Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PPLC-B

Praktikum Pemeriksaan jamban Warga

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK II

1. ZULKIFLI
2. OCTORIO YOSAFAT
3. RIZKI AFRIANTO
4. RADEN HASTRIADY K
5. RIKI JUNIANTO

POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI D-III B.
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Jamban merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap masyarakat
sebenarnya,masyarakat sadar dan mengerti arti pentingnya mempunyai jamban sendiri di
rumah. Alasan utama yangselalu diungkapkan masyarakat mengapa sampai saat ini belum
memiliki jamban keluarga adalah tidak atau belummempunyai uang melihat faktor kenyataan
tersebut, sebenarnya tidak adanya jamban di setiap rumah tangga bukansemata faktor
ekonomi, Tetapi lebih kepada adanya kesedaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup
sehat (PHBS), jamban pun tidak harus mewah dengan biaya yang mahal.

Cukup yang sederhana saja disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rumag tangga.
Buat apa jamaban yang mewah sementara perilaku buang air besar (BAB) masih tetap
sembarangan. Ada faktor lain yang menyebabkan masyarakat untuk membuat atau
membangun jamban yaitu ketergantungan pada bantuan pemerintah dalam hal membangun
jamban. Hal ini merupakan bagian dari kesalahan masa lalu dalam penerapan kebijakan yang
justru cenderung memanjakan masyarakat. Program pembangunan jamban yang dilakukan
selama ini kurang optimal khususnya dalam membangun perubahan masyarakat. pendekatan
yang dilakukan mempunyai karakttreistik yang berorientasi kepada konstruksi atau bangunan
fisik jamban saja,tanpa ada upaya pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang
memadai selain itu desain jamban yang dianjurkan seringkali mahal bagi keluarga miskin.
Subsidi proyek tidak efektif menjangkau kelompok masyarakat miskin. jamban dibangun,
tetapi seringkali tidak digunakan masyarakat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia
yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa
(cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk
membersihkannya.

B. Jenis jamban yang digunakan

1. Jamban cemplung: Adalah jamban yang penampungannya berupa lupang yang ebrfungsi
menyimpan dan meresapkan cairan kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran
ke dasar lubang. Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.

2. Jamban tangki septik/leher angsa: Adalah jamban berbentuk leher angsa yang
penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses
penguraian/dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi dengan resapannya. Pilihan leher
angsa yang terbuat dari keramik, porselin atau kaca serat (fiber glass). Tempat air perapat
harus terbuat dari kaca serat atau keramik karena permukaanya licin dan cukup kuat sehingga
mudah dibersihkan. Juga tidak berbau dan tidak mengundang serangga. Tinggi air perapat
harus paling sedikit 2 cm, agar bau dari

C. Bagaimana memilih jenis jamban?

Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air

Jamban tangki septik/leher angsa digunakan untuk daerah yang cukup air dan daerah padat
penduduk, karena dapat menggunakan multiple latrine yaitu satu lubang penampungan
tinja/tangki septik digunakan oleh beberapa jamban (satu lubang dapat menampung
kotoran/tinja dari 3-5 jamban)

Daerah pasang surut, tempat penampungan kotoran/tinja hendaknya ditinggikan kurang


lebih 60 cm dari permukaan air pasang.
Siapa yang diharapkan menggunakan jamban?
Setiap aggota rumah tangga harus menggunakan jamban untuk buang airbesar/buang air kecil.

D. Mengapa harus menggunakan jamban

Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau

Tidak mencemari sumber air yang ada di sekitamya.

Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular penyakit
Diare, Kolera Disentri, Thypus, kecacingan, penyakit saluran pencernaan, penyakit kulit dan
keracuanan.
E. Syarat jamban sehat

Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan lubang
penampungan minimal 10 meter

a. Tidak berbau
b. Kotorarr tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus
c. Tidak mencemari tanah di sekitamya
d. Mudah dibersihkan dan aman digunakan
e. Dilengkapi dinding dan atap pelindung
f. Penerangan dan ventilasi cukup
g. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai
h. Tersedia air, sabun, dan alat pembersih

F. Bagaimana cara memelihara jamban sehat

Lantai jamban selalu bersih dan tidak ada genangan air

Bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban dalam keadaan bersih

Di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat

Tidak ada serangga (kecoa, lalat) dan tikur yang berkeliaran

Tersedia alat pembersih (sabun, sikat dan air bersih)

Bila ada kerusakan segera diperbaiki.

G. Pengetahuan Dan Tindakan Masyarakat Dalam Pemanfaatan Jamban Keluarga.

Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan tinja


merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas.
Penyediaan sarana pembuangan tinja masyarakat terutama dalam pelaksanaannya tidaklah
mudah, karena menyangkut peran serta masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya
dengan prilaku, tingkat ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.

