Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit campak merupakan salah satu penyakit menular yang masih

menjadi masalah kesehatan bayi dan anak. Penyakit tersebut disebabkan

oleh virus golongan Paramyxovirus. Pada tahun 2013, di dunia terdapat

145.700 orang meninggal akibat campak, sedangkan sekitar 400 kematian

setiap hari sebagian besar terjadi pada balita (WHO, 2015).

Campak adalah penyakit menular dengan gejala prodomal. Gejala

ini meliputi demam, batuk, pilek dan konjungtivitis kemudian diikuti

dengan munculnya ruam makulopapuler yang menyeluruh di tubuh.

Menurut Nugrahaeni (2012), kejadian campak disebabkan oleh adanya

interaksi antara host, agent dan environment. Perubahan salah satu

komponen mengakibatkan keseimbangan terganggu sehingga terjadi

campak. Berdasarkan penelitian Mujiati (2015) dan Giarsawan dkk (2012),

faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian campak yaitu umur, status

gizi, status imunisasi, pemberian vitamin A, pemberian ASI eksklusif,

kepadatan hunian, ventilasi, riwayat kontak, dan pengetahuan ibu.

Menurut Widagdo (2012) penyakit campak dapat mengakibatkan

kematian. Terjadinya kematian dapat dipicu dengan komplikasi penyakit

yaitu bronkhopneumonia yang timbul akibat penurunan daya tahan anak

yang menderita campak.

Cara yang efektif untuk mencegah penyakit campak yaitu dengan

imunisasi balita pada usia 9 bulan. Selama periode 2000-2013, imunisasi

1
campak berhasil menurunkan 15,6 juta (75%) kematian akibat campak di

Indonesia (Kemenkes RI, 2015). Imunisasi campak membuat anak akan

terlindungi dan tidak terkena campak, karena imunisasi dapat memberikan

kekebalan terhadap suatu penyakit termasuk campak (Nugrahaeni, 2012).

Menurut Widagdo (2012), campak sangat mudah menular. Sebesar 90%

penderita memiliki riwayat kontak dengan penderita lain. Penyebaran

virus terjadi melalui droplet besar dari saluran nafas, namun ada juga yang

menular melalui droplet kecil lewat udara yang dihirup. Orang yang

pernah kontak dengan penderita lain biasanya tertular setelah 14-15 hari

dari virus tersebut masuk (Setiawan, 2008). Masuknya virus campak pada

pengungsi dengan orang-orang yang rentan masih cukup tinggi sehingga

dapat mengakibatkan KLB yang berat dengan angka kematian yang tinggi.

Sehingga riwayat kontak sangat berbahaya dan dapat menyebabkan KLB

(Chin,2006). Menurut penelitian Mujiati (2015), anak yang pernah kontak

dengan penderita campak meningkatkan 3,7 kali untuk menderita campak

dibandingkan yang tidak kontak.

Dari data statistik WHO pada tahun 2010 menyebutkan bahwa 1%

kematian pada anak usia dibawah lima tahun disebabkan oleh campak.3

Indonesia termasuk negara berkembang yang insiden kasus campaknya

cukup tinggi. Dari profil kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2010

dilaporkan Incidence Rate campak di Indonesia sebesar 0,73 per 10.000

penduduk. Sedangkan CFR pada KLB campak pada tahun 2010 adalah

0,233.3

2
Menurut Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS)

Nasional pada tahun 2007 prevalensi campak klinis selama 12 bulan

terakhir di Indonesia adalah 1,2 %. Berdasarkan data yang diperoleh dari

Puskesmas Kawal didapatkan bahwa terjadi peningkatan signifikan pada

kasus kejadian Campak di wilayah Tirta Madu desa Malang Rapat

sebanyak 26 kasus dan tergolong pada kejadian luar biasa.

B. Permasalahan

Dari latar belakang diatas diketahui adanya peningkatan kasus campak

di Puskesmas Kawal Perkebunan Kelapa Sawit Tirta Madu Kabupaten

Bintan pada tahun 2017 sebanyak 26 kasus dan tergolong dalam Kejadian

Luar Biasa.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan

kasus campak di Tirta Madu wilayah kerja Puskesmas Kawal

Kabupaten Bintan Tahun 2017

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya hubungan status gizi dengan kejadian campak di

Tirta Madu Kecamatan Kawal yang termasuk dalam wilayah kerja

Puskesmas Kawal Kabupaten Bintan Tahun 2017.

b. Diketahuinya gambaran riwayat imunisasi campak di Tirta Madu

Kecamatan Kawal yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas

Kawal Kabupaten Bintan Tahun 2017.

3
c. Diketahuinya hubungan riwayat kontak dengan kejadian campak di

Tirta madu Kecamatan Kawal yang termasuk dalam wilayah kerja

Puskesmas Kawal Kabupaten Bintan Tahun 2017.

d. Diketahuinya hubungan kepadatan hunian dan sanitasi dengan

kejadian campak di Tirta Madu Kecamatan Kawal yang termasuk

dalam wilayah kerja Puskesmas Kawal Kabupaten Bintan Tahun

2017.

e. Diketahuinya hubungan pengetahuan orangtua terkait kejadian

campak di Tirta Madu Kecamatan Kawal yang termasuk dalam

wilayah kerja Puskesmas Kawal Kabupaten Bintan Tahun 2017.

D. Manfaat

1. Bagi Puskesmas

a. Untuk mendapatkan informasi yang dapat memberikan masukan

agar terjadi penurunan jumlah kasus campak di Puskesmas

Kawal Kabupaten Bintan.


b. Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan

meningkatkan kemampuan petugas dalam melakukan diagnosa

dini, pengobatan yang tepat, rujukan dan upaya untuk mengurangi

faktor risiko serta penularan penyakit campak.


.
2. Bagi masyarakat
a. Mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik di Puskesmas.
b. Memperoleh pengetahuan dan informasi tentang penyakit campak

sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat.


c. Mengetahui pentingnya imunisasi campak dan pemberian vitamin

A.

4
d. Sebagai media komunikasi, informasi dan edukasi tentang Penyakit

campak.

