Anda di halaman 1dari 15

1.

Audit Internal
1.1 pengertian audit Internal
Menurut Ikatan Auditor Internal (Institute of Internal Auditors-IIA),
Audit Internal adalah aktivitas independen, keyakinan objektif, dan konsultasi
yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi.
Audit internal membantu organisasi dalam upayanya mencapai tujuan dengan
berbagai cara seperti melakukan pendekatan sistematis dan disiplin untuk
mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen.
Definisi lain menurut Agoes (2004:221) mengenai audit internal yakni
internal audit adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit
perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi
perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang
telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-
ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku.
Definisi di atas menunjukkan bahwa audit intern telah mengalami
perkembangan. Lingkup audit intern tidak lagi hanya terbatas melakukan
pemeriksaan di bidang keuangan saja, tetapi juga melakukan pemeriksaan di
bidang lainnya seperti pengendalian, kepatuhan, operasional dan lain-lain,
manajemen risiko, pengendalian, dan proses tata kelola organisasi.

1.2 Peran Audit Internal


Peranan auditor internal yakni menemukan indikasi terjadinya
kecurangan dan melakukan investigasi terhadap kecurangan. Jika auditor
internal menemukan indikasi dan mencurigai terjadinya kecurangan di
perusahaan, maka ia harus memberitahukan hal tersebut kepada top
management. Jika indikasi tersebut cukup kuat, manajemen akan menugaskan
suatu tim untuk melakukan investigasi. Tim tersebut biasanya terdiri dari
internal auditor, lawyer, investigator, security dan spesialis dari luar atau
dalam perusahaan (misalkan ahli komputer, ahli perbankan dan lain-lain).
Hasil investigasi tim harus dilaporkan secara tertulis kepada top management
yang mencakup fakta, temuan, kesimpulan, saran dan tindakan perbaikan yang
perlu dilaporkan. Terdapat 4 pilar utama dalam memerangi kecurangan, yaitu:
a. Pencegahan kecurangan (fraud prevention)

1
b. Pendeteksian dini kecurangan (early fraud detection)
c. Investigasi kecurangan (fraud investigation)
d. Penegakan hukum atau penjatuhan sanksi (follow-up legal action)
Peran internal auditor dalam mencegah dan mendeteksi kecurangan
diatur secara jelas dalam kewenangan pelaporan dan standar profesi. Komisi
Treadway merekomendasikan bahwa internal auditor harus berperan aktif
dalam mencegah dan mendeteksi kecurangan. Demikian pula dalam
Pernyataan Standar Internal Audit mensyaratkan bahwa internal auditor harus
berperan aktif dalam mencegah dan mendetesi kecurangan dengan
mengidentifikasi tanda-tanda kemungkinan terjadinya kecurangan,
menginvestigasi gejala kecurangan dan melaporkan temuannya pada komite
audit atau kepada tingkat manajemen yang tepat.
Namun dalam perkembangannya peranan audit internal yang
sebelumnya hanya sebatas sebagai pengawas di dalam perusahaan yang
kerjanya hanya mencari kesalahan, pada saat ini audit internal dapat
memberikan saran dan masukan berupa tindakan perbaikan atas sistem yang
telah ada. Oleh karena itu, saat ini audit internal dapat juga dikatakan sebagai
konsultan perusahaan dalam mencapai tujuannya di masa yang akan datang.
Internal auditor harus selalu meningkatkan pengetahuan baik di bidang
auditing sendiri maupun pengetahuan di bidang bisnis perusahaan agar dapat
memberikan saran dan masukan berupa tindakan perbaikan tersebut.
Menurut Diaz (2002), peran yang dapat dilakukan oleh auditor internal
selaku akuntan perusahaan yang menjalankan internal audit adalah sebagai
berikut:
1. Membantu direksi dan dewan komisaris dalam menyusun dan
mengimplementasikan kriteria GCG sesuai dengan kebutuhan
perusahaan.
2. Membantu direksi dan dewan komisaris dalam menyediakan data
keuangan dan operasi serta data lain yang dapat dipercaya, accountable,
akurat, tepat waktu, obyektif, mudah dimengerti dan relevan bagi para
stakeholder untuk mengambil keputusan.
3. Membantu direksi dan dewan komisaris mematuhi dan mengawasi
penerapan atas seluruh ketentuan yang berlaku dan auditor intern harus

