Anda di halaman 1dari 6

PENUGASAN JOURNAL READING

BLOK 2.4 GANGGUAN PERTUMBUHAN

ADENOKARSINOMA KOLON

NAMA : Sahdellagustina
NIM : 15711127
TUTORIAL : 13
TUTOR : dr. Riri

FAKULTAS K E D O K T E R A N
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2017
A. PENDAHULUAN
1. Definisi Penyakit
Buku Pedoman Nasional Pelayanan Kanker Kolorektal menyebutkan bahwa
kanker kolorektal adalah keganasan yang berasal dari jaringan usus besar,
terdiri dari kolon (bagian terpanjang dari usus besar) dan atau rektum
(bagian kecil terakhir dari usus besar sebelum anus). Kanker kolon dan rektal
cukup sulit untuk dipisahkan karena kedua jenis penyakit ini bisa timbul
bersama-sama maupun masing-masing diakibatkan karena struktur
anatominya yang bersebelahan dan tidak memiliki batas. Ciri-ciri dari
penyakit kanker kolorektal yaitu peningkatan frekuensi defekasi atau diare,
perdarahan anus, terdapat tanda-tanda obstruksi metabolik, dan mengalami
anemia defisiende Fe. 3

2. Epidemiologi
Kanker kolon merupakan kanker yang memiliki angka kejadian tertinggi
ketiga dan angka kematian keempat di dunia baik pada perempuan maupun
laki-laki. Prevalensi kejadian kanker kolon di Kanada merupakan kejadian
tertinggi ketiga baik pada perempuan dan laki-laki dan merupakan penyebab
kedua dan ketiga tertinggi kematian pada pengidap kanker baik pada
perempuan maupun laki-laki. Menurut Komite Penanggulangan Kanker
Nasional menyebutkan bahwa angka kematian kanker kolorektal telah
berkurang sejak 20 tahun terakhir. Ini berhubungan dengan meningkatnya
deteksi dini dan kemajuan pada penanganan kanker kolorektal. 1

3. Etiologi
Secara umum perkembangan kanker kolon merupakan interaksi antara
faktor lingkungan dan faktor genetik. Faktor lingkungan multipel beraksi
terhadap predisposisi genetik atau defek yang didapat dan berkembang
menjadi kanker kolon. Terdapat 3 kelompok kanker kolon berdasarkan
perkembangannya yaitu:
1 kelompok yang diturunkan (inherited) yang mencakup kurang dari 10% dari
kasus kanker kolon;
2 kelompok sporadik, yang mencakup sekitar 70%;
3 kelompok familial, mencakup 20%.

Kelompok diturunkan adalah mereka yang dilahirkan sudah dengan


mutasi germline (germline mutation) pada salah satu allel dan terjadi mutasi
somatik pada allel yang lain. Contohnya adalah FAP (Familial Adenomatous
Polyposis) dan HNPCC (Hereditary Non-Polyposis Colorectal Cancer). HNPCC
terdapat pada sekitar 5% dari kanker kolon. Kelompok sporadik
membutuhkan dua mutasi somatik, satu pada masing masing allel-nya.
Kelompok familial tidak sesuai kedalam salah satu dari dominantly
inherited syndromes diatas (FAP & HNPCC) dan lebih dari 35% terjadi pada
umur muda. Meskipun kelompok familial dari kanker kolon dapat terjadi
karena kebetulan saja, akan tetapi faktor lingkungan, penetrant mutations
yang lemah atau currently germline mutations dapat berperan.3

4. Faktor resiko
Risiko penyakit kanker kolon cenderung lebih kecil pada wanita
dibandingkan pada pria. Secara umum perkembangan kanker kolon
merupakan interaksi antara faktor lingkungan dan faktor genetik. Faktor
lingkungan multipel beraksi terhadap predisposisi genetik atau defek yang
didapat dan berkembang menjadi kanker kolon. Terdapat banyak faktor yang
dapat meningkatkan atau menurunkan risiko terjadinya kanker kolon, faktor
risiko dibagi menjadi dua yaitu faktor yang dapat dimodifikasi dan yang tidak
dapat dimodifikasi. Termasuk di dalam faktor risiko yang tidak dapat
dimodifikasi adalah riwayat kanker kolon atau polip adenoma individual dan
keluarga, dan riwayat individual penyakit kronis inflamatori pada usus. Selain
itu, faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah inaktivitas, pola makan,
obesitas, konsumsi tinggi daging merah, daging olahan dan lemak tipe
tertentu, merokok dan konsumsi alkohol.1

