Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH KESEHATAN LINGKUNGAN & TANGGAP DARURAT

PENGENDALIAN VEKTOR

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Lingkungan &
Tanggap Darurat

Dosen Pengampu Erniyasih, SKM, MKM & Triana Srisantyorini, SKM, M.Kes

Disusun oleh:

Kelompok 11

Isma Ayadini (2014710043)

Selfi Nuryanti (2014710053)

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan izin dan rahmat-Nya kami dapat

menyelesaikan makalah yang berjudul Pengendalian Vektor ini. Sholawat dan salam

semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah

menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna dan

menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta. kami berharap makalah ini dapat

bermanfaat untuk pembaca pada umumnya dan untuk saya pada khususnya.

Terima kasih kepada ibu Erniyasih, SKM, MKM & Triana Srisantyorini, SKM,

M.Kes sebagai dosen pengampu mata kuliah Kesehatan Lingkungan & Tanggap Darurat

yang telah membimbing dan memberikan ilmunya kepada kami sehingga dalam penulisan

makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. kami mengharapkan saran dan kritik

yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini. Atas perhatian pembaca,

saya mengucapkan terima kasih

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Jakarta, 4 April 2017

Isma ayadini & Selfi Nuryanti

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................4

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................................4


1.2 Rumusan Masalah................................................................................................................5
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................................5
1.4 Manfaat Penulisan................................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................6

2.1 Definisi Pengendalian Vektor..............................................................................................6

2.2 Jenis jenis Vektor.................................................................................................................7

2.2.1 Nyamuk........................................................................................................................8

2.2.2 Lalat............................................................................................................................15

2.2.3 Tikus...........................................................................................................................16

2.2.4 Kecoa..........................................................................................................................23

2.3 Pengendalian Vektor..........................................................................................................24

2.3.1 Pengendalian Vektor Secara Alami............................................................................24

2.3.2 Pengendalian Vektor Secara Buatan...........................................................................25

BAB III PENUTUP................................................................................................................34

3.1 Kesimpulan.........................................................................................................................34

3.2 Saran...................................................................................................................................34

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................36

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki lebih dari

17.480 pulau, terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan di antara dua

lautan (lautan India dan Lautan pasifik). Indonesia berada pada pertemuan tiga

lempeng dunia yaitu lempeng Indo-Australia eurasia dan Pasifik yang berpotensi

menimbulkan gempa bumi apabila lempeng lempeng tersebut bertumbukan. Selain

itu, indonesia juga mempunyai 127 gunung api aktif, 76 diantaranya berbahaya,

bencana alam lainnya seringkali melanda Indonesia adalah tsunami, angin topan,

banjir, tanah longsor, kekeringan serta bencana akibat ulah manusia seperti kegagalan

teknologi, konflik sosial, kebakaran hutan dan lahan. Dampak kejadian bencana

tersebut secara keseluruhan mengakibatkan kerugian harta benda dan korban jiwa

yang tidak sedikit. Hampir seluruh provinsi di Indonesia merupakan daerah rawan

bencana (Rani, 2012).

Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan

mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang di sebabkan oleh faktor

alam dan faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya

korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Bencana yang di akibatkan oleh faktor alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,

gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor, sedangkan

bencana yang diakibatkan oleh faktor non alam antara lain berupa gagal teknologi,

gagal modernisasi, epidemik dan wabah penyakit (Rani, 2012).

Masalah umum yang dihadapi di bidang kesehatan adalah jumlah penduduk

yang besar, dengan angka pertumbuhan yang cukup tinggi, serta penyebaran

4
penduduk yang belum merata, di samping tingkat pendidikan dan sosial ekonomi

yang masih rendah, Keadaan ini semua dapat menyebabkan terciptanya lingkungan

fisik dan biologik yang tidak memadai, sehingga memungkinkan berkembang biaknya

vektor penyakit (Myrnawati, 2004).

Pelaksanaan pengendalian vektor yang perlu mendapatkan perhatian di lokasi

pengungsi adalah pengelolaan lingkungan, pengendalian dengan insektisida, serta

pengawasan makanan dan minuman (Kemenkes, 2011)

Pengendalian vektor penyakit menjadi prioritas dalam upaya pengendalian

penyakit karena potensi untuk menularkan penyakit sangat besar seperti lalat,

nyamuk, tikus dan serangga lainnya (Kemenkes, 2011).

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apakah pengertian pengendalian vektor ?

2. Apa saja jenis jenis vektor ?

3. Bagaimana pengendalian vektor ketika terjadi bencana ?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui definisi pengendalian vektor

2. Untuk mengetahui jenis jenis vektor

3. Untuk mengetahui pengendalian vektor ketika terjadi bencana

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna dalam meningkatkan kualitas
pengetahuan dan informasi mengenai pengendalian vektor ketika terjadi bencana bagi
penulis dan pembaca khususnya bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum yang
membaca.
1.5 METODOLOGI PENULISAN
Dalam penulisan makalah ini menggunakan metode pustaka yaitu mencari informasi
yang behubungan mengenai pengendalian vektor dari berbagai sumber seperti buku,
skripsi, jurnal, artikel dan sumber lainnya di internet.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI PENGENDALIAN VEKTOR

vektor adalah arthropoda atau binatang tidak bertulang belakang (invertebrata)

lain yang menimbulkan penyakit infeksi pada manusia, dengan jalan memindahkan bibit

penyakit yang dibawanya pada manusia melalui gigitan pada kulit atau selaput lendir,

atau meninggalkan bibit penyakit yang dibawanya pada bahan makanan atau bahan bahan

lainnya, sehingga mendatangkan penyakit bagi manusia yang memakan atau

mempergunakan bahan bahan tersebut (Myrnawati, 2004).

Pengendalian adalah semua usaha yang dilakukan untuk menurunkan atau

menekan populasi atau densitas vektor dengan maksud mencegah penyakit yang

ditularkan vektor atau gangguan gangguan yang di akibatkan oleh vektor (Sumantri,

2010).

Pengendalian vektor adalah semua kegiatan atau tindakan yang ditujukan untuk

menurunkan populasi vektor serendah mungkin sehingga keberadaannya tidak lagi berisiko

untuk terjadinya penularan penyakit tular vektor di suatu wilayah atau menghindari kontak

masyarakat dengan vektor sehingga penularan penyakit tular vektor dapat dicegah

(Kemenkes RI, 2010).

Menurut Kusnoputranto dalam Simanjuntak (2005) yang dimaksud dengan

pengendalian vektor adalah semua usaha yang dilakukan untuk menurunkan atau menekan

populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan masyarakat .

