Anda di halaman 1dari 50

BAB III

PENCABUTAN PERNYATAAN PAILIT MENURUT UNDANG-UNDANG


PERSEROAN TERBATAS

A. Perseroan Terbatas Badan Hukum Yang dapat dipailitkan

Sebuah perseroan dinyatakan pailit maka sebagaimana di maksud dalam Pasal

24 ayat (1 ) Undang-Undang nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang menyatakan bahwa debitor demi hukum

kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk

dalam harta pailit, sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan

Melihat pada penjelasan pasal tersebut jelaslah bahwa debitor dalam perseroan

terbatas kehilangan haknya untuk mengurus harta kekayaan perusahaan, karena harta

kekayaan secara otomatis pengurusannya akan beralih kepada seorang kurator. Pasal

1 angka 1 UUK menyatakan bahwa kepailitan adalah: sita umum atas semua

kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh

Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-

Undang ini

Ketentuan pasal tersebut adalah bermaksud agar semua harta kekayaan

tersebut dapat menjadi jaminan pelunasan hutang-hutang peseroan selaku debitur

pailit. Jika telah dinyatakan pailit kemudian perseroan terbatas tersebut tidak mampu

untuk membayar hutang-hutangnya, maka tujuan terakhir dari kepailitan ini adalah

dengan melikuidasi perseroan terbatas tersebut. Likuidasi merupakan aktivitas yang

dilakukan apabila debitur pailit tidak dapat menunjukan kepada pengadilan niaga

yang memiliki otoritas untuk menghentikan kepailitan. Atau dengan kata lain

Universitas Sumatera Utara


membereskan harta (asset) yang nantinya dipergunakan untuk membayar hutang-

hutang.30

Ilmu hukum mengenal dua macam subjek hukum, yaitu subjek hukum

pribadi (orang perorangan), dan subjek hukum berupa badan hukum. Terhadap

masing-masing subjek hukum tersebut berlaku ketentuan hukum yang berbeda satu

dengan yang lainnya, meskipun dalam hal-hal tertentu terhadap keduanya dapat

diterapkan suatu aturan yang berlaku umum.31

Salah satu ciri khas yang membedakan subjek hukum pribadi dengan subjek

hukum badan hukum adalah saat lahirnya subjek hukum tersebut, yang pada akhirnya

akan menentukan saat lahirnya hak-hak dan kewajiban bagi masing-masing subjek

hukum tersebut. Menurut Pasal 1 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

,pada subjek hukum pribadi, status subjek hukum dianggap telah ada bahkan pada

saat pribadi perseorangan tersebut berada dalam kandungan. Sedangkan pada badan

hukum, keberadaan status badan hukumnya baru diperoleh setelah ia memperoleh

pengesahan dari pejabat yang berwenang, yang memberikan hak-hak, kewajiban

dan harta kekayaan sendiri bagi badan hukum tersebut, terlepas dari hak-hak,

kewajiban dan harta kekayaan para pendiri, pemegang saham, maupun para

pengurusnya. Pasal 7 ayat (4) UUPT menyatakan bahwa perseroan memperoleh

status badan hukum setelah akta pendirian disahkan oleh Menteri.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang tidak satu pasal pun yang

menyatakan perseroan sebagai badan hukum, tetapi dalam UUPT secara tegas

dinyatakan dalam Pasal 1 butir 1 bahwa perseroan adalah badan hukum. Ini berarti

perseroan tersebut memenuhi syarat keilmuan sebagai pendukung hak dan kewajiban

antara lain memiliki harta kekayaan pendiri atau pengurusnya.


30
M. Udin Silalahi, Badan Hukum Organisasi Perusahaan. (Jakarta : Penerbit IBLAM, 2005),
hlm 11
31
Ibid, hlm 12

Universitas Sumatera Utara


Sebagai suatu badan hukum, perseroan memenuhi unsur-unsur badan hukum

seperti yang ditentukan dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas. Unsur-unsur

tersebut adalah :

1. Organisasi yang teratur

Di dalam Pasal 1 butir 2 Undang-Undang Perseroan Terbatas, dapat kita lihat

dari adanya organ perusahaan yang terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham

(RUPS), Direksi, dan Komisaris.

2. Harta kekayaan sendiri

Menurut Pasal 31 dan 32 UUPT, harta kekayaan sendiri ini berupa modal dasar

yang terdiri atas seluruh nilai nominal saham yang terdiri atas uang tunai dan

harta kekayaan dalam bentuk lain.

3. Melakukan hubungan hukum sendiri

Sebagai badan hukum, perseroan melakukan sendiri hubungan hukum dengan

pihak ketiga yang diwakili oleh pengurus yang disebut Direksi dan Komisaris.

Direksi bertanggung jawab penuh untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta

mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Dalam

melaksanakan kegiatannya, direksi berada di bawah pengawasan Dewan

Komisaris, yang dalam hal-hal tertentu membantu direksi dalam menjalankan

tugasnya tersebut.

4. Mempunyai tujuan tersendiri

Tujuan tersebut ditentukan di dalam Anggaran Dasar perseroan, karena perseroan

menjalankan perusahaan, maka tujuan utama perusahaan adalah memperoleh

keuntungan/ laba.

Universitas Sumatera Utara


Tujuan utama proses kepailitan terhadap perseroan terbatas adalah untuk

mempercepat proses likuidasi dalam rangka pendistribusian asset perseroan dalam

rangka membayar utang-utang perseroan karena perseroan telah mengalami kesulitan

keuangan yang menyebabkan insolvensi perseroan tersebut. Dengan demikian

eksistensi perseroan terbatas yang dipailitkan segera berakhir dengan percepatan

pemberesan proses likudasi tersebut. Prinsip utama kepailitan perseroan terbatas

adalah menyegerakan proses likuidasi asset perseroan untuk kemudian

membagikannya kepada segenap kreditornya.32

Eksistensi yuridis dari perseroan terbatas yang telah dipailitkan adalah masih

tetap ada eksistensi badan hukumnya. Dengan dinyatakanya pailit tidak muitatis

mutandis badan hukum perseroan menjadi tidak ada. Suatu argumentasi yuridis

mengenai proposisi ini setidaknya ada tiga (3) landasan antara lain :

1) Kepailitan terhadap perseroan tidak mesti berakhir dengan likuidasi dan

pembubaran badan hukum perseroan. Dalam hal harta kekayaan perseroan telah

mencukupi tagihan-tagihan kreditor dan biaya-biaya yang timbul dari kepailitan,

maka langkah berikutnya adalah pengakhiran kepailitan dengan jalan rehabilitasi

terhadap perseroan terbatas tersebut dan kepailitan diangkat serta berakibat

perseroan terbatas itu kembali pada keadaan semula sebagaimana perseroan

sebelum adanya kepailitan. Seandainya eksisistensi badan hukum perseroan

terbatas hapus dengan adanya kepailitan, maka tentunya tidak dimungkinkannya

adanya pengangkatan kepailitan serta rehabilitasi perseroan karena sudah

hapusnya status badan hukum itu.

2) Dalam proses kepailitan perseroan terbatas, maka perseroan terbatas tersebut

masi dapat melakukan transaksi hukum terhadap pihak kedua, di mana tentunya

32
M. Hadi Subhan, Hukum Kepailitan, Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan, edisi
pertama, cet.ke-1, (Jakarta : Prenada Media Group, 2008). hlm.198

Universitas Sumatera Utara


yang melakukan perbuatan hukum perseroan tersebut adalah kurator atau

setidak-tidaknya atas mandat kurator. Sehingga tidak mungkin jika badan hukum

perseroan telah tiada sementara masih dapat melakukan proses transaksi tersebut.

3) Dimungkinkannya untuk melanjutkan usaha perseroan yang dalam pailit (on

going concern). Pelanjutan usaha perseroan yang dalam pailit tentunya tidak

dimungkinkan seandainya eksistensi badan hukum dari perseroan terbatas itu

sudah hapus bersamaan dengan pernyataan kepailitan perseroan terbatas itu.

Dengan masih tetapnya eksistensi badan usaha perseroan dalam pailit ini, maka

dimungkinkannya going concern dari usaha perseroan ini. Disinilah kelebihan/

keuntungan status perseroan dalam pailit yang tunduk pada rezim hukum

kepailitan dengan status perseroan dalam likuidasi yang tunduk pada hukum

perseroan terbatas secara umum yang diatur dalam undang-undang perseroan

terbatas.33

Dalam pada itu, dalam kasus-kasus tertentu kepailitan perseroan bisa

dimungkinkan tanpa likuidasi. Hal terakhir ini jika dipandang perlu untuk meneruskan

kegiatan usaha perseroan (going concern) sehingga menghasilkan keuntungan yang

lebih yang pada akhirnya hasil keuntungan tersebut digunkan untuk membayar utang-

utang perseroan. Melanjutkan perusahaan ini merupakan langkah yang sangat

strategis dalam hal terjadinya kepailitan perseroan karena kesulitan jangka pendek

sementara prospek perusahaan tersebut masih baik.

Dalam konsep manajemen keuangan perseroan dikenal dengan tiga jenis

utang, yakni utang jangka pendek, utang jangka menengah, dan utang jangka panjang.

Kesulitan utang jangka pendek ini tidak mesti berhubungan dengan kebangkrutan

suatu perseroan terbatas. Dan kesulitan likuiditas ini biasanya hanya sebagai akibat

33
Ibid, hlm.199

Universitas Sumatera Utara


dari kesalahan manajemen cash flow (arus keluar masuk uang perseroan). Dalam teori

manajemen keuangan sebagaimana disebut diatas membedakan kesulitan keuangan

perusahaan menjadi :34

1) Economic Failure, yang berarti bahwa pendapatan perusahaan tidak dapat

menutup biaya total, termasuk biaya modal. Usaha yang economic failure dapat

meneruskan operasinya sepanjang kreditor berkeinginan untuk menyediakan

tambahan modal dan pemilik dapat menerima tingkat pengembalian ( return )

dibawah tingkat bunga pasar.

2) Business Failure, istilah ini digunakan oleh Dun dan Bradstreet yang merupakan

penyusun utama failure statistic, untuk mendefenisikan usaha yang menghentikan

operasinya dengan akibat kerugian bagi kreditor. Dengan demikian, suatu usaha

dapat diklasifikasikan gagal meskipun tidak melalui kebangkrutan secara normal.

Juga suatu usaha dapat menghentikan/ menutup usahanya tetapi tidak dianggap

sebagai gagal.

3) Technical Insolvency. Sebuah perusahaan dapat dinilai bangkrut apabila tidak

memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo. Technical Insolvency ini mungkin

menunjukkan kekurangan likuiditas yang sifatnya sementara dimana pada suatu

waktu perusahaan dapat mengumpulkan uang untuk memenuhi kewajibannya dan

tetap hidup. Di lain pihak apabila technical insolvency merupakan gejala awal

dari economic failure, maka hal ini merupakan tanda kearah bencana keuangan (

financial disaster).

4) Insolvency in bankruptcy. Sebuah perusahaan dikatakan bankruptcy bilamana

nilai buku dari total kewajiban melebihi nilai pasar dari asset perusahaan. Hal ini

merupakan suatu keadaan yang lebih serius dibandingkan dengan technical

34
Ibid, hlm.202

Universitas Sumatera Utara


insolvency, sebab pada umumnya hal ini merupakan pertanda daari economic

failure yang mengarah ke likuidasi suatu usaha.

5) Legal bankruptcy. Kepailitan ini adalah putusan kepailitan yang dijatuhkan oleh

pengadilan sesuai dengan undang-undang karena mengalami tahapan-tahapan

kesulitan keuangan tersebut diatas.

