Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN LANGKAH-LANGKAH ANALISIS DAMPAK KESEHATAN

LINGKUNGAN (ADKL) INDUSTRI SEMEN

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... i

DAFTAR ISI .............................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................. 1

B. Tujuan ............................................................................... 2

C. Manfaat ............................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian semen ........................................................... 3

B. Jenis jenis semen ......................................................... 3

C. Langkah ADKL ................................................................. 4

D. Metode ADKL ................................................................... 6

BAB III PEMBAHASAN

A. Tahapan proses produksi semen ..................................... 8

B. Pengukuran pemajanan .................................................. 9


C. Identifikasi resiko ............................................................. 10

D. Penetapan resiko ............................................................. 11

E. Lingkup analisis dampak industri semen ......................... 13

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan........................................................................ 17

B. Saran ............................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan pada hakekatnya merupakan proses perubahan terencana
sistematik dan berkesinambungan. Disini pihak pembangunan bertujuan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dilain pihak proses pembangunan sering
terkandung proses dampak samping berupa dampak negative yang harus
diantisipasi agar tidak menimbulkan masalah. Salah satu dampak negative akibat
pembangunan adalah potensi bahaya kesehatan masyarakat yang mengancam
terpeliharanya unsure utama kualitas sumber daya manusia.
Kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penentu dalam
upaya mensejahterakan kedudukan bangsa dan negara dengan bangsa bangsa
dari negara lain dalam upaya menghadapi era globalisasi. Upaya peningkatan
kualitas sumber daya manusia secara terus menerus dan progresif perlu dilakukan.
Salah satu faktor penting dari kualitas sumber daya manusia adalah kesehatan
manusia. Untuk menjamin kualitas sumber daya manusia dalam perlindungan
kesehatan perlu diperhatikan factor kesehatan masyarakatnya. Oleh karena itu
apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan baik positif atau negative akan diikuti
pula oleh kondisi masyarakat di dalamnya.
Untuk menjaga perubahan perubahan lingkungan agar tidak berisiko
terhadap kesehatan masyarakat maka perlu adanya analisis resiko terhadap
kesehatan lingkungan. Analisis Resiko Kesehatan Lingkungan ditujukan untuk
pemantauan wilayah setempat ( PWS ), kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan serta
dalam pelaksanaan investigasi pada KLB, wabah bencana, kejadian pencemaran
serta kasus keracunan.
Pelaksanaan Analisis Resiko Kesehatan Lingkungan merupakan implementasi
dari undang undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan. Undang undang
No.24 tahun 1994 tentang penataan ruang dan undang undang No. 23 tahun 1997
tentang pengelolaan lingkungan hidup serta sebagai tindak lanjut dari Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 872 tahun 1997 tentang pedoman teknis
analisis dampak kesehatan lingkungan yang mengamanatkan dalam melaksanakan
kajian dampak kesehatan masyarakat baik dalam kontek rencana usaha dan atau
kegiatan, maupun pemantauan dan pengelolaan program kesehatan wajib
menerapkan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL).
Dalam implementasi ADKL kegiatan survey luas diarahkan pada kegiatan
pengumpulan data, analisis dan interpretasi sebagai landasan dalam proses
pengambilan keputusan baik antara program maupun antar sektor serta berbagai
pihak terkait dalam upaya pemberantasan penyakit menular, penyelamatan
lingkungan maupun upaya peningkatan kesehatan.
Analisis dampak kesehatan lingkungan (ADKL) industry semen dalam proses
produksinya menghasilkan banyak komponen baik berupa gas, cair atau padatan
yang berpotensi menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan bila tidak ditangani
secara baik.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui tentang langkah-langkah Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan
(ADKL) Industri semen.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui tahapan proses produksi industri semen
b. Untuk mengetahui pengukuran pemejanan di industri semen
c. Untuk mengetahui identifikasi resiko di industri semen
d. Untuk mengetahui penetapan resiko di industri semen
e. Untuk mengetahui lingkup analisis dampak industri semen.

