Anda di halaman 1dari 20

SKENARIO B VSD

Jojon, anak laki-laki usia 6 tahun diantar ibunya ke RSMP karena berat badan tidak sama
dengan berat badan teman sebayanya padahal nafsu makan seperti biasa. Jojon tampak cepat
lelah bila sedang bermain dengan anak sebayanya. Sejak 2 tahun terakhir, Jojon sering batuk
pilek lebih sering dari biasanya. Jojon lahir dengan berat badan normal, cukup bulan,
pertumbuhannya normal hanya sampai usia 4 tahun, perkembangan normal.
Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum: baik
Nadi 100x/menit, regular, isi cukup, pernapasan 24x/menit, suhu 36,8oC, BB 15 kg, TB 100
cm.
Keadaan spesifik:
Kepala: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Leher: normal
Thoraks: simetris, retraksi intercostal -/-
Pulmo: vesiculer normal, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : murmur holosistolik
Abdomen: dalam batas normal
Ekstremitas: edema -/-, sianosis -/-, jari tubuh -/-

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Jojon, anak laki-laki usia 6 tahun diantar ibunya ke RSMP karena berat badan tidak sama
dengan berat badan teman sebayanya padahal nafsu makan seperti biasa. Jojon tampak
cepat lelah bila sedang bermain dengan anak sebayanya.
2. Sejak 2 tahun terakhir, Jojon sering batuk pilek lebih sering dari biasanya.
3. Jojon lahir dengan berat badan normal, cukup bulan, pertumbuhannya normal hanya
sampai usia 4 tahun, perkembangan normal.
4. Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum: baik
Nadi 100x/menit, regular, isi cukup, pernapasan 24x/menit, suhu 36,8 oC, BB 15 kg, TB
100 cm.
Nadi 100x/menit, regular, isi cukup, pernapasan 24x/menit, suhu 36,8 oC, BB 15 kg, TB
100 cm.
Keadaan spesifik:
Kepala: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Leher: normal
Thoraks: simetris, retraksi intercostal -/-
Pulmo: vesiculer normal, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : murmur holosistolik
Abdomen: dalam batas normal
Ekstremitas: edema -/-, sianosis -/-, jari tubuh -/-

PRIORITAS MASALAH
Masalah nomor 1
Jojon, anak laki-laki usia 6 tahun diantar ibunya ke RSMP karena berat badan tidak sama
dengan berat badan teman sebayanya padahal nafsu makan seperti biasa. Jojon tampak cepat
lelah bila sedang bermain dengan anak sebayanya.
Alasan:
Karena jika tidak segera ditatalaksana akan mengganggu pertumbuhan Jojon sehingga akan
berpengaruh terhadap kualitas hidupnya.

ANALISIS MASALAH
1. Jojon, anak laki-laki usia 6 tahun diantar ibunya ke RSMP karena berat badan tidak sama
dengan berat badan teman sebayanya padahal nafsu makan seperti biasa. Jojon tampak
cepat lelah bila sedang bermain dengan anak sebayanya.
a. Apa makna berat badan tidak sama dengan berat badan teman sebayanya
padahal nafsu makan seperti biasa?
Jawab:
Makna berat badan tidak sama dengan berat badan teman sebayanya padahal nafsu
makan seperti biasa menunjukkan bahwa Jojon mengalami gangguan pertumbuhan.

b. Apa penyebab berat badan tidak sama dengan berat badan teman sebayanya?
Jawab:
1) Asupan nutrisi inadekuat
2) Kongenital (kelainan kromosom, disgenesis gonad)
3) Gangguan Metabolik
4) Sistem imun (infeksi berulang)
5) Gastrointestinal (kelainan anatomis, diare dll)
6) Renal (ggk)
7) Kardiopulmonal (PJB, gagal jantung, Asma)
8) Neurologi (serebral palsy)
9) Sensoris (anosmia dll)
10) Endokrin (hipotiroid, defisiensi GH)
c. Bagaimana mekanisme berat badan tidak sama dengan berat badan teman
sebayanya padahal nafsu makan seperti biasa pada kasus ini?
Jawab:
Ibu terinfeksi rubella saat kehamilan viremia infeksi transplasenta janin dalam
kandungan rubella berkembang biak di plasenta dan menyebar ke peredaran darah
janin kerusakan organ (jantung) pembentukan septum interventriculare
intrauterine terganggu VSD pirau dari LV ke RV aliran darah ke aorta
cardiac output suplai darah ke sistemik suplai nutrient dan oksigen
diprioritaskan pada organ vital tidak terjadi pembentukan massa tubuh berat
badan tidak sama dengan berat badan teman sebaya walaupun nafsu makan seperti
biasa (perawakan kecil).

d. Apa makna cepat lelah bila sedang bermain?