Dari lima jenis kesulitan keuangan tersebut, maka kesulitan keuangan jenis

pertama, kedua, dan ketiga bisa dicarikan jalan keluarnya bukan dengan dengan

kepailitan. Jadi perseroan terbatas yang sedang mengalami kesulitan keuangan, maka

tidak secara apriori harus dinyatakan pailit. Namun oleh karena sistem hukum

kepailitan Indonesia menutup mata terhadap jenis kesulitan keuangan perusahaan

tersebut dalam kaitannya dengan kepailitan yang berarti bahwa kepailitan perseroan

terbatas tersebut sudah secara tekhnis bangkrut, maka konsep pelanjutan usaha (on

going concern) memilki makna yang sangat strategis, terutama jika kepailitan tersebut

menyangkut perseroan terbatas yang memilki kesulitan keuangan tipe kesatu, kedua,

atau yang ketiga.

Dalam hal perseroan meneruskan kegiatan usahanya setelah dinyatakan pailit

oleh pengadilan, maka eksistensi perseroan diakui sebagai subjek hukum yang penuh

dalam transaksi bisnis. Ada beberapa perbedaan perseroan terbatas yang sudah

dinyatakan pailit dalam melakukan kegiatan usahanya jika dibandingkan dengan

perseroan terbatas tidak dalam pailit, yakni organ pengurus yang bertindak untuk dan

atas nama perseroan adalah kurator bukan direksi dari perseroan tersebut. Kurator

inilah yang menjalankan tindakan pengurursan perseroan terbatas. Namun tidak

menutup kemungkinan kurator memanfaatkan organ direksi dalam pengurusan

perseroan terbatas dalam kepailitan yang on going concern tersebut.35

35
Ibid, hlm 205.

Universitas Sumatera Utara


Perseroan terbatas yang dinyatakan pailit tidak secara otomatis bubar,

melainkan masih eksis badan hukumnya, bahkan dalam keadaan tertentu masih

menjalankan usahanya seperti lazimnya perseroan terbatas ketika tidak terjadinya

kepailitan sebagaimana telah dijelaskan diatas.

Kepailitan menurut UUK diatur dalam Pasal 1 ayat (1) yang berbunyi :

Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan

dan pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan Hakim Pengawas

sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.

Dari pasal diatas menerangkan, bahwa apabila terjadi pailit pada suatu badan

hukum maka akan terjadi penyitaan atau sita umum terhadap kekayaan debitur yang

nantinya pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan

Hakim Pengawas.

Permohonan pailit dapat diajukan oleh pihak yang berinisiatif untuk

mengajukan pailit ke pengadilan berdasarkan undang-undang kepailitan, pihak-pihak

yang dapat mengajukan permohonan pailit ialah :

1. Debitor itu sendiri (Volutary petition),

2. Adany satu/lebih kreditur,

3. Kejaksaan untuk kepentingan umum,

4. Bank Indonesia jika debiturnya bank,

5. Badan Pengawas Pasar Modal jika debiturnya perusahaan efek.36

Dengan adanya permohonan pailit yang diajukan maka akan dikeluarkan

putusan pernyataan pailit. Putusan pernyataan pailit yang dikeluarkan atas

permohonan kreditur dapat mengubah seseorang (badan hukum) menjadi tidak cakap

untuk melakukan perbuatan hukum, menguasai dan mengurus harta kekayaannya

36
Sayudi Aria, dkk, Kepailitan Dinegeri Pailit, Cetakan kedua, (Jakarta : Pusat Studi
Hukum & kebijakan Indinesia dicetak oleh Dimensi, 2004), hlm 76.

Universitas Sumatera Utara


sejak adanya pernyataan putusan pailit diucapkan oleh ketua pengadilan.

Permohonan pailit tersebut diajukan ke Pengadilan Niaga yang mengurus perkara

pailit, permohonan pailit yang diajukan akan dikabulkan apabila telah terbukti secara

sederhana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) UUK menyatakan

bahwa:

Permohonan pernyatan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau

keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) telah terpenuhi.

Yang dimaksud dengan pembuktian secara sederhana dalam pasal diatas

adalah yang lazim disebut dengan pembuktian secara sumir. Pembuktian sederhana

atau sumir yang dimaksud dalam UU Kepailitan tidak dapat menjawab sejauh mana

batasan pembuktian sederhana tersebut.37

Akibat hukum dari adanya kepailitan yang diberlakukan kepada debitor oleh

undang-undang. Menurut Munir Fuady akibat-akibat tersebut berlaku kepada debitor

dengan dua mode pemberlakuan yaitu :38

1. Berlaku demi hukum

Ada beberapa akibat yuridis yang berlaku demi hukum (by the operation of law)

segera setelah adanya pernyataan pailit memiliki kekuatan tetap, ataupun setelah

berakhirnya kepailitan. Dalam hal telah adanya pernyataan pailit pada debitur,

maka debitur dilarang untuk meninggalkan tempat tinggalnya selama masa

pemberesan tersebut dilakukan. Walaupun dalam keadaanya seperti ini pihak

hakim pengawas masih mungkin dapat memberikan izin kepada debitur untuk

meninggalkan tempat tinggalnya.

2. Berlaku secara Rule of Reason

37
Ibid, hlm 76.
38
Munir Fuady, Op.Cit, hlm. 65.

Universitas Sumatera Utara


Akibat hukum ini tidak secara otomatis berlaku, akan berlaku apabila

diberlakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan, dengan mengajukan

alasan-alasan yang wajar untuk memberlakukannya. Dalam hal ini pihak-pihak

yang dapat mempertimbangkan berlakunya akibat-akibat hukum tertentu tersebut

misalany kurator, Pengadilan Niaga, Hakim Pengawas, dan lain-lain. Akibat yang

memerlukan rule of reason adalah tindakan penyegelan harta pailit. Dalam hal ini

harta debitur dapat disegel atas persetujuan Hakim Pengawas jadi hal tersebut

tidak dapat terjadi secara otomatis. Reason yang dilakukan dalam penyegelan

harta pailit ini diartikan hanya untuk alasan pengamanan harta pailit tersebut.

Ada perbedaan mendasar antara akibat hukum kepailitan dari subjek hukum

orang dengan kepailitan suatu perseroan terbatas. Terhadap kepailitan subjek hukum

orang, maka demi hukum sipailit tidak berwenang lagi untuk melakukan pengurusan

terhadap harta kekayaannya yang menjadi boedel pailit. Kewenangan untuk

melakukan pengurusan terhadap harta kekayaannya berlalih kepada kurator. Kurator

dalam kepalitan orang secara apriori melakukan pemberesan terhadap harta pailit.

Kurator tidak berwenang untuk mengembangkan usaha dari sipailit.39 Sedangkan

kepailitan bagi perseroan terbatas tidak menyebabkan secara otomatis perseroan

terbatas tersebut berhenti mealkukan segala perbuatan hukumnya. Yang secara

otomatis melakukan perbuatan hukum yang berkaitan dengan harta kekayaan

perseroan adalah organ perseroan yang terdiri dari pemegang saham, komisaris, dan

direktur.40

39
M. Hadi Subhan, Op.Cit. hlm. 209.
40
http://asma1981.blogspot.com/2012/09/eksistensi-yuridis-perseroan-terbatas_1.html
(diakses tanggal 13 Juni 2013)

Universitas Sumatera Utara


B. Pembubaran Perseroan Terbatas menurut Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007

Sebelum membahas eksistensi Perseroan Terbatas setelah berakhirnya

kepailitan, berikut ini akan dipaparkan terlebih dahulu syarat-syarat berakhirnya

kepailitan, yaitu :

1. Apabila pembagian terhadap harta si pailit telah dilakukan secara tuntas dan

mempunyai kekuatan hukum yang pasti;

2. Apabila homogolasi akor telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti;

3. Apabila ada pertimbangan dari hakim yang memutus kepailitan, bahwa harta si

pailit ternyata tidak cukup untuk membiayai kepailitan.

Dalam hal kepailitan badan hukum perseroan terbatas setelah berakhirnya

kepailitan, bubar atau tidaknya perseroan tergantung kepada keputusan hakim atas

adanya permohonan pembubaran perseroan karena didalam undang-undang kepailitan

dan undang-undang perseroan terbatas No. 40 tahun 2007 tidak adanya pengaturan

mengenai pembubaran demi hukum perseroan terbatas secara terperinci. Pembubaran

Perseroan terbatas demi hukum hanya dikenal pengaturannya di KUHD yaitu Alasan-

alasan pembubaran perseroan karena jangka waktu berdirinya berakhir dan bubar

demi hukum karena kerugian yang mencapai 75% dari modal perseroan.Akan tetapi

undang-undang UUPT mengenal adanya pembubaran karena penetapan pengadilan

tetapi tidak mengenal adanya pembubaran demi hukum.

Menurut ketentuan Pasal 142 UUPT, Pembubaran Perseroan terjadi :

a. berdasarkan keputusan RUPS;

b. karena jangka waktu berdirinya yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah

berakhir;

c. berdasarkan penetapan pengadilan;

Universitas Sumatera Utara


d. dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang telah

mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup untuk

membayar biaya kepailitan;

e. karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan

insolvensi sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; atau

f. karena dicabutnya izin usaha Perseroan sehingga mewajibkan Perseroan

melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 142 UUPT ada 2 (dua) alasan pembubaran PT

yang berhubungan dengan Kepailitan yaitu

1. Dengan dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang telah

mempunyai kekuatan hukum tetap, harta pailit Perseroan tidak cukup untuk

membayar biaya kepailitan;

2. Karena harta pailit Perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalam keadaan

insolvensi sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;

Alasan pertama digunakan untuk melindungi kepentingan kreditor.Dalam hal

ini kreditor tentunya tidak boleh dirugikan dengan adanya keadaan tidak mampu

membayar ini.Berdasarkan Pasal 18 ayat 1 UU No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan

dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, apabila perseroan pailit sehingga tidak

mampu membayar hutangnya, maka kreditor dapat mengajukan permohonan

pembubaran perseroan kepada Hakim Pengawas atas Putusan Pernyataan Pailit yang

diajukan oleh Debitor. Berdasarkan permohonan Kreditor atau Panitia Kreditor

sementara jika ada, tersebut Hakim Pengawas mengusulkan kepada Pengadilan

Niaga, serta setelah memanggil dengan sah atau mendengar Debitor, dapat

Universitas Sumatera Utara


memutuskan pencabutan putusan pernyataan pailit Berdasarkan keputusan Pengadilan

Niaga tersebut, suatu perseroan dapat dibubarkan. Pembubaran tersebut diikuti

dengan pemberesan sehingga kreditor berhak mendapatkan pelunasan dari hasil

pemberesan tersebut.

Setelah pembubaran PT terjadi dengan adanya pencabutan kepailitan ini, maka

menurut Pasal 142 butir 4 Pengadilan Niaga sekaligus memutuskan, pemberhentian

Kurator.Kemudian peran Kurator digantikan oleh Likuidator sebagai pihak yang

ditunjuk untuk menyelesaikan pemberesan. Dalam jangka waktu paling lambat 30

(tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pembubaran Perseroan, likuidator wajib

memberitahukan:

a. kepada semua kreditor mengenai pembubaran Perseroan dengan cara

mengumumkan pembubaran Perseroan dalam surat kabar dan Berita Negara

Republik Indonesia; dan

b. pembubaran Perseroan kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar Perseroan

bahwa Perseroan dalam likuidasi.

Pemberitahuan kepada kreditor dalam surat kabar dan Berita Negara Republik

Indonesia memuat:

a. pembubaran Perseroan dan dasar hukumnya;

b. nama dan alamat likuidator;

c. tata cara pengajuan tagihan; dan

d. jangka waktu pengajuan tagihan.

