Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH STATISTIKA

POPULASI DAN SAMPEL

Disusun oleh :
M. FIKRI BIMO SANTOSO NIM. 14501241001
MUCHLISIN SYAFIQ UNTORO NIM. 14501244005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Statistika berasal dari bahasa latin yaitu status yang berarti negara dan digunakan
untuk urusan negara. Hal ini dikarenakan pada mulanya, statistik hanya digunakan untuk
menggambar keadaan dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan
kenegaraan saja seperti : perhitungan banyaknya penduduk, peembayaran pajak, gaji
pegawai, dan lain sebagainya.
Statistika adalah ilmu yang merupakan cabang dari matematika terapan yang
membahas metode-metode ilmiah untuk pengumpulan, pengorganisasian, penyimpulan,
penyajian, analisis data, serta penarikan kesimpulan yang sahih sehingga keputusan
yang diperoleh dapat diterima (Haryono Subiyakto, 1994). Dalam statistika dikenal
populasi, sampel, variabel dan jenis data, yang masing-masing merupakan bagian
observasi dari metode ilmiah.
Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda,
hewan, tumbuhan, gejala-gejala, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang
memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian. Kemudian, sampel merupakan
suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan
populasi (Suharsimi Arikunto, 2010).
Statistika yang merupakan cabang dari matematika terapan telah menjadi sarana
dalam penelitian dengan melalui metode-metode ilmiah. Keakuratan dari data statistik
ditentukan oleh berbagai hal yang memang berkaitan, sehingga dalam menentukan
populasi, sampel sangat mempengaruhi. Oleh karena itu, akan dibahas mengenai populasi,
sampel.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari populasi, sampel ?
2. Apa saja contoh aplikasi dari populasi, sampel ?
C. Tujuan
1. Memahami pengertian dari populasi, sampel
2. Mengetahui berbagai contoh aplikasi dari populasi, sampel

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi sampel yang baik adalah sampel yang representatif,
yaitu sampel yang dapat mewakili populasinya. Agar representatif, maka pengambilan
sampel dari populasi harus menggunakan teknik pengambilan sampel (sampling) yang
benar. Ada 2 teknik pengambilan sampel :
1. Berdasarkan Peluang
a. Sampling Acak Sederhana
Sampling acak sederhana adalah teknik pengambilan sampel dimana sampel
diambil berdasarkan tabel bilangan acak.
b. Sampling Klasifikasi
Sampling klasifikasi adalah sebuah teknik pengambilan sampel dimana populasi
terlebih dahulu di bagi-bagi menjadi sub-sub populasi yang antar sub populasi
homogen. Karena sub populasi homogen, salah satu sub populasi diambil sebagai
sampel
c. Sampling Stratifikasi
Sampling stratifikasi adalah sebuah teknik pengambilan sampel dimana populasi
terlebih dahulu di bagi-bagi menjadi sub-sub populasi yang antar sub populasi
heterogen. Karena sub populasi heterogen, pada setiap sub polulasi ada yang
diambil sebagai sampel
d. Teknik Sampling tidak berdasarkan peluang
Teknik sampling tidak berdasarkan peluang adalah teknik pengambilan sampel
dimana setiap unit observasi dalan populasi tidak mempunyai kesempatan yang
sama untuk terpilih menjadi sampel.
Ada beberapa teknik sampling tidak berdasarkan peluang, diantaranya :
Teknik sampling convenience (seadanya)
Teknik sampling judgment (pertimbangan)

