Anda di halaman 1dari 70

IDENTITAS BUKU

1. Buku Utama

Judul Buku :Profesi Kependidikan


Penulis : Prof. Dr. Sudarman Danim dan
Dr. H. Khairil
Penerbit : Alfabeta
Kota Terbit : Bandung
Tahun Terbit : 2012
Edisi : ke-1
Jumlah halaman : 238
ISBN : 978-602-8800-44-0

2. Buku Pembanding

Judul Buku : Profesi Kependidikan


Penulis : Deliati, S.Ag. M.Ag.
Elfrianto Nasution, M.Pd.
Muhammad Arifin, S.Pd, M.Pd.
Penerbit : Citapustaka Media
Kota Terbit : Bandung
Tahun Terbit : Maret 2015
Edisi : ke-1
Jumlah halaman : 250 + x
ISBN : 978-602-1317-81-5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1
Profesi adalah suatu pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya
memerlukan/menuntut keahlian, menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta
dedikasi yang tinggi. Keahlian diperoleh dari lembaga pendidikan yang khusus
diperuntukkan untuk itu dengan kurikulum yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada dasarnya profesi guru adalah profesi yang sedang tumbuh. Walaupun
ada yang berpendapat bahwa guru adalah jabatan semi profesional, namun
sebenarnya lebih dari itu. Hal ini dimungkinkan karena jabatan guru hanya dapat
diperoleh pada lembaga pendidikan yang lulusannya menyiapkan tenaga guru,
adanya organisasi profesi, kode etik dan ada aturan tentang jabatan fungsional
guru (SK Menpan No. 26/1989).
Semakin dituntutnya profesionalitas seorang guru, maka guru sebagai
tenaga pengajar dan pemberi informasi kepada siswanya tentu harus
mengetahui bagaimana seorang guru yang professional itu. Secara umum, sikap
profesional seorang guru dilihat dari faktor luar. Akan tetapi, hal tersebut belum
mencerminkan seberapa baik potensi yang dimiliki guru sebagai seorang tenaga
pendidik. Menurut PP No. 74 Tahun 2008 pasal 1.1 Tentang Guru dan UU. No. 14
Tahun 2005 pasal 1.1 Tentang Guru dan Dosen, guru adalah pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalar
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang
dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian,
kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu
serta memerlukan pendidikan profesi (UU. No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan
Dosen pasal 1.4). Guru sebagai pendidik professional dituntut untuk selalu
menjadi teladan bagi masyarakat di sekelilingnya. Masyarakat akan melihat
bagaimana sikap dan perbuatan guru sehari-hari, apakah memang ada yang
patut diteladani atau tidak.
Walaupun segala perilaku guru selalu diperhatikan masyarakat, tetapi guru
memiliki beberapa perilaku yang berhubungan dengan profesinya, hal yang
berhubungan dengan pola tingkah laku guru dalam memahami, menghayati,
serta mengamalkan sikap profesionalnya, pola pikir itu membahas tentang
sasaranya. Sasaran sikap keprofesional guru ada tujuh yakni;
1. Sikap terhadap peraturan perundang-undangan
2. Sikap terhadap organisasi profesi
3. Sikap terhadap teman sejawat

2
4. Sikap terhadap anak didik
5. Sikap terhadap tempat kerja
6. Sikap terhadap pemimpin
7. Sikap terhadap pekerjaan
Guru sebagi seorang anggota organisasi, dan seseorang yang bekerja di
sekolah yang dipimpin oleh seorang pemimpin (kepala sekolah) seorang guru
harus memiliki sikap profesioanal terhadap pemimpinya, baik pemimpin sekolah
maupun pemimpin organisasi. Dalam kejasama dengan para pemimpinya guru di
tuntut patuh dalam melaksanakan arahan dan petunjuk yang diberikan kepada
guru.

1.2 Tujuan dan Manfaat Penulisan


Secara umum penulisan Critical Book Report ini bertujuan untuk
memperoleh gambaran yang jelas tentang profesi pendidikan. Buku yang
dijadikan bahan kajian berjudul Profesi Kependidikan karangan Prof. Dr.
Sudarman Danim dan Dr. H. Khairil dan buku yang menjadi pembanding berjudul
Profesi Kependidikan karangan Deliati, S.Ag. M.Ag.; Elfrianto Nasution, M.Pd.;
dan Muhammad Arifin, S.Pd, M.Pd. Selain itu, secara operasional penulisan
Critical Book Report ini bertujuan untuk:
1. Untuk menambah wawasan tentang profesi kependidikan
2. Untuk membandingkan isi buku Profesi Kependidikan dengan buku
lainnya.

3
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

1. Ringkasan Isi Buku Utama Profesi Kependidikan karangan Prof.


Dr. Sudarman Danim dan Dr. H. Khairil

BAB 1
Esensi dan Ranah Profesi Kependidikan
A. Ranah Profesi Kependidikan
Profesi kependidikan terdiri dari dua ranah, yaitu profesi pendidik dan
profesi tenaga kependidikan. Pendidik dan tenaga kependidikan merupakan dua
jenis profesi atau pekerjaan yang saling mengisi. Pendidik dengan derajar
profesionalitas tingkat tinggi sekali pun nyaris tidak berdaya dalam bekerja tanpa
dukungan tenaga kependidikan. Seblaiknya, tenaga kependidikan yang
profesional sekali pun tidak dapat berbuat apa-apa, tanpa dukungan guru yang
profesional sebagai aktor langsung di dalam dan di luar kelas.
Penyandang profesi atau pemangku pekerjaan pendidik mencakup guru,
dosen, konselor, pamong belajar, tutor, instruktur, fasilitator dan tenaga lain
yang sesuai dengan kekehususannya, serta berpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan, yang berfungsi sebagai agen pembelajaran
peserta didik. Tenaga kependidikan mencakup pimpinan satuan pendidikan,
penilik satuan pendidikan nonformal, pengawas satuan pendidikan formal,
tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, teknisi sumber belajar, tenaga
lapangan pendidikan, tenaga administrasi, psikolog, pekerja sosial, terapis dan
tenaga lain yang bekerja pada satuan pendidikan.

B. Guru dan Tenaga Kependidikan Profesional


Secara definisi kata guru bermakna sebagai pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, malatih, menilai,

4
dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal. Tugas tersebut
akan lebih efektif jika guru memiliki derajat profesionalitas tertentu yang
tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan atau keterampilan yang
memenuhi standar mutu tau norma etik tertentu.
Kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk
melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan
nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhalak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab.

C. Profesi dan Prinsip-Prinsip Profesionalitas


Menurut Howard M. Vollmer dan Donald L. Mills mengatakan bahwa profesi
adalah sebuah jabatan yang memerlukan kemampuan intelekrual khusus, yang
diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan yang bertujuan untuk
menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis
pada orang lain, dengan memperoleh upah dalam jumlah tertentu.
Profesi guru merupakan bidang pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan
prinsip khusus. Di dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
disebutkan bahwa prinsip-prinsip profesi guru adalah sebagai berikut:
1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,
ketakwaan, dan akhlak mulia;
3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan
bidang tugas;
4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi belajar.

BAB 2
Pendekatan Pelembagaan Profesi
A. Pengantar
Menurut R.D Lansbury dalam Profesionals and Management (1978), dalam
konteks profesionalisasi istilah profesi dapat dijelaskan dengan tiga pendekatan
(approach), yaitu pendekatan karakteristik, pendekatan institusional dan
pendekatan legalistik.

5
B. Pendekatan Karakteristik
Pendekatan karakteristik (the trait approach) memandang bahwa profesi
mempunyai seperangkat elemen inti yang membedakan dengan pekerjaan
lainnya.
C. Pendekatan Institusional
Pendekatan istitusional (the institusional approach) memandang profesi
dari segi proses institusional atau perkembangan asosiasional. Maksudnya,
kemajuan suatu pekerjaan ke arah pencapaian status ideal suatu profesi dilihat
atas dasar tahap-tahap yang harus dilalui untuk melahirkan proses pelembagaan
suatu pekerjaan menuju profesi yang sesungguhnya.
D. Pendekatan Legalistik
Pendekatan legalistik (the legalistic approach) yaitu pendekatan yang
menekankan adanya pengakuan atas suatu profesi oleh negara atau pemerintah.
Suatu pekerjaan dapat disebut dengan profesi jika dilindungi oleh undang-
undang atau produk hukum yang ditetapkan oleh pemerintah suatu negara.

BAB 3
Ranah Pengembangan Keprofesian Guru
A. Pengantar
Kesadaran untuk menghadirkan guru dan tenaga kependidikan yang
profesional sebagai sumber daya utama pencerdas bangsa, barangkali sama
tuanya dengan sejarah peradaban pendidikan. Khusus untuk guru, dilihat dari
dimensi sifat dan substansinya, setidaknya ada empat ranah yang tersedia untuk
mewujudkan guru yang benar-benar profesional. Keempat ranah yang dimaksud,
yaitu:
1. Penyediaan guru berbasis perguruan tinggi
2. Induksi guru pemula berbasis sekolah
3. Profesionalisasi guru berbasis prakarsa institusi
4. Profesionalisasi guru berbasis indovidu.

B. Penyedian Guru
Di Indonesia, guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional
pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia
dini pada jalur pendidikan formal. Para guru diangkat sesuai dengan peraturan
regulasi yang berlaku dilingkungan pemerintah, penyelenggara, atau satuan
pendidikan. Mereka yang diangkat menjadi guru merupakan lulusan lembaga
penyedia calon guru.
Berkaitan dengan penyediaan guru, Undang-Undang No. 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang

6
Guru telah menggariskan bahwa hal itu menjadi kewenangan lembaga
pendidikan tenaga kependidikan.

C. Induksi Guru Pemula


Program induksi merupakan masa transisi bagi guru pemula terhitung
mulai dia pertama kali menginjakkan kaki ke sekolah hingga benar-benar layak
dilepas untuk menjalankan tugas pendidikan dan pembelajaran secara mandiri.

D. Profesionalisasi Guru Berbasis Lembaga


Ketika guru selesai menjalani proses induksi dan kemudian secara rutin
keseharian menjalankan tugas-tugas profesional, profesionalisasi atau proses
penumbuhan dan pengembangan profesinya tidak berhenti disiti. Diperlukan
upaya yang terus menerus agar guru tetap memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum serta kemajuan ilmu dan
teknologi. Kegiatan pembinaan dapat dilakukan atas prakarsa institusi, seperti
pendidikan dan pelatihan, workshop, magang, studi banding, dan lain
sebagainya.

E. Profesionalisasi Guru Berbasis Individu


Realitas membuktikan, hanya sebagian kecil guru memiliki peluang
menjalani guru yang profesionalisasi atas prakarsa institusi atau lembaga.
Menghadapi realitas ini, kalau guru mau tetap eksis pada profesi dengan derajat
profesionalitas yang layak ditampilkan, tidak ada pilihan lain, dia harus
melakukan profesionalisasi secara mandiri.
Untuk menjadi seorang guru yang profesional, perlu perjalanan panjang.
Diawali dengan penyiapan calon guru, rekrutmen, penempatan, penugasan,
pengembangan profesi dan karir, hingga menjadi guru profesional sungguhan,
yang menjalani profesionalisasi secara terus-menerus.

BAB 4
Pengembangan Profesi Dan Karir
A. Alasan Esensial
Guru dan tenaga kependidikan profesional menjalani proses pembinaan
dan pengembangan secara kontinyu. Kegiatan pembinaan dan pengembangan,
termasuk dalam kerangka mengelola kelas untuk pembelajaran yang lebih
efektif, dilakukan atas dasar prakarsa pemerintah, pemerintah daerah,

7
penyelenggara satuan pendidikan, asosiasi guru, guru secara pribadi, dan lain-
lain.
Alasan esensial lain diperlukannya pembinaannya pembinaan dan
pengembangan adalah karakteristik tugas yang terus berkembang seirama
dengan perkembangan Ipteks, disamping reformasi internal pendidikan itu
sendiri.

B. Fokus Pengembangan
P3KG meliputi pembinaan, kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Fokus
pengembangan P3KG terkait dengan empat kompetensi yang harus dimilikinya.
Pertama, kompetensi pedagogik. Kompetensi ini terdiri dari lima
subkompetensi, yaitu: memahami peserta didik; melaksanakan pembelajaran;
merancang dan melakukan evaluasi pembelajaran; dan pengembangan peserta
didik.
Kedua, kompetensi kepribadian. Kompetensi ini terdiri dari lima
subkomtensi, yaitu: kepribadian yang mantap dan stabil; bertindak sesuai
dengan norma sosial; bangga sebagai guru; dan memiliki konsistensi dalam
bertindak.
Ketiga, kompetensi sosial. Kompetensi ini memiliki tiga subranah. Pertama,
mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik. Kedua,
mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik.
Ketiga, mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua
peserta didik.
Keempat, kompetensi profesional. Kompetensi ini terdiri dari dua ranah
subkompetensi. Pertama, subkompetensi menguasai substansi keilmuan yang
terkait bidang studi. Kedua, subkompetensi menguasai struktur dan metode
keilmuan.

C. Kesamaan Hak Atas Pengembangan


Semua guru dan tenaga kependidikan memiliki hak yang sama untuk
mengikuti kegiatan pembinaan dan profesi. Khusus untuk guru, program
berpokus pada empat kompetensi di atas. Namun demikian, kebutuhan guru
akan program pembinaan dan pengembangan profesi beragam sifatnya.
Kebutuhan dikelompokkan ke dalam lima kategori, yaitu pemahaman tentang

8
konteks pembelajaran, penguatan penguasaan materi, pengembangan metode
mengajar, inovasi pembelajaran, dan pengalaman tentang teori-teori terkini.

BAB 5
Prinsip dan Jenis Kegiatan Pengembangan
A. Prinsip-Prinsip Pengembangan
Pembinaan dan pengembangan profesi guru dilaksanakan atas dasar
prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum P3KG guru dijelaskan berikut
ini. Pertama, diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan,
nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Kedua, diselenggarakannya sebagai
sebuah kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Ketiga,
diselenggarakannya sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan
guru. Keempat, diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun
kemauan, dan mengembangkan kreatifitas guru. Kelima, diselenggarakan
dengan memberdayakan semua komponen masyarakat.
Prinsip khusus pembinaan dan pengembangan profesi dan karir, yaitu
berikut ini. Pertama, ilmiah, dimana seluruh materi dan kegiatan yang menjadi
muatan dalam kompetensi dan indikator harus dapat dipertanggungjawabkan
secara keilmuan. Kedua, relevan, dimana rumusannya berorientasi pada tugas
pokok dan fungsi guru sebagai pendidik profesional. Ketiga, sistematis, dimana
setiap komponen dalam kompetensi jabatan guru berhubungan secara
fungsional dalam mencapai kompetensi.

B. Jenis-Jenis Kegiatan Pengembangan


1. Pendidikan dan Pelatihan
a. In-House Training. Pelatihan dalam bentuk IHT adalah pelatihan yang
dilaksanakan secara intelektual di kelompok kerja guru, sekolah atau
tempat yang ditetapkan sebagai tempat penyelenggara latihan.
b. Program magang. Program magang adalah pelatihan yang dilaksanakan
di dunia kerja atau industri yang relevan dalam meningkatkan
kompetensi profesional guru.
c. Kemitraan sekolah. Pelatihan melalui kemitraan sekolah dapat
dilaksanakan antara sekolah yang baik dengan yang kurang baik, antara
sekolah negeri dengan sekolah swasta.

2. Kegiatan selain pendidikan dan pelatihan


a. Diskusi masalah pendidikan
b. Seminar

9
c. Workshop
d. Penelitian
e. Penulisan buku
f. Pembuatan media pembelajaran

BAB 6
Peran dan Tugas Guru
Tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur
pendidik formal. Berkaitan dengan hal itu, guru memiliki peran yang bersifat
multi fungsi lebih dari sekedar yang tertuang pada produk hukum tentang guru,
seperti tertulis dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan PP No.
74 tentang perancang, penggerak, evaluator, dan motivator. Mujtahid
mengemukakan beberapa guru dalam administrasi sekolah, yaitu: guru sebagai
perancang, guru sebagai penggerak, guru sebagai evaluator, dan guru sebagai
motivator.
Pertama, guru sebagai perancang. Dalam terpenuhinya kebutuhan utama
sekolah, tugas guru sebagai perancang, yaitu menyusun kegiatan akademik atau
kurikulum dan pembelajaran, menyusun kegiatan kesiswaan, menyusun
kebutuhan sarana-prasarana dan mengestimasi sumber-sumber pembiayaan
operasional sekolah, serta menjalin hubungan dengan orangtua, masyarakat,
pemangku kepentingan dan instansi terkait. Dalam melaksanakan tugas-tugas
tersebut, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: mengerti dan
memahami visi, misi, dan tujuan lembaga sekolah; mampu menganalisis data-
data yang terkait masalah perubahan kurikulum, perkembangan siswa,
kebutuhan sumber belajar dan pembelajaran, strategi pembelajaran, serta
perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi; mampu
menyusun prioritas program sekolah secara terukur dan sistematis; serta mampu
mengembangkan program-program khusus yang bermanfaat bagi penciptaan
inovasi sekolah, khususnya di bidang pendidikan dan pembelajaran.
Kedua, guru sebagai penggerak makudnya adalah guru berperan sebagai
mobilisator yang mendorong dan menggerakkan sistem organisasi sekolah. Hal
ini menuntut seorang guru memiliki kemampuan intelektual (jiwa visioner,
kreator, peneliti, rasional) dan kepribadian yang kuat (wibawa, luwes, adil,
bijaksana, arif, jujur, objektif, toleransi, tanggungjawab, disiplin). Ketiga, guru
sebagai evaluator maksudnya adalah guru sebagai pelaku utama dalam
kebijakan kurikulum, pengajaran, regulasi harus melakukan penilaian terhadap

10
aktivitas yang telah dikerjakan dalam sistem sekolah. Hal ini bertujuan guna
meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik. Keempat, guru sebagai
motivator maksudnya adalah guru dapat memotivator siswa agar siswanya rajin
belajar.
Selain itu, terdapat beberapa peran yang harus dilakukan oleh guru masa depan,
yaitu: sebagai penasihat, sebagai subjek yang memproduksi, sebagai perencana,
sebagai inovator, sebagai motivator, secara pribadi yang mampu, sebagai
pengembang, sebagai penghubung, dan sebagai pemelihara. Menurut Mujtahid,
terdapat beberapa strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk
menumbuhkan motivasi belajar siswa, yaitu: menjelaskan tujuan belajar kepada
siswa; memberikan hadiah kepada siswa yang berprestasi; mendorong usaha
persaingan antara siswanya meningkatkan prestasi mereka; memberikan pujian;
memberikan hukuman yang bersifat mendidik; membantu kesulitan belajar
siswa; serta menggunakan metode mengajar dan media yang bervariasi sesuai
dengan tujuan pembelajaran. Juga Mujtahid, model kondisi motivasional, yaitu
perhatian (attention), relevansi (revance), kepercayaan diri (confidence), dan
kepuasan (satisfaction).
Menurut PP No. 74 Tahun 2008, jabatan guru terdiri atas: guru kelas, guru mata
pelajaran, dan guru bidang studi.

