Anda di halaman 1dari 21

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN JANUARI, 2017


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

BAYI BERAT LAHIR RENDAH


(BBLR)

Oleh :

NUR ISMA FADHLIAH, S.Ked


10542 0409 12

Pembimbing :
dr. HUSHAEMAH SYAM, Sp.A

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2017
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrahim
AssalamuAlaikum WR.WB
Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT
karena atas rahmat, hidayah, kesehatan dan kesempatan-Nya
sehingga laporan kasus dengan judul BAYI BERAT LAHIR
RENDAH ini dapat diselesaikan. Salam dan shalawat
senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, sang
pembelajar sejati yang memberikan pedoman hidup yang
sesungguhnya.
Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan
terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
dosen pembimbing dr. Hushaemah Syam, Sp. A yang telah
memberikan petunjuk, pengarahan dan nasehat yang sangat
berharga dalam penyusunan sampai dengan selesainya laporan
kasus ini.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat
kelemahan dan kekurangan dalam penyusunan laporan kasus ini,
baik dari isi maupun penulisannya. Untuk itu kritik dan saran dari
semua pihak senantiasa penulis harapkan demi penyempurnaan
laporan kasus ini.

Demikian, Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi


pembaca secara umum dan penulis secara khususnya.

Billahi Fi Sabilill Haq Fastabiqul Khaerat


Wassalamu Alaikum WR.WB.

Makassar, Januari 2017

Penulis
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan, bahwa:


Nama : Nur Isma Fadhliah, S.Ked
NIM : 10542 0409 12
Judul Laporan kasus : Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

Telah menyelesaikan Laporan kasus dalam rangka Kepanitraan


Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Januari 2017


Pembimbing,

(dr. Hushaemah Syam, Sp. A)


A. PENDAHULUAN

Periode akhir janin atau periode neonatal awal memiliki angka


kematian tertinggi dibandingkan seluruh periode usia anak lainnya. Angka
kematian neonatal mencakup semua bayi selama periode setelah lahir hingga
28 hari pertama kehidupan. Perawatan intensif neonatal modern
memungkinkan neonatus dengan penyakit yang mengancam jiwa dapat
melewati periode neonatusnya, dan kemudian meninggal akibat penyakit awal
atau komplikasi terapi yang terjadi setelah berusia 28 hari. Kematian yang
tertunda ini atau akibat sakit yang didapat pada periode pascaneonatal adalah
waktu yang dimulai setelah usia 28 hari sampai akhir tahun pertama
kehidupan. Angka kematian bayi meliputi periode neonatal dan pascaneonatal.
Secara keseluruhan, kelainan kongenital dan prematuritas adalah merupakan
penyebab terbesar dari kematian neonatal.1
Bayi berat lahir rendah (BBLR) didefinisikan sebagai bayi lahir
dengan berat lahir kurang dari 2500 gr, merupakan komponen terbanyak dari
angka kematian neonatal dan bayi. Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT)
merupakan penyebab utama BBLR di negara berkembang, sementara di negara
maju dikarenakan prematuritas. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR)
yaitu mempunyai berat lahir kurang dari 1500 g. Bayi berat lahir rendah
memiliki risiko kematian 40 kali lebih besar dibandingkan bayi dengan berat
lahir lebih besar dari 2500 gr pada periode neonatal, sedangkan BBLSR
memiliki risiko kematian neonatal 200 kali lebih tinggi. Angka kejadian BBLR
tidak menurun dalam beberapa tahun terakhir dan merupakan salah satu
penyebab utama angka kematian bayi di Amerika lebih tinggi dibandingkan
negara-negara maju lainnya. 1
Di samping itu, BBLR juga dapat berdampak serius terhadap
kualitas generasi mendatang, karena dapat memperlambat pertumbuhan dan
perkembangan anak, sehingga berpengaruh terhadap penurunan kecerdasan.
Bayi dengan berat lahir rendah cenderung mengalami perkembangan kognitif
yang lambat, kelemahan syaraf dan tampilan yang buruk pada proses
pendidikannya. Bahkan BBLR mempunyai dampak kompleks sampai usia
dewasa, antara lain meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, diabetes,
gangguan metabolik dan kekebalan tubuh serta ketahanan fisik yang hasilnya
adalah beban ekonomi individu dan masyarakat.2
Menurut WHO, di seluruh dunia lahir sekitar 20 juta bayi dengan
berat lahir rendah dan 19 juta diantaranya lahir di beberapa negara berkembang
dengan angka insiden antara 11% sampai 31%. Menurut Depkes (2004) sekitar
57% kematian bayi di Indonesia terjadi pada bayi umur di bawah 1 bulan
pertama dan terutama disebabkan oleh gangguan selama perinatal dan BBLR.
Menurut perkiraan, setiap tahunnya terdapat sekitar 400.000 bayi dengan
BBLR. Studi tentang BBLR sebelumnya yang berdasarkan pada data riset
komunitas yaitu Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 disimpulkan bahwa faktor-
faktor yang mempuyai hubungan bermakna dengan kejadian BBLR antara lain
jenis kelamin bayi, pendidikan ibu, jumlah anak dan pemeriksaan ANC.2
Faktor ibu yang berhubungan dengan BBLR akibat prematuritas
maupun PJT adalah riwayat kelahiran BBLR sebelumnya, status sosial
ekonomi rendah, rendahnya tingkat pendidikan ibu, tidak ada perawatan
antenatal, merokok, pengguna alkohol dan narkoba, stress fisis (terlalu banyak
berdiri atau berjalan) atau psikologis (dukungan sosial yang buruk), status tidak
menikah, berat badan sebelum hamil rendah (<45 kg), kenaikan berat badan
selama hamil kurang (<10 lb), dan ras Afro-Amerika.1

B. LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS
Nomor RM : 60.04.13
Nama Bayi : By. Ny. Nawati / G2
Nama Ibu : Ny. Nawati
Nama Ayah : Tn. Efendi
Lahir tanggal jam : Selasa, 17-01-2017, Pukul 09.35 WITA
Jenis Kelamin : Perempuan
Kelahiran : Gemelli
Berat badan lahir : 2150 gram
Kondisi saat lahir : Hidup
Keadaan bayi saat lahir : Segera menangis
Diagnosis Medis : BBLR
Ruangan : Lily Perinatologi

2. BALLARD SCORE
Hari : Selasa, 17/01/2017 Kulit :3
Jam : 09.35 WITA Lanugo :4
BBL : 2150 gram Garis Telapak Kaki :3
Panjang Badan Lahir : 45 cm Telinga :3
Panjang lengan : 17 cm Genital
:3
Panjang kaki : 18 cm Payudara
:3
Lingkar kepala : 31,5 cm Sikap :3
Lingkar dada : 32 cm JPL
:4
Lingkar perut : 29 cm Rekoil lengan
:3
Lingkar lengan atas : 8 cm Sudut Poplitea :3
Heart Rate : 150 x/menit Tanda Scarf :3
Pernapasan : 60 x/menit Tumit ke Telinga :3
Suhu : 36,4 0C Skor : 38

TUK : 37 42 minggu
Diagnosa : BCB/KMK/SC gemelli
Diagnosis kerja : BBLR

3. FOLLOW UP
Tanggal / Jam Hasil pemeriksaan Instruksi
Selasa, 17 Januari S: Telah lahir seorang bayi perempuan - ASI
2016 secara SC indikasi post SC anak 1 - Rawat
gemelli letak oblique dan segera Inkubator
menangis. Bayi lahir di rumah sakit. - Rawat tali
A/S : 8/10 pusat
- Inj. Neo K
Ketuban jernih kesan cukup
- Obat tetes
BAB : Meconium (+)
mata
BAK : Lancar
O:
BBL : 2150 gram
PBL : 45 cm
LK : 31,5 cm

HR : 150 x/menit
RR : 50 x/menit
S : 36,6 0C

Paru : Bronkovesikuler
Ronchi -/-
Wheezing -/-
Cardiovaskular : BJ I/II murni regular
Abdomen : Peristaltik (+), kesan normal
Tali pusat : Basah, Bau(-), Radang(-)
Metabolik : Edema (-), Ikterus (-)

Trauma lahir (-)


Kelainan congenital (-)
TUK 37 42 minggu
Ballard score 38

A: BCB / KMK /SC


Rabu, 18 Januari S : Aktif - ASI
2017 Refleks isap (+) - Rawat
Refleks telan (+) Inkubator
BAB : Meconium - Rawat tali
BAK : Lancar pusat
O:
KU : Aktif
HR : 138 x/menit
RR : 42 x/menit
S : 36,5 0C

