Anda di halaman 1dari 6

Audit manajemen adalah investigasi dari suatu organisasi dalam semua

aspek kegiatan manajemen dari yang paling tinggi sampai dengan ke bawah
dan pembuatan laporan audit mengenai efektifitasnya atau dari segi
profitabilitas dan efisiensi kegiatan bisnisnya.

Sedangkan pengertian sederhana audit operasional adalah uraian aktifitas


perusahaan yang sistematis dalam hubungannya dengan tujuan untuk
melihat, mengidentifikasikan peluang perbaikan, atau mengembangkan
rekomendasi untuk perbaikan.

Audit manajemen menurut Holmes dan Overmyer (1975): Manajemen audit


mencakup penelitian dan evaluasi atas semua fungsi dari Manajemen, untuk
memastikan bahwa pelaksanaan operasi perusahaan telah dijalankan
dengan cara yang efektif dan efisien.

Audit manajemen menurut American Institute of Certified Public


Accountant /AICPA: suatu penelaahan yang sistematis terhadap aktivitas
suatu organisasi, atau suatu segmen tertentu daripadanya, dalam
hubungannya dengan tujuan tertentu, dengan maksud untuk :
Menilai kegiatan
Mengidentifikasikan berbagai kesempatan untuk perbaikan
Mengembangkan rekomendasi bagi perbaikan atau tindakan lebih lanjut.

karakteristik pemeriksaan manajemen yaitu :


1. Memberikan informasi tentang efektifitas , efisiensi dan ekonomisasi
operasional perusahaan kepada manajemen.
2. Penilaian efektivitas, efisiensi dan ekonomisasi didasarkan pada standar-
standar tertentu.
3. Audit diarahkan kepada operasional sebagian atau seluruh struktur
organisasi.
4. Audit ini dapat dilakukan oleh akuntan maupun bukan akuntan.
5. Hasil audit manajemen berupa rekomendasi perbaikan kepada
manajemen.

Kebutuhan Akan Audit Manajemen


1. Penurunan laba perusahaan secara kontinu dan signifikan. Audit
manajemen berusaha mencari penyebab dan pemecahannya misalnya cost
yang terlalu tinggi atau harga yang harus ditingkatkan.
2. Turnover Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi. Hal ini
mengindikasikan inefisiensi dalam pengelolaan SDM, mungkin dalam hal
kompensasi atau situasi kerja.
3. Rasa kebutuhan yang tinggi dan mendesak dari manajemen untuk
memperoleh keyakinan terhadap efektivitas, efisiensi dan ekonomisasi
pengelolaan perusahaan termasuk akurasi laporan yang diterima.
4. Performansi atau kinerja sebagian atau seluruh departemen di bawah
standar. Standar yang dimaksud bisa berupa peraturan perusahaan, standar
perusahaan, standar dan praktek industri (ISO 9000),prinsip organisasi dan
manajemen, serta prinsip praktik yang sehat.
5. Acquicition Audit yaitu saat akan mengakui sisiperusahaan lain.
6. Masalah operasional khusus lainnya yang sulit dipecahkan oleh
manajemen.

Pelaksanaan audit manajemen dibagi 5 tahap yaitu :1. Mendefinisikan Ruang Lingkup
AuditMelakukan musyawarah dan perjanjian antara pihakmanajemen dengan auditor tentang
tujuan dan ruanglingkup audit manajemen.2. Perencanaan, Persiapan dan PengorganisasianTim
audit manajemen akan menyusun suatuperencanaan pelaksanaan audit untuk dapat
dipahamiseluruh anggota tim audit. Perencanaan harus memuattarget yang hendak dicapai setiap
tahapan atauberdasarkan periode tertentu. Tim audit mulaimempersiapkan dokumen-dokumen
penunjang.3. Pengumpulan dan pemuktahiran Data RelevanMemulai usaha pengumpulan data
yang relevan denganaudit yang sedang dilaksanakan. Data tersebutselanjutnya didokumentasikan
dan dimuktahiran setiapada data baru (
Novum)
4. Analisa dan RisetMenganalisa dan mengadakan penelitian serta evaluasiatas data relevan yang
telah tersedia. Menganalisadalam arti membandingkan kriteria yang ditetapkandengan kondisi
awal.5. PelaporanPelaporan audit adalah hasil perbandingan antar kriteriadengan aktual. Laporan
audit manajemen merupakanringkasan kegiatan audit yang dilaksanakan dalambentuk
rekomendasi perbaikan operasional organisasi

Jenis-jenis audit manajemen:


audit kepatuhan (compliance audit), auditor berusaha mendapatkan dan mengevaluasi
informasi untuk menentukan apakah pengelolaan keuangan, operasi, atau aktivitas yang lain dari
suatu entitas telah sesuai dengan kriteria, kebijakan, atau regulasi yang mendasarinya.
Dalam audit internal (internal audit), auditor melakukan penilaian secara independen berbagai
aktivitas dalam memberikan jasanya kepada perusahaan.
Audit operasional (operational auditing), memfokuskan penilaiannya pada efisiensi dan
efektivitas operasi suatu entitas.

