Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Irritable Bowel Syndrome merupakan gangguan usus fungsional yang bersifat


kambuhan tanpa adanya penyebab organik. Walaupun IBS merupakan gangguan non-organik,
beberapa penelitian menunjukkan keterlibatan komponen organik, yang membuat terminologi
IBS dipertanyakan. Faktor psikologis tidak mempengaruhi onset IBS. Irritable bowel
syndrome bukan kelainan psikiatrik atau psikologis, tetapi faktor psikologis dapat berperan
penting dalam persistensi dan berat keluhan abdomen.Masalah utama pada IBS adalah
penurunan kualitas hidup penderitanya, yang meskipun tidak terkait dengan progresivitas
IBS, menjadikannya lebih serius Diagnostik ditegakkan berdasarkan gejala yang muncul.
Gejala untuk IBS tidak terlalu spesifik dan dialami sesekali oleh hampir setiap individu.

Definisi untuk IBS sendiri ialah gangguan usus fungsional dengan sakit perut atau
rasa tidak nyaman berhubungan dengan perubahan kebiasaan buang air besar. Sensasi
ketidaknyamanan (kembung), distensi, dan buang air besar umunya saling terkait. Dalam
beberapa bahasa, kata-kata "kembung" dan "distensi" dapat diwakili dengan istilah yang
sama. Beberapa karakteristik IBS yaitu, menghasilkan biaya perawatan kesehatan langsung
dan tidak langsung yang signifikan; transisi untuk penyakit IBS biasanya dapat terjadi
tumpang tindih dengan gejala dari penyakit pencernaan lainnya (misalnya, penyakit
gastroesophageal reflux, dispepsia, dan sembelit fungsional). Kondisi ini biasanya
menyebabkan gejala jangka panjang yang bervariasi dan sering dikaitkan dengan asupan
makanan serta karateristik buang air besar; gejala terkadang mengganggu kehidupan sehari-
hari dan fungsi sosial pada banyak pasien.

Gambaran global dari prevalensi IBS adalah jauh dari sempurna, karena tidak ada
data yang tersedia dari beberapa daerah. Selain itu, perbandingan data dari berbagai daerah
sering bermasalah karena penggunaan kriteria diagnostik yang berbeda serta pengaruh faktor
lain seperti seleksi populasi, inklusi atau pengecualian dari komorbiditas gangguan (misalnya,
kecemasan), akses ke perawatan kesehatan, dan pengaruh budaya. Di Meksiko, misalnya,
prevalensi IBS pada populasi umum, diukur dengan menggunakan kriteria Roma III, adalah
16%, tetapi angka ini meningkat menjadi 35% di antara individu-individu dalam masyarakat
berbasis universitas. Yang luar biasa adalah bahwa data yang tersedia menunjukkan bahwa

1
prevalensi sangat mirip di banyak negara, meskipun ada perbedaan gaya hidup yang cukup
besar. berdasarkan observasi dan epidemiologi IBS terutama terjadi antara usia 15 dan 65
tahun. Presentasi pertama pasien ke dokter biasanya pada kelompok usia 30-50 tahun.
Prevalensi lebih besar pada wanita-meskipun hasil ini tidak diproduksi dalam beberapa studi
dari India, misalnya. Dilaporkan ada penurunan frekuensi antara individu-individu yang lebih
tua. Prevalensi IBS pada anak-anak diperkirakan mirip dengan orang dewasa.

Secara demografi perbedaan IBS pada wilayah Timur dan Barat mempunyai bberapa
perbedaan, seperti dalam kasus data prevalensi, perbandingan studi berdasarkan data
masyarakat, Data klinik rawat jalan, dan statistik rumah sakit. Gejala IBS khas yang
umumnya ditemukan dalam sampel populasi yang sehat, namun sebagian besar penderita
dengan IBS tidak benar-benar didiagnosa secara medis. Hal ini mungkin menjelaskan
perbedaan jelas antara negara-negara dalam prevalensi yang dilaporkan. Kebanyakan
penelitian hanya melaporkan IBS yang terdiagnosa dan tidak melaporkan prevalensi dalam
masyarakat.

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah salah satu penyakit gastrointestinal


fungsional. Pengertian Irritable Bowel Syndrome (IBS) sendiri adalah adanya nyeri perut,
distensi dan gangguan pola defekasi tanpa adanya gangguan organik. Gejala yang dapat
muncul pada pasien IBS cukup bervariasi. Disisi lain pemeriksaan fisik dan laboratorium
yang spesifik pada pasien IBS tidak ada, oleh karena itu penegakkan diagnosis IBS kadang
kala tidak mudah.

