Anda di halaman 1dari 12

PENINGKATAN MOTIVASI DAN PEMAHAMAN KONSEP BANGUN RUANG

DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN APTITUDE

TREATMENT INTERACTION

(PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII MTs Negeri Gondangrejo)

Naskah Publikasi

Diajukan oleh :

Rudi Riyanto

A 410 070 101

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2012
NINGKATAN MOTIVASI DAN PEMAHAMAN KONSEP BANGUN RUANG DENGAN

MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION

(PTK Pembelajaran Matematika Di Kelas VIII MTs Negeri Gondangrejo)

Oleh

Rudi Riyanto1, Tjipto Subadi2, Slamet H.W3


1
Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UMS, Riyanto@yahoo.com
2
Staf Pengajar UMS Surakarta
3
Staf Pengajar UMS Surakarta

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan peningkatan motivasi dan pemahaman
konsep belajar matematika pada pokok bahasan bangun ruang dalam pembelajaran matematika
melalui strategi aptitude treatment intraction. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK). Subyek penerima tindakan adalah siswa kelas VIII-G MTs Negeri Gondangrejo yang
berjumlah 36 siswa. Metode pengumpulan data melalui metode observasi, catatan lapangan dan
dokumentasi. Teknik analisis data di lakukan dengan cara deskriptif kualitatif dengan model alur.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar dan pemahaman konsep dalam
pembelajaran matematika pokok bahasan bangun ruang. Peningkatan motivasi belajar siswa dapat
dilihat dari : 1) kesiapan siswa mengikuti pelajaran sebelum di adakan tindakan sebesar 30,56% dan
di akhir putaran mencapai 72,22%, 2) memperhatikan penjelasan guru sebelum di adakan tindakan
sebesar 47,22%, dan di akhir putaran sebesar 83,33%, 3) semangat mengerjakan soal latihan dari guru
sebelum di adakan putaran sebesar 44,44%, dan di akhir tindakan sebesar 80,56%, 4) antusiasme
siswa mengerjakan soal latihan di depan kelas sebelum di adakan tindakan sebesar 13,89%, dan di
akhir tindakan mencapai 52,78%. Peningkatan pemahaman konsep belajar siswa dapat dilihat dari : 1)
siswa yang berani mengemukakan ide sebelum di adakan tindakan sebesar 5,56% dan di akhir putaran
sebesar 72,22%, 2) siswa yang mampu menjawab pertanyaan sebelum di adakan tindakan sebanyak
13,89% dan di akhir putaran sebanyak 91,67%, 3) siawa yang berani mengajukan pertanyaan atau
tanggapan kepada guru sebelum di dakan tindakan sebesar 2,78% dan di akhir putaran sebanyak
58,33%, 4) siswa yang berani menyanggah atau menyetujui jawaban siswa atau kelompok lain
sebelum di adakan tindakan sebesar 8,33% dan di akhir putaran sebesar 61,11%, 5) siswa yang dapat
mengkontruksikan soal kedalam model matematika sebelum di adakan tindakan sebesar 30,58 dan di
akhir putaran sebanyak 94,67%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran aptitude
treatment interaction dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman
konsep belajar matematika.

Kata kunci : motivasi ,pemahaman konsep, pembelajaran aptitude treatment


interaction
PENDAHULUAN

Pengetahuan dasar yang harus dimiliki semua manusia di bumi adalah membaca,

menulis dan berhitung. Dalam hal ini pengetahuan dasar nerhitung telah dikembangkan

dalam dunia pendidikan yaitu melalui pembelajran matematika. Tetapi banyak siswa

menganggap matematika adalah ilmu pengetahuan yang kompleks dan sulit. Karakter

terpenting matematika adalah penguasaan konsep, algoritma dan kemampuannya

menyelesaikan masalah.

Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting

dalam pendidikan. Menurut John dan My Klebust (dalam Mulyono Abdurahman,

2003:252) matematika adalah bahasa simbolik yang fungsi praktisnya untuk

mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi

teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir.

Belajar mengajar merupakan suatu proses yang sangat kompleks, karena dalam

proses tersebut siswa tidak hanya sekedar menerima dan menyerap informasi yang

disampaikan oleh guru, tetapi siswa dapat melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran

agar hasil belajarnya lebih baik dan sempurna. Dari proses pembelajaran tersebut siswa

dapat menghasilkan suatu perubahan yang bertahap dalam dirinya, baik dalam bidang

pengetahuan, keterampilan dan sikap. Adanya perubahan tersebut terlihat dalam prestasi

belajar yang dihasilkan oleh siswa berdasarkan evaluasi yang diberikan oleh guru.