Tujuan pengendalian vektor dalam keadaan darurat :

1). Menurunkan populasi serendah mungkin secara cepat sehingga keberadaannya

tidak lagi berisiko untuk terjadinya penularan penyakit di suatu wilayah

6
2). Menghindari kontak dengan vektor sehingga penyakit yang di tularkan melalui

vektor tersebut dapat di cegah.

3). Meminimalkan gangguan yang disebabkan oleh binatang atau serangga

pengganggu.

2.2 JENIS JENIS VEKTOR

Seperti telah diketahui vektor adalah Antrhropoda yang dapat memindahkan atau

menularkan suatu infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan.

Sebagian dari Anthropoda dapat bertindak sebagai vektor, yang mempunyai ciri ciri

kakinya beruas-ruas, dan merupakan salah satu phylum yang terbesar jumlahnya karena

hampir meliputi 75% dari seluruh jumlah binatang.

Anthropoda dibagi menjadi 4 kelas :

1. Kelas crustacea (berkaki 10) : misalnya udang

2. Kelas Myriapoda : misalnya binatang berkaki seribu

3. Kelas Arachinodea (berkaki 8) : misalnya Tungau

4. Kelas hexapoda (berkaki 6) : misalnya nyamuk

Dari kelas hexapoda dibagi menjadi 12 ordo, antara lain ordo yang perlu

diperhatikan dalam pengendalian adalah :

a. Ordo Dipthera yaitu nyamuk, lalat

- Nyamuk anopheles sebagai vektor malaria

- Nyamuk aedes sebagai vektor penyakit demam berdarah

- Lalat tse-tse sebagai vektor penyakit tidur

- Lalat kuda sebagai vektor penyakit Anthrax


b. Ordo Siphonaptera yaitu pinjal

- Pinjal tikus sebagai vektor penyakit pes


c. Ordo Anophera yaitu kutu kepala

7
- Kutu kepala sebagai vektor penyakit demam bolak-balik dan typhus
exantyematicus.

Selain vektor diatas, terdapat ordo dari kelas hexapoda yang bertindak sebagai binatang
pengganggu antara lain :

- Ordo hemiptera, contoh kutu busuk

- Ordo isoptera, contoh rayap

- Ordo orthoptera, contoh belalang

- Ordo coleoptera, contoh kecoak

Sedangkan dari phylum chordata yaitu tikus sebagai binatang pengganggu, dapat dibagi

menjadi 2 golongan :

1. Tikus besar (Rat)

Contoh: - Rattus norvigicus (tikus riol )

- Rattus-rattus diardiil (tikus atap)

- Rattus-rattus frugivorus (tikus buah-buahan)

2. Tikus kecil (mice)

Contoh : - Mussculus (tikus rumah)

Jenis jenis vektor yang sering terdapat di pemukiman ketika terjadi bencana yaitu:

2.2.1 Nyamuk

Siklus Hidup Nyamuk

Nyamuk sejak telur hingga menjadi nyamuk dewasa, sama dengan serangga yang

mengalami tingkatan (stadia) yang berbeda-beda. Dalam siklus hidup nyamuk

terdapat 4 stadia dengan 3 stadium berkembang di dalam air dari satu stadium hidup

dialam bebas :

a). Nyamuk dewasa.

8
Nyamuk jantan dan betina dewasa perbandingan 1 : 1, nyamuk jantan keluar terlebih

dahulu dari kepompong, baru disusul nyamuk betina, dan nyamuk jantan tersebut

akan tetap tinggal di dekat sarang, sampai nyamuk betina keluar dari kepompong,

setelah jenis betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung mengawini betina

sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya sekali kawin. Dalam

perkembangan telur tergantung kepada beberapa faktor antara lain temperatur dan

kelembaban serta species dari nyamuk.

b). Telur nyamuk.

Nyamuk biasanya meletakkan telur di tempat yang berair, pada tempat yang

keberadaannya kering telur akan rusak dan mati. Kebiasaan meletakkan telur dari

nyamuk berbeda beda tergantung dari jenisnya.

- Nyamuk anopeles akan meletakkan telurnya dipermukaan air satu persatu atau

bergerombolan tetapi saling lepas, telur anopeles mempunyai alat pengapung.

- Nyamuk culex akan meletakkan telur diatas permukaan air secara

bergerombolan dan bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk

mengapung.

- Nyamuk Aedes meletakkan telur dan menempel pada yang terapung diatas air

atau menempel pada permukaan benda yang merupakan tempat air pada batas

permukaan air dan tempatnya. Sedangkan nyamuk mansonia meletakkkan

telurnya menempel pada tumbuhan tumbuhan air, dan diletakkan secara

bergerombol berbentuk karangan bungan. Stadium telur ini memakan waktu 1

2 hari.

c). Jentik nyamuk

9
Pada perkembangan stadium jentik, adalah pertumbuhan dan melengkapi

bulu-bulunya, stadium jentik memerlukan waktu 1 minggu. Pertumbuhan

jentik dipengaruhi faktor temperatur, nutrien, ada tidaknya binatang predator.

d). Kepompong

Merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada

stadium ini memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga

dapat terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang 1 2 hari.

Tempat Berkembang Biak (Breeding Places)

Dalam perkembang biakan nyamuk selalu memerlukan tiga macam

tempat yaitu tempat berkembang biak (breeding places), tempat untuk

mendapatkan umpan/darah (feeding places) dan tempat untuk beristirahat

(reesting palces).

Nyamuk mempunyai tipe breeding places yang berlainan seperti culex

dapat berkembang di sembarangan tempat air, sedangkan Aedes hanya dapat

berkembang biak di air yang cukup bersih dan tidak beralaskan tanah langsung,

mansonia senang berkembang biak di kolam kolam, rawa rawa, danau yang

banyak tanaman airnya dan Anopeheles bermacam breeding places, sesuai dengan

jenis anophelesnya sebagai berikut :

1. Anopheles Sundaicus, Anopheles subpictus dan anopheles vagus

senang berkembang biak di air payau.

2. Tempat yang langsung mendapat sinar matahari disenangi nyamuk

anopheles sundaicus, anopheles mucaltus dalam berkembang biak.

3. Breeding palces yang terlindung dari sinar matahari disenangi

anopheles vagus, anopheles barbumrosis untuk berkembang biak.

10
4. Air yang tidak mengalir sangat disenangi oleh nyamuk anopheles

vagus, indefinitus, leucosphirus untuk tempat berkembang biak.

5. Air yang tenang atau sedikit mengalir seperti sawah sangat disenangi

anopheles aconitus, vagus barbirotus, anullaris untuk berkembang

biak.

