Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN DEPARTEMEN PEDIATRIC

NEONATAL PNEUMONIA

di Ruang Perinatologi RSSA Malang

Disusun Oleh

Keysha Monita

160070301111018

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
BAB I
KONSEP MEDIS

A. Anatomi Fisiologi Jantung


Jantung terletak dalam rongga dada. Ukuran jantung
sebesar genggaman tangan pemiliknya dengan
berat sekitar 300 gram. Ukuran panjang jantung
kira-kira 5" (12cm) dan lebar sekitar 3,5" (9cm).
Jantung terletak di belakang tulang sternum,
tepatnya di ruang mediastinum di antara kedua
paru-paru dan bersentuhan dengan diafragma.
Bagian atas jantung terletak di bagian bawah sternal
notch, 1/3 dari jantung berada di sebelah kanan dari midline sternum, 2/3 nya di
sebelah kiri dari midline sternum. Sedangkan bagian apeks jantung di interkostal
ke-5 atau tepatnya di bawah puting susu sebelah kiri. Jantung dalam sistem
sirkulasi berfungsi sebagai alat pemompa darah.
Jantung tersusun atas otot jantung (miokardium) . Bagian jantung luar
dilapisi oleh selaput jantung (perikardium). Lapisan perikardium ini di bagi
menjadi 3 lapisan yaitu:
1. Lapisan fibrosa, yaitu lapisan paling luar pembungkus jantung yang
melindungi jantung ketika jantung mengalami overdistention. Lapisan
fibrosa bersifat sangat keras dan bersentuhan langsung dengan bagian
dinding dalam sternum rongga thorax, disamping itu lapisan fibrosa ini
termasuk penghubung antara jaringan, khususnya pembuluh darah besar
yang menghubungkan dengan lapisan ini (exp: vena cava, aorta, pulmonal
arteri dan vena pulmonal).
2. Lapisan parietal, yaitu bagian dalam dari dinding lapisan fibrosa
3. Lapisan Visceral, lapisan
perikardium yang bersentuhan
dengan lapisan luar dari otot
jantung atau epikardium. Di antar
lapisan parietal dan visceral
terdapat ruangan kavum perikardii
yang berisi cairan perikardii.
Cairan ini berfungsi untuk
menahan gesekan. Bagian dalam
jantung dilapisi endokardium. Banyaknya cairan perikardium ini antara 15 -
50 ml, dan tidak boleh kurang atau lebih karena akan mempengaruhi fungsi
kerja jantung.
Lapisan otot jantung terbagi menjadi 3 yaitu :
1. Epikardium,yaitu bagian luar otot jantung atau pericardium visceral
2. Miokardium, yaitu jaringan utama otot jantung yang bertanggung jawab
atas kemampuan kontraksi jantung.
3. Endokardium, yaitu lapisan tipis bagian dalam otot jantung atau lapisan
tipis endotel sel yang berhubungan langsung dengan darah dan bersifat
sangat licin untuk aliran darah, seperti halnya pada sel-sel endotel pada
pembuluh darah lainnya.

