Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anestesi adalah hilangnya sensasi nyeri. Pada anestesi umum hilangnya rasa

nyeri terjadi pada seluruh tubuh disertai hilangnya kesadaran yang bersifat

reversibel. Anestesi dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu anestesi umum dan

anestesi lokal. Pada anestesi lokal hilangnya rasa sakit hanya pada sebagian tubuh

dan tidak disertai hilangnya kesadaran.

Tidak ada peralatan lain yang lebih dekat dihubungkan dengan ahli anestesi

selain mesin anestesi itu sendiri. Pada penggunaan yang paling sederhana,

anestesiologi menggunakan mesin anestesi untuk mengontrol ventilasi pasien dan

pengiriman oksigen dan juga untuk memasukkan anestesi inhalasi. Mesin anestesi

yang berfungsi secara memadai sangat penting bagi keselamatan pasien. Mesin

anestesi modern telah menjadi hal yang mutakhir melibatkan berbagai macam

fitur dan alat pengaman, monitor, dan mikroprosessor multipel yang berintegrasi

dan memonitor seluruh komponen. Monitor tambahan dapat ditambahkan secara

eksternal dan masih dapat diintegrasikan dengan sistem pada mesin.

Mesin anestesi digunakan oleh ahli anestesi untuk mendukung pemberian

anestesi. Tipe mesin anestesi yang digunakan di negara maju adalah mesin

anestesi jenis continuous-flow, yang dirancang untuk memberikan pasokan gas

secara akurat dan terus-menerus (seperti oksigen dan nitrogen oksida), dicampur

dengan uap agen anestesi (seperti isoflurane) yang dihantarkan dengan aliran dan

tekanan yang aman bagi pasien. Mesin anestesi modern dilengkapi ventilator,

suction unit, dan peralatan monitoring pasien.


Terdapat dua manufaktur utama dalam pembuatan mesin anestesi di Amerika

Serikat, Datex-Ohmeda (GE Healthcare) dan Drager Medical. Manufaktur yang

lain (Mindray, dll) memproduksi sistem pengiriman obat anestesi.

Ahli anestesi harus berhati-hati dalam penggunaan operasi manual mesin

selama mereka bekerja sehari-hari. Kesalahan penggunaan peralatan penghantar

gas tiga kali lebih sering menyebabkan efek samping dibandingkan dengan

kegagalan fungsi mesin itu sendiri. Kurangnya penguasaan alat dan kelalaian

dalam pemeriksaan fungsi mesin merupakan penyebab tersering. Pemahaman

prinsip kerja dan penggunan mesin anestesi itu sendiri sangat penting bagi para

klinisi agar kesalahan atau human-error dapat diminimalkan sehingga mencegah

kejadian yang tidak diinginkan.

1.2 Tujuan Penulisan


Penulisan Clinical Science Session (CSS) ini bertujuan untuk memahami

serta menambah pengetahuan tentang mesin anestesi modern dan konvensional.

1.3 Batasan Masalah


Pada CSS ini akan dibahas tentang definisi, klasifikasi, karakteristik,

konfigurasi, teknik penggunaan, analisis fungsional, prinsip kerja dan komponen

dari mesin anestesi.

1.4 Metode Penulisan


Penulisan CSS ini menggunakan berbagai sumber kepustakaan
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Mesin Anestesi

Mesin anestesi digunakan oleh ahli anestesi untuk mendukung pemberian

anestesi. Tipe mesin anestesi yang digunakan di negara maju adalah mesin

anestesi jenis continuous-flow, yang dirancang untuk memberikan secara akurat

dan terus-menerus pasokan gas (seperti oksigen dan nitrogen oksida), dicampur

dengan uap agen anestesi (seperti isoflurane) yang dihantarkan dengan aliran dan

tekanan yang aman bagi pasien. Mesin anestesi modern dilengkapi ventilator,

suction unit, dan peralatan monitoring pasien.

Kesalahan penggunaan peralatan penghantar gas tiga kali lebih sering

menyebabkan efek samping dibandingkan dengan kegagalan fungsi mesin itu

sendiri. Kurangnya penguasaan alat dan kelalaian dalam pemeriksaan fungsi

mesin merupakan penyebab tersering.

Setiap kemajuan dari mesin anestesi ini dibuat dengan tujuan untuk

memperbaiki dan mengurangi efek samping yang terjadi akibat penghantaran gas

oleh mesin anestesi yang sangat penting bagi keamanan pasien.

2.1.1 Prinsip Kerja Mesin Anestesi

1. Penyalahgunaan alat gas anesthesia tiga kali lebih sering dibandingkan

kegagalan alat dalam menyebabkan efek yang tidak diinginkan. Kurang

familiernya dengan alat dan gagal mengecek fungsi mesin adalah penyebab

tersering. Kelalaian ini hanya merupakan 2% dari kasus-kasus dalam ASA Closed
Claim Project. Sirkuit pernafasan adalah penyebab kecelakaan yang paling sering

(39%), hamper semua kecelakaan disebabkan oleh disconnect dan misconnect.

2. Mesin Anestesi menerima gas medis dari suplai gas, mengontrol aliran

yang diinginkan dan menurunkan tekanan, jika diperlukan sampai ke batas aman,

menguapkan volatile anesthetics ke campuran gas akhir yang terhubung dengan

jalan nafas pasien. Ventilator mekanik yang tersambung ke sirkuit pernafasan tapi

dapat dipisahkan dengan switch selama ventilasi spontan atau manual.

3. Dimana suplai oxygen dapat langsung menuju katup pengontrol aliran,

nitrous oxide, udara dan gas lain harus melewati alat pengaman terlebih dahulu

sebelum mencapi katup pengontrol aliran masing-masing. Alat ini mencegah

aliran gas lain jika tekanan oxygen tidak cukup. Alat ini mencegah pemberian

campuran hipoxik ketika terdapat kegagalan suplai oksigen.

4. Sebuah pengaman yang lain adalah hubungan aliran gas nitrous oxide

dengan aliran oxygen; hal ini untuk meyakinkan konsentrasi minimum oxygen 21-

25%

5. Semua vaporizer modern adalah agen spesisfik, mampu untuk

memberikan konsentrasi agen yang konstan pada perubahan temperature dan

aliran gas melewati vaporizer

6. Peningkatan tekanan jalan nafas dapat menunjukkan perburukan

komplains paru, peningkatan tidak volum, atau obstruksi pada sirkuit pernafasan,

ETT, atau jalan nafas pasien. Penurunan

7. Secara tradisional, ventilator mesin anestesi memiliki desain sirkuit ganda

dan sumber tenaga pneumatic dan dikontrol secara elektris. Mesin baru juga

memiliki control mikroprosessor, yang bergantung pada sensor tekanan dan aliran.
Beberapa model menawarkan mesin anestesi dengan ventilator yang

menggunakan desain piston sirkuit tunggal.

8. Keuntungan utama dari ventilator piston adalah kemampuannya

mengurimkan tidal volum yang akurat ke pasien dengan komplains paru yang

buruk dan kepada pasien yang sangat kecil.

