Anda di halaman 1dari 30

Intra Uterine Growth Retardation ( IUGR )

Definisi

IUGR adalah berat badan bayi baru lahir kurang dari persentil 10 untuk usia kehamilan bayi,
dalam artian bayi baru lahir berukuran lebih kecil dengan usia kehamilannya.

Penyebab IUGR dibedakan menjadi tiga faktor, yaitu :

a. Maternal/ibu seperti : tekanan darah tinggi, penyakit ginjal kronik, riwayat diabetes
mellitus, penyakit jantung dan pernafasan, malnutrisi dan anemia, infeksi, pecandu
alkohol, obat-obat tertentu dan perokok.
b. Uterus dan plasenta : penurunan/pengurangan aliran darah dari uterus ke plasenta,
plasenta abruption, plasenta previa, infark plasenta.
c. Faktor janin antara lain : janin kembar, penyakit infeksi, kelainan kongenital, kelainan
kromosom, pajanan teratogen.

Manifestasi Klinik

Bayi-bayi lahir IUGR biasanya tampak kurus, pucat dan berkulit keriput, tali pusat umumnya
tampak rapuh dan layu dibandingkan pada bayi normal yang tampak tebal dan kuat,
Intra Uterine Growth Retardation ( IUGR ) muncul sebagai akibat dari berhentinya
pertumbuhan jaringan atau sel.

Pencegahan

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencegah IUGR adalah usahakan hidup sehat, hindari
stress selama kehamilan, hindari mengkonsumsi obat-obatan yang tidak dianjurkan selama
hamil, olahraga teratur, hindari alkohol, rokok dan narkoba, periksakan kehamilan secara
rutin.

Prognosis

Pada kasus-kasus IUGR yang sangat parah dapat berakibat janin lahir mati ( still birth ) atau
jika bertahan hidup dapat memiliki efek buruk jangka panjang dalam masa kanak-kanak
nantinya. Kasus IUGR dapat muncul sekalipun ibu dalam kondisi sehat.
Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosa perlu dilakukan pemeriksaan dengan menanyakan riwayat ibu
apakah faktor-faktor ibu seperti dijelaskan diatas ada atau tidak, periksa tinggi fundus uteri
( TFU ) apakah sesuai dengan usia kehamilan atau tidak, lakukan ultrasonografi ( USG )
fetomaternal, periksa denyut jantung janin dengan menggunakan doppler velocimetry.
IUGR (INTRA UTERINE GROWTH RETARDATION)

A. DEFINISI IUGR

Pertumbuhan janin terhambat (PJT) ditegakkan apabila pada pemeriksaan


ultrasonografi (USG) perkiraan berat badan janin berada di bawah persentil 10
dibawah usia kehamilan atau lebih kecil dari yang seharusnya (sesuai grafik).
Terminologi kecil untuk masa kehamilan adalah berat badan bayi yang tidak
sesuai dengan masa kehamilan dan dapat muncul pada bayi cukup bulan atau
prematur. Pada umumnya janin tersebut memiliki tubuh yang kecil dan risiko
kecacatan atau kematian bayi kecil akan lebih besar baik pada saat dilahirkan
ataupun setelah melahirkan.

PJT terbagi atas dua, yaitu:

1. Pertumbuhan janin terhambat tipe I : simetris atau proporsional (kronis)

Memiliki kejadian lebih awal dari gangguan pertumbuhan janin yang tidak
simetris, semua organ mengecil secara proporsional.Faktor yang berkaitan
dengan hal ini adalah kelainan kromosom, kelainan organ (terutama jantung),
infeksi TORCH (Toxoplasmosis, Other Agents <Coxsackie virus, Listeria),
Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex/Hepatitis B/HIV, Syphilis),
kekurangan nutrisi berat pada ibu hamil, dan wanita hamil yang merokok.

2. Pertumbuhan janin terhambat tipe II : Asimetris atau disproportional


(akut)

Gangguan pertumbuhan janin asimetris memiliki waktu kejadian lebih lama


dibandingkan gangguan pertumbuhan janin simetris. Beberapa organ lebih
terpengaruh dibandingkan yang lain, lingkar perut adalah bagian tubuh yang
terganggu untuk pertama kali, kelainan panjang tulang paha umumnya
terpengaruhi belakangan, lingkar kepala dan diameter biparietal juga
berkurang. Faktor yang mempengaruhi adalah insufisiensi (tidak efisiennya)
plasenta yang terjadi karena gangguan kondisi ibu termasuk diantaranya
tekanan darah tinggi dan diabetes dalam kehamilan
Ada dua betuk IUGR menurut Renfield (1975), yaitu :

1. Proportionate IUGR

Janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan pertumbuhan


terjadi berminggu-mingu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga
berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi
keseluruhannya masih dibawah masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini tidak
menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin ini terjadi
sebelum terbentuknya adipose tissue.

2. Dispropotionate IUGR

Terjadi akibat distress.Gangguan yang terjadi beberapa minggu sampai


beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkaran
kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi
tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit,
kulit kering keriput dan mudah diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih
panjang.

B. PENYEBAB IUGR

Fisik ibu yang kecil dan kenaikan berat badan yang tidak adekuat

Penyebab ibu

Faktor keturunan dari ibu dapat mempengaruhi berat badan janin. Kenaikan
berat tidak adekuat selama kehamilan dapat menyebabkan PJT. Kenaikan
berat badan ibu selama kehamilan sebaiknya 9-16 kg.apabila wanita dengan
berat badan kurang harus ditingkatkan sampai berat badan ideal ditambah
dengan 10-12 kg

Penyakit ibu kronik

Kondisi ibu yang memiliki hipertensi kronik, penyakit jantung sianotik,


diabetes, serta penyakit vaskular kolagen dapat menyebabkan PJT.Semua
penyakit ini dapat menyebabkan pre-eklampsia yang dapat membawa ke
PJT.Hipertensi dan penyakit ginjal yang kronik, perokok, penderita DM yang
berat, toksemia, hipoksia ibu, gizi buruk, drug abuse, peminum alkohol.