Jangka waktu pengajuan tagihan adalah 60 (enam puluh) hari terhitung sejak

tanggal pengumuman sebagaimana. Pemberitahuan kepada Menteri wajib dilengkapi

dengan bukti:

Universitas Sumatera Utara


a. dasar hukum pembubaran Perseroan; dan

b. pemberitahuan kepada kreditor dalam surat kabar

Alasan kedua, Pembubaran Perseroan Terbatas terjadi karena telah dinyatakan

pailit dan dalam keadaan insolvensi. Keadaan insolvenasi menurut Pasal 178 ayat 1

UUK dan PKPU yaitu suatu keadaan dimana Debitor dinyatakan benar-benar tidak

mampu membayar, insolvensi ini terjadi apabila :

a. Dalam rapat pencocokan piutang Kreditor tidak ditawarkan perdamaian atau

b. Rencana Perdamaian yang ditawarkan Debitor ditolak oleh Panitia Kreditor atau

c. Pengesahan Perdamaian ditolak berdasarkan putusan yang telah memperoleh

kekuatan hukum tetap.

Akibat hukum dari penetapan insolvensi debitor pailit, timbulnya konsekuensi

hukum tertentu, yaitu sebagai berikut :

1. Harta pailit segera dieksekusi dan dibagi kecuali ada pertimbangan tertentu (misal

: pertimbangan prospek kelangsungan usaha) yang menyebabkan penundaan

eksekusi dan penundaan pembagian akan lebih mengutungkan;

2. Pada prinsipnya tidak ada Rehabilitasi, sebab insolvensi ini disebabkan tidak

adanya perdamaian dan aset Debitor Pailit lebih kecil dari kewajibannya. Kecuali

apabila setelah dalam keadaan insolvensi kemudian terdapat Harta lain dari

Debitor pailit. Misalnya adanya warisan, sehingga utang dapat dibayar lunas.

Dengan demikian Rehabilitasi dapat diajukan berdasarkan Pasal 215 UUK dan

PKPU.

Bertolak dari kedua alasan yang dipakai sebagai dasar Pembubaran Perseroan

Terbatas dalam Kepailitan, menimbulkan dua mode perlakuan hukum terhadap

perseroan terbatas, yaitu :

Universitas Sumatera Utara


1. Berlaku demi hukum (by the operation of law).

Ada beberapa akibat yuridis yang berlaku demi hukum (by the operation of

law) segera setelah pernyataan pailit dinyatakan atau setelah pernyataan pailit

mempunyai hukum tetap, ataupun setelah berakhirnya kepailitan. Dalam hal ini,

Pengadilan Niaga, Hakim Pengawas, Kurator, Kreditur dan siapapun yang terlibat

dalam proses kepailitan tidak dapat memberikan andil secara langsung untuk

terjadinya akibat yuridis tersebut. Misal, dalam Pasal 93 Undang-undang Kepailitan

disebutkan, larangan bagi debitur pailit untuk meninggalkan tempat tinggalnya

(cekal), sungguhpun dalam hal inipihak hakim pengawas masih mungkin memberi

izin bagi debitur pailit untuk meninggalkan tempat tinggalnya.

2. Berlaku secara Rule of Reason.

Untuk akibat-akibat hukum tertentu dari kepailitan berlaku Rule of Reason,

adalah bahwa akibat hukum tersebut tidak otomatis berlaku,akan tetapi baru berlaku

jika diberlakukan oleh pihak-pihak tertentu,setelah mempunyai alasan yang wajar

untuk diberlakukan. Pihak-pihakyang mesti mempertimbangkan berlakunya akibat-

akibat hokum tertentu tersebut.Misal, Kurator, Pengadilan Niaga, Hakim

Pengawas,dan lain-lain.

Dengan demikian, bahwa berlakunya akibat hukum tersebut tidak semuanya

sama. Ada yang perlu dimintakan oleh pihak tertentu dan perlu pula persetujuan

institusi tertentu, tetapi ada juga yang berlaku karena hukum (by theoperation of law)

begitu putusan pailit dikabulkan oleh Pengadilan Niaga.

Pada dasarnya sebelum pernyataan pailit, hak-hak debitur untuk melakukan

semua tindakan hukum berkenaan dengan kekayaannya harus dihormati. Tentunya

dengan memperhatikan hak-hak kontraktual serta kewajiban debitur menurut

peraturan perundang-undangan.

Universitas Sumatera Utara


Semenjak pengadilan mengucapkan putusan kepailitan dalam sidang yang

terbuka untuk umum terhadap debitur berakibat bahwa ia kehilangan hak untuk

melakukan pengurusan dan penguasaan atas harta bendanya (persona standy in

ludicio) dan hak kewajiban si pailit beralih kepada kurator untuk mengurus dan

menguasai boedelnya. Si pailit masih diperkenankan untuk melakukan perbuatan-

perbuatan hukum di bidang harta kekayaan, misalnya membuat perjanjian, apabila

dengan perbuatan hukum itu akan memberi keuntungan bagi harta (boedel) si pailit,

sebaliknya apabila dengan perjanjian atau perbuatan hukum itu justru akan merugikan

boedel, maka kerugian itu tidak mengikat boedel.

Kepailitan Badan Hukum Perseroan Terbatas di Indonesia tidak secara

otomatis terhentinya operasional perseroan.Pernyataan Pailit Perseroan Terbatas

membuat perseroan sebatas kehilangan haknya untuk mengurus dan menguasai harta

kekayaan perseroan tersebut. Pendapat ini dkuatkan dengan berlandaskan pada

beberapa hal sebagai berikut :

Pasal 143 ayat 1 UUPT, menjelaskan bahwa :

(1) Pembubaran Perseroan tidak mengakibatkan Perseroan kehilangan status badan

hukum sampai dengan selesainya likuidasi dan pertanggungjawaban likuidator

diterima oleh RUPS atau pengadilan.

(2) Sejak saat pembubaran pada setiap surat keluar Perseroan dicantumkan kata

dalam likuidasi di belakang nama Perseroan.

Pasal ini berkaitan dengan pasal sebelumnya bahwa salah satu penyebab

pembubaran adalah disebabkan karena berada pada keadaan pailit yang mana keadaan

pailit dapat terjadi karena dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga

yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan karena telah dinyatakan Insolvensi.

Dengan demikian Pembubaran perseroan, seperti yang diatur dalam Pasal 142 butir 4,

Universitas Sumatera Utara


yang dimaksud dalam Pasal 143 UUPT tersebut pun harus memperhatikan ketentuan-

ketentuan yang berlaku di dalam Undang-Undang Kepailitan dan PKPU No. 37 tahun

2004.

Pembubaran perseroan terbatas yang dimaksud dalam Pasal 142 butir 1 huruf

d dan e UUPT, proses dan pemberesannya haruslah sesuai dengan UU Kepailitan dan

PKPU. Pada Pembubaran yang demikian ini, bahwa Pembubaran yang dimaksud

adalah penghentian operasional perseroan terbatas yang dilakukan oleh organ-organ

perseroan yang meliputi RUPS, Direksi dan Dewan Komisaris, bukanlah berupa

Pembubaran Badan Hukum perseroan terbatas.Peran organ-organ perseroan tersebut

berdasarkan pasal 16 dan pasal 21 UU Kepailitan dan PKPU, diambil alih oleh

Kurator dan Hakim Pengawas untuk melakukan Pemberesan harta pailit dan atau

melanjutkan operasional perseroan terbatas dengan pertimbangkan lebih

mengutungkan daripada menghentikan operasional perseroan terbatas, kecuali apabila

terjadi pencabutan kepailitan akibat tidak ada kemampuan membayar Debitor untuk

membayar biaya kepailitan maka bersamaan dengan itu dilakukan penghentian tugas

dan wewenang Kurator dalam kegiatannnya, pemberesan dan penyelesaian kewajiban

perseroan dilakukan oleh likuidator seperti halnya diatur dalam pasal 143 butir 4

UUPT.

Dari ketiga organ perseroan, yang sangat berperan penting dalam operasional

badan hukum perseroan terbatas adalah Direksi. Sebagai organ dari perseroan,

keberadan direksi bergantung sepenuhnya pada keberadaan perseroan, dan sebaliknya

perseroan baru dapat menjalankan kegiatannya jika ada direksi yang mengurus dan

mengelolanya. Sebagai suatu badan hukum, perseroan terbatas dianggap seolah-olah

sebagai suatu person atau subyek hukum tersendiri (artificial person) yang mandiri

sehingga mempunyai hak untuk menjadi pemegang hak dan kewajibannya sendiri,

Universitas Sumatera Utara


sedangkan Direksi sebagai bagian dari organ perseroan terbatas adalah satu-satunya

organ perseroan yang berhak dan berwenang untuk mewakili perseroan sebenarnya

hanyahlah sub dari suatu subyek hukum yang bernama perseroan terbatas.

Dari pengertian di atas maka dalam melakukan kewajibannya untuk

melakukan pengurusan perseroan maka ada pembatasan kewenangan bagi Direksi

bahwa ia tidak diperkenankan untuk bertindak diluar maksud dan tujuan dari

perseroan serta untuk melakukan tindakan yang berada di luar kewenangannya

sebagaimana ditentukan di dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, Anggaran

Dasar, dan Peraturan lain yang berlaku. Dengan dipenuhinya syarat-syarat

pembatasan kewenangan yang berlaku maka setiap tindakan yang dilakukan oleh

anggota Direksi Perseroan akan dianggap tetap mengikat perseroan. Ini berarti

perseroan harus tetap menanggung segala akibat hukumnya sehingga berdasaran hal

ini maka untuk menciptakan kepastian hukum mengenai kewenangan bertindak untuk

dan atas nama perseroan, pada banyak negara telah diberlakukan mekanisme

keterbukaan (disclosure) tertentu yang mewajibkan perseroan untuk mengumumkan

kewenangan bertindak Direksi dan setiap anggotanya termasuk pihak-pihak lainnya

yang ditunjuk atau diberi kuasa untuk bertindak untuk dan atas nama perseroan serta

pembatasan kewenang-kewenangannya.Dari sinilah makna yang sebenarnya dari

pembubaran Perseroan Terbatas sebagai akibat dari Kepailitan yang diatur dalam

Pasal 142 butir 1 huruf d dan e UUPT.

Pemberhentian tugas dan wewenang organ PT, termasuk yang sangat penting

adalah Direksi dalam menjalankan operasional Perseroan Terbatas. Sedang

Pembubaran badan hukum perseroan terbatas dilaksanakan setelah segala urusan dan

pemberesan kewajiban telah diselesaikan secara keseluruhan terhadap Kreditor

maupun pihak ketiga.Pembubaran Badan Hukum ini melalui mekanisme yang diatur

Universitas Sumatera Utara


dalam UUPT.Setelah segala sesuatu mengenai pemberesan dan penyelesaian

kewajiban terhadap Kreditor maupun Pihak Ketiga selesai, RUPS sebagai organ

tertinggi Perseroan Terbatas, kembali pada fungsi, tugas dan wewenangnya untuk

melakukan langkah-langkah pembubaran Badan Hukum.

Pembubaran perseroan yang dimaksud dalam pasal 142 butir 1 huruf d dan e,

adalah penghentian kegiatan perseroan terbatas yang dilakukan oleh organ-organ PT

yang meliputi RUPS, Direksi dan Dewan Direksi, Perseroan Terbatas yang telah

dinyatakan dalam keadaan Insolvensi wajib mencantumkan Likuidasi dibelakang

nama Perseroan Terbatas. Sedangkan Badan Hukum PT, tidak secara otomatis bubar

(Pasal 143 ayat 1). Pembubaran Badan Hukum PT tetap mengunakan prosedur RUPS

sebagai organ tertinggi dalam PT. Pelaksanaan Pembubaran Badan Hukum PT

dilaksanakan setelah pengurusan dan pemberesan perseroan telah selesai

dilaksanakan.

3. Pembubaran perseroan terbatas setelah putusan pailit dibacakan hanya dapat

dimintakan penetapan pengadilan oleh kreditor dengan alasan perseroan tidak mampu

membayar hutangnya setelah dinyatakan pailit atau harta kekayaan perseroan tidak

cukup untuk melunasi seluruh hutangnya setelah pernyataan pailit dicabut. Hal mana

juga ditegaskan di dalam penjelasan UUK dan PKPU bahwa asas di dalam Undang-

undang ini di antaranya adalah asas kelangsungan usaha yang artinya bahwa

kepailitan tidak demi hukum menjadikan perseroan bubar.

