Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Karakteristik Anak Sekolah Dasar

Anak Sekolah Dasar adalah anak yang berusia 7-12 tahun, memiliki fisik

lebih kuat mempunyai sifat individual serta aktif dan tidak bergantung dengan orang

tua. Biasanya pertumbuhan anak putri lebih cepat daripada putra. Kebutuhan gizi

anak sebagian besar digunakan untuk aktivitas pembentukan dan pemeliharaan

jaringan. Beberapa karakteristik anak sekolah yaitu :

Pertumbuhan tidak secepat bayi

Gigi merupakan gigi susu yang tidak permanen (tanggal)

Lebih aktif memilih makanan yang disukai

Kebutuhan energi tinggi karena aktivitas meningkat

Pertumbuhan lambat

Pertumbuhan meningkat lagi pada masa pra remaja

Anak pada golongan umur 7-12 tahun atau anak sekolah ini mempunyai

karakteristik mulai mencoba mengembangkan kemandirian dan menentukan batasan-

batasan atau norma. Disinilah variasi individu mulai lebih mudah dikenali seperti

pertumbuhan dan perkembangan, pola aktivitas, kebutuhan zat gizi, perkembangan

kepribadian, serta asupan makanan. (Judiono, 2003)

Anak sekolah biasanya banyak memiliki aktivitas bermain yang menguras

banyak tenaga, dengan terjadinya ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan

keluar, akibatnya tubuh anak menjadi kurus. Untuk mengatasinya harus mengontrol

waktu bermain anak sehingga anak memiliki waktu istirahat cukup. Tumbuh

Universitas Sumatera Utara


kembangnya anak seklah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas

dan kuantitas yang baik serta benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut

pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan

dengan sempurna. (Moehji, 2003)

2.2. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Sekolah

Selama usia sekolah, pertumbuhan dan perkembangan anak relatif stabil

dibandingkan dengan masa bayi atau remaja yang sedang mengalami pertumbuhan

cepat. Pertambahan berat badan setiap tahun rata-rata sekitar 7 pounds (3 3,5 kg)

dan pertambahan tinggi badan setiap tahun rata-rata sekitar 2,5 inches (6 cm).

(Soetjiningsih, 1995)

Kecepatan pertumbuhan anak wanita dan laki-laki hampir sama pada usia 9

tahun. Selanjutnya, antara usia 10 12 tahun, pertumbuhan anak wanita mengalami

percepatan lebih dahulu karena tubuhnya memerlukan persipan menjelang usia

reproduksi. Sementara anak laki-laki baru dapat menyusul dua tahun kemudian.

Puncak pertambahan berat badan dan tinggi badan wanita tercapai pada usia masing-

masing 12,9 dan 12,1 tahun. Sedangkan pada laki-laki terjadi pada 14,3 dan 14,1

tahun. (Arisman, 2004)

Pada usia early childhood terjadi peningkatan persen lemak tubuh minimal

sebesar 16% pada wanita dan 13% pada laki-laki. Peningkatan persen lemak tubuh ini

digunakan sebagai persiapan untuk menghadapi growth spurt pada usia remaja.

Peningkatan persen lemak tubuh terjadi bersamaan dengan pubertas awal dan lebih

tinggi pada wanita dibandingkan dengan pria. Peningkatan lemak tubuh pada anak

Universitas Sumatera Utara


wanita menyebabkan mereka memiliki potensi untuk mengalami obesitas. Oleh

karena itu, dibutuhkan kepedulian orang tua untuk menyakinkan anak bahwa

peningkatan lemak tubuh tersebut merupakan proses dari pertumbuhan dan

perkembangan normal dan hanya bersifat sementara. (Soetjiningsih, 1995)

