Anda di halaman 1dari 13

KINERJA KEPALA DESA DALAM RANGKA PELAYANAN ADMINISTRASI

KEPENDUDUKAN PADA MASYARAKAT


DI DESA TUMPAAN BARU KECAMATAN TUMPAAN
KABUPATEN MINAHASA SELATAN

OLEH:

FRANSISKA M MEGA

ABSTRAK
Penyelenggaraan Pemerintahan desa merupakan subsistem dalam sistem
penyelenggaraan Pemerintahan Nasional sehingga desa memiliki kewenangan untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya.Landasan pemikiran dalm pengaturan
mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman, partisipasi, Otonomi asli, demokrasi
dan pemberdayaan mayarakat.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab lemahnya kinerja kepala
desa tumpaan dalam hal daya tanggap dan tanggung jawab, akuntabilitas, serta efektifitas
dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat, sesuai dengan fungsi yang diemban kepala desa
sebagai pemerintah desa yaitu: penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan
kemasyarakatan.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa Produktivitas Kepala Desa dalam pelayanan
administrasi kependudukan ditinjau dari dimensi Daya Tanggap dan Kepastian dinilai
belum maksimal. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi ini masyarakat
belum terlalu puas dengan pelayanan yang diberikan oleh aparat pemerintah desa, pada
dimensi Bukti Nyata, Kehandalan dan Empati, pelayanan yang diberikan belum cukup
berkualitas karena masyarakat juga belum merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.

Kata kunci: Kinerja, Pelayanan Administrasi.

Pendahuluan

Masa reformasi Pemerintahan Desa diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun


1999 yang diperbarui menjadi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Jo.Undang-Undang
No.12 tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah sebagai perubahan keduanya, khususnya
pada Bab XI pasal 200 s/d 216, Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa, serta
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa. Undang-undang ini berusaha
mengembalikan konsep, dan bentuk Desa seperti asal-usulnya yang tidak diakui dalam
undang-undang sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 Tentang
Pemerintahan Desa.
Adapun yang dimaksud dengan istilah desa dalam hal ini disesuaikan dengan kondisi
sosial, budaya masyarakat setempat seperti Nagari, Kampung, Huta, Bori dan
Marga.Sedangkan yang dimaksud dengan asal-usul adalah sebagaimana yang dimaksud
dalam pasal 18 UUD 1945 beserta penjelasannya.
Secara substantif Undang-Undang ini menyiratkan adanya upaya pemberdayaan
aparatur Pemerintah Desa dan juga masyarakat desa. Pemerintahan Desa atau dalam bentuk
nama lain seperti halnya Pemerintahan Marga, keberadaannya adalah berhadapan langsung
dengan masyarakat, sebagai ujung tombak pemerintahan yang terdepan. Pelaksanaan
otonomisasi desa yang bercirikan pelayanan yang baik adalah dapat memberikan kepuasan
bagi masyarakat yang memerlukan karena cepat, mudah, tepat dan dengan biaya yang
terjangkau, oleh karena itu pelaksanaan di lapangan harus didukung oleh faktor-faktor yang
terlibat dalam implementasi kebijakan tentang Desa tersebut.
Posisi Pemerintahan Desa yang paling dekat dengan masyarakat adalah Kepala Desa
selaku pembina, pengayom, dan pelayanan masyarakat sangat berperan dalam mendorong
masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan Desa. Penyelenggaraaan Pemerintahan
Desa merupakan sub sistem dalam penyelenggaraan sistem Pemerintahan Nasional, sehingga
Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya.
Kepala desa selain menjalankan tugasnya dalam bidang Pemerintahan dan bidang
Pembangunan, juga melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang kemasyarakatan.
Dimana dalam bidang kemasyarakatan, kepala desa dan perangkat desa berperan aktif dalam
menangani tugas dibidang pelayanan kepada masyarakat. Kepala Desa turut serta dalam
membina masyarakat desa, seperti yang kita ketahui Pemerintah desa mempunyai kewajiban
menegakan peraturan perundang-undangan dan memelihara ketertiban dan kententraman
masyarakat.
Desa Tumpaan Baru, Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan, merupakan
desa yang telah ada berdiri sebelum kabupaten Minahasa Selatan dimekarkan. Desa Tumpaan
Baru ini mempunyai keberagaman latar belakang kehidupan sosial, budaya, dan agama,
karena sesuai dengan topografi desa ini berada di pesisir pantai yang juga merupakan pusat
dari kecamatan tumpaan, dimana jumlah penduduk yang ada tergolong cukup banyak
membilang angka 2.761 kepala keluarga. Desa Tumpaan Baru sebagai pusat atau ibukota dari
kecamatan tumpaan memiliki tingkat pertumbuhan perekonomian, karena di desa ini terdapat
pasar tradisional, dan pertokoan, yang memungkinkan bukan hanya penduduk asli yang
beraktifitas, tetapi juga ada etnis lain yang menjalankan mata pencahariannya.
Sesuai dengan situasi dan kondisi yang disebutkan diatas, dituntut peran pemerintah
desa, dalam hal ini kepala desa untuk lebih meningkatkan kinerjanya dalam bidang pelayanan
kepada masyarakat, sesuai dengan fungsinya sebagai pemerintah, yaitu: fungsi
penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Kinerja kepala desa
yang dimaksud adalah daya tanggap dan tanggung jawab, akuntabilitas, serta efektifitas dan
efisiensi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sesuai dengan budaya yang
berkembang dalam lingkungan adat minahasa, bahwa kepala desa disebut dengan nama lain
Hukum Tua, yang artinya orang yang dituakan, panutan, serta pengayom bagi masyarakat.
Sehingga hal apapun yang menjadi kebutuhan pelayanan bagi masyarakat menjadi tanggung
jawab kepala desa.
Berdasarkan kenyataan yang ada, kinerja dalam hal daya tanggap dan tanggung jawab
kepala desa dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya pelayanan
administrasi kependudukan, serta persoalan-persoalan dimasyarakat tergolong masih kurang
maksimal, hal ini dapat dibuktikan dengan lambatnya kepala desa untuk turun tangan
menyelesaikan perselisihan yang sering terjadi dimasyarakat, khususnya warga masyarakat
yang berjualan dipasar tradisional, begitu pula dengan pertanggungjawaban kepala desa
selama pelaksanaan tugas-tugasnya, seperti yang diketahui bahwa salah satu sumber
pendapatan terbesar bagi desa tumpaan adalah retribusi dari pedagang pasar, sesuai dengan
peraturan desa tumpaan nomor 2 tahun 2013 tentang penetapan Anggaran dan Pendapatan
Belanja Desa, tidak transparan laporan pertanggungjawaban kepala desa dalam mengelola
keuangan desa, sedangkan dipihak lain sarana dan prasarana infrastruktur banyak yang tidak
ada perawatan, ataupun peremajaan, sehingga hal ini menimbulkan keresahan dimasyarakat,
selanjutnya berdasarkan kenyataan yang ada menyangkut kinerja kepala desa dalam hal
efektifitas dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat dirasa juga kurang maksimal, hal ini
disebabkan oleh kurangnya intensitas keberadaan kepala desa di wilayah yang menjadi
tanggungjawabnya, kepala desa sering keluar desa, dan lebih sering berada di daerah lain,
sehingga apabila ada warga yang memerlukan pelayanan administrasi tidak dapat
diselesaikan dalam waktu yang singkat, karena harus menunggu kepala desa berada ditempat.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimana kinerja kepala desa dalam memberikan pelayanan administrasi kependudukan dan
kemasyaarakatan di Desa Tumpaan Baru?

Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab
lemahnya kinerja kepala desa tumpaan dalam hal daya tanggap dan tanggung jawab,
akuntabilitas, serta efektifitas dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat, sesuai dengan
fungsi yang diemban kepala desa sebagai pemerintah desa yaitu: penyelenggaraan
pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan.

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan yaitu :
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi Ilmu
Pemerintahan dalam menambah bahan kajian perbandingan bagi yang
mengunakannya.
2. Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran mengenai
permasalahan dan juga masukan bagi pemerintah desa sebagai bahan pertimbangan
dalam menentukan kebijakan untuk meningkatkan kinerjanya.

Konsep Kinerja
Bernardin dan Russel (dalam Dwiyanto, 2002:15) memberikan pengertian atau
kinerja sebagai berikut : performance is defined as the record of outcomes produced on a
specified job function or activity during time period. Prestasi atau kinerja adalah catatan
tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi- fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan
selama kurun waktu. Menurut Gibson (2003:355), job performance adalah hasil dari
pekerjaan yang terkait dengan tujuan organisasi, efisiensi dan kinerja kefektifan kinerja
lainnya. Sementara menurut Ivancevich (2006:99), kinerja adalah penampilan hasil kerja
personil maupun dalam suatu organisasi.Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada
personil yang memangku jabatan fungsional maupun struktural tetapi juga kepada
keseluruhan jajaran personil di dalam organisasi.
Pengertian kinerja lainnya dikemukakan oleh Siagian (1997:19) yang
mengemukakan kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas
tertentu.Kinerja perusahaan adalah tingkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan
tujuan perusahaan.Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk
meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu
dan kelompok kerja di perusahaan tersebut.
Menurut Sinungan (2001:11), bahwa kinerja (performance) adalah hasil kerja yang
bersifat konkret, dapat diamati, dan dapat diukur. Jika kita mengenal tiga macam tujuan, yaitu
tujuan organisasi, tujuan unit, dan tujuan pegawai, maka kita juga mengenal tiga macam
kinerja, yaitu kinerja organisasi, kinerja unit, dan kinerja pegawai.Dessler dalam Sinungan
(2001:18) berpendapat: Kinerja (prestasi kerja) karyawan adalah prestasi aktual karyawan
dibandingkan dengan prestasi yang diharapkan dari karyawan. Prestasi kerja yang diharapkan
adalah prestasi standar yang disusun sebagai acuan sehingga dapat melihat kinerja karyawan
sesuai dengan posisinya dibandingkan dengan standar yang dibuat.Selain itu dapat juga
dilihat kinerja dari karyawan tersebut terhadap karyawan lainnya.
Berdasarkan beberapa teori tentang kinerja dan prestasi kerja dapat disimpulkan
bahwa pengertian kinerja maupun prestasi kerja mengandung substansi pencapaian hasil kerja
oleh seseorang.Dengan demikian bahwa kinerja maupun prestasi kerja merupakan cerminan
hasil yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang.Kinerja adalah suatu hasil kerja
yang dihasilkan oleh seorang karyawan diartikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan
(Simanjuntak, 2005:29).
Menurut Wibowo(1999:67) mengemukakan pengertian kinerja sebagai berikut:
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikanya.
Kinerja dapat berupa penampilan individu maupun kelompok kerja personel.
Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada personel yang menduduki jabatan fungsional
maupun struktural, tetapi juga pada keseluruhan jajaran personel dalam organisasi.
Selanjutnya peneliti juga akan mengemukakan tentang definisi kinerja pegawai menurut
Thoha(2003:135) adalah catatan yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau
kegiatan selama periode waktu tertentu.
Sedangkan Winardi(2005:109) mengatakan bahwa kinerja merupakan perilaku
nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan
sesuai dengan perannya dalam perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut di atas
mengungkapkan bahwa dengan hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melakukan suatu pekerjaan dapat dievaluasi tingkat kinerja pegawainya, maka kinerja
karyawan harus dapat ditentukan dengan pencapaian target selama periode waktu yang