BAB 7
Profesionalisasi Bidang Keadministrasian Pendidikan
Administrasi pendidikan adalah proses kerjasama antara dua orang atau
lebih dengan menggunakan sumber daya kependidikan yang tersedia dan yang
dapat diakses untuk mencapai tujuan pendidikan secara berdaya guna dan
berhasil guna. Pertama, administrasi pendidikan merupakan proses
merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan melakukan tindak lanjut bagi
tugas yang relevand dengan substansi pendidikan. Kedua, administrasi
melibatkan dua ornag atau lebih yang saling bekerjasama untuk mencapai
tujuan tertentu di bidang pendidikan. Ketiga, administrasi pendidikan
melaibatkan sumber daya yang tersedia yang mudah diakses dalam mencapai
tujuan tertentu di bidang pendidikan. Keempat, proses dan substansi
administrasi pendidikan berporos pada tujuan pendidikan dalam jangka waktu
yang tidak terbatas. Kelima, administrasi pendidikan selalu berada pada sistem
dan konteks sosial tertentu. Keenam, administrasi pendidikan mensyaratkan
efisiensi dan efektivitas sebagai kriterium kerja.

11
Perbedaan antara administrasi dan manajemen pendidikan, yaitu: istilah
administrasi pada umumnya digunakan manusia merujuk pada proses kerja
manajerial tingkat puncak dilihat dari konteks keorganisasian, sedangkan istilah
manajemen merujuk pada proses kerja manajerial pada tingkat yang lebih
operasional. Pendekatan dalam administrasi pendidikan dapat dilihat dari dua
sisi, yaitu pendekatan fungsional dan pendekatan substansial. Pertama,
pendekatan fungsional. Dalam pendekatan ini, istilah administrator sekolah
merujuk pada fungsi pada fungsi yang harus dijalankannya dalam kaitannya
dengan tugas-tugas administratif sekolah sesuai dengan pembagian kerja.
Menurut Farol, terdapat lima fungsi administrasi, yaitu merencanakan,
mengorganisasikan, memerintah, mengkoordinasi, dan mengendalikan. Stoner
membagi fungsi administrasi menjadi empat, yaitu: perencanaan (planning),
perngorganisasian (organizing), memimpin (leading), dan pengendali atau
pengawasan (controlling). Sedangkan, menurut G. R. Terry, terdapat empat
fungsi administrasi, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan atau
pengaktualisasian, serta pengawasan atau pengendalian. Harold dan Cyril
mengemukakan lima fungsi administrasi, mencakup perencanaan,
pengorganisasian, penataan staf, pengarahan, dan pengawasan atau
pengendalian. Sedangkan, menurut L. Gullick terdapat tujuh fungsi administrasi,
yaitu: perencanaan, pengorganisasian, penataan staf, pengarahan,
pengkoordinasian, pelaporan, dan penganggaran. Dari beberapa pendapat para
ahli, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat enam fungsi administrasi, yaitu:
mengorganisasikan, melaksanakan, mengendalikan, mengkomunikasikan,
mengawasi dan mengendalikan, serta melaporkan.
Pada pendekatan substansional (substansif) secara umum memiliki fungsi
administrasi pendidikan, yaitu sumber daya manusia, sumber belajar, dan
sumber fasilitas dan dana. Secara rinci, Thomas J. Sergiovani mengemukakan
delapan bidang administrasi pendidikan, meliputi: administrasi pengajaran dan
pengembangan kurikulum, administrasi kesiswaan, hubungan sekolah dan
masyarakat, kepegawaian sekolah, bangunan dan perlengkapan sekolah,
transportasi sekolah, pengorganisasian dan penataan struktur, serta keuangan
sekolah. Berdasarkan Departemen Pendidikan Nasional (1997), mengemukakan
keenam bidang tugas administrasi pendidikan, yaitu: bidang akademik, bidang
kesiswaan, bidang personalia, bidang keuangan, bidang sarana dan prasarana,
serta bidang hubungan masyarakat.

12
BAB 8
Keprofesian Bidang Kekepalasekolahan
Kerangka menjalankan fungsinya, kepala sekolah harus memerankan diri
dalam tatanan perilaku yang disingkat EMASLIME, sebagai singkatan dari
educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator, motivator, dan
enterpreneur. Pertama, sebagai edukator, kepala sekolah berfungsi menciptakan
iklim sekolah yang kondusif, berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang
dilakukan oleh guru, mendorong guru dan tenaga kependidikan melaksanakan
model pembelajaran yang menarik, mampu menginisiasi pengajaran tim. Kedua,
sebagai manajer, kepala sekolah harus mampu mengoptimasi dan mengakses
sumber daya sekolah untuk mewujudkan visi, misi, dan mencapai tujuannya,
memonitor hasil, mengontrol biaya, menetapkan standar kualitas, serta
memberdayakan guru dan tenaga kependidikan lainnya. Ketiga, sebagai
administrator, harus mampu merencanakan, mengoorganisasikan, menata staf,
melaksanakan, mengawasi, mengendalikan, mengevaluasi, dan melakukan
tindak lanjut. Keempat, sebagai supervisor, kepala sekolah harus mampu
menyusun dan melaksanakan program supervisi pembelajaran serta
memanfaatkan hasilnya. Kelima, sebagai leader, kepala sekolah harus mampu
memberikan petunjuk dan penagwasan, meningkatkan kemauan dan
kemampuan guru dan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan
mendelegasikan tugas. Keenam, sebagai inovator, kepala sekolah dituntut
mampu meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan yang akan
tercermin dari caranya melakukan pekerjaan secara konstruktif, kreatif,
delegatif, integratif, rasional, objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, berdaya
suai, dan fleksibel. Ketujuh, sebagai motivator, kepala sekolah harus mampu
memberikan motivasi kepada guru dan tenaga kependidikan lainnya melakukan
pelbagai tugas dan fungsinya. Kedelapan, sebagai entrepreneur, kepala sekolah
harus mampu selalu mencari terobosan terbaru dalam hal pengembangan
sekolah.
Jabatan kepala sekolah sebagai pejabat formal atau pemimpin formal
dapat diuraikan melalui pelbagai pendekatan, yaitu: pengangkatan, pembinaan,
dan tanggung jawab. Pengangkatan guru menjadi kepala sekolah harus
didasarkan atas prosedur atau peraturan yang berlaku. Persyaratan administratif
calon kepala sekolah meliputi: usia maksimal, pangkat, masa kerja, pengalaman,
dan berkedudukan sebagai tenaga fungsional guru. Kepala sekolah juga memiliki
tugas dan tanggung jawab terhadap atasannya. Seorang kepala sekolah wajib:

13
loyal; berkonsultasi memberikan laporan mengenai pelaksanaan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya; selalu memelihara hubungan antara kepala sekolah
dan atasan; peduli atau menaruh perhatian sepenuhnya pada hal-hal yang
berkaitan dengan nilai-nilai dan misi sekolah, tata laksana dan keadministrasian
sekolah, kurikulum, pengajaran, penilaian dan evaluasi, sumber daya, layanan
pendukung pembelajaran, komunikasi dan jalinan hubungan dengan pemangku
kepentingan, kegiatan kemasyarakatan, serta peningkatan mutu secara
berkelanjutan.
Di dalam PP no. 19 tahun 2005, disebutkan bahwa terdapat syarat-syarat
untuk menjadi kepala sekolah bagi tingkatan TK/ RA, SD/ MI, SMP/ MTs, SMA/ MA,
SMK/ MAK, serta SDLB/ SMPLB/ SMALB. Selain itu, kepala sekolah dituntut untuk
memiliki standar kompetensi dalam mengemban tugasnya, yaitu: kompetensi di
bidang perencanaan; bidang pengorganisasian; bidang implementasi program;
bidang pengendalian program; bidang pelaporan; memimpin sekolah;
memberdayakan sumber daya sekolah; menciptakan budaya dan iklim kerja
yang kondusif; mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan;
komunikasi dan kerja sama dalam pekerjaan; memanfaatkan bahasa Inggris
dalam pekerjaan; memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan; mengelola
kurikulum dan program pembelajaran; mengelola guru dan tenaga kependidikan;
mengelola kesiswaan; mengelola keuangan; mengelola sarana dan prasarana;
mengelola hubungan sekolah-masyarakat; mengelola sistem informasi sekolah;
menguasai landasan pendidikan; mengetahui tingkat perkembangan siswa;
menguasai kebijakan pendidikan; mengetahui macam-macam pendekatan
pembelajaran. Selain itu, juga memahami program pembangunan pendidikan
dan rencan strategi di bidang pendidikan; memahami kebijakan pendidikan;
memahami konsep dan penerapan kepemimpinan pendidikan dalam tugas,
peran,dan fungsi kepala sekolah; memahami konsep dan penerapan manajemen
pendidikan dalam tugas, peran, dan fungsi sekolah; memahami konsep dan
penerapan manajemen berbasis sekolah; memahami konsep dan penerapan
manajemen strategi di sekolah; menerapkan konsep dan penerapan manajemen
mutu sekolah; kompetensi personal; berjiwa pemimpin; memiliki etos kerja yang
tinggi dan pengendalian diri; bersikap terbuka dan komitmen; serta kompetensi
sosial kemasyarakatan.
Kualifikasi Kepala Sekolah/ Madrasah terdiri atas kualifikasi umum dan
kualifikasi khusus. Kepala sekolah yang profesional memiliki kemampuan yang
kuat dalam memberdayakan komite sekolah. Indikator kinerja dewan pendidikan

14
terbagi atas empat pembagian, yaitu: badan pertimbangan (advisory agency)
yang mencakup perencanaan program, pelaksanaan program, dan
pemberdayaan sumber daya; badan pendukung (supporting agency) yang
mencakup pengelolaan sumber daya, pengelolaan sarana dan prasarana
program, dan pengelolaan anggaran sumber daya; badan pengontrolan
(controlling agency) yang mencakup mengontrol perencanaan pendidikan,
mengontrol pelaksanaan program pendidikan, memantau luaran pendidikan, dan
memantau dampak pendidikan; serta badan penghubung (mediator agency)
yang mencakup perencanaan program, pelaksanaan program, dan pengelolaan
sumber daya.
Sedangkan, untuk indikator kinerja komite sekolah/ madrasah terbagi atas
empat pembagian, yaitu: badan pertimbangan (advisory agency) yang
mencakup perencanaan program, pelaksanaan program, dan pengelolaan
sumber daya; badan pendukung (supporting agency) yang mencakup
pengelolaan sumber daya, pengelolaan sarana dan prasarana program,
pengelolaan anggaran sumber daya; badan pengontrolan (controlling agency)
yang mencakup mengontrol perencanaan pendidikan, mengontrol pelaksanaan
pendidikan, memnatau luaran pendidikan; serta badan penghubung (mediatory
agency) yang mencakup perencanaan program, pelaksaan program, dan
pengelolaan sumber daya.

BAB 9
Keprofesian Bidang Kepegawasan Sekolah
Dalam PP No. 74 Tahun 2008 Tentang Guru, pengawas sekolah esensinya
adalah guru, yaitu guru dalam jabatan pengawas. Oleh sebab itu, pengawas
sekolah adalah tenaga profesional, yaitu di samping sebagai guru profesional,
juga harus menjadi pengawas sekolah yang profesional pula. Dengan berlakunya
peraturan di atas, maka pengawas sekolah masuk dalam rumpun guru. Pada
prinsipnya, guru itu ada tiga, yaitu guru, guru dengan tugas tambahan sebagai
kepala sekolah, dan guru dalam jabatan pengawas. Tugas pokok seorang
pengawas sekolah terbagi atas dua, yaitu tugas pokok supervisor yang lebih
menekankan pada aspek teknik pendidikan/ pembelajaran dan supervisor
manajerial sekolah (administrasi dan manajemen sekolah) Rincian tugas dari
seorang pengawas sekolah terbagi atas lima, yaitu: pengawasan (inspecting),
menasihati (advising), memantau (monitoring), mengkoordinasi (coordinating),
dan reporting.

15
Dalam melaksanakan tugasnya pokoknya, pengawas sekolah
melaksanakan fungsi supervisi, baik supervisi akademik dan supervisi
manajerial. Dalam menjalankan supervisi akademik, pengawas berperan
sebagai: mitra guru; inovator dan pelopor; pembina, pembimbing, atau konsultan
pendidikan di sekolah binaannya; konselor bagi kepala sekolah, guru, dan
seluruh staf sekolah; motivator. Sedangkan, dalam menjalankan fungsi supervisi
manajerial, pengawas hendaknya berperan sebagai: kolaborator dan negosiator;
asessor; pusat informasi pengembangan mutu pendidikan di sekolah binaannya;
serta evaluator/ judgement. Kewenangan seorang pengawas sekolah, yaitu:
menentukan program peningkatan mutu pendidikan, menyusun program kerja/
agenda kerja kepengawasan di sekolah binaannya, menentukan metode kerja,
dan menetapkan kinerja sekolah.
Secara akademik, standar kompetensi pengawas sekolah dikelompokkan
ke dalam tiga komponen, yaitu: komponen kompetensi profesional (terdiri dari
subkomponen kompetensi pengawasan sekolah, kompetensi wawasan
kependidikan, kompetensi akademik/ vokasional dan kompetensi pengembangan
profesi); komponen kompetensi personal; dan komponen kompetensi sosial.
Berbeda dengan hasil kajian akademik di atas, dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No. 12 tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/
Madrasah disebutkan bahwa seorang pengawas sekolah harus memiliki
kompetensi tertentu, yaitu: kompetensi kepribadian, kompetensi supervisi/
manajerial, kompetensi supervisi akademik, kompetensi evaluasi pendidikan,
kompetensi penelitian pengembangan, dan kompetensi sosial. Keenam masing-
masing kompetensi memiliki perbedaan untuk tiap tingkatan satuan pendidikan,
seperti TK/ RA, SD/ MI, SMP/ MTs, SMA/ MA, dan SMK/ MAK. Untuk subkompetensi
dan indikator terdiri atas: menyusun program tahunan dan semester
pengawasan sekolah; menyusun soal/ instrumen penilaian/ instrumen layanan
bimbingan dan konseling (BK); menilai, mengolah, dan menganalisis data hasil
belajar/ bimbingan siswa dan kemampuan guru; mengumpulkan dan mengolah
data sumber daya pendidikan, proses pembelajaran atau bimbingan dan
konseling; melaksanakan analisis sederhana terhadap hasil belajar/ bimbingan
siswa; melaksanakan analisis komprehensif terhadap hasil belajar/ bimbingan
siswa; memberikan arahan dan bimbingan kepada guru terhadap pelaksanaan
proses belajar pengajar; memberikan contoh pelaksanaan tugas guru;
memberikan saran; membina pelaksanaan pemeliharaan lingkungan sekolah;
menyusun laporan hasil pengawasan sekolah per sekolah; mengevaluasi hasil

16
pengawasan seluruh sekolah; membina pelaksanaan pengelolaan sekolah;
memantau dan membimbing pelaksanaan penerimaan siswa baru; memantau
dan membimbing pelakasanaan ujian akhir; memberikan bahan penilaian dalam
rangka akreditasi; menerapkan pemanfaatan IPTEK; melakukan aktivitas ilmiah
dan penelitian; etos kerja yang tinggi; dan kemauan menerima pembaharuan.
Kualifikasi pengawas untuk tingkat satuan pendidikan TK/ RA dan SD/ MI,
yaitu: berpendidikan minimum S1 atau Diploma IV kependidikan dari perguruan
tinggi terakreditasi; memiliki pangkat minimum penata, golongan ruang III/ C;
berusia setinggi-tingginya 50 tahun sejak diangkat sebagai pengawas satuan
pendidikan; memenuhi kompetensi sebagai pengawas satuan pendidikan yang
diperoleh melalui uji kompetensi atau pelatihan; serta lulus seleksi pengawas
satuan pendidikan. Sedangkan, untuk klasifikasi pengawas pendidikan tingkat
satuan pendidikan SMP/ MTs, SMA/ MA, SMK/ MAK, yaitu: memiliki pendidikan
minimum S2 dari perguruan tinggi terakreditasi; memiliki pangkat minimum
penata, golongan III/ C; berusia setinggi-tingginya 50 tahun sejak diangkat
menjadi pengawas satuan pendidikan; memenuhi kompetensi sebagai pengawas
satuan pendidikan yang diperoleh melalui uji kompetensi atau pelatihan; dan
lulus seleksi pengawas satuan pendidikan.

