Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan
konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih
sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari (Depkes RI, 2011).
Diare adalah pengeluaran feses yang tidak normal dan cair. Bisa juga
didefinisikan sebagai buang air besar yang tidak normal dan berbentuk cair
dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Bayi dikatakan diare bila sudah
lebih dari 3 kali buang air besar, sedangkan neonatus dikatakan diare bila sudah
lebih dari 4 kali buang air besar (Dewi, 2010).
Penyebab pada orang dewasa dan anak-anak umumnya adalah infeksi
usus. Infeksi usus bisa terjadi ketika kita mengonsumsi makanan atau minuman
yang kotor dan terkontaminasi. Mikroorganisme yang sering menyebabkan infeksi
usus adalah bakteri, parasit, dan virus seperti norovirus dan rotavirus

1.2 Maksud dan Tujuan


1. untuk mengetahui tentang penyakit diare
2. untuk mengetahui peran perawat dalam merawat pasien dengan
diare
1.3 Manfaat
Memberikan pengetahuan pada pembaca tentang bahayanya penyakit diare.

BAB II

1
ISI JURNAL

2.1 Judul Jurnal


Adapun Jurnal yang saya ambil dan saya analisa, yaitu : ANALISIS
KONDISI SOSIAL DEMOGRAFI, LINGKUNGAN DAN KEJADIAN DIARE
DI DUSUN SAGAN KECAMATAN DEPOK SLEMAN YOGYAKARTA.
2.2 Penulis/Peneliti
Penulis Jurnal ini berjumlah 2 orang
1. Prastiwi Putri Basuki
2. Ariana Sumekar
2.3 Nama Jurnal
Adapun Nama Jurnal yang saya ambil dan analisa yaitu : Jurnal Kesehatan
Samodra Ilmu Vol. 06 No. 02, Juli 2015
2.4 Ringkasan Jurnal
Diare berpotensi meningkat lagi (re-emerging) mempertimbangkan
kondisi perilaku dan lingkungan (fisik, sosial, ekonomi dan budaya) yang
kurang komunitas yang mendukung. Kondisi ini masih belum tercermin
dalam penghapusan berbagai penyakit dan faktor risiko tinggi untuk kedua
kondisi perilaku dan lingkungan di masyarakat. Metode: Penelitian ini
merupakan desain cross-sectional observasional. Jumlah sampel 97 orang
dengan metode stratified random sampling sampling. Pengumpulan data
melalui wawancara, check list, dan observasi langsung. Hasil: Hasil
penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara pendidikan (sig 0,244),
jenis kerja (sig 0.420), sumber air bersih (sig 0,131), dan jenis jamban
keluarga (sig 0,633) dengan diare di Sagan Kecamatan Depok Sleman
Yogyakarta. Pengembangan masyarakat melalui pendidikan kesehatan
untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, sanitasi hyigene, dan
kondisi membaik jamban kondisi kesehatan yang tepat untuk memutus
rantai penularan penyakit diare.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 ANALISIS ISI JURNAL
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki angka kejadian diare
yang cukup tinggi. Tahun 2006 angka kesakitan meningkat sebesar 423/1.000

2
penduduk pada semua umur. Dari keseluruhan angka morbiditas hampir 60
persen didominasi anak-anak. Berdasarkan hasil penelitian terbaru dari riset
kesehatan dasar tahun 2008, diare merupakan penyumbang kematian terbesar
di Indonesia, yaitu mencapai 31,4 persen dari total kematian bayi. Diare juga
penyebab kematian terbesar balita. Tercatat 25,2 persen kematian balita di
tanah air disebabkan oleh penyakit diare. Hal ini tentu patut menjadi
perhatian utama karena terdapat peningkatan angka morbiditas dan mortalitas
diare di Indonesia dari tahun ke tahun (Diastyarini, 2009). Berdasarkan data
surveilans Dinkes Provinsi DIY Tahun 2012, menunjukkan bahwa kejadian
diare menduduki peringkat kedua dari sepuluh besar penyakit yang ada di
DIY. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab
diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan
oleh Virus, Bakteri, dan Parasit. Penyakit infeksi merupakan penyakit yang
banyak diderita masyarakat Indonesia sejak dulu, diantaranya adalah infeksi
usus (diare). Diare adalah suatu gejala klinis dari gangguan pencernaan (usus)
yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya
dan berulang-ulang. yang disertai adanya perubahan bentuk dan konsistensi
feses menjadi lembek atau cair. Salah satu faktor penyebab terjadinya diare
antara lain karena infeksi kuman penyebab diare. Timbulnya penyakit diare
disebabkan oleh keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat yang tidak
menguntungkan. Banyak hal yang dapat mempengaruhi kejadian diare di
suatu wilayah yaitu kuman penyakit yang menyebar melalui mulut,
kebersihan lingkungan, umur, letak geografi, dan juga perilaku masing-
masing individu. (Soemirat, 2006). Penyakit Diare memiliki potensi untuk
meningkat kembali (re-emerging) mengingat kondisi perilaku dan lingkungan
(fisik, sosial, ekonomi dan budaya) masyarakat yang kurang mendukung.
Kondisi ini tergambar dari masih belum tereliminasinya berbagai penyakit
tersebut dan masih tingginya faktor risiko baik perilaku maupun kondisi
lingkungan di masyarakat. Program nasional Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM) berkontribusi pada MDGs khususnya tujuan 7 yaitu
menjamin kelestarian lingkungan hidup dengan target yaitu menurunkan
hingga separuhnya proporsi rumah tangga tanpa akses terhadap sumber air

