Anda di halaman 1dari 21

Makalah

TOKSIKOLOGI

TANAMAN BERACUN GYMPIE-GYMPIE

OLEH :

BAHTIAR

O111 13 003

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya,

sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pestisida ini dengan tepat waktu.

Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas matakuliah Toksikologi. Penulisan

berdasarkan data primer berupa referensi beberapa informasi dari internet. Penulisan

makalah ini karena adanya bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,

kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dan bimbingan tersebut kepada semua

pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini disusun dengan sebaik baiknya. Namun, kami menyadari

kemungkinan adanya kekurangan atau kesalahan yang tidak disengaja. Oleh karena itu,

kritik dan saran dari dosen mata kuliah serta pembaca kami saya terima dengan rasa

syukur. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Makassar, Maret 2017

Bahtiar

DAFTAR ISI
COVER

KATA PENGANTAR............................................................................................

DAFTAR ISI..........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang........................................................................................


I.2 Rumusan Masalah..................................................................................
I.3 Tujuan.....................................................................................................
I.4 Manfaat ..................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

II.1. Mengenal Tumbuhan Beracun..............................................................

II.2. Jenis Tumbuhan Beracun......................................................................

II.3. Cara Racun Tumbuhan Masuk Ketubuh...............................................

II.4. Sejarah Tanaman Gympie-gympie........................................................

II.5. Ciri-ciri Tanaman Gympie-gympie.......................................................


II.6. Zat Toksik Tanaman Gympie-gympie...................................................
II.7. Cara Tanaman Gympie-gympie Menyebabkan Toksik.........................
II.8. Pengobatan Toksik Tanaman Gympie-gympie.....................................

BAB III PENUTUP

III.1. Kesimpulan..........................................................................................
III.2. Saran....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Tumbuhan-tumbuhan yang ada di alam sangat banyak jenisnya. Dari bergabgai


jenis tumbuhan tersebut ada sebagian besarnya dimanfaatkan oleh manusia.
Namun ada beberapa yang jarang bahkan tidak dimanfaatkan oleh manusia karena
berbahaya terutama bagi kesehatan manusia. Berikut beberapa tumbuhan yang
berbahaya karena mengandung zat-zat tertentu yang bersifat toksit atau racun
(Elsani, 2012).

Tanaman-tanaman ini sebagian ada disekitar kita, oleh sebab itu sebaiknya hati-
hati kita akan membeli bunga untuk ditanam dihalaman rumah. Mungkin saja saja
tanaman yang dibeli ataupun didapat dari teman-teman merupakan tanaman yang
beracun (Elsani, 2012).

Keracunan yang ditimbulkan oleh tanaman-tanaman ini, umumnya belum


ada penawar. Jadi sebaiknya diusahakan jangan sampai terpapar racun tumbuhan-
tumbuhan tersebut. Jika sampai terpapar misalnya tertelan maka secepatnya
memberi arang aktif kemudian segera di bawa ke PUSKESMAS terdekat untuk
mendapat perawatan lebih lanjut. Jika mengenai kulit atau mata secepat mungkin
mencuci dengan air, sebaiknya pencucian dilakukan dengan air yang mengalir
(Elsani, 2012).

Tanaman beracun ini juga dapat berdampak bahaya pada hewan


sebagaimna racun yang terkandung pada tanaman tersebut hingga dapat
menyebabkan kematian.

Pada kali ini tanaman yang akan kami bahas adalah tanaman gympie
gympie yang merupakan salah satu tanaman beracun yang cukup berbahaya.