BAB 10
Profesi Supervisor dan Supervisi Pembelajaran
Supervisi adalah upaya peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran
dengan jalan meningkatkan kompetensi dan keterampilan guru melalui
bimbingan profesional oleh pengawas sekolah. Dapat dikatakan bahwa, supervisi
sebagai proses kerja seorang supervisor dalam mendiagnosis, menentukan
fokus, melakukan bimbingan profesional, dan menilai baik secara profesional
maupun secara kolektif, khususnya prestasi belajar siswa. Berbeda dengan
inspeksi, supervisi merupakan kegiatan yang tidak dimaksudkan untuk mencari-
cari kesalahan, melainkan lebih banyak mengandung unsur pembinaan,
pengembangan profesi, dan sejenisnya. Langkah selanjutnya akan dilakukannya
perbaikan atas kinerja yang masih kurang atau lemah. Kegiatan ini juga sebagai
langkah preventif dalam mencegah guru melakukan penyimpangan dan lebih
berhati-hati melakukan pekerjaannya. Tujuan utama dari supervisi pembelajaran
adalah meningkatkan mutu proses dari hasil belajar siswa. Apabila dilihat dari
sisi prosesnya, tujuan umum dari supervisi adalah memberikan bantuan teknis

17
dan bimbingan kepada guru agar mampu meningkatkan kualitas kerjanya dalam
melaksanakan tugas dan menjalankan proses belajar mengajar.
Supervisi pembelajaran bersifat multifungsi. Pertama, meningkatkan mutu
proses dan hasil pembelajaran. Kedua, mendorong dan mengoptimasi unsur-
unsur yang terkait dengan proses pembelajaran. Ketiga, fungsi membina dan
memimpin. Terdapat empat tugas utama pengawas sekolah, yaitu:
merencanakan penilaian yang dilengkapi dengan instrumennnya; melaksanakan
penilaian sesuai dengan kaidah-kaidah penilaian; mengolah hasil penilaian
dengan teknik-teknik pengolahan yang ilmiah; dan memanfaatkan hasil penilaian
untuk berbagai keperluan.
Secara lebih sederhana dan mudah dipahami, Tahalele dan Indrafachrudi
(1975) merumuskan prinsip-prinsip supervisi, yaitu: dilaksanakan secara
demokratis dan kooperatif; kreatif dan konstruktif; ilmiah dan efektif; dapat
memberi perasaan aman pada guru-guru; berdasarkan kenyataan; memberikan
kesempatan kepada supervisor dan guru-guru untuk mengadakan evaluasi diri.
Selain itu, prinsip dalam proses melaksanakan supervisi secara keseluruhan,
yaitu: objektif, transparan, akuntabel, berkelanjutan, aplikatif, keyakinan,
realistik, utilitas, pendukungan, jejaringan, kolaboratif, dan dapat diuji.
Tipe-tipe supervisi pembelajaran, yaitu: supervisi sebagai inspeksi,
supervisi sebagai laisses faire, supervisi yang coersive, supervisi yang bertipe
training dan guidance, dan supervisi demokratis. Sahertian dan Mataheru (1986)
membagi teknik supervisi pembelajaran menjadi dua jenis, yaitu bersifat
individual (individual devices) dan kelompok (group devices). Teknik individual
antara lain, kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling
mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri. Teknik yang bersifat kelompok,
antara lain diskusi panel, laboratorium profesional, buletin supervisi, pertemuan
atau rapat guru, organisasi profesi guru, kelompok kerja, musyawarah kerja,
forum bersama, dan lain-lain. Sergiovanni (1982) mengemukakan pelbagai
pendekatan supervisi, antara lain: supervisi ilmiah (scientific supervision),
supervisi klinis (clinical supervision), dan supervisi artistik.
Salah satu perangkat yang digunakan dalam melaksanakan supervisi
adalah instrumen observasi pembelajaran/ checklist terutama untuk supervisi
pembelajaran, termasuk supervisi klinis. Implementasi teknik supervisi
mencakup observasi kelas, saling mengunjungi, demonstrasi mengajar, dan kaji
tindak.

18
BAB 11
Profesi Surpervisior Klinis untuk Perbaikan Pemeblajaran
A. Supervisi Klisis
Seorang supervisor pembelajaran yang profesional mampu melkaukan
pendekatan klinis dalam pelaaksanaan tugasnya. Kajian dan diskusi
mengenai supervisi klinis di bidang pendidikan makin intensif akhir-akhir
ini. Hal ini membersitkan kuatnya pengakuan atas stasus supervisor klinis
sebagai profesi atau setidaknya subkeahlian dari supervisor
pembelajaran.
Pelaksanaan supervisi klnis untuk meningkatkan kemampuan profesional
guru dilakuakn melalui tahapan-tahapan :
a. Praobservasi, yang berisi pembicaraan dan kesepakatan antara
supervisor dengan guru mengenai apa permasalahan yang dihadaapi
oleh guru aatau apa yang aan diamati dan diperbaiki dari penegjaarn
yang dilakukan.
b. Observasi, yaitu surpervisor mengamatai guru dalam mengajar sesuai
dengan fokus yang telah diamati.
c. Analisis permasalahan yang dilakukan secara bersama oleh supervisor
dengan guru terhadap hasil pengamatan.
d. Perumusan langkah-langkah perbaikan, dan pembuatan rencana untuk
perbaikan.

B. Defenisi Supervisi Klinis


Suprvisi klinis adalah bantuan profesional kesejawatan oleh supervisor
kepada guru yang mengalami masalh daalm pemeblajaran agar yang
bersangkutan daapt mengatasi masalahnya dengan menempuh langkah
yang sistematis, dimulai dari tahap perencanaan, pengamatan perilaku
guru mengajar, analisis perilaku, dan tindak lanjut. Supervisi klinis adalah
proses bantuan atau terapi profesional yang berfokus paad upaya
perbaikan pembelajaran melalui proses siklikal yang sistematis dimulai
dari perencanaan, penegamatan dan analisis yang intensif terhadap
penampilan guru dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.

C. Ciri-ciri Supervisi Klinis


Pelaksanaan supervisi klinis yang baik bercirikan sebagai berikut :
a. Bimbingan supervisor pengajaran kepada guru bersifat hubungan
pembantuan, bukan hubungan perintah.
b. Kesepakatan antara guru dan supervisor tentang apa yang dikaji dan
jenis keterampilan yang paling penting merupakan hasil diskusi
bersama.

19
c. Instrumen supervisi klinis dikembangkan dan disepakatai bersaam
antara guru dengan supervisor.
d. Guru melakukan persiapan dengan mengidentifikasi aspek kelemahan-
kelamahan yang dipandang perlu diperbaiki.
e. Pelaksanaan supervisi klinis selayaknya teknik observasi kelas.
f. Umpan balik diberikan dengan segera dan bersifat objektif.
g. Supervisor lebih banayk bertanya dan mendengaran daripada
memerintah guru.
h. Supervisor dan guru menciptakan kondisi akrab dan terbuka.
i. Supervisor daapt digunakan untuk membentuk atau peningkatan dan
perbaikan keterampilan pemebaljaran.

D. Kakarakteristik Supervisi Klinis


a. Perbaikan proses pembelajaran mengharuskan guru mempelajarai
kemempuan intelektual dan keterampilan teknis. Supervisor
mendodrong guru berprilaku berdasarkan kemampuan intelektual dan
keterampilan teknis ang dimilikinya.
b. Fungsi utama supervisor adaalh menginformasikan bebraap
kemampuan dan keterampilan.
c. Berfokus pada perbaikan mutu proses dan hasil belajar, perbaikan
kinerja guru, serta upaya perbaikan didasari atas kesepakatan
bersama dan pengalaman masa lampau.
d. Hubungan pembantuan antara supervisor dengan yang disupervisi
mengendepankan dimensi kolegialitas.
e. Tindakan supervisor menemukan kelmaahan guru semata-mata
diperuntukkan bagi upaya perbaikan, bukan untuk keperluan penilaian
atas prestasi individual guru.

E. Urgensi Supervisi Klinis


a. Menghindarkan guru dari jebakan penurunan motivasi dan kinerja
daalm melaksanakan proses pembelajaran.
b. Menghindarkan guru dari upaya menutupi kelemahannya sendiri
melalui cara-cara dialog terbuka dengan supervisornya.
c. Menghindarkan ketiadaan respon dari supervisor atas prktif
profesesional yang telah memenuhi standar kompetensi dan kode etik
atau yang masih dibaawah standar.
d. Mendorong guru untuk selalu adaptif terhadap kemajuan iptek dalam
proses pembelajaran.
e. Menjaga konsistensi perilaku guru, agaar tidak masuk daalm jebakan
kejauhan profesional, bahkan meningkatkannya.
f. Mendorong guru untuk secara cermat dalam bekerja dan berinteraksi
dengan sejawat dan siswa agara terhindar dari pelanggaran kode etik
profesi guru.

20
g. Menghindarkan guru dari praktik-praktik melakukan atau mengulangi
kekeliruan secar masif daalm melaksanakan kegiatan pemeblaajran.
h. Menghindarkan guru dari erosi pengetahuan yang sudah didapat dari
pendidikan prajabatan selama studi.
i. Menghindarkan siswa dari praktik-praktik yang merugikan, baiak
secara akademik maupun non akadaemik
j. Menjauhkan guru dari menurunya apresiasi dan kepercayaan siswa,
orangtua siswa, dan masyarakat atas profesinya.

F. Tujuan Supervisi Klinis


a. Menjaga konsistensi motivasi dan kinerja guru dalam melaksanakan
proses pembelajarn
b. Mendorong keterbukaan guru kepada supervisor mengenai kelemahn-
kelemahannya sendiri dalam melaksanakan pemeblajaran.
c. Menciptakan kondisi agar guru terus menjaga dan meningkatkan
mutu praktik profesional sesuai dengan standar kompetensi dan kode
etik yang telah ditetapkan.
d. Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap
pelaksanaan pemebalajran yang berkualitas, baik proses maupun
hasilnya.
e. Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan
kualitas proses pembelajaran.
f. Membantu guru untuk mengidentifikasi masaalh yang ditemukan
dalam pembelajaran.
g. Membantu guru untuk menemukan cara pemecahan masaalh yang
ditemuan selama proses pembelajaran.
h. Membantu guru untuk menegmbangakn sikap positif terhadap
profesinya.

G. Prinsip-prinsip Supervisi Klinis


a. Hubungan supervior dengan guru didasari semangat kolegalitsa yang
taat asas.
b. Setiap kelemahan guru semata-mata digunakan untuk tindaakan
perbaiakn, tanpa secara eksplisif melebeli guru belum profesional.
c. Menumbuhkembangankan posisi guru
d. Hubungan antara supervisor dengan guru dilakuakn secara objektif,
transparan , adn akuntable.
e. Pengkajian atas umpan balik yang segera diketahui kemudian bersifat
demokratis dan didasarkan pada data hasil pengamatan.
f. Hubungan antara supervisor dengan guru bersifat interaktif, terbuka,
objektif, dan meyenangkan.
g. Pelaksanaan keputusan atau tindaan perbaikan ditetapkan atas dasar
kesepakatan atau kerelaan bersama.

21
h. Supervior tidak mempublikasikan kelemahan-kelemahn guru dan guru
tidak menjadikan kelemahan supervisor sebagai dalih untuk tidak
menerima bimbingan profesional darinya.
i. Fokus utama dan pelengkap kegiatan supervsi pada kebutuhan dan
aspirasi guru dan tetap berda di ruang lingkup tugas-tugas
pemebelajaran.
j. Proedur pelaksanaan berupa siklus.

H. Model-model Supervisi Klinis


Sistematika kerja dimaan tindaakan supervisi berlangsung disebut dengan
model supervisi. Ada tiga model pelaksanaan supervisi klinis, yaitu :
a. Model pengembangan. Konsepdasar supervisi klinis model
pembangunan adaalh keyakian bahawa individu tumbuh secara
kontiniu, ketika dia memulai tindakan secaar benar, menjalankannya
secara baik, dan menjalani pertumbuhan secara berpola.
b. Model terpadu. Kebanyakn ahli terapis memandang mereka sendiri
sebagai elektik, mengintegrasikan beberapa teori kedaalam praktik
yang konsisten, banyak model supervisi didesain untuk dilaksaanakan
dengan beberapa bentuk orientasi terapi.
c. Model orientasi spesifik. Pada konteks supervisi klinis, aplikasi model ini
pada tahap awal menjelama sebagai satu tahaapan, diaman ketika
supervisor bertatap muka degan yang disupervisi, mereka harus
menunjukkan keahlian dan kelemahannya. Pada tahap selanjutnya,
bukan tidak mungkin diantara mereka muncul konflik, sikap bertahan,
menghindar, bahkan meyerang, pada tahap ini supervisor harus
menunjukkan perannya sebagai pengendali dalam kerangkan supervisi.
Pada tahap akhir, supervisor lebih banayk diam dan mendorong subjek
yang disupervisi untuk tumbuh mandiri dengan caranya sendiri.

I. Komunikasi Klinis
Ada dua sikap supervisor pemebalajaran yang mempengaruhi proses
berkomunikas, yaitu sikap yang menghambat dan sikap yang membatu.
a. Sikap menghambat, terdiri dari : evaluasi, penugasan, manipulasi,
tidak memeprhatikan, bersikap super, dan kaku.
b. Sikap membantu , terdiri dari : deskripsi, permasalahan, spontanitas,
memberi perhatian, meyamakan diri, dan luwes.

BAB 12
Keprofesian Bidang Bimbingan Konseling
A. Urgensi Layanan Guru Bimbingan Konseling

22
Semua siswa memerlukan layanan bimbingan dan konseling (BK)
yang didalamnya jug termuat bimbingn karir, mulai dari yang benar-benar
bermasalah hingga yang sangat unggul. Jenis layananlah dan
kepentingannyalah yang membedakan, bukan esensinya. Bimbingan dan
konseling merupakan layanan bantuan untuk siswa, baik secara
perorangan maupun kelompok agar mereka bisa mandiri dan bisa
berkembang secara optimal.
Guru BK menjalankan fungsi semua itu. Persyaratan guru BK yang
profesinal ama dengan guru pada umumnya, yaitu berkualifikasi sarjana
dan memiliki sertifikat pendidik. Perbedannya hanya pada penguasaan
bidangnya.
Bimbingan dan konseling adaalh pelayanan bantuan untuk siswa, baik
secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang
secara optimal dalam bimbingan pribadi, sosial, belajjar maupun karir
melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendudkung berdasarkan
norma-norma yang berlaku.
Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang peyelenggaraan bimbingan
dan konseling di sekolah adaalh perlunya memfasilitasi siswa agar mampu
mengembangkan potensi dirinya atau mencaapi tugas-tugas secara
optimal. Akhmad Sudrajat(2008) mengemukakan fungsi bimbingan dan
konseling di sekolah, seperti berikut :
a. Fungsi pemahaman, yaitu bibingan dan konseling membantu konseli
agar meiliki pemehaman terhadap dirinya dan lingkunannya.
b. Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkatan dengan upaya konselor
untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masaalh yang mungkin
terjadi dan berupaya mencegahnya supaya tidak dialami oleh konseli.
c. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi yang sifatnya lebih proaktif dari
fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif, yang mempasilitasi perekembangan
konseli.
d. Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi yang bersifat kuratif. Fungsi ini
berkaitan dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang
telah mengalamai masaalh, baik yang meyangkut pribadi, sosial,
belajar, maupun karir.
e. Fungsi penyaluran, yaitu fungsi dalam membantu konsei memilih
kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi , dan
memantapkan penguasaan karir aatu jabatan yang sesuai dengan
minat,bakat kelahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya.

23
f. Fungsi adaptasi, yaitu fungsi yang membatu para pelaksana
pendidikan, kepla sekolah dan staf, konselor, dan guru untuk
meyesusuaikan program pendidikan terhadap latar belakang
pendidikan, minat, kemampuanmdan kebutuhan konseli.
g. Fungsi peyesuaian, yaitu fungsi dalam membantu konseli agar dapat
meyesesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan
konstruktif.
h. Fungsi perbaikan, yaitu fungsi untuk membantu konseli sehingga dapat
memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan, dan bertindak.
i. Fungsi fasilitasi, yaitu fungsi memberikan kemudahan kepad konseli
dalam mencaapi pertumbuhan dan perkembanagan yang optimal,
serasi, selaras, dan seimbang.
j. Fungs pemeliharaan, yaitu fungsi untuk membantu konseli supaay
dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah
tercipta daalm dirinya.

B. Pengawas Bimbingan dan Konseling


Lingkup kerja pengaawas BK untuk melaksanakan tugas pokok
dideskripsikan sebagai berikut :
a. Ekuivalensi kegitan kerja pengawas BK terhadap 24 jam tatap muka
menggunakn pendekatan jumlah guru yang dibina di satu atau
beberapa sekolah jenjang pendidikan yang sama atau jenjang
pendidikan yang berebeda
b. Jumlah guru yang harus dibina untuk pengaaws BK paling sedikit 40
orang dan paling banyak 60 guru BK.

C. Penyusunan Program
Beberaap hal yang perlu mendapatkan perhatian oleh pengawas BK :
a. Setiap pengawas BK, baik secar berkelompok maupun secara
perorangan wajib menyusun rencana program pengawasan.
b. Program pengawasan terdidri atas substansi dan periode waktu.
c. Program pengawaan tahuan pengawas disusun oleh kelompok
pengawas di kabupaten/kota melalui diskusi program.
d. Program pengawasan semester adaalh perencanaan teknis operasional
kegitan yang dilakukan oleh setiap pengawas BK pada setiap sekolah
tempat guru binaannya berada.
e. Rencana kepengawasan bimbingan dan konseling merupakan
penjabaran dari program semester yang lebih rinci dan sistematis
sesuai dengan fokus prioritas yang harus segera dilakukan selama
kegiatan supervisi BK.
f. Program tahuan, program semester, dan RKBK sekrang-kurangnya
memuat fokus, tujuan, indikator keberhasilan, strategi/metode kerja

24
atau teknik supervisi, kskenario kegiatan, sumber daay yang
diperlukan, penilaian, and instrumen pengawasan.
g. Program itu disusun secara rapi, dibukukan, dan menjadi pegangan
bersama pengawas BK dan guru yang dibinanya.