2
memastikan bahwa seluruh elemen perusahaan dan dalam setiap
aktivitas perusahaan, mereka telah mengikuti ketentuan secara konsisten.
4. Membantu direksi menyusun dan mengimplimentasikan struktur
pengendalian intern yang andal dan memadai. Auditor intern dalam
konteks ini harus memastikan bahwa struktur tersebut telah tersedia
dengan memadai dan telah berfungsi atau diikuti oleh setiap elemen
perusahaan.
5. Menstimulasi direksi dan dewan komisaris untuk mengembangkan dan
mengimplementasikan sistem audit yang baik, khususnya mendororng
pembentukan komite audit yang ideal, merancang pedoman audit intern,
serta menumbuhkan efektifitas penggunaan dan pemanfaatan hasil kerja
auditor.
2. Manajemen Risiko
2.1 Pengertian Tentang Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah kegiatan pimpinan puncak mengedintifikasi,
mengevaluasi, menangani dan memonitor risiko bisnis yang dihadapi
perusahaan mereka di masa yang akan datang. Apabila dampak risiko itu
terhadap operasi bisnis diperkirakan cukup signifikan, pimpinan perusahaan
yang profesional akan menyusun rencana mengatasi atau meredusir dampak
negatif risiko tersebut. Manajemen risiko adalah bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari good corporate governance. Manajemen risiko dapat
diterapkan untuk menanggulangi dampak negatif rencana bisnis perusahaan
secara keseluruhan. Dapat pula dilakukan secara terbatas pada rencana
kegiatan tiap bagian atau divisi. Hal itu disebabkan karena risiko bisnis yang
dihadapi perusahaan tiap masa tertentu dapat meliputi seluruh rencana
kegiatan, dapat pula hanya pada rencana operasi bisnis tiap bagian atau divisi
tertentu saja. Perusahaan yang tidak mengindahkan manajemen risiko dapat
mengalami kerugian.

Deskripsi Risiko
Penulis buku Capital Budgeting, Long Term Assets Selection,Jerome
Ostryoung menyatakan masih banyak anggota masyarakat bisnis
menganggap risiko (risk) sinonim dengan ketidak pastian (uncertainty).

3
Padahal menurut Jerome risiko tidak sama dengan ketidak pastian. Ketidak
pastian dapat menimbulkan risiko. Beliau menyatakan risiko adalah hasil
keputusan yang dapat diperhitungkan sebelumnya. Dalam kehidupan bisnis
dapat diberikan contoh seperti berikut. Seorang pengusaha memutuskan
menerjunkan produk baru tanpa mengidentifikasi dan menganalisis risiko
keputusan itu sebelumnya. dapat mengalami kesulitan mendapatkan konsumen
produk itu. Akibatnya produk itu tidak laku dan pengusaha yang bersangkutan
menderita kerugian. Risiko produk baru tidak disukai konsumen dapat diterka
sebelumnya. Adapun ketidak pastian menurut Jerome adalah hasil suatu
keputusan yang sulit diterka sebelumnya.
2.2 Implementasi Manajemen Risiko di Dunia Internasional
Jennifer Parker op cit menyatakan walaupun telah banyak perusahaan
di dunia yang menerapkan program manajemen risiko, namun kebanyakan
mereka belum mempergunakan prosedur yang komprehensif dan efektif.
Jennifer mengatakan pada tahun 2002 perusahaan konsultan manajemen
internasional, Ernst & Young menyelenggarakan survei perusahaan di
berbagai belahan dunia untuk mempelajari penyelenggaraan risiko manajemen
di berbagai sektor usaha. Ringkasan hasil survei tersebut adalah sebagai
berikut:
Lembaga keuangan, termasuk bank merupakan sektor usaha yang
mempunyai cara pendekatan manajemen risiko paling komprehensif.
Sekitar 75% responden survai menyatakan menerapkan manajemen
risiko dalam penyusunan rencana jangka menengah/panjang perusahaan
secara keseluruhan,
Kebanyakan perusahaan besar telah menerapkan program manajemen
risiko, perusahaan menengah dan kecil belum menyelenggarakannya,
Ada kecenderungan Board of Directors dan Komite Audit mulai ikut
terlibat dalam kegiatan manajemen risiko. Sekitar 86 % responden
menyatakan Komite Audit mereka menerima informasi tentang risiko
utama yang dihadapi perusahaan dari manajemen perusahaan. Sekitar
74% responden menyatakan Komite Audit ikut meninjau kembali secara
rutin perkembangan risiko yang dihadapi perusahaan.
2.3 Jenis Risiko Bisnis

