Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI H UMUR 4 BULAN SEHAT DENGAN

KEBUTUHAN IIMUNISASI DPT,HB,HIB 3 + POLIO 4

DI PUSKESMAS PURWODADI II

GROBOGAN

LAPORAN ILMIAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Fisiologis Semester Empat yang

diampu oleh Erna Widyastuti, SSiT. M. Kes

Disusun Oleh:

EZA YAYANG

P1337424114012

REGULAR A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN SEMARANG

JURUSAN KEBIDANAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG

2016
KATA PENGANTAR

Dengan selesainya penulisan laporan ilmiah yang berjudul Asuhan Kebidanan


pada Bayi H Umur 4 Bulan Sehat dengan Kebutuhan Iimunisasi DPT,HB,HIB 3 + Polio 4
Di Puskesmas Purwodadi II, Grobogan, penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah
Swt atas rahmat-Nya. Penulisan laporan ilmiah ini merupakan salah satu tugas Praktik
Klinik Fisiologis Semester Tiga di Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang.
Dalam laporan ilmiah ini kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bidan Goenati, SST. Keb selaku Pembimbing Klinik
2. Ibu Erna Widyastuti, SSiT. M. Kes selaku Pembimbing Institusi
3. Keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung dalam segala hal.
4. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu
baik moral, maupun material terhadap penulisan laporan ilmiah Asuhan
Kebidanan pada Bayi H Umur 4 Bulan Sehat dengan Kebutuhan Iimunisasi
DPT,HB,HIB 3 + Polio 4 Di Puskesmas Purwodadi II, Grobogan, yang tidak dapat
penyusun sebutkan satu persatu.
Dalam penulisan laporan ilmiah ini tentu banyak kelemahan, sehingga penyusun
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk penyempurnaan penulisan
laporan ilmiah ini.

Grobogan, 6 Juni 2016

Praktikan

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ............................................................................ 2
BAB II TINJAUAN TEORI............................................................................ 4
A. Pengertian Bayi .............................................................................. 4
B. Pertumbuhan Bayi .......................................................................... 4
C. Fase Perkembangan Bayi ............................................................... 4
D. Cirri-Ciri Bayi Sehat ...................................................................... 6
E. Cirri-Ciri Bayi Sakit ....................................................................... 6
F. Kebutuhan Imunisasi Pada Anak .................................................... 6
BAB III TINJAUAN KASUS ........................................................................
BAB IV PEMBAHASAN .............................................................................. 12
A. Pengkajian ...................................................................................... 12
B. Analisa Data ................................................................................... 12
C. Penatalaksanaan ............................................................................. 12
BAB V PENUTUP .......................................................................................... 14
A. Kesimpulan...................................................................................... 14
B. Saran ............................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 15

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asuhan Kebidanan adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggungjawab
dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebtuhan masalah dalam
bidang kesehatan ibu hamil, masa persalinan, masa nifas, bayi setelah lahir serta
keluarga berencana (Depkes RI, 1999). Asuhan kebidanan pada neonatus, bayi, balita,
dan anak pra sekolah adalah asuhan yang diberikan kepada neonatus, bayi, balita, dan
anak pra sekolah yang memiliki kebutuhan atau masalah tentang kesehatannya. Asuhan
yang diberikan bertujuan untuk memantau perkembangan anak serta deteksi dini apabila
ada gangguan pertumbuhan maupun perkembangan, serta untuk menurunkan angka
kematian bayi dan balita.
Namun pada saat ini, tingginya Angka Kematian Bayi dan Balita di dunia masih
menjadi masalah yang cukup berat. World Health Organization (WHO) Pada tahun 2012
melaporkan bahwa setiap hari lebih dari 7200 bayi lahir mati, sebagian besar diantaranya
98% terjadi di negara negara berpendapatan rendah hingga sedang. Tetapi WHO
mencatat negara kaya tidak luput dari kasus ini, dengan catatan satu bayi mati dari 320
kelahiran. Data dari WHO mengatakan dua pertiga kasus atau 1,8 juta/tahun bayi lahir
mati ditemukan pada 10 negara, jumlah tertinggi ditemukan dikawasan Sub Sahara
afrika dan Asia Tenggara. Antara 25 % dan 40 % kasus angka lahir mati disebabkan
karena kelainan kongenital, infeksi, malnutrisi, hidrops non imun dan isoimunisasi anti-
Berdasarkan data dari Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012,
menunjukkan angka kematian bayi sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup, dan angka
kematian balita sebesar 40 per 100 kelahiran hidup. Pada tahun 2011 Angka Kematian
bayi (AKB) di Jawa Tengah sebesar 10,34/1000 KH. AKB tahun 2011 mengalami
penurunanan bila dibandingkan tahun sebelumnya, dimana AKB tahun 2010 yaitu
10,62/1000 KH. Dibandingkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs)
ke- 4 yaitu menurunkan angka kematian anak, tahun 2015 sebesar 17/1.000 kelahiran
hidup maka AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sudah cukup baik karena telah
melampaui target. Sedangkan target AKB yang harus dicapai tahun 2015 di Jawa Tengah
sendiri yaitu 8,5/1000 KH. Pencapaian target di Jawa tengah belum terpenuhi sehingga
perlu dilakukan upaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya. Upaya
yang paling efektif adalah dengan melakukan usaha pemeliharaan dan pengawasan
antenatal sedini mungkin, persalinan yang aman, serta perawatan yang baik (Dinkes
Jateng, 2013).
AKB di Kabupaten Semarang pada tahun 2011 yaitu 13,40/1000KH. AKB di
Kabupaten Semarang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dimana pada tahun
2010 AKB di kabupaten Semarang yitu 10,46/1000 KH. Berbagai faktor yang
menyebabkan peningkatan AKB di Kabupaten Semarang yaitu diantaranya kurangnya
pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Hal ini disebabkan kematian bayi