B. ETIOLOGI

Sampai saat ini tidak ada teori yang menyebutkan bahwa IBS merupakan satu faktor
saja. Penelltian-penelitian terakhir mengarah untuk membuat suatu model terintegrasi
sebagai penyebab dari IBS. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya IBS antara lain
gangguan motilitas, intoleransi makanan, abnormalitas sensoris, abnormalitas dari
interaksi aksis brain-gut, hipersensitivitas viseral, dan pasca infeksi usus.

Adanya IBS predominan diare dan IBS predominan konstipasi menunjukkan bahwa
pada IBS terjadi suatu perubahan motilitas. Pada IBS tipe diare terjadi peningkatan
kontraksi usus dan memendeknya waktu transit kolon dan usus halus. Sedang pada IBS
tipe konstipasi terjadi penurunan kontraksi usus dan memangjangnya waktu transit kolon
dan usus halus.

IBS yang terjadi paska infeksi dilaporkan hampir pada 1/3 kasus IBS. Keluhan-
keluhan IBS muncul setelah satu bulan infeksi. Penyebab IBS paska infeksi antara lain
virus, giardia, atau amuba. Pasien IBS paska infeksi biasanya mempunyai gejala perut
kembung, nyeri abdomen dan diare.

C. EPIDEMIOLOGI

3
Penelitian pada suatu populasi memperkirakan prevalensi IBS 10-20% dan
insidensi IBS berkisar 1-2% per tahun. Dari seluruh kasus IBS, diperkirakan 10-20% saja
yang berkonsultasi pada tenaga medis. Sekitar 20-50% rujukan ke ahli gastroenterologi
mengarah pada gejalagejala IBS.1

Prevalensi IBS cenderung meningkat di negara industri dibandingkan di negara


berkembang. Prevalensi di India 4,2% sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara
di Amerika Utara yaitu 10-15%. Prevalensi IBS di Asia diperkirakan 3,5-25%, terendah di
Iran, dan tertinggi di Jepang.2 Penelitian terakhir melaporkan prevalensi IBS di negara-
negara Asia berkisar 4-20%, dan di komunitas India bagian utara adalah 4%. Di Indonesia
belum ada data nasional, namun untuk wilayah Jakarta, dari 304 kasus gangguan
pencernaan yang tergabung dalam penelitian Asian Functional Gastrointestinal Disorder
Study (AFGID) tahun 2013, dilaporkan angka kejadian konstipasi fungsional 5,3% dan
angka kejadian IBS tipe konstipasi sebesar 10,5%. Prevalensi IBS pada wanita sekitar 1,5-
2 kali prevalensi pada laki-laki. IBS dapat terjadi pada semua kelompok umur dengan
mayoritas pada usia 20-30 tahun dan cenderung menurun seiring bertambahnya usia.

D. KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesis
1. Keluhan
1.1 Deskripsi Nyeri

Gejala utama meliputi pola nyeri atau sensasi tidak nyaman, yang berasal
dari gangguan fungsi saluran cerna dan perubahan pola defekasi. Nyeri berkurang
setelah defekasi atau berkaitan dengan perubahan konsistensi feses. Nyeri tanpa
kondisi tersebut harus dipertimbangkan sebagai kondisi neoplasma, infeksi saluran
pencernaan, penyakit urogenital.

1.2 Nyeri konstan

Nyeri konstan yang tidak membaik dengan defekasi merefleksikan nyeri


neoplastik atau karena sindrom nyeri abdomen fungsional. Hal ini umumnya
berkaitan dengan masalah psikiatri kompleks meliputi kemungkinan gangguan
personal.

1.3 Gangguan defekasi

4
Klasifikasi tipe diare atau konstipasi merupakan hal penting, dan Bristol
Stool Form merupakan cara yang mudah. Pasien yang mengalami diare dan
konstipasi masing-masing pada periode singkat dimasukkan dalam kategori mixed.
Diare pada IBS umumnya terutama pagi hari dan setelah makan. Volume diare
yang masif, berdarah, dan nokturnal merupakan gejala yang tidak terkait IBS, dan
lebih mengarah pada gangguan organik. Konstipasi pada IBS ditandai dengan feses
berbentuk seperti pil, dan pasien akan sulit defekasi.