Jawab:
Makna cepat lelah bila sedang bermain adalah terjadi gangguan metabolisme.
Gangguan tersebut berupa kegagalan sel dalam melakukan metabolisme karena suplai
nutrisi dan oksigen ke sirkulasi sistemik tidak adekuat.

e. Apa penyebab cepat lelah pada kasus ini dan bagaimana mekanismenya?
Jawab:
Ibu terinfeksi rubella saat kehamilan viremia infeksi transplasenta janin dalam
kandungan rubella berkembang biak di plasenta dan menyebar ke peredaran darah
janin kerusakan organ (jantung) pembentukan septum interventricular
intrauterine terganggu VSD pirau dari LV ke RV aliran darah ke aorta
cardiac output suplai darah ke sistemik suplai nutrient dan oksigen di
jaringan hipoperfusi jaringan metabolisme energi ATP sedikit cepat
lelah.

f. Bagaimana hubungan usia dan jenis kelamin dengan kasus ini?


Jawab:
Insidensi terjadi 20% dari semua penyakit jantung bawaan dan tidak dipengaruhi oleh
jenis kelamin.
2. Sejak 2 tahun terakhir, Jojon sering batuk pilek lebih sering dari biasanya.
a. Bagaimana gambaran anatomi dan fisiologi sistem organ yang berkaitan dengan
batuk pilek?
Jawab:

b. Apa saja penyebab batuk pilek?


Jawab:
Faktor yang menyebabkan batuk pilek yaitu trias infeksi :
Host
Manusia atau mahluk hidup yang menjadi tempat terjadinya proses alamiah
perkembanga penyakit. Yang termasuk dalam factor penjamu yaitu usia, jenis
kelamin, status gizi, social ekonomi, nutrisi, imunitas. Factor ini mempengaruhi
resiko untuk terpapar sumber infeksi serta kerentanan dan resisten suatu manusia
terhadap suatu penyakit atau infeksi.
Agent
Suatu unsur atau organisme hidup atau infektif yang dapat menyebabkan suatu
terjadinya penyakit seperti virus, bateri, protozoa, jamur.
Environment (lingkungan)
Faktor lingkungan meliputi lingkungan fisik, biologi. Lingkungan fisik seperti
kondisi udara, musim, cuaca, kandungan air dan mineral, sedangkan lingkungan
biologi meliputi mikroorganisme.

c. Bagaimana mekanisme batuk pilek pada kasus ini?


Jawab:
VSD pirau dari LV ke RV volume darah di RV corakan vaskuler paru
transudasi cairan intertisial ke dalam alveoli paru-paru dalam keadaan basah
media yang disukai oleh mikrooganisme jika terpajan agen infeksi mudah
terinfeksi batuk pilek.

d. Mengapa batuk pilek menjadi lebih sering sejak 2 tahun terakhir?


Jawab:
Karena hal ini sehubungan dengan peningkatan aktivitas si anak yang terus meningkat
sehingga akan berpengaruh terhadap keadaan paru yang semakin basah.
Aktivitas pada masa anak-anak kompensasi dari jantung untuk pemenuhan C
aliran darah ke paru-paru semakin banyak karena ada defect pada septum
interventriculare paru-paru semakin basah batuk pilek menjadi lebih sering
sejak 2 tahun terakhir.

e. Apa dampak yang mungkin terjadi dari batuk pilek yang berulang?
Jawab:
1) Penurunan nafsu makan
2) Peningkatan katabolisme
3) Gangguan pertumbuhan
4) Sulit tidur
f. Apa hubungan sering batuk pilek sejak 2 tahun terakhir dan berat badan tidak
sama dengan berat badan teman sebayanya serta cepat lelah?
Jawab:
Batuk pilek sejak 2 tahun terakhir merupakan salah satu faktor penyebab berat badan
tidak sama dengan berat badan teman sebaya dan cepat lelah.
Dalam hal ini dapat dikatakan lingkaran setan.
VSD pirau dari LV ke RV volume darah di RV corakan vaskuler paru
transudasi cairan intertisial ke dalam alveoli paru-paru dalam keadaan basah
media yang disukai oleh mikrooganisme jika terpajan agen infeksi mudah
terinfeksi infeksi saluran pernapasan berulang katabolisme tetapi cardiac
output BB tidak sama dengan BB teman sebaya + cepat lelah pembentukan
immunoglobulin mudah infeksi.