E. Sasaran

Masyarakat yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Kawal

Kabupaten Bintan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

5
Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular, disebabkan

oleh infeksi virus yang umumnya menyerang anak. ditandai oleh tiga

stadium: (1) stadium inkubasi sekitar 10 14 hari; (2) stadium prodromal

dengan enantem ( bercak koplik ) pada mukosa bukkal dan faring, demam

ringan sampai sedangm konjungtivitis ringan, coryza, dan batuk yang

semakin berat; dan (3) stadium akhir dengan ruam macular yang muncul

berturut turut pada leher dan muka, tubuh, lengan dan kaki yang disertai

oleh demam tinggi.1


B. EPIDEMIOLOGI
Penyakit campak dikenal juga sebagai Morbili atau measles,

merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan

oleg virus moblili, 90 % anak yang tidak kebal akan terserang peyakit

campak.2
Di seluruh dunia diperkirakan terjadi penurunan 56% kasus campak

yang dilaporkan yaitu 852.937 kasus pada tahun 2000 menjadi 373.421

kasus pada tahun 2006. Sejak vaksinasi campak diberikan secara luas,

terjadi perubahan epidemiologi campak terutaa di negara berkembang.

Dengan tingginya cakupan imunisasi, terjadi penurunan campak.2


Pada 24 Mei 2011 Centers for Disease Control melaporkan bahwa

Amerika Serikat telah memiliki 118 kasus campak sejauh tahun ini. Dari

118 kasus, 105 (89%) dari 118 pasien belum divaksinasi.5


Di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) morbili

menduduki tempat ke-5 dalam urutan macam penyakit utama pada bayi

(0,7%) dan tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak

usia 1-4 tahun (0,77%).1

6
Kejadian luar biasa morbili lebih sering terjadi di daerah pedesaan

terutama daerah yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya

dalam program imunisasi1


Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 sampai 2002

masih tinggi sekitar 3000-4000 per tahun demikian juga frekuensi

terjadinya kejadian luar biasa tampak meningkat dari 23 kali per tahun

menjadi 174, namun case fatality rate telah dapat diturunkan dari 5,5%

menjadi 1,2%. Umur terbanyak menderita campak adalah <12 bulan,

diikuti kelompok umur 1-4 dan 5-14 tahun.3


Bayi mendapat imunitas transplasenta dari ibu yang telah menderita

campak atau imunisasi campak. Imunitas ini biasanya sempurna selama

umur 4 6 bulan pertama dan menghilang pada frekuensi yang bervariasi.

Walaupun kadar antibodi ibu secara umum tidak dapat dideteksi pada bayi

dengan uji yang biasa dilakukan sesudah umur 9 bulan, beberapa proteksi

menetap, yang mengganggu pemberian imunisasi sebelum umur 15 bulan.

Walau cakupan imunisasi cukup tinggi, KLB campak mungkin saja masih

akan terjadi yang diantaranya disebabkan adanya akumulasi anak-anak

rentan ditambah 15 % anak yang tidak terbentuk imunitas.2

1. Daerah risiko campak 2,9

Yang dimaksud daerah risiko campak yaitu daerah yang berpotensi

terjadinya KLB campak, dilihat dari:

a. Daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah (<80%)


b. Lokasi yang padat dan kumuh
c. Daerah rawan gizi
d. Daerah sulit dijangkau atau jauh dari pelayanan kesehatan
e. Daerah dimana budaya masyarakatnya tidak menerima imunisasi
C. ETIOLOGI 7

7
Virus berada di sekret nasofaring dan di dalam darah, minimal selama

masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam. Virus

tetap aktif minimal selama 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di

dalam pengawetan beku, minimal 4 minggu disimpan dalam temperatur

35C, dan beberapa hari pada suhu 0C. Virus tidak aktif pada pH rendah.
D. CARA PENULARAN 7
Campak menyebar melalui respirasi (kontak dengan cairan dari hidung

orang yang terinfeksi dan mulut, baik secara langsung atau melalui

transmisi aerosol), dan sangat menular. Masa inkubasi terjadi asimtomatik

10-14 hari dari paparan awal. Penderita campak biasanya dapat

menularkan penyakit dari saat sebelum gejala timbul sampai empat hari

setelah ruam timbul.

E. PATOGENESIS 7

Patogenesis Campak tanpa Penyulit

Tabel 1. Patogenesis campak tanpa penyulit

Hari Manifestasi

0 Virus campak dalam droplet kontak dengan permukaan epitel

nasofaring atau kemungkinan konjungtiva infeksi pada sel epitel dan

multipikasi virus.

1-2 Penyebaran infeksi ke jaringan limfatik regional

2-3 Viremia primer

3-5 Multiplikasi virus campak pada epitel saluran nafas di tempat infeksi

pertama dan pada RES regional maupun daerah yang jauh

8
5-7 Viremia sekunder

7-11 Manifestasi pada kulit dan tempat lain yang bervirus, termasuk

saluran nafas

11-14 Virus pada darah, saluran nafas dan organ lain

15-17 Viremia berkurang lalu hilang, virus pada organ menghilang.

9
Gambar 1. Patogenesis campak

F. ANAMNESIS 6

1. Adanya demam tinggi terus menerus 38,5C atau lebih disertai batuk,

pilek, nyeri menelan, mata merah dan silau bila terkena cahaya

(fotofobia), seringkali diikuti diare.


2. Pada hari ke 4-5 demam timbul ruam kulit, didahului oleh suhu yang

meningkat lebih tinggi dari semula. Pada saat itu anak mulai

mengalami kejang demam.

10
3. Saat ruam timbul, batuk dan diare dapat bertambah parah sehingga

anak mengalami sesak nafas atau dehidrasi. Adanya kulit kehitaman

dan bersisik (hiperpigmentasi) dapat merupakan tanda penyembuhan.

G. PEMERIKSAAN FISIK 6

Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari terdiri dari 3

stadium:

1. Stadium prodromal : berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam

yang diikuti dengan batuk, pilek, faring merah, nyeri menelan,

stomatitis dan konjungtivitis. Tanda patognomonik timbulnya

enantema mukosa pipi depan molar tiga disebut bercak koplik


2. Stadium erupsi : ditandai dengan timbulnya ruam makulopapular yang

bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut

dibrlakang telinga kemudian menyebar ke wajah, leher dan akhirnya

ekstremitas.
3. Stadium penyembuhan (konvalesen): setelah 3 hari ruam berangsur-

angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi

kehitaman dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG 6

Darah tepi : jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada

komplikasi infeksi bakteri

11
Pemeriksaan untuk komplikasi :

1. Ensepalopati dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal, kadar

elektrolit darah dan analisis gas darah

2. Enteritis : feses lengkap.

3. Bronkopneumonia : dilakukan pemeriksaan rontgen thorak dan

analisa gas darah.

