Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

1. Judul :
2. Pokok Bahasan : Penyegaran Kader Posyandu
3. Sub Pokok Bahasan : 1. Pengertian pengukuran
2. Macam macam pengukuran
3. Pengertian KMS
4. Cara Pengisian KMS
5. Pelaksanaan Posyandu
4. Sasaran : ibu ibu kader posyandu
5. Pembicara :
6. Hari dan Tanggal :
7. Waktu : 60 menit
8. Tempat : Aula Puskesmas Pembantu
9. Tujuan : Tujuan Instruksional Umum :
Melalui penyuluhan ini, diharapkan sasaran
dapat mengetahui tentang pengukuran, KMS, dan
Sistem 5 meja
Tujuan Instruksional Khusus :
Melalui penyuluhan ini, diharapkan:
1. Sasaran dapat mengetahui pengertian
pengukuran
2. Sasaran dapat memahami macam macam
pengukuran
3. Sasaran dapat mengetahui pengertian KMS
4. Sasaran dapat memahami cara pengisian KMS
5. Sasaran dapat menerapkan pelaksanaan
posyandu dengan tepat
10. Metode dan Media : Metode yang digunakan adalah metode ceramah
dan tanya jawab.
Media yang digunakan adalah leaflet, infokus,
komputer

11. Materi : 1. Pengertian pengukuran


2. Macam macam pengukuran
3. Pengertian KMS
4. Cara Pengisian KMS
5. Pelaksanaan Posyandu
(Terlampir)
12. Evaluasi : Evaluasi berupa pertanyaan yang diajukan kepada
sasaran pada akhir kegiatan untuk mengetahui
seberapa jauh bertambahnya pengetahuan tentang
Pengukuran, KMS, dan Sistem 5 meja.
1. Sebutkan 9 langkah menimbang bayi dengan
menggunakan dacin ?
2. Bagaimana cara pengisian KMS?
3. Sebutkan bagaimana pelaksanaan posyandu yang
tepat?
6. Matriks Kegiatan :

Langkah Penyuluhan Kegiatan


No. Tahap Kegiatan Pemberian Kegiatan Waktu
Materi Sasaran
1 Pendahuluan Ucapan Salam Membalas salam 3 menit
Pembukaan Mendengarkan
Perkenalan dan ice Mendengarkan
breaking
2 Inti 1. Pengertian pengukuran Menyimak 3 menit
2. Macam macam
pengukuran
3. Pengertian KMS Menyimak 13 menit
4. Cara Pengisian KMS
5. Pelaksanaan posyandu Menyimak 3 menit

Menyimak 15 menit

Menyimak 10 menit
3 Evaluasi Memberikan pertanyaan Aktif bertanya 10 menit
kepada anak tentang
materi yang sudah Menjawab
disampaikan pertanyaan
Evaluasi materi:
1. Sebutkan 9 langkah
menimbang bayi
dengan menggunakan
dacin ?
2. Bagaimana cara
pengisian KMS?
3. Sebutkan pelaksanaan
posyandu yang tepat?
4 Penutup Kesimpulan Menjawab salam 3 menit
Memberi salam penutup

Evaluasi Input:
1. Kesiapan mahasiswa memberikan materi penyuluhan jajan sembarangan
2. Media penyuluhan yang akan digunakan tersedia
3. Waktu dan tempat penyuluhan sesuai dengan rencana kegiatan

Evaluasi Proses

1. Pelaksanaan penyuluhan sesuai jadwal yang direncanakan dan kehadiran


sasaran penyuluhan
2. Peserta atau sasaran penyuluhan kooperatif dan aktif berpartisipasi selama
penyuluhan