1
sangat dipengaruhi oleh pelayanan kesehatan, khususnya bayi baru lahir dengan kelainan
kongenital. Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan kelainan kongenital harus ditangani
secara cepat dan tepat dengan pelayanan kesehatan yang baik dan fasilitas kesehatan
yang memadai. Namun, apabila pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan kurang
merata akan berdampak pada kegagalan dalam penanganan bayi baru lahir dengan
kelainan kongenital yang dapat menyebabkan cacat seumur hidup bahkan kematian
(Dinkes Kabupaten Semarang, 2011).
Berdasarkan data-data di atas, maka masih sangat diperlukan asuhan kebidanan
yang lebi fokus dan memadai agar dapat memfasilitasi keseatan neonatus, bayi, balita,
dan anak pra sekola. Asuan kebidanan yang kompereensif juga arus dilaksanakan untuk
mewujudkan Millenium Deelopment Goals pada taun 2015, yaitu 17/1000 kelairan
hidup.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk membuat asuhan
yang komprehensif pada bayi untuk meminimalkan angka kesakitan maupun kematian
bayi, maka penulis membuat teori ilmiah dengaan judul Asuhan Kebidanan pada Bayi
H Umur 4 Bulan Sehat dengan Kebutuhan Iimunisasi DPT,HB,HIB 3 + Polio 4 Di
Puskesmas Purwodadi II, Grobogan.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas terdapat rumusan masalah sebagai berikut:
1 Apa pengertian bayi?
2 Bagaimana pertumbuhan bayi?
3 Apa saja fase perkembangan bayi?
4 Bagaimana cirri-ciri bayi sehat?
5 Bagaimana cirri-ciri bayi sakit?
6 Apa saja kebutuhan imunisasi pada anak?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Praktikan/ mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi dengan
kebutuhan imunisasi dengan menerapkan manajemen kebidanan.
2. Tujuan Khusus
a Praktikan atau mahasiswa dapat mengembangkan teori dan konsep yang
terkait bayi dengan kebutuhan imunisasi yang telah diperoleh di bangku
kuliah maupun di laboratorium dalam bentuk praktek.
b Praktikan dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah
kedalam proses asuhan kebidanan serta mendapatkan pengalaman dalam
melaksanakan asuhan kebidanan, penulis diharapkan mampu:
1) Melaksanakan pengkajian data
2) Mengidentifikasi diagnosa, masalah dan kebutuhan
3) Menentukan antisipasi masalah potensial
4) Mengidentifikasi kebutuhan segera
5) Menyusun rencana asuan kebidanan sesuai dengan prioritas masalah
6) Melaksanakan rencara asuhan sesuai dengan masalah
7) Mengevaluasi keefektifan asuhan kebidanan yang telah dilaksanakan.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Bayi
Masa bayi dimulai dari usia 0-12 bulan yag dtandai dengan perubahan dan
pertumbuhan fisik yang cepat disertai dengan perubahan dalam kebutuhan gizi
(Notoatmdjo, 2007). Slama periode ini bayi sepenuhnya bergantung pada perawata dan
pemberian makan oleh ibunya.
Nursalam, ddk (2005) mengatakan tahap pertumbuhan pada masa bayi dibagi
menjadi masa neonatus dengan usia 0-28 hari dan masa pasca neonatus dengan usia 29
hari- 12 bulan. Masa bayi merupakan bulan pertama kehidupa kritis, karena bayi akan
mengalami adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi darah, serta mulai
berfungsinya organ organ tubuh, dan pada pasca neonatus bayi akan mengalami
pertumbuhan yang sangat cepat (Peri dan Poter, 2005).