4
Risiko bisnis terdiri dari berbagai macam jenis. Dari berbagai macam
jenis itu empat di antaranya perlu mendapat perhatian secara lebih cermat dan
kontinyu dari pimpinan perusahaan. Adapun keempat jenis risiko bisnis tadi
adalah sebagai berikut:
Risiko citra atau reputasi perusahaan (reputation risk)
Risiko pasar (market risk),
Risiko kredit (credit risk), dan
Risiko operasional (operational risk).
Risiko Citra Perusahaan
Selama ratusan tahun tidak sedikit jumlah perusahaan yang tergila- gila
pada citra besar yang "berhasil". Mereka mencoba memperkecil risiko bisnis
yang dihadapi dengan jalan memfokuskan transaksi bisnisnya dengan
perusahaan- perusahaan bercitra bagus. Mereka meminjamkan kredit kepada
perusahaan-perusahaan itu, membeli surat berharga yang diterbitkan
perusahaan itu, memesan produk, mesin dan peralatan dari perusahaan itu',
membeli premi asuransi dari mereka dan sebagainya.
Fakta kehidupan sehari-hari mengajari para pimpinan perusahaan,
bertransaksi bisnis dengan perusahaan-perusahaan bercitra baik, berarti bebas
dari risiko. Bayangan bertransaksi bisnis dengan perusahaan-perusahaan besar
yang nampak dari luar serba cemerlang berisiko sangat kecil, mulai pudar
sejak tumbangnya perusahaan-perusahaan raksasa dunia.
Risiko Kredit
Sejak berabad-abad yang lalu risiko kredit dihadapi para kreditur yang
meminjamkan dananya atau menjual produk dengan pembayaran di belakang.
Akibat fatal yang dapat mereka derita adalah debitur tidak menepati janjinya
membayar kembali utang atau bunga pinjaman. Termasuk dalam risiko kredit
adalah country risk, yaitu risiko kredit yang diberikan kepada debitur yang
berdomisili di negara-negara tertentu. Semakin tinggi country risk suatu
negara semakin tinggi pula risiko kredit yang diberikan kepada debitur di
negara itu.
Dalam artikelnya yang berjudul Managing Risk In An Unstable World
(Harvard Business Review, June 2005) Ian Bremer menyebutkan dua jenis
risiko yang dapat dihadapi investor dan kreditur manca negara apabila mereka
memberikan kredit (obligasi, kredit bank dan asuransi dsb), yaitu risiko
ekonomis dan risiko politik. Kehidupan ekonomi dan politik setiap negara

