Anda di halaman 1dari 10

2.

4 Pengelolaan Benih

2.4.1 Pemanenan benih

Pemanenan merupakan salah satu faktor yang penting dalam produksi benih. Waktu
panen dan metode panen sangat mempengaruhi kualitas benih yang dihasilkan. Panen yang
dilakukan pada masak fisiologis benih berada pada kondisi puncak. Namun, pemanenan yang
dilakukan saat benih masak fisiologis kadar air benih masih tinggi yaitu antara 25 30% dan hal
ini menyebabkan benih menjadi mudah rusak serta tidak tahan disimpan dalam jangka waktu
yang lama. Hal ini terjadi karena adanya proses heating yang menyebabkan laju deteriorasi tinggi
dan menimbulkan kerawanan karena benih mudah terserang oleh hama dan cendawan
(Kuswanto, 2003). Terdapat indikator untuk menentukan pemasakan atau waktu panen pada
benih yakni indikator visual, fisik, fisiologis, dan komputasi.

INDIKATOR KRITERIA
VISUAL Berdasarkan perubahan warna, ukuran dll
Sifat sangat subyektif (keterbatasan indera manusia)
FISIK Mudah/tidaknya buah terlepas dari tangkai buah
Uji ketegaran buah (penetrometer)
FISIOLOGIS Laju respirasi
Sangat baik diterapkan pada komoditas yang
bersifat klimakterik (kurang cocok pada komoditas
yang non klimakterik)
Saat komoditas mencapai masak fisiologis,
respirasinya mencapai klimakterik (paling tinggi)
ANALISIS KIMIA kandungan zat padat terlarut, kandungan asam,
kandungan pati, kandungan gula
Metode analisis kimia lebih obyektif dari pada
visual, karena terukur
Dasarnya: terjadinya perubahan biokimia selama
proses pemasakan buah
Perubahan yang sering terjadi: pati menjadi gula,
menurunnya kadar asam, meningkatnya zat padat
terlarut
KOMPUTASI Yang dihitung: jumlah dari suhu rata-rata harian
selama satu siklus hidup tanaman (derajad hari)
mulai dari penanaman sampai masak fisiologis
Dasarnya: adanya korelasi positif antara suhu
lingkungan dengan pertumbuhan tanaman

2.4.2 Pengeringan

Pengeringan benih adalah suatu cara untuk mengurangi kandungan air di dalam
benih,dengan tujuan agar benih dapat disimpan lama. Kandungan air benih sangat
menentukanlamanya penyimpanan. Sebagai contoh benih kedelai dengan kandungan air 15%
(atas dasar berat basah) tidak aman untuk disimpan. Pada 14% hanya disimpan bila temperature
rendah,tetapi pada 13% ia dapat disimpan selama setahun. Pada kandungan air 12% yang
menjadi mutu pasaran ia bertahan selama 3 tahun , sedangkan pada 10% benih kedelai akan
dapat bertahanselama 4 tahun. Pada umumnya penyimpanan sampai lima tahun membutuhkan
penurunan kandungan air sebanyak 2% dari kandungan air untuk penyimpanan setahun
(Soedarsono, 1974).

2.4.3 Pembersihan dan pemilahan

Pembersihan bertujuan memisahkan calon benih dari kotoran (tanah, daun dan batang)
serta benih hampa. Pemilahan lebih ditekankan untuk mendapatkan keseragaman benih dari sisi
ukuran, bentuk maupun berat jenisnya.mPerformansi perkecambahan dipengaruhi oleh ukuran
benih. Pemilahan benih berdasarkan ukuran benih perlu dilakukan untuk menghasilkan bibit
yang muncul dan tumbuh seragam. Ukuran benih yang sama memudahkan dalam penemanan
menggunakan alat mekanis. Pembersihan dapat dilakukan secara manual dengan cara ditampi
atau dengan menggunakan peralatan seperti air screen cleaner.

Beberapa alat pemilahan benih yang banyak digunakan adalah:

a. Indented cylinder (memisah berdasarkan panjang benih)


b. Gravity table separator (memilah benih berdasarkan berat jenisnya)
c. Precision grader (memilah benih berdasarkan lebar benih)
2.4.4 Perlakuan/perawatan benih
Tujuan Perawatan benih menurut Kuswanto (2003) yang dilakukan sebelum benh
dikemas, antara lain bertujuan sebagai berikut.