Katup Jantung:
Katup jatung terbagi menjadi 2 bagian, yaitu
katup yang menghubungkan antara atrium dengan
ventrikel dinamakan katup atrioventrikuler, sedangkan
katup yang menghubungkan sirkulasi sistemik dan
sirkulasi pulmonal dinamakan katup semilunar.
Katup atrioventrikuler terdiri dari katup trikuspid
yaitu katup yang menghubungkan antara atrium kanan
dengan ventrikel kanan, katup atrioventrikuler yang lain
adalah katup yang menghubungkan antara atrium kiri dengan ventrikel kiri yang
dinamakan dengan katup mitral atau bicuspid.
Katup semilunar terdiri dari katup pulmonal yaitu
katup yang menghubungkan antara ventrikel kanan
dengan pulmonal trunk, katup semilunar yang lain
adalah katup yang menghubungkan antara ventrikel
kiri dengan asendence aorta yaitu katup aorta.
Katup berfungsi mencegah aliran darah balik ke
ruang jantung sebelumnya sesaat setelah kontraksi atau
sistolik dan sesaat saat relaksasi atau diastolik. Tiap bagian daun katup jantung
diikat oleh chordae tendinea sehingga pada saat kontraksi daun katup tidak
terdorong masuk keruang sebelumnya yang bertekanan rendah. Chordae
tendinea sendiri berikatan dengan otot yang disebut muskulus papilaris.
Jantung mempunyai
empat ruangan, yaitu atrium
sinister (serambi kiri), atrium
dexter (serambi kanan), ventrikel
sinister (bilik kiri), dan ventrikel
dexter (bilik kanan). Antarsisi kiri
dan kanan jantung dipisahkan
oleh septum (sekat) yang berupa otot yang padat.
Atrium merupakan ruangan jantung tempat masuknya darah dari
pembuluh balik (vena). Kedua atrium memiliki bagian luar organ masing-masing
yaitu auricle. Dimana kedua atrium dihubungkan dengan satu auricle yang
berfungsi menampung darah apabila kedua atrium memiliki kelebihan volume.
Kedua atrium bagian dalam dibatasi oleh septal atrium. Ada bagian septal atrium
yang mengalami depresi atau yang dinamakan fossa ovalis, yaitu bagian septal
atrium yang mengalami depresi disebabkan karena penutupan foramen ovale
saat kita lahir. Ada beberapa ostium atau muara pembuluh darah besar yang
perlu anda ketahui yang terdapat di kedua atrium, yaitu:
1. Ostium Superior vena cava, yaitu muara atau lubang yang terdapat
diruang atrium kanan yang menghubungkan vena cava superior dengan
atrium kanan.
2. Ostium Inferior vena cava, yaitu muara atau lubang yang terdapat di
atrium kanan yang menghubungkan vena cava inferior dengan atrium
kanan.
3. Ostium coronary atau sinus coronarius, yaitu muara atau lubang yang
terdapat di atrium kanan yang menghubungkan sistem vena jantung
dengan atrium kanan.
4. Ostium vena pulmonalis, yaitu muara atau lubang yang terdapat di atrium
kiri yang menghubungkan antara vena pulmonalis dengan atrium kiri yang
mempunyai 4 muara.
Ventrikel mempunyai otot lebih tebal dari pada atrium, keadaan ini
disebabkan ventrikel berfungsi memompa darah keluar jantung. Bagian dalam
kedua ruang ventrikel dibatasi oleh septal ventrikel, baik ventrikel maupun atrium
dibentuk oleh kumpulan otot jantung yang mana bagian lapisan dalam dari
masing-masing ruangan dilapisi oleh sel endotelium yang kontak langsung
dengan darah. Bagian otot jantung di bagian dalam ventrikel yang berupa
tonjolan-tonjolan yang tidak beraturan dinamakan trabecula. Kedua otot atrium
dan ventrikel dihubungkan dengan jaringan penghubung yang juga membentuk
katup jatung dinamakan sulcus coronary, dan 2 sulcus yang lain adalah anterior
dan posterior interventrikuler yang keduanya menghubungkan dan memisahkan
antara kiri dan kanan kedua ventrikel.
Jantung terus-menerus memompa darah ke seluruh bagian tubuh.
Jantung memompa darah dengan cara berkontraksi sehingga jantung dapat
mengembang dan mengempis. Kontraksi jantung ini menimbulkan denyutan
yang dapat dirasakan pada pembuluh nadi di beberapa tempat.
Saat berkontraksi, atrium dan ventrikel mengembang dan menguncup
secara bergantian. Bila atrium mengembang, jantung mengisap darah dari
seluruh tubuh melalui pembuluh balik (vena kava superior dan vena kava
inferior). Darah yang diisap ini masuk ke atrium kanan dan darah dari vena
pulmonalis yang kaya oksigen masuk ke atrium kiri.
Bila atrium menguncup maka ventrikel mengembang dan darah mengalir
dari atrium ke ventrikel. Ventrikel merupakan bagian jantung yang berfungsi
memompa darah meninggalkan jantung.
Tekanan jantung sebelah kiri lebih besar dibandingkan dengan tekanan
jantung sebelah kanan, karena jantung kiri menghadapi aliran darah sistemik
atau sirkulasi sistemik yang terdiri dari beberapa organ tubuh sehingga
dibutuhkan tekanan yang besar dibandingkan dengan jantung kanan yang hanya
bertanggung jawab pada organ paru-paru saja, sehingga otot jantung sebelah
kiri khususnya otot ventrikel sebelah kiri lebih tebal dibandingkan otot ventrikel
kanan.