Paru : Bronkovesikuler
Ronchi -/-
Wheezing -/-
Cardiovaskular : BJ I/II murni regular
Abdomen : Peristaltik (+), kesan normal
Tali pusat : Basah, Bau(-), Radang(-)
Metabolik : Edema (-), Ikterus (-)

A: BCB / KMK /SC


Kamis, 19 S : Aktif - ASI
Januari 2017 Refleks isap (+) - Rawat
Refleks telan (+) Inkubator
BAB : Meconium - Rawat
BAK : Lancar tali pusat
- PMK
O:
KU : Aktif
HR : 136 x/menit
RR : 40 x/menit
S : 37,2 0C

Paru : Bronkovesikuler
Ronchi -/-
Wheezing -/-
Cardiovaskular : BJ I/II murni regular
Abdomen : Peristaltik (+), kesan normal
Tali pusat : Basah, Bau(-), Radang(-)
Metabolik : Edema (-), Ikterus (-)

AA: BCB / KMK /SC


Jumat, 20 Januari S : Aktif - ASI
2017 Refleks isap (+) - Rawat
Refleks telan (+) luar
BAB : Meconium Inkubator
BAK : Lancar - Rawat
O: tali pusat
- Boleh
KU : Aktif
KRS
HR : 132 x/menit
RR : 48 x/menit
S : 37 0C

Paru : Bronkovesikuler
Ronchi -/-
Wheezing -/-
Cardiovaskular : BJ I/II murni regular
Abdomen : Peristaltik (+), kesan normal
Tali pusat : Kering
Metabolik : Edema (-), Ikterus (-)

A: BCB / KMK /SC

C. PEMBAHASAN

1. DEFINISI
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat
kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi (berat lahir adalah
berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir). BBLR dapat terjadi
pada bayi kurang bulan (<37 minggu) atau bayi yang cukup bulan (IUGR).3,4

2. ETIOLOGI
Penyebab dari BBLR terdiri dari :3
1) Persalinan kurang bulan/premature
Bayi lahir pada umur kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu. Pada
umumnya bayi kurang bulan disebabkan tidak mampunya uterus menahan
janin, gangguan selama kehamilan, lepasnya plasenta lebih cepat dari
waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus
sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat
tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim.
Semakin muda umur kehamilan, fungsi organ tubuh semakin kurang
sempurna dan prognosisnya semakin kurang baik. Kelompok BBLR ini
sering mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya
organ karena masa gestasi yang kurang (premature).
2) Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan
Bayi lahir kecil untuk masa kehamilannya karena ada hambatan
pertumbuhan saat dalam kandungan (Janin tumbuh lambat). Retardasi
pertumbuhan intrauterin berhubungan dengan keadaan yang mengganggu
sirkulasi dan efisiensi plasenta dengan pertumbuhan dan perkembangan
janin atau dengan keadaan umum dan gizi ibu. Keadaan ini mengakibatkan
kurangnya oksigen dan nutrisi secara kronik dalam waktu yang lama untuk
pertumbuhan dan perkembangan janin. Kematangan fungsi organ
tergantung pada usia kehamilan walaupun berat lahirnya kecil.
Beberapa faktor predisposisi: 3,4
1. Faktor ibu adalah umur, jumlah paritas, penyakit kehamilan, gizi kurang
atau malnutrisi, trauma, kelelahan, merokok, kehamilan yang tidak
diinginkan
2. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan ganda
3. Faktor janin adalah kelainan bawaan, infeksi

3. KLASIFIKASI
1. Berdasarkan berat: bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut
bayi berat lahir rendah tanpa memperhatikan masa gestasinya.
2. Berdasarkan masa gestasi: berat lahir dihubungkan dengan masa gestasi.
a. Kurang bulan: kurang dari 259 hari (37 minggu penuh)
b. Cukup bulan: 259-293 hari (37-41 minggu)
c. Lebih bulan: 294 hari (42 minggu atau lebih)
3. Bayi berat lahir rendah dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar:
a. Bayi kurang bulan
b. Bayi cukup bulan dengan berat kurang dari 2500 gram (Kecil untuk
masa kehamilannya).
4. Bayi berat lahir rendah menurut harapan hidupnya:
a. Bayi berat lahir rendah (BBLR) yaitu berat lahir <2500 gram
Bayi dengan berat lahir > 2250 gram umumnya cukup kuat untuk mulai
minum sesudah dilahirkan. Jaga bayi tetap hangat dan kontrol infeksi,
tidak ada perawatan khusus. Sebagian bayi dengan berat lahir 1750
2250 gram mungkin perlu perawatan ekstra, tetapi dapat secara normal
bersama ibunya untuk diberi minum dan kehangatan, terutama jika
kontak kulit-ke-kulit dapat dijaga.
b. Bayi berat lahir sangat rendah yaitu berat lahir 1000-1500g
c. Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) yaitu berat lahir <1000g.