dicapai organisasi. Deskripsi dari kinerja menyangkut dua komponen yaitu tujuan dan
ukuran, penentuan tujuan dari setiap unit organisasi merupakan strategi untuk meningkatkan
kinerja. Tujuan ini akan memberikan arah dan mempengaruhi bagaimana seharusnya perilaku
kerja yang diharapkan organisasi terhadap setiap personel.
Terdapat kurang lebih dua syarat utama yang diperlukan guna melakukan penilaian
kinerja yang efektif, yaitu (1) adanya kriteria kinerja yang dapat diukur secara objektif; dan
(2) adanya objektivitas dalam proses evaluasi (Dwiyanto, 2001:112). Sedangkan dari sudut
pandang kegunaan kinerja itu sendiri, Dwiyanto (2001:115) menjelaskan bahwa bagi individu
penilaian kinerja berperan sebagai umpan balik tentang berbagai hal seperti kemampuan,
keletihan, kekurangan dan potensinya yang pada gilirannya bermanfaat untuk menentukan
tujuan, jalur, rencana dan pengembangan karirnya. Sedangkan bagi organisasi, hasil penilaian
kinerja sangat penting dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan tentang berbagai hal
seperti identifikasi kebutuhan program pendidikan dan pelatihan, rekrutmen, seleksi, program
pengenalan, penempatan, promosi, sistem balas jasa, serta berbagai aspek lain dalam proses
manajemen sumber daya manusia. Berdasarkan kegunaan tersebut, maka penilaian yang baik
harus dilakukan secara formal berdasarkan serangkaian kriteria yang ditetapkan secara
rasional serta diterapkan secara objektif serta didokumentasikan secara sistematik.

Metode Penilaian Kerja


Terdapat beberapa metode dalam mengukur prestasi kerja, sebagaimana diungkapkan
oleh Dwiyanto (2002:137-145), yaitu :
1. Metode Tradisional. Metode ini merupakan metode tertua dan paling sederhana untuk
menilai prestasi kerja dan diterapkan secara tidak sistematis maupun sistematis. Yang
termasuk kedalam metode tradisional adalah :rating scale, employee comparation, check
list, free form essay, dan critical incident. (a) Rating scale. Metode ini merupakan metode
penilaian yang paling tua dan banyak digunakan, dimana penilaian yang dilakukan oleh
atasan atau supervisor untuk mengukur karakteristik, misalnya mengenai inisitaif,
ketergantungan, kematangan, dan kontribusinya terhadap tujuan kerjanya. (b) Employee
comparation. Metode ini merupakan metode penilaian yang dilakukan dengan cara
membandingkan antara seorang pegawai dengan pegawai lainnya. Metode ini terdiri dari:
(1) Alternation ranking: yaitu metode penilaian dengan cara mengurutkan peringkat
(ranking) pegawai dimulai dari yang terendah sampai yang tertinggi berdasarkan
kemampuan yang dimilikinya. (2) Paired comparation : yaitu metode penilaian dengan
cara seorang pegawai dibandingkan dengan seluruh pegawai lainnya, sehingga terdapat
berbagai alternatif keputusan yang akan diambil. Metode ini dapat digunakan untuk
jumlah pegawai yang relatif sedikit. (3) Porced comparation (grading): metode ini sama
dengan paired comparation, tetapi digunakan untuk jumlah pegawai yang relative
banyak. (c) Check list. Metode ini hanya memberikan masukan/informasi bagi penilaian
yang dilakukan oleh bagian personalia. (d) Freeform essay. Dengan metode ini seorang
penilai diharuskan membuat karangan yang berkenaan dengan orang/karyawan/pegawai
yang sedang dinilainya. (e) Critical incident Dengan metode ini penilai harus mencatat
semua kejadian mengenai tingkah laku bawahannya sehari-hari yang kemudian
dimasukan kedalam buku catatan khusus yang terdiri dari berbagai macam kategori
tingkah laku bawahannya. Misalnya mengenai inisiatif, kerjasama, dan keselamatan.
2. Metode Modern. Metode ini merupakan perkembangan dari metode tradisional dalam
menilai prestasi kerja. Yang termasuk kedalam metode modern ini adalah: assesment
centre, Management By Objective (MBO=MBS), dan human asset accounting.
Assessment centre. Metode ini biasanya dilakukan dengan pembentukan tim penilai
khusus. Tim penilai khusus ini bisa dari luar, dari dalam, maupun kombinasi dari luar
dan dari dalam.
Management by objective (MBO = MBS). Dalam metode ini pegawai langsung
diikutsertakan dalam perumusan dan pemutusan persoalan dengan memperhatikan
kemampuan bawahan dalam menentukan sasarannya masing-masing yang ditekankan
pada pencapaian sasaran perusahaan.
Human asset accounting. Dalam metode ini, faktor pekerja dinilai sebagai individu
modal jangka panjang sehingga sumber tenaga kerja dinilai dengan cara
membandingkan terhadap variabel-variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan
perusahaan.