C. Manfaat
Manfaat dari makalah ini, baik bagi penyusun maupun pembaca dapat menjadi
sarana penambah wawasan serta pengetahuan tentang Analisis Dampak Kesehatan
Lingkungan (ADKL) Industri semen. beserta hal hal yang terkait dengan Analisis
Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) lainnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian semen
Semen berasal dari kata Caementum yang berarti bahan perekat yang mampu
mempesatukan atau mengikat bahan-bahan padat menjadi satu kesatuan yang
kokoh atau suatu produk yang mempunyai fungsi sebagai bahan perekat antara dua
atau lebih bahan sehingga menjadi suatu bagian yang kompak atau dalam
pengertian yang luas adalah material plastis yang memberikan sifat rekat antara
batuan-batuan konstruksi bangunan.
Usaha untuk membuat semen pertama kali dilakukan dengan cara membakar
batu kapur dan tanah liat. Joseph Aspadain yang merupakan orang inggris, pada
tahun 1824 mencoba membuat semen dari kalsinasi campuran batu kapur dengan
tanah liat yang telah dihaluskan, digiling, dan dibakar menjadi lelehan dalam tungku,
sehingga terjadi penguraian batu kapur (CaCO3) menjadi batu tohor (CaO) dan
karbon dioksida(CO2). Batu kapur tohor (CaO) bereaksi dengan senyawa-senyawa
lain membemtuk klinker kemudian digiling sampai menjadi tepung yang kemudian
dikenal dengan Portland. Semen portland adalah semen yang paling banyak
digunakan dalam pekerjaan beton. Semen portland yang digunakan di Indonesia
harus memenuhi syarat SII.0013-81 atau standar Uji Bahan Bangunan Indonesia
1986, dan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standar tersebut.
Semen merupakan bahan ikat yang penting dan banyak digunakan dalam
pembangunan fisik di sektor konstruksi sipil. jika ditambah air, semen akan menjadi
pasta semen. Jika ditambah agregat halus, pasta semen akan menjadi mortar yang
jika digabungkan dengan agregat kasar akan menjadi campuran beton segar yang
setelah mengeras akan menjadi beton keras (concrete).

B. Jenis jenis semen


Semen merupakan hasil industri yang sangat kompleks, dengan campuran
serta susunan yang berbeda-beda. Semen dapat dibedakan menjadi duka kelompok
yaitu : 1). Semen non-hidrolik dan 2). Semen hidrolik.
1. Semen non-hidrolik
Semen non-hidrolik tidak dapat mengikat dan mengeras di dalam air, akan tetapi
dapat mengeras diudara. Contoh utama dari semen non-hidrolik adalah kapur.
Kapur dihasilkan oleh proses kimia dan mekanis dialam. Kapur telah digunakan
selama berabad-abad lamanya sebagai bahan adukan dan plesteran untuk
bangunan. Hal tersebut terlihat pada piramida-piramida di Mesir yang dibangun 4500
tahun sebelum masehi. Kapur digunakan sebagai bahan pengikat selama zaman
Romawi dan Yunani.
Jenis kapur yang baik adalah kapur putih, yaitu yang mengandung kalsium oksida
yang tinggi ketika maish berbentuk kapur tohor (belum berhubungan dengan air) dan
akan mengandung banyak kalsium hidroksida ketika telah berhubungan dengan air.
2. Semen hidrolikSemen hidrolik mempunyai kemampuan untuk mengikat dan
mengeras didalam air. Contoh semen hidrolik antara lain kapur hidrolik, semen
pozollan,semen terak, semen alam, semen portland, semen portland-pozollan,
semen portland terak tanur tinggi, semen alumina dan semen expansif.