4. DIAGNOSIS
1) Anamnesis
Umur ibu
Riwayat persalinan sebelumnya
Jumlah paritas, jarak kelahiran sebelumnya
Kenaikan berat badan ibu selama hamil
Aktivitas ibu yang berlebihan
Trauma pada ibu (termasuk post coital trauma)
Penyakit yang diderita selama hamil
Obat-obat yang diminum selama hamil
2) Pemeriksaan fisik
Berat lahir kurang dari 2500 gram
Untuk BBLR kurang bulan:
Tanda prematuritas:
a. Tulang rawan telinga belum terbentuk
b. Masih terdapat lanugo (rambut halus pada kulit)
c. Refleks-refleks masih lemah
d. Alat kelamin luar: pada perempuan labium mayus belum menutup
labium minus, pada laki-laki belum terjadi penurunan testis dan
kulit testis rata (rugae testis belum terbentuk)
Untuk BBLR kecil masa kehamilan:
Tanda janin tumbuh lambat:
a. Tidak dijumpai tanda prematuritas seperti tersebut di atas.
b. Kulit keriput
c. Kuku lebih panjang.3,4

5. MANAJEMEN UMUM
1) Stabilisasi suhu, jaga bayi tetap hangat
Caranya:
a. Kontak kulit
Untuk semua bayi dan untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat
atau menghangatkan bayi hipotermi (32-36,40C) apabila cara lain tidak
mungkin dilakukan.
b. KMC
Untuk menstabilkan bayi dengan berat badan <2500 gram, terutama
direkomendasikan untuk perawatan berkelanjutan bayi dengan berat
badan <1800 gram dan usia gestasi <34 minggu.
c. Pemancar panas
Untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1500 gram atau lebih dan untuk
pemeriksaan awal bayi, selama dilakukan tindakan atau menghangatkan
kembali bayi yang hipotermi.
d. Inkubator
Penghangatan berkelanjutan , bayi dengan berat <1500 gram yang tidak
dapat dilakukan KMC. Untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas
berat).
e. Ruangan hangat
Untuk merawat bayi dengan berat <2500 gram yang tidak memerlukan
tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan. Tidak untuk bayi sakit
berat (sepsis, gangguan napas berat).
2) Jaga patensi jalan napas.
3) Nilai segera kondisi bayi tentang tanda vital: pernapasan, denyut jantung,
warna kulit, dan aktifitas.
4) Bila bayi mengalami gangguan napas, atasi gangguan napas.
5) Bila bayi kejang, hentikan kejang dengan anti konvulsan.
6) Bila bayi dehidrasi, pasang jalur intravena, berikan cairan rehidrasi IV
7) Pemberian vitamin K. Injeksi 1 mg sekali pemberian atau per oral 2 mg 3
kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu).3,4

