Anda di halaman 1dari 111

Akhlak Tasawuf

BAB I
Pengertian Akhlak dan Hubungan Akhlak
dengan Ilmu Lainnya

1. Pengertian Ilmu Akhlak


2. Objek Studi dan Tujuan Mempelajari Ilmu
Akhlak
3. Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Ilmu-Ilmu
Lainnya
4. Kesimpulan

1
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Ilmu Akhlak
Secara etimologis, kata akhlak berasal dari bahasa arab
(khuluq) yang mempunyai arti tabiat, budi pekerti, dan kebiasaan.
Sedangkan untuk merujuk arti akhlak ini ada beberapa pendapat para
imam, sebagai berikut:
Akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang
mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangan.
Imam Gazhali berpendapat :
Akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang
dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Sementara menurut Ibnu Miskawaih:
"Khuluq adalah keadaan jiwa yang mendorong ke arah
melakuakan perbuatan-perbuatan dengan tanpa pemikiran.
Secara arti, semua pendapat di atas tampak berbeda, namun
pada hakikatnya meraka semua mamiliki makna yang sama. Mereka
semua sependapat bahwa tindakan yang dilakukan manusia tanpa
muncul pertimbangan sebelumnya dan muncul menjadi sebuah
kebiasaan. Dari perilaku manusia yang seperti ini, maka akan
muncullah manusia yang berkelakuan baik dan buruk.
Pengertian akhlak lebih difokuskan pada substansinya bahwa
akhlak adalah sifat yang telah ada dan tertanam di dalam jiwa seorang
manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak ada unsur
paksaan didalamnya. Ilmu akhlak merupakan ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang tabiat perilaku seorang manusia agar menjadi
individu yang berbudi pekerti baik dan luhur. Berawal dari budi
pekerti yang baik dan luhur inilah akan muncul suatu bangsa yang
besar yang berbudi luhur yang mana para penduduknya memiliki
komitmen tinggi untuk berkelakuan baik.

B. Objek Studi dan Tujuan Mempelajari Ilmu Akhlak


Setiap Ilmu yang dipelajari pasti memiliki objek studi dan
tujuan mengapa ilmu itu dipelajari. Disini akan dijelaskan objek studi
dan tujuan mempelajari ilmu akhlak.
1. Objek Studi Ilmu Akhlak
Akhlak manusia mencakup tentang kesadaran diri,
terutama tentang cara mengaplikasikan nilai-nilai ajaran agama
yang diyakini kedalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang sadar
akan hakikat dirinya pasti akan melahirkan perilaku-perilaku

2
Akhlak Tasawuf
mulia sebagaimana ungkapan "Siapa yang mengenal dirinya,
pasti mengenal Tuhannya".
Untuk itu, objek kajian dari Ilmu Akhlak adalah jiwa
manusia dan bagaimana manusia dapat memiliki jiwa yang bersih.
Karena memiliki jiwa yang bersih akan membawa manusia
menuju kesadaran bahwa dirinya hadir di dunia ini semata-mata
hanya untuk beribadah kepada-Nya dan mengimplementasikan-
nya kedalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan dan ucapan.

2. Tujuan Mempelajari Ilmu Akhlak


Dengan mengetahui seluk beluk yang terkait dengan
akhlak, maka manusia akan menggapai kehidupan yang bahagia.
Kebahagiaan hidup ini akan tercapai jika akhlak terpancar dalam
jiwanya. Inilah yang menjadi tujuan manusia dalam mempelajari
Ilmu Akhlak. Perbuatan baik yang dipraktikkan dalam kehidupan
sehari-hari akan membawa manusia pada ketenangan dan
kedamaian dibawah ridla Allah swt.
Setiap manusia mempunyai potensi untuk berkelakuan baik.
Menurut sebuah penafsiran dari salah satu hadits nabi mengatakan
bahwa ajaran-ajaran Tuhan berupa agama merupakan kelanjutan
dari pemenuhan fitrah manusia yang suci.1

C. Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Ilmu-Ilmu Lainnya


Ilmu Akhlak memiliki hubungan erat dengan beberapa Ilmu
yang lain, diantaranya:
1. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid
Hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu Tauhid dapai dilhat
dari analisa berikut ini diantaranya :
a) Dilihat dari segi obyek pembahasannya yaitu menguraikan
masalah Tuhan baik dari segi zat, sifat dan perbuatannya.
Dengan demikian Ilmu Tauhid akan mengarahkan perbuatan
manusia menjadi ikhlas, dan keikhlasan itu merupakan salah
satu akhlak mulia.
b) Dilihat dari fungsinya, ilmu Tauhid menghendaki agar
seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup menghafal
rukun iman yang enam dengan dalil-dalilnya saja, tetapi yang
terpenting adalah agar orang yang bertauhid itu meniru dan
menyontoh terhadap subyek yang terdapat dalam rukun iman

1
Budhy Munawar-Rahman, Ensiklopedi, 114

3
Akhlak Tasawuf
itu. Dengan demikian beriman kepada rukun iman yang
enam itu akan memberi pengaruh terhadap pembentukan
akhlak mulia.
Jadi jelas bahwa ilmu tauhid sangat erat kaitannya dengan
pembinaan akhlak yang mulia. Dengan demikian dalam rangka
pengembangan Ilmu akhlak, bahan-bahannya dapat digali dari
ajaran tauhid dan keimanan tersebut. Serta orang yang beriman
dituntut untuk mengamalkannya dalam perbuatan akhlaq
alkarimah.

2. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf


Sebagaimana diketahui bahwa dalam tasawuf masalah
ibadah amat menonjol, karena bertasawuf itu pada hakikatnya
melakukan serangkaian ibadah seperti shalat, puasa, haji, zikir,
dann lain sebagianya, yang semuanya itu dilakukan dalam rangka
mendekatkatkan diri kepada Allah. Ibadah yang dilakukan dalam
rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan akhlak.
Dalam hubungan ini Harun Nasution lebih lanjut mengatakan,
bahwa ibadah dalam islam erat sekali hubungannya dengan
pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-quran dikaitkan dengan
takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah Tuhan dan
menjauhi larangan-Nya, yaitu orang yang berbuat baik dan jauh
dari yang tidak baik. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar
maruf nahi munkar, mengajakan orang pada kebaikan dan
mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang yang
bertakwa adalah orang yang berakhlak mulia.

3. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Hukum Islam


Di dalam ajaran islam terdapat aturan-aturan yang sering
kita sebut dengan Hukum Islam (Ilmu Fiqh). Dalam agama Islam
terdapat perundang-undangan yang harus ditaati oleh setiap
pemeluk agam islam. Peratutan yang dimaksud adalah peraturan
yang datangnya langsung dari Allah swt melalui firman-Nya yang
berupa Al-Qur'an.
Peraturan yang ada di dalam Hukum Islam yaitu:
1. Wajib; peraturan mengahruskan seseorang untuk
melaksanakannya dan tidak boleh ditinggalkan oleh
siapapun.

4
Akhlak Tasawuf
2. Sunnah; peraturan yang memungkinkan seseorang
meninggalkan suatu perbuatan, namun melaksanakan-
nya adalah suatu kebaikan.
3. Haram; peraturan yang mengharuskan seseorang untuk
meninggalkannya.
4. Makruh; peraturan yang membiarkan manusi untuk
melakukan atau meninggalkannya, namu meninggalkan-
nya adalah kebaikan.
5. Mubah; peraturan yang memperbolehkan seseorang
untuk melakuakn atau meninggalkannya.
Pokok pembicaraan kedua Ilmu ini adalah sama yaitu
perbuatan manusia. Akhlak mendorong manusia untuk tidak
berfikir dan berkelakuan buruk. Sedangkan Hukum Islam
menjaga hak milik manusia dan mencegah orang lain untuk
mlanggar apa yang tidak boleh dikerjakan.

4. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Pendidikan


Dalam ilmu pendidikan dibahas tentang tujuan pendidikan,
materi pembelajaran, guru, metode, sarana prasarana dan lain
sebagainya. Semua aspek pendidikan itu ditujukan pada
tercapainya sebuah tujuan pendidikan. Adapun tujuan dari
pendidikan adalah mencapai akhlak yang sempurna.
Tujuan umum pendidikan islam adalah terwujudnya
manusia yang sebagai hamba Allah yang memiliki kemampuan
memahami dan mengaplikasikan hak-hak dan kewajibannya.
Pendidikan dalam pelaksanaannya memerlukan dukungan dari
banyak lingkungan. Semua lingkungan ini merupakan bagian dan
tempat pelaksanaan pendidikan akhlak.

5. Hubungan Antara Ilmu Akhlak Dengan Ilmu Jiwa (Psikologi)


Ilmu jiwa adalah suatu ilmu yang menyelidiki jiwa
seseorang seperti: pengetahuan, perasaan dan kemauannya, dan
akibatnya mengambil faidah dari padanya.
Dengan kata lain, ilmu jiwa sasarannya meneliti peranan
yang dimainkan dalam perilaku manusia. Karenanya dia meneliti
tentang suara hati ( dhamir ), Kemauan ( iradah ), daya ingatan,
hafalan, dan pengertian, sangkaan yang ringan, (waham) dan
kecenderungan (awathif) manusia. Itu semua menjadi lapangan
kerja jiwa, yang menggerakan manusia untuk berkata dan berbuat.
Oleh karena itu ilmu jiwa merupakan muqaddimah yang pokok

5
Akhlak Tasawuf
sebelum mengadakan kajian ilmu akhlak. Dikatakan oleh Prof.
ahmad Luthfi, tanpa dibantu oleh jiwa, orang tidak akan dapat
menjabarkan dengan baik tugas ilmu akhlaq.

6. Hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu sosiologi


Secara etimologi Sosiologi berasal dari kata Socius yang
berarti kawan dan logos yang berarti ilmu pengetahuan.Jadi
sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang berkawan atau didalam
arti luas, adalah ilmu pengetahuan yang berobyek hidup
bermasyarakat.
Dikatakan Ahmad Amin, bahwa pertalian antara Ilmu
Sosiologi dengan Ilmu Akhlak erat sekali. Kalau Ilmu Akhlak yang
dikaji tentang prilaku (suluk), artinya perbuatan dan tindakan
manusia yang ditimbulkan oleh kehendak, dimana tidak bisa
terlepas kepada kajian kehidupan kemasyarakatan yang menjadi
kajian Ilmu sosiologi. Hal yang demikian itu dikarenakan manusia
tidak mungkin melepaskan diri sebagai makhluk bermasyarakat.
Dimanapun seseorang itu hidup, ia tidak bisa memisahkan dirinya
lingkungan masyarakat dimana dia berada walaupun kadar
pengaruh itu relatif sifatnya.
Memang manusia adalah makhluk bersyarikat dan
bermasyarakat, saling membutuhkan diantara sesama. Hal ini jelas
sekali bila kita perhatikan firman Allah surat Al-Hujurat ayat :
13 :
Artinya : Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal".

7. Hubungan ilmu Akhlak dengan Filsafat


Ilmu Pengetahuan yang berusaha menyelidiki segala
sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan
pikiran. Ilmu filasafat memiliki beberapa cabang diantaranya:
Metafisika, Logika, Etika, Theodica, dan Antropolo.
Di dlam ilmu filsafat dibahas hal-hal yang berhubungan
dengan akhlak. Dibahas pula tentang Tuhan dan bahkan menjadi
cabang Ilmu tersendiri yaitu Etika dan Theodica. Setelah
mempelajari Ilmu-ilmu tersebut diharapkan dapat terwujud akhlak
yang baik.

6
Akhlak Tasawuf
Itulah beberapa hubungann antara ilmu Akhlak dengan
Ilmu-Ilmu lainnya. Dari sini kita bisa memahami betapa pentingnya
ilmu akhlak bagi kehidupan manusia. Hampir semua aspek dalam
kehidupan ini memiliki hubungan dengan ilmu akhlak.

D. Kes impulan
Kesimpulan
Secara etimologis, kata akhlak berasal dari bahasa arab
(khuluq) yang mempunyai arti tabiat, budi pekerti, dan kebiasaan.
Semua pendapat para ahli tampak berbeda, namun pada hakikatnya
meraka semua mamiliki makna yang sama. Mereka semua sependapat
bahwa tindakan yang dilakukan manusia tanpa muncul pertimbangan
sebelumnya dan muncul menjadi sebuah kebiasaan.
Ilmu akhlak memiliki hubungan dengan beberapa ilmu yang
lain, diantaranya:

1. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid


2. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
3. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Hukum Islam
4. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Pendidikan
5. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa
6. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Sosiologi
7. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Filsafat

7
Akhlak Tasawuf

BAB II
Perkembangan Pemikiran Akhlak dan
Sejarahnya

A. Pengertian Akhlak
B. Sejarah Perkembangan Akhlak Pada
Masa Yunani
C. Sejarah Akhlak Pada Masa Romawi
(Abad Pertengahan)
D. Sejarah Akhlak Pada Zaman Bangsa
Arab dan Sesudah Islam
E. Perkembangan Akhlak Periode Abad
Modern
F. Perkembangan Akhlak Masa
Sekarang
G. Kesimpulan

8
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Akhlak
Pengertian akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari
Khulukun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah
laku atau tabiat. Menurut Ibnu Maskawaih akhlak adalah keadaan
jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan-
perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dahulu).
Sedangkan imam Al-Ghazali mengemukakan defenisi akhalak sebagai
berikut: Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari
padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak
melakukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
Pokok-pokok persoalan akhlak diantaranya adanya anggapan
manusia bahwa satu-satunya yang dapat membahagiakan hidup adalah
nilai material, sehingga manusia dengan berbagai cara untuk
mendapatkan dan mengejar materi. Selanjutnya adalah persaingan
hidup yang tidak sehat, yang menimbulkan sikap tamak, rakus yang
sebenarnya merupakan salah satu wujud ketegangan jiwa (stres). Imam
Al-Ghazali membagi tingkatan keburukan akhlak menjadi empat
macam, yaitu:
1. Keburukan akhlak yang timbul karena ketidak sanggupan
seseorang mengendalikan nafsunya.
2. Perbuatan yang diketahui keburukannya, tetapi ia tidak bisa
meninggalkannya karena nafsunya sudah menguasai dirinya.
3. Keburukan akhlak yang telah dilakukan seseorang, karena
pengertian baik baginya sudah kabur, sehingga perbuatan
buruknya yang dianggap baik.
4. Perbuatan buruk yang sangat berbahaya terhadap masyarakat
pada umumnya, sedangkan tidak terdapat tanda-tanda
kesadaran bagi pelakunya.

B. Sejarah Perkembangan Akhlak pada Zaman Yunani


Diduga yang pertama kali yang mengadakan penyelidikan
tentang akhlak yang berdasarkan ilmu pengetahuan ialah Bangsa
Yunani. Ahli-ahli filsafat Yunani kuno tidak banyak memperhatikan
pada akhlak, tetapi kebanyakan penyelidikannya mengenai alam,
hingga datangnya Sephisticians (500-450 SM). Arti dari Sephisticians
adalah orang yang bijaksana. (Sufisem artinya orang-orang bijak).
Pada masa itu kata akhlak terungkap dengan kata etika dengan arti
yang sama.
Golongan ahli-ahli filsafat dan juga menjadi guru yang
tersebar di beberapa Negeri. Buah pikiran dan pendapat mereka

9
Akhlak Tasawuf
berbeda-beda akan tetapi tujuan mereka adalah satu, yaitu menyiapkan
angkatan muda bangsa Yunani, agar menjadi nasionalis yang baik lagi
merdeka dan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah airnya.2
Diantara sekian banyak ahli-ahli fikir Yunani yang menyingkapkan
pengetahuan akhlak, di sini dikemukakan beberapa diantaranya yang
dipandang terkemuka:
1. Socrates (469-399 SM), terkenal dengan semboyan:
Kenalilah diri engkau dengan diri engkau sendiri. Dia
dipandang sebagai perintis Ilmu Akhlak Yunani yang pertama.
Usahanya membentuk pergaulan manusia-manusia. Dengan
dasar ilmu pengetahuan.3 Cynics dan Cyrenics kedua
pengikut Socrates. Untuk golongan Cynics hidup pada tahun
(444-370 SM) diantara pelajarannya bahwa ketuhanan itu
bersih dari segala kebutuhan dan sebaik-baiknya manusia itu
yang berperangai dengan akhlak ketuhanan. Pemimpinnya
adalah Diogenes yang meninggal tahun 323 SM. Ia memberi
pelajaran kepada kawan-kawannya supaya membuang beban
yang ditentukan oleh ciptaan manusia dan perannya. Untuk
golongan Cyrenics pemimpinnya adalah Aristippus dilahirkan
di Cyrena (kota di Barkah) di Utara Afrika. Ada beberapa hal
yang tidak jelas dalam ilmu Akhlak milik Socrates, apa tujuan
yang terakhir dari akhlak itu serta ukuran apa yang
dipergunakan menentukan baik buruknya suatu akhlak. Maka
disini timbulah beberapa golongan yang berbeda-beda
pendapatnya tentang tujuan akhlak, lalu muncul beberapa
paham mengenai akhlak sejak zaman itu hingga sekarang ini.

2. Plato (427-347 SM), seorang filsafat Athena dan murid dari


Socrates, bukunya yang terkenal adalah Republic. Ia
membangun ilmu akhlak melalui akademi yang ia dirikan.
Pandangannya dalam akhlak berdasar dari teori contoh
bahwa di balik alam ini ada alam rohani sebagai alam yang
sesungguhnya.4 Dan di alam rohani ini ada kekuatan yang
bermacam-macam, dan kekuatan itu timbul dari pertimbangan
tunduknya kekuatan pada hukum akal, ia pun berpendapat

2
Moh. Ardani, Akhlak Tasawuf (Nilai-nilai akhlak/budipekerti dalam ibadat dan tasawuf),
(Jakarta: PT Karya Mulia,2005)hal: 34-35.
3
Abjan Soleiman, Ilmu Akhlak (Ilmu Etika),(Jakarta: Dinas Rawatan Rohani Islam Tentara
Nasional Indonesia Angkatan Darat,1976) hal: 28.
4
Abjan Soleiman, Ilmu Akhlak Op.cit,hal:.29.

10
Akhlak Tasawuf
bahwa pokok-pokok keutamaan ada empat antara lain
hikmah/kebijaksanaan, keberanian, keperwiraan dan keadilan.
Keempat-empatnya itu adalah tiang penegak bangsa-bangsa
dan perseorangan. Aristoteles (9394-322 SM), dia adalah
murid Plato yang membangun suatu paham yang khas, yang
mana pengikutnya diberi nama dengan Paripatetics karena
mereka memberikan pelajaran sambil berjalan. Dan ia
berpendapat bahwa tujuan terakhir yang dikehendaki manusia
mengenai segala perbuatannya ialah bahagia ia berpendapat
bahwa jalan mencapai kebahagiaan ialah mempergunakan
kekuatan akal pikiran sebaik-baiknya. Selain itu Aristoteles
ialah pencipta teori serba tengah tiap-tiap keutamaan adalah
tengah-tengah diantara kedua keburukan, seperti dermawan
adalah tengah-tengah antar membabi buta dan takut.

Pada akhir abad yang ketiga Masehi tersiarlah kabar Agama


Nasrani di Eropa. Agama itu dapat merubah pikiran manusia dan
membawa pokok-pokok akhlak yang tercantum di dalam Taurat.
Demikan juga memberi pelajaran kepada manusia bahwa Tuhan
sumber segala akhlak. Tuhan yang memberi segala patokan yang
harus kita pelihara Dalam bentuk perhubungan kita, dan yang
menjelaskan arti baik dan buruk, baik menurut arti yang sebenarnya
ialah kerelaan Tuhan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Menurut para ahli filsafat Yunani bahwa pendorong untuk
melakukan perbuatan baik dan ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan;
menurut Agama Nasrani bahwa pendorong untuk melakukan
perbuatan baik itu ialah cinta kepada Tuhan dan iman kepada-Nya.5

C. Sejarah Akhlak pada Bangsa Romawi (Abad pertengahan)


Kehidupan masyarakat Eropa di abad pertengahan dikuasai
oleh gereja. Pada waktu itu gereja berusaha memerangi filsafat Yunani
srta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja
berkeyakinan bahwa kenyataan hakikat telah diterima dari wahyu.
Apa yang telah diperintahkan oleh wahyu tentu benar adanya. Oleh
kerana itu tidak ada artinya lagi penggunaan akal dan pikiran untuk
kegiatan penelitian. Mempergunakan filsafat boleh saja asalkan tidak
bertentangan dengan doktrin yang dikeluarkan oleh gereja, atau
memilki perasaan dan menguatkan pendapat gereja. Diluar ketentuan

5
A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV. Pustaka Setia,2005),hal: 45

11
Akhlak Tasawuf
seperti itu penggunaan filsafat tidak diperkenankan.
Namun demikian sebagai dari kalangan gereja ada yang
mempergunakan pemikiran Plato, Arostoteles dan Stoics untuk
memperkuat ajaran gereja, dan mencocokkannya dengan akal. Filsafat
yang menentang Agama Nashrani dibuang jauh-jauh. Dengan
demikian ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu
adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran
Yunani dan ajaran Nasrani. Diantara mereka yang termasyhur ialah
Abelard,, seorang ahli filsafat Perancis (1079-1142) dan Thomas
Aquinas, seorang ahli filsafat Agama berkebangsaan Italia
(1226-1274).
Corak ajaran akhlak yang sifatnya perpaduan antara
pemikiran filsafat Yunani dan ajaran agama itu, nantinya akan dapat
pula dijumpai dalam ajaran akhlak yang terdapat dalam Islam
sebagaimana terlihat pada pemikiran akhlak yang dikemukakan kaum
Muktazilah.

D. Sejarah Akhlak pada Zaman Bangsa Arab Sebelum dan Sesudah


Islam
Bangsa Arab pada Zaman Jahiliyah tidak ada yang menonjol
dalam segi filsafat sebagaimana Bangsa Yunani (Socrates, Plato dan
Aristoteles), Tiongkok dan lain-lainnya. Disebabkan karena
penyelidikan akhlak terjadi hanya pada Bangsa yang sudah maju
pengetahuannya. Sekalipun demikian, Bangsa Arab waktu itu ada yang
mempunyai ahli-ahli hikwah yang menghidangkan syair-syair yang
mengandung nilai-nilai akhlak, misalnya: Luqman el-hakim, Aktsan
bin Shoifi, Zubair bin Abi Sulma dan Hotim al-Thoi.
Adapun sebagian syair dari kalangan Bangsa Arab
diantaranya: Zuhair ibn Abi Salam yang mengatakan: barang siapa
menepati janji, tidak akan tercela; barang siapa yang membawa
hatinya menunjuka kebaikan yang menentramkan, tidak akan
ragu-ragu. Contoh lainnya, perkataan Amir ibnu Dharb
Al-Adwany pikiran itu tidur dan nafsu bergejolak. Barang siapa yang
mengumpulkan suatu antara hak dan batil tidak akan mungkin terjadi
dan yang batil itu lebih utama buatnya. Sesungguhnya penyelesaian
akibat kebodohan.
Aktsam ibn Shaify yang hidup pada zaman jahiliah dan
kemudian masuk Islam pernah berkata bahwa : jujur adalah pangkal
keselamatan; dusta adalah merusakkan: kejahatan adalah merusakkan;
ketelitian adalah sarana menghadapi kesulitan; dan kelemahan adalah

12
Akhlak Tasawuf
penyebab kehinaan. Penyakit pikiran adalah nafsu, dan sebaik-baiknya
perkara adalah sabar. Baik sangka merusak, dan buruk sangka adalah
penjagaan.
Al-Adwany pernah berpesan kepada anaknya Usaid dengan
sifat-sifat terpuji, ujarnya: Berbuatlah dermawan dengan hartamu,
Memuliakan tetanggamu, bantulah orang yang meminta pertolongan
padamu, hormatilah tamumu dan jagalah dirimu dari perbuatan
meminta-minta sesuatu pada orang lain.
Seperti dengan apa yang dikatakann Amr ibn Al-Ahtam
kepada budaknya:Sesungguhnya kikir itu merupakan perangai yang
akurat untuk lelaki pencuri; bermurahlah dalam cinta karena
sesungguhnya diriku dalam kedudukan suci dan tinggi adalah orang
yang belah kasih.setiap orang mulia akan takut mencelamu, dan bagi
kebenaran memiliki jalanya sendiri bagi orang-orang yang baik. Dapat
dipahami bahwa bangsa Arab sebelum Islam telah memiliki kadar
pemikiran yang minimal pada bidang akhlak, pengetahuan tentang
berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai yang
tercetus lewat syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata
hikmah yang diucapkan oleh filosof-filosof Yunani kuno. Dalam
syariat-syariat mereka tersebut saja sudah ada muatan-muata akhlak.
Memang sebelum Islam, dikalangan bangsa Arab belum
diketahui adanya para ahli filsafat yang mempunyai aliran-aliran
tertentu seperti yang kita ketahui pada bangsa Yunani, seperti Epicurus,
Plato, zinon, dan Aristo, karena penyelidikan secara ilmiah tidak ada,
kecuali sesudah membesarnya perhatian orang terhadap ilmu
kenegaraan.6
Setelah agama Islam menyebar dengan bebas di kalangan
bangsa Arab, akhlak/filsafat mereka mulai menunjukan kemajuan yang
signifikan. Hal ini terjadi dikarenakan ide-ide dan petunjuk-petunjuk
yang mereka dapatkan dari Al-Quran dan nabi Muhammad SAW.
Diantara ayat Al-Quran tentang akhlak yaitu surat an-Nahl
ayat 90:

6
Zahruddin AR,dkk,Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta:PT.RajaGrafindo Persada,2004) hal:
25-27.

13
Akhlak Tasawuf
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan
berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah
melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia
memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
pelajaran. ( QS. An-Nahl: 90)

E. Perkembangan Akhlak Periode Abad Modern


Pada abad pertengahan ke-15 mulailah ahli-ahli pengetahuan
menghidup suburkan filsafat Yunani kuno. Itali juga kemudian
berkembang di seluruh Eropa. Kehidupan mereka yang semula terikat
pada dogma kristiani, khayal dan mitos mulai digeser dengan
memberikan peran yang lebih besar kepada kemampuan akal pikiran.
Di antara masalah yang mereka kritik dan dilakukan
pembaharuan adalah masalah akhlak. Akhlak yang mereka bangun
didasarkan pada penyelidikan menurut kenyataan empiric dan tidak
mengikuti gambaran-gambaran khayalan, dan hendak melahirkan
kekuatan yang ada pada manusia, dihubungkan dengan praktek hidup
di dunia ini. Pandangan baru ini menghasilkan perubahan dalam
menilai keutamaan-keutamaan kedermawanan umpamanya tidak
mempunyai lagi nilai yang tinggi sebagaimana pada abad-abad
pertengahan, dan keadilan social menjadi di perolehnya pada masa
yang lampau. Selanjutnya pandangan akhlak mereka diarahkan pada
perbaikan yang bertujuan agar mereka menjadi anggota masyarakat
yang mandiri.
Ahli filsafat Perancis yaitu Desrates (1596-1650 M), termasuk
pendiri filsafat baru dalam Ilmu Pengetahuan dan Filsafat. Ia telah
menciptakan dasar-dasar baru, diantaranya:
1. Tidak menerima sesuatu yang belum diperiksa oleh akal dan
nyata adanya. Dan apa yang didasarkan kepada sangkaan dan
apa yang tumbuhnya dari adat kebiasaan saja, wajib di tolak.
2. Di dalam penyelidikan harus kita mulai dari yang
sekecil-kecilnya yang semudah-mudahnya, lalu meningkat
kearah yang lebih banyak susunannya dan lebih dekat
pengertiannya, sehingga tercapai tujuan kita.
3. Wajib bagi kita jangan menetapkan sesuatu hukum akan
kebenaran sesuatu soal, sehingga menyatakannya dengan ujian.
Descartes dan pengikut-pengikutnya suka kepada paham Stoics,
dan selalu mempertinggi mutu pelajarannya sedang Gassendi
dan Hobbes dan pengikutnya suka kepada paham Epicurus dan
giat menyiarkan aliran pahamnya.

