Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini kita selalu dituntut untuk selalu menerapkan prinsip hidup hemat karena saat
ini semuan kebutuhan serba mahal. Baik kebutuhan primer maupun sekunder semuanya
semakin mahal. Listrik juga merupakan kebutuhan primer selain pangan, sandang dan papan
karena listrik tidak dapat dipisahkan dari sebagian besar kehidupan manusia. Daya listrik
yang terpasang pada pelanggan PLN cukup beragam, mulai dari 450 watt, 900 watt hingga
1300 watt atau lebih. Perbedaan akan penggunaan daya listrik tersebut mengakibatkan
perbedaan tarif yang berlaku bagi pelanggan.

Dari bermacam-macam tarif listrik serta dimungkinkan adanya kenaikan harga tarif
dasar listrik, kita sebagai pelanggan harus lebih meningkatkan pemantauan terhadap
penggunaan listrik rumah kita agar dalam penggunaannya hemat dan tepat guna. Untuk
mengatasi keadaan-keadaan tersebut maka dibuat Alat Pencatat & Penyimpan Data Stand
Akhir pada KWH Meter Pelanggan dengan Media Bluetooth. Dengan dibuatnya alat ini
pelanggan dapat memantau jumlah pemakaian energi listrik secara real time sehingga
pelanggan dapat mengambil langkah-langkah efisiensi (Penghematanterhadap pemakaian
energi listrik rumahnya).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah, yaitu


sebagai berikut:

1. Bagaimana Bentuk dan bagian dari LCR meter?


2. Bagaimana Procedure pengukuran dengan LCR meter?
3. Bagaimanan bentuk Analisis Data ?

1
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebai berikut
1. Mengetahui Bentuk dan bagian dari LCR meter.
2. Mengetahui Procedure pengukuran dengan LCR meter .
3. Mengetahui bentuk Analisis Data.

BAB II
TEORI DASAR

LCR Meter adalah sebuah perangkat elektronik yang digunakan untuk mengukur
induktansi (L), kapasitansi(C), dan resistansi(R) dari suatu komponen.

A. Induktansi (L)

Induktansi merupakan sifat sebuah rangkaian listrik atau komponen yang

2
menyebabkan timbulnya ggl di dalam rangkaian sebagai akibat perubahan arus yang
melewati rangkaian (self inductance) atau akibat perubahan arus yang melewati
rangkaian tetangga yang dihubungkan secara magnetis (induktansi bersama atau mutual
inductance). Pada kedua keadaan tersebut, perubahan arus berarti ada perubahan medan
magnetik, yang kemudian menghasilkan ggl. Apabila sebuah kumparan dialiri arus, di
dalam kumparan tersebut akan timbul medan magnetik. Selanjutnya, apabila arus yang
mengalir besarnya berubahubah terhadap waktu akan menghasilkan fluks magnetik
yang berubah terhadap waktu. Perubahan fluks magnetik ini dapat menginduksi
rangkaian itu sendiri, sehingga di dalamnya timbul ggl induksi. Ggl induksi yang
diakibatkan oleh perubahan fluks magnetik sendiri dinamakan ggl induksi dir. (Giancoli,
D. C, 2001)

B. Kapasitansi (C)

Kapasitansi didefenisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk dapat


menampung muatan elektron. Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb
= 6.25 x 1018 elektron. Kemudian Michael Faraday membuat postulat bahwa sebuah
kapasitor akan memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat
memuat muatan elektron sebanyak 1 coulombs. Dengan rumus dapat ditulis :

Q = CV

Dimana :
Q = muatan elektron dalam C (coulombs)
C = nilai kapasitansi dalam F (farads)
V = besar tegangan dalam V (volt)

Dalam praktek pembuatan kapasitor, kapasitansi dihitung dengan mengetahui luas


area plat metal (A), jarak (t) antara kedua plat metal (tebal dielektrik) dan konstanta (k)
bahan dielektrik. Dengan rumusan dapat ditulis sebagai berikut :