B. Pertumbuhan Bayi
Supariyasa, 2001 mengatakan bahwa pertumbuhan berkaita dngan perubahan
besar, jumah, ukuran, dan fungsi tingkat sel, organ maupun individu, yang diukur
dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, m), umur tulang
dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Pertumbuhan fisik
merupakan hal yang kuantitatif, yang dapat diukur. Indikator ukuran pertumbuhan
meliputi perubahan tinggi dan berat badan, gigi, struktur skelet, dan karakteristik
seksual (Peri dan Poter, 2005).
Pertumbuhan pada masa anak-anak mengalami perbedaan yang bervariasi sesua
dengan bertambahnya usia anak. Secara umum, perumbuhan fisik mulai dari arah
kepala ke kaki (sefakaudal). Kematangan pertumbuhan tubuh pada bagian kepala
berlangsung lebih dahulu kemudian secara berangsur-angsur diikuti oleh tubuh bangian
bawah. Selanjutnya, pertumbuhan bagian bawah akan bertambah secara teratur (Nur
Salam, dkk, 2005).
Hidayat (2008) menyatakan bahwa seseorang dikatakan mengalami
pertumbuhan bila terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik,
seperti berat badan, tinggi badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan,
lingkar dada, perubahan proporsi yang terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia
yang muncul mulai dari masa konsepsi sampai dewasa, terdapat ciri baru yang secara
perlahan mengikuti proses kematangan seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis
atau dada, hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama masa pertumbuhan seperti
hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks tertentu.

C. Fase Perkembangan Bayi


1. Fase Neonatus
Berat badan kira kira 3.5 kg Berat badan kira kira 3.5 kg Panjang 50 cm
Panjang 50 cm Kepala panjang badan Kepala panjang badan.
Kegiatan fase ini dibagi menjadi dua antara lain, Kegiatan menyeluruh
dimana

3
Kegiatan menyangkut kegiatan umum seluruh tubuh. Kegiatan khusus dimana
menyangkut Kegiatan reflek.
Vocalisasi pada fase neonatus dimulai dengan menangis. Suara yang
menyerupai pernapasan yang Suara yang menyerupai pernapasan yang berat,
kemudian berubah menjadi ocehan.
2. Fase Bayi
a. Perkembangan Fisik Fase Bayi
Pertumbuhan cepat pada tahun pertama, bayi laki / perempuan sama,
pertumbuhan gigi pertumbuhan otak dan organ keindraan tumbuh cepat, fase
fisologis mulai terbentuk, perkembangan penguasaan otot otot.
b. Perkembangan Inteligensi
Fungsi inteligensia mulai tampak dari gerak dan tingkah lakunya. Dapat
mengenal obyek disekitarnya Anak yang cerdas menunjukkan Anak yang
cerdas menunjukkan kegiatan yang serasi , lancar dan koordinasi.
c. Perkembangan Emosi
Usia 0-8 minggu dikuasai oleh emosi, usia 8 minggu-1 tahun perasaan
pskisis mulai berkembang mulai berkembang, usia 1-3 sudah mulai terarah,
perkembangan bahasa mulai terarah, perkembangan bahasa mulai sejajar,
bersifat labil, mudah dipengaruhi sejajar, bersifat labil, mudah dipengaruhi
(tersulut).
d. Perkembangan Bahasa Perkembangan Bahasa
Ada tiga bentuk Prabahasa Menangis, Mengoceh, Isyarat
e. Perkembangan bermain
Bermain menimbulkan kesenangan dimulai dari bentuk yang paling
sederhana dan bebas, pada tahun ke dua permainan sudah teratur bentuknya.
f. Perkembangan pengertian
Pada permulaan hidupnya bayi tidak mengetahu tentang apa yang ada di
lingkungannya, dia memperoleh dari apa yang diamati melalui kematangan
dan belajar.
g. Perkembangan kepribadian
Bersifat egosentris dan masih bersifat naluri.
h. Perkembangan moral
i. Belum mengetahui baik dan buruk pada saat dilahirkan. Perlu ditanamkan
konsep moral seperti pujian dan hukuman.