Pengadilan Niaga atas anjuran dari Hakim pengawas dapat mencabut

kepailitan dengan memperhatikan keadaan harta pailit.Keadaan ini terjadi bila harta

pailit tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan. Dalam memerintahkan

pengakhiran kepailitan tersebut, Pengadilan Niaga juga menetapkan biaya kepailitan

dan imbalan jasa kurator yang dibebankan terhadap debitor.Biaya tersebut juga harus

Universitas Sumatera Utara


didahulukan pembayarannya atas semua utang yang tidak dijamin dengan agunan.

Putusan yang memerintahkan pencabutan pernyataan pailit, diumumkan oleh Panitera

Pengadilan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) surat

kabar harian. Putusan pencabutan pernyataan pailit ini dapat diajukan kasasi dan/atau

peninjauan kembali. Dalam hal setelah putusan pencabutan pernyataan pailit

diucapkan diajukan lagi permohonan pernyataan pailit, maka Debitor atau pemohon

wajib membuktikan bahwa ada cukup harta untuk membayar biaya kepailitan.

C. Keadaan harta Pailit yang Mengakibatkan dicabutnya Pernyataan Pailit PT

Status kepailitan dapat diakhiri melalui pencabutan kepailitan oleh pengadilan

niaga berdasarkan rekomendasi dari kurator atau hakim pengawas. Pencabutan ini

dilakukan bila kondisi kekayaan maupun kegiatan usaha dari debitur pailit berada

dalam keadaan sangat tidak mampu membayar. Pencabutan kepailitan dilakukan

dalam hal terjadi kondisi dimana harta pailit sangat tidak mencukupi untuk membayar

utang-utang dari kreditur atau bahkan tidak ada sama sekali asetnya.41

Praktek penjatuhan pailit dalam Undang-undang Kepailitan banyak

menimbulkan problematika dan debat yuridis. Salah satu penyebabnya adalah karena

pengaturannya banyak yang tidak jelas dan adanya ketidak sinkronan antara peraturan

perundang-undangan seperti yang terdapat dalam Pasal 142 huruf d dan e yang

menjelaskan bahwa pembubaran perseroan terbatas dikarenakan kondisi keuangan

perusahaan tidak cukup untuk melunasi keuangannya dan karena perseroan terbatas

memasuki fase insolvensi namun dalam Pasal 2 ayat 1 tentang syarat dijatuhkan pailit

tidak mengatur kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan insolvensi sehingga

memberikan peluang untuk beragam penafsiran yang berakibat ketidakpastian hukum.

41
http://andryawal.blogspot.com/2011/08/teknik-beracara-pengurusan-dan.html (diakses
tanggal 13 Juni 2013)

Universitas Sumatera Utara


Kepailitan merupakan suatu proses dimana seorang debitor yang mempunyasi

kesulitan keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan pailit oleh pengadilan.

Dalam hal ini pengadilan niaga, dikarenakan debitor tersebut tidak dapat membayar

utangnya. Pernyataan tersebut mengakibatkan debitor kehilangan haknya untuk

menguasai dan mengurus kekayaannya yang dimasukkan dalam kepailitan, terhitung

sejak putusan pailit dijatuhkan.

Salah satu tahap penting dalam proses kepailitan adalah tahap insolvensi.
Tahap ini penting artinya karena pada tahap inilah nasib debitor pailit
ditentukan. Apakah harta debitor akan habis dibagi-bagi sampai menutup
utangnya, ataupun debitor masih dapat bernafas lega dengan diterimanya suatu
rencana perdamaian atau rekstrukturisasi utang. Apabila debitor sudah
dinyatakan insolvensi, maka debitor sudah benar-benar pailit, dan hartanya
segera akan dibagi-bagi, meskipun hal ini tidak berarti bahwa bisnis dari
perusahaan pailit tersebut tidak bisa dilanjutkan. Untuk mempailitkan debotor
Undang-undang nomor 37 tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan
kewajiban pembayaran utang tidak mensyaratkan agar debitor berada dalam
keadaan insolvensi. Hal ini tentu melindungi kepentingan kreditor, tidak
diterapkannya insolvensi test mengakibatkan perusahaan di indonesia bangkrut
secara hukum. Padahal dalam kondisi ekonomi Indonesia saat ini bila
persyaratan insolvensi diterapkan maka akan sulit membuat debitor di
Indonesia dinyatakan pailit.42

Tidak diatur dan dibedakannya antara kemampuan debitor untuk membayar

utang dengan kemauan debitor untuk membayar utang mengakibatkan banyak

perseroan yang masih solven namun dapat dipailitkan. Salah satu tahap penting dalam

proses kepailitan adalah tahap insolvensi. Tahap ini penting artinya karena pada tahap

inilah nasib debitor pailit ditentukan. Apakah hartanya dibagi-bagi sampai menutupi

utang-utangnya ataupun debitor masih dapat bernapas dengan diterimanya suatu

rencana perdamaian atau restrukturisasi utang. Yang jelas, jika debitor sudah

dinyatakan insolvensi, dia sudah benar-benar pailit dan hartanya segera akan dibagi-

bagi meskipun hal ini tidak berarti bahwa bisnis dari

42
Siti Soemarti Hartono, Pengantar Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran,
(Yogyakarta : Liberty, 1981), hlm 53

Universitas Sumatera Utara


perusahaan pailit tersebut tidak bisa dilanjutkan. Dicabutnya izin usaha perseroan

sehingga mewajibkan Perseroan melakukan likuidasi sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.

Pencabutan perseroan berdasarkan keputusan RUPS diajukan oleh Direksi,

Dewan Komisaris atau 1 (satu) pemegang saham atau lebih yang mewakili paling

sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara.

Keputusan RUPS tentang pembubaran perseroan adalah sah apabila diambil

berdasarkan musyawarah untuk mufakat dan/atau paling sedikit dihadiri oleh (tiga

perempat) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili

dalam RUPS dan disetujui paling sedikit (tiga perempat) bagian dari jumlah suara

yang dikeluarkan.43

Sebagaimana kepailitan bisa berakibat pada hilangnya segala hak debitor

untuk mengurus segala harta kekayaan yang termasuk ke dalam harta pailit tetapi

putusan pernyataan pailit tidak mengakibatkan debitur kehilangan kecakapannya

untuk melakukan perbuatan hukum. Kewenangan debitor atas harta kekayaannya

akan diambil oleh kurator sejak jatuhnya putusan pernyataan pailit. Sesudah

pernyataan pailit maka segala perikatan yang dibuat debitur dengan pihak ketiga tidak

dapat dibayar dari harta pailit, kecuali bila perikatan-perikatan tersebut mendatangkan

keuntungan bagi harta pailit atau dapat menambah harta pailit. Oleh karena itu

gugatan-gugatan yang diajukan dengan tujuan untuk memperoleh pemenuhan

perikatan dari harta pailit, selama dalam kepailitan, yang secara langsung diajukan

kepada debitor pailit, hanya dapat diajukan dalam bentuk laporan untuk pencocokan

atau rapat verifikasi. Segala tuntutan mengenai hak atau kewajiban yang menyangkut

harta pailit harus diajukan oleh atau terhadap kurator. Bagitu pula mengenai segala

43
http://www.hukumperseroanterbatas.com/tag/direksi/ html (diakses tanggal 13 Juni 2013)

Universitas Sumatera Utara


eksekusi pengadilan terhadap harta pailit. Eksekusi pengadilan terhadap setiap bagian

dari kekayaan debitor yang telah dimulai sebelum kepailitan harus dihentikan, kecuali

eksekusi itu sudah sedemikian jauh hingga hari pelelangan sudah ditentukan dengan

izin hakin pengawas kurator dapat meneruskan pelelangan tersebut.44

Syarat debitor tidak membayar lunas sedikitnya satu utang45 yang telah

jatuh tempo dan dapat ditagih. Hukum kepailitan bukan mengatur kepailitan debitor

yang tidak membayar kewajibannya hanya kepada salah satu krediturnya saja, tetapi

debitor itu harus berada dalam keadaan insolven (insolvent). Seorang debitor dalam

keadaan insolven hanyalah apabila debitor itu tidak mampu secara financial untuk

membayar utang-utangnya kepada sebagian besar krediturnya. Seorang debitor tidak

dapat dikatakan telah dalam keadaan insolvensi apabila hanya kepada seorang

kreditur saja debitor tersebut tidak membayar utangnya, sedangkan kepada kreditur

lainnya debitor tetap dapat melaksanakan kewajiban pelunasan utang-utangnya

dengan baik.46

Keadaan berhenti membayar haruslah merupakan keadaan yang objektif, yaitu

karena keuangan debitor telah mengalami ketidakmampuan membayar utang-

utangnya. Dengan kata lain, debitor tidak boleh hanya sekedar tidak mau membayar

utang-utangnya tetapi keadaan objektif keuangannya memang telah dalam keadaan

tidak mampu membayar, sehingga yang menjadi pertimbangan pengadilan niaga

untuk menyatakan seorang debitor pailit, tidak saja dikarenakan ketidakmampuannya

untuk melunasi utang-utang tersebut seperti yang sudah diperjanjikan. Hukum

44
http://frwarandy.blogspot.com/2012_05_01_archive.html (diakses tanggal 13 Juni 2013)
45
Menurut Pasal 1 ayat (6) UUK dan PKPU, bahwa yang dimaksud dengan Utang adalah
Kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang indonesia
maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul dikemudian hari atau
kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh debitor dan
bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditur untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan
debitor.
46
Sunarmi, Op.Cit, hlm 28.

Universitas Sumatera Utara


kepailitan di Indonesia baik dalam Faillissement Verordening, UU No. 4 Tahun 1998

maupun UU No. 37 Tahun 2004 tidak memberikan batasan yang jelas tentang

berhenti membayar dan tidak membayar. Dengan tidak adanya tes insolvensi

dalam hukum kepailitan Indonesia merupakan kelemahan. Debitor yang masih

memiliki kekayaan yang cukup untuk membayar utang-utangnya dapat dinyatakan

pailit oleh pengadilan karena tidak membayar utang. Istilah solventberasal dari

bahasa latin solvere yang artinya membayar dan lawan katanya insolvent yang

artinya tidak membayar.

Utang yang telah jatuh tempo dengan sendirinya menjadi utang yang telah

dapat ditagih, namun utang yang dapat ditagih belum tentu merupakan utang yang

telah jatuh tempo. Utang hanyalah jatuh tempo apabila menurut perjanjian kredi atau

perjanjian utang-piutang telah sampai jadwal waktunya untuk dilunasi oleh debitor

sebagaimana ditentukan dalam perjanjian itu. Tentu saja apabila utang tersebut telah

jatuh tempo, maka kreditur mempunyai hak untuk menagih seluruh jumlah yang

terutang dan jatuh tempo pada debitor.Cara pembubaran PT dalam hal kepailitan juga

dapat ditemui didalam ketentuan Pasal 146 UU No.40 Tahun 2007 Tentang Perseroan

Terbatas yaitu adanya permohonan dari kreditur

kepada Pengadilan Negeri untuk membubarkan Perseroan dengan alasan :

1. Perseroan tidak mampu membayar hutangnya setelah dinyatakan pailit.

2. Harta kekayaan perseroan tidak cukup untuk melunasi seluruh hutangnya setelah

pernyataan pailit dicabut.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas menurut UU PT, pailit tidak

mengakibatkan perseroan bubar selama harta kekayaan perseroan setelah kepailitan

berakhir masih ada dan dapat digunakan untuk menjalankan perseroan.Kepailitan

perseroan hanya menjadi alasan tidak mampu membayar hutang kepada kreditur.

