Anda di halaman 1dari 13

JAWABAN SOAL UJIAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH

Nama : Adi Prasetya


NPM :
Kelas : SMTS 06-A

1. Pada dasarnya pengusaha itu mempunyai kebebasan untuk menempatkan industri atau
pabriknya. Dalam kerangka ini semua variabel biaya produksi seperti upah buruh,
manajemen, dan lainnya yang dianggap tidak menunjukkan variasi secara spasial,
berarti harga-harga faktor produksi adalah sama di mana-mana.
Biaya transpor dianggap sebagai suatu variabel pentingdalam penentuan lokasi industri.
Asumsi yang sangat sederhana ditetapkan yaitu tingkat biaya transport adalah flat
berdasarkan pada berat muatan dan fasilitas transportasi tersedia ke segala jurusan.
Asumsi tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu pada umumnya biaya transportasi untuk
hasil akhir seringkali lebih tinggi dari pada untuk bahan baku dan fasilitas transpor
hanya terbatas pada sejumlah rute.
Dalam teorinya Alfred Weber (penulis buku Ueber den Standard der Industrien, 1909)
mengitroproduksikan beberapa konsep pokok:
1. Indeks material
Indeks material adalah perbandingan berat bahan baku dan berat hasil akhir.
2. Berat Lokasional
Berat Lokasional adalah berat total dari semua barang (meliputi hasil akhir, bahan
baku, bahan bakar, dan sebagainya) yang harus diangkut ke dan dari tempat
produksi untuk setiap atu keluaran.
3. Isodapan kritis
Dalam pengertian umum, industri-industri dengan indeks material kurang dari 1
(mengalami penambahan berat misalnya pabrik minuman lemonade), demikian pula
barangbarang yang mengalami penambahan isi atau volume misalnya industri perabot
rumah tangga, maka lokasi industrinya akan tertarik mendekati pasar, dan sebaliknya
bila indeks material lebih dari 1 (mengalami penyusutan berat misalnya industri barang-
barang tambang, demikian pula barang-barang yang mengalami penyusutan volume
bulk Loosing seperti pabrik gula), maka lokasi industrinya cenderung mendekati bahan
baku.
Jika unsur berat dan bahan baku tidak memegang peranan yang berarti (misalnya
industri tekstil), maka lokasinya dapat diletakkan di antara sunber bahan baku dan pasar
(footloose industry). Industri-industri dengan berat lokasional tinggi akan tertarik pada

1
sumber bahan baku, sedangkan industri-industri dengan berat lokasional rendah akan
cenderung mendekati pasar.

Gambar 1 Grafik Biaya Distribusi dan Asembling

Misalnya bahan baku terdapat pada daerah A dan setelah diproduksi, dijual pada kota B.
Apabila diproduksi di kota A dan selanjutnya diangkut ke kota B, untuk dipasarkan maka
biaya pengangkutan ini disebut biaya distribusi. Apabila diproduksi di Kota B maka
diperlukan biaya mengangkut dari kota A ke kota B yang disebut biaya asembling. Biaya
produksi dianggap sama di A dan di B.Untuk menentukan lokasi pabrik dengan biaya
produksi yang minimum maka hal ini bergantung pada besaran a dan b dan jenis barang yang
diproduksi. Untuk proses produksi yang menyebabkan kehilangan berat dibandingkan dengan
berat bahan baku, maka a < b, sehingga lokasi pabrik semacam ini dinamakan material
oriented (berorientasi kepada lokasi bahan baku). Dan sebaliknya apabila proses produksi
menambah berat hasil produksi sehingga nila a > b maka lopkasi produksi akan lebih
menguntungkan di B. Lokasi ini dinamakan market oriented (lokasi yang berorientasi kepada
pasar).
Contoh Industri material oriented di Indonesia, misalnya industri konveksi berdekatan
dengan industri tekstil, industri pengalengan ikan berdekatan dengan pelabuhan laut, dan
industri gula berdekatan lahan tebu.
Contoh Industri market oriented di Indonesia industri elektronika, industri bahan bangunan,
industri peralatan rumah tangga.