3. Jojon lahir dengan berat badan normal, cukup bulan, pertumbuhannya normal hanya
sampai usia 4 tahun, perkembangan normal.
a. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan normal anak usia 4 tahun?
Jawab:
Pertumbuhan normal anak usia 4 tahun:
Perkiraan BB (kg)
BB (kg) = umur (tahun) x 2 + 8 = 4 x 2 + 8 = 8 + 8 = 16 kg.
Perkiraan TB (cm)
TB (cm) = umur (tahun) x 6 + 77 = 4 x 6 + 77 = 24 + 77 = 101 cm.
Perkembangan normal anak usia 4 tahun:
Milestone perkembangan kognitif anak usia 4 tahun
Menggambar garis lurus
Mengenal 2-4 warna
Menyebut nama, umur, tempat tinggal
Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan
Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan
Mengenakan sepatu sendiri
Mengenakan celana panjang, kemeja, baju
Bertanya arti kata
Menggambar rumah yang dapat dikenal
Milestone perkembangan motorik kasar anak usia 4 tahun
Berdiri pada satu kaki selama 6 detik
Melompat-lompat dengan satu kaki
Menari
Milestone perkembangan motorik halus anak usia 4 tahun
Menggambar tanda silang
Menggambar lingkaran
Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh (kepala, badan, lengan)
Milestone perkembangan personal-sosial anak usia 4 tahun
Berbantah dengan anak-anak lain
Bermain dengan beberapa anak dengan memulai interaksi sosial dan
memainkan peran
Mengembangkan suatu rasa humor
Bereaksi tenang dan tidak rewel bila ditinggal ibu
Pergi ke toilet sendiri
Mengancing baju atau pakaian boneka
Berpakaian dan melepaskan pakaian tanpa bantuan
Menggosok gigi tanpa bantuan
Ingin mandiri

b. Mengapa pertumbuhannya normal hanya sampai usia 4 tahun sedangkan


perkembangannya normal?
Jawab:
Pertumbuhannya normal hanya sampai usia 4 tahun karena pada usia 4 tahun ke
bawah tersebut aktivitas si anak belum terlalu banyak sehingga energi yang digunakan
belum terlalu banyak.
Sedangkan pada usia 4 tahun ke atas keterampilan motorik kasar dan halus, kekuatan,
aktivitas bermain meningkat sehingga dibutuhkan banyak energi, tetapi pada pasien
ini mengalami VSD sehingga cardiac output sebagai kompensasi untuk meningkatkan
energi tidak didistribusikan dengan baik ke sistemik malah mengalir dari pirau kiri ke
kanan, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pertumbuhan.
Perkembangan pada anak ini normal karena dalam hal ini nutrisi ke organ vital
terutama otak masih diprioritaskan sehingga perkembangan otak tetap normal.
Akibat C yang turun akan menyebabkan pertumbuhan terhambat, karena nutrisi dan
oksigen tersebut lebih diprioritaskan untuk perkembangan.

c. Faktor apa saja yang menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak?