C. Langkah-langkah ADKL
ADKL dapat dimulai berdasarkan keluhan masyaran atau kecurigaan yang
terbaca dari hasil pemantauan lingkungan dan sirveilans penyakit, dilanjutkan
dengan langkah-langkah ADKL. Dengan demikian, ADKL tidak berhenti sekali
sejalan, melainkan merupakan kegian berulang yang dinamis sesuai dengan tipe
data yang tersedia dari berbagai perspektif. Kadang kadang perlu dilakukan studi
kasus lanjutan untuk mengalisis dampak kesehatan secara lebih dalam. Langkah
langkah ADKL umumnya dibedakan dalam 7langkah yaitu :
1. Evaluasi data dan informasi yang berkaiatan dengan lokasi kegiatan
Evaluasi informasi kajian pencemaran dilakukan untuk mengenal lebih baik hal
hal yang berkaitan dengan kejadian dimaksud. Merujuk pada paradigm kesehatan
lingkungan, evaluasi diarahkan pada 4 simpul .
2. Mempelajari kepedulian terhadap pencemaran
Perlu juga ditangkap suasana dan respons yang berkembang dilapangan untuk
melengkapi 4 simpul informasi pada langkah 1. Mempelajari kepedulian dan respons
tentang kejadian pencemaran dari masyarakat, LSM, media maupun kepedulian dari
sector lain baik yang bersifat negatif (keluhan) atau positif (upaya tindakan
penganggulangan).
3. Menetapkan bahan pencemar sasaran kajian
Menetapkan pencemara sasaran adalah menetapkan bahan pemcemar yang
akan dijadikan sasaran kajian lebih jauh tentang dampaknya pada kesehatan.
Penetapan ini mungkin tidak cukup dilakukan sekali tetapi perlu berulang sehingga
diperoleh keyakinan bahwa bahan tersebut benar sebagai bahan pencemar penting.
4. Identifikasi dan evaluasi jalur pemajanan
Identifakasi dan evaluasi jalur pemajanan adalah suatu proses dimana seseorang
mingkin terpajan oleh bahan pencemar. Jalur pemajanan mencakup semua elemen
yang menghubungkan sumber pencemar kependuduk terpajan. Jalur pemajanan itu
sendiri terdiri dari 5 elemen yaitu:
a. Sumber pencemar adalah asal pencemar (missal: pabrik yang membuang limbah ke
lingkungan) atau media lingkungan (timbunan sampah)
b. Media lingkungan dan mekanisme penyebaran adalah lingkungan dimana pencemar
dilepaskan: air, tanah, udara dan biota yang kemudian disebarkan dengan
mekanisme penyebaran tertentu ketitik titik pemajanan
c. Titik pemajanan adalah suatu area potensial atau riel dimana terjadi kontak antara
manusia dengan media lingkungan tercemar, missal sumur atau lapangan bermain.
d. Cara pemajanan adalah cara dengan mana pencemar masuk atau kontak tubuh
manusia: tertelan, pernapasan atau kontak kulit.
e. Penduduk berisiko adalah orang orang yang terpajan atau berpotensi terpajan
oleh pencemar pada titik titik pemajanan
5. Memperkirakan dampak kesehatan masyarakat
Memperkirakan damapk kesehatan adalah memebuat perkirakan apakah
pencemar yang lepas dan/ tau berada dimedia lingkungan berpotensi atau telah
menimbulkan damapk kesehatan. Karena demikian banyak pencemar yang ada
dimedia lingkungan, maka kemunginnan damapak kesehatan juga banyak. Karena
itu perlu dicari untuk mempersempit analisis. Ada 3 cara yang dapat dilakukan, yaitu:
a. Evaluasi toksikologi
b. Evaluasi jenis dampak
c. Evaluasi kepedulian masyarakat
6. kesimpulan dan rekomendasi
kesimpulan dan rekomendasi adalah menyusun kesimpulan tentang dampak
kesehatan yang berkaitan dengan kejadian pencemaran dan menyiapkan
rekomendasi dengan merinci tindakan yang telah di ambil dan yang masih perlu
diambil.
7. Pengelolaan risiko
Pengelolaan risiko adalah upaya yang secara sadar dilakukan untuk
mengendalikan risiko. Dalam pengertian yang lebih spesifik, pengelolaan resiko
lingkungan adalah pengelolaan situasi dan atau kondisi lingkungan yang
mengandung risiko yang diketahui dari hasil analisis sebelumnya. Banyak hal perlu
memperoleh pertimbangan secara proporsional mengingat kompleksitasnya.

