Anda di halaman 1dari 9

dakwatuna.

com Jika ada kader dakwah merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan


ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke
permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan.
Butuh solusi tepat dan segera.
Jika merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu
hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. Sesungguhnya bukanlah mata itu yang
buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda,
Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan
jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.
(Muttafaqun alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, Apa mungkin para ulama (para dai)
saling berselisih? Ia menjawab, Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.
Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal
segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata
ini: ikhlas.
Kedudukan Ikhlas
Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika
tidak ikhlas. Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Anam: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-
Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. Rasulullah saw. bersabda, Ikhlaslah dalam
beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.
Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, Engkau beribadah kepada Allah seolah
engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.
Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan
ikhlas dan mengharap ridha-Nya.
Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi,
Liyabluwakum ayyukum ahsanu amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih
baik amalnya dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling
benar). Katanya, Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka
tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu
harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan
sesuai sunnah. Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat
110.
Imam Syafii pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, Wahai Abu Musa, jika engkau
berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka),
maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah
Azza wa Jalla.
Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, Amal tanpa
keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi
tidak bermanfaat. Dalam kesempatan lain beliau berkata, Jika ilmu bermanfaat tanpa amal,
maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa
keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.
Makna Ikhlas
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor.
Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja
dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam
beramal.
Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa
menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.
Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-
kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan.
Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil.
Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan
segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan
menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.
Karena itu, bagi seorang dai makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan,
perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya
tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran.
Dengan demikian si dai menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan.
Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.
Dai yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan Allahu Ghayaatunaa, Allah tujuan
kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.
Buruknya Riya
Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan
mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat
atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila
mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat
itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda,
Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil. Sahabat bertanya, Apa
itu syirik kecil, wahai Rasulullah? Rasulullah saw. menjawab, Riya. Allah berkata di
hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, Pergilah pada yang kamu berbuat riya di
dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?' (HR Ahmad).
Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah
melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak,
semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw.,
Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia,
maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir. (HR Abu Dawud)
Ciri Orang Yang Ikhlas
Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:
1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau
bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata,
Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan
banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika
dicela.
Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal.
Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang
akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.
Al-Quran telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang
munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam
cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, Orang-orang yang
beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut)
berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.
Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman
kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang
dalam keragu-raguannya.
2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh
dari mereka. Disebutkan dalam hadits, Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku
datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah
menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu,
dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka
adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah. (HR Ibnu Majah)
Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia.
Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri
atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah
Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan
terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika
terlaksana oleh tangannya.
Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka
senantiasa membangun amal jamai dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan
mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat
Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.
Redaktur: Saiful Bahri
Beri Nilai:
(481 votes, average: 8,90 out of 10)

Tentang Mochamad Bugi

Mochamad Bugi lahir di Jakarta, 15 Mei 1970. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, ia pernah mengecap pendidikan
di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra
Universitas Indonesia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosah Islamiyah Al-Hikmah. Sempat belajar bahasa Arab
selama musim panas di Universitas Ummul Qura', Mekkah, Arab Saudi.Bapak empat orang anak ini pernah menjadi
redaktur Majalah Wanita UMMI sebelum menjadi jabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Politik dan Dakwah SAKSI.
Ia juga ikut membidani penerbitan Tabloid Depok Post, Pasarmuslim Free Magazine, Buletin Nida'ul Anwar, dan Majalah
Profetik. Jauh sebelumnya ketika masih duduk di bangku SMA, ia menjadi redaktur Buletin Al-Ikhwan.Bugi, yang ikut
membidani lahirnya grup pecinta alam Gibraltar Outbound Adventure ini, ikut mengkonsep pendirian Majelis Pesantren
dan Ma'had Dakwah Indonesia (MAPADI) dan tercatat sebagai salah seorang pengurus. Ia juga Sekretaris Yayasan Rumah
Tafsir Al-Husna, yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Amir Faishol Fath.