Perkembangann anak meliputi perkembangan motorik kasar, motorik halus,

bahasa, kognitif, dan sosial, motorik kasar digunakan untuk duduk, berdiri, menjaga

keseimbangan fisik, berlari, serta mengubah posisi. Perkembangan fisiologi seperti

koordinasi motorik, kekuatan otot dan stamina akan mengalami peningkatan secara

progresif. Anak mulai memiliki kemampuan untuk mengikuti aktivitas fisik seperti

menari dan olahraga. Meningkatnya koordinasi motorik akan meningkatkan

perkembangan ketrampilan makan pada anak. Anak mulai dapat menggunakan

peralatan makan sendiri, menyiapkan sendiri makanannya, dan membantu mengatur

meja makan. Kegiatan tersebut membuat anak mulai belajar untuk beperan dalam

keluarga. (Soetjiningsih, 1995)

Tujuan utama dari perkembangan pada usia middle Childhood adalah self-

efficacy yaitu berhubungan dengan apa yang diketahui anak dan bagaimana cara

mereka untuk melakukannya. Pada usia sekolah, anak mengalami tahap perubahan

perkembangan dari preoperational ke concrete operation yang ditandai oleh

kemampuan lebih fokus terhadap sesuatu hal, kemampuan untuk memberikan alasan

yang lebih rasional untuk suatu masalah, kemampuan untuk mengelompokkan dan

menggeneralisasi sesuatu hal, dan penurunan sifat mau menang sendiri sehingga anak

mulai dapat melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Pada tahap ini anak juga

mulai mengembangkan kepribadiannya, meningkatkan kemandirian, dan belajar

Universitas Sumatera Utara


tentang perannya dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Hubungan dengan teman

sebaya menjadi sangat penting dan mulai memisahkan diri dari keluarga. Mereka

lebih senang untuk menghabiskan waktu bersama dengan teman atau melakukan

aktivitas lain yang disukainya, seperti menonton televisi atau bermain video games.

(Soetjiningsih, 1995)

2.3. Kebiasaan Makan Anak Sekolah

Perilaku makan dan pilihan makanan anak pada usia sekolah sangat

dipengaruhi oleh orangtua dan saudaranya yang lebih tua. Orangtua bertanggung

jawab terhadap situasi saat makan di rumah, jenis dan jumlah makanan yang disajikan

dan waktu makan anak. Dibutuhkan perilaku positif dari orangtua dan keluarga secara

berkelanjutan untuk menunjukkan dan memberikan contoh perilaku makan yang

sehat. Orangtua juga harus memberikan bimbingan dan nasehat supaya anak dapat

memilih pilihan makanan yang baik dan sehat saat mereka makan di luar rumah.

(Brown, 2005)

Pada usia SD, anak semakin mandiri sehingga mereka lebih sering

mengkonsumsi snack di luar rumah. Mereka juga mulai dapat memilih dan membeli

sendiri menu untuk makan siangnya. Anak mulai menyadari bahwa makanan yang

sehat dan bergizi baik untuk kesehatan tubuh mereka tetapi mereka belum

mengetahui lebih lanjut bagaimana proses tersebut dapat berlangsung di dalam tubuh.

(Pipes, 1993)

Pada masa ini anak banyak mengkonsumsi makanan ringan (snack) karena

umumnya anak tidak dapat mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar dalam satu

Universitas Sumatera Utara


waktu sehingga memerlukan snack untuk memenuhi kebutuhan gizinya. (Brown,

2005)

Anak mulai memiliki kebiasaan mengkonsumsi makanan tertentu serta mulai

ada rasa suka atau tidak suka terhadap makanan tertentu. Selain itu, dalam memilih

makanan anak juga banyak mendapat pengaruh dari luar keluarga. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan pada anak SD, diperoleh bahwa 40% anak tidak makan

sayur, 20% tidak makan buah dan 36% makan snack. (Worthington and Roberts,

2000)

Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi atau memperburuk keadaan gizi

ada anak sekolah dasar, faktor yang pertama yaitu pada usia ini anak sudah dapat

memilih dan menentukan makanan yang disukai atau tidak. Faktor yang kedua adalah

kebiasaan anak untuk jajan. Faktor yang ketiga adalah malas makan di rumah dengan

alasan sudah terlalu lelah bermain di sekolah. (Moehji, 2003)