1. Perlindungan Benih dan Serangan Harna dan Penyaldi


Benih setelah diproses dan dikemas, belum tentu langsung digunakan untuk usaba tani,
tetapi harus disimpan lebih dahulu. Adapun alasan dan penyimpanan tersebut, antara lain untuk
digunakan pada musirn tanarn yang akan datang, untuk digunakan setelah kondisi ekologis di
lahan sesuai dengan persyaratan tumbuh dan vanietas tersebut, atau disebabkan olehjumlah
produksi benih yang berlebihan sehingga sisanya harus disimpan. Dalam penyimpanan tersebut,
bcnih dapat diserang hama dan penyakit sehinggamenjadi rusak dan tidak dapat digunakan lagi
untuk memenuhi kebutuhan usaba tani. Untuk mencegah hal tersebut, sebelum dikemas benih
perlu dibeni perawatan dengan pestisida terlebih dahulu. Perawatan dengan pestisida dapat
dilakukan dengan cara merendam benih dalam larutan pestisida. kemudian mengeringkannya
kembali, atau mencampur benih dengan serbuk pestisida sehingga permukaan benih ter tutup
oleh pestisida.

2. Menghilangkan Sensitivitas Benih rerhadap Cahaya


Ada benih yang hanya dapat berkecambah pada kualitas cahaya tertentu saja, hal ini yang
disebut sebagai Fotodormancy, misalnya benih varie Chivory (Endive dan Chivory witloaf)
dan tembakau. Sifat ini dapat dihilangkan apabila benih dicoated.
3. Meningkarkan Kualitas Seed Lot
Persentase prkecambahan dan suatu seed lot dapat ditingkatkan, karena pada waktu
benih dicoated, benih yang tidak mampu berkecambah dan biji gulma sudah dipisahkan. Adapun
dampak positif dan pelapisan benih terhadap kualitas seed lot,
antara lain adalah sebagai benikut.
a. Benih akan berkecambah lebih cepat dan seragam.
b. Benih dapat berkecambah path rentang suhu yang lebih luas.
4. Menyeragamkan Ukuran Benih dan Meningkaikan Bobor Benih
Apabila benih dilapisi (dicoated), maka dapat rnenyeragamkan ukuran dan bentuk benih
tersebut. Penyeragaman ini dapat meningkatkan bobot dan menyeragamkan ukuran benih.
Selanjutnya, hal ini dapat meningkatkan persentase perkecambahan dan menyeragamkan jarak
tanam, karena benih relatif berat, serta akan dapat membantu pengaturan kedalaman tanam dan
jarak tanam, jika benih disebar secara langsung di lahan,
2.4.5 Pengemasan

Menurut Kuswanto (2003) Pengemasan benih bertujuan antara lain sebagai berikut.

1. Memudahkan pengelolaan benih.


2. Memudahkan transportasi benih untuk pemasaran.
3. Memudahkan penyimpanan benih dengan kondisi yang memadai.
4. Mempertahankan persentase viabilitas benih.
5. Mengurangi deraan (tekananlpengaruh) alam.
6. Mempertahankan kadar air benih.
Pada masa lalu, untuk menyimpan benih digunakan .wadah dan tanah hat, anyaman
rumput-rumputan, bakul dan bambu, ataupun kantong yang dibuat dan kuhit hewan atau perut
besar hewan yang telah dikeringkan. Bahan pengemas tersebut sampai sekarang masih
digunakan untuk mengemas benih yang jumlahnya sedikit dan yang disimpan dalam waktu yang
relatif singkat. Untuk menyimpan benih dalam jumlah banyak, digunakan bahan pengemas yang
dibuat dan anyaman kapas, goni, serat-seratan lain, atau serat sintetis, sedangkan untuk jumlah
sedikit dapat digunakan bahan pengemas kertas atau kertas berlapis.
a. Persyaratan banan pengemas
Untuk mempertahankan kualitas benih yang telah dikeringkan, kadar air benih hams tetap
dijaga. Kadar air benih perlu dipertahankan, oleh karena itu benih perlu dikemas dengan bahan
pengemas yang dapat mencegah terjadinya peningkatan kadar air benih. Peningkatan kadar air
dapat terjadi karena kondisi lingkungan yang memiliki kadar air Iebih tinggi atau lebih rendah
daripada kadar air benih yang disimpan tersebut. Selama dalam penyimpanan sebelum dipakai
untuk usaha tani dalam rangka mempertahan kan persentase viabilitas dan kevigoran benib dan
menghambat laju dete riorasi benih, kadar air benih hams tetap dipertahankan, mengingat sifat
benih yang selalu ingin mencapai kondisi keseimbangan (equilibrium) dengan keadaan
sekitarnya. Adapun salab satu faktor yang dapat meningkatkan laju deteriorasi adalab
penngkatan kadar air benih (sesuai dengan hokum Harrington), sehingga dengan demikian
dibutuhkan bahan pengemas yang dapat menghambat perubahan kadar air benih.