C = (8.85 x 10-12) (k A/t)

(Giancoli, D. C. 2001)

3
C. Resistansi (R)

Resistensi adalah kemampuan suatu benda untuk menahan aliran arus listrik.
Dalam suatu sirkuit, arus listrik dari power suplay tidak sepenuhnya dapat digunakan
secara bebas. Terkadang arus listrik tersebut harus di hambat untuk memperoleh efek
tertentu pada sirkuit. Dalam suatu hambatan atom-atom nya akan bertumbukan dengan
elektron-elektron sehingga laju dan kecepatan elektron menjadi berkurang. Karena kuat
arus biasanya di hitung berdasarkan banyak dan kecepatan elektronnya, maka ketika
jumlah elekron dan kecepatannya berkurang otomatis berkurang pula kekuatan arus
yang mengalir dalam suatu hambatan.

Setiap Konduktor mempunyai hambatan. Ketebalan suatu konduktor menentukan


besar-kecilnya hambatan yang dimilikinya. Konduktor yang tebal memiliki hambatan
yang kecil. Kawat yang tebal mempunyai penampang lintang yang lebih lebar, sehingga
mengandung lebih banyak elektron. Sebaliknya, konduktor yang panjang, memiliki
hambatan yang besar. Ini dikarenakan semakin panjang suatu konduktor semakin
banyak pula atom-atom yang akan menghadang gerak elektron bebasnya sehingga arus
listrik yang dialirkan akan berkurang.Alat yang digunakan untuk menghambat arus
listrik disebut resistor. Resistor adalah komponen didalam sirkuit listrik yang berfungsi
untuk menahan arus dalam jumlah tertentu. Satuan hambatan atau resistensi dinyatakan
dengan Ohm. (Tipler, Paul A, 2001)

D. Impedansi

Impedansi (disebut juga hambatan dalam, Z) adalah nilai resistansi yang terukur
pada kutub kutub sinyal jack alat elektronik. Semakin besar hambatan/impedansi, makin
besar tegangan yang dibutuhkan. Impedansi tidak dapat dikatan sebagai hambatan
secara spontan. Karena terdapat perbedaan yang mendasar dari keduanya. Beberapa
sumber mengatakan bahwa impedansi merupakan hasil reaksi hambatan (R, resistensi)
dan kapasitas elektron (C, capacitance) secara bersamaan. Daya merupakan tegangan
4
kuadratnya dibagi impedansnya:

P = V2 / Z

P = daya (watt)

V = tegangan (volt)

Z = impedans (ohm)

Impedansi listrik, atau lebih sering disebut impedansi, menjelaskan ukuran


penolakan terhadap arus bolak-balik sinusoidal. Impedansi listrik memperluas konsep
resistansi listrik ke sirkuit AC, menjelaskan tidak hanya amplitudo relatif dari tegangan
dan arus, tetapi juga fase relatif. Bila sebuah beban diberi tegangan, impedansi dari
beban tersebut akan menentukan besar arus dan sudut fase yang mengalir pada beban
tersebut. Faktor daya merupakan petunjuk yang menyatakan sifat suatu beban.

Impedansi Rangkaian Seri R & L : Z = R2 + XL2

Impedansi Rangkaian Seri R & C : Z = R2 + XC2

Impedansi Rangkaian Seri R L & C : Z = R2 + ( XL XC ) 2

(Tipler, Paul A, 2001)

