Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam
mengorganisasikan kelas pada umumnya atau dalam menyajikan bahan pelajaran pada
khususnya, yang merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan.Metode pembelajaran
tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan materi saja, melainkan
berfungsi juga untuk pemberian dorongan, pengungkap tumbuhnya minat belajar,
penyampaian bahan belajar, pencipta iklim belajar yang kondusif, tenaga untuk
melahirkan kreativitas, pendorong untuk penilaian diri dalam proses dan hasil belajar,
dan pendorong dalam melengkapi kelemahan hasil belajar

Pembelajaran yang efektif salah satunya ditentukan oleh pemilihan metode


pembelajaran, saat guru menyusun rencana pembelajaran yang dituangkan dalam
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kemahiran guru untuk memilih metode
pembelajaran yang serasi dengan kebutuhan ditentukan oleh pengalamannya,
keluasan pemahaman guru tentang bahan pelajaran, tersedianya media, pemahaman
guru tentang karakteristik siswa, dan karakteristik belajar. Dimana penggunaan
metode pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain tujuan, anak didik,
situasi, fasilitas, dan pribadi guru.

Metode pembelajaran apapun yang digunakan oleh guru menurut Majid, A.


(2005:136) hendaknya dapat mengakomodasi menyeluruh terhadap prinsip-prinsip
pembelajaran.

Pertama, berpusat pada anak didik (student oriented). Guru harus memandang
anak didik sebagai sesuatu yang unik, tidak ada dua orang anak didik yang sama,
sekalipun mereka kembar. Suatu kesalahan jika guru memperlakukan mereka secara
sama. Gaya belajar (learning style) anak didik harus diperhatikan.

Kedua, belajar dengan melakukan (learning by doing). Supaya proses belajar


menyenangkan guru harus menyediakan kesempatan kepada anak didik untuk
melakukan apa yang dipelajarinya, sehingga ia memperoleh pengalaman nyata.

Ketiga, mengembangkan kemampuan sosial. Proses pembelajaran dan


pendidikan selain sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan, juga sebagai
sarana untuk berinteraksi sosial (learning to live together).

Keempat, mengembangkan keingintahuan dan imajinasi. Proses pembelajaran


dan pengetahuan harus dapat memancing rasa ingin tahu anak didik. Juga mampu
memompa daya imajinasi anak didik untuk berpikir kritis dan kreatif. Kelima,
mengembangkan kreativitas dan keterampilan memecahkan masalah.
BAB II

PEMBAHASAN

A. MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF


a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga
tujuan penting pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap
keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim, dkk, 2000:7).

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara


berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri
dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model
pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-
kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah
siswa untuk bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial
dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk
mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi
narasumber bagi teman yang lain.

Model Pembelajaran Kooperatif, dibatasi sebagai lingkungan belajar dimana


siswa bekerja sama dalam suatu kelompok kecil yang kemampuannya berbeda-beda
untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik. Pembelajaran kooperatif dapat diartikan
sebagai model pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa dalam kelompok
kecil, mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas.

Model pembelajaran ini memanfaatkan bantuan siswa lain untuk meningkatkan


pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran, karena terkadang siswa lebih paham akan
hal yang disampaikan temannya daripada guru serta bahasa yang digunakan siswa
kadang lebih mudah dipahami oleh siswa lainnya. Tujuan dibentuknya kelompok
kooperatif adalah memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif
dalam proses berfikir dalam kegiatan belajar. Kelompok siswa tersebut harus saling
bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompoknya. Dengan demikian model
pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar bekerja dalam kelompok. (Slavin, 2008:
113)

b. Jenis-Jenis Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Slavin (2008: 11), model pembelajaran kooperatif terdiri atas lima jenis
atau tipe. Secara ringkas kelima model pembelajaran kooperatif tersebut dijelaskan
sebagai berikut.

