutanan dan/atau
Polisi Negara dalam hal laporan kerusakan tanaman terjadi karena
- 102 -

keadaan kahar, ketidakpatuhan, kelalaian dan kesengajaan dalam


kegagalan tanaman diproses sesuai Peraturan Perundangan.
b. Pemeriksa mempunyai tugas:
1) mengevaluasi persentase tumbuh tanaman;
2) mengukur luas tanaman rusak; dan
3) melakukan pemetaan tanaman rusak dengan skala 1:10.000,
4) memeriksa penyebab terjadinya kerusakan tanaman dan menghitung
kerugian tanaman.
c. Hasil pemeriksaan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan yang
ditandatangani oleh Tim.
6. Pengusulan penetapan tanaman gagal
Berdasarkan hasil penilaian tim pemeriksa dan telah memenuhi kriteria
dan indikator sebagai tanaman gagal, maka Satuan Kerja mengusulkan
penetapan tanaman gagal. Usulan penetapan tanaman gagal dilakukan
oleh Kepala Satuan Kerja dengan didasarkan berita acara yang dibuat oleh
Tim pemeriksa.
Usulan penetapan tanaman gagal dilaksanakan oleh masing-masing
satuan kerja dengan prosedur sebagai berikut:
a. Usulan penetapan tanaman gagal kegiatan yang menjadi tanggung
jawab Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal PDASHL diajukan oleh
Kepala Unit Pelaksana Teknis yang bersangkutan kepada Direktur
Jenderal PDASHL sebagai penanggung jawab program RHL.
b. Usulan penetapan tanaman gagal kegiatan yang menjadi tanggung
jawab Dinas Provinsi diajukan oleh Kepala Dinas Provinsi yang
bersangkutan kepada Gubernur.
7. Prosedur klarifikasi
a. Pembentukan Tim Klarifikasi
Atas dasar usulan penetapan tanaman gagal maka dibentuk Tim
Klarifikasi dengan susunan Tim terdiri dari Ketua merangkap anggota
dan Anggota. Tim terdiri dari:
1) Tim Klarifikasi Pusat, ditetapkan oleh Direktur Jenderal PDASHL,
berdasarkan usulan dari Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal
PDASHL.
2) Tim Klarifikasi Provinsi, ditetapkan oleh Gubernur, berdasarkan
usulan dari Dinas Provinsi.
3) Tim Klarifikasi Kabupaten/Kota, ditetapkan oleh Bupati/Walikota
berdasarkan usulan dari Dinas Kabupaten/Kota.
- 103 -

b. Tim Klarifikasi bertugas :


1) memeriksa keabsahan data dan informasi yang diajukan oleh
pengusul baik secara administratif maupun kondisi fisik lapangan;
2) membuat laporan berdasarkan hasil pemeriksaan; dan
3) memberikan rekomendasi kepada Direktur Jenderal PDASHL,
Gubernur, atau Bupati/Walikota.
8. Penetapan tanaman gagal
a. Berdasarkan rekomendasi yang disampaikan oleh Tim Klarifikasi maka
Direktur Jenderal PDASHL, Gubernur, atau Bupati/Walikota dapat
menerima atau menolak usulan penetapan tanaman gagal.
b. Dalam hal usulan penghapusan tanaman gagal diterima, Direktur
Jenderal PDASHL, Gubernur, atau Bupati/Walikota menetapkan
tanaman yang diusulkan menjadi tanaman gagal, dengan Surat
Ketetapan.
c. Surat Ketetapan tanaman gagal yang diterbitkan Direktur Jenderal
PDASHL disampaikan kepada Unit Pelaksana Teknis Direktorat
Jenderal PDASHL dengan tembusan Inspektur Jenderal Kementerian
Kehutanan dan Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan.
1) Surat Ketetapan tanaman gagal yang diterbitkan oleh Gubernur
disampaikan kepada Dinas Provinsi dengan tembusan Direktur
Jenderal PDASHL, Inspektur Jenderal Kementerian Kehutanan dan
Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan.
2) Surat Ketetapan tanaman gagal yang diterbitkan oleh Bupati
disampaikan kepada Dinas Kabupaten/Kota dengan tembusan
Direktur Jenderal PDASHL, Inspektur Jenderal Kementerian
Kehutanan dan Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan.
3) Dalam hal usulan penetapan tanaman gagal ditolak, Direktur
Jenderal PDASHL, Gubernur, atau Bupati/Walikota menyampaikan
pemberitahuan penolakan penetapan tanaman gagal kepada
pengusul.
E. Mekanisme Penghapusan Tanaman Gagal
1. Berdasarkan Surat Ketetapan tanaman gagal yang diterbitkan oleh
Direktur Jenderal PDASHL, Kepala BPDASHL menindaklanjuti dengan
melakukan penghapusan tanaman pada daftar pelaksanaan kegiatan yang
ada pada masing-masing Unit Pelaksana Teknis. Tanaman gagal yang telah
dihapuskan oleh BPDASHL dilaporkan kepada Direktur Jenderal PDASHL.
- 104 -

2. Berdasarkan Surat Ketetapan tanaman gagal yang diterbitkan oleh


Gubernur, Kepala Dinas Provinsi menindaklanjuti dengan melakukan
penghapusan tanaman pada daftar pelaksanaan kegiatan yang ada pada
Dinas Provinsi. Tanaman gagal yang telah dihapuskan oleh Kepala Dinas
Provinsi dilaporkan kepada Gubernur dengan tembusan Direktur Jenderal
PDASHL.
3. Berdasarkan Surat Ketetapan tanaman gagal yang diterbitkan oleh Bupati,
Kepala Dinas Kabupaten/Kota menindaklanjuti dengan melakukan
penghapusan tanaman pada daftar pelaksanaan kegiatan yang ada pada
Dinas Kabupaten/Kota. Tanaman gagal yang telah dihapuskan oleh Kepala
Dinas Kabupaten/Kota dilaporkan kepada Bupati dengan tembusan
Direktur Jenderal PDASHL.
4. Lokasi tanaman gagal yang telah dihapus selanjutnya dapat dialokasikan
kembali menjadi rencana kegiatan RHL pada periode berikutnya.
- 105 -

BAB XI
PENUTUP

Rehabilitasi Hutan dan Lahan merupakan program strategis nasional untuk


menanggulangi degradasi sumberdaya hutan dan lahan serta meningkatkan
daya dukung Daerah Aliran Sungai.
Rehabilitasi hutan dan lahan merupakan bagian dari pengelolaan hutan dan
lahan yang keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kondisi biofisik serta sosial,
ekonomi dan budaya masyarakat. Oleh karena itu penyelenggaraan kegiatan di
lapangan dapat berupa kegiatan yang sangat sederhana hingga sangat kompleks
sehingga pelaksanaan kegiatan RHL memerlukan dukungan berbagai bidang
ilmu baik yang digali dari disiplin akademik maupun pengalaman lapangan.
Merehabilitasi lahan kritis di dalam maupun diluar kawasan hutan perlu
melibatkan upaya berbagai pihak dengan pembiayaan dari berbagai sumber
anggaran baik pemerintah, swasta maupun swadaya masyarakat. Petunjuk
Teknis RHL ini selanjutnya agar dipergunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan
kegiatan RHL bagi seluruh pelaksana untuk mewujudkan hasil kegiatan yang
efisien dan efektif.

DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

Dr. Ir. HILMAN NUGROHO, M.P.


NIP. 19590615 198603 1 004

Salinan sesuai dengan aslinya


KEPALA BAGIAN HUKUM DAN
KERJASAMA TEKNIK,

DUDI ISKANDAR