I. DIAGNOSIS 6
Diagnosis dibuat dari gambaran klinis, selama stadium prodromal, sel

raksasa multinuklear dapat ditemukan pada apusan mukosa hidung. Virus

dapat diisolasi pada biakan jaringan. Angka leukosit cenderung rendah

dengan limfositosis relatif. Pungsi lumbal pada penderita dengan

ensefalitis campak biasanya menunjukkan kenaikan protein dan sedikit

kenaikan limfosit. Kadar glukosa normal. Bercak koplik dan

hiperpigmentasi adalah patognomonis untuk rubeola/campak.

J. DIFERENSIAL DIAGNOSIS 2
Diagnosis banding penyakit campak yang perlu dipertimbangkan

adalah:
1. Rubella (Campak Jerman), terdapat pembesaran kelenjar getah

bening di belakang telinga.


2. DHF atau DBD, dalam 2-3 hari bisa terjadi mimisan, turniket test

(Rumple Leede) positif, perdarahan diikuti shock, laboratorium

menunjukkan trombosit < 100.000/ml dan serologis positif IgM

DHF.
3. Varisella (cacar air), ditemukan vesikula atau gelembung berisi

cairan.

12
4. Alergi obat, kemerahan di tubuh setelah minum obat/ disuntik,

serta gatal-gatal.
5. Miliaria atau keringat buntet : gatal-gatal, bintik kemerahan..
6. Eksantema subitum (campak mini) karena sangat mirip,

kelainannya bersifat diskrit makulopapular berwarna merah tua dan

biasanya timbul di daerah dada pada awalnya kemudian menyebar

ke muka dan ekstremitas. Beda utama dengan campak adalah tidak

adanyabercak koplik.

K. KOMPLIKASI 2,5,6

Sebagian besar penderita campak akan sembuh, komplikasi sering

terjadi pada anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia >20 tahun.

Kasus campak pada penderita malnutrisi dan defisiensi Vitamin A serta

imun defisiensi (HIV), campak dapat menjadi lebih berat atau fatal.

Komplikasi yang sering terjadi yaitu :

2. Enteritis
3. Konjungtivitis
4. Laringitis akut
5. Bronkopneumonia
6. Ensefalitis
7. SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis)
8. Otitis media

L. PENATALAKSANAAN 2,5,6

1. Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus

diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat

simtomatik, dengan pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi,

antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan.

13
Sedangkan pada campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat map.

Di rumah sakit pasien campat dirawat di bangsal isolasi sistem

pernafasan, diperlukan perbaikan keadaan umum dengan memperbaiki

kebutuhan cairan dan diet yang memadai.


2. Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan

disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya

komplikasi.
3. Indikasi rawat : hiperpireksia (suhu > 39C), dehidrasi, kejang,

asupan oral sulit,atau adanya komplikasi


4. Tanpa komplikasi:
a. Tirah baring di tempat tidur
b. Vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, apabila

terdapat malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari


1) Usia 6 bulan 1 tahun : 100.000 unit dosis tunggal p.o.
2) Usia > 1 thn : 200.000 unit dosis tunggal p.o.
3) Dosis dapat diulang pada hari ke-2 dan 4 minggu

kemudian bila telah didapat tanda defisiensi vitamin A.


4) Vitamin A diberikan untuk membantu pertumbuhan epitel

saluran nafas yang rusak, menurunkan morbiditas

campak juga berguna untuk meningkatkan titer IgG dan

jumlah limfosit total.


5. Dengan komplikasi :
a. Bronkopneumonia
1) Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena

dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari

Intravena dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan

pasien dapat minum obat per oral selama 7-10 hari.


2) Oksigen 2 liter/menit.
3) Koreksi gangguan analisis gas darah dan elektrolit
b. Enteritis: koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi
c. Otitis media: disebabkan oleh karena infeksi sekunder,

sehingga perlu diberikan antibiotik kotrimoksazol-

14
sulfametokzasol (TMP 4 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis)
d. Ensefalopati,
1) Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena

dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari


2) Kortikosteroid : deksametason 1 mg/kbb/hari sebagai dosis

awal dilanjutkan 0,5 g/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis sampai

kesadaran membaik (bila pemberian lebih dari 5 hari dilakukan

tappering off).
3) Jumlah cairan dikurangi menjadi kebutuhan serta koreksi

gangguan elektrolit.

M. PENCEGAHAN 1,7

Pencegahan terhadap penyakit campak diantaranya:

1. Menjaga kebersihan dan kesehatan


2. Menghindari kontak langsung dengan penderita lain
3. Imunisasi
Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang

dilemahkan adalah sebanyak 0,5 ml. Cara pemberian yang

dianjurkan adalah subkutan, walaupun dari data yang terbatas

dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular tampaknya

mempunyai efektivitas yang sama dengan subkutan.


Indikasi kontra pemberian imunisasi campak berlaku bagi

mereka yang sedang menderita demam tinggi, sedang mendapat

terapi imunosupresi, hamil, memiliki riwayat alergi, sedang

memperoleh pengobatan imunoglobulin atau bahan-bahan berasal

dari darah.
Imunisasi tambahan MMR , vaksin MMR (Mumps Measles

Rubella) adalah campuran tiga jenis virus yang dilemahkan, yang

15
disuntikkan untuk imunisasi melawan campak (measles),

gondongan (mumps) dan rubella (german measles). Vaksin MMR

umumnya diberikan kepada anak usia 12-15 bulan dengan

booster diberikan sebelum memasuki usia sekolah (4-6 tahun).


Pemberian imunisasi aktif diberikan pada bayi berumur 9 bulan

atau lebih. Program imunisasi campak secara luas baru dikembangkan

plaksanaannya pada tahun 1982. Strategi reduksi campak terdiri

atas :
a. Pengobatan pasien campak dengan memberikan vitamin A.
b. Imunisasi campak :
1) PPI : diberikan pada umur 9 bulan, Imunisasi campak dapat

diberikan bersama vaksin MMR pada umur 12-15 bulan.


2) Mass campaign, bersamaan dengan Pekan Imunisasi

Nasional.
3) Catch up immunization, diberikan pada anak sekolah dasar

kelas 1-6
c. Surveilans

N. PROGNOSIS 5,6

Prognosis baik pada anak dengan keadaan umum yang baik, tetapi

prognosis buruk bila keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita

penyakit kronis, gizi kurang/buruk atau bila ada komplikasi.