Kebiasaan menggigit

Waktu keaktifan mencari darah dari masing masing nyamuk berbeda

beda, nyamuk yang aktif pada malam hari menggigit, adalah anopheles dan colex

sedangkan nyamuk yang aktif pada siang hari menggigit yaitu Aedes. Khusus

untuk anopheles, nyamuk ini bila menggigit mempunyai perilaku bila siap

menggigit langsung keluar rumah. Pada umumnya nyamuk yang menghisap darah

adalah nyamuk betina.

Tempat beristirahat (resting places)

Biasanya setelah nyamuk betina menggigit orang/hewan, nyamuk

tersebut akan beristirahat selama 2 3 hari, misalnya pada bagian dalam rumah

sedangkan diluar rumah seperti gua, lubang lembab, tempat yang berwarna gelap

dan lain lain merupakan tempat yang disenangi nyamuk untuk berisitirahat.

Bionomik nyamuk (kebiasaan hidup)

Bionomik sangat penting diketahui dalam kegiatan tindakan

pemberantasan misalnya dalam pemberantasan nyamuk dengan insectisida kita

tidak mungkin melaksanakannya, bilamana kita belum mengetahui kebiasaan

hidup dari nyamuk, terutama yang menjadi vektor dari satu penyakit. Pada

hakekatnya serangga sebagai mahluk hidup mempunyai bermacam-macam

kebiasaan, adapun yang perlu diketahui untuk pemberantasan/pengendalian

misalnya :

11
a. Kebiasaan yang berhubungan dengan perkawinan/mencari makan, dan lamanya

hidup.

b. Kebiasaan kegiatan diwaktu malam, dan perputaran menggigitnya.

c. Kebiasaan berlindung diluar rumah dan di dalam rumah.

d. Kebiasaan memilih mangsa.

e. Kebiasaan yang berhubungan dengan iklim, suhu, kelembaban dll.

f. Kebiasaan di dalam rumah atau di luar rumah yang berhubungan dengan

penggunaan.

Penyakit yang di akibatkan oleh nyamuk

1). Penyakit Malaria

Penularan penyakit malaria terjadi lewat parasit plasmodium kepada

manusia dengan vektornya adalah nyamuk Anopheles betina. Disaat nyamuk

sedang menggigit seseorang yang mengalami infeksi malaria, maka nyamuk ini

kemudian akan mengisap parasit tadi yang disebut dengan parasit gametocytes.

Parasit ini biasanya menyelesaikan siklus dari suatu pertumbuhan yang terjadi di

dalam tubuh nyamuk dan setelah itu akan merambat menuju ludah nyamuk. Dan

disaat sedang menggigit manusia, nyamuk ini selanjutnya akan menyuntikkan

masuk parasit ke dalam aliran darah. Dan kemudian menuju masuk ke hati dan

setelah itu mulai melipatgandakan dirinya. Bentuk dari penularan yang lain terjadi

adalah misalnya penularan yang terjadi dari wanita hamil ke janin. Penyakit

malaria juga menular lewat transfusi darah.

2). Penyakit Demam Berdarah

Cara Penularan

Terdapat tiga faktor penularan infeksi virus dengue, manusia, virus,

dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan

12
nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus

dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia.

Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-

10 hari sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada di dalam

tubuh nyamuk nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya

Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 46 hari Period)

sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk

hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami

viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.

3). Penyakit Chikungunya

Penyebaran Chikungunya dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Nyamuk dapat menjadi berpotensi menularkan penyakit bila pernah menggigit

penderita demam chikungunya. Kera dan beberapa binatang buas lainnya juga

diduga dapat sebagai perantara (reservoir) penyakit ini. Nyamuk yang

terinfeksi akan menularkan penyakit bila menggigit manusia yang sehat.

Aedes aegypti (the yellow fever mosquito) adalah vektor utama atau

pembawa Chikungunya. Aedes albopictus (the Asian tiger mosquito) mungkin

juga berperanan dalam penyebaran penyakit ini di kawasan Asia. Dan

beberapa jenis spesies nyamuk tertentu di daerah Afrika juga ternyata dapat

menyebarkan penyakit Chikungunya. Masih belum diketahui secara pasti

bagaimana virus tersebut menyebar antar negara.Mengingat penyebaran

Chikungunya antar negara relatif pelan, kemungkinan penyebaran ini terjadi

seiring dengan perpindahan nyamuk. Dewasa ini makin sering berbagai

penyakit hewan dari tengah hutan yang merebak (spill over) ke permukiman

13
penduduk. Sebutlah di antaranya St Louis Encephalitis dan Sungai Nil Barat

(West Nile), yang telah menimbulkan

banyak korban. Peredaran virus memang tak bisa lagi dibatasi oleh

posisi geografi. Hutan yang tadinya tertutup menjadi terbuka, daerah yang

dulu terisolir kini bisa dengan mudah berhubungan ke mana saja. Cara

perpindahan virus bisa berupa apa saja. Pada era globalisasi yang serba cepat

seperti sekarang ini, seseorang hari ini dapat berada di Eropa atau Afrika, dan

esok harinya sudah berada di benua lainnya seperti di Bali atau Jakarta.

Dengan pola perpindahan penduduk yang sangat cepat ini, sangat potensial 11

terjadi penyebaran berbagai macam penyakit termasuk virus. Orang yang

tertular penyakit di suatu negara bisa saja membawanya ke Indonesia.

Penyakit yang dibawa ada yang dapat hilang dengan sendirinya, namun dapat

pula berlanjut siklusnya bila faktor pendukungnya ada. Perdagangan satwa

langka yang cukup mendapat sorotan beberapa waktu lalu, bisa saja membawa

serta virus dari hutan ke tempat yang jauh di negeri orang. Belum lagi nyamuk

yang dapat menyelundup ke dalam kabin pesawat terbang dan beterbangan di

Indonesia.

4). Penyakit Kuning

Virus demam kuning adalah arbovirus dari genus flavivirus, dan

nyamuk adalah vektor utama. Ini membawa virus dari satu host ke yang lain,

terutama antara monyet, dari monyet ke manusia, dan dari orang ke orang.

Beberapa spesies yang berbeda dari nyamuk Aedes dan Haemogogus

menularkan virus. Nyamuk-nyamuk berkembang biak baik di sekitar rumah

(domestik), di hutan (liar) atau di kedua habitat (semi-domestik).

5). Penyakit Kaki Gajah

14
Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah

seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan

mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang

terinfeksi menggigit atau menghisap darah orang tersebut. Tidak seperti

Malaria dan Demam berdarah, Filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies

nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres. Karena

inilah, Filariasis dapat menular dengan sangat cepat.

2.2.2 Lalat

Lalat merupakan kelas insekta dari diptera, yang terpenting adalah golongan Clyptrata

muscodiae bagian dari super family muscodiae.