9. Ketika ventilator digunakan, disconnect alarms harus difungsikan

secara pasif. Mesin anestesi paling tidak harus memiliki tiga disconnect alarms;

tekanan rendah, tidak volum exhalasi rendah, dan exhalasi karbon dioksida yang

rendah.

10. Karena spill valve ventilator tertutup selama inspirasi, aliran gas segar

dari outlet mesin memberi kontribusi terhadap tidal volum yang diberikan pada

pasien

11. Penggunaan oxygen flush valve selama siklus inspirasi dari ventilator

harus dihindari karena spill valve ventilator akan tertutup dan adjustable pressure-

limiting (APL) valve disingkirkan, hembusan oxygen (600-1200mL/detik) dan

tekanan sirkuit akan diteruskan ke paru-paru pasien

12. Perbedaan yang besar antara tidal volum yang di set dan diterima pasien

sering terlihat di ruang operasi selama volume-controlled ventilation. Sebabnya

karena komplains dari sirkuit pernafasan, kompresi gas, penyatuan aliran gas

segar ventilator, dan kebocoran pada mesin anestesi, sirkuit pernafasan, atau jalan

nafas pasien

13. .Penghisap gas sisa membuang gas yang diventilasikan keluar dari

sirkuit pernafasan oleh APL valve dan spill valve ventilator. Polusi di ruang

operasi dapat menghadapkan bahaya pada anggota tim operasi.


14. Inspeksi rutin dari alat anestesi sebelum penggunaannya meningkatkan

familiaritas operator dan memastikan fungsinya. The United States Food and Drug

Administration telah membuat prosedur standar untuk mesin anestesi dan

breathing system.

2.1.2 Gambaran Mesin Anestesi

Dalam bentuk dasar, mesin anestesi menerima gas medis dari suplai gas,

mengontrol aliran dari gas dan menurunkan tekanannya ke level aman;

menguapkan anastetik volatile hingga campuran gas final; dan memberikan gas ke

breathing circuit yang terhubung dengan jalan nafas pasien. Ventilator mekanis

yang tersambung ke breathing circuit tapi dapat dilepaskan dengan sebuah switch

selama ventilasi spontan atau manual. Suplai oksigen tambahan dan suction

regulator juga biasanya ada pada mesin anestesi. Sebagai tambahan pada

komponen keamanan standar mesin anestesia yang paling canggih mempunyai

tambahan pengaman, dan computer processor yang mengintegrasi dan memonitor

seluruh komponen, melakukan pengecekan otomatis dan memberikan pilihan

perekaman otomatis dan menghubungkan dengan monitor eksternal dan jaringan

informasi rumah sakit. Beberapa mesin didesain untuk mobilitas (cth, Draeger

Narkomed Mobile), magnetic resonance imaging kompabilitas (cth, Datex-

Ohmeda Aestiva/5 MRI), Draeger Narkomed MRI-2) atau bentuk kompak

(contoh, Datex-Ohmeda/5 Avance dan Aestiva S5 Compact, Draeger Fabius Tito).


Gambar 2.10 Skema internal mesin anestesi
Gambar 2.11 Mesin anestesia modern

2.1.3 Suplai Gas

Sebagian besar mesin memiliki inlet untuk oxygen, nitrous oxide, dan udara.

Model yang lebih kecil sering tidak memiliki inlet udara dimana mesin-mesin

yang lain memiliki inlet keempat untuk helium, Heliox atau karbon dioxida. Inlet

terpisah disediakan untuk suplai gas primer dari pipa yang melewati dinding

fasilitas kesehatan dan untuk suplai gas sekunder. Jadi mesin memiliki dua

pengukur tekanan gas untuk setiap jenis gas: satu dari pipa dan satu untuk silinder.

2.1.3.1 Inlet Pipa

Oxygen, nitrous oxide, dan sering udaa dialirkan dari suplai sentra ke ruang

operasi melewati jaringan pemipaan. Selangnya diberi kode warna dan

menghubungkan ke mesin anestesi melalui fitting diameter-index safety system

(DISS) yang tidak akan tertukar. Sebuah saringan menangkap debu dari suplai
dinding dan katup satu arah mencegah aliran balik dari gas ke suplai pemipaan.

Harus diperhatikan bahwa beberapa mesin memiliki oxygen (pneumatic) power

outlet yang digunakan untuk ventilator atau untuk oxygen flowmeter tambahan.

Fitting DISS untuk oxygen inlet dan oxygen power outlet identik dan tidak boleh

tertukar.

2.1.3.2 Inlet Silinder

Mirip dengan pipa, silinder ditempelkan ke mesin melalui hangeryoke yang

menggunakan pin index safety system untuk mencegah kesalahan. Komponen

yoke meliputi pin, washer, saringan gas, dan katup pencegah aliran balik. Silinder

E yang ditempelkan ke mesin anestesi adalah sumber gas medis tekanan tinggi

dan hanya digunakan sebagai cadangan kalau suplai pipa tidak memadai/gagal.

Beberapa mesin memiliki dua silinder oxygen, jadi satu silinder dapat digunakan

ketika yang kedua sedang diganti. Tekanan silinder biasanya diukur dengan

Bourdon pressure gauge. Sebuah selang fleksibel didalam gauge ini akan

menegang jika terkena tekanan gas, yang akan mendorong roda gigi untuk

memutar jarum penunjuk.

2.1.4 Sirkuit Pengontrol Aliran

2.1.4.1 Pengatur Tekanan

Tidak seperti suplai gas pipa yang umumnya bertekanan gas konstan,

terdapat variasi tekanan yang besar pada silinder yang membuat kontrol aliran

lebih sulit dan berpotensi berbahaya. Untuk keamanan dan memasikan

penggunaan optimal dari gas silinder, mesin menggunakan pengatur tekanan

untuk menurunkan tekanan gas silinder ke 45-47 psi, sebelum memasuki katup

aliran. Tekanan ini sedikit lebih rendah dari tekanan gas pipa untuk secara
otomatis memakai gas pipa jika silinder dibiarkan terbuka (kecuali jika tekanan

pipa turun dibawah 45psig). Setelah melewati Bourdon pressure gauge dan katup

searah, gas pipa dan silinder melewati jalur yang sama. High-pressure relief valve

disediakan untuk tiap gas dan akan terbuka jika tekanan gas suplai lebih dari batas

aman mesin (95-110 psig). Beberapa mesin (Datex-Ohmeda) juga menggunakan

pengatur kedua untuk menurunkan tekanan pipa dan silinder lebih jauh

(pengaturan tekanan dua tahap). Oxygen diturunkan ke 20psig dan nitrous oxide

ke 38psig. Perbedaan penurunan antara kedua gas penting untuk fungsi yang

benar dari aliran oxygen/nitrous oxide. Mesin lain (Draeger) tidak menurunkan

tekanan pipa, jadi katup alirannya menerima gas pada 45-55psig. Pengaturan

tekanan dua tahap mungkin dibutuhkan untuk flowmeter oxygen.