Jawab:
1) Faktor genetik
2) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan secara garis besar dibagi menjadi:
a) Faktor lingkungan prenatal Kel. Kongenital, Infeksi intrauterin, Radiasi
intrauterin, Asfiksia intrauterin, Toksemia gravidarum
b) Faktor lingkungan perinatal Prematuritas, trauma lahir, asfiksia, Kern
ikterus, perdarahan IC, Infeksi
c) Faktor lingkungan pascanatal Trauma kapitis, Hipkosia / anoksia, Infeksi
SSP, FR pascanatal:
1) Faktor biologis
(ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi, perawatan kesehatan,
kerentanan terhadap penyakit, kondisi kesehatan kronis, fungsi
metabolisme, dan hormon)
2) Faktor lingkungan fisik
(cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi, keadaan rumah,
radiasi)
3) Faktor psikososial
(stimulasi, motivasi belajar, ganjaran ataupun hukuman yang wajar,
kelompok sebaya, stress, sekolah, cinta dan kasih saying, kualitas interaksi
anak-orangtua)
4) Faktor keluarga dan adat istiadat
(pekerjaan/pendapatan keluarga, pendidikan ayah dan ibu, jumlah saudara,
jenis kelamin dalam keluarga, stabilitas rumah tangga, kepribadian
ayah/ibu, pola pengasuhan, adat istiadat, norma, tabu, agama, urbanisasi,
kehidupan politik)
5) Faktor kepribadian
Anak yang penakut, takut jatuh.
6) Retardasi mental
Sebagian besar anak dengan retardasi mental mengalami keterbatasan
gerak motorik.
7) Kelainan tonus otot
Anak dengan serebral palsi, sering terjadiketerbatasan perkembangan
motorik akibat dari spastisitas, athetosis, ataksia, atau hipotonia.
Kelemahan tendon dan kelainan pada sumsum tulang belakang (gross
spinal defects), juga sering disertai dengan keterlambatan motorik.
8) Obesitas
Walaupun obesitas dapat mengakibatkan gangguan perkembangan
motorik, tetapi tidak semua anak obesitas mengalami keterlambatan
motorik.
9) Penyakit neuromuscular
Padaanak yang menderita penyakit Duchenne muscular dystrophy sering
terlambat berjalan
10) Buta
Anak yang buta sering terlambat berjalan, kemungkinan akibat dari tidak
diberikan kesempatan untuk belajar.

4. Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum: baik
Nadi 100x/menit, regular, isi cukup, pernapasan 24x/menit, suhu 36,8 oC, BB 15 kg, TB
100 cm.
Keadaan spesifik:
Kepala: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Leher: normal
Thoraks: simetris, retraksi intercostal -/-
Pulmo: vesiculer normal, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : murmur holosistolik
Abdomen: dalam batas normal
Ekstremitas: edema -/-, sianosis -/-, jari tubuh -/-
a. Berapa BB dan TB normal untuk anak laki-laki berusia 6 tahun?
Jawab:
Pertumbuhan normal anak usia 6 tahun:
Perkiraan BB (kg)
BB (kg) = umur (tahun) x 2 + 8 = 6 x 2 + 8 = 12 + 8 = 20 kg.
Perkiraan TB (cm)
TB (cm) = umur (tahun) x 6 + 77 = 6 x 6 + 77 = 36 + 77 = 113 cm.

b. Apa interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik?


Jawab:
KASUS KEADAAN NORMAL INTERPRETASI
Nadi 100x/m 60-100x/menit borderline
RR 24x/menit 16-24x/menit borderline
Suhu 36,8oC Hipotermia < 36oC Normotermia
Normotermia 36,5-37,2oC
Subfebris 37,3-38oC
Febris > 38oC
Hiperpireksia 41,2oC
Berat Badan 15 kg BB (kg) = umur (tahun) x 2 Berat badan rendah (gangguan
+ 8 = 6 x 2 + 8 = 12 + 8 = dalam pertumbuhan).
20 kg

Tinggi Badan 100 cm TB (cm) = umur (tahun) x Tinggi badan tidak optimum
6 + 77 = 6 x 6 + 77 = 36 + (gangguan dalam pertumbuhan)
77 = 113 cm
Murmur holosistolik Tidak terdengar bising Abnormal
di ICS 3 linea jantung
parasternalis sinistra
grade 3/6

c. Bagaimana mekanisme dari hasil pemeriksaan fisik?


Jawab:
Gangguan Pertumbuhan
VSD pirau dari LV ke RV aliran darah ke aorta cardiac output suplai
darah ke sistemik suplai nutrient dan oksigen diprioritaskan pada organ vital
tidak terjadi pembentukan massa tubuh (anabolisme ) gangguan pertumbuhan.
Murmur holosistolik di ICS 3 linea parasternalis sinistra grade 3/6
VSD pirau dari LV ke RV Tekanan dan volume darah di ventrikel katup
AV tertutup dengan kuat terjadi turbulensi pirau dari LV ke RV (defect) dan
kontraksi ventrikel membuka katup SL (auskultasi) bising selama fase sistol
murmur holosistolik / pansistolik.

d. Kelainan apa saja yang dapat menimbulkan murmur holosistolik?


