Anda di halaman 1dari 22

ASSIGNMENT 2

TEKNIK REAKSI KIMIA 02

Anggota Kelompok 14 :
Gian Djohan 1406569876
Elgusta Masanari 1406531901
Bima Setyaputra 1406604664
Joshua Jese 1406559950
Taqi Aufa 1406572435

Departemen Teknik Kimia


Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Depok 2017
2

Soal 1 (P4-9B)
A reversible liquid phase isomerization A <-> B is carried out isothermally in a 1000 gallon
CSTR. The reaction is second order in both the forward and reverse directions. The liquid
enters at the top of the reactor and exits at the bottom. Experimental data taken in a batch
reactor shows the CSTR conversion to be 40%. The reaction is reversible with Kc = 3 at 300
K, and DHORX = -25000 cal/mol. Assuming that the batch data taken at 300K are accurate and
that E = 15000 cal/mol, what CSTR temperature do you recommended to obtain maximum
conversion?
Hint : Read Appendix C and assume DCp = 0 in the Appendix Equation (C-9) :

() = ( ) [ ( )]

Use Polymath to make a plot of X vs T. Does it go through a maximum? If so explain why?
Pembahasan:
The reaction itself:
A B
And the data that are provided:
T0 = 300 K
K CO (300K) = 3
V= 3785.4 dm3
Hereby the mole balance, rate law and stoichiometry in order:
FA0 X
V=
rA
2
= 0 [2 ]

= 0 (1 ), = 0
We know that V:
0
=
2 2
0 0 [(1 )2 ]

And then we can find Z substituting it with equation above, hereby the answer
0
= 2
0 0
2
[(1 )2 ]

=

Universitas Indonesia
3

= 2902.2dm3
Where:

= ( ) = 0 =
2 2
[(1 )2 ] [(1 )2 ]

1 1
= = ( [ ])
0 T0 T
HRx 1 1
K C = K CO exp [ ( )]
R T0 T
Polymath:
T = 300 K

When T = 301 K

Universitas Indonesia
4

When T = 303 K

When T = 304 K

When T = 305 K

Universitas Indonesia
5

When T = 305.5 K

When T = 306 K

When T = 307 K

MAXIMUM :
X = 0.42 at T = 305.5 K.

Universitas Indonesia
6

Soal 2 (pemodelan reaktor wetland)


2.1. Natural Wetland
Natural Wetland adalah suatu lahan yang jenuh air dengan kedalaman air tipikal yang
kurang dari 0,6 m yang mendukung pertumbuhan tanaman air tergenang misalnya
Cattail, bulrush, umbrella plant dan canna (Metcalf and Eddy, 1991). Definis lainnya
dari wetland adalah suatu rawa buatan yang dibuat untuk mengolah air limbah
domestik, untuk aliran air hujan dan mengolah lindi (leachate) atau sebagai tempat
hidup habitat liar lainnya. Tanaman yang umumnya tumbuh adalah berupa vegetasi
emergenit, misalnya Cattail (Thypa sp), Reed (Phragmites sp), spesie rumput dan lain-
lain.
2.2. Cara Kerja Wetland
Cara kerja wetland alami dapat diperlihatkan pada gambar berikut :

Gambar 2.1. Cara kerja wetland


(Sumber: www.google.com)
Beberapa proses alamiah yang terjadi diantaranya adalah :

o Menjerat polutan besar


Sampah yang mengapung maupun melayang pada aliran aliran air dapat berbahya
bagi kehidupan di alam. Tumbuhan dan bebatuan pada sistem wetlands daoat
membantu untuk menjerat benda-benda tersebut, dan memindahkan mereka dari air.
Penjerat sampah biasanya selalu dipasang pada wetland perkotaan untuk
mengumpulkan sampah yang mengarungi aliran air sebelum merekaa mencapai
wetland. Penjerat sampah tersebut umumnya berbentuk bingkai logm dengan jaring
yang dapat dilepas seperti dapat dilihat pada gambar berikut.