D. Metode ADKL
Metode pengumpulan data dan informasi dalam ADKL dibedakan menjadi 2
cara pokok yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder (Ditjend PL.2002:2-
15) :
a. Data primer
Metode pengumpulan data primer yang umum digunakan antara lain :
1) Wawancara
2) Kuesioner (subyek mengisi sendiri)
3) Pengamatan terhadap subyek
4) Pengukuran fisik atau kimiawi tentang subyek
5) Pengukuran fisik atau kimiawi lingkungan atau dengan kunjungan lapangan.
b. Data sekunder
Metoda pengumpulan data sekunder yang dapat digunakan untuk pengukuran
pemajanan dalam kaitannya dengan analisis epidemiologis antara lain :
1) Catatan harian ; untuk mengumulkan data perilaku atau pengalaman sekarang.
2) Catatan lain : catatan yang belum dikumpulkan secara khusus untuk tujuan
pengukuran pemajanan, misalnya catatan medis, pekerjaan, dan sensus.
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Tahapan Proses Produksi Semen


Langkah Utama Proses Produksi Semen adalah:
1. Penggalian/Quarrying
Terdapat dua jenis material yang penting bagi produksi semen: Pertama adalah
material yang kaya akan kapur atau material yang mengandung kapur (calcareous
materials) seperti batu gamping, kapur, dll.
Kedua adalah material yang kaya akan silika atau material mengandung tanah liat
(argillaceous materials) seperti tanah liat. Batu gamping dan tanah liat dikeruk atau
diledakkan dari penggalian dan kemudian diangkut ke alat penghancur.
2. Penghancuran
Penghancur bertanggung jawab terhadap pengecilan ukuran primer bagi material
yang digali.
3. Pencampuran Awal
Material yang dihancurkan melewati alat analisis on-line untuk menentukan
komposisi tumpukan bahan.
4. Penghalusan dan Pencampuran Bahan Baku
Sebuah belt conveyor mengangkut tumpukan yang sudah dicampur pada tahap
awal ke penampung, dimana perbandingan berat umpan disesuaikan dengan jenis
klinker yang diproduksi. Material kemudian digiling sampai kehalusan yang
diinginkan.
5. Pembakaran dan Pendinginan Klinker
Campuran bahan baku yang sudah tercampur rata diumpankan ke pre-heater,
yang merupakan alat penukar panas yang terdiri dari serangkaian siklon dimana
terjadi perpindahan panas antara umpan campuran bahan baku dengan gas panas
dari kiln yang berlawanan arah. Kalsinasi parsial terjadi pada preheater ini dan
berlanjut dalam kiln, dimana bahan baku berubah menjadi agak cair dengan sifat
seperti semen. Pada kiln yang bersuhu 1350-1400C, bahan berubah menjadi
bongkahan padat berukuran kecil yang dikenal dengan sebutan klinker, kemudian
dialirkan ke pendingin klinker, dimana udara pendingin akan menurunkan suhu
klinker hingga mencapai 100 C.
6. Penghalusan Akhir
Dari silo klinker, klinker dipindahkan ke penampung klinker dengan dilewatkan
timbangan pengumpan, yang akan mengatur perbandingan aliran bahan terhadap
bahan-bahan aditif. Pada tahap ini, ditambahkan gipsum ke klinker dan diumpankan
ke mesin penggiling akhir. Campuran klinker dan gipsum untuk semen jenis 1 dan
campuran klinker, gipsum dan posolan untuk semen jenis P dihancurkan dalam
sistim tertutup dalam penggiling akhir untuk mendapatkan kehalusan yang
dikehendaki. Semen kemudian dialirkan dengan pipa menuju silo semen.

B. Pengukuran Pemajanan
No SIMPUL 1 SIMPUL 2 SIMPUL 3 SIMPUL 4
(Sumber (Media (Pemajanan (Dampak
Pencemar) Lingkungan) pada Kesehatan)
manusia)
1. Sumber pencemar
lingkungan fisik Debu dan Menghirup Debu
Kualitas udara bahan udara tercemar menyebabkan
polutan udara gangguan
(PM10, pernapasan, iritasi
PM25, SO2, pada mata, iritasi
NO2, CO, O3, pada kulit
HC, Pb)