1) Student Teams Achievement Division (STAD), tipe ini lebih menekankan pada
interaksi dan aktivitas diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling
membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai hasil yang maksimal
2) Teams Game Tournament (TGT), model ini hampir sama dengan model STAD
tetapi menggantikan kuis dengan tornamen mingguan, dimana antar kelompok
memainkan game untuk menentukan skor kelompok mereka. Teman satu tim
akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan
mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain
3) Group Investigation, dalam model ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok
yang terdiri dari 4-5 siswa, pembagian kelompok dapat dibentuk berdasarkan
perkawanan atau berdasarkan keterkaitan akan sebuah materi tanpa melanggar
cirri-ciri cooperative learning. Pada model ini siswa diberi sub topik yang ingin
mereka pelajari dan topic yang biasanya telah ditentukan guru, setelah itu guru
dan siswa merumuskan tujuan, langkah-langkah belajar berdasarkan sub topic
dan materi yang dipilih
4) Jigsaw, merupakan salah satu tipe pembelajaran yang mendorong siswa aktif dan
saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi
yang maksimal. Dalam model ini terdapat tahap-tahap dalam
menyelenggarakannya, yaitu pembentukan kelompok-kelompok kecil yang
dilakukan oleh guru berdasarkan pertimbangan tertentu

Sedangkan dua pendekatan lain yang dirancang untuk kelas-kelas rendah adalah:

5) Team Assited Individualization (TAI), digunakan pada pembelajaran matematika


untuk tingkat 3-6 (setingkat TK).Dalam model ini para siswa memasuki sekuen
individual berdasarkan tes penempatan dan kemudian melanjutkan dengan
tingkat kemaampuannya sendiri. Secara umum, anggota kelompokm bekerja
dengan unit pelajaran berbeda. Teman satu tim saling memeriksa hasil kerja
masing-masing menggunakan lembar jawaban dan saling membantu dalam
menyelesaikan masalah
6) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), digunakan pada
pembelajaran membaca dan menulis pada tingkatan 2-8 (setingkat TK sampai
SD). dalam model ini siswa lebih banyak mengikuti serangkaian pengajaran
guru, para-penilaian tim, dan kuis. Penghargaan untuk tim dan sertifikat akan
diberikan kepada tim berdasarkan kinerja rata-rata dari semua anggota tim dalam
semua kegiatan

Model pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan
struktur penghargaan (Arends, 1997: 110-111).

a.Struktur tugas mengacu pada cara pengaturan pembelajaran dan jenis kegiatan siswa dalam
kelas

b.Struktur tujuan, yaitu sejumlah kebutuhan yang ingin dicapai oleh siswa dan guru pada
akhir pembelajaran atau saat siswa menyelesaikan pekerjaannya.

Ada tiga macam struktur tujuan, yaitu:


1. Struktur tujuan individualistik

2. Struktur tujuan kompetitif

3. Struktur tujuan kooperatif

c.Struktur penghargaan kooperatif, yaitu penghargaan yang diberikan pada kelompok jika
keberhasilan kelompok sebagai akibat keberhasilan bersama anggota kelompok.

c. Ciri-Ciri dan Tahapan pada Model Kooperatif

Menurut Arends (1997: 111), pembelajaran yang menggunakan model


kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar,

kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah,

jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang
berbeda-beda,

penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.

d. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Langkah Indikator Tingkah Laku Guru


Langkah 1 Menyampaikan tujuan dan Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan
memotivasi siswa. mengkomunikasikan kompetensi dasar yang
akan dicapai serta memotivasi siswa.
Langkah 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa
Langkah 3 Mengorganisasikan siswa ke Guru menginformasikan pengelompokan siswa
dalam kelompok-kelompok
belajar
Langkah 4 Membimbing kelompok Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja
belajar siswa dalam kelompokkelompok belajar
Langkah 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
pembelajaran yang telah dilaksanakan
Langkah 6 Memberikan penghargaan Guru memberi penghargaan hasil belajar
individual dan kelompok

B. PROBLEM BASED-LEARNING

Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based Learning (PBL) adalah
kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang
menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam
memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan
berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik
untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari.

a) Pengertian Pembelajaran Problem Based-learning

Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang


menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam
kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim
untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).

Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang


menantang peserta didik untuk belajar bagaimana belajar, bekerja secara berkelompok
untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan
untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.
Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau
materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.

b) Langkah- langkah Problem Based Learning (PBL)

Terdapat lima langkah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based
Learning (PBL). Bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata
pelajaran.

i. Konsep Dasar (Basic Concept)

Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi,
atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar
peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan peta yang
akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk
memastikan peserta didik memperoleh kunci utama materi pembelajaran, sehingga tidak ada
kemungkinan terlewatkan oleh peserta didik seperti yang dapat terjadi jika peserta didik
mempelajari secara mandiri. Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam
bentuk garis besar saja, sehingga peserta didik dapat mengembangkannya secara mandiri
secara mendalam.

ii. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem)

Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan dalam
kelompoknya, peserta didik melakukan berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming yang
dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan
tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam
alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang sama dalam memberikan
dan menyampaikan ide dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat
masing-masing dalam kertas kerja.

Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario
tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya. Jika ada peserta didik yang
mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang belum
dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok.
Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis
sebagai isu dalam permasalahan kelompok.

Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus.
Ketiga, menentukan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk
mencari referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi
pilihan-pilihan yang diambil peserta didik. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum
disinggung oleh peserta didik, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan alasannya.
Pada akhir langkah peserta didik diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja
yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan pengetahuan apa saja yang
diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti
langkah ini, maka pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk.

iii. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)

Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik mencari berbagai sumber yang
dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk
artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam
bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta
didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan
permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu
tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat
dipahami.

Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk mengadakan pertemuan dan
melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar
informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun. Peserta
didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan, sehingga anggota kelompok
lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi.

iv. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge)

Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah


pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam
kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan
kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul
sesuai kelompok dan fasilitatornya.

Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap peserta didik menyampaikan hasil
pembelajaran mandiri dengan cara mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk
mendapatkan kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno (kelas
besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir, dan
dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini maka
dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
v. Penilaian (Assessment)

Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge),


kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang
mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS),
ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan
dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun
kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan
pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan
bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga
aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.

c) Sintaks Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa


Tahap I Guru menjelaskan tujuan Siswa menginventarisasi dan
Orientasi siswa pembelajaran, menjelaskan mempersiapkan kebutuhan yang
kepada masalah kebutuhan yang diperlukan diperlukan dalam proses pembelajaran.
dan memotivasi siswa Siswa berada dalam kelompok yang
terlibat pada aktivitas telah ditetapkan
pemecahan masalah yang
dipilihnya
Tahap 2 Guru membantu siswa Siswa membatasi permasalahannya
Mengorganisasi mendefinisikan dan yang akan dikaji
siswa untuk mengorganisasikan tugas
belajar belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut
Tahap 3 Guru mendorong siswa Siswa melakukan inkuiri, investigasi,
Membimbing untuk mengumpulkan dan bertanya untuk mendapatkan
penyelidikan informasi yang sesuai, untuk jawaban atas permasalahan yang
individual mendapatkan penjelasan dan dihadapi
maupun pemecahan masalah
kelompok
Tahap 4 Guru membantu siswa Siswa menyusun laporan dalam
Mengembangka dalam merencanakan dan kelompok dan menyajikannya
n dan menyiapkan laporan serta dihadapan kelas dan berdiskusi dalam
menyajikan hasil membantu siswa untuk kelas
karya berbagai tugas dalam
kelompoknya
Tahap 5 Guru membantu siswa untuk Siswa mengikuti tes dan menyerahkan
Menganalisis melakukan refleksi atau tugas-tugas sebagai bahan evaluasi
dan evaluasi terhadap proses belajar
mengevaluasi penyelidikan mereka dan
proses proses-proses yang mereka
pemecahan gunakan
masalah
C. PROJECT BASED- LEARNING
a. Pengertian Pembelajaran Project Based Learning/PjBL
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) adalah model
pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik
melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan
berbagai bentuk hasil belajar.Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar
yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas
secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada
permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan
memahaminya.

Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun


(a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif
yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan
terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus
berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBL merupakan
investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi
dan usaha peserta didik.

Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang


berbeda, maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para
peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang
bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran
Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal
ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.

Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep


Pendidikan Berbasis Produksi yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK). SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di
dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan kompetensi
terstandar yang dibutuhkan untuk bekerja dibidang masing-masing. Dengan
pembelajaran berbasis produksi peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana
dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. Dengan demikian model
pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek.

b. Ciri ciri dan Prinsip Pembelajaran Project Based Learning/PjBL


Ada lima Kriteria apakah suatu pembelajaran berproyek termasuk pembelajaran
berbasis proyek , lima criteria itu yaitu :
Keterpusatan ( centrality)

Proyek dalam pembelajaran berbasis proyek adalah pusat atau inti kurikulum,
bukan pelengkap kurikulum ,didalam pembelajaran proyek adalah strategi pembelajaran,
pelajaran mengalami dan belajar konsep konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek.
Model ini merupakan pusat strategi pembelajaran, dimana siswa belajar konsep utama
dari suatu pengetahuan melalui kerja proyek. Oleh karna itu, kerja proyek bukan
merupakan praktik tambahan dan aplikasi praktis dari konsep yang sedang dipelajari ,
melainkan menjadi sentral kegiatan pembelajaran dikelas.

Berfokus pada pertanyaan atau masalah

Proyek dalam PBL adalah berfokus pada pertanyaan atau masalah , yang
mendorong pelajar menjalani (dalam kerja keras ) konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti
atau pokok dari disiplin.

Investigasi konstruktif atau desain

Proyek melibatkan pelajaran dalam investigasi konstruktif dapat berupadesain,


pengambilan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, deskoveri akan tetapi
aktifitas inti dari proyek ini harus meliputi transformasi dan kontruksi pengetahuan

Bersifat otonomi pembelajaran

Lebih mengutamakan otonomi, pilihan waktu kerja dan tanggung jawab pelajaran
terhadap proyek

Bersifat realisme

Pembelajaran berebasis proyek melibatkan tantangan kehidupan nyata , berfokus


pada pertanyaanatau masalah autentik bukan simulative dan pemecahannya berpotensi
untuk diterapkan dilapangan yang sesungguhnya.

c. Pelaksanaan pembelajaran berbasis Project Based Learning/PjBL


Berdasarkan kegiatan pengajar dan pelajar dalam pendekatan PBL, maka PBL yang
akan dibuat di dalam lingkungan web terbagi dalam tiga tahapan yakni persiapan,
pembelajaran dan evaluasi, tetapi dari tiga tahapan tersebut dapat dideskripsikan menjadi
enam tahapan sebagai beriku

a. Persiapan

Pengajar merancang desain atau membuat kerangka proyek yang bermanfaat


dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pelajar dalam mengembangkan
pemikiran terhadap proyek tersebut sesuai dengan kerangka yang ada, dan menyediakan
sumber yang dapat membantu pengerjaannya. Hal ini akan mendukung keberhasilan
pelajar dalam menyelesaikan suatu proyek dan cukup membantu dalam menjawab
pertanyaan, beraktifitas dan berkarya. Kerangka menjadi sesuatu yang penting untuk
dibaca dan digunakan oleh pelajar. Oleh karenanya, pengajar harus melakukan perannya
dengan baik dalam menganalisa dan mengintegrasikan kurikulum, mengumpulkan
pertanyaan, mencari web site atau sumber yang dapat membantu pelajar dalam
menyelesaikan proyek, dan menyimpannya di dalam web
b. Penugasan/menentukan topik.

