Anda di halaman 1dari 16

KONSEP DASAR

ASUHAN KEPERAWATAN HOSPITALISASI


A. Konsep Dasar Hospitalisasi
1. Pengertian
Supartini (2004) Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena
suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan klien untuk
tinggal dirumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya kembali kerumah. Selama proses tersebut anak dan orang
tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian
ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatic dan penuh dengan
stress.
Potter & Pery (2005) Hospitalisasi merupakan pengalaman yang penuh
tekanan, utamanya karena perpisahan dengan lingkungan normal dimana
orang lain berarti, seleksi perilaku koping terbatas, dan perubahan status
kesehatan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang tua mengalami
kecemasan yang tinggi saat perawatan anaknya dirumah sakit walaupun
beberapa orang tua juga dilaporkan tidak mengalami karena perawatan
anak dirasakan dapat mengatasi permasalahannya (Supartini ,2004 ).
Apabila anak stress selama dalam perawatan, orang tua menjadi stress
pula, dan stress orang tua akan membuat tingkat stress anak semakin
meningkat ( Supartini, 2004 ).
Stuart (2007) Proses hospitalisasi dapat menimbulkan trauma atau
dukungan, bergantung pada institusi, sikap keluarga dan teman, respon
staf, dan jenis penerimaan masuk rumah sakit.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa hospitalisasi ini merupakan perawatan
yang dilakukan selama dirumah sakit dimana terdapat rasa penekanan akan
sesuatu yang baru dan belum bisa menerima keadaan dan hospitalisasi
juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman serta stress yang bisa dialami
oleh klien maupun keluarga.

2. Macam macam hospitalisasi

1
Macammacam hospitalisasi adalah menurut Lyndon dalam Supartini
(2004), Sebagai berikut :
a Hospitalisasi Informal
Perawatan dan pemulangan dapat diminta secara lisan, dan pasien
dapat meninggalkan tempat pada tiap waktu, bahkan jika menentang
dengan nasehat medis. Sebagian besar pasien medis dan bedah dirawat
secara informal.
b Hospitalisasi Volunter
Hospitalisasi volunter memerlukan permintaan tertulis untuk
perawatan dan untuk pemulangan. Setelah pasien meminta pulang,
dokter dapat mengubah hospitalisasi volunter menjadi hospitalisasi
involuter.
c Hospitalisasi Involunter
Hospitalisasi Involunter sangat membatasi otonomi dan hak pasien.
Keadaan ini tidak memerlukan persetujuan pasien dan seringkali
digunakan untuk pasien yang berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang
lain. Hospitalisasi Involunter memerlukan pengesahan (sertifikasi) oleh
sekurangkurangya dua dokter, pengesahan dapat berlaku sampai 60
hari dan dapat diperbaharui. Keadaan ini mungkin diminta oleh
pegadilan sebagai jawaban atas permohonan dari rumah sakit atau
anggota keluarga.
d Hospitalisasi Gawat Darurat
Hospitalisasi Gawat Darurat (sementara atau persetujuan satu
orang dokter) adalah bentuk yang mirip dengan komitmen involunter
yang memerlukan pengesahan atau sertifikasi hanya oleh satu orang
dokter, pengesahan berlaku selama 15 hari. Pasien harus diperiksa oleh
dokter kedua dalam 48 jam untuk menegakkan perluya perawatan
gawat darurat. Setelah 15 hari, pasien harus dipulangkan, kemudian
dapat diubah menjadi status involunter, atau diubah menjadi status
volunter.