Faktor yang sangat besar pengaruhnya dalam mencapai prestasi belajar setinggi

mungkin adalah achievement motivication yaitu daya penggerak dalam diri siswa untuk

mencapai taraf berprestasi lebih baik. Namun seberapa besar pengaruh hasrat prestasi atau

motivasi berprestasi siswa terhadap prestasi belajarnya, khususnya untuk bidang studi

matematika masih merupakan permasalahan yang perlu dicari jawabannya.


Dalam proses belajar mengajar sering kali siswa menghadapi berbagai masalah.

Masalah-masalah tersebut tentunya sangat mempengaruhi keberhasilan siswa sehingga

diperlukan usaha untuk menyelesaikannya. Usaha-usaha yang dilakukan hendaknya

disertai dengan dukungan sifat mandiri dalam belajar karena dengan sifat mandiri akan

mendorong siswa untuk berkonsentrasi dalam belajar dan memperbanyak latihan.

Terlebih lagi untuk pelajaran matematika yang banyak menggunakan perhitungan

sangat menuntut adanya latihan-latihan yang dilakukan berapa pengerjaan soal yang ada

dalam buku yang bertujuan untuk menunjang pemahaman siswa terhadap meteri. Sehingga

siswa dituntut untuk benar- benar memahaminya.

Pembelajaran matematika di sekolah nampaknya masih belum mendapat tempat di

hati para siswa, karena masih banyak ditemukan berbagai masalah yang dialami oleh

peserta didik. Berbagai permasalahan yang terjadi pada siswa-siswi kelas VIII di MTsN

Gondangrejo antara lain kurangnya pemahaman siswa, bertanya hal yang belum jelas,

mengeluarkan idea atau gagasan, pembelajaran kurang melibatkan siswa, pembelajaran

cenderung membosankan tidak ada variasi karena strategi pelajaran yang digunakan masih

monoton, dan tidak ada bimbingan untuk setiap individu.

Berdasarkan uraian permasalahan di atas maka penulis menerapkan model

pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) karena dalam model pembelajaran ini

siswa akan diberikan wancana oleh guru sesui materi pelajaran. Siswa saling bekerja sama

membaca dan menemukan ide serta mampu menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan

adanya pembelajaran tersebut diharapkan dapat melibatkan siswa secara aktif dalam

pembelajaran sehingga siswa lebih mudah memahami materi dan pemahaman konsep

siswa akan meningkat prestasi belajarnya


METODE PENELITIAN

Berdasarkan pendekatan, secara garis besar dibedakan dua macam penelitian yaitu

penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif didasarkan konsep positivisme

yang bertolak dari asumsi bahwa realita bersifat tunggal, fixed, stabil, lepas dari

kepercayaan dan perasaan-perasaan indivudual. Realita terdiri atas bagian dan unsur yang

terpisah satu sama lain dan dapat diukur dengan menggunakan instrumen.

Sedangkan penelitian kualitatif didasari oleh konsep konstruktivisme, yang

memiliki pandangan bahwa realita bersifat jamak, menyeluruh dan merupakan satu

kesatuan yang tidak bisa diposah pisah. Realita bersifat terbuka, kontekstual, secara

sosial meliputi persepsi dan pandangan-pandangan individu dan kolektif, diteliti dengan

menggunakan dengan manusia sebagai instrumen.

Jenis penelitian ini kualitatif dengan desain penelitian ini adalah Penelitian

Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). PTK adalah suatu

penelitian yang dilakukan oleh guru kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan

penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praksis pembelajaran

(Suharsimi Arikunto, 2006: 96).

Proses penelitian berbentuk siklus (cycles) yang mengacu pada model Elliots.

Siklus ini berlangsung beberapa kali sehingga tercapai tujuan yang diinginkan pada

pembelajaran matematika. Dalam setiap siklus terdiri dari empat kegiatan pokok, yaitu

perencanaan (plan), pelaksanaan (action), pengawasan (observe) dan refleksi (reflect).

Kegiatan perencanaan awal di mulai dari melakukan pendahuluan. Pada kegiatan

ini juga mendiskusikan cara melakukan tindakan pembelajaran dan bagaimana cara

melakukan. Pengamatan selama tindakan penelitian dilakukan peneliti. Pengamatan


berdasarkan pedoman observasi yang telah disiapkan. Kejadian-kejadian penting selama

proses dibuat pada catatan pembelajaran.

Refleksi dilaksanakan peneliti bersama guru. Kegiatan ini berdiskusi untuk

memberi makna menerangkan dan menyimpulkan hasil tindakan yang telah dilakkukan.

