Anda di halaman 1dari 9

Pendahuluan

Kanker serviks adalah penyakit yang disebabkan oleh keganasan sel (kanker) dari
jaringan yang ada pada serviks. Serviks terletak di bagian bawah uterus dan
mengubungkannya dengan vagina. Sebelum terjadi keganasan, sel-sel pada serviks akan
mengalami displasia. Lama kelamaan sel yang mengalami displasia tersebut akan tumbuh dan
menyebar ke bagian yang lebih dalam di serviks maupun jaringan sekitarnya.1

Kanker serviks disebabkan terutama oleh infeksi HPV (Human Papillomavirus).


Selain pada serviks, infeksi virus ini juga dapat menyebabkan timbulnya kanker pada vulva,
vagina, anus, penis, dan orofaring. Human papillomavirus menginfeksi sel-sel epitel yang
sudah matur dengan cara mengeluarkan partikel infeksius. Virus ini menyebabkan
pembelahan sel yang tidak terkontrol dan akumulasi dari kerusakan genetik.2

Diperkirakan ada sekitar 528.000 kasus kanker serviks baru yang muncul di dunia dan
terjadi 266.000 kematian pada 2012. Insidensi global dan laju mortalitas bergantuung pada
program skrining pre kanker dan vaksinasi khusus HPV. Dua intervensi yang dilakukan
tersebut terbukti dapat menurunkan 75% insidensi dan mortalitas dari kanker serviks 50 tahun
terakhir di negara-negara berkembang. Kasus kanker serviks merupakan salah satu dari tiga
penyebab mortalitas (8,3 per 100.000) pada wanita di negara berkembang.3

Faktor risiko yang menyebabkan terjadinya kanker serviks diantaranya adalah (1)
hubungan seksual yang terlalu dini. Risiko terkena kanker serviks meningkat apabila
seseorang melakukan hubungan seksual di bawah usia 18 tahun. (2) Berhubungan seksual
dengan banyak pasangan. Seseorang yang sering berganti pasangan lebih dari enam orang
yang berbeda diketahui tiga kali lebih berisiko terkena kanker serviks. (3) Berhubungan
seksual dengan pasangan yang memiliki risiko HPV. (4) Adanya riwayat tentang adanya
neoplasia pada vagina maupun vulva. (5) Imunosupresi yang menyebabkan virus mudah
menginvasi tubuh. (6) Melahirkan usia muda (kurang dari 20 tahun). (7) Melahirkan lebih
dari tiga kali. (8) Tingkat sosial-ekonomi yang rendah. Kejadian kanker serviks lebih sedikit
terjadi apabila pasangan pria telah melakukan sirkumsisi.3

Seseorang yang menderita kanker serviks memiliki beberapa gejala, diantaranya


adalah perdarahan pada vagina. Perdarahan ini muncul di luar waktu menstruasi, saat sudah
menopause, atau setelah berhubungan seksual. Selain perdarahan, biasanya juga timbul rasa
nyeri di daerah pelvis, adanya rasa nyeri saat berhubungan seks, dan keluar discharge
abnormal dari vagina.4
Daftar Pustaka

1. Anonim. Cervical Cancer. National Center for Biotechnology Information, U.S.


National Library of Medicine8600 Rockville Pike, Bethesda MD, 20894 USA.
Available from URL: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMHT0021883/.
2017.
2. Crosbie EJ, Einstein NH, Franceschi S, Kitchener HC. Human papillomavirus and
cervical cancer. Available from URL:
http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(13)60022-
7/abstract. 2013
3. Frumovitz M. Invasive cervical cancer: Epidemiology, risk factors, clinical
manifestations, and diagnosis. Available from URL:
https://www.uptodate.com/contents/invasive-cervical-cancer-epidemiology-risk-
factors-clinical-manifestations-and-diagnosis. 2017
4. Anonim. Cervical Cancer Topic Overview. Available from URL:
http://www.webmd.com/cancer/cervical-cancer/cervical-cancer-topic-overview#1.
2017

Ringkasan Jurnal
Introduksi

Human Papillomavirus (HPV) tipe 16, 31, dan 45 menyebabkan kanker serviks
sebesar tiga perempat dari seluruh kejadian. Studi epidemiologi mengenai HPV dan kanker
serviks didesain menggunakan case control study dikarenakan panjangnya masa laten HPV
hingga timbulnya kanker. Beberapa kofaktor yang turut terlibat dalam case control study ini
diantaranya adalah multiparitas, kebiasaan merokok, penggunakan konstrasepsi oral jangka
panjang (OC), infeksi kronis karena penyakit kelamin lain yang ditransmisikan, dan mungkin
juga defisiensi nutrisi. Deteksi dari DNA HPV merupakan sumber refernsi standar dari
infeksi.