Ukuran dan Indikator Kinerja

Agus Dwiyanto (2002:48) mengemukakan ukuran dari tingkat kinerja suatu


organisasi publik secara lengkap sebagai berikut :
1. Produktivitas
Produktivitas tidak hanya mengukur tingkat efisiensi tetapi juga mengukur efektifitas
pelayanan. Produktivitas pada umumnya dipahami sebagai rasio antar input dan
output.konsep produktivitas ini kemudian dirasa terlalu sempit dan General Accounting
Office (GAO) mencoba mengembangkan suatu ukuran produktivitas yang lebih luas dengan
memasukkan seberapa besar pelayanan publik itu memiliki hasil yang didapatkan yang
harapkan sebagai salah satu indikator kinerja yang penting.
2. Orientasi layanan kepada pelanggan
Isu mengenai kualitas layanan cenderung menjadi semakin penting dalam
menjelaskan kinerja organisasi pelayanan publik.Banyak pandangan negatif yang terbentuk
mengenai organisasi muncul karena ketidakpuasan masyarakat terhadap kualitas layanan
yang diterima dari organisasi publik.Dengan demikian, kepuasan masyarakat terhadap
layanan dapat dijadikan indikator kinerja organisasi publik.
3. Responsivitas
Responsivitas adalah kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan masyarakat,
menyusun agenda dan prioritas pelayanan, dan mengembangkan program-program pelayanan
publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat.Secara singkat responsivitas disini
menunjuk pada keselarasan antara program dan kegiatan pelayanan dengan kebutuhan dan
aspirasi masyarakat.Organisasi yang memiliki responsivitas rendah dengan sendirinya
memiliki kinerja yang jelek pula.
4. Akuntabilitas
Akuntabilitas publik menunjuk pada seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi
publik tunduk pada kebutuhan dan aspirasi masyarakat.Kinerja organisasi publik tidak hanya
dilihat dari ukuran internal yang dikembangkan oleh organisasi publik atau pemerintah
seperti pencapaian target, tetapi juga harus dinilai dari ukuran eksternal seperti nilai-nilai dan
norma-norma yang berlaku di masyarakat. Suatu kegiatan organisasi publik memiliki
akuntabilitas tinggi kalu kegiatan itu dianggab benar dan sesuai dengan nilai dan norma yang
berkembang dalam masyarakat.
Untuk itu agar penerapan Good Governance dapat memberikan kontribusi terhadap
peningkatan kinerja organisasi publik ada beberapa hal dapat dilakukan antara lain:
1. Penetapan Standar Pelayanan. Standar pelayanan memiliki arti yang sangat penting
dalam pelayanan publik. Standar pelayanan merupakan suatu komitmen penyelenggara
pelayanan untuk menyediakan pelayanan dengan suatu kualitas tertentu yang ditentukan
atas dasar perpaduan harapan-harapan masyarakat dan kemampuan penyelenggara
pelayanan. Penetapan standar pelayanan yang dilakukan melalui proses identifikasi jenis
pelayanan, identifikasi pelanggan, identifikasi harapan pelanggan, perumusan visi dan
misi pelayanan, analisis proses dan prosedur, sarana dan prasarana, waktu dan biaya
pelayanan. Proses ini tidak hanya akan memberikan informasi mengenai standar
pelayanan yang harus ditetapkan, tetapi juga informasi mengenai kelembagaan yang
mampu mendukung terselenggaranya proses manajemen yang menghasilkan pelayanan
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Informasi lain yang juga dihasilkan adalah
informasi mengenai kuantitas dan kompetensi-kompetensi sumber daya manusia yang
dibutuhkan serta distribusinya beban tugas pelayanan yang akan ditanganinya.
2. Pengembangan Standard Operating Procedures (SOP). Untuk memastikan bahwa
proses pelayanan dapat berjalan secara konsisten diperlukan adanya Standard Operating
Procedures. Dengan adanya SOP, maka proses pengolahan yang dilakukan secara internal
dalam unit pelayanan dapat berjalan sesuai dengan acuan yang jelas, sehingga dapat
berjalan secara konsisten.
3. Pengembangan Survey Kepuasan Pelanggan. Untuk menjaga kepuasan masyarakat,
maka perlu dikembangkan suatu mekanisme penilaian kepuasan masyarakat atas
pelayanan yang telah diberikan oleh penyelenggara pelayanan publik. Dalam konsep
manajemen pelayanan, kepuasan pelanggan dapat dicapai apabila produk pelayanan yang
diberikan oleh penyedia pelayanan memenuhi kualitas yang diharapkan masyarakat. Oleh
karena itu, survey kepuasan pelanggan memiliki arti penting dalam upaya peningkatan
pelayanan publik;
4. Pengembangan Sistem Pengelolaan Pengaduan. Pengaduan masyarakat merupakan satu
sumber informasi bagi upaya-upaya pihak penyelenggara pelayanan untuk secara konsisten
menjaga pelayanan yang dihasilkannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Oleh
karena itu perlu didisain suatu sistem pengelolaan pengaduan yang secara dapat efektif dan
efisien mengolah berbagai pengaduan masyarakat menjadi bahan masukan bagi perbaikan
kualitas pelayanan; Sedangkan dari sisi makro, peningkatan kualitas pelayanan publik dapat
dilakukan melalui pengembangan model-model pelayanan publik. Dalam hal-hal tertentu,
memang terdapat pelayanan publik yang pengelolaannya dapat dilakukan secara private
untuk menghasilkan kualitas yang baik. Beberapa model yang sudah banyak diperkenalkan
antara lain: contracting out, dalam hal ini pelayanan publik dilaksanakan oleh swasta melalui
suatu proses lelang, pemerintah memegang peran sebagai pengatur; franchising, dalam hal ini
pemerintah menunjuk pihak swasta untuk dapat menyediakan pelayanan publik tertentu yang
diikuti dengan price regularity untuk mengatur harga maksimum. Dalam banyak hal
pemerintah juga dapat melakukan privatisasi.