Universitas Indonesia
7

Gambar 2.2. Penjerat sampah pada wetland


(Sumber: www.google.com)
o Menyeimbangkan nutrisi
Nutrisi merupakan suatu elemen atau senyawa contohnya nitrogen, fosfor, atau
kalium yang dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman. Proses ini adalah proses
dimana tanaman air mengambil nutrisi dari air dan tanah. Tanaman membutuhkan
nutrisi untuk bertumbuh, namun nutrisi tingkat tinggi (nitrat dan fosfat) merupakan
polusi yang umum terjadi (sebagai contoh ledakan jumlah alga pada aliran air di
Australia Utara). Tingkat nutrisi pada aliran air tersebut meningkat karena adanya
dedaunan, deterjen, pupuk, herbisida, dan kotoran hewan yang masuk ke dalam
sistem.
o Sedimentasi
Sedimen merupakan sumber polutan paling utama di mana polutan lain melekat.
Sedimentasi sendiri merupakan suatu kumpulan dari partikel sedimen akibat
lambatnya aliran air. Partikel yang lebih berat dari air akan terbawa menuju
wetland melalui aliran stormwater maupun erosi. Ketika laju air berkurang,
partikel tersebut akan tenggelam di dasar air. Proses sedimentasi juga efektif untuk
memerangkap polutan seperti logam maupun bahan kimia karena polutan tersebut
terikat pada partikel tanah liat. Saat air bergerak secara lambat melalui sistem
wetland, material tersebut akan tenggelam menjadi lumpur. Pengerukan
dibutuhkan setiap beberapa tahun untuk memindahkan endapan yang telah
menumpuk.
o Menghilangkan bakteri
Proses ini merupakan proses yang penting dalam wetlands perkotaan. Gelombang
ultraviolet dari matahari dapat membunuh patogen berbahaya seperti bakteri dan
fungi, akan tetapi proses ini hanya akan efektif pada air yang dangkal (<1 m) dan
jernih dimana sinar matahari dapat menembus masuk ke air.

Universitas Indonesia
8

2.3. Pemodelan Wetland


Wetland dapat dimodelkan sebagai suatu reaktor sehingga variabel-variabel yang
berkaitan dengan aliran limbah yang akan difitoremediasi dapat diperhitungkan. Aliran
limbah memasuki wetland merupakan aliran yang kontinu, sehingga wetland dapat
dimodelkan sebagai reaktor kontinu. Hal ini disebabkan karena proses peningkatan
kualitas air dengan menggunakan wetland merupakan proses aliran dengan aliran
masuk dan keluar yang berbeda. Selain itu, proses fitoremediasi merupakan proses
dengan skala besar, bukan dengan skala kecil sehingga permodelan menggunakan
reaktor kontinu lebih sesuai.
Terdapat beberapa jenis reaktor aliran kontinu yang dikenal saat ini, antara lain :
continuous stirred tank reactor (CSTR), plug flow reactor (PFR), dan packed bed
reactor (PBR). Pada fenomena wetland, aliran yang terjadi tidak bercampur dengan
sempurna, sedangkan salah satu ciri utama CSTR adalah mengandung aliran yang
tercampur sempurna. Pada wetland, suhu dan konsentrasi aliran tergantung pada waktu
dan posisi karena air limbah yang akan difitoremediasi mengalir dari kiri ke kanan.
Oleh karena itu, wetland dapat dimodelkan sebagai reaktor tubular. Secara esensial,
sebuah reaktor tubular yang terisi dengan partikel katalis berupa zat padat, dalam hal
ini tumbuh-tumbuhan, disebut sebagai reaktor packed bed. Kelebihan jenis reaktor ini
adalah mampu memberikan konversi yang tinggi, sedangkan kekurangannya adalah
pengaturan suhu pada reaktor sulit dilakukan, katalis sulit untuk dipindahkan, dan
sebagainya.
Dalam memodelkan reaktor tubular, diasumsikan bahwa konsentrasi bervariasi secara
kontinu di arah aksial sepanjang reaktor. Pada wetland, degradasi bahan kimia, seperti
atrazine diasumsikan mengikuti kinetika reaksi irreversible orde pertama homogen.
Selain itu, sebagian air yang akan difitoremediasi menguap dari permukaannya ketika
mengalir di sepanjang wetland. Akan tetapi di dalam penguapan tersebut, tidak ada
bahan kimia toksik yang ikut menguap. Asumsi kinetika yang mengikuti orde reaksi 1
dilakukan untuk penyederhanaan penurunan model. Proses irreversible diambil sebagai
asumsi karena reaksi yang terjadi adalah reaksi degradasi. Untuk mencapai tujuan dari
fitoremediasi ini, diharapkan tidak terjadi aliran balik, karena tujuan tersebut tidak akan
tercapai. Wetland diharapkan dapat mengubah senyawa berbahaya menjadi senyawa
yang aman bagi lingkungan. Ketika terjadi reaksi balik yang menghasilkan senyawa
berbahaya kembali, wetland tidak akan dikatakan mampu memfitoremediasi.