E. Bahan Dielektrik

Dielektrik adalah suatu bahan yang memiliki daya hantar arus yang sangat kecil
atau bahkan hampir tidak ada. Bahan dielektrik dapat berwujud padat, cair dan
gas.Tidak seperti konduktor, pada bahan dielektrik tidak terdapat elektron-elektron
konduksi yang bebas bergerak di seluruh bahan oleh pengaruh medan listrik. Medan
listrik tidak akan menghasilkan pergerakan muatan dalam bahan dielektrik. Sifat inilah
yang menyebabkan bahan dielektrik itu merupakan isolator yang baik.Dalam bahan
dielektrik, semua elektron-elektron terikat dengan kuat pada intinya sehingga terbentuk
suatu struktur regangan (lattices) benda padat, atau dalam hal cairan atau gas, bagian-
bagian positif dan negatifnya terikat bersama-sama sehingga tiap aliran massa tidak
merupakan perpindahan dari muatan. Karena itu, jika suatu dielektrik diberi muatan
listrik, muatan ini akan tinggal terlokalisir di daerah di mana muatan tadi
ditempatkan.Masing-masing jenis dielektrik memiliki fungsi dan fungsi yang paling

5
penting dari suatu isolasi adalah:

1. Untuk mengisolasi antara penghantar dengan pengahantar yang lain.


Misalnya antara konduktor fasa dengan konduktor fasa, atau konduktor fasa
dengan tanah.

2. Menahan gaya mekanis akibat adanya arus pada konduktor yang diisolasi.

3. Mampu menahan tekanan yang diakibatkan panas dan reaksi kimia.

Agar dielektrik mampu menjalanakan tugasnya dengan baik maka dielektrik harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Mempunyai kekuatan dielektrik yang tinggi, agar dimensi sistem isolasi


menjadi kecil dan pengunaan bahan dielektrik semakin sedikit, sehingga
harganya semakin murah.

2. Rugi-rugi dielektrik yang rendah, agar suhu bahan isolasi tidak melebihi
batasyang ditentukan.

3. Memiliki kekuatan kerak tinggi, agar tidak terjadi erosi karena tekanan
elektrik permukaan.

4. Memiliki konstanta dielektrik yang tepat dan cocok, sehingga membuat arus
pemuatan tidak melebihi yang diijinkan.

5. Kemampuan menahan panas tinggi (daya tahan panas).

6. Kerentanan terhadap perubahan bentuk pada keadaan panas.

7. Konduktivitas panas yang tinggi.

8. Koefisien muai panas yang rendah.

9. Tidak mudah terbakar.

10. Tahan terhadap busur api.

11. daya serap air yang rendah.

6
Tetapi dalam prakteknya tidak ada dielektrik yang mampu memenuhi semua
syarat-syarat diatas. Sehingga diperlukan kompromi tentang sifat-sifat apa saja yang
lebih diutamakan. (Tipler, Paul A, 2001)

BAB III
PEMBAHASAN

A. Bentuk dan bagian LCR Meter

LCR Meter adalah sebuah perangkat elektronik yang digunakan untuk mengukur
induktansi (L), kapasitansi(C), dan resistansi(R) dari suatu komponen. Sebenarnya
prinsip kerja dari alat ini kuantitas nilai sebenarnya dari beberapa jenis pengukuran tidak
diukur melainkan yang diukur adalah impedansi, impedansi diukur secara internal dan
dikonversikan ke layar penampil pengukuran yang dikonversikan ke kapasitansi atau nilai

induktansi yang sesuai.

Pembacaan akan cukup akurat jika kapasitor atau induktor perangkat yang diuji
tidak memiliki impedansi komponen resistif yang signifikan. Selain itu alat ini dapat
digunakan untuk pengukuran induktansi atau kapasitansi, dan juga resistansi seri yang
sama dari kapasitor dan faktor Q dari komponen induktif.