5
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang dapat mengganggu stabilitas
kehidupan ekonomi dan politik. Kehidupan ekonomi dan politik negara yang
tidak stabil dapat mengganggu kemampuan debitur di negara yang
bersangkutan mengembalikan pinjaman mereka.
Contoh faktor yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi adalah
tingkat inflasi yang tinggi, depresiasi nilai tukar mata uang nasional, bencana
alam dan korupsi yang kronis dan merata di seluruh negeri. Sedangkan contoh
faktor yang mengganggu stabilitas kehidupan politik adalah perang saudara,
pemberontakan, gerakan separatisme dan terorisme.
Risiko Operasional
Dampak risiko operasional timbul karena munculnya gangguan
operasional dari dalam atau dari luar perusahaan. Gangguan operasional dari
dalam perusahaan dapat berupa kerusakan mesin atau peralatan produksi yang
lain, kesalahan manusia dan kesalahan sistem dan prosedur operasi.
Sedangkan contoh gangguan dari luar perusahaan dapat berupa krisis moneter,
krisis politik, faktor persaingan pasar, keterlambatan pasokan bahan dari
perusahaan pemasok dan bencana alam. Dalam tabel nomor 1.1 disajikan
contoh risiko operasional, penyebab potensial risiko dan poten si kerugian
yang dapat diderita perusahaan.

Tabel 1.1.
Contoh risiko Operasional

6
2.4 Proses Manajemen Risiko
Manajemen risiko merupakan satu proses kegiatan manajemen yang
mengikuti urutan langkah tertentu. Kegiatan ini menjadi tanggung jawab
sebuah tim yang anggotanya terdiri dari para eksekutif senior. Kebanyakan
perusahaan publik di berbagai negara industri maju menyerahkan tugas
penting ini kepada Komite Audit Dan Manajemen Risiko. Urutan langkah
proses manajemen risiko adalah sebagai berikut:
Mengidentifikasi risiko potensial (risk identification),
Menganalisis risiko (risk analysis),
Mengaksep risiko (accept risks)
Menangani risiko (risk treatment), dan
Memonitor perkembangan risiko (risk monitoring and review)

Dalam gambar 1.1. disajikan bagan urutan langkah manajemen resiko di atas.
a. Mengidentifikasi Risiko Potensial
Banyak jenis risiko bisnis erat hubungannya dengan pelaksanaan
rencana jangka menengah/panjang. Sebagai contoh perusahaan yang
merencanakan menerjunkan produk baru ke pasar, menghadapi risiko
perusahaan-perusahaan saingannya akan melakukan hal yang serupa.
Akibatnya produk baru tersebut nantinya harus bersaing ketat di pasar dengan
produk-produk baru yang serupa dan setingkat. Risiko yang lain adalah
konsumen sasaran tidak menyukai produk. Akibatnya target penjualan dan
keuntungan yang disusun dalam rencana launching produk baru tidak tercapai.
Sebelum memutuskan bagaimana mengelola risiko yang akan dihadapi
pada saat melaksanakan rencana strategik perusahaan mereka, sudah barang