Sebagian besar sering terjadi komplikasi termasuk bronkitis, dan

panencephalitis yang berpotensi fatal. Juga, bahkan jika pasien tidak

peduli tentang kematian, orang tersebut dapat menyebarkan penyakit ini

kepada pasien immunocompromised, yang mempunyai risiko kematian

jauh lebih tinggi, karena komplikasi seperti pneumonia.

16
Biasanya sembuh dalam 7-10 hari setelah timbul ruam. Bila ada

penyulit infeksi sekunder/malnutrisi berat akan menyebabkan penyakit

berat. Kematian disebabkan karena penyulit (pneumonia dan ensefalitis).

O. Definisi KLB Campak2,8


1. Tersangka KLB : adanya 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu 4

minggu berturut-turut yang terjadi mengelompok dan dibuktikan

adanya hubungan epidemiologi.


2. Pasti KLB: apabila minimum 2 spesimen positif IgM campak dari hasil

pemeriksaan kasus pada tersangka KLB campak.


3. Penanggulangan KLB
a. Laporkan segera (dalam waktu 24 jam ) kasus-kasus tersangka

campak yang ditemukan dan lakukan kegiatan imunisasi yang

komprehensif bagi semua orang yang rentan untuk mencegah

penularan. Jika terjadi KLB campak di tempat penitipan anak,

sekolah dan perguruan tinggi, maka terhadap semua

orang yang tidak memiliki Catatan vaksinasi pada waktu

bayi dengan 2 dosis dengan interval minimal 1 bulan harus

diimunisasi, kecuali jika mereka memiliki Catatan dari dokter

bahwa mereka pernah menderita campak atau memiliki

bukti laboratorium tentang status imunisasinya.


b. Pemberian Vitamin A dosis tinggi diberikan pada penderita usia 6

bulan- 5 tahun sebanyak 2 kapsul, yaitu kapsul pertama diberikan

saat penderita ditemukan, kapsul kedua diberikan keesokan harinya

sesuai umur penderita.


c. Apabila KLB terjadi di suatu institusi, penghuni baru harus diberi

vaksinasi atau IG.

17
d. Dinegara berkembang, CFR campak masih tinggi. Apabila vaksin

tersedia, pemberian vaksinasi pada awal suatu KLB membantu

mencegah penyebaran lebih lanjut. Apabila persediaan vaksin

terbatas, prioritas harus diberikan kepada anak-anak dengan risiko

yang paling

e. Analisis data KLB


1) Attack Rate (AR) :
Attack Rate merupakan insiden rate, biasanya dinyatakan

dalam persen, digunakan pada populasi terpapar terhadap

campak pada periode waktu terbatas. Attack rate

menggambarkan jumlah kasus campak di populasi terpapar dan

luasnya epidemik
Cara Perhitungan :

2) Case
Attack Fatality
Rate = JumlahRatekasus
(CFR)campak pada kelompok umur x 100 %
Cara perhitungan Case Fatality
Jumlah Populasi Rate(kelompok
at risk yaitu : umur tersebut)

CFR = Jumlah kasus campak Meninggal x 100 %


3) Efikasi Vaksin
Data yangJumlah
didapat kasus
dari penyelidikan
campak epidemiologi

memberikan informasi tentang efikasi vaksin yang dihitung

dengan cara sebagai berikut :

Efikasi Vaksin = AR Tak Imunisasi AR Imunisasi x 100 %

AR Tak Imunisasi

18
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian dan kerangka Konsep

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan

pendekatan observasional dengan cross sectional, yaitu penelitian non

eksperimental yang mempelajari dinamika korelasi faktor-faktor yang

berhubungan dengan kejadian penyakit campak dengan variabel yang

akan diteliti yaitu status gizi, status imunisasi, kepadatan hunian,

ventilasi, riwayat kontak dan tingkat pengetahuan ibu tentang campak

(Sumantri, 2011).

Kerangka konsep pada mini project ini bertujuan untuk

menggambarkan hubungan riwayat kontak dengan kejadian campak di

Tirta Madu tahun 2017. Riwayat kontak merupakan kejadian dimana

penderita pernah terpapar langsung dengan penderita campak lain

(Setiawan, 2010). Penderita bisa tertular melalui udara dengan

penyebaran droplet dari orang-orang yang terinfeksi dan kontak

langsung (Chin, 2006). Campak adalah penyakit infeksi menular yang

disebabkan oleh virus dan dapat mendatangkan komplikasi serius

(Carol,2007).

Bedasarkan konsep di atas, kerangka konseptual pada penelitian

ini menjelaskan variable-variabel yang akan diamati melalui

19
penelitian yang akan dilakukan. Dari uraian di atas dapat dibuat skema

sebagai berikut.

Bagan 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Variabel Dependen Variabel

Independen

Status GIzi

Riwayat Kontak

Sanitasi rumah tinggal Kejadian Campak


Melitus

Riwayat Imunisasi

Tingkat Pengetahuan Oangtua

3.2. Populasi dan Sample

Total populasi anak yang terdaftar di Posyandu Kencana 5

Puskesmas Kawal adalah 146 anak. Adapun tekhnik sampling yang

digunakan pada penelitian ini adalah total sampling sebanyak 26 anak

dengan riwayat campak dan 21 orantua yang anaknya terkena campak

terhitung sejak Januari 2017. Untuk sample kontrol digunakan tekhnik

purposive sampling sebanyak 50 anak.

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian


3.3.1. Lokasi

20
Lokasi penelitian dilaksanakan di Tirta Madu
3.3.2. Waktu
Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal Maret 2017
3.4. Pengumpulan Data
3.4.1. Data Primer
Dengan wawancara menggunakan kuesioner untuk mendapatkan

data tentang penyakit campak, riwayat kontak dan tingkat

pengetahuan orangtua.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh bedasarkan laporan dari kader posyandu di

daerah Tirta Madu. dan data yang diperoleh dari sumber langsung

tetapi data yang telah dikumpulkan oleh petugas program.


3.5. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan melalui tahap- tahap sebagai berikut:
Editing
Editing dilakukan untuk peneliti setiap daftar pertanyaan yang sudah

diisi oleh responden, peneliti melakukan pengecekan terhadap

kelengkapan data-data yang ada.


Coding
Coding yaitu pengklasifikasian dan pemberian kode pada data hasil

jawaban dari setiap pertanyaan sesuai petunjuk coding.