Kebisinga Kebisingan Terpapar bising Kebisingan


2 n ditempat kerja saat menyebabkan
operasional gangguan
mesin dalam pendengaran
pabrik (ketulian
sementara
maupun ketulian
permanen)
3. Sumber pencemar Air limbah Air kontak Air limbah
lingkungan biologis hasil melalui menyebabkan
Kualitas air operasional minuman dan gangguan
buangan dan air pabrik kontak terhadap
limbah - BOD - langsung pencernaan,
Suhu dengan kulit penyakit kulit.
- COD - pH
-Nitrit -
Plankton dan
benthos
C. Identifikasi Resiko
1. Proses pembuatan semen
Kegiatan pada proses ini diperkirakan akan meningkatkan kadar debu di udara
dan meningkatkan risiko kesehatan akibat kandungan parameter polutan di udara
yang semakin tinggi disamping itu juga meningkatkan resiko gangguan pendengaran
akibat kebisingan yang dihasilkan selama proses produksi.
2. Transportasi bahan baku, clinker, semen, bahan bakar dalam lokasi pabrik
Kegiatan pada proses ini diperkirakan dapat menurunkan kualitas udara ambien
serta dapat meningkatkan risiko kesehatan akibat kandungan parameter polutan di
udara yang semakin tinggi, pada tahap ini juga menghasilkan tingkat kebisingan
yang dapat menimbulkan gangguan pada system pendengaran baik pekerja maupun
masyarakat disekitar pabrik.
3. Proses operasional pabrik dan kegiatan laboratorium
Pada proses ini diperkirakan akan menurunkan kualitas air buangan sehingga
dapat menyebabkan gangguan terhadap biota air dan pada tahap selanjutnya dapat
menyebabkan turunnya kualitas air pada badan air atau air permukaan dan bila air
ini dipakai sebagai sumber air bersih bagi masyarakat tentunya akan menimbulkan
gangguan gangguan lain pada manusia seperti gangguan pada kulit, gangguan
estetika dan bila air tersebut dikonsumsi akan menimbulkan dapat negative pada
kesehatan.
4. Penilaian terhadap dampak adanya industri semen terhadap kualitas
kesehatan masyarakat:
a. Peningkatan emisi debu sumber tidak bergerak pada proses pembuatan semen
dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi karyawan.
b. Peningkatan emisi gas buang sumber emisi tidak bergerak (PM 10, PM25, SO2, NO2,
CO, O3, HC, Pb) pada proses pembuatan semen memiliki potensi untuk
meningkatkan risiko kesehatan akibat kandungan parameter polutan di udara.
c. Penurunan kualitas udara ambien (kadar debu) pada kegiatan transportasi bahan
baku, clinker, semen dan BBMA di dalam lokasi pabrik dapat menimbulkan
peningkatan kadar debu di udara dan gangguan terhadap kesehatan akibat
kandungan debu di udara.
d. Peningkatan kebisingan pada proses pembuatan semen memiliki potensi bahaya
kesehatan seperti gangguan pendengaran pada karyawan.
e. Perubahan kualitas air buangan dan air limbah (parameter fisika, kimia anorganik,
biologi) pada kegiatan operasional pabrik dapat memungkinkan timbulnya
pencemaran terhadap badan air dan ekosistem perairan.
f. Persepsi negatif masyarakat dengan adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap
perusahaan dalam hal kesempatan kerja bagi penduduk lokal untuk kegiatan
operasional pabrik semen.
g. Peningkatan angka kesakitan akibat gangguan kesehatan yang dialami masyarakat
sekitar Industri.