7
tentu pimpinan puncak perusahaan perlu mengetahui dengan jelas apa dan
bagai mana risiko-risiko tersebut. Untuk melaksanakan hal itu perlu disusun
daftar komprehensif risiko potensial yang mungkin muncul. Komite Audit
dan Manajemen Risiko hendaknya mengumpulkan pendapat dari para
pimpinan puncak dan eksekutif senior tentang berbagai risiko yang menurut
mereka dapat dihadapi perusahaan dalam pelaksanaan rencana jangka
menengah/panjang.
b. Potensi kerugian
Dalam mengidentifikasi risiko perusahaan memperkirakan potensi
kerugian yang dapat ditimbulkan tiap jenis risiko. Dalam terbitan mereka Risk
Management, The Joint Australian/ New Zealand Technical Committee on,
Risk Management menyajikan daftar potensi 'kerugian , yang dapat
ditimbulkan berbagai jenis risiko bisnis.
c. Daftar kuesioner risiko
Seperti diutarakan di atas agar dapat mengidentifikasi risiko dan
potensi kerugian yang dapat ditimbulkannya, Komite Audit atau eksekutif
lain yang diserahi tugas itu mengumpulkan pendapat pimpinan puncak. Untuk
mengumpulkan pendapat tersebut the Joint Australian/ NewZealand Tecmical
Committee on Risk Management mengajukan daftar kuesioner yang dapat
dipergunakan sebagai bahan acuan atau contoh
d. Menganalisis Risiko.
Tujuan utama analisis risiko adalah memisahkan risiko yang potensi
kerugiannya diperkirakan kecil dari yang derajad kerugiannya cukup
signifikan. Dengan perkataan lain menyusun daftar kategori risiko. Sudah
barang tentu daftar kategori risiko satu perusahaan tidak sama dengan yang
lain, walaupun mereka bergerak dalam sektor usaha yang sama. Hal itu
disebabkan karena adanya perbedaan tingkat kekuatan dan kelemahan masing-
masing perusahaan dalam menangani dan memonitor risiko. Secara umum
dapat diutarakan apabila dampak negatif risiko kecil saja, risiko tersebut dapat
ditolerir.
Sebagai contoh risiko penurunan hasil penjualan tahunan produk
sebesar lima persen sebagai akibat munculnya teknologi baru atau perusahaan

8
saingan baru yang kuat, masih dapat ditolerir oleh sebuah perusahaan yang
menduduki peringkat follow the market leader.
e. Batas toleransi
Untuk menentukan dapat atau tidaknya dampak risiko ditolerir,
perusahaan perlu menyusun kriteria tentang hal itu. Kriteria toleransi terhadap
dampak risiko dapat diambil dari aspek operasional, teknis, finansial, legal,
sosial atau kriteria yang lain. Contoh kriteria aspek keuangan, misalnya risiko
yang bersangkutan tidak akan menurunkan keuntungan total perusahaan
sampai maksimal dua setengah persen. Sedangkan contoh kriteria aspek teknis
adalah, risiko yang bersangkutan tidak akan menyebabkan sarana produksi
tidak dapat lagi beroperasi tiga shifts tiap hari. Apabila dimungkinkan pada
akhir tahap analisis risiko dapat disimpulkan derajad toleransi yang dapat
diberikan pada tiap jenis risiko.
f. Mengaksep Risiko
Dari hasil tahap-tahap manajemen risiko terdahulu perusahaan dapat
memutuskan risiko bisnis mana dapat diterima, karena dampak negatifnya
diperkirakan masih dapat ditolerir. Di lain pihak mereka juga dapat
menentukan jenis-jenis risiko mana yang membutuhkan penanganan dan
monitoring secara khusus, karena dampaknya diperkirakan signifikan.
g. Penanganan Risiko
Penanganan risiko lebih lanjut meliputi aktifitas yang berikut:
Menentukan pilihan penanganan risiko,
Mengevaluasi tiap jenis pilihan penanganan,
Menyiapkan rencana penanganan tiap jenis risiko,
Pelaksanaan penanganan, dan
Memonitor resiko
h. Menentukan Pilihan Penanganan Resiko
Termasuk dalam pilihan penanganan resiko adalah sebagai berikut:
Menghindari resiko dengan jalan tidak meneruskan rencana kegiatan yang
telah disusun
Mengendalikan resiko
Meredusir dampak resiko
Mengalihkan resiko pada pihak ketiga