Kebiasaan seperti merokok, minum alkohol, dan narkotik

Penyebab janin

a. Infeksi selama kehamilan

Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat menyebabkan PJT. Rubela dan


cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi yang sering menyebabkan PJT

b. Kelainan bawaan dan kelainan kromosom

Kelaianan kromosom seperti trisomi atau triploidi dan kelainan jantung


bawaan yang berat sering berkaitan dengan PJT.Trisomi 18 berkaitan dengan
PJT simetris serta polihidramnion (cairan ketuban berlebih). Trisomi 13 dan
sindroma Turner juga berkaitan dengan PJT

c. Pajanan teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin)

Berbagai macam zat yang bersifat teratogen seperti obat anti kejang, rokok,
narkotik, dan alkohol dapat menyebabkan PJT

Penyebab plasenta (ari-ari)

a. Kelainan plasenta sehingga menyebabkan plasenta tidak dapat menyediakan


nutrisi yang baik bagi janin seperti, abruptio plasenta, infark plasenta
(kematian sel pada plasenta), korioangioma, dan plasenta previa

b. Kehamilan kembar

c. Twin-to-twin transfusion syndrome


C. PROBLEMATIK BAYI IUGR

Bayi IUGR harus diwaspadai akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus
ditanggulangi dengan baik.Aspirasi mekonium yang sering diikuti
pneumotoraks.Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi IUGR mempunyai HB
yang tinggi mungkin karena hipoksia kronik di dalam uterus.

Hipoglikemi terutama bila pemberian minum terlambat.

Keadaan ini yang mungkin terjadi : asfiksia, perdarahan paru yang masif,
hipotermi, cacat bawaan akibat kelainan kromosom dan infeksi intrauterin.

D. PERKEMBANGAN PJT INTRAUTERIN

Peningkatan rasio berat plasenta terhadap berat lahir ditimbulkan oleh kondisi
diet rendah nutrisi terutama protein

Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan

Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas dipengaruhi


oleh makanan.Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi kekurangan
nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan
perkembangan.Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan
janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi
percepatan pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut

Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan

Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi bisa


juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi.Didapati
ukuran plasenta yang luas.

Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan

Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi antara


janin dengan plasenta.Efek kekurangan makan tergantung pada lamanya
kekurangan.Pada kondisi akut terjadi perlambatan pertumbuhan dan kembali
meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada kondisi kronis mungkin
telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang irreversible

E. TANDA DAN GEJALA

PJT dicurigai apabila terdapat riwayat PJT sebelumnya dan ibu dengan
penyakit kronik.Selain itu peningkatan berat badan yang tidak adekuat juga
dapat mengarah ke PJT.Dokter dapat menemukan ukuran rahim yang lebih
kecil dari yang seharusnya.

F. PROGNOSIS

Tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi,


asfiksia/iskemia otak, sindroma gangguan pencernaan dll.Juga tergantung
pada sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat hamil,
persalinan dan postnatal.

G. PENGAMATAN LANGSUNG

Bila bayi ini dapat mengatasi problem yang dideritanya, maka perlu diamati
selanjutnya oleh karena kemungkinan bayi ini akan mengalami gangguan
pendengaran, penglihatan, kognitif, fungsi motor SSP dan penyakit-penyakit
seperti hidrosefalus, cerebral palsy dan sebagainya.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) diperlukan untuk mengukur pertumbuhan


janin.Selain itu USG juga dapat digunakan untuk melihat kelainan organ yang
terjadi.Pengukuran lingkar kepala, panjang tulang paha, dan lingkar perut
dapat dilakukan untuk menilai pertumbuhan janin melalui USG. Penggunaan
ultrasound doppler dapat digunakan untuk melihat aliran dari pembuluh darah
arteri umbilikalis.

I. PENATALAKSANAAN
Pada umumnya sama dengan perawatan neonatus umumnya, tetapi karena
bayi ini mempunyai problem yang agak berbeda maka perlu diperhatikan hal-
hal berikut :

1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin.

2. Memeriksa kadar gula darah dengan dextrostix jika hipoglikemi harus


segera diatasi.

3. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.

4. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibanding dengan bayi SMK

5. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi


mekonium.

J. TERAPI

Kecacatan dan kematian janin meningkat sampai 2-6 kali pada janin dengan
PJT. Tatalaksana untuk kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada
terapi yang paling efektif sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah
cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu.
Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :

PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah segera
dilahirkan

PJT jauh sebelum waktu melahirkan.Kelainan organ harus dicari pada janin ini,
dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan
cairan ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah
janin dianjurkan.

a. Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan


kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus dibatasi
disertai dengan nutrisi yang baik. Apabila istirahat di rumah tidak dapat
dilakukan maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin
termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta pertumbuhan
janin menggunakan USG setiap 3-4minggu

b. Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya


dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila penyebabnya
adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat maka nutrisi harus diperbaiki. Pada
wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik dan alkohol, maka
semuanya harus dihentikan

c. Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin


prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk
mencegah komplikasi setelah melahirkan.Operasi caesar dilakukan apabila
terjadi distress janin serta perawatan intensif neonatal care segera setelah
dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian distress janin selama
melahirkan meningkat pada PJT karena umumnya PJT banyak disebabkan
oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses melahirkan

d. Kondisi bayi.Janin dengan PJT memiliki risiko untuk hipoksia perinatal


(kekurangan oksigen setelah melahirkan) dan aspirasi mekonium (terhisap
cairan mekonium).PJT yang parah dapat mengakibatkan hipotermia (suhu
tubuh turun) dan hipoglikemia (gula darah berkurang).Pada umumnya PJT
simetris dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan pertumbuhan bayi
yang terlambat setelah dilahirkan, dimana janin dengan PJT asimetris lebih
dapat catch-up pertumbuhan setelah dilahirkan.