I.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu tumbuhan beracun ?
2. Apa saja Jenis tumbuhan bercaun?
3. Bagaimana Cara racun tumbuhan masuk ke tubuh?
4. Bagaimana sejarah tanaman gympie-gympie?
5. Bagaimana Ciri-ciri tanaman gympie-gympie?
6. Apa zat toksik yang terdapat pada tanaman gympie-gympie?
7. Bagaimana tanaman gympie-gympie menyebabkan toksik?
8. Bagaimana pengobatan bila terkena toksik dari tanaman gympie-gympie?
I.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu tanaman beracun
2. Untuk mengetahui jenis tumbuhan beracun
3. Untuk mengetahu cara racun tanaman masuk ke tubuh
4. Untuk mengetahui sejarah tanaman gympie-gympie
5. Untuk mengetahui Ciri-ciri tanaman gympie-gympie
6. Untuk mengetahui kandungan tanaman gympie-gympie menjadi toksik
bagi hewan
7. Untuk mengetahui cara tanaman gympie-gympie menyebabkan toksik
8. Untuk mengetahui cara pengobatan bila keracunan tanaman gympie-
gympie
I.4 Manfaat
Sebagai informasi tambahan mengenai tanaman toksik yang ada
disekitar kita yang mungkin sewaktu-waktu tanpa sengaja dapat
tersentuk,termakan ataupun terpapar pada kita.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Mengenal Tumbuhan Beracun


Pada dasarnya tumbuhan yang biasa dimakan oleh hewan juga bisa dimakan
oleh manusia, namun harus berhati-hati terhadap tumbuhan yang beracun
.Tumbuhan beracun ialah tumbuhan yang mengandung racun yang berbahaya bagi
manusia dan hewan, terutama jika terjadi kontak langsung dengannya karena
tumbuhan tersebut dapat mencemarkan (bahan) makanan. Adapun ciri - ciri
tumbuhan beracun yang harus kita ketahui agar kita dapat menghindarinya. Ciri
ciri tumbuhan beracun yaitu:
a. Berbau tidak sedap.
b. Tumbuhan bergetah pekat/susu, berwarna mencolok, berbulu, permukaan
kasar, berwarna mengkilat, berduri, dan berdaun kasar atau liat.
c. Tumbuhan beracun biasanya memiliki buah yang berwarna putih atau
kuning.
d. Buah dari tumbuhan beracun biasanya jika dimakan akan terasa pahit dan
berlendir, hal tersebut dikarenakan dalam buah itu terdapat kandungan
racun yang dapat membahayakan makhluk hidup lainnya.
e. Tumbuhan beracun hidup menyendiri dan terpisah dari tumbuh -
tumbuhan yang tidak beracun.

II.2 Jenis Tumbuhan Beracun


Berikut adalah beberapa tumbuhan yang berbahaya karena mengandung zat
zat tertentu yang bersifat toksit atau racun. Jenis jenis tanaman yang merupakan
tumbuhan beracun yaitu:
Castor Bean (Biji Kasturi), Rosary Pea (Kacang Polong Rosary),
Monkshood, Angels trumpet (terompet malaikat), Water hemlock, English Yew,
Snakeroot, Pohon Strychnine, Moonseed (bijibulan), Daphne, Narcissus,
Oleander, Rhododendron, Chokecherry, Nightshade. Selain itu,ada beberapa
tumbuhan di Indonesia yang termasuk dalam kategori tumbuhan beracun.Berikut
adalah beberapa tunbuhan beracun di Indonesia :

1) Renggas atau Inggas, getahnya dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan
dapat merusak jaringan.
2) Kemadu atau Pulus, bulu daunnya bbila disentuh akan menyebabkan gatal
pada kulit
3) Rarawean atau rawe, mempunyai rambut yang membuat kulit gatal.
4) Aren, buah aren yang masih mentah dapat menyebabkan gatal.
5) Jarak, racun pada bijinya dapat menyebabkan muntah dan sakit kepala.
6) Kecubung, daun dan bunganya mengandung atropine yang dapat
menyebabkan halusinasi.
7) Dieffenbachia, mengandung kalsium oksalat yang menyebakan gangguan
mulut dan saluran pencernaan.
8) Triterpenes. Daunnya sendiri dapat menyebabkan iritasi dah gatal-gatal
(Pristina, 2013).
Klasifikasi Toksin Tumbuhan Menurut : (Ahmad, 2017) terbagi 2 sebagai
berikut:
1. Berdasarkan metabolit utama

Tumbuhan beracun dapat diklasifikasikan berdasarkan metabolit utama


dari racun yang dimiliki. Beberapa metabolit utama dari racun yang telah
diketahui adalah

a. Alkaloid

Alkaloid adalah senyawa kompleks yang mengandung Nitrogen (N) dalam


bentuk garam atau asam. Pada banyak kasus keracunan pada binatang alkaloid
menghasilkan reaksi fisiologi yang kuat pada binatang terutama pada system
saraf. Toksin ini dapat menghasilkan reaksi akut atau kronis. Alkaloid ditemukan
secara luas padaa banyak kenis tanaman, termasuk tembakau. Nicotine adalah
toksin utama dari tanaman ini.