9
Menanggung sebagian resiko yang tidak atau belum dialihkan kepada
pihak ketiga
i. Mengevaluasi tiap jenis pilihan
Tiap jenis penanganan resiko diatas dievaluasi berdasarkan
perbandingan besar pengorbanan (termasuk biaya) yang harus ditanggung
perusahaan, dengan nilai manfaat yang dapat diperoleh dari masing-masing
pilihan. Tiap jenis pilihan penanganan resiko yang mendatangkan manfaat
optimal dengan biaya atau pengorbanan minimal, dimaksukkan dalam daftar
prioritas pilihan.
j. Menyiapkan rencana penanganan
Rencana penanganan resiko mencantumkan ketentuan sebagai berikut :
Siapa yang akan menjadi penanggungjawab penanganan
Apa saja yang perlu mereka lakukan
Jadwal kegiatan dan hasil yang diharapkan
Tenaga eksekutif, alat dan anggaran yang dibutuhkan
Tolak ukur kinerja penanganan
Mekanisme peninjauan kembali pilihan
k. Memonitor risiko
Kebanyakan resiko tidak bersifat statis. la dapat berubah sesuai dengan
perubahan faktor-faktor yang menimbulkannya. Oleh karena itu secara reguler
perusahaan wajib memonitor perkembangan resiko yang mereka hadapi dan
efektifitas upaya mereka menangani masing-masing resiko.

3. Permasalahan pada Bank Mega


Bank Mega Tbk. (MEGA) beroperasi pada aktivitas perbankan.
MEGA mulai beroperasi komersial pada tahun 1969 di Surabaya, Jawa Timur.
MEGA memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta pada tahun 1992. MEGA
menyediakan produk tabungan seperti Mega Dana, Mega Taxi, Mega Proteksi;
produk giro seperti Mega Pro dan Mega Business; Produk Deposito Berjangka
seperti Mega Depo, Mega Deposito On Call and Mega Sertifikat.
Pada pertengahan April 2011, terjadi kasus pada Bank Mega. Secara
garis besar kasus ini dimulai dengan adanya pencairan dana deposito milik PT
Elnusa dengan dalih investasi, dana tersebut dapat cair karena terdapat

10
pemalsuan tanda tangan. Kronologi kasus tersebut digambarkan sebagai
berikut:
1. 7 September 2009
Elnusa mulai menempatkan dana di Bank Mega cabang Jababeka,
Cikarang sejak 7 September 2009 sebesar Rp161 miliar. Dana ini disimpan
dalam bentuk rekening deposito berjangka dengan bunga 7%. Total deposito
terbagi menjadi lima bilyet, dengan jangka waktu beragam satu hingga tiga
bulan. Seluruh dana telah ditransfer Elnusa dan diterima oleh Bank Mega.
2. 5 Maret 2010
Pada tanggal 5 Maret 2010 Elnusa mencairkan deposito senilai Rp50
miliar dan dananya telah diterima dengan baik di rekening sesuai perintah
Elnusa. Sehingga dana Elnusa pada bank mega tersisa sebesar Rp111 miliar
dalam bentuk deposito.
3. 19 April 2011
Permasalahan tentang dana deposito Elnusa baru muncul ketika Elnusa
akan mencairkan deposito tersebut pada 19 April 2011. Menurut kepala cabang
Bank Mega Jababeka Cikarang, penempatan dana itu sudah tidak ada karena
telah dicairkan. Elnusa mempertanyakan sistem dan prosedur yang ada di
Bank Mega. Karena pihak Elnusa merasa belum pernah mencairkan dana
mereka, mereka menyatakan baru satu kali melakukan pencairan dana deposito
yaitu sejumlah Rp50 miliar dari total penempatan dana sebesar Rp161 miliar
pada tanggal 5 Maret 2010.
Setelah dilakukan penyidikan, pembobolan dana PT Elnusa dilakukan
melalui kerja sama antara pihak dalam PT Elnusa yakni Direktur Keuangan
Elnusa, Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, pihak perusahaan investasi
(Discovery dan Harvest), dan pihak lain, seorang makelar bisnis yang
mempertemukan kedua pihak. Dimana salah satu pelaku tersebut terkait
dengan kasus pembobolan dana Pemkab Aceh di Bank Mandiri cabang
Jalembar, Jakarta Barat.
Para pelaku memanfaatkan dana cadangan PT Elnusa yang dianggap
menganggur dan sering tidak digubris perusahaan. Dana ini disimpan dalam
bentuk rekening deposito berjangka dengan bunga 7%. Cara yang dilakukan
pelaku cukup sederhana, yaitu memalsukan akta dan tanda tangan pada
blangko pencairan deposito. Dana PT Elnusa seolah-olah beralih dari deposito
berjangka menjadi Deposito harian.

