Anda di halaman 1dari 2

Maros dan Karst

Maros dan Pegunungan Sewu adalah sebagian dari kawasan karst di Indonesia yang cukup
dikenal di dunia. Maros dikenal memiliki kekayaan keanekaragaman hewan tertinggi di Asia
Tropika. Sedangkan Pegunungan Sewu memiliki keunikan karena terbentuk dari puluhan ribu
bukit gamping berketinggian 20 hingga 50 meter. Masing-masing bukit berbentuk kerucut
dengan ujung membulat dan lancip dan mempunyai sungai bawah tanah yang membentuk tata
air yang rumit. Karena keistimewaannya, kedua kawasan telah diajukan sebagai salah satu
Warisan Dunia (World Heritage) sejak 2001.

Di kawasan karst dan konservasi ini bisa ditemukan jenis flora dan fauna yang langka. Di sana
masih ditemukan sekitar 280 spesies tanaman, lebih dari 100 spesies kupu-kupu serta ratusan
gua yang dihiasai stalaktit dan stalakmit yang indah.

Penelitian LIPI

Untuk mengidentifikasi seluruh spesies, LIPI bekerja sama dengan lembaga-lembaga ilmiah
seperti Museum Naturalis di Leiden Belanda, Museum Berlin Jerman, Museum Amsterdam
Belanda, dan lembaga-lembaga penelitian di Thailand serta Australia.

Beberapa spesies hewan tersebut memiliki karakter khas troglobit atau hewan yang telah
beradaptasi terhadap lingkungan dalam gua yang gelap gulita serta kelembaban dan suhu yang
relatif konstan. Misalnya, ikan gua Bostrycus sp. dari Gua Saripa di Maros yang buta dan
memiliki tubuh transparan. Ikan yang diperkirakan sebagai jenis baru tersebut ditemukan dari
danau seluas 200 meter persegi dan sedalam 20 meter di dalam gua.

"Dari gua di Maros juga ditemukan isopoda (udang-udangan kecil) air tawar
Cirolana marosina yang buta dan memiliki tubuh transparan," kata Cahyo
Rahmadi, salah satu peneliti yang terlibat dalam ekspedisi. Penemuan ini
menarik sebab sebelumnya belum pernah ditemukan isopoda air tawar di dalam gua.Ditemukan
pula spesies kumbang buta Eustra sp. dari genus Coleoptera di Gua Saripa, laba-laba gua varian
Heteropoda beroni yang berukuran sebesar telapak tangan, serta jangkerik gua Rhaphidophora
sp. yang belum teridentifikasi. Selain itu, terdapat kelelawar berhidung cabang (Nyctmene
cephalotes) dan kelelawar Hipposideros dinops yang hanya hidup di Sulawesi.

Potensi Wisata

Cagar alam Karaenta (+1000 hektar), cagar alam Balusaraung (+ 5.700 hektar), cagar alam
Bantimurung (+1000 hektar), dan taman wisata Bantimurung (20 hektar) serta kawasan wisata
alam Gua Pattunuang (+1.500 hektar).

Goa Leang-leang

NILAI tambah dari goa-goa yang terdapat di gugusan perbukitan Maros-Pangkep tidak hanya
pada ornamen-ornamen bentukan alam, tetapi juga oleh tangan-tangan manusia prasejarah. Di
antara sekian banyak goa yang terdapat di kawasan ini, ada dua goa yang telah di jadikan tempat
wisata oleh Pemerintah Kabupaten Maros, yaitu goa prasejarah Leang-leang.

Kawasan wisata goa prasejarah Leang-leang terletak di perbukitan karts


(kapur) Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jika berangkat dari Kota
Kabupaten Maros, butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di goa itu. Ada
dua goa yang masuk dalam kawasan wisata ini, yaitu Goa Pettae dan Goa Petta Kere.

Penelitian dua naturalis berkebangsaan Swiss, yakni Paul Sarasin dan Fritz Sarasin, pada tahun
1902-1903, kemudian dilanjutkan oleh PV Stein Callenfels, WA Mijsberg, dan Hooijer,
membuktikan bahwa goa-goa yang terdapat di kawasan ini pernah dihuni manusia prasejarah.
Asumsi mereka diperkuat dengan temuan berupa lukisan-lukisan batu, perkakas yang terbuat dari
batu, dan fosil-fosil hewan konsumsi.

Di dalam kawasan wisata Goa Leang-leang seluas 1,5 hektar ini setidaknya terdapat dua ceruk,
yaitu Pettae dan Petta Kere, yang digunakan sebagai tempat tinggal manusia prasejarah. Di
kedua goa ini terdapat situs-situs peninggalan berupa lukisan batu dan perkakas dari batu.

Lihat index susur