2
3. Rentang Respon hospitalisasi
Supartini ( 2004 ), berbagai macam perilaku yang dapat ditunjukkan klien
dan keluarga sebagai respon terhadap perawatannya dirumah sakit, sebagai
berikut :
a Reaksi anak terhadap hospitalisasi
Setelah dikemukan diatas, anak akan menunjukkan berbagai perilaku
sebagai reaksi terhadap pengalaman hospitalisasi. Reaksi tersebut
bersifat individual, dan sangat bergantung pada tahapan usia
perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, system
pendukung yang tersedia, dan kemampuan koping yang dimilkinya,
pada umumnya, reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena
perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh, dan rasa nyeri. Berikut ini
reaksi anak terhadap hospitalisai sesuai dengan tahapan
perkambangannya .
1) Masa bayi ( 0 1 tahun )
Masalah utama terjadi karena dampak dari perpisahan
dengan orang tua sehingga ada gangguan pembentukkan rasa
percaya dan kasih sayang. Pada anak usia lebih dari 6 bulan
terjadi stranger anxiety atau cemas apabila berhadapan dengan
orang yang tidak dikenalnya dan cemas karena perpisahan.
Reaksi yang sering muncul pada anak ini adalah menangis,
marah, dan banyak melakukan gerakan sebagai sikap stranger
anxiety.
2) Masa todler ( 23 tahun )
Anak usia todler bereaksi terhadap hospitalisasi sesuai
dengan sumber stresnya. Sumber stres yang utama adalah
cemas akibat perpisahan. Respon perilakunya sesuai dengan
tahapannya :
a) Tahap protes, perilaku yang ditunjukkan adalah
menangis kuat, menjerit memanggil orang tuanya dan
menolak perhatian yang diberikan oleh orang lain.

3
b) Tahap putus asa, perilaku yang ditunjukan adalah
menangis berkurang, anak tidak aktif, kurang
menunjukan minat untuk bermain dan makan, sedih, dan
apatis
c) Tahap pengingkaran, perilaku yang ditunjukan adalah
secara samar mulai menerima perpisahan, membina
hubungan secara dangkal, dan anak mulai terlihat
menyukai lingkungannya.
3) Masa prasekolah ( 36 tahun )
Perawatan anak dirumah sakit memaksa anak untuk
berpisah dari lingkungan yang dirasakannya aman, penuh kasih
sayang, dan menyenangkan, yaitu lingkungan rumah,
permainan, dan teman sepermainannya. Reaksi terhadap
perpisahan yang ditunjukan anak usia prasekolah adalah
dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun
secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap tenaga
kesehatan, perawatan dirumah sakit mengakibatkan anak
kehilangan kontrol terhadap dirinya
4) Masa sekolah (612 tahun )
Perawatan dirumah sakit memaksa anak untuk berpisah
dengan lingkungan yang dicintainya, yaitu keluarga dan
terutama pada kelompok sosialnya yang dapat menimbulkan
kecemasan. Kehilangan kontrol juga terjadi akibat dirawat
dirumah sakit karena adanya pembatasan aktivitas. Kehilangan
kontrol tersebut berdampak pada perubahan peran dalam
keluarga, anak kehilangan kelompok sosialnya karena ia biasa
melakukan kegiatan bermain atau pergaulan sosial, perasaan
takut mati, dan adanya kelemahan fisik.
5) Masa remaja (12 18 tahun )
Perawatan dirumah sakit menyebabkan timbulnya rasa
cemas karena harus berpisah dengan teman sebayanya. Telah
diuraikan pada kegiatan belajar sebelumnya bahwa anak

4
remaja begitu percaya dan sering kali terpengaruh oleh
kelompok sebayanya (geng). Apabila harus dirawat dirumah
sakit anak akan merasa kehilangan dan timbul perasaan cemas
karena perpisahan tersebut. Pembatasan aktivitas dirumah sakit
membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya dan
bergantung pada keluarga atau petugas kesehatan dirumah
sakit. Reaksi yang sering muncul pada terhadap pembatasan
aktivitas ini adalah menolak perawatan atau tindakan yang
dilakukan padanya atau anak tidak mau kooperatif dengan
petugas kesehatan atau menarik diri dari keluarga, sesama
pasien dan petugas kesehatan (isolasi).
b Reaksi keluarga terhadap hospitalisasi
Reaksi yang terjadi akibat pasien yang dirumah sakit adalah sebagai
berikut :
1) Perasaan cemas dan takut
a) Rasa cemas paling tinggi dirasakan keluarga pada saat
menunggu informasi tentang diagnosis penyakit pasien.
b) Rasa takut muncul pada keluarga terutama akibat takut
kehilangan pasien pada kondisi sakit yang terminal.
c) Perilaku yang sering ditunjukan keluarga berkaitan dengan
adanya perasaan cemas dan takut ini adalah : sering bertanya
atau bertanya tentang hal sama berulangulang pada orang
yang berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang dan bahkan
marah.
2) Perasaan sedih
Supartini (2004) Perasaan sedih yang dialami keluarga adalah
sebagai berikut :
a) Perasaan ini muncul terutama pada saat pasien dalam kondisi
terminal dan keluarga mengetahui bahwa tidak ada lagi
harapan bagi pasien untuk sembuh.

