Anda di halaman 1dari 11

LAPORANPRAKTIKUM

TEKNOLOGI KELAPA SAWIT DAN TURUNANNYA


PENGUKURAN KERAPATAN MINYAK GORENG DAN TITIK
KEKERUHAN (TUBIDITY POINT)

Oleh:
LISTIANA NINGRUM
E1F114034

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2016
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Minyak adalah zat atau bahan yang tidak larut dalam air yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan maupun hewan dan merupakan campuran dari gliserida-
gliserida dengan susunan asam-asam lemak yang tidak sama. Komponen-
komponen lain yang mungkin terdapat pada minyak meliputi fosfolipid, sterol,
vitamin dan zat warna, yang larut dalam lemak seperti klorofil dan karatenoid.
Minyak adalah suatu kelompok dari lipida sederhana terbesar yang merupakan
ester dari tiga molekul asam lemak dengan satu molekul gliserol dan membentuk
satu molekul trigliserida yang dalam kondisi ruang (>27oC) akan berbentuk cair
(Genisa, 2013).
Sifat minyak goreng dibagi menjadi sifat fisik dan sifat kimia (S.Ketaren,
2005), yaitu :
1. Sifat Fisik
a. Warna Terdiri dari 2 golongan, golongan pertama yaitu zat warna alamiah,
yaitu secara alamiah terdapat dalam bahan yang mengandung minyak dan
ikut terekstrak bersama minyak pada proses ekstraksi. Zat warna tersebut
antara lain dan karoten (berwarna kuning), xantofil,(berwarna kuning
kecoklatan), klorofil (berwarna kehijauan) dan antosyanin (berwarna
kemerahan). Golongan kedua yaitu zat warna dari hasil degradasi zat
warna alamiah, yaitu warna gelap disebabkan oleh proses oksidasi
terhadap tokoferol (vitamin E), warna cokelat disebabkan oleh bahan
untuk membuat minyak yang telah busuk atau rusak, warna kuning
umumnya terjadi pada minyak tidak jenuh.
b. Odor dan flavor, Odor dan flavor pada minyak atau lemak selain terdapat
secara alami, juga terjadi karena pembentukan asam-asam yang berantai
sangat pendek sebagai hasil penguraian dari kerusakan minyak atau lemak,
akan tetapi umumnya odor dan flavor ini disebabkan oleh komponen
bukan minyak, sebagai contoh bau khas dari minyak kelapa sawit
dikarenakan terdapatnya betaionone, sedangkan baukhas dari minyak
kelapa ditimbulkan oleh nonyl methylketon.
c. Kelarutan, minyak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (castor oil),
dan minyak sedikit larut dalam alkohol, etil eter, karbon disulfide dan
pelarut-pelarut halogen.
d. Titik cair dan polymorphism, minyak tidak mencair dengan tepat pada
suatu nilai temperatur tertentu. Polymorphism adalah keadaan dimana
terdapat lebih dari satu bentuk kristal.
e. Titik didih (boiling point), titik didih akan semakin meningkat dengan
bertambah panjangnya rantai karbon asam lemak tersebut.
f. Titik lunak (softening point), dimaksudkan untuk identifikasi minyak
tersebut.
g. Sliping point, digunakan untuk pengenalan minyak serta pengaruh
kehadiran komponen komponenya.
h. Titik leleh, yaitu temperatur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak
atau lemak.
i. Bobot jenis, biasanya ditentukan pada temperatur 250C, dan juga perlu
dilakukan pengukuran pada temperatur 400C.
j. Titik asap, titik nyala dan titik api, dapat dilakukan apabila minyak
dipanaskan. Merupakan kriteria mutu yang penting dalam hubungannya
dengan minyak yang akan digunakan untuk menggoreng.
k. Titik kekeruhan (turbidity point), ditetapkan dengan cara mendinginkan
campuran minyak dengan pelarut lemak.
2. Sifat Kimia
a. Hidrolisa, dalam reaksi hidrolisa, minyak akan diubah menjadi asam
lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisa yang dapat menyebabkan
kerusakan minyak atau lemak terjadi karena terdapatnya sejumlah air
dalam minyak tersebut.
b. Oksidasi, proses oksidasi berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah
oksigen dengan minyak. Terjadinya reaksi oksidasi akan mengakibatkan
bau tengik pada minyak dan lemak.
c. Hidrogenasi, proses hidrogenasi bertujuan untuk menumbuhkan ikatan
rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak.
d. Esterifikasi, proses esterifikasi bertujuan untuk mengubah asam-asam
lemak dari trigliserida dalam bentuk ester. Dengan menggunakan prinsip
reaksi ini hidrokarbon rantai pendek dalam asam lemak yang
menyebabkan bau tidak enak, dapat ditukar dengan rantai panjang yang
bersifat tidak menguap.