b. Klasifikasi Bahan Pengemas


Bahan pengemas dapat dikiasifikasikan menjadi beberapa macam, berdasarkan beberapa
hal sebagai berikut. Berdasarkan kemampuan menahan masuknya uap air ke dalam kemasan
dapat dikiasifikasikan sebagai berikut.

a. Moisture Barier
Bahan pengemas ini dapat bertngsi menghambat masuknya uap air ke dalam kemasan
benih. Hal ini berarti bahan baan pengemas tersebut masih dapat dilalui uap air, namun
dalamjumlah yang sangat sedikit/terbatas. Dengan demikian, perubahan kadar air benih
dalam kemasan tidak terlalu besar jika kemasan tersebut disimpan di mangan dengan RH
tinggi atau rendah untuk jangka waktu tertentu. Namun, dalam penyimpanan jangka panjang,
bahan pengemas ini tidak dapat digunakan, karena kadar air benih akhirnya akan mencapai
equilibrium dengan kondisi tempat penyimpanan.

2.4.6. Penyimpanan

Penyimpanan benih merupakan kegiatan prosesing benih yang bertujuan


mempertahankan mutu (viabilitas) benih agar tetap tinggi sampai benih ditanam, menjaga biji
agar tetap dalam keadaan baik (daya kecambah tetap tinggi), melindungi biji dari serangan hama
dan jamur serta mencukupi persediaan biji selama musim berbuah tidak dapat mencukupi
kebutuhan. Untuk melakukan penyimpanan benih, tidak bisa dilakukan sembarangan saja
melainkan adanya faktor-faktor penyimpanan benih yang perlu diketahui. Faktor-faktor
penyimpanan benih tersebut diantaranya: mengetahui jenis (kelompok) benih dan lingkungan
simpan. penyimpanan benih memerlukan informasi mengenai identitas benih,apakah termasuk
kelompok benih ortodoks, rekalsitran atau intermediate dikarenakan informasi tersebut berguna
untuk perlakuan penyimpana benih itu sendiri
Ketahanan benih untuk disimpan beragam tergantung dari jenis, cara dan tempat
penyimpanan Sutopo. Dalam kegiatan penanganan benih, secara umum benih dikelompokkan ke
dalam dua golongan utama sesuai dengan kondisi penyimpanan yang dituntut, yaitu benih
recalsitrant dan benih orthodox.
1. Benih Rekalsitran
Menurut Schmidt (2000), benih recalsitrant didefinisikan sebagai benih yang tidak tahan
terhadap pengeringan dan suhu penyimpanan yang rendah, kecuali untuk beberapa species
temperate recalsitrant. Tingkat toleransinya tergantung dari species masing-masing, umtuk benih
species dari daerah tropik kadar air benih yang dianjurkan untuk penyimpanan adalah 20 35%
dan suhu penyimpanan 12 15o C. Kebanyakan benih recalsitrant hanya mampu disimpan
beberapa hari sampai dengan beberapa bulan. Benih recalsitrant pada waktu masak, kadar air
benih sekitar 30 70%. Benih recalsitrant banyak ditemukan pada species dari zona iklim tropis
basah, hutan hujan tropis, dan hutan mangrove, beberapa ditemukan pada zona temperate dan
sedikit ditemukan pada zona panas.
Metode penyimpanan benih rekalsitran sangat berlawanan dengan penyimpanan benih
ortodoks, dan daya simpannya relatif pendek. Benih rekalsitran mempunyai kadar air tinggi,