14
Akhlak Tasawuf

Kemudian lahir pula Bentham (1748-1832) dan John Stoart


Mill (1806-1873). Keduanya berpindah paham dari paham Epicurus ke
paham Utilitarianim. Setelah keadaannya muncul Green (1836-1882)
dan Hebbert Spencer (1820-19030, keduanya mencocokkan paham
pertumbuhan dan peningkatan atas akhlak sebagaimana yang kita
ketahui.

F. Perkem bangan Akhlak Masa Kini


Perkembangan Kini..
Pada abad ke tujuh belas, delapan belas dan penghujung abad
dua puluh banyak bermunculan aliran-aliran filsafat macam-macam
aliran baru bermunculan dan yang menarik aliran-aliran ini sering
terikat hanya pada satu Negara atau satu lingkungan bahasa. Pada abad
ke tujuh belas dan delapan belas adalah positivism, marxisme,
eksistensialisme, pragmatism dan lainnya.
Sedangkan pada penghujung abad ke dua puluh muncul dua
aliran filsafat yang berperan besar dalam filsafat bahasa, yang pertama
yaitu filsafat analitis dan filsafat strukturalisme. Pada filsafat analitis,
tokoh yang paling terkenal adalah Ludwig Wittgenstein. Sedangkan
tokoh yang terkenal dengan filsafat strukturalismenya adalah J.Lacan,
Michel Foucault.

G. Kesimpula
Kesimpulan n
Dari pembahasan di bab sebelumnya, dapat kita simpulkan
bahwa pengertian akhlak yaitu ecara etimologis akhlak adalah bentuk
jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku
atau tabiat. Dari pengertian etimologis seperti ini, akhlak bukan saja
merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan
antar sesama manusia, tetapi juga norma yang mengatur hubungan
antar manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.
Sedangkan, Ilmu Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas baik dan
buruk, terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia
lahir dan batin. Jadi ilmu akhlak adalah ilmu yang mempersoalkan
baik buruknya amal.
Akhlak dalam arti bahasa, sebenarnya sudah dikenal manusia
di atas permukaan bumi ini yaitu apa yang disebut dengan istilah
adat-istiadat (tradisi) yang dihormati, baik dalam kehidupan pribadi,
keluarga dan masyarakat. Dalam keadaan terputusnya wahyu (zaman
fatrah) maka tradisi itulah yang dijadikan tolak ukur dan alat
penimbangan norma pergaulan kehidupan manusia, terlepas dari segi

15
Akhlak Tasawuf
apakah itu baik atau buruk menurut setelah datang wahyu. Sejarah
perkembangan akhlak yang dapat kita ketahui yaitu:
1. Sejarah perkembangan akhlak pada zaman Yunani.
2. Sejarah perkembangan akhlak pada masa bangsa Romawi.
3. Sejarah perkembangan akhlak pada masa bangsa arab sebelum
Islam.
4. Sejarah perkembangan akhlak pada periode abad modern.
5. Sejarah perkembangan akhlak masa kini

16
Akhlak Tasawuf

BAB III
Baik dan Buruk Dalam Akhlak

A. Pengertian Baik dan Buruk


B. Penentuan Baik dan Buruk
C. Sifat Baik dan Buruk
D. Kesimpulan

17
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Baik dan Buruk
Dari segi bahasa baik adalah terjemahan dari kata khoir
( dalam bahasa arab ) atau good ( dalam bahasa Inggris ). Dikatakan
bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang menimbulkan rasa
keharuan dan kepuasan, kesenangan, persesuaian, dan seterusnya.7
Pengertian baik menurut Etik adalah sesuatu yang berharga
untuk tujuan. Sebaiknya yang tidak berharga, tidak berguna untuk
tujuan apabila yang merugikan, atau yang mengakibatkan tidak
tercapainya tujuan adalah buruk dan yang disebut baik dapat pula
berarti sesuatu yang mendatangkan memberikan perasaan senang atau
bahagia. Dan adapula yang berpendapat yang mengatakan bahwa
secara umum, bahwa yang disebut baik atau kebaikan adalah sesuatu
yang diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia.
Walaupun tujuan orang atau golongan di dunia ini
berbeda-beda, sesungguhnya pada akhirnya semuaya mempunyai
tujuan yang sama sebagai tujuan akhir tiap-tiap sesuatu, bukan saja
manusia akan tetapi binatang pun mempunyai tujuan.8
Mengetahui sesuatu yang baik sebagaimana disebutkan
bahwa akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk dan
diartikan dan diartikan sesuatu yang tidak baik. Dengan demikian yang
dikatakan buruk itu adalah sesuatu yang dinilai sebaliknya dari yang
tidak baik, dan tidak disukai kehadirannya oleh manusia. Kebaikan
yang berhubungan dengan tujuan ini dapat kita bedakan dengan
kebaikan sebagai tujuan sementara untuk mencapai tujuan terakhir.
Tujuan sementara mungkin hanya sekali bagi seseorang atau sesuatu
golongan. Dan tujuan sementara ini sebagai alat atau jalan untuk
mencapai tujuan akhir ini terdapat bermacam-macam dan beraneka
ragam.
Didalam akhlak Islamiyah, antara baik sebagai akhlak atau
cara atau tujuan sementara harus segaris atau sejalan dengan baik
sebagai tujuan sementara dan tujuan akhir berada dalam satu garis
lurus yaitu berdasarkan satu norma karena didalam akhlak Islamiyah
ini disamping baik itu harus benar. Misalnya untuk menjadi seorang
pengusaha yang kaya. Ia harus berusaha dengan jalan yang halal, tidak
dengan menganiaya orang lain, tidak dengan jalan korupsi. Sebab di
dalam akhlak Islamiyah ada garis yang jelas antara yang boleh dan
tidak boleh, antara yang boleh dilampaui atau tidak, antara halal dan

7
H. Abuddin Nata, Ma. 1996. Akhlak Tasawuf. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta
8
Ahmad Mustofa. 1999. Akhlak Tasawuf. CV Pustaka Setia : Bandung

18
Akhlak Tasawuf
haram. Jadi menurut akhlak Islam, perbuatan itu disamping baik juga
harus belajar, yang benar juga harus baik.
B. Penentuan Baik Dan Buruk
1. Baik dan Buruk Menurut Ajaran Islam
Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus
didasarkan pada petunjuk Al-Quran dan Al-Hadits.
a. Menurut aliran Ahlusunnah Wal Jamaah
Aliran ini berpendapat bahwa ketentuan baik dan buruk
sudah ada ketentuan dalam Al-Quran dan Hadits. Untuk
menentukan hal yang baik dan buruk, aliran ini mendahulukan nash
lalu akal.
b. Menurut aliran Tasawwuf
Aliran tasawuf adalah suatu paham yang mementingkan
kehidupan spiritual dari pada materi. Menurut ahli tasawwuf, nilai
baik dapat diukur dari perasaan bahagia. Begitupula dengan nilai
buruk, yang ditandai dengan hal-hal yang menyengsarakan.
kebaikan dan keburukan menurut panilaian ahli tasawwuf adalah
terkait dengan kehidupan ukhrowi, jika kebaikan diperoleh di dunia,
maka kebaikan tersebut harus menjadi penyebab untuk
memperoleh kebaikan di akhirat.9
Jika kita perhatikan Al-Quran atau Al-Hadits dapat
dijumpai berbagai istilah yang mengacu kepada baik dan ada pula
yang mengacu kepada yang buruk. Diantara istilah yang mengacu
kepada yang baik adalah :
1) Al-hasanah
Al-hasanah sebagaimana dikemukakan oleh
Al-Raghib Al-Asfahani adalah suatu istilah yang digunakan
untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang
baik. Seperti kita jumpai pada ayat yang berbunyi :Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik. (QS. Al-Nahl, 16:125)
Al-hasanah terbagi menjadi 3 bagian, pertama
hasanah dari segi akal, kedua dari segi hawa nafsu atau
keinginan dan hasanah dari segi pancaindera.
2) At-tayyibah
Adapun kata at-tayyibah khusus digunakan untuk
menggambarkan sesuatu yang memberikan kelezatan kepada
pancaindera dan jiwa seperti makan dan sebagainya. Hal ini

9
Drs. Mahjuddin. Mpdi. 2010. Akhlaq Tasawwuf, Kalam Mulia: Jakarta.

19
Akhlak Tasawuf
misalnya terdapat pada ayat yang berbunyi: Kami turunkan
kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan
yang baik-baik yang kami berikan kepadamu. (Q.S.
Al-Baqarah, 2:57).
3) Al-khair
Selanjutnya kata al-khair digunakan utnuk
menunjukkan sesuatu yang baik oleh seluruh umat manusia,
seperti berakal, adil, keutamaan dan segala sesuatu yang
bermanfaat misalnya terdapat pada ayat yang berbunyi:
Barangsiapa yang melakukan kebaikan dengan kerelaan
hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan
lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Baqarah, 2: 158).
4) Al-Mmahudah
Adapun kata al-mahmudah digunakan untuk
menunjukkan sesuatu yang utama sebagai akibat dari
melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT. dengan
demikian kata al-mahmudah lebih menujukkan pada
kebaikan yang bersifat batin dan spiritual. Misalnya
dinyatakan dalam ayat yang berbunyi :Dan dari sebagian
malam hendaknya engkau bertahajjud mudah-mudahan
Allah akan mengangkat derajatmu pada tempat yang terpuji
(Q.S Al-Isra, 17: 79).
5) Al-karimah
Selanjutnya kata al-karimah digunakan untuk
menunjukkan pada perbuatan dan akhlaq yang terpuji yang
ditampakkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Selanjutnya
kata al-karimah biasanya digunakan untuk menunjukkan
perbuatan terpuji yang sekalanya besar, seperti menafkahkan
harta di jalan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua dan
sebagainya.
Dan janganlah kamu mengucapkan kata uf-cis
kepada kedua orang tua, dan janganlah membentaknya, dan
ucapkanlah pada keduanya ucapan yang mulia (Q.S. Al-Isra,
17: 23).
6) Al-birr
Kata al-birr digunakan untuk menunjukkan pada
upaya memperluas atau memperbanyak melakukan perbuatan
baik. Terkadang digunakan sebagai sifat Allah, dan terkadang
juga untuk sifat manusia. Jika kata tersebut digunakan untuk
sifat Allah, maka maksudnya adalah bahwa Allah

20
Akhlak Tasawuf
memberikan balasan pahala yang besar, dan jika digunakan
untuk manusia maka yang dimaksud adalah ketaatannya.10

2. Baik Buruk Menurut Aliran Adat Istiadat (sosialisme)


Menurut aliran ini baik buruk ditentukan berdasarkan adat
istiadat yang berlaku dan dipegang teguh oleh masyarakat. Orang
yang mengikuti adapt dipandang baik dan yang menentang dianggap
buruk, dan perlu dihukum secara adat.
Ahmad Amin mengatakan bahwa setiap bangsa menpunyai
adat dan menganggap baik jika, mengdidik anak-anaknya secara adat
istiadat, menanamkan perasaan mereka bahwa adat akan membawa
kepada kesucian sehingga apabila seseorang menyalahi adat sangat
dicela dan dianggap keluar dari golongan bangsanya .
Didalam masyarakat kita jumpai adat istiadat ang berkenaan
dengan cara berpakaian, makan, minum, cakap-cakap, dan sebagainya.
Orang yang mengikuti cara yang demikian itulah yang dianggap baik.
Kelompok yang menilai baik dan buruk berdasarkan adat istiadat ini
dalam tinjauan filsafat dikenal dengan istilah aliran sosialisme.

3. Baik buruk menurut aliran Hedonisme


Aliran Hedonisme adalah aliran filsafat yang terhitung tua
karena berakar pada filsafat yunani, khususnya pemikiran filsafat
Epicurus ( 341-270 SM), yang selanjutnya dikembangkan oleh
cyrenics dan belakangan ditumbuh kembangkan oleh Freud .
Paham ini menyatakan perbuatan baik adalah perbuatan yang
banyak mendatangkan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan nafsu
biologis. Epicurus sebagai peletak dasar paham ini mengatakan bahwa
kebahagian atau kelezatan itu adalah tujuan manusia. Tidak ada
kebaikan dalam hidup selain kelezatan dan tidak ada keburukan
kecuali penderitaan.
Hedonisme model pertama yang individualistik lebih banyak
mewarnai masyarakat barat yang bercorak liberal dan kapitalis,
sementara hedonisme model kedua yang sosialistik banyak mewarnai
masyarakat eropa yang komunis.

4. Baik dan buruk menurut paham intuisisme (humanisme)


Intuisi adalah kekuatan batin yang dapat menentukan sesuatu
sebagai baik atau buruk. Dengan sekilas tampa melihat buah atau

10
Muhammad Al Baqir. 1994. Membentuk Akhlak Mulia. Karisma: Bandung

21
Akhlak Tasawuf
akibatnya. Kekuatan batin atau yang disebut juga sebagai kata hati
adalah merupakan potensi rohaniah yang secara fitrah telah ada pada
diri setiap orang. Paham ini berpendapat bahwa pada setiap manusia
mempunyai kekuatan instinct batin yang dapat membedakan baik dan
buruk dengan sekilas pandang. Kekuatan batin ini terkadang berbeda
refleksinya, karena pengaruh masa dan lingkungan, akan tetapi pada
dasarnya ia tetap sama dan berakar pada tubuh maanusia. Apabila ia
melihat suatu perbuatan, ia mendapat semacam ilham yang dapat
memberitahu nilai perbuatan itu, lalu menetapkan hukum baik dan
buruknya. Oleh karna itu kebanyakan manusia sepakat mengenai
keutamaan seperti benar, dermawan, berani dan mereka juga sepakat
menilai buruk terhadap suatu perbuatan yang salah, kikir dan
pengecut.
Poedjawijatna mengatakan bahwa menurut aliran ini yang
baik adalah yang sesuai dengan kodrat manusia, yaitu
kemanusiaannya cenderung kepada kebaikan. Penentuan terhadap
baik buruknya tindakan yang kongkret adalah perbuatan yang sesuai
dengan kata hati orang yang bertindak. Dengan demikian ukuran baik
buruk suatu perbuatan menurut paham ini adalah tindakan yang sesuai
dengan derajat manusia, dan tidak menentang atau mengurangi
keputusan hati . Secara batin setiap orang pasti tidak akan dapat
membohongi kata hatinya.jika suatu ketika seseorang yang
mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya, hal yang demikian hanya
dapat dilakukan atau ditrima oleh ucapannya, tetapi kata hatinya tetap
tidak mengakui kebohongan itu.

5. Baik dan buruk menurut paham Utilitarianisme


Secara harfiah berarti berguna. Menurut paham ini bahwa
yang baik adalah yang berguna. Jika ini berlaku bagi
perorangan,disebut individual,dan jika berlaku bagi masyarakat dan
Negara disebut social.
Pada masa sekarang ini,kemajuan dibidang teknik cukup
meningkat,dan kegunaanlah yang menentukan segala-galanya.Namun
demikian paham ini cenderung ektrim dan melihat kegunaan hanya
dari sudut pandang materialistik. Kegunaan bisa diterima jika hal-hal
yang digunakan tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.Nabi
misalnya menilai orang yang baik adalah memberi manfaat bagi yang
lainnya.( HR.Bukhari).

22
Akhlak Tasawuf
6. Baik buruk menurut paham Religiosisme
Menurut paham ini yang dianggap baik adalah perbuatan
yang sesuai dengan kehendak tuhan,sedangkan perbuatan buruk
adalah sebaliknaya.Dalam paham ini keyakianan teologis,yakni
keimanan kepada tuhan memegang peranan penting,karna tidak
mungkin orang mau babuat sesui dengan kehendak tuhan jika
bersangkutan tidak beriman kepadaNya.
Diketahui didunia ini terdapat bermacam-macam agama ,dan
masing-masimg menentuken bik dan buruk menurut ukurannya
masing-masing.Agama Hindu, Budha, Yahudi, Kristen dan Islam
misalnya ,masing-masing memiliki tolak ukur tentang baik dan buruk
yang dengan yang lainnya berbeda-beda.

C. Sifat Dari Baik Dan Buruk


Sifat dan corak baik buruk yang didasarkan pada pandangan
filsafat adalah sesuai dengan sifat dari filsafat itu sendiri, yakni
berubah dan tidan universal. Nilai baik dan buruk bersifat relative.
Sifat baik dan buruk berguna sesui zamannya ,dan ini dapat
dimanfaatkan untuk menjabarkan ketentuan baik dan burukyang
terdapat dalam ajaran Ahlak yang besumber dari ajaran islam.

D. Kesimpulan
Sesuatu yang disebut baik atau buruk itu relatif sekali, karena
bergantung pada pandangan dan penilaian masing-masing yang
merumuskannya dan pengertian ini bersifat subjektif, karena
bergantung pada individu yang menilainya.

23
Akhlak Tasawuf

BAB IV
Aspek Yang Mempengaruhi Pembentukan
Akhlak

A. Akhlak
B. Pembentukan Akhlak
C. Aspek -Aspek Yang Mempengaruhi
Pembentukan Akhlak
D. Metode Pembentukan Akhlak
E. Kesimpulan

24
Akhlak Tasawuf
A. Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang sudah dijadikan
bahasa Indonesia yang diartikan juga sebagai tingkah laku, perangai
atau kesopanan. Kata akhlak merupakan jama taksir dari kata khuluq,
yang sering juga diartikan sebagai sifat bawaan atau tabiat, adat
kebiasaan dan agama.
Menurut beberapa ahli ilmu akhlak, definisi dari akhlak antara
lain :
Al-Qurtubi mengatakan : perbuatan yang bersumber dari diri
manusia yang selalu dilakukan, maka itulah yang disebut akhlak,
karena perbuatan tersebut bersumber dari kejadiannya.11
Muhammad bin Ilan al-sadiqi mengatakan : akhlak adalah suatu
pembawaan yang tertanam dalam diri, yang dapat mendorong
(seseorang ) berbuat baik dengan gampang.12
Ibnu Maskawaih mengatakan : akhlak adalah kondisi jiwa yang
selalu mendorong (manusia) berbuat sesuatu, tanpa ia memikirkan
(terlalu lama ).
Abu Bakar Jbir Al-Jaziri mengatakan; akhlak adalah bentuk
kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang dapat
menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela.
Imam Al-Ghazali mengatakan : akhlak adalah suatu sifat yang
tertanam dalam jiwa manusia, yang dapat melahirkan suatu
perbuatan yang gampang dilakukan, tanpa melalui maksud untuk
memikirkan lebih lama. Maka jika sifat tersebut melahirakan
tindakan terpuji menurut ketentuan rasio dan norma agama,
dinamakan akhlak baik. Tetapi manakala ia melahirkan tindakan
buruk, maka dinamakan akhlak buruk.13
Jadi, menurut pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan
bahwa akhlak berasal dari warisan yang telah dibawah oleh manusia
sejak lahir dan tertanam dalam setiap diri manusia itu sendiri, yang
kemudian menghasilkan sebuah perbuatan yang baik dan buruk.

B. Pembentukan Akhlak
Pembentukan akhlak dapat di artikan sebagai usaha
sungguh-sungguh dalam rangka membentuk kepribadian manusia

11
Al-Qurtubi, tafsir Al-Qurtubi, juz VIII,(Kairo,Dar al-Syabi,1913 M), 6706.
12
Muhammad bin ilan al-Sadiqi, Dalil al-Falihin, juz III, (Mesir, Mustafa al-Badi
al-Halibi,1391 H/1971),76.
13
Al-Ghazali,Ihya Ulumi al-Din, juz II,(Bayrut,Dar al-Fikr, tt), 52.

25
Akhlak Tasawuf
dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang
terprogram dengan baik serta dilaksanakan sungguh-sungguh dan
konsisten.
Namun, sebenarnya pengertian pembentukan akhlak tersebut
masih diperdebatkan. Karena terdapat dua pendapat yang saling
bertolak belakang tentang akhlak yang dapat di ubah (dibentuk) dan
akhlak yang tidak dapat di bentuk.
Pendapat pertama mengatakan bahwa akhlak tidak dapat
dirubah karena pada dasarnya akhlak merupakan warisan dan instinct
yang di bawa sejak lahir. Walaupun tidak dapat dirubah tapi akhlak
masih tetap dapat dikontrol secara ketat dan baik.
Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa akhlak adalah
hasil dari pembinaan dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh.
Karena akhlak dapat dibentuk dan dibina dengan bimbingan, arahan,
pendidikan serta pengaruh-pengaruh lainya.14
Dengan demikian pembentukan akhlak dapat diartikan
sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentu individu
dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang
terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh
dan konsisten. Pembentuka akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi
bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan bukan terjadi dengan
sendirinya. Potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia, termasuk di
dalamnya akal, hati nuranu dann intuisi dibina secara optimal dengan
cara dan pendekatan yang tepat.

C. Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak


Untuk mempunyai akhlak yang baik dan mulia maka
dibutuhkanya pembentukan dan pembinaan akhlak itu sendiri. Dan
dalam proses pembentukan tersebut terdapat beberapa faktor atau
aspek yang dapat mempengaruhi akhlak suatu manusia, yaitu:
1. Instink (naluri)
Aneka corak refleksi sikap, tindakan dan perbuatan
manusia dimotivasi oleh kehendak yang dimotori oleh Insting
seseorang ( dalam bahasa Arab gharizah). Insting merupakan tabiat
yang dibawa manusia sejak lahir. dan instig terdiri dari beberapa
macam. yaitu:

14
Hamzah Tualeka Zn, Akhlak Tasawuf, (Surabaya: tim penyusun MKD, 2012),hal
130-133.

26
Akhlak Tasawuf
a) Naluri Makan (nutrive instinct). Manusia lahir telah
membawa suatu hasrat makan tanpa didorang oleh orang
lain.
b) Naluri Berjodoh (seksual instinct). Manusia mempunyai
naluri untuk berpasang-pasangan agar mempunyai keturunan.
c) Naluri Keibubapakan (peternal instinct). Tabiat kecintaan
orang tua kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan anak
kepada orang tuanya.
d) Naluri Berjuang (combative instinct).Tabiat manusia untuk
mempertahnkan diri dari gangguan dan tantangan. Jika
seseorang diserang oleh musuh, maka ia akan membela
dirinya.
e) Naluri Bertuhan. Tabiat manusia mencari dan merindukan
penciptanya yang memberikan rahmat kepadanya dengan
jalan beragama.
2. Adat (kebiasaan)
Adat/Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan
seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk
yang sama sehingga menjadi kebiasaan
3. Wirotsah (keturunan)
Maksudnya adalah berpindahnya sifat-sifat tertentu dari
pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan). Sifat-sifat asasi
anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya.
Kadang-kadang anak itu mewarisi sebagian besar dari salah satu
sifat orang tuanya.
4. Milieu (lingkungan)
Artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup, meliputi
tanah dan udara sedangkan lingkungan manusia ialah apa yang
mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan masyarakat.
Milieu ada 2 macam:
a) Lingkungan Alam yang melingkupi manusia merupakan
faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku
seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan
pertumbuhn bakat yang dibawa oleh seseorang.
b) Lingkungan pergaulan. Manusia hidup selalu berhubungan
dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus
bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling
mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan tingkah laku.
5. Pendidikan

27
Akhlak Tasawuf
Dunia pendidikan, sangat besar sekali pengaruhnya
terhadap perubahan perilaku, dan akhlak seseorang. Bebagai ilmu
diperkenalkan agar siswa memahaminya dan dapat melakukan
suatu perubahan pada dirinya.
6. Kehendak
Kehendak (bahasa Inggris: will) adalah kemampuan yang
dimiliki seseorang atau sesuatu makhluk untuk membuat pilihan
secara sukarela, bebas dari segala kendala ataupun tekanan yang
ada.

Selain aspek-aspek diatas, di dalam pembentukan akhlak


seseorang juga terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya,
dintaranya adalah aliran nativisme, aliran empirisme, dan aliran
konvergensi.
Menurut aliran nativisme faktor yang paling banyak
mempengaruhi pembentukan diri seseorang adalh faktor pembawaan
dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan, bakat, akal,
dll. Aliran ini begitu yakin terhadap potensi batin yang ada dalm diri
manusia dan ini erat kaitannya dengan pendapat aliran intuisisme
dalam hal penentuan baik dan buruk dan aliran ini juga tampak kurang
menghargai atau kurang memperhitungkan peranan pembinaan dan
pendidikan.
Menurut aliran empirisme, bahwa faktor yang paling
mepengaruhi terhadap pembentukan akhlak seseorang adalah faktor
dari luar yaitu lingkungan sosial, pendidikan dan pembinaaan yang
diberikan. Aliran ini tampak begitu percaya kepada peranan yang
dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran.
Menurut konvergensi bahwa pembentukan akhlak pada diri
sesorang dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu pembawaan si anak
dan faktor dari luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat
secara khusus melalui interaksi dalam lingkungan sosial. Aliran
konvergensi ini sesuai dengan ajaran islam. Hal ini dapat dipahami
dari surat An-Nahl ayat 78 :

Artinya:

28
Akhlak Tasawuf
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati agar kamu bersyukur (QS.An-Nahl,16:78)
Melalui ayat tersebut Allah memberi petunjuk bahwa manusia
memiliki potensi untuk dididik melalui pendengaran, penglihatan dan
hati yang telah diberikan. Dan potensi tersebut harus disyukuri dengan
cara mengisinya dengan ajaran dan pendidikan.15

D. Metode Pembentukan Akhlak


Menurut Quraish Shihab akhlak mulia adalah akhlak yang
menggunakan ketentuan Allah sebagai tolak ukur dan tolak ukur
kelakuan baik mestilah merujuk kepada ketentuan Allahsehingga
didalam Islam pembinaan jiwa harus didahulukan dari pada pembinaan
fisik, karena dari jiwa yang baik akan lahir perbuatan-perbuatan yang
baik, yang akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan
kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin. Selain
itu menurut hasil analisis Muhammad Al-Ghazali menyatakan bahwa
dalam rukun Islam terkandung konsep atau metode pembinaan akhlak
dalam islam.