B. RINGKASAN JURNAL
1. Introduksi
Kanker kolon merupakan kanker yang memiliki angka kejadian tertinggi
ketiga dan angka kematian keempat di dunia baik pada perempuan maupun
laki-laki. Prevalensi kejadian kanker kolon di Kanada merupakan kejadian
tertinggi ketiga baik pada perempuan dan laki-laki dan merupakan penyebab
kedua dan ketiga tertinggi kematian pada pengidap kanker baik pada
perempuan maupun laki-laki. Faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker
kolon berupa pola makan, obesitas, daging merah, daging olahan, lemak tipe
tertentu dan alcohol. Faktor tersebut sangat erat hubungannya dengan
aktifitas fisik yang diyakini dapat menurunkan risiko kanker kolon.
Hasil dari penelitian cross-sectional Jepang dan cohort Portugal ditemukan
bahwa angka kejadian dan tingkat kematian penderita kanker kolon
meningkat akibat pola makan yang kaya akan lemak berupa lemak total,
lemak jenuh, trans-fat, monounsaturated fat, polyunsaturated fat dan
kolesterol. Terdapat beberapa penelitian yang memperdebatkan kebenaran
bahwa konsumsi karbohidrat dan protein meningkatkan risiko kanker kolon,
serta asumsi low-fat dapat menurunkan risiko kanker kolon.
Atas dasar memastikan kembali inkonsistensi hasil penelitian sebelumya,
dilakukan penelitian mengenai pola makan yang mengkonsumsi protein,
lemak, kolesterol dan karbohidrat pada orang yang berisiko menderita kanker
kolon menggunakan data warga negara Kanada dengan metode case-control
berdasarkan populasi.

2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode case-control berdasarkan data
populasi dengan 19 tipe kanker di Kanada, Alberta, Sasketchewan, Manitoba,
Prince Edward Island, Nova Scotia, dan Newfoundland. Kuisioner penelitian
disebarkan melalui email menuju alamat yang tertera di daftar registrasi
pasien penderita kanker. Hasil penyebaran email diketahu bahwa dari 5119
kuisioner yang disebar kepada pasien yang berpotensial, 81 email
dikembalikan karena salah alamat, 3097 (1635 laki-laki dan 1462
perempuan) menerima email kuisioner tersebut dan 61,5% dari pasien
berhasil dikontak.
Mekanisme pengaturan pengisian kuisioner yaitu setelah 14 hari email
dikirimkan, jika kuisioner tidak diisi dan dikembalikan makan akan dikirimkan
kembali pengingat untuk segera mengisi dan mengirimkan kembali kuisioner
disertai denagn pengiriman kuisioner kembali pada minggu keempat setelah
pengiriman pertama. Setelah 6 minggu, jika memungkinkan dilakukan
pemantauan kembali pasien melalui telepon untuk klarifikai dan pengecekan
kelengkapan data. Informasi yang diambil berupa pola makan, tinggi, berat
badan, sejarah merokok, minum alcohol, karbohidrat, aktivitas fisik dan
status sosioekonomi.