2.1.4.2 Oxygen Supply Failure Protection Device

Dimana suplai oxygen dapat langsung menuju flow control valve, nitrous

oxide, udara (pada beberapa mesin), dan gas lain harus melewati alat pengaman

sebelum mencapai flow control valve masing-masing. Pada beberapa mesin,

seperti Aestiva (dan model Datex-Ohmeda terakhir) udara dapat langsung menuju

flow control valvenya; ini memungkinkan pemberian udara ketika oxygen tidak

ada. Alat ini membolehkan aliran gas-gas lain hanya jika terdapat tekanan oxygen

yang cukup.

Pada alat pengaman dan mencegah pemberian campuran hipoxik kepada

pasien ketika kegagalan oxygen. Jadi selain mensuplai oxygen ke flow control

valvenya, oxygen juga digunakan untuk memberi tekanan pada alat pengaman,

katup flush oxygen, dan power outlet untuk ventilator (pada beberapa model).

Alat pengaman mendeteksi tekanan oxygen melalui jalur piloting pressure. Pada
beberapa desain mesin anestesi (Datex-Ohmeda Excel), jika jalur piloting pressure

jatuh dibawah ambang batas (contoh, 20psig), katup penutup akan tertutup

mencegah pemberian gas apapun.

Mesin-mesin modern (khususnya Datex-Ohmeda) mempunyai alat

pengaman secara proporsional untuk menggantikan katup penutup model lama.

Alat ini, disebut sebagai oxygen failure protection device (Draeger) atau balance

regulator (Datex-Ohmeda), secara proporsional menurunkan tekanan nitrous oxide

dan gas lain kecuali udara. Alat ini hanya menutup total nitrous oxide dan aliran

gas lain hanya jika tekanan oxygen dibawah minimum (cth. 0.5psig untuk nitrous

oxide dan 10 psig untuk gas lain).


Gambar 2.12 Drager oxygen failure protection device dan Datex Ohmeda balance

regulator

Semua mesin memiliki sensor suplai oxygen tekanan rendah yang

mengaktifkan pluit gas atau bunyi alarm ketika tekanan gas inlet jatuh dibawah

ambang (biasanya 20-35psig). Harus ditekankan bahwa alat pengaman ini tidak

melindungi terhadap penyebab hipoksia yang lain.

2.1.4.3 Flow Valves & Meters

Ketika tekanan telah diturunkan ke level aman, setiap gas harus melewati

flow-control valve dan diukur dengan flowmeter sebelum bercampur dengan gas

lain, lalu memasuki vaporizer dan keluar dari mesin melalui common gas outlet.

Jalur gas yang dekat ke flow valve dipandang sebagai circuit yang bertekanan

tinggi dimana yang berada diantara flow valve dan common gas outlet dipandang

sebagai bagian circuit bertekanan rendah. Ketika tombol dari flow-control valve
diputar berlawanan jarum jam, sebuah jarum pada valve berpindah dari tempatnya

dan membiarkan gas mengalir melalui valve. Adanya penghentian di posisi full-

off dan full-on mencegah kerusakan valve. Touch- dan color-coded tombol kontrol

membuat lebih sulit untuk membuka gas yang salah on atau off. Sebagai

pengaman tambahan, tombol oxygen biasanya lebih besar dan menonjol keluar

dibandingkan tombol yang lain, dan posisinya lebih ke kanan.

Flowmeter pada mesin anestesi diklasifikasikan sebagai constant-pressure

variable-orifice atau electronic flowmeter. Pada constant-pressure variable-orifice

flowmeter, sebuah bola indikator, bobbin atau float yang diapungkan oleh aliran

gas melalui tabung (Thorpe tube) yang dindingnya (bore) diberi penanda angka.

Dekat bawah tabung, dimana diameternya kecil, gas aliran rendah akan

memberikan tekanan yang cukup dibawah float untuk mengangkatnya di dalam

tabung. Ketika float terangkat, diameter tabung melebar, memungkinkan lebih

banyak gas untuk melewati float. Float akan berhenti terangkat ketika beratnya

terangkat hanya oleh perbedaan tekanan diatas dan dibawahnya.

Flowmeter dikalibrasikan untuk spesifik gas, karena alilran melewati celah

ergantung dari viskositas gas pada aliran laminar lambat dan densitasnya pada

aliran turbulen yang cepat. Untuk meminimalisir efek dari friksi antara gas dan

dinding tabung, float diidesain untuk berotasi konstan, hingga tetap di tengah

tabung. Pelapisan bagian dalam tabung dengan zat konduktiv akan mengurangi

efek listrik statis. Beberapa flowmeter mempunyai dua tabung kaca, satu untuk

aliran lambat dan satu lagi untuk aliran cepat. Kedua tabung tersusun serial dan

tetap dikontrol oleh satu katup. Desain dual taper memungkinkan sebuah

flowmeter untuk dapat mengukur aliran lambat dan cepat. Penyebab malfungsi
flowmeter antara lain adanya kotoran dalam tanbung, tabung yang tidak lurus

secara vertikal dan float yang menempel di puncak tabung.

Jika terdapat kebocoran di atau setelah flowmter oksigen, campuran gas

hipoksik dapat terkirim ke pasien. Untuk mengurangi resiko, flowmeter oksigen

selalu diposisikan lebih hilir dibandingkan flowmeter yang lain (paling dekat ke

vaporizer).

Beberapa mesin anestesi mempunyai pengontrol aliran dan pengukuran

secara elektronik (cth Datex-Ohmeda S/5 Avance. Pada keadaan ini terdapat

cadangan flowmeter konvensional untuk oksigen. Model lain memiliki flowmeter

konvensional tetapi pengukuran elektronik. (Draeger 6400) dan tampilan digital

(Draeger Fabius GS) atau tampilan digital/grafis (Datex-Ohmeda S/5 ADU.

Jumlah penurunan tekanan yang disebabkan oleh restriktor flowmeter adalah

dasar pengukuran dari aliran gas pada sistem ini. Pada mesin-mesin ini, oksigen,

nitrous oxida, dan udara masing-masing memiliki alat pengukuran aliran

elektronik yang berbeda sebelum akhirnya bercampur.

a. Aliran oksigen minimum

Katup aliran oksigen biasanya didesain untuk mengirimkan aliran minimum

150 mL/mnt ketika mesin anestesi dihidupkan. Salah satu metode menggunakan

resistor aliran minimum. Alat pengaman ini memastikan oksigen akan ikut

mengalir meskipun operator terlupa untuk mengidupkan aliran oksigen. Beberapa

mesin didesain untuk mengirimkan alian minimum atau low-flow-anestesia

(<1L/mnt) dan mempunyai aliran oksigen minimum hingga 50mL/mnt (spt Datex-

Ohmeda Aestiva/5)
b. Pengontrol Rasio Oksigen/Nitrous Oksida

Sebuah pengaman lain dari mesin anestesi adalah hubungan aliran gas

nitrous oksida terhadap aliran oksigen, pengaturan ini memastikan konsentrasi

minimum oksigen sebesar 21-25%. Pengontrol rasio oksigen/nitrous oksida

menghubungkan kedua katup aliran gas secara mekanis (Datex-Ohmeda),

pneumatis atau secara elektronis (Datex-Ohmeda S/5), harus diperhatikan bahwa

alat pengaman ini tidak berefek terhadap aliran gas lain (spt udara, helium atau

karbon dioksida).

