Anda di halaman 1dari 4

Assessment dan POR Post operasi (21-28 April)

NO Data TANGGAL (APRIL) Nilai


klinik Normal
21 22 23 24 25 26 27 28
1 TD 120/ 120/ 120/ 110/ 120/ 120/ 120/ 120/ 120/80 mmHg
80 80 80 80 80 80 80 80
2 Nadi 80 84 84 84 80 80 80 84 70-80
kali/menit
3 RR 20 22 22 22 20 20 20 20 16-20
kali/menit
4 Suhu 37 37 37 37 36 36 36 36 36,5-
37,5oC
5 Muntah - - - - - - - - -
6 Nyeri + + + + + + + + -
7 PU bawah 1800 1500 3000 2000 2500 2500 2000 2000 1200-1600
8 PU nefrost 600 450 300

Pada data laboratorium diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar data pasien
menunjukkan keadaan yang berada dalam rentang nilai normal. Dilihat dari data klinis
pasien yang mulai membaik maka infus dilepas dan diberikan obat secara oral. Obat yang
diberikan yaitu levofloxacin sebagai antibiotic profilaksis dan asam traneksamat untuk
menghentikan pendarahan pasca operasi.

Setelah operasi, pasien kemudian kembali ke ruang rawat inap untuk melanjutkan
terapi post operasi, dimana terapi yang diperoleh pasien yaitu pemberian levofloxacin,
metamizol, asam traneksamat, ranitidine, ondansetron, ketorolac, tramadol.
Levofloxacin diberikan 30 menit sebelum insisi kulit sebagai antibiotik profilaksis.
Menurut Permenkes Thn.2011 Tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, Antibiotik
profilaksis diberikan 30 menit sebelum insisi kulit. Idealnya diberikan pada saat induksi
anestesi. Namun pada kasus ini, Levofloxacin diberikan selama 10 hari diindikasikan tidak
hanya untuk profilaksis post operasi , namun juga sebagai terapi kausatif dilihat dari hasil
kultur yang di dapat dimana pasien positif terdapat bakteri Staphyloccocus coagulase.

Dari data klinik pasien masih merasakan nyeri, terapi yang diberikan untuk mengatasi
nyeri pasien yaitu metamizol diberikan tanggal 20-23 April dan ketorolac diberikan tanggal
20-21 April. Pada Tanggal 21 pasien diberikan Tramadol sebagai analgetik.
Pada kasus ini pasien menerima 2 analgetik golongan NSAID yaitu metamizol dan
ketorolac. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) memiliki dua efek yaitu analgesik dan
antiinflamasi.Mekanisme kerjanya didominasi oleh inhibisi sintesis prostaglandin oleh
enzimcyclo-oxygenase yang mengkatalisa konversi asam arakidonat menjadi prostaglandin
yang merupakan mediator utama peradangan. Semua OAINS bekerja dengan cara yang
sama dan karenanya tidak ada gunanya memberi lebih dari satu OAINS pada satu waktu.
OAINS pada umumnya, lebih berguna bagi rasa sakit yang timbul dari permukaan kulit,
mukosa buccal,dan permukaan sendi tulang.
Pilihan OAINS harus dibuat berdasarkan ketersediaan, biaya dan lamanya
tindakan.Jika rasa sakit tampaknya akan terus-menerus selama jangka waktu yang panjang
maka dipilih obat dengan waktu paruh yang panjang dan efek klinis yang lama. Namun,
obat obatan kelompok ini memiliki insiden tinggi untuk efek samping penggunaan jangka
panjang dan harus digunakan dengan hati-hati. Semua OAINS mempunyai aktivitas
antiplatelet sehingga mengakibatkan pemanjangan waktu perdarahan.Obat-obatan ini juga
menghambat sintesis prostaglandin dalam mukosa lambung dan dengan demikian
menghasilkan pendarahan lambung sebagai efek samping oleh karena itu apoteker
menyarankan untuk menggunakan 1 analgetik golongan NSAID saja yaitu metamizol.
Obat Golongan Opioid seperti Tramadol merupakan terapi utama untuk nyeri sedang-
berat pasca operasi. Efek analgesia (anti nyeri) didapat dengan cara menghambat respons
otak terhadap stimulus nyeri. Obat golongan ini bisa diberikan melalui intravena, ataupun
oral. Efek samping obat-obatan golongan ini adalah mual muntah, gangguan pernafasan,
pusing, ngantuk, konstipasi, gatal-gatal. Efek samping bisa dikurangi dengan cara
mengurangi dosis dengan mengkombinasikan dengan obat-obatan jenis lain, merubah rute
pemberian, kombinasi dengan blok saraf tepi, dll
Pada tanggal 21-28 April pasien diberikan levofloxacin dengan dosis 2 x 500 mg
perhari. Levofloxacin diberikan sebagai pencegah infeksi pasca operasi yang sebelumnya
diberikan secara intravena pada tanggal 20-23 namun kemudian selanjutnya diberikan
secara per oral dengan pertimbangan untuk mencegah infeksi nosokomial, mengurangi
biaya, kenyamanan pasien.
Antibiotik intravena dapat diganti peroral, apabila setelah 24-48 jam (Binfar, 2011):
1. Kondisi klinis pasien membaik.
2. Tidak ada gangguan fungsi pencernaan (muntah, malabsorpsi, gangguan menelan,diare
berat).
3. Kesadaran baik.
4. Tidak demam (suhu >36C dan < 38C)
5. Nadi < 90 kali/menit
6. Pernapasan 20 kali/menit
7. Tekanan darah stabil
Menurut Permenkes Thn 2011 Tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik,
Antibiotik profilaksis diberikan 30 menit sebelum insisi kulit. Idealnya diberikan pada
saat induksi anestesi. Namun pada kasus ini, Levofloxacin diberikan selama 10 hari
diindikasikan tidak hanya untuk profilaksis post operasi , namun juga untuk terapi kausatif
diliat dari hasil kultur yang di dapat dimana pasien positif terdapat bakteri Staphyloccocus
coagulase.