Universitas Sumatera Utara


Dalam hal ini kreditur tentunya tidak boleh dirugikan dengan adanya keadaan tidak

mampu membayar ini.Oleh karena itu apabila perseroan pailit sehingga tidak mampu

membayar hutangnya, maka kreditur dapat mengajukan permohonan pembubaran

perseroan kepada Pengadilan Negeri. Berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri suatu

perseroan dapat dibubarkan. Pembubaran tersebut diikuti dengan pemberesan

sehingga kreditur berhak mendapatkan pelunasan dari hasil pemberesan tersebut.

Universitas Sumatera Utara


BAB IV
PENCABUTAN PERNYATAAN PAILIT ATAS DEBITOR PAILIT
PERSEROAN TERBATAS

A. Akibat Hukum Percabutan Pernyataan Pailit atas Debitor Pailit Perseroan


Terbatas

Pernyataan pailit, mengakibatkan debitur demi hukum kehilangan hak untuk

menguasai dan mengurus kekayaannya yang dimasukkan dalam kepailitan, terhitung

sejak pernyataan putusan kepailitan. Dengan ditiadakannya hak debitur secara hukum

untuk mengurus kekayaannya, maka oleh Undang-Undang Kepailitan ditetapkan

bahwa terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit ditetapkan, kurator

berwenang melaksanakan tugas pengurusan dan atau pemberesan atas harta pailit,

meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan kembali. Kurator

tersebut ditunjuk bersamaan dengan Hakim Pengawas pada saat putusan pernyataan

pailit dibacakan.

Dengan demikian jelaslah, bahwa akibat hukum bagi debitur setelah

dinyatakan pailit adalah bahwa ia tidak boleh lagi mengurus harta kekayaannya yang

dinyatakan pailit, dan selanjutnya yang akan mengurus harta kekayaan atau

perusahaan debitur pailit tersebut adalah Kurator. Untuk menjaga dan mengawasi

tugas seorang kurator, pengadilan menunjuk seorang hakim pengawas, yang

mengawasi perjalan proses kepailitan (pengurusan dan pemberesan harta pailit).47

Zainal Asikin, menguraikan beberapa akibat hukum dari putusan pailit. Hal yang

utama adalah dengan telah dijatuhkannya putusan kepailitan, si debitur (si pailit)

kehilangan hak untuk melakukan pengurusan dan penguasaan atas harta

47
Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis, Kepailitan, (Jakarta : Raja Grafindo
Persada, 2002), hlm 31.

Universitas Sumatera Utara


bendanya.Pengurusan dan penguasaan harta benda tersebut beralih ke tangan

curator/Balai Harta Peninggalan.48

Dengan demikian, apabila suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh debitur

dan perbuatan hukum tersebut dapat merugikan para kreditor serta dilakukan dalam

jangka waktu satu tahun sebelum pernyataan pailit ditetapkan, sedangkan perbuatan

hukum tersebut tidak wajib dilakukan debitur, (kecuali dapat dibuktikan sebaliknya)

debitur dan pihak dengan siapa perbuatan itu dilakukan dianggap

mengetahui/sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan tersebut akan mengakibatkan

kerugian bagi kreditor. Perbuatan hukum tersebut:49

a. Merupakan perikatan dimana kewajiban debitur jauh melebihi kewajiban


pihak dengan siapa perikatan tersebut dilakukan
b. Merupakan pembayaran atas atau pemberian jaminan untuk utang yang
belum jatuh tempo dan belum dapat ditagih
c. Dilakukan oleh debitur perorangan, dengan atau terhadap:
1) Anggota atau istrinya, anak angkat atau keluarganya sampai derajat
ketiga.
2) Suatu badan hukum dimana debitur atau pihak-pihak sebagaimana
dimaksud dalam angaka 1 adalah anggota direksi atau pengurus atau
apabila pihak-pihak tersebut, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama,
ikut serta secara langsung dalam kepemilikan badan hukum tersebut
paling kurang sebesar 50% dari modal disetor.
d. Dilakukan oleh debitur yang merupakan badan hukum.

B. Upaya Hukum Pencabutan Pernyataan Pailit atas Debitor Pailit Perseroan


Terbatas

Tujuan utama dalam suatu proses di muka Pengadilan adalah untuk

memperoleh putusan Hakim yang berkekuatan hukum tetap. Akan tetapi, setiap

putusan yang dijatuhkan oleh Hakim belum tentu dapat menjamin kebenaran secara

yuridis, karena putusan itu tidak lepas dari kekeliruan dan kekilafan, bahkan tidak

48
Zainal Asikin, Op.Cit, hlm 35.
49
Siti Anisah, Perlindungan Kepentingan Kreditor dan Debitor dalam Hukum Kepailitan di
Indonesia, (Yogyakarta : Total Media, 2008), hlm 255.

Universitas Sumatera Utara


mustahil bersifat memihak. Agar kekeliruan dan kehilafan itu dapat diperbaiki, maka

demi tegaknya kebenaran dan keadilan, terhadap putusan Hakim itu dimungkinkan

untuk diperiksa ulang. Cara yang tepat untuk dapat mewujudkan kebenaran dan

keadilan itu adalah dengan melaksanakan upaya hukum.50

Demikian pula terhadap putusan dari Pengadilan Niaga dalam perkara

kepailitan. Namun, perbedaan dari Pengadilan Niaga ialah hanya tersedia upaya

hukum kasasi ke Mahkamah Agung. Pengadilan Niaga disebut sebagai pengadilan

tingkat pertama dan tidak ada tingkat kedua atau sering disebut sebagai tingkat

banding. Terhadap putusan-putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap

tersedia upaya hukum luar biasa yaitu peninjauan kembali. Kasasi

Kasasi berasal dari bahasa Perancis : Cassation, dengan kata kerja casser,yang

berarti membatalkan atau memecahkan putusan pengadilan, karena dianggap

mengandung kesalahan dalam penerapan hukum, yang tunduk pada kasasi hanyalah

kesalahan-kesalahan di dalam penerapan hukum saja. Sebagaimana disebutkan dalam

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung, bahwa salah satu

tugas dan wewenang Mahkamah Agung adalah memeriksa dan memutus

permohonan kasasi. Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Mahkamah Agung

menyebutkan bahwa Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan

atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan karena:

a) Tidak berwenang atau melampaui batas wewenang.

b) Salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku.

c) Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-

undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang

bersangkutan.

50
Kelik Pramudya, Upaya Hukum dalamKepailitan,http://clickgtg.blogspot.com/html,
(diakses tanggal 20 April 2013)

Universitas Sumatera Utara


Upaya hukum kasasi dalam kepailitan diatur dalam Pasal 11 sampai dengan

Pasal 13 Undang-Undang Kepailitan, prosesnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Pendaftaran Kasasi

Dalam perkara kepailitan permohonan kasasi dapat diajukan oleh Debitor dan

Kreditor yang berkedudukan sebagai pihak pada persidangan tingkat pertama maupun

Kreditor lain yang bukan merupakan pihak pada persidangan tingkatpertama yang

tidak puas terhadap putusan atas permohonan pernyataan pailit. Permohonan kasasi

dalam perkara kepalitan tidak hanya terbatas pada putusan permohonan kepailitan

tingkat pertama saja. Permohonan kasasi juga dapat diajukan apabila rencana

perdamaian ditolak oleh Pengadilan Niaga atau dalam hal pencabutan kepailitan yang

menyebabkan kepailitan berakhir. Dalam hal demikian kreditor yang menyetujui

perdamaian serta debitor pailit dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Pasal

11 Undang-Undang Kepailitan menyebutkan bahwa permohonan kasasi diajukan

paling lambat 8 (delapan) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan kasasi

diucapkan atau, dengan mendaftarkan kepada Panitera Pengadilan yang telah

memutus permohonan pernyataan pailit. Selanjutnya panitera mendaftar permohonan

kasasi pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan dan kepada pemohon

diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani panitera dengan tanggal yang

sama dengan tanggal penerimaan pendaftar.

b) Penyampaian Memori Kasasi

Pemohon kasasi wajib menyampaikan kepada Panitera Pengadilan memori

kasasi pada tanggal permohonan kasasi didaftarkan. Paling lambat 2 (dua) hari setelah

permohonan kasasi didaftarkan, panitera wajib mengirimkan permohonan kasasi dan

memori kasasi kepada pihak termohon kasasi.

c) Pengajuan Kontra Memori Kasasi

Universitas Sumatera Utara


Terhadap kasasi yang diajukan oleh pemohon kasasi itu, termohon kasasi

dapat mengajukan kontra memori kasasi kepada panitera Pengadilan paling lambat 7

(tujuh) hari setelah tanggal termohon kasasi menerima memori kasasi. Panitera

Pengadilan selanjutnya wajib menyampaikan kontra memori kasasi kepada pemohon

kasasi paling lambat 2 (dua) hari setelah kontra memori kasasi

diterima.

d) Pegiriman Berkas ke Mahkamah Agung

Setelah semua berkas kasasi dari pihak pemohon maupun termohon kasasi

lengkap, panitera wajib menyampaikan permohonan kasasi, memori kasasi, dan

kontra memori kasasi beserta berkas perkara yang bersangkutan kepada Mahkamah

Agung paling lambat 14 (empat belas) hari setelah tanggal permohonan kasasi

didaftarkan. Mahkamah Agung selanjutnya akan mempelajari permohonan itu

sekaligus menetapkan hari sidang paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal

permohonan kasasi diterima.

e) Sidang Pemeriksaan

Sidang pemeriksaan atas permohonan kasasi dilakukan paling lambat 20 (dua

puluh) hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung.

Pemeriksaan atas permohonan kasasi dilakukan oleh sebuah majelis hakim

Mahkamah Agung yang khusus dibentuk untuk memeriksa dan memutus perkara

yang menjadi lingkup kewenangan Pengadilan Niaga.

f) Putusan Kasasi

Putusan atas permohonan kasasi harus diucapkan paling lambat 60 (enam

puluh) hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung.

Putusan kasasi tersebut wajib memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang

Universitas Sumatera Utara


mendasari putusan tersebut dan harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.

Setelah putusan kasasi diucapkan Panitera padaMahkamah Agung wajib

menyampaikan salinan putusan kasasi kepada Panitera pada Pengadilan Niaga paling

lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal putusan atas permohonan kasasi diucapkan.

Salinan atas putusan kasasi tersebut selanjutnya wajib disampaikan kepada pemohon

kasasi, termohon kasasi, Kurator, dan Hakim Pengawas paling lambat 2 (dua) hari

setelah putusan kasasi diterima.

g) Peninjauan Kembali

Kewenangan lain yang diberikan Undang-Undang kepada Mahkamah Agung

ialah memeriksa dan memutus permohonan peninjauan kembali yang telah

mempunyai kekuatan hukum tetap. Peninjauan Kembali merupakan upaya hukum luar

biasa, namun sebenarnya lembaga ini bertentangan dengan asas kepastian hukum.

Prinsip asas kepastian hukum menentukan bahwa putusan hakim yang sudah

berkekuatan hukum tetap, tidak bisa diubah lagi. Asas kepastian hukum ini disebut

nebis in idem, artinya tidak boleh terjadi dua kali putusan terhadap satu kasus yang

sama antara dua pihak dalam perkara yang sama.

Undang-Undang memberi kesempatan untuk mengajukan peninjauan kembali

dengan segala persyaratan yang ketat. Persyaratan yang ketat tersebut dimaksudkan

untuk menerapkan asas keadilan terhadap pemberlakuan asas kepastian hukum,

karena itu peninjauan kembali berorientasi pada tuntutan keadilan. Fungsi Mahkamah

Agung dalam Peninjauan Kembali adalah mengadakan koreksi terakhir terhadap

putusan pengadilan yang mengandung ketidakadilan yang disebabkan kesalahan dan

kekhilafan hakim.Rumusan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004

memberikan hak untuk mengajukan perninjauan kembali atas putusan pailit yang

telah berkekuatan hukum tetap. Walau demikian permohonan peninjauan kembali

Universitas Sumatera Utara


hanya dapat dilakukan pada dua macam alasan saja, yang masing-masing secara

khusus telah dibatasi jangka waktu tertentu. Pasal 295 ayat (2) Undang-Undang

Kepailitan menentukan bahwa peninjauan kembali dapat diajukan dengan alasan

sebagai berikut:

1. Setelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang bersifat menentukan yang

pada waktu perkara diperiksa di Pengadilan sudah ada, tetapi belum ditemukan.