Tujuan

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan jenis minyak


goring dan mengetahui titik kekeruhan (Turbidity Point) pada minyak goring.
METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum kali ini dilaksanakan dilaboratorium Kimia Analisis Fakultas


Pertanian Universitas Lambuung Mangkurat. Pada hari kamis, 29 Oktober 2016
pukul 14.30 s/d selesai.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah minyak


goring, CPO, alkohol, KOH, Indikator phenolpthalein (PP), dan HCL 0,5 N.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah hot plate, gelas
beaker, erlenmeyer, pendingin balik (kondensor), timbangan, pengaduk, dan
termometer.

Prosedur Kerja

Prosedur kerja dari praktikum kali ini adalah :


1. Pengukuran Kerapatan Minyak Goreng
Ditimbang berat minyak sebanyak dan CPO 10
ml

Dihitung volume minyak goring dan CPO

HASIL
Perhitungan :

Kerapatan Minyak Goreng

Keterangan : m = massa minyak

v = volume minyak

2. Titik Kekeruhan (Turbidity Point)


Ditimbang minyak goreng sebanyak 20 gram

Dicatat suhu padaAwaktu muai terjadi


A
HASIL
Diukur 20 ml alcohol menggunakan gelas beker
3. Penentuan Angka
Dicampurkan alcohol dengan minyak goreng
Penyabunan
Dipanaskan campuran sampai terbentuk larutan
Ditimbang contoh dengan teliti antara 1,5-5,0
sempurna sambil diaduk perlahan
gram dalam Erlenmeyer 200 ml
Didinginkan campuran minyak dengan
Ditambahkan larutan KOH sebanyak 50 ml,
pelarutnya muai terpisah dan muai menjadi
yang dibuat dari 40 gr KOH dalam 1 L alkohol
keruh

Ditutup dengan pendingin balik (kompresor)

Ditindihkan dengan hati-hati selama 30 menit

Dididinginkan

Ditambahkan beberapa tetes indikator PP

Dititrasi kelebihan larutan KOH dengan larutan


standar HCL 0,5 N sampai warna merah jambu
menghilang

Dilakukan titrasi blanko juga untuk mengetahui


kelebihan larutan KOH sebagai pembanding

HASIL

Perhitungan :

Bilangan Penyabunan

Keterangan : A = jumlah ml HCL 0,5 N untuk titrasi blanko

B = jumlah ml HCL 0,5 N untuk titrasi contoh

G = bobot contoh minyak (gram)


28,05 = setengah dari bobot molekul KOH

4. Bilangan Acid (Acid Value)

Ditimbang minyak sebanyak 10-20 gram di


dalam erlenmeyer 200 ml

Ditambahkan 50 ml alkohol netral 95%

Dipanaskan selama 10 menit dalam penangas


air sambil diaduk

Dititrasi larutan dengan KOH 0,1 N dengan


larutan indikator PP 1% didalam alcohol,
sampai tepat terlihat warna merah jambu Perhitungan :

Dihitung jumlah milligram KOH yang Bilangan asam (Acid Value)


digunakan untuk menetralkan asam lemak
bebas dalam 1 gram minyak/lemak

HASIL

Keterangan : A = jumlah ml KOH untuk titrasi

B = normalitas larutan KOH

G = bobot contoh (gram)

56,1 = bobot molekul KOH


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil dari prkatikum ini adalah :


1. Tabel Kerapatan Minyak (kelompok 1)
No Nama Sampel Kerapatan
1 CPO 0,4068
2 Minyak goreng 0,5385
Perhitungan
CPO =

Minyak goreng =

2. Tabel hasil Pengamatan Titik Kekeruhan (Turbidity Point) (KELOMPOK


2)
No Sampel Suhu
Muai terpisah Muai keruh
o
1 CPO 36 C 49 oC
2 Minyak Goreng 32 oC 49 oC

4. Tabel Hasil untuk menghitung bilangan asam pada CPO dan Minyak
(Kelompok 4)

No Gambar Keterangan Warna

1 Keterangan : jingga
Cpo
ditambahkan
50 ml alkohol
95 %
dipanaskan
selama 10
menit dan
sambil diaduk.

2 Keterangan : Putih
Minyak kekeruhan
ditambahkan
50 ml alkohol
95 %
dipanaskan
selama 10
menit dan
sambil diaduk.

3 Hasil titrasi
Minyak Ungu
muda

4 Hasil titrasi Ungu


CPO muda

Perhitungan :
a. Bilangan Asam Minyak = = =

= 0,1122

Bilangan asam CPO = = =

= 0,7293%

b. Derajat Asam Minyak = = =

= 0,2

Derajat Asam CPO = = =

= 0,13%

c. Kadar Asam Minyak = = =

= 0,0526

Kadar Asam CPO = = =

= 0,4208

Pembahasan
KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum kali ini yaitu :

DAFTAR PUSTAKA

Genisa, Jalil. 2013.Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Masagena Press:


Makassar.