D. Pelaksanaan Program
a. Kegiatan supervisi BK meliputi pembinaan dan pemantauan
pelaksanaan BK di sekolah. Kegiatan ini berbentuk interaksi langsung
antara pengawas dengan guru binaanya.
b. Pelaksanaan penilaian pengawasan BK dimaksud untuk menilai kinerja
guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai proses
pembimbingan.
c. Kegiatan ini dilakukan di sekolah binaan, sesuai dengan uraian kegitan
dan jadwal yang tercantum dalam RKBK yang telah disusun.
d. Semua kegiatan tercatat rapi dan didokumentasikan dengan baik.
e. Pengawas BK dan guru binaannya diharuskan memiliki catatan
pelaksanaan, baik yang berupa hasil yang dicapai, keunggulan yang
menonjol, kendala yang muncul, dan program yang tertunda.

E. Pelaporan
a. Laporan kerja pengawas BK merupakan pertanggungjawaban eyeluruh
atas substansi kegitan yang dilakukan selama satu tahun akademik.
b. Laporan itu idealnya terdiri dari laporan semester pertama, semester
kedua, dan laporan akhir.
c. Setiap pengawas embuat laporan masing-masing sekolah yang
menjadi binaannya. Laporan ini lebih ditekankan kepada pencapaian
tujuan akhir dari setiap butir kegitan pengawas sekolah yang telah
dilaksanakan pada setiap sekolah binaan.
d. Penyususnan laporan oleh pengawas BK merupakan upaya untuk
mengkomunikasikan hasil kegiatan program yang telah direncanakan.
e. Penyusunan laporan pelaksanaan program pengawasan dilakukan oleh
setiap pengawas sekolah dengan segera setelah melaksanakan
pembinaan, pemantauan, atau penilaiaan.

F. Bimbingan dan Pelatihan


a. Kegitan pembinaan dan pelatihan bagi guru BK harus beranjak dari
kebutuhan nyata guru BK itu sendiri atau adanya tawaran inovatif
yang layak diimplementasikan oleh guru BK tersebut.
b. Kegitan pembinaan dan pelatihan profesionalitas guru BK dilaksanakan
idelanya paling sedikit 3 kali daalm satu semester secara
berkelompok di musyawarah guru pembimbing(MGP).

25
c. Kegiatan dilaksanakan terjadwal , baik waktu maupun jumlah jam yang
diperlukan untuk setiap kegiatan, sesuai dengan tema atau jenis
keterampilan dan kompetensi yang akan ditingkatkan.
d. Selama pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih
sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembimbingan.
e. Setiap pelatihan disertai dengan rencana tindak lanjut. Namun
demkian, pembuatan program tindak lanjut pembinaan dan pelatihan
harus menjadi bagian integral dari program guru BK secara
keseluruahan.

BAB 13
Keprofesin Bidang Ketatalaksanaan Pendidikan
A. Esensi Penatalaksanaan Sekolah
Istilah tatalaksaan yang dipakai di sini untuk membedakannya dengan
istilah administrasi. Administrasi sekolah merupakan representasi serial
proses kerja yang dilaksanakan di sekolah, sedangkan tata laksana
merupakan bagian darinya. Dengan demikian istilah tatalaksana di sini
mengandung makna administrasi secara sempit.

B. Fungsi Tatalaksana Sekolah


Secara operasional tata laksana sekolah berfungsi membantu administrasi
sekolah dalam kegiatan-kegiatan :
a. Administrasi sekolah yang berkaitan dengan pelajaran.
b. Kepegawaian, baik pendidik maupun tenaga kependidikan yang
bertugas di sekolah.
c. Meneglola keuangan sekolah.
d. Mengeloala perlengkapan atau logistik sekolah.
e. Mengelola kesekretariatan dan kesiswaan.
f. Mengatar surat ke luar.
g. Memelihara dan memperbaiki fasilitas sekolah berupa banguan,
kelistrikan, dan peralatan praktik, dan lainnya.

C. Standar Kompetensi Tatalaksana


Staf tatalaksana harus memiliki kompetensi tertentu. Seuai dengan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun
2008 tantang standar staf administrai sekolah , kompetensi yang harus
dipenuhi oleh staf tata usaha atau staf administrasi sekolah ialah :
a. Kompetensi kepribadian meliputi memiliki integritas dan akhlak mulia,
etos kerja, pengendalian diri, percaya diri, fleksibilitas, keteletian,
kedisplinan, kreativ dan inovatif, tanggung jawab.

26
b. Kompetensi sosial meliputi kemampuan kerja dalam tim, pelayanan
prima, kesadaran berorganisasi, berkomunikasi efektif dan membangun
hubungan kerja.
c. Kompetensi teknis meliputi kemampuan melakasanakan administrasi
kepegawaian, keungan, sarana prasarana, hubungan sekolah dengan
masyarakat, persuratan dan pengarsipan, administrasi kesiswaan,
admisnistrasi kurikulum, administrasi layanan khusus, dan penerapan
teknologi informasi dan komunikasi.
d. Kompentensi manajerial meliputi kemampuan mendudkung
pengelolaan standar nasional pendidikan , meyusun program dan
laporan kerja, mengkordinasikan staf, mengembangkan staf, mengabil
keputusan, menciptakan iklim kerja yang kondusif, mengoptimalkan
pemanfaat sumber daya, membina staf, mengeolal konflik, dan
menyusun laporan.

D. Mengurusi Ruang
Sekolah memiliki banyak ruang yang langsung atau tidak langsung
menjadi bagian dari tugas staf tatalaksana. Berikut ini adaalh sarana
prasarana yang sering ditemui pada intitusi yang ada di indonesia
berdasarkan kegunaanya, dimana hal ini tidak terlepas dari tugas
ketatalaksanaan sekolah.
a. Ruang belajar adalah suatu ruangan tempat kegitan pembelajaran
dilangsungkan. Ruang belajar terdiri dari beberapa jenis sesuai
fungsinya yaitu :
a) Ruang kelas, ruang ini berfunsi sebagai ruangan tempat siswa
menerima pelajaran melalui proses interaktif antara siswa dengan
pendidik.
b) Ruang praktik, yaitu ruang yang berfungsi sebagai tempat siswa
menggali ilmu pengetahuan dan meningkatkan keahlian melalui
praktik, latihan, penelitian, dan percobaan.

BAB 14
Tugas Keprofesian untuk Impementasi Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan
A. Pengantar
Kepala sekolah, guru, dan pengawas sangat banyak berinteraksi dengan
kurikulum satuan tingkat satuan pendidikan. Mereka merupaan tenga
profesional andalaan dibidangnya. Kurikulum merupakan seperangkat
rencana yang memuat tujuan, isi, dan bahkan pelajaran serta cara yang

27
digunkan sebagai pedoman penyelengaraan kegitan pemeblajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.

B. Defenisi dan Prinsip


KTSP adaalh kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di
masing- masing satuan pendidikan. KTSP terdiri ari tujuan pendidikan
tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan
pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
Dalam naskah yang dikeluarkan oleh BNSP disebutkan bahwa KTSP
dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik dan lingkungannya.
b. Beragam dan terpadu. Kurikulum dikembangkan dengan
memperhatikan karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan
jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap
perbedaan agama dan suku.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu
penegtahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis.
d. Releva dengan kebutuhan kehidupan. Pegebanga kurikulum dilakukan
dengan melibatkan pemangku kepentingan untuk menjamin reelvansi
pendidikan dengan ebutuhan kehidupan, termasuk didalamnya
kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha, dan dunia kerja.
e. Meyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup
keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata
pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan
antar semua jenjang pendidikan.
f. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses
pengembangan, pembudayaan, dan permberdayaaan peserta didik
yang berlangsung sepanjang hayat.
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatian kepentingan nasional
dan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
Sejalan dengan itu, BNSP juga menyusun acuan operasional peyusunan KTSP.
KTSP disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
b. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat
perekembangan dan kemampuan peseta didik.
c. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan.
d. Tuntutan pembangunan derah dan nasional.

28
e. Tuntutan dunia kerja.
f. Perekembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
g. Agama.
h. Dinamika perkembanagan global.
i. Persatan nasiolan dan nilai-nilai kabangsaan.
j. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
k. Kesetaraan jender.
l. Kaarkteristik satuan pendidikan.

C. Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


a. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan. Tujuan pendidikan
tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu
kepada tujuan umum pendidikan berikut ini :
a) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lanjut.
b) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lanjut.
c) Tujuan pendidikan menegah kejuruan adalah
meningkatkankecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia,
serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan
lanjut sesuai kejuruannya.
b. Struktur dan Muatan KTSP. Struktur dan muatan KTSP pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dala SI meliputu lima
kelompok mata pelajaran sebagai berikut :
a) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.
b) Kelompok mata pelajaran kewarganegaran dan kepribadian.
c) Kelompok mata pelajaran ilmu penegtahuan dan teknologi.
d) Kelompok mata pelajaran estetika.
e) Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
c. Mata pelejaran. Mata pelejaran beserta alokasi waktu masing-masing
tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum yang
tercantum daalm SI.
d. Mutan lokal. Muatan lokal merupakan kegiatan ekstrakurikuler untuk
mengembangan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan
potensi daerah.
e. Kegitan Pengembangan Diri. Kegitan penegmbangan diri dalah kegitan
yang bertujuan memberikan kesempatan kepeda peserta didik untuk
mengembangakn dan mengekpresikan diri sesuai dengan kebutuhan,
bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
f. Pengaturan beban belajar, yang terdiri dari beban belajar, jam
pelajaran, alokasi waktu untuk penugasan, alokasi waktu untuk praktik
dan alokasi waktu untuk tatap muka.

29
g. Ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar setiap ndikator yang telah
ditetapkan daalm suatu kompetensi berkisar antara 0-100%.
h. Kenaikan Kelas dan Kelulusan. Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap
akhir tahun ajaran. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing
direktorat tekns terkait.
i. Penjurusan. Penjurusan dilakukan paad kelas XI dan XII di SMA/MA .
j. Pendidikan Kecakapan Hidup.
k. Pendidikan Berbasi Keunggulan Lokal dan Global.
l. Kalender pendidikan. Satuan pendidiakn dasar dan menengah daapt
meyususn kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah,
karakteristi sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat.

D. Pengembangan Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok
maat pelajaran tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok, kegitan pembeljaran, indikator, penilaiaan, alokasi
waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Prinsip pengembanagn silabus
adalah sebagai berikut :
a. Ilmiah
b. Relevan
c. Sistemstis
d. Konsisten
e. Memadai
f. Aktual dan konseptual
g. Fleksibel
h. Meyeluruh.

E. Unit Waktu dan Pengembangan Siabus


Peyususunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakanakan
per semester, per tahun, adan alokasi waktu mata pelajaran lain yang
sekelompok. Penegmbanagn silabus daapt dilakukan oleh para guru
secaar mandiri atau berkeompok atau beberaap sekolah, Kelompok
Musyawarah Guru Mata Pelajaran pada atau Pusat Kegiatan Guru dan
Dinas Pendidikan.

F. Langkah-langkah Pengembangan Silabus


a. Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar dengan
memperhatikan:
a) Urutan berdasarkan hirarki konsep displin ilmu atau tingkat
kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada
di SI.
b) Keterkaitan antaar standar kompetensi dan kompetensi dasar
dalam mata pelajaran.

30
c) Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar
antarmata pelajaran.
b. Mengindetifikasi materi pokok, dengan mempertimbangakan :
a) potensi peserta didik
b) relevansi dengan karakteristik daerah
c) tingkat perekembanagn fisik, intelektual, emosional, sosial dan
spiritual peserta didik
d) kebermanfaatan bagi peserta didik
e) struktur keilmuan
f) aktualisasi, kedalaman, dan keluasan materi pembeelajran
g) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan
h) alokasi waktu.
c. Mengembangkan Kegitan Pembelajaran. Mengembangakan kegiatan
pemeblajaran dirancang untuk memberikan pengelaman belajar yang
melibatkan proses mental da fisik melalui interaksi antar pesrta didik,
peserta didik dengan guru, lingkunagn dan sumber beljar lainnya
dalam pencapaaian kompetensi dsar.
d. Merumuskan Indikator Pencapaian Komptensi. Indikator merupakan
penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan
pelilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan dan
keterampilan.
e. Penentuan Jenis Penilaiaan. Penilaian pencapaian kompetensi dasar
peserta didik dilakukan bersdasarkan indikator. Penilaiaan dilakukan
dengan menggunakan ten dan non tes daalm bentuk tulis maupun lisn,
pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penlaian hasil karya berupa
tugas, proyek, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
f. Menentukan Alokasi Waktu. Penentuan alokasi waktu pada setiap
kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif an alokasi
waktu maat pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah
kompetensi dasar, kelulusan, kedalaam, tingkat kesulitan, dan tinggakt
kepentingan kompetensi dasar.
g. Menetukan Sumber Belajar. Sumber belajar adaalh rujukan, objek yang
digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak
adan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, adn
budaya.

G. Pelaksanaan Penyusunan KTSP


a. Analisis konteks :
a) Mengidentifikasi SI dan SKL sebagai acuan dalam peyususnan KTSP.
b) Menganalisis kondisi yang ada di satuan pendidikan yang meliputi
peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana,
biaya, dan program-program.

31
c) Menganalisis peluang dan tantanagan yang ada di masyarakat dan
lingungan sekitar.
b. Mekanisme peyusunan. Tim peyususnan KTSP pada SD, SMP, SMA,dan
SK terdiri atas guru dan konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua
merangkap anggota.
Penyusunan KTSP merupakan bagian dari kegitaatan perencanaan
sekolah. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja sekolah yang
diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pemeblajran
baru. Tahap kegitan penyusunan KTSP secara garis besar meliputi :
a) Penyiapan dan penyusunan draf
b) Reviu dan revisi
c) Finalisasi
d) Pemantaapan dan penilaian
2.2 Ringkasan Isi Buku Pembanding Profesi Kependidikan karangan Deliati, S.Ag.
M.Ag.; Elfrianto Nasution, M.Pd.; dan Muhammad Arifin, S.Pd, M.Pd.

Bab 1
Profesi Pendidik Dan Tenaga Kependidikan
Istilah profesi dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk menunjukkan
tentang pekerjaan seseorang. Seseorang yang bekerja sebagai dokter,
pengacara, pedagang, petinju, penyanyi, guru dan sebagainyadikatakan sebagai
profesi.
1. Pengertian profesi
Secara etimologi, istilah profesi berasal dari bahasa inggris yaitu profession atau
bahasa latin, proffesio yang artinya mengakui, adanya pengakuan, menyatakan
mampu, atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara
terminology, profesi berarti suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan
tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental, yaitu adanya
persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrument untuk melakukan
perubahan praktis.
Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian para
anggotanya. Artinya, ia tak bisa dilakukan oleh sembarangan orang yang tidak
dilatih dan tidak disiapkan secara khusus. Professional adalah menunjuk pada
dua hal, pertama orang yang menyandang suatu profesi, misalnya dia seorang
yang professional. Kedua, penampilan seseorang dalam melakukan
pekerjaannya yang sesuai dengan profesinya. Profesionalisme menunjuk pada
komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan
profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang

32
digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya.
Profesionalitas mengacu kepada sikap para anggota profesi terhadap profesinya
serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam rangka
melakukan pekerjaannya. Profesionalisasi menunjukkan pada proses peningkatan
kualifikasi maupun kemampuan anggota profesi dalam mencapai criteria yang
standard dalam penampilannya sebagai suatu profesi.
2. Ciri dan karakterisitik profesi kependidikan
Cirri profesi menurut Chandler adalah :
1. Lebih meningkatkan layanan kemanusiaan melebihi dari kepentingan
pribadi.
2. Masyarakat mengakui bahwa profesi itu punya status yang tinggi
3. Praktek profesi itu didasarkan suatu penguasaan pengetahuan yang
khusus
4. Profesi itu ditantang untuk memiliki keaktifan intelektual.
5. Hak untuk memiliki standar kualifikasi professional ditetapkan dan dijamin
oleh kelompok organisasi profesi.
Sedangkan cirri daripada mengajar suatu profesi menurut Chandler adalah :
1. Lebih mementingkan layanan daripada kepentingan pribadi
2. Mempunyai status yang tinggi
3. Memiliki pengetahuan yang khusus
4. Memiliki kegiatan yang intelektual
5. Memiliki hak untuk memperoleh standar kualifikasi professional
6. Mempunyai etik profesi yang ditentutkan oleh organisasi profesi.