Jawab:
Kelainan jantung yang menimbulkan murmur holosistolik antara lain:
1) VSD (Ventricular Septal Defect)
2) MR (Mitral Regurgitation)
3) TR (Tricuspid Regurgitation)

5. Pemeriksaan Penunjang: foto rontgen thoraks: kesan kardiomegali dengan peningkatan


corakan vaskuler paru. EKG: kesan hipertrofi ventrikel kiri.
a. Bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan penunjang?
Jawab:
Hasil Nilai Normal Interpretasi
Pemeriksaan
Kardiomegali CTR < 50 % Abnormal (terjadi pembesaran
jantung)
Peningkatan Tidak terjadi peningkatan Abnormal (peningkatan aliran
corakan vaskular darah ke arteri pulmonalis /
paru edema paru)
Hipertrofi ventrikel Tidak hipertrofi Abnormal (terjadi peningkatan
kiri ukuran ventrikel kiri karena
adanya peningkatan volume dan
tekanan)

b. Bagaimana mekanisme dari hasil pemeriksaan penunjang?


Jawab:
Tahap Awal
Defect pada septum interventriculare pirau dari LV ke RV volume darah di RV
corakan vaskuler paru aliran darah balik ke LA volume darah di LV
beban kerja LV hipertopi ventrikel kiri kardiomegali.
atau
Defect pada septum interventriculare pirau dari LV ke RV aliran darah ke aorta
cardiac output suplai darah ke sistemik kompensasi untuk memenuhi
kebutuhan beban kerja LV hipertopi ventrikel kiri kardiomegali.

Tahap lebih lanjut:


Defect pada septum interventriculare pirau dari LV ke RV volume darah di RV
aliran darah ke a. pulmonalis (dilatasi a. pulmonalis) volume darah di paru-
paru aliran darah ke v. pulmonalis (dilatasi v. pulmonalis) volume darah di
LA (hipertropi atrium kiri) volume darah di LV beban kerja LV
hipertopi ventrikel kiri kardiomegali.
Peningkatan corakan vaskuler paru
Defect pada septum interventriculare pirau dari LV ke RV volume darah di RV
aliran darah ke a. pulmonalis corakan vaskuler paru .

c. Bagaimana gambaran EKG pada hipertrofi ventrikel kiri pada anak-anak?


Jawab:
Gelombang R di V5 atau V6 dijumlahkan dengan gelombang S di V1 atau V2
melebihi 35 mm.
Gelombang R di AVL melebihi 13 mm.

d. Bagaimana anatomi, fisiologi dan embriogenesis jantung normal?


Jawab:
6. Bagaimana cara menegakkan diagnosis pada kasus ini?
Anamnesis : didapatkan keluhan berupa sesak napas, bayi kesulitan
menyusu, infeksi saluran pernapasan berulang (batuk-pilek),
gangguan pertumbuhan berat badan rendah, cepat lelah,
aktivitas terbatas. Jangan lupa tanyakan riwayat kehamilan ibu
(terinfeksi: rubella, prematur, BBLR)
Pemeriksaan fisik : hiperhidrosis / keringat dingin (pucat), murmur holosistolik /
pansistolik, JVP meningkat.
Pemeriksaan penunjang : hipertropi ventrikel kiri / kardiomegali, peningkatan corakan
vaskuler paru.

7. Apa saja jenis kelainan jantung bawaan?


Jawab:
Asianosis (tidak biru) Sianosis (biru)
Atrial Septal Defect Tetralogy of fallot
- VSD
- Pulmonary stenosis
- Overidding aorta
- Hipertropi ventrikel kanan
Ventricular Septal Defect Transposisi Arteri Besar (TGA)
Patent Ductus Arteriosus Truncus Arteriosus
Coarctation Aorta Atresia tricuspid