Genus Musca

Genus musca yang penting diketahui adalah spesies yang sering terdapat

di sekitar rumah dan di dalam rumah, adapun tanda-tanda dari lalat rumah (musca

domestica) tubuh berwarna coklat dan kehitam-hitaman, pada thorax terdapat 4

garis hitam dan 1 garis hitam medial pada abdomen punggung, vein ke empat dari

sayap berbentuk sudut, antena mempunyai 3 segmen, mata terpisah,

methamorphosenya sempurna serta tubuh lalat jantan lebih kecil dari tubuh lalat

betina.

Siklus hidup

Lalat memiliki bentuk telur lonjong berwarna putih, lalat betina sekali

bertelur 100 200 telur, stadium lamanya menetas 12 24 jam dipengaruhi suhu

lingkungan. Dari stadium telur sampai dewasa lamanya sampai 8 20 hari,

temperatur optimum untuk kehidupan lalat 24 0 C 32 0 C. Tanpa air lalat akan

dapat bertahan hidup sampai 48 jam.

Tempat berkembang biak

15
Tempat yang disenangi lalat untuk berkembang biak umumnya pada

sampah sapah basah, kotoran manusia, binatang dan tumbuh tumbuhan yang

membusuk.

Cara terbang

Lalat suka terbang terus menerus, dari hasil penyelidikan jarak terbang

lalat pada daerah yang padat penduduknya tidak lebih dari 0,5 km.

Cara bertelur

Lalat masa bertelurnya 4 20 hari dan setiap betina dapat bertelur 4 5

kali seumur hidupnya, dengan jumlah sekali bertelur 100 150 butir.

Penyakit yang disebabkan oleh lalat

1. Disentri

2. Diare

3. Typhoid

4. kolera

2.2.3 T i k u s

Untuk dapat mengenal tikus dalam arti sesungguhnya (family muridae) dapat

dilakukan dengan indentifikasi morfologi yang menyolok pada jenis

tikus,memperhatikan lingkungan hidupnya serta penelusuran secara deskripsi.

kebiasaan kebiasaan tikus.

Tikus mempunyai penglihatan yang buruk tetapi mempunyai panca indera

seperti penciuman yang tajam, meraba, mendengar. Pada malam hari tikus

bergerak di pandu oleh rambut, kumis yang panjang peka terhadap sentuhan.

Tikus senang dengan bau harum, khususnya yang berasal dari makanan manusia.

Kebiasaan waktu makan adalah pada malam hari, tikus tidak seang di tempat

tempat yang ramai misalnya gaduh oleh suara mesin melainkan senang di tempat

16
tempat penyimpanan makanan. Kesukaan mencari makan adalah seperti di

tempat sampah, lemari, selokan dan dapur. Umur hidup seekor tikus rata rata

mencapai 1 tahun dan pembiakan cepat terjadi selama musim hujan, apabila

terdapat banyak makanan dan tempat untuk berlindung.

Tanda ada atau tidaknya tikus.

1. Ada dijumpai bekas gigitan yang ditinggalkan tikus misalnya pada pintu

jendela, dll.

2. Alur jalan tikus pada umumnya kotor dan berminyak.

3. Di jumpai kotoran tikus, kotoran yang masih lembek, mengkilap berwarna

gelap adalah ciri ciri kotoran yang masih baru, sedangkan kotoran yang

sudah lama, keras, kering dan umumnya berwarna abu abu.

4. Terdengar adanya suara tikus pada saat hari sudah muali gelap. Sarang tikus

dijumpai pada dinding, pada pohon pohon, tanam tanaman dan si sela

sela pada rumah, dll.

Kebiasaan dan Habitat

Tikus dikenal sebagai binatang kosmopolitan yaitu menempati hampir di

semua habitat. Habitat dan kebiasaan jenis tikus yang dekat hubungnnya dengan

manusia adalah sebagai berikut :

1. R. norvegicus

Menggali lubang, berenang dan menyelam, menggigit benda-benda keras

seperti kayu bangunan, aluminium dsb. Hidup dalam rumah, toko makanan

dan gudang, diluar rumah, gudang bawah tanah, dok dan saluran dalam

tanah/riol/got.

2. R. ratus diardii

17
Sangat pandai memanjat, biasanya disebut sebagai pemanjat yang ulung,

menggigit benda-benda yang keras. Hidup dilobang pohon, tanaman yang

menjalar. Hidup dalam rumah tergantung pada cuaca.

3. M. Musculus

Termasuk rondensia pemanjat, kadang-kadang menggali lobang, menggigit

hidup didalam dan diluar rumah.

Sarang Tikus

Sarang yang dibuat biasanya mempunyai lebih dari satu pintu, pintu utama

untuk jalan keluar dan masuk setiap hari, pintu darurat yang digunakan dalam

keadaan yang membahayakan, misalnya pada saat dikerjar oleh predator ataupun

pada saat dilakukan gropyokan, dan pintu yang menuju ke sumber air sebagai

minumnya. Pintu darurat ini disamarkan dengan cara ditutupi dengan daundaunan.

Selain itu, sarang tikus juga terdiri dari lorong yang berkelok-kelok; semakin

banyak anggota keluarga tikus, semakin panjang lorong yang dib Sarang tikus

juga dilengkapi dengan ruangan/kamar yang difungsikan untuk beranak dan

kamar sebagai gudang tempat meyimpan bahan makanan.

Penyakit yang Disebabkan Oleh Tikus

Tikus berperan sebagai tuan rumah perantara untuk beberpa jenis penyakit

yang dikenal Rodent Borne Disease. Penyakit-penyakit yang tergolong Rodent

Borne Disease adalah :

1. Leptospirosis

Leptospirosis merupakan infeksi akut disebabkan oleh bakteri

leptospira berbentuk spiral yang menyerang mamalia dan dapat hidup di air

tawar selama lebih kurang 1 bulan. Tetapi dalam air laut, selokan dan air

kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati. Bakteri ini dapat menyerang

18
siapapun yang memiliki kontak dengan berbagai benda maupun hewan lain

yang mengalami infeksi leptospirosis. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh

manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau

makanan yang terkontaminasi oleh urine hewan terinfeksi leptospira.Masa

inkubasi selama 4 - 19 hari.

Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan membiasakan diri untuk ber-Perilaku

Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melalui :

Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus.

Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.Mencucui tangan, kaki

serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/

kebun/sampah/tanah/selokan dan tempat-tempat yang tercemar lainnya.

Menghindari adanya tikus di dalam rumah/gedung.

Menghindari pencemaran oleh tikus.Melakukan desinfeksi terhadap

tempat-tempat tertentu yang tercemar oleh tikus dan meningkatkan

penangkapan tikus.