Siklus Jantung:
Atrium kanan menerima kotor atau vena atau darah yang miskin oksigen dari:
1. Superior Vena Kava
2. Inferior Vena Kava
3. Sinus Coronarius
Dari atrium kanan, darah akan dipompakan ke ventrikel kanan melewati katup
trikuspid.
Dari ventrikel kanan, darah dipompakan ke paru-paru untuk mendapatkan oksigen
melewati:
1. Katup pulmonal
2. Pulmonal Trunk
3. Empat (4) arteri pulmonalis, 2 ke paru-paru kanan dan 2 ke paru-paru kiri
Darah yang kaya akan oksigen dari paru-paru akan di alirkan kembali ke jantung
melalui 4 vena pulmonalis (2 dari paru-paru kanan dan 2 dari paru-paru kiri) menuju
atrium kiri.
Dari atrium kiri darah akan dipompakan ke ventrikel kiri melewati katup biskupid atau
katup mitral. Dari ventrikel kiri darah akan di pompakan ke seluruh tubuh termasuk
jantung (melalui sinus valsava) sendiri melewati katup aorta. Dari seluruh
tubuh,darah balik lagi ke jantung melewati vena kava superior, vena kava inferior
dan sinus koronarius menuju atrium kanan.
Secara umum, siklus jantung dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
1. Sistole atau kontraksi jantung
2. Diastole atau relaksasi atau ekspansi jantung
Secara spesific, siklus jantung dibagi menjadi 5 fase yaitu:
1. Fase Ventrikel Filling
Sesaat setelah kedua atrium menerima darah dari masing-masing cabangnya,
dengan demikian akan menyebabkan tekanan di kedua atrium naik melebihi
tekanan di kedua ventrikel. Keadaan ini akan menyebabkan terbukanya katup
atrioventrikular, sehingga darah secara pasif mengalir ke kedua ventrikel
secara cepat karena pada saat ini kedua ventrikel dalam keadaan
relaksasi/diastolic sampai dengan aliran darah pelan seiring dengan
bertambahnya tekanan di kedua ventrikel. Proses ini dinamakan dengan
pengisian ventrikel atau ventrikel filling. Perlu anda ketahui bahwa 60% sampai
90 % total volume darah di kedua ventrikel berasal dari pengisian ventrikel
secara pasif. Dan 10% sampai 40% berasal dari kontraksi kedua atrium.
2. Fase Atrial Contraction
Seiring dengan aktifitas listrik jantung yang menyebabkan kontraksi kedua
atrium, dimana setelah terjadi pengisian ventrikel secara pasif, disusul
pengisian ventrikel secara aktif yaitu dengan adanya kontraksi atrium yang
memompakan darah ke ventrikel atau yang kita kenal dengan "atrial kick".
Dalam grafik EKG akan terekam gelombang P. Proses pengisian ventrikel
secara keseluruhan tidak mengeluarkan suara, kecuali terjadi patologi pada
jantung yaitu bunyi jantung 3 atau cardiac murmur.
3. Fase Isovolumetric Contraction
Pada fase ini, tekanan di kedua ventrikel berada pada puncak tertinggi tekanan
yang melebihi tekanan di kedua atrium dan sirkulasi sistemik maupun sirkulasi
pulmonal. Bersamaan dengan kejadian ini, terjadi aktivitas listrik jantung di
ventrikel yang terekam pada EKG yaitu komplek QRS atau depolarisasi
ventrikel. Keadaan kedua ventrikel ini akan menyebabkan darah mengalir balik
ke atrium yang menyebabkan penutupan katup atrioventrikuler untuk
mencegah aliran balik darah tersebut. Penutupan katup atrioventrikuler akan
mengeluarkan bunyi jantung satu (S1) atau sistolic. Periode waktu antara
penutupan katup AV sampai sebelum pembukaan katup semilunar dimana
volume darah di kedua ventrikel tidak berubah dan semua katup dalam
keadaan tertutup, proses ini dinamakan dengan fase isovolumetrik contraction.
4. Fase Ejection
Seiring dengan besarnya tekanan di ventrikel dan proses depolarisasi ventrikel
akan menyebabkan kontraksi kedua ventrikel membuka katup semilunar dan
memompa darah dengan cepat melalui cabangnya masing-masing.
Pembukaan katup semilunar tidak mengeluarkan bunyi. Bersamaan dengan
kontraksi ventrikel, kedua atrium akan di isi oleh masing-masing cabangnya.
5. Fase Isovolumetric Relaxation
Setelah kedua ventrikel memompakan darah, maka tekanan di kedua ventrikel
menurun atau relaksasi sementara tekanan di sirkulasi sistemik dan sirkulasi
pulmonal meningkat. Keadaan ini akan menyebabkan aliran darah balik ke
kedua ventrikel, untuk itu katup semilunar akan menutup untuk mencegah
aliran darah balik ke ventrikel. Penutupan katup semilunar akan mengeluarkan
bunyi jantung dua (S2) atau diastolic. Proses relaksasi ventrikel akan terekam
dalam EKG dengan gelombang T, pada saat ini juga aliran darah ke arteri
koroner terjadi. Aliran balik dari sirkulasi sistemik dan pulmonal ke ventrikel
juga di tandai dengan adanya "dicrotic notch".
1) Total volume darah yang terisi setelah fase pengisian ventrikel secara
pasip maupun aktif ( fase ventrikel filling dan fase atrial contraction)
disebut dengan End Diastolic Volume (EDV)
2) Total EDV di ventrikel kiri (LVEDV) sekitar 120ml.
3) Total sisa volume darah di ventrikel kiri setelah kontraksi/sistolic disebut
End SystolicVolume (ESV) sekitar 50 ml.
4) Perbedaan volume darah di ventrikel kiri antara EDV dengan ESV adalah
70 ml atau yang dikenal dengan stroke volume. (EDV-ESV= Stroke
volume) (120-50= 70)
Siklus jantung berjalan secara bersamaan antara jantung kanan dan jantung kiri,
dimana satu siklus jantung = 1 denyut jantung = 1 beat EKG (P,q,R,s,T) hanya
membutuhkan waktu kurang dari 0.5 detik.