8. Differential Diagnostic (DD)


DD VSD PDA ASD
Tanda & Gejala
Sesak napas, takipnea atau kesulitan
bernapas
Bayi mengalami kesulitan ketika
menyusu
Infeksi saluran pernapasan berulang
Berat badan tidak bertambah /
gangguan pertumbuhan / gagal
tumbuh
Keterbatasan aktivitas
Keringat berlebihan / keringat dingin
Murmur Holosistolik / kontinyu / ejeksi sistolik
pansistolik machinery
JVP meningkat tidak selalu
Peningkatan corakan vaskular paru
Hipertropi tahap awal ventrikel kiri ventrikel kiri ventrikel kanan
Kardiomegali

9. Pemeriksaan tambahan
1) Echocardiografi
Dapat melokalisasi defect dan membantu menilai ukuran defect, menunjukan
hipertensi pulmonal dan mengenali lesi serta komplikasi yang menyertai. (pengukuran
kecepatan Doppler dapat membantu memperkirakan tekanan arteri pulmonalis).
2) Kateterisasi jantung
Dilakukan pada penderita dengan hipertensi pulmonal, dapat mengukur rasio aliran ke
paru dan sistemik serta mengukur tahanan paru. Sekarang ini jarang dilakukan,
kecuali terdapat keraguan mengenai derajat keparahan hipertensi paru / adanya defect
kongenital terkait.

10. Working Diagnostic (WD)


PJB non-sianotik tipe VSD

11. Apa yang dimaksud dengan VSD?


VSD adalah suatu penyakit jantung bawaan non-sianotik / asianotik yang ditandai dengan
adanya lubang pada septum interventriculare sehingga menyebabkan terjadinya pirau dari
ventrikel kiri (tekanan lebih tinggi) ke ventrikel kanan (tekanan lebih rendah).
12. Etiologi
Faktor prenatal
1. Rubella / infeksi virus lainnya pada ibu hamil.
2. Gizi ibu hamil yang buruk.
3. Ibu yang alkoholik.
4. Usia ibu di atas 40 tahun.
5. Ibu menderita diabetes melitus.
Faktor genetik
1. Sindrom down.
2. Ayah / Ibu menderita PJB.
3. Anak yang lahir sebelumnya dengan PJB.

13. Epidemiologi
Insidensi terjadi 20% dari semua penyakit jantung bawaan dan tidak dipengaruhi oleh
jenis kelamin.
VSD lebih sering terjadi pada bayi prematur dan BBLR dengan insidensi setinggi
7,06 per 1000 kelahiran premature hidup.

14. Manifestasi Klinis


Jawab:
1) Sesak napas, takipnea, atau kesulitan bernapas.
2) Bayi mengalami kesulitan ketika menyusu.
3) Infeksi saluran pernapasan berulang.
4) Berat badan tidak bertambah / gangguan pertumbuhan / gagal tumbuh.
5) Cepat lelah / kelelahan (fatigue).
6) Keterbatasan aktivitas.
7) Keringat berlebihan / keringat dingin
8) Murmur holosistolik / pansistolik, JVP meningkat, peningkatan corakan vaskuler
paru.
9) Hipertropi ventrikel kiri / Kardiomegali.
15. Patogenesis
Ibu
terinfeksi rubella saat kehamilan viremia infeksi transplasenta janin dalam
kandungan rubella berkembang biak di plasenta dan menyebar ke peredaran darah
janin kerusakan organ (jantung) pembentukan septum interventriculare intrauterine
terganggu terbentuk defect VSD defect pada septum interventriculare pirau
dari LV ke RV volume darah di RV sedangkan aliran darah ke aorta corakan
vaskuler paru dan cardiac output munculnya manifestasi klinis VSD.

16. Tatalaksana
Defect yang kecil tanpa gejala tidak perlu diberikan terapi (karena akan menutup
secara spontan pada usia 2 tahun.
Defect yang sedang tanpa disertai peningkatan tekanan pembuluh darah pulmonal,
penganganannya dapat ditunda.
Operasi penutupan sekat pada bayi usia 12-18 bulan direkomendasikan apabila
terdapat VSD disertai dengan gagal jantung kongestif atau penyakit pembuluh darah
pulmonal.
Terapi pengobatan untuk profilaksis atau pencegahan endokarditis diberikan untuk
semua pasien dengan VSD.
Pada VSD yang disertai gagal jantung dapat diberikan diuretik misalnya furosemid 1-
2 mg/kgBB/hari, vasodilator misalnya kaptopril 0,5-1 mg/kgBB/kali tiap 8 jam. Jika
perlu tambahkan digoksin 0,01 mg/kgBB/hari.
Pada VSD besar dilakukan pembedahan / non-pembedahan untuk menutup VSD.
Transcatheter closure.
Alat yang digunakan untuk penutupan VSD, antara lain:
rashkind double umbrella, the bard clamshell, the button device, the amplatzer
septal occluder, amplatzer duct uccluder, atau gianturco coils.