Entry
Entry adalah memasukan data yang diperoleh menggunakan fasilitas

komputer dengan menggunakan system atau program.


Tabulating
Tabulating merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar

dengan mudah dapat dijumlah, disusun dan ditata untuk disajikan dan

dianalisis.
Cleaning ( pembersihan data )
Cleaning adalah membuang data yang sudah tidak terpakai lagi.

21
BAB IV
PROFIL PUSKESMAS

4.1. LETAK GEOGRAFIS


Luas Daerah Kecamatan Gunung Kijang secara keseluruhan adalah

376 KM2 yang secara umum terdiri dari daerah daratan dan sebagian

besar desa terletak di tepi pantai.


UPTD Puskesmas Kawal Kecamatan Gunung Kijang terletak di Jl.

Wisata Bahari KM. 26 Kelurahan Kawal Kecamatan Gunung Kijang,

dimana letaknya yang strategis karena berdekatan dengan instansi

pemerintahan yaitu Kantor Kecamatan Gunung Kijang, Kantor

Kepolisian Sektor Gunung Kijang dan juga berdekatan dengan Unit

Pelaksana Teknis (UPTD) Pelayanan Administrasi Umum Sekolah

Kecamatan Gunung Kijang. UPTD Puskesmas Kawal juga berdekatan

dengan pemukiman masyarakat sekitar.


Kecamatan Gunung Kijang terbagi dalam 1 Kelurahan dan 3 Desa,

yaitu : Kelurahan Kawal yang terdiri dari 20 RT dan 5 RW, Desa

Gunung Kijang terdiri dari 10 RT dan 4 RW, Desa Teluk Bakau

berjumlah 4 RT dan 2 RW dan Desa Malang Rapat terdiri dari 8 RT

dan 3 RW.
Adapun batas-batas wilayah adalah sebagai berikut:
a. Di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Teluk Sebong
b. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bintan Timur
c. Di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Toapaya
d. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tambelan
4.2 SARANA KESEHATAN
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas

pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan, dalam upaya mencapai

tujuan tersebut penyediaan sarana kesehatan merupakan hal yang

penting.

22
Adapun jumlah sarana kesehatan menurut kepemilikan (Pemkab

Bintan) di Kecamatan Gunung Kijang tahun 2016 yaitu Puskesmas

Perawatan: 1 buah, Puskesmas Keliling 2 buah, Polindes: 3 buah,

Pustu: 2 buah, Poskesdes: 1 buah, Posyandu: 15, Desa Siaga: 4 buah.

Terdapat pula 1 buah apotek milik Swasta.

4.3 TENAGA KESEHATAN


1. Jumlah Tenaga Medis
Jumlah tenaga medis di UPTD Puskesmas Kawal Kecamatan Gunung

Kijang Tahun 2016 sebanyak 14 orang yang terdiri dari 1 orang dokter

spesialis anak, 1 orang dokter gigi, 13 orang dokter umum dengan

rincian 1 orang dokter PNS, 2 orang dokter keluarga, 1 orang honor

daerah dan 9 dokter internsip.

2. Jumlah Tenaga Bidan dan Perawat


Jumlah tenaga bidan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kawal

sebanyak 16 orang, terdiri dari 9 orang lulusan Diploma III kebidanan

dan 4 orang D IV kebidanan, sedangkan 3 orang bidan dengan lulusan

D I Kebidanan. Sedangkan tenaga keperawatan sebanyak 16 orang

yang terdiri dari 2 orang nurse, 4 orang sarjana keperawatan, 8 orang

D3 keperawatan dan 2 orang lulusan SPK/sederajat.

3. Jumlah Tenaga Kefarmasian


Jumlah tenaga farmasi di UPTD Puskesmas Kawal Kecamatan

Gunung Kijang Tahun 2016 sebanyak 1 orang apoteker.

4. Jumlah Tenaga Gizi


Jumlah tenaga gizi di UPTD Puskesmas Kawal Kecamatan Gunung

Kijang Tahun 2016 sebanyak 1 orang yitu lulusan D3 Gizi.

23
5. Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Sanitasi
Jumlah tenaga kesehatan masyarakat di UPTD Puskesmas Kawal

Kecamatan Gunung Kijang Tahun 2016 sebanyak 3 orang yang terdiri

dari 1 orang sarjana kesehatan masyarakat jurusan AKK dan 1 orang

sarjana kesehatan masyarakat jurusan K3 serta 1 orang sanitarian

lulusan SPPH.

6. Jumlah Tenaga Teknis Medis dan Fisioterapis


Jumlah tenaga analis laboratorium di UPTD

Puskesmas Kawal Kecamatan Gunung Kijang Tahun 2016 sebanyak 1

orang yaitu dari lulusan D3 Analis Kesehatan.

4.2 PROFIL PERUSAHAAN PERKEBUNAN TIRTA

MADU, BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU


Nama Perusahaan: PERKEBUNAN TIRTA MADU

Alamat:Jl Trikora Km 39 Teluk Bakau Bintan Provinsi Kepulauan

Riau Komoditas: Crude Palm Oil (cpo)

Kelompok Industri: Minyak kasar (minyak makan) dari nabati dan

hewani

Telp. 0771-7000658

24
BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian Hubunga Status Gizi dengan Kejadian Campak

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang hubungan antara

status gizi, riwayat kontak, sanitasi rumah tinggal, status imunisasi, tingkat

pengetahuan orangtua dengan kejadian campak di Puskesmas Kawal tahun

2017 dengan menggunakan design penelitian kasus kontrol, dengan 24

balita yang mengalami campak sebagai kasus dan 76 balita yang tidak

mengalami campak sebagai kontrol, didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 1

Proporsi Status Gizi Anak

Status Gizi Frekuensi Presentase


Baik 84 84%
Kurang 16 16%
Total 100 100%

Gambar 1

25
Dari data diatas tampak bahwa sebagian besar sampel adalah anak dengan

gizi baik sebanyak 84%.

Tabel 2

Hubungan antara Status Gizi Anak dengan Kejadian Campak

Status Gizi * Kejadian Campak Crosstabulation


Kejadian Campak
Tidak

Ya (Kasus) (kontrol) Total


Status Gizi Baik 24 60 84
Kurang 0 16 16
Total 24 76 100

26
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa sampel dengan gizi baik memiliki

frekuensi lebih banyak sejumlah 84 sampel dan sampel dengan gizi kurang

sejumlah 16 sampel.