untuk itu dalam penyimpanan kadar air benih perlu dipertahankan selama penyimpanan.
Penyimpanan dapat menggunakan serbuk gergaji atau serbuk arang. Caranya yaitu dengan
memasukkan benih kedalam serbuk gergaji atau arang. Penyimpanan benih rekalsitran secara
umum, suhu ruang simpan sedang dengan kadar air benih yang tinggi, pada RH yang tinggi,
dengan ketersediaan oksigen yang cukup.
2. Benih Ortodoks
Menurut Winarno (1981), Ortodoks adalah benih yang pada masak panen / fisiologi
memiliki kandungan kadar air yang relatif rendah. Biji kelompok ortodoks dicirikan oleh
sifatnya yang bisa dikeringkan tanpa menglami kerusakan. Viabilitas biji ortodoks tidak
mengalami penurunan yang berarti dengan penurunan kadar air hingga di bawah 20%, sehingga
biji tipe ini bisa disimpan dalam kadar air yang rendah.
Benih orthodox tahan terhadap pengeringan dan suhu penyimpanan yang rendah, yaitu
pada suhu 0 5o C dengan kadar air benih 57%. Dalam kondisi penyimpanan yang optimal,
benih yang orthodox akan mampu disimpan sampai beberapa tahun. Pada saat masak, kadar air
benih pada kebanyakan benih orthodox sekitar 610%. Benih orthodox banyak ditemukan pada
zona arid, semi arid dan pada daerah dengan iklim basah, di samping itu juga ada yang
ditemukan pada zona tropis dataran tinggi. Benih recalsitrant didefinisikan sebagai benih yang
tidak tahan terhadap pengeringan dan suhu penyimpanan yang rendah, kecuali untuk beberapa
species temperate recalcitrant. Secara praktis, benih ortodoks dapat disimpan pada suhu kamar
(28oC) atau ruang sejuk (12oC), bergantung pada lama penyimpanan dan kadar air benih yang
akan disimpan (Schmidt 2000).
Beberapa alasan diperlukannya penyimpanan benih antara lain:
1. Musim buah dan tanam tidak sama
2. Mempertahankan sumber genetik
3. Sebagai penyangga antara produksi dan permintaan
2.4.7 Alat Prosesing Benih
1. Air Screen Cleaner
Air Screen Cleaner pada intinya merupakan alat yang digunakan untuk membersihkan
benih dari kotoran-kotoran dan memisahkan benih yang tidak seragam serta memisahkan benih
yang hampa. Proses pembersihan (cleaning) dapat diawali dengan pemisahan benih dari kotoran
(sampah). Pembersihan ini dapat menggunakan ayakan (saringan atau screen) atau dengan
mengunakan mesin pembersih benih dengan memakai system ayakan dan hembusan udara, Air
Screen Cleaner (ASC).
Setelah bersih dari kotoran, benih memasuki proses sortasi dan up-grading, yaitu
memisahkan benih dari banih kecil, benih varietas lain, benih gulma, serta benih yang
berviabilitas rendah (benih kecil, benih pecah dan tidak seragam). Jika dalam proses
pembersihannya menggunakan mesin ASC, maka proses pembersihan, sortasi dan up-
grading sudah sekaligus diselesaikan.
Karena adanya mekanisme kombinasi antara ayakan atau saringan dan hembusan udara
yang berfungsi untuk memisahkan antara benih-benih yang tidak seragam ukurannya dan benih
hampa serta pemisah dari kotoran-kotoran.