5
b) Pada kondisi ini keluarga menunjukkan perilaku isolasi atau
tidak mau didekati orang lain, bahkan bisa tidak kooperatif
terhadap petugas kesehatan.
3) Perasaan frustrasi
Perasaan frustasi yang dirasakan menurut Supartini (2004),
adalah sebagai berikut :
a) Pada kondisi pasien yang telah dirawat cukup lama dan
dirasakan tidak mengalami perubahan serta tidak
adekuatnya dukungan psikologis yang diterima keluarga,
baik dari keluarga maupun kerabat lainnya maka keluarga
akan merasa putus asa, bahkan frustrasi.
b) Sering kali keluarga menunjukkan perilaku tidak kooperatif,
putus asa, menolak tindakan, bahkan menginginkan pulang
paksa.
4. Manfaat hospitalisasi
Menurut Supartini (2004) manfaat hospitalisasi, sebagai berikut:
a Membantu perkembangan keluarga dan pasien dengan cara memberi
kesempatan keluarga mempelajari reaksi pasien terhadap stresor yang
dihadapi selama perawatan di Rumah sakit.
b Hospitalisasi dapat dijadikan media untuk belajar. Untuk itu perawatan
dapat memberi kesempatan pada keluarga untuk belajar tentang
penyakit, prosedur, penyembuhan, terapi, dan perawatan pasien.
c Untuk meningkatkan kemampuan kontrol diri dapat dilakukan dengan
memberi kesempatan pada pasien mengambil keputusan, tidak terlalu
bergantung pada orang lain dan percaya diri. Berikan juga penguatan
yang positif dengan selalu memberikan pujian atas kemampuan klien
dan keluarga dan dorong terus untuk meningkatkannya.
d Fasilitasi klien untuk tetap menjaga sosialisasinya dengan sesame klien
yang ada, teman sebaya atau teman sekolah. Berikan kesempatan
padanya untuk saling kenal dan membagi pengalamannya. Demikian
juga interaksi dengan petugas kesehatan dan keluarga harus difasilitasi

6
oleh perawat karena selama dirumah sakit klien dan keluarga
mempunyai kelompok yang baru
5. Dampak Hospitalisasi
Menurut Asmadi (2008) secara umum hospitaisasi menimbulkan dampak
pada lima aspek,yaitu privasi,gaya hidup,otonomi diri,peran,dan ekonomi.
a Privasi
Privasi dapat diartika sebagai refleksi perasaan nyaman pada diri
seseorang dan bersifat pribadi. Bisa dikatakan,privasi adalah suatu hal
yang sifatnya pribadi. Sewaktu dirawat di rumah sakit klien kehilangan
sebagian privasinya.
b Gaya Hidup
Klien yang dirawat di rumah sakit seringkali mengalami perubahan
pola gaya hidup. Hal ini disebabkan oleh perubahan situasi antara
rumah sakit dan rumah tempat tinggal klien. Juga oleh perubahan
kondisi kesehatan klien. Aktifitas hidup yang klien jalani sewaktu sehat
tentu berbeda aktifitas yang dijalaninya di rumah sakit. Apalagi jika
yang dirawat adalah seorang pejabat.
c Otonomi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, individu yang sakit dan
dirawat di rumah sakit berada dalam posisi ketergantungan. Artinya ia
akan pasrah terhadap tindakan apa pun,yang dilakukan oleh petugas
kesehatan demi mencapai keadaan sehat. Ini menunjukkan bahwa klien
yang dirawat di rumah sakit,akan mengalami peruahan otonomi.
d Peran
Peran dapat diartikan sebagai seperangkat perilaku yang
diharapkan oleh individu sesuai dengan status sosialnya. Jika ia seorang
perawat, peran yang diharapkannya adalah peran sebagai perawat,bukan
sebagai dokter.
Perubahan terjadi akibat hospitalisasi ini tidak hanya berpengaruh
pada individu, tetapi juga pada keluarga. Perubahan yang terjadi antara
lain :