Sesuai dengan tugas proyek yang diberikan oleh pengajar maupun pilihan sendiri,
pelajar akan memperoleh dan membaca kerangka proyek, lalu berupaya mencari sumber
yang dapat membantu. Dengan berdasar pada referensi alamat web yang berisi materi
relevan, pelajar dengan cepat dan langsung mendapatkan materi yang berkualitas yang
sesuai dengan kebutuhan proyek. Lalu pelajar berupaya berpikir dengan kemampuannya
berdasar pada pengalaman yang dimiliki, membuat pemetaan topik, dan mengembangkan
gagasannya dalam menentukan sub topik suatu proyek.

c. Merencanakan kegiatan.

Pelajar bekerja dalam proyek individual, kelompok dalam satu kelas atau antar
kelas. Pelajar menentukan kegiatan dan langkah yang akan diambil sesuai dengan sub
topiknya, merencanakan waktu pengerjaan dari semua sub topik dan menyimpannya di
dalam web. Jika bekerja dalam kelompok, tiap anggota harus mengikuti aturan dan
memiliki rasa tanggungjawab. Sedangkan pengajar berkewajiban menyampaikan isi dari
rencana proyeknya kepada orang tua, sehingga orang tua dapat ikut serta membantu dan
mendukung anaknya dalam menyelesaikan proyek.

d. Investigasi dan penyajian.

Investigasi disini termasuk kegiatan : menanyakan pada ahlinya melalui e-mail,


memeriksa web site, dan saling tukar pengalaman dan pengetahuan serta melakukan
survei melalui web. Dalam perkembangannya, terkadang berisi observasi, eksperimen,
dan field trips. Diskusi dapat dilakukan secara sinkron dan asinkron melalui chating. Lalu
penyajian hasil dapat berupa gambar, tulisan, diagram matematika, pemetaan dan lain-
lain. Secara rutin, orang tua dan pengajar berkomunikasi untuk memantau kegiatan dan
prestasi yang dicapai oleh pelajar.

e. Finishing.

Pelajar membuat laporan, presentasi, halaman web, gambar, dan lain-lain.


Sebagai hasil dari kegiatannya. Lalu pengajar dan pelajar membuat catatan terhadap
proyek untuk pengembangan selanjutnya. Peserta menerima feedback atas apa yang
dibuatnya dari kelompok, teman, dan pengajar. Fasilitas feedback online disajikan untuk
memungkinkan setiap individu secara langsung berkomentar dan memberikan
kontribusi, dan agar dilihat dan bermanfaat bagi orang lain.

f. Monitoring/Evaluasi.

Pengajar menilai semua proses pengerjaan proyek yang dilakukan oleh tiap
pelajar berdasar pada partisipasi dan produktifitasnya dalam pengerjaan proyek.
d. Langkah-langkah Pembelajaran Project Based Learning/PjBL

[1] Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat


memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik
yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi
mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.

[2] Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan
emikian peserta didik diharapkan akan merasa memiliki atas proyek tersebut.
Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung
dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek
yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu
penyelesaian proyek.

[3] Menyusun Jadwal (Create a Schedule)

Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam
menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk
menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta
didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka
membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik
untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.

[4] Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the
Progress of the Project)

Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik


selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta
didik pada setiap roses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas
peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat
merekam keseluruhan aktivitas yang penting.

[5] Menguji Hasil (Assess the Outcome)

Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar,


berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan
balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar
dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

[6] Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)

Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi
terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik
secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk
mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan
peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses
pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk
menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

D. MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY


a. Pengertian pembelajaran inquiry

Pembelajaran berdasarkan inquiry merupakan seni penciptaan situasi-situasi


sedemikian rupa sehingga siswa mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi-situasi ini
siswa berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam, mengajukan penjelasan-
penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan melakukan pengujian untuk
menunjang atau menentang teori-teori mereka, menganalisis data, menarik kesimpulan dari
data eksperimen, merancang dan membangun model, atau setiap kontribusi dari kegiatan
tersebut di atas.