D. Ciri-Ciri Bayi Sehat


1. Bergerak aktif, di mana gerakannya itu melibatkan tubuh, kepala, kaki, dan tangan
secara seimbang.
2. Cukup "rakus" mengisap ASI.
3. Suka tersenyum dan tertawa saat diajak bicara.

4. Bayi menangis dengan keras dan nyaring.

5. Warna kulit kemerahan, dari muka, bibir, hingga tangan dan bagian kaki

6. Lengan dan tungkai bergerak aktif, tangan mengepal dan menekuk di siku, tungkai
setengah tekuk di sendi paha dan lutut.

4
7. Napas bayi teratur dan tenang, dinding dada dan dinding perut bergerak teratur

8. Semua anggota badan lengkap sempurna, dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Tak terkecuali lubang mulut, lubang dubur dan pusar.

9. Tinja pada hari pertama sampai ke-7 berwarna hijau, hari berikutnya berubah jadi
kuning.

10. Sedangkan warna urin jernih atau kekuningan.

11. Warna putih mata tetap putih, tidak kuning.

12. jika di usia 4 minggu dinilai semua fungsi tubuh baik, berarti normal.

E. Ciri-Ciri Bayi Sakit


Awalnya terlihat:
1. Lemah dan lemas
2. Malas bergerak
3. Malas menyusu
4. Lebih banyak tidur ketimbang biasanya
5. Matanya redup dan tidak bercahaya
6. susah ditenangkan
Tak lama kemudian, gejala bayi sakit akan terlihat lebih jelas, seperti:
1. Tangan dan kaki dingin, atau sebaliknya bayi demam
2. Munculnya tanda-tanda lain sesuai jenis penyakitnya:
3. Flu: hidungnya berair atau tersumbat
4. Infeksi tenggorokan: batuk-batuk dan kadang disertai muntah
5. Terpapar kuman di pencernaan: buang air besar terus-menerus dan kadang disertai
muntah

F. Kebutuhan Imunisasi pada Anak


1. Pengertian Imunisasi
Imunisasi / pengebalan adalah suatu usaha untuk membuat seseorang menjadi kebal
terhadap penyakit tertentu dengan menyuntikan vaksin.
Vaksin adalah kuman hidup yang dilemahkan atau kuman mati atau zat yang bila
dimasukkan ke tubuh menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.

2. Tujuan Imunisasi
Imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit :
a Poliomyelitis (kelumpuhan).
b Campak (measles)
c Difteri (indrak)
d Pertusis (batuk rejan / batuk seratus hari)
e Tetanus
f Tuberculosis (TBC)
g Hepatitis B
Dan untuk mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh
wabah yang sering berjangkit,

3. Manfaat
a Manfaat untuk anak
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat
atau kematian.
b Manfaat untuk keluarga

5
Menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit. Mendorong
keluarga kecil apabila si orang tua yakin bahwa anak-anak akan menjalani masa
kanak-kanak dengan aman.
c Manfaat untuk Negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal
untuk melanjutkan pembangunan negara dan memperbaiki citra bangsa
Indonesia diantara segenap bangsa didunia.

4. Macam Vaksin dan Cara Pemberian


a Vaksin Polio
Bibit penyakit yang menyebabkan polio adalah virus, vaksin yang digunakan
oleh banyak negara termasuk Indonesia adalah vaksin hidup (yang telah
diselamatkan) vaksin berbentuk cairan. Kemasan sebanyak 1 cc / 2 cc dalam 1
ampul.
b Vaksin Campak
Bibit penyakit yang menyebabkan campak adalah virus. Vaksin yang digunakan
adalah vaksin hidup. Kemasan dalam flacon berbentuk gumpalan yang beku
dan kering untuk dilarutkan dalam 5 cc pelarut. Sebelum menyuntikkan vaksin
ini, harus terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut vaksin (aqua bidest).
Disebut beku kering oleh karena pabrik pembuatan vaksin ini pertama kali
membekukan vaksin tersebut kemudian mengeringkannya. Vaksin yang telah
dilarutkan potensinya cepat menurun dan hanya bertahan selama 8 jam.

