Anda di halaman 1dari 14

UJI DISOLUSI INTRINSIK

I. TUJUAN
Mempelajari pengaruh luas permukaan obat yakni Kloramfenikol Metanol
dan Kloramfenikol terhadap kecepatan disolusi intrinsiknya sebagai
preformulasi untuk bentuk sediaannya.

II. PRINSIP
Kecepatan disolusi berbanding lurus dengan luas permukaan bahan obat
dan kelarutannya.

III. TEORI
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut kedalam media sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan
obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat, seperti
kapsul, tablet dan salep (Anonim, 2007).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam
cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan
secara oral dalam Abentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai
partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran
lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah
medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut
dalam lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut
disolusi. (Ansel, 1985).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran
cerna, obat tersebut mulai masuk kedalam larutan dari bentuk padatnya.
Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga
mengalamindesintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-granul ini
mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel halus. Desintegrasi,
deagregasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak. Dengan melepasnya
suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diberikan (Martin, 1993).

1
Mekanisme disolusi tidak dipengaruhi oleh kekuatan kimia atau
reaktivitas partikel-partikel padat terlarut kedalam zat cair, dengan mengalami
2 langkah berturut-turut (Gennaro, 1990).
Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan tebal yang
tetap atau film disekitar partikel difusi dari lapisan tersebut pada massa dari
zat cair. Langkah pertama, larutan berlangsung sangat singkat. Langkah
kedua, difusi lebih lambat dan karena itu adalah langkah terakhir. Pada waktu
suatu partikel obat mengalami disolusi, molekul-molekul obat pada
permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan menciptakan suatu lapisan
jenuh obat larutan yang membungkus permukaan partikel obat padat. Lapisan
larutan ini dikenal sebagai lapisan difusi.
Dari lapisan difusi ini, molekul-molekul obat keluar melewati cairan
yang melarut dan erhubungan dengan membran biologis serta absorbsi
teerjadi . jika molekul-molekul obat diganti dengan obat yang dilarutkan dari
permukaan partikel obat dan proses absorbsi tersebut berlanjut (Martin, 1993)
Jika proses disolusi untuk partikel obat tertentu adalah cepat , atau jika
obatdiberikan sebagai suatu larutan dantetap ada dalam tubuh seperti itu, laju
obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada kesanggupannya
menembus pembatas membran. Tetapi, jika laju disolusi untuk suatu partikel
obat lambat, misalnya mungkin karena karakteristik zat obat atau bentuk
dosis yang diberikan. Proses disolusinya sendiri akan merupakan tahap yang
menentukan laju dalam proses absorbsi. Perlahan-lahan obat yang larut tidak
seluruhnya diabsorbsi atau dalam beberapa hal banyak yang tidak diabsorbsi
setelah pemberian oral , karena batasan waktu alamiah bahwa obat bisa
tinggal didalam lambung atau saluran usus halus (Martin, 1993).
Laju disolusi intrinsik merupakan laju dimana suatu padatan melarut di
dalam suatu pelarut dalam batasan kuantitatif. Bila suatu tablet sediaan obat
lainnya dimasukkan ke dalam saluran cerna, obat tersebut mulai masuk ke
dalam larutan dari bentuk padatnya. Jika obat tersebut tidak dilapisi polimer,
matriks padatan juga mengalami disintegrasi menjadi granul-granul dan
granul yang lain emngalami pemecahan menjadi partikel-partikel yang halus.
Disintegrasi, deagregasi, dan disolusi bisa berlangsung secara serentak