2.4. Kebutuhan Gizi Anak Sekolah Dasar

Kecukupan zat gizi dari makanan merupakan faktor utama yang

mempengaruhi keadaan gizi seseorang. Zat gizi yang masuk ke dalam tubuh harus

mencukupi. Zat gizi yang diberikan pada anak sekolah dasar sebaiknya seimbang,

dalam arti sesuai dengan umur dan jenis bahan makanan (karbohidrat, protein, dan

lemak). (Judarwanto, 2005)

Usia anak sekolah dasar yaitu anak usia 7 sampai 12 tahun. Pada masa ini

anak diharapkan mempelajari keterampilan tertentu baik kurikuler maupun ekstra

kulikuler yang meliputi ketrampilan membantu diri sendiri, ketrampilan sekolah dan

Universitas Sumatera Utara


ketrampilan bermain. Masa ini disebut juga Gang Age atau masa suka berkelompok

karena bagi anak usia ini peran kelompok sebaya sangat berarti baginya (santoso,

2004)

Anak usia sekolah membutuhkan zat gizi lebih banyak untuk pertumbuhan

dan aktivitasnya, dimana pertumbuhan fisik, intelektual, mental, dan sosial terjadi

secara cepat, sehingga golongan umur ini perlu mendapat perhatian khusus. Faktor

kecukupan gizi ditentukan oleh kecukupan konsumsi pangan, sedangkan pada saat

tersebut anak cenderung lebih aktif untuk memilih makanan yang disukainya sebagai

akibat makin meluasnya pergaulan anak di sekolah, anak sering kali salah memilih

makanan. Hal ini perlu diperhatikan, karena kebiasaan makanan yang di konsumsi

sejak masa anak-anak akan membentuk pola kebiasaan makan selanjutnya. (Hermina,

dkk, 1997)

Pada umumnya kelompok umur ini mempunyai kesehatan yang lebih baik

dibandingkan dengan kesehatan anak balita. Masalah-masalah yang timbul pada

kelompok ini antara lain : berat badan rendah, defisiensi Fe (kurang darah) dan

defisiensi vitamin E. Masalah ini timbul karena pada umur-umur ini anak sangat aktif

bermain dan banyak kegiatan, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah

tangganya. Dipihak lain anak kelompok ini kadang-kadang nafsu makan mereka

menurun sehingga konsumsi makanan tidak seimbang dengan kalori yang diperlukan

(Notoatmojo, 2003).

Tubuh manusia memerlukan berbagai macam zat gizi yang berguna untuk

kelangsungan hidup, untuk itu diperlukan zat-zat gizi yang cukup/sempurna dalam

makanan sehari-hari agar dapat hidup dengan normal, sehat dan cerdas. Kebutuhan

Universitas Sumatera Utara


gizi anak usia sekolah dasar sesuai dengan kecukupan gizi yang dianjurkan menurut

kelompok umur dan jenis kelamin sebagai berikut :

Kebutuhan energi

Pada kelompok umur 7-9 tahun kecukupan energi yang dibutuhkan sebesar

1900 kalori dan untuk kelompok umur 10-12 tahun kecukupan energi antara

laki-laki dan perempuan dimana untuk laki-laki sebesar 2000 kalori dan untuk

wanita sebesar 1900 kalori. Perbedaan ini di dasarkan pada ukuran tubuh,

aktifitas dan angka percepatan pertumbuhan

Kebutuhan protein

Protein diperlukan untuk pertumbuhan otot dan pembentukan darah beserta

komponen-komponen bersama zat besi. Kebutuhan protein yang dinajurkan

adalah 10-15% dari total kalori yang dibutuhkan berdasarkan pola makan

sekitar setengah dari 10-15% tersebut berasalkan dari pangan hewani.

Tabel 2.1
Kecukupan Gizi (Energi dan Protein) yang dianjurkan bagi anak usia sekolah
dasar di Indonesia.