Konsep Kepala Desa


Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Desa
atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang
diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pengertian desa dari sudut pandang sosial budaya dapat diartikan sebagai komunitas
dalam kesatuan geografis tertentu dan antar mereka saling mengenal dengan baik dengan
corak kehidupan yang relatif homogen dan banyak bergantung secara langsung dengan
alam.Oleh karena itu, desa diasosiasikan sebagai masyarakat yang hidup secara sederhana
pada sektor agraris, mempunyai ikatan sosial, adat dan tradisi yang kuat, bersahaja, serta
tingkat pendidikan yang rendah (Adisasmita, 2002:18).

Konsep Pelayanan Publik


Istilah pelayanan berasal dari kara layan yang artinya membantu menyiapkan atau
mengurus segala apa yang diperlukan orang lain untuk perbuatan melayani. Dalam kamus besar
bahasa Indonesia, kata pelayanan diartikan sebagai berikut:
1. Perihal cara melayani.
2. Servis, jasa.
3. Kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli barang/jasa.
L.P. Sinambela (1992:198), menyatakan pada dasarnya setiap manusia membutuhkan pelayanan,
bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan
kehidupan manusia.
Kotler dalam Sampara Lukman (2000:8) mengemukakan, pelayanan adalah setiap kegiatan yang
menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun
hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik.
Sampara Lukman (2000:5) pelayanan merupakan suatu kegiatan yang terjadi dalam interaksi
langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan
kepuasaan pelanggan.
Sedangkan definisi yang lebih rinci diberikan oleh Gronroos dalam Ratminto (2005:2) yaitu
pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata yang
terjadi akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hak lain yang
disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan
permasalahan konsumen/pelanggan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Perdayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003
mendefenisikan pelayanan umum sebagai:
Segala bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi Pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di
lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan
kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan
perundangundangan.
Dari defenisi tersebut diatas, pelayanan publik atau pelayanan umum dapat didefenisikan sebagai
aspek bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik yang pada prinsipnya menjadi
tanggung jawab dan dilaksanakan oleh instansi pemerintahan di puast, di daerah, di lingkungan
BUMN, dilingkungan BUMD, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun
dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Jenis-jenis Pelayanan
Pengelompokan jenis pelayanan umum pada dasarnya dilakukan dengan melihat jenis
jasa yang dihasilkan oleh suatu organisasi. Tjiptono (dalam Santosa, 2008:61)
menyimpulkan pendapat beberapa ahli mengenai jenis-jenis jasa sebagai berikut:
1. Dilihat dari pangsa pasarnya, dibedakan antara pelayanan:
a. Jasa kepada konsumen akhir.
b. Jasa kepada konsumen organisasional.
2. Dilihat dari tingkat keberwujudan, dibedakan antara pelayanan
a. Jasa barang sewaan.
b. Jasa barang milik konsumen.
c. Jasa untuk bukan barang.
3. Dilihat dari keterampilan penyedia jasa, dibedakan antara
a. Pelayanan profesional.
b. Pelayanan non-profesional.
4. Dilihat dari tujuan organisasi, dibedakan antara:
a. Pelayanan komersial.
b. Pelayanan nirlaba.
5. Dilihat dari pengaturannya, dibedakan antara:
a. Pelayanan yang diatur.
b. Pelayanan yang tidak diatur.
6. Dilihat dari tingkat intensitas karyawan, dibedakan menjadi:
a. Pelayanan yang berbasis pada alat.
b. Pelayanan yang berbasis pada orang.
7. Dilihat dari tingkat kontak penyedia jasa dan pelanggan, dibedakan menjadi:
a. pelayanan dengan kontrak tinggi.
b. Pelayanan dengan kontrak rendah.

Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yaitu kualitatif. Pada lazimnya
suatu penulisan karya ilmiah, biasanya dengan suatu penelitan, hal ini dipandang sangat
penting karena tanpa suatu penelitian, data yang dikemukakan akan sulit
dipertanggungjawabkan kebenarannya (Bungin, 2002:48).

Informan
Yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah:
Kepala Desa Tumpaan
Aparat Desa
Masyarakat yang pernah membutuhkan pelayanan dari kepala desa

Fokus Penelitian
Untuk memudahkan dalam penelitian, maka fokus penelitian mengenai kinerja Kepala
Desa dalam memberikan pelayanan, sesuai dengan teori kinerja Agus Dwiyanto (2002:48)
mengemukakan ukuran dari tingkat kinerja suatu organisasi publik yaitu:
1. Produktivitas
2. Orientasi layanan kepada pelanggan
3. Responsivitas
4. Akuntabilitas
Sumber Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi :
1) Data Primer, yakni data yang diperoleh langsung melalui penelitian lapangan
(wawancara)
2) Data Sekunder, yakni data yang diperoleh dari teknik dokumentasi dengan memanfaatkan
sumber-sumber yang berkaitan dan dapat mendukung obyek yang akan di teliti.

Teknis Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik sebagai berikut :
1) Studi Kepustakaan, yakni dengan mempelajari buku-buku literatur, peraturan perundang-
undangan dan dokumen-dokumen lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian ini.
2) Studi Lapangan, yaitu mengumpulkan data dan fakta empirik secara langsung di
lapangan guna mendapatkan data-data primer, melalui :
o Wawancara, yaitu melakukan tanya jawab kepada sasaran penelitian untuk
memperoleh data yang lebih akurat dari informan.
o Pengamatan langsung (observasi), yaitu melakukan pengamatan secara langsung
kinerja kepala desa dalam pelayanan kepada masyarakat.

Teknis Analisis Data


Teknik Analisa Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah yaitu metode
Kualitatif untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan yang telah terkumpul
sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Desa Tumpaan Baru Kecamatan Tumpaan


Dalam penelitian ini, karakteristik data primer dan data sekunder identifikasi atau
penelusuran informan kunci (kinerja dan pelayanan administrasi) diinput dari desa
tumpaan baru kecamatan tumpaan. Adapun batas wilayah desa tumpaan baru yaitu:
Sebelah Utara berbatasan dengan : Desa Tumpaan Satu.
Sebelah Timur berbatasan dengan : Desa Pinamorongan.
Sebelah Selatan berbatasan dengan : Desa Tumpaan Dua.
Sebelah Barat berbatasan dengan : Desa Pantai

Hasil Penelitian
Pada Bab ini peneliti menyajikan datadata yang diperoleh dari hasil
penelitian.Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui data primer dan data
sekunder.Data primer didapatkan melalui hasil wawancara dengan informan kunci dan
informan biasa. Wawancara dilakukan dengan menggunakan pertanyaan yang telah ditulis
sebelumnya, tetapi tidak menutupi kemungkinan pertanyaan akan dikembangkan pada saat
wawancara untuk menyesuaikan dengan permasalahan penelitian yang sebenarnya dan juga
berdasarkan teori yang ada. Tidak hanya wawancara saja tetapi juga penulis melakukan
observasi langsung ke lokasi penelitian.Sedangkan data - data sekunder diperoleh melalui
studi kepustakaan dan dokumentasi yang berhubungan dengan penelitian.
Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis yaitu melakukan
wawancara, wujud kinerja kepala desa dalam penerapan pelayanan administrasi
kependudukan di Desa Tumpaan Baru, dapat dilihat melalui:ketentuan pelaksanaan
pelayanan administrasi kependudukan, sistem dan prosedur, dan kemampuan sumber daya
manusia aparat pemerintah desa.
Produktivitas Kepala Desa Dalam Pelayanan Administrasi Kependudukan
Produktivitas kepala desa dalam pelayanan admnistrasi kependudukan ditentukan oleh
dua hal yaitu tingkat efektifitas danefisiensi pelayanan. Produktivitas pada umumnya
dipahami sebagai rasio antar input dan output.Produktifitas kerja pegawai merupakan
hubungan antara kualitas yg dilakukan untuk mencapai hasil dimana produktifitas adalah
kekuatan atau kemampuan menghasilkan sesuatu yang bersifat materil maupun non materil
yang menggambarkan kemampuan aparatur dalam bekerja.Untuk mewujudkan dan
melaksanakan segala tugas yang dimaksud di perlukan aparatur pemerintah Kelurahan yang
profesional dalam bidangnya. Produktivitas kinerja diharapkan pekerjaan akan terlaksana
secara efisien dan efektif, sehingga pada akhirnya sangat diperlukan dalam pencapaian tujuan
yang sudah ditetapkan.