2
2. Keuntungan aglomerasi yang didapat dari pembagunan ekonomi mengakibatkan suatu
kota menjadi semakin besar. Kemajuan ekonomi perkotaan turut menarik minat
pendatang yang menyebabkan pertambahan jumlah penduduk. Pertambahan jumlah
penduduk berimplikasi pada penambahan biaya pembangunan infrastruktur dan fasilitas
umum di dalam kota. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa pertumbuhan
penduduk yang tinggi akan menyebabkan kerugian terhadap kota tersebut.
Pertimbangan yang mendukung pendapat ini adalah sebagai berikut:
1) Harga lahan yang meningkat dan berakibat langsung pada prasarana yang
membutuhkan lahan untuk lokasi pembangunan.
2) Volume lalu lintas meningkat pesat sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Kemacetan ini akan mengakibatkan biaya operasi kendaraan meningkat tajam.
3) Daerah terbangun makin luas, bangunan makin rapat yang menyebabkan air
limpahan permukaan dari air hujan akan makin tinggi dan memerlukan saluran
pembuangan air yang lebih besar.
4) Sementara untuk bangunan yang masih renggang, pembuangan air tinja rumah
tangga cukup dengan sistem septic tank dan peresapan, tetapi di daerah yang
terbangun padat sudah memerlukan sistem perpipaan yang biayanya sangat mahal.
Kalau hanya meninjau kepada biaya kepentingan umum maka kita dapat menyatakan
bahwa kota-kota besar tidak diperlukan karena membuat biaya lebih besar. Tetapi kala
fakta menunjukkan bahwa produk per kapita adalah fungsi dari pada besarnya kota. Hal
ini disebabkan prinsip-prinsip aglomerasi, keuntungan skala ekonomi, dan lain-lain.

Gambar 2 Grafik Hubungan Produktivitas Perkapita dan Jumlah Penduduk

Fenomena tersebut juga terjadi di Indonesia misalnya di Pulau Jawa , dalam hal ini
diambil contoh Perbandingan PDRB dan Jumlah Penduduk di Provinsi Jawa Tengah

3
pada tahun 2015 dapat dilihat bahwa Jumlah PDRB dan Jumlah Penduduk berbanding
lurus.

KABUPATEN / PDRB (Juta Jumlah


KOTA Rupiah) Penduduk
Kabupaten
1 Cilacap 99.580.790,98 1694,73
2 Banyumas 38.798.789,35 1635,91
3 Purbalingga 18.565.114,24 898,38
4 Banjarnegara 15.995.894,10 901,83
5 Kebumen 20.986.079,48 1184,88
6 Purworejo 13.837.883,62 710,39
7 Wonosobo 14.319.118,38 777,12
8 Magelang 24.120.548,37 1245,50
9 Boyolali 23.495.135,18 963,69
1
Klaten 29.117.330,62 1158,80
0
1
Sukoharjo 26.674.290,65 864,21
1
1
Wonogiri 21.549.222,65 949,02
2
1
Karanganyar 26.883.211,03 856,20
3
1
Sragen 27.255.449,11 879,03
4
1
Grobogan 20.182.089,21 1351,43
5
1
Blora 16.368.347,06 852,11
6
1
Rembang 13.823.397,46 619,17
7
1
Pati 31.644.416,06 1232,89
8
1
Kudus 84.921.317,05 831,30
9
2
Jepara 22.053.988,56 1188,29
0
2
Demak 19.325.594,19 1117,91
1
2
Semarang 36.795.486,78 1000,89
2
2
Temanggung 16.092.983,81 745,83
3
2
Kendal 30.939.317,57 942,28
4
2
Batang 16.038.739,78 743,09
5
2
Pekalongan 16.728.358,67 873,99
6
2
Pemalang 18.629.311,81 1288,58
7
2
Tegal 25.577.284,21 1424,89
8
2
Brebes 34.406.120,06 1781,38
9
Kota
1 Magelang 6.466.971,04 120,79
2 Surakarta 34.982.374,09 512,23
3 Salatiga 9.748.306,25 183,82
4 Semarang 134.268.633,62 1701,11
5 Pekalongan 7.778.271,61 296,40
6 Tegal 10.983.565,80 246,12