Universitas Indonesia
9

2.3.1. Pemodelan Wetland sebagai Reaktor PFR


Untuk mengetahui pengaruh dari berbagai perubahan variabel dengan variabel lainnya
didalam fenomena ini, maka terlebih dahulu dilakukan penurunan persamaan yang
dapat dimasukkan ke dalam Polymath yang akan membantu terjadinya simulasi proses.
Tahap pertama terdiri dari penurunan persamaan dari aliran toksik, F A sebagai fungsi
dari jarak atau posisi dalam wetland, z. Diketahui bahwa FA bergantung pada keadaan
aliran awal FAO. Selain itu, hubungan laju reaksi, konversi, dan perubahan volume dapat
digambarkan melalui persamaan :
= (1 ) (1)

= (2)

= 1 (3)
Hubungan laju alir volumetrik awal dan akhir dinyatakan melalui persamaan berikut
ini.

= (4)

Persamaan yang menghubungkan C A dan FA.

= (5)

Kombinasi persamaan (1), (4), dan (5) akan menghasilkan persamaan sebagai berikut.
(1 )
=
(6)
1

Substitusi persamaan (3) ke dalam persamaan (2) akan menghasilkan persamaan berikut
ini, dengan dV yang memenuhi W*D*dz.
(1 )
= 1
(7)
1


=

Untuk mengetahui pengaruh nilai curah hujan, laju evaporasi, konsentrasi atrazine, dan
laju alir air yang akan difitoremediasi, persamaan di atas dapat dimasukkan ke dalam
Polymath bersama dengan data-data yang diketahui.
1. Pengaruh curah hujan dan laju evaporasi
Curah hujan dan laju evpaporasi akan mempengaruhi satu variabel yang sama, yaitu
Q. Pada kasus pada wetland, ketika terjadi evaporasi di permukaan wetland, maka

Universitas Indonesia
10

nilai memiliki tanda positif (+). Ketika tidak terjadi penguapan, maka Q bernilai 0
dan ketika terdapat curah hujan, Q akan bernilai negatif (-).
Tabel 2.1. Keadaan-keadaan variabel Q
No. Keterangan Nilai Q
1. Terjadi penguapan +
2. Tidak terjadi penguapan maupun hujan 0
3. Terjadi hujan -
Pada simulasi yang dilakukan, Q1, Q2, dan Q3 masing-masing memiliki nilai : 1 x
10-5 kmol H2O/jam m2 ; 0 kmol H2O/jam m2 ; dan -1 x 10-5 kmol H2O/jam m2.