Orientasi Layanan Publik


Dalam bidang pemerintahan, tugas pelayanan mempunyai peranan sangat besar
karena menyangkut kepentingan umum, bahkan menyangkut rakyat secara keseluruhan.
Dalam hal ini pelayanan yang dimaksud adalah pelayanan pengurusan administrasi
kependudukan dan surat keterangan, dimana pelayanan administrasi merupakan tanggung
jawab pemerintah dan dilaksanakan oleh unit pemerintahan terendah, yaitu ditingkat
kelurahan/desa dengan melibatkan seluruh unsur perangkat dan pegawai negeri sebagai abdi
atau pelayan mayarakat.
Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari setiap aparatur pemerintah senantiasa
dihadapkan pada berbagai persoalan, baik dalam memberikan pelayanan kepada segenap
masyarakat maupun dalam melaksanakan pengaturan terhadap segala aktifitas warga
masyarakat.Pelayanan administrasi semakin meningkat kedudukannya dalam kehidupan
masyrakat seiring dengan meningkatnya kesadaran akan hak hidup atas pelayanan. Untuk
memperoleh pelayanan yang baik dari aparat dibutuhkan manajemen pelayanan yang tepat.
Manajemen pelayanan adalah suatu proses yang kegiatannya diarahkan secara khusus pada
terselenggaranya pelayanan guna memenuhi kepentingan umum melalui cara-cara yang tepat
dan memuaskan pihak yang dilayani.

Responsivitas Kepala Desa Dalam Pelayanan


a.Kerjasama Antar Perangkat Desa
Kerjasama antar perangkat desa, baik antara kepala desa dan perangkatnya maupun
antara sesama perangkat dalam suatu organisasi pemerintahan desa sangat diperlukan dalam
mencapai tujuan organisasi, begitu pula dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.Aparat hendaknya bekerjasama dalam menyelesaikan tugas yang
diemban.Setelah penulis melakukan pengamatan langsung di Desa Tumpaan Baru, kerjasama
antara sesama perangkat terjalin dengan biasa-biasa saja.
b.Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk menunjang kinerja para aparat dalam
pemberian pelayanan.Tanpa adanya partisipasi dari masyarakat, para aparat seakan bekerja
dengan sia-sia.Partisipasi masyarakat dibutuhkan untuk mentaati semua aturan-aturan yang
berlaku.
c. Kedisiplinan Perangkat Desa
Perangkat Desa sebagai unsur aparatur desa dalam menjalankan roda pemerintahan
dituntut untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya sebagai abdi negara dan abdi
masyarakat.Kepala Desa dan Penrangkatnya juga harus bisa menjunjung tinggi martabat dan
citra kepegawaian demi kepentingan masyarakat dan negara namun kenyataan di lapangan
berbicara lain dimana masih banyak ditemukan perangkat desa yang tidak menyadari akan
tugas dan fungsinya tersebut sehingga seringkali timbul ketimpangan-ketimpangan dalam
menjalankan tugasnya dan tidak jarang pula menimbulkan kekecewaan yang berlebihan pada
masyarakat.

Akuntabilitas Publik Kepala Desa


Dalam pengertian yang sempit akuntabilitas dapat dipahami sebagai bentuk
pertanggungjawaban yang mengacu pada keepada siapa organisasi (atau pekerja individu)
bertanggungjawab dan untuk apa organisasi (pekerja individu) bertanggung jawab?. Dalam
pengertian luas, akuntabilitas dapat dipahami sebagai kewajiban pihak pemegang amanah
(agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan
mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak
pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta
pertanggungjawaban tersebut. Makna akuntabilitas ini merupakan konsep filosofis inti dalam
manajemen sektor publik. Dalam konteks organisasi pemerintah, sering ada istilah
akuntabilitas publik yang berarti pemberian informasi dan disclosure atas aktivitas dan
kinerja finansial pemerintah kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan
tersebut. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus bisa menjadi subyek pemberi
informasi dalam rangka pemenuhan hak-hak publik.