3. Syarat-syarat profesi
Konvensi nasional pendidikan Indonesia I pada tahun 1988 menentukan syarat-
syarat suatu pekerjaan profeisonal sebagai berikut :
1. Atas dasar panggilan hidup
2. Telah memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus
3. Dilakukan menurut teori, prinsip, prosedur, dan anggapan-anggapan dasar
yang sudah baku sebagai pedoman dalam melayani klien
4. Sebagai pengabdian kepada masyarakat
5. Memiliki kecakapan diagnostic dan kkompetensi aplikatif.
6. Dilakukan secara otonom yang bsia diiuji olehe rakn-rekan seprofeis
7. Memepunyai kode etik yang dijunjung tinggi oleh masyarakat
8. Pekerjaan yang dilakukan untuk melayani mereka yang membutuhkan

Bab 2
Pengembangan Dan Peningkatan Profesi Guru
A. Penyediaan guru
1. Peneyedian guru berbasis perguruan tinggi

33
Di Indonesia seperti juga kebanyakan Negara, guru mempunyai kedudukan
sebagai tenaga profesinal pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan yang formal.
Mereka diangkat sesuai dengan peraturan regulasi yang berlaku di lingkungan
pemerintah, penyelenggara, atau satuan pendidikan. Merek ayng diangkat
sebagai guru merupakan lulusan lembaga penyedia calon guru.
Guru yang dimaksudkan memiliki kualifikasi akadaemik sekurang-kurangnya
S1/D1-V dan bersertifikat pendidik. Jika seorang guru telah memiliki keudanya,
statusnya diakui oleh Negara sebagai guru yang professional.
2. Induksi guru pemula berbasis sekolah
Program induksi merupakan masas transisi bagi guru pemula terjitung mulai dia
masuk mengajar di sekolah atau di satuan pendidikan sehingga benar-benar
layak dilepas untuk menjalankan tugas pendidikan dan pembelajaran yang
secara mandiri. Peraturan ini memperoleh legitimasi akademik, karena secara
teoritis dan empiris lazim dilakukan di banyak Negara .
3. Professional guru berbasis lembaga.
Ketika guru selesai menjalani proses induksi dan kemudian secara rutin
keseharian menjalankan tugas tugas professional , profesioanlisais atau proses
penumbuhan dan pengembangan profesinya tidak berhenti disitu. Diperlukan
upaya dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum serta kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan dan sasaran pendidikan dan pelatihan
guru ditetapkan dengan mencerminkan kondisi yang diingini, sekaligus menjadi
ukuran keberhasilanprogram itu.
4. Profesional guru berbasis individu
Bahwasanya sebagian kecil guru memilikipeluang menjalani profesioanalisasi
atas prkarsa institusi atau lembaga. Untuk Indonesia, data statistik
menunjukkan bahwa setiap tahunnya hanya sekitar 5 % guru yang berpeluang
mengikuti aneka program yang dilembagakan sejenis penataran atau pelatihan
lembaga-lembaga pelatiah atau lembaga sejenisnya.

B. Sertifikasi keguruan
Pengertian sertifikasi mengacu pad Nationall Commision on Educational
Service diesbutkan bahwa sertifikasi merupakan prosedur untuk menentukan
apakah seorang calon guru layak diberikan izin dan kewenangan untuk
mengajar. Sertifikat guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada

34
guru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar
professional guru.
Sertifikasi bertujuan untuk:
1. Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen
pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidika nasional
2. Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan
3. Meningkatka martabat guru
4. Meningkatkan keprofesionalan guru
Manfaat sertifikasi guru :
a. Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang
dapat meruska citra profesi guru
b. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak
berkualitas dan professional
c. Meningkatkan kesejahteraan guru

C. Kode etik keguruan


Secara etimologi kode etik berarti pola aturan . tata cara, tanda , pedoman
etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Dengan kata lain kode etik
merupakan pola aturan atau tata cara sebagaoi pedoman berperlaku, etid
berarti sesaui dengan nilai-nilai dan norma yang dianut oleh sekelompok prang
atau masyarakat.
Secara harfiah, kode etik berarti sumber etik. Etik berasal dari perkataan
ethos, yang berarti watak. Istilah etic (ethica) mengandung makna nilai nilai
yang mendasari perilaku manusia. Tern etik berasal dari bahsa filsafat, bahkan
menjadi salah satu cabangnya. Etik juga disepadankan dengan istilah adab,
moral, atau akhlaq. Etik artinya tata susila atau hal-hal yang berhubungan
dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
Konsep-konsep tentang kode etik guru adalah :
1. Beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa
2. Setia dan jujur berdasarkan pancasila dan UUD 1945
3. Menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk
mencerdasakan nasionaldan ilmu pendidikan
4. Selalu menjalankan tugas dengan berpegang teguh kepada kebudayaan
nasional dan ilmu pendidikan
5. Selalu melaksanakan pendidikan, penelitian dan pegabdian kepada
masyarakat
6. Lebih mengutamakan tugas pokok dan atau tugas Negara lainnya dari
pada tugas sampingan
7. Bertanggung jawab, jujur, berprestasi dan akuntable dalam bekerja

35
8. Dalam bekerja berpegang teguh kepada kebudayaan nasional dan ilmu
pendidikan
9. Menjadi teladan dalam berprilaku
10.Berprakarsa
11.Memiliki sfat kepemimpinan
12.Menciptakan suasana belajar atau studi yang kondusif
13.Emmelihara keharmonisan pergaulan dan komunikasi serta berkerjasma
dengan baik dalam pendidikan
14.Mengadakan kerjasama dengan orangtua siswa dna tokoh-tokoh
masyarakat
15.Taat kepada peraturan perundang-undangan dan kedinasan
16.Mengembangkan profesi secara continue
17.Secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi
profesi.
Tujuan kode etik profesi
1. Untuk menjujung tinggi martabat profesi
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota
3. Untuk menignkatkan pengabdian para anggota profesi
4. Untuk meningkatkan mutu profesi
5. Untuk menignkatkan mutu organisasi profesi
6. Meningkatkan layanan diatas keuntungan pribadi
7. Mempunyai organsisasi professional yang kuat dan terjalin erat
8. Menetukan baku standarnya sendiri

Bab 3
Peran Dan Tugas Guru Dalam Pembelajaran
Pengertian kata pendidik merupakan padanan dari kata educator. Didalam
kamu Webster kata educator berarti educationist yang padanannya dalam
bahasa Indonesia adlah pendidik, spesialis di bidang pendidikan, atau ahli
pendidik. Pengertian kata guru merupakan padanan dari kata teacher. Didalam
kamus Webster , kata teacher bermakna sebagai the person who teach,
especially in school yaitu guru adalah seseorang yang mengajar, khususnya di
sekolah. Pengertian ini adalah pengertian guru secara umum.
UNESCO menerangkan bahwa guru adalah agen perubahan yang mempu
mendorong terhadap pemahaman dan toleransi, dan tidak sekedar hanya
mencerdaskan peserta didik, teteapi mampu ,mengembangkan keperibadian
yang utuh, berakhlak, dan berkarakter. Salah satu tugas guru adalah
menerjemahkan pengalaman yang telah lalu kedalam kehidupan yang bermakna
bagi peserta didik.
1. Peran guru dalam pembelajaran
guru sebagai pendidik
guru sebagai pengajar

36
guru sebagai pembimbing
guru sebagai pelatih
guru sebagai penasehat
guru sebagai pembaharu
guru sebagai model dan teladan
guru sebagai pribadi
guru sebagai peneliti
guru sebgai pendorong kreatifitas
guru sebnai pembangkit padangan
guru sebagai pekerja rutin
guru sebagai actor
guru sebagai emansifator
guru sebagai evaluator
guru sebagai anggota masyarakat
guru sebagai pemimpin
guru sebagai fasilitator
gurus sebagai motivator
guru sebagai administrator
kesalahan yang sering dilakukan oleh guru
1) mengambil jalan pintas dalam dalam penejelasan
2) menunggu peserta didik berperilaku negative
3) menggunakan destructive discipline
4) mengabaikan perbedaan peserta didik
5) merasa paling pandai
6) diskriminatif
7) memaksa hak peserta didik

Bab 4
Administrasi Pendidikan/ Tatalaksana Sekolah
1. Pengertian
Pengertian administrasi pendidikan, merupakan applaid ilmu administrasi
dalam kegiatan pembinaan, pengembangan dan pengendalian usaha-usaha
pendidikan yang diselenggarakan dalam bentuk kerjasama sejumlah orang.
Berdasarkan dari etimologi administrasi berasal dari bahasa latin yang terdiri
dari ad artinya intensif dan ministrare artinya melayani, membantu atau
mengarahkan. Jadi pengertian administrasi adalah melayani secara intensif.
Ditinjau dari katanya , administrasi mempunyai arti smepit dan arti luas. Dalam
arti sempit diartikan sebagai kegiatan pencatatan data, surat-surat informasi
secara tertulis serta penyimpanan dokumen sehingga dapat dipergunakan
kembali bila diperlukan. Dlam hal ini kegiatan administrasi meliputi pekerjaan
tata usaha.

37
Dalam arti luas, administrasi menyangkut kegiatan manajemen atau
pengolaan terhadap keseluruhan komponen organisasi untuk mewujudkan tujuan
program organisasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pekerjaan
adminsitrasi merupakan pekerjaan operatif dan manajemen.
2. Tujuan administrasi pendidikan
Tujuan adminstrasi pendidikan pada umumnya adalah agar semua kegiatan
mendukung tercapainya tujuan pendidikan atau dengan kata lain administrasi
yang digunakan dalam dunia pendidikan. Administrasi pendidikan semakin rumit
karena menyangkut masyarakat atau orangtua murid, yang terlibat langsung
dalam pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, semakin baik administrasi
pendidikan ini, semakin yakin pula bahwa tujuan pendidikan itu akan tercapai
dengan baik.
Segiovani dan carver menyebutkan ada empat tujuan dari administrasi
Efektifitas produksi
Efisiensi
Kemampuan menyesuaikan diri
Kepuasan kerja
Keempat tujuan tersebut dapat digunakan sebagai criteria untuk menentukan
keberhasilan dlam penyelenggaraan sekolah. Sebagai contoh : sekolah memiliki
fungsi untuk mencapai efektifitas produksi, yaitu mengahasilkan lulusan yang
sesuai dengan tuntutan kurikulum.
3. Fungsi-fungsi administrasi pendidikan
Administrasi pendidikan merupakan aspek yang penting dalam pendidikan.
Adiministrasi pendidikan merupakan keseluruhan proses yang diperlukan dalam
penyelesaian pekerjaan-pekerjaan personil sekolah untuk mendidik peserta didik.
Jadi administrasi ini ditujukan kepada pendidikan peserta didik secara tidak
langsung. Selain tujuan, administrasi pendidikan mempunyai beberapa fungsi
yaitu ;
Planning
Organizing ( pengorganisasian)
Staffing (kepegawaian)
Directing ( pengarahan )
Coordinating ( pengkoordinasian )
Budgeting (penganggaran)
Motivating ( pergerakan )
Controlling ( pengawasan )
Evaluating ( penilaian )

4. Ruang lingkup adiminstrasi pendidikan

38
Administrasi pendidikan dapat diuraikan paling tidak menjadi lima pengertian
pokok, yaitu;
1. Adiminstrasi merupakan kegiatan atau kegiatan manusia
2. Rangkaian kegiatan itu merupakan suatu proses pengolaan dari suatu
kegiatan yang kompleks, oleh sebab itu bersifat dinamis
3. Proses itu dilakukan bersama oleh sekelompok manusia yang
tergabung dalam suatu organisasi
4. Proses itu dilakukan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya
5. Proses pengelolaan itu dilakukan agar tujuannya dapat dicapai secara
efektif dan efisien

Bab 5
Keprofesian Manajemen Pendidikan/ sekolah

A. Pengertian manajemen
Kata manajemen berasal dari bahasa perancis kuno management, yang
memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki
definisi mapan dan diterima secara universal. Kata manajemen mungkin berasal
dari baha italia (1561) maneggiare yang berarti mengendalikan terutamanya
mengendalikan kuda yang berasal dari bahasa latin manus yang berate
tangan. Kata ini dapat pengaruh dari bahasa perancis manege yang berarti
kepemilikan kuda, dimana istilah inggris juga berasal dari bahasa italia. Bahasa
perancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa inggris menjadi management,yang
memiliki artis seni melaksanakan dan mengatur.
Sedangkan manajemen disebut sebagai ilmu karena manajemen sebagai ilmu
yang menelaah tentang tujuan manusia dalam rangka mencapai tingkat
kehidupan yang lebih layak. Jadi manajemn dikatakan sebagai ilmu pengetahuan
karena ia memberikan pelajaran kepada kita untuk mengetahui sesuatu
sedangkan seni mnegajarkan kita tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Menurut Usma, manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagai berikut ;
1. Seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
2. Seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan secara efektif dan efisien.

39
3. Proses perencanaa, pengorganisasian, pengarahan untuk mencapai tujuan
pendidikan secara efektif dan efisien.

B. Tujuan dan Manfaat manajemen pendidikan


1. Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif,
inovatif , kreatif, dan menyenangkan
2. Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
3. Terpenuhinya salah satu dari empat kompetensi tenaga pendidik dan
kependidikan
4. Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien
5. Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan juga
konsultan manajemen.
6. Teratasinya masalah mutu pendidikan.

C. Perbedaan Administrasi dan manajemen Pendidikan


Dalam bahasa inggris, kata administrasi dan manajemen digunakan
dalam konteks dengan beberapa variasi pengertian. Sebagian ahli
berpendapat bahwa administrasi sama artinya dengan manajemen seperti
yang dinyatakan Sutisna (1987) bahwa dalam pemakaianya secara umum
administrasi diartikan sama dengan manajemen dan administrator sama
dengan manajer.
Namun sebagian ahli lainnya berpendapat bahwa adminstrasi berbeda
dengan manajemen seperti yang dikemukakan Sutisna bahwa di bidang
pendidikan, pemerintahan, rumah sakit, dan kemiliteran orang umumnya
memakai istilah adminstrasi, sedangkan di bidang industry dan perusahaan
digunakan istilah manajemen dan manajer. Dengan demikian perbedaan
administrasi pendidikan adalah pelaksanaan untuk kerja sedangkan
manajemen pendidikan adalah orang-orang dalam pelaksanaan kerja dalam
pembelajaran di sekolah.
Jadi, administrasi lebih cocok digunakan untuk lembaga-lembaga
pemerintah yang bersifat lebih mengutamakan kepentingan social sehingga
pelaksanaanya disebut adimistrator, sedangkan manajemen lebih cocok
untuk lembaga lembaga swasta yang bersifat lebih mengutamakan
kepentingan komersial sehingga pemimimpinnya disebut manajer.

40
D. Prinsip-prinsip manajemen pendidikan
Doughlas merumuskan prinsip-prinsip manajemn pendidikan sebagai berikut ;
1. Memprioritaskan tujuan diatas kepentingan pribadi dan kepentingan
mekanisme kerja
2. Mengkoordinasikan wewenang dan tanggung jawab
3. Memberikan tanggung jawab pada personil sekolah hendaknya sesuai
dengan sifat-sifat dan kemampuannya
4. Mengenal secara baik factor-faktor psikologis manusia
5. Relativitas nilai-nilai.

Drucker melalui MBO (manajemn by Objective) memberikan gagasan


prinsip manjemen sasaran sebagai suatu pendekatan dalam perencanaan.
Perencanaan pada manajemen pendidikan adalh bahwa kepala dinas
memimpin tim yang beranggotakan unsure pejabat dan fungsional dinas, dan
lebih baik terdapat stakeholders untuk merumuskan visi , misi dan objektif
dinas pendidikan.

E. Komponen dan sub Komponen Manjamen pendidikan


Redaja Mudyahardjo dalam filsafat ilmu pendidikan mengemukakan
manajemen pendidikan mencakup sub-sub komponen :
a. Perencanaan
b. System pendidikan menrutu tahap-tahap perkembangan dan aspek
aspek perngembangan
c. Organisasi
d. Administrasi
e. Keuangan
f. Pemasokan tenaga pendidikan
g. System evaluasi pendidikan
h. Penelitian

Bab 6
Keprofesian Kepengawasan Pendidikan Sekolah
A. Jabatan Supervisor Sekolah
Dalam skema PP No. 74 tahun 2008 Tentang Guru, pengawas sekolah
esensinya adalah guru, yaitu guru dalam jabatan pengawas. Karena itu,
pengawas sekolah adalah tenaga profesional, yaitu di samping sebagai guru
profesional, ia harus menjadi pengawas sekolah yang profesional pula.

41
Yang dimaksud dengan Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil
(PNS) yang diberi tugas untuk melakukan pengawasan dengan melaksanakan
penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada
satuan pendidikan anak usia dini formal (PAUD, yang dulu sering disebut sebagai
pendidikan prasekolah), dasar dan menengah.

B. Tugas Pokok Pengawas Sekolah


Nana Sudjana ( 2006 ) mengemukakan bahwa tugas pokok Pengawas
Sekolah adalah melakukan penilaian dan pembinaan dengan melaksanakan
fungsi-fungsi supervisi, baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial.
Tugas- tugas pokok dan tanggung jawab pengawas sekolah dijelaskan
berikut ini :
1. Pertama, melaksanakan pengawasan penyelenggaraan pendidikan di sekolah
sesuai dengan penugasannya pada jenjang pendidikan anak usia dini formal
sampai dengan sekolah menengah.
2. Kedua, meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar / bimbingan dan hasil
prestasi belajar / bimbingan siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Masih menurut Sudjana ( 2006 ) wewenang yang diberikan kepada
pengawas sekolah meliputi:
1. Memilih dan menentukan metode kerja untuk mencapai hasil yang optimal
dalam melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kode
etik profesi,
2. Menetapkan tingkat kinerja guru dan tenaga lainnya yang diawasi beserta
faktor-faktor yang mempengaruhinya,
3. Menentukan atau mengusulkan program pembinaan serta melakukan
pembinaan.
Namun demikian pengawas perlu berkolaborasi dengan kepala sekolah
dan guru agar dalam melaksanakan tugasnya sejalan dengan arah
pengembangan sekolah yang telah ditetapkan. Merujuk pada kedua tugas pokok
di atas, versi Depdiknas (2006), kegiatan yang dilakukan oleh pengawas
disajikan berikut ini:
1. Menyusun program kerja kepengawasan untuk setiap semester dan setiap
tahunnya pada sekolah yang dibinanya.
2. Melaksanakan penilaian, pengolahan dan analisis data hasil belajar/
bimbingan siswa dan kemampuan guru.
3. Mengumpulkan dan mengolah data sumber daya pendidikan, proses
pembelajaran/ bimbingan, lingkungan sekolah yang berpengaruh terhadap
perkembangan hasil belajar/ bimbingan siswa.