2
dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana oat tersebut diberikan.
(Voight, 1984)
Uji Disolusi Obat
Uji hancur pada suatu tablet didasarkan pada kenyataan bahwa, talet itu
pecah menjadi partikel-partikel kecil , sehingga darah permukaan media
pelaruut menjadi luas, dan akan berhubungan dengan tersedianya obat dalam
cairan tubuh . namun sebenarnya uji hancur hanya menyatakan waktu yang
diperlukan tablet untuk hancur dibawah kondisi yang ditetapkan. Uji ini tidak
memberikan jaminan bahwa partikel-partikel itu akan melepas bahan obat
dalam larutan dengan kecepatan yang seharusnya . oleh sebab itu, uji disolusi
dan kelarutan uji dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet. Laju
absorbsi dari obat-obat bersifat asam yang diabsorbsi dengan mudah dalam
saluran pencernaan sering ditetapkan dengan laju larut obat dalam tablet.
Agar diperoeh kadar obat yang tinggi didalam darah maka kecepatan obat dan
tablet mmelarut menjadi sangat menentukan, karena laju larut berbagai
formula karena itu, dilakukannya evaluasi mengenai apakah suatu tablet
melepas kandungan zat aktifnya atau tidak bila berada didalam saluran cerna ,
menjadi minat utama dari para ahli farmasi. (Voigt,1995)
Ada 2 sasaran dalam mengembangkan uji disolusi in vitro yaitu untuk
menunjukkan :
1. Pelepasan obat dari tablet kalau dapat mendekati 100 %
2. Laju penglepasan obat seragam pada setiap batch dan harus sama dengan laju
pelepasan dari batch yang telah dibuktikan bioavaibilitas dan efektif secara
klinis (Shargel, 1988).
Tes kecepatan melarut telah dibuat untuk mengukur berapa kecepatan
zat aktif dari satu tablet atau kapsul melarut kedalam larutan. Hal ini perlu
diketahui sebagai indikator kualitas dan dapat memberikan informasi sangat
berharga tentang konsistensi dari batch satu ke atch lainnya. Tes disolusi
ini didesign untuk membandingkan kecepatan melarutnya suatu obat, yang
ada didalam suatu sediaan pada kondisi dan ketentuan yang sama dan dapat
diulangi(Shargel,1988).
Kecepatan disolusi sediaan sangat berpengaruh terhadap respon klinis
dari kelayakan sistem penghantaran obat. Disolusi menjadi sifat sangat

3
penting pada zat aktif yang dikandung oleh sediaan obat tertentu. Dimana
berpengaruh terhadap kecepatan dan besarnya ketersediaan zat aktif dalam
tubuh . jika disousi makin cepat, maka absorbsi semakin cepat. Zat aktif dari
sediaan padat (tablet, kapsul, serbuk, suppositoria), sediaan sistem terdispersi
(suspensi, dan emulsi) atau sediaan-sediaan semisolid (salep, krim, pasta)
mengalami disolusi dalam media/cairan biologis kemudian diikuti absorbsi
zat aktif kedalam sirkulasi sistemik (Voigt,1995).

IV. ALAT DAN BAHAN


4.1. Alat
Alatyang digunakan pada saaat praktikum kali ini adalah alat
disolusi tipe I, spektrofotometer UV-Vis, labu ukur, gelas ukur, spuit,
bakteri filter, beaker glass, pipet tetes, dan erlenmeyer.
4.2. Bahan
Bahan yang digunakan adalah, pellet kloramphenikol metanol,
kloramphenikol, tissue, dan dapar pH 6,8sebagai media.

V. PROSEDUR
500 mL dapar phosfat pH 6,8 dimasukkan kedalam tabung disolusi
sebagai media disolusi. Suhu alat disolusi diatur sebesar 37

0,5

. Pellet kloramphenikol metanol dan kelorhamphenikol yang telah dipasang


pada penyangga diselupkan kedalam medium disolusi, diatur supaya tidak
ada gelembung udara dibawahnya, lalu dipasang pada motor pemutar dan
segera diputar dengan kecepatan 50 rpm. Jarak antara permukaan pellet
kloramphenikol metanol dan kloramphenikol dengan dasar tabung disolusi 2
cm.
Sampel hasil disolusi diambil tiap selang waktu tertentu (menit ke 5, 10,
15, 20 dan 30). Selanjutnya sampel yang diperoleh ditentukan kadarnya
secara spektrofotometrik. Evaluasi datadibuat grafik hubungan jumlah obat