Teknik Sampling yaitu merupakan teknik pengambilan sampel. Terdapat berbagai macam
teknik sampling untuk menentukan sampel yang akan dipakai dalam penelitian. Teknik
sampling pada dasarnya bisa dikelompokkan menjadi 2 (dua) maca yaitu probability
sampling dan non-probability sampling. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Probability sampling adalah suatu teknik sampling yang memberikan peluang atau
kesempatan yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota
sampel, teknik ini terdiri atas:

a. Simple random sampling


Dikatakan simple atau sederhana sebab pengambilan sampel anggota populasi
dilakukan secara acak, tanpa memperhatikan strata yang terdapat dalam populasi
tersebut. Cara ini dapat lakukan jika anggota populasi dianggap homogen.
b. Dispropotionate Stratified Random Sampling
Suatu teknik yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel, jika populasi
berstrata tetapi kurang proporsional.
c. Proportionate stratified random sampling
Salah satu teknik yang digunakan jika populasi mempunyai anggota atau unsur yang
tidak homogen serta berstrata secara proporsional.
d. Area sampling (Cluster sampling)
Teknik sampling daerah dipakai untuk menentukan sampel jika objek yang akan
diteliti atau sumber data sangat luas, seperti misalnya penduduk dari suatu negara,
provinsi atau dari suatu kabupaten.
Non probability sampling adalah teknik yang tidak memberikan peluang atau kesempatan
sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel, teknik ini
terdiri atas:
a. Sampling Sistematis
suatu teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah
diberi nomor urut.
b. Sampling Kuota
Teknik untuk menentukan sampel yang berasal dari populasi yang memiliki ciri-ciri
tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan. Seperti misalnya, jumlah sampel laki-
laki sebanyak 70 orang maka sampel perempuan juga sebanyak 70 orang.
c. Sampling aksidental
Sesuatu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara
kebetulan bertemu dengan peneliti dapat dipakai sebagai sampel, jika dipandang
orang yang kebetulan dijumpai itu cocok untuk dijadikan sebagai sumber data.
d. Sampling Purposif
Suatu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu atau sleksi khusus.
Seperti misalnya misalnya, kamu meneliti kriminalitas di Kota atau daerah tertentu,
maka kamu mengambil informan yaitu Kapolresta kota atau daerah tersebut, seorang
pelaku kriminal dan seorang korban kriminal yang ada di kota tersebut.

e. Sampling Jenuh
Suatu teknik penentuan sampel jika semua anggota populasi digunakan sebagai
sampel. Hal ini sering sekali dilakukan jika jumlah populasi relatif kecil atau sedikit,
yaitu kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan
kesalahan yang relatif kecil.
f. Sampling Snowball
Teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil atau sedikit, lalu
kemudian membesar, atau sampel berdasarkan penelusuran dari sampel yang
sebelumnya. Seperti misalnya, penelitian mengenai kasus korupsi bahwa sumber
informan pertama mengarah kepada informan kedua lalu informan seterusnya.
B. Ukuran Sampel
Untuk menentukan sampel dari populasi digunakan perhitungan maupun acuan tabel
yang dikembangkan para ahli. Secara umum, untuk penelitian korelasional jumlah sampel
minimal untuk memperoleh hasil yang baik adalah 30, sedangkan dalam penelitian
eksperimen jumlah sampel minimum 15 dari masing-masing kelompok dan untuk penelitian
survey jumlah sampel minimum adalah 100.
Roscoe (1975) yang dikutip Uma Sekaran (2006) memberikan acuan umum untuk
menentukan ukuran sampel :
1. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan
penelitian
2. Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan sebagainya),
ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat
3. Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel
sebaiknya 10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian
4. Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eskperimen yang ketat,
penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai
dengan 20
Besaran atau ukuran sampel ini sampel sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian atau
kesalahan yang diinginkan peneliti. Namun, dalam hal tingkat kesalahan, pada penelitian
sosial maksimal tingkat kesalahannya adalah 5% (0,05). Makin besar tingkat kesalahan
maka makin kecil jumlah sampel. Namun yang perlu diperhatikan adalah semakin besar
jumlah sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil peluang kesalahan
generalisasi dan sebaliknya, semakin kecil jumlah sampel (menjauhi jumlah populasi) maka
semakin besar peluang kesalahan generalisasi.
Beberapa rumus untuk menentukan jumlah sampel antara lain :
1. Rumus Slovin (dalam Riduwan, 2005:65)
n = N/N(d)2 + 1
Keterangan:
n = sampel
N = populasi
d = nilai presisi 95% atau sig. = 0,05.
Misalnya, jumlah populasi adalah 125, dan tingkat kesalahan yang dikehendaki adalah
5%, maka jumlah sampel yang digunakan adalah :
N = 125 / 125 (0,05)2 + 1 = 95,23, dibulatkan 95
2. Formula Jacob Cohen (dalam Suharsimi Arikunto, 2010:179)
N = L / F^2 + u + 1
Keterangan :
N = Ukuran sampel
F^2 = Effect Size
u = Banyaknya ubahan yang terkait dalam penelitian
L = Fungsi Power dari u, diperoleh dari tabel
Power (p) = 0.95 dan Effect size (f^2) = 0.1
Harga L tabel dengan t.s 1% power 0.95 dan u = 5 adalah 19.76
maka dengan formula tersebut diperoleh ukuran sampel
N = 19.76 / 0.1 + 5 + 1 = 203,6, dibulatkan 203
3. Rumus berdasarkan Proporsi atau Tabel Isaac dan Michael
Tabel penentuan jumlah sampel dari Isaac dan Michael memberikan kemudahan
penentuan jumlah sampel berdasarkan tingkat kesalahan 1%, 5% dan 10%. Dengan
tabel ini, peneliti dapat secara langsung menentukan besaran sampel berdasarkan jumlah
populasi dan tingkat kesalahan yang dikehendaki.