4
TOTAL 35
1.008.933.7
KABUPATEN / 33774,14
32,45
KOTA

Gambar 3 Tabel PDRB dan Jumlah Penduduk Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah Tahun
2015 (Sumber: jateng.bps.go.id)

5
3. Indonesia dibagi dalam berbagai daerah tingkat I ( 30 Propinsi saat sekarang ) dan
ratusan daerah tingkat II menyadarkan bahwa betapa variasinya kondisi wilayah
Indonesia. Sebaran penduduk yang tidak merata (sebagain besar terkonsentrasi di Pulau
Jawa), sumberdaya alam yang tersebar, tingkat penguasaan tehnologinya yang beragam,
dapat dibayangkan betapa sulitnya membuat kebijakan pembangunan yang dapat
memenuhi selera setiap orang dan memuaskan semua pihak. Oleh karena itu dalam
GBHN 1998 sebagai pegangan seluruh bangsa Indonesia untuk melaksanakan
Pembangunan Jangka Panjang kedua, berkenaandengan keadaan kondisi daerah
mengamanatkan sebagi berikut :
Pembangunan daerah sebagai bagian integral pembangunan nasional telah makin
mendorong dan meningkatkan stabilitas, pemerataan, pertumbuhan dan pengembangan
daerah serta peran serta dan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan upaya
pembangunan daerah harus senantiasa didasarkan pada otonomi yang nyata, dinamis,
serasi dan bertanggung jawab dalam rangka lebih meningkatkan peranserta masyarakat
dalam pembangunan, dan mendorong pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya
diseluruh tanah air.
Lebih lanjut dalam Pembangunan Lima Tahun Keenam diamanatkan sebagai berikut:
Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional diarahkan
untuk lebih mengembangkan dan menyerasikan laju pertumbuhan antar daerah, antara
daerah perkotaan dan daerah perdesaan serta membuka daerah terisolasi dan
mempercepat pembangunan Kawasan Timur Indonesia, yang pelaksanaannya
disesuaikan dengan prioritas derah serta melalui pembangunan potensi daerah
seoptimal mungkin. Peran aktif masyarakatdalam pembangunan perlu dikembangkan
melalui pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada daerah, khususnya daerah
otonom, dengan tetap mengacu pada uapaya perwujudan Wawasan Nusantara.
Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa adanya kesadaran perbedaan antar daerah
seperti antara daerah perkotaan dan perdesaan, daerah terpencil yang memerlukan
penanganan secara khusus karena daerah-daerah tersebut mempunyai ciri tersendiri
layaknya daerah pusat dan daerah pinggiran. Oleh sebab itu sejak tahun 1974, telah
menerapkan konsep teori pembangunan dengan cara membagi-bagi Wilayah Indonesia
menjadi Wilayah pembangunan utama yang mencakup Wilayah pembangunan
ekonomi, yaitu sebagai berikut :

6
Wilayah Pembangunan Utama A : Pusat Utama, Medan
Wilayah Pembangunan Utama B : Pusat Utama Jakarta
Wilayah Pembangunan Utama C : Pusat Utama Surabaya
Wilayah Pembangunan Utama D Pusat Utama Ujung Pandang (Makassar sekarang)
Masing-masing wilayah pembangunan dipecah lagi menjadi sub-sub Wilayah
Pembangunan yang lebih kecil untuk menjadikan kerja sama antar daerah lebih dapat
dikembangkan, hasilnya dapat disaksikan sekarang kota-kota yang dijadikan sebagai
pusat utama pembangunan menjadi berkembang sangat pesat dan menjadi inti dari
daerah-daerah sekitarnya. Ibarat gula, kota-kota itu diserbu semut penduduk yang ingin
ikut menikmati manisnya pembangunan. Seperti dijelaskan di depan bahwa setiap
wilayah pembangunan dibagi lagi menjadi wilayah- wilayah pembangunan yang lebih
kecil. Sebagai contohnya disajikan pembagian yang ada di Jawa Barat:
Wilayah pembangunan Jabotabek ( perbatasan dengan Jakarta, yakni Tangerang ,Bogor
dan Bekasi ) dan sebagian daerah Sukabumi. Disitu ditampung berbagai industri yang
tak tertampung diJakarta. Dengan demikian Indonesia secara sadar sudah menggunakan
konsep pusat-pusat pertumbuhan atau pusat-pusat pengembangan,namun tetap
memperhatikan daerah pinggiran (desa, terpencil ), hanya yang perlu lebih diperhatikan
bahwa, dimasa yang akan datang perlu mempercepat pembangunan di daerah
pheriphery, khususnya daerah perdesaan maupun dalam skala yang luas yaitu
pembangunan di luar Pulau Jawa terutamadi Kawasan Timur Indonesia.