Pemberian Minum
- ASI merupakan pilihan utama. Pastikan bayi menerima jumlah yang
cukup dengan cara apapun: periksa apakah bayi puas setelah menyusu,
catat jumlah urine setiap bayi kencing untuk menilai kecukupan minum
(paling kurang 6 kali sehari), dan periksa pada saat ibu menyusui. Apabila
satu payudara dihisap, ASI menetes dari payudara yang lain.
- Timbang bayi setiap hari, hitung penambahan/pengurangan erat,sesuaikan
pemberian cairan dan susu serta catat hasilnya. Apabila bayi sudah tidak
mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20gram/hari selama 3 hari
berturut-turut timbang bayi 2 kali seminggu.
- Pemberian minum minimal 8x/hari. apabila bayi masih menginginkan
dapat diberikan.
- Bayi dengan berat 1500-tidak boleh kehilangan berat lebih dari 10% dari
berat lahirnya pada hari 4-5 hari pertama.
- Apabila kenaikan berat badan bayi tidak adekuat, tangani masalah
kenaikan berat badan yang tidak adekuat dengan memantau kecukupan
nutrisi, cairan dan elektrolit.
- Indikasi nutrisi parenteral yaitu status kardiovaskular dan respirasi yang
tidak stabil dan fungsi usus yang belum berfungsi.
- Bila terjadi penyulit segera kelola sesuai dengan penyulit yang timbul
misalnya hipotermi, kejang, gangguan napas, hiperbilirubinemia.
- Berikan dukungan emosional kepada ibu dan anggota keluarga lainnya.
- Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila ini tidak memungkinkan,
biarkan ia berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui.
- Ijinkan dan anjurkan kunjungan oleh keluarga atau teman dekat apabila
memungkinkan.3,4

Perawatan Metode Kanguru (PMK)


Kangaroo Mother Care (KMC) atau Perawatan Metode Kanguru (PMK)
merupakan perawatan untuk bayi berat lahir rendah atau lahiran prematur
dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu atau
skin-to-skin contact, dimana ibu menggunakan suhu tubuhnya untuk
menghangatkan bayi.6
Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan alternatif pengganti
inkubator dalam perawatan BBLR, dengan beberapa kelebihan antara lain:
merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi yang paling
mendasar yaitu adanya kontak kulit bayi ke kulit ibu, dimana tubuh ibu akan
menjadi thermoregulator bagi bayinya, sehingga bayi mendapatkan
kehangatan (menghindari bayi dari hipotermia), PMK memudahkan
pemberian ASI, perlindungan dari infeksi, stimulasi, keselamatan dan kasih
sayang. PMK dapat menurunkan kejadian infeksi, penyakit berat, masalah
menyusui dan ketidakpuasan ibu serta meningkatnya hubungan antara ibu dan
bayi serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi.6
Pada awalnya, PMK terdiri dari 3 komponen, yaitu : kontak kulit ke kulit
(skin-to-skin contact), pemberian ASI atau breastfeeding, dan dukungan
terhadap ibu (support). Literatur terbaru menambahkan satu komponen lagi
sehingga menjadi terdiri dari 4 komponen, yaitu: kangaroo position, kangaroo
nutrition, kangaroo support and kangaroo discharge. 6
1. Posisi kanguru (kangaroo position) adalah menempatkan bayi pada posisi
tegak di dada ibunya, di antara kedua payudara ibu, tanpa busana. Bayi
dibiarkan telanjang hanya mengenakan popok, kaus kaki dan topi sehingga
terjadi kontak kulit bayi dan kulit ibu seluas mungkin. Posisi bayi
diamankan dengan kain panjang atau pengikat lainnya. Kepala bayi
dipalingkan ke sisi kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah
(ekstensi). Ujung pengikat tepat berada di bawah kuping bayi.
Posisi kepala seperti ini bertujuan untuk menjaga agar saluran napas tetap
terbuka dan memberi peluang agar terjadi kontak mata antara ibu dan bayi.
2. Kanguru nutrisi (kangaroo nutrition) merupakan salah satu manfaat PMK,
yaitu meningkatkan pemberian ASI secara langsung maupun dengan
pemberian ASI perah.
3. Kangaroo support merupakan bentuk bantuan secara fisik maupun emosi,
baik dari tenaga kesehatan maupun keluarganya, agar ibu dapat melakukan
PMK untuk bayinya.
4. kangaroo discharge adalah membiasakan ibu melakukan PMK sehingga
pada saat ibu pulang dengan bayi, ibu tetap dapat melakukan PMK bahkan
melanjutkannya di rumah. Metode ini merupakan salah satu teknologi
tepat guna yang sederhana, murah dan dapat digunakan apabila fasilitas
untuk perawatan BBLR sangat terbatas.6
Perawatan Metode Kanguru dapat dilakukan dengan dua cara: 6

1) PMK intermiten

Bayi dengan penyakit atau kondisi yang berat membutuhkan perawatan


intensif dan khusus di ruang rawat neonatologi, bahkan mungkin
memerlukan bantuan alat. Bayi dengan kondisi ini, PMK tidak diberikan
sepanjang waktu tetapi hanya dilakukan jika ibu mengunjungi bayinya
yang masih berada dalam perawatan di inkubator. PMK dilakukan dengan
durasi minimal satu jam, secara terus-menerus per hari. Setelah bayi lebih
stabil, bayi dengan PMK intermiten dapat dipindahkan ke ruang rawat
untuk menjalani PMK continue.