Sanitasi sekitar rumah dan lingkungan, higiene perorangannya dilakukan

dengan menjaga tangan selalu bersih. Selain terkena air kotor, tangan

dapat tercemar kuman dari binatang piaraan yang sudah terjangkit

penyakit dari tikus atau hewan liar.

Hindari kontak dengan kencing binatang piaraan.

Biasakan memakai alat pelindung diri, seperti sarung tangan karet sewaktu

berkontak dengan air kotor, pakaian pelindung kulit, beralas kaki,

memakai sepatu bot, terutama jika kulit ada luka, borok, atau eksim.

19
Selalu membasuh tangan sehabis menangani binatang, ternak, atau

membersihkan gudang, dapur, dan tempat-tempat kotor.

Kebersihan lingkungan, khususnya rumah, harus dilakukan secara terus

menerus. Jangan memberi kesempatan tikus berkembang biak di dalam

rumah.

2. Plague/Penyakit pes/Sampar/La Peste

Pes atau sampar atau plague atau la peste merupakan penyakit zoonosis

yang timbul pada hewan pengerat dan dapat ditularkan pada manusia.

Penyakit tikus ini menular dan dapat mewabah. Penyebaran penyakit

plague/pes Plague, disebut juga penyakit pes, adalah infeksi yang disebabkan

bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) dan ditularkan oleh kutu tikus (flea),

Xenopsylla cheopis. Pess terbagi menjadi 2 yaitu :

a. Pes Bubo

Pes Bubo merupakan penyakit yang mempunyai gejala demam tinggi,

tubuh dingin, menggigil, nyeri otot, sakit kepala hebat, dan ditandai

dengan pembengkakan kelenjar getah bening di pangkal paha, ketiak dan

leher (bubo). Pada pemeriksaan cairan bubo di laboratorium ditemukan

kuman pes (Yersinis pestis).

b. Pes Pneumonik

Pes pneumonik adalah penyakit yang mempunyai gejala batuk secara

tiba-tiba dan keluar dahak, sakit dada, sesak nafas, demam, muntah

darah.Pada pemeriksaan sputum atau usap tenggorok ditemukan kuman

pes (Yersinis pestis), dan apabila diperlukan dilakukan pemeriksaan darah

untuk menemukan zat antinya.

20
Penyakit ini menular lewat gigitan kutu tikus, gigitan/cakaran binatang

yang terinfeksi plague, dan kontak dengan tubuh binatang yang terinfeksi.

Kutu yang terinfeksi dapat membawa bakteri ini sampai berbulan2

lamanya. Selain itu pada kasus pneumonic plague, penularan terjadi dari

dari percikan air liur penderita yang terbawa oleh udara.

Pencegahan
Orang atau binatang di sekitar penderita plague harus diobati dengan

antibiotic selambat-lambatnya 7 hari setelah kontak dengan penderita.

Memakai sarung tangan, baju panjang, masker, dan goggle (kacamata)

pada waktu kontak dengan penderita plague.

Tidak mengijinkan kucing makan tikus, kelinci atau binatang hidup

berdarah panas lainnya.

Tidak mengijinkan kucing bermain di luar rumah, terutama di daerah yang

banyak terdapat sarang tikus.

Mengontrol populasi tikus dan kutu di lingkungan anda.

Vaksinasi plague apabila akan bepergian ke daerah epidemi plague.

3. Rat-Bit Fever atau demam gigitan tikus

Rat-gigitan demam (RBF) adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh

bakteri Moniliformis Streptobacillus yang dapat diperoleh melalui gigitan atau

goresan dari binatang pengerat atau menelan makanan atau air yang

terkontaminasi dengan kotoran tikus dan biasanya dialami anak-anak di bawah 12

tahun dan penyakit ini memiliki masa inkubasi selama 1 hingga 22 hari. Gejala-

gejala yang disebabkan oleh penyakit ini adalah demam, mual, muntah, sakit

kepala, nyeri punggung dan sendi.

4. Sindrom hantavirus paru (PS)

21
Hantavirus sindrom paru (HPS) adalah penyakit mematikan yang

ditularkan oleh tikus yang terinfeksi melalui urine, kotoran, atau air liur.

Manusia bisa terkena penyakit ini ketika mereka menghirup virus aerosol.HPS

pertama kali diakui pada tahun 1993 dan sejak itu telah diidentifikasi di

seluruh Amerika Serikat. Meskipun jarang, HPS berpotensi mematikan.

Rodent control di dalam dan sekitar rumah tetap menjadi strategi utama untuk

mencegah infeksi hantavirus. maka gejala yang dapat diamati adalah diare,

muntah, mual, dan kram perut.

5. Salmonellisis

Salmonellisis merupakan penyaklit yang disebabkan bakteri salmonella

yang dapat menginfeksi hewan dan juga manusia. Tikus yang terinfeksi

bakteri ini akan dapat menyebabkan kematian pada manusia dan salmonellisis

dapat tersebar dengan melalui kontaminasi feses. Gejalanya antara lain adalah

gastroenteritis, diare, mual, muntah dan juga demam yang diikuti oleh

dehidrasi.

6. Murine typhus

Murine typhus adalah penyakit yang disebabkan oleh Rickettsian typhi

atau R. mooseri yang dapat ditularkan melalui gigitan pinjal tikus. Gejalanya

antara lain adalah kedinginan, sakit kepala, demam, prostration dan nyeri di

seluruh tubuh. Ada juga bintil-bintil merah yang timbul di hari kelima hingga

keenam.

7. Rabies

Rabies merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf pusat dan

memiliki gejala khas yaitu penderita jadi takut terhadap air dan karena inilah

rabies juga sering disebut hidrofobia. Tikus menyebarkan penyakit ini melalui

22
gigitan. Gejala awal dari rabies tidaklah jelas, umumnya pasien merasa gelisah

dan tidak nyaman. Gejala lanjut yang dapat diidentifikasi antara lain adalah

rasa gatal di area sekitar luka, panas dan juga nyeri yang lalu bisa saja diikuti

dengan sakit kepala, kesulitan menelan, demam dan juga kejang.

2.2.4 Kecoa

Daur Hidup

Kecoa adalah serangga dengan metamorfosa tidak lengkap, hanya melalui tiga

stadia (tingkatan), yaitu stadium telur, stadium nimfa dan stadium dewasa yang

dapat dibedakan jenis jantan dan betinanya. Nimfa biasanya menyerupai yang

dewasa, kecuali ukurannya, sedangkan sayap dan alat genitalnya dalam taraf

perkembangan.

Habitat

Banyak spesies kecoa di seluruh dunia, beberapa diantaranya berada di dalam

rumah dan sering didapatkan di restoran, hotel, rumah sakit, gudang, kantor dan

perpustakaan.