Astragalus atau locoweed adalah tanaman lain yang mengandung racun


alkaloid yang menyebabkan keracunan yang khas. Locos sangat beracun dalam
semua tingkat pertumbuhan bahkan ketika kering. Mengkonsumsinya, tergantung
pada spesiesnya dapat nenyebabkan koma atau keracunan kronis yang secara
umum berakhir dengan kematian.

b. Glikosida

Toksin glikosida terdiri dari senyawa yang besar. Asam hidrosianida adalah
yang paling umum. Meracuni binatang dengan menghalangi pelepasan oksigen
dari sel darah merah ke sel jaringan. Tanaman yang mengandung HCN termasuk
Johnsongrass. Bahaya dari racun HCN dalam Johnsongrass semakin menoingkat
apabila tanaman ini telah berbunga.

c. Asam Oxalik
Asam oxalic adalah toksin utama dari grup asam organic. Asam ini seringkali
menyebabkan kolik, depresi, koma dan seringkali berakhir dengan kematian
karena kerusakan ginjal. Diet tinggi kalsium dapat mencegah keracunan oleh asam
oxalic.

d. Resins

Resin dan resinoid menrusak system saraf dan jaringan otot. Gejala dari
keracunan resin sangat bervariasi. Milkweeds adalah conntoh dari tanaman
beracun yang mengandung toksin resin. Taanaman ini mengandung toksin
glikosida dan resin yang mana tetap ada walaupun tanaman mongering. Ini
menyebabkan ia beracun pada semua tahap pertumbuhan.

e. Mineral

Beberapa mineral dapat menyebabkan keracunan apabila tanaman yang


menghasilkannya di konsumsi. Di Arizona di khusukan pada nitrogen dan
selenium.

f. Nitrat

Kadar nitrat yang tinggi pada tanaman umumnya menyebabkan keracunan.


Kuda merupakan hewan yang paling sering keracunan oleh tanaman yang
mengandung nitrat tinggi. Kematian biasanya relative cepat apabila tanaman
dengan kadar nitrat tinggi dikonsumsi. Spesies yang dapat bmengakumulasi kadar
toksin nitrat cukup banyak, misalnya carelesweed, pigweed dan thistle rusia.

g. Selenium

Tanaman yang tumbuh di tanah yang mengandung lebih dari 2 ppm selenium
dapat mengakumulasi tingkat keracunan dari selenium. Mengkonsumsi tanaman
ini oleh makhluk hidup dapat menyebabkan keracunan akut atau kronis.Tanaman
yang mengakumulasi selenium terdiri dari dua jenis. Jenis obligat merupakan
jenis mutlak membutuhkan selenium dalam pertumbuhannya dan
pertumbuhannya tergantung dari kadar selenium dalam tanah. jenis fakultatif
selenium adalah tanaman yang dapat mengakumulasi selenium tetapi
pertumbuhannya tidak tergantung oleh selenium. Beberapa jenis dari locoweed
merupakan obligat selenium yang membutuhkan selenium tinggi dalam
pertumbuhannya. Sedangkan fakultatif selenium diantaranya aster dan saltbushes.
Mengkonsumsi tanaman yang mengandung selenium dapat menyebabkan
keracunan akut dan kronis. Keracunan kronis dari selenium terdiri dari dua
bentuk. Kebutaan atau penyakit alkalai. Kebutaan disebabkan akibat
mengkonsumsi tanaman yang mengandung selenium kurang dari 200 ppm selama
1 sampai 2 minggu. Penyakit alkalai timbul setelah mengkonsumsi tanaman
mengandung selenium 5 sampai 40 ppm selama 1 bulan atau lebih.

h. Grass tetani

Grass tetani adalah kelainan nutrisi yang disebabkan oleh berkurangnya kadar
magnesium darah. Akibat dari tetany grass pada binatang adalah pengurangan
kadar magnesium serum yang sampai saat ini tidak diketahui penyebabnya. Tetani
daapat dicegah dengan pemberian magnesium seperti dolomitic limestone atau
magnesium oksida. Penanganan pada binatang yang keracunan dengan injeksi
garam magnesium dapat menghindarkan dari kematian .