Gol. Umur (tahun) BB (Kg) TB (Cm) Enegri (kalori) Protein (Gram)


79 24 120 1900 37
10 12 (laki-laki) 30 135 2000 45
10 12 (perempuan) 35 140 1900 54
Sumber: Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi 1998 (Supariasa, dkk. 2001)

Menyadari anak sekolah dasar adalah sumber daya manusia yang sedang

dalam masa pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental-emosional

maka perlu ditunjang adanya pemenuhan zat gizi yang sesuai kebutuhan dan

Universitas Sumatera Utara


kecukupan yang dianjurkan. Di dalam mengkonsumsi makanan jika terjadi

ketidakseimbangan antara konsumsi makanan yang masuk dengan penggunaan zat

gizi yang dikeluarkan akan terjadi gangguan pada tubuh seperti tubuh menjadi lesu,

lemah dan tidak bergairah.

2.5. Defenisi Status Gizi

Status gizi merupakan ekspresi dari keseimbangan antara makanan yang

masuk kedalam tubuh sebagai zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (Supariasa, dkk,

2002). Sedangkan menurut Almatsier (2003) status gizi adalah keadaan tubuh sebagai

akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi adalah tanda-tanda

atau penampilan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara pemasukan gizi disatu

pihak dan pengeluaran oleh organisme di pihak lain.

Status gizi ditentukan oleh dua hal yaitu terpenuhinya semua zat-zat gizi yag

diperlukan tubuh dari makanan dan peranan faktor-faktor yang menentukan besarnya

kebutuhan, penyerapan, dan penggunaan zat-zat gizi. Zat gizi adalah ikatan kimia

yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya. Ada 3 fungsi utama zat giz,i yaitu

menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta mengatur proses-

proses kehidupan. Kebutuhan tubuh akan zat gizi ditentukan oleh beberapa hal yaitu

tingkat metabolisme, tingkat pertumbuhan, aktivitas fisik, perbedaaan daya serap dan

penghancuran zat gizi tersebut dalam tubuh.

2.6. Penilaian Status Gizi

Penilaian status gizi dipakai sebagai landasan untuk pengembangan program

masyarakat dan nasional dalam membantu mengatasi masalah kurang gizi,

Universitas Sumatera Utara


menyediakan jumlahdan jenis pangan yang diperlukan, dan umumnya mendukung

kesehatan penduduk. Untuk menentukan atau menaksir status gizi sesorang, suatu

kelompok penduduk atau suatu masyarakat dilakukan pengukuran-pengukuran untuk

menilai berbagai tingkatan kurang gizi yang ada..

Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan melalui 2 cara yaitu : penilaian

status gizi secara langsung dapat dilakukan melalui penilaian secara, antropometri,

klinis, fisik, dan biokimia. Pengukuran status gizi secara tidak langsung dapat

dilakukan melalui penilaian secara survey konsumsi, data statistik vital, dan faktor

ekologi. (Supariasa, 2001)

2.6.1. Pengukuran Antropometri

Penilaian status gizi dalam penelitian ini menggunakan cara antropometri, jadi

hanya akan dibahas lebih luas mengenai antropometri. Penilaian status gizi secara

antropometri adalah pengukuran status gizi secara langsung yang sering digunakan

dalam masyarakat dengan menggunakan dimensi tubuh dari berbagai tingkat umur

dan tingkat gizi (Supariasa, dkk, 2001). Antropometri gizi adalah berhubungan

dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dan

berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri sangat umum digunakan untuk

menilai status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi

yang penting untuk pertumbuhan tubuh.