Gambar 2.3. Bahasa pemrograman Polymath untuk mengetahui pengaruh Q

Universitas Indonesia
11

Gambar 2.4. Perbandingan nilai FA terhadap z pada nilai Q yang berbeda

Gambar 2.5. Perbandingan nilai x terhadap z pada nilai Q yang berbeda

Universitas Indonesia
12

Gambar 2.6. Perbandingan nilai r A terhadap z pada nilai Q yang berbeda

Gambar 2.7. Hasil simulasi Polymath untuk mengetahui pengaruh Q

Universitas Indonesia
13

Jika terjadi evaporasi, volume air limbah akan berkurang, dengan demikian C A akan
meningkat. Peningkatan CA akan berdampak pula pada meningkatnya nilai laju
reaksi. Hal ini menandakan bahwa nilai konversi meningkat. Ketika konversi
meningkat, FA menurun. Sebaliknya, ketika terjadi hujan, volume air limbah akan
bertambah dan CA akan menurun. Penurunan CA akan berdampak pula pada
menurunnya nilai laju reaksi. Hal ini menandakan bahwa nilai konversi menurun.
Ketika konversi menurun FA meningkat.
2. Pengaruh CA0
Selain pengaruh variabel Q yang melambangkan laju evaporasi atau adanya curah
hujan, pengaruh konsentrasi awal bahan toksik (salah satunya atrazine) di dalam air
yang akan di fitoremediasi akan mempengaruhi nilai FA, x, dan rA. Pada simulasi
yang akan dilakukan dengan Polymath, nilai C AO divariasi dengan nilai 1 x 10 -4
mol/dm3 ; 1 x 10-5 mol/dm3; dan 1 x 10-6 mol/dm3.

Gambar 2.8. Bahasa pemrograman Polymath untuk mengetahui pengaruh CAO

Universitas Indonesia
14

Gambar 2.9. Perbandingan nilai FA terhadap z pada nilai CAO yang berbeda

Gambar 2.10. Perbandingan nilai r A terhadap z pada nilai CAO yang berbeda

Universitas Indonesia
15

Gambar 2.11. Perbandingan nilai x terhadap z pada nilai CAO yang berbeda

Semakin besar nilai CAO, nilai FAO akan semakin besar karena keduanya memiliki
hubungan kesebandingan. Meningkatnya nilai C AO akan menurunkan laju reaksi r A.
Hal ini dapat disebabkan karena nilai C AO terkecil yang diaplikasikan telah
memberikan kapasitas fitoremediasi yang maksimum, sehingga ketika nilai CAO
diperbesar, nilai konversi tetap dan nilai laju reaksi pada C AO yang lebih kecil
bernilai lebih besar.
3. Pengaruh V0
Vo menyatakan nilai laju alir volumetrik air yang masuk ke dalam wetland untuk
difitoremediasi. Untuk mengetahui pengaruh variasi nilai variabel ini pada FA, rA,
dan x, pada simulasi ini digunakan vo dengan nilai 10 m3/hr, 5 m3/hr dan 1 m3/hr.

Universitas Indonesia
16

Gambar 2.12. Bahasa pemrograman Polymath untuk mengetahui pengaruh vO

Universitas Indonesia
17

Gambar 2.13. Perbandingan nilai FA terhadap z pada nilai vO yang berbeda

Gambar 2.14. Perbandingan nilai x terhadap z pada nilai vO yang berbeda

Universitas Indonesia
18

Gambar 2.15. Perbandingan nilai r A terhadap z pada nilai vO yang berbeda

Semakin tinggi nilai vO maka nilai konversi akan menurun. Penurunan nilai konversi
akan meningkatkan nilai FA. Selain itu, penurunan ini juga mempengaruhi laju
reaksi. Semakin rendah nilai konversi, nilai laju reaksi akan menurun.
2.3.2. Pemodelan Wetland sebagai Reaktor CSTR
Saat ini, kebanyakan desain konstruksi wetland dengan aliran bawah tanah berfokus
pada system dengan aliran horizontal. Sistem tersebut kemudian dimodelkan sebagai
bentuk Plug Flow Reactor (PFR). Pada pemodelan wetland, persamaan laju yang biasa
digunakan adalah persamaan laju reaksi orde pertama dan system berlangsung secara
steady state.
Sistem tersebut memiliki kekurangan. Pada kenyataannya, wetland tidak berlangsung
secara steady state. Hal tersebut ditunjukkan oleh peningkatan laju penghilangan
polutan. Selain itu, terdapat dugaan bahwa postulasi penggunaan persamaan PFR tidak
tepat karena fluida terdifusi ke segala arah selama pengaliran.
Beberapa studi menunjukan bahwa model wetland menggunakan persamaan CSTR
memiliki akurasi data dengan teori. Model tersebut berfokus pada zat organik yang
mudah terdegradasi secara biologis. Sementara itu, wetland seharusnya didesain untuk
penghilangan nutrient, seperti nitrogen.
Model wetland yang menggunakan persamaan CSTR mengasumsikan aliran fluida
terjadi secara vertikal. Pada system ini, perlu dilakukan pengadukan yang terus-