42
4. Melaksanakan analisis komprehensif mengenai berbagai faktor sumber daya
pendidikan sebagai bahan untuk melakukan inovasi sekolah.
5. Memberikan arahan, bantuan dan bimbingan kepada guru tentang proses
pembelajaran/bimbingan yang bermutu untuk meningkatkan mutu proses dan
hasil belajar/bimbingan siswa.
6. Melaksanakan penilaian dan Monitoring penyelenggaraan pendidikan di
sekolah binaannya mulai dari penerimaan siswa baru, pelaksanaan
pembelajaran, pelaksanaan ujian sampai kepada pelepasan lulusan/
pemberian ijazah.
7. Menyusun laporan hasil pengawasan di sekolah hasil binaannya dan
melaporkannya kepada Dinas Pendidikan, Komite Sekolah dan pemangku
kepentingan lainnya.
8. Melaksanakan penilaian hasil pengawasan seluruh sekolah sebagai bahan
kajian untuk menetapkan program kepengawasan semester berikutnya.
9. Memberikan bahan penilaian kepada sekolah dalam rangka akreditasi
sekolah.
10.Memberikan saran dan pertimbangan kepada pihak sekolah dalam
memecahkan masalah yang dihadapi sekolah berkaitan dengan
penyelenggaraan pendidikan.
Di Inggris ( Depdiknas, 2006 ) tugas pengawas sekolah mencakup:
1. Inspecting ( mensupervisi )
2. Advising ( memberi advis atau nasihat )
3. Monitoring ( memantau )
4. Reporting ( membuat laporan)
5. Coordinating ( mengkoordinasi )
6. Performing leadership ( memimpin untuk melaksanakan kelima tugas pokok
tersebut )

C. Fungsi Pengawas Sekolah


Sejalan dengan uraian sebelumnya, untuk melaksanakan tugas pokok
tersebut, pengawas sekolah melaksanakan fungsi supervisi, baik supervisi
akademik maupun supervisi manajerial. Supervisi akademik adalah fungsi
supervisi yang berkenaan dengan aspek pembinaan dan pengembangan
kemampuan profesional guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan
bimbingan di sekolah.
Sasaran supervisi akademik antara lain membantu guru dalam:
1. Merencanakan kegiatan pembelajaran dan atau bimbingan
2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran/ bimbingan
3. Menilai proses dan hasil pembelajaran atau bimbingan
4. Memanfaatkan hasil penilaian untuk peningkatan pelayanan
pembelajaran/bimbingan

43
5. Memberikan umpan balik secara tepat dan teratur dan terus-menerus
pada siswa
6. Melayani siswa yang mengalami kesulitan belajar
7. Memberikan bimbingan belajar pada siswa
8. Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan
9. Mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran
dan atau bimbingan
10. Memanfaatkan sumber-sumber belajar
11. Mengembangkan interaksi pembelajaran/ bimbingan yang tepat dan
berdaya guna
12. Melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran/ bimbingan
13. Mengembangkan inovasi pembelajaran /bimbingan

Sasaran supervisi manajerial adalah membantu kepala sekolah dan staf


sekolah lainnya dalam mengelola administrasi pendidikan seperti:
1. Administrasi kurikulum
2. Administrasi keuangan
3. Administrasi sarana prasarana / perlengkapan
4. Administrasi personal atau ketentaraan
5. Administrasi kesiswaan
6. Administrasi hubungan sekolah dan masyarakat
7. Administrasi budaya dan lingkungan sekolah
8. Aspek-aspek administrasi lainnya dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan.

D. Kewenangan Pengawas Sekolah


Beberapa kewenangan yang ada pada pengawas sekolah adalah kewenangan
untuk:
1. Bersama kepala sekolah dan guru yang dibinanya, menentukan program
peningkatan mutu pendidikan
2. Menyusun program kerja/agenda kerja kepengawasan pada sekolah
binaannya dan membicarakannya dengan kepala sekolah dan guru pada
sekolah yang bersangkutan
3. Menentukan metode kerja untuk pencapaian hasil optimal berdasarkan
program kerja yang telah disusun
4. Menetapkan kinerja sekolah, kepala sekolah dan guru serta tenaga
kependidikan guna peningkatan kualitas diri dan layanan pengawas.

E. Kualifikasi Pengawas Sekolah


1. Kualifikasi Pengawas Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal ( TK/RA ) dan
Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah ( SD/MI ) adalah sebagai berikut:
1) Berpendidikan minimum sarjana (S1) atau Diploma empat ( D-IV )
kependidikan dari perguruan tinggi terakreditasi
2) Memiliki pangkat minimum penata, golongan ruang III/c

44
3) Berusia setinggi-tingginya 50 tahun, sejak diangkat sebagai pengawas
satuan pendidikan
4) Memenuhi kompetensi sebagai pengawas satuan pendidikan yang dapat
diperoleh melalui uji kompetensi dan atau pendidikan dan pelatihan
fungsional pengawas, pada lembaga yang ditetapkan pemerintah
5) Lulus seleksi pengawas satuan pendidikan

2. Kualifikasi Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah ( SMP/MTs ),


Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah ( SMA/MA ), dan Sekolah Menengah
Kejuruan/ Madrasah Aliyah Kejuruan ( SMK/MAK ) adalah sebagai berikut:
1) Memiliki pendidikan minimum magister ( S2 ) kependidikan dengan
berbasis sarjana ( S1 ) dalam rumpun mata pelajaran yang relevan pada
perguruan tinggi terakreditasi
2) Memiliki pangkat minimum penata, golongan ruang III/c
3) Berusia setinggi-tingginya 50 tahun, sejak diangkat sebagai pengawas
satuan pendidikan
4) Memenuhi kompetensi sebagai pengawas satuan pendidikan yang dapat
diperoleh melalui uji kompetensi dan atau pendidikan dan pelatihan
fungsional pengawas, pada lembaga yang ditetapkan pemerintah
5) Lulus seleksi pengawas satuan pendidikan

Bab 7
Profesi Supervisor dan Supervisi Pembelajaran
A. Defenisi Supervisi
Supervisi secara etimologi berasal dari kata super dan visi yang
mengandung arti melihat dan meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari
atas yang dilakukan oleh pihak atasan terhadap aktivitas, kreativitas, dan
kinerja bawahan. Ada beberapa istilah yang hampir sama dengan supervisi
bahkan dalam pelaksanaannya istilah-istilah tersebut sering digunakan secara
bergantian. Istilah-istilah tersebut, antara lain, pengawasan, pemeriksaan, dan
inspeksi. Pengawasan mengandung arti suatu kegiatan untuk melakukan
pengamatan agar pekerjaan dilakukan sesuai dengan ketentuan. Pemeriksaan
dimaksudkan untuk melihat bagaimana kegiatan yang dilaksanakan telah
mencapai tujuan. Inspeksi dimaksudkan untuk mengetahui kekurangan-
kekurangan atau kesalahan yang perlu diperbaiki dalam suatu pekerjaan.
Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai
berikut : Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching
learning situation. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi
pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan

45
supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material,
technique, method, teacher, student, an envirovment). Situasi belajar inilah yang
seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervise.

B. Tujuan Supervisi
Tujuan utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran (Neagly & Evans,
1980; Oliva, 1984; Hoy & Forsyth, 1986; Wiles dan Bondi, 1986; Glickman, 1990).
Tujuan umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan
kepada guru dan staf agar personil tersebut mampu meningkatkan kwalitas
kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses belajar
mengajar.
Secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari
supervisi pendidikan yaitu:
1. Meningkatkan mutu kinerja guru
1) Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran
sekolah dalam mencapai tujuan tersebut
2) Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami
keadaan dan kebutuhan siswanya.
3) Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam
satu tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta
saling menghargai satu dengan lainnya.
4) Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan
prestasi belajar
5) Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian
dan alat pengajaran.
6) Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang
dapat membantu guru dalam pengajaran.
7) Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah
untuk reposisi guru.
2. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan
terlaksana dengan baik.
3. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang
ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu
mengoptimalkan keberhasilan siswa.
4. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung
terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat
mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan.

46
5. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi
yang tenang dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas
pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.

C. Fungsi Supervisi dan Supervisor


Supervisi pendidikan bersifat multifungsi. Pertama, meningkatkan mutu
proses dan hasil pembelajaran. Mutu proses tercermin dari suasan pembelajaran
yang sehat, dinamis, produktif, kreatif, adatif, ekonimis, menyenangkan, dan
sebagainya. Mutu hasil pembelajaran tercermin dari nilai tambah capaian
kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Kedua, mendorong dan mengoptimasi
unsur-unsur yang terkait dengan proses pembelajaran. Fokusnya dalam kerangka
ini lebih pada hal-hal yang bersifat teknis administrasi dan fasilitatif bagi
terlaksananya proses pembelajaran yang baik dan bermutu. Ketiga, fungsi
membina dan memimpin. Muaranya adalah semua sumber daya yang tersedia
disekolah dapat secara konsisten dan taat atas asas bekerja pada koridornya.
1. Fungsi-fungsi supervisi itu dijalankan oleh pengawas ketika dia
memposisikan diri sebagai supervisor. Karena itu Pengawas dan supervisor
di sini orangnya sama. Hanya topinya yang berbeda. Pada saat mana dia
menggunakan topi pengawas dan pada saat mana pula menggunakan
topi supervisor. Made Pidarta (2009) merumuskan fungsi supervisor
seperti berikut ini
2. Sebagai perantara dalam menyampaikan minat para siswa, orang tua, dan
program sekolah kepada pemerintah dan badan-badan komponen lainnya.
3. Memantau penggunaan dan hasil-hasil sumber belajar
4. Mengembangkan program baru untuk jabatan baru yang diperkirakan
dapat muncul
5. Mengintegrasikan, program yang diajukan pemerintah, ekonomi,
pandangan, dan industri.
6. Menilai dan meningkatkan atas makna gaya hidup.
7. Memilih inovasi yang berkonsisten dengan masa depan

D. Peranan Supervisor Pembelajaran


Supervisor pembelajaran dilakukan oleh pengawas profesional yang
memerankan diri sebagai supervisor. Ketika dia bertindak sebagai supervisor,
topi pengawasnya dilepas. Supervisor pengajaran lebih berperan sebagai
gurunya guru. Mereka adalah orang-orang yang siap membantu kesulitan guru
dalam melaksanakan proses pembelajaran. Supervisor pembelajaran bukanlah

47
seorang pengawas yang terkesan angker, bahkan mungkin mencari-cari
kesalahan guru.
Menurut oliva (1984), peran supervisor pembelajaran ada empat. Pertama,
sebagai koordinator, yaitu mengkoordinasikan program-program dan bahan-
bahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran
dan harus membuat laporan mengenai pelaksanaan programnya. Kedua, sebagai
konsultan, supervisor harus memiliki kemampuan sebagai spesialis dalam
masalah kurikulum, metodologi pembelajaran, dan pengembangan staf,
sehingga supervisor dapat membantu guru baik secara individual maupun
kelompok. Ketiga, sebagai semimpin kelompok (group leader), supervisor harus
memiliki kemampuan memimpin, memahami dinamika kelompok, dan
menciptakan pelbagai bentuk kegiatan kelompok. Keempat, sebagai evaluator,
supervisor harus dapat memberikan bantuan pada guru untuk dapat
mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran dan kurikulum, serta harus mampu
membantu mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi guru, membantu
melakukan penelitian dan pengembangan dalam pembelajaran dan sebagainya.

E. Tugas Pokok Supervisor Pembelajaran


Inti tugas tugas pokok dan fungsi pengawas sekolah adalah menilai dan
membina. Sehubungan dengan ini ada empat tugas utama pengawas sekolah,
yaitu:
1. Merencanakan penilaian yang di lengkapi dengan instrumennya.
2. Melaksanakan penilaian sesuai dengan kaidah-kaidah penilaian.
3. Mengolah hasil penilaian dengan teknik-teknik pengolahan yang ilmiah.
4. Memanfaatkan hasil penilaian untuk pelbagai keperluan.

F. Pendekatan Supervisi Pembelajaran


Dalam pelaksanaan supervisi, karakteristik guru yang dihadapi oleh
supervisor pasti berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi usia
dan kematangan, pengalaman kerja, motivasi maupun kemampuan guru.
Supervisor harus menerapkan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik guru
yang dihadapinya. Apabila tidak sesuai kegiatan supervisi tidak akan berjalan
dengan efektif. Sergiovani (1982) mengemukakan pendekatan supervisi, antara
lain:
1. Supervisi Ilmiah, bersifat akademik harus dilakukan secara ilmiah.
Konsep Supervisi Ilmiah
1) Logis, tidak menyimpang dari kebenaran rasional yang di terima dan
disepakati bersama.

48
2) Sistematis, dilaksanakan secara teratur, berencana dan terus-menerus.
3) Objektif, berdasarkan observasi nyata.
4) Acuan teoritis yang jelas, merujuk pada praktik-praktik yang ada.
5) Metode atau pendekatan tertentu teruji serta pengalaman yang relevan.
6) Instrumen pencatat yang reliabel sebagai umpan balik atas penilain
terhadap proses pembelajaran di kelas.
7) Setiap desain tindakan harus dapat dipertanggungjawabkan kebenaran
yang secara ilmiah

G. Perangkat supervisi pembelajran


Otak manusia memilki kerebatasan, karena itu, alat bantu menjadi penting
untuk menutupi ketrebatasan itu. Bagi supervisor yang akan melaksanakan
supervisi, perlu menyiapkan aneka instrumen yang dibutuhkan. Terutama pada
tahap persiapan, supervisor pembelajaran harus menyiapkan:
1. Program supervisi dilaksanakan menurut kalender tertetu dan jenis
kegiatannya, baik dalam rangka supervisi akademik maupun supervisi
manajeial.
2. Format/ instrument supervisi, baik tes maupun nontes.
3. Materi pembinaan/supervisi,berupa subtans dan panduannya.
4. Buku catatan yang memuat hal-hal yang unikselam pelaksanan supervisi.
5. Data supervisi/pembinaan sebelumnya, berupa dokumen arsip capaian
dan kendala yang muncul.
6. Tataguna instrument yang tersediapada saat pelaksanaan, apakah akan
digunakan oleh observasi, wawancara atau mungkin tes.
7. Dokomen/naskah tertulis tindak lanjut. Berupa skema program tinjak lanjut
yang dituangkan secara tertulis.

H. Prinsip-prinsip Supervisi
Tahalele dan Indrafachrudi (1975) merumuskan prinsip-prinsip sebagai
berikut : (a) dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif, (b) kreatif dan
konstruktif, (c) Ilmiah dan efektif, (d) dapat memberi perasaan aman pada guru-
guru, (e) berdasarkan kenyataan, (f) memberi kesempatan kepada supervisor
dan guru-guru untuk mengadakan evaluasi diri.
1. Objektif, dimana pelaksaan supervisi pembelajaran atas dasar impersonal,
tidak dengan cara pilih kasih.
2. Transparan, dimana pelaksaan supervisi pembelajaran ini diketahui oleh
pihak-pihak yang ingin memberikan informasi.

49
3. Akuntabel, dimana pelaksaan supervisi pembelajaran harus dapat
dipertanggung jawabkan, baik proses, maupun hasil, dan tidak lanjutnya,
4. Berkelanjutan, dimana pelaksanaan supervisi pembelajaran harus
dilakukan secara terus-menerus, menurut periode waktu tertentu.
5. Aplikatif, dimana pelaksaan supervisi pembelajaran harus bermanfaat dan
memiliki daya terap bagi perbaikan proses dan hasil pembelajaran.
6. Keyakinan, dimana kegiatan pengawas dilaksanakan dalam pola hubungan
kepercayaan antara pihak sekolah dengan pihak pengawas, hingga
hasilnya dapat dipercaya.
7. Realistik, kegiatan pengawas yang sesuai berdasarkan fakta.

I. Tipe-tipe Supervisi Pembelajaran


1. Tipe inpeksi
Tipe supersior seperti ini biasanya terjadi dalam administrasi dan
model kepemimpinan yang otokratis, mengutamakan pada upaya mencari
kesalahan orang lain, bertindak sebagai Inspektur yang bertugas
mengawasi pekerjaan guru. Supervisi ini dijalankan terutama untuk
mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan petugas di sekolah
sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta ditentukan
oleh atasannya.
2. Tipe Laisses Faire
Tipe ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi
inspeksi bawahan diawasi secara ketat dan harus menurut perintah
atasan, pada supervisi Laisses Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja
sekehendaknya tanpa diberi petunjuk yang benar. Misalnya: guru boleh
mengajar sebagaimana yang mereka inginkan baik pengembangan
materi, pemilihan metode ataupun alat pelajaran.
3. Tipe Coersive
Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi. Sifatnya
memaksakan kehendaknya. Apa yang diperkirakannya sebagai sesuatu
yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak
yang disupervisi tetap saja dipaksakan berlakunya. Guru sama sekali tidak
diberi kesempatan untuk bertanya mengapa harus demikian. Supervisi ini
mungkin masih bisa diterapkan secara tepat untuk hal-hal yang bersifat
awal. Contoh supervisi yang dilakukan kepada guru yang baru mulai
mengajar. Dalam keadaan demikian, apabila supervisor tidak bertindak

50
tegas, yang disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu dan bahkan
kehilangan arah yang pasti.
4. Tipe Training dan Guidance
Tipe ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan. Hal
yang positif dari supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu
mendapatkan latihan dan bimbingan dari kepala sekolah. Sedangkan dari
sisi negatifnya kurang adanya kepercayaan pada guru dan karyawan
bahwa mereka mampu mengembangkan diri tanpa selalu diawasi, dilatih
dan dibimbing oleh atasannya.
5. Tipe Demokratis
Selain kepemimpinan yang bersifat demokratis, tipe ini juga
memerlukan kondisi dan situasi yang khusus. Tanggung jawab bukan
hanya seorang pemimpin saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan
atau didelegasikan kepada para anggota atau warga sekolah sesuai
dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.