1. Mengucapkan dua kalimah syahadat.


Kalimat yang mengandung pernyataan bahwa selama hidup,
manusia yang hanya tunduk dan patuh pada aturan Allah dan
Rasul-Nya, sudah dapat dipastikan menjadi orang yang berakhlak
baik atau mulia.
2. Mengerjakan sholat lima waktu
Bahwasanya aku menerima sholat hanya dari orang yang
bertawadhu dengan sholatnya kepada keagungan-Ku yang tidak
terus-menerus berdosa, menghabiskan waktunya sepanjang hari
untuk dzikir kepada-Ku, kasih sayang kepada fakir miskin, Ibnu
sabil, janda serta mengasihi orang yang mendapat musibah. (H.R.
Al-Bazaar)
Pada hadist Qudsi diatas menjelaskan bahwa sholat
diharapkan dapat menghasilkan akhlak yang mulia. Selain itu
sholat khususnya jika dilakukan berjamaah akan menghasilkan
kesahajaan.
3. Membayar Zakat.

15
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta:Praja Grafindo Persada,1996), hlm 165-166.

29
Akhlak Tasawuf
Didalam membayar zakat mengandung didikan akhlak, agar
orang yang melaksanakannya dapat membersihkan dirinya dari
sifat kikir, mementingkan diri sendiri dan membersihkan hartanya
dari hak orang lain.
4. Puasa
Puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan
minum dalam waktu terbatas, tetapi juga mendidik agar bisa
menahan diri dari keinginan untuk melakukan perbuatan keji yang
dilarang.
5. Ibadah Haji
Didalam ibadah haji diamping harus menguasai ilmunya,
juga harus sehat fisiknya, ada kemauan keras, bersabar dalam
menjalankannya, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dan rela
meninggalkan tanah air, harta dan keluarganya.

Jadi, dengan demikian dalam islam pun pembentukan akhlak


yang baik sudah di ajarkan dan sudah banyak diterapkan agar dapat
menyempurnakan akhlak umat manusia sehingga menjadi manusia
yang baik.

E. Kesimpulan
Pembentukan akhlak merupakan usaha sungguh-sungguh dalam
rangka membentuk individu dengan menggunakan sarana pendidikan
dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh dan konsisten. Walaupun akhlak berasal dari warisan
sejak lahir namun masih tetap dapat dirubah dengan pendidikan yang
tepat serta aspek-aspek yang mempengaruhinya. Secara garis besar
aspek-aspek yang mempengaruhi pembentukan akhlak, yaitu:
Insting
Adat atau kebiasaan
Wirotsah atau keturunan
Mileu atau lingkungan
Pendidikan
Kehendak
Metode dalam pembentukan akhlak menurut islam sudah
tertanam dalam konsep rukun islam yang dapat merubah akhlak
manusia menjadi lebih baik.

30
Akhlak Tasawuf

BAB V
Kebahagiaan, Penyakit Hati dan Obat
Hati

A. Definisi Kebahagiaan
B. Penyebab Kebahagiaan
C. Definisi Penyakit Hati
D. Penyebab Penyakit Hati
E. Macam-macam Obat Hati
F. Kesimpulan

31
Akhlak Tasawuf
A. Def inisi Kebahagiaan
Definisi
Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran
atau perasaan, yang ditandai dengan kesenangan, cinta, kepuasan,
kenikmatan, atau kegembiraan. Para filsuf dan pemikir agama
sering mendefinisikan kebahagiaan dalam kaitan dengan kehidupan
yang baik dan tidak hanya sekadar sebagai suatu emosi.

B. Penyebab Ke bahagiaan
Kebahagiaan
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan. Secara
garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan dapat
dibagi dua, yaitu faktor eksternal dan faktor internal.

1. Faktor Eksternal
Seligman (2002) memberikan delapan faktor eksternal
yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang, namun tidak
semuanya memiliki pengaruh yang besar. Selain itu, Carr (2004)
juga mengemukakan beberapa hal yang berkontribusi terhadap
kebahagiaan. Berikut ini adalah penjabaran dari faktor-faktor
eksternal yang berkontribusi terhadap kebahagiaan seseorang
menurut Seligman (2002):
a) Uang
Keadaan keuangan yang dimiliki seseorang pada saat
tertentu menentukan kebahagiaan yang dirasakannya akibat
peningkatan kekayaan. Individu yang menempatkan uang
diatas tujuan hidup lainnya akan cenderung kurang puas
dengan pemasukan yang dimilikinya.
b) Pernikahan
Pernikahan memiliki dampak yang jauh lebih besar
dibanding uang dalam mempengaruhi kebahagiaan seseorang.
Individu yang menikah cenderung lebih bahagia daripada
mereka yang tidak menikah. Lebih bahagianya individu yang
telah menikah bisa disebabkan karena pernikahan
menyediakan kebutuhan akan keintiman psikologis dan
fisik, keinginan untuk memiliki anak, membangun rumah
tangga, dan mengafirmasi identitas serta peran sosial sebagai
pasangan dan orangtua.
c) Kehidupan sosial
Individu yang memiliki tingkat kebahagiaan yang
lebih tinggi umumnya memiliki kehidupaan sosial yang
memuaskan dan menghabiskan banyak waktu untuk

32
Akhlak Tasawuf
bersosialisasi. Pertemanan yang baik akan mempengaruhi
kebahagiaan. Karena, tersedianya dukungan sosial.
d) Agama
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang
religious lebih bahagia dan lebih puas dengan
kehidupannya dibandingkan individu yang tidak religius.
Hal ini disebabkan oleh tiga hal. Pertama, efek psikologis
yang ditimbulkan oleh religiusitas yang cenderung positif,
mereka yang religius memiliki tingkat penyalahgunaan
obat-obatan, kejahatan, perceraian dan bunuh diri yang rendah.
Kedua, adanya keuntungan emosional dari agama berupa
dukungan sosial dari mereka yang bersama-sama membentuk
kelompok agama yang simpatik. Ketiga agama sering
dihubungkan dengan karakteristik gaya hidup sehat secara
fisik dan psikologis dalam kesetiaan perkawinan, perilaku
sosial, makan dan minum secara teratur, dan komitmen untuk
bekerja keras.
e) Emosi positif
Berikut ini, ada beberapa emosi positif yang
berpengaruh terhadap kebahagiaan, yaitu:
1) Gembira
Kegembiraan, keriangan dan kesenangan timbul
akibat rangsangan seperti keadaan fisik yang sehat atau
keberhasilan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2) Rasa ingin tahu
Rangsangan yang menimbulkan emosi ingin tahu
sangat banyak. Contohnya sesuatu hal yang aneh dan
baru akan menyebabkan seseorang berusaha mencari
tahu hal tersebut.
3) Cinta
Cinta mampu membuat seseorang merasa bahagia,
karena cinta merupakan Perasaan yang melibatkan
rasa kasih sayang baik terhadap benda maupun terhadap
sesama manusia
4) Bangga
Adalah Suatu perasaan yang dapat meningkatkan
identitas seseorang misalnya dengan cara berhasil
mencapai sesuatu yang bernilai atau dapat mewujudkan
keinginan, seperti meraih prestasi.

33
Akhlak Tasawuf
2. Faktor internal
Selain faktor eksternal ada pula faktor internal yang dapat
mempengaruhi kebahagiaan. Berikut adalah faktor dari internal
yang mempengaruhi kebahagiaan adalah:
a ) Kepuasan terhadap masa lalu
Kepuasan terhadap masa lalu dapat dicapai dengan
tiga cara, yaitu:
Melepaskan pandangan masa lalu sebagai penentu masa
depan seseorang.
Bersyukur atas apa yang telah diberikan kepada Tuhan.
Adanya sifat memaafkan dan melupakan keburukan
pada diri seseorang.
b) Optimisme terhadap masa depan,
Optimisme biasanya didefinisikan sebagai harapan
untuk mendapatkan peluang yang lebih besar di kemudian
hari.

C. Definisi penyakit hati


Penyakit hati adalah penyakit yang paling berbahaya dari
berbagai jenis penyakit jasmani yang berbahaya. Sungguh merupakan
suatu kerugian apabila seseorang ditimpa penyakit hati dan diapun
tidak menyadarinya.

D. Penyebab Penyakit Hati


Setiap hal pasti memiliki sebab dan akibat, begitu pula penyakit
hati, stiap penyakit pasti ada sebabnyaadapun sebab penyakit hati
adalah:
1. Berbuat syirik kepada Allah swt.
Syirik adalah sifat manusia yang berani menyekutukan
Allah swt. Orang yang terkena penyakit ini akan senantiasa
menjalani iman dan akidahnya yang cacat, hatinya akan selalu
sakit, semua yang dilakukannya hanya berkisar nafsu belaka, dia
tidak akan mengenal agama Islam ini dengan baik, sebaliknya dia
akan mendapatkan kesedihan, perasaan takut, dan kehancuran,
bahkan Allah swt. menyifati orang-orang yang berbuat syirik
kedudukannya lebih rendah dari binatang-binatang ternak. Allah
swt. Berfirman: Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan
mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain,
hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
jalannya (dari binatang ternak itu). (QS. Al-Furqan: 44)

34
Akhlak Tasawuf
2. Berbuat maksiat kepada Allah swt.
Apabila kemaksiatan sudah berkumpul di hati seseorang,
maka dia akan menghalangi pandangan hati, sehingga ia tidak
dapat menyadari, memahami, dan mengerti ayat- ayat Allah swt.
Allah swt. Berfirman: Dan kalau Kami menghendaki,
sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa
nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika
kamu menghalaunya dijuurkannya lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian
itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar
mereka berfikir. (QS. Al-Araf: 176)
3. Kelalaian berdzikir kepada Allah swt.
Manusia yang lengah akan terkejut tatkala mendengar
dzikir atau nasihat dari seseorang, meskipun dia seorang penuntut
ilmu, apalagi orang awam Hal ini disebabkan kelalaian dari
merenungi ayat-ayat-Nya sehingga setan masuk melalui
peredaran darahnya menuju hatinya. Oleh karena itu, Allah
Subhanahu wa Taala senantiasa mengingatkan hal ini
sebagaimana dalam firman-Nya: Dan telah dekat kedatangan
janji yang benar (hari berbangkit). Maka tiba-tiba terbelalaklah
mata orang-orang yang kafir. (mereka berkata): Aduhai,
celakalah Kami, Sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian
tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim. (QS.
Al-Anbiya: 97).

E. Macam- macam Obat Hati


Obat hati adalah penawar untuk segala jenis penyakit hati,
seperti iri dengki, riya, suudzon (berburuk sangka) dan mampu
menentramkan hati bagi siapapun yang melakukannya atau
membacanya.
Berikut ini adalah macam-macam obat hati, yaitu:
1. Al- Quran
Al- Quran memang obat termujarab bagi segala
penyakit hati. Membaca Al-quran beserta terjemahannya
mampu mendekatkan diri kita pada Allah swt. Melalui
petunjuk-Nya untuk selalu ikhlas dan sabar menghadapi
cobaan.
2. Membaca shalawat

35
Akhlak Tasawuf
Membaca shalawat mampu menyembuhkan penyakit
hati. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: barangsiapa yang
mendapatkan kesulitan, maka perbanyaklah membaca
shalawat untukku, karena sesungguhnya ia dapat mengatasi
berbagai masalah dan menghilangkan kegelisahan. Dan ketika
sudah membacanya berkali-kali, maka hati akan tentram, dan
jauh dari kegelisahan.
3. Mendirikan sholat malam
Dengan sholat malam, doa-doa kita lebih didengar
oleh Allah swt. Terutama pada malam sepertiga malam,
karena pada saat itu, Allah turun ke bumi untuk mendengar
doa para hamba-hambanya, dan pada pelaksanaannya, sedikit
orang yang melakukan sholat malam.
4. Perbanyak berpuasa
Dengan banyak berpuasa, seperti puasa senin - kamis,
maka tubuh kita akan terlatih dengan perut kosong,
merasakan derita orang miskin yang kelaparan, dan selalu
diliputi rasa syukur kepada Allah swt. Atas karunia yang
telah diberikan.
5. Dzikir
Dengan perbanyak dzikir, kita akan selalu ingat Allah,
dan dengan selalu mengingat Allah, maka akan tersadarlah
bahwa ia hanyalah mahkluk kecil dihadapan-Nya.

F. Kesimpulan
Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran
atau perasaan, yang ditandai dengan kesenangan, cinta, kepuasan,
kenikmatan, atau kegembiraan. Faktor faktor kebahagiaan meliputi 2
hal, yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Penyakit hati adalah penyakit yang paling berbahaya dari
berbagai jenis penyakit jasmani yang berbahaya. Adapun penyebab
penyakit hati dalam islam, yaitu, Berbuat syirik kepada Allah swt,
Berbuat maksiat kepada Allah swt, Kelalaian berdzikir kepada Allah
swt.
Obat hati adalah penawar untuk segala jenis penyakit hati,
seperti, iri dengki, riya, dan suudzon (berburuk sangka). Dan
menentramkan hati bagi siapapun yang membacanya ataupun
melakukannya. berikut ini macam-macam obat hati, yaitu Al- Quran,,
membaca sholawat,, mendirikan sholat malam,, perbanyak berpuasa,,
dan dzikir.

36
Akhlak Tasawuf

BAB VI
Hak, Kewajiban dan Tanggung Jawab

A. Pengertian Hak
B. Macam-Macam Hak
C. Pengertian Kewajiban
D. Macam-Macam Kewajiban
E. Tanggung Jawab
F. Hubungan Antara Hak, Kewajiban
dan Tanggung Jawab
G. Kesimpulan

37
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Hak
Hak dapat diartikan wewenang atau kekuasaan yang secara etis
seseorang dapat mengerjakan, memiliki, meninggalkan,
mempergunakan atau menuntut sesuatu. Hak juga dapat berarti
panggilan kepada kemauan orang lain dengan perantara akalnya,
perlawananengan kekuasaan atau kekuatan fisik untuk mengakui
wewenang yang ada pada pihak lain.16
Sedangkan menurut Imam Suraji, hak adalah sesuatu yang
dimiliki oleh manusia sejak lahir dan sesuatu yang dimiliki atau
diterima oleh manusia karena sebab-sebab tertentu. Hak yang dimiliki
oleh seseorang pada hakikatnya merupakan salah satu bentuk
perlindungan terhadap eksistensi dan martabat manusia sebagai
individu maupun sebagai anggota suatu masyarakat.17 Orang yang
mempunyai hak bisa menuntut (dan bukan saja megharapkan dan
menganjurkan) bahwa orang lain akan memenuhi dan menghormati
hak itu.18

B. Macam-macam Hak
Secara umum para ahli etika mengelompokkan menjadi 3
kelompok, antara lain:
1. Hak asasi atau hak kodrat
Hak asasi atau hak kodrat dikenal dengan istilah hak fitri,
yaitu hak yang dibawa manusia sejak lahir ke dunia. Hak asasi
merupakan hak dasar atau hak pokok yang dimiliki setiap
individu sebagaianugrah Allah yang menciptakan manusia. Oleh
karena itu hak ini bersifat sangat mendasar dan sangat pokok bagi
hidup dan kehidupan manusia di dunia. Hak yang dimasukkan
kedalam kelompok hak asasi antara lain:19
a) Hak Hidup
Tiap-tiap manusia mempunyai hak hidup, akan tetapi
karena kehidupan manusia itu secara bergaul dan
bermasyarakat, maka sudah seadilnya seseorang
mengorbankan jiwanya untuk menjaga hidupnya masyarakat

16
Ahmad Charris Zubair, Kuliyah Akhlak (Jakarta: Rajawali Pers, 1990), Hal.59.
17
Imam Suraji, Etika dalam perspektif Al-quran dan hadist (jakarta :Pustaka Al-Husna
baru,2006), Hal.172
18
K.Bertens, Etika (Jakarta : PT Gramedia Pustaka, 2007) Hal 178
19
Imam Suraji, Etika dalam perspektif Al-quran dan hadist (jakarta :Pustaka Al-Husna
baru,2006) hal 172-174

38
Akhlak Tasawuf
apabila di pandang perlu.20
Hidup adalah karunia yang diberikan oleh Allah SWT
kepada setiap manusia tanpa membedakan warna kulit,
bangsa dan jenis kelaminnya. Oleh karena itu dengan alasan
apapun dan dalam keadaan bagaimanapun seseorang tidak
diperbolehkan bunuh diri. Disamping itu seseorang juga
tidak diperbolehkan menghilangkan nyawa orang lain kecuali
karena ada alasan tertentu dan yang dibenarkan oleh hukum
yang ditetapkan oleh Allah. Karena hidup dan mati seseorang
sepenuhnya merupakan wewenang Allah SWT.
Etika Islam tidak hanya menetapkan hak hidup
sebagai hak dasar manusia yang harus ditegakkan, tetapi juga
menjelaskan tentang kewajiban yang ada pada manusia untuk
menjaga hak tersebut agar jangan sampai dilanggar atau
dirusak, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang
lain. Hak hidup merupakan hak dasar pertama yang ada pada
manusia dan dengan adanya kehidupan maka manusia akan
mendapatkan hak-hak lainnya.
b) Kebebasan
Kebebasan mempunyai arti merdeka atau lepas dari
penjajahan, perbudakan dan kurungan. Kebebasan
mempunyai arti bahwa manusia bukanlah seorang budak,
oleh karenanya ia tidak terikat oleh segala macam ikatan.
manusia bebas untuk menerima atau menolak apapun yang
ada di muka bumi.
Dalam pemikiran Etika Islam,kebebasan itu bertanggung
jawab, dimana manusia bebas menentukan dan melaksanakan
tindakan yang di inginkan, tetapi ia tetap akan diminta
pertanggung jawaban atas semua keputusan dan tindakan
yang dilakukannya.
c) Kehormatan Diri
Manusia adalah makhluk paling sempurna dan yang
paling mulia di muka bumi ini. Oleh karena itu, kemuliaan
atau kehormatan adalah hak yang melekat pada diri manusia
sejak kelahirannya di dunia. Kehormatan diri merupakan
salah satu hak kodrat atau hak asasi manusia yang tidak bisa
dihilangkan oleh siapapun.

20
Ahmad Amin, Etika (Jakarta :PT Bulan Bintang, 1995) hal 174

39
Akhlak Tasawuf
2. Hak Legal
Hak legal adalah hak yang dimiliki oleh seseorang karena
ada aturan atau ketentuan yang mengatur hal tersebut. Sedang hak
moral adalah hak yang hanya berdasar pada ketentuan-ketentuan
moral atau berdasar pada adat kebiasaan yang berlaku.21 Hak-hak
legal berasal dari undang-undang, peraturan hukum atau dokumen
legal lainnya.22
Hal-hal yang bisa digolongkan ke dalam hak legal seperti
hak memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, keamanan dan
lain sebagainya. Sedang hal-hal yang dimasukkan kedalam hak
moral seperti hak orang tua mendapat penghormatan, hak anak
untuk mendapatkan nama yang baik, hak untuk meminta maaf
dan memaafkan dan lain sebagainya.

C. Pengertian Kewajiban
Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, tidak
dapat terlepas dari kewajiban. Apa yang dilakukan seseorang dapat
menyebabkan pengaruh pola hubungannya dengan sosial. Pola
hubungan yang baik antara individu dengan yang satu dengan yang
lain karena adanya kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi.
Kewajiban mempunyai banyak pengertian, antara lain sebagai
berikut: dilihat dari segi ilmu fiqih, wajib mempunyai arti pengertian
sesuatu yang harus dikerjakan, apabila dikerjakan mendapat pahala
dan apabila ditinggalkan mendapat dosa. Menurut ilmu tauhid, wajib
sesuatu yang pasti benar adanya. Sedangkan menurut ilmu akhlak,
wajib adalah suatu perbuatan yang harus dikerjakan, karena perbuatan
itu dianggap baik dan benar.23 Kewajiban sendiri adalah suatu
tindakan yang harus dilakukan oleh setiap manusia dalam memenuhi
hubungan sebagai makhluk individu, sosial, dan tuhan.24

D. Macam-Macam Kewajiban
Kewajiban manusia dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu,
kewajiban manusia terhadap diri sendiri, kewajiban terhadap sesama

21
Imam Suraji, Etika dalam perspektif Al-quran dan hadist (jakarta :Pustaka Al-Husna
baru,2006) hal 174-181
22
K.Bertens, Etika (Jakarta : PT Gramedia Pustaka, 2007) Hal 179
23
Imam Suraji, Etika dalam perspektif Al-quran dan hadist (jakarta :Pustaka Al-Husna
baru,2006) hal 184
24
Arifmanto.blogspot.com/2010/04/hak-kewajiban-keadilan.html (dikutip pada tanggal 12
Maret 2013 pukul 19:23)

40
Akhlak Tasawuf
makhluk, dan kewajiban manusia terhadap Tuhan sebagai Dzat yang
menciptakannya.
1. Kewajiban manusia terhadap diri sendiri ( individu )
Dalam rangka menjaga eksistensi dirinya sebagai makhluk
hidup, maaka setiap manusia memiliki kewajiban terhadap dirinya
sendiri, antara lain: makan dan minum, berpakaian, menjaga
kebersihan dan kesehatan, dll
2. Kewajiban kepada sesama makhluk ( sosial )
Manusia sebagai makhluk Allah yang sempurna dan
sebagai kholifah mempunyai tugas utama menjaga kehidupan
dunia dengan baik dan kemakmurannya. Dalam rangka
melaksanakan tugas itu maka manusia mempunyai beberapa
kewajiban yang harus dipenuhi. Diantaranya kewajiban terhadap
alam, kewajiban terhadap sesama manusia, seperti
tolong-menolong.
3. Kewajiban terhadap Allah SWT
Kewajiban terhadap Allah sangat penting agar setiap orang
dapat mengetahui setiap kewajiban yang harus dilakukan dalam
upaya untuk meraih kebahagiaan yang dicita-citakannya. Dengan
demikian apabila seseorang dapat melakukan semua
kewajibannya dengan baik, maka akan dapat tercipta hubungan
yang baik antara dirinya dengan orang lain maupun dengan
makhluk yang lain serta hubungan yang baik dengan Allah SWT.
Adapun kewajiban manusia terhadap Allah, antara lain :25
a) Beriman kepada Allah SWT
b)Beribadah dengan ikhlas hanya kepada Allah
c) Bersyukur kepada Allah
d)Meminta ampun dan bertaubat
e) Tidak menyekutukan Allah
f) Taqwa dan tawakkal kepada Allah

E. Tanggung Jawab
Dalam pelaksanaan kewajiban terletak apa yang disebut dengan
tanggung jawab. Tanggung jawab berarti sikap atau pendirian yang
menyebabkan manusia menetapkan bahwa dia hanya akan
menggunakan kemerdekaannya untuk melaksanakan perbuatan yang
susila.

25
Imam Suraji, Etika dalam perspektif Al-quran dan hadist (jakarta :Pustaka Al-Husna
baru,2006) hal 186-231

41
Akhlak Tasawuf
Tanggung jawab berarti mengerti perbuatannya. Dia berhadapan
dengan perbuatannya, sebelum berbuat, selama berbuat, dan sesudah
berbuat. Dia sendiri sebagai subjek yang berbuat dan mengalami
perbuatannya sebagai objek yang dibuat.
Tanggung jawab adalah kewajiban menanggung atas perbuatan
yang telah dilakukan oleh seseorang. Berani bertanggung jawab berarti
bahwa seorang berani menentukan, berani memastikan bahwa
perbuatan ini sesuai dengan ketentuan kodrat manusia.26

F. Hubungan Antara Hak, Kewajiban dan Tanggung Jawab


Manusia di dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan,
makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Di mana dalam
kehidupannya di bebani tanggung jawab, mempunyai hak dan
kewajiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan.
Apabila dalam pelaksanaan hak dan kewajiban tidak
dilaksanakan dengan penuh rasa tangggung jawab maka tidak akan
terjadi hubungan yang seimbang.

G. Kesimpulan
Hak merupakan segala sesuatu yang telah diterima dan dimiliki
oleh manusia sejak dilahirkan ke dunia sebagai bentuk
perlindungan terhadap eksistensi dan martabat manusia.
Kewajiban adalah tindakan yang harus dilakukan manusia
dalam memenuhi hubungan sebagai makhluk individu, sosial,
dan kepada tuhan.
Tanggung jawab adalah kewajiban menanggung atas segala
sesuatu yang telah dilakukannya.
Hubungan antara hak, kewajiban dan tanggung jawab yaitu
terletak pada pelaksanaannya yang harus dilakukan secara
proporsional.

26
Achmad Charis Zubair, Kuliah Etika (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada ,1995) hal 59

42
Akhlak Tasawuf

VIII
BAB VI
Tasawuf dan Berbagai Pendapat Tentang
Sejarah Perkembangannya

A. Pengertian Tasawuf
B. Awal Mula Munculnya Tasawuf
C. Berbagai Pendapat Tentang
Perkembangan Tasawuf
D. Kesimpulan

43
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Tasawwuf
Pengertian tasawwuf dapat ditinjau dari segi bahasa dan dari
segi istilah. Dari segi bahasa para ahli menghubungkan sejumlah kata
untuk menjelaskan tasawwuf. Harun Nasution menyebutkan lima
istilah yang berhubungan dengan tasawwuf yaitu As Suffah (ahl as
suffah), orang yang ikut pindah dengan Nabidari Mekkah ke Madinah,
Saf (barisan), Sufi (suci), Sophos (bahasa Yunani: hikmat), dan Suf
(kain wol).
Adapun pengertian tasawwuf dari segi istilah, para ahli
bergantung pada tiga sudut pandang dalam mendefinisikannya yaitu
manusia sebagai makhluk terbatas, manusia sebagai makhluk yang
harus berjuang, dan manusia yang ber-Tuhan. Jika dilihat dari sudut
pandang manusia sebagai makhluk terbatas maka tasawwuf dapat
didefinisikan sebagai upaya mensucikan diri, dengan cara menjauhkan
diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan
memusatkan perhatian hanya kepada SWT. Jika dilihat dari sudut
pandang manusia sebagai makhluk yang berjuang, maka tasawwuf
dapat didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak
yang bersumber dari ajaran Islam dalam rangka mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai
makhluk yang ber-Tuhan, maka tasawwuf dapat didefinisikan sebagai
kesadaran fitrah (Ke - Tuhanan) yang mengarahkan jiwa agar tertuju
kepada kegiatan kegiatang yang dapat menghubungkan manusia
dengan Tuhannya.27
Jika ketiga definisi tasawwuf tersebut dihubungkan, maka pada
intinya tasawwuf adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan
yang dapat membebaskan diri dari pengaruh kehidupan dunia,
sehingga tercemin akhlak yang mulia dan dekat kepada Allah.
Adapun pengertian tasawwuf menurut Syekh Muhammad Amin
Al Kurdi bahwa tasawwuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat
diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara
membersikannya dari sifatsifat yang buruk dan mengisinya dengan
sifatsifat yang terpuji, cara melakukan suluk melangkah menuju
keridhoan Allah dan meninggalkan larangannya menuju kepada
perintahnya.