3
minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada tahun
2015. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan
untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan
masyarakat dengan metode pemicuan. Program STBM memiliki indikator
outcome dan indikator output.
Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan
penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan
perilaku. Sedangkan salah satu indikator outputnya yaitu setiap individu dan
komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat
mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat /
Open Defecation Free (ODF). Pencapaian yang optimal pada tujuan 7 MDGs
akan mempengaruhi juga tujuan 4 MDGs yaitu mengurangi angka kematian
anak. Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi
layak di kota dan desa terdapat peningkatan mulai tahun 1993 sebesar 37,73%
menjadi sebesar 44,19% pada tahun 2010, sedangkan target MDGs 2015
sebesar 62,41%. Persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat di
daerah DIY sebesar 79,2% (BPS, SUSENAS, 2010). Sedangkan kondisi
perumahan di Provinsi DIY menunjukkan baru 64,65% yang masuk dalam
kategori rumah sehat. Kabupaten Sleman terdapat 55,1% penduduk yang
memiliki kualitas air minum memenuhi syarat. Tahun 2012, Jumlah KK yang
menggunakan jamban 217.616 KK, dari 305.543 KK yang ada di wilayah
Sleman ( 71,22%). Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa masih
terdapat sebagian penduduk yang memiliki kualitas air minum yang belum
memenuhi syarat dan sebagian penduduk yang tidak menggunakan jamban.
Berdasarkan data sekunder dari Puskesmas Depok III tergambarkan bahwa
penyakit diare masih menduduki sepuluh besar penyakit. Kejadian penyakit
diare di Puskesmas Depok III, diperoleh jumlah penderita penyakit diare pada
bulan Desember 2013 dengan jumlah 72 kasus. Salah satu dusun yang berada
di wilayah kerja Puskesmas Depok III dan mempunyai pemukiman padat
penduduk adalah dusun Sagan. Karena kepadatan pemukiman akan
mempengaruhi penduduk dalam penggunaan dan pembuatan jamban.
Penggunaan dan pembuatan jamban merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi kejadian diare. Untuk mendukung upaya penurunan dan

4
pencegahan kasus diare yang terjadi maka perlu dilakukan penelitian
mengenai kondisi faktor lingkungan terhadap kejadian diare di Dusun Sagan
Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Yogyakarta beserta faktor sosial
demografi yang mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara faktor sosial demografi dan faktor lingkungan dengan
kejadian diare di dusun Sagan Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Daerah
Istimewa Yogyakarta.

3.2 Kelebihan dan Kekurangan Jurnal


3.2.1 Kelebihan Jurnal
1.Penelitian mudah di pahami
2. Bahasa yang digunakan mudah dipahami
3.2.2 Kekurangan Jurnal
l. komplikasi untuk penyakit Diare tidak di jelaskan
2. Kurangnya penyuluhan tentang penyakit diare
3.3 IMPLIKASI KEPERAWATAN

Ilmu keperawatan adalah bidang ilmu yang sangat berpengaruh terhadap


perawatan pasien apalagi pada penaganan pasien Diare.Penyuluhan terhadap
masyarakat tentang bahayanya penyakit Diare sangatlah penting untuk menekan
angka kematian pada penderita Diare.

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN

Jadi dapat disimpulkan dari beberapa pengertian tersebut bahwa


diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair yang dapat disertai lendir atau darah dengan frekuensi
defekasi lebih dari 3 kali sehari dimana diare akut berlangsung kurang dari
dua minggu dan diare kronik berlangsung lebih dari dua minggu

5
4.2 SARAN
Seharusnya perawat harus lebih banyak memberikan penyuluhan
tentang bahayanya penyakit diare, terutama pada kalangan masyarakat yang
kurang mampu, agar masyarakat bisa lebih mandiri dan lebih menjaga
lingkungan dan gaya hidup yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA
http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2013/12/laporan-pendahuluan-
diare.html
di akses pada tanggal 6 februari 2017 pukul 20:25
http://arsipguntur.blogspot.co.id/2013/04/lp-diare.html
di akses pada tanggal 6 februari 2017 pukul 20:25

6
7