Kebiasaan Hidup

Kecoa kebanyakan terdapat di daerah tropika yang kemudian menyebar ke

daerah sub tropika atau sampai kedaerah dingin. Pada umumnya tinggal didalam

rumah-rumah makan segala macam bahan, mengotori makanan manusia, berbau

tidak sedap. Kebanyakan kecoa dapat terbang, tetapi mereka tergolong pelari

cepat ( cursorial), dapat bergerak cepat, aktif pada malam hari, metamorfosa

tidak lengkap, Kerusakan yang ditimbulkan oleh kecoa relatif sedikit, tetapi

adanya kecoa menunjukkan bahwa sanitasi didalam rumah bersangkutan kurang

baik.

23
Hubungan kecoa dengan berbagai penyakit belum jelas, tetapi

menimbulkan gangguan yang cukup serius, karena dapat merusak pakaian, buku-

buku dan mencemari makanan. Kemungkinan dapat menularkan penyakit secara

mekanik karena pernah ditemukan telur cacing, protozoa, virus dan jamur yang

patogen pada tubuh kecoa. Seekor P brunnea betina yang telah dewasa dapat

menghasilkan 30 kapsul telur atau lebih dengan selang waktu peletakkan kapsul

telur yang satu dengan peletakkan kapsul telur berikutnya berkisar antara 3 sampai

5 hari; tiap kapsul telur P.brunnea rata-rata berisi 24 telur, yang menetes rata-rata

20 nimfa dan 10 ekor diantaranya dapat mencapai stadium dewasa. Nimfa

P.brunnea berkembang melalui sederetan instar dengan 23 kali berganti kutikula

sebelum mencapai stadium dewasa.

Hasil pengamatan di laboratorium menunjukkan bahwa seekor

P.americana betina ada yang dapat menghasilkan 86 kapsul telur, dengan selang

waktu peletakkan kapsul telur yang satu dengan kapsul telur berikutnya rata-rata 4

hari. Dari seekor N.rhombifolia betina selama hidupnya ada yang dapat

menghasilkan 66 kapsul telur, sedangkan P.autralasiae betina dapat menghasikan

30-40 kapsul telur.

Penyakit yang disebabkan oleh kecoa

1. Diare

2. Disentri

3. Typhoid

4. Kolera

2.3 PENGENDALIAN VEKTOR

2.3.1 Pengendalian vektor secara alami

24
Lautan, gunung, danau dan sungai yang luas, dapat menghalangi penyebaran

serangga

Tidak mempunyai beberapa spesies, serangga hidup di daerah yang tinggi dari

permukaan laut

Perubahan musim yang merupakan gangguan bagi kelestarian hidup vektor,

seperti musim, iklim, angin dan curah hujan

Adanya hewan pemangsa

2.3.2 Pengendalian vektor secara buatan

Pengendalian secara fisik dan mekanik

Metode pengendalian fisik dan mekanik adalah upaya-upaya untuk mencegah,

mengurangi, menghilangkan habitat perkembangbiakan dan populasi vektor

secara fisik dan mekanik. Contohnya: modifikasi dan manipulasi lingkungan

tempat perindukan (3M, pembersihan lumut, penanaman bakau, pengeringan,

pengalihan/ drainase, dll), pemasangan kelambu, memakai baju lengan

panjang, penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier),

pemasangan kawat.

pengendalian secara biologi

Pengendalian secara biologi yitu pemanfaatan predator yang menjadi musuh

vektor dan bioteknologi sebagai alat untuk mengendalikan vektor. Misalnya,

predator pemakan jentik (ikan, mina padi,dan lain sebagainya), pemanfaatan

bakteri, virus, fungi, manipulasi gen ( penggunaan vektor jantan mandul dan

lain sebagainya)

Pengendalian secara kimia

Pengendalian secara kimia merupakan pengendalian vektor dengan

menggunakan pestisida kimia. Misalnya, penggunaan kelambu berinsektisida,

larvasida dan lain sebagainya

25
pengendalian secara biophysical

Pengawasan ini pada dasarnya merupakan perpaduan dari dua macam cara,

yakni cara fisik dan cara biologik : 1. Menangkap binatang tersebut, biasanya

jenis jantan (secara fisik), 2. Kemudian disterilkan dengan menggunakan sinar

gamma (dengan cara biologik), kemudian dilepaskan kembali ke alam tidak

akan terjadi pembuahan jumlah binatang dapat dikontrol.

pengendalian secara kultural

Menciptakan keadaan lingkungan sehingga tidak menguntungkan antropoda

atau rodentia dengan jalan mengubah kebiasaan atau sikap hidup yang tidak

menguntungkan.

pengendalian terpadu

Artinya digunakan kombinasi dari berbagai cara yang disebutkan diatas

sehingga kelemahan yang ada pada suatu cara dapat saling dikurangi

dibedakan macam artropoda dan rodentia yang akan diawasi.

Pengendalian legislatif

Mencegah tersebarnya serangga berbahaya antar daerah, pulau maupun

negara melalui peraturan.Pencegahan dilaksanakan dengan penyemprotan

insektisida di bandara, pelabuhan, stasiun, terminal dsb. dan disediakan

karantina.

Pengendalian Lingkungan

Dilakukan atas usaha manusia.

Macam-macamnya :

1. Pengendalian Lingkungan (Environmental control)

Mengelola lingkungan (enviromental management) yaitu mengatur

lingkungan sehingga tidak cocok dan membatasi perkembangan vektor.

a. Modifikasi lingkungan (Enviromental Modification)

26
Cara ini paling aman terhadap lingkungan karena tidak merusak

keseimbangan alam dan tidak mencemari lingkungan tetapi harus

dilakukan terus menerus. Misalnya :

a). pengaturan sistem irigasi,

b). penimbunan tempat penampung air dan

c). pembuangan sampah,

d). pengeringan air yang menggenang

e). pengubahan rawa menjadi sawah

f). pengubahan hutan jadi pemukiman

b. Manipulasi Lingkungan (Enviromental Manipulation).

Membersihkan dan memelihara secara fisik tempat perindukan atau

tempat istirahat serangga.

Contoh :

a). membersihkan tanaman air yang mengapung seperti ganggang dan

lumut sehingga menyulitkan perkembangan Anopheles sundaicus.

b). Mengatur kadar garam di laguna sehingga menekan populasi An.

subpictus dan An. sundaicus,

c) Melestarikan tanaman bakau yang membatasi tempat perindukan An.

sundaicus,

d).Membuang atau mencabut tumbuhan air di kolam atau rawa sehingga

menekan populasi Mansonia spp.

e). Melancarkan air got agar tidak jadi tempat perindukan Culex spp.