Tujuan Audit Manajemen.


Audit manajemen bertujuan untuk mengidentifikasi kegiatan, program, dan aktivitas
yang masih memerlukan perbaikan, sehingga dengan rekomendasi yang diberikan
nantinya dapat dicapai perbaikan atas pengelolaan berbagai program dan aktivitas
pada perusahaan tersebut.

Pendekatan yang digunakan dalam audit manajemen adalah: menilai efesiensi,


efektivitas dan keekonomisan fungsi perusahaan. Fungsi perusahaan itu antara lain
terdiri dari penjualan dan pemasaran produksi, pergudangan dan distribusi, SDM,
akuntansi dan keuangan
Efektif adalah pencapaian tujuan / target dalam batas waktu yang sudah ditetapkan
tanpa memperdulikan biaya yang dikeluarkan.
Efesien: pengeluaran dengan biaya (input) yang sama bisa dicapai hasil(output)
yang lebih besar
Ekonomis: hasil(output) diperoleh dengan biaya yang lebih kecil/murah dengan
mutu yang sama

PRINSIP-PRINSIP ETIKA Prinsip etika seorang auditor terdiri dari enam yaitu

pertama rasa tanggung jawab (responsibility) mereka harus peka serta memiliki pertimbangan
moral atas seluruh aktivitas yang mereka lakukan.

Kedua kepentingan publik, auditor harus menerima kewajiban untuk bertindak sedemikian rupa
agar dapat melayani kepentingan orang banyak, menghargai kepercayaan publik, serta
menunjukan komitmennya pada profesionalisme.

Ketiga Integritas, yaitumempertahankan dan memperluas keyakinan publik.

Keempat Obyektivitas dan Indepensi, auditor harus mempertahankan obyektivitas dan terbebas
dari konflik antar kepentingan dan harus berada dalam posisi yang independen.

Kelima Due care, seorang auditor harus selalu memperhatikan standar tekhnik dan etika profesi
dengan meningkatkan kompetensi dan kualitas jasa, serta melaksanakan tanggung jawab dengan
kemampuan terbaiknya.

Keenam Lingkup dan sifat jasa, auditor yang berpraktek bagi publik harus memperhatikan
prinsip-prinsip pada kode etik profesi dalam menentukan lingkup dan sifat jasa yang
disediakannya.

Audit sumber daya manusia (SDM) merupakan penilaian dan analisis komprehensif
terhadap program-program audit. Audit SDM juga diartikan sebagai pemeriksaan
kualitas kegiatan Sumber Daya Manusia secara menyeluruh dalam suatu
departemen, divisi atau perusahaan, dalam arti mengevaluasi kegiatan-kegiatan
SDM dalam suatu perusahaan dengan menitikberatkan pada peningkatan atau
perbaikan (Rivai, 2004: 548).

Tujuan audit SDM:

1. Menilai efektifitas dari fungsi SDM

2. Menilai apakah program / aktivitas SDM telah berjalan ekonomis, efektif, dan efisien

3. Memastikan ketaatan berbagai program/aktivitas SDM terhadap ketentuan hukum,


peraturan, dan kebijakan yang berlaku di organisasi.
4. Mengidentifikasi berbagai hal yang masih dapat ditingkatkan terhadap aktivitas SDM
dalam menunjang kontribusinya terhadap organisasi.

5. Merumuskan beberapa langkah perbaikan yang tepat untuk meningkatkan ekonomisasi,


efisien, dan efektivitas berbagai program/aktivitas SDM.