4
yang terdisolusi sebagai fungsi waktu setelah dikoreksi karena adanya
pengurangan kadar larutan oleh sampel yang diambil. Kecepatan disolusi
dihitung dan diekspresikan dalam DE60 atau tetapan kWagner.Kecepatan disolusi
intrinsik masing-masing sampel tiap waktu pengambilan sampel dihitung dan
disusun dalam suatu table menurut data kecepatan pelarutan.

5
VI. DATA PENGAMATAN

6.1. Teofillin Anhydrate dan Teofillin Monohydrate


Medium disolusi : Dapar fosfat
Ph : 6.8
Kecepatan : 50rpm
Volume : 500ml
Absorbansi : 274nm

Tabel 6.1 Data pengamatan % disolusi intrinsik Teofillin Anhydrate

t mg mg %
absorban
t ppm
absorbansi ppm (g/ml) faktormg terkorek faktordisolu mg %
(meni terdisolu
si (g/ml) koreksi
t) (menit) si terdisolusi
si koreksi si terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
0 5 0 0.282 0 0
10.721 0
5.361 0 0.0540 5.361 1.340
5 100.347 8.894
0.539 4.447
17.178 0.044
8.589 4.447 0.086
1.112 8.643 2.161
10 150.607 14.322
0.783 7.161
23.309 0.072
11.655 7.205 0.117
1.801 11.794 2.949
15 200.899 1.036
20.418 29.666
10.209 14.833
0.102 10.325 0.148
2.581 15.089 3.772
20 30 1.21 1.502
26.910 41.374
13.455 20.687
0.135 13.673 0.207
3.418 21.092 5.273
30 1.782 38.852 19.426 0.194 19.779 4.945

Tabel 6.2 Hasil data pengamatan % disolusi intrinsik Teofilyn Monohydrate

%DISOLUSI
6
5
T.M
4
T.A
waktu disolusi 3
2
1
0
0 5 10 15 20 30
Gambar 6.1 Grafik % disolusi teofillin monohydrate dan teofilin anhydrate

6.2.Perbandingan %Disolusi instrinsik kloramfenikol dan kloramfenikol


metanol
Medium disolusi : Dapar fosfat
Ph : 6.8
Kecepatan : 50rpm
Volume : 500ml
Absorbansi : 274nm

Tabel 6.3 Perbandingan % disolusi instrinsik kloramfenikol

6
mg
t faktor mg %
absorbansi ppm (g/ml) terdisolus
(menit) koreksi terkoreksi disolusi
i
0 0 0 0 0 0 0
5 0.034 36.258 18.129 0.181 18.129 4.532
10 0.026 35.433 17.716 0.177 17.898 4.474
15 0.028 35.639 17.820 0.178 18.178 4.545
20 0.022 35.021 17.510 0.175 18.047 4.512
30 0.027 35.536 17.768 0.178 18.480 4.620

Tabel 6.4 Perbandingan % disolusi intrinsic kloramfenikol Metanol


t mg faktor mg %
absorbansi ppm (g/ml)
(menit) terdisolusi koreksi terkoreksi disolusi
0 0 0 0 0 0 0
5 0.014 100.425 50.213 0.502 50.213 12.553
10 0.016 100.519 50.259 0.503 50.761 12.690
15 0.021 100.752 50.376 0.504 51.381 12.845
20 0.019 100.659 50.329 0.503 51.838 12.959
30 0.021 100.752 50.376 0.504 52.388 13.097

% DISOLUSI
14
12
10 C.M
8 C
waktu disolusi 6
4
2
0
0 5 10 15 20 20
Gambar 6.2 grafik % disolusi instrinsik chloramphenicol dengan
chloramphenicol metanol