C. Teknik Sampling
Dalam pengambilan sampel cara probabilitas besarnya peluang atau probabilitas
elemen populasi untuk terpilih sebagai subjek diketahui. Sedangkan dalam pengambilan
sampel dengan cara nonprobability besarnya peluang elemen untuk ditentukan sebagai
sampel tidak diketahui. Menurut Sekaran (2006), desain pengambilan sampel dengan cara
probabilitas jika representasi sampel adalah penting dalam rangka generalisasi lebih luas.
Bila waktu atau faktor lainnya, dan masalah generalisasi tidak diperlukan, maka cara
nonprobability biasanya yang digunakan.
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang secara umum terbagi dua
yaitu probability sampling dan non probability sampling.
1. Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang
yang sama kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel. Teknik ini meliputi
simpel random sampling, sistematis sampling, proportioate stratified random sampling,
disproportionate stratified random sampling, dan cluster sampling
a. Simple random sampling
Teknik ini adalah teknik yang paling sederhana (simple). Sampel diambil secara
acak, tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi.
Contoh:
Populasi adalah siswa SD Negeri 100 Jakarta yang berjumlah 500 orang. Jumlah
sampel ditentukan dengan Tabel Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan adalah
sebesar 5% sehingga jumlah sampel ditentukan sebesar 205.
Jumlah sampel 205 ini selanjutnya diambil secara acak tanpa memperhatikan kelas,
usia dan jenis kelamin.
b. Sampling Sistematis
Adalah teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi baik yang
berdasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun nomor identitas
tertentu, ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan sistematis lainnya.
Contoh:
Akan diambil sampel dari populasi karyawan yang berjumlah 125. Karyawan ini
diurutkan dari 1 125 berdasarkan absensi. Peneliti bisa menentukan sampel yang
diambil berdasarkan nomor genap (2, 4, 6, dst) atau nomor ganjil (1, 2, 3, dst), atau
bisa juga mengambil nomor kelipatan (2, 4, 8, 16, dst)