Pengukuran antropometri adalah pengukuran terhadap dimensi dan komposisi

tubuh. Beberapa pengukuran antropometri utama yang digunakan anatara lain adalah

tinggi badan (TB), berat badan (BB), lingkar lengan (dengan komponen lemak bawah

Universitas Sumatera Utara


kulit dan otot tulang) dan lipatan lemak bawah kulit. Penilaian status gizi dengan

menggunakan antropometri memiliki kelebihan dan keterbatasan. Beberapa kelebihan

dari antropometri adalah :

1. Relatif Murah

2. Cepat, sehingga dapat dilakukan pada populasi yang besar

3. Objektif

4. Gradable, dapat dirangking apakah ringan, sedang atau berat

5. Tidak menimbulkan rasa sakit pada responden.

Beberapa keterbatasan dari pengukuran antropometri adalah :

1. Membutuhkan data referensi yang relevan

2. Kesalahan yang muncul seperti pada peralatan (belum dikalibrasi), kesalahan

observer (pengukuran, pembacaan, pencatatan)

3. Hanya mendapatkan data pertumbuhan, obesitas, malnutrisi,karena kurang

energi protein, tidak dapat memperoleh informasi karena defisiensi zat gizi

mikro.

2.6.2. Indeks Antropometri

Parameter antropometri merupakan dasar dari penelitian status gizi.

Parametere ini adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain umur, berat

badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada dan lingkar

pinggul, dan tebal lemak di bawah kulit. Kombinasi dari beberapa parameter disebut

indeks antropometri. Beberapa Indeks antropometri yang sering digunakan yaitu :

berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat

Universitas Sumatera Utara


badan menurut tinggi badan (BB/TB). BB/U bermanfaat untuk memberikan

gambaran status gizi seseorang pada saat ini, TB/U memberikan gambaran status gizi

masa lalu, BB/TB merupakan indikator yang baik menilai status gizi saat ini.

Penilaian antropometri terutama bagi siswa sekolah dasar yang sering digunakan

adalah indeks BB/TB dan TB/U, sedangkan untuk indeks BB/U lebih sesuai untuk

BALITA. Perbedaaan penggunaan indeks tersebut akan memberikan gambaran

prevalensi status gizi yang berbeda. (Supariasa, dkk, 2001)

2.6.3. Indeks Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa

tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak,

misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau

menurunnya jumlah makanan yang di konsumsi (Supariasa, 2001). Berat badan

adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana

keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi

terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti perkembangan umur. Sebaliknya

dalam keadaan yang abnormal terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan,

yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Berdasarkan

karakteristik berat badan ini, maka indeks berat badan menurut umur digunakan

sebagai salah satu cara pengukuran status gizi. Mengingat karakteristik berat badan

yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini

(current nutritional status). (Gibson, 2005)

Universitas Sumatera Utara


Indeks BB/U mempunyai beberapa kelebihan anatara lain : lebih mudah dan

lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum, baik untuk mengukur status gizi akut

atau kronis, berat badan dapat berfluktuasi, sangat sensitif terhadap perubahan-

perubahan keci, serta dapat mendeteksi kegemukan. Adapun kekurangan indeks

BB/U, antara lain:

Dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat

edema maupun asites

Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan tradisional, umur sering

ditaksir secara tepat karena pencatatan umur yang belum baik

Memerlukan data umur yang akurat, terutama untuk anak di bawah usia 5

tahun

Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, seperti pengaruh pakaian atau

gerakan anak pada saat penimbangan

Secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial

budaya setempat. Misalnya orang tua tidak mau menimbang anaknya,

Karena dianggap barang dagangan, dan sebagainya.

2.6.4. Indeks Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan

pertumbuhan skeletal. Tinggi badan tumbuh seiring dengan pertumbuhan umur pada

keadaan normal. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang

sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh

defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama.

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan karakteristik tersebut, maka indeks ini menggambarkan status gizi masa

lalu.