B. Awal Mula Munculnya Tasawwuf

27
Nata. Abuddin. H, Akhlak Tasawwuf, ( Rajawali Pers, Jakarta : 2009 ) hal 179

44
Akhlak Tasawuf
Benih-benih tasawwuf sudah ada sejak kehidupan Nabi
Saw. Hal ini dapat dilihat dalam prilaku dan peristiwa dalam hidup,
ibadah dan pribadi Nabi Muhammad Saw. Sebelum diangkat
menjadi Rasul, berhari-hari ia berkhalwat di Gua Hira terutama
pada bulan Ramadhan. Disana, Nabi banyak berdzikir dan
bertafakkur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Pengasingan diri Nabi di Gua Hira ini merupakan acuan utama
para sufi dalam melakukan khalwat. Sumber lain yang diacu oleh
para Sufi adalah kehidupan para sahabat Nabi yang berkaitan
dengan keteduhan iman, ketaqwaan, kezuhudan, dan budi pekerti
luhur.
Namun, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Khaldun
tentang awal mula pertumbuhan Tasawwuf bukan dari masa-masa
awal Islam, melainkan berasal dari generasi ketiga setelah Nabi
wafat. Dan yang menjadi dasar dari ilmu ini adalah orientasi ibadah
hanya kepada Allah semata dan memutuskan hubungan dengan
selain Allah serta memalingkan diri dari kegemerlapan duniawi.
Argumentasi kedua saat Islam datang, ajaran dan praktek Sufi telah
berkembang di seluruh penjuru yang ditaklukkan Islam. Syekh
Ibnu Taimiyah mengambil jalan tengah bahwa pertumbuhan
tasawwuf telah dimulai pada awal abad ke-2 H, namun
perkembangannya baru terlihat pada abad ke-3 H.
Menurut pendapat lain, munculnya istilah tasawwuf baru
dimulai pada pertengahan abad ke-3 H oleh Abu Hasyimal Sufi
dengan meletakkan kata Sufi di belakang namanya. Dalam sejarah
Islam, sebelum timbulnya aliran tasawwuf, terlebih dahulu muncul
aliran Zuhud. Aliran Zuhud timbul pada akhir abad ke-1 H dan
permulaan abad ke-2 Hijriyah. Tulisan ini akan berusaha
memberikan paparan tentang Zuhud dilihat dari sisi sejarah mulai
dari pertumbuhannya sampai dengan peralihannya ke tasawwuf.
Munculnya tasawwuf di dalam ilmu agama Islam tidak
lepas dari pengaruh factor eksternal. Adapun beberapa pengaruh
tersebut adalah:

a. Pengaruh Ajaran Kristen


Tasawwuf berasal dari pengaruh ajaran Kristen dengan
faham ke-Rahibannya (suatu paham yang menjauhi kehidupan
dunia dan hidup mengasingkan diri dari dalam biara-biara).
b. Pengaruh Filsafat Mistik Phytagoras

45
Akhlak Tasawuf
Kemunculan tasawwuf juga dipengaruhi oleh filsafat
mistik Phytagoras yang memiliki faham bahwa roh manusia
bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing.
Sedangkan jasmani merupakan penjara Bagiroh.
c. Pengaruh Filsafat Emanasi Plotinus
Filsafat Emanasi Plotinus berfaham bahwa segala yang
wujud ini memancar dari dzat Tuhan Yang Maha Esa. Roh
berasal dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan, tetapi dengan
masuknya ke alam materi (jasad) maka roh menjadi kotor.

d. Pengaruh Ajaran Budha


Keberadaan tasawwuf tidak lepas dari pengaruh ajaran
Budha dengan faham nirwananya. Manusia untuk mencapai
nirwana harus meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki
hidup kontemplasi (bertapa di tempat sunyi sambil berfikir dan
merasakan keagungan Tuhan).
e. Pengaruh Hinduisme
Ajaran Hinduisme yang telah mempengaruhi tasawwuf
mendorong manusia untuk meninggalkan kehidupan duniawi
dan mendekati Tuhan agar supaya mencapai persatuan dengan
Atman dan Brahman sebagaimana disebut moksa.

Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan jika tasawwuf


dinyatakan sebagai inti dari keberagaman seseorang dan
merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk memahami
sekaligus mengamalkan tasawwuf. Namun terlepas atau tidak
adanya pengaruh dari luar tersebut, sumber ajaran Islam Al-Quran
dan Hadits tetap merupakan ajaran yang dapat membawa timbulnya
tasawwuf. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa ayat
berikut yang mempunyai esensi ke-Zuhudan dan kedekatan
manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa: Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,
maka hendaklah mereka itu memenuhi ( segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
Dan pada ayat yang lain: Dan kepunyaan Allah-lah timur
dan barat, maka kemampuan kamu menghadap disitulah wajah
Allah. (QS. Al-Baqarah: 115)

46
Akhlak Tasawuf
C. Berbagai Pendapat Tentang Perkembangan Tasawwuf
Dari penjelasan mengenai definisi tasawwuf di atas, maka
tidak akan terlepas dari sejarah perkembangannya. Ada beberapa
tahapan dalam sejarah perkembangannya yaitu :

1. Perkembangan pada abad 1 dan 2 H


Dalam abad ini perkembangan tasawwuf terjadi pada 2 masa
yaitu :
a) Perkembangan tasawuf pada masa sahabat
Pada masa ini para sahabat yang tergolong Sufi pada
abad pertama dan menjadi Mahaguru bagi pendatang dari luar
Madinah yang tertarik pada kehidupan sufi. Ini dikarenakan para
sahabat mencontoh kehidupan Nabi Muhammad SAW yang
penuh suri tauladan dan mengabdikan diri beliau hanya kepada
Allah SWT.
Adapun sahabat sahabat tersebut yaitu :
1) Abu Bakar As Shiddiq
Abu Bakar As Shiddiq ( wafat tahun 13
H )Beliau adalah saudagar yang kaya ketika masih
berada di Makkah. Namun ketika hijrah ke Madinah,
harta kekayaannya telah habis untuk disumkan demi
kepentingan tegaknta agama Allah SWT sehingga beliau
dan keluarnya mengalami kemiskinan dalam hidupnya.
2) Umar bin Khattab
Umar bin Khattab ( wafat 23 H )Beliau
termasuk orang yang tinggi kasih sayangnya terhadap
manusia, maka ketika beliau menjadi khalifah, beliau
selalu mengadakan pengamatan langsung terhadap
rakyatnya dan beliau juga mempunyai sikap tawaddu
sebagai seorang sufi. Dan beliau juga senang hidup
dalam kemiskinan sebagaimana halnya Abu Bakar.
3) Usman bin Affan
Usman bin Affan ( wafat tahun 35 H )Meskipun
beliau diberi kelapangan rizki oleh Allah, namun beliau
selalu ingin hidup yang sederhana. Sedangkan harta
kekayaannya yang berlimpah ruah, selalu dijadikan
saran untuk menolong orang orang miskin. Hal ini
tergambar bahwa beliau termasuk sufi karena beliau
tidak tertarik pada kesenangan atau kekayaan duniawi.
4) Ali bin Abi Thalib

47
Akhlak Tasawuf
Ali bin Abi Thalib ( wafat tahun 40 H )Beliau
juga termasuk orang yang senang hidup sederhana,
sebagaimana ada sebuah riwayat bahwa ketika sahabat
lain bertanya kepada beliau : mengapa khalifah senang
memakai baju itu, padahal sudah robek robek ? Ali
menjawab : aku senang memakainya agar menjadi
teladan bagi orang banyak. Dari situ dapat dimengerti
bahwa hidup sederhana merupakan sikap yang mulia
dan sikap inilah yang menandakan beliau adalah seorang
sufi.

b) Perkembangan tasawuf pada masa tabiin


Ulama-ulama sufi dari kalangan Tabiin adalah
murid-murid ulama Sufi dari kalangan sahabat. Pada
pembahasan perkembangan tasawwuf pada abad pertama, di situ
mengemukakan tokoh tokohnya dari kalangan sahabat, namun
pada perkembangan tasawwuf pada abad yang kedua ini
mengemukakan tokoh tokoh dari kalangan Tabiin walaupun
pada abada pertama banyak Tabiin yang masih dan meninggal
pada abad kedua Hijriyah.
Adapun tokoh tokoh Ulama sufi Tabiin yaitu :
1) Al Hasan Al Bashry
Beliau berpendapat bahwa kita harus lebih
dahulu memperkuat perasaan tawakkal kepada Allah
SWT, takut terhadap siksaan-Nya dan mengharapkan
karunianya. Kemudian kita harus meninggalkan
kenimatan dunia, karena hal itu merupakan hijab
( penghalang ) dari keridhoan Allah SWT.
Ada beberapa pernyataan ( kata kata hikmah )
yang pernah dikemukakan kepada murid muridnya :
Perasaan takut yang mengarah kepada perasaan
tentram, lebih baik daripada perasaan tentram
yang akan menimbulkan perasaan takut.
Tafakkur membawa kita kepada kebaikan yang
akan dikerjakannya. Menyesal atas kesalahan,
berarti kita sadar dan akan meninggalkannya.
Orang yang beriman selalu berduka cita karena
dia hidup di antara 2 ketakuatan.
Akhir kehidupan dunia merupakan awal
kehidupan akhirat di kubur.

48
Akhlak Tasawuf
Manusia harus sadar bahwa kematian sedang
menghadangnya.
2) Rabiah Al Adawiyah
Rabiah menganut ajaran zuhud dengan
menonjolkan falsafah hubb ( cinta ) dan Syauq ( rindu ).
Dan salah satu pernyataannya yang melukiskan falsafah
tersebut dengan mewarnai kehidupannya adalah :

, .
2. Perkembangan pada abad 3 dan 4 H
a) Perkembangan tasawwuf pada abad ketiga hijriyah
Pada abad ini, perkembangan Tasawwuf sangat pesat,
dengan ditandai adanya golongan ahli Tasawwuf yang
berkembang pada masa itu, sehingga mereka membagi menjadi
tiga macam :
1. Tasawwuf yang berintikan ilmu jiwa
2. Tasawwuf yang berintikan ilmu akhlaq
3. Tasawwuf yang berintikan metafisika

Adapun tokoh tokoh yang terkenal pada abad ini :


1. Abu Sulaiman Ad Darany
2. Ahmad bin Al Hawary Ad Damasqiy
3. Abul Faidh Dzun Nun bin Ibrahim Al Mishry
4. Abu Yazid Al Bushthomi
5. Junaid Al Baghdady
6. Al Hallaj

b) Perkembangan Tasawwuf pada Abad Keempat Hijriyah


Pada abad ini, kemajuan Ilmu Tasawwuf lebih pesat
dibandingkan dengan kemajuannya pada abad ketiga Hijriyah,
karena usaha maksimal yang dilakukan oleh para Ulama
Tasawwuf dalam mengembangkan tasawwufnya masing
masing.
Upaya dalam mengembangkan tasawwuf di luar kota
Baghdad, dipelopori oleh beberapa Ulama Tasawwuf, antara
lain :
a. Musa Al Anshory ( mengajarkan Ilmu Tasawwuf di
Khurasan )

49
Akhlak Tasawuf
b. Abu Hamid bin Muhammad Ar Rubazy (mengajarkan Ilmu
Tasawwuf di salah satu kota Mesir)
c. Abu Zaid Al Adamy (mengajarkan Ilmu Tasawwufdi
Semenanjung Arabiyah)
d. Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahab As Saqafi
( mengajarkan Ilmu Tasawwuf di Naisabur dan kota Syaraz )
Walaupun perkembangan Tasawwuf di berbagai negeri dan
kota, namun tidak mengurangi perkembangan Tasawwuf di kota
Baghdad.
Pada abad ini pula semakin kuatnya unsur filsafat yang
mempengaruhi sorak Tasawwuf, karena banyaknya kitab Filsafat
yang tersebar di kalangan umat Islam dari hasil terjemahan orang
muslim sejak permulaan Daulah Abbasiyah.

3. Perkembangan pada abad 5 H


Pada abad ini, keadaannya menjadi rawan karena
berkembangnya madzhab Syiah Ismailiyah. Dan menurut mereka,
ada 12 imam yang berhak mengatur dunia ini yang disebut sebagai
Imam Mahdi yang akan k dunia untuk membawa keadilan dan
memurnikan agama Islam. Kedua belas Imam tersebut adalah Ali bin
Abi Tholib, Hasan bin Ali, Husein bin Ali, Ali bin Husein,
Muhammad Al Bakir bin Ali bin Husein, Jafar Shadiq bin
Muhammad Al Bakir, Musa Al Kazhim bin Jafar Shadiq, Ali Ridho
bin Kazhim, Muhammad Jawwad bin Ali Ridho, Ali Al Hadi bin
Jawwad, Hasan Askary bin Al Had, Muhammad bin haan Al Mahdi.
Pada masa sesudahnya faham tersebut semakin menyatu
dengan Tasawwuf yang berkembang pada saat itu, yaitu dengan
adanya faham yang mengatakan bahwa Imam yang ghaib berpindah
pada kaum Sufi. Sehinggan dapat menyandang gelar Waliyullah. Hal
itu semakin memperburuk keadaan karena Ulama Fiqh khawatir akan
ajaran Tasawwuf yang berfaham Syiah.

4. Perkembangan pada abad 6, 7 dan 8 H


Pada abad ke-6 ini terdapat beberapa ulama tasawwuf yang
sangat berpengaruh dalam perkembangan tasawwuf , antara lain:
a. Syihabuddin Abu Futu As-Suhrawardy (w: 587 H/191 M)
b. Al-Ghaznawy (w: 545 H/151 M)
Pada abad ke-6 ini, suasana kemelut antara ulama syariat
dengan ulama tasawwuf kembali memburuk, karena dihidupkannya
lagi pemikiran-pemikiran Al-Hulul, Wihdatul Wujud dan Wihdatul

50
Akhlak Tasawuf
Adyan oleh kebanyakan ulama tasawwuf, antara lain para ulama yang
berpengaruh dalam perkembangan tasawwuf diatas. Sehingga
timbul protes dari ulama syariat dan mengajukan keberatannya
kepada penguasa ketika itu.
Sedangkan pada abad ke-7, beberapa ulama yang berpengaruh
adalah :
a. Umar Ibnu Faridh (w: 632 H/1233M)
b. Ibnu Sabiin (w: 667 H/ 1215 M)
c. Jalaluddin Ar-Rumy (w: 672 H/1273)
Pada abad ini terlihat masih tetap sama keadaannya dengan
abad ke-6, yaitu banyaknya ajaran tasawwuf yang menyimpang dari
kemurniannya yang muncul dari berbagai ulama tasawwuf sehingga
membuat beberapa ulama syari;at menentangnya.
Pada abad selanjutnya yaitu abad ke-8 H, tidak terdengar lagi
perkembangan dan pemikiran baru dalam tasawwuf. meskipun banyak
pengarang kaum sufi yang mengemukakan pendapat mereka tentang
tasawwuf, namun kurang mendapatkan perhatian yang
sungguh-sungguh dari umat islam.sehingga boleh dikatakan bahwa
nasib ajaran tasawwuf ketika itu hampir sama dengan nasibnya pada
abad ke-7 H. Adapun pengarang kitab tasawwuf pada masa ini antara
lain:
a. Al-Kissany (w: 739 H/1321 M)
b. Abdul Karim Al-Jil
Seperti halnya yang dilakukan oleh Imam Al-Ghazaly pada
abad ke-5 H, yaitu memurnikan ajaran tasawwuf dari unsur-unsur
filsafat. Maka pada abad ini Ibnu Taimiyah juga melakukan hal
tersebut.

5. Perkembangan pada abad 9, 10 dan sesudahnya


Dalam beberapa abad ini betul-betul tasawwuf sangat sunyi di
dunia islam. Berarti nasibnya lebih buruk lagi dari keadaannya pada
abad ke-6, ke-7 dan ke-8 H. banyak diantara peneliti muslim yang
menarik kesimpulan bahwa ada 2 faktor penyebab runtuhnya
pengaruh ajaran tasawwuf di dunia islam, yaitu:
a. Karena memang ahli tasawwuf sudah kehilangan
kepercayaan dikalangan masyarakat isla, sebab banyak
diantara mereka yang menyimpang dari ajaran agama islam.
b. Karena ketika itu, penjajah bangsa Eropa yang beragama
nasrani sudah menguasai seluruh negeri islam. Tentu saja,
paham-paham sekularisme dan materialism selalu dibawa

51
Akhlak Tasawuf
dan digunakan untuk menghancurkan ajaran tasawwuf yang
sangat bertentangan dengan pahamnya.

Meskipun nasib ajaran tasawwuf sangat menyedihkan dalam


4 abad tersebut, tetapi tidaklah berarti bahwa ajaran tasawwuf sama
sekali hilang dari di dunia islam Karena sampai sekarang pun
ajarannya tetap hidup kaarena merupakan suatu unsur dari ajaran
islam.

C. Kesimpulan
Pengertian Tasawwuf adalah upaya melatih jiwa dengan
berbagai kegiatan yang dapat membebaskan diri dari pengaruh
kehidupan dunia, sehingga tercemin akhlak yang mulia dan dekat
kepada Allah.
Tasawwuf baru dimulai pada pertengahan abad ke-3 H oleh Abu
Hasyimal Sufi dengan meletakkan kata Sufi di belakang namanya.
Dalam sejarah Islam, sebelum timbulnya aliran tasawwuf, terlebih
dahulu muncul aliran Zuhud. Aliran Zuhud timbul pada akhir abad
ke-1 H dan permulaan abad ke-2 Hijriyah..
Adapun tahapan sejarah perkembangan Tasawwuf ada 5 :
1. Perkembangan pada abad 1 dan 2 H
2. Perkembangan pada abad 3 dan 4 H
3. Perkembangan pada abad 5 H
4. Perkembangan pada abad 6, 7 dan 8 H
5. Perkembangan pada abad 9, 10 dan sesudahnya

52
Akhlak Tasawuf

BAB VI II
VIII
Mahabbah, Tokoh dan Ajarannya

A. Pengertian Mahabbah
B. Dasar Mahabbah Dalam Al-Qur'an
C. Tingkatan Mahabbah
D. Tokoh Mahabbah
E. Ajaran Rabi'ah Al-'Adawiyah
F. Kesimpulan

53
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Mahabbah
Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan
yang secara harfiah mencintai sesuatu secara mendalam, cinta yang
mendalam di sini yang dimaksud adalah kepada Allah SWT. Mahabbah
memuat beberapa pengertian sebagai berikut 28:
1. Memeluk dan mematuhi perintah Allah dan membenci sikap yang
melawan pada Allah
2. Berserah diri kepada Allah
3. Mengosongkan perasaan di hati dari segala-galanya kecuali dari zat
yang dikasihi
Adapun Imam al Qusyairi, pengarang Rislah al Qusyairiyyah
mendefinisikan cinta (mahabbah) Allah kepada hamba sebagai
kehendak untuk memberikan nikmat khusus kepada siapa saja yang Ia
kehendaki. Apabila kehendak tersebut tidak diperuntukkan khusus
melainkan umum untuk semua hambaNyamenurut
Qusyairidinamakan Rahmat; kemudian jika irdah tersebut berkaitan
dengan adzab disebut dengan murka(ghadlab).
Al Junaidi Al Baghdadi menyebutkan, mahabbah itu sebagai
suatu kecenderungan hati, artinya, hati seseorang cenderung kepada
Allah SWT dan kepada segala sesuatu yang datang daripada- Nya tanpa
usaha.

B. Dasar Mahabbah Dalam Al Qur Quran


a. Surat Ali Imran ayat 31

Artinya:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah
Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

28
A.Mustofa,Akhlak Tasawuf,cet.2(Bandung: CV.Pustaka setia, 1999), h.240.

54
Akhlak Tasawuf
b. Surat Al Maidah ayat 54

Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu
yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan
merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap
orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang
kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada
celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah
Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui."

C. Tingkatan Mahabbah
Abu Nasr as Sarraj at-Tusi seorang tokoh sufi terkenal
membagi mahabbah kepada tiga tingkat29 :
1. Mahabbah orang biasa
yaitu orang yang selalu mengingat Allah SWT dengan zikir dan
memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan-Nya serta
senantiasa memuji-Nya.
2. Mahabbah orang siddik (orang jujur, orang benar)
Yaitu orang yang mengenal Allah tentang kebesaran-Nya,
kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya. Mahabbah orang siddik ini dapat
menghilangkan hijab, sehingga dia menjadi kasysyaf, terbuka tabir
yang memisahkan diri seseorang dari Allah SWT. Mahabbah tingkat

29
Azyumardi Azra(dkk), Ensiklopedi Islam,(Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005),
h.210-211

55
Akhlak Tasawuf
kedua ini sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri,
sebab hatinya penuh dengan rindu dan cinta kepada Allah
3. Mahabbah orang arif
Yaitu cintanya orang yang telah penuh sempurna makrifatnya dengan
Allah SWT. Mahabbah orang arif ini, yang dilihat dan dirasakannya
bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Pada akhirnya sifat-sifat
yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Cinta pada tingkat
ketiga inilah yang menyebabkan mahabbah orang arif ini dapat
berdialog dan menyatu dengan kehendak Allah SWT.

D. Tokoh Mahabbah30
Aliran sufi mahabbah yang dipelopori dan dikembangkan oleh
seorang sufi wanita bernama Rabiah Al-Adawiyah, beliau lahir di
basrah pada tahun 714 M. Kelahirannya diliputi bermacam cerita
aneh-aneh. Pada malam ketika ia lahir di rumahnya tidak ada apa-apa,
juga tidak ditemui sepotong kain pun untuk membungkus bayi yang
sudah dilahirkan itu.
Rabiah kehilangan kedua orang tuanya waktu ia masih kecil,
ketiga kakaknya perempuan juga mati ketika wabah kelaparan melanda
Basra. Beliau sendiri jatuh ke tangan orang kejam dan orang tersebut
menjualnya sebagai budak belian dengan harga yang tidak seberapa.
Rabiah menghabiskan waktunya dengan melaksanakan segala
perintah majikannya, malam hari dilaluinya dengan berdoa. Pada suatu
malam majikannya melihat tanda kebesaran rohani Rabiah, ketika
Rabiah berdoa kepada Allah Ya Rabbi, Engkau telah membuatku
menjadi budak belian seorang manusia sehingga aku terpaksa
mengabdi kepadanya, seandainya kau bebas, pasti akan aku
persembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdoa
kepada-Mu. Tiba-tiba tampak cahaya di dekat kepalanya, dan melihat
itu mamjikannya menjadi sangat ketakutan kemudian keesokkan
harinya Rabiah dibebaskan.
Setelah bebas, Rabiah pergi ke tempat-tempat sunyi untuk
menjalani hidup dengan bermeditasi dan akhirnya sampailah beliau di

30
A.Mustofa,Akhlak Tasawuf,cet.2(Bandung: CV.Pustaka setia, 1999),h. 246-250

56
Akhlak Tasawuf
sebuah gubuk dekat Basra. Di sini Rabiah hidup seperti bertapa, sebuah
tikar butut, sebuah kendil dari tanah, sebuah batu batadan semua itulah
keseluruhan harta yang beliau punya.
Rabiah sepenuhnya mengabdikan diri untuk berdoa, dan tidur
sekejap saja sebelum dini hari meskipun hal ini sangat disayangkan.
Beliau pernah menerima pinangan sebuah perkawinan yang baik.
Di antarnya datanga dari Gubernur Basra, juga dari seorang suci-mistis
yang terkenal beliau adalh Hasan Basri, tetapi Rabiah terlalu sibuk
mengabdikan diri kepada Allah, sehingga sisa waktunya sedikit sekali
untuk urusan duniawi, karena itulah semua pinangan ditolaknya.
Rabiah punya banyak murid yang keras, termasuk Malik bin
Dinar, Raba al Rais, Syakh al Balkhi, dan Hasan Basra, mereka sering
mengunjungi Rabiah untuk mendapatkan nasihat atau doa atau untuk
mendengarkan ajarannya.
Pada suatu hari Sufyan as Sauri, seorang yang saleh dan
dihormati datang kepada Rabiah mengangkat kedua belah tangannnya
dan berdoa: Tuhan Yang Maha Kuasa, saya memohon harta
duniawidari-Mu, mendengar isi doa itu Rabiah pun menangis, beliau
menjawab: Harta yang sesungguhnya itu hanya didapat setelah
menaggalkan segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat Anda
hanya mencarinya di dunia ini saja.
Tersiar berita, ada orang yang mengirim uang empat puluh dinar
kepada Rabiah, Beliau menangis dan mengangkat tangannya ke atas,
Engkau mengetahui, ya Allah, aku tidak pernah meminta harta dunia
dari-Mu, meskipun Engkau-lah Pencipta dunia ini. Lantas, bagaimana
aku dapat menerima yang dari seseorang, sedangkan uang itu
sesungguhnya bukan kepunyaannya?
Rabiah melarang murid-muridnya untuk menunjkan perbuatan
baik mereka kepada siapapun. Mereka malahan diharuskan menutupi
perbuatan baik itu, seperti menutup-nutupi perbuatan jahat mereka.
Segala penyakit datangnya atas kehendak Allah, Karena itu
Rabiah selalu memikulnya dengan ketabahan hati dan keberanian. Rasa
sakit yang bagaimanapun tidak pernah mengganggunya, tidak pernah
menarik perhatiannya dari pengabdiannya kepada Allah, Beliau sering
tidak menyadari ada bagian tubuhnya yang terluka sampai diberitahu

57
Akhlak Tasawuf
oleh orang lain. Suatu hari, kepalanya terbentur kepada sebatang pohon,
sehingga berdarah, seseorang yang melihat darah bercucuran itu
dengan hati-hati bertanya: Apakah anda tidak merasasakit?, Aku
berhubungan erat dengan-Nya, aku disibukan-Nya dengan hal-hal lain
dari pada yang umumnya kalian rasakan, jawabnya dengan tenang.
Rabiah meninggal duniia di Basratahun 801 M, dimakamkan di
rumah beliau tinggal. Ketika jenazahnya di bawa ke pemakaman,
orang-orang suci, para sufi dan orang Islam yang saleh dalam jumlah
yang luar biasa banyak yang datang ikut mengiringinya.