D. Penetapan Resiko

Evaluasi
Potensi
Baku mutu Dampak Faktor
Dampak
dampak
Peningkatan KepMen LH No 13 Tahun Penurunan kualitas Peningkata
emisi debu 1995, tentang Baku Mutu udara n kadar
sumber tidak Emisi Sumber Tidak Bergerak Gangguan pada debu di
bergerak system pernafasan udara
Peningkata
n risiko
gangguan
pernapasa
n pada
karyawan
Peningkatan KepMen LH No 13 Tahun Penurunan kualitas Peningkata
emisi gas 1995, tentang Baku Mutu udara n kadar
buang Emisi Sumber Tidak Bergerak Gangguan pada parameter
sumber emisi system pernafasan polutan di
tidak udara
bergerak Peningkata
(PM10, PM25, n risiko
SO2, NO2, kesehatan
CO, O3, HC, akibat
Pb) kandungan
parameter
polutan di
udara
Penurunan PP No. 41 Tahun 1999 Penurunan kualitas Peningkata
kualitas tentang udara n kadar
udara ambien Pengendalian pencemaran u Gangguan pada debu di
(kadar debu) dara system pernafasan udara
Peningkata
n risiko
kesehatan
akibat
kandungan
debu di
udara
Peningkatan Kep Men LH No 48 tahun Penurunan kualitas Peningkata
kebisingan 1996 tentang baku mutu udara n
kebisingan Gangguan pada gangguan
system pendengar
pendengaran an pada
karyawan
Penurunan Membandingkan hasil Penurunan indek Timbulnya
kualitas air pegukuran dengan Perda keaneka ragaman pencemara
buangan dan Tahun 2004 tentang baku hayati n badan air
air limbah mutu limbah Terganggunya dan
ekosistem perairan ekosistem
Gangguan air
kesehatan pada
manusia
Sikap dan Adanya ketidakpuasan Masyarakat Adanya
persepsi masyarakat terhadap disekitar pabrik ketidak
masyarakat perusahaan dalam hal menjadi resah puasan
kesempatan kerja penduduk dankecemburuans masyaraka
lokal ocial semakin t terhadap
tinggi perusahaa
n dalam
hal
kesempata
n kerja
penduduk
lokal
Peningkatan Angka kesakitan pada Angka kesakitan Peningkata
angka masyarakat dan angka penyakit tertentu n angka
kesakitan kecelakaan yang terjadi pada masyarakat kesakitan
dan angka akibat kerja dan angka dan
kecelakaan kecelakaan yang kecelakaan
yang terjadi terjadi akibat kerja kerja
akibat kerja pada karyawan karyawan
dan pada
masyaraka
t sekitar
pabrik

E. Lingkup Analisis Dampak Industri Semen


1. Identifikasi Dampak Penting

Jenis Dampak Sumber Dampak Lokasi


Peningkatan emisi Proses pembuatan Stack EP Raw Mill
debu sumber tidak semen Stack EP Cooler
bergerak Stack Coal Mill
Stack Finish Mill
Peningkatan emisi Proses pembuatan Stack EP Raw Mill
gas buang sumber semen Stack EP Cooler
emisi tidak bergerak
(PM10, PM25, SO2,
NO2, CO, O3, HC, Pb)
Penurunan kualitas Penyimpanan dan Olay Storage
udara ambien (kadar bongkar muat Open coal yard
debu) bahan baku, bahan Silica and iron
bantu dan bahan storage
bakar Biomass storage
Additive storage
Limestone storage
Coal roofed storage
Peningkatan Proses operasional Cement mill
kebisingan pabrik dan kegiatan Paper bag plant
laboratorium Kiln
Raw mill
Coal mill
Biomass feeding
facility
Penurunan kualitas Proses operasional Settling pond
air buangan dan air pabrik dan kegiatan Bak Penangkap
limbah laboratorium Minyak / pengendap