K. PENCEGAHAN

Beberapa penyebab dari PJT tidak dapat dicegah. Bagaimanapun juga, faktor
seperti diet, istirahat, dan olahraga rutin dapat dikontrol. Untuk mencegah
komplikasi yang serius selama kehamilan, sebaiknya seorang ibu hamil
mengikuti nasihat dari dokternya; makan makanan yang bergizi tinggi; tidak
merokok, minum alkohol dan menggunakan narkotik; mengurangi stress;
berolahraga teratur; serta istirahat dan tidur yang cukup. Suplementasi dari
protein, vitamin, mineral, serta minyak ikan juga baik dikonsumsi. Selain itu
pencegahan dari anemia serta pencegahan dan tatalaksana dari penyakit
kronik pada ibu maupun infeksi yang terjadi harus baik

http://deanyhani.blogspot.com/2012/12/iugr-intra-uterine-growth-
retardation.html
KATA PENGANTAR

Assalamialaikum wr. wb
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya
kepada kita semua sehingga Makalah Kelainan dalam lamanya kehamilan Prematur
dan Post matur dapat terselesaikan dengan tepat waktu.
Kami berharap Makalah ini bisa memberikan wawasan luas untuk memahami
manusia dari pendekatan teori ilmu kebidanan. Terlebih lagi untuk mahasiswi yang
mendalami bidang kebidanan , dimana mereka kelak langsung berhubungan dengan
manusia.
Selain itu juga, Kami berharap tulisan ini dapat menjadi dasar pengantar dari
pemenuhan materi perkuliahan Askeb IV ( Patalogi ) untuk mahasiswi kebidanan,
karana penyusunan materi disesuaikan dengan silabus dan standar kompetensi
materi.
Seperti kata pepatah yang mengatakan tak ada gading yang tak retak. Oleh
karena itu, dengan rendah hati kami berharap kepada Ibu Hj. Masruroh SSiT.M.Kes
Selaku Dosen pengampu mata kuliah Askeb IV ( Patalogi ) kiranya dapat
memberikan masukan, kritikan , dan tanggapan yang bersifat membangun untuk
penyempurnaan makalah kami.
Sebagai akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada Teman teman
yang telah membantu menyelesaikan makalah ini . Semoga Allah SWT meridhoi.
Amiin.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehidupan manusia dimulai sejak masa janin dalam rahim ibu. Sejak itu,
manusia kecil telah memasuki masa perjuangan hidup yang salah satunya
menghadapi kemungkinan kurangnya zat gizi yang diterima dari ibu yang
mengandungnya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin
tersebut akan mempunyai konsekuensi kurang menguntungkan dalam kehidupan
berikutnya. Sejarah klasik tentang dampak kurang gizi selama kehamilan terhadap
outcome kehamilan telah banyak didokumentasikan. Fenomena the Dutch Famine
menunjukkan bahwa bayi-bayi yang masa kandungannya (terutama trimester 2 dan
3) jatuh pada saat-saat paceklik mempunyai rata-rata berat badan, panjang badan,
lingkar kepala, dan berat placenta yang lebih rendah dibandingkan bayi-bayi yang
masa kandungannya tidak terpapar masa paceklik dan hal ini terjadi karena adanya
penurunan asupan kalori, protein dan zat gizi essential lainnya.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.IUGR
1.Pengertian
Definisi menurut WHO (1969), janin yang mengalami pertumbuhan yang
terhambat adalah janin yang mengalami kegagalan dalam mencapai berat standard
atau ukuran standard yang sesuai dengan usia kehamilannya.
Pertumbuhan janin terhambat (PJT) ditegakkan apabila pada pemeriksaan
ultrasonografi (USG) perkiraan berat badan janin berada di bawah persentil 10
dibawah usia kehamilan atau lebih kecil dari yang seharusnya (sesuai grafik).
Terminologi kecil untuk masa kehamilan adalah berat badan bayi yang tidak sesuai
dengan masa kehamilan dan dapat muncul pada bayi cukup bulan atau prematur.
Pada umumnya janin tersebut memiliki tubuh yang kecil dan risiko kecacatan atau
kematian bayi kecil akan lebih besar baik pada saat dilahirkan ataupun setelah
melahirkan.
Intrauterine Growth Restriction (IUGR) adalah istilah yang digunakan untuk
menjelaskan suatu kondisi dimana janin lebih kecil dari yang diharapkan untuk
jumlah bulan kehamilan.
2.Etiologi
a. Factor risiko dari Ibu :
Alkohol
Merokok
Obat obatan (Corticosteroid, propanolol, Dilantin, Coumadin, Heroin)
Anemia
Malnutrisi
Berat badan Ibu Kurang dari 50 Kg,
penyakit Jantung Cyanotic
Diabetus Mellitus
b. Factor Risiko dari bayi :
Infeksi selama kehamilan
Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat menyebabkan PJT. Rubela dan
cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi yang sering menyebabkan PJT.
Kelainan bawaan dan kelainan kromosom
Kelaianan kromosom seperti trisomi atau triploidi dan kelainan jantung bawaan yang
berat sering berkaitan dengan PJT.
Pajanan teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin). Berbagai macam
zat yang bersifat teratogen seperti obat anti kejang, rokok, narkotik, dan alkohol
dapat menyebabkan PJT
Hemorisis (gangguan sel darah merah)
Kehamilan kembar multiple.
c. Faktor Risiko dari Uterus dan Plasenta :
Kelainan plasenta sehingga menyebabkan plasenta tidak dapat menyediakan
nutrisi yang baik bagi janin seperti ambruptio plasenta, infark plasenta (kematian
sel pada plasenta)
Berkurangnya kontraksi uterus
Kelainan tali pusat
Berkurangnya aliran uterus, thrombus dalam pembuluh darah janin dari 1 arteri tali
pusat.
d. Penyebab umum
Social ekonomi yang rendah
Menikah dini
Jarak kelahiran pendek
Diet tidak addekuat karena miskin dan malabsobrsi.
3. Tanda dan Gejala
Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) dicurigai apabila terdapat riwayat PJT
sebelumnya dan ibu dengan penyakit kronik. Selain itu peningkatan berat badan
yang tidak adekuat juga dapat mengarah ke PJT. Dokter dapat menemukan ukuran
rahim yang lebih kecil dari yang seharusnya.
4.Komplikasi
PJT yang tidak segera diberi tindakan penanganan dokter dapat
menyebabkan bahaya bagi janin hingga menyebabkan kematian. Kondisi ini
disebabkan karena terjadinya kondisi asupan nutrisi dan oksigenasi yang tidak
lancar pada janin. Jika ternyata hambatan tersebut masih bisa di tangani kehamilan
bisa dilanjutkan dengan pantauan dokter, sebaliknya jika sudah tidak bisa ditangani
maka dokter akan mengambil tindakan dengan memaksa bayi untuk dilahirkan
melalui operasi meski belum pada waktunya.
Komplikasi pada PJT dapat terjadi pada janin dan ibu :
1.Janin
Antenatal : gagal nafas dan kematian janin
Intranatal : hipoksia dan asidosis
Setelah lahir :
a. Langsung:
Asfiksia
Hipoglikemi
Aspirasi mekonium
DIC
Hipotermi
Perdarahan pada paru
Polisitemia
Hiperviskositas sindrom
Gangguan gastrointestinal
b. Tidak langsung
Pada simetris PJT keterlambatan perkembangan dimulai dari lambat dari
sejak kelahiran, sedangkan asimetris PJT dimulai sejak bayi lahir di mana terdapat
kegagalan neurologi dan intelektualitas. Tapi prognosis terburuk ialah PJT yang
disebabkan oleh infeksi kongenital dan kelainan kromosom. (5)
2. Ibu
Preeklampsi
Penyakit jantung
Malnutrisi