Pengendalian Vektor Terpadu (PVT)

merupakan pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metode

pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan azas keamanan,

27
rasionalitas dan efektifitas pelaksanaannya serta dengan

mempertimbangkan kelestarian keberhasilannya.

2.4 pengendalian Nyamuk

a. secara fisik atau mekanis

memasang kawat kasa, kelambu

memukul nyamuk dengan alat pemukul

b. secara kimia

dengan menggunakan berbagai macam insektisida untuk:

mematikan nyamuk, mengatur pertumbuhan, membuat steril, menarik perhatian

nyamuk, mengusir nyamuk.

c. Secara biologis

Misalnya dengan membiarkan hidup binatang yang aan menangkap nyamuk

sebagai mangsanya, contohnya cicak, kelelawar berbagai jenis reptil dan unggas.

d. Secara kultural

Dengan mengubah kebiasaan masyarakat yang buruk yang menguntungkan

kehidupan nyamuk, misalnya: mengeringkan rawa rawa, memotong dedaunan

yang terlalu lebat, tidak membuang kaleng kaleng bekas sembarangan dan

membuat saluran air yang memenuhi syarat kesehatan.

e. Pengendalian di lingkungan

Melakukan pengaliran air yang tepat, membuat desain saluran pembuangan air

yang tepat guna dan parit penahan, pengaliran atau penimbunan genangan air yang

tidak mengalir (seperti kubangan, selokan), mengatur pembuangan air kotor dan

sampah.

2.5 pengendalian Lalat

a. secara fisik atau mekanik

28
perangkap lalat (flay trap), umpan kertas lengket berbentuk pita atau lembaran

(sticky tapes), perangkap dan pembunuh elektronik (like trap with electrocuto),

memasang kawat kasa/plastik, membuat pintu dua lapis.

b. Secara kimiawi

Pemberantasan lalat dengan insektisida harus dilakukan hanya untuk periode yang

singkat apabila sangat di perlukan, karena akan cepat resisten. Aplikasi yang

efektif dari insektisida dapat memberantas lalat, dengan cepat diperlukan pada

pemberantasan KLB kholera, dysentri dan trachoma. Penggunaan pestisida ini

dapat dilakukan melalui cara umpan atau baits, penyemprotan dengan efek residu

(indoor recidual sparying). Penyemprotan dengan pengasapan (indoor dan outdoor

space praying).

c. Secara biologi

Dengan memanfaatkan sejenis semut kecil berwarna hitam (phiedoloqelon affinis)

untuk mengurangi populasi lalat rumah di tempat tempat sampah.

2.6 pengendalian Kecoa

Menurut Depkes RI (2002), cara pengendalian kecoa dapat ditujukan terhadap kapsul

telur dan kecoa yaitu:

a. secara fisik atau Mekanis

yaitu mengambil kapsul telur yang terdapat pada celah-celah dinding, celah-celah

almari, celah-celah peralatan, dan dimusnahkan dengan membakar/dihancurkan.

Membunuh langsung kecoa dengan alat pemukul atau tangan. Menyiram tempat

perindukkan dengan air panas. Menutup celah-celah dinding.

b. Secara biologis

Pemberantasan kecoa secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan bahan

kimia (insektisida) dengan formulasi spray (pengasapan), dust (bubuk), aerosol

29
(semprotan) atau bait (umpan). Selanjutnya kebersihan merupakan kunci utama

dalam pemberantasan kecoa yang dapat dilakukan dengan cara-cara seperti

sanitasi lingkungan, menyimpan makanan dengan baik dan intervensi kimiawi

(insektisida, repellent, attractan).

2.7 pengendalian tikus

a. secara kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dilakukan semata-mata atas pertimbangan bahwa

pengendalian secara mekanis tidak memberikan hasil yang optimal atau tidak

memberikan hasil yang sesuai dengan harapan pelanggan dan atau untuk aplikasi

di luar bangunan. Pengendalian secara kimiawi tidak digunakan pada lokasi yang

terdapat aktifitas pengolahan/produksi makanan / farmasi/ area sensitif lainnya.

Penempatan racun pada industri makanan hanya dilakukan di luar ruangan yang

tidak berhubungan dengan produksi dan dilakukan untuk jangka waktu terbatas

dan dibawah pengawasan yang ketat. Pengendalian dengan cara kimiawi

dilakukan dengan menggunakan umpan yang mengandung rodentisida (racun

tikus). Alat-alat untuk aplikasi rodentisida :

1. Tamper Resistant

Merupakan tempat racun padat yang yang dapat melindungi dari pengaruh

lingkungan.

a. Kotak umpan ber-kunci (Tamper Resistant) dipergunakan untuk

pengumpanan di dalam ruangan umum dan ruangan terbuka.

b. Tempatkan sticker petunjuk dan kartu cek list di atas setiap Kotak umpan

berkunci.

c. Penempatan Tamper Resistant diletakkan jauh dari jangkauan anak-anak.

30
d. Setiap tempat racun umpan harus diberi nomor seri/pengenal/No.

penempatan untuk memudahkan monitoring dan pencatatan.

2. Racun Minum

Racun minuman merupakan pilihan terbaik dalam pengendalian tikus, jika

ketersediaan makanan di lokasi pemasangan banyak. Aplikasi racun minuman

dapat dilakukan bersamaan dengan umpan racikan dengan hasil yang lebih

baik. WARNING. Hati-hati dalam aplikasi racun minuman, karena sifat racun

minuman yang mudah menguap sehingga dapat menyebabkan kontaminasi.

3. Penanganan Bangkai

Tikus Pasca Pengendalian Tikus Kumpulkan tikus yang terperangkap /mati,

musnahkan dengan cara membakar dan dikubur dengan kedalaman sekurang-

kurangnya 50 cm, begitu pula dengan setiap bahan sisa atau sisa pembungkus

umpan racun.