4.1.1 Analisis Bivariat.

Analisa bivariat yang dilakukan adalah untuk menghubungkan

masing-masing variabel independen dengan variabel dependen dengan

tingkat pemaknaan alpha 0,05

4.1.2. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Campak

Hasil analisis didapatkan odds ratio sebesar 0,714 dengan 95%

confidence interval CI : 0,024 < 0,714 < 0,818 dan nilai P = 0,008

(<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa status gizi memiliki hubungan

dengan kejadian campak dimana anak dengan status gizi kurang

memiliki risiko 0,7 x lebih besar dibandingkan anak dengan status

gizi baik.

4.1.3. Pembahasan

Kekurangan zat gizi merupakan penyebab tidak langsung kematian

pada anak usia 1- 4 tahun di Indonesia, karena terdapat hubungan

tinbal balik antara status gizi kurang dengan penyakit infeksi.

Hubungan timbal balik antara kekurangan gizi dan morbiditas

penyakit infeksi yaitu kekurangan gizi yang berperan dalam sistem

kekebalan tubuh seperti protein dan zat besi, yang menyebabkan

anak lebih rentan terhadap penyakit infeksi (Pudjiadi, 2000).

27
5.2. Hasil Penelitian Hubungan Riwayat Kontak dengan Kejadian Campak
5.2.1. Riwayat Kontak
Distribusi responden bedasarkan riwayat kontak seperti terlihat pada
Tabel 5.1 berikut: Tabel 5.1 Distribusi riwayat kontak Di Tirta
Madu Kecamatan Gunung Kijang Januari-Maret 2017
No Riwayat kontak Frekuensi Persentase (%)
1 Pernah 18 81,8
2 Tidak pernah 4 18,2
Jumlah 22 100

Berdasarkan data diatas terdapat 81,8% yang sudah pernah kontak dengan
penderita campak lain.
5.2.2. Penyakit Campak
Distribusi anak yang menderita penyakit seperti terlihat pada Tabel 5.4
berikut:
Tabel 5.4 Distribusi Penyakit Campak Pada Anak Di Tirta Madu
Kecamatan Gunung Kijang Januari-Maret 2017
No Penyakit Campak Frekuensi Persentase (%)
1 Sakit 17 77,3
2 Tidak sakit 5 22,7
Jumlah 22 100

28
Dari data diatas didapatkan yang mengalami campak sebanyak 17 balita.

5.2.3. Hubungan Riwayat Kontak Dengan Kejadian Campak


Riwayat kontak merupakan kejadian dimana penderita pernah terpapar
langsung dengan penderita campak lain (Setiawan, 2010). Penderita bisa
tertular melalui udara dengan penyebaran droplet dari orang-orang yang
terinfeksi dan kontak langsung (Chin, 2006). Penularan campak sangat
cepat apalagi seseorang yang tidak memiliki kekebalan (Irianto, 2014).
Tabel 5.2 Hubungan Riwayat Kontak Dengan Kejadian Campak Di
Tirta Madu 2017
Variabel Variable Dependen
Independen
No. Riwayat Penyakit campak Total P-
konntak Value
Sakit Tidak
sakit
f % F % n %
1 Pernah 17 94,4 1 5,5 18 100 0,001
2 Tidak 0 0 4 100 4 100
pernah
Total 17 5

29
Hasil uji Chi Square didapatkan nilai p=0,001 <=0,05 maka Ho ditolak,
dengan ada hubungan antara riwayat kontak dengan kejadian campak pada
balita di Tirta Madu Tahun 2017. Diperoleh juga nilai odds ratio sebesar
0,056 dengan (CI 95% = 0,008 s.d 0,373) yang berarti balita yang ada
riwayat kontak memiliki kemungkinan 0,056 kali lebih tinggi berisiko
terkena campak dibandingkan dengan balita yang tidak ada riwayat
kontak. Pada penelitian mini project ini peneliti bertujuan membuktikan
adakah hubungan antara salah satu resiko terjadinya campak yaitu riwayat
kontak pada kasus KLB campak di Tirta Madu pada perode bulan januari-
maret tahun 2017. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Mujiati (2015)
yang menunjukkan adanya hubungan antara riwayat kontak dengan
kejadian campak dengan nilai OR sebesar 3,7 ((95% CI=1,199 s.d 11,545).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang terkena campak lebih
banyak pada balita yang ada riwayat kontak (81,8%). Sebagian besar balita
terkena campak disebabkan karena tertular teman bermainnya di
lingkungan rumah. Hal ini disebabkan karena kebanyakan orang tua balita
belum mengetahui gejala awal dari penyakit campak sehingga masih
banyak anak bersekolah diawal gejala campak seperti suhu badan
meningkat, batuk, pilek dikira sakit demam biasa. Sebagian juga ada yang
tertular teman tetangganya bahkan penderita campak yang tinggal serumah
karena ada rumah yang memang dititipkan anak-anak yang dijaga oleh
seorang Ibu. Hal ini menunjukkan bahwa saat berada di rumah anak
mereka tanpa sengaja kontak dengan penderita campak.
Hasil penelitian Mujiati (2015) menunjukkan adanya hubungan antara
kepadatan hunian dengan kejadian campak. Kepadatan hunian merupakan
persemaian subur bagi virus. Virus campak sangat mudah menular,
lingkungan merupakan salah satu faktor penularan penyakit campak.
Kondisi rumah yang ditempati oleh banyak penghuni atau dengan
kepadatan tinggi akan lebih memudahkan terjadinya penularan virus
campak. Penderita campak dapat tertular oleh penderita yang tinggal
serumah. Apalagi yang rumahnya berpenghuni padat, anaknya bisa tertular
campak dengan cepat.

30
Balita pada kelompok kasus yang ada riwayat kontak disebabkan karena
pernah bermain/bergaul dengan penderita campak lain. Ibu balita kurang
memperhatikan anaknya bermain/bergaul dengan penderita campak lain.
Penderita kebanyakan tertular oleh teman tetangganya bahkan ada yang
kontak dengan penderita campak yang tinggal serumahnya. Hal ini
menunjukkan bahwa saat berada di rumah anak mereka tanpa sengaja
kontak dengan penderita campak. Sedangkan pada kelompok balita yang
pernah riwayat kontak namun tidak terkena campak bisa disebabkan
karena sudah mendapatkan imunisasi maupun ASI eksklusif atau sudah
pernah menderita campak sebelumnya atau faktor resiko yang lain..
Menurut Chin (2006) masa inkubasi sekitar 10 hari sampai timbulnya
demam sekitar 14 hari. Penderita tertular campak setelah bermain/bergaul
dengan penderita campak dalam waktu minimal 14 hari. Setelah 14 hari
bermain/bergaul dengan penderita campak lain, penderita akan baru
muncul tanda tanda penyakit campak.
Cara untuk mencegah agar tidak tertular oleh penderita campak lain
dengan cara menggunakan alat pelindung diri seperti masker. Hal ini
disebabkan karena penularan penyakit campak melalui penularan melalui
udara (airborne disease). Penderita campak sebaiknya diisolasi atau tidak
boleh keluar rumah atau bermain/bergaul dengan orang lain sampai
sembuh agar tidak menularkan ke orang lain.