7
Gambar LCR Meter dengan tipe 9063

Bagian dari LCR Meter


1.Display
2.Power on/off switch
3.L/C/R selwct switch
4.Measuring Input

8
Gambar LCR Meter AT826

Bagian dari LCR Meter


1.Display 11.Hold Button
2.Power Adaptor Socket 12.RS232 Port
3.Frekuensi Button 13.L/R/C Button
4.Button 14.Enter Button
5.Cal Button 15.SER/PAR Button
6.Backlight Button 16.Sort Button
7.D/Q/E button 17.Setup Button
8.Rel/%/Button 18.Power Button
9.Input terminal(pin terminal) 19.Stand
10.Input Terminal(banana terminal) 20.Battery Compartment

Gambar LCR Meter tipe E4980A


(Zuhal dan Zhanggischan, 2004)

9
B. Procedure Pengukuran Menggunakan LCR Meter dengan tipe 9063
Procedure Awal Pengukuran L/C
1. Geser switch power On/Off ke posisi angka 1 (1=On 0=Off)

2. Geser L/C,R switch ke mode posisi L/C

3. Putar switch fungsi untuk range induktansi yang maksimum.

10
4. Pasang test Alligator Clips ke input pengukuran,lalu konekan inductor ke
alligator clips.

5. Baca di display. Nilai yang ditunjukkan sesuai dengan kisaran yang dipilih. Jika
display menunjukan 1, berarti nilai keluar dari jangkauan yang ada . Untuk
resolusi yang lebih tinggi putar ke range(jangkauan) yang lebih tinggi.

Procedure Pengukuran Induktansi

Nilai induktansi adalah awal yang ditandai dengan kisaran yang lebih rendah
(2mH) dan terus meningkat sampai bacaan yang cocok diperoleh. Untuk range 2H
dirancang untuk mengukur dari 20mH sampai 2 H saja. Keadaan ini normal, jika harga

11
yang didapat ketika pengukuran induktansi kurang dari range 20 mH hingga 2 H. Untuk
range 20H dirancang untuk mengukur dari 0.2H sampai 20 H saja. Keadaan ini normal
jika harga yang dapat dibaca ketika pengukuran induktansi dibawah dari range 0.2H dari
20 H.

Pertimbangan untuk induktan sisirkuit internal menyimpang dari Kisaran 2mH,


jika bermaksud untuk membuat pengukuran presisi, harus terminal pendek masukan
pertama, merekam layar maka nilai akhir pengukuran yang benar akan menjadi "bacaan
value" memotong di atas"induktansi stray sirkuit internal" misalnya: jika induktansi
menyimpang adalah-15uH, maka nilai riil adalah nilai membaca ditambah 15uH
(dikurangi-15u H) .

Pengukuran induktansi sangat rendah harus dapat diketahui dengan menggunakan


lead sangat pendek untuk menghindari memasukkan setiap kapasitansi. Instrumen ini
tidak dimaksudkan untuk menentukan"Q" factor induktor. Pembacaan keliru dapat
diperoleh jika pengukuran dari induktansi resistor ini dicoba.

Prosedur Pengukuran Kapasitansi (C)

Jika nilai kapasitansi adalah awal yang ditandai dengan Kisaran yang lebih
12
rendah(2nF) dan terus meningkat sampai bacaan yang cocok diperoleh

]untuk range 200nF dirancang untuk mengukur dari 2nF sampai 200nF saja.

untuk range 2uF dirancang untuk mengukur dari 0.02uF sampai 2uF saja.

untuk range 20uF dirancang untuk mengukur dari 0.2 uf sampai 20 uF saja.

untuk range 200uF dirancang untuk mengukur dari 2 uF sampai 200uF saja

Pertimbangan untuk kapasitansi sirkuit internal dari 2 kisaran nF, jika berniat
untuk membuat pengukuran presisi, harus membuka"test alligators " (tidak
menghubungkan kapasitor mearsuring), merekam layar (misalnya 15uF.... itu adalah
sirkuit menyimpang kapasitansi). maka nilai akhir pengukuran benar akan menjadi
"bacaan value" memotong di atas"kapasitansi sirkuit internal menyimpang".

Kapasitor dengan kebocoran tegangan rendahakan dibaca lebih dari Kisaran, atau
nilai jauh lebih tinggi dari biasanya. Kapasitor rangkaian terbuka akan membaca nol pada
semua rentang (mungkin beberapa pF pada kisaran 2nF, karena menyimpang kapasitansi
dari instrumen).