c. Proportionate Stratified Random Sampling


Teknik ini hampir sama dengan simple random sampling namun penentuan
sampelnya memperhatikan strata/tingkatan yang ada dalam populasi.
Contoh:
Populasi adalah karyawan PT. Jaya Abadi berjumlah 125. Dengan rumus Slovin dan
tingkat kesalahan 5% diperoleh besar sampel adalah 95. Populasi sendiri terbagi ke
dalam tiga bagian yaitu marketing, produksi dan penjualan. Masing-masing
berjumlah :
Marketing : 15
Produksi : 75
Penjualan : 35
Maka jumlah sample yang diambil berdasarkan masing-masinng bagian tersebut
ditentukan kembali dengan rumus n = (populasi kelas / jml populasi keseluruhan) x
jumlah sampel yang ditentukan
Marketing : 15 / 125 x 95 = 11,4 dibulatkan 11
Produksi : 75 / 125 x 95 = 57
Penjualan : 35 / 125 x 95 = 26.6 dibulatkan 27
Sehingga dari keseluruhan sample kelas tersebut adalah 11 + 57 + 27 = 95 sampel.
Teknik ini umumnya digunakan pada populasi yang diteliti adalah keterogen (tidak
sejenis) yang dalam hal ini berbeda dalam hal bidangkerja sehingga besaran sampel
pada masing-masing strata atau kelompok diambil secara proporsional untuk
memperoleh
d. Disproportionate Stratified Random Sampling
Disproporsional stratified random sampling adalah teknik yang hampir mirip dengan
proportionate stratified random sampling dalam hal heterogenitas populasi. Namun,
ketidakproporsionalan penentuan sample didasarkan pada pertimbangan jika anggota
populasi berstrata namun kurang proporsional pembagiannya.
Contoh:
Populasi karyawan PT. Jaya Abadi berjumlah 1000 orang yang berstrata berdasarkan
tingkat pendidikan SMP, SMA, D3, S1 dan S2. Namun jumlahnya sangat tidak
seimbang yaitu :
SMP : 100 orang
SMA : 700 orang
DIII : 180 orang
S1 : 10 orang
S2 : 10 orang
Jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak seimbang (terlalu
kecil dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga dua kelompok ini seluruhnya
ditetapkan sebagai sampel
e. Cluster Sampling
Cluster sampling atau sampling area digunakan jika sumber data atau populasi
sangat luas misalnya penduduk suatu propinsi, kabupaten, atau karyawan perusahaan
yang tersebar di seluruh provinsi. Untuk menentukan mana yang dijadikan
sampelnya, maka wilayah populasi terlebih dahulu ditetapkan secara random, dan
menentukan jumlah sample yang digunakan pada masing-masing daerah tersebut
dengan menggunakan teknik proporsional stratified random sampling mengingat
jumlahnya yang bisa saja berbeda.
Contoh:
Peneliti ingin mengetahui tingkat efektivitas proses belajar mengajar di tingkat
SMU. Populasi penelitian adalah siswa SMA seluruh Indonesia. Karena jumlahnya
sangat banyak dan terbagi dalam berbagai provinsi, maka penentuan sampelnya
dilakukan dalam tahapan sebagai berikut :
Tahap Pertama adalah menentukan sample daerah. Misalnya ditentukan secara acak
10 Provinsi yang akan dijadikan daerah sampel.
Tahap kedua. Mengambil sampel SMU di tingkat Provinsi secara acak yang
selanjutnya disebut sampel provinsi. Karena provinsi terdiri dari Kabupaten/Kota,
maka diambil secara acak SMU tingkat Kabupaten yang akan ditetapkan sebagai
sampel (disebut Kabupaten Sampel), dan seterusnya, sampai tingkat kelurahan /
Desa yang akan dijadikan sampel. Setelah digabungkan, maka keseluruhan SMU
yang dijadikan sampel ini diharapkan akan menggambarkan keseluruhan populasi
secara keseluruhan.
2. Non Probabilty Sampel
Non Probability artinya setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau
peluang yang sama sebagai sampel. Teknik-teknik yang termasuk ke dalam Non
Probability ini antara lain : Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Insidential,
Sampling Purposive, Sampling Jenuh, dan Snowball Sampling.
a. Sampling Kuota
Teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang
memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota (jatah) yang diinginkan.
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang persepsi siswa terhadap kemampuan
mengajar guru. Jumlah Sekolah adalah 10, maka sampel kuota dapat ditetapkan
masing-masing 10 siswa per sekolah.
b. Sampling Insidential
Insidential merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan, atau siapa
saja yang kebetulan (insidential) bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok
dengan karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel.
Misalnya penelitian tentang kepuasan pelanggan pada pelayanan Mall A. Sampel
ditentukan berdasarkan ciri-ciri usia di atas 15 tahun dan baru pernah ke Mall A
tersebut, maka siapa saja yang kebetulan bertemu di depan Mall A dengan peneliti
(yang berusia di atas 15 tahun) akan dijadikan sampel.
c. Sampling Purposive
Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan khusus sehingga layak dijadikan sampel. Misalnya, peneliti ingin
meneliti permasalahan seputar daya tahan mesin tertentu. Maka sampel ditentukan
adalah para teknisi atau ahli mesin yang mengetahui dengan jelas permasalahan ini.
Atau penelitian tentang pola pembinaan olahraga renang. Maka sampel yang diambil
adalah pelatih-pelatih renang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang ini.
Teknik ini biasanya dilakukan pada penelitian kualitatif.
d. Sampling Jenuh,
Sampling jenuh adalah sampel yang mewakili jumlah populasi. Biasanya
dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang dari 100. Saya sendiri lebih
senang menyebutnya total sampling.
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang kinerja guru di SMA 100 Jakarta.
Karena jumlah guru hanya 35, maka seluruh guru dijadikan sampel penelitian.
e. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil
kemudian terus membesar ibarat bola salju (seperti Multi Level Marketin). Misalnya
akan dilakukan penelitian tentang pola peredaran narkoba di wilayah A. Sampel
mula-mula adalah 5 orang Napi, kemudian terus berkembang pada pihak-pihak lain
sehingga sampel atau responden teruuus berkembang sampai ditemukannya
informasi yang menyeluruh atas permasalahan yang diteliti.