Seperti yang dikutip oleh Suryosubroto dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa,
Inquiry merupakan perluasan proses discovery, yang digunakan lebih mendalam, inkuiry
yang dalam bahasa InggrisInquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri
sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami
informasi.

Gulo, (2005) menyatakan bahwa, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan
belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan
sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

b. Macam-macam Model Pembelajaran Inkuiri

Beberapa macam model pembelajaran inkuiri diantaranya:

a. Inkuiri Terbimbing (Guide Inquiry)

Pembelajaran inkuri terbimbing merupakan suatu model pembelajaran inkuiri yang


dalam prosesnya guru menyediakan bimbingan dan petunjuk yang cukup luas kepada siswa.
sebagian besar perencanaanya dibuat oleh guru, siswa tidak merumuskan suatu masalah.

b. Modified Inquiry

Model pembelajaran tipe ini guru tidak memberikan permasalahan, kemudian


siswa ditugasi untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui
pengamatan,percobaan,atau prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya.Disamping
itu guru memperoleh narasumber yang tugasnya hanya memberikan yang diperlukan untuk
menghindari kegagalan dalam memecahkan masalah
c. Free Inquiry
Model ini harus mengidentifikasi dan merumuskan macam-macam problema yang
dipelajari dan dipecahkan. Jenis model ini lebih bebas dari padayang kedua jenis sebelumnya
d. Inquiry Role Approach
Model pembelajaran inkuiri model ini melibatkan dalam tim-tim yang masing-masing
terdiri atas empat untuk memecahkan masalah yang diberikan. Masing-masing anggota
memegang peranan berbeda, yaitu sebagai coordinator tim, penasehat teknis, pencatat data,
dan evaluator proses.
e. Invitation Into Inquiry
Model inkuiri jenis ini siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah dengan
cara-cara yang lazim ditempuh oleh para ilmuan, suatu undangan (invitation) memberikan
suatu problema kepada para siswa dan melalui pertanyaan masalah yang lebih direncanakan
dengan hati-hati mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan atau kalau ini
mungkin semua kegiatan.
f. Pictorial Riddle Inquiry
Model ini merupakan metode mengarang yang dapat mengembangkan motivasi dan
minat siswa dalam diskusi kelompok kecil atau besar. Gambar, peragaan, atau situasi
sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara bertikir kritis dan kreatif para siswa.
Biasanya, suatu riddle berupa gambar dipapan tulis, poster, atau diproyeksikan dari suatu
transparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan riddle itu.

g. Syneclis Lesson Inquiry


Model jenis ini memusatkan keterlibatan siswa untuk membuat berbagai macam
bentuk kiasan, supaya dapat membaca intelegensinya dan mengembangkan kreatifitasnya.
Hal ini dapat dilaksanakan karena dapat membantu siswa dalam berfikir untuk
memandang suatu problema sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif.

h. Value clarification
Model pembelajaran jenis inquiry ini siswa yang difokuskan pada pemberian
penjelasan tentang suatu tata aturan nilai-nilai pada suatu proses-proses pembelajaran.Jerome
Bruner, seorang profesor psikologi dan Harvard University di Amerika Serikat menyatakan
beberapa keuntungan sebagai berikut :

1. Siswa akan mengerti konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.

2. Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi-situasi proses

belajar yang baru.

3. Mendorong siswa agar dapat berfikir.

4. Mendorong siswa untuk berfikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.

5. Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.

6. Situasi proses belajar menjadi lebih menantang.

c. Pelaksanaan tahapan Pembelajaran Inkuiri


Gulo (2005) menyatakan bahwa, inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan
intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan
keterampilan.