2.1.4.4 Vaporizer (Penguap)

Anestetik volatil (seperti halothan, isoflurane, desflurane atau sevoflurane)

harus diuapkan sebelum dikirimkan ke pasien. Vaporizer mempunyai knob yang

dikalibrasikan untuk konsentrasi yang secara tepat menambahkan anestetik

volatril ke campuran aliran gas dari seluruh flowmeter. Terletak antara flowmeter

dan common gas outlet. Lebih lanjut, kecuali mesin hanya bisa menampung satu

vaporizer, semua mesin anestesi harus mempunyai alat interlocking atau ekslusi

untuk mencegah penggunaan lebih dari satu vaporizer secara bersamaan.

Pada temperatur tertentu, melekul dari zat volatil dalam tempat tertutup

akan berdistribusi dalam fase cair dan gas. Molekul gas menghantam dinding

kontainer, menciptakan tekanan uap dari zat itu. Makin tinggi temperaturnya,

makin tinggi kecendrungan molekul berubah dari cair ke gas, dan makin tinggi

tekanan uapnya. Penguapan memerlukan energi, yang didapat dari kehilangan

panas dari fase cair. Ketika penguapan berlangsung, temperatur zat cair turun dan
tekanan uap menurun hingga terdapat kalor yang dapat masuk ke sistem.

Vaporizer memiliki ruangan dimana gas pembawa akan larut bersama zat volatil.

2.1.5 Sirkuit Pernapasan

Sistem pernafasan yang paling sering digunakan di mesin anestesi adalah

sistem lingkar. Sirkuit Bain kadang-kadang digunakan. Penting untuk dicatat

bahwa komposisi gas pada common gas outlet dapat dikontrol secara tepat dan

cepat dengan mengatur flowmeter dan vaporizer. Berlawanan dari itu, komposisi

gas, khususnya konsentrasi volatil anestetik, pada sirkuit pernafasan dipengaruhi

secara signifikan oleh faktor-faktor yang lain, termasuk pemgambilan zat

anestetik di paru-paru pasien, minute ventilation, aliran gas total , volume sirkuit

pernafasan, dan adanya kebocoran gas. Penggunaan aliran gas tinggi selama

induksi dan bangun menurunkan efek dari variabel-variabel tersebut dan dapat

mengurangi perbedaan antara konsentrasi zat anestesi di fresh gas outlet dan

sistem lingkar. Pengukuran dari gas anestesi yang diinspirasi dan diekspirasi

berkontribusi terhadap manajemen anestetik.

2.1.5.1 Desain Sirkuit Ventilator

Ventilator tradisional pada mesin anestesi memiliki desain double-circuit

system dan ditenagai secara pneumatis dan dikontrol secara elektronik. Mesin

baru jugga memakai kontrol mikroprosessor yang bergantung pada sensor aliran

dan tekanan yang canggih. Kemampuan ini melahirkan banyak mode ventilator,

elektronik PEEP, modulasi volume tidal, dan perbaikan alat keamanan. Beberapa
mesin anestesi (Draeger Fabius Gs dan 6400) memiliki ventilator yang

menggunakan desain piston sirkuit tunggal.

Ventilator Sistem Sirkuit Ganda

Pada desain sistem sirkuit ganda, volume tidal diberikan dari seperangkat

bellow yang berisi bahan karet atau bebas latex didalam tabung plastik yang

transparan. Bellow berdiri (naik ke atas) lebih disukai karena cepat menarik

perhatian pada adanya diskoneksi sirkuit dengan mengempes. Bellow tergantung

(menurun) jarang digunakan dan tidak boleh diberi pemberat. Ventilator yang

terdahulu dengan bellow tergantung yang diberi pemberat akan tetap terisi oleh

gravitasi mesikupun terjadi diskoneksi pada sirkuit pernafasan.

Bellow pada desain ventilator sirkuit ganda menggantikan fungsi kantong

pernafasan pada sirkuit anestesi. Oksigen bertekanan atau udara dari ventilator

power outlet (45-50psig) dialirkan ke ruangan antara dinding dalam dari penutup

plastik dan dinding luar dari bellow. Penekanan dari penutup plastik akan

menekan bellow kedalam, memaksa gas didalamnya menuju ke sirkuit pernafasan

lalu ke pasien. Sebuah katup kontrol aliran pada ventilator mengatur aliran gas

menuju ruangan bertekanan. Katup ini dikontrol oleh setting ventilator pada kotak

kontrol. Ventilator dengan mikroprosessor juga menggunakan aliran balik dan

sensor tekanan. Jika oksigen digunakan untuk mentenagainya secara pneumatis,

oksigen akan dikonsumsi pada derajat paling tidak sama dengan ventilasi semenit.

Jadi, jika aliran oksigen segar 2L/mntdan ventilator memberikan 6L/mnt ke

sirkuit, sebanyak 8L gas/mnt paling tidak dikonsumsi,. Harap diingat bahwa jika

sistem gas rumah sakit gagal dan silinder oksigen dibutuhkan. Beberapa mesin
anestesi menurunkan konsumsi oksigen dengan memakai alat Venturi yang

menarik udara ruangan untuk menyediakan tenaga pneumatis udara/oksigen.

Mesin baru memberikan pilihan untuk menggunakan udara bertekanan untuk

tenaga pneumatis. Kebocoran pada bellow ventilator dapat mentransmisikan

tekanan gas yang tinggi ke jalan nafas pasien, yang berpotensi mengakibatkan

barotrauma paru. Hal ini dapat diindikasikan dengan adanya peningkatan

konsentrasi oksigen inspirasi lebih tinggi dari yang diharapkan (jika oksigen

adalah gas tunggal yang memberikan tekanan). Beberapa mesin ventilator sudah

mempunyai regulator gas yang menurunkan tekanan (cth ke 25 psig) untuk

tambahan pengaman.

Ventilator desain sirkuit ganda juga memiliki katup bernafas bebas yang

mengijinkan udara dar4i luar untuk memasuki ruangan yang kaku dan bellow

akan kempes jika pasien menghasilkan tekanan negatif dengan melakukan

pernafasan spontan selama pernafasan mekanis.