Bukti baru tersebut apabila diketahui pada tahap persidangan sebelumnya akan

menghasilkan putusan yang berbeda. Permohonan peninjauan kembali dengan

alasan ini diajukan dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 180 (seratus

delapan puluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan

kembali memperoleh kekuatan hukum tetap.

2. Terdapat kekeliruan yang nyata pada putusan hakim sebelumnya atau hakim telah

melakukan kesalahan berat dalam penerapan hukum. Permohonan peninjauan

kembali atas dasar alasan ini, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 30

(tiga puluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan kembali

memperoleh kekuatan hukum tetap.51

Prosedur permohonan peninjauan kembali diatur tersendiri pada BAB IV,

Pasal 295 sampai dengan 298 Undang-Undang Kepailitan. Permohonan peninjauan

kembali disampaikan kepada Panitera Pengadilan. Panitera Pengadilan mendaftar

permohonan peninjauan kembali pada tanggal permohonan diajukan, dan kepada

pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani Panitera Pengadilan

dengan tanggal yang sama dengan tanggal permohonan didaftarkan. Panitera

Pengadilan menyampaikan permohonan peninjauan kembali kepada Panitera

Mahkamah Agung dalam jangka waktu 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan

51
Rudhy A. Lontoh, dkk, Penyelesaian Utang Piutang, Melalui Pailit Atau Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang, (Bandung : Alumni, 2001), hlm. 3-5.

Universitas Sumatera Utara


didaftarkan. Pemohon peninjauan kembali wajib menyampaikan kepada Panitera

Pengadilan bukti pendukung yang menjadi dasar pengajuan permohonan peninjauan

kembali dan untuk termohon salinan permohonan peninjauan kembali berikut salinan

bukti pendukung yang bersangkutan, pada tanggal permohonan didaftarkan.

Panitera Pengadilan menyampaikan salinan permohonan peninjauan kembali

berikut salinan bukti pendukung kepada termohon dalam jangkawaktu paling lambat 2

(dua) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Pihak termohon dapat mengajukan

jawaban terhadap permohonan peninjauan kembali yang diajukan, dalam jangka

waktu 10 (sepuluh) hari setelah tanggal permohonan peninjauan kembali didaftarkan.

Panitera Pengadilan wajib menyampaikan jawaban kepada Panitera Mahkamah

Agung, dalam jangka waktu paling lambat 12 (dua belas) hari setelah tanggal

permohonan didaftarkan.

Mahkamah Agung segera memeriksa dan memberikan putusan atas

permohonan peninjauan kembali dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh)

hari setelah tanggal permohonan diterima Panitera Mahkamah Agung. Putusan atas

permohonan peninjauan kembali harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.

Dalam jangka waktu paling lambat 32 (tiga puluh dua) hari setelah tanggal

permohonan diterima Panitera Mahkamah Agung, Mahkamah Agung wajib

menyampaikan kepada para pihak salinan putusan peninjauan kembali yang memuat

secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut.

C. Ketentuan tentang dapat diajukan lagi Permohonan Pernyataan Pailit

Undang-Undang Kepailitan membentuk suatu peradilan khusus yang

berwenang menangani perkara kepailitan, yaitu Pengadilan Niaga.Kedudukan

Pengadilan Niaga berada di lingkungan Peradilan Umum.Pembentukan peradilan

khusus ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah kepailitan secara cepat dan

Universitas Sumatera Utara


efektif. Proses permohonan putusan pernyataan pailit diatur dalam Pasal 6 sampai

dengan Pasal 11 Undang-Undang Kepailitan. Prosesnya dapat dijelaskan sebagai

berikut :

1. Pendaftaran Permohonan Kepailitan

Permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan atas permintaan seorang

atau lebih para subjek pemohon yang berwenang sebagaimana diatur dalam Pasal 2

Undang-Undang Kepailitan.Permohonan ini ditujukan kepada Ketua Pengadilan

Niaga yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum Debitor. Hal

ini diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Kepailitan tentang kompetensi relatif

Pengadilan Niaga, yaitu:

a. Dalam hal Debitor telah meninggalkan wilayah Negara Republik Indonesia,

Pengadilan yang berwenang menjatuhkan putusan atas permohonan

pernyataan pailit adalah Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat

kedudukan hukum terakhir Debitor.

b. Apabila Debitor adalah pesero suatu firma, Pengadilan yang daerah hukumnya

meliputi tempat kedudukan hukum firma tersebut juga berwenang

memutuskan.

c. Bagi debitur yang tidak berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia

tetapi menjalankan profesi atau usahanya di wilayah negara Republik

Indonesia, Pengadilan yang berwenang memutuskan adalah Pengadilan yang

daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan atau kantor pusat Debitor

menjalankan profesi atau usahanya di wilayah Negara Republik Indonesia.

d. Dalam hal Debitor merupakan badan hukum, tempat kedudukan hukumnya

adalah sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasarnya.

Universitas Sumatera Utara


Pemohon juga harus menyertakan berkas-berkas yang menjadi syarat-syarat

pengajuan, antara lain :

1) Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan

Niaga.

2) Kartu Advokat.

3) Bukti yang menunjukkan adanya perikatan (perjanjian jual beli, hutang

piutang, putusan pengadilan, commercial paper, faktur, kwitansi, dan

lainlain.

4) Surat Kuasa Khusus.

5) Tanda Daftar Perusahaan yang dilegalisir oleh kantor perdagangan.

6) Perincian hutang yang tidak dibayar.

7) Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh penterjemah resmi (disumpah),

jika menyangkut bahasa asing.

8) Nama dan alamat masingmasing kreditur / debitur.

Sistematika surat permohonan pernyataan pailit pada dasarnya sama

dengan surat gugatan biasa, hanya saja dalam kepailitan perlu

ditambahkan pengangkatan kurator dan hakim pengawas.

Setelah menerima pendafaran tersebut Panitera Pengadilan kemudian

mendaftarkan permohonan pernyataan kepailitan pada tanggal permohonan dan

kepada pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat

yang berwenang dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran. Hal yang

perlu diingat oleh pemohon ialah bahwa Permohonan pernyataan pailit yang diajukan

sendiri oleh kreditor ataupun debitor sendiri wajib memakai advokat yang memiliki

izin praktik beracara.Namun, apabila permohonan pernyataan pailit diajukan oleh

Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal, dan Menteri Keuangan, tidak

Universitas Sumatera Utara


diperlukan advokat. Adapun dasar yang menjadi pertimbangan ketentuan tersebut

adalah bahwa di dalam suatu proses kepailitan dimana memerlukan pengetahuan

tentang hukum dan kecakapan teknis, perlu kedua pihak yang bersengketa dibantu

oleh seorang atau beberapa ahli yang memiliki kemampuan teknis, agar segala

sesuatunya berjalan dengan layak dan wajar.

2. Penyampaian kepada Ketua Pengadilan

Berkas permohonan yang diterima oleh Panitera Muda Perdata dapat

dibuatkan tanda terima sementara, berupa formulir yang diisi nomor permohonan,

tanggal penyerahan permohonan, nama Penasehat Hukum yang menyerahkan, nama

pemohon, tanggal kembali ke Pengadilan, dalam hal berkas perkara belum selesai

diteliti. Pemeriksaan persyaratan serta kelengkapan permohonan dilakukan dengan

cara memberikan tanda pada formulir (check-list) sehingga apabila ada kekurangan

langsung dapat terlihat. Berkas permohonan yang belum lengkap dikembalikan pada

penasehat hukum, dengan dijelaskan supaya melengkapi surat-surat sesuai dengan

kekurangan yang tercantum dalam formulir kelengkapan berkas permohonan (check-

list).

Biaya perkara di Pengadilan Niaga besarnya ditentukan sesuai dengan Surat

Keputusan Ketua Pengadilan Niaga. Panjar biaya perkara dibayar kepada kasir; Kasir

setelah menerima pembayaran menandatangani, membubuhkan cap stempel lunas

pada SKUM dan sekaligus mencantumkan nomor perkara baik pada SKUM maupun

pada lembar pertama surat permohonan; Setelah proses pembayaran panjar biaya

perkara selesai, petugas mencatat datadata dan memberi nomor perkara. Cara

menentukan nomor perkara didasarkan pada tata urutan penerimaan panjar biaya

perkara.Untuk menentukan nomor perkara kasasi dan perkara Peninjauan kembali,

digunakan nomor perkara awal (nomor pendaftaran pada saat diajukan pada

Universitas Sumatera Utara


Pengadilan Niaga); Panitera selanjutnya paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal

permohonan didaftarkan harus menyampaikan permohonan tersebut kepada Ketua

Pengadilan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (4) UUK.

3. Penetapan hari siding

Berdasarkan Pasal 6 ayat (5) UUK, Pengadilan paling lambat 3 (tiga) hari setelah

tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan wajib mempelajari permohonan

dan menetapkan hari sidang.

4. Sidang Pemeriksaan

Sidang pertama pemeriksaan atas permohonan pernyataan pailit diselenggarakan

dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah tanggal permohonan

didaftarkan. Menurut Pasal 6 ayat (7) UUK, Pengadilan dapat menunda

penyelenggaraan sidang tersebut sampai dengan paling lambat 25 (dua puluh lima)

hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Penundaan ini atas permohonan

debitor dan harus disertai alasan yang cukup. Pada sidang pemeriksaan tersebut

pengadilan wajib memanggil Debitor, dalam hal permohonan pernyataan pailit

diajukan oleh Kreditor, Kejaksaan, Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal,

atau Menteri Keuangan, sedangkan apabila permohonan diajukan oleh debitor

pengadilan dapat memanggil kreditor. Hal ini dilakukan jika terdapat keraguan

bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2

ayat (1) telah terpenuhi atau tidak.Pemanggilan oleh pengadilan ini dilakukan

paling paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum sidang pertama pemeriksaan

dilaksanakan. Sidang ini selanjutnya berjalan sebagaimana proses beracara perdata

biasa, hanya saja proses beracara di Pengadilan Niaga hanya berlaku dengan

tulisan atau surat (schiftelijke procedure). Acara dengan surat berarti bahwa

pemeriksaan perkara pada pokoknya berjalan dengan tulisan. Akan tetapi, kedua

Universitas Sumatera Utara


belah pihak mendapat kesempatan juga untuk menerangkan kedudukannya dengan

lisan.

Dalam persidangan ini pemohon harus hadir, Apabila dalam sidang pertama

Pemohon tidak hadir, padahal panggilan telah disampaikan secara sah (patut), maka

perkara dinyatakan gugur.Apabila Pemohon menghendaki, dapat mengajukannya lagi

sebagai perkara baru.Jika Termohon tidak datang dan tidak ada bukti bahwa

panggilan telah disampaikan kepada Termohon maka sidang harus diundur dan

Pengadilan harus melakukan panggilan lagi kepada Termohon. Selama putusan atas

permohonan pernyataan pailit belum diucapkan, setiap kreditor, kejaksaan, Bank

Indonesia, Bapepam, atau Menteri Keuangan dapat mengajukan permohonan kepada

pengadilan untuk :

a) meletakkan sita jaminan terhadap sebagian atau seluruh kekayaan debitor ; atau

b) menunjuk kurator sementara untuk mengawasi :

1) pengelolaan usaha debitor; dan

2) pembayaran kepada debitor, pengalihan, atau pengagunan kekayaan debitor

yang dalam kepailitan merupakan wewenang kurator

Pengadilan hanya dapat mengabulkan permohonan tersebut apabila hal

tersebut diperlukan guna melindungi kepentingan kreditor. Ratio legis

(logika ketentuan) dari norma ini adalah agar dalam proses kepailitan

sebelum putusan dijatuhkan harta yang dimiliki debitor pailit tidak dialihkan

atau ditransaksikan, sehingga kemungkinan jika dialihkan atau

ditransaksikan bisa merugikan kreditor nantinya.