E. Ajaran-ajaran Rabiah Al 'A dawiyah31


'Adawiyah
Rabiah adalah seorang mistik yang paling terkemuka yang
mengajarkan kasih sayang kepada Allah tanpa pamrih. Konsepnya yang
kemudian meluas: Aku mengabdi kapada Allah tidak untuk
mendapatkan pahala apapun, jangan takut pada neraka, jangan
mendambakan surge, aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika
pengabdianku untuk mendapatkan keuntungan materi, aku
berkewajiban mengabdiNya hanya untuk kasih sayangNya saja.
Banyak ungkapan yang beliau ucapkan , ketika ditanya: Sebab
apa beliau tidak minta bantuan kepada sahabat-sahabatnya? Beliau
menjawab: Saya akan malu meminta materi dunia ini dari padaNya,
padahal materi itu kepunyaanNya. Jadi, mengapa saya harus minta
sesuatu dari orang yang tidak memilikinya?
Di antara doa-doa berasal dari Rabiah yang dipanjatkan pada
waktu malam, di atas atap rumahnya Ya Allah, bintang-bintang
bersinar gemerlapan, manusia sudah tidur nyenyak, dan raja-raja telah
menutup pintunya, setiap orang yang bercinta sedang asyik masuk
dengan kesayangannya, dan di sinilah aku sendirian bersamaMu.
Doa lain yang terkemuka: Ya Rabbi, bila aku menyembahmu
karena takut akan neraka, bakarlah diriku di dalamnya. Bila aku
menyembahMu karena berharap surge jauhkanlah aku dari sana.
Namun jika aku menyembahMu hanya demi Engkau maka jangnlah
tutup keindahan AbadiMu

31
Ibid, h.250

58
Akhlak Tasawuf
F. Kesimpulan
Setiap orang mengakui bahwa cinta itu sulit untuk
digolongkan, namun hal itu tidak melelahkan seseorang untuk mencoba
melakukannya. Klasifikasi mistik terhadap tingkatakan cinta berbeda
dari analisis cinta secara filosofis yang legal dan sekuler. Karena, para
sufi secara konsisten menempatkan cinta dalam konteks psikologi
mistik mereka dari keadaan (ahwal) dan makam, dengan penekanan
pada cinta sebagai transenensi diri. Lebih-lebih, cinta dalam beragam
bentuknya demikian penting, sehingga ia secara umum diakui sebagai,
tujuan tertinggi dari seluruh makam dan puncak tertinggi dari segala
tingkatan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rabiah Al
Adawiyah.

59
Akhlak Tasawuf

BAB IX
Ma'rifat

A. Pengertian Ma'rifat
B. Tokoh-tokoh Ma'rifat dan
Ajarannya
C. Kesimpulan

60
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Makrifat
Dari segi bahasa, marifah berasal dari kata arafa, yarifu, irfan
dan marifah yang artinya adalah pengetahuan atau pengalaman.
Marifah juga berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama.
Dimana marifah adalah suatu pengetahuan yang cenderung berobjek
kepada rahasia yang tersimpan di dalam batin, dan bukan pada
zahirnya.
Marifat menurut Ahmad Rifai adalah berfikir akan kekuasaan
Allah atau suasana hati yang menggambarkan menuju kedekatan
hamba dengan Tuhannya. Dimana makna marifat secara dhahirnya
adalah seseorang yang menunaikan kewajiban agama yang sesuai
dengan syara serta keikhlasan hati dalam beribadah semata- mata
karena Allah.
Menurut Al - Ghazali, marifat adalah Tampak jelasnya
rahasia-rahasia ketuhanan dan pengetahuan soal ketuhanan yang
mencakup segala yang ada. Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan,
marifat adalah Memandang kepada wajah (rahasia) Allah.
Menurut ustaz Al-Qusyairi, marifat menurut bahasa ulama
adalah ilmu, Maka setiap ilmu adalah marifat dan setiap marifat
adalah ilmu. Setiap orang yang bermarifat adalah arif dan setiap orang
arif adalah alim.
Dalam makna sufistik, marifah diartikan sebagai pengetahuan
mengenai tuhan melalui hati sanubari untuk melengkapi pengetahuan
yang telah didapat secara aqliyah. Dimana orang yang mencapai
marifah disebut Al- arif dan yang mengenal tuhan dengan logika
serta mencapai tauhid disebut al alim wa al-ulama. Orang alim
memiliki rasa takut yang luar biasa terhadap Allah dan orang arif
billah mampu mencapai cinta kepada Allah.
Menurut Harun Nasution, marifat menggambarkan hubungan
rapat dalam dalam bentuk gnosis, pengetahuan, dan hati sanubari.
Dimana marifat berarti mengetahui Tuhan dari dekat sehingga hati
sanubari dapat melihat Tuhan. Oleh karena itu kaum sufi mengatan:

1. Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka,


maka mata kepalanya akan tertutup, dan ketika itu yang dilihatnya
hanya Allah.
2. Marifat adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu
yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
3. Yang dilihat orang arif, baik sewaktu tidur maupun sewaktu
bangun hanya Allah.

61
Akhlak Tasawuf
4. Seandainya marifat mengambil bentuk materi, semua orang yang
melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan
serta keindahannya. Dan semua cahaya akan menjadi gelap
disamping cahaya keindahan yang gilang-gemilang.
.
Salah satu tanda bagi orang yang berma'rifat kepada Allah
adalah sifatnya yang senantiasa bersandar dan berserah diri kepada
Allah semata. Apapun yang telah dan akan terjadi pada dirinya, selalu
diterima dengan baik. Bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan. Dan
menerima cobaan itu dengan sabar ketika mendapat musibah.
Orang yang demikian ini percaya, bahwa semua hal baik
maupun buruk datang dari Allah untuk kebaikan dirinya. Sebab tidak
ada sesuatupun yang terjadi di dunia ini, kecuali ada manfaat atau
hikmah di balik peristiwa tersebut.
Selain itu, orang yang berma'rifat kepada Allah tidak pernah
menyombongkan diri. Sebagai makhluq yang lemah dan tanpa daya,
manusia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas pertolongan dan izin
dari Alloh Yang Maha Perkasa. Karena itu ia pun selalu mencari jalan
untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya guna mendapatkan
pertolongan, perlindungan dan karunia dari-Nya Sedang apapun yang
dapat menghalangi jalannya untuk bertaqorrob kepada Alloh SWT ia
singkirkan jauh-jauh dari lubuk hatinya, seperti sifat serakah kepada
dunia, kikir, sombong, riya', dan berbagai sifat tercela lainnya.
Menurut Ustaz Abu Ali Ad-Daqaq, termasuk tanda tanda
marifat kepada Allah adalah memperoleh haibah (keramat dan
wibawa) dari Allah. Semakin tinggi marifatnya semakin tinggi pula
haibah seseorang. Marifat itu menjadikan ketenangan, maka barang
siapa bertambah marifatnya, maka ia akan bertambah tenang.
Menurut seorang ahli ma'rifat terkenal Al-Junaid, seseorang
belum bisa disebut sebagai ahli ma'rifat sebelum dirinya mempunyai
sifat-sifat: sebagai berikut :

1. Mengenal Allah secara mendalam, hingga seakan-akan dapat


berhubungan secara langsung dengan-Nya.
2. Dalam beramal selalu berpedoman kepada petunjuk-petunjuk
Rosululloh SAW (Al-Hadits).
3. Berserah diri kepada Allah dalam hal mengendalikan hawa
nafsunya.
4. Merasa bahwa dirinya adalah kepunyaan Alloh dan kelak pasti
akan kembali kepada-Nya.

62
Akhlak Tasawuf

Adapun menurut Imam Al-Ghozali sebagaimana yang ditulis


dalam kitab Ihya 'Ulumudin, disebutkan bahwa ada empat hal yang
harus dikenal dan dipelajari oleh seseorang yang berma'rifat kepada
Allah. Keempat hal tersebut adalah:
1. Mengenal siapa dirinya.
2. Mengenal siapa Tuhannya.
3. Mengenal Dunianya.
4. Mengenal Akheratnya.

Tujuan manusia dalam bermarifah adalah berusaha mengetahui


rahasia rahasia yang terdapat dalam diri tuhan. Dimana proses
bermarifah sendiri diawali dari empat proses yaitu :
a. proses al fana yakni hilangnya sifat dan rasa kemanusiaan
yang melebur pada sifat sifat tuhan.
b. Takhalli yaitu mengosongkan diri dari akhlak yang tercela dan
perbuatan maksiyat melalui taubat.
c. Tahalli, yaitu menghias diri dengan akkhlak yang mulia dan
amal ibadah.
d. Tajalli, yaitu tersingkapnya hijab yang menghalangi antara
hamba dengan tuhan sehingga tampak jelas cahaya tuhan.

B. Tokoh Tokoh Aliran Ma Marifat dan Ajarannya


Berikut ini adalah beberapa tokoh aliran marifat dan ajarannya :
1. Al Ghazali
Lahir pada tahun 1059 M dengan nama Abu Hamid
Muhammad Al-Ghazali di Ghazaleh, kota kecil yang terdapat di
Thus, Khurasan.Setelah banyak mempelajari ilmu agama dan
umum ia memilih tassawuf sebagai jalan hidupnya. Ia berguru
kepada Imam al-Haramain al-Juwaini, guru besar di Madrasah
an-Nizamiyah, Nisyafur. A-Ghazali meninggal di daerah Thus
pada 1111 M.
Menurut Al-Ghazali, orang yang mempunyai marifat
tentang Tuhan (arif),tidak akan mengatakan ya Allah atau ya rabb
karena memanggil Tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan
bahwa Tuhan ada di belakang tabir. Orang yang duduk
berhadapan dengan temannya tidak akan memanggil temannya
itu.
Menurut Al-Ghazali, marifat ada terlebih dahulu daripada
mahabbah karena mahabbah muncul dari marifat. Namun

63
Akhlak Tasawuf
mahabbah yang dimaksud Al-Ghazali berlainan dengan mahabbah
yang diucapkan oleh Rabiah al-adawiyah, yaitu mahabbah dalam
bentuk cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepadanya, cinta
yang timbul dari kasih dan rahmat Tuhan kepada manusia yang
memberi manusia hidup, rizki, kesenangan, dan
lain-lain.Al-Ghazali berpendapat bahwa marifat dan mahabbah
adalah level paling tinggi yang bisa dicapai seorang sufi. Dan,
pengetahuanyang diperolehdari marifat lebih tinggi mutunya
daripada pengetahuan yang diperoleh dengan akal.

2. Dzannun al-Misri
Berasal dari Naubah (negeri antara Sudan dan Mesir)
Tahun kelahirannya tak diketahui. Namun beliau meninggal pada
860 M.
Menurut Dzannun al-Misri, marifah adalah pengetahuan
hakiki tentang Tuhan. Menurutnya hanya kaum sufi yang dapat
melihat Tuhan dengan hati sanubari mereka. Dimana pengetahuan
tentang marifah ini hanya diberihan oleh Tuhan pada hati seorang
sufi sehingga hatinya penuh dengan cahaya.
Menurut al-misri marifah tidak diperoleh begitu saja,
tetepi melalui pemberian Tuhan. Marifah bukanlah hasil dari
pemikiran manusia, tetapi tergantung terhadap rahmat Tuhan.
Marifat diberikan kepada seorang sufi yang sanggup
menerimanya, dimana ia lebih dulu harus menunjukkan kerajinan,
kepatuhan, ketaatanmengabdikan diri sebagai hamba allah dalam
beramal secara lahiriyah sebagai pengabdian yang dikerjakan oleh
tubuh untuk beribadah.

3. Abu Yazid Al Busthami


Namanya Abu Yazid Thaifur bin Isa Al Busthami, (188
261 H / 804-875 M)
Diantara mutiara hikmahnya :
a. Dia pernah ditanya, Dengan apa kamu mencapai marifat
ini ? jawabnya Dengan perut yang lapar dan tubuh yang
jelek,
b. Pernah ditanyakan, Penghalang apa yng paling berat
dalam jalan menuju Allah ? Jawabnya, saya tidak dapat
menerangkannya. Ditanya lagi Usaha apakah yang
paling ringan untuk menghindari nafsu ? Jawabnya,
kalau ini saya dapat menerangkannya. Saya pernah

64
Akhlak Tasawuf
mengajak hawa nafsuku untuk taat kepada Allah, namun ia
menolaknya. Lalu saya jauhi air (berpuasa) selama
setahun.

4. Ahmad Al- Kharraz


Namanya Abu said Ahmad bin Isa Al- Kharraz, wafat
tahun 227H/890M. Berasal dari Baghdaad. Bersahabat dengan
Dzunun Al Mizri, An Nabaji, Abu Ubaid Al Bisri dll.
Diantara mutiara hikmahnya :
semua isi hati yang bertentangan dengan lahirnya adalah bathil.
Saya pernah bermimpi melihat iblis tiba tiba dia berlari
menjauh dariku, lalu saya panggil, Kemarilah! Ada apa ?
Apakah yang akan saya lakukan terhadap dirimu. Kamu telah
melemparkan sesuatu yang biasanya aku lakukan terhadap
manusia,tukasnya.
Apakah itu ?
Dunia. Kemudian iblis pergi dan kembali menoleh kepadaku
seraya berkata. Hanya saja saya punya sesuatu yang halus untuk
menipumu.
Apakah itu ?.
Senang dengan hal hal yang baru, jawabnya dengan penuh rasa
kemenangan.
Suatu hari Ahmad Al Kharraz pernah bercerita. Saya
bersahabat dengan orang - orang sufi, tetapi belum pernah terjadi
perselisihan antara saya dan mereka.
Mengapa? Tanya para jamaah
Karna jiwa saya bersama mereka.

5. Ibrahim Ar Raqqi
Namanya Abu Ishaq Ibrahim bin Dawud Ar Raqqi, wafat
pada tahun 326H/ 938 M. Termasuk tokoh guru besar Syam. Satu
periode dengan Al- Junaid dan Ibnul Jalla.
Diantara mutiara nasihatnya :
1. Marifat itu menetapkan kebenaran diatas kebenaran, tanpa
sedikit keraguan didalamnya.
2. Kekuasaan Allah itu tampak, dalam setiap mata terbuka,
namun setiap pandangan mata melemah.
3. Selemah lemahnya manusia adalah yang tidak bisa menahan
hawa nafsunya dan sekuat kuat manusia adalah yang mampu
melawannya.

65
Akhlak Tasawuf
4. Tanda cinta kepada Allah adalah sikap yang mengutamakan
ketaatan kepada Allah dan mengikuti Nabi Saw

C. Kesimpulan
marifat adalah pengetahuan tentang rahasia-rahasia dari Tuhan
yang diberikan kepada hamba-Nya melalui pancaran cahaya-Nya yang
dimasukkan Tuhan ke dalam hati seorang sufi. Dengan demikian,
marifat berhubungan dengan Nur (Cahaya Tuhan). Oleh karena itu
kaum sufi mengatakan:
1. Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka,
maka mata kepalanyaakan tertutup, dan ketika itu yang dilihatnya
hanya Allah.
2. Marifat adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu
yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
3. Yang dilihat orang arif, baik sewaktu tidur maupun sewaktu
bangun hanya Allah.
4. Seandainya marifat mengambil bentuk materi, semua orang yang
melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan
serta keindahannya. Dan semua cahaya akan menjadi gelap
disamping cahaya keindahan yang gilang-gemilang.

66
Akhlak Tasawuf

BAB X
Al-Fana, Al-Baqa, Ittihad

A. Pengertian Al-Fana
B. Tahapan-tahapan Al-Fana
C. Pengertian Al-Baqa
D. Pengertian Ittihad
E. Asal Mula Faham Al-Fana, Al-Baqa
dan Ittihad
F. Al-Fana, Al-Baqa dan Ittihad Dalam
Pandangan Al-Qur'an
G. Kesimpulan

67
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Fana
Kata fana berasal dari kata faniya-yafna-fana, secara
epistimologis kata fana berarti hancur, hilang, sirna, lenyap, binasa,
dan berakhir (habis) wujudnya32. fana Secara umum dapat
menunjukkan keadaan yang tidak langgeng, sehingga segala sesuatu
yang telah berakhir eksistensinya dikatakan telah mencapai fana.
Orang yang fana ialah orang yang lenyap dari padanya
bahagian-bahagian dalam arti tidak punya bagian sama sekali.
Dalam perspektif ilmu kalam (teologi), fana dimaksudkan
sebagai sifat yang mustahil adanya bagi Allah, sebagai lawan dari
baqa (sifat wajib) bagi Allah. Segala sesuatu yang eksistensinya
hancur atau bakal hancur dinilai tidak sempurna dan akan fana. fana
berarti penghancuran diri yaitu al-fanaan al-nafs. Yang dimaksud
dengan al-fana an al-nafs ialah hancurnya perasaan atau kesadaran
seseorang terhadap wujud tubuh kasarnya dan alam sekitarnya. Pada
maqm fana, manusia di hadapan Tuhan tidak menyaksikan diri
sendirinya, penghambaannya, keinginan-keinginannya,
harapan-harapannya, dan dunia sekelilingnya. Manusia hanya
memandang dan melihat jamaliyah dan jalaliyah Tuhan. Apa saja yang
disaksikan oleh para wali Tuhan adalah Yang Haq, apakah melalui
perantara atau dengan perantara.
Pengertian fana menurut para ahli :
1. Abu bakar al-Kalabadzi
Fana adalah hilangnya semua semua keinginan hawa nafsu
seseorang, tidak ada pamrih dari segala perbuatan manusia,
sehingga kehilangan segala perasaan dan dapat membedakan
sesuatu secara sadar, dan telah menghilangkan segala kepentingan
ketika berbuat sesuatu.33
2. Al Qushairi
Ia mendefinisikan fana menjadi tiga tingkatan makna yaitu:
Pertama yaitu terlepasnya manusia dari sifat-sifatnya dengan
kekekalan dirinya dengan sifat sifat yang haqq. Kedua,
terlepasnya diri dari sifat-sifat al haqq( Allah) dengan
menyaksikan al haqq. Ketiga, terlepasnya diri dari menyaksikan
al haqq dengan tenggelam dalam wujud al-haqq34
3. Menurut para sufi

32
Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Mudlor,Kamus Konteporer, 408
33
Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampe,Akhlaq tasawuf,331
34
Ibid,361

68
Akhlak Tasawuf
Dibedakan menjadi dua:
Pertama, Istilah tentang penyerahan diri hamba secara
sempurna dihadapan perintah-perinth Allah dan
larangan-laranganNya, serta pengakuan yang kaffah atau lengkap
tentang segala seuatu yang dibawa oleh nabi muhammad SAW
Kedua, keluarnya segala sesuatu selain Allah dari kalbu
seorang hamba, tak ada sedikitpun selain Allah dalam hatinya.
Hanya ada Allah dihatinya.35
4. Al Farabi
Dibedakan menjadi dua pengertian:
Pertama fana dalam istilah mistis, lenyapnya ketidaktahuan
dan hanya tinggallah pengetahuan sejati yang dihasilkan melalui
intuisi tentang kesatuan esensial keseluruhan.ia tidak
melenyapkan keberadaan dirinya, namun ia menyadari non
eksistensi esesialnya sebagai bentuk.
Kedua, fana dalam pengertian metafisika, hilangnya
bentuk-bentuk dunia fenomena dan berlangsungnya substansi
universal yang satu. Maksudnya, hilangnya diri dalam keadaan
pengetahuan intuitif dimana kesatuan esensial dari keseluruhan itu
diungkapkan.

Dari pengertian diatas yangdikatakan hilang adalah kepekaannya


menangkap segala hal yang indrawi dan bersifat keduniaan (hilangnya
kesadaran bahwa ia adalah manusia), sedangkan jasadnya masih utuh.

B. Tahapan Tahapan Fanaana


1. Menurut para ahli
Dibagi menjadi tiga derajad yaitu:
Pertama : transformasi moral melalui pelenyapan hawa nafsu
Kedua : pelenyapan pikira dari semua objek persepsi
Ketiga : lenyapnya kesadaran ( fana)
2. Menurut Rivay A.
Melalui empat situasi getaran psikis yaitu:
As-sakar: situasi jiwa yang terpusat penuh kepada satu titik
sehingga ia melihat dengan perasaannya.
Sathahat: suatu ucapan yang terlontar di luar kesadaran, kata yang
diucapkan dalam keadaan sakar

35
Sayyid Nur bin Sayyid Ali, Tasawuf Syari , Kritik Atas Kritik, Bandung: mizan 2000,
197-198

69
Akhlak Tasawuf
Zawal al hijab : bebas dari dimensi sehingga keluar dari alam
materi dan telah berada dan telah berada dalam
materiilahiyat . sehingga getaran jiwanya dapan
menangkap gelombang caaya dan suara Tuhan.
Ghalab asy-syuhud tingkatan kesempurnaan musyahaah, dimana
seorang sufi telah lupa terhadap dirinya dan alam sekitar,
yang ia ingat hanya Allah.
Tahapan fana telah dicapai ketika ia sanggup meninggalkan
keinginan selain kepadaTuhan.

3. Menurut al junaid
Pertama : terbebasya seseorang dari perbuatan yang berdasarkan
hasrat lahiriyah
Kedua : terbebas dari mengejar kenikmatan batiniah, termasuk
beribadah kepada Allah, menghilangkan sepenuhnya ego,
sehingga ia benar-benar menyerahkan diri kepada
tuhannya.
Ketiga : penghapusan kesadaran,disaat diri sang hamba dilputi
oleh Allah

Ciri-ciri orang fana yaitu,ketika bagiannya dari dunia dan akhirat


telah hilang karena kekekalan mengingat Allah swt.ketika mengingat
allah,kemudian ia tidak melihat pada mengingat Allah, sehingga
yang ada hanyalah bagiannya dengan Allah. Kemudian bagiaannya
dari Allah juga hilang karena melihat bagiannya,kemudian bagiannya
juga hilang karena melihat bagiannya dengan fana fananya fana dan
kekekalannya baqa.36

C. Pengertian Baqa
Berasal dari kata baqiya-yabqa-baqaan yang artinya tetap37.
secara harfiah Baqa berarti kekal sedangkan dalam pandangan kaum
sufi, Baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan
dalam diri manusia. Karena sifat-sifat kemanusiaan (basyariah) telah
lenyap maka yang kekal dan tinggal adalah sifat-sifat ilahiyah atau
ketuhanan.
Fana dan Baqa ini menurut ahli tasawuf datang beriringan
sebgaimana ungkapan mereka :Apabila nampak nur ke Baqaan,

36
Abu Nashr as-Sarraj, Al-Luma,433-434
37
Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Mudlor, Kamus kontemporer , 342

70
Akhlak Tasawuf
maka Fanalah yang tiada dan Baqalah yang kekal. Juga ungkapan
mereka : Tasawuf itu adalah mereka Fana dari dirinya dan Baqa
dengan Tuhannya, karena kehadiran mereka bersama Allah.
Maksudnya, jika seorang sufi telah dalam keadaan fana, maka ketika
saat itulah ia sedang mengalami baqa.
Qushairi berkata dalam kitabnya mengenai keterkaitan antara
fana dan baqa, sebagai berikut barang siapa meninggalkan
perbuatan- perbuatan tercela, maka ia sedang fana dari syahwatnya.
Tatkala fana dari syahwatnya, ia baqa dalam niat dan keikhlasan
ibadah. Barangsiapa yang hatinya zuhud dari keduniaan, maka ia
sedang fana dari keinginan yang berarti pula sedang baqa dalam
ketulusan inabah (kembali) kepada Allah.38

D. Pengertian Ittihad
Dari sudut pandang etimologi kata ittihad (al-ittihad)
mempunyai arti persatuan, sedangkan apabila ditinjau dalam kamus
sufisme kata ittihad mempunyai arti persatuan antara manusia dengan
Tuhannya.39
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ittihad merupakan satu
tingkatan tasawuf dimana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu
dengan Tuhan, atau bisa dikatakan sebuah tingkatan dimana yang
mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu.
Arti kata ittihad dalam ajaran tasawuf menurut Ibrahim Madkur
ialah sebuah tingkatan tertinggi yang dapat dicapai dalam perjalanan
jisa manusia. Orang yang sudah sampai pada tingkat ini merasa
bahwasanya dia dengan Tuhannya telah menjadi satu dengan ciri-ciri :
a. Dapat melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata.
b. Dapat mendengar sesuatu yang tidak pernah didengan oleh
telinga.
c. Sering mengucapkan kalimat-kalimat yang ganjil dan aneh
yang biasanya disebut dengan syahatat.
Sesorang yang sudah mencapai tingkat ittihad berarti dia sudah
dapat menghilangkan kesadarannya dan tidak lagi mengenali wujud
tubuh kasarnya dan wujud alam disekitarnya. Menurut Nicolson dalam
faham ittihad, hilangnya kesadaran merupakan permulaan untuk
memasuki tingkat ittihad yang sebenarnya. Keadaan dimana seseorang
kehilangan kesadarannya ini dapat disebut dengan " Kesinambungan

38
Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampe,Akhlaq tasawuf,337
39
http://belajarilmutasawuf.blogspot.com/2011/10/pengertian-ittihad.html

71
Akhlak Tasawuf
hidup setelah kehancuran ( abiding after passing away, al baqa', ba'ad,
al-fana') " dan kehilangan kesadaran (al-fana') merupakan awal
mulanya untuk memasuki pintu ittihad yang sebenarnya.