Ventilator Piston

Pada desain piston, ventilator menggantikan piston yang digerakkan secara

elektris. Keuntungan utama dari ventilator piston ialah kemampuannya untuk

memberikan volume tidal yang akurat pada pasien dengan komplians paru yang

buruk dan kepada pasien yang sangat kecil. Selama ventilasi kontrol volume,

piston bergerak dalam kecepatan konstan dimana selama ventilasi kontrol

tekanan, piston bergeral dengan kecepatan yang menurun. Seperti bellow, piston

terisi dengan gas dari sirkuit pernafasan. Untuk mencegah dihasilkannya tekanan

negatif yang signifikan selama downstroke dari piston, konfigurasi sistem lingkar

dari diubah. Ventilator juga harus memiliki katup relief tekanan negatif (Draeger
Fabius GS) atau mampu untuk menghentikan downstroke piston jika tekanan

negatif dideteksi (Draeger Narkomed 6400). Pemasangan dari katup relief tekanan

negtarif pada sirkuit pernafasan dapat memberikan resiko terperangkapnya udara

dan potensi pelarutan oksigen dan konsentrasi volatil anestetik jika pasien

bernafas selama ventilasi mekanis dan aliran fresh gas rendah.

2.1.5.2 Katup Buang

Ketika ventilator digunakan pada mesin anestesi, katup APL pada sistem

lingkar harus dihilangkan fungsinya atau diisolasi dari sirkuit. Sebuah switch

bag/ventilator menyelesaikan masalah ini. Ketika switch ke tipe bag,

ventilator dikeluarkan dan ventilasi spontan/manual dapat dilakukan. Ketika

diputar ke ventilator kantong pernafasan dan APL dikeluarkan dari sirkuit

pernafasan. Katup APL dapat secara otomatis dikeluarkan pada beberapa mesin

baru ketika ventilator dihidupkan. Ventilator memiliki katup pressure-relief (pop-

off) yang disebut katup buang, yang secara pneumatis akan tertutup selama

inspirasi, jadi tekanan positif dapat dihasilkan. Selama ekshalasi, gas bertekanan

akan diventilasikan keluar dan katup buang ventilator tidak lagi tertutup, bellow

ventilator atau piston terisi selama ekspirasi dan katup buang terbuka ketika

tekanan sistem lingkar meningkat. Perlengketan pada katup ini menyebabkan

terjadinya peningkatan tekanan jalan nafas yang abnormal selama ekshalasi.

2.1.5.3 Monitoring Tekanan dan Volume

Tekanan puncak inspirasi adalah tekanan sirkuit tertinggi yang terjadi

selama siklus inspirasi, dan memberikan indikasi adanya komplians yang dinamis.

Tekanan plateau adalah tekanan yang diukur selama jeda inspirasi (waktu ketika
tidak ada aliran gas), dan mencerminkan komplians statik. Selama ventilasi

normal pada pasien tanpa penyakit paru, tekanan puncak inspirasi sama dengan

atau ahanya sedikit lebih tinggi dari tekanan plateau. Peningkatan pada tekanan

puncak inspirasi dan tekanan plateau menggambarkan adanya peningkatan

volume tidal atau penurunan komplians paru. Peningkatan tekanan puncak

inspirasi tanpa perubahan tekanan plateau menunjukkan adanya hambatan jalan

nafas atau kecepatan aliran gas (Table 4-5). Jadi, bentung dari gelombang tekanan

sirkuit pernafasan dapat memberikan informasi penting mengenai jalan nafas.

Banyak mesin anestesi menggambarkan secara grafik mengenai tekanan sirkuit

pernafasan. Sekresi jalan nafas atau kinking dari ETT dapat disingkirkan dengan

mudah dengan menggunakan catheter penghisap. Bronkoskopi fiberoptik fleksibel

akan memberikan diagnosis pasti.


Gambar 2.12 Breathing circuit design

2.1.6 Oxygen Analyzer

Anestesia umum tidak boleh diberikan tanpa alat oxygen analyzer di sirkuit

pernafasan. Tiga jenis oxygen analyzer yang terzedia adalah polarographic (Clark

electrode), galvanic (fuel cell), dan paamagnetic. Dua tehnik pertama

menggunakan sensor elektrokimia, yang bersisi katoda dan anoda didalam gel

elektrolit yang dipisahkan dari gas contoh oleh membran oxygen permeable

(biasanya Teflon). Ketika oksigen bereaksi dengan elektroda, sebuah arus listrik

dihasilkan yang proorsional dengan tekanan parsial oxygen di gas contoh. Sensor
galvanic dan polarographic berbeda dalam komposisi elektrodan dan gel elektrolit

mereka. Komponen galvanic cell mampu memberikan energi kimia yang cukup

jadi reaksi tidak membutuhkan tambahan listrik dari luar.

Meskipun harga awal dari sensor paramagnetik lebih tinggi dari sensor

elektrokimia, alat paramagnetik dapat mengkalibrasi sendiri dan tidak ada yang

habis terpakai. Sebagai tambahan, waktu pengukurannya cukup cepat untuk

membedakan konsentrasi oksigen inspirasi dan ekspirasi.

Seluruh oxygen analyzer harus mempunyai low-level alarm yang teraktivasi

secara otomatis denan menghidupkan mesin anestesi. Sensor harus diletakkan di

lengan inspiratory atau ekspiratory di sirkuit pernafasan, tetapi bukan di fresh gas

line. Sebagai hasil dari konsumsi oksigen pasien, lengan ekspirasi memiliki

tekanan parsial oksigen yang lebih rendah dibandingkan lengan inspirasi, terutama

pada aliran gas yang rendah. Peningkatan kelembapan dari gas ekspirasi tidak

mempengaruhi secara signifikan dari sensor-sensor modern.

2.1.7 Carbondioxide Absorber

Carbondioksida absorbent (Pengisap CO2) Rebreathing gas alveolar

memelihara panas dan kelembaban. CO2 pada gas yang dihembuskan harus

dihilangkan untuk mencegah hiperkapni. Secara kimiawi CO2 bergabung dengan

air untuk membentuk asam karbonat. CO2 absorbent (seperti sodalime atau

baralime) mengandung garam hidroksida yang mampu menetralkan asam

karbonat. Produk akhir reaksi meliputi panas (termasuk panas netralisasi), air dan

kalsium karbonat. Sodalime adalah CO2 absorbent yang umum dan mampu

menyerap untuk 23 L CO2 per 100 g absorbent.


Perubahan warna dari sebuah indikator pH oleh peningkatan konsentrasi ion

hidrogen memberi tanda terpakainya alat penyerap. Absorbent harus diganti bila

50-70 % telah berubah warna. Meskipun butiran yang telah digunakan dapat

kembali ke warna aslinya jika diistirahatkan, tetapi pemulihan kapasitas CO2

absorbent yang terjadi tidak signifikan. Ukuran butiran menunjukkan dengan daya

serap permukaan yang tinggi dari butiran-butiran kecil dan aliran gas dengan

resistensi yang rendah dari butiran-butiran yang besar. Garam-garam hidroksida

mengiritasi kulit dan selaput lendir. Meningkatkan kekerasan sodalime dengan

menambahkan silika meminimalkan resiko menghirup debu natrium hidrokida.