Dalam hukum kepailitan memang dikenal instrumen hukum yang namanya

actio pauliana, yakni suatu gugatan pembatalan atas transaksi yang dilakukan oleh

debitor pailit yang merugikan kreditor.Namun, instrumen actio pauliana ini jauh lebih

Universitas Sumatera Utara


rumit dan dalam praktik belum pernah ada gugatan actio pauliana yang dikabulkan

hakim. Jika dibandingkan dengan hukum kepailitan di Amerika Serikat, disana

berlaku ketentuan "automatic stay", yakni begitu debitor diajukan pailit maka secara

otomatis semua harta debitor dalam keadaan stay (diam) tidak boleh ditransaksikan

apapun. Jadi di Amerika tidak diperlukan adanya sita jaminan tersebut. Proses

beracara di Pengadilan Niaga dalam permohonan kepailitan menganut sistem

pembuktian sederhana sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (4)UUK, Pemeriksaan

perkara kepailitan di Pengadilan Niaga berlangsung lebih cepat, hal ini dikarenakan

Undang-Undang Kepailitan memberikan batasan waktu proses kepailitan. Selain itu,

lebih cepatnya waktu pemeriksaan perkara di Pengadilan Niaga antara lain

dipengaruhi oleh sistem pembuktian yang dianut, yaitu bersifat sederhana atau

pembuktian secara sumir, ini dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 8 ayat (4) Undang-

Undang Kepailitan. Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat

fakta yang terbukti secara sederhana bahwa pernyataan untuk dinyatakan pailit telah

terpenuhi.Pembuktian hanya meliputi syarat untuk dapat dipailitkan yaitu, adanya

utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, adanya kreditor yang lebih dari satu

serta adanya fakta bahwa debitor atau termohon pailit telah tidak membayar

utangnya.Sifat pembuktian yang sederhana dapat digunakan hakim niaga sebagai

alasan untuk menolak permohonan pailit yang diajukan kepadanya.Hakim dapat

menyatakan bahwa perkara yang diajukan itu adalah perkara perdata biasa.Jika suatu

perkara dikategorikan hakim niaga sebagai perkara yang pembuktiannya berbelit-

belit, maka hakim dapat menyatakan bahwa kasus itu bukan kewenangan Pengadilan

Niaga.

Universitas Sumatera Utara


5. Putusan Hakim

Menurut Pasal 8 ayat (5), putusan pengadilan atas permohonan pernyataan

pailit harus diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah tanggal

permohonan pernyataan pailit didaftarkan.Inilah yang membedakan antara Pengadilan

Niaga dan Peradilan umum dimana Hakim diberi batasan waktu untuk menyelesaikan

perkara. Putusan atas permohonan pernyataan pailit diucapkan dalam sidang yang

terbuka untuk umum.Majelis hakim dalam menjatuhkan putusan harus memuat pasal

tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan dan/atau sumber

hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili; dan pertimbangan hukum

dan pendapat yang berbeda dari hakim anggota atau ketua majelis (dissenting

opinion).

Perlu diketahui bahwa menurut Pasal 8 ayat (7) Undang-Undang Kepailitan,

putusan atas permohonan pernyataan pailit di Pengadilan Niaga dapat dilaksanakan

lebih dahulu, meskipun terhadap putusan tersebut masih diajukan upaya hukum atau

putusan tersebut bersifat serta merta.Undang-Undang Kepailitan mewajibkan kurator

untuk melaksanakan segala tugas dan kewenangannya untuk mengurus dan atau

membereskan harta pailit terhitung sejak putusan pernyataan pailit

ditetapkan.Meskipun putusan pailit tersebut di kemudian hari dibatalkan oleh suatu

putusan yang secara hierarkhi lebih tinggi.Semua kegiatan pengurusan dan

pemberesan oleh kurator yang telah dilakukan terhitung sejak putusan kepailitan

dijatuhkan hingga putusan tersebut dibatalkan, tetap dinyatakan sah oleh undang-

undang. Salinan putusan Pengadilan selanjutnya wajib disampaikan oleh juru sita

dengan surat kilat tercatat kepada Debitor, pihak yang mengajukan permohonan

Universitas Sumatera Utara


pernyataan pailit, Kurator, dan Hakim Pengawas paling lambat 3 (tiga) hari setelah

tanggal putusan atas permohonan pernyataan pailit diucapkan.52

Permohonan paernyataan pailit harus dikabulkan apababila terdapat fakta atau

keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit

telah terpenuhi. Putusan Pengadilan Niaga atas permohonan pernyataan pailit harus

diucapkan paling lambat 60 hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit

didaftarkan. Putusan atas permohonan pernyataan pailit wajib diucapkan dalam sidang

terbuka untuk umum dan wajib memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang

mendasari putusan tersebut serta memuat pula :

1) Pasal tertetu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan dan / atau

sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili; dan

2) Pertimbangan hukum dan pendapat yang berbeda dari hakim anggota atau ketua

majelis.

Prosedur dan tata cara Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

(PKPU) Permohonan PKPU harus diajukan kepada Ketua Pengadilan Niaga di

daerah tempat kedudukan hukum Debitur. Pada Surat permohonan PKPU tersebut

ditanda tangani oleh pemohon dan oleh advokadnya harus diperhatikan ketentuan :

a) Dalam hal permohonan adalah debitur, permohonan PKPU harus disertai daftar

yang memuat sifat, jumlah piutang, dan utang debitur beserta surat bukti

secukupnya.

b) Dalam hal permohonannya adalah kreditor, maka Pengadilan Niaga wajib

memanggil debitur melalui juru sita dengan surat kilat tercatat paling lambat 7

(tujuh) hari sebelum sidang. Pada sidang tersebut, debitur wajib mengajurkan

52
http://click-gtg.blogspot.com/2010/01/proses-permohonan-pernyataan-pailit-dan.html
(diakses tanggal 21 April 2013)

Universitas Sumatera Utara


daftar yang memuat sifat, jumlah piutang, dan utang debitur beserta surat bukti

secukupnya dan, bila ada, rencana perdamaian.

c) Pada surat permohonan tersebut dapat dilampirkan rencana perdamaian. Surat

permohonan PKPU beserta lampirannya (bila ada) harus disediakan ke

Kepaniteraan Pengadilan, agar dapat diihat oleh setiap orang dengan cuma-Cuma.

Panitera pegadilan niaga mendaftarkan surat permohonan PKPU tersebut pada

tanggal permohonan diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh

pejabat yang berwenang dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran.

Kemudian panitera menyampaikan permohonan PKPU tersebut kepada Ketua

Pengadilan Niaga paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan tersebut

didaftarkan.

Dalam undang-undang bahwa kepailitan debitor yang ditetapkan berdasarkan

keputusan pengadilan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : Cara yang pertama

ialah dengan dicabutnya putusan pailit tersebut oleh Pengadilan Niaga. Mengenai hal

ini diatur dalam Pasal 15 dan Pasal 17 Undang-undang kepailitan. Cara yang kedua

ialah dengan tercapainya perdamaian antara Debitor pailit dengan para Kreditor dan

kemudian disahkannya perdamaian itu oleh Pengadilan Niaga.Hal tersebut sesuai

dengan bunyi ketentuan Pasal 156 Undang-undang kepailitan.

Perlawanan terhadap Permohonan Pencabutan Kepailitan, lebih lanjut Pasal 17

Undang-undang kepailitan menentukan bahwa Debitor dan para Kreditor dibolehkan

mengajukan perlawanan terhadap permohonan pencabutan kepailitan dengan cara dan

dalam jangka waktu yang sama pula seperti yang telah ditetapkan mengenai putusan

yang menolak pernyataan pailit. Yang menjadi pertanyaan adalah Apakah bisa

setelah Pengadilan Niaga menetapkan pencabutan terhadap suatu kepailitan, masih

dimungkinkan diajukan lagi permohonan pernyataan pailit terhadap Debitor yang

Universitas Sumatera Utara


bersangkutan?. Hal tersebut dapat dilakukan, hal tersebut diatur dalam Pasal 17

Undang-Undang Kepailitan Apabila pencabutan kepailitan telah diputuskan diajukan

lagi laporan dan permohonan untuk pernyataan pailit, maka Debitor/pemohon selain

Debitor sendiri, perlu wajib menunjukkan bahwa terdapat hasil yang cukup untuk

membiayai kepailitan yang kedua. Maksud ketentuan ini adalah untuk menghindari

terjadinya keadaan dimana ternyata biaya kepailitan yang menurut ketentuan Pasal 15

ayat (3) UUK harus dibayarkan mendahului pembayaran tagihan para Kreditor

konkuren lebih besar jumlahnya daripada nilai harta pailit. Kalau sampai terjadi hal

yang demikian itu, maka putusan pernyataan pailit yang kedua kali setelah putusan

pernyataan pailit yang pertama dicabut oleh Pengadilan Niaga, akan sia-sia saja.

Undang-undang kepailitan tidak menentukan batas pencabutan kepailitan debitor

dilakukan, jadi sah-sah saja itu terjadi berulang kali.

Ketentuan bahwa terhadap permohonan Kepailitan bank ternyata tidak

secara serta merta dapat dilakukan oleh kreditor.Sebagai badan usaha yang

mempunyai maka prosedur kepailitan terhadap bank oleh Undang-Undang No.

37 Tahun 2004 tentang Kepailitan pailit Bank Indonesia dan semata-mata

didasarkan atas penilaian kondisi keuangan dipertanggungjawabkan.

Kewenangan Bank Indonesia untuk mengajukan terkait dengan ketentuan

mengenai pencabutan izin usaha bank, pembubaran badan hukum, dan likuidasi

bank sesuai peraturan perundang-undangan. Ketentuan bahwa terhadap

permohonan Kepailitan bank ternyata tidak secara serta merta dapat dilakukan

oleh kreditor. Sebagai badan usaha yang mempunyai karakteristik khusus, yaitu

selaku penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dibedakan dari prosedur

kepailitan bagi badan usaha pada umumnya. Kreditor tidak dapat mengajukan

permohonan secara langsung kepada Pengadilan Niaga terhadap debitor.