Gambar 4 Wilayah Pembangunan A


Wilayah Pembangunan A berpusat di Medan, terdiri dari:

7
a. Wilayah pembangunan 1 meliputi Aceh dan Sumatera Utara
b. Wilayah pembangunan 2 meliputi Sumatera Barat dan Riau

Gambar 5 Wilayah Pembangunan B

Wilayah Pembangunan B berpusat di Jakarta, terdiri dari:


a. Wilayah pembangunan 3 meliputi Jambi, Sumsel dan Bengkulu
b. Wilayah pembangunan 4 meliputi Lampung, DKI Jakarta, Jateng, Jabar dan
Yogyakarta
c. Wilayah pembangunan 5 meliputi Kalbar

Gambar 6 Wilayah Pembangunan C

Wilayah Pembangunan C berpusat di Surabaya, terdiri dari:


a. Wilayah pembangunan 6 meliputi Jatim dan Bali
b. Wilayah pembangunan 7 meliputi kalteng, kalsel, kaltim

8
Gambar 7 Wilayah Pembangunan D

Wilayah Pembangunan D berpusat di Makassar, terdiri dari:


a. Wilayah pembangunan 8 meliputi NTB, NTT, Sulsel, Sultenggara
b. Wilayah pembangunan 9 meliputi Sulteng, Sulut
c. Wilayah pembangunan 10 meliputi maluku dan papua

Hirscman (1958), menyadari bahwa fungsi-fungsi ekonomi berbeda tingkat


intensitasnya pada tempat yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi diutamakan pada titik
originalnya sebelum disebarkan ke berbagai tempat lainnya. Ia menggunakan istilah
Titik Pertumbuhan (Growing Point) atau Pusat Pertumbuhan (Growing Centre).
Di sutau negara terdapat beberapa titik pertumbuhan, dimana industri berkelompok
ditempat itu, karena diperoleh beberapa manfaat dalam bentuk penghematan-
penghematan dan kemudahan-kemudahan. Kesempatan investasi, lapangan kerja dan
upah buruh relatif tinggi lebih banyak terdapat di pusat- pusat pertumbuhan dari pada
daerah belakang. Antara pusat dan daerah belakang terdapat ketergantungan dalam
suplai barang dan tenaga kerja. Pengaruh yang paling hebat adalah migrasi penduduk
ke kota-kota besar (urbanisasi) akan dapat mengabsorsikan tenaga kerja yang trampil
dan pihak lain akan mengurangi pengangguran tidak kentara di daerah belakang. Hal ini
tergantung pada tingkat koplementaritas antara dua tempat tersebut.
Jika komplementaritas kuat akan terjadi proses penyebaran pembangunan kedaerah-
daerah belakang (trikling down) dan sebaliknya jika komplementaritas lemah akan
terjadi pengaruh polarisasi (Keban, 1995). Jika pengeruh polarisasi lebih kuat dari
pengeruh penyebaran pembangunan maka akan timbul masyarakat dualistik, yaitu
selain memiliki ciri-ciri daerah perkotaan modern juga memiliki daerah perdesaan
terbelakang (Hammand,1985, Indra Catri,1993). Walaupun terlihat suatu
kecenderungan yang suram namun Hirschman optimis dan percaya bahwa pengaruh
trikling-down akan mengatasi pengaruh polarisasi. Misalnya bila daerah perkotaan