7
1) Perubahan peran
Jika salah seorang anggota keluarga sakit,akan terjadi
perubahan peran dalam keluarga.
2) Masalah keuangan
Keuangan keluarga akan terpengaruh oleh hospitalisasi,
keuangan yang sedianya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
hidup keluarga akhirnya digunakan untuk keperluan klien yang
dirawat.
3) Kesepian
Suasana rumah akan berubah jika ada salah seorang anggota
keluarga dirawat. Keseharian keluarga yang biasanya dihiasi
dengan keceriaan,kegembiraan,dan senda gurau,anggotanya tiba-
tiba diliputi oleh kesedihan.
4) Perubahan kebiasaan sosial
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Karenanya,
keluarga pun mempunyai kebiasaan dalam lingkup sosialnya.
Sewaktu sehat, keluarga mampu berperan serta dalam kegiatan
sosial. Akan tetapi, saat salah seorang anggota keluarga sakit,
keterlibatan keluarga dalam aktivitas sosial dimasyarakat pun
mengalami perubahan.
6. Mengatasi dampak hospitalisasi
Menurut Supartini (2004), cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi
dampak hospitalisasi adalah sebagai berikut :
a Upaya meminimalkan stresor :
Upaya meminimalkan stresor dapat dilakukan dengan cara mencegah
atau mengurangi dampak perpisahan, mencegah perasaan kehilangan
kontrol dan mengurangi/ meminimalkan rasa takut terhadap pelukaan
tubuh dan rasa nyeri
b Untuk mencegah/meminimalkan dampak perpisahan dapat dilakukan
dengan cara :

8
1) Melibatkan keluarga berperan aktif dalam merawat pasien
dengan cara membolehkan mereka tinggal bersama pasien
selama 24 jam (rooming in).
2) Jika tidak mungkin untuk rooming in, beri kesempatan
keluarga untuk melihat pasien setiap saat dengan maksud
mempertahankan kontak antar mereka.
3) Modifikasi ruangan perawatan dengan cara membuat situasi
ruangan rawat perawatan seperti di rumah dengan cara
membuat dekorasi ruangan.

9
B. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Hospitalisasi
1. Pengkajian
a Pada pengkajian biodata atau identitas klien dapat kita kaji meliputi:
Nama, Umur, Jenis kelamin (L/P), Nomor CM, Ruang rawat, Tanggal
masuk MRS.
b Penanggung Jawab klien meliputi:
Orang tua, Wali, atau,Orang lain
c Faktor predisposisi
1) Tanyakan riwayat penyakit masa lalu klien yang pernah diderita
dan trauma yang pernah dialami seperti aniaya fisik, aniaya
seksual, penolakan, kekerasan dalam keluarga, tindakan kriminal,
dan lain-lain, sehingga menyebabkan dia harus masuk rumah sakit
atau hospitalisasi dan juga tanyakan pengobatan seperti apa yang
pernah dilakukan klien.
2) Kemudian tanyakan pada klien apakah didalam anggota
keluarganya ada yang mengalami gangguan jiwa.
3) Kaji juga pengalaman yang tidak menyenangkan yang pernah
dialami oleh klien.
d Pemeriksaan fisik
1) Tanda Vital meliputi: tekanan darah, nadi, suhu, dan respirasi.
2) Ukur berat badan dan tinggi badan.
3) Perkembangan
Bertujuan untuk mengidentifikasikan tingkat perkembangan saat ini
dan keterampilan yang dicapai
e Observasi respon terhadap hospitalisasi
Bertujuan untuk mengidentifikasikan perilaku koping saat ini dan
intesitas mereka.
f Riwayat penyakit, hospitalisasi dan perpisahan sebelumnya.
Bertujuan untuk mengidentifikasikan pola koping sebelumnya dan
pengaruh koping tersebut.