J. Teknik Supervisi
Supervisi pembelajaran dapat dilakukan dengan multipendekatan dan
multimode. Sahertian dan Mataheru (1986) membagi teknik supervisi
permbelajaran menjadi dua jenis, yaitu bersifat individual devices dan group
devices. Teknik yang bersifat individual antara lain, kunjungan kelas, observasi
kelas, percakapan pribadi, saking mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri.
Teknik yang bersifat kelompok antara lain, diskusi panel, laboratorium kurikulum,
pembaca terbimbing, dan lain-lain.
Menurut Evan dan Neagly (1980) pun menyebutkan teknik supervisi dibagi
menjadi teknik individual dan kelompok. Teknik individual terdiri atas penugasan
guru, kunjungan atau observasi kelas, eksperimentasi kelas, kursus-individual,
konferensi-individual, demontrasi mengajar, evaluasi, bacaan profesional,
penulisan profesional, buletin supervisi, dan kontarak informal. Teknik kelompok
antara lain adalah oreantasi bagi guru baru atau induksi secara kelompok,
pengembangan perpustakaan profesional, saling mengujungi antarguru,
musyawarah kerja, dan lain-lain.

K. Perangkat Supervisi Pembelajaran


1. Supervisor pada tahap persiapan pembelajaran harus menyiapkan:
1) Program supervisi menurut kalender dan jenis kegiatan nya
2) Format atau instrumen supervisi, baik test maupun nontest

51
3) Materi pembinaan atau supervisi, berupa substansi dan panduan nya
4) Buku catatan yang memuat hal-hal unik selama pelaksanaan supervisi
5) Data supervisi, berupa dokumen arsip capaian dan kendala yang muncul
6) Tata guna instrumen yang tersedia pada saat pelaksanaan
7) Dokumen tertulis tindak lanjut, berupa skema program tindak lanjut yang
dituangkan secara tertulis
1. Aspek yang menjadi fokus dalam melaksanakan supervisi pembelajaran:
1) Relevansi materi dengan tujuan instruksional
2) Penguasaan materi
3) Strategi
4) Metode
5) Pengelolaan kelas
6) Pemberian motivasi pada siswa
7) Nada dan suara
8) Penggunaan bahasa
9) Gaya dan sikap perilaku

l. Implementasi Teknik Supervasi


a. Observasi Kelas, Selama mengobservasi, supervisor memperhatikan
beberapa hal:
1. Persiapan
1) Guru di beri tahu bahwa dia akan di observasi
2) Adanya tolak ukur bersama tentang apa yang di observasi
2. Sikap observasi di dalam kelas
1) Memberikan salam kepada guru yang mengajar
2) Mencari tempat duduk yang tidak mencolok
3) Tidak boleh menegur kesalahan guru di dalam kelas
4) Mencatat setiap kegiatan
5) Bila ada memakai alat elektronik: tape recorder, kamera
6) Mempersiapkan isian berupa check list
3. Membicarakan hasil observasi
1) Fokus percakapan
2) Waktu percakapan
3) Tempat percakapan
4) Sikap ramah simpatik tidak memborong percakapan
5) Percakapan hendaknya tidak keluar dari data observasi
6) Guru diberi kesempatan dialog dan mengeluarkan pendapat

52
7) Kelemahan guru hendaknya menjadi motivasi guru dalam
memperbaiki kelemahan
8) Saran untuk perbaikan di berikan yang mudah dan praktis
9) Kesepakatan perbaikan di sepakati bersama dengan menyenangkan
4. Laporan percakapan
1) Hasil pembicaraan di dokumenkan menurut masing-masing guru
yang telah di observasi
2) Isi dokumen di mulai dari tanggal, tujuan data yang di peroleh,
catatan diskusi, pemecahan masalah dan saran-saran.

Bab 8
Keprofesian Kepemimpinan Kepala Sekolah
A. Pengertian Kepemiminan

1. Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian


Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar
mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk
membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan
kelompok.

2. Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu


bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup
mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang
berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus
yang tepat bagi situasi yang khusus.

3. Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya


sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki
kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya.
Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung
memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh
secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok
sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).

B. Kepemimpinan Kepala Sekolah

53
Sekolah sebagai pendidikan formal bertujuan membentuk manusia yang
berkepribadian, dalam mengembangkan intelektual peserta didik dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan
perannya sangat penting untuk membantu guru dan muridnya. Didalam
kepemimpinnya kepala harus dapat memahami, mengatasi dan memperbaiki
kekurangan-kekurangan yang terjadi di lingkunagn sekolah.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan seorang kepala sekolah harus
mampu meningkatkan kinerja para guru atau bawahannya. Banyak faktor yang
dapat mempengaruhi kinerja sesorang, sebagai pemimpin sekolah harus mampu
memberikan pengaruh-pengaruh yang dapat menyebabkan guru tergerak untuk
melaksanakan tugasnya secara efektif sehingga kinerja mereka akan lebih baik.
Sebagai pemimipin yang mempunyai pengaruh, ia berusaha agar nasehat,
saran dan jika perlu perintahnya di ikuti oleh guru-guru. Dengan demikian ia
dapat mengadakan perubahan-perubahan dalam cara berfikir, sikap, tingkah
laku yang dipimpinnya. Dengan kelebihan yang dimilikinya yaitu kelebihan
pengetahuan dan pengalaman, ia membantu guru-guru berkembang menjadi
guru yang profesional.

C. Tipe-Tipe Kepemimpinan
1. Tipe Otokratis
2. Tipe Laissez Faire
3. Tipe Demokratis
4. Tpe Pseudo Demokratis
5. Kepemimpinan Birokratis
6. Kepemimpinan Militeristis
7. Kepemimpinan Paternalistik
8. Kepemimpinan Karismatik

D. Mendorong Visi Misi menjadi Aksi


Untuk mengetahui pentingnya peran kepala sekolah dalam instansi
pendidikan, maka perlu diketahui tugas-tugas atau fungsi lain dari kepala
sekolah selain memimpin instansi pendidikan. Fungsi-fungsi lain ini jika berjalan
secara maksimal maka akan tercipta lingkungan instansi pendidikan yang
kondusif, baik bagi pendidik maupun peserta didik. Fungsi-fungsi ini antara lain
mencakup:
1. Kepala Sekolah sebagai Educator (Pendidik)
Sebagai educator, kepala sekolah harus senantiasa berupaya
meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru.
Dalam hal ini faktor pengalaman akan mempengarui profesionalisme
kepala sekolah, terutama dalam mendukung terbentuknya pemahaman
tenaga kependidikan terhadap pelaksanaan tugasnya. Kepala sekolah

54
dalam menjalankan fungsinya sebagai educator/pendidik harus memiliki
strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga
kependidikan di sekolahnya.
Sumidjo (1999:122) mengemukakan bahwa memahami arti
pendidik tidak cukup berpegang pada konotasi yang terkandung dalam
definisi pendidik, melainkan harus dipelajari keterkaitannya dengan
makna pendidikan, sarana pendidikan, dan bagaimana strategi
pendidikan itu dilaksanakan. Untuk kepentingan tersebut, kepala sekolah
harus berusaha menambah, menanamkan, memajukan, dan
meningkatkan sedikitnya empat macam nilai, yakni pembinaan mental,
moral, fisik, dan artistik.
2. Kepala Sekolah sebagai Manajer
Dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai manajer, kepala
sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga
kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif, memberikan
kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan
profesinya dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan
dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.
Peran penting kepala sekolah yakni dengan memberdayakan tenaga
kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif yang dimaksudkan
bahwa dalam peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan di
sekolah, kepala sekolah harus mementingkan kerja sama dengan tenaga
kependidikan dan pihak lain yang menunjang kegiatan. Sebagai manajer,
kepala sekolah harus mau dan mampi mendayagunakan seluruh sumber
daya sekolah dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan mencapai tujuan.
3. Kepala Sekolah sebagai Administrator
Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang
sangat erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang
bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program
sekolah. Secara spesifik, kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk
mengelola kurikulum, mengelola administrasi peserta didik, mengelola
administrasi personalia, mengelola administrasi sarana dan prasarana,
mengelola administrasi kearsipan, dan mengelola administrasi keuangan.
4. Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Sergiovani dan Starrat (1993) menyatakan bahwa Supervision is a
process designed to help teacher and supervisor learn more about their
practice; to better able to use their knowledge and skills to better serve
parents and schools; and to make the school a more effective learning

55
community. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa supervise
merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu
para guru dan supervisor dalam mempelajari tugas sehari-hari di sekolah;
agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk
memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan
sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar
yang lebih efektif.
5. Kepala Sekolah sebagai Leader
Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk
dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka
komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Wahjosumijo (1999: 10)
mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki
karakter khusus mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman, dan
pengetahuan professional, serta pengetahuan administrasi dan
pengawasan.
6. Kepala Sekolah sebagai Inovator
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai innovator,
kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin
hubungan yang harmonis dengan lingkungan agar mudah dalam
mendapatkan gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan,
memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan sekolah, dan
mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif. Kepala
sekolah sebagai innovator harus mampu mencari, menemukan, dan
melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah. Dalam pekerjaannya,
kepala sekolah dikatakan sebagai innovator jika ia melakukan
pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, integrative, rasional
dan objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, serta adaptable dan
fleksibel.

E. Kriteria Kepala sekolah


1. Kualifikasi Umum Kepala Sekolah/Madrasah adalah sebagai berikut:
1) Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV)
kependidikan atau nonkependidikan pada perguruan tinggi yang
terakreditasi;
2) Pada waktu diangkat sebagai kepala sekolah berusia setinggi-tingginya 56
tahun;

56
3) Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun
menurut jenjang sekolah masing-masing, kecuali di Taman Kanak-
kanak/Raudhatul Athfal (TK/RA) memiliki pengalaman mengajar sekurang-
kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA; dan
4) Memiliki pangkat serendah-rendahnya III/c bagi pegawai negeri sipil (PNS)
dan bagi non-PNS disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh
yayasan atau lembaga yang berwenang.
2. Kualifikasi Khusus Kepala Sekolah/Madrasah tergantung pada jenjang
sekolah, meliputi:
1) Kepala Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal (TK/RA) adalah sebagai
berikut
a. Berstatus sebagai guru TK/RA;
b. Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru TK/RA; dan
c. Memiliki sertifikat kepala TK/RA yang diterbitkan oleh lembaga yang
ditetapkan Pemerintah.
2) Kepala Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) adalah sebagai
berikut
a. Berstatus sebagai guru SD/MI;
b. Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SD/MI; dan
c. Memiliki sertifikat kepala SD/MI yang diterbitkan oleh lembaga yang
ditetapkan Pemerintah.
3) Kepala Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs)
adalah sebagai berikut:
a. Berstatus sebagai guru SMP/MTs;
b. Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SMP/MTs; dan
c. Memiliki sertifikat kepala SMP/MTs yang diterbitkan oleh lembaga
yang ditetapkan Pemerintah.
4) Kepala Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) adalah
sebagai berikut
a. Berstatus sebagai guru SMA/MA;
b. Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SMA/MA; dan
c. Memiliki sertifikat kepala SMA/MA yang diterbitkan oleh lembaga
yang ditetapkan Pemerintah.
5) Kepala Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan
(SMK/MAK) adalah sebagai berikut:
a. Berstatus sebagai guru SMA/MA;
b. Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SMA/MA; dan
c. Memiliki sertifikat kepala SMA/MA yang diterbitkan oleh lembaga
yang ditetapkan Pemerintah.
6) Kepala Sekolah Dasar Luar Biasa/Sekolah Menengah Pertama Luar
Biasa/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SDLB/SMPLB/SMALB) adalah
sebagai berikut:
a. Berstatus sebagai guru pada satuan pendidikan
SDLB/SMPLB/SMALB;

57
b. Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SDLB/SMPLB/SMALB; dan
c. Memiliki sertifikat kepala SLB/SDLB yang diterbitkan oleh lembaga
yang ditetapkan Pemerintah.
7) Kepala Sekolah Indonesia Luar Negeri adalah sebagai berikut:
a. Memiliki pengalaman sekurang-kurangnya 3 tahun sebagai kepala
sekolah;
b. Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru pada salah satu satuan
pendidikan; dan
c. Memiliki sertifikat kepala sekolah yang diterbitkan oleh lembaga
yang ditetapkan Pemerintah.
F. Kompetensi Kepala Sekolah
1. Kompetensi kepribadian
2. Kompetensi manajerial
3. Kompetensi Kewirausahaan
4. Kompetensi Supervisi
5. Kompetensi Sosial

Bab 9
Keprofesian Bimbingan dan Konseling
A. Pendahuluan
Bimbingan identik dengan pendidikan. Artinya apabila seseorang
melakukan kegiatan mendidik berarti ia juga sedang membimbing, sebaliknya
apabila seseorang melakukan aktivitas membimbing (memberikan pelayanan
bimbingan), berarti ia juga sedang mendidik. Alasan mengapa pelayanan
bimbingan dan konsling diperlukan dalam dunia pendidikan dan teknologi
(perubahan dalam kehidupan seperti sosial, budaya, politik, ekonomi, industri
serta perubahan dalam perkembangan karir dan lapangan pekerjaan), makna
dan fungsi pendidikan (berkaitan dengan aspek kehidupan dan karakteristik
siswa), tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik, (guru sebagai pengajar
juga pembimbing, juga mengetahui perkembangan siswa, aspek pribadi siswa
baik fisik maupun psikis), faktor psikologi dalam proses pendidikan
(perkembangan individu, perbedaan individu, kebutuhan individu, masalah
penyesuaian diri dan masalah belajar). Dengan demikian perlunya adanya
pelayanan bimbingan dan konseling dalam dunia pendidikan terutama
pendidikan formal.

B. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling


Dalam pengertian bimbingan dan konseling berasal dari dua kata yaitu
bimbingan dan konseling. Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang

58
didalamnya terkandung beberapa makna. Istilah konseling yang berasal dari
bahasa Inggris conseling didalam kamus artinya memiliki beberapa arti, yaitu
nasihat (to obtain counsel), anjuran (to give counsel), dan pembicaraan (to take
counsel). Jadi konseling secara etimologis berarti pemberian nasihat, anjuran,
dan pembicaraan dengan bertukar pikiran.
Jadi pengertian bimbingan dan konseling secara terintegrasi adalah proses
bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada
individu (konseli) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik
antara keduanya, agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan
menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri dengan
cara sistematis.

C. Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan


Perlunya usaha pelayanan bimbingan dan koseling dalam pendidikan
dilatar belakangi oleh beberapa faktor diantaranya adalah perkembangan
pendidikan itu sendiri, faktor sosio-kultural dan faktor psikologi. Pembahasan
berikut ini akan mengemukakan dinamika faktor tersebut: sehingga pelayanan
bimbingan dan konseling dirasa perlu untuk menunjang tercapainya tujuan
pendidikan yang diharapkan. (Hallen. A, 2002)
Perluasan program pendidikan dimensi meninggi termanifestasi dalam
bertambahnya kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik untuk mencapai
tingkat pendidikan setinggi mungkin, sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Perluasan program pendidikan mendatar terlihat dalam pembagian jenis sekolah
dalam berbagai jurusan khusu dan sekolah kejuruan. Dengan bertambahnya
jenis sekolah dengan berbagai macam jurusan ini akan menimbulkan
kebingungan dari para peserta didik untuk memilih sekolah sesuai dengan
potensi yang dimilikinya dan dukungan moral dan kondisi ekonomi keluarganya.
Dalam hal ini setiap individu dapat berhasil dengan sebaik-baiknya bisa
mengatasi masalah yang timbul. Peserta didik harus dipersiapkan untuk
mengatasi tantangan yang timbul dan masalah-masalah yang dihadapi kelak
setelah selesai dari program pendidikan yang sedang ditimpuhnya. Lembaga
pendidikan dipandang tidak bisa menutup mata terhadap perkembangan zaman
dan kehidupan masyarakat yang dinamis, ia harusnya mempunyai tanggung
jawab untuk membantu peserta didik, baik sebagai pribadi maupun sebagai
anggota masyarakat agar berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan

59
masyarakat yangs erba dinamis dan membantu serta mempersiapkan siswa
dalam memecahkan masalah yang kelak dihadapinya dikemudian hari.

D. Tujuan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan


Tujuan bimbingan dan konseling adalah agar tercapai perkembangan yang
optimal pada individu (siswa) dapat mengembangakan dirinya secara optimal
sesuai dengan potensi atau kapasitasnya dan individu dapat berkembang sesuai
dengan lingkungannya.

E. Fungsi Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan


Dalam hubungan ini bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi
layanan kepada peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga
menjadi probadi yang utuh dan mandiri. Dengan demikian siswa yang hadir
disekolah untuk memperoleh layanan pembelajaran terdiri dari beragam jenis
keunggulan dan permasalahan. Semua siswa memerlukan layanan bimbingan
dan konseling (BK) yang didalamnya juga termuat bimbingan karir, mulai dari
yang benar-benar bermasalah hingga yang sangat unggul.

F. Azas-azas Bimbingan dan Konseling


Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan profesional,
oleh sebab itu, harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah atau asas-
asas tertentu. Dengan mengikuti kaidah-kaidah atau asas-asas tersebut
diharapkan efektivitas dan efesiensi proses bimbingan dan konseling dapat
tercapai. Selain itu agat tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam
praktek pemberian layanan.
Seorang guru yang baik, dapat memasukkan unsur-unsur bimbingan
dalam mata pelajaran sekolah. Disamping fungsinya sebagai pembimbing siswa
sebagai individu, guru dapat pula berfungsi sebagai pembimbing keolompok,
misalnya mengendalikan proses interaksi kelompok sehingga ketegangan-
ketegangan atau tekanan dalam kelompok dapat diredakan atau dikurangi.