5.PENATALAKSANAAN
Langkah pertama dalam menangani PJT adalah mengenali pasien-pasien
yang mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin kecil. Langkah kedua adalah
membedakan janin PJT atau malnutrisi dengan janin yang kecil tetapi sehat.
Langkah ketiga adalah menciptakan metode adekuat untuk pengawasan janin pada
pasien-pasien PJT dan melakukan persalinan di bawah kondisi optimal.
Untuk mengenali pasien-pasien dengan resiko tinggi untuk mengandung janin
kecil, diperlukan riwayat obstetrik yang terinci seperti hipertensi kronik, penyakit
ginjal ibu dan riwayat mengandung bayi kecil pada kehamilan sebelumnya. Selain itu
diperlukan pemeriksaan USG. Pada USG harus dilakukan taksiran usia gestasi
untuk menegakkan taksiran usia gestasi secara klinis. Kemudian ukuran-ukuran
yang didapatkan pada pemeriksaan tersebut disesuaikan dengan usia gestasinya.
Pertumbuhan janin yang suboptimal menunjukkan bahwa pasien tersebut
mengandung janin PJT.
Tatalaksana kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi yang
paling efektif sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup usia dalam
kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana yang harus
dilakukan adalah :
PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah segera
dilahirkan
PJT jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada janin
ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan cairan
ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah janin
dianjurkan.
6.Kewenangan Bidan
Episiotomi
Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan
Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu ibu (ASI)
eksklusif
Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum
Penyuluhan dan konseling
Bimbingan pada kelompok ibu hami
Pemberian surat keterangan kematian
Pemberian surat keterangan cuti bersalin

http://inasnur092.blogspot.com/2012/12/makalah-iugr-dan-iufd.html
BAB
PENUTUP

A.Kesimpulan
Mahasiswa mampu memahami teori tentang persalinan dengan IUFD serta dapat
memberikan asuhan kebidanan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Asuhan yang diberikan meliputi pengkajian data baik secara subyektif maupun
obyektif dari data yang telah dikumpulkan mahasiswa dapat mendiagnosa,janin
tunggal, mati, intruterin. Keadaan umum ibu dan janin cukup sesuai dengan
diagnosa dilakukan antisipasi masalah potensial dan menetapkan kebutuhan segera
bila ada komplikasi.
Intervensi dan implementasi disesuaikan dengan kondisi ibu, kemudian untuk
meninjau keefektifan asuhan yang telah diberikan mahasiswa melakukan evaluasi
yang juga sebagai koreksi untuk memberikan asuhan selanjutnya.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di negara maju angka prematuritas sesuai kriteria WHO adalah antara 5 10 %,
sedangkan di Indonesia belum jelas, karena masih banyak bayi lahir dengan berat badan yang
rendah atau BBLR, yaitu sekitar 14 17 % yang terbanyak disebabkan karena kurang gizi
pada masa kehamilannya sehingga lahir dismatur, yaitu berat badan lahir yang tidak sesuai
dengan usia kehamilan, kecil menurut kahamilan atau KMK (Small For Date Babies).
Angka angka di atas mencerminkan baik tidaknya sosial-ekonomi dan menentukan
pola demografi di suatu daerah atau negara.
Di Indonesia, jumlah anak di dalam satu keluarga dianjurkan untuk tidak melebihi dua
anak untuk menjamin kelangsungan hidup yang optimal, fisik, sosial dan mental bagi setiap
anak yang dilahirkan. Untuk itu secara nasionaldi Indonesia telah sampai pada gerakan
keluarga berencana yang mandiri.
Besarnya angka kelahiran disuatu negara atau daerah ditentukan oleh budaya, tingkat
pendidikan masyarakatnya, kemajuan memanfaatkan alat kontrasepsi, bagaiman sikap dan
keinginan masyarakat tentang besarnya sebuah keluarga dan adanya gerakan yang disporposi
Pemerintah maupun masyarakat sendiri untuk melaksanakan keluarga berancana dengan
tujuan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga di masa depan.
Pertumbuhan Janin Terhambat ( IUGR )

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Defenisi
IUGR (Intra uterine Growth Retardation) adalah berat badan bayi baru kurang dari
persentil 10 untuk usia kehamilan bayi, dalam artian bayi baru lahir berukuran lebih kecil
dengan usia kehamilannya. (Asuhan kebidan patologi)

2.2 Klasifikasi IUGR


Klasifikasi IUGR / Pertumbuhan janin terhambat(PJT) yaitu:
a. PJT tipe I atau dikenal juga sebagai tipe simetris. Terjadi pada kehamilan 0-20
minggu,terjadi gangguan potensi tubuh janin ntuk memperbanyak sel (hiperplasia), umumnya
disebabkan oleh kelainan kromosom atau infeksi janin.prognosisnya buruk.
b. PJT tipe II atau dikenal juga sebagai tipe asimetris.terjadi pada kehamilan 24-40 minggu,
yaitu gangguan potensi tubuh janin untuk memperbesar sel (hipertrpi), misalnya pada
hipertensi dalam kehamilan disertai insufisiensi plasenta. Prognosisnya baik.
c. PJT tipe III adalah kelainan diantara dua tipe diatas. Terjadi pada kehamilan 20-28
minggu,yaitu gangguan potensi tubuh kombinasi antara gangguan hiperplasia dan hipertropi
sel. Misalnya dapat terjadi pada malnutrisi ibu,kecanduan obat,atau keracunan.