Pengukuran dengan kapasitansi sangat rendah harus menggunakan lead sangat


pendek menghindari memasukkan setiap kapasitansi

Perhatikan polaritas saat menghubungkan kapasitor terpolarisasi sepenuhnya


mengeluarkan daya pada setiap kapasitor yang dibebankan

Ketika menggunakan test lead, ingatlah bahwa mungkin mengarah memperkenalkan


kapasitansi mearsurable untuk pengkuran tersebut. Kapasitor, terutama electrolytics,
sering memiliki toleransi terkenal luas.

13
Prosedur Pengukuran Resistansi (R)

1. Geser switch power On/Off ke posisi angka 1 (1=On 0=Off).

2. Geser L/C,R switch ke mode posisi R

14
3. Putar switch fungsi untuk range induktansi yang maksimum.

4. Pasang test Alligator Clips ke input pengukuran,lalu konekan inductor ke


alligator clips.

5. Baca di display. nilaiyang ditunjukkan sesuai dengan kisaran yang dipilih. Jika
Display menunjukan 1, berarti nilai keluar dari jangkauan yang ada . untuk
resolusi yang lebih tinggi putar ke range(jangkauan) yang lebih tinggi.

15
Cacatan

Jika ingin membuat presisi pengukuran di range yang lemah,

(Zuhal dan Zhanggischan, 2004)

C. Procedure Pengukuran Menggunakan LCR Meter jenis AT826

1. Tekan tombol POWER untuk menghidupkan LCR meter.


2. Meter akan menyala dalam modus standar :AUTO LCR dan 1kHz.
3. APO akan aktif dengan auto penutup setiap 5 menit kecuali adaptor AC yang
digunakan
Pilihan parameter utama LCR
1. LCR Meter akan menyala dengan pemilihan parameter auto diaktifkan dan dengan
ikonAPO (auto listrik off).Auto (kisaran otomatis) danLCR(auto
parameter)muncul dibagian atas display.
2. Untuk memilih parameter yang akan diukur dapat dilakukan dengan langkah-langkah
berikut:

Procedur Pengukuran Induktansi

Tekan tombol power


Tekan tombol L/C/R sehingga layar menunjukkan huruf L.
Hubungkan kaki-kaki induktor pada probe LCR meter.

16
Tekan tombol 1KHz/120Hz.
Hasil pengukuran akan ditampilkan di layar.
Lepaskan probe dari kaki-kaki inductor.

Procedur Pengukuran Kapasitansi

Tekan tombol power


Tekan tombol L/C/R sehingga layar menunjukkan huruf C.
Hubungkan kaki-kaki kapasitor pada probe LCR meter.
Tekan tombol 1KHz/120Hz.
Hasil pengukuran akan ditampilkan di layar.
Lepaskan probe dari kaki-kaki kapasitor.

Procedur Pengukuran Resistansi

Tekan tombol power


Tekan tombol L/C/R sehingga latar menunjukkan huruf R.
Hubungkan kaki-kaki resistor pada probe LCR meter.
Tekan tombol 1KHz/120Hz.
Hasil pengukuran akan ditampilkan di layar.
Lepaskan probe dari kaki-kaki komponen resistor.