Indeks TB/U disamping memberikan gambaran status gizi masa lampau, juga

lebih erat kaitannya dengan status sosial ekonomi. Keuntungan dari indeks TB/U,

antara lain : baik untuk menilai status gizi masa lampau, ukuran panjang dapat dibuat

sendiri, murah dan mudah dibawa, sedangkan kelemahan dari indeks TB/U adalah

tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun, pengukuran relatif sulit

dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehingga di perlukan dua orang untuk

melakukannya, ketepatan umur sulit di dapat. (Supariasa, 2001)

.2.6.5. Indeks Massa Tubuh Menurut (IMT/U)

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menetapkan pelaksanaan

perbaikan gizi adalah dengan menentukan atau melihat. Ukuran fisik seseorang

sangat erat hubungannya dengan status gizi. Atas dasar itu, ukuran-ukuran yang baik

dan dapat diandalkan bagi penentuan status gizi dengan melakukan pengukuran

antropometri. Hal ini karena lebih mudah dilakukan dibandingkan cara penilaian

status gizi lain, terutama untuk daerah pedesaan (Supariasa, dkk., 2001).

Pengukuran status gizi pada anak sekolah dapat dilakukan dengan cara

antropometri. Saat ini pengukuran antropometri (ukuran-ukuran tubuh) digunakan

secara luas dalam penilaian status gizi, terutama jika terjadi ketidakseimbangan

kronik antara intake energi dan protein. Pengukuran antropometri terdiri atas dua

dimensi, yaitu pengukuran pertumbuhan dan komposisi tubuh. Komposisi tubuh

Universitas Sumatera Utara


mencakup komponen lemak tubuh (fat mass) dan bukan lemak tubuh (non-fat mass)

(Riyadi, 2004).

Pengukuran status gizi anak sekolah dapat dilakukan dengan indeks

antropometri dan menggunakan Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U) anak

sekolah.

Rumus IMT

2.7. Klasifikasi Status Gizi

Klasifikasi status gizi harus didasarkan atas ukuran baku (standar reference)

dan terdapat batasan-batasan yang disebut ambang batas. Untuk menentukan

klasifikasi status gizi digunakan Z-skor (standar deviasi). Dalam hal ini standar

deviasi untuk (Z-skor) digunakan untuk meneliti dan memantau pertumbuhan.

Standar deviasi unit ini digunakan untuk mengetahui klasifikasi status gizi seseorang

berdasarkan kriteria yang ditetapkan, antara lain berat badan, umur dan tinggi badan.

Status gizi diklasifikasikan berdasarkan standar atau ukuran baku. Baku

antropometri yang digunakan adalah baku WHO 2007 yang telah di perkenalkan di

Indonesia oleh WHO melalui Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) pada tahun

2009. Pemakaian standar ini didasarkan pada studi di 6 negara di dunia yaitu Brazil,

Ghana, Norwey, Oman, USA dan India. Standar antropometri WHO 2007 lebih dapat

menggambarkan status gizi anak-anak dan remaja di dunia. Klasifikasi status gizi

anak dan remaja menurut WHO 2007 adalah sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara


a) Indeks BB/U
BB normal ( -2 SD s/d 2 SD)
Kurang ( -3 SD s.d <-2 SD)
Sangat Kurang (< - 3 SD)
b) Indeks TB/U
Sangat Tinggi (> 3 SD)
Normal ( -2 SD s/d 3)
Pendek ( -3 SD s/d > -2 SD)
Sangat Pendek (< -3 SD)
c) Indeks IMT/U
Sangat Gemuk (> 3 SD)
Gemuk (> 2 SD s/d 3 SD)
Normal ( -2 SD s/d 2 SD)
Kurus (< -2 s/d -3 SD)
Sangat Kurus (< - 3 SD)

Pengukuran skor simpangan baku (Z-skor) dapat diperoleh dengan

mengurangi nilai individual subjek dengan nilai median baku rujukan pada umur

yang bersangkutan, hasilnya dibagi dengan nilai simpangan baku rujukan, atau

dengan rumus perhitungan Z-skor :

NilaiIndividuSubjek NilaiMedianBakuRujukan
Z skor =
NilaiSimpanganBakurujukan

2.8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Faktor-faktor yang menyebabkan kurang gizi telah di perkenalkan UNICEF

dan telah digunakan secara internasional. Secara umum faktor yang mempengaruhi

status gizi dibagi manjadi dua bagian, yang pertama penyebab langsung yaitu faktor