2) PMK kontinue

Pada PMK kontinue, kondisi bayi harus dalam keadaan stabil, dan bayi harus
dapat bernapas secara alami tanpa bantuan oksigen. Kemampuan untuk
minum (seperti menghisap dan menelan) bukan merupakan persyaratan
utama, karena PMK sudah dapat dimulai meskipun pemberian minumnya
dengan menggunakan pipa lambung. Dengan melakukan PMK, pemberian
ASI dapat lebih mudah prosesnya sehingga meningkatkan asupan ASI.

Manfaat Perawatan Metode Kanguru

Menurunkan angka kematian neonatal

Menstabilkan suhu, pernafasan dan denyut jantung bayi

Mengurangi kejadian infeksi

Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi

Meningkatkan keberhasilan pemberian ASI

Meningkatkan ikatan (bonding) antara ibu dan bayi. 6

6. MONITORING DAN KONSELING


a. Tata laksana
- Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan.
- Preparat besi sebagai suplementasi mual diberikan pada usia 2
minggu.4
b. Tumbuh kembang
- Pantau berat bayi secara periodik.
- Bayi akan kehilangan berat selama 7-10 hari pertama. Bayi dengan
berat lahir >1500g dapat kehilangan berat sampai 10% dan 15% untuk
bayi berat lahir <1500g. Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam
14 hari kecuali apabila terjadi komplikasi.
- Setelah berat lahir tercapai kembali, kenaikan berat badan selama tiga
bulan seharusnya: 150-200g seminggu untuk bayi <1500g (misalnya
20-30g/hari) dan 200-250g seminggu untuk bayi 1500-2500g
(misalnya 30-35g/hari).
- Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori
berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari:
1) Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 mL/kg/hari sampai tercapai
jumlah 180 Ml/kg/hari
2) Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan kenaikan berat badan bayi
agar jumlah pemberian ASI tetap 180ml/kg/hari.
3) Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah
pemberian ASI sampai 200 ml/kg/hari.
4) Apabila kenaikan berat tetap kurang dari batas yang telah
disebutkan di atas dalam batas waktu seminggu padahal bayi sudah
mendapat ASI 200 ml/kg BB per hari, tangani sebagai
kemungkinan kenaikan berat badan yang tidak adekuat.
5) Timbang berat badan setiap hari, ukur panjang badan dan lingkar
kepala setiap minggu.4

c. Tanda kecukupan pemberian ASI


- Buang air kecil minimal 6 kali dalam 24 jam
- Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI
- Peningkatan berat badan setlah 7 hari pertama sebanyak 20 gram
setiap hari
- Periksa pada saat ibu menyusui apabila payudara dihisap ASI menetes
dari payudara lain.
BBLR dapat dipulangkan apabila:5
1. Tidak terdapat tanda bahaya atau tanda infeksi berat
2. Berat badan bertambah hanya dengan ASI
3. Suhu tubuh bertahan pada kisaran normal dengan pakaian terbuka
4. Ibu yakin dan mampu merawatnya
BBLR harus diberi semua vaksin yang dijadwalkan pada saat lahir dan jika ada
dosis kedua pada saat akan dipulangkan.
Lakukan konseling pada orang tua sebelum bayi pulang mengenai :
1. Pemberian ASI eksklusif
2. Menjaga bayi tetap hangat
3. Tanda bahaya untuk mencari pertolongan
Timbang berat badan, nilai minum dan kesehatan secara umum setiap
minggu hingga berat badan bayi mencapai 2.5 kg.5

7. KOMPLIKASI
1. Hipotermi
2. Hipoglikemia
3. Hiperbilirubinemia
4. Respiratory distress syndrome (RDS)
5. Intracerebral and intraventricular haemorrhage (IVH)
6. Periventricular leucomalasia (PVL)
7. Infeksi bakteri
8. Kesulitan minum
9. Penyakit paru kronis
10. Necrotizing enterocolitis
11. Apnea of prematurity terutama terjadi pada bayi <1000g
12. Patent ductus arteriosus pada bayi dengan berat <1000g
13. Disabilitas mental dan fisik (keterlambatan perkembangan, cerebral palsy,
gangguan pendengaran, gangguan penglihatan seperti retinopathy of
prematurity).4