Berdasarkan kesimpulan pada kegiatan refleksi ini suatu perencanaan untuk siklus

berikutnya dibuat tindakan penelitian dipandang cukup. Evaluasi hasil penelitian

dilakukkan untuk mengkaji hasil pelaksanaan observasi dan refleksi pada setiap

tindakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data-data yang diperoleh setelah dilakukan tindakan kelas sebanyak

tiga kali putaran, dapat ditunjukkan adanya perubahan pada tingkat motivasi belajar siswa.

Adapun perubahannya kami sajikan sebagai berikut :

Tabel 4.1
Data Hasil Peningkatan Motivasi Belajar Siswa
dalam Pembelajaran Matematika

Semangat siswa Antusias siswa


Kesiapan Memperhatik
dalam mengerjakan
Tindakan mengikuti an penjelasan
mengerjakan soal di depan
pelajaran guru
soal kelas

11 siswa 17 siswa 16 siswa 5 siswa


Sebelum tindakan
(30,56%) (47,22%) (44,44%) (13,89%)

18 siswa
14 siswa 20 siswa 8 siswa
Tindakan kelas putaran I (50%)
(38,89%) (55,56%) (22,22%)

23 siswa 26 siswa 23siswa 15 siswa


Tindakan kelas putaran II
(63,89%) (72,22%) (63,89%) (41,67%)

Tindakan kelas putaran 26 siswa 30 siswa 29 siswa 22 siswa


III (72,22%) (83,33%) (80,56%) (61,11%)
Grafik peningkatan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika

siswa dari sebelum tindakan sampai tindakan kelas putaran III dapat digambarkan

sebagai berikut :

90%

Kesiapan mengikuti
80% pelajaran

70%

60% Memperhatikan
penjelasan guru
50%

40% Semangat siswa


dalam mengerjakan
30% soal

20%
Antusias siswa
mengerjakan soal di
10%
depan kelas

0%
Sebelum Tindakan Tindakan Tindakan
tindakan kelas putaran kelas putaran kelas putaran
I II III

Gambar 4.1
Grafik peningkatan motivasi belajar matematika

Datadata
data yang diperoleh di atas mengenai pemahaman konsep belajar

matematika materi bangun ruang pada siswa kelas VIII dalam pembelajaran

matematika dari sebelum tindakan sampai dengan tindakan kelas putaran III dapat

disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 4.2
Data peningkatan pemahaman konsep belajar matematika
Pemahaman Konsep Belajar Sebelum
Putaran I Putaran II Putaran III
Matematika putaran
Mengemukakan ide 2 siswa 6 siswa 16 siswa 26 siswa
(5,56%) (16,67%) (44,44%) (72,22%)
Menjawab pertanyaan 5 siswa 9 siswa 14 siswa 33 siswa
(13,89%) (25%) (38,89%) (91,67%)
Mengajukan pertanyaan atau 1 siswa 3 siswa 13 siswa 24 siswa
tanggapan kepada guru (2,78%) (8,33 %) (36,11%) (66,67%)

Menyanggah atau menyetujui 3 siswa 5 siswa 10 siswa 22 siswa


jawaban siswa atau kelompok (8,33%) (13,89%) (27,78%) (61,11%)
lain
Mengkontruksika soal ke 11 siswa 21 siswa 27 siswa 34 siswa
dalam model matematika (30,56%) (58,33%) (75 %) (94,67%)

Adapun grafik peningkatan pemahaman konsep belajar matematika pada

materi operasi dasar bilangan bulat dari sebelum tindakan sampai tindakan kelas

putaran III dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.2
Grafik Peningkatan Pemahaman Konsep Belajar Matematika

100%
Mengemukakan ide
90%
80%
Menjawab pertanyaan
70%
60%
Mengajukan pertanyaan atau
50% tanggapan kepada guru
40%
Menyanggah atau menyetujui
30% jawaban siswa atau kelompok
20% lain
Mengkontruksika soal ke
10% dalam model matematika
0%
Sebelum Putaran I Putaran II Putaran III
putaran
Dengan demikian, dari melihat hasil dari perubahan motivasi belajar siswa dari

setiap tindakan dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan strategi aptitude

treatment interaction sebagai usaha untuk meningkatakan motivasi belajar siswa

mengalami peningkatan. Seperti halnya penelitian Tegar Bayu A.P yang

menggunakan strategi penemuan terbimbing juga dapat meningkatkan motivasi

belajar siswa. Dari melihat hasil dari perubahan pemahaman konsep belajar siswa dari

setiap tindakan dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan strategi aptitude

treatment interaction sebagai usaha untuk meningkatakan pemahaman konsep belajar

siswa mengalami peningkatan. Seperti halnya penelitian Jayanti yang menggunakan

strategi pembelajaran aktif tipe active knowledge sharing juga dapat meningkatkan

pemahaman konsep belajar siswa.