BAB II
LANDASAN TEORI

B. Pengertian PJB
Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah penyakit struktural jantung dan
pembuluh darah besar yang sudah terdapat sejak lahir. Penyakit jantung
bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak
dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila penyakit jantung
bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien
tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi
dini pada usia muda.
Kelainan jantung biasanya menyebabkan darah mengalir dalam arah yang
salah/abnormal, kadang tidak melewati paru-paru (tempat dimana darah
diperkaya dengan oksigen). Padahal untuk pertumbuhan, perkembangan dan
aktivitas yang normal diperlukan darah yang kaya akan oksigen.

C. Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara
pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada
peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
1. Faktor Prenatal :
a. Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
b. Ibu alkoholisme dan ibu perokok
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun.
d. Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan
insulin.
e. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.
2. Faktor Genetik :
a. Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
b. Ayah/Ibu menderita penyakit jantung bawaan
c. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down
d. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain

D. Manifestasi Klinik
Pada bayi penyakit jantung bawaan ini bisa dikenali dari sejumlah gejala,
misalnya:
1. Lekas letih
2. Ada gangguan tumbuh kembang
3. Sering panas dan batuk
4. Ada gangguan atau sering berhenti saat menyusu ibunya untuk
bernapas
5. Gejala khas lainnya adalah biru pada ujung kuku-kuku dan lidah.

E. Patofisiologi
Dalam keadaan normal darah akan mengalir dari daerah yang bertekanan
tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Daerah yang bertekanan tinggi ialah
jantung kiri sedangkan yang bertekanan rendah adalah jantung kanan. Sistem
sirkulasi paru mempunyai tahanan yang rendah sedangkan sistem sirkulasi
sistemik mempunyai tahanan yang tinggi. Apabila terjadi hubungan antara
rongga-rongga jantung yang bertekanan tinggi dengan rongga-rongga jantung
yang bertekanan rendah akan terjadi aliran darah dari rongga jantung yang
bertekanan tinggi ke rongga jantung yang bertekanan rendah. Sebagai contoh
adanya defek pada sekat ventrikel, maka akan terjadi aliran darah dari ventrikel
kiri ke ventrikel kanan. Kejadian ini disebut pirau (shunt) kiri ke kanan. Sebaliknya
pada obstruksi arteri pulmonalis dan defek septum ventrikel tekanan rongga
jantung kanan akan lebih tinggi dari tekanan rongga jantung kiri sehingga darah
dari ventrikel kanan yang miskin akan oksigen mengalir melalui defek tersebut ke
ventrikel kiri yang kaya akan oksigen, keadaan ini disebut dengan pirau (shunt)
kanan ke kiri yang dapat berakibat kurangnya kadar oksigen pada sirkulasi
sistemik. Kadar oksigen yang terlalu rendah akan menyebabkan sianosis.
Kelainan jantung bawaan pada umumnya dapat menyebabkan hal-hal sebagai
berikut:
1. Peningkatan kerja jantung, dengan gejala: kardiomegali, hipertrofi,
takhikardia.
2. Curah jantung yang rendah, dengan gejala: gangguan pertumbuhan,
intoleransi terhadap aktivitas
3. Hipertensi pulmonal, dengan gejala: dispnea, takhipnea
4. Penurunan saturasi oksigen arteri, dengan gejala: polisitemia, asidosis,
sianosis