Pembahasan
Kinerja suatu institusi atau organisasi salah satunya ditentukan oleh iklim atau atmosfir
organisasi.Menurut Morgan (1991) dalam Andriopoulos (2001) menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan iklim organisasi merupakan suatu konteks luas yang berkaitan dengan
atmosfir atau mood. Suatu working atmosphere yang menguntungkan bagi kreatifitas dan
inovasi mensyaratkan partisipasi dan kebebasan dalam ekspresi, dan juga permintaan akan
standar kinerja.
Institusi atau organisasi di sekitar pemerintahan desa berpotensi mempengaruhi
kinerja pemerintahan desa. Iklim organisasi pemerintahan desa dalam penelitian ini akan
dilihat dari kondisi: (1) hubungan internal antara kepala desa dan perangkat desa; (2)
hubungan horizontal antara pemerintah desa dan BPD; (3) hubungan eksternal antara
pemerintah desa dan masyarakat desa; dan (4) patologi birokrasi pemerintahan desa.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dalam bab sebelumnya, maka kesimpulan penelitian ini
adalah:
1. Produktivitas Kepala Desa dalam pelayanan administrasi kependudukan ditinjau dari
dimensi Daya Tanggap dan Kepastian dinilai belum maksimal. Dari hasil penelitian
menunjukkan bahwa pada dimensi ini masyarakat belum terlalu puas dengan pelayanan
yang diberikan oleh aparat pemerintah desa, pada dimensi Bukti Nyata, Kehandalan dan
Empati, pelayanan yang diberikan belum cukup berkualitas karena masyarakat juga
belum merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.
2. Responsivitas dan akuntabilitas kinerja kepala desa dalam pelayanan administrasi
kependudukan mendapat tanggapan yang beragam dari masyarakat, hal-hal yang
mendukung pelaksanaan pelayanan aparat pemerintah desa adalah kerjasama antar aparat
dan partisipasi masyarakat. sedangkan yang menghambat pelaksanaan pelayanan adalah
kedisiplinan perangkat desa dan kurangnya sarana dan prasarana.

Saran
Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah:
1. Diharus pemerintah desa dapat menginformasikan kepada Kepala jaga untuk
mensosialisasikan kepada masyarakat masing jaga mengenai jenis-jenis pelayanan,
persyaratan dan prosedurnya.
2. Harus adanya peningkatan disiplin dan juga pemberian motivasi pimpinan dalam hal
ini kepala desa agar lebih memperhatikan kedisiplinan bawahan melalui pemberian reward
dan punishment sesuai dengan prestasi kerja bawahannya.

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita Rahardjo, 2002, Manajemen Pemerintahan Daerah, Graha Ilmu: Jakarta.


Bernardin & Russel. 2006. Pinter Manajer, Aneka Pandangan Kontemporer. Alih Bahasa
Agus Maulana. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta.
Bungin Burhan, 2002.Metode Penelitian Kualitatif, Rajawali Pers, Jakarta.
Dwiyanto, Agus, dkk, 2002, Reformasi Birokrasi di Indonesia, Yogyakarta, Pusat Studi
Kependudukan dan dan Kebijakan, UGM.
Dharma Agus, 2003.Manajemen Supervisi, Rajawali Pers: Jakarta.
Gibson, 2003.Perilaku Manajemen Organisasi, Erlangga: Surabaya.
Irawan, 2001.Manajemen Konflik, Salemba: Jakarta.
John Ivancevich, 2006. Perilaku dan Manajemen Organisasi, Erlangga: Surabaya
Lukman Sampara. 2000. Manajemen Kualitas Pelayanan, Jakarta : STIA LAN Press
Mangkunegara Prabu Anwar, 2005. Manajemen dan Motivasi, Balai Pustaka: Jakarta.
Monier. 2008. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Prawirosentono, 1999.Bahasa Komphrehensif Strategi Pengambilan Keputusan, Bumi
Aksara: Jakarta.
Ratminto dan Atik Septi Winarsi. 2005. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Siagian S.P, 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara, Jakarta
Sinungan, 2001 Produktivitas: Apa dan Bagaimana, Edisi Ke-2, Cetakan Ke-3, Bumi
Aksara, Jakarta.
Sinambela Lijan Poltak dkk. 2008. Reformasi Pelayanan Publik. Jakarta: Bumi Aksara.
Simanjuntak, Payaman J. 2005. Manajemen dan Evaluasi Kerja. Lembaga Penerbit FEUI,
Jakarta.
Suradinata, 1996.Manajemen Sumber Daya Manusia: Suatu Tinjauan Wawasan Masa
Depan, Cetakan Pertama, Ramadan, Bandung.
Thoha, Miftah. 2003, Perilaku Organisasi : Konsep Dasar Aplikasinya, Gramedia Pustaka:
Jakarta.
Veithzal Rivai, 2006. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Rajawali pers: Jakarta.
Widjaja, 2001.Penyelenggaraan Otonomi di Indonesia, Rajawali Pers : Jakarta

Wibowo, 1999.Manajemen Kinerja, Rajawali Pers: Jakarta

Winardi, 2005.Manajemen Perilaku Organisasi, Graha Pustaka: Jakarta

Sumber Lainnya :

Undang-undang Nomor : 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerahsebagaimana telahdirubah


Undang-Undang RI Nomor 12 tahun 2008.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa