Anda di halaman 1dari 7

PEMODELAN KESESUAIAN HABITAT

BADAK JAWA (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822)


DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

Penyebaran badak jawa di dunia terbatas di Indonesia dan Vietnam. Di


Indonesia, badak jawa hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)
dengan populasi relatif kecil, yaitu kurang dari 44 ekor (Ellis 2010). Sedangkan
populasi badak jawa yang ada di Vietnam sudah dinyatakan punah akibat perburuan
(IRF 2011, WWF 2012). Untuk menyelamatkan badak jawa di TNUK perlu adanya
langkah strategis dan rencana tindakan konservasi dalam jangka panjang secara insitu
yang secara operasional mampu mempertahankan dan mengembangkan populasi
tersebut pada suatu tingkat yang aman dari ancaman kepunahan. Strategi yang
dimaksud adalah membuat rumah kedua (second habitat) bagi badak jawa
(Rahmat 2009).
Didalam jurnal ini penulis menggunakan data citra satelit dan teknologi GIS
dibantu dengan studi lapangan untuk menganalisis kondisi habitat dan memprediksi
habitat yang sesuai bagi badak jawa di TNUK. Pemodelan kesesuaian habitat
memprediksi kesesuaian habitat bagi spesies berdasarkan penilaian atribut habitat
seperti struktur habitat, tipe habitat dan pengaturan spasial antara komponen habitat.
Model kesesuaian habitat telah menjadi alat yang digunakan baik untuk memahami
karakteristik habitat yang berbeda, mengevaluasi kualitas habitat dan
mengembangkan strategi pengelolaan satwa liar (Austin 2002).
Penelitian ini dilakukan penulis bertujuan untuk (1) mengidentifikasi komponen
habitat yang berpengaruh penting terhadap keberadaan badak jawa di TNUK dan (2)
menganalisis tingkat kesesuaian habitat badak jawa (R. sondaicus) di TNUK
menggunakan GIS.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode skoring pada setiap
klasifikasi penilaian antara lain, yakni:

Kesesuaian Habitat Berdasarkan Kemiringan Lereng (slope)


Jarak dari rumpang
Kesesuaian Habitat Berdasarkan Jarak dari Kubangan
Kesesuaian Habitat Berdasarkan Jarak dari Pantai
Analisis Kesesuaian Habitat
Validasi Hasil

Pada penelitian ini penulis menemukan bahwa sebagian besar kawasan TNUK
masih merupakan habitat yang baik dan sesuai bagi kehidupan badak jawa dengan
tingkat kesesuaian tinggi maupun sedang dan pada penelitian menggunakan model ini
penulis menemukan hasilkan luasan areal yang memiliki kelas kesesuaian tinggi
sebesar 65,2%, kelas kesesuaian sedang 23,7% dan kelas kesesuaian rendah 11%.
Model kesesuaian habitat ini memiliki validitas yang sangat tinggi (88,57%).

ANALISIS SPASIAL DEGRADASI HUTAN DAN DEFORESTASI:

Studi Kasus di PT. Duta Maju Timber, Sumatera Barat

Dalam kondisi krisis multi-dimensi yang berkepanjangan yang dimulai sejak


tahun 1998 yang disertai dengan euforia kebebasan yang tidak terkendali, dan
pertumbuhan ekonomi yang negatif telah menyebabkan meningkatnya jumlah
pengangguran dan proporsi masyarakat miskin yang demikian pesat yang pada
akhirnya telah mendorong masyarakat untuk mencari solusi instan dengan cara-cara
yang kurang bijaksana dan bahkan ilegal.

Adanya perubahan kewenangan pemerintah pusat dan daerah yang cukup besar
dan tidak disertai dengan persiapan kelembagaan yang memadai telah menyebabkan
pemerintah kehilangan kontrol di bidang pengawasan hutan. Kondisi ini telah
mengakselerasi laju degradasi hutan dan deforestasi baik karena adanya penebangan
liar (illegal loging), maupun perambahan hutan (forest encroachment) dengan cara
tebang- bakar (slash and burning) untuk dijadikan lahan-lahan pertanian.

Di Pulau Sumatera luas tutupan hutan pada tahun 2002 diperkirakan tersisa
sekitar 18,37 juta ha (38,4%) dari luas daratan. Jika laju degradasi dan deforestasi
hutan tidak dicegah maka dalam hitungan 10 tahun hutan di Sumatera akan habis.
Demikian pula dengan kondisi di Kalimantan yang mempunyai laju deforestasi 8,9%
dan luas hutan 30,6 juta ha keberadaan hutan perlu mendapatkan perhatian yang
serius. Di pulau Sumatera laju deforestasi yang ada pada periode 2000- 2004 cukup
fantastis 2,9% jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Kalimantan yang hanya 0,9%
dan Papua Barat 2%.