Penggunaan Obat yang Rasional (21-28 April)

Compounding dan Dispensing


Pemberian obat kepada pasien dilakukan dengan sistem unit dispensing dose (UDD)
adalah suatu sistem distribusi obat kepada pasien rawat inap disiapkan dalam bentuk dosis
terbagi siap pakai untuk pemakaian selama 24 jam.
Obat diracik UDD dikemas dalam wadah kantong plastik dengan warna etiket berbeda
untuk mempermudah perawat dalam memberikan obat sesuai waktu yang ditentukan dan
untuk menghindari kesalahan dalam jadwal penyerahan obat. Untuk pemberian pagi (jam
07.00) diberi dengan etiket merah, malam (jam 19.00) diberi dengan etiket hijau. Dengan
adanya sistem UDD ini Instalasi Farmasi dapat memberikan pelayanan kefarmasian yang
berorientasi kepada pasien sehingga dapat meningkatkan kualitas terapi dan dapat
mencegah terjadinya Drug Related Problems (DRPs) karena adanya pengawasan yang
dilakukan oleh farmasis sebelum obat diserahkan ke pasien.
Kemudian dilakukan visite ke ruangan pasien. Visite oleh apoteker dapat dilakukan
dengan tim atau secara mandiri. Visite mandiri diawali dengan salam atau memperkenalkan
diri kepada pasien atau keluarga pasien guna menimbulkan kepercayaan pasien terhadap
profesi apoteker sehingga mereka bersifat terbuka dan kooperatif. Kemudian tindakan
selanjutnya adalah mendengarkan respon yang disampaikan oleh pasien. Kemudian
apoteker menanyakan keluhan umum seperti apakah masih ada rasa nyeri, mual, muntah,
demam, kurang nafsu makan, buang air kecil dan buang besar dan menggali permasalahan
terkait penggunaan obat yang telah diberikan, dalam kasus ini, pada tanggal 21-28 pasien
mendapatkan obat levofloxacin 2x500 mg perhari. Pada tanggal 21-23 levofloxaci
diberikan secara intravena dan pada tanggal 24-28 diberikan secara oral sebagai
pencegahan infeksi pasca operasi. Pada visite mandiri, rekomendasi lebih ditujukan kepada
pasien dengan tujuan untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan obat dalam hal aturan
pakai, cara pakai, dan hal-hal yang harus diperhatikan selama menggunakan obat, dan hal-
hal yang harus diperhatikan selama menggunakan obat. Rekomendasi kepada pasien yang
dilakukan oleh apoteker yaitu berupa konseling, pelayanan informasi obat, pemantauan
terapi obat, monitoring efek samping obat dan evaluasi penggunaan obat.
Setelah pelaksanaan visite mandiri, apoteker menyampaikan rekomendasi kepada
perawat tentang jadwal dan cara pemberian obat levofloxacin, yaitu obat diberikan dengan
interval 12 jam pada jam 7 pagi dan jam 7 malam, pemberian obat sesudah makan, interaksi
obat levofloxacin dengan penggunaan golongan NSAID dosis besar dapat meningkatkan
risiko stimulasi susunan saraf pusat dan kejang. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan
edukasi kepada perawat yang memberikan obat atau kepada kelarga pasien untuk
memberikan interval waktu pemberian levofloxacin dengan obat golongan NSAID.
(ketorolac & metamizol) Apoteker juga harus memantau kondisi klinis pasien baik yang
terkait dengan efektivitas terapi maupun efek samping obat. Yaitu efektivitas levofloxacin
dapat dinilai dari perbaikan tidak adanya tanda-tanda infeksi setelah 48-72 jam, jumlah
leukosit mendekati nilai normal (5000-10.000x10-9/L); dan efek samping yaitu diare dan
mual.