Share
~ PERBEDAAN IKHLAS & PAMRIH ~ oleh Agus Mustofa
September 26, 2010 at 7:25pm

Salah satu akhlak tertinggi di dalam agama Islam adalah IKHLAS. Lawannya, PAMRIH. Kenapa
Islam mengajarkan keikhlasan? Karena, Allah menghendaki umat Islam menjalani agamanya tanpa
pamrih. Semua aktivitas hidupnya dilakukan lillahi taala ~ karena Allah semata.
Bersyahadatnya, karena Allah. Shalatnya, karena Allah. Puasanya karena Allah. Zakatnya karena
Allah. Dan hajinya pun karena Allah. Demikian pula ketika menolong orang, menuntut ilmu, bekerja,
menjadi pejabat, menjadi ustadz dan ustadzah, menjadi hakim, jaksa, polisi, profesional, dan apa
pun aktivitasnya, semua dijadikan sebagai proses belajar IKHLAS dalam mengagungkan Allah
semata.

Lantas, bagaimanakah membedakan ibadah yang ikhlas dan ibadah yang penuh pamrih? Pada
dasarnya: Orang yang ikhlas, menjalankan agama KARENA ALLAH semata. Sedangkan orang yang
pamrih, melakukan ibadah karena ingin memperoleh sesuatu untuk keuntungan DIRINYA. Berikut ini
adalah beberapa diantaranya:

1. Orang yang ikhlas meniatkan shalatnya karena Allah semata, persis seperti doa iftitah yang
dibacanya: inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin ~
sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah
semata. Sedangkan orang yang pamrih, meniatkan shalatnya untuk mengejar pahala 1x,
27x, 1000x, dan 100.000x. Ada juga yang melakukan shalat Dhuha karena ingin
memperbanyak rezeki. Atau shalat tahajud agar punya karomah. Dan lain sebagainya.

2. Orang yang ikhlas, menjalankan puasanya karena taat kepada Allah semata. Karena dengan
puasa itu ia akan menjadi jiwa yang lebih suci, sehingga lebih mudah mendekatkan diri
kepada-Nya. Sedangkan yang pamrih, melakukan puasa karena tujuan-tujuan yang selain
mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, ada orang berpuasa agar lulus ujian, agar
mendapat jodoh, agar langsing, agar sehat, agar sakti, dlsb. Padahal, semua itu hanya
dampak saja dari ibadah puasa. Tidak usah dipikirkan dan apalagi dijadikan tujuan. Kalau
puasanya karena Allah semata, PASTI semua dampak positip itu akan datang dengan
sendirinya.

3. Orang ikhlas menunaikan zakat dan shodaqohnya karena ingin menolong orang lain, meniru
Sifat Allah yang Maha Pemurah. Tetapi, orang yang pamrih mengeluarkan zakat dan
sedekah karena ingin dipuji orang, untuk memunculkan rasa bangga di dalam hatinya karena
bisa menolong orang, atau yang lebih parah lagi adalah berharap balasan pahala sampai
700 kali dari nominal yang dikeluarkannya. Jadi, ketika dia mengeluarkan uang Rp 1 juta,
yang ada di benaknya adalah berharap mendapat BALASAN Rp 700 juta. Berdagang
dengan Allah..!

4. Orang ikhlas menunaikan haji dan umrohnya, karena ingin memperoleh pelajaran berkorban,
bersabar, keikhlasan, dan ketaatan, dalam mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan yang
pamrih, ingin sekedar BERDARMA WISATA, meskipun diembel-embeli dengan kata
RUHANI. Bahkan saat haji banyak orang yang meniatkan hajinya sekedar pada titel HAJI,
atau penampilan berkopiah haji, panggilan Wak Haji, dan kemudian membeli sertifikat haji
dengan mengubah namanya. Dia berhaji bukan karena Allah, tetapi karena segala macam
tujuan selain Allah.