Prevalensi tertinggi HPV yang menyerang serviks terjadi pada perempuan-perempuan


muda yang memulai hubungan seks lebih awal pada usia belasan dan dua puluhan. Perilaku
ini juga diikuti dengan seringnya berganti pasangan. Akan tetapi, kanker serviks dapat
muncul dua dekade kemudian. Maka dari itu, saat menjalani tes DNA khusus untuk deteksi
HPV akan didapatkan hasil yang negatif. Namun, seorang wanita yang berusia 40 tahun-an
dan mendapatkan hasil test DNA HPV yang positif juga bukan merupakan perbandingan
yang tepat. Hal ini disebabkan karena tidak mungkin seorang wanita mendapatkan hasil
positif pada test DNA HPV tanpa terjadinya neoplasia tahun-tahun sebelumnya. Belum ada
biomarker yang dapat membedakan hal ini.

Penulis melalakukan case control study selama lima tahun di US dimulai sejak awal
1980-an. Namun pada saat itu belum dilakukan tes DNA HPV, penelitian hanya dilakukan
melalui wawancara. Namun, pada penelitian terbaru penulis mengatakan bahwa sudah
memungkinkan tes DNA HPV dengan cara membandingkan kontrol seropositif dengan
mengklarifikasi kofaktor-kofaktor yang terlibat dalam kanker serviks yang disebabkan oleh
HPV.

Metode

Penelitian dilakukan di lima kota, yakni Birmingham, Chicago, Denver, Miami, dan
Philadelphia. Pasien diambil dari rentang usia 20 tahun hingga 74 tahun di 24 rumah sakit.
Perekrutkan dilakukan sejak April 1982 hingga Januari 1984. Terdapat interviewer terlatih
yang datang ke rumah untuk mengumpulkan informasi terkait demografi, perilaku seksual,
kebiasaan merokok, riwayat reproduksi, higienisitas, penggunaan kontrasepsi, riwayat medis,
diet, dan riwayat kanker yang ada di keluarga. Sebanyak 481 dari 658 orang sebagai case
memenuhi interview yang dilakukan dan 801 dari 1.114 memenuhi interview sebagai
control.

Cases dikelompokkan lagi menjadi karsinoma sel skuamos, adenokarsinoma, dan


karsinoma adenoskuamos berdasarkan laporan dari rumah sakit. Sebanyak 96% kontrol
ternyata mempunyai kasus non skuamos, sehingga pasien tersebut dikeluarkan dari penelitian
dan menyisakan 722 kontrol. Sebanyak 235 dari 485 (56,2%) partisipan interview dan 486
dari 722 (67,3%) wanita dengan karsinoma sel skuamos mendonasikan darahnya untuk tes
serologis HPV. Tes serologis dilakukan dua fase di laboratorium yang berbeda. HPV-16 virus
like particle dites dengan serum antibodi dari HPV-16. Tes dilakukan pada lima tipe HPV, 16,
18, 31, 45, dan 52. Variabel yang tersedia untuk dianalisis meliputi variabel demografi,
variabel skrining, variabel perilaku seksual, infeksi genital, variabel OC, variabel kelahiran
lainnya, variabel reproduksi, dan variabel kebiasaan merokok. Seluruh analisa yang
dilakukan menggunakan Stata 7.0. Analisis pertama dilakukan pada 486 kontrol yang dites
HPV.

Hasil

Secara keseluruhan, 66,4% case dan 43% kontrol mendapatkan hasil positif pada
setidaknya satu dari lima tipe HPV. Diantara kontrol, hasil seropositif terhadap satu tipe
berkaitan dengan tipe lainnya dengan jarak odd ratio (OR) 5,8 hingga 14,5. Dari hasil
penelitian, tes serologis positif lebih banyak didapatkan pada wanita berkulit hitam dan lebih
sedikit terjadi pada wanita kulit putih. Wanita dengan riwayat infeksi genital non spesifik
juga memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Risiko kanker serviks menurun
seiring dengan meningkatnya penggunaan OC. Wanita yang melahirkan lebih dari lima kali
memiliki risiko kanker serviks lebih tinggi. Risiko tinggi juga dialami oleh wanita yang
melahirkan pertama kali pada usia tua. Kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan risiko
kanker serviks.