Karena kapur barium hidroksida memasukkan air ke dalam struktur tersebut (air

kristal), sehingga cukup keras tanpa silika. Tambahan air ditambahkan untuk

kedua absorbent selama pembungkusan untuk memberi kondisi yang optimal

untuk pembentukan asam karbonat. Sodalime komersial memiliki kandungan air

14 19 %. Butiran penyerap dapat menyerap dan kemudian melepaskan sejumlah

volatile anestesi (anestesi yang mudah menguap) secara signifikan.

Alat ini dapat merespon untuk induksi yang tertunda atau muncul. Sodalime

yang lebih kering besar kemungkinan akan menyerap dan mengurangi anestesi

inhalasi.Carbon dioksida absorbers Butiran-butiran penyerap yang terkandung

dalam satu atau dua tabung yang melekat antara kepala dan alas lapisan. Bersama-

sama, unit ini disebut absorbers (gambar 18). Meskipun besar, tabung ganda

memungkinkan penyerapan CO2 yang lebih lengkap, frekuensi perubahan

absorbent lebih sedikit/tidak banyak, dan resistensi aliran gas lebih rendah. Untuk

memastikan penyerapan lengkap, tidal volume pasien tidak boleh melebihi

volume udara ruang antara butiran penyerap, yang kurang lebih sama dengan 50%
dari kapasitas penyerap. Indikator pewarna dapat dipantau melalui dinding

transparan penyerap. Terpakainya penyerap biasanya pertama terjadi pada lokasi

dimana gas dihembuskan memasuki penyerap dan sepanjang dinding tabung yang

halus. Absorbers generasi yang lebih baru dapat digunakan hingga CO2

ditemukan dalam gas yang dihirup yang dapat diamati pada monitor gas anestesi,

yang menunjukkan saatnya tabung untuk diganti.

2.1.8 Spirometer

Spirometer, juga disebut sebagai respirometer, digunakan untuk mengukur

volume ekshalasi tidal di sirkuit pernafasan di semua mesin anestesi, biasanya

dekat katup ekshalasi. Beberapa mesi juga mengukur volume tidak inspirasi

didekat katup inspirasi (Datex-Ohmeda Aestiva/5) atau yang sebenarnya diberikan

ke pasien dan volume tidal ekshalasi pada Y connecttor yang tersambung ke jalan

nafas pasien (cth. Datex-Ohmeda S/5 ADU).

Cara yang sering adalah menggunakan kincir yang berotasi di lengan

ekspiratori di depan katup ekspirasi dari sistem lingkar.

Aliran gas melewati kincir dalam respirometer menyebabkan rotasi mereka,

yang diukur secara elektronik, fotoelektrik, dan mekanis. Variasi yang lain

menggunakan prinsip turbin ini, volumeter atau displacement meter didesain

untuk mengukur pergerakan dari sejumlah gas pada waktu tertentu.

Perubahan pada volume tidal ekshalasi biasanya menunjukkan adanya

perubahan di setting ventilator, tapi juga dapa karena kebocoran sirkuit, sambunan

terlepas, atau malfungsi ventilator. Spirometer rentan terhadap kesalahan yang

disebabkan oleh inersia, gesekan, dan pengembunan air. Lebih lanjut, pengukuran

dari volume tidal ekshalasi pada tempat ini di lengan ekspirasi termasuk gas yang
tidak diberikan kepada pasien (hilang ke sirkuit). Perbedaan antara volume gas

yang diberikan ke pasien dan volume gas yang sebenarnya mencapai pasien

menjadi sangat signifikan dengan long compliant breathing tube, pernafasan yang

cepat, dan tekanan airway yang tinggi. Masalah ini paling tidak dapat dipecahkan

sebagian dengan mengukur volume tidal pada Y connector di jalan nafas pasien.

Sebuah hot-wire anemometer (Drager Fabius GS) menggunakan kawat

platinum yang dihangatkan secara elektris didalam aliran gas. Efek pendinginan

dari peningkatan alirangas pada kawat elektroda menyebabkan perubahan tahanan

listrik. Pada anemometer tahanan-konstan, aliran gas ditentukan dari jumlah arus

listrik yang dibutuhkan untuk menjaga suhu kabel tetap konstan (dan tahanan).

Kerugian nya termasuk tak mampu untukmendeteksi aliran balik dan

kemungkinan dari kawat yang dihangatkan tadi menjadi sumber api yang

potensial untuk semburan api di selang pernafasan.

Sensor aliran ultrasonik berdasar kepada diskontinuitas dari aliran gas yang

dihasilkan oleh turbulensi. Beam ultrasonik yang ke hulu dan hilir menghasilkan

kristalk piezoelektrik, yang ditransmisikan pada suduh aliran gas. Perubahan

frekuensi Doppler pada beam proporsional terhadap kecepatan aliran di sirkuit

pernafasan. Keuntungan utama adalah tidak ada bagian bergeak dan tidak

tergantung dari desitas gas.

Mesin dengan flowmeter variable-orifice biasanya memakai dua sensor.

Satu mengukur aliran pada lubang inspirasi pada sistem pernafasan dan yang

lainnya mengukur aliran pada lubang ekspirasi. Sensor-sensor ini menggunakan

perubahan pada diameter internal untuk menghasilkan penurunan tekanan yang

proporsional terhadap aliran gas melewati sensor. Tabung transparan


menghubungkan sensor ke transducer perbedaan tekanan didalam mesin anestesi

(Datex-Ohmeda 7900 Smart Vent). Bagaimanapun juga, karena pengembunan

yang banyak, dapat terjadi kegagalan sensor jika sensor digunakan dengan sirkuit

yang dihangatkan dan dilembabkan.

Sebuah pneumotachograph adah flowmeter fixed orifice yang dapat

berfungsi sebagai spirometer. Sebuah ikatan paralel dari tabung diameter-kecil in

ruang (Fleisch pneumotachograph) atau mesh screen memberikan sedikit

hambatan aliran. Tekanan turun melewati hambatan ini di deteksi Oleh sebuah

transduser perbedaan tekanan yang proporsional terhadap derajat aliran. Integrasi

dari derajat aliran dari waktu ke waktu menghasilkan volume tidal. Lebih lanjut,

analisis dari tekanan, volume dan hubungan waktu akan menghasilkan informasi

yang berharga mengenai mekanika paru dan jalan nafas. Ketidak akuratan karena

kondensasi air dan perubahan temperatur membatasi kegunaan klinis dari

monitor-monitor ini hingga adanya modifikasi dari desain untuk mengatasi

masalah ini. Sebuah modifikasi menggunakan dua tabung Pilot pada Koneksi Y.

(cth. Datex-Ohmeda D-lite and Pedi-lite sensor). Aliran gas melalui sensor

menciptakan perbedaan tekanan antara tabung Pilot. Perbedaan tekanan ini

digunakan untuk mengukur aliran, arah aliran dan tekanan jalan nafas. Gas

pernafasan di sampling terus-menerus untuk mengkoreksi pembacaan aliran untuk

perubahan densitas dan viskositas.