c Vaksin BCG
Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berasal dari bakteri atau vaksin beku
kering seperti campak berbentuk bubuk.
Vaksin BCG melindungi anak terhadap penyakit tuberculosis (TBC).
Dibuat dari bibit penyakit hidup yang telah dilemahkan, ditemukan oleh
Calmett Guerint. Sebelum menyuntikkan BCG, vaksin harus lebih dulu
dilarutkan dengan 4 cc cairan pelarut (NaCl 0,9%). Vaksin yang sudah
dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam. Vaksin akan mudah rusak bila
kena sinar matahari langsung. Tempat penyuntikan adalah sepertinya bagian
lengan kanan atas.
d Vaksin Hepatitis B
Bibit penyakit yang menyebabkan hepatitis B adalah virus. Vaksin hepatitis B
dibuat dari bagian virus yaitu lapisan paling luar (mantel virus) yang telah
mengalami proses pemurnian. Vaksin hepatitis B akan rusak karena pembekuan
dan pemanasan. Vaksin hepatitis B paling baik disimpan pada temperatur 2,8C.
e Vaksin DPT, TT, dan DT
Terdiri toxoid difteri, baketi pertusis dan tetanus toxoid, kadang disebut triple
vaksin. Vaksin DPT disimpan pada suhu 2,8C kemasan yang digunakan :
- 5 cc untuk DPT
-5 cc untuk TT
-5 cc untuk DT
Pemberian imunisasi DPT, DT, TT dosisnya adalah 0,5 cc.
f Vaksin toxoid difteri
Vaksin ini merupakan bagian dari DPT atau DT, difteri disebabkan oleh bakteri
yang memproduksi racun, vaksin terbuat dari toxoid yaitu racun difteri yang

6
telah dilemahkan. Vaksin difteri akan rusak jika dibekukan dan juga akan rusak
oleh panas.
g Vaksin pertussis
Merupakan bagian dari vaksin DPT, penyebab penyakit pertusis adalah bakteri
vaksin dibuat dari bakteri yang telah dimatikan, akan mudah rusak, bila kena
panas, sama seperti vaksin BCG, dalam vaksin DPT komponen pertusis
merupakan vaksin yang paling mudah rusak.
h Vaksin tetanus
Vaksin ini merupakan bagian dari vaksin DPT, DT atau sebagai tetanus toxoid
(TT). Tetanus disebabkan oleh bakteri yang memproduksi toxin. Vaksin terbuat
dari toxin tetanus yang telah dilemahkan, tetanus toxoid akan rusak bila
dibekukan dan akan rusak bila kena panas.

5. Kontra Indikasi Pemberian Vaksin


a BCG : Sakit kulit (luka) di tempat suntikan
b DPT 1 : Panas lebih dari 38C, riwayat kejang demam
c DPT 2,33 : Reaksi berlebihan setelah imunisasi DPT (misalnya suhu tinggi
dengan kejang, penurunan kesadaran, shock).
d DT : Tidak ada
e TT : Tidak ada
f Polio : Diare
g Campak : Riwayat kejang demam, panas lebih dari 38C
h Hepatitis B :Tidak ada

6. Penyimpanan Vaksin, Masa Simpan dan Suhu


Vaksin Di Prov dengan Di prov dengan listrik Di Puskesmas
listrik sampai sampai 2 bulan dengan listrik sampai
3bulan 1 bln
Polio oral campak
- 20C sampai 25C + 2C sampai +8C
DPT
DT
+2C sampai +
BCG +2C sampai +8C
8C
TT
Hep. B

7. Dosis, Jumlah dan Waktu Pemberian Serta Efek Samping


a BCG
Umur : 0 2 bln
Dosis : 0,05 cc
Cara : Intrakutan, lengan kanan
Jumlah suntikan : Satu kali
Efek samping:
1) Reaksi normal
Bakteri BCG ditubuh bekerja dengan sangat lambat. Setelah 2 minggu akan
terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan garis
tengah 10 mm.
Setelah 2 3 minggu kemudian, pembengkakan menjadi abses kecil
yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 mm, jangan berikan
obat apapun pada luka dan biarkan terbuka atau bila akan ditutup gunakan