Definisi Populasi

Populasi adalah merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang
memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya. Itulah definisi populasi dalam penelitian.

Populasi di sini maksudnya bukan hanya orang atau makhluk hidup, akan tetapi juga benda-
benda alam yang lainnya. Populasi juga bukan hanya sekedar jumlah yang ada pada obyek
atau subyek yang dipelajari, akan tetapi meliputi semua karakteristik, sifat-sifat yang dimiliki
oleh obyek atau subyek tersebut. Bahkan satu orangpun bisa digunakan sebagai populasi,
karena satu orang tersebut memiliki berbagai karakteristik, misalnya seperti gaya bicara,
disiplin, pribadi, hobi, dan lain sebagainya.

Di bawah ini beberapa pengertian populasi menurut para ahli:

a. Menurut, Ismiyanto populasi adalah keseluruhan subjek atau totalitas subjek


penelitian yang dapat berupa; orang, benda, / suatu hal yang di dalamnya dapat
diperoleh dan atau dapat memberikan informasi (data) penelitian.

b. Sedangkan Arikunto Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila


seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka
penelitiannya merupakan penelitian populasi.

c. Dan menurut Sugiyono Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas,
obyek/subjek yang mempunyai kuantitas & karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

DAFTAR PUSTAKA

Haryono Subiyakto. (1994). Statistika 2, Seri Diktat Kuliah. Jakarta : Gunadarma.


Suharsimi Arikunto. (2010). Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alvabeta.

Arikunto Suharsimi. (2005). Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Arikunto Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktis, edisi revisi

2010. Jakarta : Rineka Cipta


Riduwan. (2005). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula.

Bandung : Alvabeta.

Uma Sekaran. (2006). Metode Penelitian Bisnis. Jakarta : Salemba Empat.