5. Orang ikhlas mengorientasikan seluruh ibadahnya untuk MENCINTAI ALLAH, dan


merendahkan ego serendah-rendahnya sebagai manifestasi syahadatnya: laa ilaaha illallah
~ tiada Tuhan selain Allah. Tetapi orang-orang yang pamrih mengorientasikan ibadahnya
untuk mengejar SURGA, sehingga tanpa terasa ia meninggikan egonya, dan
mengesampingkan Allah sebagai fokus ibadahnya. Allah bukan tujuan hidupnya. Tuhannya
sebenarnya bukanlah Allah, melainkan Surga. Karena, ternyata, imajinasi kebahagiaanya
bukan saat dekat dengan Allah, melainkan berada di dalam surga. Yang demikian ini, justru
tidak akan mengantarkannya ke surga. Karena surga itu hanya disediakan bagi orang-orang
yang mengarahkan seluruh kecintaannya hanya kepada Allah semata. Dan itu tecermin
dalam doanya: Allahumma antasalam, waminka salam ... ~ Ya Allah, Engkaulah
Kebahagiaan dan Kedamaian Sejati, dan dari-Mu-lah bersumber segala kabahagiaan ...

Maka, kawan-kawan, marilah kita belajar menjalani seluruh aktivitas kehidupan kita ini dengan
IKHLAS. Bukan ikhlas yang diikhlas-ikhlaskan, atau terpaksa ikhlas, melainkan IKHLAS yang
dilambari oleh KEPAHAMAN tentang substansi apa yang akan kita lakukan. Semakin paham Anda
terhadap apa yang akan Anda lakukan, semakin ikhlas pula anda menjalaninya. Sebaliknya,
semakin tidak paham, maka semakin tidak ikhlas pula hati Anda dalam menjalaninya. Terpaksa
Ikhlas, karena takut masuk neraka dan tidak memperoleh surga...

Betapa sayangnya, di dunia merasa tersiksa karena TERPAKSA mengikhlaskan ibadahnya,


sedangkan di akhirat juga tidak memperoleh buah perbuatannya, karena ia tidak mendasarkan
ibadahnya lillahi taala. Surga yang digambarkan sebagai taman-taman yang indah dengan mata air-
mata air itu tidak memberikan dampak kenikmatan baginya, karena sesungguhnya keindahan itu
dikarenakan KECINTAAN kepada Sang Maha Indah. Mirip dengan orang yang menginap di hotel
bintang lima, tetapi hatinya tidak bisa menikmati dikarenakan ia datang kesana dengan
TERPAKSA ...

QS. Yunus (10): 105

Dan HADAPKAN-lah wajahmu (orientasi hidupmu) kepada agama dengan TULUS dan IKHLAS dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik (menduakan Allah sebagai tujuan hidup).
QS. Al Araaf (7): 29

... Dan LURUSKANLAH wajahmu di setiap shalat dan sembahlah ALLAH dengan
MENGIKHLASKAN ketaatanmu kepada-Nya...

QS. An Nisaa (4): 125

Dan siapakah yang LEBIH BAIK agamanya daripada orang yang IKHLAS menyerahkan dirinya
kepada Allah, sedang diapun MENGERJAKAN kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang
lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim (dan orang-orang yang mengikuti ajarannya) menjadi
KESAYANGAN Allah.

Ikhlas berkaitan dengan niat. Ikhlas identik dengan kegiatan membersihkan dan
memisahkan dari sesuatu yang kotor menjadi bersih. Seorang muslim dalam beramal
dimulai dari niatnya. Niat itu pulalah yang akan menghantarkan ia pada pahala yang
melimpah atau tidak sama sekali.

Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya amal itu
tergantung dengan niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu apa yang diniatkannya.
Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan
Rasul-Nya. Barang siapa berhijrah karena harta yang ingin diraihnya atau karena
perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu untuk sesuatu yang menjadi tujuan
hijrahnya. (HR. Bukhari-Muslim)

II. Hakikat Ikhlas

Ikhlas berada dalam hati demikian pula dengan lawannya yaitu syirik, keduanya senantiasa
berebut tempat di hati manusia. Oleh sebab itu tempat ikhlas ada di dalam hati dan hal itu
berkaitan dengan tujuan dan niat seseorang.
Disebutkan bahwa hakikat niat itu mengacu kepada respon berbagai hal yang
membangkitkannya. Bila faktor pembangkitnya hanya satu maka perbuatan itu disebut
ikhlas dalam kaitannya dengan apa yang diniatkan. Istilah ikhlas itu khusus berkenaan
dengan tujuan semata-mata mencari taqarrub kepada Allah dan pelakunya disebut mukhlis.
III. Cara Untuk Mengenali Ikhlas

Motivasi seseorang untuk beramal banyak sekali. Oleh karena itu kita perlu mengenali
tujuan dari amal kita agar motivasinya tidak tercampur dengan yang lain, seperti riya atau
kepentingan-kepentingan nafsu lainnya.

Salah satu contoh motivasi yang telah tercampur dengan motivasi yang lain misalnya orang
yang berpuasa untuk memanfaatkan perlindungan yang dapat dicapai melalui puasa
tersebut disamping niat taqarrub. Contohnya antara lain: orang yang pergi haji untuk
memperoleh kesegaran suasana untuk bepergian.

Oleh karena itu, para penempuh jalan akhirat harus mencermati amal perbuatan mereka
dan memperbaharui niat mereka. Tidak setiap tujuan dalam suatu amal dapat membatalkan
amal. Karena itu, siapa yang berpuasa dengan tujuan bertaqarrub kepada Allah dan
mencapai kesehatan maka tidak merusak keikhlasannya. Bahkan jika kesehatannya itu
diniatkan untuk memperkuat diri dalam mengamalkan kebaikan maka pahalanya semakin
bertambah. Jika ia memaksudkan untuk hak dirinya maka pahala keikhlasan kepada Allah
lebih banyak.

Singkatnya, setiap kepentingan duniawi yang disenangi nafsu dan dicenderungi hati sedikit
ataupun banyak, apabila merambah ke dalam amal maka dapat mengeruhkan
kejernihannya. Manusia senantiasa terikat dalam kepentingan-kepentingan dirinya dan
tenggelam dalam berbagai syahwatnya sehingga jarang sekali amal perbuatan atau
ibadahnya dapat terlepas dari kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan sejenis itu.

Akan tetapi hal yang menjadi perhatian adalah apabila tujuan asalnya berupa taqarrub lalu
terkontaminasi oleh hal-hal di atas, kemudian kotoran-kotoran ini berada pada tingkat
muawanah (mendukung).

Jadi, pengetahuan tentang hakikat ikhlas dan pengamalannya merupakan lautan yang
dalam, semua orang tenggelam di dalamnya kecuali sedikit, yaitu orang-orang yang
dikecualikan dalam firman-Nya: Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka
(QS. Al Hijr : 40). Maka hendaklah seorang hamba sangat memperhatikan dan mengawasi
hal-hal yang sangat mendetil ini. Jika tidak, maka akan tergolong kepada pengikut syaithan
tanpa menyadarinya.

IV. Manfaat Ikhlas


1. Hidup akan tenang karena hati selalu berjaga-jaga untuk mengevaluasi dan meluruskan
niat dalam beramal
2. Selalu dimudahkan dalam segala urusannya
3. Memiliki orientasi hidup yang mampu menjangkau jangka panjang yaitu akhirat
4. Pemberat/penambah pahala dalam beramal
5. Mendapat posisi sebaik-baiknya Hamba di sisi Allah dan juga manusia.

V. Penutup

Apabila keikhlasan telah bersemayam di dalam diri, maka setiap amal akan diberkahi oleh
Allah SWT. Setiap orang akan berlomba-lomba untuk memberikan amalan terbaiknya
karena ia menyadari buah dari ilmu dan keikhlasan adalah amal shaleh