9
berspesialisasi pada industri dan daerah perdesaan berspesialisasi pada produksi primer,
maka meluasnya permintaan daerah perkotaan harus mendorong perkembangan daerah
perdesaan, tetapi apa yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Pada khususnya ada
kemungkinan besar bahwa elastisitas penawaran jangka pendek di daerah perdesaan
adalah sedimikian rendah sehingga dasar pertukaran akan berubah merugikan daerah
perkotaan. Dalam jangka panjang penghematan-penghematan ekstrnal dan tersedianya
komplementaritas di pusat-pusat akan menjamin penyebaran pembangunan ke daerah-
daerah disekitarnya.
Pada pihak lain, berdasarkan konseptual yang serupa mengenai struktur titik-titik
pertumbuhan dan daerah-daerah belakang, Myrdal (1957) menggunakan istilah
Backwash effect dan spread effect yang artinya persis serupa dengan polarisasi dan
pengaruh trikling down. Namun demikian, dalam penekanan pembahasan dan
kesimpulan-kesimpulan terdapat perbedaan yang cukup besar. Analisa Myrdal
memberikan kesan pesimistis, ia berpendapat bahwa polarisasi muncul lebih kuat dari
pada penyebaran pembangunan, permintaan faktor-faktor produksi akan menumpuk di
daerah- daerah perkotaan yang memberikan manfaat kepadanya, dan sebaliknya di
daerah perdesaan yang tidak menguntungkan akan menipis.
Pesimisme tersebut dapat dimaklumi karena Myrdal tidak memaklumi bahwa
timbulnya titik pertumbuhan adalah suatu hal yang tidak terelakkan dan merupakan
syarat bagi perkembangan selanjutnya dimana-mana. Pusat pemikiran Myrdal pada
kausasi komulatif menyebabkan ia tidak dapat melihat dengan titik balik apabila
perkembangan kearah polarisasi di suatu wilayah sudah berlangsung untuk beberapa
waktu. Kausasi sirkuler komulatif selalu meghasilkan penyebaran pembangunan yang
lemah dan tidak kemerataan, atau dapat dikatakan bahwa mobilitas akan memperbesar
ketimpangan pendapatan dan migrasi akan memperbesar ketimpangan regional.

4. CBD (Central Business District) merupakan bagian tertua dari kota, dimana pada
awalnya kegiatan perdagangan eceran dilaksanakan dalam rangka melayani seluruh
penduduk kota. Lambat laun, pada daerah ini dibangun pula pusat pelayanan. Kota-
kota yang belum berkembang pesat dan jumlah penduduknya sedikit hanya mempunyai
satu pusat pelayanan yang sekaligus berfungsi sebagai CBD dinamakan Monocentric
City.
Secara berangsur-angsur kegiatan pada CDB akan terus meningkat sedangkan lahan
terbatas, maka pada negara maju secara bertahap CDB ini tidak digunakan lagi sebagai
tempat pemukiman lagi, dan penduduknya pindah ke daerah luar CBD.

10
Perpindahan tempat pemukiman dari CBD ini menyebabkan perbedaan jumlah
penduduk pada siang dan pada malam hari. Pada lokasi baru akan timbul berbagai
industri jasa yang akan membentuk pusat pelayanan yang baru. CBD dan beberapa
Subpusat kota atau pusat bagian wilayah kota akan membentuk kota menjadi poly
centric atau multiple nuclei.
Jaringan jalan adalah merupakan faktor terpenting yang membentuk tata ruang kota.
Tata ruang kota dapat berkembang menjadi dinamis, karena jaringan jalan.
Jaringan kota memiliki bentuk bermacam-macam, untuk tipe perkotaan dengan model
multiple nuclei maka model jaringan jalan yang cocok adalah tipe Radiocentric. Jalan
model ini adalah gabungan dari jalan radial dan jalan lingkar.
Jaringan jalan berbentuk radiocentric cocok untuk kota yang bersifat polycenter (kota
dengan inti ganda) karena dengan jalan lingkar memudahkan hubungan antara satu
subpusat dengan subpusat lainnya tanpa harus melalui CBD yang padat lalu lintas,
sedangkan untuk hubungan antar kota menggunakan jalan berbentuk radial.