7
kasa kering. Luka tersebut akan sembuh dan meninggalkan jaringan parut
tengah 3-7 mm.
2) Reaksi berat
Kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses
yang lebih dalam, kadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar limfe
pada leher / ketiak, hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan yang terlalu
dalam dan dosis yang terlalu tinggi.
3) Reaksi yang lebih cepat
Jika anak sudah mempunyai kekebalan terhadap TBC, proses
pembengkakan mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu, ini berarti anak
tersebut sudah mendapat imunisasi BCG atau kemungkinan anak tersebut
telah terinfeksi BCG.

b DPT, HB, HIB


Umur : 2 11 bln
Dosis : 0,5 cc
Cara : IM / SC, jumlah suntikan : 3 x
Selang pemberian: Minimal 4 minggu
Efek samping :
1) Panas
Kebanyakan anak akan menderita panas pada sore hari setelah mendapat
imunisasi DPT, tapi panas ini akan sembuh 1 2 hari. Anjurkan agar jangan
dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan dengan cara melap dengan air
yang dicelupkan ke air hangat.
2) Rasa sakit di daerah suntikan
Sebagian anak merasa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak.
3) Peradangan
Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin
disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak
steril karena :
- Jumlah tersentuh
- Sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas tempat yang tidak
steril.
- Sterilisasi kurang lama.
- Pencemaran oleh kuman.
4) Kejang-kejang
Reaksi yang jarang terjadi sebaliknya diketahui petugas reaksi
disebabkan oleh komponen dari vaksin DPT.
c Polio
Umur : 0 11 bln
Dosis : 2 tetes
Cara : Meneteskan ke dalam mulut
Selang waktu : Berikan 4 x dengan jarak minimal 4 minggu.
Efek samping : Bila anak sedang diare ada kemungkinan vaksin tidak
bekerja dengan baik karena ada gangguan penyerapan vaksin oleh usus akibat
diare berat.
d Hepatitis B
Umur : Mulai umur 0-11 bulan
Dosis : 0, 5 cc / pemberian
Cara : Suntikan IM pada paha bagian luar

8
Jumlah suntikan : 3 x
Selang pemberian : 3 dosis dengan jarak suntikan 1 bulan dan 5 bulan.
Efek samping : tidak ada

e Campak
Umur : 9-11 bulan.
Dosis : 0, 5 cc
Cara : Suntikan secara IM di lengan kiri atas
Jumlah suntikan : 1 x diberikan pada usia 9 bulan
Efek samping vaksin campak : panas dan kemerahan.
Anak-anak mungkin panas selama 1 3 hari setelah 1 minggu
penyuntikan, kadang disertai kemerahan seperti penderita campak ringan.

8. Jadwal Pemberian Imunisasi

Pemberian
Vaksin Selang Waktu Umur
Imunisasi

BCG 1x 0 2 bulan
DPT 3 x (1, 2, 3) 4 mgg 2 11 bulan
Polio 4x (1, 2, 3, 4) 4 mgg 0 11 bulan
Campak 1x 9 11 bulan
Hep. B 3 x (1, 2, 3) 4 mgg 0 11 bulan

9
BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis mengkaji, menganalisa dan melakukan asuhan di lapangan, penulis akan
membandingkan antara teori dengan praktik yang penulis dapatkan di lapangan, maka
penulis mengemukakan sebagai berikut:
A. Pengkajian
Penulis melakukan pengkajian baik dengan melakukan anamnesa kepada ibu dan
pemeriksaan klinik untuk mendapatkan data yang lengkap. Pengkajian dilakukan
dengan alloanamnesa dan melakukan pemeriksaan fisik meliputi pengukuran
antopometri dan status present. Pengkajian yang dilakukan tidak sama dengan
pengkajian dalam teori diakibatkan karena waktu yang terbatas dan banyaknya
imunisasi. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan penulis, dapat ditemukan
bahwa bayi H merupakan bayi sehat. Hal tersebut dapat diketahui melalui tanda-tanda:
1. Bergerak aktif, dimana gerakannya melibatkan tubuh, kepala, kaki dan tangan
secara seimbang.
2. Hisapan ASI sangat kuat
3. Warna kulit kemerahan, lengan dan tungkai bergerak aktif, napas bayi teratur dan
tenang, dan semua anggota badan lengkap semua.