11
Kemudian para tersangka bahu-membahu menggelapkan uang
cadangan dari rekening resmi ke rekening asli tapi palsu atas nama PT Elnusa
di Bank Mega Cabang Bekasi. Setelah jatuh masanya, deposit on call itu
mereka cairkan dan mengalir ke rekening PT Discovery dan PT Harvest. Uang
itu kemudian digunakan untuk bisnis investasi para tersangka, dan sisanya
dialirkan ke rekening pribadi-pribadi para pelaku.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)
menyimpulkan kasus pembobolan dana PT Elnusa Tbk merupakan tindak
pidana pencucian uang. Bank Indonesia menyatakan kasus ini terjadi karena
kelemahan pelaksanaan manajemen risiko di Bank Mega. Kelemahan tersebut
antara lain direksi belum memiliki sarana pengendalian yang memadai untuk
memastikan bahwa seluruh aktifitas operasional Bank telah didukung oleh
SOP yang memadai.
Selain itu masih lemahnya kebijakan dan prosedur, seperti belum
adanya kebijakan yang mengatur prosedur pelayanan pembukaan rekening
tanpa kehadiran calon nasabah dan tata cara pemberian data nasabah kepada
pihak ketiga termaksud kantor Akuntan publik dan belum dilakukan
peninjauan kembali terhadap penetapan limit di KCP (kantor cabang
pemantau).
BI juga menemukan adanya perangkapan fungsi marketing dan
otorisasi nasabah baru oleh pemimpin KCP dan dalam pengendalian internal
ditemukan kelemahan pengawasan KC dan Kanwil terhadap KCP, kelemahan
atas pemantauan kewajaran transaksi nasabah serta lemahnya pemantauan
terhadap perubahan gaya hidup pegawai dikaitkan dengan posisi jabatannya.

Penyelesaian Kasus Bank Mega


Kasus Bank Mega dibawa ke jalur hijau oleh PT. Elnusa. Pegadilan
Tinggi Jakarta memutuskan bahwa pencairan deposito oleh Bank Mega kepada
PT Discovery Indonesia dan Harvestindo Asset Management tanpa
sepengetahuan dan seizin Elnusa selaku Terbanding semula Penggugat, adalah
perbuatan yang melanggar hukum. Adapun hasil putusan Pengadilan Tinggi
Jakarta ini menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggal 22
Maret 2012 Nomor: 284/PDT.G/2011/PN.JKT.SEL sebelumnya dan
mengharuskan Bank Mega untuk segera melakukan pencairan dana deposito