SIMPULAN

Hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti,

guru matematika kelas VIII-G MTs Negeri Gondangrejo dan kepala sekolah dalam

pembelajaran matematika melalui penerapan strategi aptitude treatment interaction (ATI)

untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman konsep belajar matematika siswa, dapat

diambil beberapa kesimpulan. Adapun kesimpulan dapat dijelaskan dalam hal-hal sebagai

berikut:

1. Dialog awal tentang usaha peningkatan motivasi dan pemahaman konsep belajar

matematika siswa melalui strategi aptitude treatment interaction (ATI) dalam

pembelajaran matematika, telah diperoleh kesepakatan bahwa pembelajaran dengan

cara memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat menyelidiki dan menarik

kesimpulan, guru bertindak sebagai penunjuk jalan / fasilitator untuk membantu siswa

menemukan ide, konsep dan ketrampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya.

Penggunaan pertanyaan yang tepat akan sangat membantu siswa. Serta upaya-upaya
peningkatan motivasi belajar matematika siswa ini berdasarkan dari permasalahan yang

sering muncul dalam proses pembelajaran dan telah dialami oleh guru matematika kelas

VIII G. Permasalahan yang ada adalah kesiapan siswa dalam menerima pelajaran,

perhatian siswa terhadap pelajaran dan semangat siswa dalam mengerjakan soal dari

guru serta antusias siswa mengerjakan soal di depan kelas yang masih rendah

2. Perencanaan pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh

evaluasi berdasarkan tindakan kelas, yaitu pembelajaran yang biasa dilakukan masih

pembelajaran konvensional, berubah menjadi pembelajaran yang menuntut siswa untuk

lebih banyak yang aktif, sehingga terpusat pada siswa. Siswa lebih banyak berdiskusi

kelompok, sehingga kemampuan problem solving siswa dapat meningkat dengan

bimbingan guru.

3. Penerapan strategi aptitude treatment interaction (ATI) dalam pembelajaran

matematika dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman konsep belajar siswa. Hal ini

ditunjukkan oleh hasil evaluasi terhadap profil kelas sebelum dan sesudah penelitian

dan tanggapan guru kelas setelah rangkaian tindakan kelas selesai. Dari profil kelas

yang dibuat guru kelas bersama peneliti dapat disimpulkan sebagai berikut:

Proses pembelajaran matematika melalui strategi aptitude treatment

interaction (ATI) dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman konsep belajar

matematika

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Anggraeni, Pramesti Putri. 2008. Upaya Peningkatan Pemahaman Konsep Bangun Ruang
Melalui Pemanfaatan Barang Bekas sebagai Media Pembelajaran PTK di Kelas V
SDN Tutup I Blora. Skripsi Studi S-1 FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta:
Tidak Diterbitkan.
Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Rineka Cipta.

Gedler, Margaret. E. Bell. 1994. Belajar dan Membelajarkan (Terjemahan : Munandir).


Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Hajah K, Siti Aminah. 2010. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran
Matematika melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power of Two (PTK
Pembelajaran Matematika Kelas VII SMP N 2 Sidoharjo Sragen). Skripsi.
Surakarta: UMS (tidak diterbitkan)

Hamalik , Oemar. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar mengajar. Jakarta: Bumi aksara.
Handoko. 2009. Peningkatan Keaktifan dan Kemandirian Siswa dalam Pembelajaran
Matematika melalui Strategi Pembelajaran Think Talk Write (PTK pada Siswa
Kelas VIII Semester Genap di SMP N 2 Banyudono). Skripsi. Surakarta: UMS
(tidak diterbitkan).

Ibrahim. R dan Syaodih Nana. S, 2003. Perencanaan Pengajaran, Jakarta:


Rineka Cipta.
Khotimah, Khusnul. 2008. Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Melalui Metode
Discovery Inquiry pada Siswa Kelas VII SMP N 5 Sukoharjo. Skripsi Studi S-1
FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta: Tidak Diterbitkan.

Nasution, S. 2001. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Dan Mengajar. Bandung:
Bumi Aksara .
Nurdin, Syafrudin. 2005. Model Pembelajaran Yang Memperhatikan Keragaman Individu
Siswa Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Quantum Teaching.
Risjayanti. 2008. Peningkatan Motivasi dan Minat Belajar Siswa dalam Pembelajaran
Matematika melalui Metode Montessori dengan Menggunakan Alat Peraga (PTK
Pembelajaran Matematika Kelas VIII SMP Negeri 1 Ulujami Pemalang). Skripsi.
Surakarta: UMS (tidak diterbitkan)

Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Uno, Hamzah.B. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya, Jakarta: Bumi Aksara
Winkel. 1996. Pengantar Kepada Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran
Matematika Untuk Peningkatan CBSA. Bandung: Tarsindo.