Penelitian ini dilakukan penulis bertujuan untuk (1) mendeteksi perubahan tutupan
hutan selama kurun waktu 3 tahun (1999 dan 2003) berbasis penginderaan jauh
menggunakan citra TM. (2) Membangun model spasial peluang terjadinya deforestasi
dan degradasi hutan baik akibat penebangan resmi maupun penebangan
illegal/tanpa ijin.

Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data-data tahun 1999-2002 sebagai


acuan penilaian terhadap model yang akan di tujukan pada penelitian yang dilakukan.
Penulis menggunakan metode post-classification comparison. Adapun data-data
tersebut sebagai berikut:

Klasifikasi Tutupan Lahan Tahun 1999 dan 2002


Transisi Perubahan Tutupan Lahan dari Tahun 1999 ke Tahun 2002
Rektifikasi citra tahun 2002 menggunakan peta rupa bumi digital skala
1:50.000

Pada penelitian ini penulis menemukan bahwa selama kurun waktu 3 tahun (1999 -
2002), telah terjadi degradasi hutan (hutan primer ke HBT). Sebagian besar (95%)
dari hutan primer yang ada pada tahun 1999 (2.046 Ha) telah berubah, diantaranya
seluas 1.449 Ha mengalami degradasi sedangkan sisanya mengalami deforestasi.
Selama kurun waktu 3 tahun juga diketahui telah terjadi deforestasi pada HBT
dengan perubahan sekitar 4,6% atau (1,5 % per tahun) Peluang/kemungkinan
terjadinya degradasi hutan dan deforestasi sangat dipengaruhi oleh umur HBT,
jarak dari pusat-pusat pemukiman, jarak dari jalan dan sungai. Semakin baru (kecil)
umur HBT dan semakin dekat dengan pusat-pusat permukiman, peluangnya semakin
tinggi, sebaliknya semakin dekat dari jalan dan sungai maka peluangnya rendah.
PEMODELAN SPASIAL RESILIENSI EKOSISTEM GUNUNGAPI MERAPI
PASCA ERUPSI

Erupsi gunung api merupakan bencana/kerusakan alam dengan konsekuensi


kerusakan yang bervariasi dan kompleks. Erupsi menciptakan mosaik kerusakan yang
merupakan variasi respon biotik terhadap aktivitas gunungapi. Perilaku tanaman
pionir memenuhi permukaan lahan gunungapi pasca erupsi menunjukkan pola-pola
suksesi yang berbeda.

Holling memperkenalkan kata resiliensi dalam pustaka ekologi sebagai suatu


cara untuk memahami dinamika non-linier yang dapat diamati dalam sebuah
ekosistem. Resiliensi ekologi didefinisikan sebagai besarnya gangguan yang dapat
diantisipasi oleh suatu ekosistem tanpa mengubah proses-proses dan struktur
ekosistemnya (Gunderson, 2000).

Resiliensi ekosistem dapat dimodelkan dan diukur dari berkurang atau


bertambahnya luasan tutupan, kerapatan, produktivitas vegetasi atau ukuran-ukuran
atribut vegetasi lainnya. Indikator perubahan tutupan dan atribut vegetasi ini dapat
dilihat dari karakteristik spektral dan tekstur dari citra satelit dengan analisis
penginderaan jauh (PJ) dan sistem informasi geografis (SIG).

Gunungapi Merapi yang bererupsi pada tahun 2006 dan 2010 merupakan
salah satu contoh ekosistem gunungapi yang dapat menjadi sumber pelajaran dan
pemahaman tentang resiliensi spasial pasca erupsi. Kerusakan yang besar dan tiba-
tiba, misal dalam bentuk erupsi, dapat menghilangkan resiliensi suatu eksositem dan
menjadikan ekosistem ini bergeser ke kondisi yang lain (Scheffer et al., 2001)
menjadikan pemahaman resiliensi spasial ekosistem gunungapi menjadi penting.