Gambar 8 Pola jaringan Jalan Radial


5. De-urbanisasi adalah perpindahan seseorang dari pusat kota ke pinggiran kota. Salah
satu faktor pendorong de-urbanisasi adalah harga sewa lahan yang semakin mahal di
wilayah perkotaan sehingga orang akan cendrung mencari tanah dengan harga sewa
yang lebih mudah di wilayah pinggir kota. Akibat dari perpindahan ini adalah adanya
biaya komuting yang menyebabkan berkurangnya tingkat kepuasan rumah tangga.
Oleh karena itu perlu adanya kompensasi tertentu agar tingkat kepuasan rumah tangga
tidak berkurang. Salah satu cara untuk tetap mempertahankan tingkat kepuasan rumah
tangga yang tinggal di pinggiran kota adalah dengan menyewa tanah yang lebih luas.
William Alonso mengemukakan sebuah teori tentang harga kawasan perumahan dengan
nama Urban Residential Land Use Theory. Teori ini membedakan harga tanah dengan
sewa tanah. Harga tanah ialah sejumlah nilai yang dibayarkan untuk memperoleh hak

11
atas tanah tersebut, sedangkan sewa tanah ialah sejumlah nilai yang dibayarkan untuk
memanfaatkan sebidang tanah untuk jangka waktu tertentu.

Dalam bentuk dasarnya, teori ini menggambarkan bahwa untuk suatu lokasi ada N
rumah tangga. Setiap rumah tangga ini mempunyai tingkat kepuasan U sebagai fungsi
dari konsumsi 2 komoditi, tanah (L) dan barang serta jasa lainnya (X)

U = f (X.L)

Ilustrasi penjabaran rumus diatas adalah apabila suatu rumah tangga mempunyai
pendapatan yang sama Y. Pendapatan ini digunakan untuk tiga jenis pengeluaran, yaitu
sewa tanah, pembelian barang dan jasa lainnya, serta biaya transportasi (komuting).
Misalnya rumah tangga ini menawar sebidang tanah pada lokasi s di kawasan perkotaan
dengan harga R(s) per meter persegi. Apabila luas tanah L, maka pembayaran sewa
tanah adalah R(s).L. Kemudian apabila X adalah satuan dan jasa lainnya yang diperoleh
dengan harga Px per unit, maka total pengeluaran untuk komponen ini adalah X.Px.
Akhirnya dengan menanggung biaya komuting bulanan pada lokasi s adalah K(s), maka
batas anggaran untuk mendapatkan konsumsi maksimum adalah:

Y = R(s).L + P(x).X + K(s)

R(s) dan K(s) adalah bervariasi tergantung kepada lokasi s, sedangkan Y dan P(x) tetap
tidak tergantung kepada lokasi. Pada Lokasi ini tercapai tingkat kepuasan, dengan
memanfaatkan tanah dengan luas L(s) dan mengkonsumsi barang jasa sebesar X(s).
Berbeda pada lokasi t, akibat dari lokasi t maka timbul biaya komuting K(t) yang
nilainya lebih besar dari K(s). Apabila harga tawaran terhadap tanah tetap sama dengan
R(s), maka garis pendapatan tetap sejajar dengan L(s). Dan tidak menyinggung garis
kepuasan U. Dalam hal ini rumah tangga tersebut mengkonsumsi X(t) < X (s) dan L(t)
< L(s). Oleh karena itu, untuk tetap memperoleh kepuasan yang sama maka harga
tawaran untuk tanah L(t) harus lebih kecil dari L(s), sehingga garis pendapatan t
menyinggung U.

12
Gambar 9 garis kepuasan merupakan fungsi dari konsumsi X dan L

Implikasi dari teori ini adalah harga sewa tanah yang sangat mahal di pusat kota akan
menurun dengan cepat menuju pinggiran kota. Faktor inilah yang menyebabkan
pergerakan arus perpindahan dari kota ke wilayah pinggiran yang lama kelamaan akan
menciptakan pusat pelayanan baru yang pada akhirnya akan memperluas wilayah kota
yang biasa disebut dengan Extended Metropolitan Region.

13