2.3 Etiologi
Penyebab IUGR dibeadakan menjadi 3 faktor,yaitu:
a. Maternal/ibu seperti: Tekanan darah tinggi, riwayat Diabetes mellitus, penyakit jantung dan
pernafasan, malnutrisi dan anemia, pecandu alkohol, obat-obatan tertentu dan perokok.
b. Uterus dan plasenta : penurunan aliran darah dari uterus ke plasenta, plasenta abruption ,
plasenta previa, infark plasenta.
c. Factor janin antara ain : janin kembar, penyakit infeksi, kelainan kongenital, kelainan
kromosom, pajanan teratogen.
2.4 Manifestasi Klinis
Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT biasanya tampak kurus, pucat, dan berkulit
keriput. Tali pusat umumnya tampak rapuh dam layu dibanding pada bayi normal yang
tampak tebal dan kuat. PJT muncul sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan jaringan
atau sel. Hal ini terjadi saat janin tidak mendapatkan nutrisi dan oksigenasi yang cukup untuk
perkembangan dan pertumbuhan organ dan jaringan, atau karena infeksi. Meski pada
sejumlah janin, ukuran kecil untuk masa kehamilan bisa diakibatkan karena faktor genetik
(kedua orangtua kecil), kebanyakan kasus PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK)
dikarenakan karena faktor-faktor lain. Beberapa diantaranya sbb:
PJT dapat terjadi kapanpun dalam kehamilan. PJT yang muncul sangat dini sering
berhubungan dengan kelainan kromosom dan penyakit ibu. Sementara, PJT yang muncul
terlambat (>32 minggu) biasanya berhubungan dengan problem lain. Pada kasus PJT,
pertumbuhan seluruh tubuh dan organ janin menjadi terbatas. Ketika aliran darah ke plasenta
tidak cukup, janin akan menerima hanya sejumlah kecil oksigen, ini dapat berakibat denyut
jantung janin menjadi abnormal, dan janin berisiko tinggi mengalami kematian.

2.5 Faktor Resiko


1. Ibu yang secara konstitusional kecil
Wanita berpostur kecil biasanya memiliki bayi yang lebih kecil. Tidak jelas apakah fenomena
ibu kecil melahirkan bayi kecil bersifat alami atau karena lingkungan, tetapi lingkungan yang
disedia kan oleh ibu lebih penting dalam menentukan berat badan lair dari pada konstribusi
genetiknya. Pada wanita yang berat badannya rata-rata atau rendah, kurangnya peningkatan
berat selama kehamilan mungkin berkaitan dengan hambatan pertumbuhan janin. Akan
tetapi,jika ibu yang bersangkutan bertubuh besar dan sehat, pertambahan berat yang kurang
dari rata-rata tanpa penyakit ibu, kecil kemungkinan dengan hambatan pertumbuhan janin
yang signifikan.

2. Deprivasi sosial
Efek deprivasi sosial pada berat badan lahir berkaitan dengan efek faktor gaya hidup yang
menyertainya seperti merokok, penyalahgunaan alkohol dan zat lain, dan kurang gizi. Wanita
yang paling mengalami deprivasi sosial memiliki bayi paling kecil dan tidak adanya sumber
daya psikososial, meningkatkan resiko hambatan pertumbuhan pada janin.
3. Penyulit Medis pada Ibu
Penyakit vaskular kronis, terutama jika diperberat oleh adanya preeklamsia sering
menyebabkan hambatan pertumbuhan. Preeklamsia itu sendiri juga dapat menyebabkan
kegagalan pertumbuhan janin, terutama jika kehamilannya sebelum 37 minggu. Penyakit
ginjal dapat disertai oleh hambatan pertumbuhan janin. Janin dari wanita yang tinggal
didaerah ketinggian biasanya lebih ringan dibandingkan dengan mereka yang lahir dari ibu
yang tinggal didaerah yang lebih rendah. Janin dari wanita dengan penyakit jantung sianotik
sering mengalami hambatan pertumbuhan yang parah. Pada segian besar kasus, anemia tidak
menyebabkan hambatan pertumbuhan. Pengecualiannya antar lain adalah anemia sel sabit
atau anemia herediter lain yang berkaitan dengan penyakit serius pada ibu.
4. Kelainan plasenta dan tali pusat
Sulosio plasenta parsial kronis, infark luas, atau korioangioma cenderung menyebabkan
hambatan pertumbuhan janin. Insersi marginal tali pusat dan terutama insersi velamentosa
lebih besar kemungkinannya disertai oleh hambatan pertumbuhan janin.
5. Janin Multipel
Kehamilan dengan dua atau lebih janin lebih besar kemungkinannya mengalami penyulit
hambatan pertumbuhan satu atau lebih janin dibandingkan dengan kehamilan tunggal.
Memang, hambatan pertumbuahn dilaporkan terjadi pada 10 sampai 15 persen janin kembar.
6. Kehamilan ekstrauterus
Janin yang tumbuh diluar uterus biasanya mengalami hambatan pertumbuhan. Malformasi
uterus ibu juga diaporkan berkaitan dengan gangguan pertumbuhan janin.

2.6 Mortalitas dan Morbiditas


Pertumbuhan janin terhambat berkaitan dengan mortalitas dan morbiditas. Kematian
janin, asfiksia lahir,aspirasi mekonium, serta hipoglikemia janin meningkat, demikian juga
prevalensi kelainan perkembangan saraf. Hal ini berlaku baik bagi bayi aterm maupun
prematur.
Pertumbuhan dan perkembangan pascanatal pada janin dengan hambatan
pertumbuhan bergantung pada kausa hambatan, gizi selama masa bayi,dan lingkungan sosial.
Bayi dengan hambatan pertumbuhan akibat faktor konstitusional ibu, kromosom,virus atau
kongenital akan tetap kecil seumur hidupnya. Merka yang mengalami hambatan pertumbuhan
in utero akibat insufisiensi plasenta sering dapat tumbuh mengejar ketertinggalannya setelah
lahir mendekati potensi pertumbuhan herediternya jika berada di lingkungan yang optimal.
Demikian juga, prognosis perkembangan neurologis pada bayi dengan hambatan
pertumbuhan dipengaruhi oleh lingkungan pascanatal. Bayi demikian yang lahir dari keluarga
dengan tingkat sosiekonomi tinggi lebih jarang mengalami masalah perkembangan selama
tindak lanjut.