10
g Riwayat pengobatan
Bertujuan untuk mengidentifikasikan keseriusan masalah dan
pengaruhnya pada perkembangan kemampuan.
h Persepsi tentang penyakit
Bertujuan untuk mengidentifikasikan pemahaman pasien saat ini
tentang penyakit dan alasan hospitalisasi.
i Sistem pendukung yang tersedia
Bertujuan untuk mengidentifikasikan tersedianya dan kesediaan
keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan dan pemberian
dukungan.
j Koping keluarga
Bertujuan untuk menggambarkan kemampuan keluarga apakah
memperlihatkan perilaku distruktif yang jelas atau terselubung atau
juga menunjukkan adaptasi merusak terhadap stressor.
k Ketakutan, kecemasan dan kesedihan keluarga
Bertujuan untuk mengidentifikasikan apakah keluarga mengalami
suatu perasaan gangguan fisiologis ataupun emosional yang
berhubungandengan suatu sumber yang dapat diidentifikasi yang
dirasakan membahayakan pasien saat dirawat dihospitalisasi.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat diangkat berdasarkan Perry & Potter
(2013), adalah sebagai berikut :
a Ketakutan
b Ketidakefektifan koping individu
Sedangkan diganosa keperawatan yang dapat diangkat menurut Lynda
Juall Carpenito dan Moyet (2012), adalah sebagai berikut :
a Ansietas
b Kurang aktivitas
3. Perencanaan
Rencana asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa Perry & Potter :
a Ketakutan

11
TUM : Pasien dapat mengatasi secara efektif rasa takut yang
dirasakannya.
TUK : Pasien dapat mengontrol rasa takut.
Kriteria Hasil :
1) Salah satu dari keluarga tetap tinggal bersama pasien
2) Keluarga ikut berpartisipasi dalam pemberian makan, kebersihan
kegiatan pasien seharihari.
Intervensi dan Rasional
a) Beri dorongan kepada keluarga untuk menetap kedalam ruangan
dengan pasien atau meminta anggota keluarga lain untuk bersama
pasien.
Rasional : Keluarga dapat memberikan rasa aman dan mencegah
dari perkembangan dari ketidakpercayaan.
b) Tanyakan kepada keluarga bagaimana mereka berharap untuk
berpartisipasi dalam perawatan pasien
Rasional : Untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan keluarga
maupun pasien
c) Orientasikan keluarga pada lingkungan di sekitar pasien
Rasional : Lingkungan yang asing akan mengancam kepercayaan
keluarga dan menimbulkan kelemahan terhadap layanan
keperawatan yang diberikan.
b Ketidakefektifan koping individu
TUM : Pasien mampu mengidentifikasi strategi tentang koping
TUK :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
2) Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.
3) Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif secara
optimal
Kriteria Hasil :
1) Mengidentifikasikan responsrespons yang membahayakan
2) Mengungkapkan kebutuhan akan bantuan dalam mengatasi situasi