Evaluasi Hasil

80% pertanyaan dapat dijawab oleh peserta atau sasaran penyuluhan

MATERI

PENYEGARAN KADER POSYANDU

A. Pengertian Pengukuran

Pengukuran dapat diartikan sebagai suatu proses pengambilan data


kuantitatif dengan didasarkan pada peraturan yang telah disepakati dan
disesuailan dengan subjek yang diambil datanya. Sehingga pengukuran
tinggi badan dan berat badan adalah suatu proses pengambilan data berat
badan (kg) dan tinggi badan (Cm) seseorang dengan mentaati kaidah
dalam pengukuran tinggi badan dan berat badan sehingga didapatkan data
kuantitatif berat badan dan tinggi badan yang valid dan dapat
dipertanggjawabkan kebenarannya. Oleh karena itu, alat yang digunakan
untuk pengambilan data pengukuran harus mendaptkan izin pengukuran
(kalibrasi) dari badan yang bertanggung jawab (Badan Metorologi)
(Chandra, dkk, 2014).
Pengambilan data pengukuran tujuan dari pengukuran kesehatan
adalah untuk mengetahui kondisi pertumbuhan dan gizi seseorang.
Penilaian pertumbuhan pada diri seseorang sebaiknya dilakukan dengan
jarak yang teratur disertai dengan pemeriksaan serta pengamatan fisik.
Pengukuran berat badan digunakan untuk mengukur pertumbuhan secara
umum atau menyeluruh. Sedangkan tinggi badan digunakan untuk
mengukur pertumbuhan linier. Pengukuran antropometri (berat badan,
tinggi badan) sebenarnya sangat mudah dilakukan namun juga sekaligus
rawan terhadap bias dan error data. Untuk menghindari bias dan error data
maka hal yang perlu diperhatikan adlah kualitas alat yang digunakan dan
ketelitian testor dalam melakukan pengukuran (Chandra, dkk, 2014).

B. Macam - Macam Pengukuran


Menurut Supariasa (2012) Ada beberapa macam pengukuran
diantaranya sebagai berikut :
1. Mengukur Berat badan
Berat Badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan
paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan
digunakan untuk mendiagnosa bayi normal. Berat badan merupakan
pilihan utama karena berbagai pertimbangan:
a. Parameter yang baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu
singkat.
b. Memberi gambaran status gizi sekarang dan gambaran yang baik
tentang pertumbuhan
c. Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum
dan luas.
d. Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh ketrampilan
pengukur
e. KMS (Kartu Menuju Sehat) yang digunakan sebagai alat yang baik
untuk pendidikan dan monitor kesehatan anak menggunakan juga
berat badan sebagai dasar pengisian
f. Alat pengukur dapat diperoleh di daerah pedesaan dengan
ketelitian yang tinggi dengan menggunakan dacin
Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat
yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa
persyaratan:
a. Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain.
b. Mudah diperoleh dan relatif murah harganya.
c. Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg
d. Skala mudah dibaca
e. Cukup aman untuk menimbang anak balita

Cara mengukur Berat badan menggunakan dacin dengan tepat


dan benar diantaranya sebagai berikut :
1) Langkah I
Gantungkan dacin pada dahan pohon, palang rumah atau
penyangga kaki tiga
2) Langkah 2
Periksalah apakah dacin sudah tergantung kuat. Tariklah batang
dacin ke bawah kuat kuat.
3) Langkah 3
Sebelum dipakai, letakkan bandul geser pada angka 0 (nol). Batang
dacin dikaitkan dengan tali pengaman
4) Langkah 4
Pasanglah celana timbang, kotak timbang, atau sarung timbang
yang kosong pada dacin. Ingat bandul geser pada angka 0.
5) Langkah 5
Seimbangkan dacin yang sudah dibebani celana timbang, sarung
timbang atau kotak timbangan dengan cara memasukkan pasir ke
dalam kantong plastik
6) Langkah 6
Anak di timbang dan seimbangkan dacin
7) Langkah 7
Tentukan berat badan anak dengan membaca angka diujung bandul
geser.
8) Langkah 8
Catat hasil penimbangan di atas pada secarik kertas
9) Langkah 9
Geserlah bandul ke angka nol, letakkan batang dacin dalam tali
pengaman, setelah itu bayi baru anak dapat diturunkan.
Cara mengukur/ menimbang berat badan menggunakan Baby
Scale (bayi 0-1 tahun)
1) Letakkan timbangan pada bidang yang
datar
2) Letakkan bayi pada timbangan
3) Perhatikan jarum penunjuk, jika setelah bayi diletakkan dan jarum
berhenti berwarna merah , maka yang dibaca adalah angka yang
berwarna merah, namun jika jarum bergerak hingga batas akhir
kemudian kembali lagi dan jarum warna biru, maka yang ddibaca
adalah angka yang biru
4) Catat hasil penimbangan
Cara mengukur/ menimbang berat badan menggunakan
timbangan injak
1) Letakkan timbangan pada lantai yang datar (biasanya di kamar
mandi /dekat kamar mandi)
2) Menggunakan pakaian seminim mungkin
3) Berdiri tegap pada timbangan dengan pandangan lurus ke depan
4) Lihat/baca angka pada jarum penunjuk
Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam menimbang berat badan adalah :
a. Pakaian dibuat seminim mungkin, sepatu, baju/pakaian yang
cukup tebal harus ditanggalkan
b. Bayi/ anak ditidurkan dalam kain sarung
c. Geserlah anak timbang sampai keadaan seimbang, kedua ujung
jarum terdapat pada satu titik.
d. Lihatlah angka pada skala batang dacin yang menunjukkan
berat badan bayi. Catat berat badan dengan teliti samapai satu
angka desimal. Misalnya 7,5 kg.
2. Mengukur Tinggi Badan dan Panjang Badan
Tinggi atau panjang badan merupakan indikator umum ukuran
tubuh dan panjang tulang. Namun, tinggi saja belum dapat dijadikan
indikator untuk menilai status gizi, kecuali jika digabungkan dengan
indikator lain seperti usia dan berat badan. Penggunaan tinggi, atau
panjang, bukan tanpa kelemahan (Auliyanah, 2012)
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan
yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui
dengan tepat. Di samping itu, tinggi badan merupakan ukuran kedua
yang penting karena dengan menghubungkan berat badan terhadap
tinggi badan (Quac stick), faktor umur dapat dikesampingkan.
Pengukuran tinggi badan pada umumnya dilakukan dengan
menggunakan alat yang disebut Microtoice yang mempunyai ketelitian
0,1cm(Supariasa,2012).
a. Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi
keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang , jika umur tidak
diketahui dengan tepat. Disamping itu tinggi badan merupakan
ukuran kedua yang penting karena dengan menghubungkan berat
badan terhadap tinggi badan , faktor umur dapat dikeseimbangan.
Pengukuran tinggi badan untuk anak yang memiliki tinggi
kurang lebih 85 cm atau orang dewasa dilakukan dengan
menggunakan microtoise atau staturemeter, dengan tata cara
sebagai berikut:
1) Letakkan mikrotoise dilantai yang lurus kemudian pita
ditarik keluar sampai 2 meter, kemudian ujung mikrotoise
ditempelkan dengan menggunakan paku atau lakban
didinding dan akhirnya pengukuran dilakukan dengan
menarik tuas mikrotois yang sudah tergantung.
2) Lepaskan sepatu, sandal, topi agar menghasilkan
pengukuran yang akurat
3) Subjek harus berdiri tegak , kaki lurus, tumit, pantat,
punggung dan kepala bagian belakang harus menempel
pada dinding dan muka menghadap lurus dengan pandangan
kedepan. Untuk subjek anak-anak pengukur hendaknya
memastikan kaki tertutup rapat dan bagian-bagian tubuh
yang menempel harus dipastikan.
4) Subjek diminta untuk menarik napas dalam-dalam dan
posisi tulang belakang diluruskan, serta jangan lupa untuk
melemaskan pundak(bahu)
5) Turunkan mikrotoa sampai rapat pada kepala bagian atas,
siku-siku harus lurus menempel pada dinding.
6) Baca angka pada skala yang nampak pada lubang dalam
gulungan mikrotoa, angka tersebut menunjukkan tinggi
yang diukur.
7) Pengukuran tinggi badan harus dilakukan dengan
pandangan maksimum, adapun ketinggian kedua mata
pengukur sama dengan microtoise untuk menghindari galat
paralaks (Parallax Error). Galat paralaks adalah pergeseran
yang tampak dari suatu obyek (titik 1) terhadap latar
belakang (titik 2) yang disebabkan oleh perubahan posisi
pengamat. Tinggi badan diukur dalam millimeter
b. Panjang Badan
Untuk bayi atau anak yang belum dapat berdiri , digunakan
alat pengukur panjang bayi. Adapun tata cara pengukuranya
1) Alat pengukur diletakkan diatas meja atau tempat datar
2) Bayi ditidurkan lurus dalam alat pengukur, kepala diletakkan
hati-hati sampai menyinggung bagian atas alat pengukur.
3) Bagian alat pengukur sebelah bawah kaki digeser sehingga
tepat menyinggung telapak kaki bayi, dan skala pada sisi alat
pengukur dapat dibaca.