Pembahasan

Data yang diakumulasikan mengenai kemungkinan faktor risiko kanker serviks


diantara penderita yang terinfeksi HPV didapatkan dari case-control study berdasarkan tes
DNA untuk menetapkan kontrol. Faktor risiko yang dilibatkan dalam penelitian tes DNA
HPV ini meliputi kebiasaan merokok, penggunaan OC, multiparitas, dan koinfeksi atau
inflamasi. Penulis juga mendapatkan hasil observasi yang meyakinkan dengan meningkatnya
faktor risiko kanker serviks yang disebabkan karena peningkatan intensitas merokok. Penulis
menemukan bahwa seropositifitas dari satu tipe HPV berhubungan dengan seropositifitas dari
tipe lainnya. Bebagai tipe seropositifitas mungkin dikarenakan pasien mengalami infeksi
HPV berkali-kali.

Diantara seluruh wanita yang terinfeksi HPV, jumlah pasangan seksual seumur hidup
tidak berhubungan dengan kanker serviks. Wanita kulit hitam dan wanita Hispanic memiliki
risiko lebih tinggi terinfeksi HPV. Namun, ada beberapa analisa juga yang menyebutkan hal
berlawanan. Ternyata ini ditentukan oleh perilaku dibandingkan genetik. Rendahnya kondisi
sosial-ekonomi juga berhubungan dengan tingginya infeksi HPV dan risiko kanker serviks.

Analisa asli dari data ini tanpa pengukuran secara langsung pad HPV mengatakan
bahwa OC tidak terkait dengan risiko kanker serviks. Setelah dilakukan skrining pap smear,
didapatkan sebuah kesimpulan bahwa wanita yang menggunakan OC lebih dari lima tahun
dua kali lebih berisiko terkena kanker serviks (P = 0,003 ref. 7). Pada strudi terbatas yang
dilakukan pada wanita yang terinfeksi HPV, paritas yang tinggi dinyatakan memiliki
hubungan dengan meningkatnya risiko kanker serviks. Namun, pada daerah dengan paritas
yang rendah disebutkan tidak memiliki hubungan dengan terjadinya kanker serviks.

Terdapat hubungan antara merokok dengan risiko kanker serviks pada penelitian.
Penulis menyimpulkan bahwa kebiasaan merokok merupakan faktor yang kuat, walaupun
masih belum jelas apakah faktor risiko tersebut dipicu oleh imunologis atau genotoksik.

Kesimpulan

Human Papillomavirus (HPV) merupakan penyebab kanker serviks yang didukung


oleh beberapa faktor risiko, diantaranya adalah multiparitas, kebiasaan merokok, penggunaan
kontrasepsi oral jangka panjang (OC), infeksi kronis karena penyakit kelamin, dan defisiensi
nutrisi. Deteksi HPV dilakukan dengan menggunakan tes serologis DNA HPV. Penelitian
dilakukan di lima kota, yakni Birmingham, Chicago, Denver, Miami, dan Philadelphia.
Pasien diambil dari rentang usia 20 tahun hingga 74 tahun di 24 rumah sakit. Perekrutkan
dilakukan sejak April 1982 hingga Januari 1984. Variabel yang tersedia untuk dianalisis
meliputi variabel demografi, variabel skrining, variabel perilaku seksual, infeksi genital,
variabel OC, variabel kelahiran lainnya, variabel reproduksi, dan variabel kebiasaan
merokok. Melalui penelitian ini diketahui bahwa kebiasaan merokok, aktivitas seks yang
sering berganti pasangan, iveksi genital turut berpengaruh dalam timbulnya kanker serviks.
Penilaian Jurnal Berdasarkan Checklist STROBE

Item Rekomendasi Lokasi


No
Judul dan 1 (a) Menunjukkan desain penelitian Pada judul disebutkan
Abstrak dengan istilah yang biasa digunakan A Case-control
dalam judul atau abstrak Study

(b) Menyediakan dalam abstrak What was done :


ringkasan informatif dan seimbang apa Pada kalimat ke-4 di
yang dilakukan dan apa yang ditemukan paragraf abstrak

What was found :


Pada kalimat ke 11
Introduksi
Latar Belakang 2 Menjelaskan latar belakang ilmiah dan Kalimat pertama
pemikiran untuk penyelidikan yang paragraf pertama
dilaporkan
Objektif 3 Menyatakan objektif yang spesifik,
termasuk hipotesis perspektif
Metode
Desain Studi 4 Terdapat elemen kunci dari Paragraf pertama
desain studi awal di awal paper kalimat ke-6
Populations
Setting 5 Menggambarkan pengaturan, Paragraf pertama,
lokasi, dan tanggal yang kalimat ke-2 dan 3
relevan, termasuk periode Populations
perekrutan, paparan, tindak
lanjut, dan pengumpulan data

Partisipan 6 (a) Kriteria inklusi, cara menentukan Paragraf kedua


kelompok kasus dan kontrol serta Populations

perbandingannya
(b) Apabila dilakukan matching, berikan
kriteria dan jumlah kontrol per kasus
Variabel 7 Jelas mendefinisikan semua Paragraf pertama
hasil, eksposur, prediktor, Statistical Methods
pembaur potensial, dan
pengubah efek. Berikan kriteria
diagnostik, jika berlaku
Sumber 8* Menjabarkan cara untuk mengukur CARI FAN
data/pengukuran paparan, perancu, dan luaran
berpengaruh terhadap reliabilitas dan
validitas penelitian
Bias 9 Jelaskan upaya untuk mengatasi Pada bagian
potensi sumber bias Discussion paragraf
ke-8 kalimat ke 7
Ukuran Studi 10 Menjelaskan cara pengukuran besar
sampel
Variabel 11 Menjelaskan bagaimana
Kuantitatif variabel kuantitatif ditangani
dalam analisis. Jika berlaku,
menjelaskan yang
pengelompokan dipilih dan
mengapa
Metode Statistik 12 (a) Menggambarkan semua
metode statistik, termasuk yang
digunakan untuk
mengendalikan pembaur
(b) Jelaskan metode yang
digunakan untuk meneliti
subkelompok dan interaksi
(c) Jelaskan bagaimana data
yang hilang itu ditujukan
(d) Cohort studyIf applicable, explain
how loss to follow-up was addressed
Case-control studyIf applicable,
explain how matching of cases and
controls was addressed
Cross-sectional studyIf applicable,
describe analytical methods taking
account of sampling strategy
(e) Mendeskripsikan studi analisa
Hasil
Partisipan 13 (a) Jumlah laporan individu pada Paragraf ke-2
* setiap tahap nomor studi-misalnya Material and
berpotensi memenuhi syarat, Methods
diperiksa untuk kelayakan,
dikonfirmasi memenuhi syarat,
termasuk dalam penelitian,
menyelesaikan tindak lanjut, dan
dianalisis
(b) Memberikan alasan untuk non-
partisipasi pada setiap tahap
(c) Pertimbangkan penggunaan Terdapat diagram
diagram alir gambar Figure
1.
Descriptive 14 (a) Memberikan karakteristik peserta Paragraf ke-4
data * penelitian (misalnya, demografi, klinis, kalimat ke-2 di
bagian Result
sosial) dan informasi di eksposur dan
confounder potensial.
(b) Menunjukkan jumlah peserta dengan data
yang hilang untuk setiap variabel.
(c) Cohort studySummarise follow-up time
(eg, average and total amount)
Outcome data 15
* Laporan angka dalam setiap kategori paparan Terdapat di
atau ringkasan penilaian sepanjang waktu Table 3

Main results 16 (a) Memberikan perkiraan yang belum


disesuaikan dan, jika berlaku, perkiraan
perancu-disesuaikan dan presisi (misalnya,
95% confidence interval). Buatlah jelas
pembaur yang disesuaikan dan mengapa
mereka dimasukkan
(b) Melaporkan kategori batas ketika variabel
kontinu digolongkan
(c) Jika relevan, pertimbangkan Terdapat di
menerjemahkan perkiraan risiko relatif Table 4

menjadi risiko absolut untuk jangka waktu


yang bermakna
Analisis 17 Menjelaskan analisis lain apabila dilakukan
Lainnya seperti analisis subgroup dan analisis
sensitivitas.
Diskusi
Hasil Kunci 18 Merangkum hasil utama dengan refrensi untuk Paragraf ketiga
mempelajari tujuan Discussion
Keterbatasan 19 Mengungkapkan keterbatasan penelitian.
Dapat dengan cara membandingkan dengan
penelitian pada literatur lain mengenai
validitas, generalizability dan presisi.
Interpretasi 20 Berikan interpretasi secara keseluruhan hasil Paragraf ke-4
mempertimbangkan tujuan, keterbatasan, kalimat ke-8
Discussion
banyaknya analisis, hasil dari penelitian
serupa, dan bukti lain yang relevan.
Generalisasi 21 Membahas generalibilitas (validitas eksternal) Paragraf ke-5
dari hasil studi kalimat ke-2
Discussion
Informasi Lain
Pendanaan 22 Memberikan keterangan mengenai pendanaan.
Informasi meliputi sumber dana dan peran
founder pada penelitian.