7
VII. PEMBAHASAN

7.1 Kloramfenikol dan Kloramfenikol metanol


Praktikum kali ini dilakukan pengujian disolusi intrinsik terhadap
bahan baku obat yaitu Kloramfenikol Metanol dan Kloramfenikol. Praktikum
ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh keadaan bahan (baku) obat
(polimorf, hidrat, solvate) terhadap kecepatan disolusi instrinsiknya sebagai
preformulasi untuk bentuk sediaannya, kemudian hasilnya dibandingkan
antara Kloramphenikol Metanol dan Kloramphenikol. Secara umum
mekanisme disolusi suatu sediaan dalam bentuk tablet yaitu ketika tablet
ditelan akan masuk ke dalam lambung dan didalam lambung akan dipecah,
sehingga mengalami disintegrasi menjadi granul- granul yang kecil yang
terdiri dari zat-zat aktif dan zat-zat tambahan lain. Selanjutnya granul dipecah
menjadi serbuk dan zat-zat aktifnya akan larut dalam cairan lambung atau
usus, tergantung di mana tablet tersebut harus bekerja.
Laju disolusi intrinsik merupakan laju disolusi dari suatu zat aktif
murni yang diperoleh dengan menjaga konstan kondisi-kondisi yang dapat
mempengaruhi laju disolusi zat tersebut, yaitu luas permukaan, suhu, laju
pengadukan, pH dan kekuatan ionik dari medium disolusi yang digunakan.
Dengan demikian laju disolusi intrinsik ini tidak dipengaruhi oleh
preformulasi, melainkan untuk mengetahui bahan baku obat yang baik agar
mendapatkan persen disolusi yang memenuhi persyaratan, oleh sebab itu
dilakukan percobaan dengan dua macam bahan baku Kloramfenikol yaitu
Kloramfenikol Metanol dan Kloramfenikol.Sebelum melakukan percobaan

8
disolusi, terlebih dahulu dilakukan pembuatan kurva baku dari Kloramfenikol
Metanol dan Kloramfenikol .
Pada pembuatan kurva baku Kloramfenikol, absorbansi nya dilihat
pada panjang gelombang 271,6 nm. Kemudian diencerkan konsentrasinya
menjadi beragam konsentrasi sehingga mencapai rentang absorbansi 0,2
sampai 0,8 agar hasilnya lebih akurat. Rentang absorbansi 0,2 sampai 0,8
merupakan batas ketelitian alat spektofotometri secara optimum, apabila hasil
absorbansi yang didapat kurang dari 0,2 maka kemungkinan akan terjadinya
penyimpangan, apabila hasil absorbansi yang didapat melebihi 0,8 maka
dikhawatirkan terjadi penyimpangan dan tingkat akurasinya kurang. Setelah
absorbansinya berada pada rentang 0,2 sampai 0,8 kemudian dibuat
persamaan garis dengan menggunakan regresi linier dari masing- masing data
kurva baku (Kloramfenikol Metanol dan Kloramfenikol) yang berisi
perbandingan antara konsentrasi dengan absorbasni. Didapatkan persamaan
garis pada kurva baku Kloramphenikol Metanol yaitu y = 0,0214x-2,1351 dan
persamaan garis pada kurva baku Kloramphenikol y = 0,097x-0,3177.
Persamaan tersebut digunakan untuk menghitung kadar sampel
Kloramfenikol Metanol dan Kloramfenikol pada uji disolusi.
Pada uji disolusi sampel dilakukan terhadap bahan baku obat
Kloramfenikol Metanol dan Kloramfenikol yang masing-masing sudah di
bentuk pellet . Pellet ditaruh pada penyangga dengan kondisi bagian atas
pellet telah dituangi lilin cair dan satu permukaan pellet lainnya dalam
keadaan terbuka yang langsung bersinggungan dengan medium disolusi
sehingga diperoleh hasil yang valid. Medium disolusi yang digunakan adalah
dapar phosfat pH 6,8 sebanyak 500 ml dan suhu padasuhu37oC, hal ini
bertujuan agar suhu percobaan sama dengan suhu tubuh sehingga dapat sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya jika obat di dalam tubuh.Alat disolusi di
atur dengan perputaran 50 rpm karena diumpamakan sebagai gerak
peristaltik usus. Setelah 5 menit larutan dalam tabung 2 diambil sebanyak 5
ml dengan menggunakan spuit yang sudah terpasang membrane filter
(penggunaan membrane filter ditujukan untuk menyaring partikel- partikel
yang tidak larut yang mungkin ada dalam larutan karena apabila partikel