C. Pengertian Kartu Menuju Sehat (KMS)


KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang
sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan
dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu
balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi
posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter.
KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan
keluarga untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi
kesalahan atau ketidakseimbangan pemberian makan pada anak. KMS
juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan untuk
menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan
gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan
kesehatan- nya.. KMS juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan
gizi bagi orang tua balita tenta ng kesehatan anaknya (Depkes RI, 2000).
Adapun manfaat Kartu Menuju Sehat diantaranya sebagai berikut :
1. Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita
secara lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan
imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi
kesehatan pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.

2. Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak
3. Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk
menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi
(Depkes RI, 2000)
D. Cara Pengisian KMS
Langkah-langkah pengisian KMS adalah sebagai berikut:
1. Memilih KMS sesuai jenis kelamin
KMS Anak Laki-Laki untuk anak laki-laki dan KMS Anak
Perempuan untuk anak perempuan.
2. Mengisi Identitas anak dan orang tua pada halaman muka KMS
Tuliskan data identitas anak pada halaman 2 bagian 5: Identitas
anak. Contoh, catatan data identitas Aida Fitri adalah sebagai
berikut
3. Mengisi bulan lahir dan bulan penimbangan anak
a. Tulis bulan lahir anak pada kolom umur 0 bulan
b. Tulis semua kolom bulan penimbangan berikutnya secara
berurutan
c. Apabila anak tidak diketahui tanggal kelahirannya, tanyakan
perkiraan umur anak tersebut
d. Tulis bulan saat penimbangan pada kolom sesuai umurnya
e. Tulis semua kolom bulan penimbangan berikutnya secara
berurutan.
4. Meletakkan titik berat badan dan membuat garis pertumbuhan anak
a. Letakkan (plot) titik berat badan hasil penimbangan
1) Tulis berat badan di bawah kolom bulan saat penimbangan
2) Letakkan titik berat badan pada titik temu garis tegak
(umur) dan garis datar (berat badan)
b. Hubungkan titik berat badan bulan ini dengan bulan lalu
Jika bulan sebelumnya anak ditimbang, hubungkan titik berat
badan bulan lalu dengan bulan ini dalam bentuk garis lurus
5. Mencatat setiap kejadian yang dialami anak
Catat setiap kejadian kesakitan yang dialami anak.
Contoh :
a. Pada penimbangan di bulan Maret anak tidak mau makan
b. Saat ke Posyandu di bulan Agustus, anak sedang mengalami
diare
c. Penimbangan selanjutnya di bulan September anak sedang
demam
6. Menentukan status pertumbuhan anak
Status pertumbuhan anak dapat diketahui dengan 2 cara yaitu
dengan menilai garis pertumbuhannya, atau dengan menghitung
kenaikan berat badan anak dibandingkan dengan Kenaikan Berat
Badan Minimum (KBM).
7. Mengisi catatan pemberian imunisasi bayi
Tanggal imunisasi diisi oleh petugas kesehatan setiap kali setelah
imunisasi diberikan
8. Mengisi catatan pemberian kapsul vitamin A
Tanggal diisi oleh kader sesuai dengan tanggal dan bulan
pemberian kapsul vitamin A oleh kader
9. Isi kolom Pemberian ASI Eksklusif
Beri tanda () bila pada bulan tersebut bayi masih diberi ASI saja,
tanpa makanan dan minuman lain. Bila diberi makanan lain selain
ASI, bulan tersebut dan bulan berikutnya diisi dengan tanda (-).