3. Hasil
Hasil dari studi case-control berbasis populasi ditemukan bahwa konsumsi
lemak polyunsaturated, trans-fat dan kolesterol berkorelasi terhadap penyakit
kanker kolon proksimal. Risiko kanker di kedua sisi kolon meningkat jika
konsumsi sukrosa meningkat, konsumsi laktosa meningkatkan risiko kanker
kolon proksimal dan konsumsi fruktosa meningkatkan risiki kanker kolon
distal. Penelitian membuktikan bahwa tidak ditemukan hubungan antara
banyaknya konsumsi lemak, saturated fat, monounsaturated fat, protein,
maltose, galaktosa atau karbohidrat total pada kedua sisi kolon baik
proksimal maupun distal. Tipe lemak lainnya seperti polyunsaturated fat dan
trans-fat jika konsumsinya meningkat maka mampu meningkatkan risiko
kanker kolon. Konsumsi daging merah dan olahan daging yang banyak
mampu meningkatkan risiko kanker kolon yang disebabkan oleh lemak yang
dikandungnya. Tidak semua lemak pada daging merah dapat meningkatkan
resiko kanker kolon, hanya beberapa tipe lemak saja yang mampu
meningkatkan risiko kanker kolo misalnya saja trans fat dan polyunsaturated
fat. Trans fat berpengaruh terhadap peningkatan risiko kanker kolon baik
distal maupun proksimal, inflamasi sistemik, dan mempengaruhi fungsi
endotel.
4. Pembahasan
Jurnal berbasis case control populasi menyebutkan bahwa banyak tipe zat
dalam makanan yang mampu meningkatkan risiko kanker kolon baik bagian
proksimal maupun distal yaitu lemak, karbohidrat, kolesterol, protein,
karbohidrat dan gula. Produk dari lemak yang mampu meningkatkan risiko
kanker kolon adalah trans fat dan polyunsaturated fat. Trans fat merupakan
salah satu tipe lemak yang ada pada daging merah atau daging olahan. Trans
fat berpengaruh terhadap peningkatan risiko kanker kolon proksimal,
inflamasi sistemik, dan mempengaruhi fungsi endotel. Begitu pula pada
polyunsaturated fat yang mampu meningkatkan risiko kanker kolon
proksimal.
Zat lain yang biasanya terdapat dalam makanan yang biasa dimakan
sehari-hari seperti karbohidrat, protein dan gula memiliki risiko meningkatkan
kanker kolon. Konsumsi banyak karbohidrat mampu meningkatkan risiko
terlebih lagi pada wanita, namun ada beberapa penelitian lain yang
menyebutkan bahwa konsumsi karbohidrat tidak berhubungan dengan
kanker kolon. Pecahan kecil dari karbohidrat yaitu sukrosa mampu
meningkatkan risiko kanker. Bukti terbaru menyebutkan bahwa kanker kolon
distal dan proksimal. Konsumsi sukrosa meningkatkan risiko kanker kolon
dengan cara meningkatkan nyeri di kaki, dengan meningkatkan kadar insulin
dan insulin. Protein mampu meningkatkan risiko kanker kolon jika dikonsumsi
berlebihan, namun hal ini hanya terjadi pada laki-laki. Konsumsi kolesterol
tidak diragukan lagi mampu meningkatkan risiko kanker kolon. Hal ini
disebabkan karena kolesterol berperan sebagai zat pemicu karsinogen dalam
perkembangan kanker kolon.
Banyak jurnal bermetode case control dan cohort study tidak sepaham
dalam menentukan teori mana saja yang bisa digunakan. Ketidakselarasan
tersebut memicu kesalahan dalam pemberian treatment atau pencegahan
terhadap pasien. Dalam jurnal ini tidak dilengkapi dengan sejarah kanker
kolon dalam keluarga dan hanya dilengkapi dengan data berupa umur,
provinsi, edukasi, indeks masa tubuh, alcohol, rokok, aktivitas fisik dan
konsumsi energy.

5. Kesimpulan
Studi terbaru menemukan bahwa konsumsi polyunsaturated fat, trans-fat
dan kolesterol secara signifikan berpengaruh meningkatkan risiko kanker
kolon proksimal. Risiko yang meningkat diikuti oleh peningkatan konsumsi
sukrosa berpengaruh terhadap risiko kanker kolon baik distal maupun
proksimal, konsumsi laktosa berpengaruh terhadap kanker kolon proksimal,
dan glukosa dan fruktosa berpengaruh terhadap kanker kolon distal. Zat
lainnya yang sering ditemukan dalam makanan sehari-hari seperti protein,
maltose atau karbohidrat total tidak berpengaruh dalam meningkatkan risiko
kanker kolon. Hasil dari studi ini memberikan bukti lebih jelas terhadap
berbagai macam zat yang dikonsumsi terlebih pada beberapa tipe lemak dan
sukrosa yang jelas mampu meningkatkan risiko kanker kolon.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hu, J., Vecchia, C.L., Negri, E., dan Mery L. 2010. Nutrient and risk of colon
cancer. Article Open Access Cancers. 2, 51-67.
2. Komite Penanggulangan Kanker Nasional. 2010. Kanker kolorektal.
Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran.
3. Sjamsuhidayat, Karnadiharja, W. 2004. Pengelolaan karsinoma kolorektal.
Kelompok Kerja Adenokarsinomo Kolorektal Indonesia.3.