2.1.9 Tekanan Sirkuit

Pengukur tekanan atau sensor elektrik biasanya digunakan untuk mengukur

tekanan sirkuit pernafasan diantaran katup unidiraksional ekspiratori dan

inspiratory; lokasi tepatnya tergantung model mesin anestesi. Tekanan sirkuit


pernafasan biasanya merefleksikan tekanan jalan nafas jika diukur dekan dengan

jalan nafas pasien. Pengukuran yang paling akurat adalah ada koneksi Y (cth D-

lite dan Pedi-lite sensor). Peningkatan tekanan jalan nafas dapat menunjukkan

perburukan komplians pulmoner, peningkatan volume tidal atau hambatan pada

sirkuit pernafasan, tabung trakeal, atau jalan nafas pasien. Penurunan tekanan

mungkin menunjukkan perbaikan komplians, penurunan volume tidal, atau

kebocoran di sirkuit. Jika tekanan sirkuit diukur pada absorber CO2, tidak selalu

mencerminkan tekanan pada jalan nafas pasien. Sebagai contoh, meng klem

lengan ekspirasi pada tabung pernafasan selama ekspirasi akan mencegah nafas

pasien keluar dari paru. Meskipun ada peningkatan tekanan jalan nafas, pengukur

tekanan di absorber akan terbaca nol karenan adanya katup satu arah.

Beberapa mesin menggunakan auditori fedback untuk perubahan tekanan

selama penggunaan ventilator (Drager "Respitone" dan Datex-Ohmeda

"AudiTorr")

2.1.10 Adjustable Pressure-Limiting Valve

Adjustable Pressure-Limiting Valve (APL) valve, atau yang sering disebut

sebagai katup pelepas tekanan, biasanya terbuka penuh selama penafasan spontan

tetapi harus tertutup sebagian selama ventilasi manual atau yang dibantu. Katup

APL sering membutuhkan penyesuaian. Jika ttidak ditutup secara memadai,

kebocoran yang besar dari sirkuit akan terjadi dan menghambat ventilasi manual.

Jika ditutup terlalu banyak atau penuh akan menyebabkan barotrauma (cth.

pneumotoraks) dan/atau gangguan hemodinamik. Sebagai pengaman tambahan,

katup APL pada mesin modern dapat berfungsi sebagai alat yang membatasi

tekanan yang tidak akan bisa ditutup penuh, batas atas biasanya 70-80 cmH2O.
2.1.11 Ventilator

Ventilator digunakan secara ekstensif di ruang operasi (OK) dan di

Intensive Care Unit (ICU). Semua mesin anestesi modern dilengkapi dengan

ventilator. Dari sejarahnya, ventilator OK lebih sederhana dan lebih kecil

dibantingkan yang di ICU. Perbedaannya menjadi makin tak jelas karena

perkembangan teknologi dan adanya kebutuhan ventilator model ICU untuk

pasien-pasien sakit kritis yang datang ke OK. Ventilator dari beberapa mesin

anestesi modern sudah sama canggihnya dengan ventilator ICU dan hampir

memiliki kemampuan yang sama. Setelah mendiskusikan beberapa prinsip dasar

ventilator, bagian ini akan mengulas penggunaan ventilator berhubungan dengan

mesin anestesi.

Ventilator menghasilkan aliran gas dengan menciptakan perbedaan gradien

tekanan antara jalan nafas proximal dan alvoli. Ventilator terdahulu mengandalkan

dari pemberian tekanan negatif disekitar ( dan didalam) dada (cth. Iron lung),

dimana ventilator modern menciptakan tekanan positif dan aliran gas pada jalan

nafas atas. Fungsi ventilator paling baik dijelaskan dalam empat fase dari siklus

ventilasi; inspirasi, transisi dari inspirasi ke ekspirasi, ekspirasi, dan transisi dari

ekspirasi ke inspirasi. Meskipun terdapat beberapa klasifikasi skema, yang paling

umum berdasarkan karakteristik fase inspirasi dan metode siklus dari inspirasi ke

ekspirasi. Klasifikasi yang lain seperti sumber tenaga (cth. Pneumatic-high

pressure, pneumatic-Venturi, atau elektrik), desain (single-circuit system, double-

circuit system, rotary piston, linear piston), dan mekanisme kontrol (cth.

Elektronik timer dan mikroprosessor).


2.1.11.1 Fase Inspirasi

Selama inspirasi, ventilator menghasilkan volume tidal dengan

memproduksi aliran gas melewati sebuah gradien tekanan. Mesin menghasilkan

tekanan konstan (generator tekanan konstan) atau aliran gas konstan (generator

aliran konstan) selama inspirasi tanpa memandang perubahan pada mekanika

paru. Generator non konstan menghasilkan tekanan atau aliran gas yang bervariasi

selama siklus tetapi tetap konsisten dari nafas ke naas. Sebagai contoh, ventilator

yang menghasilkan pola aliran yang menyerupai setengah siklus dari gelombang

sine (cth. Ventilator rotary piston), akan diklasifikasikan sebagai generator aliran

non konstan.

2.1.11.2 Fase Transisi dari Inspirasi ke Ekspirasi

Penghentian dari fase inspirasi dapat dicetuskan oleh batasan waktu yang

sudah ditentukan (durasi tetap), tekanan inspirasi yang harus dicapai, atau tidal

volume yang harus diberikan. Ventilator siklus-waktu dapat memberikan volume

tidal dan tekanan puncak ekspirasi yang bervariasi tergantung dari komplian paru.

Volume tidal di sesuaikan dengan mengeset durasi dan derajat aliran inspirasi.

Ventilator siklus-tekanan tidak akan berlanjut dari fase inspirasi ke fase ekspirasi

sampai tekanan yang sudah diset sebelumnya tercapai. Jika terdapat kebocoran

sirkuit yang besar akan menurunkan tekanan puncak secara signifikan, sebuah

bentilator siklus-tekanan akan tetap dalam fase inspirasi. Dilain sisi, kebocoran

yang sedikit tidak akan menurunkan volume tidal, karenan siklus akan terhambat

hingga batasan tekanan dicapai. Ventilator siklus-volume akan memberikan

volume yang ditentukan dengan waktu dan tekanan yang bervariasi. Dalam

realitasnya, ventilator modern dapat mengatasi berbagai kekurangan ventilator


klasik dengan memakai parameter siklus sekunder atau mekanisme pembatas yang

lain. Contohnya ventilator siklus-waktu dan siklus-volume biasanya memakai alat

pembatas-tekanan yang menghentikan inspirasi ketika batasan tekanan aman yang

dapat disesuaikan telah tercapai. Hampir sama dengan itu, sebuah kontrol volume

yang telah ditentukan membatasi kompresi bellow yang mengakibatkan ventilator

siklus-waku dapat berfungsi seperti ventilator siklus-volume, tergantung dari

kecepatan ventilator dan kecepatan aliran inspirasi (cth. Draeger AV2+)

2.1.11.3 Fase Ekspirasi

Fase ekspirasi dari ventilator biasanya menurunkan tekanan jalan nafas

hingga level atmosfir atau volume yang ditentukan dari PEEP. Ekshalasi adalah

pasif. Aliran keluar dari paru ditentukan oleh hambatan jalannafas dan komplians

paru. PEEP biasanya dihasilkan dengan mengubah mekanisme katup pegas atau

penekanan pneumatik dari katup ekshalasi (spill).