9
tersebut tidak disaring maka akan menggaggu pada proses pembacaan pada
spektrofotometer) sampel kemudian dimasukkan ke dalam vial yang telah
dicuci dan dibersihkan. Dalam waktu yang bersamaan dapar dalam tabung 1
diambil 5 ml dan dimasukkan ke dalam tabung 2, penggantian volume dapar
yang diambil ini dilakukan agar volume dalam tabung 2 tetap 500 ml, karena
media dianalogikan sebagai cairan tubuh. Kemudian dilakukan hal yang sama
pada menit ke 10, 15, 20 dan 30 menit. Pada pengambilan cuplikan sebaiknya
wadah tempat pengambilan cuplikan di letakkan pada tempat yang sama
supaya didapatkan konsentrasi yang sama karena jika diambil di tempat yang
berbeda kemungkinan akan menghasilkan konsentrasi yang berbeda pula
sehingga pada pengukuran hasil yang diperoleh tidak akurat. Masing-masing
cuplikan yang telah diambil, satu persatu diuji nilai absorbansinya
menggunakan metode Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang
271,6 nm. Berdasarkan hasil dari perhitungan %disolusi dari Kloramfenikol
Metanol dan Kloramfenikol didapatkan bahwa %disolusi Kloramfenikol
Metanol lebih besar dari pada %disolusi Kloramphenikol saja, sehingga dapat
dikatakan disolusi Kloramfenikol Metanol lebih baik dibandingkan dengan
Kloramfenikol saja.

7.2 Teofilin anhydrate dan teofilin monohydrate


Pada uji disolusi instrinsik teofilin anhydrate dan monohydrate
langkah pertama Pembuatan kurva baku terhadap kedua bahan baku yakni
Teofilin Anhidrat dan Theophyline Monohidrat. Pertama tama harus dibuat
larutan induk dengan konsentrasi 250 ppm dengan menimbang 50 mg masing
masing teofilin anhidrat dan teofilin monohidrat yang dilarutkan di dalam
labu ukur 100 ml . pembuatan larutan dilarutkan didalam labu ukur 100 ml
bertujuan agar pembuatanya dilakukan secara kuantitatif dikarenakan labu
ukur termasuk kedalam alat ukur kuantitatif. Pembuatan kurva baku
dilakukan dengan menguji absorbansi dari masing-masing bahan baku pada
panjang gelombang 274 nm . Untuk teofilin monohidrat didapat absorbansi
dengan kosentrasi agar linearitas pada absrobansi dengan konsentrasi berikut :
14ppm, 12ppm, 11 ppm, 9 ppm dan 6 ppm dan untuk teofilin monohidrat

10
masing masing konsentrasi agar mendapatkan kurva baku yang linear yaitu
dengan konsentrasi :18 ppm, 16ppm, 14ppm, 12ppm dan 10 ppm dengan
konsentrasi masing-masing didapat kurva baku dengan regresi liniear 0.986
untuk teofilin anhidrat, sedangkan untuk teofilin monohidrat didapat regresi
liniearnya 0.991.
Pada pembuatan kurva baku absorbansi yang dihasilkan sebaiknya
diantara 0,2 sampai 0,8 sesuai dengan hukum Lambert-Beer karena pada
absorbansi tersebut dihasilkan maksimum, dan pada absorbansi tersebut
dihasilkan konsentrasi yang lebih akurat. Selain itu rentang absorbansi 0,2-0,8
merupakan batas ketelitian alat yang optimum dan diharapkan dalam rentang
absorbansi tersebut keterulangan hasil lebih baik sehingga recovery
mendekati 100%. Jika absorbansi lebih kecil dari rentang tersebut
kemungkinan terjadinya penyimpangan dan dikhawatirkan keterulangan
menjadi buruk dan jika absorbansinya lebih besar dari rentang tersebut
dikhawatirkan diatas kemampuan alat yang digunakan sehingga absorbansi
menjadi tidak terbaca. Persamaan garis yang didapat tersebut nantinya akan
digunakan untuk menghitung kadar sampel teofilin anhidrat maupun teofilin
monohidrat pada uji disolusi. Setelah itu dilakukan uji disolusi terhadap
sampel bahan baku obat teofilin anhidrat dan Monohidrat yang masing-
masing sudah di bentuk pellet dengan bobot 400mg dan diameter 0,8 cm.
Pellet ditaruh pada penyangga dengan kondisi bagian atas pellet telah
dituangi lilin cair dan satu permukaan pellet lainnya dalam keadaan terbuka
yang langsung bersinggungan dengan medium disolusi sehingga diperoleh
hasil yang valid. Medium disolusi yang digunakan adalah fosfat 6,8 sebanyak
500 ml dan suhunya sudah diatur dengan thermostat pada 370,5oC. Hal ini
bertujuan agar suhu percobaan sama dengan suhu tubuh sehingga bisa sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya jika obat di dalam tubuh.
Alat disolusi di atur dengan perputaran 50 rpm karena diumpamakan
sebagai gerak peristaltik usus. Setelah 5 menit larutan dalam tabung diambil
sebanyak 5 ml dengan menggunakan spuit yang sudah terpasang membrane
filter (penggunaan membrane filter ditujukan untuk menyaring bakteri yang
mungkin ada dalam larutan) dan dimasukkan ke dalam vial yang telah dicuci

11
dan dibersihkan. Dalam waktu yang bersamaan fosfat dalam tabung 1 diambil
5 ml dan dimasukkan ke dalam tabung berisi teofilin, penggantian volume
fosfat yang diambil ini dilakukan agar volume dalam tabung tetap 500 ml,
karena media dianalogikan sebagai cairan tubuh. Kemudian dilakukan hal
yang sama pada menit ke 10, 15, 20, 30. Pada pengambilan cuplikan
sebaiknya tempat pengambilan cuplikan di tempat yang sama supaya kondisi
juga sama karena jika diambil di tempat yang berbeda kemungkinan akan
menghasilkan konsentrasi yang berbeda pula sehingga pada pengukuran hasil
yang diperoleh tidak akurat.
Masing-masing cuplikan yang telah diambil, satu persatu diuji nilai
absorbansinya menggunakan metode Spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang 274 nm dengan menganalisis serapan cahaya oleh gugus kromofor
yang terdapat dalam struktur kimia teofilin anhidrat maupun teofilin
monohidrat . Dari serapan cahaya ini dapat diketahui nilai serapannya
(absorbansi). Dengan demikian dapat diketahui kadar teofilin anhidrat
maupun teofilin monohidrat dengan cara memplot nilai absorbansi yang
diperoleh pada persamaan regresi linier dari masing-masing kurva baku.
Setelah pengukuran selesai kemudian didapatkan nilai absorbansi dan
dihitung % terlarut dari masing-masing bahan baku obat teofilin anhidrat
maupun teofilin monohidrat tersebut pada menit-menit yang ditentukan.
Bahan baku teofilin monohidrat dan teofilin monohidrat terdapat
perbedaan dalam strukturnya. Theophylline Monohidrat mengandung kristal
air didalamnya sedangkan teofilin anhidrat tidak mempunyai struktur air di
dalamnya. Dengan bentuk monohidrat biasanya dapat membantu
meningkatkan kecepatan disolusi karena dengan adanya kandungan air maka
dapat memperluas permukaannya ketika kontak dengan medium disolusi.
Luas permukaan yang besar maka porinya banyak sehingga mempermudah
proses kelarutannya. Oleh karena itulah kecepatan disolusi teofilin
monohidrat lebih cepat dibandingkan dengan teofilin anhidrat (Kecepatan
disolusi berbanding lurus dengan luas permukaan obat dan kelarutannya).
Berdasarkan hasil dari perhitungan % disolusi dari teofilin
monohidrat dan theophyllin anhidrat didapatkan bahwa % disolusi teofilin