2. Berdasarkan Mekanisme kerjanya

RIP TOXINS (Ribosom inactivating Proteins)

Beberapa tanaman Angiospermae mengandung protein toxin yang bekerja pada


RNA N-glikosidase khusus dan menginaktifkan ribosom eukariotik. RIP toxins
terdiri dari 2 tipe:

RIP tipe 1: protein tunggal, dapat menginaktifkan ribosom tapi bersifat


tidak toksik karena tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kontak
dengan sel eukariotik.

RIP tipe 2: merupakan heterodimer, terdapat dalam makanan seperti dalam


benih gandum dan biji berley. RIP tipe 2 merupakan sitotoksin karena salah
satu rantainya berperan sebagai lektin, terikat dengan galakosida pada
permukaan sel eukariotik dan memicu uptake toksin dengan cara
endositosa. Saat berada di dalam sel, ikatan disulfide antara kedua rantai
akan menginaktifkan ribosom melalui aktivitas N-glikosidase

Beberapa toksin dari tumbuhan

Amanita toksin

Amanita toksin dari Amanita phalloides Link dan Amanita


virosa. Bertillon yang lebih jarang ditemui karena menyebabkan keracunan yang
parah, kadangkala fatal karena salah dibedakan dengan jamur lading yang dapat
dimakan yaitu Agaricus campestris L. Kedua genus Amanita dan Agaricus adalah
familia Agaricaceae. Badan buah terdiri dari stalk (stips) dan sebuah cap (pileus)
yang bagian bawahnya terdapat gills (lamella) yang membawa spora.

Salah mengenal jamur yang dapat dimakan dengan amanita paling sering terjadi
pada jamur muda, tetapi dapat dihindari jika perbedaan berikut ini:

1. Amanita selalu memiliki spora berwarna putih. Jika pileus dipecah, gills
dan daging pileus memiliki warna putih yang hamper sama. Jamur lading
memiliki spora coklat kehitaman sehingga gills lebih berwarna tua daripada
pileus.

2. Amanita memiliki universal veil yang pecah ketika jamur berkembang.


Sisa kelupasan berada di dasar sebelah kiri dalam bebtuk :seath atau
pelepah (volva). Jamur lading tidak memiliki seath

3. Amanita memiliki aroma yang tidak enak sdangkan jamur lading memiliki
aroma yang menyenangkan.

Gejala keracunan amanita biasanya setelah 8-12 jam, sakit perut, diare dan
muntah yang hebat. Setelah perawatan di rumah sakit biasanya terjadi perbaikan
semu paling lambat 12-24 jam. Selanjutnya terlihat kerusakan liver. Dalam kasus
serius progress ini cepat terjadi termasuk pembesaran dan pressure-sensitive liver,
jaundice, perdarahan lambung dan usus, oliguria sampai anuria dan gangguan
kesadaran. Kematian dapat terjadi 4-7 hari setelah koma hepatic. Hal ini terjadi
pada hampir 30% kasus.
Toksin amanita terdiri dari 2 jenis peptid siklik yaitu amatoksin dan
phallotoksin. Suatu peptide nontoksik, antamide juga telah diisolasi yang
merupakan antagonis phallotoksin dan menetralkan efeknya jika diberikan
bersama dengan toksin ini.

1. AmatoksinEfek toksik diperpanjang, karena amatoksin diekskresikan


dalam empedu mencapai pembuluh darah kembali melalui sirkulasi
enterohepatik, sehingga memperbaharui kembali serangannya ke liver.
Sebagian amatoksin dapat pula direabsorbsi dari ginjal sehingga
memperpanjang aksi dekstruksinya.