Sikap dan persepsi Kegiatan Masyarakat disekitar


masyarakat Operasioanal pabrik pabrik

Peningkatan angka Kegiatan Di klinik PT. Holcim


kesakitan dan angka operasional pabrik Indonesia Tbk.
kecelakaan yang Pabrik Cilacap dan
terjadi akibat kerja Puskesmas
kecamatan Cilacap
utara, Tengah,
Selatan
2. Dampak Potensial
Evaluasi
Sumber
Jenis Dampak Lokasi dampak
Dampak
potensial
Peningkatan Proses Stack EP Raw Peningkatan
emisi debu pembuatan
sumber tidak semen Mill kadar debu di
bergerak Stack EP udara
Cooler Peningkatan
Stack Coal Mill risiko gangguan
pernapasan
Stack Finish
pada karyawan
Mill
Peningkatan Proses Stack EP Raw Peningkatan
emisi gas buang pembuatan
sumber emisi semen Mill kadar parameter
tidak bergerak Stack EP polutan di udara
(PM10, PM25, Cooler Peningkatan
SO2, NO2, CO, risiko kesehatan
O3, HC, Pb) akibat
kandungan
parameter
polutan di udara
Penurunan Penyimpanan Olay Storage Peningkatan
kualitas udara dan bongkar
Open coal kadar debu di
ambien (kadar muat bahan
debu) baku, bahan yard udara
bantu dan Silica and iron Peningkatan
bahan bakar storage risiko kesehatan
akibat
Biomass
kandungan debu
storage di udara
Additive
storage
Limestone
storage
Coal roofed
storage
Peningkatan Proses Cement mill Peningkatan
kebisingan operasional gangguan
Paper bag
pabrik dan pendengaran
kegiatan plant pada karyawan
laboratorium Kiln
Raw mill
Coal mill
Biomass
feeding facility
Penurunan Proses Settling pond Timbulnya
kualitas air operasional Bak pencemaran
buangan dan air pabrik dan badan air dan
Penangkap
limbah kegiatan ekosistem air
Minyak /
laboratorium pengendap
Sikap dan Kegiatan Masyarakat Adanya ketidak
persepsi Operasioanal disekitar puasan
masyarakat pabrik pabrik masyarakat
terhadap
perusahaan
dalam hal
kesempatan
kerja penduduk
lokal
Peningkatan Kegiatan Di Peningkatan
angka kesakitan operasional klinik industry angka kesakitan
dan angka pabrik semen dan kecelakaan
kecelakaan yang kerja karyawan
terjadi akibat
kerja
3. Pemusatan Dampak Potensial
Dampak Penting Permasalahan Risiko Kesehatan
Lingkungan Hidup
Kualitas Udara Peningkatan kadar emisi Menimbulkan
debu gangguan
Penurunan kualitas udara pernapasan akut dan
ambien gangguan
Peningkatan kebisingan pendengaran pada
karyawan dan
masyarakat disekitar
pabrik

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Ada 6 Langkah Utama Proses Produksi Semen yaitu : Penggalian , penghancuran,
pencampuran awal, Penghalusan dan Pencampuran Bahan Baku, Pembakaran dan
Pendinginan Klinker, penghalusan akhir.
2. Pengukuran pemajanan industri semen dapat diuraikan melalui 4 simpul .
3. Identifikasi resiko yaitu berdasarkan sebagai berikut:
a. Proses pembuatan semen
b. Transportasi bahan baku, clinker, semen, bahan bakar dalam lokasi pabrik
c. Proses operasional pabrik dan kegiatan laboratorium
d. Penilaian terhadap dampak adanya industri semen terhadap kualitas kesehatan
masyarakat.
4. Penetapan resiko disesuaikan dengan standar baku mutu terkait dengan industri
semen.
5. Lingkup Analisis Dampak Industri Semen terdiri dari identifikasi dampak penting,
dampak potensial dan pemusatan dampak potensial.

b. Saran
1. Untuk Industri, diharapkan untuk menyusun dokumen langkah-langkah Analisis
Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) agar dapat mencegah terjadinya dampak
negatif.
2. Untuk Pemerintah, diharapkan melakukan pengawasan yang ketat terhadap
industri-industri, terutama dalam masalah penanggulangan limbahnya.
3. Untuk Masyarakat, diharapkan turut serta dalam melakukan pengawasan kinerja
industri-industri terutama masalah penanggulangan limbahnya

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011.http://rafsanjani13.blogspot.co.id/2011/05/analisisdampakkesehatan-

lingkungan.html (Di Akses pada tanggal 14 Juni 2016 pukul 14.00 WITA)

Anonim.http://dokumen.tips/documents/makalah-industri-semen 563de405a 9178.html (Di

Akses pada tanggal 14 Juni 2016 pukul 14.00 WITA)

Anonim.2012.http://nurlailahcuteinfo.blogspot.co.id/2012/04/makalah-pembuatan-

semen.html (Di Akses pada tanggal 14 Juni 2016 pukul 14.00 WITA)

Anonim.2016.http://ismunote.blogspot.co.id/2016/01/makalah-proses-pembuatan-

semen.html (Di Akses pada tanggal 14 Juni 2016 pukul 14.00 WITA)

Anonim.2012.http://nanjatogawa.blogspot.co.id/2012/02/keranga-dan-langkah-langkah-

analisis.html (Di Akses pada tanggal 14 Juni 2016 pukul 14.00 WITA)

Anonim.2012.http://depiherdiana-dragspeed.blogspot.co.id/2012/03/langkah-langkah-

adkl.html (Di Akses pada tanggal 14 Juni 2016 pukul 14.00 WITA)

Anda mungkin juga menyukai