2.7 Diagnosis
1. Faktor Ibu
Ibu hamil dengan penyakit hipertensi, penyakit ginjal dan kardiopulmonal dan pada
kehamilan ganda.
2. Tinggi Fundus Uteri
cara ini sangat mudah, murah, aman, dan baik untuk diagnosa pada kehamilan kecil.
Caranya dengan menggunakan pita pengukur yang di letakkan dari simpisis pubis sampai
bagian teratas fundus uteri. Bila pada pengukuran di dapat panjang fundus uteri 2 (dua) atau 3
(tiga) sentimeter di bawah ukuran normal untuk masa kehamilan itu maka kita dapat
mencurigai bahwa janin tersebut mengalami hambatan pertumbuhan.
3. USG Fetomaternal
Pada USG yang diukur adalah diameter biparietal atau cephalometry angka
kebenarannya mencapai 43-100%. Bila pada USG ditemukan cephalometry yang tidak
normal maka dapat kita sebut sebagai asimetris PJT. Selain itu dengan lingkar perut kita dapat
mendeteksi apakah ada pembesaran organ intra abdomen atau tidak, khususnya pembesaran
hati.
Tetapi yang terpenting pada USG ini adalah perbandingan antara ukuran lingkar
kepala dengan lingkar perut (HC/AC) untuk mendeteksi adanya asimetris PJT.
4. Doppler Velocimetry
Dengan menggunakan Doppler kita dapat mengetahui adanya bunyi end-diastolik
yang tidak normal pada arteri umbilicalis, ini menandakan bahwa adanya PJT.

2.8 Penatalaksanaan
Langkah pertama dalam menangani PJT adalah mengenali pasien-pasien yang
mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin kecil. Langkah kedua adalah membedakan
janin PJT atau malnutrisi dengan janin yang kecil tetapi sehat. Langkah ketiga adalah
menciptakan metode adekuat untuk pengawasan janin pada pasien-pasien PJT dan melakukan
persalinan di bawah kondisi optimal.
Untuk mengenali pasien-pasien dengan resiko tinggi untuk mengandung janin kecil,
diperlukan riwayat obstetrik yang terinci seperti hipertensi kronik, penyakit ginjal ibu dan
riwayat mengandung bayi kecil pada kehamilan sebelumnya. Selain itu diperlukan
pemeriksaan USG. Pada USG harus dilakukan taksiran usia gestasi untuk menegakkan
taksiran usia gestasi secara klinis. Kemudian ukuran-ukuran yang didapatkan pada
pemeriksaan tersebut disesuaikan dengan usia gestasinya.Pertumbuhan janin yang suboptimal
menunjukkan bahwa pasien tersebut mengandung janin PJT.
Tatalaksana kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi yang paling efektif
sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan
meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :
1. PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah segera dilahirkan

2. PJT jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada janin ini, dan
bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan cairan ketuban)
atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah janin dianjurkan

a. Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan kromosom
serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi
yang baik. Tirah baring dengan posisi miring ke kiri, Perbaiki nutrisi dengan menambah 300
kal perhari, Ibu dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol,
Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil dapat membantu dalam beberapa kasus IUGR
Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah sakit.
Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta
pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4 minggu
b. Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya dilahirkan, hanya
terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil
tidak adekuat maka nutrisi harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat,
penggunaan narkotik dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan
d. Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur.
Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk mencegah komplikasi
setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan apabila terjadi distress janin serta
perawatan intensif neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan.
Kemungkinan kejadian distress janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena
umumnya PJT banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan
proses melahirkan.
2.9 Prognosis
Pada kasus-kasus PJT yang sangat parah dapat berakibat janin lahir mati (stillbirth)
atau jika bertahan hidup dapat memiliki efek buruk jangka panjang dalam masa kanak-kanak
nantinya. Kasus-kasus PJT dapat muncul, sekalipun Sang ibu dalam kondisi sehat, meskipun,
faktor-faktor kekurangan nutrisi dan perokok adalah yang paling sering. Menghindari cara
hidup berisiko tinggi, makan makanan bergizi, dan lakukan kontrol kehamilan secara teratur
dapat menekan risiko munculnya PJT. Perkiraan saat ini mengindikasikan bahwa sekitar 65%
wanita pada negara sedang berkembang paling sedikit memiliki kontrol 1 kali selama
kehamilan pada dokter, bidan, atau perawat.

B. KONSEP DASAR MANAJEMEN KEBIDANAN

Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah. Proses ini


merupakan sebuah metode dengan pengorganisasian pemikiran dan tindakan-tindakan dengan
urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun bagi tenaga kesehatan. Proses
ini menguraikan bagaimana prilaku yang diharapkan dan pemberian asuhan. Proses
manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga prilaku
pada setiap langkah agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat tercapai. Dengan
demian proses manajemen harus mengikuti urutan yang logis dan memberikan pengertian
yang menyatukan pengetahuan, hasil temuan, dan penilaian yang terpisah- pisah menjadi satu
kesatuan yang berfokus pada manajemen. (Varney, 1997).
Proses manajemen menurut Varney (1997) terdiri dari 7 langkah yang berurutan
dimana setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan
data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu
kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam situasi apapun.
Langkah-langkah penerapan manajemen kebidanan dilakukan secara
beerkesinambungan, yaitu :
1. Mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengidentifikasi pasien secara lengkap.

2. Mengantisipasi masalah atau diagnosa berdasarkan interpretasi yang benar dari data tersebut.

3. Mengantisipasi masalah potensial atau diagnosa lainnnya yang mungkin terjadi karena
masalh atau diagnosa yang telah diidentifikasi.