(Zuhal dan Zhanggischan, 2004)

D. Analisis Data
PENGARUH VARIASI DIMENSI SAMPEL,FREKUENSI,DAN SUHU
TERADAP SAAT BIOLISTRIK TEBU(Saccharum officanarumL.)UNTUK
PENGEMBANGAN ALAT UKUR CEPAT RENDEMEN TEBU

Penelitian utama dimulai dengan persiapan sampel tebu dan penentuan faktor-
faktor yang dikombinasikan. Setelah itu, diuji sifat listrik menggunakan LCR Meter
sehingga menghasilkan data nilai sifat biolistrik. Data diuji pengaruh variansi frekuensi,
suhu, dan interaksi frekuensi dan suhu terhadap sifat biolistrik. Setelah itu, frekuensi
terbaik dipilih. Pada frekuensi terbaik, diketahui hubungan variasi suhu terhadap sifat
biolistrik. Kemudian, karakteristik biolistrik tebu dikorelasikan terhadap rendemen

17
sehingga diketahui hubungan sifat biolistrik yang berkorelasi paling signifikan terhadap
rendemen.
Penelitian Pendahuluan
Karakteristik Biolistrik Tebu pada Berbagai Frekuensi dan Ukuran
Pengaruh Frekuensi dan Ukuran Tebu terhadap Kapasitansi
Gambar 4 menunjukkan nilai kapasitansi tebu pada frekuensi 100-2000 Hz
menurun seiring bertambahnya frekuensi pengukuran. Penurunan nilai kapasitansi
pada tebu seiring dengan naiknya frekuensi akibat penyearahan momen dipol pada
molekul-molekul penyusun tebu. Nilai kapasitansi tebu pada ukuran 0,5 cm
berkisar 4.513-329,2 nF dan pada ukuran 5 cm berkisar 627,3-38,4 nF. Penurunan
drastis terjadi pada rentang frekuensi 100-1000 Hz dan penurunan mulai berkurang
pada rentang frekuensi >1000 Hz. Hal ini karena penyearahan momen dipol sudah
tidak terjadi karena transmisi energi lebih banyak pada frekuensi tinggi (Robby,
2013).
Kemampuan polarisasi bahan dielektrik berubah sesuai frekuensi yang
mengakibatkan kapasitansi dan konstanta dielektrik menghasilkan nilai yang
bervariasi. Pada frekuensi rendah, nilai kapasitansi tinggi karena penyearahan dipol
suatu bahan dielektrik tidak terpengaruh seperti halnya pada frekuensi tinggi. Pada
frekuensi tinggi, nilai kapasitansi dan konstanta dielektrik rendah karena dipol-dipol
tidak dapat mempertahankan penyerahannya pada arus bolak-balik (Rajib et al.,
2014).

Pada Gambar 4 terlihat bahwa frekuensi berpengaruh terhadap kapasitansi.


Semakin besar frekuensi maka semakin kecil kapasitansi. Dengan naiknya
frekuensi, semakin banyak gelombang yang ditransmisikan tiap detiknya, sebelum
kapasitor terisi penuh arah arus listrik sudah berbalik sehingga terjadi pengosongan
muatan dalam kapasitor dengan cepat, yang mengakibatkan muatan dalam
kapasitor semakin berkurang dan kemampuan kapasitor untuk menyimpan muatan
semakin kecil (Robby, 2013).

18
Gambar 4 menunjukkan bahwa semakin panjang ukuran tebu
maka semakin kecil kapasitansi. Hal ini sesuai Tipler (2001), bahwa
ketika jarak antar plat atau panjang ukuran tebu semakin jauh maka
nilai kapasitansi berkurang. Pada saat luas area bahan dielektrik
semakin besar maka kapasitansinya akan meningkat. Ketika
permitivitas bahan

dielektrik besar maka kapasitansi akan meningkat (Giancoli, 2001).

Pengaruh Frekuensi dan Ukuran Tebu terhadap Impedansi

Gambar 5 menunjukkan nilai impedansi tebu turun seiring


bertambahnya frekuensi. Nilai impedansi tebu pada ukuran 5 cm
berkisar 8,82-4,37 k dan pada ukuran 0,5 cm berkisar 1,05-0,52 k.
Impedansi mengalami penurunan setiap bertambah frekuensi. Hal ini
sesuai dengan Martinsen (2008) bahwa pada frekuensi yang lebih
tinggi suatu jaringan biologis akan lebih menjadi konduktor, yaitu
muatan-muatan pada jaringan akan lebih bebas bergerak dan lebih
bersifat konduktif sehingga impedansi semakin kecil.