2. Racun amatoksin utama adalah a-amanitin, LD50 secara IP adalah 0,2-0,5


mg/kgbb. Efek racun lambat, kematian terjadi setelah 2-6 hari. Efek toksik
terjadi setelah injeksi maupun ingesti dan mengakibatkan degenari lambat
ginjal dan liver. Toksin menghentikan sintesis protein di dalam sel
eukariotik melalui penghambatan aksi RNA polymerase B dengan cara
memblok RNA polymerase m-RNA. Secara in vivo, sintesis r-RNA juga
terhenti, meskipun bloking RNA polymerase A tidak tampak secara in vivo.
Efek amatoksin hanya tampak pada sel eukariotik.

3. PhallotoksinEfek toksik phallotoksin akan muncul relative cepat. LD50


secara IP adalah 1,5-2,5mg/kgBB dan kematian terjasi setelah 2-3 hari.
Phallotoksin terutama berefek pada liver. Membra plasma sel liver diserang
dan ion-ion menjadi lepas dari sel, mula-mula ion Ca, selanjutnya outflow
massif ion K. Phallotoksin juga terikat pada membrane sel seperti pada
reticulum endoplasma dan lisosom. Jika membrane lisosom rusak, enzim
akan bebas bereaksi dan merusak sel. Efek ini terjadi pada pemberian
parenteral phallotoksin. Tetapi aksi ini tidak terlalu tampak pada keracunan
cap yang mematikan karena phallotoksin hanya sedikit terabsorbsi pada
intestine.

4. Phallotoksin adalah peptide bisiklik, mengandung dua asam amino yang


tidak lazim yaitu hidroksiprolin dan --dihidroksileusin. Strukturnya juga
ditandai oleh jembatan sulfur yang tidak lazim antara sistein dan C-2 di
dalam cairan indol triptofan.
5. Antamanida

6. Peptide ini melawan efek phallotoksin jika diberikan secara simultan.


Perlindungan terbatas melawan amatoksin dapat juga di capai dengan pre-
treatment antamanida ke hewan selama waktu tertentu.

II.3 Cara masuknya racun tumbuhan ke dalam tubuh


Ada 3 macam cara masuknya racun tumbuhan ke dalam tubuh manusia yaitu
sebagai berikut (Pristina, 2013) :
1. Melalui mulut/alat pencernaan.
Cara masuknya racun melalui mulut adalah saat kita menelan
tanaman tersebut. Perlu diketahui bahwa tumbuhan yang dapat
mengakibatkan keracunan itu bukan hanya tumbuhan beracun seperti jenis
tumbuhan yang tertera diatas.Tetapi tumbuhan yang tidak beracun juga
dapat berubah menjadi tumbuhan beracun dikarenakan suatu hal, misalnya
kentang dan wortel yang berwarna agak kehijau hijauan. Warna kehijau
hijauan ini disebabkan oleh racun glycoalkaloid. Jika kita memakan
kentang yang telah berwarna kehijau hijauan tersebut maka racun yang
terkandung dalam kentang akan masuk ke dalam tubuh kita dan
menyebabkan keracunan. Oleh sebab itu, kita harus meneliti dengan
seksama apapun yang akan kita makan.

2. Melalui pernapasan
Racun dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui indra
pembau.Ada beberapa jenis tumbuhan yang berbau dan dapat mengganggu
indra pembau manusia.Tumbyhan tersebut adalah jenis tumbuhan beracun
misalnya bunga bangkai (Raflesia Arnoldi).Jika kita menjumpai tumbuhan
tersebut dan terlalu mencium baunya,maka akan menyebabkan kita pusing.

3. Melalui kulit atau absorbsi (kontak)


Tumbuhan beracun yang terpapar melalui permukaan kulit dan
dapat meresap ke dalam kulit akan mengakibatkan rasa gatal.Rasa gatal
tersebut dikarenakan tumbuhan itu memiliki bulu - bulu halus yang bila
tersentuh oleh kulit kita akan menempel pada kulit dan mengakibatkan
gatal.