Secara umum proses pembelajaran SPI dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

1. Orientasi

Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim
pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:

a. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa

b. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai
tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai
dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan

c. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka
memberikan motivasi belajar siswa.

2. Merumuskan masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang
mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa
untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya,
dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang
sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan
memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental
melalui proses berpikir.

3. Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai
jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan
guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah
dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat
merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan
jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

4. Mengumpulkan data

Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk


menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data
merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses
pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi
juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.

5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan
data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga
berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang
diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang
ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

6. Merumuskan kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh


berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya
guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

d. Langkah langkah menerapkan model pembelajaran inquiry didalam kelas :

1. Membentuk kelompok-kelompok inkuiri. Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan


rentang intelektal dan keterampilan-keterampilan social

2. Memperkenalkan topik-topik inkuiri kepada semua kelompok. Tiap kelompok diharapkan


memahami dan berminat mempelajarinya.

3. Membentuk posisi tentang kebijakan yang bertalian dengan topik, yakni pernyataan apa
yang harus dikerjakan. Mungkin terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan terhadap
masalah pokok.

4. Merumuskan semua istilah yang terkandung di dalam proposisi kebijakan.

5. Menyelidiki validitas logis dan konsisten internal pada proposisi dan unsur-unsur
penunjangnya.

6. Mengumpulkan evidensi (bukti) untuk menunjang unsur-unsur proposes

7. Menganalisis solusi solusi yang diusulkan dan mencari posisi kelompok

8. Menilai proses kelompok.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-


kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah
siswa untuk bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan
teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu
dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain.

Pembelajaran berbasis masalah (PBM) atau Problem-Based Learning (PBL) adalah


metode pembelajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata yang tidak terstruktur
dengan baik sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan
memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan.

Pembelajaran Berbasis Masalah bertujuan untuk memotivasi belajar siswa agar


menjadi mandiri, membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan
pemecahan masalah, membuat kemungkinan transfers pengetahuan baru, belajar peranan
orang dewasa yang otentik.

Pembelajaran berbasis proyek / tugas adalah sebuah metode penyajian bahan


pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada peserta didik berupa seperangkat tugas yang
harus dikerjakan peserta didik, baik secara individual maupun secara kelompok.

Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi
pembelajaran dan memberikan kesempatan peserta didik melakukan sendiri kegiatan belajar
yang ditugaskan. empat prinsip berikut ini akan membantu siswa dalam perjalana mereka
menjadi pembelajar mandiri yang efektif.

Strategi pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan
secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis,
kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan
penuh percaya diri.Sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah keterlibatan siswa
secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam
proses kegiatan belajar , mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang
ditemukan dalam proses inkuiri. Namun dalam penerapannya, pembelajaran inkuiri ini
memiliki kelemahan seperti adanya kesulitan dalam mengontrol siswa, ketidaksesuaian
kebiasaan siswa dalam belajar, kadang memerlukan waktu yang panjang dalam
pengimplementasiannya, dan sulitnya dalam implementasi yang dilakukan oleh guru bila
keberhasilan belajar bergantung pada siswa.

Langkah-langkah pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut orientasi, merumuskan


masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, merumuskan
kesimpulan.Sintaks Pembelajaran Inkuiri. Dalam upaya menanamkan konsep , misalnya
konsep IPA Biologi pokok bahasan saling ketergantungan pada siswa, tidak cukup hanya
sekedar ceramah. Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk tahu
dan terlibat secara aktif dalam menemukan konsep-konsep dari fakta-fakta yang dilihat dari
lingkungan dengan bimbingan guru.

B. Saran
Para guru yang bias memilih beberapa model pembelajaran yang cocok dan sesuai
dengan cara mengajar mereka dengan tetap sesuai dengan kurikulum 2013. Namun, tetap
harus dikembangkan kembali.

DAFTAR PUSTAKA
http://deviastrianahts.blogspot.co.id/2013/11/4-model-pembelajaran-untuk-kurikulum.html