Universitas Sumatera Utara


konsumsi dan faktor penyakit infeksi yang mungkin di derita olah si anak. Penyebab

gizi kurang tidak hanya disebabkan makanan yang kurang tetapi juga karena

penyakit. Anak yang mendapat makanan yang baik tetapi karena sering sakit diare

atau demam dapat menderita kurang gizi. Demikian pada anak yang makannya tidak

cukup baik maka daya tahan tubuh akan melemah dan mudah terserang panyakit.

Kenyataannya baik makanan maupun penyakit secara bersama-sama mrerupakan

penyebab kurang gizi. (Suharjo, 2000)

Kedua, penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola

pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Ketahanan

pangan adalah kemampuan keluarga untuk memanuhi kebutuhan pangan seluruh

anggota dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya. Pola pengasuhan adalah

kemampuan keluarga untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan terhadap

anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental,dan sosial,

pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan adalah tersedianya air bersih dan sarana

pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh seluruh keluarga. (Suharjo, 2000)

Faktor-faktor tersebut sangat terkait dengan tingkat pendidikan, pengetahuan,

dan ketrampilan keluarga. Makin tinggi pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan

terdapat kemungkinan makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik

pola pengasuhan anak dan keluarga makin banyak memanfaatkan pelayanan

kesehatan yang ada. Ketahanan pangan keluarga juga terkait dengan ketersediaan

pangan, harga pangan dan daya beli keluarga, serta pengetahuan tentang gizi dan

kesehatan.

Universitas Sumatera Utara


Faktor ekonomi merupakan faktor yang paling menentukan terhadap kualitas

dan kuantitas pangan di keluarga. Keluarga dengan pendapatan terbatas, besar

kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanan sejumlah yang dibutuhkan

oleh tubuh. Setidaknya keanekaragaman kurang bisa dijamin, karena dengan ekonomi

terbatas tidak banyak pilihan. (Suhardjo, 2000)

Penelitian menunjukkan bahwa tingkatan ekonomi mempunyai hubungan

yang erat dengan perubahan dan perbaikan konsumsi makanan. Keberadaan makanan

akan berpengaruh terhadap gizi seseorang, tetapi dengan tingakat pendapatan yang

tinggi belum tentu dapat menjamin keadaan gizi yang baik. Rendahnya tingkat

pendapatan merupakan salah satu sebab rendahnya konsumsi pangan dan status gizi.

(Khumaidi, 1994)

Rendahnya pendapatan menyebabkan keluarga tidak mampu membeli pangan

dalam jumlah yang diperlukan. Ada pula keluarga yang sebenarnya mempunyai

penghasilan cukup akan tetapi sebagian anaknya kurang gizi, hal ini di karenakan

cara mengatur belanja keluarga yang kurang baik. Ada juga keluarga yang mampu

membeli bahan pangan dalam jumlah yang cukup tetapi kurang pandai memilih jenis

pangan yang dibeli, berakibat kurangnya mutu dan keanekaragaman makanan.

(Sajogyo, dkk, 1994)

Universitas Sumatera Utara


2.9. Kerangka Konsep Penelitian

Faktor langsung
Konsumsi
Penyakit infeksi

STATUS GIZI ANAK BARU SEKOLAH


BB/U
TB/U
IMT/U

Faktor tidak langsung


Ketahanan Pangan di
keluarga
Pola pengasuhan anak
Pelayanan kesehatan
Kesehatan lingkungan

Dari kerangka konsep diatas yang di teliti adalah tentang status gizi anak baru

masuk sekolah berdasarkan BB/U, TB/U, BB/TB. Sedangkan faktor-faktor yang

mempengaruhi status gizi anak yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung di

dalam penelitian ini tidak di teliti.

Universitas Sumatera Utara