2.1.11.4 Fase Transisi dari Ekspirasi ke Inspirasi

Transisi menuju fase inspirasi berikutnya dapat berdasar pada interval

waktu yang telah ditentukan atau perubahan tekanan. Perilaku ventilator dalam

fase ini bersama dengan tipe siklus dari inspirasi ke ekspirasi menentukan mode

ventilator.

Selama ventilasi kontrol, mode paling dasar dari semua ventilator, nafas

berikutnya selalu terjadi setelah interval waktu yang telah ditentukan. Jadi volume

tidal dan kecepatan aliran adalah tetap pada ventilasi volume kontrol, dimana

tekanan puncak inspirasi adalah tetap pada ventilasi tekanan kontrol. Mode

ventilasi kontrol tidak didesain untuk pernafasan spontan. Pada mode volume

kontrol, ventilator menyesuaikan aliran gas dan waktu inspirasi berdasarkan


kecepatan ventilasi dan rasio I:E yang telah ditetapkan. Pada volume tekanan-

kontrol, waktu inspirasi juga berdasarkan kecepatan ventilator dan rasio I:E, tetapi

aliran gas disesuaikan untuk menjaga tekanan inspirasi yang konstan.

Kebalikannya, Intermitten Mandatory Ventilation (IMV) mengijinkan pasien

untuk bernafas spontan antara nafas yang dikontrol. Synchronized Intermitten

Mandatory Vantilation (SIMV) adalah penyempurnaan yang lebih lanjut untuk

mencegah "fighting the ventilator" dan "breath stacking", kapanpun mungkin,

ventilator akan mencoba untuk memberikan nafas mekanis mandatory dengan

adanya penurunan tekanan jalan nafas yang terjadi ketika pasien akan memulai

nafas spontan.

2.1.12 Alarm ventilator

Alarm adalah bagian integral dari seluruh ventilator mesin anestesi

modern. Kapanpun ventilator digunakan alaram diskoneksi harus teraktifasi

secara pasif. Mesin anestesi seharusnya memiliki paling tidak tiga alarm diskonek;

tekanan puncak inspirasi yang rendah, volume tidal ekshalasi yang rendah, dan

Karbon dioksida ekshalasi yang rendah. Yang pertama selalu ada di ventilator,

dimana yang dua lagi terdapat pada modul yang terpisah. Kebocoan kecil atau

diskoneksi sirkuit pernafasan parsial mungkin terdeteksi dengan penurunan yang

sedikit dari tekanan puncak inspirasi, volume ekshalasi, atau karbon dioksida

akhir ekspirasi sebelum batas alaram tercapai. Alarm ventilator lainnya yang ada

seperti tekanan puncak inspirasi yang tinggi, PEEP tinggi, tekanan tinggi jalan

nafas yang menetap, tekanan negatif, dan tekanan suplai oksigen yang rendah.

Hampir semua ventilator mesin anestesi modern juga memiliki spirometer dan

analyzer oksigen yang mempunyai alaram tambahan.


Mesin anestesi konvensional mencakup mesin-mesin seperti seri Ohmeda

Modulus dan Excel, serta North american Drger (Drager Titus), Seri Narkomed

dan Narkomed GS.

Gambar 3. North american Drger, dari kiri ke kanan: Narkomed 2 (1982),

Narkomed AM-III (1977), Narkomed Standard (1972), Narkomed Compact

(1977).

Keterbatasan Mesin Anestesi Konvensional

1. Mesin anestesi konvensional memiliki banyak hubungan/ koneksi ekternal.

Meskipun telah dilakukan standarisasi ukuran pipa/ tabung, banyaknya koneksi

eksterna ini merupakan sumber terjadinya diskoneksi atau miskoneksi, kinking,

kelalaian, atau sumbatan. Morbiditas yang timbul akibat kesalahan peralatan ini

bergantung pada lokasi dan fungsi komponen yang terganggu. Koneksi yang

dimaksud mencakup pipa-pipa pada sikrkuit nafas, sistem pengeluaran gas,

bellow, pipa aliran gas segar, sistem pembuangan dan sebagainya.


2. Perlindungan akan baro trauma. Mesin konvensional dilengkapi dengan

pembatas tekanan dalam sirkuit nafas, akan tetapi sebagian perlu diset secara

manual untuk mempertahankan tekanan tetap berada dibawah nilai ekstrim.

Sebagian mesin lainnya hanya akan membunyikan alarm bila nilai yang telah di

set tersebut terlampaui. Pasien beresiko mendapat hembuhan oksigen tambahan

sebesar 500-800 ml/dtk dari volume tidal.

3. Resiko vaporizer. Vaporizer dapat bersifat fixed atau dapat dipindah-pindah.

Jika dalam posisi miring, agen cair dapat memasuki ruang bypass, teruapkan, dan

kemudian dialirkan ke sirkuit dalam dosis yang berlebihan. Dosis yang kurang

dapat terjadi bila ada kebocoran pada tempat-tempat persambungan.

4. Penghantaran volume tidal yang tidak adekuat. Sejumlah besar volume bellow

dapat saja hilang dalam sirkuit nafas akibat komplians dan kompresi. Ventilator

konvensional biasanya memerlukan sistem dua-langkah, perubahan mekanik

atau elektrik dari ventilasi manual dan kesalahan manusia dapat menyebabkan

kondisi apnoe pada pasien

5. Automated Checkout. Mesin anestesi konvensional harus di periksa secara

manual sehingga sering tidak akurat. Klinisi biasanya tidak memeriksa alat secara

keseluruhan sehingga tidak dapat menemukan kerusakan/ malfungsi atau bahkan

tidak melakukan pemeriksaan sama sekali. Meskipun telah diberikan instruksi

secara jelas, residen anestesi paling baik hanya dapat melakukan 81% prosedur

pemeriksaan (Morgan, 2013).


DAFTAR PUSTAKA

1. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. 2013. Chapter 2. Breathing


Systems. Dalam: Morgan & Mikhails Clinical Anesthesiology, 5e. New York:
The McGraw-Hill Companies. hal. 29-42.
2. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. 2013. Chapter 3. The Anesthesia
Machine. Dalam: Morgan & Mikhails Clinical Anesthesiology, 5e. New York:
The McGraw-Hill Companies. hal. 42-86.
3. Kaul TK, Mittal G. 2013. Maplesons Breathing Systems. Indian J Anaesth.
Vol. 57. Hal. 507-15. Diakses tanggal 5 Maret 2017 dari:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3821268/#!po=26.2712
4. International Anesthesia Research Society. Anesthesia Delivery Systems.
Diakses tanggal 5 Maret 2017 dari:
http://www.openanesthesia.org/anesthesia_delivery_systems_anesthesia_text/.
Published 2017.