6.1 Hasil Penelitian Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian


Campak

31
6.1.1 Tingkat Pengetahuan
Distribusi responden bedasarkan tingkat pengetahuan seperti
terlihat pada Tabel 6.1 berikut:

Tabel 6.1 Distribusi tingkat pengetahuan Di Tirta Madu Kecamatan


Gunung Kijang Januari-Maret 2017

Tingkat Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)


1 Baik 5 22.7
2 Kurang 17 77.3
Jumlah 22 100

80 77.3

60

40
22.7
20

0
baik
kurang
tingkat pengetahuan

Dari data diatas tampak bahwa sebagian besar sampel adalah orangtua
dengan tingkat pengetahuan kurang yaitu sebesar 77,3%.

6.1.2 Penyakit Campak

Distribusi anak yang menderita penyakit seperti terlihat pada Tabel 6.2
berikut:

Tabel 6.2 Distribusi Penyakit Campak Pada Balita Di Tirta Madu


Kecamatan Gunung Kijang Januari-Maret 2017

32
No Penyakit Campak Frekuensi Persentase (%)
1 Sakit 15 68,2
2 Tidak sakit 7 31,8
Jumlah 22 100

Kejadian Campak

16
14
12
10
8
6
4
2
0
Sakit
Tidak sakit

Dari data diatas didapatkan yang mengalami campak sebanyak 15 balita.

6.1.2 Hubungan Tingkat Pengetahuan Orangtua dengan Kejadian Campak


Pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Imunisasi
campak adalah pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak. Ibu
ibu harus memiliki pengetahuan yang baik agar patuh dalam membawa
anak untuk di imunisasi campak (Momomuat, 2014). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan orangtua
terhadap kejadian campak Di Tirta Madu Kecamatan Gunung Kijang
Januari-Maret 2017.
Tabel 6.3 Hubungan Tingkat Pengetahuan Orangtua Dengan Kejadian
Campak Di Tirta Madu 2017

Variabel Variable Dependen


Independen

33
No. Tingkat Kejadian campak Total P-
Pengetahuan Value
Tidak Sakit
sakit

f % F % n %

1 Baik 5 100 0 0 5 100 0,002

2 Kurang 2 11,8 15 88,2 17 100

Total 7 15 22 100

Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang terkena campak


lebih banyak pada orangtua yang tingkat pengetahuannya kurang (88,2 %).
Sebagian besar balita terkena campak disebabkan karena orangtua yang
tidak mengerti tentang penyakit campak sehingga tidak mau membawa
anaknya ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi campak. Hal ini
dibuktikan dengan uji statistik (Uji Fisher) didapatkan nilai p=0,002
<=0,05 maka Ho ditolak, dengan begitu ada hubungan antara tingkat
pengetahuan orangtua dengan kejadian campak pada balita di Tirta Madu
Tahun 2017. Hal ini membuktikan ada hubungan antara salah satu resiko
terjadinya campak yaitu tingkat pengetahuan orangtua pada kasus KLB
campak di Tirta Madu pada periode bulan januari-maret tahun 2017
(Puskesmas Kawal, 2017).
Penelitian mini project ini sesuai dengan teori Arifin, 2011 yang
mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan
orang tua membawa anaknya untuk di imunisasi, antara lain orang tua
yang sibuk bekerja, kurang memiliki waktu, bahkan kurang pengetahuan
tentang imunisasi dan perhatian terhadap kesehatan anakpun berkurang,
kurang informasi yang diperoleh oleh masyarakat baik melalui media
massa, media elektronik maupun penyuluhan-penyuluhan serta budaya
yang masih mengandalkan dukun sebagai penolong persalinan, sehingga
tidak ada anjuran kepada ibu bersalin untuk mengimunisasikan bayinya.
Hal ini menjadikan masyarakat tidak mengenal tentang imunisasi.

34
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Pangalo (2010), tingkat pengetahuan yang tinggi lebih mengetahui,
memahami dan patuh dengan apa yang menjadi tanggung jawab untuk
memenuhi kebutuhan anak yaitu dengan mengimunisasikan anaknya
sesuai jadwal yang ditentukan. Demi tahap tumbuh-kembang anak yang
optimal dan terhindar dari penyakit, dapat dicegah dengan imunisasi.

35
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

VI. PENUTUP
6.1 Kesimpulan
6.1.1 Status gizi anak di Tirta Madu tergolong baik dengan prevalensi 84%
gizi baik dan 16 % gizi kurang.
6.1.2 Dari 100 sampel anak didapatkan 24 anak dengan riwayat campak
dimana seluruh anak yang terkena campak memiliki status gizi baik.
6.1.3 Ada hubungan antara status gizi dengan kejadian campak pada anak di
Tirta Madu ( nilai p=0,008)
6.1.4 Riwayat kontak di Tirta Madu pada kasus pernah kontak dengan
penderita campak lain sebanyak (81,2%)
6.1.5 Kejadian campak pada balita di Tirat Madu yang mengalami campak
sebanyak 17 balita.
6.1.6 Ada hubungan antara riwayat kontak dengan kejadian campak pada
balita di Tirta Madu ( nilai p=0,001).
6.1.7 Tingkat pengetahuan orangtua dengan pengetahuan kurang pada balita
yang mengalami campak di Tirta Madu sebesar (88,2%)
6.1.8 Kejadian campak pada balita di Tirta Madu pada oranngtua dengan
tingkat pengetahuan kurang sebanyak 15 balita.
6.1.9 Ada hubungan antara timgkat pengetahuan orangtua dengan kejadian
campak pada balita di Tirta Madu (nilai p=0,002)

