Anda di halaman 1dari 5

DEFINISI LITERASI MATEMATIKA

Literasi matematis menurut OECD (2003) adalah kemampuan individu (individuals


capacity) untuk mengenal dan memahami peran yang dimainkan matematika dalam
kehidupan nyata, untuk mampu memberikan penilaian dan pertimbangan secara tepat,
memanfaatkan matematika yang dapat memenuhi kebutuhan seseorang menjadi anggota
masyarakat yang konstruktif, peduli, dan mau berpikir.
De Lange (2003), menyatakan bahwa literasi matematis tidak sebatas mencakup
kemampuan melaksanakan sejumlah cara atau prosedur, dan memiliki pengetahuan dasar
matematis yang memungkinkan seorang anggota masyarakat mampu hidup dalam suatu
situasi yang sulit, dan cukup dengan hanya yang mereka perlukan, tetapi juga mencakup
pengetahuan, metode, dan proses matematis, yang dimanfaatkan dalam berbagai konteks
dengan cara yang memberi inspirasi dan membuka wawasan pemikiran.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Matematika (PPPPTK, 2011) mendefinisikan bahwa, Literasi matematis adalah kemampuan
seseorang untuk merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai
konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan
konsep, prosedur, dan fakta untuk menggambarkan, menjelaskan atau memperkirakan
fenomena/kejadian. Definisi literasi matematis tidak sekadar terfokus pada penegtahuan
minimal dalam matematika. Literasi tersebut juga mencakup doing mathematics dan
menggunakan konsep matematis dalam bidang lainnya dan dalam aspek kehidupan sehari-
hari. Dari yang biasa hingga yang tidak biasa, dari yang sederhana hingga yang kompleks.
PISA mentransformasikan prinsip-prinsip literasi matematis menjadi tiga komponen
yaitu komponen konten, proses dan konteks. Menurut Stacey (2012), komponen konten dan
proses dijelaskan sebagai berikut:.
Mathematical content categories: quantity; uncertainly and data; change and
relationships; space and shape. Real world context categories: personal; societal;
occupational; scientific.
Mathematical thought and action: Mathematical concept, knowledge, and skills.
Fundamental mathematical capabilities: reasoning and argument; using symbolic,
formal and technical language and operations; using mathematical tools.
Processes: formulate, employ, interpret/evaluate.

Problem in context
evaluate

Mathematical Problem
Formulate
Employ

Interpret

Results in context Mathematical result


Gambar 2.1
Model dari Komponen Proses Literasi Matematis

Selanjutnya komponen-komponen literasi matematis tersebut dijelaskan secara rinci


oleh PPPPTK (2011) yaitu sebagai berikut:
1; Komponen Konten

Dalam studi PISA dimaknai sebagai isi atau materi atau subjek matematika yang
dipelajari di sekolah yaitu meliputi perubahan dan keterkaitan, ruang dan bentuk,
kuantitas, dan ketidakpastian data.
Tabel 2.1
Proporsi Skor Sub-sub Komponen Konten
yang diuji dalam Studi PISA
Komponen Materi yang diuji Skor (%)
Konten Perubahan dan keterkaitan 25
Ruang dan bentuk 25
Kuantitas 25
Ketidakpastian dan data 25

2; Komponen Proses

Dalam studi PISA dimaknai sebagai hal-hal atau langkah-langkah seseorang


untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam situasi atau konteks tertentu dengan
menggunakan matematika sebagai alat sehingga permasalahan itu dapat diselesaikan.
Kemampuan proses didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam merumuskan
(formulate), menggunakan (employ) dan menafsirkan (interpret) matematika untuk
memecahkan masalah yang melibatkan kemampuan dalam komunikasi, matematisasi,
representasi, penalaran dan argumentasai, menentukan strategi untuk memecahkan
masalah, penggunaan bahasa simbol, bahasa formal, dan bahasa teknis sebagai alat
matematika.
Proses yang perlu dilakukan siswa, kemampuan proses didefinisikan sebagai
kemampuan seseorang dalam merumuskan (formulate), menggunakan (employ) dan
menafsirkan (interpret) matematika untuk memecahkan masalah.
Tabel 2.2
Komponen Proses Literasi Matematis
Komponen Kemampuan yang diujikan Skor
Proses Mampu merumuskan masalah secara matematis 25 %
Mampu menggunakan konsep, fakta, prosedur dan 50 %
Penalaran dalam matematika
Menafsirkan, menerapkan dan mengevaluasi hasil 25%
Dari suatu proses matematika
Selanjutnya kerangka penilaian literasi matematis dalam PISA 2012 menyebutkan
bahwa kemampuan proses melibatkan tujuh hal penting sebagai berikut:
a; Communication. Literasi matematis melibatkan kemampuan untuk
mengomunikasikan masalah. Seseorang melihat adanya suatu masalah dan
kemudian tertantang untuk mengenali dan memahami permasalahan tersebut.
Membuat model merupakan langkah yang sangat penting untuk memahami,
memperjelas, dan merumuskan suatu masalah. Dalam proses menemukan
penyelesaian, hasil sementara mungkin perlu dirangkum dan disajikan.
Selanjutnya, ketika penyelesaian ditemukan, hasil juga perlu disajikan kepada
orang lain disertai penjelasan serta justifikasi. Kemampuan komunikasi diperlukan
untuk bisa menyajikan hasil penyelesaian masalah.
b; Mathematising. Literasi matematis juga melibatkan kemampuan untuk mengubah
(transform) permasalahan dari dunia nyata ke bentuk matematika atau justru
sebaliknya yaitu menafsirkan suatu hasil atau model matematika ke dalam
permasalahan aslinya. Kata mathematising digunakan untuk menggambarkan
kegiatan tersebut.
c; Representation. Literasi matematis melibatkan kemampuan untuk menyajikan
kembali (representasi) suatu permasalahan atau suatu obyek matematika melalui
hal-hal seperti: memilih, menafsirkan, menerjemahkan, dan mempergunakan
grafik, tabel, gambar, diagram, rumus, persamaan, maupun benda konkret untuk
memotret permasalahan sehingga lebih jelas.
d; Reasoning and Argument. Literasi matematis melibatkan kemampuan menalar
dan memberi alasan. Kemampuan ini berakar pada kemampuan berpikir secara
logis untuk melakukan analisis terhadap informasi untuk menghasilkan
kesimpulan yang beralasan.
e; Devising Strategies for Solving Problems. Literasi matematis melibatkan
kemampuan menggunakan strategi untuk memecahkan masalah. Beberapa
masalah mungkin sederhana dan strategi pemecahannya terlihat jelas, namun ada
juga masalah yang perlu strategi pemecahan cukup rumit.
f; Using Symbolic, Formal and Technical Language and Operation. Literasi
matematis melibatkan kemampuan menggunaan bahasa simbol, bahasa formal dan
bahasa teknis.
g; Using Mathematics Tools. Literasi matematis melibatkan kemampuan
menggunakan alat-alat matematika, misalnya melakukan pengukuran, operasi dan
sebagainya.
3; Komponen Konteks
Studi PISA dimaknai sebagai situasi yang tergambar dalam suatu permasalahan
yang diujikan yang dapat terdiri atas konteks pribadi (personal), konteks pekerjaan
(occupational), konteks sosial (social) dan konteks ilmu pengetahuan (scientific).
Tabel 2.3
Proporsi Skor Sub-sub Komponen Konteks
yang diuji dalam Studi PISA
Komponen Penamaan konteks Skor (%)
Pribadi 25
Pekerjaan 25
Konteks
Sosial 25
Ilmu pengetahuan 25