17. Komplikasi
1) Hipertensi pulmonal
2) Pneumonia
3) Sindrom Eisenmeger
4) Gagal jantung kongestif
5) Endokarditis infektif
Patofisiologi dari komplikasi:
Hipertensi pulmonal (P = F x R) [P:tekanan, F:flow/aliran, R=resistensi]
(defect pada septum interventriculare pirau dari LV ke RV volume darah di RV
aliran darah ke a. pulmonalis tekanan di a. pulmonalis juga (volume
berbanding lurus dengan tekanan) resistensi pulmonal hipertensi pulmonal).
Pneumonia
(defect pada septum interventriculare pirau dari LV ke RV volume darah di RV
corakan vaskuler paru transudasi cairan intertisial ke dalam alveoli paru-
paru dalam keadaan basah media yang disukai oleh mikrooganisme jika
terpajan agen infeksi mudah terinfeksi infeksi saluran pernapasan berulang
pneumonia).
Sindrom Eisenmenger
(defect pada septum interventriculare pirau dari LV ke RV volume darah di RV
aliran darah ke a. pulmonalis tekanan di a. pulmonalis juga (volume
berbanding lurus dengan tekanan) resistensi pulmonal hipertensi pulmonal
keadaan berlangsung kronis remodeling vaskuler pulmonal yang irreversible
resistensi vaskuler pulmonal melampaui resistensi vaskuler sistemik (PVR > SVR)
arah pirau membalik dari RV ke LV sianosis (sindrom Eisenmeger).
Gagal jantung kongestif
(defect pada septum interventriculare pirau dari LV ke RV volume darah di RV
(hipertrofi RV) aliran darah ke a. pulmonalis (dilatasi a. pulmonalis) volume
darah di paru-paru aliran darah ke v. pulmonalis (dilatasi v. pulmonalis)
volume darah di LA (hipertropi LA) volume darah di LV (hipertopi LV)
kardiomegali elastisitas jantung daya kontraksi jantung kemampuan
jantung untuk memompa darah ke seluruh jaringan tubuh gagal jantung kongestif
(CHF)).
Endokarditis infektif
(defect pada septum interventriculare pirau dari LV ke RV volume darah di RV
corakan vaskuler paru transudasi cairan intertisial ke dalam alveoli paru-
paru dalam keadaan basah media yang disukai oleh mikrooganisme jika
terpajan agen infeksi mudah terinfeksi infeksi saluran pernapasan berulang
penyebaran melalui peredaran darah sampai pada endokardium mikroorganisme
menginfeksi endokardium endokarditis infektif).

18. Prognosis
Tergantung pada defect:
Defect kecil menutup spontan / defect sedang tanpa sindrom Eisenmager / tatalaksana
yang tepat
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
Defect besar + sindrom Eisenmeger / defect yang tidak ditutup
Quo ad vitam : dubia ad malam
Quo ad fungsionam : dubia ad malam

19. KDU
Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan
menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan
dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

20. Pandangan Islam


Firman Allah QS. Al-Anfal,8:28

Artinya:
Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan
sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.

KESIMPULAN
Jojon, anak laki-laki, usia 6 tahun, mengalami gangguan pertumbuhan, cepat lelah, batuk
pilek lebih sering, murmur holosistolik, peningkatan vaskuler paru dan hipertrofi ventrikel
kiri et causa penyakit jantung bawaan non-sianotik tipe VSD.

KERANGKA KONSEP

Pembentukan septum
interventriculare terganggu

VSD
LVH, murmur holosistolik,
Pirau dari LV ke RV non-sianotik

Aliran darah sistemik Aliran darah paru

Gangguan Batuk pilek lebih sering


pertumbuhan Peningkatan vaskuler paru
Cepat lelah