F. Klasifikasi penyakit jantung bawaan


PJB Asianosis:
a. Peningkatan aliran pulmonalis:
1. ASD (Atrial Septal Defect)
ASD adalah adanya lubang pada sekat serambi jantung. Akibatnya
terjadilah kebocoran darah bersih dari serambi kiri ke kanan sehingga
bilik kanan membesar dan aliran darah ke paru paru meningkat. ASD
biasanya tidak menimbulkan masalah pada masa kanak-kanak, tetapi
akan terjadi gagal jantung dikemudian hari pada dekade ke 2 atau 3,
terutama bila lubangnya cukup besar. Operasi biasanya dianjurkan
pada usia prasekolah, kecuali apabila lubangnya besar sehingga
menimbulkan gejala gagal jantung lebih dini. Selain operasi ASD yang
kecil dapat ditutup dengan intervensi non bedah dengan menggunakan
ASO (Atrial septal occluder).
2. VSD (Ventrikular Septal Defect)
VSD berarti terdapat lubang pada sekat bilik jantung. VSD merupakan
PJB yang paling sering di jumpai. VSD yang besar menyebabkan lebih
banyak darah yang bocor dari bilik kiri ke kanan sehingga akan
meningkatkan aliran serta tekanan pada sirkulasi paru-paru. Hal ini
akan menimbulkan beban kerja pada jantung sehingga terjadi gejala-
gejala gagal jantung pada anak yang menderitanya, yaitu; nafas cepat,
berkeringat banyak dan tidak kuat menghisap susu. Apabila dibiarkan
pertumbuhan anak akan terganggu dan sering menderita batuk disertai
demam. Pembedahan merupakan cara pengobatan yang terbaik, dan
biasanya dilakukan pada usia 3 atau 4 bulan. VSD ukuran sedang
dapat diobati dan diamati sampai beberapa tahun, dengan harapan
dapat mengecil atau menutup spontan. Operasi perlu dilakukan apabila
VSD tetap ada, biasanya pada usia prasekolah yaitu 3-5 tahun.
3. PDA (Patent Ductus Arteriosus)
Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah kegagalan menutupnya ductus
arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada
minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah
dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan
rendah. Bayi dengan PDA lebih besar dapat menunjukkan tanda-tanda
gagal jantung kongestif (CHF):
a) Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung
b) Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap,
paling nyata terdengar di tepi sternum kiri atas)
c) Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi menonjol dan
meloncat-loncat, Tekanan nadi yang lebar (lebih dari 25 mm Hg)
d) Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari hiperemik
e) Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.
f) Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah
g) Apnea
h) Tachypnea
i) Nasal flaring
j) Retraksi dada
k) Hipoksemia
l) Peningkatan kebutuhan ventilator (sehubungan dengan
masalah paru)
b. Obstruksi aliran darah dari ventrikel
1. Stenosis katup aorta
2. Stenosis katup pulmoner
3. Koartasio aorta

PJB Sianosis:
a. Penurunan aliran paru
1. Atresia tricuspid
2. Tetralogi Fallot
Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan
jantung dengan gangguan sianosis
yang ditandai dengan kombinasi 4 hal
yang abnormal meliputi defek septum
ventrikel, stenosis pulmonal,
overriding aorta, dan hipertrofi
ventrikel kanan. Komponen yang
paling penting dalam menentukan
derajat beratnya penyakit adalah stenosis pulmonal dari sangat ringan
sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin lama makin
berat.
b. Pencampuran aliran darah
1. Transposisi arteri besar
2. Trunkus Arteriosus
3. Sindroma Hipoklasi JantungKiri

G. Komplikasi
a. Endokarditis
b. Obstruksi pembuluh darah pulmonal
c. CHF
d. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur)
e. Enterokolitis nekrosis
f. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau
displasia bronkkopulmoner)
g. Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit
h. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin.
i. Aritmia
j. Gagal tumbuh

H. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat
saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan
16-18 gr/dl dan hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA menunjukkan
peningkatan tekanan partial karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan
parsial oksigen (PO2) dan penurunan PH.pasien dengan Hn dan Ht normal
atau rendah mungkin menderita defisiensi besi.
b. Radiologi
Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah pulmonal, tidak
ada pembesaran jantung . gambaran khas jantung tampak apeks jantung
terangkat sehingga seperti sepatu.
c. Elektrokardiogram
Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan. Tampak pula
hipertrofi ventrikel kanan. Pada anak besar dijumpai P pulmonal
d. Ekokardiografi
Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi ventrikel
kanan,penurunan ukuran arteri pulmonalis & penurunan aliran darah ke
paru-paru
e. Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk mengetahui defek septum
ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi
stenosis pulmonal perifer. Mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen,
peningkatan tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan pulmonalis normal
atau rendah.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat kehamilan : ditanyakan sesuai dengan yang terdapat pada etiologi
(faktorprenatal dan genetik yang mempengaruhi).
2. Riwayat tumbuh
Biasanya anak cendrung mengalami keterlambatan pertumbuhan
karena fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori sebagai akibat
dari kondisi penyakit.
3. Riwayat psikososial/ perkembangan
a. Kemungkinan mengalami masalah perkembangan
b. Mekanisme koping anak/ keluarga
c. Pengalaman hospitalisasi sebelumnya
4. Pemeriksaan fisik
a. Pada awal bayi baru lahir biasanya belum ditemukan sianotik,bayi
tampak biru setelah tumbuh.
b. Clubbing finger tampak setelah usia 6 bulan.
c. Serang sianotik mendadak (blue spells/cyanotic spells/paroxysmal
hiperpnea,hypoxic spells) ditandai dengan dyspnea, napas cepat
dan dalam,lemas,kejang,sinkop bahkan sampai koma dan kematian.
d. Anak akan sering Squatting (jongkok) setelah anak dapat berjalan,
setelah berjalan beberapa lama anak akan berjongkok dalam
beberapa waktu sebelum ia berjalan kembali.
e. Pada auskultasi terdengar bising sistolik yang keras didaerah
pulmonal yang semakin melemah dengan bertambahnya derajat
obstruksi
f. Bunyi jantung I normal. Sedang bunyi jantung II tunggal dan keras.
g. Bentuk dada bayi masih normal, namun pada anak yang lebih besar
tampak menonjol akibat pelebaran ventrikel kanan
h. Ginggiva hipertrofi,gigi sianotik
5. Pengetahuan anak dan keluarga :
a. Pemahaman tentang diagnosis.
b. Pengetahuan/penerimaan terhadap prognosis
c. Regimen pengobatan
d. Rencana perawatan ke depan
e. Kesiapan dan kemauan untuk belajar

B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan malforasi jantung
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal
3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan tidak
adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen

C. Intervensi keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan malforasi jantung

Tujuan : Mempertahankan curah jantung yang adekuat

Kriteria hasil : Anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah


jantung

Intervensi Rasional

Mandiri

Observasi kualitas dan kekuatan Permulaan gangguan pada


denyut jantung, nadi perifer, warna jantung akan ada perubahan
dan kehangatan kulit tanda-tanda vital, semuanya harus
cepat dideteksi untuk penanganan
lebih lanjut

Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral, Pucat menunjukkan adanya


membran mukosa, clubbing) penurunan perfusi sekunder
terhadap ketidak adekuatan curah
jantung, vasokonstriksi dan
anemia.

Monitor tanda-tanda CHF (gelisah, Deteksi dini untuk mengetahui


takikardi, tachypnea, sesak, mudah adanya gagal jantung kongestif
lelah, periorbital edema, oliguria, dan
hepatomegali)

Kolaborasi

Pemberian digoxin sesuai order, Obat ini dapat mencegah semakin


dengan menggunakan teknik memburuknya keadaan klien.
pencegahan bahaya toksisitas.

Berikan pengobatan untuk Obat anti afterload mencegah


menurunkan afterload terjadinya vasokonstriksi

Berikan diuretik sesuai indikasi. Diuretik bertujuan untuk


menurunkan volume plasma dan
menurunkan retensi cairan di
jaringan sehingga menurunkan
risiko terjadinya edema paru.