IBK.Bayangkara dalam bukunya yang berjudul Audit Manajemen Prosedur dan Implementasi

(2008:9) yang menyebutkan lima tahapan audit manajemen, yaitu :

1. Audit Pendahuluan.
Audit pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan informasi latar belakang terhadap objek audit

yang dilakukan. Di samping itu, pada audit ini juga dilakukan penelaahan terhadap berbagai

peraturan, ketentuan dan kebijakan berkaitan dengan aktivitas yang diaudit, serta menganalisis

berbagai informasi yang telah diperoleh untuk mengindentifikasi hal-hal yang potensial

mengandung kelemahan pada perusahaan yang diaudit. Auditor mungkin menggunakan daftar

pertanyaan, flow chart, tanya jawab, laporan manajemen, dan observasi dalam pelaksanaan audit

pendahuluan. Daftar pertanyaan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan

masalah yang mempengaruhi efektivitas, efisiensi dan performa operasi. Auditor kemudian akan

menilai jawaban yang diperoleh, kemudian auditor mengumpulkan bukti-bukti untuk

memperkuat jawaban yang diterima.

2. Review dan Pengujian Pengendalian Manajemen.


Pada tahap ini auditor melakukan review dan pengujian terhadap pengendalian manajemen objek

audit, dengan tujuan untuk menilai efektivitas pengendalian manajemen dalam mendukung

pencapaian tujuan perusahaan. Dari hasil pengujian ini, auditor dapat lebih memahami

pengendalian yang berlaku pada objek audit sehingga dengan lebih mudah dapat diketahui

potensi-potensi terjadinya kelemahan pada berbagai aktivitas yang dilakukan. Jika dihubungkan

dengan tujuan audit sementara yang telah dibuat pada audit pendahuluan, hasil pengujian

pengendalian manajemen ini dapat mendukung tujuan audit sementara tersebut menjadi tujuan
audit sesungguhnya, atau mungkin ada beberapa tujuan audit sementara yang gugur, karena tidak

cukup (sulit memperoleh) bukti-bukti yang mendukung tujuan audit tersebut.

3. Audit Terperinci.
Pada tahap ini auditor melakukan pengumpulan bukti yang cukup dan kompeten untuk

mendukung tujuan audit yang telah dilakukan. Pada tahap ini juga dilakukan pengembangan

temuan untuk mencari keterkaitan antara satu temuan dengan temuan yang lain dalam menguji

permasalahan yang berkaitan dengan tujuan audit. Temuan yang cukup, relevan, dan kompeten

dalam tahap ini disajikan dalam suatu kertas kerja audit (KKA) untuk mendukung kesimpulan

audit yang dibuat dan rekomendasi yang diberikan.Kertas kerja dapat diorganisir berdasarkan

sub unit dari usaha yang diaudit (seperti berdasarkan cabang, bagian), urutan prosedur audit

dilaksanakan (seperti audit pendahuluan, bukti) atau setiap sistem logis yang mempertinggi

pemahaman auditor terhadap pekerjaan yang dilakukan. Tujuan mengumpulkan buktibukti

adalah untuk mendapatkan dasar faktual dalam menilai kriteria performa yang sebelumnya

diidentifikasi.

4. Pelaporan.
Tahapan ini bertujuan untuk mengomunikasikan hasil audit termasuk rekomendasi yang

diberikan kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Hal ini penting untuk meyakinkan pihak

manajemen tentang keabsahan hasil audit dan mendorong pihak-pihak yang berwenang untuk

melakukan perbaikan terhadap berbagai kelemahan yang ditemukan. Laporan disajikan dalam

bentuk komprehensif (menyajikan temuan-temuan penting hasil audit untuk mendukung

kesimpulan audit dan rekomendasi). Rekomendasi harus disajikan dalam bahasa operasional dan

mudah dimengerti serta menarik untuk ditindaklanjuti. Walaupun laporan formal dapat dianggap

sebagai langkah terakhir dalam manajemen audit. Laporan informal ini harus dibuat selama

audit. Sebagai contoh, apabila auditor menemukan suatu ineffisiensi yang serius selama survei
pendahuluan. Ia harus menyelidiki, menilai dan melaporkan segera daripada menunggu audit

selesai.

5. Tindak lanjut.
Sebagai tahap akhir dari audit manajemen, tindak lanjut bertujuan untuk mendorong pihak-pihak

yang berwenang untuk melaksanakan tindak lanjut sesuai dengan rekomendasi yang diberikan.

Auditor tidak memiliki wewenang untuk mengharuskan tindak lanjut sesuai dengan rekomendasi

yang diberikan. Oleh karena itu, rekomendasi yang disajikan dalam laporan audit seharusnya

sudah merupakan hasil diskusi dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan tindakan

perbaikan tersebut. Suatu rekomendasi yang tidak disepakati oleh objek audit akan sangat

berpengaruh pada pelaksanaan tindak lanjutnya. Hasil audit menjadi kurang bermakna apabila

rekomendasi yang diberikan tidak ditindaklanjuti oleh pihak yang diaudit.