2. Faktor Psikologis

Setidaknya dua pertiga pasien IBS dirujuk ke ahli gastroenterologi dengan


distress psikologis, paling sering anxietas. Stresor (anxietas) penting untuk
diidentifikasi karena dapat mengganggu respons terapi. Gejala klinis sering kali
merupakan manifestasi somatisasi.

3. Faktor Keluarga

Hal penting adalah riwayat keluarga dengan penyakit Inflammatory Bowel


Disease atau keganasan kolorektal, terutama pada usia kurang dari 50 tahun. Investigasi
lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab organik.

4. Faktor Diet

Pasien IBS dapat mencoba berbagai bentuk manipulasi diet yang mungkin
menyebabkan kecukupan gizinya tidak adekuat. Beberapa penelitian menunjukkan
gangguan makan sering dijumpai pada penderita IBS dan kondisi ini dapat
memperburuk keadaan pasien.

5. Faktor Presipitasi dan Eksaserbasi

Faktor menstruasi atau obat seperti antibotik, anti inflamasi non-steroid, atau
statin dapat memicu eksaserbasi. Episode eksaserbasi juga dipicu oleh stres. Merokok
dan alkohol tidak mempengaruhi IBS.

6. Tanda Bahaya

Perdarahan rektal, anemia, penurunan berat badan, gejala nokturnal, riwayat


keluarga dengan keganasan kolorektal, abnormalitas pemeriksaan fisik, penggunaan
antibiotik, onset usia >50 tahun, nyeri abdomen bawah dengan demam, massa

5
abdomen, asites, membutuhkan evaluasi lebih lanjut sebelum didiagnosis IBS karena
kemungkinan penyakit inflamasi dan neoplastik. Perdarahan rectum dan massa
abdomen memiliki spesifisitas 95% kecurigaan kanker kolon.

Tidak ada pemeriksaan khusus untuk menentukan diagnosis IBS. Kriteria Rome
III yang dipublikasikan sejak tahun 2006 didasarkan pada adanya keluhan berupa rasa
tidak nyaman atau nyeri yang berlangsung sedikitnya selama 3 hari/bulan selama 3
bulan pertama (tidak perlu berurutan) dan telah berlangsung selama 3 bulan terakhir
dan tidak bisa dijelaskan oleh adanya abnormalitas secara kelainan struktur maupun
biokimiawi. Selain itu terdapat sedikitnya 2 dari 3 hal berikut ini yaitu nyeri hilang
setelah defekasi, perubahan frekuensi dari defekasi (diare atau konstipasi) atau
perubahan dari bentuk feses.

Menurut kriteria Roma III dan karakteristik feses, IBS dibagi menjadi 3 subkelas:

1. IBS dengan diare (IBS-D)

- Feses lembek/cair 25% waktu dan feses padat/bergumpal <25% waktu

- Lebih umum ditemui pada laki-laki

- Ditemukan pada satu pertiga kasus

2. IBS dengan konstipasi (IBS-C)

- Feses padat/bergumpal 25% dan feses lembek/cair <25% waktu

- Lebih umum ditemui pada wanita

- Ditemukan pada satu pertiga kasus

3. IBS dengan campuran kebiasaan buang air besar atau pola siklik (IBS-M)

- Feses padat/bergumpal dan lembek/cair 25% waktu

- Ditemukan pada satu pertiga kasus

Catatan: 25% waktu adalah 3 minggu dalam 3 bulan

Nyeri atau rasa tidak nyaman pada abdomen yang dirasakan oleh pasien dengan
IBS biasanya selalu membawa pasien tersebut untuk mencarikan pertolongan dan

6
tentunya hal ini akan mengurangi kualitas hidup dari pasien itu sendiri dan cenderung
menjadi tidak produktif. Diare juga gejala utama IBS yang selalu membawa pasien
untuk datang ke dokter, keluhan diare itu tentunya tidak menyenangkan. Keluhan
konstipasi biasanya disertai kembung.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik tidak banyak menunjukkan abnormalitas. Pemeriksaan tanda


penyakit sistemik harus diikuti dengan pemeriksaan abdomen. Pasien diminta menunjukkan
area nyeri pada abdomen. Nyeri difus akan ditunjukkan dengan tangan yang melebar,
sedangkan nyeri terlokalisir akan ditunjuk dengan jari. Nyeri viseral jarang terlokalisir, jika
terlokalisir merupakan nyeri atipikal dan harus dipertimbangkan penyakit selain IBS. Nyeri
dinding abdomen bisa berasal dari hernia, cedera otot, atau penjepitan saraf dapat diidentifi
kasi dengan tes Carnett. Tes ini dilakukan dengan menginstruksikan pasien memfleksikan
siku dan meletakkan di atas dinding dada (posisi sit-up) dan mengangkat kepala. Apabila
nyeri perut berkurang maka hasil tes Carnett negatif, hal ini mengindikasikan nyeri
intraabdominal.