12
monohidrat lebih baik dalam proses disolusinya dikarenakan pada teofilin
monohidrat telah mengandung gugus air sehingga pada saat di masukkan
kedalam media disolusinya air tidak lagi menyerap air untuk pecah.
Sedangkan pada theophyllin anhidrat yang tidak memiliki gugus air / Kristal
air sehingga pada saat dimasukan ke dalam media harus menyerap terlebih
dahulu air lalu setelah itu pecah dan mulai terdisolusi. ji disolusi pada
praktikum ini menggunakan alat disolusi dengan menggunakan 250 mL,
medium dapar fospat pH 6,8 pada suhu 37 0C dengan kecepatan putar 50
putaran permenit. Grafik hubungan W/A (massa terlarut persatuan luas)
versus t (waktu) akan menghasilkan kurva yang mendekati gradient nol pada
waktu pertama yaitu 5 menit, sebagai pendekatan Cs dan Ct. Cs merupakan
kadar jenuh atau maksimal solute pada temperaturnya. perbandingan dari %
terdisolusi anatara chlorampenikol methanol dengan chlorampenikol
dinyatakan bahwa chlorampenikol methanol % terdisolusi lebih baik karena
struktur ukuran polimerfismenya mengambang karena adanya struktur
methanol di strukturnya dan ikatan senyawa chlorampenikol yang dilarutkan
terlebih dahulu di methanol akan melemah dan meregang ikatanya
sehinggaabsorbansinya lebih baik dari pada absorbansi chlorampenikol
biasa,polimerfisme juga dapat merubah bentuk kristalnya, sehinggan ikatan
energinya juga berubah sehingga dapat meningkatkan kelarutan dan
meningkatkan pula persen disolusinya. Perbandingan dari % disolusi antara
theofiline monohidrat dan anhidrat dinyatakan bahwa persen disolusi dari
theofiline monohidrat sedikit lebih baik karena terdapat satu molekul air di
struktur theofilin sehingga pada saat kontak dengan air akan lebih cepat
tercampur karena adanya ikatan hydrogen antara molekul air yang terdapat di
theofiline dengan molekul air dari medium.

VIII. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan didapatkan hasil %disolusi kloramfenikol metanol
lebih baik dibandingkan kloramfenikol, dilihat dari kurva baku dan
peningkatan absorbansi dari waktu 0 sampai 30 menit, absorbansinya semakin
meningkat sehingga %disolusinya juga semakin meningkat.

13
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2007. teori dan praktek farmasi industri edisi 3. Jakarta : UI Martin.


1993. Praktikum Biofarmasi: Jakarta UI.
Ansel.1985. Pharmaceuticals Dosage Forms and drugs. Philadelphia :Lippicontt
William and Wilkins.
Shargel, Leon dan Andrew . 1998.Biofarmasi dan Farmakokinetika Terapan.
Edisi II. Surabaya : Airlangga University Press.
Voigt, R.,1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh
Soewandhi, S.N., UGM Press, Yogyakarta

14