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal


Tujuan : Mengurangi adanya peningkatan resistensi pembuluh paru:
Kriteria hasil : Anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya
peningkatan resistensi pembuluh paru
Intervensi Rasional

Mandiri

Observasi kualitas dan kekuatan Untuk mengetahui kemampuan


denyut jantung, nadi perifer, warna bernafas klien
dan kehangatan kulit

Atur posisi anak dengan posisi fowler Untuk memudahkan pasien dalam
bernapas

Hindari anak dari orang yang terinfeksi Agar anak tidak tertular infeksi
yang akan memperburuk keadaan

Berikan istirahat yang cukup Menurunkan kebutuhan oksigen


dalam tubuh

Kolaborasi

Berikan oksigen jika ada indikasi Membantu klien untuk memenuhi


oksigenasinya.

3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan tidak


adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan

Tujuan : Memberikan support untuk tumbuh kembang

Kriteria hasil: Anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat
dan tinggi badan

Intervensi Rasional

Mandiri

Kaji tingkat tumbuh kembang anak Memantau masa tumbuh kembang


anak

Berikan stimulasi tumbuh kembang, Agar anak bisa tumbuh dan


ativitas bermain, game, nonton TV, berkembang sebagaimana
puzzle, nmenggambar, dan lain-lain mestinya
sesuai kondisi dan usia anak.

Libatkan keluarga agar tetap Anggota keluarga sangat besar


memberikan stimulasi selama dirawat pengaruhnya terhadap proses
pertumbuhan dan juga
perkembangan anak-anak

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan timbul
kembali dan status nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :
- Status nutrisi terpenuhi
- nafsu makan klien timbul kembali
- berat badan normal
- jumlah Hb dan albumin normal

Intervensi Rasional

Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi Mengetahui kekurangan nutrisi


klien klien

Mencatat intake dan output makanan Mengetahui perkembangan


klien. pemenuhan nutrisi klien.

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk Ahli gizi adalah spesialisasi


membantu memilih makanan yang dalam ilmu gizi yang membantu
dapat memenuhi kebutuhan gizi klien memilih makanan sesuai
selama sakit dengan keadaan sakitnya, usia,
tinggi, berat badannya.

Manganjurkn makan sedikit- sedikit Dengan sedikit tapi sering


tapi sering. mengurangi penekanan yang
berlebihan pada lambung.
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen
Tujuan : Mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat
Kriteria hasil : Anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat
Intervensi Rasional

Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas Jika tidak sesuai parameter, klien
menggunakan parameter berikut : dikaji ulang untuk mendapatkan
Nadi 20 per menit diatas frekuensi perawatan lebih lanjut.
istirahat, catat peningkatan TD, Nyeri
dada, kelelahan berat, berkeringat,
pusing dan pingsan

Kaji kesiapan pasien untuk Persiapkan dan dukung klien untuk


meningkatkan aktivitas melakukan aktivitas jika sudah
mampu

Dorong memajukan aktivitas Agar klien termotivasi untuk


melakukan aktivitas sehingga
terpacu untuk sembuh

Berikan bantuan sesuai dengan Memudahkan klien ntuk


kebutuhan dan anjurkan penggunaan beraktivitas tapi tidak memanjakan
kursi mandi

Dorong pasien untuk partisipasi dalam Klien termotivasi untuk sembuh


memilih periode

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan.


Edisi 3 EGC. Jakarta

Wilson & Price. (2002). Patofisiologikonsep klinik penyakit. Volume 1 EGC:Jakarta

http://www.penyakitjantung.net/penyakit-jantung bawaan/#more
Ali, M. 2012. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25847/4/Chapter%-20II.pdf

Behrman. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Editor Samik Wahab. Jakarta. EGC.
http://books.google.co.id.

Insley, J. 2003. Vade-mecum pediatric/alih bahasa, Achmad Surjono; edisi 13. Jakarta.
EGC. http://books.google.co.id.

Meadow, R dan Simon Well. 2005. Lecture Notes Pediatrika. Alih bahasa Kripti dan Asri.
Jakarta. Erlangga. http://books.google.co.id.

Muttaqin, A. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular.


Jakarta. Salemba Medika.

Tucker, S, dkk. 1999. Standar Perawatan Pasien: Proses Keperawatan, Diagnosis, &
Evaluasi Vol.4. Jakarta. EGC. http://books.google.co.id.