Apabila nyeri perut bertambah maka hasil tes Carnett positif, hal ini mengindikasikan
nyeri berasal dari dinding abdomen, dan sebagian besar didasari oleh nyeri psikogenik.
Pemeriksaan regio perianal dan rectum dilakukan apabila diare, perdarahan rektal, atau
gangguan defekasi. Pemeriksaan fisis mengungkapkan bahwa pasien penyakit ini terlihat
cemas, tetapi nyeri atau distensi abdomen yang signifikan tidak lazim dijumpai. Sigmoid
lunak yang penuh feses dapat dipalpasi pada kuadran kiri bahwah. Sigmoidoskopi dapat
mengungkapkan adanya pola vaskuler yang mencolok, spasme otot, atau mukus yang
berlebihan, tetapi mukosanya sendiri normal.

Pemeriksaan laboratorium meliputi darah perifer lengkap, biokimia darah serta


pemeriksaan fungsi hati dan pemeriksaan hormon tiroid pada pasien dengan gejala diare
kronisnya yang menonjol. Diagnosis IBS ditegakkan jika keluhan sesuai dengan kriteria
Rome III dan tidak ditemukan kelainan organik lain. Sebagian besar kasus yang telah yang
telah memenuhi kriteria Rome III tanpa gejala alarm yang telah disebutkan diatas biasanya
tidak ditemukan kelainan struktural. Pada psien IBS dengan dominasi keluhan diare

7
pemeriksaan kolonoskopi diikuti biopsi muosa kolon perlu dilakukan untuk menyingkirkan
adanya kolitis mikroskopik.

Kriteria Manning juga sering digunakan, selain itu juga lebih sederhana dan menitik
beratkan pada keadaan pada onset nyeri antara lain adanya buang air besar saat timbulnya
nyeri. Adanya feses cair disertai frekuensi defekasi yang meningkat pada saat nyeri
menginterpretasikan bahwa terjadi perubahan fungsi intestinal. Sedang adanya nyeri yang
berkurang setelah defekasi menunjukkan bahwa nyeri berasal dari gastrointestinal bawah.
Adanya kembung menunjukkan bahwa kondisi sakit ini agaknya bukan kelainan organik.
Adanya rasa tidak lampias menginterpretasikan bahwa rektum irritable. Sedang adanya lendir
pada saat defekasi menunjukkan bahwa rektum teriritasi.

Pada beberapa keadaan IBS dibagi dalam beberapa subgrup sesuai dengan keluhan
dominan yang ada pada seseorang pada subgrup IBS yang sering digunakan membagi IBS
menjadi 4 yaitu :

a. IBS predominan nyeri


Nyeri difosa iliaka, tidak dapat dengan tegas menunjukkan lokasi sakitnya
Nyeri dirasakan lebih dari 6 bulan.
Nyeri hilang setelah defekasi
Nyeri meningkat jika stress dan selama menstruasi
Nyeri dirasakan persisten jika kambuh terasa lebih berat
b. IBS predominan diare
Diare pada pagi hari sering dengan urgensi
Biasanya disertai rasa sakit dan hilang setelah defekasi
c. IBS predominan konstipasi
Terutama wanita
Defekasi tidak lampias
Biasanya feses disertai lendir tanpa darah
d. IBS alternating pattern
Pola defekasi yang berubah-ubah: diare dan kosntipasi
Sering feses keras dipagi hari diikuti dengan beberapa kali defekasi dan feses
menjadi cair pada sore hari
E. DIFFERENSIAL DIAGNOSIS

Beberapa penyakit mempunyai gejala yang hampir sama dengan IBS . beberapa
pertanyaan yang sering ditanyakan untuk mencari penyebab nyeri perut dan dihubungkan
dengan kemungkinan IBS sebagai penyebabnya yaitu :

a. Apakah nyeri yang dirasakan hanya pada satu tempat atau berpindah-pindah ?
(pada IBS berpindah-pindah).