B. Analisa
Analisa data ditegakkan sesuai hasil pengkajian secara menyeluruh baik subyektif
maupun obyektif agar analisanya pun tepat.
Pada kasus ini dapat ditegakkan diagnosa kebidanan yaitu By. H umur 4 bulan dengan
imunisasi DPT/ HB 3 + Polio 4

C. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan bayi
dengan kebutuhan imunisasi DPT/ HB 3 + Polio 4 yaitu:
1. Memberitahukan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan yang dilakukan
H : Ibu mengerti bahwa kondisi ankanya saat ini dalam kondisi sehat
2. Memebritahuibu fungsi imunisasi DPT,HB,HIB untuk kekebalan penyakit difteri,
pertusis, tetanus, hepatitis b sedangkan polio untuk mencegah penyakit polio
(kelumpuhan)
H : ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan
3. Menyuntikkan DPT, HB, HIB (0,5 ml,secara IM, pada anterolateral paha atas)
dan polio secara oralo sebanyak 2 tetes.
H : bayi telah mendappatkan imunisasi DPT, HB, HIB 3 dan Polio 4
4. Menjelaskan KIPI meliputi efek samping dari imunisasi DPT, HB, HIB yaitu
demam kurang lebih 2 hari, nyeri pada tempat suntikan, bengkak dan kemerahan,
sedangkan polio jarang ditemukan efek samping
H : ibu sudah mengerti dan tidak khawatir jika anak panas.
5. Menganjurkan pada ibu untuk tetap memebrikan ASI eksklusif dapa anak sampai
usia 6 bulan
H : ibu bersedia untuk memeberikan ASI eksklusif selama 6 bulan
6. Memberikan terapi obat penurun panas, yaitu paracetamol diminum 3 x 1/6 tablet.
H : ibu sudah menerima obat paracetamol
7. Menganjurkan ibu untuk mengimunisasikan bayinya pada usia 9 bulan untuk
mendapatkan imunisasi campak.

10
H : ibu bersedia untuk mengimunisasikan anaknya
8. Menganjurkan ibu untuk membawa anaknya ketenaga kesehatan apabila demam
lebih dari 2 hari tidak kunjung mereda.
Dari penetalaksanaan diatas, penulis tidak menemukan kesenjangan dalam
memberikan asuhan pada bayi karena tindakan yang dilakukan pada bayi sesuai
dengan tinjauan teori.

11
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Vaksin DPT-HB-Hib digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus,
pertusis (batuk rejan), hepatitis B, dan infeksi Haemophilus influenzae tipe b
secara simultan.
2. Cara kerjanya yaitu dengan Merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap
difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, dan Haemophilus influenza tipe b.
3. Cara penyuntikan, Vaksin harus disuntikkan secara intramuskular. Penyuntikan
sebaiknya dilakukan pada anterolateral paha atas. Penyuntikan pada bagian
bokong anak dapat menyebabkan luka saraf siatik dan tidak dianjurkan. Suntikan
tidak boleh diberikan ke dalam kulit karena dapat meningkatkan reaksi lokal. Satu
dosis anak adalah 0,5 mL.

B. Saran
1. Bagi tenaga kesehatan
Diharapkan dapat mempertahankan pelayanan yang diberikan. Pentingnya bagi
tenaga kesehatan untuk mengetahui tentang kebutuhan imunisasi DPT HB HIB
dengan Polio dan perbedaan dan perubahan yang terjadi setelah pemebrian
imunisasi. Pentingnya tenaga kesehatan untuk meningkatkan ketrampilan dalam
memberikan asuhan kepada bayi dengan kebutuhan imunisasi
2. Bagi klien dan keluarga
Kerja sama klien dan keluarga lebih di tingkatkan sehingga menghasilkan asuhan
kebidanan yang berkualitas dan abayi mendapatkan imunisasi dasar lengkap tepat
waktu.
3. Bagi mahasiswa
Perbanyak mengambil pengalaman di lahan agar dapat menambah wawasan
dalam melakukan asuhan kebidanan khususnya tentang umunisasi dasar anak.

12
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2005. Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga. Tanpa kota:
Tanpa Penerbid.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: EGC.
Khoirunnisa, Endang dkk. 2010. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Anak, Balita.
Yogyakarta: Noha Medika.
Saragih, Damaria. 2010. Panuan Praktik Keperawatan Bayi dan Anak. Yogyakarta:
Citra Aji Pramana.

13