Anda di halaman 1dari 6

Beranda

Lihat versi web

Rabu, 11 Mei 2011

Zen Akatsuki

Penatalaksanaan Kegawatdaruratan

Pada Neonatus

Neonatus adalah organisme yang berada pada periode

adaptasi kehidupan intrauterin ke ekstrauterin. Masa

neonatus adalah periode selama satu bulan tepat 4 minggu

atau 28 hari setelah lahir).

Kondisi neonatus yang memerlukan resusitasi :

1. Sumbatan jalan napas akibat lendir / darah, mekonium

atau akibat dah yang jatuh ke posterior.

2. Kondisi depresi pernapasan akibat obat obatan yang

diberikan kepada ibu. Misalnya, obat anestesik, analgetik

lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan

sebagainya.

3. Kerusakan neurologis.

4. Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular

atau susunan saraf pusat, dan / atau kelainan kongenital

yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan / sirkulasi.

5. Syok hipovolemik, misalnya akibat kompresi tali pusat

atau perdarahan.

Penyebab kematian yang paling cepat pada neonatus

adalah asfiksia dan perdarahan. Asfiksia perinatal


merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang

penting. Akibat jangka panjang, asfiksia perinatal dapat

diperbaiki secara bermakna jika gangguan ini diketahui

sebelum kelahiran (misal, pada keadaan gawat janin)

sehingga dapat diusahakan memperbaiki sirkulasi /

oksigenasi janin intrauterin atau segera melahirkan janin

untuk mempersingkat masa hipoksemia janin yang terjadi.

Asfiksia yang terdeteksi sesudah lahir, prosesnya berjalan

dalam beberapa fase / tahapan.

1. Janin bernapas megap-megap (gasping), diikuti dengan

2. Masa henti napas (fase henti napas primer).

3. Jika asfiksia berlanjut terus, timbul pernapasan megap-

megap yang kedua selama 4 5 menit (fase gasping

kedua) diikuti masa henti napas kedua (henti napas

sekunder).

Semua neonatus dalam keadaan apapun mempunyai

kesukaran untuk beradaptasi dengan suhu lingkungan yang

dingin. Neonatus yang mengalami asfiksia khususnya,

mempunyai sistem pengaturan suhu yang lebih tidak stabil

dan hipotermia ini dapat memperberat / memperlambat

pemulihan keadaan asidosis yang terjadi.

Keadaan bayi pada menit ke-1 dan ke-5 sesudah lahir dinilai

dengan skor Apgar (apparance, pulse, grimace, activity,

respiration). Nilai pada menit pertama untuk menentukan

seberapa jauh diperlukan tindakan resusitasi. Nilai ini

berkaitan dengan keadaan asidosis dan kelangsungan


hidup. Nilai pada menit kelima untuk menilai prognosis

neurologis.

Afiksia berat (nilai Apgar 0-3) diatasi dengan memperbaiki

ventilasi paru dengan memberi oksigen tekanan langsung

dan berulang. Ada pembatasan dalam penilaian Apgar ini.

1. Resusitasi segera dimulai jika diperlukan dan tidak

menunggu sampai ada penilaian pada menit pertama.

2. Keputusan perlu tidaknya resusitasi maupun penilaian

respons resusitasi cukup dengan menggunakan evaluasi

frekuensi jantung, aktivitas respirasi, dan tonus

neuromuskular, bukan dengan nilai Apgar total. Hal ini untuk

menghemat waktu.

Perencanaan berdasarkan perhitungan nilai Apgar.

1. Nilai Apgar menit pertama 7 10, biasanya bayi hanya

memerlukan tindakan pertolongan berupa pengisapan

lendir / cairan dari orofaring. Tindakan ini harus dilakukan

secara hati hati, karena pengisapan yang terlalu kuat /

traumatik dapat menyebabkan stimulasi vagal dan

bradikardia sampai henti jantung.