8
b. Seberapa sering merasakan nyeri ?
(pada IBS tidak tentu)
c. Berapa lama nyeri dirasakan ?
(pada IBS sebentar)
d. Bagaimana keadaan nyeri jika pasien buang air besar atau flatus ?
(pada IBS akan lebih nyaman)

Pada IBS sering didiferensial diagnosis dengan defisiensi laktase, kanker kolorektal,
divertikulitis, inflammatory bowel disease (IBD), obstruksi mekanik pada usus halus atau
kolon, infeksi usus, iskemia, maldigesti, dan malabsorpsi serta endometriosis pada pasien
yang mengalami nyeri saat menstruasi.

Beberapa tanda alarm yang harus diperhatikan sehingga diagnosis lebih menjurus
kearah IBS antara lain onset umur lebih besar 55 tahun, riwayat keluhan pertama kali kurang
dari 6 bulan, perjalanan penyakitnya progresif atau sangat berat, gejala-gejala muncul pada
malam hari, perdarahan peranus, anoreksia, berat badan turun, riwayat keluarga menderita
kanker, pada pemeriksaan fisik ditemukan kelainan misalnya adanya distensi abdomen,
anemia atau demam. Apabila tanda-tanda alarm ini ditemukan selain gejal-gejala IBS maka
penyeab organik harus dipikirkan terlebih dahulu sehingga pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan penunjang lain harus dilakukan.

F. TATALAKSANA

Penatalaksanaan pasien IBS meliputi :

a. Diet
Modifikasi diet untuk meningkatkan konsumsi serat disertai dengan konsumsi air
yang meningkat serta aktivitas olah raga rutin yang ditujukan untuk IBS konstipasi.
Sebaliknya, untuk IBS diare konsumsi serat sebaiknya dikurangi.
Beberapa makanan dan minuman tertentu juga dapat mencetuskan terjadinya
IBS pada beberapa pasien seperti gandum, susu, kafein, bawang, coklat dan beberapa

9
sayur-sayuran. Biasanya jika keluhan menghilang setelah menghindari makanan dan
minuman yang dicurigai sebagai pencetus bisa dicoba untuk dikonsumsi lagi setelah 3
bulan dengan jumlah diberikan secara bertahap.
b. Psikoterapi
Pasien IBS biasanya mempunyai rasa cemas yang tinggi terhadap penyakitnya.
Karena biasanya rasa sakit di perut, buang air besar cair atau susah buang air besar itu
datangnya tiba-tiba. Umumnya pasien IBS selalu mengganggap bahwa ada suatu
penyakit organik yang terjadi pada tubuhnya. Penjelasan atas penyakit IBS bahwa
penyakit ini dapat diobati dan tidak membahayakan kehidupan ialah kunci utama
keberhasilan pengobatan pasien. Setelah pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
penunjang yang telah dilakukan guna menyingkirkan kemungkinan penyakit organik
harus dijelaskan kepada pasien bahwasanya pasien hanyalah menderita IBS dan tidak
ada penyakit lain lagi apalagi mengidap penyakit kanker.
Pasien IBS harus selalu diingatkan untuk mengendalikan rasa stresnya. Pasien diminta
untuk tidak bekerja berlebihan dan mengenyampingkan waktu istirahatnya. Pasien
diharapkan dapat meluangkan waktunya untuk melakukan Buang Air Besar secara
teratur, dan meneydiakan waktu yang cukup untuk mencerna dengan tidak terburu-
buru. Olah raga yang teratur merupakan kunci agar pasien IBS dapat meneyesuaikan
diri dengan keluhan-keluhan yanga ada. Terapi bicara dapat menurunkan stress dan
memperbaiki gejala IBS. Hypnoterapi dapat menolong relaksasi otot di kolon.
c. Obat-obatan
Obat-obatan yang diberikan kepada pasien IBS utamanya untuk menghilangkan gejala
seperti mengatasi nyeri abdomen, mengatasi konstipasi, mengatasi diare dan obat
antiansietas. Sampai sejauh ini tidak ada obat tunggal yang diberikan untuk pasien
IBS, obat-obatan ini biasanya diberikan secara kombinasi.
Untuk mengatasi nyeri abdomen sering digunakan antispasmodik yang
mempunyai efek antikolinergik dan lebih bermanfaat pada nyeri perut setelah makan,
tetapi umumnya kurang bermanfaat pada nyeri kronik disertai gejala konstipasi. Obat-
obata yang telah beredar di Indonesia antara lain mebeverine 3x135 mg, Hiosin N-
butilbromida 3x10 mg, Chlordiazepoksid 5 mg/klinidium 2,5 mg 3x1 tab, alverine
3x30 mg dan obat antispasmodik terbaru dan juga sudah digunakan di Indonesia
otolium bromida.
Untuk IBS konstipasi, laksatif osmotik seperti laktulosa, magnesium
hidroksida terutama pada kasus-kasus dimana konsumsi tinggi serat tidak membantu
mengatasi konstipasi. Obat-obatan laksatif simultan biasanya tidak dipergunakan
karena akan memperburuk rasa nyeri abdomen pasien. Tageserod suatu 5-HT4