Penelitian ini dilakukan penulis bertujuan untuk memodelkan sebaran spasial


resiliensi ekosistem hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi lima tahun
pasca erupsi dan intervensi restorasi menggunakan penginderaan jauh multi temporal
dan analisis spasial. Pemodelan resiliensi spasial ini diperlukan sebagai salah satu
sarana untuk mengukur keber- hasilan kegiatan restorasi yang merupakan bentuk
intervensi manusia dalam pengembalian fungsi ekosistem gunungapi ke kondisi
sebelum terjadinya erupsi.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode object-based


classification. Pada penelitian ini penulis melakukan beberapa analisis sebagai
berikut :

Penafsiran Citra Penginderaan Jauh


Transisi/Perubahan Tutupan Lahan
Resiliensi Spasial TNGM
Analisis Resiliensi

Pada penelitian ini penulis menemukan bahwa hasil analisis data


penginderaan jauh multi- temporal 2003-2015 dan pemodelan spasial, Taman
Nasional Gunung Merapi saat ini mengalami masa transisi revegetasi dari lahan
terbuka menjadi tutupan berupa rumput, semak belukar, dan hutan sekunder.
Pemodelan spasial juga menunjukkan bahwa percepatan perbaikan/revegetasi/proses
transisi resiliensi eko- sistem pasca erupsi 2006 dan 2010 di kawasan Taman
Nasional Gunungapi Merapi dengan intervensi restorasi tidak selalu dapat dideteksi.
dengan penginderaan jauh maupun secara langsung di lapangan dalam jangka pendek
(dua dan lima tahun).
Pemodelan Spasial Resiko Kebakaran Hutan (Studi Kasus
Provinsi Jambi, Sumatera)

Selama satu dasawarsa terakhir di Provinsi Jambi telah terjadi dua kali
kebakaran hutan dengan skala yang cukup besar dan menyita perhatian pemerintah.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan 2006, pada tahun 2003 di Provinsi Jambi
terdeteksi titik panas (hotspot) sebanyak 1.678 titik dengan luas kawasan hutan yang
terbakar 3.025 hektar dan terulang kembali tahun 2006 dengan jumlah titik api
sebanyak 6.948 titik yang tersebar di 8 wilayah kabupaten di Provinsi Jambi dengan
luas total 2.408,10 hektar dengan komposisi 1.227,60 hektar di kawasan hutan dan
sisanya seluas 1.180,50 hektar pada lahan masyarakat atau di luar kawasan hutan.

Ketiadaan peta resiko kebakaran hutan menyebabkan pengendalian kebakaran


hutan mengalami kendala dalam memahami dinamika kejadian kebakaran hutan, dan
menentukan prioritas tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan.
Kampanye dan penyuluhan penyadartahuan masyarakat menjadi tidak terarah dan
bahkan sering tidak tepat sasaran. Selain itu, patroli hotspot dan pengendalian api
tidak dapat direncanakan dengan lokasi dan tata waktu yang efektif. Berpijak pada
kondisi tersebut maka perlu pengembangan model spasial resiko kebakaran hutan
dengan output peta resiko kebakaran hutan sebagai basis referensi tindakan
pengendalian kebakaran hutan.

Dalam Penelitian ini penulis menerapkan 3 (tiga) tahap analisis yaitu: analisis
tabulasi silang (cross-tabulation), analisis regresi, dan analisis spasial integrasi antara
Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis. Penulis menetapkan beberapa
variabel yang memungkinkan terjadinya kebakaran:
Variabel terikat/dependen (jumlah titik panas)
Penutupan lahan
Jenis tanah (gambut dan non-gambut)
Ketinggian (m)
Kelerengan (%)
Jarak dari desa (km)
Jarak dari sungai (km)
Jarak dari jalan (km)
Jarak dari Daops Manggala Agni (km)

Pada penelitian ini penulis menemukan bahwa Kawasan hutan yang memiliki
resiko tinggi kebakaran hutan adalah kawasan hutan produksi dengan luas mencapai
610.503,02 km2, atau 65 % total hutan produksi di Jambi. Sedangkan Kawasan
konservasi di mana terletak taman nasional merupakan kawasan hutan yang
cenderung lebih aman dari kebakaran hutan. Dalam konteks pengendalian kebakaran
hutan, secara umum, penempatan lokasi Daops Brigade Mangala Agni cukup efektif
untuk mengendalikan dan menangani kebakaran hutan di Provinsi Jambi

Mempertimbangkan pertumbuhan penduduk yang pesat yang secara linier


menyebabkan meningkatnya tekanan sumber daya alam, khususnya hutan, maka
diperlukan penelitian lanjutan mengenai dampak perkembangan sosial ekonomi dan
demografi penduduk terhadap degradasi sumberdaya hutan yang salah satunya adalah
kebakaran hutan. Sebuah pemodelan spasial dampak sosial ekonomi perkembangan
penduduk dan kebutuhannya terhadap ancaman degradasi hutan akan sangat berguna
dan melengkapi hasil penelitian ini sekaligus melengkapi referensi kebijakan dalam
pengelolaan dan konservasi sumberdaya hutan.