Gambar 2. Air Screen Cleaner

2. Air Screen Cleaner Streamline


Pada dasarnya fungsi dari Air Screen Cleaner Streamline ini sama dengan fungsi Air
Screen Cleaner. Namun ukuran alat ini lebih kecil daripada Air Screen Cleaner sehingga alat ini
hanya digunakan untuk benih-benih yang berjumlah sedikit seperti benih hibrida. Alat ini mampu
memprocessing benih, dengan kapasitas processing benih 50 kg/ hari. Prinsip alat ini
memisahkan benih dengan ukuranya. Antara benih yang berukuran besar, sedang, kecil dan
benih-benih rusak serta kotoran benih yang berukuran lebih kecil dari benih lebih kecil akan
dipisahkan dengan screen dan hembusan udara.
Sehingga hasil processing benih yang diharapkan dari alat ini adalah benih seragam yang
berukuran sedang, tetapi dalam hal berat benihbelum dapat dikatakan seragam. Walaupun begitu
benih yang telah di processing dengan alat ini tidak akan dilakukan processing kembali. Karena
dibandingkan gravity separator hasil pemisahan dengan alat ini lebih valid.

3. Gravity Separator

Gambar 3. Gravity Separator


Gravity separator merupakan alat processing benih yang digunakan untuk memisahkan
antara benih dengan kotoran seperti kerikil, benih hampa, dan bagian tanaman yang ikut terbawa
benih.
Prinsip kerja alat ini yaitu dengan memanfaatkan gaya gravitasi benih dan kotoran benih
untuk memisahkannya. Batu kerikil yang memiliki berat yang lebih besar akan lebih dahulu
terpisah. Kemudian selanjutnya adalah benih yang berukuran besar, karena secara teori benih
yang berukuran besar akan memiliki berat yang lebih besar daripada benih yang memiliki ukuran
yang normal.
Setelah dipisahkan benih besarnya maka benih yang normal akan terpisah kemudian
dilanjutkan benih yang berukuran kecil, benih yang hampa/rusak serta kotoran ringan lainnya.
Sehingga hasil yang didapat dari alat gravity separator berupa kerikil, benih berukuran besar,
benih berukuran normal, benih berukuran kecil dan benih hampa/ rusak serta kotoran benih.

4. Brusshing Machine
Gambar 4. Brusshing Machine

Untuk benih-benih tertentu seperti benih tomat dan wortel. Namun, dalam penerapannya
alat ini hanya digunakan untuk benih tomat. Karena untuk benih wortel jika ditanam di Indonesia
kurang cocok, untuk itu PT. East West mengimpor benih wortel langsung di impor dari luar
negeri. Prinsip kerja alat ini adalah menyikat bulu-bulu pada benih dengan menggunakan dua
sikat dan dengan kecepatan pemutar mesin membuat bulu-bulu benih menjadi terpisah dari
benih.
5. Coating Machine

Gambar 6.Coating machine

Coating machine merupakan alat untuk melapisi kulit benih dengan fungisida. Tujuan
dari pelapisan ini adalah untuk melindungi benih selama masa pra tanam dan masa tanam pada
umur kecambah. Sehingga hasil yang diharapkan dari pelapisan kulit benih ini adalah
memaksimalkan pertumbuhan benih serta menghindarkan benih dari serangan hama dan
penyakit misalnya untuk mencegah benih mengalami rebah pada saat masa kecambah. Jika
dibandingkan dengan benih yang tidak di coating akan terlihat pada kecambah benih yang
dihasilkan. Benih yang telah di coating akan memilki ukuran kecambah yang besar serta lebih
kuat.
Benih yang di coating biasanya adalah benih yang mempunyai nilai jual yang tinggi dan
mempunyai resiko terkena hama dan penyakit yang tinggi, misalnya pada benih cabe. Adapun
fungsi lain dari alat ini adalah untuk menyeragamkan ukuran benih yang berbeda dan membuat
tampilannya lebih menarik dengan warna yang diinginkan (Kuswanto, 2003).

Dapus:
Kuswanto, H. 2003. Teknologi Pemrosesan Pengemasan dan Penyimpanan.
Kanisius.Yogyakarta.
Soedarsono. 1974. Masalah Pengeringan Benih. Proc. Kursus Singkat Pengujian Benih IPB.
Bogor.
Winarno, F.G 1981. Fisiology Lepas Panen. Jakarta: Sastra Hudaya
Schmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Hutan Tropis dan Sub Tropis.