4. Mengevaluasi perlunya intervensi segera oleh bidan atau dokter.

5. Mengembangkan rencana asuhan yang menyeluruh.


6. Mengembangkan rencana asuhan tersebut secara efisien dan aman.

7. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yangg telah diberikan.

Langkah-langkah dalam penatalaksanaan pada dasarnya jelas, akan tetapi dalam


pembahasan singkat mengenai langkah-langkah tersebut mungkin akan lebih memperjelas
proses pemikiran dalam proses klinis yang beriontasi pada langkah ini. Penulis membatasi
hanya pada kasus pertumbuhan janin terhambat.
Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Langkah I : Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data, mengelompokan
data, dan mengnalisa data sehingga dapat diketahui masalh dan keadaan klien. Pada langkah
pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan
dengan kondisi klien.
Data-data yang dikumpulkan meliputi :
1. Data Subjektif

a. Biodata atau identitas klien dan suami.

Yang perlu dikaji : nama, umur, agama, suku, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
Maksud pertanyaan ini adalah untuk mengidentifikasi (mengenal) klien.
b. Keluhan utama

Merupakan alasan utama klien untuk datang ke BPS atau RS dan apa-apa saja yang dirasakan
klien.
Kemungkinan yang ditemui : biasanya akan terjadi kenaikan berat badan yang tidak sesuai
dengan normal selama hamil dan juga bisa penurunan berat badan, kemungkinan klien
mengalami kekurangan nutrisi ataupun anemia yang tergolong kongenital, serta gerakan janin
yang berkurang.
c. Riwayat perkawinan

Kemungkinan diketahui status perkawinan, umur hamil, berapa lama baru hamil.
d. Riwayat Menstruasi

Yang ditanyakan adalah HPHT untuk menentukan tafsiran persalinan, siklus,, lama,
banyaknya, bau, warna dan apakah nyeri waktu haid, serta kapan mendapatkan haid pertama
kalinya.
e. Riwayat obsetri yang lalu

Kehamilan yang lalu, kemungkinan klien mengalami abortus, dan kemungkinan ibu
mengalami preeklamsia serta penyakit lainnya seperti diabetes militus dan penyakit jantung.
Persalinan yang lalu kemungkinan ibu mengalami kelahiran premature dan berat badan lahir
bayi yang rendah serta melahirkan sebelum waktunya.
Nifas yang lalu kemungkinan keaadaan lochea dan laktasi berjalan lancar.
f. Riwayat kehamilan sekarang

Kemungkinan terjadinya kelainan plasenta dan tali pusat, janin kembar, kehamilan ektopik,
klien yang diperberat dengan eklamsia, infeksi janin dan penyakit lainnya.

g. Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan yang lalu : kemungkinan klien memiliki penyakit jantung Cianostic dan
penyakit diabetes militus, serta anemia.
Riwayat kesehatan sekarang : kemungkinan pasien sedang menderita penyakit DM, berat
badan kurang dari berat badan normal ibu hamil, malnutrisi anemia dan konsumsi obat-
obatan.

h. Riwayat kesehatan keluarga

Kemungkinan ada keluarga yang menderita penyakit keturunan, riwayat kehamilan prematur
atau riwayat. persalinan pre-term, dan riwayat keturunan kembar.
i. Riwayat sosial, ekonomi, dan budaya

Kemungkinan hubungan klien dengan suami, keluarga, dan masyarakat baik, pendidikan
klien yang rendah dapat mempengaruhi kehamilan serta ekonomi yang rendah, adanya
kebudayaan klien juga mempengaruhi kesehatan kehamilan.
j. Riwayat spiritual

Kemungkinan klien melakukan ibadah agama dan kepercayaan dengan baik.


k. Riwayat psikologis

Kemungkinan adanya tanggapan keluarga ataupun suami yang kurang baik dengn kehamilan
ini. Atau kemungkinan klien tidak mengharapkan kehamilan ini dan terjadi masalah karna
kehamilan ini.
l. Kebutuhan dasar
Kemungkinan pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi pemenuhan nutrisi, proses
eliminasi, aktivitas sehari-hari, istirahat, personal hygiene dan kebiasaan-kebiasaan yang
dapat mempengaruhi kesehatan klien saat hamil.

2. Data Objektif

Data dikumpulkan melalui pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus.


a. Pemeriksaan umum

Secara teoritis kemungkinan adanya keadaan umum klien yang kurang baik, yang mencakup
kesadaran, tekanan darah, nadi, nafas, suhu, tinggi badan, berat badan dan keadaan umum,
biasanya akan terjadi kesenjangan pada berat badan ibu yang tidak normar ataupun
peningkatan berat badanya yang tidak ade kuat, ini dapat dinyakan kerna salah satu
kemungkinan yang menyebab kan pertumbuhan janin terhambat adalah malnutris, dan
kemungkinan adanya peningkatan tekanan darah karna hipertensi kronik adalah salah satu
penyakit yang juga dapat mengakibatkan pertumbuha janin terhambat.
b. Pemeriksaan khusus

1. Secara Inspeksi

yaitu pemeriksaan pandang yang dimulai dari kepala sampai kaki.


Yang dinilai adalah kemungkinan bentuk tubuh yang normal, kebersihan kulit, rambut, muka,
conjuktiva pucat atau tidak, skelera, hidung, mulut apakah ada caries dentis, stomatitis,
karang gigi, leher apakah ada pembesaran kalenjer gondok, payudara apakah simetris kiri dan
kanan, keadaan puting susu menonjol atau tidak, perut membesar sesuai usia kehamilan atau
tidak, kemungkinan biasanya pada pertumbuhan janin terhambat pembesaran perut tidak
sesuai dengan kehamilan, apakah ada bekas operasi atau tidak, oedema atau pengeluaran dari
vagina. Anus apakah ada haemoroid, ektremitas atas dan bawah apakah ada kelinan.
2. Secara palpasi

Dengan menggunakan leopold, kemungkinan yang akan ditemukan adalah :


Leopold I : tinggi fundus dalam cm, pada fundus teraba bagian kepala, bokong atau yang lainnya.
Kemungkinan tinggi fundus tidak sesuia dengan usia kehamilan dan kemungkinan akan bisa
teraba krepitasi pada tulang kepala janin.
Leopold II : pada dinding perut klien sebelah kiri atau kanan kemungkinan teraba punggung, anggota
gerak atau bokong, kepala.
Leopold III : pada bagian terbawah kemungkinan teraba kepala, bokong ataupun yang lainnya.
Leopold IV : kemungkinan bagian terbawah janin telah memasuki pintu atas panggul dan seberapa
masuknya dihitung dengan perlimaan.
3. Secara auskultasi

Kemungkinan dapat terdengar bunyi jantung janin, frekuensinya teratur atau tidak.
4. Secara perkusi

Kemungkinan refleks patella kiri dan kana positif.


