Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN

KERJA DI PT. PABRIK GULA GORONTALO TOLANGOHULA


PROVINSI GORONTALO

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pembangunan nasional sedang memasuki era industrial dan globalisasi yang ditandai
dengan semakin berkembangnya perindustrian dengan mendayagunakan teknologi tinggi,
sehingga diperlukan peningkatan kualitas sumberdaya manusia serta pelaksanaan yang konsisten
dari Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( SMK3 ).
Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja bertujuan untuk
menciptakan kondisi kerja yang aman, selamat, serta terbebas dari resiko bahaya yang mungkin
timbul dan pada gilirannya perusahaan akan memperoleh pekerja yang sehat dan produktif
( Depnaker RI, 2000 ).
Pertimbanagan diterapkannya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
( SMK3 ) yang tercantum dalam Permennaker No. 05/MEN/1996 adalah :
1. Bahwa terjadinya kecelakaan ditempat kerja sebagian besar disebabkan oleh faktor
manusia dan sebagian kecil oleh faktor teknis.
2. Bahwa untuk menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja maupun orang lain
ynag berada ditempat kerja, seta sumber produksi, proses produksi dan lingkungan
kerja dalam keadaaan aman, maka perlu penerapan ( SMK3 ).
3. Bahwa dengan penerapan SMK3 dapat mengantisipasi hambatan teknis dalam era
globalisasi.
Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di sector industry masih belum menunjukan
hasil yang diharapkan, hal ini terindikasi dari tingkat kecelakaan kerja yang relative masih tinggi.
Tingginya angka kecelakaan ini umumnya terjadi pada industry skala kecil dan menengah,
sedangkan pada industry besar dan strategis lainnya pelaksanaan manajemen K3 umumnya
cukup baik dan angka kecelakaan relative kecil karena didukung oleh kemampuan sumberdaya
manusia dan dana yang tersedia.

Menurut H.W Heinrich et. Al, 1980 ( dalam Tarigan, 2008 ) bahwa sekitar 80%
kecelakaan kerja disebabkan oleh perbuatan yang tidak aman ( unsafe action ) dan hanya 20%
oleh kondisi yang tidak aman ( unsafe condition ), sehingga pengendaliannyapun harus bertitik
tolak dari perbuatan yang tidak aman dalam hal ini adalah prilaku manusia.
Pendapat tersebut selaras dengan modul pembinaan operasional Panitia Pembina
Kesehatan Keselamatan Kerja ( P2K3 ) bahwa perbuatan berbahaya biasanya disebabkan oleh :
(1) kekurangan pengetahuan, keterampilan dan sikap; (2) keletihan atau kebosanan; (3) cara
kerja manusia tidak sepadan dengan ergonomis; (4) gangguan psikologis; (5) pengaruh social-
psikologis.
Setiap pekerjaan selalu mengandung potensi resiko bahaya dalam bentuk kecelakaan
kerja. Besarnya potensi kecelakaan dan penyakit kerja tersebut tergantung dari jenis produksi,
teknologi yang dipakai, bahan yang digunakan, tata ruang dan lingkungan bangunan serta
kualitas manajemen dan tenaga pelaksana. Jumlah kasus kecelakaan akibat kerja tahun 2011-
2014 yang paling tinggi pada tahun 2013 yaitu 35.917 kasus. Sedangkan untuk jumlah kasus
penyakit akibat kerja tahun 2011-2014 yang paling tinggi pada tahun 2013 dengan jumlah 97.144
kasus ( yaitu Provinsi Banten, Gorontalo dan Jambi ), namun pada tahun 2014 turun menjadi
40.694 kasus ( Infodatin, 2015 ).
PT. Pabrik gula Gorontalo adalah pabrik gula terbesar yang ada di provinsi Gorontalo
dengan produksi gula sebesar 35.000 ton sampai 39.000 ton per tahun. Besaran produksi tersebut
dapat memenuhi kebutuhan gula bagi masyarakat se Provinsi Gorontalo yaitu sebanyak 12.000
ton/tahun, sedangkan lainnya dipasarkan ke luar daerah ( BPMPTSP. Prov Gorontalo, 2015 ).