E. Asal Mula Faham Al-Fana, Al-Baqa, Ittihad


Jika diatas kita sudah mengenal pengertian dari ketiga kata ini
satu persatu, maka sekarang akan lebih dijelaskan lagi tentang paham
al-fana', al-baqa', ittihad.
Paham al-fana', al-baqa', dan ittihad merupakan sebuah paham
diperkenalkan oleh seorang sufi yang berasal dari Persia beliau
mempunyai nama Abu Yazid Taifur ibn Surusyam atau yang lebih
dikenal dengan nama Abu Yazid Al-Bustami. Paham al-fana', al-baqa'
dan ittihad dikemukakan oleh beliau ketika sudah mencapai baqa,
beliau mengucapkan kata-kata ganjil yang pada saat itu membutuhkan
pemahaman yang sangat hati-hati sehingga tidak menimbulkan
kesalahan dalam mengartikannya, karena dari kata-kata yang keluar
tersebut seolah-olah Abu Yazid mengaku bahwasanya dirinya ialah
Tuhan. Kata yang keluar dari Abu Yazid Al-Bustami yaitu, " Tiada
Tuhan melainkan saya. Sembahlah saya, Amat Sucilah Saya, Alangkah
besarnya Kuasa-Ku. Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah
Aku, Maha Suci Aku, Maha Besar Aku ".40
Dalam suatu riwayat juga pernah diceritakan bahsawanya ada
seseorang yang melewati rumah Abu Yazid dan mengetuk pintunya
untuk menyanyaka apakah beliau ada dirumah, tiba-tiba saja Abu
Yazid menjawab, " Pergilah! Di rumah ini tidak ada Abu Yazid, di
rumah ini hanya ada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi ".
Pada saat pertama kali Abu Yazid mengeluarkan kata-kata
tersebut, ada kemungkinan bahwa orang-orang yang berada
disekitaranya mengatakan bahwasanya dirinya tersebut telah tersesat,
dikarenakan seringnya mengeluarkan kata-kata aneh sebagian orang
juga menganggap Abu Yazid merupakan seorang "sufi mabuk".
Sebenarnya yang dapat dipahami dari perkataan tersebut ialah
Abu Yazid tidaklah mengakui bahwasanya dirinya seorang Tuhan.
Disini penulis menafsirkan bahwasanya seorang Sufi atau ahli tasawuf
ketika dia telah mencapai tingkatan tertingginya dan mulai
mengucapkan kata-kata ganjil, berarti yang keluar dari mulut sufi
tersebut ibarat sebuah syair yang indah dan merdu tentang kebesaran

40
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/04/al-fana-al-baqa-al-ittihad.html

72
Akhlak Tasawuf
Allah SWT. Dengan demikian dapat dikatakan bahwasanya perkataan
tersebut bukan ditujukan bahwa orang tersebut telah menjadi Tuhan.

F. Al- Fana
Fana,, Al-
Al-Fana Baqa Dan Ittihad Dalam Pandangan Al-Quran
Al-Baqa
Fana dan Baqa merupakan jalan menuju Tuhan, hal ini sejalan
dengan firman Allah surat Al-kahfi ayat 10 yang berbunyi:
Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada
Tuhannya.( QS. Al-Kahfi, 18: 110).
Paham ittihad ini juga dapat dipahami dari keadaan ketika Nabi
Musa ingin melihat Allah. Musa berkata: Ya Tuhan, bagai mana
supaya aku sampai kepada-Mu? Tuhan berfirman: Tinggalah dirimu
(lenyapkanlah dirimu) baru kamu kemari (bersatu).
Ayat dan riwayat tentang Nabi Musa As. tersebut memberikan
sebuah petunjuk bagi kita bahwasanya Allah memberikan peluang bagi
siapa saja untuk bersatu dengan Diri-Nya baik itu secara Rohaniyah
maupun Batiniyah. Cara-cara tersebut dapat kita lakukan seperti
misalnya beramal shaleh, beribadah semata-mata karena-Nya (Allah),
menghilangkan sifat-sifat serta akhlak-akhlak buruk (Fana),
meninggalkan dosa serta maksiat, baru kemudian kita dapat menghias
diri kita dengan sifa-sifat Allah yang Maha Suci. Konsep diatas
tercakup dalam konsep Fana dan Baqa yang dapat dipahami dalam QS.
Ar-Rahman 26-27 yang berbunyi41:
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat
Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS.
Al-Rahman: 26-27).

G. Kesimpulan
Dari pembahasan makalah diatas, dapat diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :
a. Fana adalah proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar
dapat bersatu dengan Tuhan.
b. Baqa adalah sifat yang mengiringi dari proses fana dalam
penghancuran diri untuk mencapai marifat. Secara singkat, Fana

41

http://mohammadsyahidramdhani24.blogspot.com/2012/11/al-fana-al-baqa-ittihad-al-hulul-d
an.html

73
Akhlak Tasawuf
adalah gugurnya sifat-sifat tercela, sedangkan Baqa adalah
berdirinya sifat-sifat terpuji.
c. tujuan Fana dan Baqa adalah mencapai penyatuan secara ruhaniyah
dan bathiniyiah dengan Tuhan sehingga yang disadarinya hanya
Tuhan dalam dirinya. Sedangkan kedudukan Fana dan Baqa
merupakan hal.
d. Ittihad adalah kondisi penyatuan hamba dengan tuhannya, setelah
melalui peniadaan diri, penyaksian, penemuan zat dengan rasa
kenikmatan yang luar biasa, maka ini juga yang disebut
kebahagiaan yang tinggi atau kebahagiaan yang sempurna.

74
Akhlak Tasawuf

BAB XI
Al-Hulul

A. Pengertian Al-Hulul
B. Tokoh Al-Hulul
C. Ajaran Al-Hulul
D. kesimpulan

75
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Al-hulul
Kata al-hulul adalah bentuk masdar dari kata kerja halla yang
berarti tinggal atau berdiam diri. Secara terminologis
kata al-hulul diartikan dengan paham bahwa Tuhan dapat menitis ke
dalam makhluk atau benda. Di samping itu, al-hulul berasal dari
kata halla yang berarti menempati suatu tempat (halla bi al-makani).
Jadi pengertian hulul secara garis besarnya adalah menmpati suatu
tempat.Hulul secara etimologis berasal dari
kata hall-yahull-hull berarti berhenti atau diam. Adapun secara
harfiah dapat didefinisikan Tuhan mengambil tempat dalam tubuh
manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan
sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Abu Nasr al Tusi yang di
dalam bukunya Al-Luma, mengatakan hulul ialah paham yang
mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu
untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan
yang ada dalam tubuh manusia itu dilenyapkan. Paham bahwa Allah
dapat mengambil tempat pada diri manusia itu bertolak dari dasar
pemikiran Al-Hallaj yang mengatakan bahwa pada diri manusia
terdapat dua sifat dasar, yaitu lahut (ketuhanan) dan hasut
(kemanusiaan), hal ini dapat dilihat dari teorinya mengenai kejadian
manusia dalam bukunya bernama Al-Thawasin.
Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, Ia hanya melihat diri-Nya
sendiri. Dalam kesendiriannya itu terjadilah dialog antara Tuhan
dengan dirinya sendiri, yaitu dialog yang didalamnya tidak terdapat
kata ataupun huruf. Yang dillihat Allah hanyalah kemuliaan dan
ketinggian zat-Nya. Allah melihat kepada zat-Nya dan iapun cinta
kepada zat-Nya sendiri, cinta yang tidak disifatkan dan cinta inilah
yang menjadi sebab wujud. Ia pun mengeluarkan dari yang tiada
bentuk copy dari diri-Nya yang mempunyai sifat dan namanya. Bentuk
copy ini adalah Adam. Setelah menjadikan Adam dengan cara itu, Ia
memuliakan dan mengagumkan Adam. Ia cinta kepada Adam dan pada
diri Adam Allah muncul dalam bentuknya. Dengan demikian pada diri
Adam terdapat sifat-sifat yang dipancarkan Tuhan yang berasal dari
Tuhan sendiri.
Menurut Al-Hamdany (Sanggahan Terhadap Tasawuf dan Ahli
Sufi. 1969, Hal : 19) menyebutkan bahwa, hulul merupakan
kepercayaan manusia bahwa Allah bersemayam ditubuh salah seorang
yang kiranya bersedia untuk ditempati, karena kemurnian jiwanya dan
kesulitan ruhnya. Hulul merupakan salah satu konsep didalam tasawuf

76
Akhlak Tasawuf
falsafi yang meyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan
makhluk. Tujuan hulul adalah mencapai persatuan secara batin.
Paham bahwa Allah dapat mengambil tempat pada diri manusia
ini, bertolak dari dasar pemikiran Al Hallaj yang mengatakan bahwa
pada diri manusia terdapat dua sifat dasar, yaitu lahut berasal dari
perkataan ilah yang berarti Tuhan atau sifat ketuhanan. Sedangkan
nasut berasal dari perkataan nas yang berarti manusia atau sifat
kemanusiaan. Ini dapat dilihat dari teorinya mengenai kejadian
manusia dalam bukunya yang bernama al Thawasin.
Menurut Al Hallaj, antara manusia dan Tuhan terdapat jarak
sehingga masing-masing mempunyai hakikat sendiri-sendiri. Akan
tetapi, antara dua hakikat itu terdapat kesamaan. Dengan demikian,
bila kesamaan itu telah semakin mendekat, kaburlah garis pemisah
antara keduanya. Ketika itu terjadilah persatuan (hulul) antara Al
Haqq dengan manusia
Pemikiran Al Hallaj tentang kebersatuan manusia dengan Tuhan
yang kemudian mengkristal dalam terma Al Hulul merupakan salah
satu bentuk Ittihad. Ittihad yang dimaksud di sini adalah suatu
tingkatan dalam tasawuf, ketika seorang sufi merasa dirinya bersatu
dengan Tuhan, suatu tingkatan saat yang mencintai dan dicintai telah
menjadi satu
Pemikiran Al Hulul dari Al Hallaj bermula dari pendapatnya
yang mengatakan bahwa dalam diri manusia sebenarnya ada sifat-sifat
ketuhanan. Untuk dasar pemikiran itu, ia mentawilkan ayat Al Quran
yang menyerukan agar malaikat bersujud untuk Adam. Karena yang
berhak untuk diberi sujud hanyalah Allah, maka Al Hallaj memahami
bahwa dalam diri Adam sebenarnya ada unsur ketuhanan.
Ia berpendapat demikian karena sebelum Tuhan menjadikan
makhluk, Ia hanya melihat diri-Nya sendiri. Dalam kesendirian-Nya
itu terjadilah dialog antara Tuhan dengan diri-Nya sendiri, yaitu dialog
yang di dalamnya tidak terdapat kata ataupun huruf. Yang dilihat Allah
hanyalah kemuliaan dan ketinggian zat-Nya. Allah melihat kepada
zat-Nya dan Ia pun cinta pada zat-Nya sendiri, cinta yang tak dapat
disifatkan, dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari
yang banyak ini. Ia pun mengeluarkan dari yang tiada bentuk copy dari
diri-Nya yang mempunyai sifat dan nama-Nya. Bentuk copy ini adalah
Adam. Setelah menjadikan Adam dengan cara itu, Ia memuliakan dan
mengagungkan Adam. Ia cinta pada Adam, dan pada diri Adam Allah
muncul dalam bentuknya. Dengan demikian pada diri Adam terdapat
sifat-sifat yang dipancarkan Tuhan yang berasal dari Tuhan sendiri.

77
Akhlak Tasawuf
Dengan cara demikian maka manusia mempunyai sifat
ketuhanan dalam dirinya. Hal ini dipahami dari Firman Allah yang
berbunyi :

Artinya:
"Dan ingatlah ketika Kami berkata kepada malaikat : Sujudlah
kepada Adam, semuanya sujud kecuali Iblis, yang enggan dan
merasa besar. Ia menjadi yang tidak percaya." (QS. Al Baqarah :
34)
Paham bahwa Allah menjadikan Adam menurut bentuk-Nya,
dapat dipahami dari hadits yang berbunyi :

Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya.
Dengan melihat ayat dan hadits tersebut, al Hallaj
berkesimpulan bahwa dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan
(lahut) dan dalam diri Tuhan juga terdapat sifat kemanusiaan (nasut).
Jika sifat ketuhanan yang ada dalam diri manusia bersatu dengan sifat
kemanusiaan yang ada dalam diri Tuhan maka terjadilah Hulul. Untuk
sampai ke tahap seperti ini manusia harus terlebih dahulu
menghilangkan sifat-sifat kemanusiaanya (al nasut).
Untuk melenyapkan sifat al nasut, seorang hamba harus
memperbanyak ibadah. Dengan membersihkan diri melalui ibadah dan
berhasil usahanya dalam melenyapkan sifat tersebut, maka yang
tinggal dalam dirinya hanya sifat al lahut. Pada saat itulah sifat al nasut
Tuhan turun dan masuk ke dalam tubuh seorang sufi, sehingga
terjadilah hulul. dan peristiwa ini terjadi hanya sesaat. Pernyataan al
Hallaj bahwa dirinya tetap ada, yang terjadi adalah bersatunya sifat
Tuhan di dalam dirinya, sebagaimana ungkapan syairnya, maha suci
zat yang sifat kemanusiaan-Nya membukakan rahasia ketuhanan-Nya
yang gemilang. Kemudian kelihatan bagi makhluknya dengan nyata
dalam bentuk manusia yang makan dan minim.
Berdasarkan uraian di atas, maka al Hulul dapat dikatakan
sebagai suatu tahap di mana manusia dan Tuhan bersatu secara
rohaniah. Dalam hal ini, Hulul pada hakikatnya istilah lain dari al
Ittihad. Tujuan dari Hulul adalah mencapai persatuan secara batin.
Hamka mengatakan, bahwa al Hulul adalah ketuhanan (lahut)
menjelma ke dalam diri insan (nasut), dan hal ini terjadi pada saat
78
Akhlak Tasawuf
kebatinan seorang insan telah suci bersih dalam menempuh perjalanan
hidup kebatinan.

B. Tokoh ajaran Al-hulul


Tokoh yang mengembangkan paham al-Hulul adalah al-Hallaj.
Dari Baghdad ia melarikan diri ke Sus, suatu wilayah yang terletak di
Ahwaz. Setelah bersembunyi selama 4 tahun, dan tetap pada
pendiriannya, akhirnya ia ditangkap kembali dan dimasukkan ke
penjara selama 8 tahun. Akhirnya pada tahun 309H (921M) diadakan
persidangan ulama di bawah pengawasan Kerajaan Bani Abbas,
Khalifah Mutashim Billah. Dan akhirnya pada tanggal 18 Zulkaidah
309H (921M) al Hallaj dijatuhi hukuman mati. Ia dihukum bunuh,
dengan terlebih dahulu dipukul dan dicambuk, lalu disalib, sesudah itu
dipotong kedua tangan dan kakinya, dipenggal lehernya, dan
ditinggalkan tergantung bagian-bagian tubuh itu di pintu gerbang kota
Baghdad, dengan maksud untuk menjadi peringatan bagi ulama
lainnya yang berbeda pendirianNama lengkapnya adalah Husein bin
Mansur al-Hallaj. la lahir tahun 244 H. (858 M.) di Negeri Baidha,
salah satu kota kecil yang terletak di Persia. Dia tinggal sampai dewasa
di Wasith, dekat Baghdad, dan dalam usia 16 tahun dia telah pergi
belajar pada seorang Sufi yang terbesar dan terkenal, bernama Sahl bin
Abdullah al-Tustur di Negeri Ahwaz. Selanjutnya ia berangkat ke
Bashrah dan belajar pada seorang sufi bernama Amr al-Makki, dan
pada tahun 264 H. ia masuk kota Baghdad dan belajar pada. al-Junaid
yang juga seorang sufi. Selain itu ia pernah juga.
Hulul atau juga sering disebut "peleburan antara Tuhan dan
manusia" adalah paham yang dipopulerkan Mansur al-Hallaj. Paham
ini menyatakan bahwa seorangsufi dalam keadaan tertentu, dapat
melebur dengan Allah. Dalam hal ini, aspek an-nasut Allah bersatu
dengan aspek al-lahut manusia. Al-Lahut merupakan aspek Ketuhanan
sedangkan An-Nasut adalah aspek kemanusiaan. Sehingga dalam
paham ini, manusia maupun Tuhan memiliki dua aspek tersebut dalam
diri masing-masing.
Dalam sufistik-mistis, orang yang mengalami hulul akan
mengeluarkan gumaman-gumaman syatahat (kata-kata aneh) yang
menurut para mistikus disebabkan oleh rasa cinta yang melimpah. Para
sufi yang sepaham dengan ini menyatakan gumaman itu bukan berasal
dari Zat Allah namun keluar dari roh Allah (an-nasut-Nya) yang
sedang mengambil tempat dalam diri manusia.

79
Akhlak Tasawuf
Beberepa ungkapan Al-Hallaj yang terdapat makna Hulul adalah
sebagai berikut: Al-Hallaj pernah ditanya" Siapakah anda?, ia
menjawab 'aku adalah Allah".
Diantara sya'ir Al-Hallaj yang terkenal adalah sebagai berikut:
Aku adalah Allah
Dan aku benar-benar Allah
Aku menyandang Dzat-Nya
Hingga tiada beda antara aku dengan-Nya
Aku adalah orang yang menitis
Dan yang menitis itu adalah aku
Kami adalah dua ruh yang menempati satu jasad
Ruh-Nya adalah ruhku
Dan ruhku adalah ruh-Nya
Siapakah yang melihat dua ruh
Yang menempati satu jasad
Gejala pemikiran Al-Hallaj yang berupa hulul sehingga terucap
dalam ungkapan-ungkapannya tersebut diatas telah ada tanda-tandanya
sejak ia melaksanakan ibadah haji pertama kali ke MakkahKetika
melaksanakan haji ia berjanji pada dirinya akan menyelesaikan umrah
selama satu tahun di Masjidil Haram dengan berpuasa dan berzdikir.
Pada kesempatan ini Al-Hallaj berusaha menurut caranya sendiri untuk
menyatu dengan Allah SWT., dan mulai sejak itu pula Al-Hallaj
menyerukan konsep hululnya itu.
Al Hallaj sebagai pembawa paham al Hulul, dapat dipahami dari
beberapa pernyataan di bawah ini :



Jiwamu disatukan dengan jiwaku, sebagaimana anggur disatukan
dengan air suci. Dan jika ada sesuatu yang menyentuh Engkau, ia
menyentuh aku pula, dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah
aku.


Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah aku.
Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh, jika

80
Akhlak Tasawuf
engkau lihat aku engkau lihat Dia. Dan jika engkau lihat Dia
engkau lihat kami.
Dalam paham al Hulul yang dikemukakan al Hallaj tersebut ada
dua hal yang dapat dicatat, yaitu :
1. Paham al Hulul merupakan pengembangan atau bentuk lain
dari paham mahabbah sebagaimana disebutkan dibawa
Rabiah al Adawiyah.
2. Paham al Hulul juga menggambarkan adanya ittihad atau
kesatuan rohaniah dengan Tuhan. Namun Harun Nasution
membedakan kesatuan rohaniah yang dialami al Hallaj melalui
al Hulul, dengan kesatuan rohaniah yang dialami Abu Yazid
dalam al Ittihad.
Perbedaan antara Ittihad al Bustami dengan Hulul al Hallaj,
dalam ittihad yang dilihat satu wujud, sedang dalam hulul ada dua
wujud, tetapi bersatu dalam satu tubuh. Hal ini dapat dipahami dari
syair yang dinyatakan al Hallaj berikut :

Aku adalah rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha
Benar itu aku. Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah
antara kami.
Dengan ungkapan al Hallaj yang demikian itu, kita dapat menilai
bahwa pada saat al Hallaj mengatakan ana al haqq sebenarnya
bukanlah roh al Hallaj yang mengucapkan demikian, tetapi roh Tuhan
yang mengambil tempat (hulul) dalam diri al Hallaj.
Al Hallaj menggambarkan uluhiyah (ketuhanan) dengan tajrid
dan tanzih dan tidak terlintas dalam dirinya bahwa mengetahui Allah
yang ditanzihkan merupakan sesuatu yang ada di luar kemampuan
manusia. Oleh sebab itu, dia berpendapat bahwa seseorang yang
berketuhanan akan mendapatkan hakikat gambar Tuhan yang
diberikan Allah setelah melalui usaha keras (riyadhah dan mujahadah)
dan hidup zuhud. Hal ini karena Allah menciptakan manusia sesuai
gambar-Nya atau bentuk-Nya.
Al Hallaj berpendapat bahwa cinta dan kasih sayang Allah
terhadap hamba-Nya berada di atas segala sesuatu, dan dasar cinta
adalah pengorbanan (at-tadhiyah), serta tanpa diminta Dia rindu
bertemu dengan yang dicintai-Nya. Oleh karena itu, para wali Allah
harus menghadapkan dirinya kepada Allah semata dalam bentuk
penghambaan yang utuh dan mematuhi perintah-Nya meskipun
memberatkan mereka. Inilah tampaknya pemahaman agama yang
dianjurkan Al Hallaj.
81
Akhlak Tasawuf
Dari analisis sederhana ini, dapat dilihat bahwa paham sufistik
Al Hallaj dipengaruhi oleh berbagai unsur agama, paham, dan isme
yang ada sebelumnya, dan tampaknya ia mengadopsi dari unsur-unsur
itu, hal-hal yang sulit dipahami.
Dari uraian tersebut, tampak jelas bahwa pandangan-pandangan
sufistik Abu Mansur Al Hallaj memang sangat berbeda dengan
paham-paham sufistik para tokoh lainnya, bahkan terkesan ganjil.
Akan tetapi, keganjilan ini dapat dimaklumi, bahkan dianggap suatu
kewajaran bila ditelusuri kondisi dan lingkungan yang mempengaruhi
visi khasnya. Karena visi sufistiknya memang terbentuk dari unsure
paham, ajaran, dan agama yang beragam, beragam pula penilaian atau
kecaman yang diserahkan kepadanya. Yang jelas, dunia tasawuf terasa
semakin semarak dan signifikan dengan kehadiran
pandangan-pandangan yang aneh tersebut.

C. Ajaran aL- Hulul


L-H
Al-Hulul secara bahasa berarti nuzul dan iqamah (turun,
menetap atau inkarnasi) . Sedangkan menurut istilah ialah faham yang
mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu
untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat-sifat kemanusian
dalam tubuh itu dilenyapkan. Paham ini pada awalnya muncul dari
pemikiran bahwa Tuhan melihat pada dirinya. Tuhan berdialog dengan
dirinya, dialog tanpa huruf dan tanpa bunyi. Tuhan hanya melihat
ketinggian dan kemulian zat-Nya. Kecintaan Tuhan ini, menjadi sebab
wujudnya sesuatu, yakni Adam. Setelah Tuhan menjadikan Adam, Dia
memuliakan, mengagungkan dan mencintainya. Dalam kondidsi
demikian, Tuhan berada dalam diri Adam. Hal ini menunjukkan bahwa
manusia mempunyai sifat ketuhanan dalam dirinya. Penghormatan
Tuhan terhadap Adam dapat dilihat dalam al-Quran Surah al-Baqarah
(2): 34.

Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
"Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali
Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan
orang-orang yang kafir.

82
Akhlak Tasawuf
Al-Hallaj memahami ayat tersebut bahwa perintah Tuhan kepada
Iblis agar bersujud kepada Adam. Karena dalam diri Adam terdapat
roh Tuhan yang menjelma. Pada diri Adam terdapat kekutan lain di
luar sifat kemanusian Adam, yaitu roh ketuhanan, sebagaimana juga
terjadi pada diri Yesus dalam ajaran Kristiani, Tuhan menjelma dalam
dirinya. Persatuan Tuhan dengan manusia dapat diilustrasikan seperti
kita melihat besi disapu api sampai merah. Dalam hal ini sulit bagi kita
membedakan mana besi dan mana api atau seperti kita melihat ombak
di laut. Kita sulit membedakan mana ombak dan mana air.
Gambaran cinta al-Hallaj kepada Allah dapat dilihat dalam
syair-syairnya:

Aku melihat cintaku dengan mata hatiku


Dan dia bertanya, siapa kamu?
Aku jawab, kamu

Juga terlihat dalam syairnya sebagai berikut:




Maha suci zat yang menampakkan nasut-Nya
Dengan lahut-Nya, yang cerah seiring bersama
Kemudian ia tampak-Nya di dalam makhluknya
Seperti gambaran orang makan dan minum
Seperti bertemunya (kedipan) kelopak mata

D. Kesimpulan
Pengertian hulul secara garis besarnya adalah menmpati suatu
tempat.Hulul secara etimologis berasal dari
kata hall-yahull-hull berarti berhenti atau diam. Adapun secara
harfiah dapat didefinisikan Tuhan mengambil tempat dalam tubuh
manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan
sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Abu Nasr al Tusi yang di
dalam bukunya Al-Luma, mengatakan hulul ialah paham yang
mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu
untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan
yang ada dalam tubuh manusia itu dilenyapkan.
Mansyur Al-halaj dalam pengalaman spiritualnya, menemukan
sebuah formulasi komunikasi ideal antara manusia dengan tuhannya.
Formulasi ini dibangun berdasarkan persepsinya yang utuh bahwa

83
Akhlak Tasawuf
antara manusia dengan Tuhan memiliki dua sifat yang sama, yaitu Al
lahud dan al nasut. Apabila kedua sifat ini melebur jadi satu, maka
berarti antara manusia dengan Allah sebagai Tuhannya bisa menyatu.
Momentum menyatunya antara al lahud dan al nasut ini dalam teori
tasawufnya Mansyur al halaj disebut al hulul.

84
Akhlak Tasawuf

BAB XII
Wahdat Al-Wujud

A. Pengertian dan Tujuan Wahdat al-Wujud


B. Tokoh Wahdat al-Wujud
C. Ajaran Tasawuf Wahdat al-Wujud
D. Analisis Wahdat al-Wujud
E. Kesimpulan

85
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian dan Tujuan Wahdat al- Wujud
al-W
Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata
yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau
kesatuan sedang al-wujud artinya ada. 42Dengan demikian wahdat
al-wujud berarti kesatuan wujud.
Harun Nasution lebih lanjut menjelaskan paham ini dengan
mengatakan bahwa paham wahdat al-wujud nasut yang sudah ada
dalam hulul diubah maejadi khalq (makhluk) dan lahut menjadi haqq
(tuhan).Aspek yang sebelah luar disebut khalq dan aspek yang di
sebelah dalam disebut haqq.43
Paham ini selanjutnya membawa keoada timbulnya paham
bahwa diantara makhluk dan tuhan sebenarnya satu kesatuan dari
wujud tuhan dan yang sebenarnya ada adalah wujud tuhan itu,
sedangkan wujud makhluk hanya bayang atau fotokopi dari wujud
tuhan. Dengan demikian alam ini merupakan cermin dari Allah. Pada
saat Dia ingin melihat diri-Nya, Ia cukup melihat alam ini.
Konsep kesatuan wujud sendiri sangat kompleks dan sulit
ditangkap. Untunglah Syekh al-Akbar Ibn Arabi, penggangas konsep
ini memberikan ilustrasi yang cukup jeals tentang bagaimana
hubungan antara Tuhan dan alam dalam konsep kesatuan wujudnya.44
Dalam fushush al-hikam sebagai dijelaskan oleh Al-Qashini dan
di kutip Harun Nasution, fana wahdul wujud ini antara lain terlihat
dalam ungkapan. Wajah sebenarnya satu tetapi jika engkau perbanyak
cermin ia menjadi banyak.45 Tuhanlah sebenarnya yang mempunyai
wujud hakiki atau wajibul wujud. Sementara itu makhluk sebagai yang
di ciptakan-Nya hanya mempunyai wujud yang bergantung kepada
wujud yang berada dirinya yaitu Tuhan.
Yang mempunyai wujud sesungguhnya hanyalah Allah. Dengan
demikian yang sebenarnya hanya satu wujud yaitu wujud Tuhan. Hal
yang demikian itu lebih lanjut dikatakan Ibn Arabi sebagai berikut.