Universitas Indonesia
19

menerus sehingga terjadi distribusi konsentrasi yang merata. Sistem ini mengasumsikan
laju degradasi polutan sebagai laju degradasi orde pertama. Selain itu, pola alir kolom
vertical pada setiap posisi akan sama dengan pola alir bulk-nya.
Model wetland dengan menggunakan persamaan CSTR dengan laju reaksi orde
pertama akan menghasilkan data prediksi yang lebih dekat dengan hasil uji coba
laboratorium. Hal-hal yang mempengaruhi koefisien kinetik dalam model ini adalah
konsentrasi polutan, kedalaman air, dll.

Soal 3 (simulasi PBR)


Analisis Reaktor PBR Diamond
1. Bentuk fisik reaktor
Reaktor di desain dalam bentuk diamond
untuk mereduksi pressure drop yang
terjadi dengan cara memperbesar luas
penampang. Namun juga lebih mudah
untuk diproduksi dengan cara membuat
plat berbentuk trapezium dan
mengelasnya. Jauh lebih mudah
dibandingkan dengan reaktor berbentuk L

bola. R max

R min

Gambar 3.1. Penampang 2D plat untuk membuat bagian atas diamond (a) Ilustrasi Tampak reaktor (b)

Sumber: www.google.com

Universitas Indonesia
20

R vs L
1

0,5
Radius (ft)

0
0 0,5 1 1,5 2 2,5
-0,5

-1
Lengh (ft)

Gambar 3.2. Grafik yang menyatakan besar jari-jari terhadap panjang reaktor

2. Setting parameter dan hasil simulasi


Parameter yang digunakan dalam simulasi dan hasil simulasi:
Variabel Reaktor Diamond
Rmax 0.8 ft
Rmin 0.3 Ft
Dz 0.01 Ft
L 2 Ft

Profil X, Y dan W pada Reaktor Diamond


1,2 160
140
1
120
0,8
100
X dan Y

W (lb)

0,6 80
60
0,4
Y X W 40
0,2
20
0 0
0 0,5 1 1,5 2
Z (ft)

(a)

Universitas Indonesia
21

Profil X, y, dan W pada Reaktor BOLA


1,2 140

1 120

100
0,8
80
X dan y

W, lb
0,6
60
0,4
40
X y W (lb)
0,2 20

0 0
0 0,3 0,6 0,9 1,2 1,5 1,8
z, ft

(b)

Profil X, y, dan W pada Reaktor PIPA


1,2 70

1 60

50
0,8
40
X dan y

W, lb
0,6
30
0,4
20
X
0,2 y
10
W (lb)
0 0
0 10 20 30 40 50 60 70 80

z pipa, ft

(c)
Gambar 3.3. Hasil simulasi Reaktor Diamond (a), reaktor bola (b) dan reaktor pipa (c)
Berdasarkan hasil simulasi, terlihat bahwa reaktor mampu menghasilkan konversi
mendekati 100% dengan panjang reaktor jauh lebih pendek dibandingkan dengan reaktor
pipa. Oleh Karena itu dapat dikatakan reaktor tersebut cukup efesien.

Universitas Indonesia
22

Referensi
Fogler, H. Scott. 2000. Elements of Chemical Reaction Engineering 3rd edition. Prentice Hall
International Series.

Universitas Indonesia