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas diketahui bahwa peraturan tentang diterapkannya


Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( SMK3 ) telah tercantum dalam
Permennaker No. 05/MEN/1996 namun data menunjukan dalam 4 tahun terakhir terhitung dari
tahun 2011 hingga 2014 jumlah kasus kecelakaan akibat kerja mengalami peningkatan.

Untuk itu diperlukan penelitian tentang SMK3 dilingkungan pabrik gula Tolangohula
Gorontalo Provinsi Gorontalo dengan permasalahan :
1. Apa sajakah program system manajemen keselamatan dan kesehatan yang telah
dilaksanakan pengelola di pabrik gula Tolangohula Gorontalo
2. Berapakah presentasi penggunaan alat pelindung diri yang digunakan oleh pekerja.

C. Tujuan penelitian
1. Untuk menganalisis program system manajemen keselamatan dan kesehatan apa saja
yang telah dilaksanakan pengelola di pabrik gula Tolangohula Gorontalo
2. Untuk menganalisis presentasi penggunaan alat pelindung diri yang digunakan oleh
pekerja.

D. Manfaat penelitian
1. Sebagai informasi kepada masyarakat tentang program Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang diterapkan terhadap pencegahan
kecelakaan kerja.
2. Sebagai bahan masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang program
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang diterapkan
terhadap pencegahan kecelakaan kerja.
3. Sebagai bahan pertimbangan kepada pemerintah terkait dalam rangka penetapan
kebijakan penganggulangan penyebab kecelakaan kerja pada pabrik gula.

II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN


A. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kecelakaan Kerja (SMK3)
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.05/MEN/1996 system
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang disebut SMK3 adalah bagian dari system
manajemen secara keseluruhan yang meliputi : struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab,
pelaksanaan, prosedur, proses, dan sumber dana yang dibutuhkan bagi pengembangan,
penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian
resiko yang berkaitan dengan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan
produktif.
UU Nomor 13 tahun 2003 telah menjelaskan tentang pelaksanaan SMK3 yang berupa
paksaan diatur dalam pasal 87 ayat (1) yang berbunyi setiap perusahaan wajib menerapkan
system manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan system manajemen
perusahaan.
Menurut Tunggal S.W, 1996 ( dalam Tarigan, 2008 ), kebijakan keselamatan dan
kesehatan kerja memiliki beberapa tahapan antara lain :
1. Perencanaan identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian resiko.
Identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian resiko dari kegiatan produk baranng
dan jasa harus dipertimbangkab pada saat merumuskan rencana untuk memenuhi
kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja, karenanya harus dipeliharan dan
ditetapkan prosedurnya.
2. Peraturan perundangan dan peraturan lainnya.
Organisasi harus menetapkan dan memelihara produksi untuk inventarisasi dan
pemahaman keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan kegiatan organisasi yang
bersangkutan. Manajemen organisasi juga harus menjelaskan peraturan perundangan
dan persyaratan lainnya kepada setiap tenaga kerja.
3. Tujuan dan sasaran manajemen.
Tujuan dan sasarn kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja ditetapkan oleh
organisasi sekurang kurangnya harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut : dapat
diukur, satuan/indicator pengukuran, sasaran pencapaian, dan jangka waktu
pencapaian.

4. Indikator kerja.
Dalam menetapkan tujuan dan sasaran kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja
organisasi harus menggunakan indicator yang dapat diukur sebagai penilaian kinerja
keselamatan dan kesehatan kerja yang sekaligus merupakan informasi mengenai
keberhasilan pencapaian system manajemen K3.
Implementasi SMK3 dalam organisasi bertujuan untuk meningkatkan kinerja K3 dengan
melaksankan upaya K3 secara efisien dan efektif sehingga resiko kecelakaan den penyakit kerja
dapat dicegah atau dikurangi ( Ramli, 2010 ).