G. Peranan Guru dalam Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling


Di sekolah, tugas dan tanggungjawab utama guru adalah melaksanakan
kegiatan pembelajaran siswa. Kendati demikian, bukan berarti dia sama sekali
lepas dengan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Peran dan
konstribusi guru mata pelajaran tetap sangat diharapkan guna kepentingan

60
efektivitas dan efisien pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Bahkan
dalam batas-batas tertentu guru pun dapat bertindak sebagai konselor bagi
siswanya.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab
guru pada masa mendatang akan semakin mendatang akan semakin kompleks,
sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan
penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus lebih dinamis dan kreatif
dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa
mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed
terhadap berbagai informasi dna pengetahuan yang sedang tumbuh,
berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru
bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.

H. Kerjasama Guru dengan Konselor


Idealnya, bimbingan dan konseling di berbagai jenjang pendidikan sekolah
termasuk di dalamnya di sekolah dasar (sekolah dasar) dilaksanakan oleh orang
yang berkompeten dan berwenang, yakni konselor. Namun, karena keterbatasan-
keterbatasan yang ada, misalnya belum adanya petugas khusus bimbingan atau
konselor yang diangkat oleh pemerintag atau oleh pihak yayasan untuk
mengelola bimbingan dan konseling di sekolah dasar, makaa guru kelas dapat
diserahi tugas untuk menggantikannya sesuai dengan batas kemampuan dan
kewenangannya.

Bab 10
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
A. Pendahuluan
Dalam manajemen pendidikan dikenal dua mekanisme pengaturann yaitu
sistem sentralisasi dan desentralisasi. Dalam sistem sentralisasi, segala sesuatu
yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan diatus secara ketat oleh
pemerintah pusat. Sementara dalam sistem desentralisasi, wewenang
pengaturan tersebut diserahka kepada pemerintah daerah. Kedua sistem
tersebut dalam prakteknya tidak berlaku secara ekstrem, tetapi dalam bentuk
kontinum; dengan pembagian tugas dan wewenang antara pemerintah pusat
dan pemerintah daerah (lokal). Hal ini juga berlalu dalam manajemen pendidikan
di Indonesia, sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan UUSPN 1989 bahwa
pendidikan nasional diatur secara terpusat (sentralisasi), namun penyelenggara

61
satuan dan kegiatan pendidikan dilaksanakan secara tidak terpusat
(desentralisasi).

B. Sentralisasi dan Desentralisasi


Sentralisasi adalah seluruh wewenang terpusat pada pemerintahan pusat
daerah tinggal menunggu instruksi dari pusat untuk melaksanakan kebijakan
kebijakan yang telah digariskan menurut Undang-Undang. Menurut ekonomi
manajemen sentralisasi adalah memusatkan semua wewenang kepada sejumlah
kecil menager atau yang berada di suatu puncak pada sebuah strujtur
organisasi. Sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah.
Kelemahan sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan
pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah
pusat sehingga waktu untuk memusatkan suatu hal menjadi lebih lama.
Desentralisasi pengelolaan sekolah perlu diletakkan dalam rangka mengisi
kebhinekaan dan wadah negara kesatuan yang dijiwai oleh rasa persatuan dan
kesatuan bangsa; bukan berdasarkan kepentingan kelompok dan daerah secara
sempit. Pelaksaan desentralisasi dalam pengelolaan sekolah memerlukan
kesiapan berbagai perangkat pendukung di daerah.

C. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah


MBS merupakan pengertian dari istilah School-Based Management (SBM)
sebagai suatu model pengelolaan sekolah secara desentralisasi di tingkat
sekolah. MBS merupakan sistem pengelolaan sekolah yang menjadikan lembaga
sekolah sebagai institusi yang memiliki otonomi luas dengan segala
tanggungjawabnya untuk mengembangkan dan melaksanakan visi, misi, dan
tujuan-tujuan yang disepakati. Sekolah memiliki kewenangan luas untuk
menetapkan berbagai kebijakan teknis operasional sekolah dengan berbagai
implikasinya sesuai dengan kebutuhan aktual siswa atau masyarakat. Dalam
MBS, sekolah memiliki kewenangan luas untuk menggali dan memanfaatkan
berbagai sumberdaya sesuai dengan prioritas kebutuhan aktual sekolah.

D. Manajemen Komponen-komponen Sekolah


Setiap satuan pendidikan perlu memerhatikan komponen-komponen
Manajemen Sekolah. Dalam penerapan MBS beberapa komponen sekolah yang
perlu dikelola yaitu kurikulum dna program pengajaran, tenaga kependidikan,

62
kemuridan, sarana dan prasarana pendidikan, dan pengelolaan hubungan
sekolah dan orang tuan/wali murid (Mulyasam 2002:40).
Pada konsep MBS, manajemen hubungan sekolah dengan orangtua wali
murid diharapkan berjalan dengan baik. Hubungan yang harmonis membuat
masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memajukan sekolah. Penciptaan
hubungan dan kerja sama yang harmonis, apabila masyarakat mengetahui dan
memiliki gambaran yang jelas tentang sekolah. Gambaran yang jelas dapat
diinformasikan kepada masyarakat melalui laporan kepada orangtua wali murid,
kunjungan ke sekolah, kunjungan ke rumah murid, penjelasan dari staf sekolah,
dan laporan tahunan sekolah. Melalui hubungan yang harmonis diharapkan
tercapai tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu proses pendidikan
terlaksana secara produktif, efektif, dan efisien sehingga menghasilkan lulusan
yang produktif dan berkualitas, lulusan yang berkualitas akan terlihat dari
penguasaan/kompetensi murid tentang ilmu pengetahuan, keterampilan, dan
sikap yang dapat dijadikan bekal ketika terjun di tengah-tengah masyarakat (out
come).

E. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah


Dalam implementasi manajemen berbasis sekolah bisa dilihat dari sudut
sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah,
pengelolaan SDM, proses belajar-mengajar dan sumber daya yang ada
sebagaimana digambarkan dalam tabel berikut:
Ciri-ciri sekolah yang melaksanakan MBS.
Sedangkan menurut Prof. Dr. H. Djaman Satori, MA indikator atau ciri-ciri
sekolah yang menerapkan MBS yaitu:
1. partisipan masyarakat diwadahi melalui Komite Sekolah
2. transparasi pengelolaan sekolah (program dan anggaran)
3. program seekolah realistik-need assessment
4. pemahaman stakeholder mengenai visi dan misi sekolah
5. lingkungan fisik sekolah nyaman, terawat
6. iklim sekolah kondusif
7. berorientasi mutu, penciptaan budaya mutu.

F. Tahapan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah

63
Sebagai paradigma pendidikan yang baru maka dalam implementasi MBS
melalui beberapa tahapan. Menurut Fatah tahapan implementasi tsb dibagi
menjadi tiga, yaitu: tahap sosialisasi, tahap piloting, dan tahap diseminasi.

G. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah


Satuan pendidikan merupakan jantung masyarakat. Di sana anak-anak
generasi muda bangsa memperoleh bekal pengetahuan, sikap, dan keterampilan
untuk hidup berhakat dan bermartabat dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Untuk dapat memberikan layanan pendidikan yang
berkualitas, satuan pendidikan harus dapat menjalin kerja sama secara sinergis
dengan keluarga dan masyarakat. Kerja sama secara sinergis itu diperlukan
untuk menciptakan prosesw pengajaran dan pembelajaran yang kondusif dan
menyenangkan, agar peserta didik menjadi manusia yang berpendidikan (well-
educated), warga negara yang produktif (productive citizens). Jika seluruh
komponen masyrakat dapat bekerja sama untuk mendukung proses pengajaran
dan pembelajaran yang demikian, niscaya peserta didik akan berhasil dalam
menempuh pendidikannya, bukan hanya dalam mencapai jenjang pendidikan
yang dicita-citakan tetapi juga berhasil dalam kehidupannya.

Bab 11
Teknik Penulisan Evaluasi
A. Pendahuluan
Dalam dunia pendidikan untuk mengukur tingkat ketuntasaqn kompetensi
siwa dalam menerima pembelajaran, adalah dengan melaksanakan evaluasi
pembelajaran. Salah satu tugas Direktorat Pembinaan SMK-Subdirektorat
Pembelajaran adalah melakukan penyiapan bahan kebijakan, standar, kriteria,
dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi
pelaksaan kurikulum.
Kebijakan pemerintaha Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kepada setiap satuan
pendidikan dasar dan menengah untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

B. Pengertian Evaluasi

64
Evaluasi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan
kualitas, kinerja, atau produktivitas suatu lembaga dalam melaksanakan
programnya. Fokus evaluasi adalah individu, yaitu prestasi belajar yang dicapai
kelompok atau kelas. Melalui evaluasi akan diperoleh informasi tentang apa yang
telah dicapai dan apa yang belum dicapai. Selanjutnya, informasi ini digunakan
untuk perbaikan suatu program.
Evaluasi secara singkat juga dapat didefenisikan sebagai proses
mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau
kelompok. Hasil evaluasi diharapkan dapat mendorong guru untuk mengajar
lebih baik dan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik. Jadi, evaluasi
memberikan informasi bagi kelas dan guru untuk meningkatkan kualitas proses
belajar mengajar. Informasi yang digunakan untuk mengevaluasi program
pembelajaran harus memiliki kesalahan sekecil mungkin. Evaluasi pada dasarnya
adalah melakukan judgment terhadap hasil penilaian, maka kesalahan pada
penilaian dan pengukuran harus sekecil mungkin.

C. Tujuan Evaluasi
Kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluastion yang mengandung
kata dasar value nilai. Kata value atau nilai dalam istilah evaluasi berkaitan
dengan keyakinan bahwa sesuatu hal itu baik datau buruk, benar atau salah,
kuat atau lemah, cukup atau belum cukup, dan sebagainya. Evaluasi dapat
diartikan sebagai suatu proses mempertimbangkan suatu hal atau gejala dengan
mempergunakan patokan-patokan tertentu yang bersifat kualitatif, misalny baik-
tidak baik, kuat-lemah, memadai-tidak memadai, tinggi rendah, dan sebagainya.
Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu, input, transformasi, dan
output. Input adalah peserta sisik yang telah dinilai kemampuannya dan siap
menjalani proses pembelajaran. Transformasi adalah segala unsur yang terkait
dengan proses pembelajaran yaitu; guru, media, dan bahan belajar, metode
pengajaran, saran penunjang dan sistem adminstrasi. Sedangkan output adalah
capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.

D. Teknik tes dan non tes


Ada dua macam teknik yang dapat digunakan dalam melaksanakan
evaluasi, yaitu teknik tes dan teknik non tes. Teknik tes meliputi tes lisan, ter
tertulis dan tes perbuatan. Tes lisan dilakukan dalam bentuk pertanyaan lisan di
kelas yang dilakukan pada saat pembelajaran di kelas berlangsung atau di akhir

65
pembelajran. Tes tertulis adalah tes yang dilakukan tertulis, baik pertanyaan
maupun jawabannya. Sedangkan tes perbuatan atau tes unjuk kerja adalah tes
yang dilaksanakan dengan jawaban menggunakan perbuatan atau tindakan.
Evaluasi dengan menggunakan teknik tes bertujuan untuk mengetahui:
a. tingkat kemampuan awal siswa
b. hasil belajar siswa
c. perkembangan prestasi siswa
d. keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

E. Objek Evaluasi
Objek evaluasi biasa disebut juga dengan sasaran evaluasi. Yaitu segala
sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatAN KARENA PENILAI MENGINGINkan
informasi tentang sesuatu tersebut. Objek evaluasi pendidikan dilihat dari aspek
inputny, maka objek dari evaluasi pendidikan itu sendiri meliputi tiga aspek,
yaitu: aspek kognitif (kemampuan), aspek psikomotor (kepribadian), dan aspek
afekt5if (sikap).
Unsur-unsur objek evaluasi pendidikan yaitu input, transformasi, dan
output.

F. Ciri-ciri Tes yang Baik


Sebuah tes dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memnuhi
persyaratan tes, yaitu memiliki: validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas,
dan ekonomis.

G. Portopolio
Istilah portopolio berasal dari kata kerja potare berarti membawa dan
kata benda bahasa latin foglio, yang berarti lembaran atau kertas kerja.
Portopolio tempt berisikan benda pekerjaan, lembaran, nilai, dan profesional.
Dalam konteks penelitian ini portopolio adalah koleksi berharga dan berguna
berisikan pekerjaan siswa yang menceritakan atau menerangkan sejarah prestasi
atau pertumbuhan siswa. Portofolio umumnya suatu fakta bahwa siswa
mengumpulkan, menseleksi, dan merefleksi penilaiannya (Sharp, 2006:1).
Portofolio berisikan beragam tugas; disebut juga artifak, antara lain: draft
mentah, nilai, makalah, benda kerja, kritik dan ringkasan, lembaran catatan dan
catatan diskusi. Beberapa cara baru seperti: note book, multi media, disket,

66
flashdisk, map lipat, dan file internet (sharp, 2006:1). Pada penelitian ini
portofolio adalah hasil karya mahasiswa dalam bentuk lembar kerja.

BAB III
PENILAIAN

A. Kelebihan dari Kedua Buah Buku


a. Kelebihan Buku Utama, Profesi Kependidikan karangan Prof. Dr.
Sudarman Danim dan Dr. H. Khairil
Dalam buku yang berjudul Profesi Kependidikan Prof. Dr. Sudarman Danim dan Dr.
H. Khairil, karangan bahasa yang digunakan mudah dipahami. Pilihan kata atau kalimat-kalimat
yang digunakan dalam buku ini juga sangat efektif. Dalam buku ini mengenai psikologi pendidikan
ini dijelaskan secara singkat namun jelas. Setiap materi yang di jelaskan dalam buku ini disertai
contoh yang memudahkan kita untuk memahaminya. Selain itu, buku ini memiliki pendahulan setiap
bab nya sehingga kita dapat gambaran isi bab tersebut saat membaca pendahuluannya. Buku ini
mempunyai keunggulan dari sampul luar bukunya. Seperti yang kita lihat sampul buku ini
menggunakan warna yang cerah dan cukup menarik untuk dilihat sehingga pembaca merasa tertarik
untuk membuka halaman berikutnya.

b. Kelebihan Buku Pembanding, Profesi Kependidikan karangan Deliati,


S.Ag. M.Ag.; Elfrianto Nasution, M.Pd. dan Muhammad Arifin, S.Pd,
M.Pd.
Dalam buku ini menggunakan ilustrasi seperti gambar atau bagan-bagan yang menjadi
kelebihan buku ini, buku ini menggunakan contoh yang baik dan cocok untuk pemula seperti kita.
Hal ini membuat pembaca lebih mudah memahami materi yang disampaikan daripada
penyajiannya disampikan melalui teks-teks atau kalimat-kalimat. Untuk sistematika penulisan,
buku ini membagi isi buku kedalam beberapa bab yang isi materi tiap bab tersebut tidak terlalu
banyak. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, penulis buku ini banyak menyertakan tabel

67
ataupun grafik. Hal ini semakin mempermudah pembahasan ataupun data yang disampikan kepada
pembaca.

B. Kelemahan dari Ketiga Buah Buku


a. Kelemahan Buku Utama, Profesi Kependidikan karangan Prof. Dr.
Sudarman Danim dan Dr. H. Khairil
Namun, di sisi kelemahan pada buku ini, penulis kurang menjelaskan materi yang
bersangkutan, misalnya pada aturan mengenai profesi kependidikan. Materi yang sangat penting
untuk pencapaian sistematika yang baik tersebut, tidak dibahas dalam buku Sudarman dan Khairil
ini.

b. Kelemahan Buku Pembanding, Profesi Kependidikan karangan Deliati,


S.Ag. M.Ag.; Elfrianto Nasution, M.Pd. dan Muhammad Arifin, S.Pd,
M.Pd.
Dalam buku ini pemaparan tentang belajar dalam psrofesi kependidikan. Buku ini hanya
menjelaskan pengenalan bagi yang tidak tahu tentang profesi kependidikan dan beberapa penjelasan
yang lainnya. Buku ini sudah memberi perencanaan-perencanaan setiap materi namun sulit untuk
dimengerti.

68
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Dalam Profesi Kependidikan karangan Prof. Dr. Sudarman Danim dan Dr.
H. Khairil merupakan buku yang berisikan tentang profesi kependidikan. Buku tersebut memiliki
beberapa kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari buku ini yaitu: 1) bahasa yang digunakan
mudah dipahami, 2) pilihan kata atau kalimat-kalimat yang digunakan dalam buku ini juga sangat
efektif, 3) menampilkan grafik dan tabel-tabel, 4) sampul buku ini menggunakan warna yang cerah
dan cukup menarik. Sedangkan kekurangan buku ini 1) materi kurang lengkap, 2) penomoran dalam
buku kurang baik. Berdasarkan kelebihan dan kekurangan buku tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa buku tersebut tergolong buku dengan kualitas yang cukup baik bisa digunakan sebagai bahan
ajar untuk pelajaran kependidikan. Buku ini bisa dijadikan salah satu referensi dalam pembelajaran
profesi kependidikan.

Saran
Dengan berbagai uraian di atas, tentunya tidak lepas dari berbagai kekurangan baik dari segi isi
materi, teknik penulisan dan sebagainya, untuk itu sangat diharapkan saran maupun kritikan yang
membangun dalam perbaikan makalah selanjutnya. Baik dari dosen pembimbing maupun rekan-rekan
mahasiswa.

69
DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarman dan Khairil. 2012. Profesi Kependidikan. Bandung: Alfabeta.

Deliati, dkk. 2015. Profesi Kependidikan. Bandung: Citapustaka Media.

70