42
Yunus, Mahmud. Kamus Arab Indo (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), hal 492 dan 494
43
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1993),
cet III, hal 92
44
Kartanegara, Mulyadi. Menyelami Lubuk Tasawuf (Jakarta: Erlangga, 2006), hal 35.
45
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1993),
cet III, hal 93

86
Akhlak Tasawuf
Sudah menjadi kenyataan bahwa makhluk adalah dijadikan dan
bahwa ia berharap kepada khalik yang menjadikannya karena ia hanya
mempunyai sifat mungkin dan dengan demikian wujudnya bergantung
pada sesuatu yang lain.46
Paham tersebut mengisyaratkan bahwa pada manusia ada unsur
lahir dan batin, dan pada tuhan pun ada unsur lahir dan batin. Unsur
lahir manusia adalah fisiknya, sedangkan batinnya adalah roh atau jiwa
yang hal ini merupakan pancaran, bayangan atau fotocopy Tuhan.
Kemudian unsur lahir-lahir pada tuhan adalah sifat-sifat ketuhanannya
yang tampak dialam ini dan unsur batinnya adalah dzat
Tuhan.Bersatunya unsur lahut yang ada pada manusia dengan unsur
nasut yang ada pada Tuhan.
Selanjutnya dalam Al-Quran akan kita jumpai ayat-ayat yang
memberikan petunjuk bahwa Tuhan memiliki unsur lahir dan batin
sebagaimana dalam faham wahdat al-wujud:
"Dengan menyempurnakan untukmu niatnya lahir dan batin
(Qs, Luqman, 31;20)
Dalam Al-Quran dan terjemahannya terbitan Departemen
Agama tahun 1984, hal 90, kata al-awwal pada surat al-hadid ayat 3
diartikan yang telah ada sebelum sesuatu yang ada. Al-akhir artinya
yang nyata adanya karena banyak bukti-buktinya dan yang batin
adalah yang tidak dapat digambarkan hakikar dzatnya oleh akal.
Namun menurut para sufi yang dimaksud zahir adalah sifat-sifat Allah
yang tampak, sedang batin adalah dzat-dzatnya. Manusia dianggap
mempunyai kedua unsur tersebut karena manusia berasal dari pancaran
tuhan. Sehingga antara manusia dengan Tuhan pada hakekatnya satu
wujud.47

B. Tokoh Wahdat al Wujud


Wahdat al-wujud adalah wujud yang sejati adalah satu,tokoh
yang mengajarkan tentanf wahdatul al-wujud adalah ibn arabi, nama
lengkapnya Mohammad bin ali bin ahmad bin Abdullah ath-thai
al-haitami. Dia lahir di Murcia, Andalusia tengah, Spanyol tahun 560

46
Ibid, hal 94-95
47
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf (Jakarta, Graindo persada, 1996), hal 252

87
Akhlak Tasawuf
H.48 Di Seville (spanyol) dia mempelajari al-quran, hadist serta fikih
pada sejumlah murid seorang faqih Andalusia terkenal yakni ibnu
hazm al-zhahiri. Ia pindah ke Tunis di tahun 1145 dan masuk aliran
sufi..
Ketika ia berusia 30 tahun ia mulai berkelana ke berbagai
kawasan Andalusia dan kawasan islam bagian barat. Diantara
guru-gurunya adalah Abu madyan al-Ghoust al-Talimsari dan Yasmin
Musaniyah. Keduanya banyak dipengaruhi ajaran-ajaan Ibn Arabi.
Dikabarkan juga bahwa dia pernah bertemu dengan ibn Rusyd. Filosof
murni dan tabib istana dynasty barbar dari Alomohad Dikordora. Ia
juga telah dikabarkan mengunjungi Al-mariyyah yang menjadi pusat
madrasah ibn Masarrah seorang sufi falsafi yang cukup berpengaruh
dan mempunyai banyak masalah di Andalusia, di antara karya
monumenalnya yaitu al-futuhat al-makkiyah yg ditulis pada tahun
1201 H. Tatkala ia sedang menunaikan ibadah haji. Karya lainnya
yaitu tarjuman al-Asyuwaq yang ditulisnya untuk mengenang
kecantikan, ketakwaan, dan kepintaran seorang gadis cantik dari
keluarga seorang sufi dari Persia.49
Ibn arabi dikenal sebagai penulis yang produktif. Jumlah buku
yang kurangnya menurut perhitungan mencapai lebih dari 200
diantaranya ada yang cuma 10 halaman tetapi ada juga yang beberapa
ensiklopedia tentang sufisme seperti kitab futuha al-mekkah dan
bukunya yang termasyur adalah tsus al-hikam yang juga tasawuf.
Menurut Hamka, Ibnu Arabi dapat disebut sebagai orang yang
telah sampai pada puncak wahdatul wujud. Dia telah menegakkan
pahamnya dengan berdasarkan renungan fikir, filsafat, dan tasawuf.
Dia menyajikan ajaran tasawufnya dengan bahasa agak berbelit belit
dengan tujuan, untuk menghindari tuduhan fitnah dan ancaman kaum
awam sebagaimana dialami Al-hallaj. Wujudnya air adalah air wujud,
pada hakikatnya tidaklah ada pemisah antara manusia dan Tuhan klo
dikatakan berlainan.

48
Corbin, Henry. Imajinasi Kreatif Sufisme Ibnu Arabi (Yogyakarta: LKiS, 2002), hal 2
49
Ibid, hal 24

88
Akhlak Tasawuf
C. Ajaran Tasawuf Wahdat al-Wujud
Ajaran sentral Ibn Arabi adalah tentang wahdatul Al-wujud yang
istilahnya bukan berasal dari ibn arabi sendiri melainkan berasal daai
ibnu taimiyah tokoh yang paling keras dalam mengecam dan
mengkritik ajaran sentralnya tersebut. Ibnu taimiyah telah berjasa
dalam mempopulerkan wahdatul al-wujud ke dalam masyarakat islam
meskipun tujuannya negatif.50
Kaum atheis dan golongan madzhab wahdatul wujud
mengemukakan fana wujud selain Allah dalam kitab Fushushul
Hikam dan orang-orang yang sepadan dengannya mengatakan bahwa
wujud khalik adalah wujud makhluk. Dipahami dari ucapan mereka itu
bahwa mereka tidak mengakui adanya wujud selain Allah. Ucapan ini
hanya lahir dari mulut orang kafir seperti yahudi, nasarani, dan
penyembah berhala, orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya
Tuhan dan hamba jua dan tidak ada perbedaan antara keduanya,
ucapan ini sebenarnya menunjukan kekafiran yang nyata terutama
apabila yang dimaksudkan seluruh makhluk meskipun yang dimaksud
adalah para wali Allah yang beriman dan bertaqwa, kita tidak bisa
langsung memfonis ibnu arabi dan orang-orang sehaluannya adalah
kafir, namun bukan berarti kita harus menerima mentah-mentah hasil
ijtihad mereka dibidangnya masing-masing khusunya tasawuf ini
karena kita yakin bahwa mereka umumnya adalah terdiri dari mutjahid
islam di bidangnya. Dari hasil pengkajian ijtihad dan maka ajaran
tasawuf seperti ittihad, hulul, wahdtul wujud dan sejenisnya perlu di
kaji ulang.51
Menurut Ibnu Taimiyah wahdatul wujud adalah penyamaan
Tuhan dengan alam, dia menilai bahwa ajaran Ibnu Arabi adalah dari
aspek tasybihnya (penyerupaan) khalik dengan makhluknya. Ia belum
menilai dari aspek tanzihnya (penyucian khalik). Menuru ibn arabi
wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud
makhluk adalah wujud khalik pula, tidak ada perbedaan diantaranya
dari segi hakikatnya, dan kalaupun di lihat dari sudut pandang panca

50
Anwar, Rosihan. IlmuTasawuf Mukhtar Sholehan (Bandung, Pustaka Setia. 2000) hal 145
51
Al-Aziz, Moh. Saefullah. Risalah Memahami Ilmu Tasawuf (Surabaya, Terbit
Terang,1998) hal 223.

89
Akhlak Tasawuf
indra. Wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah dan Allah
adalah hakikat alam. Tidak ada perbedaan antara wujud yang qodim
dengan yang baru atau dengan kata l;ain tidak ada perbedaan antara
abid (menyembah) dan mabud (yang di sembah).52
Kalau Khalik dan makhluk bersatu dalam wujudnya mengapa
telihat dua? Menurut ibn arabi tidak memandangnya dari sisi satu,
tetapi memandang keduanya bahwa khalik dari sisi satu dan makhluk
dari sisi yang lain. Jika mereka memandang dari sisi yang lain mereka
pasti mengetahui hakikat keduanya yakni dzatnya satu yang tak
terbilang dan terpisah.53 Wujud Tuhan juga wujud alam dan wujud
Tuhan bersatu dengan wujud alam yang dalam istilah barat disebut
panteisme, yang di definisikan oleh Henry C.Theissen. panteisme
adalah teori yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terbatas
adalah aspek modifikasi atau bagian dari satu wujud yang kekal dan
ada dengan sendirinya.54
Ibn arabi menyebut wujud, maksudnya adalah wujud yang
mutlak yaitu wujud Tuhan, satu-satunya wujud menurut ibn arabi
adalah wujud tuhan, tidak ada wujud selain wujudNya. Kesimpulannya
kata wujud tidak diberikan kepada selain tuhan. Dalam bentuk lain
dapat dijelaskan bahwa makhluk diciptakan oleh tuhan dan wujudnya
bergantung pada wujud tuhan.
Dengan demikian, ibn arabi menolak ajaran yang mengatakan
bahwa alam semesta ini diciptakan dari tiada. Ia mengatakan bahwa
nur Muhammad itu qodim dan merupakan sumber emanasi dengan
berbagai kesempurnaan ilmiah dan alamiah yang terealisasikan pada
dari pada nabi adam sampai nabi Muhammad dan dari nabi
Muhammad pada diri pengikutnya yaitu para wali.
Dari konsep-konsep wahdatuj al-wujud ibn arabi ini muncul dua
konsep yang sekaligus merupakan lanjutan atau cabang dari konsep

52
Op.cit, hal 147.
53
Mustafa, Muhammad.
Ilmu,al-Hayat,al-Ruhiyyah,al-Islam,al-Haiat,al-Musriyyah,al-Ammabi,al-Kitab. (Mesir,
1984), hal 182
54
Noer, Kautsar Azhari. Al-Arabi Wahdat al-Wujud Dalam Perdebatan, (Jakarta:
Paramadina, 1995) hal 162

90
Akhlak Tasawuf
dari wahdatul al-wujud itu, yaitu konsep al-hakikat al-muhammadiyah
dan konsep wahdat al-adyan (kesamaan agama).
Dalam menjelaskan konsep wahdatul wujud ibn arabi
mengungkapkan bahwa wujud ini satu,namun dia memiliki
penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang
dikenal dengan asma yang memiliki pemisah yang disebut dengan
barzah atau menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah
yang di sebut dengan insane kamil.
Ia juga menjelaskan bahwa tuhan segala tuhan adalah Allah
SWT. Sebagai nama yang teragung dan sebagai taayun (pernyataan)
yang pertama. Ia merupakan sumber segala nama dan tujuan akhir dari
segala tujuan dan arah dari segala keinginan serta mencakup segala
tuntutan, kepadaNyalah isyarat yang difirmankan Allah kepada
rasulnya, bahwa kepada Tuhanmulah tujuan akhir karena Muhammad
adalah mazhar dari pernyataan yang pertama, dan tuhan yang khusus
baginya adalah ketuhanan yang agung ini. Ketahuilah bahwa segala
nama-nama Allah merupakan gambaran dalam ilmu Allah. Sedangkan
hakikat muhammadiyah merupakan gambaran dari nama Allah yang
menghimpun segala nama ketuhanan yang darinya muncul limpahan
atas segala yang ada dan Allah sebagai tuhannya. Perlu diketahui
bahwa yang dimaksud dengan hakikat muhammadiyah disini
bukanlauh nabi Muhammad sebagai manusianya, namun hakikat
muhammadiyah adalah asma dan sifat Allah serta akhlaknya. Nabi
Muhammad disebut dengan Muhammad karena beliau mampu
berakhlak dengan seluruh akhlak ketuhanan tersebut.

D. Analisis Wahdat al- Wujud


al-W
Wahdatul al-wujud adalah bahwa wujud yang sejati adalah satu.
Bukan berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Kenyataannya
bahwa dia adalah satu kesatuan wujud ini juga dapat dipahami dari
sebuah hadits yang sering dikutip Ibn Arabi dalam menerangkan
masalah wahdat al-wujud yaitu; kanallahu wala syaia maahu artinya
dahulu Allah tiada sesuatu apapun besertanya. Maksud dari pernyatan
ini tidak ada sesuatu apapun yang menyertai Allah selamanya dan
segalanya pada sisinya adlah tiada. tiada Tuhan selain Allah artinya

91
Akhlak Tasawuf
segala sesuatu berupa alam gaib dan nyata adalah bayangan Allah yang
pada hakikatnya tiada. Dapat disimpulkan dari penjelasan diatas
adalah alam bias dikatakan yang merupakan khayal semata maka alam
bukanlah Allah. Namun jika di lihat alam tidak akan muncul dengan
sendirinya dan mustahil ada wujud di samping Allah atau di dalamnya
atau di luarnya maka alam adalah penampakan Allah. Penampakan itu
tiada lain Allah jua adanya.
Karena yang mempunyai wujud hanyalah Tuhan. Dengan
demikian wujud itu hanya satu yakni wujud Tuhan Ia jua
memberikan sifat-sifat ketuhanan pada segala sesuatu. Alam ini
seperti cermin yang buram dan juga seperti badan yang tidak bernyawa.
Allah menciptakan manusia untuk memperjelas cermin itu, dengan
kata lain alam ini merupakan penampakan dari asma dan sifat Allah
yang terus menerus. Tanpa alam sifat dan asma-Nya itu akan
kehilangan maknanya dan senantiasa dalam bentuk dzat yang tinggal
dalam kesendiriannya yang tidak dikenal oleh siapapun.

E. Kesimpulan
Allah mustlak dengan keterbatasan dan terbatas dengan
kemutlakannya dengan kata lain Allah mutlak dari segi dzatnya yang
maha suci dari segala sifat dan terbatas dalam kemutlakan dengan
nama-nama, sifat-sifat, dan fenomena-fenomena alam. Jadi
penampakanNya itu sendiri tidak terbatas karena kalimatnnya tidak
pernah habis, inilah yang disebut lautan tak bertepi. Dialah yang maha
Esa dalam banyak rupa dan rupa yang banyak yang pada hakikatnya
wajah-wajah dari dzat yang Esa. Dialah penghimpun segalannya yang
membedakan segalanya dalam berbagai rupa.

92
Akhlak Tasawuf

BAB XIII
Insan Kamil

A. Pengertian Insan Kamil


B. Tokoh-tokoh Insan Kamil dan Ajarannya
C. Kesimpulan

93
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Insan Kamil
Insan Kamil makna harfiahnya (tekstual) adalah manusia
sempurna. Insan berasal dari bahasa Arab yang diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia dengan manusia. Insan berbeda maknanya
dengan basyar yang juga diterjemahkan dengan manusia. Insan
berarti manusia dalam pengertian manusia yang memiliki dimensi
rohani, sementara basyar mengarah kepada manusia dalam pengertian
jasad (biologis). Dengan demikian insan kamil adalah manusia yang
sempurna dalam pengertian rohani.
Tampaknya sumber pandangan insan kamil pun ditemukan
dalam Alquran dan layak untuk diperhatikan. Alquran memandang
bahwa khalifah manusia itu adalah ciptaan Ilahi dan menyebut insan
kamil sebagai imam. Dalam surah al Baqarah dijelaskan:

Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan


beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim
menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku
akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. (QS.
Al Baqarah: 124)

B. Tokoh-t
Tokoh-t okoh Insan Kamil dan Ajarannya
-tokoh

1. Ibn Arabi
a. Biografi Ibn Arabi
Bernama lengkap Abu Bakr Muhammad ibn al-Arabi
al-Hatimi al-Tai, sufi asal Murcia, Spanyol ini lahir pada
tanggal 17 Ramadhan 560 H bertepatan dengan 28 Juli 1165.
Dirinya dijuluki Syaikh al-Akbar (Sang Mahaguru)
dan Muhyiddin (Sang Penghidup Agama). Ibn Arabi
wafat di Damaskus pada 16 November 1240 bertepatan
tanggal 22 Rabiul Akhir 638 pada usia tujuh puluh tahun.
b. Konsep Insan Kamil Ibn Arabi
Muhyiddin Ibn Arabi menggunakan istilah manusia
sempurna (insan kamil) dari sisi pandangan khusus tasawuf.
Beliau mengambil pandangan al Hallaj lalu mengubahnya
secara mendasar dan cakupannya pun dikembangkan secara
jauh lebih luas. Ibn Arabi memandang bahwa insan kamil
94
Akhlak Tasawuf
adalah wakil yang benar/sah di muka bumi dan muallimul
mulk (pengajar alam gaib) di langit. Dalam perspektif beliau,
insan kamil adalah potret yang paling sempurna yang
diciptakan oleh Allah dan derajatnya lebih baik dari batasan
mungkin dan lebih tinggi dari maqam ciptaan (makhluk).
Karena kedudukannya, pancaran rahmat dan bantuan al Haq
(Allah SWT)yang merupakan penyebab kelestarian
alamsampai kepada alam.
Insan kamil adalah ciptaan yang azali dan abadi dan
kalimat penentu dan komprehensi. Dengan perantara manusia
seutuhnya, rahasia-rahasia Ilahi dan makrifat-makrifat hakiki
mewujud dan hubungan yang pertama dan yang terakhir
tersambung serta tingkatan alam batin dan alam lahir
menyempurna. Insan kamil adalah wadah seluruh peran dan
duplikat asma-asma Ilahi dan hakikat-hakikat kekinian. Insan
kamil merupakan rahmat terbesar al Haqq bagi makhluk.
Insan kamil adalah ruh alam dan alam adalah jasadnya.
Sebagaimana ruh mengatur dan menguasai badan melalui
kekuatan-kekuatan spiritual dan fisik, insan kamil
jugamelalui asma-asma Ilahi dimana Allah mengajarkan
pelbagai rahasianya kepadanyamengintervensi alam dan
sebagaimana ruh menjadi penyebab kehidupan badan, dan
ketika ruh meninggalkan/mengabaikan badan maka badan
akan menderita dan tidak akan menyempurna maka insan
kamil pun menjadi faktor kehidupan alam dan ketika ia
meninggalkan alam ini, maka alam akan rusak dan
kehilangan makna. Dan insan kamil adalah manifestasi
pertama dari makhluk yang Zat Ahadiyah memantulkan
cahaya-Nya kepadanya.
c. Jejak Teori Insan Kamil Ibn Arabi di Nusantara
Secara umum, tasawuf tidak bisa lepas dari tokoh
yang bernama Ibn Arabi. Karena beliaulah tokoh yang
berpengaruh di dalam dunia tasawuf. Bahkan Muthahari
dalam bukunya Insan Kamil tidak canggung-canggung
menyebut Muhyiddin Arabi al Andalusi Thai sebagai sufi
kawakan dan sekaligus bapak sufisme, tak terkecuali ketika
kita berbicara tasawuf di nusantara rasanya aroma Ibn Arabi
tercium dimana-mana. Hal ini tidak mengherankan karena
sebagaimana pengakuan Prof. Abdul Hadi WM., sejak abad
ke-17 karya-karya penting sufi terkemuka menyebar di

95
Akhlak Tasawuf
pusat-pusat studi keagamaan tanah air, seperti pesantren dan
sudah akrab di kalangan para ulama, khususnya yang konsen
tehadap kajian tasawuf dan tareka.
Dalam hal ini Prof. Abdul Hadi WM. menulis: Pada
awal abad ke-17 M dengan pindahnya pusat kekuasaan Jawa
ke pedalaman, kegiatan penulisan suluk berkembang pula di
pedalaman, terutama di pesantren dan pusat-pusat kekuasaan.
Di istana-istana raja Jawa, kegiatan penulisan sastra suluk
mula-mula digalakkan oleh Panembahan Seda Krapyak pada
permulaan abad ke-17 M. Perkembangan sastra suluk
semakin pesat pada masa pemerintahan Panembahan
Senapati di Mataram. Pada masa ini sejumlah besar
suluk-suluk pesisir disalin dan disadur kembali ke dalam
bahasa Jawa Baru. Di antaranya Suluk Wujil karya Sunan
Bonang, dan Suluk Malang Sumirang karya Sunan Panggung
(Poerbatjaraka 1938). Pada masa ini juga karya Jalaluddin
Rumi yang masyhur Diwan-i Shamsi Tabriz disadur ke dalam
bahasa Jawa di bawah judul Suluk Syamsi Tabriz. Sementara
karya-karya Imam al-Ghazali, Abdul Karim al-Jili (al-Insan
al-Kamil), Ibn `Arabi, dan karya sufi Arab dan Persia lain
mulai dipelajari secara meluas di berbagai pesantren.
Salah satu tokoh sufi kenamaan tanah air yang
pemikiran tasawufnya sedikit banyak dipengaruhi oleh
pandangan-pandangan sufistik Ibn Arabi adalah Hamzah
Fansuri. Berikut ini kami akan mengulang sedikit bagaimana
pandangan insan kamil Ibn Arabi memengaruhi pemikiran
tasawuf Hamzah Fansuri.55

2. AL-JILI
a. Biorgafi Al-Jili
Nama aslinya Abdul Karim Ibnu Ibrahim, adalah sufi
terkenal dari negeri Baghdad. Riwayat hidupnya tidak
banyak diketahui orang. Para penulis hanya menyebutkan
bahwa ia lahir di Al-Jili, sebuah negeri di kawasan Baghdad,
pada tahun 1365 M (767 H) dan meninggal di tempat yang

55
http://guzzaairulhaq.wordpress.com/samudera-tasawuf/pengaruh-konsep-insan-ka
mil-ibn-arabi-dalam-tasawuf-nusantara/

96
Akhlak Tasawuf
sama pada tahun 1409 M (811 H). Jenjang pendidikan yang
dilaluinya pun sulit ditelusuri. Ia hanya diketahui pernah
berguru pada Abdul Qadir Al-Jailani, seorang pendiri dan
pemimpin tarekat Qadariyah disamping itu juga pernah
berguru pada Syekh Syarafud-Din Ismail Ibn Ibrahim
al-Jabarti, seorang tokoh tasawuf terkenal dari negeri Zabit
Yaman.
b. Konsep Insan Kamil Al-Jili
Gagasan Insan Kamil menurut Al-Jili sebenarnya
melanjutkan gagasan yang telah dikemukakan Ibn Arabi.
Bagi Ibn Arabi, tegaknya alam justru oleh manusia dan alam
ini akan tetap terpelihara selama manusia sempurna masih
ada. Manusia sempurna atau Haqiqat Muhammad adalah
sumber seluruh hukum, kanabian, semua wali, atau
individu-individu manusia sempurna (yaitu para sufi yang
wali).
Kemudian Al-Jili mempertegas gagasan mengenai
insan kamil. Menurutnya, Insan Kamil adalah Muhammad,
karena beliau berhadapan dengan Tuhan (yang memiliki
sifat-sifat al-Haq) sekaligus berhadapan dengan makhluk
(al-Khalik). Insan Kamil merupakan cermin Tuhan (copy
Tuhan) yang diciptakan atas nama-Nya, sebagai refleksi
gambaran nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Insan Kamil
memiliki dua dimensi yaitu kanan dan kiri. Yang kanan
merupakan aspek lahir seperti melihat, mendengar,
berkehendak. Sedangkan dimensi kirinya bercorak batin dan
mutlak, seperti azali, baqa, awal, dan akhir.
Menurut Al-Jili, Ruh Muhammad yang dianggapnya
sebagai Insan Kamil diciptakan dalam diri nabi-nabi,
wali-wali, serta orang yang soleh atau dengan kata lain
memiliki kekuatan untuk menampilkan diri dalam setiap
bentuk. Al-Jili pernah mengemukakan bahwa ia pernah
bertemu Muhammad dalam wujud gurunya, Syekh Ismail
Al-Jabarti pada tahun 796 H di Zabit. Namun ia tak
mengetahui bahwa Syekhnya adalah nabi, dan nabi adalah
Syekh. Dari keterangan tersebut nampak bahwa Haqiqat
Muhammad atau Nur Muhammad itu qadim, sebab beliau
adalah sebagian dari Ahadiyah. Dan apabila Muhammad
telah wafat, Nur Muhammad tetap ada sebab dia sebagian
dari Tuhan. Jadi menurut Al-Jili, sebagaimana yang dikutip

97
Akhlak Tasawuf
oleh Harun Nasution, manusia sempurna itu merupakan copy
Tuhan.
Namun demikian menurut keyakinan Al-Jili, manusia
tidak akan pernah sampai mengidentifikasi bahwa dirinya
adalah sepenuhnya Tuhan. Dalam terminologi kaum sufi,
berpindahnya Tuhan dalam manusia sehungga terjadi
persatuan antara hamba dan Tuhan disebut esensi. Al-Jili dan
kaum sufi pada umumnya merumuskan Tuhan sebagai esensi
dan segala sesuatu yang ada dalam jagat raya memiliki unsur
esensi ilahi, sehingga manusia sangat dimungkinkan
melakukan persatuan atau pertemuan esensi dirinya dengan
esensi Tuhan.56
c. Jejak Teori Insan Kamil Al-Jili di Nusantara
Insan Kamil (yang dipelopori oeh Al Jilli), tidak
diakui oleh kalangan tasawuf sunni meskipun sufi sunni juga
mengakui kedekatan manusia dengan Tuhannya, hanya saja
masih dalam batas- batas syariat yang tetap membedakan
manusia dengan Tuhan. Teori - teori tersebut lahir karena
kaum sufi falsafi mengakui " kebersatuan" itu, dengan alasan
bahwa manusia adalah manusia, sedangkan Tuhan adalah
Tuhan, yang tidak mungkin dapat bersatu antar keduanya.
Menurut mereka, manusia sebagai makhluk sempurna
merupakan pancaran atau turunan dari wujud sejati yang
menurunkan wujud - wujud-NYA dari alam rohani ke alam
materi dalam bentuk manifestasi wujud secara berurutan
(gradasi wujud, hierarki wujud). Proses penurunan wujud ini
dalam perbendaharaan sufi dinamakan dengan tanazzul, yang
dikenal melalui bentuk penyingkapan diri (tajalli), baik tajalli
dzati (ghaib) maupun tajalli syuhudi seperti yang
dikonsepsikan oleh Ibnu Arabi.
Konsep tanazil dan tajalli ini juga dapat ditemukan
dalam pemikiran Al Jilli. Menurutnya proses tanazzul berupa
tajalli Tuhan yang berlangsung secara terus - menerus pada
alam semesta terdiri atas lima martabat secara berturun -
turun yaitu uluhiyyah, ahadiyyah, wahidiyah, rahmaniyah,
rububiyah. Kelihatanya konsep seperti ini mirip dengan teori