4. Peralatan Keselamatan Dan Pakaian Kerja

Dalam melaksanakan aktivitas pengendalian tikus, kelengkapan keselamatan

kerja yang harus dipenuhi meliputi :

a. Sarung tangan karet apabila berhubungan dengan rodentisida, bangkai tikus.

b. Masker penutup hidung dan mulut apabila berhubungan dengan bangkai

tikus.

c. Helmet apabila bekerja di area kolong bangunan atau daerah berbahaya atau

bila ditentukan oleh pemilik/penanggungjawab lokasi.

d. Sepatu safety dan safety glass dan tanda pengenal lainnya bila ditentukan

oleh pemilik/penanggungjawab lokasi.

e. Pakaian kerja yang dipergunakan khusus melakukan pekerjaan

f. Pakai Tanda Pengenal Perusahaan yang masih berlaku

31
b. Pengendalian di lingkungan

Bila ditemukan tempat yang sanitasinya kurang baik dan bisa menjadi faktor

penarik tikus atau bahkan sumber makanan tikus atau menjadi tempat sarang tikus,

maka akan merekomendasikan diadakan perbaikan oleh klien. Tikus akan

berkembang biak dan hidup dengan baik pada situasi dimana mereka dengan

mudah mendapatkan makanan, air, tempat berlindung dan tempat inggal yang tidak

terganggu. Beberapa hal yang dapt dilakukan untuk meminimalisasi gangguan

tikus :

a. Minimalisasi tempat bersarang/harborages antara lain : eliminasi

rumput/semak belukar

b. Meletakkan sampah dalam garbage/tempat sampah yang memiliki konstruksi

yang rapat, kuat, kedap air, mudah dibersihkan, bertutup rapi dan terpelihara

dengan baik.

c. Meniadakan sumber air yang dapat mengundang tikus, karena tikus

membutuhkan minum setiap hari

d. Menyimpan semua makanan atau bahan makanan dengan rapi ditempat yang

kedap tikus.

e. Sampah harus selalu diangkut secara rutin minimal sekali sehari.

f. Meningkatkan sanitasi tempat penyimpanan barang/alat sehingga tidak

dapat dipergunakan tikus untuk berlindung atau bersarang.

c. Pengendalian secara biologi

Memelihara binatang pemangsa tikus (predator), seperti kucing.

d. Pengendalian Fisik dan Mekanik

1. Proofing Infestation

32
Memastikan bahwa seluruh konstruksi rumah tidak adanya celah yang

memungkinkan tikus masuk, baik dari bawah pintu, lubang pembuangan air, atau

dari bawah saluran air, mengeliminasi sarang atau tempat persembunyian tikus serta

memangkas ranting pohon yang menjulur kebagunan, tidak membuat taman terlalu

dekat dengan struktur bangunan, contohnya dengan memasang plat besi pada pohon.

Pengendalian lainnya juga dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap, antara

lain perangkap lem, perangkap jepit, perangkap massal dan perangkap elektrik.

Perangkap merupakan cara yang paling disukai untuk membunuh atau menangkap

tikus pada keadaan dimana tikus yang mati disembarang tempat sulit dijangkau dan

dapat menimbulkan bau yang tidak sedap serta sulit.

2. Treatment Tikus (Rodent Control)

Pengendalian tikus menggunakan Rat Baiting. Penggunaan trap untuk jangka

panjang menimbulkan tikus jera umpan dan neophobia terhadap trap. Penggunaan

trap hanya untuk tempat-tempat yang sangat khusus dengan populasi tikus yang

rendah. Penempatan Rodent Bait dilaksanakan pada area tertentu yang akan menarik

tikus dari dalam sarang ke luar, atau ketempat yang tidak sensitive, seperti area

parkir/garden, setelah itu baru difokuskan untuk tikus yang aktifitasnya dengan

radius pendek yakni tikus nyingnying (mice/Mus musculus), umpan ditempatkan di

dalam. Keraguan akan adanya resiko bau bangkai dapat diatasi dengan konfigurasi

penempatan umpan untuk setiap kategori jenis tikus, jadi dengan penempatan umpan

pada suatu lokasi dapat dideteksi sampai sejauh mana lokasi tempat tikus tersebut

mati, ditambah tenaga serviceman cukup berpengalaman mengatasi masalah tikus di

puluhan Rumah (housing), Mall, industri (pergudangan), Rumah Sakit, Hotel /

Apartemen.

33
BAB III

PENUTUP

2.3 Kesimpulan

Pengendalian vektor adalah semua kegiatan atau tindakan yang ditujukan

untuk menurunkan populasi vektor serendah mungkin sehingga keberadaannya tidak

lagi berisiko untuk terjadinya penularan penyakit tular vektor di suatu wilayah atau

menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga penularan penyakit tular

vektor dapat dicegah.

Jenis jenis vektor yang sering terdapat di pemukiman dan pengungsian ketika

terjadinya bencana yaitu kecoa, nyamuk, tikus, dan lalat.

Pengendalian vektor ketika terjadinya bencana dapat dilakukan secara alamiah

dan secara buatan. Secara alamiah yaitu:

Lautan, gunung, danau dan sungai yang luas, dapat menghalangi penyebaran

serangga

Tidak mempunyai beberapa spesies, serangga hidup di daerah yang tinggi dri

permukaan laut

Perubahan musim yang merupakan gangguan bagi kelestarian hidup vektor,

seperti musim, iklim, angin dan curah hujan

Adanya hewan pemangsa

Sedangkan secara buatan meliputi: secara fisik atau mekanik, kimia, biologi, biophysical,

lingkungan, terpadu, kultural, legislatif dan PVT.

2.4 Saran

Setelah membaca makalah ini, kelompok kami berharap makalah ini dapat menambah

pengetahuan bagi para pembaca. Sehingga pembaca dapat mengetahui tentang

pentingnya pemahaman secara jelas tentang pengendalian vektor.Himbauan bagi kita

34
semua agar lebih menjaga lingkungan dengan baik karena bagaimanapun bencana

yang terjadi tidak terlepas dari kita sebagai manusia yang menempati lingkungan ini.

35
DAFTAR PUSTAKA
(1)
W, Rani. 2012, eprints.uny.ac.id/9112/1/bab%201%20(%2008110241013%20).pdf.

diakses pada tanggal 29 Maret 2017 pukul 10.13 WIB


(2)
Sumantri, Arif. 2010. Kesehatan Lingkungan Dan Perspektif Islam. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.


(3)
Myrnawati. 2004. Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi.


(4)
Kemenkes RI. 2011. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat

Bencana. Jakarta: Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan

Krisi Kesehatan Akibat Bencana di Indonesia.


(5)
Kemenkes RI. 2010. Pengendalian Vektor. Jakarta: Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia via http://pelayanan.jakarta.go.id/download/regulasi/peraturan-

menteri-kesehatan-nomor-374-menkes-per-iii-2010-tentang-pengendalian-vector.pdf

diakses pada tanggal 29 Maret 2017 pukul 12.16 WIB


(6)
Simanjuntak, Hajopan. 2005. Efektivitas Akar Tanaman Tuba (Derris elliptica)

untuk Pengendalian Nyamuk Anopheles sp.Skripsi, Fakulltas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara. Medan.


(7)
Santio Kirniwardoyo (1992), Pengamatan dan pemberantasan vektor malaria,

sanitas. Puslitbang Kesehatan Depkes RI. Jakarta.


(8)
Adang Iskandar, Pemberantasan serangga dan binatang pengganggu, APKTS

Pusdiknakes. Depkes RI. Jakarta

36
37