10
reseptor agonis, obat IBS tipe konstipasi yang relatif baru dan sudah beredar di
Indonesia bekerja untuk meningkatkan akselarasi usus halus dan meningkatkan waktu
transit feses di kolon dan juga disebutkan dapat meningkatkan sekresi cairan usus.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tageserod biasanya diberikan dengan dosis
2x6 mg selama 10-12 minggu. Tetpi saat ini tageserod sudah ditarik dari perederan
karena efek samping pada jantung walau sebenarnya obat ini cukup efektif dalam
penanganan kasus-kasus IBS tipe konstipasi khususnya pada wanita.
Untuk IBS tipe diare beberapa obat juga dapat digunakan antara lain
loperamid dengan dosis 2-16 mg perhari.
Dalam pengobatan pasien dengan IBS kadang-kadang dipergunakan obat-
obatan yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh pasien dan ini sebaiknya menjadi
perhatian dokter. IBS bukan disebabkan oleh jamur dan infeksi sehingga antibiotika
dan antijamur tidak dibutuhkan. Begitu juga enzim, malabsorpsi bukan penyebab IBS
sehingga suplementasi enzim pada pasien dengan IBS kurang tepat.
d. Probiotik
Probiotik ialah mikroorganisme hidup, biasanya bakteri yang mirip ditemukan pada
saluran pencernaan. Mekanisme kerja probiotik pada IBS belum sepenuhnya
diketahui. Salah satu hipotesis menyatakan kerapatan epitel intestinal mencegah
bakteri patogen masuk ke celah intersel dan melakukan invasi; produksi substansi
antimikroba dapat mencegah invasi bakteri patogenik; perubahan mikroflora intestinal
dapat berdampak pada fungsi motorik dan sekretorik intestinal; dan menjadi signal
epitel intestinal yang akan berfungsi memodulasi imunitas luminal dan respons
inflamasi. Beberapa studi menemukan bahwa kelebihan jumlah bakteri terutama
bifidobakteri dan beberapa probiotik kombinasi memperbaiki gejala dari IBS. Namun
bagaimanapun penelitian lebih lanjut mengenai hal ini masih diperlukan. Probiotik
dapat ditemukan pada suplemen makanan seperti kapsul, tablet, bubuk, dan beberapa
makanan seperti yogurt.

G. PROGNOSIS

Penyakit IBS tidak akan meningkatkan mortalitas, gejala-gejala pasien IBS


biasanya akan membaik dan hilang setelah 12 bulan pada 50 % kasus, dan hanya kurang
dari 5 % yang akan memburuk dan sisanya dengan gejala yang meningkat.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Jaya, Danny. 2014. Irritable Bowel Syndrome (IBS) Diagnosis dan


Penatalksanaan.http://www.kalbemed.com/Portals/6/05_221CME-Irritable
%20Bowel%20Syndrome-Diagnosis%20dan%20Penatalaksanaan.pdf
2. Lamont, Thomas J. Isselbachter, J. 2002. Harrison : Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit
Dalam. Volume 4 Edisi 13. Jakarta : EGC.
3. Manan, Chudaman. Fahrial, Ari Syam. 2010. Buku Ajar : Ilmu Penyakit Dalam Jilid
1 Edisi 5. Jakarta : InternaPublishing.
4. syndrome National Digestive Diseases Information Clearinghouse. 2013.
www.digestive.niddk.nih.gov.irritable bowel syndrome

5. World Gastroenterology Organisation Global Guidelines. 2015. Irritable Bowel


Syndrome: a Global Perspective.

12