56

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196509171990011-ACENG_KOSASIH/KO
NSEP_INSAN_KAML

98
Akhlak Tasawuf
emanasi dari Al Farabi.
Pada akhirnya kedua Konsep pemikiran tentang tanazzul tadi,
baik Ibn Arabi maupun Al Jilli memiliki pandangan yang
sama, yaitu bahwa manusia sebagai manifestasi Tuhan
merupakan akhir dari manifestasi-Nya dan sekaligus menjadi
titik tolak untuk mengenal dan kembali kepadaNya. Dengan
mengenali diri manusia maka Tuhan akan dikenal karena
segenap citraNya telah terangkum dalam dirri manusia itu
sendiri sebagai manusia sempurna (insan Kamil). Inilah yang
dimaksud dengan ungkapan yang banyak digunakan oleh
kaum sufi, "barang siapa yang mengeal dirinya maka ia akan
mengenal Tuhannya."
Selain penggambaran tanazzul yang telah disebutkan
diatas, terdapat penggambaran lain yang khas yang
digambarkan lewat dunia wujud atau alam - alam ('awalim)
wujud. Penggambaran tersebut dilihat dari sudut pandang
perwujudan dan diperoleh ma'rifat yang diistilahkan dengan
al hadharat (kehadiran - kehadiran), meliputi martabat asasi
bagi wujud alam semesta yang tersusun dari tajalli - tajalli.
Penggambaran yang dianggap paling sistematis dari al
hadharat, seperti yang disampaikan oleh Abu Thalib Al
Makki (wafat 368 H / 996 M) adalah Huhut (Esensi atau
realitas absolut), Lahut (realitas being yakni Tuhan atau
Pribadi Tuhan ), Jabaraut (alam malaikat), Malakut (alam
gaib) dan Nasut (alam manusia).
Teori - teori tentang tanazzul dan tajalli yang
dikemukakan para tokoh sufi falsafi diatas ternyata pada
perkembangan sejarahnya tersebar luas hampir keseluruh
dunia Islam seiring dengan tersebar dan berkembangnya
agama Islam ke seluruh pelosok dunia, termasuk ke
Indonesia. Adapun di Indonesia, teori tanazzul yang berdasar
pada konsep - konsep pemikiran Ibn Arabi dan Al Jilli itu
kemudian mengkristal menjadi konsep Martabat Tujuh.
Konsep ini merupakan tingkatan - tingkatan perwujudan
melalui tujuh tingkat martabat, yaitu ahadiyah, wahdah,
wahidiyah, alam arwah, alam mitsal, alam ajsam dan alam
insan.
Martabat - martabat ahadiyah, wahdah dan wahidiyah
disamakan juga dengan maratib al ilahi (jabatan - jabatan
Tuhan) . Pada Maratib Ilahi itu, martabat wahdah sebagai

99
Akhlak Tasawuf
perantara yang menghubungkan anatara ahdiyah dan
martabat wahidiyah yang tidak dikenal dalam teori - teori
tanazzul sebelumnya.
Martabat alam arwah, alam mitsal dan alam ajsam disebut
juga dengan maratib al kawni (jabatan - jabatan duniawi).
Sedangkan pada martabat insan terkumpul semua martabat
yang ada sebelumnya (al jami) dan dipandang sebagai
martabat yang sempurna. Oleh karena itu dalam martabat ini
terdapat insan kamil sebagai wadah tajalli Tuhan yang
sempurna.
Konsep Martabat Tujuh yang masih sangat terkait
dengan pemikiran Ibnu Arabi dan Al Jilli itu diterima dan
dikembangkan oleh para tokoh sufi dari berbagai daerah di
Indonesia, misalnya Syamsuddin As Sumatrani (dari Pasai
Aceh), Abd. Ra'uf As Sinkli (Singkil Aceh), Abd Shamad Al
Palimbani (Palembang - Sumatera Selatan), Abd. Muhyi
Pamijah (Jawa Barat), dan Muhammad Aidrus (Buton -
Sulawesi). Mereka mengembangkan pemikiran sufistik
Indonseia dengan wacana dan pendekatan tarekat - atrekat
yang menyertainya.

Pemikiran-pemikiran tasawuf fasafi diatas tidak lantas begitu saja


diterima oleh tokoh - tokoh tasawuf sunni. Golongan yang disebut
kedua ini bahkan menolak pemikiran - pemikiran tasawuf yang
filosofis karena menurut mereka hal itu akan membawa kerncedrungan
pantheisme. Dan ternyata ada tokoh yang mengklaim para penganut
martabat tujuh dan wujudiyah sebagai kufur atai zindik. Polemik di
anatar kedua kubu penganut tasawuf ini begitu mewarnai sejarah
perkembangan dan pemikiran tasawuf di Indonesia, sejalan dengan
proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia.
Berdasarkan hal diatas , perkembangan Islam di Indonesia sangat
terkait sejarah dan pemikirian tasawuf. Atau dengan kata lain
penyebaran Islam di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari tasawuf.
Bahkan " Islasm Pertama " yang dikernal di Nusantara ini
sesungguhnya adalah Islam yang disebarkan dengan sufistik. Para
penyebar Islam di Indonesia itu umunya pada Da'i yang memiliki
pengetahuan dan pengamalan tasawuf. Dianatar mereka juga banyak
yang menjadi pangamal dan penyebar tarekat di Indonesia.

100
Akhlak Tasawuf
C. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Insan Kamil
adalah manusia yang memiliki akal yang cerdas serta pandai dan
hatinya bertakwa kepada Tuhan. Kecerdasan akal maksudnya adalah
mampu menyelesaikan masalah secara ilmiah dan filosofis, memiliki
dan mengembangkan sains, memiliki dan mengembangkan filsafat.
Sedangkan hati yang takwa kepada Tuhan adalah hati yang sukarela
melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya serta
berkemampuan berhubungan dengan alam ghaib.
Insan Kamil adalah manusia yang sangat dekat dengan Tuhan,
begitu juga dengan makhluk. Manusia yang sempurna adalah manusia
yang berusaha dalam menyucikan dirinya dan menggapai ridha Tuhan.
Suatu upaya dalam meninggalkan sikap dan tempat-tempat yang
membuatnya lalai dan berpangku tangan, menuju sikap dan
tempat-tempat yang membuatnya selalu ingat dan beribadah.
Tahapan-tahapan jalan menuju Tuhan dapat dilalui dengan sukses jika
seorang muslim mampu menghilangkan segala kekejian dan perilaku
yang sia-sia. Ia menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dan
perilaku yang mengutamakan kesungguhan.
Menjadi Insan Kamil merupakan perjalanan jiwa. Tujuannya
adalah Tuhan. Bekalnya adalah akhlak mulia dan amal saleh. Tuhan
meluruskan jalan dan memberkati apa yang diperoleh, meski sedikit
jumlahnya. Itu karena Tuhan menjanjikan orang-orang yang
menghadap kepada-Nya dengan balasan yang lebih baik.
Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh
(balasan) yang lebih baik daripadanya (Q.S. An-Naml 27: 89).
Oleh sebab itu, ketergantungan akan pertolongan Tuhan harus
lebih berlipat ganda, karena ia sadar bahwa usahanya untuk selalu
mengingat Tuhan tidak bernilai apa-apa jika inayah Tuhan tidak
menyertainya.

101
Akhlak Tasawuf

BAB XIV
Tarekat

A. Pengertian Tarekat
B. Asal-usul Tarekat
C. Aliran-aliran Tarekat Dalam Islam
D. Pengaruh Tarekat Dalam Islam
E. Kesimpulan

102
Akhlak Tasawuf
A. Pengertian Tarekat
Asal kata tarekat dalam bahasa Arab ialah thariqah yang
berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu.Tarekat adalah
jalan yang ditempuh para sufi dan dapat digambarkan sebagai jalan
yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar,
sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata turunan ini menunjukkan
bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan
cabang dari jalan utama yang terdiri dari hokum Ilahi, tempat berpijak
bagi umat muslim. Tak mungkin ada anak jalan tanpa ada jaln utama
tempat berpangkal. Pengalamam mistik tak mungkin didapat bila
perintah syariat yang mengalir itu tidak ditaati terlebih dahulu.
Dalam perkembangan selanjutnya, kata thariqah menarik
perhatian kaum sufi dan mereka menjadikannya sebagai istilah khusus
yang mempunyai arti tertentu. Menurut L. Massignon, sebagai mana
dikutip oleh Aboe Bakar Atjeh, thariqah dikalangan sufi mempunyai
dua pengertian. Pertama, cara pendidikan akhlak dan jiwa bagi
mereka yang berminat menempuh hidup sufi. Arti seperti ini
dipergunakan kaum sufi pada abad ke-9 dan ke-10 M. Kedua, thariqah
berarti suatu gerakan yang lengkap untuk memberikan latihan-latihan
rohani dan jasmani dalan segolongan orang Islam menurut ajaran dan
keyakinan tertentu.
Selanjutnya, Aboe Bakar Atjeh menjelaskan bahwa pengertian
tarekat pertama diatas masih kabur. Pengertian seperti ini mungkin
digunakan untuk memperdalam syariat sampai hakikatnya melalui
tingkatan-tingkatan pendidikan tertentu, maqamat dan ahwal.
Sememntara itu, menurut pengertian kedua, tarekat sudah menjelma
menjadi suatu kekeluargaan yang didirikan menurut aturan dan
perjanjian tertentu.
Sememntara menurut Harun Nasution, tarekat berasal dari kata
tariqah, yaitu jalan yang harus ditempuh oleh seseorang calon sufi
dalam tujuannya berada sedekat mungkin dengan Allah. Tariqah
kemudian mengandung arti organisasi (tarekat). Tiap tareqat
mempunyai syekh, upacara ritual, dan bentuk dzikir sendiri.
Dr. Kamil Musthafa Asy-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan
tasawuf dan gerakan syiah mengungkapkan, tokoh pertama yang

103
Akhlak Tasawuf
memperkenalkan system thariqah ( tarekat ) adalah Syekh Abdul Qadir
Al-Jailani (w. 561 H / 1166 M) di Baghdad. Ajaran tareqahnya
menyebar keseluruh dunia Islam, yang mendapat sambutan luas di
Aljazair, Ghinia, dan Jawa. Adapun di Mesir tareqah yang abnyak
pengikutnya adalah Tarekat Rifaiyyah yang di bangun Sayyid Ahmad
Ar-Rifai. tempat ketiga ditempati tarekat ulama penyair kenamaan
Parsi, Jalal Ad-Din Ar-Rumi (w. 672 H /1273 M ). Beliau membuat
tradisi baru dengan menggunakan alat-alat music sebagai sarana dzikir.
Kemudian, system ini berkembang terus dan meluas. Dalam periode
berikutnya, muncul tareqat Asy-Syadziliyah yang mendapat sambutan
luas di Maroko dan Tunisia khususnya, dan dunia Islam bagian timur
pada umumnya.

B. Asal Usul Tarekat


Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan tarekat mana yang
mula-mula muncul sebagai suatu lembaga, sulit di ketahui dengan
pasti. Namun, Dr. Kamil Musthafa Asy-Syibi dalam tesisnya tentang
gerakan tasawuf dan syiah mengungkapkan, tokoh pertama yang
memperkenalkan tarekat adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (w.
561 H / 1166 M) di Baghdad, Sayyid Ahmad Ar-RifaI di Mesir
dengan tarekat Rifaiyyah, dan Jalal Ad-Din Ar-Rumi (w. 672 H / 1273
M) di Parsi.
Harun Nasution menyatakan bahwa setelah Al-Ghazali
menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tawasuf
berkembang di dunia Islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat.
Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar. Tarekat
memakai suatu tempat kegiatan yang disebut ribat ( disebut juga
zawiyyah, hangkah, atau pekir).
Menjelang abad ke-12 M ( ke-5 H), jalan-jalan ini mulai
menyediakan basis bagi kepengikutan yang lebih permanen, dan
tarekat-tarekaat sufi pun muncul sebagai organisasi sosial utama dalam
komunitas Islam. Di samping untuk pria, ada juga tarekat untuk wanita,
tetapi tidak berkembang dengan baik seperti tarekat untuk pria.

104
Akhlak Tasawuf
Pada awal kemunculannya, tarekat berkembang dari dua daerah,
yaitu Khurasa (Iran) dan Mesopotamia ( Irak ). Pada periode ini
mulai timbul beberapa tarekat, diantaranya :
Tarekat Yasafiyah Khawajagawiyah yang dipelopori oleh
Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani (w. 617 H / 1220 M),
Tarekat Naqsabandiyah, yang didirikan oleh Muhammad
Bahauddin An-Naqsabandi Al-Awisi Al-Bukhari (w. 1389 M )
di Turkistan,
Tarekat Khalwatiyah yang didirikan oleh Umar Al-Khaiwati
(w. 1397 M).
Di daerah Mesopotamia masih banyak tarekat yang muncul
dalam periode ini dan cukup terkenal, tetapi tidak termasuk rumpun
Al-Junaid. Tarekat-tarekat ini antara lain adalah :
Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh Muhy Ad-Din Abd
Al-Qadir Al-Jailani (1471 H / 1078 M ).
Tarekat Syadziliyah yang dinisbatkan kepada Nur Ad-Din
Ahmad Asy-Syadzili ( 593-656 H / 1196-1258 M).
Tarekat Rifaiyah yang didirikan oleh Ahmad bin Ali Ar-RifaI
(1106-1182).
Tarekat yang tergolong kepada grup Qadiriyah ini cukup banyak
dan tersebar ke seluruh negri Islam. Tarekat Faridiyah di Mesir yang
dinisbatkan kepada Umar bin Al-Farid (1234 M) yang kemudian
mengilhami tarekat Sanusiyah ( Muhammad bin Ali As-Sanusi,
1787-1859 M) melalui tarekat Idrisiyah (Ahmad bin Idris) di Afrika
Utara merupakan grup Qadiriyah yang masuk ke India melalui
Muhammad Al-Ghawath (1517 M) yang kemudian dikenal dengan
tarekat Al-Ghawthiyah atau Al-Mirajiyah dan di Turki dikembangkan
oleh Ismail Ar-Rumi (1041 H /1631 M).

C. Aliran-Aliran Tarekat dalam Islam


Di antara tarekat dalam Islam adalah sebagai berikut :
1. Tarekat Qadiriyah
Qadiriyah adalah nama tarekat yang diambil dari nama
pendirinya, Abd Al-Qadir Jailani, yang terkenal dengan sebutan
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (470/1077-561/1166) atau quthb

105
Akhlak Tasawuf
al-awaliya. Tarekat ini menempati posisi yang sangat penting
dalam sejarah spiritualitas Islam karena tidak saja sebagai pelopor
lahirnya organisasi tarekat, tetapi juga cikal bakal munculnya
berbagai cabang tarekat di dunia Islam. Di antara praktek tarekat
Qadiriyah adalah dzikir (terutama melantunkan asma Allah
berulang-ulang).
2. Tarekat Syadziliyah
Tarekat Syadziliyah tak dapat dilepaskan hubungannya
dengan pendirinya, yakni Abu Al-Hasan Asy-Syadzili
(593/1196-656/1258). Syadziliyzh menyebar luas di sebagai besar
Dunia Muslim. Ia diwakili di Afrika Utara terutama oleh
cabang-cabang Fasiyah dan Darqawiyah serta berkembang pesat
di Mesir, tempat 14 cabang dikenal secara resmi pada tahum
1985.
3. Tarekat Naqsabandiyah
Didirikan oleh Muhammad Baharuddin An-Naqsabandi
Al-Awisi Al-Bukhari (w. 1389 M) di Turkistan. Tarekat ini
pertama kali berdiri di Asia Tengah, kemudian meluas ke Turki,
Suriah, Afganistan, dan India. Dalam India dan Indonesia
dengan berbagai nama baru yang disesuaikan dengan nama
pendirinya di daerah tersebut.
Ciri menonjol tarekat Naqsabandiyah adalah : Pertama,
mengikuti syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang
menyebabkan penolakan terhadap music dan tari, dan lebih
menyukai berdzikir dalam hati. Kedua, upaya yang serius
dalammempengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan
penguasa serta mendekati Negara pada agama.
4. Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah
Didirikan oleh Ahmad Al-Yasafi (w. 562 H / 1169 M), dan
Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani (w. 617 H /1220 M).
5. Tarekat Khalwatiyah
Didirikan oleh Umar Al-Khalwati (w. 1397 M).
berkembang di berbagai negeri, seperti Turki, Syiria, Mesir, Hijaz,
dan Yaman.

106
Akhlak Tasawuf

6. Tarekat Syatariyah
Didirikan oleh Abdulah bin Syattar (w. 1485) dari India.
7. Tarekat Rifa
Rifaiyah
Didirikan oleh Ahmad bin Ali Ar-RifaI (1106-1182).
Tarekat Sunni ini memainkan peranan penting dalam
pelembagaan sufisme.
8. Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah
Didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim dan
mengajar di Mekkah pada pertengahan abad-19. Tarekat ini
merupakan yang paling berpengaruh dan tersebar meluas di jawa
saat ini.
9. Tarekat Sammaniyah
Didirikan oleh Muhammad bin Abd Al-Karim Al-Madani
Asy-SyafiI As-Samman (1130-1189/1718-1775).
10. Tarekat Tijaniyah
Didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani
(1150-1230 H/1737-1815 M) yang lahir di Ain Madi, Aljazair
Selatan dan meninggal di Fez, Maroko, dalam usia 80 tahun.
11. Tarekat Chistiyah
Didirikan oleh Khawajah Muin Ad-Din Hasan, yang lebih
poopuler dengan panggilan Muin Ad-Din Chisti di India.
12. Tarekat Mawlawiyah
Didirikan oleh Muhammad Jala Ad-Din Ar-Rumi (w.1273).
Mawlawiyah berasal dari kata mawlana (guru kami), yaitu gelar
yag diberikan murid0muridnya kepada Rumi.
13. Tarekat NiNimatullahi
Didirikan oleh Syekh Nimatullah Wali (lahir sekitar 1329
M).
14. Tarekat Sanusiyah
Didirikan oleh Sayyid Muhammad bin Ali As-Sanusi yang
biasa di panggil dengan SAnusi Agung (Lahir menurut satu
versi 22 Desember 1787).

107
Akhlak Tasawuf
Di samping tarekat-tarekat di atas, ada pula tarekat local yang
didirikan di Indonesia, di antaranya :
Tarekat-tarekat yang ajaran-ajarannya sesuai dengan doktrin
Islam (Al-Quran dan As-Sunnah) dikelompokkan kedalam tarekat
yang Muktabarah. Sebaliknya, tarekat-tarekat yang ajaran-ajarannya
bertentangan dengan doktrin Islam dikelompokkan ke dalam tarekat
Ghair Mutabarah.
Untuk menghindari adanya penyimpangan-penyimpangan
tersebut, dibentuklah suatu badan federasiyang bernama Pucuk
Pimpinan Jamiiyah Ahli Thoriqoh Mutabarah pada tahun 1957 yang
kemudian diubah namanya menjadi Jamiyah Thoriqoh Mutabarah
Nahdhiyyah pada tahun 1979. Dipimpin oleh Kyai-kyai ternama
seperti, Kyai Baidhawi, Kyai Masum, dan Kyai Hafizh.
Walaupun bermacam-macam, ternyata tarekat-tarekat yang
beragam itu memiliki kesamaan tertentu. Ada beberapa ciri yang
menyamakan, yaitu :
O Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi penganut
(murid), adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi
penganut, dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang
berat.
O Memakai pakaian khusus (setidaknya ada tanda pengenal).
O Menjalani riyadhah (latihan dasar) berkhalwat. Menyepi dan
berkonsentrasi dengan sholat dan puasa selama beberapa hari
(kadang-kadang sampai 40 hari).
O Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu-waktu
tertentu setiap hari, ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti
music dan gerak badan yang dapat memina konsentrasi ingatan.
O Mempercayai adanya kekuatan gaib atau tenaga dalam pada
mereka yang sudah terlatih, sehingga dapat berbuat hal-hal di luar
kebiasaan.
O Penghormatan dan penyerahan total kepada Syekh atau
pembantunya yang tidak bisa dibantah.

108
Akhlak Tasawuf
D. Pengaruh Tarekat dalam Islam
Dalam perkembangannya, tarekat-tarekat itu bukan hanya
memusatkan perhatian pada tasawuf ajaran-ajaran gurunya, tetapi juga
mengikuti kegiatan politik. Umpamanya tarekat Tijaniyah yang
dikenal dengan gerakan politik yang menentang penjajahan Perancis di
Afrika Utara. Sanusiyah menentang penjajahan Italia di Libia.
Ahmadiyah menentang orang-orang Salib yang datang ke Mesir. Jadi
sungguh pun mereka memusatkan perhatian kepada Akhirat, kalau
sudah ada pola dunianya, mereka ikut bergerak menyelamatkan umat
Islam dari bahaya yang menganacamnya.
Tarekat mempengaruhi dunia Islam mulai dari abad ke-13.
Kedudukan tarekat saat itu sama dengan parpol (Partai Politik).
Bahkan, tentara juga menjadi anggota tarekat. Penyokong tarekat
Bektashi, umpamanya, adalah tentara Turki. Oleh karena itu, ketika
atrekat itu dibubarkan oleh Sultan Mahmud 11, tentara Turki yang
disebut Jenissari menentangnya. Jadi, tarekat tidak hanya bergerak
dalam persoalan agama, tetapi juga bergerak dalam persoalan dunia
yang mereka pikirkan.
Tarekat-tarekat keagamaan meluaskan pengaruh dam
organisasinya keseluruh pelosok negeri, menguasai masyarakat
melalui suatu jenjang yang terancang dengan baik, dan memberikan
otonoi kedaerahan seluas-luasnya. Setiap desa atau kelomok desa ada
wali lokalnya yang didukung dan dimuliakan sepanjang hidupnya,
bahkan dipuja-puja dan diagung-agungkan setelah kematiannya.
Akan tetapi pada saat-saat itu terjadi penyelewengan di dalam
tarekat-tarekat. Penyelewengan ini antara lain terjadi dalam paham
wasilah, yakni paham yang menjelaskan bahwa , permohonan
seseorang tidak dapat dialamatkan langsung kepada Allah, tetapi harus
melalui guru, guru ke guru, demikian terus kepada Syekh,baru nisa
bertemu dengan Allah atau berhubungan dengan Allah. Inilah yang
ditentang oleh Muhammad Abd Al-Wahhab di Arabia karena paham
ini sudah membawa kepada paham sirik, yang dijumpai pada zaman
Jahiliyah karena Mannata, Lata, dan Uzza adalah perantara orang
Jahiliyah dengan Tuhan yang di basmi oleh Nabi Muhammad saw.

109
Akhlak Tasawuf
Disamping itu, tarekat pada umumnya hanya berorientasi akhirat,
tidak mementingkan dunia. Tarekat menganjurkan banyak ibadah dan
jangan mengikuti dunia ini karena Dunia ini adalah bangkai dan
mengejar dunia adalah anjing. Ajaran ini nampaknya
menyelewengkan umat Islam dari jalan yang harus ditempuhnya.
Demikian juga sifat tawakal, menunggu apa saja yang akan datang,
Qada dan Qadar yang sejan dengan paham Asyariyah. Para
pembaharu dalam dunia Islam melihat bahwa tarekat bukan hanya
mencemarkan paham tauhid, tetapi juga membawa kemunduran bagi
umat Islam. Bahkan, Schimmel menyatakan bahwa tarekat-tarekat sufi
yang muncul dari kebutuhan marohanikan Islam akhirnya jadi unsur
yang menyebabkan kemandegan orang-orang Islam.
Oleh karena itu pada abad ke-19 mulailah timbul pemikiran
yang sinis terhadap tarekat dan juga terhadap tasawuf. Banyak orang
menentang dan meninggalkan tarekat/tasawuf. Pada mulanya
Muhammad Abduh adalah pengikut tarekat yang patuh, tetapi setelah
bertemu Jamaluddin Al-Afghani, ia berubah pendirian dengan
meninggalkan tarekatnya dan mementingkan dunia ini, di samping
akhirat. Begitu juga, Rasyid Rida, setelah melihat bahwa tarekat
membawa kemunduran pada umat Islam, ia meninggalkan tarekat dan
memusatkan perhatiannya kepada bagaimana memajukan umat Islam.

E. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tarekat merupakan
jalan yang ditempuh para sufi dan dapat digambarkan sebagai jalan
yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar,
sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata turunan ini menunjukkan
bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan
cabang dari jalan utama yang terdiri dari hokum Ilahi, tempat berpijak
bagi umat muslim.
Tarekat bukan hanya memusatkan perhatiannya kepada tasawuf
tetapi juga mengikuti kegiatan politik. Tarekat juga ada
bermacam-macam dan tersebar diberbagai kota bahkan diseluruh
pelosok negeri. Begitu banyak aliran-aliran dari tarekat yang ada
dalam Islam antara lain tarekat Qadariyah, syadziliah, naqsabandiyah,

110
Akhlak Tasawuf
yasafiyah, khalwatiyah, syataria, rifaiyah, qadariyah wa
naqsabandiyah, sammaniyah,tijanniyah, chistiyah,mawlawiyah,
nimatulahi, dan sanasiyah.
Begitu banyak aliran dari tarekat namun dari kesemua itu pasti
menngarah pada ajaran islam yang hanya memustkan pada ibadah
kepada Allah SWT. Dan begitu besar dampak dari tarekat inin bagi
Islam, dengan dadanya tarekat ini akan memberi pengarahan
bagaimana beribadah keoadaNya dan senantiasa memajukan keimanan
dan ketaqwaan umat Islam.

111