Secara spesifik, penilaian literasi matematis yang dilakukan dalam studi PISA (dalam
Maryanti, 2012) terdiri dalam 6 level atau tingkatan. Untuk soal literasi level 1 dan level 2
merupakan kelompok soal dengan skala paling bawah. Soal literasi level 3 dan level 4
termasuk dalam kelompok soal dengan sekala menengah, sedangkan soal literasi level 5 dan
level 6 merupakan kelompok soal dengan skala tinggi. Adapun kemampuan yang diukur dari
masing-masing level adalah sebagai berikut:
1; Level 1
Kemampuan yang diukur pada level ini yaitu kemapuan siswa menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang mencakup konteks-konteks yang familiar, semua informasi yang
relevan disajikan, dan pertanyaan didefinisikan dengan jelas. Siswa dapat
mengidentifikasi informasi dan menyelesaikan prosedur-prosedur yang rutin mengacu
pada intruksi-inttruksi langsung dalam situasi yang eksplisit. Siswa juga dituntut
untuk dapat melakukan tindakan-tindakan yang nyata dan mengikuti stimulus yang
diberikan.
2; Level 2
Kemampuan yang diukur pada level ini adalah kemampuan siswa untuk dapat
menginterpretasikan dan mengenali situasi dalam konteks yang memerlukan
intervensi langsung. Mereka dalam memilih informasi yang relevan dari sumber
tunggal dan menggunakan cara representasi tunggal.

3; Level 3
Kemampuan yang diukur pada level ini yaitu siswa dituntut memiliki kemampuan
untuk dapat melaksanakan prosedur dengan baik, termasuk prosedur yang
memerlukan keputusan secara beruntun. Siswa dapat memilih dan menerapkan
strategi pemecahan masalah yang sederhana.
4; Level 4
Kemampuan yang diukur pada level ini yaitu kemampuan siswa bekerja secara efektif
dengan model dan situasi kongkret tetapi kompleks. Siswa dapat memilih dan
mengintegrasikan dan representasi yang berbeda dan menghubungkan ke dalam dunia
nyata.
5; Level 5
Kemampuan pada level ini yaitu siswa dituntut untuk dapat bekerja dengan model
untuk situasi yang kompleks, mengidentifikasi kendala yang dihadapi dan melakukan
dugaan-dugaan. Mereka dapat memilih, membandingkan, dan mengevaluasi sesuai
dengan strategi pemecahan masalah dalam menghadapi masalah-masalah kompleks
yang berhubungan dengan model tersebut.
6; Level 6
Kemampuan yang diukur pada level ini yaitu kemampuan siswa untuk dapat
mengkonsep, mengeneralisai dan memanfaatkan informasi berdasarkan penyelidikan
dan pemodelan dalam situasi masalah yang kompleks. Siswa dapat menghubungkan
sumber-sumber informasi yang berbeda dengan fleksibel dan menerjemahkannya.

Dalam Literacy Foundations Mathematics curriculum (2010) menjelaskan bahwa:


Tabel 2.4
Literacy Foundations Mathematics Level 5

Bentuk dan ruang


Pengukuran Diharapkan siswa mampu: Menjelaskan proses untuk menentukan
keliling dan luas lingkaran
Dua dan tiga dimensi Diharapkan siswa mampu: Menghitung volume prisma segitiga,
silinder, kerucut, dan piramida
Transformasi Diharapkan siswa mampu: Mengidentifikasi dan plot poin dalam
empat kuadran dari sebuah Cartesian menggunakan pasangan