5. Pemeriksaan ukuran panggul

Kemungkinan ukuran panggul normal, atau bisa juga tidak normal.


6. Pemeriksaan tafsiran berat badan janin

Kemungkinan berat badan janin tidak sesuai dengan usia kehamilan, dengan rumus :
(TFU dalam cm 11,atau 12,atau 13 ) x 155
Kemudian ditambah 375 untuk lingkaran abdomen yang lebih dari 100 cm.

3. Pemeriksaan penunjang

A. laboratorium

Darah : hb, haematokrit, golongan darah, kadar estriol., kemungkinan hb dibawah normal
Urine : kemungkinan ditemui glukosa urin jika klien menderita penyakit diabetes militus.
B. USG

Kemungkinan pada USG ditemukan cephalometry yang tidak normal maka dapat kita sebut
sebagai asimetris PJT. Selain itu dengan lingkar perut kita dapat mendeteksi apakah ada
pembesaran organ intra abdomen atau tidak, khususnya pembesaran hati.
Tetapi yang terpenting pada USG ini adalah perbandingan antara ukuran lingkar kepala
dengan lingkar perut (HC/AC) untuk mendeteksi adanya asimetris PJT.

Langkah II : Interpretasi Data dasar


Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa
dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan di interpretasikan sehingga ditemukan
masalah atau diagnosa yang spesifik. Kata masalah atau diagnosa keduanya digunakan karena
beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa ttapi membutuhkan penanganan
yang dituangkan dalam sebuah rebcana asuhan terhadap klien. Masalah ini sering menyertai
diagnosa. Diagnosa yang di tegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan harus
memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan, yaitu :

1. Diakui dan telah disahkan oleh profesi.

2. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan.

3. Memilki ciri khas kebidanan.

4. Dapat diselesaikan dengan pendekatan menajemen kebidanan.

5. Didukung oleh klinikal judgedment dalam lingkup praktek kebidanan.

Badasarkan kasus ini, maka kemungkinan interpretasi data yang timbul adalah :
a. Diagnosa kebidanan

1. Kehamilan dengan IUGR, G , P . A, H.

Dasar : HPHT, TP, gerakan janin berkurang dari biasanya, TFU tidak sesuai dengan usia
kehamilan, berat badan janin dibawah normal, hasil USG ditemukan asimetris PJT.
b. Masalah

Kemungkinan masalah yang timbul adalah kecemasan


Dasar : kehamilan cukup bulan tetapi berat badan tidak sesuai dengan usia kehamila.
c. Kebutuhan

1. Dukungan psikologi

Dasar : kehamilan cukup bulan tapi berat badan tidak sesuai dengan usia kehamilan.

Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial


Pada langkah ini kita mengdentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain
berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini
membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil mengamati klien,
bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa / masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Kemungkinan diagnosa atau masalah potensial yang timbul adalah :
a. Janin lahir mati ( IUFD )
Dasar : Karna kelainan plasenta dan lilitan talipusat serta mal nutrisi pada ibu.
b. Partus Prematur
Dasar : Kehamilan belum cukup bulan
c. BBLR
Dasar : Kehamilan belum aterm dan berat badan janin kurang dari normal.
Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk
dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain yang sesuai dengan
kondisi klien. Kemungkinan tindakan segera pada kasus kehamilan :
1. Kematian janin
a. Segera dilahirkan
b. Kolaborasi dengan tim medis lainnya untuk mengakiri kehamilan.

2. Partus Prematur
tindakan yang dilakukan jika terjadi prematur :
a. Segera dilahirkan
b. Kolaborasi dengan tim medis lainnya
3. BBLR
a. Lakukan perawatan khusus
b. Jaga hipotermi
c. Pantau keadaan bayi.

Langkah V :Merencanakan Asuhan yang menyeluruh


Suatu rencana asuhan harus disetujui oleh kedua belah pihak baik bidan maupun klien
agar perencanaan dapat dilakukan dengan efektif. Semua keputusan harus berrsifat rasional
dan falid bedasarkan teori serta asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan tidak
dilakukan. Perencanaan tindakan yang mungkin dilakukan antara lain :
a. Dukungan psikologis
b. Rawat Klien yang malnutrisi
c. Kontrol Vital Sign
d. kontrol dengan USG
e. Dengarkan djj bayi
f. Kolaborasi dengan tenaga medis lain.
C. Data Fokus
1. Nama istri :
Umur
2. Alasan Masuk atau keluhan :
Ibu yang mengalami IUGR/PJT akan mengeluh kurang gerakan janin dan berat badan ibu
yang menurun serta ibu merasa 5 L.
3. Pemeriksaan Umum : TTV dan berat badan
4. Pemeriksaan Khusus : TFU
5. Pemeriksaan Penunjang : HB dan USG

D. Analisa secara teoritis

Bedasarkan data focus maka dapat ditegakan diagnose IUGR dengan dasar :
Palpasi : TFU tidak sesuai dengan usia kehamilan
Auskultasi : sulit menentukan puntum maximum
Pada pemeriksaan USG didapatkan hasil asimetris PJT.
Pada pemeriksaan HB, didapatkan kadar HB ibu dibawah normal.

REFERENSI
Leveno, J Kenneth, dkk. 2009. Obsetri Williams Edisi 21. Jakarta : EGC
Rukiyah, yeyeh ai. 2011. Asuhan Kebidanan 4. Jakarta: Trans Info Media
Manuaba, dkk. 2007. Pengantar Kuliah Obsetri. Jakarta: EGC