Tempat jamban dapat dipilih yang baik, sehingga bau dari jamban tidak tercium.
Secara tersendiri dan ditempatkan di luar atau di dalam rumah dan berfungsi untuk melayani
1 sampai dengan 5 keluarga, atau untuk melayani orang-orang di tempat-tempat umum
(terminal, bioskop, dan sebagainya).

Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan satu bahan
buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media bibit
penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan gatal-gatal. Selain itu dapat
menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetika.
Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau
kotoran manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim disebut kakus atau WC. Syarat
jamban yang sehat sesuai kaidah-kaidah kesehatan adalah sebagai berikut :

a. Tidak memncemari sumber air minum


b. Tidak berbau tinja dan tidak bebas dijamah oleh serangga maupun tikus.
c. Air seni, air bersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah sekitar olehnya itu lantai
sedikitnya berukuran 1 X 1 meter dan dibuat cukup landai, miring kearah lobang jongkok.
d. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannnya.
e. Dilengkapi dengan dinding dan penutup
f. Cukup penerangan dan sirkulasi udara.
g. Luas ruangan yang cukup
h. Tersedia air dan alat pembersih.

Pemanfaatan jamban keluarga sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan


kebiasaan masyarakat. Tujuan program JAGA (jamban keluarga) yaitu tidak membuang tinja
ditempat terbuka melaingkan membangun jamban untuk diri sendiri dan keluarga. Penggunaan
jamban yang baik adalah kotoran yang masuk hendaknya disiram dengan air yang cukup, hal
ini selalu dikerjakan sehabis buang tinja sehingga kotoran tidak tampak lagi. Secara periodic
Bowl, leher angsa dan lantai jamban digunakan dan dipelihara dengan baik, sedangkan pada
jamban cemplung lubang harus selalu ditutup jika jamban tidak digunakan lagi, agar tidak
kemasukan benda-benda lain.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan jarak jamban dan sumber air bersih
adalah sebagai berikut :

a. Kondisi daerah, datar atau miring


b. Tinggi rendahnya permukaan air
c. Arah aliran air tanah
d. Sifat, macam dan struktur tanah

Pemeliharaan jamban keluarga sehat yang baik adalah lantai jamban hendaknya selalu
bersih dan tidak ada genangan air, bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban
selalu dalam keadaan bersih, didalam jamban tidak ada kotoran terlihat, tidak ada
serangga(kecoa, lalat) dan tikus berkeliaran, tersedia alat pembersih dan bila ada kerusakan
segera diperbaiki.

H. Tempat Jamban

a. Pelat Jongkok

Pelat jongkok harus selalu bersih dan licin. Untuk itu pilihlah pelat jongkok yang terbuat dari
bahan yang mudah dibersihkan, misalnya keramik, kaca serat, porselin, dan sebagainya.

b. Pondasi
Umumnya tebal pondasi jamban 20-40 cm dan dalamnya 40 cm, terbuat dari batu kali, bata
atau batako. Adukannya terdiri dari semen : pasir = 1 : 6. Jika semen diganti dengan kapur dan
semen merah : pasir = 1 : 3 : 4

c. Lantai

Lantai beton setebal 10 cm, kedap air, awet, dan mudah dibersihkan. Lantai tegel dapat
dipasang dengan adukan semen : pasir = 1 : 3.

d. Pintu

Pintu dapat dibuat dari bambu atau kayu yang dilapisi seng atau aluminium sehingga tidak
mudah lapuk. jarak tepi bawah pintu dari lantai sekitar 5-7,5 cm. Ukuran :
tinggi 1,80 m.
lebar 0,65 m.

e. Dinding

Dinding dapat dibuat dari bata/batako, kayu/papan, anyaman bambu. Tinggi dinding : 1,00 -
2,00 m. dinding depan 20 cm lebih tinggi supaya atapnya miring ke belakang.

Untuk menghemat biaya, dinding dapat dibagi dua:

bagian bawah dibuat dari bata setinggi 1,5 m supaya pemakaiannya terlindung

bagian atas dapat dari anyaman bambu atau papan

dinding bawah setinggi 40-50 cm harus dplester dengan kedap air agar tidak lembab dan
mudah dibersihkan.

f. Lubang Angin

Lubang angin sangat diperlukan agar selalu terjadi pergantian udara di dalam jamban

g. Atap

Atap jamban berguna sebagai pelindung di waktu hujan dan mencegah air hujan masuk ke
dalam pelat jongkok. Bahan atap misalnya genting, seng gelombang, ijuk, atap plastik tembus
cahaya, daun bambu, alang-alang, dan sebagainya. Kemiringan atap minimum 15 derajat.

h. Jarak Cubluk atau Resepan dari Tangki Septik ke Sumur

Bila letak cubluk atau resapan dan tangki septik berdekatan dengan sumur, maka jarak
minimum antara cubluk dan sumur tersebut harus 10 m.