E. Pelaksanaan Posyandu
Menurut Dini (2013), Pelaksanaan kegiatan posyandu dikenal dengan
nama sistem 5 meja diantaranya:
1. Kegiatan Di MEJA 1
a. Pendaftaran Balita
1) Balita didaftar dalam formulir pencatatan balita
2) Bila anak sudah memiliki KMS, berarti bulan lalu anak sudah
ditimbang. Minta KMSnya, namanya dicatat pada secarik
kertas. Kertas ini diselipkan di KMS, kemudian ibu balita
diminta membawa anaknya menuju tempat penimbangan.

3) Bila anak belum punya KMS, berarti baru bulan ini ikut
penimbangan atau KMS lamanya hilang. Ambil KMS baru,
kolomnya diisi secara lengkap, nama anak dicatat pada secarik
kertas. Secarik kertas ini diselipkan di KMS, kemudian ibu
balita diminta membawa anaknya ke tempat penimbangan.

b. Pendaftaran ibu hamil


1) Ibu hamil didaftar dalam formulir catatan untuk ibu hamil.
2) Ibu hamil yang tidak membawa balita diminta langsung
menuju ke meja 4 untuk mendapat pelayanan gizi oleh kader
serta pelayanan oleh petugas kesehatan di meja 5.
3) Ibu yang belum menjadi peserta KB dicatat namanya pada
secarik kertas, dan ibu menyerahkan kertas itu langsung
kepada petugas kesehatan di meja 5.
2. Kegiatan di MEJA 2
a. Penimbangan anak dan balita, hasil penimbangan berat anak
dicatat pada secarik kertas yang terselip di KMS. Selipkan kertas
ini kembali ke dalam KMS.
b. Selesai ditimbang, ibu dan anaknya dipersilakan menu meja 3,
meja pencatatan.
3. Kegiatan di MEJA 3
a. Buka KMS balita yang bersangkutan.
b. Pindahkan hasil penimbangan anak dari secarik kertas ke
KMSnya.
c. Pada penimbangan pertama, isilah semua kolom yang tersedia
pada KMS.
d. Bila ada Kartu Kelahiran, catatlah bulan lahir anak dari kartu
tersebut.
e. Bila tidak ada Kartu Kelahiran tetapi ibu ingat, catatlah bulan
lahir anak sesuai ingatan ibunya.
f. Bila ibu tidak ingat dan hanya tahu umur anaknya yang sekarang,
perkirakan bulan lahir anak dan catat.

4. Kegiatan di MEJA 4
a. Penyuluhan untuk semua orang tua balita. Mintalah KMS anak,
perhatikan umur dan hasil penimbangan pada bulan ini.
Kemudian ibu balita diberi penyuluhan.
b. Penyuluhan untuk semua ibu hamil. Anjurkan juga agar ibu
memeriksakan kehamilannya sebanyak minimal 5 kali selama
kehamilan pada petugas kesehatan atau bidan
c. Penyuluhan untuk semua ibu menyusui mengenai pentingnya
ASI, kapsul iodium/garam iodiumdan vitamin A.
5. Kegiatan di MEJA 5
Kegiatan di meja 5 adalah kegiatan pelayanan kesehatan dan
pelayanan KB, imunisasi sertapemberian oralit. Kegiatan ini dipimpin
dan dilaksanakan oleh petugas kesehatan dari Puskesmas.

DAFTAR PUSTAKA

Auliyanah, A. 2012. Praktikum Gizi Pengukuran Antropometri. Tersedia,


[Online]:http://www.sumbarsehat.com/2012/07/pengukuran
antropometri.html. Diakses pada tanggal 15 April 2015.
Chandra, dkk. 2014. Laporan Praktikum Kelompok 1 Pengukuran Berat BAdan
dan Tinggi Badan. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri
Yogyakarta.
Supariasa, dkk. 2012. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Kedokteran EGC.
Arul. 2009. Satuan Acara Penyuluhan (SAP). Tersedia [Online]:
http://arulsmt.blogspot.com/2009/10/satuan-acara-penyuluhan-sap.html.
Diakses pada tanggal 15 April 2015
Dini, N. 2013. 5 Meja Posyandu. Tersedia [Online]:
http://kebidananfull.blogspot.com/2013/04/5-meja-posyandu.html. Diakses
pada tanggal 16 April 2015.