Universitas Sumatera Utara


D. Kepastian Hukum dalam Pencabutan Pernyataan Pailit atas Debitor Pailit
Perseroan Terbatas

Penyelesaian masalah utang piutang merupakan agenda utama nasional dalam

rangka pemenuhan ekonomi secara cepat dan efisien untuk itu pula pengaturan

tentang kepailitan sangat penting dilaksanakan agar penundaan kewajiban

pembayaraan utang menjadi masalah yang penting untuk segera diselesaikan.53

Berkaitan dengan hal tersebut setiap perusahaan mungkin atau pasti mempunyai

utang. Bagi suatu perusahaan, utang bukanlah merupakan suatu hal yang buruk, asal

perusahaan tersebut masih dapat membayar kembali. Perusahaan yang begini biasa

disebut perusahaan yang solven, artinya perusahaan yang mampu membayar hutang-

hutangnya. Sebaliknya jika suatu perusahaan yang sudah tidak mampu membayar

hutang-hutangnya lagi disebut insolven, artinya tidak mampu membayar.54

Lahirnya peraturan mengenai kepailitan diharapkan dapat mengatasi


permasalahan dalam perekonomian nasional dan memberikan rasa keadilan,
baik terhadap kreditor maupun debitor. Menurut W.Friedman, Suatu Undang-
undang atau peraturan haruslah memberikan keadilan yang sama kepada
semua walaupun terdapat perbedaan-perbedaan di antara pribadi-pribadi itu,
kalau tidak ada kedudukan sosial, kemajuan dalam hidup dicapai bukan atas
dasar reputasi melainkan karena kapasitas, kelas-kelas dalam masyarakat
bukan faktor yang menentukan sosial saja.55
Salah satu paradigma hukum kepailitan adalah adanya nilai keadilan

sehinggah hukum dapat memberikan tujuan yang sebenarnya yaitu memberikan

manfaat, kegunaan dan kepastian hukum. Satjipto rahardjo menyatakan hukum

sebagai perwujudan nilai-nilai mengandung arti bahwa kehadirannya adalah untuk

melindungi dan memajukan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.56

53
Robintan Sulaiman dan joko prabowo, Hukum Kepailitan, (Yogyakarta : Penerbit Delta
Citra Grafindo, 2002), hlm 10.
54
Zaeni Asyhdie, Hukum BisnisPrinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta:
P.T.RajaGrafindo Persada, 2005), hlm 1.
55
W. Friedman, Teori dan filsafat hukum dalam buku telaah kritis atas teori-teori hukum,
(Jakarta : raja grafindo persada, 1993), hlm 7.
56
Satjipto Rahadjo, Sosiologi Hukum : Perkembangan Metode dan Pilihan Hukum, (Surakarta
:Universitas Muhamadiyah, 2002), hlm 60.

Universitas Sumatera Utara


Putusan yang memerintahkan pencabutan pernyataan pailit, diumumkan oleh

panitera pengadilan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit dua

surat kabar harian. Terhadap putusan pencabutan pernyataan pailit dapat diajukan

kasasi atau peninjauan kembali.Bila setelah putusan pencabutan pernyataan pailit

diucapkan diajukan lagi permohonan pernyataan pailit maka debitor atau pemohon

wajib membuktikan bahwa ada cukup harta untuk membayar biaya kepailitan.57

Permohonan pernyataan pailit diajukan kepada Ketua Pengadilan melalui

Panitera dengan mendaftarkan permohonan pernyataan pailit pada tanggal

permohonan yang bersangkutan diajukan, dan kepada pemohon diberikan tanda

terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dengan tanggal yang

sama dengan tanggal pendaftaran. Panitera menyampaikan permohonan pernyataan

pailit kepada Ketua Pengadilan paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan

didaftarkan.Dan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah tanggal

permohonan pernyataan pailit didaftarkan, Pengadilan mempelajari permohonan dan

menetapkan hari sidang.Sidang pemeriksaan atas permohonan pernyataan pailit

diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah

tanggal permohonan didaftarkan. Atas permohonan Debitor dan berdasarkan alasan

yang cukup, Pengadilan dapat menunda penyelenggara an sidang sebagaimana

dimaksud pada ayat (5) sampai dengan paling lambat 25 (dua puluh lima) hari setelah

tanggal permohonan didaftarkan .Permohonan pernyataan pailit sebagaimana tersebut

diatas harus diajukan oleh seorang advokat (dalam Pasal 5 UUK No. 37 Tahun 2004,

oleh seorang penasehat hukum yang memiliki izin praktik).

Demikianlah kiranya uraian dan penjelasan yang dapat penulis sampaikan

mengenai pandangan umum tentang kepailitan agar dapat memberikan gambaran

57
Sunarmi, Op.Cit. 73.

Universitas Sumatera Utara


secara komprehensif berdasarkan UUK sehingga menjadi dasar pedoman dalam

implementasinya kedepan meskipun secara substantif masih perlu adanya

perbaikan.Namun yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa penegakannya masih

memerlukan pemahaman yang luas dan baik dari berbagai pihak terhadap berbagai

hukum materiil, kemampuan dan ketrampilan hakim niaga juga masih perlu

ditingkatkan agar mereka dapat menangani perkara dengan lebih baik, konsisten, ada

kepastian hukum dan keadilan tercapai. Tantangan kedepan yang tidak kalah beratnya

yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia adalah budaya hukum yang ada untuk

menuju kearah yang lebih baik agar perbaikan struktur dan substansi hukum yang

telah dibangun tidak sia-sia.58

Undang-Undang (UU) tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang akan memberikan jaminan kepastian hukum bagi semua pihak,

baik pelaku usaha lokal maupun asing.Undang-Undang ini akan memberi kepastian

bagi semua, tidak hanya investor asing. Tapi, dengan Undang-Undang ini tetap

berupaya untuk membangun ekonomi nasional kita, yang semuanya perlu kesempatan

yang sama,.Undang-Undang Kepailitan sudah sangat khusus dan merupakan

campuran kaidah-kaidah hukum adat, hukum perdata, hukum kolonial, sekaligus

memasukkan kaidah-kaidah profesional di bidang hukum bisnis.Dengan demikian,

UU tersebut sudah mampu mengakomodasikan kepentingan semua pihak, tidak

seperti UU terdahulu.

Masalah Kepailitan selalu menjadi hal yang hangat untuk dibicarakan. Sudah

satu dasa warsa lebih (tepatnya 11 tahun) Undang-undang Kepailitan diberlakukan

yaitu dengan ditetapkannya Perpu No. 1 Tahun 1998 menjadi UU No. 4 Tahun 1998

pada Tanggal 22 April 1998 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 37 tahun 2004

58
http://gagasanhukum.wordpress.com/tag/uu-kepailitan/html (diakses tanggal 21 April 2013)

Universitas Sumatera Utara


tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disebut

UUK) yang mulai berlaku pada Tanggal 18 Nopember 2004. Sehingga hal mendasar

yang layak untuk dipertanyakan adalah apakah UU Kepailitan telah dapat

memberikan penyelesaian masalah-masalah kepailitan di Indonesia dengan lebih baik,

misalnya terkait dengan perlindungan hukum terhadap debitur dan kreditur , jaminan

kepastian hukum, tugas dan tanggung jawab Kurator dan Hakim Pengawas, peran dan

fungsi pengadilan Niaga)?. Mengenai hal ini tentunya harus dilihat dalam konteks

normative maupun praktiknya dalam Pengadilan Niaga.Seringkali praktik di lapangan

tidak sejalan bahkan bertolak belakang dengan dalil-dalil hukum yang tertulis dalam

perundang-undangan.Putusan-putusan Pengadilan Niaga dan Mahkamah Agung

dalam perkara kepailitan seringkali bertentangan bahkan putusan Mahkamah Agung

sendiri sering mencerminkan inkonsistensi dalam penerapan hukum kepailitan,

sehingga melahirkan ketidak pastian hukum.

Universitas Sumatera Utara


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Bedasarkan penjelasan pada bagian sebelumnya, maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut :

1. Pengaturan pencabutan pernyataan pailit menurut Undang-Undang Nomor 37

Tahun 2004 adalah atas dasar pasal 18 ayat (1). Apabila pencabutan gugatan

dilakukan pada saat pemeriksaan perkara sudah berlangsung, maka pencabutan

gugatan harus mendapatkan persetujuan dari tergugat. Majelis Hakim akan

menanyakan pendapat tergugat mengenai pencabutan gugatan tersebut. Apabila

tergugat menolak pencabutan gugatan, maka Majelis Hakim akan menyampaikan

pernyataan dalam sidang untuk melanjutkan pemeriksaan sesuai dengan ketentuan

yang berlaku dan memerintahkan panitera untuk mencatat penolakan dalam berita

acara sidang, sebagai bukti otentik atas penolakan tersebut. Apabila tergugat

menyetujui pencabutan, maka Majelis Hakim akan menerbitkan penetapan atas

pencabutan tersebut. Dengan demikian, sengketa diantara penggugat dan tergugat

telah selesai dan Majelis Hakim memerintahkan pencoretan perkara dari register

atas alasan pencabutan.

2. Pencabutan pernyataan pailit menurut Undang-Undang Perseroan terbatas yakni

pembubaran perseroan terbatas setelah putusan pailit dibacakan hanya dapat

dimintakan penetapan pengadilan oleh kreditor dengan alasan perseroan tidak

mampu membayar hutangnya setelah dinyatakan pailit atau harta kekayaan

perseroan tidak cukup untuk melunasi seluruh hutangnya setelah pernyataan pailit

dicabut.

Universitas Sumatera Utara


3. Pencabutan pernyataan pailit atas debitor pailit perseroan terbatas adalah

Pengadilan Niaga atas anjuran dari Hakim pengawas dapat mencabut kepailitan

dengan memperhatikan keadaan harta pailit. Keadaan ini terjadi bila harta pailit

tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan. Dalam memerintahkan pengakiran

kepailitan tersebut, Pengadilan Niaga juga menetapkan biaya kepailitan dan

imbalan jasa kurator yang dibebankan terhadap debitor. Biaya tersebut juga harus

didahulukan pembayarannya atas semua utang yang tidak dijamin dengan agunan.

Putusan yang memerintahkan pencabutan pernyataan pailit, diumumkan oleh

Panitera Pengadilan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2

(dua) surat kabar harian. Putusan pencabutan pernyataan pailit ini dapat diajukan

kasasi dan/atau peninjauan kembali. Dalam hal setelah putusan pencabutan

pernyataan pailit diucapkan diajukan lagi permohonan pernyataan pailit, maka

Debitor atau pemohon wajib membuktikan bahwa ada cukup harta untuk

membayar biaya kepailitan.

B. Saran

Berpijak dari hasil pembahasan dan kesimpulan seperti yang telah dikemukakan

di atas, maka dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Sebagai Badan Hukum perseroan terbatas adalah merupakan subyek hukum yang

bertanggung jawab secara mandiri terhadap segala perbuatan hukum yang

dilakukannya terlepas walau perbuatan itu dikuasakan kepada pengurus dalam hal

ini direksi perseroan. Oleh karena itu apa yang dilakukan oleh perseroan terbatas

harus dapat dipertanggungjawabkan di muka hukum. Mengenai hal ini perlu

kiranya ditegaskan dalam Undangundang mengenai perbuatan-perbuatan hukum

yang dapat dimintakan pertanggungjawaban kepada direksi apabila terjadi

kepailitan perseroan terbatas. Dengan demikian nantinya dapat secara jelas

Universitas Sumatera Utara


ditentukan mana yang menjadi tanggung jawab perseroan terbatas dan mana yang

menjadi tanggung jawab direksi perseroan.

2. Agar tidak terjadi kerancuan hukum dalam pencabutan pernyataan pailit, perlu

adanya pembedaan subyek hukum dalam kepailitan (debitur pailit) dengan segala

akibat hukumnya, yaitu adanya pengaturan mengenai kelanjutan atau eksistensi

dari subyek hukum pencabutan pailit yang dinyatakan pailit, sehingga dapat

dibedakan hak dan kewajiban antara kepailitan individu perorangan sebagai

subyek hukum pribadi dengan kepailitan suatu badan hukum.

3. Pengadilan Niaga atas anjuran dari Hakim pengawas dapat mencabut kepailitan

dengan memperhatikan keadaan harta pailit. Keadaan ini terjadi bila harta pailit

tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan. Dalam memerintahkan pengakiran

kepailitan tersebut, Pengadilan Niaga juga menetapkan biaya kepailitan dan

imbalan jasa kurator yang dibebankan terhadap debitor. Biaya tersebut juga harus

didahulukan pembayarannya atas semua utang yang tidak dijamin dengan

agunan. Putusan yang memerintahkan pencabutan pernyataan pailit, diumumkan

oleh Panitera Pengadilan dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling

sedikit 2 (dua) surat kabar harian. Putusan pencabutan pernyataan pailit ini dapat

diajukan kasasi dan/atau peninjauan kembali. Dalam hal setelah putusan

pencabutan pernyataan pailit diucapkan diajukan lagi permohonan pernyataan

pailit, maka Debitor atau pemohon wajib membuktikan bahwa ada cukup harta

untuk membayar biaya kepailitan.

Universitas Sumatera Utara