Petunjuk Pemakaian dan Pemeliharaan Jamban yang Dilengkapi dengan Leher Angsa

1. Sebelum dipakai plat jongkok disiram terlebih dahulu dengan air supaya najis tidak
melekat dan penggelontorannya lancar
2. Jika tidak ada bak penampung air di dalam kakus, sediakan tempat/ember dengan isi 2
sampai 3 liter

3. Air hujan jangan dialirkan langsung ke dalam jamban demikian juga air dari kamar
mandi. Hal ini untuk menghindarkan gangguan terhadap Tangki Septik atau Cubluk yang
digunakan sebagai tempat pengolahan.

4. Pelat jongkok harus dibersihkan dengan sikat yang khusus untuk itu (yang bertangkai).
Untuk membersihkan dipakai sedikit air dan bubuk sabun atau abu gosok. Demikian juga
lantai kakus/jamban harus dibersihkan setiap hari.

5. Untuk menghindarkan tersumbatnya perangkap air, jangan membuang sampah dan


kotoran rumah tangga lainnya ke dalam lubang jamban

6. Jangan membuang puntung rokok yang masih menyala ke lubang jamban, karena dapat
mengakibatkan adanya tanda yang berbekas.

7. Perangkap air yang tersumbat dibersihkan dengan belahan bambu dari arah lubang
jamban atau jika ada dari lubang/bak pemeriksa di belakang kakus

8. Jika ada bau busuk dari kakus/jamban, periksalah apakah perangkap air kosong atau
rusak. Jika perangkap air kosong, siramkan air kedalam lubang jamban.

BAB III

PEMBAHASAN

Praktikum kali ini dalam mata kuliah PPLC-B kami melakukan praktikum pemeriksaan
jamban di rumah-rumah warga dan kelompok kami mengambil didaerah Jalan Selat Panjang
Gg Amboakak. Di sini kami mengambil beberapa sampel yaitu sekita 6 kepala keluarga. Di
enam kepala keluarga ini ada beberapa yang berbeda masalah-masalah yang kami survei di
jamban-jamban warga. Mungkin salah satu masalah yang dihadapi oleh warga tersebut adalah
masalah lahan yang pas dengan rumahnya. Jadi, sebagian warga membuat jamban yang
langsung dibawah klosetnya tersebut. Menurut yang kami pelajari di dalam kelas, septiktank
tersebut berbeda dengan septiktank yang seharusnya di buat. Sepertinya tidak ada salah satu
komponen yang seharusnya yang ada di dalam septiktank.

Warga di Gg Amboakak kebanyakan menggunakan air sehari-harinya untuk mencuci


dan mandi adalah menggunakan air sungai yang berada pas didepan rumah warga itu sendiri.
Dan air hujan digunakan untuk minum sehari-hari. Akan tetapi jarak septiktank lebih dari 10
meter. Dan ada didalam 2 kepala kepala keluarga menggunakan 1 jamban.

Sebelum kami melakukan praktikum, ternyata ada beberapa orang dari puskesmas
mensurvei jamban warga di daerah tersebut menurut beberapa warga pemerintah akan
memberi jamban yang layak, akan tetapi sampai sekarang tiadi hasil yang di peroleh oleh
warga didaerah tersebut.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau
kotoran manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim disebut kakus atau WC.
Pemeliharaan jamban keluarga sehat yang baik adalah lantai jamban hendaknya selalu
bersih dan tidak ada genangan air, bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban
selalu dalam keadaan bersih, didalam jamban tidak ada kotoran terlihat, tidak ada
serangga(kecoa, lalat) dan tikus berkeliaran, tersedia alat pembersih dan bila ada kerusakan
segera diperbaiki.

B. Sasaran

Cara pengendalian yang paling sederhana adalah dengan menumbuhkan kesadaran dari
dalam diri untuk untuk selalu menggunakan jamban yang sehat tidak merusak lingkungan dan
pencemarannya. Selain itu diperlukan juga kontrol sosial budaya masyarakat untuk lebih
menghargai sanitasi lingkungan, walaupun kadang harus dihadapkan pada mitos tertentu.
Peraturan yang tegas dari pemerintah juga sangat diharapkan karena jika tidak maka perilaku
masyarakat untuk menggunakan jamban yang sehat tidak optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Inspeksisanitasi,2012. Sanitasi jamban. Diunduh dari:

http://jojo-fakultaskesehatanmasyarakat.blogspot.com/p/blog-page.html

fiktorpobatu,2014. Pengertian jamban dan jenis-jenis jamban. Diunduh dari:


http://fiktorpobatu.blogspot.com/2014/08/pengertian-jamban-dan-jenis-jenis-
jamban.html

http://jojo-fakultaskesehatanmasyarakat.blogspot.com/p/blog-page.html

LAMPIRAN
Jamban Leher Angsa Jamban yang tidak kedap udara

Septiktank yang memenuhi syarat Septiktank yang berbeda