Anda di halaman 1dari 6

PENGGANTIAN BIAYA PENGOBATAN TERUTANG

PPH 21 ATAU TIDAK?


Dibuat: Senin, 29 Desember 2014 17:45
Ditulis oleh Johannes Aritonang, SE., MM

Abstrak

Dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak Badan maupun
Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan usaha, salah satu unsur biaya yang
cukup besar adalah biaya bagi karyawan. Biaya ini dalam rangka hubungan antara
pemberi kerja dan karyawan. Namun ternyata setiap biaya yang berhubungan
dengan karyawan mempunyai dampak dapat dikurangkan atau tidak dapat
dikurangkan dari Penghasilan. Umumnya jika biaya tersebut dapat dikurangkan
sebagai biaya akan dilakukan pemungutan/pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21
oleh Pemberi Kerja . Salah satu jenis biaya tersebut adalah biaya pengobatan. Biaya
pengobatan ini dapat berupa biaya pengobatan yang diberikan langsung oleh
pemberi kerja kepada karyawan ataupun berupa penggantian biaya pengobatan
(reimbursement). Ternyata perlakukan biaya pengobatan bagi karyawan dengan
cara memberikan penggantian biaya pengobatan mempunyai efek munculnya Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang harus ditanggung karyawan bersangkutan. Bagi
sebagian karyawan hal ini dianggap menimbulkan ketidakadilan , karena disaat
orang mengalami penderitaan masih harus dibebani kewajiban membayar pajak
atas penggantian uang pengobatan yang diterima. Untuk itu diperlukan adanya
kesamaan pandangan antara karyawan dan pemberi kerja dalam hal membaca dan
mengerti Undang-Undang Pajak Penghasilan yang berhubungan dengan
penggantian biaya pengobatan.

Kata kunci: penggantian, pengobatan.

Latar Belakang Masalah

Teman saya bernama Leo (bukan nama sebenarnya) merupakan karyawan sebuah
perusahaan di Jakarta (sebut saja PT ABC) menceritakan pengalamannya ketika ia
sakit dan beberapa hari tidak masuk kerja. Ia berobat kepada dokter spesialis serta
membeli obat di apotik yang berada dekat rumahnya. Leo memperoleh kuitansi yang
berasal dari dokter dan dari apotik. Berdasarkan kebijakan perusahaan yang
memberikan penggantian atas biaya berobat, Leo lalu menyerahkan kuitansi
tersebut kepada bagian kepegawaian perusahaan dan diteruskan kepada bagian
keuangan dengan harapan untuk menerima penggantian atas kuitansi tersebut.

Penggantian tersebut diterima Leo bersamaan dengan gaji pada akhir bulan. Betapa
kecewanya Leo, ketika mengetahui bahwa uang penggantian yang ia terima
jumlahnya lebih kecil dari jumlah yang ada pada kuitansi, begitu juga gaji bulanan
yang diterimanya berkurang karena telah dipotong akibat tidak masuk kantor ketika
ia sakit. Ia bertanya kepada pegawai bagian keuangan, mengapa demikian?
Pegawai tersebut menjawab bahwa terhadap uang sebagai penggantian biaya
pengobatan tersebut telah dipotong Pajak Penghasilan pasal 21 oleh perusahaan.
Dengan nada kecewa Leo berkata dalam hati: Dimanakah keadilan di negara ini,
sudah jatuh masih ditimpa tangga lagi, bagaimana mungkin orang sakit disuruh
membayar pajak, orang sakit akan semakin sakit. Berdasarkan pengalaman
tersebut, Leo bertanya kepada saya bagaimana perlakukan penggantian biaya
pengobatan menurut aturan perpajakan.Tulisan ini akan membahas apa yang
dinyatakan oleh Undang-Undang Pajak Penghasilan serta aturan turunannya
terhadap penggantian biaya pengobatan tersebut.

Pembahasan
Terhadap permasalahan di atas, secara umum dibagi atas 2 pihak yang berperan.
Pihak pertama adalah pihak yang menerima penggantian biaya pengobatan (Sdr
Leo sebagai pegawai).Apakah penggantian tersebut dianggap sebagai penghasilan
yang merupakan objek pajak penghasilan?
Pihak kedua adalah pihak perusahaan (PT ABC) yang memberikan uang
penggantian obat. Apakah penggantian pengobatan tersebut dapat sebagai
pengurang penghasilan bruto (deductible expense) atau merupakan pengeluaran
yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto(deductible expense)?
Penghasilan Dan Pengurangan Penghasilan
Penghasilan
Obyek Pajak Penghasilan adalah penghasilan. Pengertian penghasilan diatur pada
pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan
(selanjutnya disebut Undang-Undang PPh)yaitu setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan
dalam bentuk apapun.
Pengertian penghasilan dalam Undang-Undang PPh tidak memperhatikan adanya
penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan kemampuan
ekonomis. Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan Wajib Pajak tersebut untuk
ikut bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin
dan pembangunan (melalui pajak). Yang termasuk dalam tambahan kemampuan
ekonomis diantaranya adalah :

a. penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang


diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,
bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali
ditentukan lain dalam Undang-undang PPh (pasal 4 ayat 1 huruf a).