6.2 Saran
6.2.1 Bagi Puskesmas Kawal
Pada KLB campak ini intervensi yang sudah dilakukan Puskesmas
Kawal sudah berjalan dengan baik dengan secara cepat menanggapi
laporan campak melakukan kegiatan imunisasi, pemberian vitamin
A. Adapun saran lain bisa menjadi bahan masukan yaitu usaha
untuk terus memberikan promosi kesehatan berupa penyuluhan
terutama mengenai diagnosa dini penyakit, cara penularan penyakit
campak dan pencegahannnya untuk menurunkan kejadian campak
pada tahun berikutnya melalui pendekatan dengan bantuan lintas
sektoral misalnya tokoh masyarakat contohnya kepala barak di Tirta

36
Madu yang merupakan sosok kepercayaan masyarakat disana.
Kemudian rajin menyarankan untuk mencuci tangan dan
membagikan masker gratis untuk mencegah penularan penyakit.
Peneliti menyadari sangat banyak kendala yang dihadapi mulai dari
segi komunikasi yang sulit, keterbukaan masyarakat terhadap
petugas dan masalah lainnya yang sudah dialami pada saat
melakukan penelitian ini.

6.2.2 Bagi Responden di Tirta Madu


6.2.2.1 Diharapkan masyarakat mencari informasi yang berasal dari
sumber yang bisa dipercaya seperti petugas kesehatan di
Tirta Madu dan melaporkan segera jika ada gejala sakit
campak kepada petugas kesehatan.
6.2.2.2 Diharapkan masyarakat memahami mengenai penularan
campak dengan cara bertanya kepada petugas kesehatan. Hal
ini disebabkan karena penularan campak sangat mudah dan
cepat. Memakai masker ketika sakit Dan mencuci tangan
secara rutin.
6.2.2.3 Diharapkan responden tidak memperbolehkan anaknya keluar
rumah untuk kontak dengan anak lain dalam keadaan sakit
walaupun itu hanya demam. Hal tersebut dikarenakan
demam bisa merupakan gejala campak. Dan tetap menjaga
daya tahan tubuh agar selalu dalam keadaan sehat salah
satunya dengan menkonsumsi makanan sehat dan bergizi.

37
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, (2011). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang


Pentingnya Imunisasi Dasar dengan Kepatuhan Melaksanakan
Imunisasi di Bps Hj. Umi Salamah di desa Kauman, Peterongan,
Jombang, tahun 2011.
http://www.journal.unipdu.ac.id/index.php/seminas/article/viewFile/
169/116.
Chin, J. 2006. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta :
Infomedika.
DEPARTEMEN KESEHATAN RI, Scabies, Pedoman Pengobatan
Dasar di Puskesmas, DEPKES RI, Jakarta. 2007. Hal 208-10.
Dinkes Sukoharjo. 2015. Profil Kesehatan Tahun 2014. Sukoharjo :
DKK Sukoharjo.
Garna, Herry, dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan
Anak Edisi ke 3. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD.
Bandung : 2005
Giarsawan N, I Wayan S A, Anysiah EY, 2012. Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kejadian Campak Di Wilayah Puskesmas Tejakula I
Kecamatan Tejakula Kecamatan Buleleng. Jurnal Kesehatan
Lingkungan 4 (2): 140-145.
Handoko,R.P, Skabies, Djuanda A, Hamza M, Aisah S, editor.
Dalam: Ilmu Kulit Kelamin FKUI, edisi keempat, 2006,
Jakarta:FKUI. Hal 122-25.
Irianto, K. 2014. Epidemiologi Penyakit Menular Dan Tidak
Menular Panduan Klinis. Bandung : Alfabeta.
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Profil Kesehatan Tahun 2014.
Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
Khotimah, H. 2008. Hubungan Status Gizi Dan Imunisasi Dengan
Kejadian Campak Pada Balita. Jurnal Obstretika Scientia. ISSN
2337-6120: 23-32.

38
Mujiati, E. 2015. Faktor Risiko Kejadian Campak Pada Anak Usia
1-14 Tahun Di Kecamatan Metro Pusat Provinsi Lampung Tahun
2013-2014. [Skripsi]. Sriwijaya: Universitas Sriwijaya.
Momomuat, S, dkk. 2014. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu
Tentang Pentingnya Imunisasi Campak dengan Kepatuhan
Melaksanakan Imunisasi di Puskesmas Kawangkoan.
Nelson, Ilmu Kesehatan Anak vol 2. Jakarta. EGC : 2000
Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Nugrahaeni, DK. 2012. Konsep Dasar Epidemiologi. Jakarta: EGC.
Pangalo P, (2010). Hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan
pemberian imunisasi bayi di Posyandu wilayah kerja Puskesmas
Kepulauan Talaud.
Phillips C.S. 1983. Measles. In: Behrman R.E., Vaughan V.C. (eds)
Nelson Textbook of Pediatrics. 12th edition. Japan. Igaku-
Shoin/Saunders. p.743
Poorwo, Sumarno S. dkk. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis anak.
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia Cetakan kedua.
Jakarta: 2010.
Pudjiadi, Antonius H, dkk. Pedoman Pelayanan Medis. Ikatan
Dokter Anak Indonesia Jilid 1. Jakarta : 2010
Rahmayanti, LM. Hubungan Status Imunisasi Campak Dan Perilaku
Pencegahan Penyakit Campak Dengan Kejadian Campak Pada Bayi
Dan Balita Di Puskesmas Kabupaten Bantul Tahun 2013-2014.
[Skripsi]. Yogyakarta: STIKES Yogyakarta.
Roslaini, 2014. Tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi campak
pada bayi di Puskesmas Padang Bulan Medan
Setiawan, IM. 2008. Penyakit Campak. Jakarta: IKAPI.
Soegeng Soegijanto. 2001. Vaksinasi Campak. Dalam: I.G.N. Ranuh,
dkk. (ed) Buku Imunisasi di Indonesia. Jakarta. Pengurus Pusat
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hal. 105

39
Timmreck. TC. 2003. Epidemiologi Suatu Pengantar Edisi 2.
Jakarta: EGC.
WHO. 2015. Measles Cased Reported By Country 2015 (online).
Dari http// apps.who. Into/gho/diakses 22 maret 2016.
Widagdo. 2012, Masalah dan Tatalaksana Penyakit Anak Dengan
Demam. Jakarta: IKAPI
www.health.nsw.gov.au/resources/publichealth/infectious/diseases/m
easles_contact_factsheet_pdf.asp

40
Lampiran

41
42