12
Intervensi & Rasional :
a) Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip
komunikasi terapeutik
Rasional : hubungan yang baik akan menyebabkan pasien lebih
nyaman.
b) Terima perilaku agresif
Rasional : Perilaku awal yang nyaman memberikan rasa aman
c) Jelaskan kepada keluarga bahwa perilaku ini normal
Rasional : Penjelasan akan membuat keluarga tahu bahwa ini
adalah perilaku koping
d) Berikan kesempatan kepada pasien untuk keluar menghilangkan
rasa takut dan perasaannya.
Rasional : Media ini merupakan cara pasien untuk mengekspresikan
perasaan dari dalam.
e) Bantu klien untuk mengatasi kemarahan dengan merangsang bicara
sendiri.
Rasional : Pasien akan merasa nyaman ketika mengungkapkan beban
yang ada pada dirinya.
Sedangkan rencana asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa Lynda
Juall Carpenito dan Moyet adalah sebagai berikut :
a Ansietas
TUM : Pasien dapat mengontrol atau mengurangi rasa cemasnya.
TUK : Pasien mengetahui cara untuk mengurangi rasa cemasnya.
Kriteria Hasil
1) Menggambarkan ansietas dan pola kopingnya
2) Menghubungkan peningkatan psikologi dan kenyamanan
fisiologis
3) Menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam menangani
ansietas, seperti yang ditunjukkan.
Intervensi
1) Kaji ansietas : ringan, sedang, berat, panik
2) Berikan kenyamanan dan ketentraman hati

13
3) Ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan.
4) Singkirkan stimulasi yang berlebihan, batasi kontak dengan orang
lain atau keluarga yang juga mengalami cemas
5) Bantu klien yang sedang marah: identifikasi adanya marah.
6) Bila berkenan, berikan aktivitas yang dapat mengurangi
ketegangan.
b Kurang aktivitas
TUM : Pasien dapat beraktivitas dengan optimal.
TUK : Pasien mampu beraktivitas minimal tiga kali sehari.
Kriteria Hasil
1) Menceritakan perasaan bosan dan mendiskusikan metode tentang
cara menemukan aktivitas yang dapat menghibur
2) Menceritakan metode koping dengan perasaan marah atau defresi
yang disebabkan oleh kebosanan
3) Melaporkan adanya suatu peningkatan dalam aktivitas yang
menyenangkan
Intervensi
1) Rangsang motivasi dengan memperlihatkan minat dan mendorong
untuk dapat saling berbagi perasaanperasaan dan pengalaman
pengalaman.
2) Bantu individu untuk mengatasi perasaanperasaan marah dan
berduka
3) Libatkan individu dalam merencanakan rutinitas seharihari
4) Rencanakan waktu untuk para pengunjung.

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan merupakan realisasi dari rencana keperawatan
yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien secara
optimal dengan menggunakan keselamatan, keamanan dan kenyaman pasien.
Dalam melaksanakan tindakan keperawatan, harus melibatkan tim kesehatan
lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan dengan pelayanan
keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah sakit

14
5. Evaluasi
Evaluasi akan dilakukan dengan mengajukan pertanyaan lisan. Evaluasi
hasil yang diharapkan diantaranya:
a Pasien mengontrol atau mengurangi rasa takutnya.
b Pasien mampu mengidentifikasi strategi tentang koping
c Pasien mampu mengontrol rasa cemas yang dirasakan.
d Klien mampu beraktivitas dengan optimal

15
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan


Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika

Bawel,A. 2013. Peran Perawat Dalam Mengatasi Dampak Hospitalisasi Pada


Anak. Available on :http://www.academia.edu/6022444/
PERAN_PERAWAT_DALAM_MENGATASI_DAMPAK_HOSPITAL
ISASI_PADA_ANAK_ Diakses pada tanggal 4 Maret 2015.

Lynda.J.C , Moyet. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 13. Jakarta :
EGC

Purwaningsih.W. 2010. Asuhan Keperawatan Jiwa.Yogjakarta : Nuha Medika.

Potter & Perry (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan


: Konsep, Proses & Praktek. Edisi 4. Vol 1. Jakarta : EGC

Potter & Perry (2013). Buku Ajar Fundamental Keperawatan


: Konsep, Proses & Praktek. Edisi 7. Vol 2. Jakarta : Salemba Medika

Supartini, Yupi. (2004). Konsep Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta : EGC.

16