Imbalan atau penggantian yang dikecualikan dari objek pajak penghasilan


diantaranya seperti yang diatur pada Pasal 4 ayat 3 huruf d yaitu: penggantian atau
imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali
yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara
final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed
profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Undang-Undang PPh.Penggantian
atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan berkenaan dengan pekerjaan
atau jasa merupakan tambahan kemampuan ekonomis yang diterima bukan
dalam bentuk uang. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura seperti beras,
gula dan sebagainya, dan imbalan dalam bentuk kenikmatan, seperti penggunaan
mobil, rumah, dan fasilitas pengobatan bukan objek pajak penghasilan(penjelasan
pasal 4 ayat 3 huruf d).Sehingga penggantian atau imbalan yang dibayarkan dalam
bentuk uang merupakan obyek pajak penghasilan.

Pengurangan Penghasilan

Pengertian dan batasan yang dapat dijadikan pengurangan penghasilan bruto


sehubungan dengan hubungan pekerjaan (pemberi kerja dan pegawainya) diatur
pada pasal 6 ayat (1) angka 2 beserta penjelasannya.

Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha
tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan termasuk :

a. biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan
usaha antara lain :

1. ........

2. biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji,


honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam
bentuk uang.

Pengeluaran-pengeluaran sehubungan dengan pekerjaan yang boleh dikurangkan


dari penghasilan bruto harus dilakukan dalam bentuk uang. Pengeluaran yang
dilakukan dalam bentuk natura atau kenikmatan, misalnya fasilitas menempati
rumah dengan cuma-cuma, tidak boleh dibebankan sebagai biaya, dan bagi
pihak yang menerima atau menikmati bukan merupakan penghasilan. Namun
terdapat pengeluaran dalam bentuk natura atau kenikmatan tertentu sebagaimana
diatur dalam Pasal 9 ayat (1) huruf e, boleh dibebankan sebagai biaya dan bagi
pihak yang menerima atau menikmati bukan merupakan penghasilan.

Pemberian natura dan kenikmatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan


bruto pemberi kerja dan bukan merupakan penghasilan pegawai yang
menerimanya sesuai Pasal 9 ayat (1) huruf e tersebut adalah:

a) penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang


diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu dalam
rangka menunjang kebijaksanaan pemerintah untuk mendorong
pembangunan di daerah terpencil;
b) pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam
pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat
pekerjaan tersebut mengharuskannya, seperti pakaian dan peralatan untuk
keselamatan kerja, pakaian seragam petugas keamanan (satpam), antar
jemput karyawan serta penginapan untuk awak kapal dan yang sejenisnya;
dan
c) pemberian atau penyediaan makanan dan atau minuman bagi seluruh
pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.

Fasilitas pengobatan yang diberikan oleh perusahaan kepada pegawainya,


secara umum dapat dicontohkan sebagai berikut:

1. Fasilitas Pengobatan Dengan Memberikan Tunjangan Pengobatan Kepada


Pegawai Dan Mengambilnya Kembali
Setiap bulan dengan jumlah yang sama, pegawai diberikan tunjangan
pengobatan berupa uang yang dimasukkan dalam penghasilan karyawan
sebesar perkiraan biaya pengobatan yang sudah dihitung dan ditetapkan oleh
pemberi kerja untuk tiap pegawai selama satu tahun. Tunjangan pengobatan
ini kemudian oleh perusahaan dipotong kembali dari penghasilan karyawan.
Jika pegawai sakit, oleh perusahaan disarankan untuk berobat kepada
dokter/klinik/rumah sakit yang telah ditunjuk/telah membuat perjanjian
kerjasama dengan perusahaan. Selanjutnya secara berkala perusahaan akan
membayar kepada dokter/klinik/rumah sakit. Uang untuk pembayaran
dokter/klinik/rumah sakit tersebut berasal dari tunjangan pengobatan yang
telah dimasukkan dalam daftar penghasilan karyawan dan kemudian diambil
kembali oleh perusahaan (dengan cara dipotong dari penghasilan karyawan).
Tunjangan pengobatan yang diambil kembali oleh perusahaan tersebut
jumlahnya berkurang karena telah dipotong Pajak Penghasilan pasal 21 oleh
perusahaan.
2. Fasilitas Pengobatan berupa Pemberian Tunjangan Pengobatan Kepada
Pegawai
Setiap bulan dengan jumlah yang sama, pegawai diberikan tunjangan
pengobatan berupa uang yang dijadikan sebagai unsur penghasilan
karyawan sebesar perkiraan biaya pengobatan yang sudah ditetapkan oleh
pemberi kerja untuk tiap pegawai selama satu tahun. Pegawai bebas
menggunakan uang tersebut. Jika pegawai sakit, biaya pengobatannya
ditanggung sendiri oleh pegawai.
3. Fasilitas Pengobatan Ditanggung Perusahaan
Perusahaan menyediakan ruangan untuk dokter dan pasien di kantor, serta
membiayai tenaga dokter dan menyediakan obat-obatan yang diperlukan.
Pegawai yang sakit mendapat fasilitas pengobatan cuma-cuma dari
perusahaan. Fasilitas pengobatan ini juga dapat dilakukan dengan cara
perusahaan menentukan dokter/klinik/rumah sakit tempat pegawai untuk
berobat. Dan pada akhir bulan dokter/klinik/rumah sakit tersebut mengirimkan
tagihan kepada perusahaan. Perusahaan membayar tagihan tersebut
langsung kepada dokter/klinik/rumah sakit tanpa membebankannya pada
pegawai.
4. Perusahaan Memberikan Fasilitas Penggantian Biaya Pengobatan
Perusahaan memberikan fasilitas pengobatan dengan cara menanggung
secara terbatas atau seluruhnya biaya berobat pegawai. Pegawai yang sakit
berobat kepada dokter/klinik/rumah sakit yang telah ditunjuk perusahaan
ataupun dengan cara membebaskan pegawai yang sakit untuk memilih
sendiri dokter/klinik/rumah sakit. Pegawai kemudian memberikan kuitansi dan
bukti pendukung biaya pengobatan kepada perusahaan. Perusahaan
memberikan penggantian berupa uang kepada karyawan. Penggantian
pengobatan tersebut dapat dibayarkan langsung kepada pegawai atau
dimasukkan dalam slip gaji bulanan pegawai.
5. Perusahaan Membayarkan Premi Asuransi Kesehatan Pegawai Kepada
Perusahaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PT Jamsostek) Atau Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Perusahaan mendaftarkan pegawainya pada Perusahaan Jaminan Sosial
Tenaga Kerja (PT Jamsostek) atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS). Setiap bulan perusahaan membayar premi kesehatan kepada PT
Jamsostek atau BPJS berdasarkan persentase tertentu dari gaji. Jika
pegawai sakit, biaya pengobatan akan ditanggung oleh PT Jamsostek atau
BPJS.