II.4 Sejarah tanaman Gympie-Gympie ( Dendrocnide moroides)


Dendrocnide moroides

Scientific classification

Kingdom: Plantae

(unranked): Angiosperms

(unranked): Eudicots

(unranked): Rosids

Order: Rosales

Family: Urticaceae

Genus: Dendrocnide

Species: D. moroides

Indonesia dikenal sebagai negara dengan keragaman hayati yang cukup


tinggi. Berbagai tumbuhan dan hewan dapat dijumpai di Indonesia, tanpa
terkecuali tumbuhan beracun. Gympie-Gympie-tanaman menyengat yang dikenal
beracun juga dapat ditemukan di Indonesia. Tanaman yang dikenal dengan nama
latin Dendrocnide moroides ini dapat ditemukan di Maluku dan sekitar wilayah
Timur Laut Australia. Tanaman yang bisa tumbuh hingga 2 meter ini memiliki ciri
khas daun yang berwarna hijau dan berbentuk hati serta memiliki buah berwarna
ungu. Gympie dikenal sebagai pembunuh anjing, kuda dan juga manusia
dikarenakan rasa sakit akibat sengatan tanaman ini dapat bertahan selama
berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun (Febrianto, 2015).

(Sumber : Wikimedia Commons)

Ada banyak jenis tanaman beracun di dunia, tapi tidak ada yang bisa menyakiti
seperti halnya tanaman ini. Gympie-gympie atau gympie stinger (Dendrocnide
moroides) adalah tanaman semak berdaun lebar yang banyak ditemukan di
kawasan Australasia (Febrianto, 2015).

Tanaman ini termasuk salah satu dari empat spesies tanaman menyengat
yang ada di negara tersebut. Ketiga tanaman lainnya adalah giant stinging tree
(Dendrocnide excelsa), shiny leaf stinging tree (Dendrocnide photinophylla), dan
atherton tableland stinger (Dendrocnide cordata), semuanya berasal dari satu
keluarga Urticaceae (Febrianto, 2015).
(Sumber: Wikimedia Commons)

Sekilas tanaman gympie -gympie tampak tidak berbahaya dengan daunnya


yang lebar berbentuk hati, tap setiap pohon yang kebanyakan tumbuh di hutan
hujan tropis Indonesia - Australia ini sangat berbahaya. gympie -gympie dikenal
sebagai tanaman beracun bahkan mampu menyengat dengan sangat menyakitkan.
Rasa sakit tersebut bahkan sanggup membunuh hewan dan manusia (Magenta,
2015).

Orang pertama yang mendokumentasikan dampak dari racun


tanaman gympie -gympie ini adalah AC Macmillan. Surveyor jalan North
Quensland itu melaporkan di tahun 1866 bahwa kudanya telah tersengat lalu
mengamuk dan mati dalam hitungan 2 jam. Pada tahun 1994, hal yang sama
dialami oleh Cyril Bromley yang jatuh di atas tanaman gympie ketika sedang
latihan militer. Akibatnya Bromley harus dirawar di rumah sakit selama 3 minggu
dan harus tersiksa dengan rasa sakit dari sengatan tersebut (Magenta, 2015).

Bromley menceritakan bahwa rasa sakitnya itu 'seperti digigit ular', dan ia
juga bercerita ada seseorang yang meninggal setelah mengalami kejadian yang
lebih parah, yaitu tanpa sengaja menggunakan daun gimpi itu sebagai toilet
darurat.

Saking dahsyatnya sengatan dari tanaman gympie-gympie ini, militer


Inggris pada tahun 1968 sempat mengembangkan tanaman ini sebagai senjata
biologi. "Sengatan itu seperti dibakar dengan asam panas dan listrik pada saat
yang sama," ungkap ahli entomologi dan ekologi, Marinna Hurley, yang pernah
merasakan tersengat selama 3 tahun dalam penelitiannya (Magenta, 2015).

II. 5 Ciri-Ciri Tanaman Gympie-gympie

(Sumber: australiangeographic.com.au)

Daun gympie-gympie lebar berbentuk hati seperti tanaman hias


Dapat tumbuh hingga dua meter
Berwarna hijau dan memiliki buah berwarna ungu.
Setiap daun ditopang oleh batang
Tanaman ini memiliki bulu-bulu halus