8. DISKUSI
Dilaporkan pada hari selasa, 17 januari 2017 pukul 09.35 WITA telah
lahir seorang bayi perempuan secara SC indikasi post SC anak pertama
gemelli letak oblique dan segera menangis dengan BBL 2150 gram dan
panjang lahir 45 cm. A/S 8/10. Bayi ini dirawat di ruangan Lily perinatologi
RS TK.II Pelamonia dengan BBLR. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang
menjelaskan tentang keadaan ini, yakni bayi dengan berat lahir <2500 gram
termasuk dalam kategori BBLR.
Faktor predisposisi ibu meliputi usia ibu saat melahirkan yaitu 35 tahun,
kelahiran anak kedua, paritas pertama pada tahun 2011, paritas kedua pada
tahun 2017, berat badan bayi pada kelahiran sebelumnya baik, status gizi baik,
riwayat trauma tidak ada. Riwayat ANC rutin selama kehamilan. Berdasarkan
data tersebut faktor resiko ibu yang dapat kita pikirkan adalah usia ibu saat
melahirkan.
Faktor plasenta pada bayi ini meliputi kehamilan ganda, dimana nutrisi
yang melalui plasenta terbagi sehingga bayi mengalami kekurangan asupan
saat di dalam kandungan.
Tidak ditemukan adanya kelainan bawaan dan infeksi pada janin,
sehingga faktor janin dapat disingkirkan pada kasus ini.
Manajemen umum untuk kasus BBLR meliputi stabilisasi suhu untuk
menjaga bayi tetap hangat, Kangaroo Mother Care (KMC) atau Perawatan
Metode Kanguru (PMK) merupakan perawatan untuk bayi berat lahir rendah
atau lahiran prematur dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi
dengan kulit ibu atau skin-to-skin contact, dimana ibu menggunakan suhu
tubuhnya untuk menghangatkan bayi, cara ini merupakan cara yang efektif
pengganti inkubator dalam perawatan BBLR, dengan beberapa kelebihan
antara lain: merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan bayi
yang paling mendasar yaitu adanya kontak kulit bayi ke kulit ibu, dimana
tubuh ibu akan menjadi thermoregulator bagi bayinya, sehingga bayi
mendapatkan kehangatan (menghindari bayi dari hipotermia), PMK
memudahkan pemberian ASI, perlindungan dari infeksi, stimulasi,
keselamatan dan kasih sayang. PMK dapat menurunkan kejadian infeksi,
penyakit berat, masalah menyusui dan ketidakpuasan ibu serta meningkatnya
hubungan antara ibu dan bayi serta meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan bayi.
Komplikasi atau masalah yang terjadi pada bayi selama di perinatology
pada dasarnya tidak ada yang begitu bermakna, namun perhatian khusus
sebaiknya dilakukan pada kecukupan minum yang dapat menunjang kenaikan
berat badan, utamanya pada kasus gemelli, dimana produksi ASI sangat
terbatas dan harus memenuhi 2 kebutuhan bayi setiap harinya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Marcdante KJ, Kliegman RM. Nelson Essentials of Pediatrics seventh


edition. 2015. Elsevier saunders.

2. Pramono MS, U. Pola kejadian bayi berat lahir rendah dan faktor yang
memengaruhinya di Indonesia tahun 2010. Buletin penelitian
sistem kesehatan. 3 Juli 2011; 3(14): 209-217.

3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pelatihan pelayanan


kegawadaruratan obstetri dan neonatal esensial dasar. Jakarta:2005.

4. Pudjadi AH, Hegar B, Handryastuti S. Pedoman pelayanan medis Ikatan


Dokter Anak Indonesia. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2009
5. Departemen Kesehatan Rupublik Indonesia. Pelayanan kesehatan anak di
rumah sakit. Jakarta: World Health Org anization. 2009.

6. Endyarni, Bernie. Perawatan Metode Kanguru (PMK) Meningkatkan


Pemberian ASI. 2013. Ikatan Dokter Anak Indonesia