2. Nilai Apgar menit pertama 4 6, hendaknya orofaring

cepat diisap dan diberikan oksigen 100%. Bayi diberi

stimulasi sensorik dengan tepukan atau sentilan di telapak

kaki dan gosokan selimut kering ke punggung. Frekuensi

jantung dan respirasi terns dipantau ketat. Jika frekuensi

jantung menurun atau ventilasi tidak adekuat, harus

diberikan ventilasi tekanan positif dengan kantong resusitasi


dan sungkup muka. Jika tidak ada alat bantu ventilasi,

gunakan teknik pernapasan buatan dari mulut ke hidung

mulut.

3. Nilai Apgar menit pertama 3 atau kurang menunjukkan

bayi mengalami depresi pernapasan yang berat dan

orofaring harus cepat diisap. Ventilasi tekanan positif

dengan oksigen 100% sebanyak 40-50 kali per menit harus

segera dilakukan.

Kecukupan ventilasi dinilai dengan memerhatikan gerakan

dinding dada dan auskultasi bunyi napas. Jika frekuensi

jantung tidak meningkat sesudah 5-10 kali napas, kompresi

jantung harus dimulai. Frekuensi 100-120 kali per menit

dengan 1 kali ventilasi setiap 5 kali kompresi (5:1).

Penyulit yang mungkin terjadi selama resusitasi meliputi

hipotermia, pneumotoraks, trombosis vena, atau kejang.

Hipotermia dapat memperberat keadaan asidosis metabolik,

sianosis, gawat napas, depresi susunan saraf pusat, dan

hipoglikemia. Pneumotoraks diatasi dengan pemberian

ventilasi tekanan positif dengan inflasi yang terlalu cepat

dan tekanan yang terlalu besar dapat menyebabkan

komplikasi ini.

Jika bayi mengalami kelainan membran hialin atau aspirasi

mekonium, risiko penumotoraks lebih besar karena

komplians jaringan paru lebih lemah. Tombosis vena diatasi

dengan pemasangan infus / kateter intravena dapat

menimbulkan lesi trauma pada dinding pembuluh darah,


potensial membentuk trombus.

Selain itu, infus larutan hipertonik melalui pembuluh darah

tali pusat juga dapat mengakibatkan nekrosis hati dan

trombosis vena.

Pencegahan hipotermia merupakan komponen asuhan

neonatus dasar agar bayi baru lahir tidak mengalami

hipotermia. Hipotermia terjadi jika suhu tubuh di bawah

36,5C (suhu normal pada neonatus adalah 36,5 37,5C)

pada pengukuran suhu melalui ketiak. Bayi baru lahir

mudah sekali terkena hipotermia. Hal ini disebabkan oleh

hal hal berikut :

1. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi

dengan sempurna.

2. Permukaan tubuh bayi relatif luas.

3. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan

menyimpan panas.

4. Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan

pakaiannya agar ia tidak kedinginan.

Hipotermia pada bayi baru lahir timbul karena ada

penurunan suhu tubuh yang dapat terjadi akibat :

1. Radiasi , yaitu panas tubuh bayi memancar ke lingkungan

di sekitar bayi yang lebih dingin. Misalnya, bayi baru lahir

diletakkan di tempat yang dingin.

2. Evaporasi , yaitu cairan ketuban yang membasahi kulit

bayi menguap. Misalnya, bayi lahir tidak langsung

dikeringkan dari air ketuban.


3. Konduksi, yaitu pindahnya panas tubuh bayi karena kulit

bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin,

Misalnya, popok/ celana bayi basah yang tidak langsung

diganti.

4. Konveksi , yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran

udara sekeliling bayi. Misalnya, bayi diletakkan dekat pintu /

jendela terbuka.

Tindakan pencegahan hipotermia meliputi ibu melahirkan di

ruangan yang hangat, segera mengeringkan tubuh bayi

yang lahir, segera meletakkan bayi di dada ibu dan kontak

langsung kulit ibu dan bayi, dan menunda memandikan bayi

baru lahir sampai suhu tubuh stabil.

Pustaka

Kebidanan Komunitas, Oleh Safrudin, SKM,

M.Kes & Hamidah, S.Pd, M.Kes, EGC.

Sumber : http://obstetriginekologi.com