II. 6 Zat Toksik pada Tanaman Gympie-gympie

Gympie-gympie tanaman menyengat memiliki bulu-bulu halus yang


terdapat pada batang. Bulu-bulu halus inilah dapat menyengat dan menyalurkan
racun mematikan ke tubuh korban. Moroidin merupakan racun yang dilepaskan
oleh gympie. Efek dari racun ini diantaranya adalah gatal, ruam, bersin disertai
dengan mimisan parah. Yang perlu diwaspadai adalah, racun moroidin ini tidak
hanya disalurkan melalui sengatan tetapi juga dilepaskan di udara di sekitar
pohon. Sehingga berada dekat dengan tanaman ini dapat mengakibatkan tertular
racun tersebut. Karena kedahsyatan racun dari gympie-gympie-tanaman
menyengat ini, angkatan darat militer Inggris berminat mengembangkan senjata
biologi dari tanaman ini pada tahun 1968. Laboratorium rahasia yang
mengembangkan senjata kimia dilaporkan mengontak seorang Profesor ahli
Patologi untuk memberikan spesimen tanaman menyengat ini (Elsani, 2012).

II. 7 Cara Tanaman Gympie-gympie menyebabkan toksik

Ciri khusus tumbuhan Gympie-Gympie adalah mempunyai bulu-bulu


halus yang dapat menghasilkan racun. Bulu halus ini tumbuh di bagian daun, buah
dan batang. Bulu halus inilah yang digunakan Gympie-Gympie untuk menembus
kulit korbannya dan melepaskan racun bernama moroidin.

(Sumber: tipspetani)

Kadang-kadang, hanya berdiri di dekat Gympie-Gympie dan terkena bulu


yang rontok di udara bisa menyebabkan gatal, ruam, bersin hingga mimisan parah.
Hal pertama yang dirasakan saat terkena Gympie-Gympie adalah rasa panas
yang sangat dan bisa berlangsung selama setengah jam hingga akhirnya sangat
sakit, kata Mike Leahy, seorang ahli virus.

Reaksi alergi yang datang dapat berkembang secara terus menerus dan
menyebabkan bengkak besar. Bulu-bulu halus yang masih tertancap dan belum
dicabut kemungkinan akan terus menerus menyuntikkan racun pada tubuh korban.
Gatal-gatal ekstrim hingga peradangan serius dapat berlanjut dan memerlukan
pengobatan steroid. Pengobatan untuk reaksi alergi dari racun ini juga bukanlah
hal yang mudah. Saksi mata yang merasakan sengatan dari tanaman ini
mengisahkan rasa sakit yang dirasakan dan terus berlanjut dan semakin meradang.
Bahkan terdapat korban yang bunuh diri dikarenakan tidak tahan dengan sakit
yang diakibatkan sengatan tanaman ini.

(Sumber: australiangeographic.com.au)

Setelah itu, persendian akan terasa sakit dan muncul benjolan yang sangat
sakit di ketiak. Dalam kasus berat, keracunan Gympie-Gympie bisa menimbulkan
kematian. Selama menempel di kulit dan tidak segera dicabut, bulu Gympie-
Gympie akan terus melepaskan racun hingga satu tahun. Karena itulah, Gympie-
Gympie adalah musuh utama para pembuka lahan dan penebang kayu
(Notoatmodjo, 2010).

II.8 Pengobatan Toksik tanaman Gympie-gympie

Tidak banyak informasi pengobatan yang digunakan untuk mengobati


akibat dari sengatan gympie. Berdasarkan berbagai sumber sebagian besar obat
yang digunakan untuk menanggulangi efek dari gympie tanaman penyengat masih
kurang sempurna. Analgesik adalah obat pertama yang akan diberikan sebagai
pertolongan pertama setelah tersengat tanaman ini. Dan jangan lupa untuk
mencabut semua bulu beracun dengan plester agar sengatan tidak terus berlanjut.
Tablet histamin yang diminum digunakan untuk mencegah akibat sengatan ini
dalam jumlah racun yang sedikit. Berhati-hatilah saat melakukan perjalanan di
hutan, khususnya lokasi yang dikenal sebagai tempat hidup dari tanaman ini.
Gunakan alat pengaman lengkap yang menutup seluruh tubuh apabila anda
terpaksa memasuki habitat dari tanaman ini. Cermati tanaman di sekitar Anda
serta hindari kontak langsung dengan si Gympie-tanaman penyengat ini (Pristina,
2013).

BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Tumbuhan beracun ialah tumbuhan yang mengandung racun yang berbahaya


bagi manusia dan hewan, terutama jika terjadi kontak langsung dengannya karena
tumbuhan tersebut dapat mencemarkan (bahan) makanan. Adapun ciri - ciri
tumbuhan beracun yang harus kita ketahui agar kita dapat menghindarinya. Ciri
ciri tumbuhan beracun yaitu:
a. Berbau tidak sedap.
b. Tumbuhan bergetah pekat/susu, berwarna mencolok, berbulu, permukaan
kasar, berwarna mengkilat, berduri, dan berdaun kasar atau liat.
c. Tumbuhan beracun biasanya memiliki buah yang berwarna putih atau
kuning.
d. Buah dari tumbuhan beracun biasanya jika dimakan akan terasa pahit dan
berlendir, hal tersebut dikarenakan dalam buah itu terdapat kandungan
racun yang dapat membahayakan makhluk hidup lainnya.
e. Tumbuhan beracun hidup menyendiri dan terpisah dari tumbuh -
tumbuhan yang tidak beracun.
Ada tiga cara masuknya racun tumbuhan kedalam tubuh,yaitu
melalui mulut atau alat pencernaan,melalui alat pernapasan dan
melalui kulit atau absorbs (kontak).

III.2 Saran

Memberikan pengetahuan dan pengenalan tentang tumbuhan yang beracun


dan yang tidak beracun agar ketika anak bermain diluar lingkungan rumah
maupun sekolah sudah dapat membedakan tumbuhan mana yang sebaiknya
dirawat dan dihindari.
DAFTAR PUSATAKA

Ahmad, Islamudin. 2017. Toksin Tumbuhan.


http://islamudinahmad.com/tulisan/artikel-artikel/artikel-4/toksin-tumbuhan/
diakses pada tanggal 12 Maret 2017

Asrofudin. 2010.(online) Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan.


(Online)http://www.canboyz.co.cc/2010/06/faktor-faktor-yang-
mempengaruhi.html , diakses pada tanggal 12 Maret 2017
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Sistem Kesehatan Nasional.
(Online) http://dinkes.bantulkab.go.id /documents/20090721100343-skn-
2004.pdf diakses pada tanggal 12 Maret 2017
Elsani, Elis.2012. Tanaman berbahaya yang penting.
http://asalasah.blogspot.com/2012/05/tanaman-berbahaya-yang-penting.html
(Diaskes tanggal 14 maret 2017)
Febrianto, Samuel. 2015.Gympie-gympie Si pelindung Hutan; Odittycentral
Hamid, Fatmawati. 2012. Faktor risiko keluhan dermatitis kontak pada pekerja
percetakan di Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini Makassar
tahun 2012. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin
Kementrian perindustrian. 2010. Pemerintah Disarankan Verifikasi Industry
Pengguna Bahan Kimia Berbahaya. (online) http :// www. indonesia. Go
.id/in /kementerian/ kementerian/kementerian-perindustri an/713-lingk ungan-
hidup/9511-pemerintah-disarankan-verifikasi- industri-pengguna-bahan-berb
ahaya, diakses pada tanggal 12 Maret 2017
Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No.Kep. 187/Men/1999
Tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja. (online)
Magenta.2015. Manfaat dan Budidaya Tanaman.
http://www.terenyuh.com/2016/01/gympie-gympie-tumbuhan-beracun-
yang.html (Diaskes tanggal 14 maret 2017)
Notoatmodjo, S. 2010. Promosi Kesehatan-Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta
Notoatmodjo. 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta: Penerbit Rineka
Cipta. 8
Pristina, yeyen. 2013.Keselamatan Terhadap Tumbuhan Beracun.
http://yeyenpristina.blogspot.com/2013/07/keselamatan-terhadap-tumbuhan-
beracun.html (Diaskes tanggal 14 maret 2017)
http://versesofuniverse.blogspot.co.id/2015/02/tanaman-paling-beracun-dari-
indonesia.html (Diaskes tanggal 14 maret 2017)
http://himpalaunas.com/artikel/etalase/2010/07/29/mari-mengenal-tumbuhan-
beracun (Diaskes tanggal 14 maret 2017)
http://www.deskripsi.com/t/tumbuhan-beracun (Diaskes tanggal 14 maret 2017