12
milik Elnusa senilai Rp111 miliar beserta bunganya sebesar 7% persen per
tahun dari jumlah dana Rp111 miliar tersebut terhitung sejak gugatan
didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sampai dilunasinya deposito
tersebut.
Bank Indonesia juga memberikan sejumlah sanksi kepada Bank Mega
sebagai tindak lanjut permasalahan dana PT Elnusa yang terjadi di PT Bank
Mega Tbk, Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bekasi Jababeka. Sanksi dan
instruksi yang diberikan kepada Bank Mega yakni:
1. Menghentikan penambahan nasabah DoC baru dan perpanjangan DoC
lama, termasuk untuk produk sejenis seperti Negotiable Certificate of
Deposit (NCD), selama satu tahun, menghentikan pembukaan jaringan
kantor baru selama satu tahun. Sanksi tersebut berlaku sejak 24 Mei
2011.
2. BI akan melakukan fit and proper test terhadap manajemen dan pejabat
eksekutif Bank Mega.
3. BI menginstruksikan Bank Mega untuk :
Mereview seluruh kebijakan dan prosedur, khususnya aktivitas
pendanaan termasuk penetapan target, limit dan kewenangan untuk
kantor cabang, kantor cabang pembantu, kantor kas dan individu,
baik nominal maupun suku bunga, pengaturan wilayah kerja kantor
serta mekanisme inisiasi nasabah baru.
Memperbaiki fungsi internal control dan risk management, termasuk
kecukupan jumlah auditor di setiap kantor, proses check and
balance baik melalui tahapan kewenangan maupun sistem, fungsi
pengawasan kantor pusat terhadap kantor-kantor di bawahnya dan
prinsip know your employee.
Memberhentikan pegawai di bawah pejabat eksekutif yang terlibat
dalam kasus dana nasabah atas nama pt elnusa dan dana pemkab
batubara, sumatera utara di kcp bekasi jababeka.
Segera membentuk escrow account senilai dana pt. Elnusa dan
pemkab batubara, sumatera utara di kcp bekasi jababeka. Pencairan
escrow account tersebut hanya dapat dilakukan dengan persetujuan
bank indonesia dalam hal sudah tidak terdapat sengketa antara bank
dengan nasabah, baik yang diselesaikan melalui keputusan

13
pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atau melalui kesepakatan
para pihak.
Rekomendasi agar kasus serupa tidak terjadi yakni sebagai berikut:
1. Membenahi elemen-elemen utama sistem pengendalian intern bank
Tertuang dalam Pedoman Standar Sistem Pengendalian Intern bagi Bank
Umum yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Elemen-elemen utama
sistem pengendalian intern bank meliputi Manajemen dan Kultur
Pengendalian, identifikasi dan Penilaian Resiko, kegiatan pengendalian
dan pemisahan fungsi sistem akuntansi, informasi dan komunikasi serta
kegiatan pemantauan dan tindakan koreksi penyimpangan atau
kelemahan.
2. Semua lembaga keuangan pasti mempunyai pengendalian internal (audit
internal) tapi tidak semua internal kontrol ini dapat berjalan dengan baik
dan sesuai dengan yang ada, dalam sebuah lembaga pengendalian
internal adalah ujung tombak agar tidak terjadi suatu kecurangan dalam
lembaga tersebut, pengendalian yang perlu dikakukan oleh Bank Mega
yaitu dari aspek SDM. Dalam merekrut harus dilakukan seleksi yang
serius memang banyak orang yang mempunyai kompetensi yang baik
tetapi belum tentu semua orang yang berkompetensi itu mempunyai
perilaku baik. Sebagus apapun pengendalian iternal suatu perusahaan
kalau SDM nya sendiri tidak mampu menjaga komitmen perusahaan
maka sia-sia adanya pengendalian internal tersebut.
3. Peningkatan pengawasan dan memperketat prosedur pengambilan dana
yang ada. Juga di dalamnya termasuk peningkatan komunikasi antar
nasabah dan pihak bank agar tidak terdapat miss komunikasi dan tidak
terdapat penyelewengan yang dilakukan oleh pihak diluar wilayah
nasabah.

14
Referensi
Aldridge, John.E Siswanto Sutojo. 2008. Good Corporate Governance. Jakarta:
PT Damar Mulia Pustaka.
Gumilang, Gita. 2009. Skripsi: Pengaruh Peranan Audit Internal Terhadap
Penerapan Good Corporate Governance pada PT. Perkebunan
Nusantara III. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Jayanegara, Lulu Luftia. 2014. Skripsi: Peranan Audit Internal dalam Penerapan
Good Corporate Governance (GCG). Bandung: Universitas Widyatama.

15

Anda mungkin juga menyukai