Perlakuan perpajakan terhadap pemberian fasilitas pengobatan didasarkan pada


prinsip Undang-Undang PPh "deductibility-taxability" yaitu jika pada pihak pemberi
kerja pemberian tersebut boleh dikurangkan sebagai biaya, maka pada pihak
karyawan merupakan penghasilan yang dikenakan pajak. Sebaliknya, jika pada
pihak karyawan pemberian tersebut bukan merupakan penghasilan, maka pada
pihak pemberi kerja tidak dapat dikurangkan sebagai biaya. Perlakuan Pajak
Penghasilan terhadap pemberian dalam bentuk natura atau kenikmatan (fringe
benefits) adalah bagi pemberi kerja tidak boleh dikurangkan sebagai biaya, dan
pihak karyawan yang menerima dibebaskan dari pengenaan Pajak Penghasilan,
karena sudah dikenakan pada pemberi kerja, kecuali terhadap ketentuan yang telah
diatur pada Pasal 9 ayat (1) huruf e.
Ketentuan perpajakan terhadap fasilitas pengobatan yang diberikan pemberi kerja
berdasarkan pada contoh di atas adalah:

1. Terhadap contoh 1,2,4 dan 5 merupakan obyek pajak penghasilan bagi


pegawai yang menerimanya (dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21) dan bagi
pemberi kerja dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto
(deductible expense). Fasilitas pengobatan ini merupakan penghasilan bagi
pegawai karena diterima dalam bentuk uang.

2. Terhadap contoh 3 bukan objek pajak penghasilan bagi pegawai yang


menerimanya sehingga tidak dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dan bagi
pemberi kerja tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto (non
deductible expense). Fasilitas pengobatan ini berbentuk natura serta tidak
masuk dalam natura atau kenikmatan yang dikecualikan menurut Pasal 9
ayat (1) huruf e.

Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, terhadap biaya penggantian pengobatan Sdr Leo
merupakan objek Pajak Penghasilan dan dipotong Pajak Penghasilan pasal 21 oleh
PT ABC karena Sdr. Leo menerima uang dari pemberi kerja sebagai penggantian
pengobatan. Jika perusahaan tidak ingin membebani pegawainya atas biaya
pengobatan pegawai, perusahaan dapat memilih contoh nomor 3 di atas yaitu
fasilitas pengobatan ditanggung perusahaan. Dalam hal ini pegawai yang berobat
tidak perlu membayar biaya dokter dan biaya obatnya, tetapi yang membayarnya
adalah bagian keuangan perusahaan secara langsung kepada dokter/klinik/rumah
sakit yang dituju. Bagi pegawai, biaya pengobatan tersebut bukan merupakan
penghasilan yang merupakan objek pajak penghasilan, bagi perusahaan biaya
pengobatan tersebut tidak dapat dikurangkan sebagai pengurang penghasilan bruto
(non deductible expense).

Daftar Pustaka:

Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan


Undang- Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan

Mulyono, Djoko. 2010. Panduan Brevet Pajak: Pajak Penghasilan, Yogyakarta: CV


ANDI OFFSET.

Barata, Atep Adya. 2011. Panduan Lengkap Pajak Penghasilan, Jakarta : Visimedia

Waluyo, 2008. Akuntansi Pajak, Jakarta: Penerbit Salemba Empat