19
Impedansi didefinisikan sebagai total oposisi atau hambatan
arus listrik termasuk resistansi, kapasitansi dan induktansi dalam
sebuah rangkaian arus bolak-balik (AC) (Anonymous, 1992). Kebalikan
dari impedansi adalah admitansi (Zuhal dan Zhanggischan, 2004).
Frekuensi yang bertambah besar akan meningkatkan pergerakan
muatan dan ion-ion dalam bahan tebu. Selanjutnya, bahan bisa
mengikuti perubahan tersebut dengan mobilitas yang meningkat
sehingga impedansi menurun dengan kata lain admitansi meningkat
(Robby, 2013).

Penentuan Frekuensi Terbaik

Terdapat kriteria pada penentuan frekuensi terbaik, yaitu toleransi terkecil atau koefisien
varian terkecil (Sucipto dkk, 2013). Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 7.

20
Gambar 7. Hubungan Frekuensi terhadap Rerata Kapasitansi dan Standar Deviasi

Tabel 3 dan Gambar 7 menunjukkan bahwa semakin besar frekuensi semakin kecil
rerata kapasitansi, standar deviasi, dan koefisien varian. Karena itu, frekuensi terbaik
adalah 1000 Hz. Pada frekuensi tersebut standar deviasi atau simpangan baku terkecil dan
koefisien varian atau toleransi terhadap variasi suhu pengukuran terkecil atau dengan kata
lain pengukuran semakin tepat. Hal ini sesuai pernyataan Martinsen et al. (2000),
penggunaan frekuensi rendah (low frequency), dimana pemberian frekuensi tepatnya 1000
Hz merupakan frekuensi terbaik yang telah disesuaikan untuk pengukuran dielektrik
dengan penya-jian pengukuran bahan yang dijepit dengan dua plat tembaga.

21
Karakteristik Kapasitansi Berbagai Suhu pada Frekuensi Terbaik

Nilai kapasitansi tebu akibat pengaruh berbagai suhu pada frekuensi 1 kHz
disajikan pada Gambar 8.

Gambar 8 menunjukkan kecenderungan pengaruh suhu terhadap kapasitansi pada


rentang suhu 2035C. Semakin suhu tinggi maka kapasitansi cenderung meningkat tetapi
tidak signifikan. Nilai kapasitansi tebu berkisar 67,798 nF sampai 76,353 nF. Menurut
Tipler (2001), pada temperatur tinggi, gerak termal molekul-molekul bersifat acak,
cenderung menghambat proses penyearahan dan penyimpanan energi. Hal ini
mengakibatkan semakin tinggi suhu maka kapasitansi dan konstanta dielektrik seharusnya
menurun (Anonymous, 2014).

22
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. LCR Meter adalah sebuah perangkat elektronik yang digunakan untuk mengukur
induktansi (L), kapasitansi(C), dan resistansi(R) dari suatu komponen. Sebenarnya
prinsip kerja dari alat ini kuantitas nilai sebenarnya dari beberapa jenis pengukuran
tidak diukur melainkan yang diukur adalah impedansi, impedansi diukur secara
internal dan dikonversikan ke layar penampil pengukuran yang dikonversikan ke
kapasitansi atau nilai induktansi yang sesuai.
2. Bagian dari LCR Meter.adalah display,Power on/off switch,L/C/R selwct switch dan
Measuring Input.
3. Bentuk analisa data yang didapat adalah semakin besar frekuensi maka semakin
kecil kapasitansi dan impedansi.

B. Saran

1. Diharapkan adanya pengembangan dari pengujian kekerasan ini agar dapat lebih teliti
dalam pengukurannya.

2. Agar dapat digunakan sebagai dasar literatur untuk penelitian uji Kelistrikan
selanjutnya.

23
24