B. Alat pelindung diri


Secara umum alat pelindung diri dimaksud sebagai alat yang digunakan untuk
menghindari kecelakaan bagi pemakainya. Menurut Sumamur, 1992 ( dalam Tarigan, 2008 )
alat pelindung diri merupakan cara terakhir yang harus dilakukan untuk mencegah kecelakaan
apabila program pengendalian lain tidak mungkin dilaksanakan. Beberapa alat pelindung diri
yang sering digunakan adalah helmet, earplug/earmuff, sarung tangan, masker, dan apron.
Syarta syarat alat pelindung diri yang digunakan harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut ( Sumamur, 1987 dalam Tarigan, 2008 ) :
1. Enak dipakai pada kondisi pekerja yang sesuai dengan desain alat.
2. Tidak mengganggu kerja dalam artian alat pelindung diri harus sesuai dengantubuh
pemakainya dan tidak menyulitkan gerak pengguna.
3. Memberikan perlindungan efektif terhadap bahaya yang khusus sebagaimana alat itu
didesain.
4. Harus tahan lama.
5. Mudah dibersihkan.
6. Harus ada pengujian dan penggunaan APD yang sesuai standar.

C. Pabrik Gula
Bahan baku utama pabrik gula di Indonesia pada umumnya adalah tebu karena sesuai
dengan keadaan alam tropis. Selain dari tebu, gula dapat dihasilkan dari bit, kelapa, aren dan
jagung. Untuk Pabrik gula Gorontalo sendiri memiliki areal seluas 15.700 ha dengan lahan
perkebunan tebu mencapai sekitar 8.000 ha ( BPMPTSP Prov Gorontalo, 2015 ).
Menurut Effendi, 1994 ( dalam Tarigan, 2008 ), proses pembuatan gula dari bahan baku
sampai menjadi gula melalui beberapa stasiun, yaitu sebagai berikut:
1. Stasiun Persiapan
Tujuannya untuk mempersiapkan tebu yang akan digiling. Persiapan ini meliputi
pengangkutan, penimbangan dan pengaturan ukuran tebu sebelum masuk stasiun
penggilingan.
2. Stasiun Gilingan
Tujuannya untuk mendapatkan nira sebanyak-banyaknya dan mengusahakan kandungan
nira yang terdapat dalam ampas sekecil-kecilnya. Prinsip stasiun giling adalah memerah
tebu agar memperoleh cairan nira dan ampas tebu.
3. Stasiun Pemurnian
Dengan proses sulfitasi, nira dipisahkan dari kotorannya untuk memperoleh nira jernih.
Menghilangkan kotoran yang terdapat di dalam nira agar tidak mengganggu proses
pengkristalan guna memperoleh gula yang lebih murni.
4. Stasiun Penguapan
Menguapkan sebagian besar air yang terkandung dalam nira encer guna mendapatkan
nira kental. Penguapan dilakukan pada tekanan vakum. Uap yang dihasilkan dari
evaporator digunakan untuk menguapkan air pada evaporator berikutnya untuk
menghemat bahan bakar.
5. Stasiun Masakan
Nira kental dipanaskan sampai membentuk kristal dengan ukuran tertentu.
6. Stasiun Putaran
Kristal gula dipisahkan dari larutan induknya pada centrifuge gula untuk mendapatkan
kristal gula yang bersih.
7. Stasiun Penyelesaian
Kristal gula dikeringkan, diayak, selanjutnya dimasukkan ke dalam karung dan disimpan
dalam gudang.

III. METODE PENELITIAN


A. Jenis penelitian
Rancangan penelitian ini merupakan jenis penelitian survey dengan metode deskriptif yaitu
dengan menggambarkan seluruh pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja pada pabrik
kelapa sawit.

B. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dan pengamatan yang dibantu
dengan kuesioner dan wawancara secara langsung.

C. Analisa data
Data data yang diperoleh dari lapangan akan dianalisis secara deskriptif yaitu dengan cara
menggambarkan seluruh kegiatan atau pengelolaan system manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja di pabrik gula Gorontalo.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.05/MEN/1996 tentang
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta. 1996

Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Provinsi Gorontalo. 2015
Depnaker RI. Tata Cara Pengajuan, Penilaian, dan Pemberian Penghargaan Kecelakaan Nihil
( zero accident award ). Penerbit Depnaker. 2000.

Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Situasi Kesehatan Kerja. 2015
Ramli S. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Dian Rakyat. Jakarta. 2006
Tarigan, Zamaan. Analisis Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pabrik Kelapa
Sawit (PKS) Tanjung Medan PTPN V Prov. Riau. 2008.